Tabel 1.1.
Pertumbuhan Ekonomi Sektoral dan Penggunaan
Sumber : BPS Kepulauan Riau (diolah) *) Angka sementara
BAB 1
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
1.1. KONDISI UMUM
Pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau pada triwulan II-2010 diestimasi melambat dibanding triwulan sebelumnya. Badan Pusat Statistik (BPS) dalam rilis resminya memperkirakan laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kepulauan Riau sebesar 7,43% (year-on-year), sementara di triwulan I-2010 tumbuh 9,24% (angka revisi). Kondisi ini disebabkan berkurangnya pengeluaran masyarakat untuk barang-barang non-makanan, khususnya semen dan alas kaki. Sebaliknya, permintaan terhadap pakaian relatif meningkat memasuki musim liburan dan tahun ajaran baru sekolah.
Pelaksanaan pilkada Gubernur Kepulauan Riau bersamaan dengan pilkada kabupaten Bintan, Lingga dan Kepulauan Anambas yang diperkirakan menelan dana sekitar Rp 135 miliar memberi stimulus pada komponen konsumsi swasta nirlaba. Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang mitra dagang utama (SGD) yang stabil semakin menggairahkan aktivitas ekspor-impor Kepulauan Riau di triwulan II-2010, sekaligus menahan efek perlambatan ekonomi yang lebih dalam. Terkoreksinya pertumbuhan ekonomi di beberapa negara mitra dagang seperti Korea Selatan, Jepang dan Malaysia belum mempengaruhi kinerja ekspor di triwulan laporan.
Adapun respon ekonomi di sisi produksi tercermin dari penurunan pertumbuhan sektor industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta perbankan. Dampak krisis
Sumber : BPS Kepulauan Riau; MTI Singapore & BEA US Dept. of Commerce, HSBC Global Research (diolah) *) Angka sementara
Grafik 1.1.
Pertumbuhan Ekonomi Kepulauan Riau dan 5 Negara Mitra Dagang Utama (y-o-y) TW‐II TW‐I* TW‐II* 2008 2009*
KOMPONEN PENGGUNAAN ‐ Konsumsi Rumah Tangga 14.82% 27.63% 25.26% 19.03% 17.37% ‐ Konsumsi Lembaga Swasta 17.75% 4.62% 16.35% 13.41% 23.56% ‐ Konsumsi Pemerintah 11.69% 19.66% 15.40% 13.26% 13.95% ‐ Pembentukan Modal Tetap Bruto 11.07% 21.93% 21.92% 29.38% 15.14% ‐ Ekspor Barang dan Jasa ‐1.84% 3.44% 5.58% 6.18% ‐2.11% ‐ Impor Barang dan Jasa 3.57% 14.60% 17.98% 2.94% 7.59% SEKTOR EKONOMI ‐ Pertanian 0.11% 4.57% 4.76% 3.80% 1.50% ‐ Pertambangan & Penggalian ‐0.12% 1.80% 3.10% ‐2.71% 1.10% ‐ Industri Pengolahan 1.28% 9.98% 6.37% 4.56% 2.38% ‐ Listrik, Gas & Air Bersih 1.16% 3.54% 7.77% 7.94% 2.08% ‐ Bangunan 13.65% 12.12% 12.47% 34.26% 13.36% ‐ Perdagangan, Hotel & Restoran 1.53% 11.67% 11.16% 7.77% 3.84% ‐ Pengangkutan & Komunikasi 5.82% 7.04% 7.28% 14.44% 6.67% ‐ Keuangan, Persewaan & Jasa P'an 5.46% 5.25% 5.01% 9.71% 5.50% ‐ Jasa‐Jasa 9.12% 5.39% 5.73% 15.59% 8.44% 2.26% 9.24% 7.43% 6.65% 3.51% year over year 2009 year on year PDRB (termasuk migas) 2010
masih dirasakan oleh industri lokal yang mengalami penurunan kinerja di tengah penguatan ekspor secara umum. Melambatnya aktivitas perdagangan besar dan eceran sejalan dengan permintaan masyarakat yang menurun terhadap barang-barang non-makanan, seperti semen dan alas kaki. Kondisi penurunan yang dihadapi sektor-sektor unggulan tersebut pada akhirnya mempengaruhi kinerja perbankan dalam memberikan dukungan pembiayaan bagi aktivitas sektor riil. Di sisi lain, potensi naiknya biaya dana perbankan khususnya pada bank Pemerintah juga turut memperburuk kinerja perbankan dalam menjalankan fungsi intermediasinya. Di bulan Juni 2010, dana alokasi kurang bayar Dana Bagi Hasil (DBH) Migas tahun 2008 sebesar Rp 681 milyar masuk ke dalam sistem perbankan Kepulauan Riau.
1.2. SISI PERMINTAAN
1.2.1. Konsumsi
Konsumsi rumah tangga diproyeksi sedikit melambat dari 27,63% di triwulan I-2010 menjadi 25,26% (y-o-y) pada triwulan laporan. Penurunan konsumsi rumah tangga terjadi pada barang-barang non-makanan sebagaimana diindikasikan oleh perkembangan beberapa indikator penuntun konsumsi. Pengeluaran konsumsi untuk barang-barang non-makanan diestimasi melambat dari 29,79% menjadi 24,61%, dimana secara historis memiliki kontribusi dominan yang mencapai 60%. Sementara itu pengeluaran konsumsi swasta nirlaba diperkirakan meningkat tajam sehubungan dengan pelaksanaan Pilkada Gubernur Kepulauan Riau, di kabupaten Bintan, Lingga dan Kepulauan Anambas secara serentak pada tanggal 26 Mei 2010. Pelaksanaan seluruh pilkada yang berlangsung aman dalam 1 putaran tersebut diperkirakan menelan dana sekitar Rp 135 miliar.
Sumber : BPS Kepulauan Riau Grafik 1.2.
Pertumbuhan Konsumsi Masyarakat
Sumber : BPS Kepulauan Riau Grafik 1.3.
Pangsa & Pertumbuhan Konsumsi Makanan dan Non-Makanan
Pilkada Jumlah Kandidat Jumlah Pemilih Jumlah TPS Biaya‐biaya Total Biaya Pilkada Pengamanan Gubernur Kepri 3 pasang 1.224.391 3.291
45 miliar 90 miliar 135 miliar
Kab. Bintan 3 pasang 99.154 304
Kab. Lingga 3 pasang 66.050 230
Kab. Kep. Anambas 4 pasang 26.016 89
Menurunnya tingkat pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan II-2010 cukup terindikasi dari perkembangan beberapa indikator penuntun. Konsumsi semen selama triwulan berjalan kembali mengalami pertumbuhan negatif jumlah realisasi sebanyak 165.013 ton, atau turun 0,73% dibanding periode yang sama tahun 2009. Sementara pada triwulan I-2010 total realisasi pengadaan semen di Kepulauan Riau mencapai 194.755 ton, tumbuh 7,3% dibanding triwulan I-2009. Indikasi perlambatan juga terlihat dari turunnya pertumbuhan impor barang-barang konsumsi memasuki bulan April dan Mei 2010. Sebagaimana diketahui bahwa sebagian besar kebutuhan masyarakat masih dipasok dari luar daerah dan luar negeri.
