Perihal : Pengawasan Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran Dengan
Menggunakan Kartu
Sehubungan dengan telah diberlakukannya Peraturan Bank Indonesia Nomor
7/52/PBI/2005 tanggal 28 Desember 2005 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Alat
Pembayaran Dengan Menggunakan Kartu (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2005 Nomor 148 , Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4538), untuk menjaga efisiensi, kecepatan, keamanan, dan kehandalan dalam
penyelenggaraan kegiatan Alat Pembayaran Dengan Menggunakan Kartu,
dipandang perlu untuk mengatur lebih lanjut pengawasan terhadap penyelenggaraan
kegiatan Alat Pembayaran Dengan Menggunakan Kartu dalam Surat Edaran Bank
Indonesia.
I. PENGAWASAN PENYELENGGARAAN KEGIATAN ALAT
PEMBAYARAN DENGAN MENGGUNAKAN KARTU (APMK)
A. Obyek Pengawasan
Bank Indonesia c.q. Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran, Bagian
Pengawasan Sistem Pembayaran, melakukan pengawasan terhadap :
1. Penyelenggara APMK (Prinsipal, Penerbit, dan Acquirer)
2. Perusahaan Personalisasi;
3. Penyelenggara kegiatan kliring APMK;
4. Penyelenggara kegiatan penyelesaian akhir APMK; dan
5. Perusahaan Switching dalam hal Perusahaan Switching tersebut
bekerja sama dengan Penerbit dan/atau Financial Acquirer,
B Fokus Pengawasan
Pengawasan terhadap penyelenggaraan APMK difokuskan pada
kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku dalam penyelenggaraan
APMK antara lain meliputi :
1. penerapan aspek manajemen risiko dalam penyelenggaraan kegiatan
APMK;
2. kebenaran dan ketepatan penyampaian informasi dan laporan; dan
3. penerapan aspek perlindungan nasabah.
C Tujuan Pengawasan
Pengawasan bertujuan untuk memastikan penyelenggaraan kegiatan
APMK dilakukan secara efisien, cepat, aman, dan handal dengan
memperhatikan prinsip perlindungan nasabah.
D Metode Pengawasan
Pengawasan terhadap penyelenggaraan kegiatan APMK dilakukan
terutama melalui pengawasan tidak langsung dan apabila diperlukan dapat
dilakukan pengawasan langsung.
1. Pengawasan Tidak Langsung
Pengawasan tidak langsung dilakukan melalui penelitian, analisis,
dan evaluasi atas laporan berkala dan insidentil yang disampaikan
oleh, serta diskusi dengan pihak-pihak sebagaimana dimaksud pada
butir I.A. Di samping itu, pengawasan tidak langsung dapat juga
dilakukan atas dasar data dan/atau informasi lainnya yang diperoleh
Bank Indonesia dari pihak lain.
2. Pengawasan Langsung
Pengawasan langsung dilakukan sewaktu-waktu apabila diperlukan
dengan cara melakukan pemeriksaan (on the spot) terhadap
pihak-pihak sebagaimana dimaksud pada butir I. A.
Dalam rangka pengawasan langsung, pihak-pihak sebagaimana
dimaksud pada huruf A wajib memberikan :
a. keterangan, data transaksi dan data nasabah dalam bentuk hard copy dan/atau soft copy ;
b. kesempatan untuk melakukan pengawasan secara langsung terhadap sarana fisik, sistem, aplikasi pendukung dan database;
c. hal-hal lain yang diperlukan.
Bank Indonesia dapat menugaskan pihak lain untuk dan atas nama
Bank Indonesia melaksanakan pengawasan secara langsung.
II. LAPORAN PENYELENGGARAAN KEGIATAN APMK
Dalam rangka pengawasan tidak langsung, pihak-pihak sebagaimana dimaksud
pada butir I.A wajib menyampaikan laporan tertulis atas penyelenggaraan
kegiatan APMK kepada Bank Indonesia secara berkala dan atau insidentil.
A. Laporan Berkala
1. Laporan berkala merupakan laporan tertulis yang wajib disampaikan
secara benar, akurat dan tepat waktu oleh pihak-pihak sebagaimana
dimaksud pada butir I.A sesuai dengan periode masing-masing
laporan. Laporan berkala terdiri atas laporan bulanan dan laporan
triwulanan.
