• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 1 Volum e 5, Nom or 2 , A gust us 2007

PEM BENTUKAN PERATURAN DAERAH

* )

Oleh: Drs. S. Bambang Setyadi, M .Si

* * )

I. LATAR BELAKANG

Pengertian Peraturan Daerah

Sesuai dengan ketentuan

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004

tentang Pembentukan Peraturan

Perundang-undangan, yang dimaksud dengan Peraturan Daerah

(Perda) adalah “ peraturan

perundang-undangan yang dibentuk

oleh Dew an Perw akilan Rakyat

Daerah dengan persetujuan bersama

Kepala Daerah” .

Definisi lain tentang Perda

berdasarkan ketentuan

Undang-Undang tentang Pemerintah Daerah1

adalah “ peraturan

perundang-undangan yang dibentuk bersama

oleh Dew an Perw akilan Rakyat Daerah dengan Kepala Daerah baik

di Propinsi maupun di

Kabupaten/Kota”2.

Dalam ketentuan Undang-Undang

Nomor 32 Tahun 2004 tentang

*) M akalah disampaikan dalam Diskusi Panel “ Kajian Terhadap Kebijakan-Kebijakan Yang Perlu Dimuat Dalam Perda Dalam Rangka M endorong Pengembangan Usaha M ikro, Kecil dan M enengah (UM KM )” di Bank Indonesia t anggal 29 M aret 2007;

* * ) St af Ahli M ent eri Bidang Pembangunan Depart emen Dalam Negeri.

1 UU Nom or 32 Tahun 2004 tentang

Pemerint ahan Daerah.

2 Pasal 1 angka 10 UU Nomor 32 Tahun

2004 t ent ang Pemerint ahan Daerah.

Pemerintahan Daerah (UU Pemda), Perda dibentuk dalam rangka

penyelenggaraan otonomi daerah

Propinsi/Kabupaten/Kota dan tugas

pembantuan serta merupakan

penjabaran lebih lanjut dari

peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan

memperhatikan ciri khas

masing-masing daerah3.

Sesuai ketentuan Pasal 12

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004

tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, materi

muatan Perda adalah seluruh materi

muatan dalam rangka

penyelenggaraan otonomi daerah

dan tugas pembantuan dan

menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut

Peraturan Perundang-undangan

yang lebih tinggi.

Rancangan Peraturan Daerah dapat

berasal dari Dew an Perw akilan

Rakyat Daerah (DPRD), Gubernur atau Bupati/Walikota. Apabila dalam

satu kali masa sidang Gubernur atau

Bupati/Walikota dan DPRD

menyampaikan rancangan Perda

dengan materi yang sama, maka

yang dibahas adalah rancangan

3 Pasal 136 UU Nomor 32 Tahun 2004

(2)

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 2 Volum e 5, Nom or 2 , A gust us 2007 Perda yang disampaikan oleh DPRD,

sedangkan rancangan Perda yang

disampaikan oleh Gubernur atau

Bupati/Walikota dipergunakan

sebagai bahan persandingan.

Program penyusunan Perda dilakukan dalam satu Program

Legislasi Daerah4, sehingga

diharapkan tidak terjadi tumpang

tindih dalam penyiapan satu materi

Perda. Ada berbagai jenis Perda

yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kota dan Propinsi

antara lain:

a. Pajak Daerah;

b. Retribusi Daerah;

c. Tata Ruang Wilayah Daerah;

d. APBD;

e. Rencana Program Jangka

M enengah Daerah;

f. Perangkat Daerah;

g. Pemerintahan Desa;

h. Pengaturan umum lainnya.

II. PEM BENTUKAN PERDA YANG BAIK

1. Asas Pembentukan Perda

Pembentukan Perda yang baik harus

berdasarkan pada asas

pembentukan peraturan perundang-undangan sebagai berikut:

a. kejelasan tujuan, yaitu bahw a

setiap pembentukan peraturan

perundang-undangan harus

4 Ketentuan Pasal 15 UU Nomor 10 Tahun

2004 t ent ang Pembent ukan Perat uran Perundan g-undangan.

mempunyai tujuan yang jelas

yang hendak dicapai.

b. kelembagaan atau organ

pembentuk yang tepat, yaitu

setiap jenis peraturan

perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga/pejabat

pembentuk peraturan

perundang-undangan yang

berw enang dan dapat dibatalkan

atau batal demi hukum bila

dibuat oleh lembaga/pejabat yang tidak berw enang.

c. kesesuaian antara jenis dan

materi muatan, yaitu dalam

pembentukan peraturan

perundang-undangan harus

benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat

dengan jenis peraturan

perundang-undangan.

d. dapat dilaksanakan, yaitu bahw a

setiap pembentukan peraturan

perundang-undangan harus memperhatikan efektifitas

peraturan perundang-undangan

tersebut di dalam masyarakat,

baik secara filosofis, yuridis

maupun sosiologis.

e. kedayagunaan dan

kehasilgunaan, yaitu setiap

peraturan perundang-undangan

dibuat karena memang

benar-benar dibutuhkan dan

bermanfaat dalam mengatur

(3)

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 3 Volum e 5, Nom or 2 , A gust us 2007

f. kejelasan rumusan, yaitu setiap

peraturan perundang-undangan

harus memenuhi persyaratan

teknis penyusunan, sistematika

dan pilihan kata atau

terminologi, serta bahasa hukumnya jelas dan mudah

dimengerti sehingga tidak

menimbulkan berbagai macam

interpretasi dalam

pelaksanaannya.

g. keterbukaan, yaitu dalam proses

pembentukan peraturan

perundang-undangan mulai dari

perencanaan, persiapan,

penyusunan dan pembahasan

bersifat transparan dan terbuka.

