K
AJIAN
E
KONOM I
R
EGIONAL
P
ROVINSI
B
ENGKULU
Penyusun :
Tim Ekonomi M oneter Kelompok Kajian, Statistik dan Survei : 1. Bayu M artanto Peneliti Ekonomi M uda Senior 2. Jimmy Kathon Peneliti Ekonomi M uda 3. Neva Andina Peneliti Ekonomi M uda
Penerbit :
Bank Indonesia Bengkulu Jl. A. Yani No.1, BENGKULU
Telp: (0736) 21735, Fax: (0736) 21736
Visi Bank Indonesia
M enjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan stabil.
Misi Bank Indonesia
M encapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui pemeliharaan kestabilan moneter dan pengembangan stabilitas sistem keuangan untuk pembangunan jangka panjang negara Indonesia yang berkesinambungan.
Nilai Strategis Organisasi Bank Indonesia
Nilai-nilai yang menjadi dasar organisasi, manajemen dan pegaw ai untuk bertindak atau berperilaku yaitu Kompetensi, Integritas, Transparansi, Akuntabilitas dan Kebersamaan.
Visi Kantor Bank Indonesia Bengkulu
M ew ujudkan Kantor Bank Indonesia yang dapat dipercaya melalui peningkatan perannya sebagai economic intelligence dan unit penelitian.
Misi Kantor Bank Indonesia Bengkulu
KATA PENGANTAR
Penerbitan Perkembangan Perekonomian Daerah ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan informasi mengenai keadaan ekonomi, moneter dan perbankan bagi pihak-pihak yang berkepentingan khususnya Pemerintah Daerah maupun instansi lainnya guna merumuskan suatu kebijakan. Perkembangan Perekonomian Daerah merupakan pengembangan dari Kajian Ekonomi Regional (KER) yang diterbitkan secara triw ulanan dan tahunan.
Dalam kajian ini dibahas mengenai perkembangan perekonomian regional Provinsi Bengkulu, yang meliputi perkembangan kegiatan sektor riil dan perkembangan kegiatan sektor moneter perbankan, khususnya selama Triw ulan III tahun 2010 dan membandingkannya dengan periode/kondisi laporan sebelumnya.
Kami menyadari bahw a masih banyak kekurangan-kekurangan dalam kajian yang kami susun ini, oleh karena itu kritik serta saran dari pengguna/pembaca sangat diharapkan untuk penyempurnaan terbitan berikutnya.
Akhirnya kami berharap, semoga terbitan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.
Bengkulu, 9 November 2010 BANK INDONESIA BENGKULU
Causa Iman Karana Pemimpin
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GRAFIK ... vii
RINGKASAN EKSEKUTIF ... 1
TABEL INDIKATOR EKONOM I TERPILIH PROVINSI BENGKULU ... 5
BAB I PERKEM BANGAN EKONOM I M AKRO REGIONAL ... 9
1.1. PDRB SISI PENGGUNAAN ... 10
1.1.1. Konsumsi Daerah ... 10
1.1.2. Investasi Regional ... 14
1.1.3. Ekspor dan Impor Regional ... 15
1.2. PDRB SISI SEKTORAL ... 18
1.2.1. Sektor Pertanian ... 20
1.2.2. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran ... 21
1.2.3. Sektor Jasa-Jasa ... 22
1.2.3. Sektor Konstruksi ... 23
1.2.5. Sektor Listrik, Gas, dan Air ... 24
1.3. PERKEM BANGAN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN ... 25
BOKS 1 Hasil Liaison KBI Bengkulu Triw ulan III - 2010 BAB II PERKEM BANGAN INFLASI DAERAH ... ....27
2.1. PERKEM BANGAN INFLASI ... 27
2.2. FAKTOR PENDORONG INFLASI ... 28
2.4. INFLASI PERIODE JANUARI JUNI 2010 ... 32
2.5. PERBANDINGAN INFLASI ANTAR KOTA DI SUM ATERA ... 33
BOKS 2 Pertemuan Tim Teknis TPID Provinsi Bengkulu BAB III PERKEM BANGAN PERBANKAN DAERAH ... 35
3.1. GAM BARAN UM UM ... 35
3.2. PERKEM BANGAN BANK UM UM ... 36
3.3. PERKEM BANGAN BANK PERKREDITAN RAKYAT ... 43
BAB IV PERKEM BANGAN KEUANGAN DAERAH ... 45
4.1. GAM BARAN REALISASI SISI PENERIM AAN ... 45
4.2. GAM BARAN REALISASI SISI PENGELUARAN ... 47
BAB V PERKEM BANGAN SISTEM PEM BAYARAN ... 49
5.1. ALIRAN UANG KARTAL (OUTFLOW-INFLOW) ... 49
5.2. PENYEDIAAN UANG KARTAL LAYAK EDAR ... 50
5.3. PENEM UAN UANG PALSU ... 51
5.4. PERKEM BANGAN KLIRING LOKAL ... 52
5.5. PERKEM BANGAN REAL TIM E GROSS SETTLEM ENT (RTGS) ... 53
5.6. TRANSAKSI UANG KARTAL ANTAR BANK (TUKAB) ... 54
BAB VI PERKIRAAN EKONOM I DAN INFLASI DAERAH ... 57
6.1. PERKIRAAN EKONOM I ... 57
6.2. PERKIRAAN INFLASI DAERAH ... 60
LAM PIRAN DATA PEREKONOM IAN DAN PERBANKAN ... 63
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1. PDRB Berdasarkan Jenis Penggunaan Atas Dasar Harga Konstan ... 10
Tabel 1.2. Perkembangan Ekspor dan Impor Regional dalam pembentukan PDRB menurut Harga Berlaku Provinsi Bengkulu ... 16
Tabel 1.3. Perkembangan Ekspor Barang-Barang Non-M igas Utama M enurut Jenis Barang di Provinsi Bengkulu ... 16
Tabel 1.4. Perkembangan Ekspor Barang-Barang Non-M igas Utama M enurut Negara Pembeli di Provinsi Bengkulu ... 18
Tabel 1.5. Laju Pertumbuhan PDRB Provinsi Bengkulu (yoy) M enurut Sektor ... 18
Tabel 1.6. Perkembangan PDRB Atas Dasar Harga Konstan dan Lapangan Usaha Provinsi Bengkulu ... 19
Tabel 1.7. Perkembangan Jumlah Penduduk M iskin di Provinsi Bengkulu ... 25
Tabel 2.1. Perkembangan Inflasi M enurut Kelompok Barang/jasa Kota Bengkulu (Tahunan, y-o-y) ... 28
Tabel 2.2. Sumbangan Beberapa Komoditas terhadap Inflasi Bengkulu ... 30
Tabel 3.1. Jaringan Kantor Pelayanan Bank Provinsi Bengkulu ... 37
Tabel 3.2. Perkembangan Aset Perbankan Provinsi Bengkulu ... 37
Tabel 3.3. Perkembangan Penghimpunan Dana Bank Umum Provinsi Bengkulu ... 39
Tabel 3.4. Perkembangan NPL Kredit Perbankan Berdasarkan Jenis Penggunaan di Provinsi Bengkulu ... 40
Tabel 3.5. Perkembangan Kredit Perbankan Berdasarkan Jenis Penggunaan, Sektor Ekonomi dan Kelompok Bank di Provinsi Bengkulu ... 41
Tabel 3.6. Perkembangan Kredit UM KM Berdasarkan Jenis Penggunaan, Sektor Ekonomi di Provinsi Bengkulu ... 42
Tabel 3.7. Perkembangan Non Performing Loan (NPL) Kredit UM KM di Provinsi Bengkulu ... 42
Tabel 3.8. Perkembangan Kegiatan Usaha BPR di Provinsi Bengkulu ... 43
Tabel 4.1. Realisasi Penerimaan APBD Triw ulan II Tahun 2010 Pemerintah Provinsi Bengkulu ... 45
Tabel 4.2. Realisasi Belanja APBD Triw ulan II Tahun 2010 Pemerintah Provinsi Bengkulu ... 47
Tabel 5.2. Perkembangan Kliring dan Cek/Bilyet Giro Kosong Provinsi
Bengkulu ... 53 Tabel 5.3. Perkembangan Transaksi Real Time Gross Settlement (RTGS)
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1.1. Perkembangan PDRB dan Laju Pertumbuhan PDRB (LPE, y-o-y)
Provinsi Bengkulu (harga konstan 2000) ... 9
Grafik 1.2. Konsumsi Pemerintah dan Lembaga Nirlaba M enurut PDRB Harga Konstan di Provinsi Bengkulu ... 11
Grafik 1.3. Perkembangan Dana Pemerintah di Bank Umum dan Belanja Pegaw ai Pemerintah Daerah di Provinsi Bengkulu ... 11
Grafik 1.4. Konsumsi Rumah Tangga M enurut PDRB Harga Konstan dan Perkembangan Inflasi di Provinsi Bengkulu ... 12
Grafik 1.5. Konsumsi Listrik Rumah Tangga dan Perkembangan Kendaraan M ilik Sw asta di Provinsi Bengkulu ... 13
Grafik 1.6. Kredit Konsumsi Perbankan di Provinsi Bengkulu ... 13
Grafik 1.7. Hasil Survei Konsumen di Provinsi bengkulu ... 14
Grafik 1.8. Perkembangan Kredit Investasi dan Konsumsi Semen di Provinsi Bengkulu ... 15
Grafik 1.9. Perkembangan Harga Beberapa Komoditas Ekspor Bengkulu ... 17
Grafik 1.10. Indikator Sektor Pertanian Provinsi Bengkulu ... 20
Grafik 1.11. Indikator Sektor Perdagangan, Hotel & Restoran Provinsi Bengkulu ... 21
Grafik 1.12. Indikator Sektor Jasa-Jasa di Provinsi Bengkulu ... 22
Grafik 1.13. Indikator Sektor Bangunan di Provinsi Bengkulu ... 23
Grafik 1.14. Indikator Sektor Listrik, Gas dan Air di Provinsi Bengkulu ... 24
Grafik 1.15. Perkembangan Indeks Nilai Tukar Petani di Provinsi Bengkulu ... 25
Grafik 2.1. Perkembangan Inflasi IHK Kota Bengkulu ... 27
Grafik 2.2. Indeks Harga Konsumen Kelompok Bahan M akanan di Kota Bengkulu ... 29
Grafik 2.3. Sumbangan Inflasi Per Kelompok Barang/Jasa ... 31
Grafik 2.4. Indeks Harga Konsumen Kelompok Sandang dan Kelompok M akanan Jadi/M inuman/Rokok/Tembakau di Kota Bengkulu ... 31
Grafik 2.5. Realisasi Inflasi Tahun 2010 ... 32
Grafik 2.6. Inflasi Beberapa Kota di Sumatera ... 33
Grafik 3.1. Perkembangan Loan to Deposit Ratio (LDR) dan Non-Performing Loan (NPL) Perbankan Provinsi Bengkulu ... 35
Grafik 3.2. Perkembangan Dana Pihak Ketiga dan Kredit Bank Umum Provinsi Bengkulu ... 36
Grafik 3.4. Perkembangan Net Interest M argin BPR Provinsi Bengkulu ... 44
Grafik 4.1. Perkembangan Kendaraan Bermotor di Provinsi Bengkulu ... 46
Grafik 4.2. Perkembangan Dana M ilik Pemerintah Provinsi Bengkulu ... 48
Grafik 5.1. Perkembangan Inflow -Outflow Uang Kartal Provinsi Bengkulu ... 50
Grafik 5.2. Perkembangan Rasio PTTB terhadap Inflow Provinsi Bengkulu ... 51
Grafik 5.3. Perkembangan Jumlah Uang Palsu yang Ditemukan di Bengkulu ... 52
Grafik 5.4. Perkembangan TUKAB di Provinsi Bengkulu ... 54
Grafik 6.1. Perkembangan Laju Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Bengkulu ... 57
Grafik 6.2. Hasil Survei SEK dan SKDU di Provinsi Bengkulu ... 59
Grafik 6.3. Perkembangan Laju Inflasi Tahunan di Kota Bengkulu ... 61
Ringkasan Eksekutif
RINGKASAN EKSEKUTIF
PERTUM BUHAN EKONOM I
Berdasarkan data BPS Provinsi Bengkulu, perekonomian Provinsi Bengkulu di triw ulan III tahun 2010 mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Laju pertumbuhan ekonomi secara tahunan meningkat sebesar 7,58% . Sementara laju pertumbuhan ekonomi triw ulan sebelumnya berdasarkan data BPS Provinsi Bengkulu sebesar 5,46% (yoy). Secara triw ulanan, perekonomian daerah juga terlihat membaik dimana laju pertumbuhan triw ulan III dibanding triw ulan II tahun 2010 adalah sebesar 2,25% .