2. Jenis Laporan Berkala
Laporan berkala yang wajib disampaikan oleh pihak-pihak
sebagaimana dimaksud pada butir I.A meliputi :
a. Prinsipal
Laporan Bulanan Prinsipal dengan format sebagaimana
tercantum dalam Lampiran 1.
b. Penerbit
1) Laporan Bulanan Transaksi APMK terdiri dari :
a) Laporan Bulanan Penerbit Kartu Kredit dengan
format sebagaimana tercantum dalam Lampiran 2a.
b) Laporan Bulanan Penerbit Kartu ATM dan/atau
Kartu Debet dengan format sebagaimana tercantum
dalam Lampiran 2b.
c) Laporan Bulanan Penerbit Kartu Prabayar dengan
format sebagaimana tercantum dalam Lampiran 2c.
2) Laporan Bulanan Fraud dengan format sebagaimana
tercantum dalam Lampiran 3.
3) Laporan Bulanan Tukar Menukar Informasi Data
Pemegang Kartu Antar Penerbit dengan format
sebagaimana tercantum dalam Lampiran 4.
Khusus untuk Penerbit Selain Bank di samping laporan bulanan
tersebut di atas, Penerbit wajib menyampaikan :
1) Laporan Bulanan Kolektibilitas Kartu Kredit dengan
format sebagaimana tercantum dalam Lampiran 5 dengan
klasifikasi :
a) Lancar, apabila pembayaran tepat waktu,
perkembangan rekening baik dan tidak ada
tunggakan serta sesuai dengan persyaratan kredit;
b) Dalam Perhatian Khusus, apabila terdapat
tunggakan pembayaran pokok dan atau bunga
sampai dengan 90 (sembilan puluh) hari;
c) Kurang Lancar, apabila terdapat tunggakan
pembayaran pokok dan atau bunga yang telah
melampaui 90 (sembilan puluh) hari sampai dengan
120 (seratus dua puluh) hari;
d) Diragukan, apabila terdapat tunggakan pembayaran
pokok dan atau bunga yang telah melampaui 120
(seratus dua puluh) hari sampai dengan 180 (seratus
delapan puluh) hari;
e) Macet, apabila terdapat tunggakan pokok dan atau
bunga yang telah melampaui 180 (seratus delapan
puluh) hari.
2) Laporan Triwulanan Penanganan dan Penyelesaian
Pengaduan Nasabah dengan format sebagaimana
tercantum dalam Lampiran 6.
c. Acquirer
Laporan Bulanan Acquirer dengan format sebagaimana
tercantum dalam Lampiran 7.
d. Perusahaan Personalisasi
Laporan Triwulanan Perusahaan Personalisasi dengan format
sebagaimana tercantum dalam Lampiran 8.
e. Penyelenggara Kegiatan Kliring APMK dan/atau Kegiatan
Penyelesaian Akhir APMK
Laporan Triwulanan Penyelenggara Kegiatan Kliring APMK
dengan format sebagaimana tercantum dalam Lampiran 9.
f. Perusahaan Switching
Laporan Triwulanan Perusahaan Switching dengan format
sebagaimana tercantum dalam Lampiran 10.
3. Waktu Penyampaian
Waktu penyampaian laporan berkala diatur sebagai berikut :
a. Prinsipal, Penerbit dan Acquirer wajib menyampaikan laporan
bulanan secara benar, akurat dan tepat waktu kepada Bank
Indonesia. Laporan bulanan tersebut wajib sudah diterima oleh
Bank Indonesia paling lambat tanggal 15 (lima belas) bulan
berikutnya setelah periode laporan.
b. Penerbit, Acquirer, Perusahaan Personalisasi, Perusahaan
Switching dan Penyelenggara Kegiatan Kliring APMK dan/atau
Kegiatan Penyelesaian Akhir APMK wajib menyampaikan
laporan triwulanan secara benar, akurat dan tepat waktu kepada
Bank Indonesia. Laporan triwulanan wajib sudah diterima oleh
Bank Indonesia paling lambat 1 (satu) bulan setelah periode
laporan.
Dalam hal batas waktu penyampaian laporan jatuh pada hari libur
maka laporan harus sudah diterima pada hari kerja berikutnya.
B. Laporan Insidentil
1. Laporan insidentil merupakan laporan tertulis yang wajib
disampaikan secara benar oleh pihak-pihak sebagaimana dimaksud
pada butir I.A kepada Bank Indonesia baik atas permintaan Bank
Indonesia maupun atas inisiatif pihak-pihak tersebut di atas.
2. Jenis Laporan Insidentil
a. Laporan terkait implementasi teknologi pengamanan
penyelenggaraan APMK.