Dengan demikian seluruh lapisan masyarakat mempunyai

kesempatan seluas-luasnya untuk

memberikan masukan dalam

proses pembuatan peraturan

perundang-undangan.

Di samping itu materi muatan Perda harus mengandung asas-asas

sebagai berikut:

a. asas pengayoman, bahw a setiap

materi muatan Perda harus

berfungsi memberikan

perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman

masyarakat5.

b. asas kemanusiaan, bahw a setiap

materi muatan Perda harus

mencerminkan perlindungan dan

penghormatan hak-hak asasi

5 Penjelasan Pasal 6 ayat (1) huruf a UU

Nomor 10 Tahun 2004.

manusia serta harkat dan

martabat setiap w arga negara

dan penduduk Indonesia secara

proporsional.

c. asas kebangsaan, bahw a setiap

muatan Perda harus mencerminkan sifat dan w atak

bangsa Indonesia yang pluralistik

(kebhinnekaan) dengan tetap

menjaga prinsip negara kesatuan

Republik Indonesia.

d. asas kekeluargaan, bahw a setiap

materi muatan Perda harus

mencerminkan musyaw arah

untuk mencapai mufakat dalam

setiap pengambilan keputusan.

e. asas kenusantaraan, bahw a

setiap materi muatan Perda senantiasa memperhatikan

kepentingan seluruh w ilayah

Indonesia dan materi muatan

Perda merupakan bagian dari

sistem hukum nasional yang

berdasarkan Pancasila.

f. asas bhinneka tunggal ika,

bahw a setiap materi muatan

Perda harus memperhatikan

keragaman penduduk, agama,

suku dan golongan, kondisi

daerah dan budaya khususnya yang menyangkut

masalah-masalah sensitif dalam

kehidupan bermasyarakat,

berbangsa dan bernegara.

g. asas keadilan, bahw a setiap

(4)

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 4 Volum e 5, Nom or 2 , A gust us 2007 proporsional bagi setiap w arga

negara tanpa kecuali.

h. asas kesamaan dalam hukum

dan pemerintahan, bahw a setiap

materi muatan Perda tidak boleh

berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar

belakang, antara lain agama,

suku, ras, golongan, gender atau

status sosial.

i. asas ketertiban dan kepastian

hukum, bahw a setiap materi muatan Perda harus dapat

menimbulkan ketertiban dalam

masyarakat melalui jaminan

adanya kepastian hukum.

j. asas keseimbangan, keserasian

dan keselarasan, bahw a setiap materi muatan Perda harus

mencerminkan keseimbangan,

keserasian dan keselarasan

antara kepentingan individu dan

masyarakat dengan kepentingan

bangsa dan negara.

k. asas lain sesuai substansi Perda

yang bersangkutan6.

Selain asas dan materi muatan di

atas, DPRD dan Pemerintah Daerah

dalam menetapkan Perda harus

mempertimbangkan keunggulan lokal /daerah, sehingga mempunyai

daya saing dalam pertumbuhan

ekonomi dan kesejahteraan

masyarakat daerahnya.

Prinsip dalam menetapkan

Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam

6 Pasal 138 UU Nomor 32 Tahun 2004

t ent ang Pemerint ahan Daerah.

menunjang Anggaran Pendapatan

dan Belanja Daerah (APBD) adalah

bertujuan untuk meningkatkan

kesejahteraan masyarakat melalui

mekanisme APBD, namun demikian

untuk mencapai tujuan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat

daerah bukan hanya melalui

mekanisme tersebut tetapi juga

dengan meningkatkan daya saing

dengan memperhatikan potensi dan

keunggulan lokal/daerah, memberikan insentif (kemudahan

dalam perijinan, mengurangi beban

Pajak Daerah), sehingga dunia usaha

dapat tumbuh dan berkembang di

daerahnya dan memberikan peluang

menampung tenaga kerja dan meningkatkan PDRB masyarakat

daerahnya.

2. Proses Penyusunan Perda

Dalam rangka tertib administrasi dan

peningkatan kualitas produk hukum

daerah, diperlukan suatu proses atau prosedur penyusunan Perda agar

lebih terarah dan terkoordinasi. Hal

ini disebabkan dalam pembentukan

Perda perlu adanya persiapan yang

matang dan mendalam, antara lain

pengetahuan mengenai materi muatan yang akan diatur dalam

Perda, pengetahuan tentang

bagaimana menuangkan materi

muatan tersebut ke dalam Perda

secara singkat tetapi jelas dengan

(5)

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 5 Volum e 5, Nom or 2 , A gust us 2007 tanpa meninggalkan tata cara yang

sesuai dengan kaidah bahasa

Indonesia dalam penyusunan

kalimatnya.