Peningkatan pertumbuhan ekonomi di sisi penggunaan terutama disebabkan oleh meningkatnya konsumsi serta investasi. Sementara itu dari sisi sektoral, sektor utama daerah seperti perdagangan/hotel/restoran dan jasa-jasa tumbuh tinggi, namun sektor pertanian tumbuh cukup lambat. Sektor yang tumbuh paling tinggi di triw ulan ini adalah sektor keuangan/persew aan, angkutan/komunikasi serta sektor listrik, air dan gas.
INFLASI
Inflasi tahunan Kota Bengkulu1 pada triw ulan III tahun 2010 sedikit menurun dibanding triw ulan sebelumnya yaitu dari 7,21% menjadi 7,03% . Namun inflasi yang terjadi tersebut masih berada di atas inflasi nasional yang sebesar 5,80% . Sebagaimana triw ulan sebelumnya, t ingginya inflasi masih didorong oleh timbulnya permasalahan di sisi penaw aran (supply shocks) terutama untuk komoditas di kelompok bahan makanan. Dengan pencapaian inflasi tersebut maka secara keseluruhan selama tahun 2010 inflasi daerah telah mencapai 7,55% (ytd), sedangkan proyeksi Bank Indonesia, inflasi Bengkulu pada tahun 2010 adalah sebesar 7,25%±1%2.
Gangguan pasokan (supply shock) serta adanya faktor musiman diperkirakan menjadi faktor pendorong inflasi di triw ulan laporan. Gangguan pasokan terutama masih
1
Inflasi yang terjadi di kota Bengkulu diasumsikan dapat mew akili inflasi Provinsi Bengkulu secara keseluruhan
2
Ringkasan Eksekutif
terjadi di kelompok bahan makanan. Inflasi di komoditas tersebut diperkirakan terjadi karena adanya kekurangan ketersediaan komoditas tersebut di pasar.
Sementara itu faktor musiman yang turut memberikan andil dalam pembentukan inflasi adalah adanya bulan Ramadhan dan Idul Fitri 1431 H yang berlangsung di triw ulan III tahun ini. Kedua peristiw a tersebut menyebabkan kenaikan permintaan masyarakat sehingga mendorong kenaikan harga terutama untuk komoditas-komoditas di kelompok bahan makanan dan transportasi.
PERKEM BANGAN PERBANKAN
Bank Umum di Provinsi Bengkulu pada triw ulan III tahun 2010 menunjukkan kinerja yang relatif baik. Total aset perbankan, jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK), dan penyaluran kredit mengalami kenaikan, diikuti pula dengan meningkatnya Loan To Deposit Ratio (LDR) dan membaiknya kualitas kredit sebagaimana ditunjukkan oleh nilai Non Performing Loan (NPL).
Penyaluran kredit triw ulan III 2010 mengalami peningkatan sebesar 5,09% menjadi sebesar Rp5,48 triliun, sedangkan penghimpunan dana pihak ketiga yang dilakukan perbankan mengalami peningkatan 4,16% menjadi Rp4,64 triliun. Kondisi ini mendorong Loan to Deposit Ratio (LDR) sedikit meningkat menjadi 118,15% dari sebelumnya 117,10% . Selain itu, kualitas kredit yang ditandai dengan nilai NPL membaik dari 2,25% menjadi 2,20% .
PERKEM BANGAN KEUANGAN DAERAH
Ringkasan Eksekutif
Sementara itu realisasi belanja Pemerintah Provinsi Bengkulu pada triw ulan II tahun 2010 masih rendah yaitu hanya mencapai 25,04% dari rencana anggaran. Realisasi belanja tertinggi dicapai oleh pos belanja tidak terduga dan belanja operasi yaitu sebesar 47,09% dan 31,12% . Adapun pengeluaran pada pos belanja operasi didominasi oleh pengeluaran untuk belanja pegaw ai dan belanja barang yaitu mencapai 83,55% dari total belanja operasi. Namun, realisasi pos komponen belanja operasi untuk belanja barang terlihat tidak optimal dimana hingga triw ulan II 2010 hanya terealisasi sebesar 15,55% atau sebesar Rp39,967 miliar.
PERKEM BANGAN SISTEM PEM BAYARAN
Aliran uang kartal di masyarakat di triw ulan III tahun 2010 ditandai dengan adanya penurunan net cash outflow . Pada periode triw ulan laporan, penurunan net cash outflow terbilang cukup signifikan yaitu mencapai 76% dibanding triw ulan sebelumnya yaitu dari Rp773,6 miliar menjadi Rp184,2 miliar di triw ulan ini.
Sementara itu, transaksi pembayaran dengan menggunakan kliring lokal secara nominal mengalami kenaikan pada triw ulan laporan yaitu dari Rp645.295 juta di triw ulan sebelumnya menjadi Rp693.343 juta atau meningkat 7,45% . Rata-rata perputaran kliring per hari secara nominal juga meningkat dalam persentase yang sama yaitu dari Rp10.408 juta menjadi Rp11.183 juta. Namun perputaran w arkat kliring justru mengalami penurunan di triw ulan ini dan menggambarkan adanya peningkatan nilai kliring per satuan w arkat.
Ringkasan Eksekutif
PERTUM BUHAN EKONOM I DAN INFLASI
Perekonomian Bengkulu pada triw ulan IV tahun 2010 ini diperkirakan akan mengalami pertumbuhan pada kisaran 5,5% ±1% (yoy). Dari sisi penaw aran, sektor utama seperti sektor pertanian, Perdagangan, hotel dan restoran serta sektor jasa diperkirakan masih akan mengalami pertumbuhan. Sektor jasa diperkirakan mengalami pertumbuhan yang paling tinggi diantara ketiga sektor utama Provinsi Bengkulu tersebut.
Adapun pertumbuhan dari sisi permintaan akan didorong melalui peningkatan konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah memasuki liburan akhir tahun dan akhir tahun anggaran.