Laporan tersebut antara lain laporan implementasi penggunaan
teknologi chip pada APMK dan laporan penggantian mesin
EDC / ATM dengan pengaturan waktu sebagaimana diatur pada
butir II.B.3. Laporan tersebut wajib disampaikan oleh
masing-masing Penerbit.
b. Laporan terkait Kartu Kredit
Laporan terkait Kartu Kredit wajib disampaikan oleh
pihak-pihak sebagaimana dimaksud pada butir I.A dengan pengaturan
sebagai berikut:
1) Penerbit Kartu Kredit
Penerbit Kartu Kredit menyampaikan hal-hal sebagai
berikut:
a) Ketentuan pemberian Kartu Kredit meliputi :
(1) usia minimum Pemegang Kartu;
(2) pendapatan minimum Pemegang Kartu;
(3) batas maksimum kredit Pemegang Kartu;
(4) persentase minimum pembayaran oleh
Pemegang Kartu; dan
(5) kebijakan penetapan pemberian kartu kredit
yang dikategorikan sebagai ”tanpa batas”
(infinite) sebagaimana diatur dalam Surat
Edaran Bank Indonesia mengenai prinsip
perlindungan nasabah dan kehati-hatian .
b) Standard Operating Procedure (SOP) meliputi :
(1) prosedur pemberian persetujuan kepada calon
pemegang kartu;
(2) prosedur otorisasi;
(3) prosedur pembukuan transaksi;
(4) prosedur penghitungan biaya bunga dan
denda;
(5) prosedur pemberian penambahan limit kredit;
(6) prosedur persetujuan pelampauan batas limit
kredit;
(7) prosedur penagihan piutang, penanganan
kredit macet dan penghapusan piutang;
(8) prosedur pencantuman nasabah ke dalam
Negative List;
(9) prosedur pengamanan kartu (mulai dari
pengawasan pemesanan bahan kartu,
pencetakan, proses pengiriman dan
personalisasi kartu);
(10) prosedur pemilihan dan penetapan
merchant (termasuk standar perjanjian);
(11) prosedur penunjukan agen pemasaran dan
agen penagihan atau debt collector (termasuk
standar perjanjian);
(12) prosedur sistem deteksi dan penanganan
fraud;
(13) prosedur pelaporan kepada manajemen dan
pengawasan internal.
(14) prosedur perencanaan darurat (Disaster
Recovery Plan/DRP) dan kesinambungan
usaha (Business Continuity Plan/BCP) ; dan
(15) prosedur layanan konsumen antara lain
meliputi :
(a) layanan informasi dan fasilitas; dan
(b) penanganan keluhan konsumen.
c) Informasi tertulis yang disampaikan Penerbit kepada
Pemegang Kartu, sekurang-kurangnya meliputi :
(1) hak dan kewajiban Pemegang Kartu;
(2) persentase minimum pembayaran oleh
Pemegang Kartu;
(3) produk yang diterbitkan, antara lain informasi
mengenai prosedur dan tata cara penggunaan
kartu, fasilitas yang melekat pada kartu, tata
cara pembayaran kartu dan risiko yang
mungkin timbul dari penggunaan produk
tersebut;
(4) tata cara penghitungan bunga;
(5) tata cara penghitungan denda;
(6) tata cara pengajuan pengaduan atas kartu yang
diberikan dan perkiraan lamanya waktu
penanganan pengaduan tersebut;
(7) jenis dan besarnya biaya administrasi yang
dikenakan; dan
(8) Formulir lembar penagihan (Billing
Statement).
2) Financial Acquirer Kartu Kredit, wajib menyampaikan
SOP sekurang-kurangnya meliputi :
a) prosedur mekanisme dan pembukuan transaksi serta
otorisasi;
b) prosedur penyelesaian pembayaran;
c) prosedur pemilihan dan penetapan merchant
termasuk standar perjanjian;
d) prosedur pengendalian risiko keuangan dalam hal
terjadi kerugian akibat penggunaan kartu palsu;
e) prosedur penyediaan sarana pengganti (back-up
system) dalam hal terjadi gangguan pada perangkat
keras dan jaringan komunikasi;
f) prosedur penyediaan sarana back-up data transaksi;
g) prosedur penatausahaan arsip; dan
h) prosedur pelaporan kepada manajemen dan
pengawasan internal.