Prosedur penyusunan ini adalah

rangkaian kegiatan penyusunan produk hukum daerah sejak dari

perencanaan sampai dengan

penetapannya. Proses pembentukan

Perda terdiri dari 3 (tiga) tahap,

yaitu:

a. Proses penyiapan rancangan

Perda yang merupakan proses

penyusunan dan perancangan di

lingkungan DPRD atau di

lingkungan Pemda (dalam hal ini

Raperda usul inisiatif). Proses ini

termasuk penyusunan naskah inisiat if (initiatives draft), naskah

akademik (academic draft) dan

naskah rancangan Perda (legal

draft).

b. Proses mendapatkan

persetujuan, yang merupakan pembahasan di DPRD.

c. Proses pengesahan oleh Kepala

Daerah dan pengundangan oleh

Sekretaris Daerah.

Ketiga proses pembentukan Perda

tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Proses Penyiapan Raperda di

lingkungan DPRD.

Berdasarkan amandemen I dan II

Pasal 20 ayat (1) UUD 1945, DPR

memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang

dan berdasarkan Pasal 21 ayat

(1) UUD 1945, anggota-anggota

DPR berhak mengajukan usul

rancangan Undang-Undang.

Begitu pula di tingkat daerah,

DPRD memegang kekuasaan membentuk Perda dan anggota

DPRD berhak mengajukan usul

Raperda. Dalam pelaksanaannya

Raperda dari lingkungan DPRD

diatur lebih lanjut dalam

Peraturan Tata Tertib DPRD masing-masing daerah.

Pembahasan Raperda atas

inisiatif DPRD dikoordinasikan

oleh Sekretaris Daerah atau unit

kerja yang ditunjuk oleh Kepala

Daerah. Setelah itu juga dibentuk Tim Asistensi dengan Sekretariat

Daerah atau berada di

Biro/Bagian Hukum.

b. Proses Penyiapan Raperda di

Lingkungan Pemerintahan

Daerah.

Dalam proses penyiapan Perda

yang berasal dari Pemerintah

Daerah bisa dilihat dalam

Keputusan M enteri Dalam Negeri

dan Otonomi Daerah Nomor 23

Tahun 2001 tentang Prosedur Penyusunan Produk Hukum

Daerah yang telah diganti

dengan Peraturan M enteri Dalam

Negeri Nomor 16 Tahun 2006

tentang Prosedur Penyusunan

Produk Hukum Daerah yang dit et apkan pada tanggal 19 M ei

(6)

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 6 Volum e 5, Nom or 2 , A gust us 2007 Gb. Bagan Penyiapan Rancangan

Perda

PANITIA ANTAR UNIT & MASYARAKAT

H

S

H

U

S

S

KEPALA DAERAH

S

H

X

X

X

H

S

KEPALA DAERAH

KEPALA DAERAH

S

H

PENGGUNDANGAN

S

U

S

(7)

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 7 Volum e 5, Nom or 2 , A gust us 2007 Keterangan bagan:

U : Unit Kerja/Dinas/Biro/Bagian

dalam Pemda yang mengambil

prakarsa

S : Sekretariat Daerah

H : Biro/Bagian Hukum

X : Pimpinan Unit Kerja/Dinas/Biro/

Bagian lainnya

Berikut penjabaran pasal-pasal yang

terkait:

Pasal 4 :

Penyusunan Produk Hukum

Daerah yang bersifat pengaturan

dilakukan berdasarkan prolegda.

Pasal 5 ayat (1) :

Pimpinan Satuan Kerja perangkat

daerah menyusun rancangan produk hukum daerah.

Pasal 5 ayat (2) :

Penyusunan produk hukum

daerah sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) dapat

didelegasikan kepada Biro Hukum atau Bagian Hukum.

Pasal 5 ayat (3) :

Penyusunan produk hukum

daerah sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) dan ayat (2)

dibentuk Tim Antar Satuan Kerja Perangkat Daerah.

Pasal 5 ayat (4) :

Tim sebagaimana dimaksud pada

ayat (3) diketuai oleh Pimpinan

Satuan Kerja Perangkat Daerah

pemrakarsa atau pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Daerah dan

Kepala Biro Hukum atau Kepala

Bagian Hukum berkedudukan

sebagai sekretaris.

Pasal 6 ayat (1) :

Rancangan produk hukum

daerah dilakukan pembahasan

dengan Biro /Bagian Hukum dan satuan perangkat daerah terkait.

Pasal 6 ayat (2) :

Pembahasan sebagaimana

dimaksud pada ayat (1)

menitikberatkan permasalahan

yang bersifat prinsip mengenai obyek yang diatur, jangkauan

dan arah pengaturan.

Pasal 7 :

Ketua Tim Antar Satuan Kerja

Perangkat Daerah melaporkan

perkembangan rancangan produk hukum daerah dan/atau

permasalahan kepada Sekretaris

Daerah untuk memperoleh

arahan.

Pasal 8 ayat (1) :

Rancangan produk hukum daerah yang telah dibahas harus

mendapatkan paraf koordinasi

Kepala Biro Hukum dan Kepala

Bagian Hukum serta pimpinan

satuan kerja perangkat daerah

terkait. Pasal 8 ayat (2) :

Pimpinan satuan kerja perangkat

daerah atau pejabat yang

ditunjuk mengajukan rancangan

produk hukum daerah yang telah

(8)

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 8 Volum e 5, Nom or 2 , A gust us 2007 ayat (1) kepada Kepala Daerah

melalui Sekretaris Daerah

Pasal 9 ayat (1) :

Sekretaris daerah dapat

melakukan perubahan dan/atau

penyempurnaan terhadap rancangan produk hukum

daerah yang telah diparaf

koordinasi sebagaimana

dimaksud dalam pasal 8 ayat (2).