Tabel Indikator Ekonomi Terpilih
TABEL INDIKATOR EKONOM I TERPILIH
PROVINSI BENGKULU
a. Inflasi dan PDRB
INDIKATOR 2008 2009 2010
Tw . III Tw . IV Tw . I Tw . II Tw . III
M AKRO
IHK Kota Bengkulu 116,64 120,58 120,00 121,62 124,24 129,06 Laju Inflasi (y-o-y) 13,44 3,73 2,88 4,18 7,21 7,03 PDRB-Harga Konstan (miliar Rp) 7.384 1.934 1.959 1.997 2.035 2.081
- Pertanian 2.915 735 742 760 748 763
- Pertambangan & Penggalian 259 72 74 76 79 80
- Industri Pengolahan 295 78 79 80 82 83
- Listrik, Gas dan Air Bersih 33 9 9 10 10 10
- Bangunan 219 59 61 58 61 63
- Perdagangan, Hotel dan Restoran 1.473 382 387 396 407 419 - Pengangkutan & Komunikasi 609 165 166 167 173 185 - Keuangan, Persew aan dan Jasa 337 92 95 98 102 105
- Jasa 1.244 342 346 351 373 373
Pertumbuhan PDRB (y-o-y, % ) 5,35 2,76 7,50 7,41 5,46 7,58 Nilai Ekspor Nonmigas (USD Juta) 1) 205 34 46 58 71 40 Volume Ekspor Nonmigas (ribu ton) 1.182 244 426 503 503 183
Nilai Impor Nonmigas (USD Juta) 1) - - - -
Volume Impor Nonmigas (ribu ton) - - - -
1)
data sampai dengan Agustus 2010
Tabel Indikator Ekonomi Terpilih
b. Perbankan
INDIKATOR 2008 2009 2010
Tw . III Tw . IV Tw . I Tw . II Tw . III
PERBANKAN Bank Umum
Total Aset (Triliun Rp) 5,82 6,49 6,58 6,57 6,84 7,11
DPK (Triliun Rp) 4,14 4,09 3,97 4,16 4,46 4,64
- Tabungan (Triliun Rp) 2,40 2,17 2,46 2,10 2,37 2,58 - Giro (Triliun Rp) 1,05 1,15 0,72 1,25 1,17 1,14 - Deposito (Triliun Rp) 0,69 0,77 0,79 0,81 0,82 0,92 Kredit (Triliun Rp) Lokasi Proyek 1) 5,29 5,84 6,08 5,80 6,47 6,63
- M odal Kerja 1,82 1,92 2,00 1,85 2,06 2,19
- Konsumsi 2,55 3,03 3,16 3,02 3,17 3,46
- Investasi 0,92 0,89 0,92 0,93 1,24 0,98
- LDR (% ) 127,78 143,28 151,89 139,42 145,07 142,89 Kredit (triliun Rp) Lokasi Kantor 4,25 4,79 4,77 4,93 5,22 5,49
- M odal Kerja 1,50 1,64 1,74 1,75 1,94 2,15
- Konsumsi 2,36 2,68 2,57 2,68 2,75 2,89
- Investasi 0,39 0,47 0,46 0,50 0,53 0,45
- LDR (% ) 102,53 117,11 120,35 118,34 117,10 118,15
Kredit UM KM Bank Umum M enurut Lokasi Proyek 1)
Kredit UM KM (Triliun Rp) 4,31 5,06 5,28 5,05 5,61 5,78 Kredit M ikro (Triliun Rp) 1,52 1,53 1,60 1,42 1,63 1,58 - Kredit M odal Kerja 0,36 0,39 0,42 0,36 0,40 0,39
- Kredit Investasi 0,04 0,06 0,07 0,05 0,12 0,04
- Kredit Konsumsi 1,12 1,08 1,11 1,01 1,11 1,15
Kredit Kecil (Triliun Rp) 2,11 2,73 2,85 2,75 3,00 3,20 - Kredit M odal Kerja 0,62 0,70 0,70 0,67 0,72 0,80
- Kredit Investasi 0,13 0,15 0,17 0,16 0,31 0,17
- Kredit Konsumsi 1,36 1,88 1,98 1,92 1,97 2,23
Kredit M enengah (Triliun Rp) 0,68 0,80 0,83 0,88 0,98 1,00 - Kredit M odal Kerja 0,44 0,54 0,58 0,60 0,68 0,70
- Kredit Investasi 0,19 0,20 0,19 0,20 0,22 0,23
- Kredit Konsumsi 0,05 0,06 0,06 0,08 0,08 0,07
NPL M KM gross (% ) na na na na na na
BPR
Total Aset (M iliar Rp) 47 54 64 64 71 76
DPK (M iliar Rp) 27 31 37 39 44 42
- Tabungan (M iliar Rp) 13 14 16 17 17 14
- Deposito (M iliar Rp) 14 17 22 22 27 28
Kredit (M iliar Rp) Lokasi Proyek1) 17 18 19 19 20 21
- M odal Kerja 9 10 11 11 12 13
- Konsumsi 6 7 7 7 7 7
- Investasi 2 1 1 1 1 1
Kredit UM KM (M iliar Rp) 17 14 13 14 15 16
Rasio NPL Gross (% ) na na na na na na
Rasio NPL Net (% ) na na na na na na
LDR 141,02 144,14 127,63 137,86 131,76 147,68
1) data sampai dengan Agustus 2010
Tabel Indikator Ekonomi Terpilih
c. Sistem Pembayaran
Nominal dalam triliun Rp kecuali kliring dalam miliar, volume dalam lembar
INDIKATOR 2008 2009 2010
Tw . III Tw . IV Tw . I Tw . II Tw . III
SISTEM PEM BAYARAN
Inflow 0,54 0,09 0,26 0,24 0,05 0,28
Outflow 1,92 0,42 0,56 0,19 0,83 0,47
Pemusnahan Uang 0,26 0,03 0,11 0,16 0,06 0,13
Nominal Transaksi RTGS 295 11 14 12 18 15
Volume Transaksi RTGS 172.846 11.444 20.268 17.230 19.855 19.764 Rata-rata Harian Nominal
Transaksi RTGS
1,21 0,17 0,23 0,20 0,29 0,24
Rata-rata Harian Volume Transaksi RTGS
711 188 322 282 320 319
Nominal Kliring Kredit 333 100 95 123 191 180
Volume Kliring Kredit 24.748 7.308 6.406 10.257 16.743 16.297 Rata-rata Harian Nominal
Kliring Kredit
0,31 1,63 1,50 2,02 3,08 2,90
Rata-rata Harian Volume Kliring Kredit
23 120 102 168 270 263
Nominal Kliring Debet 1.525 413 457 440 454 514 Volume Kliring Debet 86.963 19.896 20.181 20.066 21.586 21.326 Rata-rata Harian Nominal
Kliring Debet
1,43 6,77 7,25 7,21 7,32 8,29
Rata-rata Harian Volume Kliring Debet
82 326 320 329 348 344
Nominal Kliring Pengembalian 33 12 14 15 13 16 Volume Kliring Pengembalian 1.066 539 515 486 527 610 Rata-rata Harian Nominal
Kliring Pengembalian
0,03 0,19 0,21 0,25 0,21 0,26
Rata-rata Harian Volume Kliring Pengembalian
1 9 8 8 9 10
Nominal Tolakan Cek/BG Kosong
23 10 13 11 11 13
Volume Tolakan Cek/BG Kosong
851 466 452 432 461 530
Rata-rata Harian Nominal Cek/BG Kosong
0,02 0,17 0,20 0,18 0,18 0,21
Rata-rata Harian Volume Cek/BG Kosong
1 8 7 7 7 9
Tabel Indikator Ekonomi Terpilih
Perkembangan Ekonomi M akro Regional
BAB
1
PERKEM BANGAN EKONOM I M AKRO
REGIONAL
Berdasarkan data BPS Provinsi Bengkulu, perekonomian Provinsi Bengkulu di triw ulan III tahun 2010 mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Laju pertumbuhan ekonomi secara tahunan meningkat sebesar 7,58% . Sementara laju pertumbuhan ekonomi triw ulan sebelumnya berdasarkan data BPS Provinsi Bengkulu sebesar 5,46% (yoy). Secara triw ulanan, perekonomian daerah juga terlihat membaik dimana laju pertumbuhan triw ulan III dibanding triw ulan II tahun 2010 adalah sebesar 2,25% .
Grafik 1.1. Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan Laju Pertumbuhan PDRB (LPE, y-o-y) Provinsi Bengkulu (harga konstan 2000)
Sumber : BPS Provinsi Bengkulu, angka sementara
Peningkatan pertumbuhan ekonomi di sisi penggunaan terutama disebabkan oleh meningkatnya konsumsi serta investasi. Sementara itu dari sisi sektoral, sektor utama daerah seperti perdagangan/hotel/restoran dan jasa-jasa tumbuh tinggi, namun sektor pertanian tumbuh cukup lambat. Sektor yang tumbuh paling tinggi di triw ulan ini adalah sektor keuangan/persew aan, angkutan/komunikasi serta sektor listrik, air dan gas. 5.46% 7.58% 1.88% 2.25% -4% -2% 0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% 1,650,000 1,680,000 1,710,000 1,740,000 1,770,000 1,800,000 1,830,000 1,860,000 1,890,000 1,920,000 1,950,000 1,980,000 2,010,000 2,040,000 2,070,000 2,100,000
Q-1 Q-2 Q-3 Q-4 Q-1 Q-2 Q-3 Q-4 Q-1 Q-2 Q-3 Q-4 Q-1 Q-2 Q-3
2007 2008 2009 2010
Perkembangan Ekonomi M akro Regional
1.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sisi Penggunaan
Tabel 1.1. PDRB Berdasarkan Jenis Penggunaan Atas Dasar Harga Konstan
juta rupiah (kecuali dinyatakan lain)
Jenis Penggunaan Q-II 2010 Q-III 2010 Nilai Pertumbuhan
Tahunan Nilai
Pertumbuhan Tahunan
1.Konsumsi Rumah Tangga 1.279.937 5,37% 1.303.712 5,61%
2.Konsumsi Lembaga Nirlaba 22.771 7,98% 21.144 11,47%
3.Konsumsi Pemerintah 325.677 9,45% 345.727 13,77%
4.Pembentuk M odal Tetap Domestik Bruto 224.489 5,40% 231.880 7,36%
5.Perubahan stok (59.758) (5,28% ) (42.104) (38,13% )
6.Ekspor 564.522 3,07% 554.314 0,98%
7.Impor 322.615 7,05% 333.861 4,37%
PDRB 2.035.023 5,46% 2.080.812 7,58%
Sumber : BPS Provinsi Bengkulu, angka sementara
Konsumsi masih menjadi kontributor utama dalam ekonomi Bengkulu terutama konsumsi rumah tangga. Kontribusi konsumsi terhadap pembentukan PDRB pada triw ulan III 2010 mencapai kisaran 80% kemudian diikuti kontribusi ekspor-impor 11% dan investasi 9% . Kontribusi konsumsi tersebut meningkat dibanding triw ulan sebelumnya yang tercatat sebesar 78% .