3) Technical Acquirer Kartu Kredit, wajib menyampaikan
SOP sekurang-kurangnya meliputi :
a) prosedur penyediaan sarana pengganti (back-up
system) dalam hal terjadi gangguan pada perangkat
keras dan jaringan komunikasi; dan
b) prosedur penyediaan sarana back-up data transaksi.
4) Perusahaan Personalisasi Kartu Kredit wajib
menyampaikan :
a) Standar perjanjian kerjasama dengan Penerbit atau
Prinsipal
b) SOP sekurang-kurangnya meliputi :
(1) prosedur pengamanan kartu;
(2) prosedur operasional kegiatan personalisasi;
dan
(3) prosedur pengamanan kerahasiaan data.
5) Penyelenggara Kegiatan Kliring Kartu Kredit, wajib
menyampaikan Perjanjian Kerjasama dengan Peserta dan
SOP sekurang-kurangnya meliputi :
a) persyaratan kepesertaan;
b) prosedur operasional kegiatan kliring;
c) prosedur mekanisme dan pembukuan kliring;
d) prosedur penyelesaian transaksi;
e) prosedur DRP dan BCP; dan
f) prosedur pelaporan kepada manajemen dan
pengawasan internal.
6) Perusahaan Switching Kartu Kredit, wajib menyampaikan:
a) persyaratan kepesertaan, penetapan penerbit, dan
standar perjanjian dengan Penerbit;
b) SOP sekurang-kurangnya meliputi :
(1) prosedur mekanisme dan pembukuan transaksi
serta otorisasi;
(2) prosedur penyelesaian pembayaran;
(3) prosedur DRP dan BCP; dan
(4) prosedur pelaporan kepada manajemen dan
pengawasan internal.
c. Laporan terkait Kartu ATM, Kartu Debet, dan Kartu Prabayar
1) Penerbit Kartu ATM, Kartu Debet, dan Kartu Prabayar,
wajib menyampaikan :
a) SOP sekurang-kurangnya meliputi :
(1) Ketentuan mengenai persyaratan calon
pemegang kartu;
(2) prosedur pemberian kartu kepada calon
Pemegang Kartu, termasuk didalamnya :
(a) penerimaan dan pemrosesan aplikasi;
(b) penetapan batas maksimum nilai
transaksi dan penarikan tunai;
(c) penetapan batas maksimum nilai yang
tersimpan pada kartu, khusus untuk
Kartu Prabayar.
(3) prosedur pengamanan kartu (mulai dari
pengawasan pemesanan bahan kartu,
pencetakan, proses pengiriman dan
personalisasi kartu);
(4) prosedur sistem deteksi dan penanganan
fraud;
(5) prosedur pelaporan kepada manajemen dan
pengawasan internal;
(6) prosedur penunjukan merchant termasuk
lampiran perjanjian; dan
(7) prosedur layanan konsumen
(a) layanan informasi dan fasilitas; dan
(b) penanganan keluhan konsumen.
b) Perjanjian kerjasama dengan Perusahaan Switching;
c) Perjanjian dengan Pemegang kartu;
d) Informasi tertulis yang disampaikan penerbit kepada
Pemegang Kartu sekurang-kurangnya meliputi :
(1) produk yang diterbitkan antara lain informasi
mengenai prosedur dan tatacara penggunaan
kartu, fasilitas yang melekat pada produk, dan
risiko yang mungkin timbul dari penggunaan
produk tersebut; dan
(2) tata cara pengajuan pengaduan atas produk
yang diberikan dan perkiraan lamanya waktu
penanganan pengaduan tersebut.
2) Financial Acquirer Kartu ATM, Kartu Debet, dan Kartu
Prabayar wajib menyampaikan SOP sekurang-kurangnya
meliputi :
a) prosedur mekanisme transaksi dan otorisasi;
b) prosedur pembukuan transaksi;
c) prosedur penyelesaian pembayaran;
d) prosedur pemilihan dan penetapan merchant
(termasuk lampiran perjanjian);
e) prosedur penunjukan Perusahaan Switching;
f) prosedur pengaturan risiko keuangan dalam hal
terjadi kerugian akibat penggunaan kartu palsu.
g) prosedur penyediaan sarana pengganti (back-up
system) dalam hal terjadi gangguan pada perangkat
keras dan jaringan komunikasi;
h) prosedur penyediaan sarana back-up data transaksi;
dan
i) prosedur pelaporan kepada manajemen dan
pengawasan internal.