Pasal 9 ayat (2) :

Perubahan dan/atau penyempurnaan rancangan

produk hukum daerah

sebagaimana sebagaimana

dimaksud pada ayat (1)

dikembalikan kepada pimpinan

satuan kerja perangkat daerah pemrakarsa.

Pasal 9 ayat (3) :

Hasil penyempurnaan rancangan

produk hukum daerah

sebagaimana dimaksud pada

ayat (2) disampaikan kepada Sekretaris Daerah setelah

dilakukan paraf koordinasi oleh

Kepala Biro/Bagian Hukum dan

pimpinan satuan perangkat

daerah terkait.

Pasal 10 :

Produk hukum daerah berupa

Rancangan Peraturan Daerah

atau sebutan lainnya

sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 3 ayat (1) huruf a, yang

diprakarsai oleh Kepala Daerah disampaikan kepada DPRD untuk

dilakukan pembahasan.

Berdasarkan Pasal 5 Peraturan

M enteri Dalam Negeri Nomor 16

Tahun 2006 tentang Prosedur

Penyusunan Produk Hukum Daerah

yang dimaksud dengan Satuan Kerja

Perangkat Daerah yaitu Kepala Badan, Kepala Dinas, Kepala Kantor,

Kepala Biro/Bagian di lingkungan

Sekretariat Daerah dapat

mengajukan prakarsa kepada

Sekretaris Daerah yang memuat

urgensi, argumentasi, maksud dan tujuan pengaturan, materi yang

akan diatur serta keterkaitan dengan

peraturan perundang-undangan lain

yang akan dituangkan dalam

Raperda tersebut.

Setelah prakarsa tersebut dikaji oleh Sekretariat daerah mengenai

urgensi, argumentasi dan

pokok-pokok materi serta pertimbangan

filosofis, sosiologis dan yuridis dari

masalah yang akan dituangkan ke

dalam Raperda tersebut maka Sekretariat Daerah akan mengambil

keputusan dan menugaskan Kepala

Biro/Bagian Hukum untuk

melakukan harmonisasi materi dan

sinkronisasi pengaturan. Apabila

Sekretariat Daerah menyetujui, pimpinan satuan kerja menyiapkan

draft aw al dan melakukan

pembahasan yang melibatkan

Biro/Bagian Hukum, unit kerja terkait

(9)

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 9 Volum e 5, Nom or 2 , A gust us 2007 Gb. Bagan Tata Cara Pelaksanaan

Konsultasi Publik Produk Hukum Daerah

Tahap Inisiatif ( initiatif draft)

Apabila Sekretariat Daerah

menyetujui, pimpinan satuan kerja

menyiapkan draft aw al dan

melakukan pembahasan yang melibatkan Biro/Bagian Hukum, unit

kerja terkait dan masyarakat. Setelah

itu satuan kerja perangkat daerah

dapat mendelegasikan kepada Biro/

Bagian Hukum untuk melakukan

penyusunan dan pembahasan rancangan produk hukum daerah.

Penyusunan Perda/produk hukum

daerah lainnya harus dilakukan

melalui Tim Antar Satuan Kerja

Perangkat Daerah yang diketuai oleh

pejabat pimpinan satuan kerja perangkat daerah yang ditunjuk oleh

Kepala Daerah dan Kepala

Biro/Bagian Hukum sebagai

sekretaris tim. Setelah pembahasan

rancangan produk hukum selesai,

pimpinan satuan kerja perangkat daerah akan menyampaikan kepada

INISIATOR :

Draft inisiatif produk hukum daerah (D-1)

1. Lat ar belakang, maksud dan t ujuan pembuat an perat uran; 2. Permint aan masukan dari

m asyarakat ;

3. Alamat inisiat or t empat masukan masyarakat dit ujukan (pos, f ax, e-mail, operator)

M ASYARAKAT :

M asukan dari masyarakat at au pemangku kepentingan/ mult i st ake

holders (ide, krit ik, t anggapan, duk ungan, alasan penolakan, dll)

INISIATOR :

1. M engint egrasikan masukan masyarakat ke dalam D-1 menjadi D-2

2. M engirim kembali ke

masyarakat

M ASYARAKAT :

1. M empelajari D-2 dari inisiator 2. M engklarif ikasi input yang

diterima inisiator D-2 oleh m asyarakat

INISIATOR :

1. M enyempurnakan D-2 menjadi D-3

2. M engirim D-3 ke masyarakat

INISIATOR/ :

(10)

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 10 Volum e 5, Nom or 2 , A gust us 2007 Sekretaris Daerah melalui Kepala

Biro/Bagian Hukum.

Raperda yang telah melew ati

tahapan di atas akan disampaikan

oleh Kepala Daerah kepada DPRD

untuk dilakukan pembahasan sekaligus menunjuk Wakil

Pemerintah Daerah dalam

Pembahasan Raperda tersebut.

c. Proses M endapatkan Persetujuan

DPRD.