1.1.1. Konsumsi Daerah
Pertumbuhan konsumsi daerah secara tahunan (yoy) di triw ulan III tahun 2010 ditopang oleh tingginya pertumbuhan konsumsi pemerintah dan didukung oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Konsumsi pemerintah tumbuh sebesar 13,77% karena mulai direalisasikannya proyek pemerintah. Sementara itu konsumsi rumah tangga tumbuh paling rendah diantara jenis konsumsi lainnya, namun demikian porsinya terhadap total konsumsi paling dominan.
Perkembangan Ekonomi M akro Regional
Grafik 1.2. Konsumsi Pemerintah dan Lembaga Nirlaba M enurut PDRB Harga Konstan di Provinsi Bengkulu
juta rupiah kecuali dinyatakan lain
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu, angka sementara, diolah
Grafik 1.3. Perkembangan Dana Pemerintah di Bank Umum dan Realisasi APBD Provinsi Bengkulu Tahun 2010
juta rupiah kecuali dinyatakan lain
Realisasi Tw. I,
7% Realisasi Tw. II, 18%
Belum Terealisasi,
75%
Realisasi APBD Prov. Bengkulu 2010
Sumber : Lap Bulanan Bank Umum KBI Bengkulu dan Pemerintah Provinsi Bengkulu, diolah
M eningkatnya pertumbuhan konsumsi pemerint ah di triw ulan ini diperkirakan akibat mulai direalisasikannya APBD di triw ulan ini. Berbagai proyek pemerintah diperkirakan sudah mulai direalisasikan. Data realisasi APBD Provinsi Bengkulu hingga triw ulan II menunjukkan jumlah anggaran yang telah direalisasikan sebesar Rp286 miliar atau sekitar 25% dari anggaran. Pada triw ulan III diperkirakan akan terjadi peningkatan realisasi anggaran. Sejalan dengan itu, giro pemerintah yang ada di bank umum di triw ulan III tahun 2010 menurun cukup signifikan dibanding triw ulan
13.77% 1.50% 3.50% 5.50% 7.50% 9.50% 11.50% 13.50% 275,000 285,000 295,000 305,000 315,000 325,000 335,000 345,000
I II III IV I II III IV I II III
2008 2009 2010
Kons. Pemerintah g(YOY) 11.47% -18.00% -8.00% 2.00% 12.00% 22.00% 32.00% 42.00% 52.00% 17,000 18,000 19,000 20,000 21,000 22,000 23,000 24,000 25,000
I II III IV I II III IV I II III
2008 2009 2010
Kons. Lemb. Nirlaba
g(YOY) -85.63% -61.75% -100.00% -80.00% -60.00% -40.00% -20.00% 0.00% 20.00% 40.00% 60.00% 80.00% 100,000 300,000 500,000 700,000 900,000 1,100,000 1,300,000 1,500,000
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3
2008 2009 2010
Giro M ilik Pemerintah
Perkembangan Ekonomi M akro Regional
yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini diperkirakan karena adanya penggunaan dana pemerintah untuk realisasi berbagai proyek.
Grafik 1.4. Konsumsi Rumah Tangga M enurut PDRB Harga Konstan dan Perkembangan Inflasi di Provinsi Bengkulu
juta rupiah kecuali dinyatakan lain
Sumber : Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu, angka sementara, diolah
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga triw ulan ini mencapai sebesar 5,61% (yoy) sementara triw ulan sebelumnya sebesar 5,37% (yoy). Pertumbuhan ini diperkirakan karena membaiknya hasil pertanian terutama dari subsektor perkebunan di triw ulan ini. Hasil dari liaison yang dilakukan oleh Bank Indonesia Bengkulu ke beberapa pelaku usaha yang bergerak di sektor perdagangan menyatakan bahw a usaha mereka mengalami peningkatan di triw ulan ini terutama karena meningkatnya konsumsi masyarakat akibat dari membaiknya kondisi usaha di bidang perkebunan. Bahkan para pelaku usaha tersebut merencanakan akan menambah kapasitas usaha mereka untuk mengantisipasi adanya peningkatan konsumsi masyarakat. 5.61% 0.00% 1.00% 2.00% 3.00% 4.00% 5.00% 6.00% 7.00% 8.00% 1,120,000 1,145,000 1,170,000 1,195,000 1,220,000 1,245,000 1,270,000 1,295,000
I II III IV I II III IV I II III
2008 2009 2010
Konsumsi RT g(YOY) -2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00 18.00 20.00
9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9
2008 2009 2010
Perkembangan Ekonomi M akro Regional
Grafik 1.5. Konsumsi Listrik Rumah Tangga dan Perkembangan Kendaraan M ilik Sw asta di Provinsi Bengkulu
Sumber : Dispenda Prov. dan PLN Bengkulu, diolah
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga didukung oleh peningkatan kredit konsumsi yang disalurkan perbankan. Kredit konsumsi mengalami kenaikan di triw ulan ini. Secara tahunan kredit konsumsi tumbuh 7,7% dari Rp2,68 triliun di bulan September 2009 menjadi Rp2,89 triliun di bulan yang sama tahun ini. Selain itu, jika dibandingkan triw ulan II tahun 2010, kredit konsumsi di triw ulan ini juga tumbuh sebesar 5% . Kondisi ini menggambarkan adanya kenaikan konsumsi yang dibiayai secara kredit oleh masyarakat umum.
Grafik 1.6. Kredit Konsumsi Perbankan di Provinsi Bengkulu
Sumber : Lap Bulanan Bank Umum KBI Bengkulu
50 55 60 65 70 75 80 85 90
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2
2008 2009 2010
Konsumsi Listrik RT (juta Kw h)
-50 100 150 200 -1,000 2,000 3,000 4,000 5,000 6,000 7,000 8,000 9,000 10,000
9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8
2008 2009 2010
Jumlah Kendaraan Baru
Roda 2 (kiri) Bus/Truk (kanan) Roda 4 (kanan)
-10% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 2,200,000 2,300,000 2,400,000 2,500,000 2,600,000 2,700,000 2,800,000 2,900,000 3,000,000
9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9
2008 2009 2010
Perkembangan Ekonomi M akro Regional
Berikutnya, peningkatan konsumsi rumah tangga khususnya terhadap konsumsi non-makanan tercermin dari peningkatan pembelian kendaraan baru baik roda dua maupun roda empat. Jumlah kendaraan baru di periode Juli-Agustus tahun 2010 sebanyak 14.034 buah, sedangkan di periode yang sama tahun sebelumnya hanya 7.193 buah sehingga ada peningkatan sekitar 95% .
Namun hasil survei konsumen yang dilakukan Bank Indonesia Bengkulu secara umum justru menunjukkan arah penurunan dibanding triw ulan sebelumnya. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di triw ulan ini menurun dari 125,78 menjadi 121,44. Penurunan IKK ini dipengaruhi menurunnya Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang menggambarkan adanya penurunan optimisme responden terhadap kondisi ekonomi saat ini dan kondisi ekonomi di masa mendatang. Walaupun terjadi penurunan, IKK pada triw ulanan masih positif dan menunjukkan adanya optimisme konsumen.
Grafik 1.7. Hasil Survei Konsumen di Provinsi Bengkulu
Sumber : Survei Ekspektasi Konsumen, BI Bengkulu
1.1.2. Investasi Regional
Data investasi regional yang tergambar dari data Pembentukan M odal Tetap Domestik Bruto (PM TDB) pada tabel 1.1. menunjukkan peningkatan. PM TDB pada triw ulan laporan meningkat sebesar 7,36% sedangkan triw ulan sebelumnya tercatat tumbuh sebesar 5,40% (yoy). Pencatatan PM TDB ini 25.00
45.00 65.00 85.00 105.00 125.00
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3
2007 2008 2009 2010
Perkembangan Ekonomi M akro Regional
merupakan investasi yang bersifat tambahan dan dilakukan oleh pelaku ekonomi daerah setempat yang dapat berupa tambahan bangunan atau peralatan untuk kegiatan usaha yang telah dijalaninya.
Dari data penjualan semen dapat dijelaskan adanya arah pertumbuhan laju investasi di Provinsi Bengkulu. Pertumbuhan tahunan konsumsi semen daerah meningkat 4,25% menjadi 33.040 ton di triw ulan laporan. Namun di sisi lain, perkembangan investasi tersebut terlihat tidak searah dengan perkembangan kredit investasi yang disalurkan oleh perbankan. Kredit investasi justru mengalami penurunan di triw ulan ini dimana secara tahunan menurun sebesar 5,16% .
Grafik 1.8. Perkembangan Kredit Investasi dan Konsumsi Semen di Provinsi Bengkulu
juta rupiah kecuali dinyatakan lain
Sumber : Lap Bulanan Bank Umum KBI Bengkulu dan Asosiasi Semen Indonesia, diolah
1.1.3. Ekspor dan Impor Regional
Kegiatan ekspor terlihat melambat di triw ulan laporan dimana peningkatan ekspor secara tahunan (yoy) sebesar 0,98% sedangkan triw ulan sebelumnya sebesar 3,07% . Impor antar daerah/negara juga mengalami perlambatan. Di triw ulan laporan pertumbuhan impor sebesar 4,37% sedangkan triw ulan sebelumnya sebesar 7,05% . Tren perkembangan ekspor dan impor antar daerah/negara di triw ulan laporan dapat dilihat pada tabel 1.2. di baw ah. Perlambatan tersebut diperkirakan terjadi untuk jenis ekspor antar daerah. Hal ini karena dari data perkembangan ekspor mancanegara, terlihat adanya perkembangan yang lebih baik. -10.00% 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00% 350,000 400,000 450,000 500,000 550,000 600,000
9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9
2008 2009 2010
Kredit Investasi g(YOY) -20.00% 0.00% 20.00% 40.00% 60.00% 80.00% 100.00% 120.00% 25,000 30,000 35,000 40,000 45,000 50,000 55,000 60,000
9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9
2008 2009 2010
Kons. Semen (ton)
Perkembangan Ekonomi M akro Regional
Tabel 1.2. Perkembangan Ekspor dan Impor Regional dalam pembentukan PDRB menurut Harga Konstan Provinsi Bengkulu
juta rupiah
2009 2010
Q-2 Q-3 Q-4 Q-1 Q-2 Q-3
Ekspor 547.712 548.916 550.162 559.781 564.522 554.314
Impor 301.358 319.885 315.529 315.774 322.615 333.861
Sumber : BPS Provinsi Bengkulu, angka sementara
Perkembangan volume ekspor daerah ke mancanegara berdasarkan pemberitahuan ekspor barang mengalami peningkatan secara tahunan. Tabel 1.3 di baw ah menggambarkan kegiatan perdagangan lintas negara dari dan ke Provinsi Bengkulu yang dicatat berdasarkan data Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB).