Untuk produk makanan, penurunan impor terjadi pada komoditi ikan-ikan, daging, buah-buahan dan sayuran, serta telur. Sedangkan pada komoditi non-makanan antara lain terjadi pada produk sepatu dan alas kaki. Sebaliknya, permintaan terhadap pakaian relatif meningkat memasuki musim liburan dan tahun ajaran baru sekolah. Adapun lonjakan Impor gula pada bulan Januari sebanyak 3.000 ton dan bulan April sebanyak 2.500 ton terkait dengan pemenuhan kuota impor gula khusus wilayah FTZ sebanyak 6.000 ton yang diberi batas waktu hingga April 2010 sesuai dengan peraturan Menteri Perdagangan.
Grafik 1.4.
Realisasi Pengadaan Semen di Kepulauan Riau
Sumber : Asosiasi Semen Indonesia
Grafik 1.5.
Nilai & Volume Impor Barang Konsumsi
Sumber : SEKDA - BI Tabel 1.2.
Jumlah Kandidat, Pemilih, TPS, dan Biaya Pelaksanaan Pilkada di Kepulauan Riau Tahun 2010
Namun demikian, beberapa indikator penuntun lain masih memperlihatkan tren menguat di triwulan laporan. Penjualan mobil selama tahun 2010 meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Jumlah mobil baru yang terdaftar di Dinas Pendapatan Daerah seluruh kabupaten/kota tercatat sebanyak 1.356 unit, naik 188% dibanding triwulan II-2009. Sementara pada triwulan sebelumnya jumlah penjualan mobil baru juga sudah cukup tinggi yakni sebanyak 1.048 unit atau meningkat 112,6%. Hal ini antara lain dipengaruhi oleh adanya insentif kebijakan Free Trade Zone (FTZ) di Batam-Bintan-Karimun yang membebaskan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10% untuk mobil baru. Dengan demikian harga mobil baru di wilayah FTZ menjadi lebih murah dibanding daerah lainnya di Indonesia. Penjualan sepeda motor baru juga meningkat 66% dibanding tahun sebelumnya, dengan jumlah pendaftaran balik nama mencapai 19.343 unit.
Di samping itu, penjualan listrik PLN Batam untuk golongan rumah tangga tumbuh 14,5% (y-o-y), meningkat jika dibandingkan triwulan I-2010 yang tumbuh 10,7%. Kondisi tersebut berbeda dengan realisasi penjualan listrik secara umum yang melambat dari level pertumbuhan 18,6% menjadi 13,8% di triwulan berjalan, dipicu oleh turunnya pemakaian listrik sektor industri.
Grafik 1.6.
Perkembangan Impor Barang Konsumsi Terpilih
Sumber : SEKDA - BI
Grafik 1.9.
Pertumbuhan Kredit Konsumsi Perbankan
Sumber : Laporan Bulanan Bank
Sumber : Dinas Pendapatan Daerah (diolah) Grafik 1.7.
Pertumbuhan Penjualan Kendaraan Bermotor
Grafik 1.8.
Pertumbuhan Konsumsi Listrik per Gol. Tarif
Berdasarkan indikator pembiayaan konsumsi oleh perbankan di wilayah Kepulauan Riau terindikasi bahwa penurunan konsumsi dialami oleh sektor properti khususnya untuk
rumah tipe >70m2
. Meningkatnya penjualan kendaraan bermotor berkorelasi negatif dengan tren pertumbuhan kredit kendaraan bermotor (KKB) yang menurun di triwulan II-2010. Penurunan ini diduga terkait dengan insentif kenaikan gaji PNS, TNI dan Polri sebesar 5% yang telah direalisasikan pada bulan April 2010, sehingga menambah daya beli masyarakat untuk mengurangi beban kreditnya.
1.2.2. Investasi
Berlanjutnya penguatan ekspor mendorong kinerja investasi tumbuh stabil di level 21,92%, sementara pada triwulan sebelumnya tumbuh 21,93% (y-o-y). Kerusuhan yang terjadi di salah satu perusahaan galangan kapal terbesar di Batam, PT. DryDocks Graha pada pertengahan April lalu relatif tidak berpengaruh terhadap kegiatan investasi secara umum di kota Batam. Namun operasional PT. DryDocks Graha diperkirakan terganggu akibat penundaan jadwal pengiriman kapal yang di-order. Pada bulan Mei 2010 perusahaan seharusnya mengirimkan 1 buah Jack Up Drilling Rigs (L-205 Haven) pesanan Conoco Phillips Skandinavia AS untuk aktivitas pengeboran di blok eksplorasi milik Master Marine–Norwegia senilai US$ 200 juta. Kondisi tersebut tercermin dari drop-nya nilai ekspor kapal pada bulan Mei 2010.
Kegiatan investasi diproyeksi akan semakin tumbuh sebagaimana terkonfirmasi dari tren pertumbuhan impor barang-barang modal. Pangsa utama aktivitas investasi pada triwulan I-2010 masih didominasi oleh investasi industri manufaktur. Berdasarkan jenis industrinya, investasi di sektor manufaktur sebagian besar dilakukan oleh industri galangan kapal (shipyard) baik untuk jasa pembuatan maupun perbaikan kapal, serta industri elektronik
Grafik 1.10.
Perkembangan Investasi PMTB
Sumber : BPS Kepulauan Riau Sumber : SEKDA – BI (BEC)
Grafik 1.11.
berupa peralatan radio, televisi dan alat komunikasi lainnya. Sementara itu, investasi oleh industri mesin-mesin dan perlengkapannya juga mulai memperlihatkan peningkatan meskipun belum pulih sepenuhnya dibanding kondisi sebelum krisis.
Indikator dini kredit investasi perbankan yang tumbuh posisitf selama triwulan II-2010 semakin memberi keyakinan adanya optimisme masyarakat untuk mulai berinvestasi. Jumlah kredit investasi yang telah disalurkan perbankan hingga bulan Juni 2010 tercatat sebesar Rp 2,57 triliun, meningkat 2,7% dibanding posisi bulan Juni 2009. Sebelumnya kredit investasi perbankan masih berada pada area pertumbuhan negatif.
Tingginya minat investor asing untuk menanamkan modalnya pada industri pembuatan/ perbaikan kapal di Batam masih cukup tinggi. Dari total persetujuan rencana investasi selama semester I-2010 senilai US$ 27,2 juta, 3 proyek diantaranya bergerak di bidang pembuatan/perbaikan kapal (BP Kawasan FTZ-Batam). Adapun di tahun 2009, persetujuan rencana investasi di sektor ini sebanyak 8 proyek dari 82 proyek PMA yang disetujui. Sementara itu, minat investasi asing di bidang perdagangan, hotel dan restoran juga semakin tumbuh. Pada triwulan I-2010 saja telah disetujui 7 proyek rencana investasi di sektor ini, sementara selama tahun 2009 disetujui sebanyak 19 proyek. Aplikasi proyek-proyek PMA tersebut masih didominasi oleh investor Singapura, diikuti negara Malaysia, Taiwan, Australia, Norwegia, Korea Selatan dan Belanda.