Pembahasan Raperda di DPRD baik atas inisiatif Pemerintah Daerah

maupun atas inisiatif DPRD,

dilakukan oleh DPRD bersama

Gubernur/Bupati/ Walikota, Pemda

membentuk Tim Asistensi dengan

Sekretaris Daerah berada di Biro/Bagian Hukum. Tetapi biasanya

pembahasan dilakukan melalui

beberapa tingkatan pembicaraan.

Tingkat-tingkat pembicaraan ini

dilakukan dalam rapat paripurna,

rapat komisi, rapat gabungan komisi, rapat panitia khusus dan

diputuskan dalam rapat paripurna.

Secara lebih detail mengenai

pembahasan di DPRD baik atas

inisiatif DPRD ditentukan oleh

Peraturan Tata Tertib DPRD masing-masing. Khusus untuk Raperda atas

inisiatif DPRD, Kepala Daerah akan

menunjuk Sekretaris Daerah atau

pejabat unit kerja untuk

mengkoordinasikan rancangan

tersebut.

Tabel : Pembahasan di DPRD

PEMBAHASAN TAHAP

RAPERDA

DARI DPRD

RAPERDA

DARI PEMDA

RAPAT

PARIPURNA TAHAP I Raperda dari DPRD

Keterangan/ Penjelasan Pemda ttg Raperda dari Pemda fraksi thp Raperda

RAPAT KOMISI

RAPAT

-Pembahasan Raperda dlm Komisi/Gab. Komisi/ Pansus bersama Pemda - Pembahasan Raperda scr

intern dalam Komisi/Gab. Komisi/Pansus tanpa mengurangi Pembahasan bersama Pemda

RAPAT

PARIPURNA TAHAP IV

-Laporan Hasil Pembicaraan Tingkat III

-Pendapat akhir fraksi-fraksi apabila perlu dapat disertai catatan

-Pengambilan Keputusan -Sambutan Pemda

PEMDA

Rapat Fraksi

(11)

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 11 Volum e 5, Nom or 2 , A gust us 2007

d. Proses Pengesahan dan

Pengundangan

Apabila pembicaraan suatu Raperda

dalam rapat akhir di DPRD telah

selesai dan disetujui oleh DPRD,

Raperda akan dikirim oleh Pimpinan DPRD kepada Kepala Daerah melalui

Sekretariat Daerah dalam hal ini

Biro/ Bagian Hukum untuk

mendapatkan pengesahan.

Penomoran Perda tersebut dilakukan

oleh Biro/Bagian Hukum. Kepala Biro/Bagian Hukum akan melakukan

autentifikasi. Kepala Daerah

mengesahkan dengan

menandatangani Perda tersebut

untuk diundangkan oleh Sekretaris

Daerah. Sedangkan Biro/Bagian Hukum bertanggung jaw ab dalam

penggandaan, distribusi dan

dokumentasi Perda tersebut.

Apabila masih ada kesalahan teknik

penyusunan Perda, Sekretaris DPRD

dengan persetujuan Pimpinan DPRD dan Kepala Daerah dapat

menyempurnakan teknik

penyusunan Raperda yang telah

disetujui oleh DPRD sebelum

disampaikan kepada Kepala Daerah.

Jika masih juga terdapat kesalahan

teknik penyusunan setelah

diserahkan kepada Kepala Daerah,

Kepala Daerah dapat

menyempurnakan teknik

penyusunan tersebut dengan

persetujuan Pimpinan DPRD.

Setelah Perda diundangkan dan

masih terdapat kesalahan teknik

penyusunan, Sekretaris Daerah

dengan persetujuan Pimpinan DPRD

dapat meralat kesalahan tersebut

tanpa merubah substansi Perda melalui Lembaran Daerah. Pemda

w ajib menyebarluaskan Perda yang

telah diundangkan dalam Lembaran

Daerah agar semua masyarakat di

daerah setempat dan pihak terkait

mengetahuinya.

e. Lembaran Daerah dan Berita

Daerah

1. Agar memiliki kekuatan hukum

dan dapat mengikat masyarakat,

Perda yang telah disahkan oleh

Kepala Daerah harus diundangkan dalam Lembaran

Daerah.

2. Untuk menjaga keserasian dan

keterkaitan Perda dengan

penjelasannya, penjelasan atas

Perda tersebut dicatat dalam Tambahan Lembaran Daerah dan

ditetapkan bersamaan dengan

pengundangan Perda

sebagaimana yang diundangkan

di atas. Pejabat yang berw enang

mengundangkan Perda tersebut adalah Sekretaris Daerah.

III. M EKANISM E PENGAW ASAN PERDA

Dalam rangka pemberdayaan

otonomi daerah pemerintah pusat

(12)

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 12 Volum e 5, Nom or 2 , A gust us 2007 dan pengaw asan terhadap

penyelenggaraan pemerintahan

daerah sesuai amanat Pasal 217 dan

218 Undang-Undang Nomor 32

Tahun 2004 tentang Pemerintahan

Daerah. Bulan Desember 2005 ditetapkan Peraturan Pemerintah

Nomor 79 Tahun 2005 tentang

Pedoman Pembinaan dan

Pengaw asan atas Penyelenggaraan

Pemerintahan Daerah.

Pembinaan dan pengaw asan dimaksudkan agar kew enangan

daerah otonom dalam

menyelenggarakan desentralisasi

tidak mengarah kepada kedaulatan.