Tabel 1.3. Perkembangan Ekspor Barang-Barang Non-M igas Utama M enurut Jenis Barang di Provinsi Bengkulu
nilai dalam ribu dollar, volume dalam ton
M ata Dagangan Ket. 2009 2010 Proporsi Q-2 Q-3 Q-4 Q-1 Q-2 Q-3*
Lemak/ minyak hew an/ nabati
Nilai 8.328 8.913 6.918 6.499 11.919 10.677 17,84% Volume 14.018 13.000 10.375 9.000 15.500 14.205
Kakao dan produk kakao
Nilai 658 561 923 458 585 726 1,21%
Volume 325 213 400 175 225 225
Bahan bakar mineral
Nilai 8.659 8.835 16.143 22.376 23.061 13.949 23,31% Volume 216.908 198.923 371.244 460.298 449.736 248.343
Karet dan barang dari karet
Nilai 13.774 15.106 21.119 28.093 34.287 34.491 57,63% Volume 10.488 9.927 10.229 9.757 11.109 11.900
Lainnya
Nilai 366 620 995 799 1.282 9 0,01%
Volume 11.032 22.060 33.168 23.416 26.522 -
Total Nilai 31.785 34.035 46.098 58.225 71.134 59.852 100%
Volume 252.771 244.123 425.776 502.646 503.092 274.674
Sumber : SEKDA Provinsi Bengkulu. BI Bengkulu; * ) angka perkiraan
Dari tabel di atas terlihat adanya peningkatan volume ekspor ke mancanegara yang berasal dari Provinsi Bengkulu pada triw ulan laporan secara tahunan1. Dalam tabel 1.3. di atas, kenaikan volume ekspor terlihat
1
Perkembangan Ekonomi M akro Regional
secara signifikan terjadi pada komoditas batubara dan karet. Pertumbuhan tahunan volume ekspor batubara diperkirakan sebesar 25% yaitu dari 199 ribu ton menjadi 248 ribu ton di triw ulan ini.
Nilai ekspor Provinsi Bengkulu secara tahunan di triw ulan ini diperkirakan juga mengalami peningkatan. Kenaikan yang terjadi cukup signifikan hingga 76% yaitu dari US$34.035 ribu menjadi US$59.852 ribu. Jika ditelaah lebih lanjut kenaikan ini didorong oleh komoditas karet dan CPO dimana jika dilihat dari perkembangan harga komoditas di pasar internasional kedua komoditas tersebut mengalami kenaikan harga masing-masing sebesar 73% dan 38% .
Grafik 1.9. Perkembangan Harga Beberapa Komoditas Ekspor Bengkulu
dalam US$/kg untuk karet. US$/metric ton untuk CPO & batubara
Sumber : DSM Bank Indonesia dan Bloomberg. diolah
Bila melihat jumlah ekspor berdasarkan negara pembeli (Tabel 1.4), Belgia, Amerika Serikat dan Singapura merupakan negara dengan jumlah pembelian terbesar atas komoditas dari Bengkulu. Jumlah transaksi ketiga negara tersebut sebesar US$21.526 ribu atau sekitar 54% dari nilai ekspor di triw ulan ini, sedangkan negara dari kelompok negara lainnya yang melakukan pembelian komoditas ekspor cukup besar dari Bengkulu adalah Jepang dan India. Pada triw ulan ini ekspor ke negara tersebut masing-masing sebesar US$7.420 ribu dan US$4.480 ribu, dengan porsi sekitar 30% dari nilai ekspor secara keseluruhan.
-200 400 600 800 1,000 1,200
9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9
2008 2009 2010
Perkembangan Ekonomi M akro Regional
Tabel 1.4. Perkembangan Ekspor Barang-Barang Non-M igas Utama M enurut Negara Pembeli di Provinsi Bengkulu
nilai dalam ribu dollar. volume dalam ton
Negara Pembeli Ket. 2009 2010
Q-2 Q-3 Q-4 Q-1 Q-2 Q-3* Amerika Serikat Nilai 1.994 1.586 6.534 15.387 13.339 7.397
Volume 1.525 1.094 3.126 5.393 4.327 2.576
Thailand Nilai 4.708 5.560 4.935 3.456 4.892 996
Volume 113.951 138.193 101.940 76.855 96.724 18.166
Singapura Nilai 11.422 13.623 13.877 4.360 7.799 5.967
Volume 17.578 26.386 57.657 1.537 2.907 2.036
M alaysia Nilai 1.809 2.054 2.217 3.561 4.688 1.747
Volume 36.220 36.524 44.765 64.417 85.849 26.827
Hongkong Nilai - - 1.131 - - -
Volume - - 29.771 - - -
Jerman Nilai - - 285 - - -
Volume - - 122 - - -
Belgia Nilai 8.645 9.719 7.226 7.355 12.610 8.162
Volume 14.240 13.537 10.915 9.302 15.343 9.771
Lainnya Nilai 3.207 1.493 9.893 24.106 27.806 15.632
Volume 69.257 28.389 177.480 345.142 297.942 123.739
Total Nilai 31.785 34.035 46.098 58.225 71.134 39.901
Volume 252.771 244.123 425.776 502.646 503.092 183.115
Sumber : SEKDA Provinsi Bengkulu. BI Bengkulu; * ) data hingga bulan Agustus
1.2. PDRB Sisi Sektoral
Tabel 1.5. Laju Pertumbuhan PDRB Bengkulu (y-o-y) M enurut Sektor
persen
Lapangan Usaha Trw -IV
2009 Trw -I 2010 Trw -II 2010 Trw -III 2010 1. Pertanian
2. Pertambangan dan Penggalian 3. Industri Pengolahan
4. Listrik, Air dan Gas 5. Bangunan
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 7. Angkutan dan Komunikasi 8. Keuangan dan Persew aan 9. Jasa-jasa 3,23 86,41 6,52 0,45 8,52 4,96 7,65 11,26 9,53 1,51 42,64 8,77 11,76 7,75 7,07 9,88 14,06 12,42 -3,32 18,26 8,70 13,34 8,48 7,72 10,92 13,32 14,86 3,90 10,37 5,60 10,54 6,49 9,65 12,43 13,53 9,19
P D R B 7,50 7,41 5,46 7,58
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu; angka sementara
Perkembangan Ekonomi M akro Regional
paling tinggi di triw ulan ini adalah sektor keuangan dan persew aan dengan pertumbuhan mencapai 13,53% .
Struktur perekonomian Provinsi Bengkulu sebagaimana terlihat dari tabel 1.6 di baw ah terlihat masih didominasi oleh sektor pertanian diikuti sektor perdagangan-hotel-restoran dan sektor jasa-jasa. Kontribusi ketiga sektor ini terhadap perekonomian Provinsi Bengkulu mencapai 75% di triw ulan laporan. Naik turunnya ketiga sektor tersebut akan sangat mempengaruhi kinerja perekonomian Provinsi Bengkulu secara keseluruhan.
Tabel 1.6. Perkembangan PDRB Atas Dasar Harga Konstan dan Lapangan Usaha Provinsi Bengkulu
juta rupiah (kecuali dinyatakan lain)
Lapangan Usaha Q1-2010 Q2-2010 Q3-2010
Nilai Porsi Nilai Porsi Nilai Porsi
1. Pertanian 760.113 38,06 748.276 36,77 763.206 36,68
2. Pertambangan dan Penggalian 76.030 3,81 78.336 3,85 79.656 3,83
3. Industri Pengolahan 80.431 4,03 82.297 4,04 82.702 3,97
4. Listrik. Gas dan Air 9.639 0,48 9.962 0,49 10.328 0,50
5. Bangunan 58.156 2,91 60.669 2,98 62.786 3,02
6. Perdagangan. Hotel dan Restoran 396.395 19,85 407.395 20,02 418.839 20,13
7. Pengangkutan dan Komunikasi 167.139 8,37 172.470 8,48 185.226 8,90
8. Keuangan dan Persew aan 98.085 4,91 102.266 5,03 104.932 5,04
9. Jasa jasa 351.293 17,59 373.352 18,35 373.137 17,93
PDRB 1.997.282 100,00 2.035.023 100.00 2.080.812 100.00
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu; angka sementara
1.2.1. Sektor Pertanian
Laju pertumbuhan sektor pertanian secara tahunan meningkat di triw ulan ini, yaitu sebesar 3,90% , sedangkan di triw ulan sebelumnya menurun sebesar 3,32% . Sektor ini sangat berpengaruh terhadap perekonomian daerah karena porsi sektor ini terhadap perekonomian sekitar 37% . Peningkatan di sektor ini diperkirakan karena meningkatnya produksi pada subsektor perkebunan. Hal tersebut didorong oleh meningkatnya harga-harga komoditas perkebunan seperti CPO dan terutama karet.
Perkembangan Ekonomi M akro Regional
peningkatan kinerja sektor pertanian. Informasi yang diperoleh menyatakan bahw a usaha mereka mengalami peningkatan di triw ulan ini yang sebagian besar didorong oleh membaiknya sektor pertanian khususnya subsektor perkebunan.