1.2.3. Ekspor - Impor
Membaiknya permintaan global dan harga komoditas, serta pergerakan nilai tukar Rupiah yang stabil semakin mendukung penguatan ekspor di triwulan II-2010. Laju pertumbuhan ekspor diperkirakan sebesar 5,58%, lebih tinggi dibanding tingkat
Grafik 1.12.
Pertumbuhan Impor Industri Manufaktur
Sumber : SEKDA – BI (ISIC) Sumber : Laporan Bulanan Bank
Grafik 1.13.
Sumber : BPS Kepulauan Riau
*) angka sementara **) angka sangat sementara
pertumbuhan di triwulan sebelumnya sebesar 3,44% (y-o-y). Ekspor di tahun 2010 diperkirakan dapat tumbuh pada kisaran 5±1% dibanding tahun 2009.
Stabilnya kinerja ekspor di triwulan II-2010 tercermin dari aktivitas cargo loaded tujuan internasional melalui pelabuhan utama FTZ Batam, yakni pelabuhan Batu Ampar, Sekupang dan Kabil. Volume muat kontainer selama triwulan II-2010 sebanyak 19.581 Teus, atau naik 27,4% dibanding triwulan I2009. Sementara volume muat kontainer di triwulan I-2010 tercatat sebanyak 19.319 Teus. Pertumbuhan ekspor semakin stabil dimana selama tahun 2009 mengalami pertumbuhan negatif dibanding tahun 2008.
Adapun realisasi ekspor terbesar tercatat melalui Pelabuhan Udang Natuna yaitu US$ 431,1 juta, disusul Pelabuhan Batu Ampar US$ 215,9 juta, Pelabuhan Sekupang US$ 154,9 juta, dan Pelabuhan Kabil/Panau US$ 89,1 juta, dengan kontribusi keempatnya mencapai 91,8% dari total ekspor di bulan Mei 2010. Sementara pelabuhan bongkar barang impor terbesar adalah melalui pelabuhan Batu Ampar dengan nilai impor sebesar US$ 258,7 juta atau 49,4% dari total impor pada bulan Mei 2010. Kemudian disusul oleh pelabuhan
Grafik 1.14.
Pertumbuhan Ekspor dan Impor (y-o-y)
Sumber : Bloomberg
Grafik 1.15.
Perkembangan Harga Minyak & Gas Dunia
Sumber : Kurs Tengah Bank Indonesia Grafik 1.16.
Perkembangan Kurs IDR thp USD dan SGD
Sumber : BP-Batam, Pelabuhan Batu Ampar, Sekupang dan Kabil
Grafik 1.17.
Aktivitas Peti Kemas (Kontainer) Internasional di Pelabuhan FTZ Batam
Sekupang dengan nilai US$ 129,9 juta (24,8%), dan pelabuhan Kabil/Panau dengan nilai US$ 81,6 juta (15,6%).
Sementara itu, komoditi penyumbang ekspor terbesar di periode ini berasal dari produk mesin-mesin, baik mesin elektrik maupun mesin-mesin kantor. Selain itu ekspor perangkat elektronik dan komunikasi juga relatif membaik dibanding tahun sebelumnya. Di lain pihak, ekspor logam dasar dan produk dari besi dan baja, serta ekspor kapal dan perangkatnya tercatat mengalami tren menurun di bulan April dan Mei 2010. Hal ini diduga sebagai pengaruh terganggunya operasional PT. DryDocks Graha pasca kerusuhan antar pekerja yang terjadi pada pertengahan April lalu.
Perkembangan ekspor jika dilihat dari negara tujuannya sebagian besar didorong oleh naiknya permintaan dari negara Singapura sebagai pasar ekspor dominan. Ekspor ke Singapura pada bulan Mei 2010 saja mencapai US$ 591,7 juta, atau berkontribusi mencapai 60,97% terhadap total ekspor pada bulan berjalan. Selain itu, aktivitas ekspor ke India dan Malaysia juga diperkirakan menurun menyusul susutnya daya beli agregat negara tersebut,
Grafik 1.21.
Perkembangan Ekspor ke Bbrp Negara Asia Grafik 1.20.
Perkembangan Ekspor Ke Negara G3
Sumber : SEKDA – BI (Negara Pembeli) Sumber : SEKDA – BI (Negara Pembeli)
Grafik 1.19.
Perkembangan Nilai Impor Utama Grafik 1.18.
Perkembangan Nilai Ekspor Utama
sejalan dengan proyeksi perlambatan ekonomi yang terjadi di triwulan II-2010. Sedangkan ekspor ke negara-negara Eropa, Jepang, Amerika dan China masih memperlihatkan arah yang stabil.
Sehubungan dengan pemberlakuan kerjasama perdagangan bebas dengan Cina (AC-FTA), kondisi ini diperkirakan tidak berdampak bagi signifikan kinerja perdagangan Kepulauan Riau dengan Cina. Khususnya bagi sektor industri pengolahan di kota Batam yang sejak dahulu sudah memanfaatkan sistem bebas bea masuk untuk produk-produk yang akan di re-ekspor dari kawasan khusus FTZ Batam. Impor dari Cina untuk di luar kawasan industri diperkirakan didominasi oleh produk-produk mainan dan sandang, namun nilainya tidak signifikan terhadap total impor Kepri dari Cina yang pada tahun 2009 lalu mencapai US$ 231,07 juta. Produk impor utama dari Cina adalah besi dan baja dimana harganya relatif lebih murah dibandingkan jika dipasok dari Jakarta atau daerah lain di Indonesia.
Ongkos angkut yang lebih besar menjadi komponen biaya utama yang mempengaruhi harga jual besi dan baja khususnya di wilayah Kepulauan Riau Selain itu impor mesin-mesin dan peralatan listrik juga cukup banyak beredar di pasar lokal. Sementara itu, komoditas ekspor dominan selain dari Kapal Laut adalah mesin dan perlengkapan kantor, alat telekomunikasi, dan mesin/peralatan listrik. Melihat karakteristik daerahnya, bukan tidak mungkin pemberlakuan ACFTA bisa menjadi insentif bagi industri lokal di Kepulauan Riau khususnya kota Batam, karena masuknya bahan baku dan barang modal yang lebih murah dapat mempengaruhi ongkos produksi menjadi lebih kompetitif.
Tabel 1.3.
Neraca Perdagangan Kepulauan Riau - China
Sumber : SEKDA – BI (Negara Pembeli)
China Trade May-08 Dec-08 May-09 Dec-09 Apr-10 May-10
Ekspor 18.2 10.2 13.0 13.1 14.6 13.9
Impor 7.8 11.7 12.7 32.8 31.3 20.9
Net X(M) 10.4 (1.5) 0.3 (19.7) (16.7) (7.0)
Grafik 1.23.
Perkembangan Impor Produk Utama dari Cina Grafik 1.22.