Di samping Pemda merupakan sub

sistem dalam penyelenggaraan pemerintahan negara, secara implisit

pembinaan dan pengaw asan

terhadap Pemda merupakan bagian

integral dari sistem penyelenggaraan

negara, maka harus berjalan sesuai

dengan rencana dan ketentuan peraturan perundang-undangan

yang berlaku dalam kerangka NKRI.

Peraturan Pemerintah Nomor 79

Tahun 2005 secara tegas

memberikan kew enangan kepada

pemerintah pusat untuk melaksanakan pembinaan dan

pengaw asan atas penyelenggaraan

Pemerintah Daerah, M enteri dan

Pimpinan LPND melakukan

pembinaan sesuai dengan

kew enangan masing-masing yang meliputi pemberian pedoman.

Bimbingan, pelatihan, arahan dan

pengaw asan yang dikoordinasikan

kepada M enteri Dalam Negeri.

Pemerintah dapat melimpahkan

pembinaan atas penyelenggaraan

pemerintahan Kabupaten di daerah

sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pembinaan yang

dilakukan oleh Gubernur terhadap

peraturan Kabupaten dan Kota

dilaporkan kepada Presiden melalui

M endagri dengan tembusan kepada

Departemen/Lembaga Pemerintahan Non Departemen terkait.

Pengaw asan Kebijakan Daerah

berdasarkan UU Nomor 22 Tahun

1999 tentang Pemerintahan Daerah

sejalan dengan Pengaw asan Perda

Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang diatur dengan UU Nomor 18

Tahun 1997 sebagaimana diubah

dengan UU Nomor 34 Tahun 2000.

Pengaw asan dilakukan secara

represif dengan memberikan

kew enangan seluas-luasnya kepada Pemda untuk menetapkan Perda

baik yang bersifat limitatif maupun

Perda lain berdasarkan kriteria yang

ditetapkan Pemerintah. Karena tidak

disertai dengan sanksi dalam kedua

Undang-Undang tersebut, peluang ini dimanfaatkan oleh Pemerintah

Daerah untuk menetapkan Perda

yang berkaitan dengan pendapatan

dan membebani dunia usaha

dengan tidak menyampaikan Perda

(13)

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 13 Volum e 5, Nom or 2 , A gust us 2007 Berbeda dengan Pengaw asan

Kebijakan Daerah yang diatur dalam

UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang

Pemerintahan Daerah dan UU

Nomor 18 Tahun 1997 sebagaimana

telah diubah dengan UU Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah

dan Retribusi Daerah, Pengaw asan

atas penyelenggaraan Pemerintah

Daerah berdasarkan UU Nomor 32

Tahun 2004 dan PP Nomor 79

Tahun 2005 dilakukan secara:

a. preventif, terhadap kebijakan Pemerintah Daerah yang

menyangkut Pajak Daerah,

Retribusi Daerah, Tata Ruang

Daerah dan APBD;

b. represif, terhadap kebijakan berupa Peraturan Daerah dan

Peraturan Kepala Daerah selain

yang menyangkut Pajak Daerah,

Retribusi Daerah, Tata Ruang

Daerah dan APBD;

c. fungsional, terhadap pelaksanaan kebijakan

Pemerintah Daerah;

d. pengaw asan legislatif terhadap

pelaksanaan kebijakan daerah;

e. pengaw asan terhadap

penyelenggaraan Pemerintahan

Daerah oleh masyarakat.

M engenai jenis-jenis pengaw asan

dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Pengaw asan Preventif

Rancangan Perda Propinsi:

a. Rancangan Perda Provinsi

tentang Pajak Daerah,

Retribusi Daerah, APBD dan

Tata Ruang Wilayah Daerah

yang telah disetujui bersama

DPRD dan Gubernur sebelum

ditetapkan oleh Gubernur

paling lambat 3 (tiga) hari disampaikan kepada M enteri

Dalam Negeri untuk

dievaluasi.

b. M enteri Dalam Negeri

melakukan Evaluasi

Rancangan Perda Propinsi tentang Pajak Daerah,

Retribusi Daerah, APBD dan

Tata Ruang Wilayah Daerah

dalam w aktu 15 (lima belas)

hari setelah menerima

Rancangan Perda Provinsi.

c. M enteri Dalam Negeri dalam

melakukan evaluasi

Rancangan Perda Pajak

Daerah, Retribusi Daerah

berkoordinasi dengan

M enteri Keuangan, sedangkan Rancangan Perda

Tata Ruang Wilayah Daerah

berkoordinasi dengan

M enteri Pekerjaan Umum dan

Badan Koordinasi Tata Ruang

Nasional.

d. M enteri Dalam Negeri

menyampaikan hasil evaluasi

kepada Gubernur untuk

melakukan penyempurnaan

Rancangan Perda sesuai

dengan hasil evaluasi.

e. Gubernur melakukan

(14)

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 14 Volum e 5, Nom or 2 , A gust us 2007 dengan DPRD dalam w aktu 7

(tujuh) hari setelah diterima

hasil evaluasi.

f. Apabila Gubernur dan DPRD

tidak melakukan

penyempurnaan dan tetap menetapkan menjadi Perda,

M enteri Dalam Negeri dapat

membatalkan Perda dengan

Peraturan M enteri.

g. Gubernur menetapkan

rancangan Perda setelah mendapat persetujuan

bersama dari DPRD sesuai

dengan hasil evaluasi menjadi

Perda.

h. Paling lama 7 (tujuh) hari

setelah Perda ditetapkan, disampaikan kepada M enteri

Dalam Negeri.