Sebaliknya dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha yang juga dilakukan Bank Indonesia Bengkulu terlihat adanya penurunan optimisme petani di triw ulan ini dikarenakan adanya musim yang kurang baik. Kondisi ini diperkirakan untuk subsektor tanaman bahan makanan. Sejalan dengan itu, pertumbuhan tahunan kredit ke sektor pertanian juga menurun cukup signifikan hingga mencapai 20% . Kredit pertanian yang disalurkan perbankan di triw ulan ini sebesar Rp247 miliar, sementara triw ulan yang sama tahun lalu mencapai Rp308 miliar. Namun jika dilihat pertumbuhan secara triw ulanan maka masih ada pertumbuhan penyaluran kredit pertanian pada triw ulan II 2010 dibandingkan dengan triw ulan sebelumnya.
Grafik 1.10. Indikator Sektor Pertanian Provinsi Bengkulu
Sumber : Bank Indonesia Bengkulu. diolah
1.2.2. Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran
Sektor perdagangan, hotel dan restoran pada triw ulan III 2010 juga mengalami pertumbuhan tahunan yang cukup besar yaitu sebesar 9,65% . Jika dibanding triw ulan sebelumnya, pertumbuhan di triw ulan ini juga lebih besar dimana triw ulan sebelumnya tumbuh sebesar 7,72% . Sektor ini memiliki peran yang cukup dominan dalam PDRB Provinsi
-23% -3% 17% 37% 57% 77% 175,000 195,000 215,000 235,000 255,000 275,000 295,000 315,000 335,000 9 1
0 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9
2008 2009 2010
Kredit Pertanian (Rp Juta)
gYOY -55% -5% 45% 95% 145% 195% 0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000 9 1
0 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8
2008 2009 2010
Realisasi Ekspor Perkebunan (Ton)
Perkembangan Ekonomi M akro Regional
Bengkulu dengan porsi sekitar 20% yaitu kedua tertinggi setelah sektor pertanian. Pertumbuhan di sektor ini juga terlihat dari pertumbuhan kredit ke sektor perdagangan, hotel dan restoran yang tumbuh mencapai 11% , sedangkan pertumbuhan tahunan kredit tersebut di triw ulan sebelumnya hanya sebesar 7% .
Berdasarkan hasil liaison ke sektor perdagangan, hotel dan restoran, pertumbuhan di sektor ini salah satunya didorong oleh membaiknya sektor pertanian. Dengan membaiknya kinerja sektor pertanian mendorong masyarakat dari kalangan petani untuk meningkatkan konsumsinya sehingga menyebabkan kinerja sektor perdagangan juga meningkat. Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha juga memperkuat kondisi ini dimana di triw ulan III tahun 2010 terjadi peningkatan realisasi usaha khususnya dari subsektor perdagangan. Hal ini terjadi karena di triw ulan ini juga bersamaan dengan adanya Hari Raya Idul Fitri yang mendorong adanya peningkatan usaha.
Grafik 1.11. Indikator Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran Provinsi
Bengkulu
1.2.3. Sektor Jasa - Jasa
Sektor jasa-jasa mengalami pertumbuhan yang melambat di triw ulan ini. Pertumbuhan sektor ini di triw ulan laporan sebesar 9,19% sedangkan triw ulan sebelumnya mencapai 14,86% . Porsi sektor ini
-23% -3% 17% 37% 57% 77% 150,000 350,000 550,000 750,000 950,000 1,150,000 1,350,000 1,550,000
1 2 3 4 5 6 7 8 9
1
0
1
1
1
2 1 2 3 4 5 6 7 8 9
1
0
1
1
1
2 1 2 3 4 5 6 7 8 9
2008 2009 2010
Kredit PHR (Rp Juta)
Perkembangan Ekonomi M akro Regional
terhadap ekonomi daerah juga cukup besar yaitu sekitar 18% , sehingga sektor ini tetap menjadi pendukung tumbuhnya ekonomi daerah. Pertumbuhan ekonomi di sektor ini diperkirakan masih didorong oleh subsektor jasa pemerintahan umum.
Laju pertumbuhan sektor jasa-jasa juga terlihat dari pembiayaan perbankan secara tahunan. Laju pertumbuhan kredit untuk sektor jasa khususnya jasa sosial dibandingkan triw ulan yang sama tahun sebelumnya juga tumbuh melambat dimana triw ulan ini tumbuh sebesar 1% sedangkan triw ulan sebelumnya tumbuh sebesar 4% . Sementara dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) di triw ulan III tahun 2010 juga mengkonfirmasi adanya pertumbuhan di sektor ini. Hasil saldo bersih realisasi responden di sektor jasa ini mengalami peningkatan di sektor ini sebagaimana terlihat di grafik 1.12 dibaw ah.
Grafik 1.12. Indikator Sektor Jasa-jasa di Provinsi Bengkulu
Sumber : Bank Indonesia Bengkulu & BPS Provinsi Bengkulu. diolah & angka sementara
1.2.4. Sektor Konstruksi
Sebagaimana terjadi di sektor jasa-jasa, pertumbuhan sektor konstruksi secara tahunan di triw ulan ini juga mengalami perlambatan dibanding triw ulan II tahun 2010. Pertumbuhan di triw ulan ini sebesar 6,49% sedangkan triw ulan sebelumnya tumbuh 8,48% . Adapun porsi sektor ini terhadap ekonomi daerah terbilang masih cukup rendah yaitu hanya sekitar 3% .
50,000 100,000 150,000 200,000 250,000 300,000 350,000 400,000
I II III IV I II III IV I II III
2008 2009 2010
Kredit Sektor Jasa (juta Rp) PDRB Sektor Jasa (juta Rp)
(9.00) (4.00) 1.00 6.00 11.00 16.00
I II III IV I II III IV I II III IV I II III
2007 2008 2009 2010
Perkembangan Ekonomi M akro Regional
Dari sisi kredit perbankan, kredit ke sektor konstruksi mengalami penurunan dimana laju pertumbuhan secara tahunan turun 4% dari Rp162 miliar di triw ulan III tahun 2009 menjadi Rp155 miliar di triw ulan ini. Hal ini terlihat pada grafik 1.13 di baw ah. Data konsumsi semen daerah di triw ulan ini juga menunjukkan adanya sedikit penurunan dibanding triw ulan yang sama tahun sebelumnya. Pada triw ulan III tahun 2009 konsumsi semen daerah sebanyak 127.584 ton sementara konsumsi semen triw ulan III 2010 sebesar 121.531 ton atau menurun 5% .
Sementara itu, hal yang berbeda terjadi pada pertumbuhan penyaluran kredit perumahan oleh perbankan daerah secara tahunan. Kredit tersebut secara tahunan meningkat secara tahunan sebesar 18% , yaitu dari Rp311 miliar di triw ulan III tahun 2009 menjadi Rp367 miliar di triw ulan laporan.
Grafik 1.13. Indikator Sektor Konstruksi di Provinsi Bengkulu
Sumber : Bank Indonesia dan Asosiasi Semen Indonesia. diolah
1.2.5. Sektor Listrik, Gas dan Air
Sektor listrik, gas dan air juga mengalami perlambatan di triw ulan ini dimana laju pertumbuhan di triw ulan ini sebesar 10,54% sedangkan triw ulan sebelumnya tumbuh mencapai 13,34% . M eski pertumbuhan sektor ini terbilang masih cukup tinggi namun porsinya terhadap perekonomian daerah masih cukup kecil yaitu hanya sebesar 0,50% .
-20.00% 0.00% 20.00% 40.00% 60.00% 80.00% 100.00% 120.00% 20,000 25,000 30,000 35,000 40,000 45,000 50,000 55,000 60,000
9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9
2008 2009 2010
Kons. Semen (ton)
g(YOY) -100 200 300 400 500 600 9 1
0 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9
2008 2009 2010
Penyaluran Kredit (miliar Rp)
Perkembangan Ekonomi M akro Regional
Adanya pertumbuhan di sektor ini juga terlihat dari adanya arah peningkatan konsumsi listrik sebagaimana data yang ada di PLN Bengkulu. Konsumsi listrik di aw al triw ulan ini terlihat mengalami peningkatan dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu data kredit yang disalurkan perbankan ke sektor ini di Provinsi Bengkulu secara tahunan juga mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Kredit yang disalurkan ke sektor ini di triw ulan III tahun 2010 sebesar Rp12.426 juta sedangkan pada triw ulan yang sama tahun 2009 hanya sebesar Rp315 juta. Hal tersebut dapat terlihat pada Grafik 1.14. di baw ah.
Grafik 1.14. Indikator Sektor Listrik, Gas dan Air di Provinsi Bengkulu
Sumber : PLN Bengkulu dan Bank Indonesia. diolah
1.3. Perkembangan Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Indikator kesejahteraan petani sebagaimana tergambar melalui indikator nilai tukar petani (NTP) sampai dengan bulan September 2010 relatif stabil bila dibanding triw ulan sebelumnya. Perubahan NTP ini dapat menggambarkan bahw a tingkat kesejahteraan hidup petani relatif tidak berubah dibanding triw ulan sebelumnya. NTP sedikit berubah dari 104,34 menjadi 104,54 atau naik 0,20. 22 24 26 28 30 32 34 36 38 40 215 217 219 221 223 225 227 229
9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7
2008 2009 2010
Konsumsi Listrik
Jml. Pelanggan (ribu orang, axis kiri) Konsumsi (juta KWh, axis kanan)
-100% 900% 1900% 2900% 3900% 4900% 100 2,100 4,100 6,100 8,100 10,100 12,100 14,100 16,100 9 1
0 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9
2008 2009 2010
Kredit Sektor Listrik, Gas, Air (juta Rp)
Perkembangan Ekonomi M akro Regional
Grafik 1.15. Perkembangan Indeks Nilai Tukar Petani di Provinsi Bengkulu
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu; diolah
Sementara itu, perkembangan jumlah penduduk miskin di tahun 2010 dibanding tahun sebelumnya juga terlihat relatif stabil. M eski secara jumlah terlihat ada sedikit peningkatan namun persentase terhadap jumlah penduduk mengalami penurunan. Jumlah penduduk miskin di tahun 2010 adalah sebesar 324,9 ribu orang atau naik 0,25% dari penduduk miskin di tahun 2009. Namun persentase penduduk miskin terhadap jumlah penduduk di Bengkulu mengalami penurunan yaitu dari 18,59% di tahun 2009 menjadi 18,30% di tahun ini.