Perkembangan Ekspor Produk Utama ke Cina
Sumber : SEKDA – BI (Negara Pembeli) Sumber : SEKDA – BI (Negara Pembeli)
1.3. SISI PENAWARAN
Perbaikan kinerja sektor riil pada triwulan II-2010 sedikit tertahan sejalan dengan perkembangan indikator sektor unggulan daerah yang terindikasi melambat. Kinerja sektor industri pengolahan khususnya di kota Batam sangat berpengaruh dalam menentukan arah perekonomian provinsi Kepulauan Riau. Laju pertumbuhan sektor industri di triwulan laporan diperkirakan sebesar 6,37%, lebih rendah dari triwulan I-2009 yang tumbuh 9,98% (y-o-y). Selain itu, tingkat pertumbuhan sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor keuangan perbankan juga turut memicu terjadinya perlambatan pada aktivitas ekonomi secara agregat. Adapun sektor-sektor lainnya diperkirakan dapat tumbuh lebih baik dibanding sebelumnya.
1.3.1. Sektor Industri Pengolahan
Dampak krisis tampaknya masih dirasakan oleh industri lokal yang berskala kecil-menengah dengan basis perdagangan dalam negeri. Hal ini tercermin dari laju pertumbuhan sektor industri yang melambat dari 9,98% menjadi sebesar 6,37% (y-o-y) di triwulan II-2010, di tengah penguatan ekspor industri secara umum. Kondisi tersebut secara teknikal juga terpengaruh oleh berbaliknya arah pertumbuhan sektor industri di tahun 2009, dari sebelumnya mengalami kontraksi 1,16% di triwulan I-2009 menjadi tumbuh 1,28% di triwulan II. Sejalan dengan itu, kontribusi sektor industri terhadap laju pertumbuhan ekonomi regional juga mengalami penurunan dari 4,63% menjadi 3,95%.
Struktur industri di Kepulauan Riau masih didominasi oleh industri alat angkutan dan mesin, yakni sekitar 52,8%. Selanjutnya diikuti oleh industri pengolahan logam besi dan baja dengan share 16,4%, industri pengolahan semen, industri pengolahan kayu (8,8%) dan
Sumber : BPS Kepulauan Riau, diolah Grafik 1.24. Struktur Industri Pengolahan Provinsi Kepulauan Riau Tw.II-2010
Grafik 1.25.
Pertumbuhan Sub-Sektor Industri Pengolahan Tw.I & Tw.II-2010
bahan galian (8,5%). Tertahannya akselerasi sektor industri pengolahan pada triwulan ini bersumber dari penurunan kinerja industri pengolahan kayu yang diperkirakan hanya tumbuh 2,94%, turun drastis dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 25,52%. Hal tersebut diduga terjadi karena permintaan kayu oleh China sebagai pangsa ekspor kayu terbesar mengalami penurunan, menyusul pelemahan ekonomi negara tersebut di triwulan II-2010. Tingkat GDP riil China diperkirakan merosot dari 11,9% pada triwulan I-2010 menjadi 10,3% (y-o-y).
Kinerja industri kayu olahan yang memburuk terkonfirmasi pada nilai ekspor produk kayu yang mengalami pertumbuhan negatif selama bulan April dan Mei 2010. Data ekspor juga memperlihatkan terjadinya penurunan realasasi ekspor industri tekstil, industri logam dasar, dan industri alat transportasi. Khusus pada industri alat transportasi/kapal, penurunan disinyalir masih terkait dengan efek terganggunya operasional galangan kapal terbesar di Batam, PT. Drydocks Graha pasca kerusuhan antar pekerja pada pertengahan April lalu. Sebagaimana diketahui, DryDocks World kini menguasai kepemilikan perusahaan shipyard PT. Pan-United, PT. Naninda Mutiara Shipyard dan PT. Graha Trisaka, yang kemudian berubah nama menjadi DryDocks Pertama, DryDocks Naninda dan DryDocks Graha. Dengan demikian DryDocks World menjelma sebagai perusahaan galangan kapal terbesar dengan jumlah pekerja mencapai 25.000 orang, atau sekitar 15% dari total pekerja industri di Batam yang tercatat sebanyak 157.600 orang (data BPS, Agustus 2009). Sejak awal 2009, perusahaan memiliki 6 proyek besar pembuatan Jack-Up Rig yang memakan waktu sekitar 24 – 30 bulan dengan dana investasi US$150-US$200 juta untuk masing-masing Rig. Saat ini perusahaan sedang dalam pengerjaan Rig ke-5 dan ke-6 yang seharusnya dikirim pada bulan Mei dan September 2010 untuk aktivitas pengeboran di sumur milik Master Marine ASA – Norwegia.
Grafik 1.26. Perkembangan Ekspor Kayu Olahan ke Beberapa Negara
Sumber : BPS Kepulauan Riau, diolah
Grafik 1.27.
Pertumbuhan Nilai Ekspor Sektor Industri berdasarkan Klasifikasi Industri
Di lain pihak, pertumbuhan ekspor mesin-mesin dan peralatan listrik serta industri kimia mengalami kenaikan yang berarti. Mengingat pangsanya yang cukup dominan terhadap aktivitas industri pengolahan di Kepulauan Riau, perbaikan kinerja beberapa bidang industri tersebut mampu menjaga momentum pemulihan ekspor di triwulan II-2010 sekaligus menahan laju perlambatan sektor industri pengolahan. Secara umum kinerja pertumbuhan sektor industri sebesar 8,54% dinilai masih cukup baik, terbantu oleh stabilnya permintaan dari industri manufaktur dan jasa di Singapura sebagai pangsa ekspor dominan.
Dari aspek pembiayaan perbankan lokal terhadap sektor industri pengolahan juga masih menunjukkan arah pertumbuhan yang meningkat. Kondisi ini secara tidak langsung mengeindikasi adanya kenaikan order pada industri pendukung berskala kecil-menengah yang merupakan target market dominan dari pembiayaan perbankan lokal.
1.3.2. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran
Sebagai sektor andalan kedua, kinerja pertumbuhan sektor perdagangan, hotel dan restoran yang relatif stagnan juga berkontribusi terhadap perlambatan ekonomi triwulan II-2010. Dilihat lebih jauh, sub-sektor perdagangan besar dan eceran serta perhotelan merupakan pemicu utama perlambatan. Namun demikian, kedua sub-sektor tersebut diperkirakan masih tumbuh baik, masing-masing di level 11,46% dan 10,14%. Sementara itu sub-sektor restoran diperkirakan tumbuh meningkat di triwulan laporan.
Kinerja sektor perdagangan, hotel dan restoran yang cukup stabil didukung oleh pergerakan beberapa indikator dini. Aktivitas peti kemas domestik (bongkar-muat) di pelabuhan FTZ kota Batam menunjukkan perkembangan yang stabil dengan tren relatif meningkat. Indikator ini mengindikasikan aktivitas perdagangan antar pulau yang masih
Grafik 1.29.
Perkembangan Kredit Perbankan Sektor Industri Pengolahan
Sumber : Laporan Bulanan Bank Sumber : MTI Singapore – Juli 2010
*) angka sementara Grafik 1.28.
