• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Perkembangan Perekonomian Daerah Propinsi Maluku Triwulan

II 2008

PERKEMBANGAN LOAN TO DEPOSIT RATIO (LDR) PERBANKAN

DI MALUKU

Peran perbankan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah sangat diharapkan oleh berbagai pihak, baik pelaku usaha, masyarakat pada umumnya dan terutama Pemerintah Daerah di wilayah tempat kantor bank beroperasi. Kerap kali, rendanya kontribusi perbankan daerah dalam menggerakan sektor riil di daerah operasionalnya melalui kredit atau pembiayaan, menjadi bahan kritikan.

Persoalan yang sering mengemuka adalah terjadinya “mis-intermediasi” perbankan, artinya dalam pelaksanaan fungsinya sebagai lembaga perantara yang menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki kelebihan dana (surplus unit) di suatu wilayah, tidak disalurkan kembali dalam bentuk kredit atau pembiayaan di wilayah tersebut (deficit unit), tetapi dilarikan ke wilayah lain (capital flight). Salah satu penyebabnya adalah adanya kantor bank yang beroperasi hanya sebagai kantor penghimpun dana. Dana yang dihimpun kemudian dipindahkan ke kantor lainnya di luar wilayah operasionalnya. Praktek seperti ini menjadi bahan kritikan Pemda terhadap perbankan sebagai lembaga intermediari dan Bank Indonesia sebagai pembinanya.

Seberapa besar kontribusi perbankan di wilayah operasionalnya dapat diukur melalui ratio Pinjaman yang Diberikan terhadap Dana Pihak Ketiga (DPK) atau Loan to Deposit Ratio (LDR), yang merupakan salah satu indikator pokok untuk mengukur kinerja perbankan. Semakin tinggi persentasi LDR satu bank, dapat dipastikan bahwa kontribusinya semakin besar terhadap wilayah operasionalnya.

Pada umumnya LDR yang sering digunakan sebagai alat ukur adalah LDR konvensional yaitu dengan membandingkan total kredit yang diberikan terhadap Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun. Selain itu dapat juga menggunakan LDR incremental yaitu membandingkan pertumbuhan dari kredit dan DPK.

Perkembangan LDR konvensional perbankan di Maluku selama beberapa periode terakhir, menunjukkan peningkatan yang cukup berarti sebagaimana pada tabel dibawah. Dari data tersebut, LDR perbankan Maluku tumbuh rata-rata 2,08% per triwulan sejak akhir tahun 2006 dan mencapai angka 43,52% dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 5,47% pada akhir triwulan II-2008. Peningkatan tersebut dipengaruhi antara lain oleh semakin kondusifnya keamanan daerah yang mendorong tumbuhnya pelaku usaha terutama pada skala Mikro dan kecil. Hal ini dikuatkan dengan hasil Survey Kredit Perbankan (SKP) dan Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) pada periode sebelum terjadi kenaikan harga minyak dan pangan, yang menunjukan permintaan kredit relatif tinggi. Kebutuhan kredit yang cukup tinggi tersebut mempengaruhi keinginan pelaku usaha untuk menyerap kredit perbankan guna melakukan ekspansi usaha.

(2)

Perkembangan Perekonomian Daerah Propinsi Maluku Triwulan

II 2008

Untuk menjaga momentum pertumbuhan LDR tersebut, dalam forum Focus Group Discussion (FGD) telah disepakati bahwa lembaga/dinas teknis terkait yang selama ini melakukan pembinaan terhadap UMKM dan Koperasi, akan menginformasikan kepada perbankan mengenai UMKM-K yang potensial dan bankable untuk mendapatkan pembiayaan perbankan.

(3)

Perkembangan Perekonomian Daerah Propinsi Maluku Triwulan

riil, meningkatkan akses pembiayaan serta perluasan kesempatan kerja yang pada gilirannya diharapkan dapat menanggulangi masalah kemiskinan, maka sejak tahun 2007 pemerintah telah meluncurkan program KUR melalui beberapa peraturan/kebijakan antara lain :

• Instruksi Presiden No.6 tahun 2007 tentang Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.

• Nota Kesepahaman Bersama (MoU) tanggal 9 Oktober 2007 tentang Penjaminan Kredit/Pembiayaan kepada UMKM & Koperasi.

• Peluncuran Kredit Bagi Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi dengan Pola Penjaminnan oleh Presiden RI tanggal 5 Nopember 2007.

• Hasil rapat koordinasi komite kebijakan Penjaminan Kredit tingkat Menteri tanggal 7 Mei 2008 dan addendum MoU KUR tanggal 14 Mei 2008, yang menyatakan KUR sebagai kredit baru dan atau diberikan kepada debitur baru dan bukan kepada debitur yang sedang menerima kredit dari perbankan.

Pada tingkat nasional, program ini dinilai berhasil sebagaimana pernyataan Menteri Negara Koperasi dan UKM di media massa bahwa sampai dengan posisi Juni 2008, KUR telah terealisir sebesar + Rp9 triliun yang direalisasikan kepada + 1.000.000 debitur baru yang memiliki usaha produktif. Hal ini di nilai luar biasa mengingat dalam waktu yang relatif singkat (+ 1 tahun) perbankan terutama PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) dapat menilai feasibility dan bankable -nya 1 Juta debitur dan merealisasikan jumlah tersebut. Adapun mekanisme penyaluran KUR

(4)

Perkembangan Perekonomian Daerah Propinsi Maluku Triwulan

II 2008

Seberapa besar proporsi kontribusi Perbankan Maluku terhadap realisasi KUR tersebut, apa permasalahan yang dihadapi dan upaya-upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan dalam pelaksanaan program KUR di Provinsi Maluku, dapat tergambar pada tabel dan deskripsi dibawah.