Tabel 1.7. Perkembangan Jumlah Penduduk M iskin di Provinsi Bengkulu
Ribuan untuk jumlah
M ar. 2008 M ar. 2009 M ar. 2010
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
Jumlah Penduduk M iskin 352,0 20,64 324,1 18,59 324,9 18,30
Sumber : Badan Pusat Statistik
104.34
104.54
95 100 105 110 115
9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Perkembangan Ekonomi M akro Regional
B
O
K
S
1
HASIL LIAISON KBI BENGKULU TRIW ULAN III - 2010
Kegiatan Liaison selama Triw ulan III-2010 dilakukan melalui kunjungan w aw ancara terhadap 6 contact yang terdiri dari subsektor hotel, lembaga keuangan non bank, pengangkutan serta perdagangan besar dan eceran. Secara ringkas, tingkat penjualan domestik produk yang dijual pelaku usaha secara umum mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan kondisi rata-rata disebabkan oleh membaiknya situasi ekonomi dan pendapatan masyarakat. Hal ini berakibat pada kondisi tingkat utilisasi kapasitas usaha yang juga meningkat. Untuk itu, pelaku usaha berupaya untuk melakukan investasi di tahun berjalan guna meningkatan pelayanan dan meningkatan kapasitas produksi. M eski penjualan meningkat namun margin usaha diperkirakan tetap karena naiknya biaya-biaya masih bisa diimbangi dengan kenaikan harga jual. Selanjutnya, seluruh perusahaan melaporkan bahw a jumlah tenaga kerja cenderung naik dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu karena adanya ekspansi usaha pada subsektor pengangkutan, hotel dan lembaga keuangan non-bank.
Adapun hasil liaison tersebut adalah sebagai berikut :
A. Permintaan Domestik
Sebagian besar responden menyatakan bahw a volume penjualan pada triw ulan III-2010 ini mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan yaitu berkisar antara meningkat sesuai tren hingga sedikit diatas tren rata-rata. Hanya pelaku usaha di sektor pedagang eceran yang diw akili oleh pedagang eceran elektronik menyatakan mengalami penurunan volume penjualan karena adanya peningkatan persaingan usaha dipicu oleh beroperasinya salah satu hipermarket di kota Bengkulu. Namun, secara umum subsektor perdagangan eceran masih mengalami peningkatan volume penjualan.
Pada subsektor hotel, peningkatan penjualan didorong oleh meningkatnya permintaan konsumen yang berasal dari kalangan pebisnis yang banyak mengunjungi kota Bengkulu di pertengahan hingga akhir tahun untuk menyelesaikan proyek-proyek pemerintah. Peningkatan serupa juga dialami oleh subsektor pengangkutan yang distimulus oleh relatif tidak berubahnya tarif angkutan dan membaiknya perekonomian masyarakat. Peningkatan permintaan masyarakat tergambar dari load factor dimana saat ini mencapai rata-rata 70% sementara di tahun sebelumnya hanya di kisaran 40% . Sementara itu, subsektor lembaga keuangan non-bank menunjukkan perkembangan menggembirakan yang diindikasikan oleh terjadinya peningkatan volume penjualan dibandingkan kondisi tahun lalu yaitu sekitar 25% hingga 32% .
B. Kapasitas Utilisasi
Peningkatan omset penjualan biasanya berhubungan dengan meningkatnya penggunaan kapasitas. Pada triw ulan ini, subsektor yang menyatakan mengalami peningkatan penjualan juga mengalami peningkatan penggunaan kapasitas utilisasi seperti yang terjadi pada subsektor hotel dan lembaga keuangan non-bank. Sedangkan pada subsektor pengangkutan meskipun mengalami peningkatan volume penjualan, penggunaan kapasitas usahanya cenderung stabil. Demikian pula pada subsektor perdagangan eceran. Tingkat utilisasi subsektor-subsektor ini berkisar antara 50% hingga 100% . Utilitas 100% dicapai oleh pelaku usaha di subsektor lembaga keuangan non-bank.
C. Investasi
Seluruh pelaku usaha melaporkan adanya rencana investasi pada tahun ini. Bentuk investasi yang dilakukan juga tergolong cukup signifikan yang ditujukan antara lain untuk peningkatan pelayanan dan peningkatan kapasitas produksi antara lain berupa perluasan jaringan kerja. Namun demikian, untuk tahun depan sebagian besar pelaku usaha belum menunjukkan adanya keinginan untuk melakukan investasi. Hanya pelaku usaha subsektor lembaga keuangan non-bank dan pengangkutan yang berencana melakukan investasi yaitu berupa perluasan jaringan kerja dan penambahan kapasitas produksi.
D. Tenaga Kerja
Secara umum pelaku usaha melaporkan bahw a jumlah tenaga kerja di triw ulan ini dibandingkan dengan triw ulan yang sama tahun lalu cenderung meningkat. Peningkatan ini sejalan dengan dilakukannya beberapa investasi untuk peningkatan kapasitas dan jaringan usaha pada tahun ini. Subsektor yang melaporkan jumlah tenaga kerja cenderung tetap dan menurun adalah subsektor perdagangan eceran. Subsektor perdagangan eceran menyatakan tidak akan melakukan penambahan tenaga kerja pada tahun depan karena efisiensi yang harus dilakukan untuk mempertahankan keberlangsungan usaha mereka. Sedangkan subsektor lembaga keuangan non-bank dan pengangkutan menyatakan akan melakukan penambahan tenaga kerja seiring dengan penambahan kapasitas usaha yang telah direncanakan.
E. Biaya-biaya
Struktur biaya untuk pelaku usaha di subsektor hotel terutama didominasi oleh biaya tenaga kerja yang berkontribusi sekitar 50% dari total biaya dan sisanya merupakan biaya operasional. Pada subsektor lembaga keuangan non-bank struktur biaya terdiri dari biaya operasional dan biaya tenaga kerja.
Secara umum ada perbaikan tingkat upah dibandingkan dengan tahun lalu. Hal ini karena perusahaan secara keseluruhan sudah membayar upah pekerja mereka sesuai bahkan diatas Upah M inimum Provinsi (UM P). Proyeksi tingkat upah pada tahun depan secara umum diperkirakan akan mengalami peningkatan karena biasanya tingkat UM P mengalami kenaikan setiap tahun.
F. Harga Jual dan M argin
Secara umum seluruh subsektor menyatakan bahw a harga jual komoditas mereka mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun lalu. Hanya subsektor pengangkutan yang menyatakan tidak mengalami kenaikan harga jual. Kenaikan harga jual terutama diakibatkan adanya kenaikan harga bahan baku dan biaya tenaga kerja. Pada tahun depan diperkirakan harga jual juga masih akan mengalami kenaikan.
M argin per unit secara umum tidak mengalami perubahan pada triw ulan ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Subsektor perdagangan, hotel dan jasa pengangkutan termasuk dalam usaha yang margin usahanya stabil pada tahun ini. Stabilnya margin per unit disebabkan oleh berimbangnya kenaikan harga jual dengan biaya-biaya yang harus dikeluarkan serta adanya penyesuaian margin akibat semakin ketatnya persaingan usaha.
G. Pembiayaan
Perkembangan Inflasi Daerah
BAB
2
PERKEM BANGAN INFLASI DAERAH
2.1. Perkembangan Inflasi
Inflasi tahunan Kota Bengkulu1
pada triw ulan III tahun 2010 sedikit menurun dibanding triw ulan sebelumnya yaitu dari 7,21% menjadi 7,03% . Namun inflasi yang terjadi tersebut masih berada di atas inflasi nasional yang sebesar 5,80% . Sebagaimana triw ulan sebelumnya, t ingginya inflasi masih didorong oleh timbulnya permasalahan di sisi penaw aran (supply shocks) terutama untuk komoditas di kelompok bahan makanan. Dengan pencapaian inflasi tersebut maka secara keseluruhan selama tahun 2010 inflasi daerah telah mencapai 7,55% (ytd), sedangkan proyeksi Bank Indonesia, inflasi Bengkulu pada tahun 2010 adalah sebesar 7,25%±1%2.
Grafik 2.1. Perkembangan Inflasi IHK Kota Bengkulu
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu
1
Inflasi yang terjadi di kota Bengkulu diasumsikan dapat mew akili inflasi Provinsi Bengkulu secara keseluruhan
2
Bank Indonesia Bengkulu merevisi angka proyeksi inflasi tahun 2010 dari 5% ±1% menjadi 7,25% ±1%
7.03%
5.80%
0% 5% 10% 15% 20%
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3
2006 2007 2008 2009 2010
Perkembangan Inflasi Daerah
2.2. Faktor Pendorong Inflasi
Gangguan pasokan (supply shock) serta adanya faktor musiman diperkirakan menjadi faktor pendorong inflasi di triw ulan laporan. Gangguan pasokan terutama masih terjadi di kelompok bahan makanan. Beberapa komoditas di kelompok bahan makanan yang termasuk volatile foods dan mendorong kenaikan inflasi di triw ulan ini antara lain cabe merah, daging ayam ras, beras dan dari subkelompok bumbu-bumbuan seperti cabe merah, baw ang merah dan baw ang putih. Inflasi di komoditas tersebut diperkirakan terjadi karena adanya kekurangan ketersediaan komoditas tersebut di pasar. Khusus untuk daging ayam ras, salah satu faktor pendorong langkanya ketersediaan barang tersebut di pasar adalah kurangnya bibit ayam yang terjadi di triw ulan ini. Kondisi tersebut menyebabkan beberapa pemasok ayam yang ada di Bengkulu mengalami kesulitan untuk menyediakan pasokan yang mencukupi.