3) Technical Acquirer, wajib menyampaikan SOP
sekurang-kurangnya meliputi :
a) prosedur penyediaan sarana pengganti (back-up
system) dalam hal terjadi gangguan pada perangkat
keras dan jaringan komunikasi; dan
b) prosedur penyediaan sarana back-up data transaksi. 4) Perusahaan Personalisasi Kartu ATM, Kartu Debet, dan
Kartu Prabayar wajib menyampaikan :
a) Standar perjanjian kerjasama dengan Penerbit atau
Prinsipal;
b) SOP sekurang-kurangnya meliputi :
(1) prosedur pengamanan kartu;
(2) prosedur operasional kegiatan personalisasi;
dan
(3) prosedur pengamanan kerahasiaan data.
5) Perusahaan Switching Kartu ATM, Kartu Debet, dan
Kartu Prabayar, wajib menyampaikan : :
a) persyaratan kepesertaan, penetapan penerbit, dan
standar perjanjian dengan Penerbit;
b) SOP sekurang-kurangnya meliputi :
(1) prosedur mekanisme dan pembukuan
transaksi serta otorisasi;
(2) prosedur penyelesaian pembayaran;
(3) prosedur DRP dan BCP; dan
(4) prosedur pelaporan kepada manajemen dan
pengawasan internal.
3. Waktu Penyampaian
Laporan sebagaimana dimaksud pada butir II.B.2.a. wajib
disampaikan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak implementasi
teknologi peningkatan pengamanan APMK.
Laporan sebagaimana dimaksud pada butir II.B.2.b. dan II.B.2.c
wajib disampaikan untuk pertama kali dan harus sudah diterima oleh
Bank Indonesia paling lambat 6 (enam) bulan sejak berlakunya Surat
Edaran ini. Selanjutnya apabila terdapat perubahan atas laporan
tersebut, wajib disampaikan paling lambat 1 (satu) bulan terhitung
sejak terjadinya perubahan.
4. Untuk kepentingan pengawasan terkait dengan kegiatan
penyelenggaraan APMK, Bank Indonesia berwenang meminta data,
informasi, dan atau laporan diluar laporan-laporan sebagaimana
dimaksud pada angka II.
C. Penyampaian Laporan
1. Laporan Berkala wajib disampaikan kepada:
Tim Manajemen Informasi dan Administrasi
Biro Pengembangan Sistem Pembayaran Nasional
Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran
Bank Indonesia, Gedung D Lantai 8
Jl. MH Thamrin No.2
Jakarta 10010
Laporan Berkala disampaikan dalam bentuk hard copy sampai
dengan adanya pemberitahuan tertulis dari Bank Indonesia mengenai
perubahan penyampaian bentuk laporan.
Untuk Penerbit Bank, Laporan Bulanan Kolektibilitas Kartu Kredit
penyampaian laporan dilakukan sebagaimana diatur dalam Surat
Edaran Bank Indonesia mengenai penilaian kualitas aktiva Bank
Umum sedangkan penyampaian Laporan Triwulanan Penanganan
dan Penyelesaian Pengaduan Nasabah dilakukan sebagaimana diatur
dalam Surat Edaran Bank Indonesia mengenai penyelesaian
pengaduan nasabah.
2. Laporan Insidentil wajib disampaikan kepada:
Bagian Pengawasan Sistem Pembayaran
Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran
Bank Indonesia, Gedung D Lantai 9
Jl. MH Thamrin No.2
Jakarta 10010
III. TATA CARA PENGENAAN SANKSI KEWAJIBAN MEMBAYAR
Dalam hal Bank Indonesia mengenakan sanksi kewajiban membayar terhadap
Bank terkait penyelenggaraan kegiatan APMK, sanksi kewajiban membayar
tersebut dilakukan oleh Bank Indonesia dengan cara mendebet rekening giro
Bank di Bank Indonesia.
Sanksi kewajiban membayar yang dikenakan terhadap Lembaga Selain Bank
terkait penyelenggaraan kegiatan APMK dilakukan Direktorat Akunting dan
Sistem Pembayaran dengan cara menyampaikan surat pengenaan sanksi
kewajiban membayar kepada Lembaga Selain Bank tersebut yang antara lain
berisi informasi jumlah sanksi kewajiban membayar dimaksud dan tata cara
pembayarannya kepada Bank Indonesia.
Ketentuan dalam Surat Edaran ini berlaku sejak tanggal 30 Desember 2005.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Surat Edaran ini
dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Demikian agar Saudara maklum.
BANK INDONESIA,