2. Pengaw asan Preventif

Rancangan Perda

Kabupaten/Kota:

a. Rancangan Peraturan Daerah

Kabupaten/Kota tentang

Pajak Daerah, Retribusi

Daerah, APBD dan Tata

Ruang Wilayah Daerah yang

telah disetujui bersama DPRD

dan Bupati/Walikota sebelum ditetapkan oleh

Bupati/Walikota paling

lambat 3 (tiga) hari

disampaikan kepada

Gubernur untuk dievaluasi.

b. Gubernur melakukan Evaluasi

Rancangan Perda

Kabupaten/Kota tentang

Pajak Daerah, Retribusi

Daerah, APBD dan Tata

Ruang Wilayah Daerah dalam

w aktu 15 (lima belas) hari

setelah menerima rancangan

Perda Kabupaten/Kota.

c. Gubernur dalam melakukan

evaluasi Rancangan Perda

Pajak Daerah dan Retribusi

Daerah berkoordinasi dengan

M enteri Keuangan;

sedangkan Rancangan Perda Tata Ruang Wilayah Daerah

berkoordinasi dengan

M enteri Pekerjaan Umum dan

Badan Koordinasi Tata Ruang

Nasional.

d. Gubernur menyampaikan

hasil evaluasi kepada

Bupati/Walikota untuk

melakukan penyempurnaan

Rancangan Perda sesuai

dengan hasil evaluasi.

e. Bupati/Walikota melakukan

penyempurnaan bersama

dengan DPRD dalam w aktu 7

(tujuh) hari setelah diterima

hasil evaluasi.

f. Apabila Bupati/Walikota dan

DPRD tidak melakukan penyempurnaan dan tetap

menetapkan menjadi Perda,

Gubernur dapat

membatalkan Perda dengan

Peraturan Gubernur.

g. Bupati/Walikota menetapkan

rancangan Perda setelah

(15)

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 15 Volum e 5, Nom or 2 , A gust us 2007 bersama DPRD sesuai dengan

hasil evaluasi menjadi Perda.

h. Paling lama 7 (tujuh) hari

setelah Perda ditetapkan,

disampaikan kepada

Gubernur dan M enteri Dalam Negeri.

3. Pengaw asan Represif Perda

Propinsi, Kabupaten/Kota:

a. Perda disampaikan kepada

M enteri Dalam Negeri paling

lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan.

b. Pemerintah melakukan

pengkajian/klarifikasi

terhadap Perda dalam w aktu

60 hari.

c. Perda yang bertentangan

dengan kepentingan umum

dan peraturan

perundang-undangan yang lebih tinggi

dapat dibatalkan dengan

Peraturan Presiden.

d. Apabila Gubernur,

Bupati/Walikota keberatan

terhadap Pembatalan Perda;

Gubernur, Bupati/Walikota

dapat mengajukan keberatan

kepada M ahkamah Agung

dalam tenggang w aktu 180 (seratus delapan puluh) hari

setelah pembatalan.

4. Pengkajian dan Evaluasi Perda:

Rancangan Perda APBD, Pajak

Daerah, Retribusi Daerah dan

Tata Ruang Wilayah Daerah

dilakukan evaluasi sebagai

berikut:

a. Rancangan Perda

disampaikan oleh Gubernur

kepada M enteri Dalam Negeri

melalui Biro Hukum Sekretariat Jenderal.

b. Biro Hukum mendistribusikan

rancangan Perda kepada

komponen terkait di

lingkungan Departemen

Dalam Negeri.

c. komponen terkait melakukan

pengkajian dan evaluasi

rancangan rancangan Perda

bersama tim yang terdiri dari

Biro Hukum, Inspektorat

Jenderal dan komponen terkait.

d. hasil pengkajian dan evaluasi

disampaikan kepada M enteri

Dalam Negeri melalui Biro

Hukum Sekretariat Jenderal.

e. hasil evaluasi yang telah

ditandatangani M enteri

Dalam Negeri disampaikan

kepada Gubernur oleh Biro

Hukum.

5. Pembatalan Perda yang tidak

sesuai dengan hasil evaluasi:

a. Perda yang diterima oleh Biro

Hukum disesuaikan dengan

hasil evaluasi M enteri.

b. Apabila Perda yang

ditetapkan tidak sesuai

(16)

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 16 Volum e 5, Nom or 2 , A gust us 2007 menyiapkan rancangan

Peraturan M enteri Dalam

Negeri tentang Pembatalan

Perda setelah berkoordinasi

dengan komponen terkait

(OTDA, BAKD, PUM , BANGDA).

c. Apabila Perda telah sesuai

dengan hasil evaluasi M enteri

Dalam Negeri dilakukan

klarifikasi dalam jangka

w aktu 60 (enam puluh) hari. d. Apabila hasil klarifikasi Perda

bertentangan dengan

kepentingan umum dan

peraturan

perundang-undangan yang lebih tinggi

maka M enteri Dalam Negeri menyiapkan rancangan

Peraturan Presiden setelah

berkoordinasi dengan instansi

terkait dan menyampaikan

kepada Presiden melalui

M enteri Sekretaris Kabinet.

e. Peraturan Presiden tentang

Pembatalan Perda

disampaikan kepada

Gubernur oleh M enteri

Dalam Negeri melalui Biro

Hukum Sekretariat Jenderal.