Pertumbuhan GDP Singapura, Sektor Manufaktur, Konstruksi dan Jasa (yoy)
dilakukan melalui pelabuhan utama FTZ karena belum memiliki pelabuhan khusus untuk bongkar muat barang kebutuhan antar daerah. Aktivitas perdagangan antar wilayah yang berjalan stabil juga terkonfirmasi pada indikator volume bongkar-muat kargo melalui Bandara Hang Nadim Batam yang tumbuh signifikan dalam 3 triwulan terakhir.
Sedangkan adanya arah penurunan terindikasi dari indikator volume impor beberapa barang konsumsi terpilih, dimana pada bulan Mei 2010 terjadi penurunan impor terutama untuk produk-produk minuman dalam kemasan, daging-dagingan, serta ikan dan hasil laut lainnya. Selain itu, indikator pembiayaan perbankan pada kegiatan perdagangan eceran juga masih belum menggembirakan yang berada di area pertumbuhan negatif sejak bulan Februari hingga akhir Juni 2010.
Sementara itu, prakiraan menurunnya pertumbuhan sektor perhotelan tercermin dari indikator tingkat hunian (occupancy rate) hotel berbintang di bulan April dan Mei 2010 yang relatif lebih rendah dibanding periode triwulan I-2010. Pertumbuhan arus
Grafik 1.30.
Aktivitas Peti Kemas (Kontainer) Domestik
Sumber : Otorita Batam, Pelabuhan FTZ Batam : Batu Ampar, Sekupang dan Kabil.
Sumber : SEKDA – BI (SITC) Grafik 1.32.
Perkembangan Volume Impor Barang Konsumsi
Sumber : Laporan Bulanan Bank Grafik 1.33.
Pertumbuhan Kredit Sektor Distribusi, Perdagangan Eceran, Hotel & Restoran Sumber : Otorita Batam, Bandara Hang Nadim - Batam
Grafik 1.31. Volume Bongkar-Muat Kargo Melalui Bandara Hang Nadim Batam
penumpang/pengunjung yang datang melalui Bandara Hang Nadim juga memperlihatkan tren menurun pada bulan Mei dan Juni 2010.
Adapun jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Provinsi Kepri melalui 4 pintu masuk selama triwulan II-2010 sebanyak 385.654 orang, naik 3,24% dibanding periode yang sama tahun 2009. Sementara itu pada triwulan I jumlah kunjungan wisman tercatat sebanyak 362.590, atau hanya tumbuh 0,37% (y-o-y). Kedatangan wisatawan mancanegara di periode laporan sebagian besar tetap melalui kota Batam, diikuti pintu masuk Lagoi (Bintan), Tanjungpinang dan Karimun. Berdasarkan kewarganegaraannya, komposisi wisatawan tidak mengalami perubahan yang berarti. Wisatawan asal Singapura masih mendominasi dengan jumlah kunjungan selama semester I-2010 sebanyak 402.085 orang, atau 53,7% dari total wisatawan mancanegara yang berkunjung ke provinsi Kepulauan Riau. Selanjutnya diiukuti oleh wisatawan asal Malaysia, Korea Selatan, India, Jepang, China, Inggris, Australia, Philipina, dan Amerika Serikat.
1.3.3. Sektor Bangunan
Perbaikan kinerja industri properti Kepulauan Riau khususnya kota Batam diperkirakan masih berlanjut di triwulan II-2010. Sektor bangunan diestimasi tumbuh 12,47%, lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang diestimasi sebesar 12,12% (y-o-y). Bertahannya industri properti dari terpaan krisis daya beli masyarakat tidak terlepas dari upaya keras developer dalam melakukan berbagai promosi dengan berbagai insentif yang ditawarkan. Selain itu kebijakan makro Bank Indonesia yang kembali mempertahankan BI-Rate di level 6,5% telah mulai berdampak pada penurunan suku bunga kredit perbankan. Berdasarkan informasi yang diterima dari Ketua REI Khusus Batam, bank tertentu bahkan telah menawarkan suku bunga
Sumber : Otorita Batam, Bandara Hang Nadim - Batam Grafik 1.35.
Perkembangan Volume Penumpang (Dom&Intl) yang Datang Melalui Bandara Hang Nadim Batam Grafik 1.34.
Tingkat Hunian Hotel Berbintang (occ.rate) di Kepulauan Riau
kredit perumahan hingga di level 8% - 9%, yang sangat membantu dalam memberikan stimulus bagi industri properti.
Optimisme pemulihan sektor properti cukup tercermin dari indikator pertumbuhan
KPR Perbankan, baik untuk tipe rumah di bawah 70 m2
, tipe di atas 70 m2
, serta tipe Ruko/Rukan, yang terus meningkat hingga periode laporan. Prakiraan akselerasi sektor bangunan juga tidak telepas dari adanya proyek-proyek konstruksi besar yang sedang berjalan antara lain pembangunan Kepri Mall, Batam City Condominium (BCC), pusat pemerintahan pulau Dompak, Superblok Grand Quarter, dan beberapa Apartemen baik swasta komersil maupun bersubsidi (rusunawa).
Merespon permintaan masyarakat yang cenderung meningkat, pengembang lebih gencar melakukan berbagai upaya promosi dengan berbagai insentif, seperti discount harga rumah atau tanah, bebas biaya BPHTB, bebas biaya notaris, bonus perlengkapan rumah, serta kemudahan dalam pengurusan kredit ke bank. Permintaan rumah yang masih tinggi pada akhirnya berpengaruh pada kenaikan harga rumah sebagaimana ditunjukkan oleh Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) Kota Batam pada periode triwulan II-2010 yang naik 3,12 poin.
1.3.4. Sektor-sektor Lainnya
Laju pertumbuhan yang dialami oleh sektor-sektor pendukung pada dasarnya akan merespon perkembangan di sektor-sektor unggulan. Kondisi ini secara langsung terkonfirmasi pada kinerja perbankan dalam memberikan dukungan pembiayaan pada sektor riil yang relatif menurun. Di sisi lain, potensi naiknya biaya dana perbankan khususnya pada bank Pemerintah juga turut memperburuk kinerja perbankan dalam menjalankan fungsi
Sumber : SEKDA - BI
Grafik 1.37.
Pertumbuhan Volume Impor Utama Sektor Bangunan Grafik 1.36.
Pertumbuhan KPR Perbankan Kepulauan Riau
intermediasinya. Pada bulan Juni 2010 dana alokasi kurang bayar Dana Bagi Hasil (DBH) Migas tahun 2008 sebesar Rp 681 milyar masuk ke dalam sistem perbankan Kepulauan Riau.