DATA PERK EMBANGAN KREDIT USAHA RAKYAT (K UR)   PERBANKAN MALUKU (BRI, BTN, BNI, MANDIRI) TAHUN 2008  

  (dl m jut a ru pi ah) PERTUMBUHAN PERSENTASE REALISASI KUR PROPORSI 

JANUARI ‐ MEI JANUARI ‐ JUNI BULANAN BULA NA N  NASIONAL **) THDP NASIONAL

NA SABAH (satuan)        2,651       3,730       1,079 40.70%       1,000,000 0.37%

REALISASI KUR        31,258       40,972       9,714 31.08%       9,000,000 0.46%

Sum ber : Ba nk Peny alur KUR di M aluku diola h

Realisasi KUR di Provinsi Maluku yang disalurkan oleh 4 bank pemerintah masing-masing BRI, Bank Mandiri, BNI dan BTN sampai dengan periode Januari –Mei 2008 sebesar Rp31,258 miliar dengan jumlah debitur 2.651 usaha, tumbuh menjadi Rp40,972 miliar untuk 3.730 debiturpada bulan Juni 2008 atau secara nominal tumbuh rata-rata 31,08% dan debitur 40,70% per bulan. Jika dibandingkan dengan realisasi KUR secara nasional, proporsi realisasi di Provinsi Maluku memang relatif masih rendah atau hanya sebesar 0,46% dari nominal realisasi dan 0,37% dari total debitur secara nasional.

Secara sektoral, realisasi KUR Provinsi Maluku terbanyak disalurkan pada sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar Rp34,827 miliar dengan jumlah debitur 3.232 usaha dengan jenis penggunaan terbesar adalah jenis Modal Kerja sebesar Rp33,599 miliar, sedangkan jenis penggunaan investasi lebih banyak disalurkan pada sektor jasa dunia usaha sebesar Rp1,665 miliar dengan jumlah debitur 155 usaha produktif.

(5)

Kantor Bank Indonesia Ambon

5

Sebagai upaya untuk mendorong peningkatan realisasi KUR kepada pelaku usaha di Maluku, perbankan setempat beberapa kali telah melakukan kegiatan sosialisasi/diseminasi, termasuk kepada lembaga-lembaga dilingkup Pemda Maluku dan asosiasi pelaku usaha serta lembaga-lembaga pemberdayaan UMKM, pada tanggal 13 Juni 2008 di Kantor Bank Indonesia Ambon. Selain itu, atas undangan Ketua DPRD Provinsi Maluku, pada tanggal 3 Juni 2008 perbankan telah melakukan dengar pendapat dengan DPRD Maluku khusus membahas pelaksanaan program KUR di Maluku.Permasalahan yang mengemuka dalam pembahasan di DPRD antara lain adalah :

1. Informasi tentang KUR belum tersosialisasi secara intensif kepada masyarakat ditingkat kecamatan dan desa. Hal ini menyebabkan kurangnya permintaan KUR karena masyarakat belum memahami mekanisme dan persyaratan KUR.

2. Koordinasi antara pihak perbankan dengan Pemerintah Daerah untuk pemanfaatan dana-dana KUR juga belum maksimal.

Dari hasil hasil pembahasan KUR dengan DPRD Provinsi Maluku direkomendasikan beberapa hal sebagai berikut :

1. Perbankan diharapkan secara bersama-sama maupun masing-masing bank dapat lebih intensif mensosialisasikan program KUR kepada masyarakat, baik melalui media massa, kunjungan kerja ataupun lewat program lainnya, sehingga masyarakat dapat memanfaatkan KUR secara maksimal. Dapat tidaknya KUR disalurkan kepada masyarakat, tentunya terletak pada penilaian perbankan berdasarkan parameter/kriteria dan evaluasi dari pihak perbankan.

2. Dalam waktu dekat akan dibicarakan mengenai pertemuan segitiga antara DPRD, pihak eksekutif dan perbankan, yang difasilitasi pihak DPRD. Hal ini dimaksudkan agar tidak terkesan bahwa pihak perbankan hanya berjalan sendiri-sendiri, sebab jika hal ini terjadi maka bisa dipastikan realisasi KUR sampai akhir tahun 2008 sangat terbatas, padahal rakyat di Maluku sangat membutuhkannya.

================”===============

Referensi

Dokumen terkait

PERAN LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR (LPDB) DAERAH DALAM PERMODALAN USAHA.. KOPERASI DAN USAHA KECIL

sebagian besar perbankan menjawab bahwa suku bunga simpanan saat ini dibandingkan.. posisi akhir Desember 2008 tidak mengalami perubahan terutama untuk

Dari sisi pembiayaan perbankan, perkembangan sektor industri terlihat dari perlambatan pertumbuhan penyaluran kredit bank umum ke sektor industri.(Gradik 1.20)

Sementara itu, dilihat dari dana milik pemerintah yang terdapat di perbankan daerah, dana milik pemerintah pusat pada triw ulan III tahun 2010 telah mengalami

Dari sisi dana, penghimpunan dana masyarakat oleh perbankan diperkirakan masih akan tumbuh walaupun masih dibayangi oleh pertumbuhan yang rendah karena berkurangnya

Dari sisi pembiayaan, kredit perbankan yang telah disalurkan pada sektor perdagangan sampai dengan awal triwulan II-2009 juga melambat dan tumbuh di bawah rata-rata pertumbuhan

Bahkan manfaat tersebut akan signifikan mengingat perekonomian daerah mengalami perlambatan sebagai dampak dari krisis global terutama yang terjadi di wilayah Sumatera

Perkembangan inflasi di berbagai daerah pada akhir triwulan I-2010 relatif masih.. cukup rendah, setelah sempat mengalami tekanan terutama pada awal