Sementara itu faktor musiman yang turut memberikan andil dalam pembentukan inflasi adalah adanya bulan Ramadhan dan Idul Fitri 1431 H yang berlangsung di triw ulan III tahun ini. Kedua peristiw a tersebut menyebabkan kenaikan permintaan masyarakat sehingga mendorong kenaikan harga terutama untuk komoditas-komoditas di kelompok bahan makanan dan transportasi.
2.3. Inflasi M enurut Kelompok Barang/ Jasa
Tabel 2.1. Perkembangan Inflasi M enurut Kelompok Barang/ Jasa Kota Bengkulu (Tahunan, y-o-y)
Kelompok Barang/ Jasa Trw II-2010 Trw III-2010 IHK Inflasi (% ) IHK Inflasi (% )
Bahan makanan 142,64 16,37 156,33 15,79
M akanan Jadi, M inuman, Rokok dan Tembakau 131,82 3,65 136,17 4,99
Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar 123,36 3,98 125,07 4,81
Sandang 123,30 6,49 125,65 4,86
Kesehatan 114,18 2,78 114,41 2,10
Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga 115,79 7,90 118,98 3,80
Pengangkutan, Komunikasi dan Jasa Keuangan 102,90 2,73 103,13 1,38
Inflasi Umum 124,24 7,21 129,06 7,03
Perkembangan Inflasi Daerah
Sebagaimana terlihat dalam tabel 2.1, terlihat inflasi terjadi pada seluruh kelompok barang atau jasa. Adapun kelompok yang mengalami inflasi tahunan paling tinggi di triw ulan ini adalah kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi/minuman/rokok/tembakau, serta kelompok sandang. Besaran inflasi untuk kelompok bahan makanan terlihat masih signifikan.
Inflasi tahunan di kelompok bahan makanan pada triw ulan III tahun 2010 sebesar 15,79% . Inflasi di kelompok ini yang mengalami inflasi tahunan paling tinggi adalah di subkelompok daging dan hasil-hasilnya dimana inflasi yang terjadi sebesar 37,75% . Sementara jika dibanding triw ulan sebelumnya, subkelompok ini juga terlihat mengalami inflasi yang tinggi. Sebagaimana terlihat dari grafik 2.2., inflasi tahunan untuk kelompok tersebut melonjak sangat signifikan yaitu dari 2,99% di triw ulan II tahun 2010 menjadi 37,75% di triw ulan laporan. Salah satu komoditas di kelompok tersebut yang menyumbang inflasi secara signifikan adalah daging ayam ras.
Grafik 2.2. Indeks Harga Konsumen Kelompok Bahan M akanan di Kota Bengkulu
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu
Jika melihat sumbangan inflasi per komoditas terhadap inflasi bulanan selama triw ulan III tahun 2010, sebagaimana terlihat di tabel 2.2, komoditas penyumbang inflasi yang berasal dari kelompok bahan makanan terlihat sangat mendominasi pencapaian inflasi daerah di bulan tersebut baik saat inflasi maupun di saat kondisi deflasi terjadi sebagaimana yang terjadi di bulan Agustus. Kelompok
40 90 140 190 240
Padi, Umbi dan hasilnya Daging dan hasilnya Sayur-sayuran
Perkembangan Inflasi Daerah
komoditas lainnya yang turut mempengaruhi inflasi daerah di triw ulan ini adalah komoditas-komoditas di kelompok makanan jadi/minuman/rokok/tembakau, kelompok pendidikan/rekreasi/olahraga, kelompok transpor/komunikasi/jasa keuangan dan kelompok sandang.
Tabel 2.2. Sumbangan Beberapa Komoditas terhadap Inflasi/ Deflasi Bulanan di Bengkulu
Persen
No Juli 2010 Agustus 2010 September 2010 Komoditas Sumb. Komoditas Sumb. Komoditas Sumb.
1. Cabe M erah 1,14 Cabe M erah (0,98) Daging Ayam Ras 0,79
2. Daging Ayam Ras 0,48 Daging Ayam Ras (0,49) Beras 0,11
3. Beras 0,35 Jeruk (0,11) Kelapa 0,10
4. Baw ang Putih 0,30 Baw ang Putih (0,06) Ikan M ujair 0,09
5. Telur Ayam Ras 0,12 Baw ang M erah (0,06) Ikan Tongkol 0,09
6. Baw ang M erah 0,11 Semen (0,06) Ikan Kape-Kape 0,09
7. Sate 0,09 M inyak Goreng (0,03) Angkutan Antar Kota 0,08
8. Ikan Bakar 0,08 Bumbu M asak Jadi (0,03) Ikan Ekor Kuning 0,05
9. Taman Kanak-Kanak 0,07 Tomat Buah (0,03) Sate 0,05
10. Bumbu M asak Jadi 0,06 Tomat Sayur (0,02) Udang Basah 0,04
Jumlah 2,80 Jumlah (1,87) Jumlah 1,49
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu; diolah
Keterangan : Kelompok Bahan M akanan
Kelompok M akanan Jadi/M inuman/Rokok/Tembakau
Kelompok Perumahan/Air/Listrik/Gas/Bahan Bakar
Kelompok Sandang
Kelompok Pendidikan/Rekreasi/Olahraga
Kelompok Transpor/Komunikasi/Jasa Keuangan
Perkembangan Inflasi Daerah
Grafik 2.3. Sumbangan Inflasi Bulan September Per Kelompok Barang/ Jasa
persen
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu
Perkembangan inflasi di kelompok makanan jadi/minuman/rokok/tembakau dapat terlihat di grafik 2.4. Kenaikan inflasi tahunan di kelompok ini terutama didorong dari subkelompok makanan jadi serta subkelompok tembakau dan minuman beralkohol. Subkelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 4,63% dan 7,13% . Sementara bila dibanding triw ulan sebelumnya, inflasi tahunan di kelompok makanan jadi mengalami kenaikan dari 1,95% menjadi 4,63% di triw ulan ini. Berikutnya inflasi di subkelompok tembakau dan minuman beralkohol juga meningkat cukup tinggi di triw ulan ini yaitu dari 5,20% menjadi 7,13% .
Grafik 2.4. Indeks Harga Konsumen Kelompok Sandang (kiri) dan Kelompok M akanan Jadi/ M inuman/ Rokok/ Tembakau (kanan) Kota Bengkulu
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu, diolah
Bahan M akanan 1.03 M akanan Jadi,
M inuman, Rokok, Tembakau
0.13
Perumahan, Air, Listrik, Gas, Bahan
Bakar (0.01) Sandang 0.04 Kesehatan 0.01 Pendidikan, Rekreasi, Olahraga -Transpor, Komunikasi, Jasa Keuangan 0.02 100 110 120 130 140 150 160
9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9
2009 2010
S. Pria S. Wanita S. Anak-anak
Barang Pribadi & Sandang Lain
115 120 125 130 135 140 145
9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9
2009 2010
M akanan Jadi
Perkembangan Inflasi Daerah
Pada kelompok sandang, subkelompok yang mengalami inflasi tertinggi dan lebih bergejolak terjadi pada subkelompok barang pribadi dan sandang lain. Inflasi tahunan yang terjadi di subkelompok tersebut sebesar 9,75% . Sementara kenaikan inflasi tahunan di subkelompok ini dibanding triw ulan sebelumnya adalah dari 8,16% menjadi 9,75% . M enurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu kenaikan subkelompok ini terutama didorong oleh inflasi pada komoditas emas perhiasan. Kenaikan harga emas ditengarai sebagai akibat dari meningkatnya harga emas dunia.
2.4. Inflasi Periode Januari September 2010
Puncak inflasi tahunan yang terjadi di bulan Juli 2010 mendorong pencapaian inflasi Kota Bengkulu pada triw ulan III tahun 2010 meningkat cukup tinggi. Inflasi Kota Bengkulu selama tahun 2010 hingga triw ulan III telah mencapai 7,55% dan berada di atas inflasi nasional. M eski demikian, pergerakan inflasi diperkirakan dapat memasuki fase penurunan di triw ulan akhir tahun ini sehingga proyeksi Bank Indonesia Bengkulu yang memperkirakan inflasi daerah pada tahun 2010 akan mencapai 7,25%±1% dapat tercapai. Salah satu cara yang cukup efektif dalam mengurangi tekanan inflasi daerah adalah melalui peningkatan koordinasi antar instansi untuk memperbaiki kelancaran pasokan di Bengkulu melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Bengkulu. Untuk itu, Bank Indonesia Bengkulu akan meningkatkan kuantitas pertemuan tim agar inflasi daerah dapat tetap terjaga.
Grafik 2.5. Realisasi Inflasi Tahun 2010
0% 2% 4% 6% 8% 10%
Jan Feb M ar Apr M ei Jun Jul Agt Sep
2010
Bengkulu y-o-y Bengkulu y-t-d
Perkembangan Inflasi Daerah
2.5. Perbandingan Inflasi Antar Kota di Sumatera
Inflasi Kota Bengkulu terbilang cukup tinggi bila dibandingkan dengan kota lainnya di Sumatera. Tingginya pencapaian inflasi di triw ulan III ini mendorong Kota Bengkulu sebagai kota ketiga dengan tingkat inflasi tertinggi di Sumatera setelah Jambi dan Pangkal Pinang. Inflasi tahunan di kota-kota tersebut masing-masing sebesar 7,91% dan 7,67% . Kemudian jika dibandingkan dengan inflasi nasional, sebagian besar kota di Sumatera mengalami inflasi di baw ah inflasi nasional