Pertumbuhan sektor infrastruktur listrik, gas dan air bersih juga diperkirakan terpengaruh oleh turunnya aktivitas sektor industri pengolahan sebagai pangsa pasar utama PT. PLN Batam. Kapasitas listrik yang disalurkan PT. PLN Batam selama triwulan II-2010 tercatat sebanyak 374.232 MWH, naik 13,8% dibanding tahun sebelumnya (y-o-y). Namun tingkat pertumbuhan tersebut masih di bawah triwulan I-2010 yang mengalami peningkatan sebesar 18,6%. Perlambatan ini sebagian besar disumbang oleh realisasi penjualan kepada sektor industri dari 33,6% pada triwulan I-2010 menjadi 13,1% pada triwulan laporan.
Sementara itu, perbaikan pertumbuhan sektor pengangkutan tercermin dari
naiknya realisasi pembiayaan perbankan kepada sektor tersebut. Sektor Pertanian yang pada periode ini diperkirakan membaik dipengaruhi oleh meningkatnya produksi perikanan. Berakhirnya musim utara selalu menjadi berkah bagi nelayan dengan bertambahnya hasil
Sumber : BP Batam
Grafik 1.41.
Pertumbuhan Kredit Sektor Pengangkutan Umum Perbankan di Kepulauan Riau
Sumber : PT. PLN Batam Grafik 1.40.
Pertumbuhan Penjualan PT. PLN Batam berdasarkan Kelompok Tarif
Sumber : Laporan Bulanan Bank Grafik 1.39.
Perkembangan LDR dan NPL Perbankan di Kepulauan Riau
Sumber : Laporan Bulanan Bank Grafik 1.38.
Pertumbuhan Aset, DPK dan Kredit Perbankan di Kepulauan Riau
tanggapan. Sebelumnya nelayan tidak dapat melalui akibat kondisi cuaca yang buruk disertai gelombal laut tinggi. Hal ini juga diduga menyebabkan terjadinya pergeseran siklus panen komoditas pertanian, terutama untuk komoditi jagung sebagaimana ditunjukkan oleh perkembangan produksi jagung pada periode Mei – Agustus 2010 (angka ramalan BPS).
Adapun perbaikan kinerja sektor pertambangan dan penggalian di periode ini secara langsung tercermin pada hasil eksplorasi minyak dan gas dari wilayah Natuna dan Kepulauan Anambas. Lifting minyak dan gas Kepulauan Riau selama triwulan II-2010 diproyeksi akan tumbuh positif, setelah di triwulan sebelumnya mengalami kontraksi. Total realisasi lifting minyak tercatat sebanyak 6,62 juta barel atau naik 12,1% (y-o-y), sementara pada triwulan sebelumnya mengalami penyusutan sebesar 17,3%. Sama halnya dengan lifting gas yang tumbuh 15,4%, jauh lebih baik dibanding pertumbuhan di triwulan sebelumnya yang diperkirakan sebesar 4,25%. Meningkatnya volume lifting minyak berasal dari blok Belanak milik Conoco, sedangkan realisasi gas bersumber dari blok Kakap milik perusahaan gas Star Energi.
Sumber : ESDM Dirjen Minyak dan Gas Bumi Grafik 1.44.
Pertumbuhan Lifting Minyak & Gas Provinsi Kepulauan Riau
Sumber : Bloomberg
Grafik 1.45.
Perkembangan Harga Minyak & Gas Dunia Grafik 1.43.
Perkembangan Produksi Padi, Jagung dan Kacang Tanah di Kepulauan Riau
Sumber : BPS Kepulauan Riau Grafik 1.42.
Pertumbuhan Nilai & Volume Ekspor Ikan
Di lain pihak, penurunan kinerja sektor penggalian disebabkan turunnya permintaan batu granit dari Singapura yang beralih membeli ke Malaysia yang memiliki kualitas batu relatif sama. Faktor jarak tempuh dan ongkos angkut yang lebih murah menjadi pertimbangan utama dipilihnya pasar Malaysia. Untuk itu pemerintah kabupaten Karimun berinisiaf mengurangi besarnya retribusi batu granit menjadi dari Rp25.000/ton menjadi Rp15.000 ribu/ton. Terakhir, rendahnya nilai tambah yang dihasilkan sektor penggalian sampai saat ini masih dipengaruhi oleh maraknya penambangan pasir liar di wilayah Kepulauan Riau. Di kota Batam saja, data Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Pemerintah Kota Batam menyimbulkan adanya potensi kerugian negara dari retribusi bahan galian yang harusnya diterima hampir mencapai Rp 1 miliar. Sedangkan kehilangan sumber penerimaan BP Kawasan Batam (Otorita Batam) yang berasal dari Uang Wajib Tahunan Otorita (UWTO) atas penggunaan lahan sekitar Rp 34,86 miliar. Adapun lahan tambang pasir
BAB 2
PERKEMBANGAN INFLASI
Secara umum, perkembangan inflasi di Kota Batam dan Tanjung Pinang mulai menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Inflasi pada akhir triwulan II-2010 baik di Batam maupun di Tanjungpinang mengalami kenaikan masing-masing sebesar 5,14% dan 4,84% (yoy) dibandingkan dengan dua triwulan sebelumnya. Kenaikan sejumlah komoditas volatile food dan penyesuaian tarif listrik dan air pada triwulan laporan menyebabkan angka inflasi tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan periode akhir triwulan lalu.
2.1. PERKEMBANGAN INFLASI BATAM
Secara tahunan, perkembangan inflasi di Kota Batam pada triwulan II-2010 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan yakni dari 2,97%. (y-o-y) pada akhir triwulan lalu menjadi 5,14%. Kenaikan tersebut terutama disumbang oleh naiknya sejumlah komoditas pada kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, minuman, dan tembakau, kelompok sandang dan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar.
Laju inflasi lebih didorong oleh kenaikan IHK pada kelompok bahan makanan khususnya subkelompok bumbu-bumbuan dan sayur-sayuran akibat kegagalan panen di daerah pemasok. Kegagalan panen ini lebih disebabkan oleh perubahan iklim global yang mengakibatkan cuaca tidak menentu. Batam yang memiliki karakteristik ketergantungan pada daerah lain cukup tinggi akan sangat berdampak pada naiknya harga-harga bahan pokok di pasar. ‐2% 0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% 14% Umum Bahan Makanan Makanan Jadi Perumahan Sandang Kesehatan Pendidikan Transpor qtq yoy Grafik 2.2
Inflasi Menurut Kelompok Pengeluaran
Sumber : BPS Prov. Kepri, diolah Grafik 2.1
Perkembangan Inflasi Batam
0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% ‐1,0% ‐0,5% 0,0% 0,5% 1,0% 1,5% 2,0% 2,5% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 2008 2009 2010 mtm yoy yoy
Sementara itu, kebijakan pemerintah menaikkan tarif air PT Adhya Tirta Batam rata-rata sebesar 17% ikut serta meningkatkan IHK pada bulan Juni 2010. Kelompok pengeluaran yang membantu menahan laju inflasi yakni transpor, komunikasi dan jasa keuangan khususnya komunikasi karena operator telepon seluler menurunkan tarifnya.