6. Perda yang sudah dibatalkan:

Sejak tahun 2002 sampai dengan

tahun 2006 ada 663 Perda yang

dibatalkan yang terdiri dari:

a. Tahun 2002 sebanyak 19

(sembilan belas) Perda;

b. Tahun 2003 sebanyak 105

(seratus lima) Perda;

c. Tahun 2004 sebanyak 236

(dua ratus tiga puluh enam)

Perda;

d. Tahun 2005 sebanyak 136

(seratus tiga puluh enam)

Perda;

e. Tahun 2006 sebanyak 117

(seratus tujuh belas) Perda;

f. Tahun 2007, sampai dengan

saat ini sebanyak 60 (enam

puluh) Perda.

7. Pengaw asan Represif Perda Pajak

Daerah dan Retribusi Daerah:

Pasal 158 ayat (1)

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004

tentang Pemerintah Daerah

menyatakan bahw a Pajak Daerah

dan retribusi daerah ditetapkan dengan Undang-Undang yang

pelaksanaannya di daerah diatur

lebih lanjut dengan Peraturan

Daerah. Sedangkan Pasal 238

ayat (1) UU tersebut menyatakan

bahw a semua peraturan perundang-undangan yang

berkaitan dengan pemerintahan

daerah sepanjang belum diganti

dan tidak bertentangan dengan

Undang-Undang ini dinyatakan

tetap berlaku. Pasal 238 ayat (2) menyatakan bahw a peraturan

pelaksanaan atas

Undang-Undang ini ditetapkan

selambat-lambatnya 2 (dua) tahun sejak

Undang-Undang ini ditetapkan,

(17)

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 17 Volum e 5, Nom or 2 , A gust us 2007 Sepanjang Undang -Undang

tentang Pajak Daerah dan

Retribusi Daerah yang baru

belum ditetapkan, ketentuan

Pasal 5A ayat (2)

Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas UU

Nomor 18 Tahun 1997 tentang

Pajak Daerah menyatakan bahw a

dalam hal Perda bertentangan

dengan kepentingan umum

dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi,

Pemerintah dapat membatalkan

Perda dimaksud. Juga dalam

Pasal 25A ayat (2) menyatakan

bahw a dalam hal Perda

bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau

peraturan perundang-undangan

yang lebih tinggi, Pemerintah

dapat membatalkan Perda

dimaksud.

Ketentuan di atas ditindaklanjuti dengan ketentuan Pasal 80 ayat

(2) Peraturan Pemerintah Nomor

65 Tahun 2001 tentang Pajak

Daerah yang menyatakan bahw a

dalam hal Perda tentang pajak

daerah bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau

peraturan perundang-undangan

yang lebih tinggi, M enteri Dalam

Negeri dengan pertimbangan

M enteri Keuangan dapat

membatalkan Perda dimaksud. Begitu pula dalam ketentuan

Pasal 17 ayat (2) Peraturan

Pemerintah Nomor 66 Tahun

2001 tentang Retribusi Daerah

yang mengatur bahw a dalam hal

Perda Retribusi Daerah

bertentangan dengan

kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan

yang lebih tinggi M enteri Dalam

Negeri dengan pertimbangan

M enteri Keuangan membatalkan

Perda dimaksud.

IV. KESIM PULAN

Berdasarkan pengalaman dalam

menerapkan pengaw asan kebijakan

daerah yang bersifat represif,

meskipun terdapat ketentuan bahw a

peraturan perundang-undangan

yang bersifat khusus yang dapat mengesampingkan Undang-Undang

yang bersifat umum, dan

Undang-Undang yang baru

mengesampingkan Undang-Undang

lama, namun apabila mengatur hal

yang sama Undang-Undang yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat

seyogianya harus harmonis dan tidak

Gambar

Tabel : Pembahasan di DPRD

Referensi

Dokumen terkait

(3) Pemberhentian anggota DPRD yang telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disampaikan oleh Pimpinan DPRD kepada Menteri Dalam

atas Raperda TA 2008 sudah harus dicapai adanya kesepakatan antara Kepala Daerah. dengan DPRD untuk selanjutnya dilakukan

Disampaikan oleh bank pelaksana bahwa iklan layanan masyarakat yang disampaikan pemerintah melalui Menteri Koperasi dan UMKM, yang menyatakan bahwa KUR adalah kredit

Peran perbankan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah sangat diharapkan oleh berbagai pihak, baik pelaku usaha, masyarakat pada umumnya dan terutama Pemerintah Daerah

Pengajuan permohonan izin atau rencana dan/atau penyampaian laporan oleh Bank kepada Bank Indonesia tersebut antara lain dilakukan dengan menggunakan format yang

kegiatan APMK kepada Bank Indonesia secara berkala dan atau insidentil. Laporan berkala merupakan laporan tertulis yang wajib disampaikan. secara benar, akurat dan tepat waktu

efektif Model Internal yang telah disetujui oleh Bank Indonesia. Laporan triwulanan untuk pertama kali wajib disampaikan

disampaikan oleh pimpinan DPRD kepada kepala daerah (dalam jangka waktu 3 hari setelah persetujuan) untuk ditetapkan sebagai Perda dalam waktu 30 hari sejak persetujuan bersama..