Kelompok volatile goods diperkirakan memberi sumbangan inflasi terbesar (data SPH hingga Minggu III Juni 2010, Pasar Tradisional). Kenaikan harga terutama terjadi pada komoditi cabe merah, bawang-bawangan, telur ayam ras, kentang, dan daging ayam ras. Sementara pada kelompok inflasi inti masih dipicu oleh kenaikan harga emas. Pergerakan nilai tukar Rupiah yang cukup stabil menahan laju inflasi dari sisi permintaan. Kenaikan harga cabe dan bawang dipengaruhi oleh terganggunya siklus panen di daerah pemasok. Sementara kenaikan harga bumbu-bumbuan dan kebutuhan pangan lainnya didorong oleh pola siklikal naiknya permintaan masyarakat menjelang bulan puasa.
Memburuknya cuaca di wilayah Kepulauan Riau dikonfirmasi dari peningkatan curah hujan, kecepatan angin dan tinggi signifikan gelombang laut diperairan Selat Malaka dan Laut Natuna berdampak pada distribusi barang yang dapat meningkatkan inflasi di Kota
yoy qtq yoy qtq yoy qtq yoy qtq yoy qtq yoy qtq
IHK 6,53 0,64 2,52 ‐0,43 2,57 1,76 1,88 ‐0,09 2,97 1,72 5,15 1,67 BAHAN MAKANAN 6,97 1,00 1,47 ‐1,95 3,75 4,29 1,13 ‐2,08 2,43 2,29 7,40 2,81 MAKANAN JADI 10,33 3,60 9,23 1,17 10,43 2,07 7,65 0,62 10,18 6,04 11,49 2,37 PERUMAHAN 6,86 0,30 3,54 0,15 1,82 0,06 0,81 0,29 1,09 0,58 2,69 1,74 SANDANG 15,79 5,56 11,44 ‐3,55 8,48 3,09 9,00 3,85 3,36 0,10 10,34 2,96 KESEHATAN 4,03 0,34 2,47 1,37 3,99 1,52 3,74 0,46 3,42 0,04 2,19 0,16 PENDIDIKAN 3,70 0,20 3,70 0,00 0,81 0,38 0,78 0,20 0,44 ‐0,14 0,53 0,09 TRANSPORTASI (0,03) ‐3,34 (5,77) ‐0,03 (5,69) 0,64 (3,16) ‐0,42 0,30 0,11 0,05 ‐0,28 2009 2010
Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II
Tabel 2.1
Perkembangan Inflasi Batam per Kelompok Pengeluaran
‐ 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000 35.000 40.000 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2009 2010 CABE KERITING CABE RAWIT BAWANG MERAH BAWANG PUTIH 190.000 195.000 200.000 205.000 210.000 215.000 220.000 225.000 230.000 235.000 240.000 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2009 2010
Sumber : BPS Prov. Kepri, diolah
Sumber : BPS Prov. Kepri, diolah Sumber : BPS Prov. Kepri, diolah Grafik 2.3
Perkembangan Rata-rata Harga Beberapa Komoditas Volatile Food
Grafik 2.4
Perkembangan Rata-rata Harga Komoditas Core
Batam bulan Juni 2010 sebesar 1,42% merupakan inflasi tertinggi sampai dengan pertengahan tahun ini. Terjadinya perubahan harga-harga pada 67 komoditi menjadi pemicu terjadinya Inflasi di Kota Batam Bulan Juni 2010, dimana sebanyak 44 komoditi diantaranya mengalami kenaikan harga
2.2. PERKEMBANGAN INFLASI TANJUNGPINANG
Secara tahunan, inflasi di Kota Tanjungpinang juga menunjukkan tren meningkat. Laju inflasi pada triwulan II-2010 sebesar 4,85% (yoy), jauh lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1,92%. Tekanan inflasi disumbang oleh kelompok bahan makanan terutama berasal dari komoditas bumbu-bumbuan, beras dan ikan. Faktor penyebab masih didominasi oleh gangguan cuaca yang berdampak pada distribusi barang kebutuhan pokok dari daerah pemasok. Kenaikan IHK pada kelompok bahan makanan mencapai 11,3% (yoy) pada triwulan laporan dan 6,43% jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
Pada triwulan laporan, kelompok bahan makanan menunjukkan trend kenaikan inflasi. Secara triwulanan, subkelompok sayur-sayuran mengalami inflasi yang signifikan yakni sebesar 35,7%. Sementara itu, subkelompok bumbu-bumbuan juga mendorong inflasi kelompok bahan makanan dengan inflasi sebesar 22,1% (qtq). Tekanan inflasi pada kedua subkelompok ini lebih disebabkan karena kegagalan panen komoditas sayuran dan bumbu-bumbuan akibat cuaca yang kurang baik di wilayah Kepulauan Riau dan daerah pemasok.
Adapun stabilnya harga-harga pada kelompok Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan di Tanjung Pinang cukup menahan laju inflasi yang terjadi. Kelompok ini mengalami deflasi sebesar 0,23%. Subkelompok komunikasi mengalami deflasi sebesar
‐2% 0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% Umum Bahan Makanan Makanan Jadi Perumahan Sandang Kesehatan Pendidikan Transpor qtq yoy Grafik 2.6
Inflasi Menurut Kelompok Pengeluaran
Sumber : BPS Prov. Kepri, diolah 0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% 14% 16% ‐1,5% ‐1,0% ‐0,5% 0,0% 0,5% 1,0% 1,5% 2,0% 2,5% 3,0% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 2008 2009 2010 mtm yoy yoy Grafik 2.5
Perkembangan Inflasi Tanjungpinang
0,81% disebabkan oleh turunnya tarif telepon seluler. Sementara itu, subkelompok sarana dan penunjang tranportasi mengalami inflasi sebesar 0,72%.
Tabel 2.2
Perkembangan Inflasi Tanjungpinang Menurut Kelompok Pengeluaran
yoy qtq yoy qtq yoy qtq yoy qtq yoy qtq
IHK 4,13% ‐0,72% 2,07% 1,28% 1,43% 0,56% 1,93% 0,81% 4,85% 2,12% BAHAN MAKANAN 5,55% ‐4,17% 1,42% 2,89% ‐0,72% 0,42% 0,22% 1,22% 11,30% 6,43% MAKANAN JADI 9,91% 2,01% 7,89% 1,43% 5,90% 0,60% 5,95% 1,78% 4,41% 0,53% PERUMAHAN 2,93% ‐0,07% 0,93% 0,25% 0,66% 0,54% 1,67% 0,94% 2,59% 0,84% SANDANG 4,18% ‐2,04% 7,70% 1,49% 6,73% 2,54% 1,06% ‐0,86% 4,97% 1,75% KESEHATAN 4,65% 2,08% 3,77% 0,09% 3,12% 0,12% 2,32% 0,02% 0,97% 0,74% PENDIDIKAN 6,48% 0,20% 2,14% 1,98% 2,04% 0,03% 2,28% 0,07% 2,59% 0,50% TRANSPORTASI ‐4,33% 0,15% ‐5,12% ‐0,06% ‐2,37% 0,16% ‐0,31% ‐0,56% ‐0,69% ‐0,23% Sumber: BPS, diolah Tw. II 2010 2009
Tabel 3.1. Perkembangan Indikator Utama Perbankan di Kepulauan Riau
BAB 3
PERKEMBANGAN PERBANKAN
Secara umum, kondisi perbankan Kepulauan Riau pada triwulan II-2010 menunjukkan pertumbuhan yang stabil dengan profil risiko yang cukup terkendali. Aktivitas penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mengalami kenaikan 11,6% (y-o-y), sementara penyaluran kredit tercatat meningkat 15,6%. Peran intermediasi perbankan dinilai moderat dengan rasio LDR sebesar 68,3% dan tingkat risiko kredit yang menurun ke level 2,9%.
Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II
DPK 17,402,784 17,320,909 17,834,925 18,167,418 18,524,828 19,325,486
Pertumbuhan DPK (y-o-y) 24.8% 18.8% 18.9% 6.9% 6.4% 11.6%
Kredit 11,122,352 11,391,028 12,228,079 12,862,762 12,982,643 13,172,883
Pertumbuhan Kredit (y-o-y) 23.9% 16.8% 16.7% 14.7% 16.7% 15.6%
LDR 63.9% 65.8% 68.6% 70.8% 70.1% 68.3%
NPL 2.9% 2.7% 3.0% 2.6% 3.1% 2.9%
2009 2010
3.1. INTERMEDIASI PERBANKAN
Fungsi intermediasi perbankan berjalan secara moderat yang terindikasi dari rasio loan
to deposit ratio (LDR) hingga Juni 2010 sebesar 68,3%, relatif menurun bila dibandingkan
dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 70,1%. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) perbankan tumbuh lebih lambat dibandingkan kredit. Dari segi nominal, baik kredit maupun DPK mengalami peningkatan. Penurunan LDR pada Juni 2010 lebih disebabkan oleh peningkatan pada simpanan giro pemerintah daerah di bank BUMN.
I II III IV I* 2010 58% 60% 62% 64% 66% 68% 70% 72% 74% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2009 2010
Grafik 3.1. Perkembangan LDR Perbankan di Kepulauan Riau Sumber : Laporan Bulanan Bank (diolah)
3.1.1 Penghimpunan Dana Masyarakat
Penghimpunan dana masyarakat oleh perbankan di Kepulauan Riau hingga triwulan II-2010 mengalami peningkatan. Secara tahunan, penghimpunan DPK hingga Juni 2010 tumbuh lebih tinggi dibandingkan posisi triwulan I-2010 yaitu dari 6,45% menjadi sebesar 11,57% (y-o-y). Berdasarkan jenis penggunaannya, sumber peningkatan DPK berasal dari rekening giro yang naik 10,65%, sementara di triwulan sebelumnya hanya tumbuh 0,6%.
Sementara menurut kepemilikan, perkembangan DPK baik pemerintah daerah, perusahaan swasta maupun perorangan mengalami peningkatan. peningkatan DPK didominasi oleh naiknya saldo giro pemerintah daerah di bank BUMN yang diduga berasal dari dropping kekurangan pembayaran untuk bagi hasil minyak dan gas di Kepulauan Riau tahun 2008. 9.400.000 9.600.000 9.800.000 10.000.000 10.200.000 10.400.000 10.600.000 10.800.000 11.000.000 11.200.000 11.400.000 0 500.000 1.000.000 1.500.000 2.000.000 2.500.000 3.000.000 3.500.000 4.000.000 4.500.000 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2009 2010
Pemerintah Daerah Perusahaan Swasta Perorangan (rhs) Rp Juta 10% 22% 63% 5% Pemerintah Daerah Perusahaan Swasta Perorangan Lainnya ‐15% ‐10% ‐5% 0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35% 40% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2009 2010
Total Giro Tabungan Deposito Berjangka
0% 20% 40% 60% 80% 100% 120% 140% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2009 2010
Total DPK Tabungan Deposito
Grafik 3.2
Perkembangan DPK Menurut Golongan Pemilik Komposisi DPK Menurut Golongan Pemilik Diagram 3.1
Grafik 3.3
Perkembangan DPK Bank Umum (yoy) Perkembangan DPK BPR (yoy) Grafik 3.4
Sumber : Laporan Bulanan Bank Sumber : Laporan Bulanan Bank
3.1.2 Penyaluran Kredit
Secara tahunan, perkembangan kredit pada triwulan II-2010 menunjukkan tren melambat. Dilihat dari aspek penggunaannya, pada triwulan II-2010 kredit modal kerja tercatat tumbuh melambat 15,57% (y-o-y). Kontraksi juga terjadi pada kredit konsumsi yaitu mencapai 22,18%. Lain halnya dengan kredit investasi yang justru mengalami ekspansi 2,73%.
Secara sektoral, pulihnya industri pengolahan di Kepulauan Riau serta karakter industri di Batam yang relatif tidak terpengaruh oleh AC-FTA ikut serta mendorong peningkatan penyaluran kredit ke sektor tersebut. Sektor lainnya yang cukup besar pangsanya yaitu perdagangan malah mengalami perlambatan dalam penyaluran kreditnya. Meski demikian secara nominal, kredit di sektor perdagangan mengalami peningkatan dibanding triwulan sebelumnya. Sementara itu, pertumbuhan kredit kepemilikan kendaraan bermotor tumbuh cukup stabil sebesar 23,92% dengan pangsa kredit sebesar 47%.
Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II Pertanian 232.621 231.052 443.890 429.545 363.385 128.360 Pertumbuhan (yoy) 15,65% 13,63% 100,87% 86,99% 56,21% -44,45% Pangsa 2,09% 2,03% 3,63% 3,34% 2,80% 0,97% Pertambangan 72.890 120.600 95.500 88.121 52.489 51.033 Pertumbuhan (yoy) 110,53% 49,61% -1,29% -7,75% -27,99% -57,68% Pangsa 0,66% 1,06% 0,78% 0,68% 0,40% 0,39% Industri 1.406.0261.561.929 1.526.383 1.699.007 1.955.616 1.778.536 Pertumbuhan (yoy) 65,48% 49,94% 22,69% 16,93% 25,21% 26,49% Pangsa 14,04% 12,34% 12,48% 13,21% 15,06% 13,50%
Listrik, gas dan air 33.615 43.863 40.465 34.398 59.949 75.754
Pertumbuhan (yoy) 48,46% 90,68% 18,99% -5,06% 78,34% 72,71% Pangsa 0,30% 0,39% 0,33% 0,27% 0,46% 0,58% Konstruksi 873.438 927.863 983.848 966.8641.083.022 990.725 Pertumbuhan (yoy) 33,48% 19,71% 12,71% 4,97% 10,70% 6,77% Pangsa 7,85% 8,15% 8,05% 8,42% 7,45% 7,52% Perdagangan 2.238.4932.171.815 2.327.640 2.500.663 2.285.213 2.255.630 Pertumbuhan (yoy) 2,83% -2,45% 5,21% 8,44% 5,22% 0,77% Pangsa 19,53% 19,65% 19,04% 19,44% 17,60% 17,12% Pengangkutan 206.767 214.390 243.992 258.029 406.488 508.521 Pertumbuhan (yoy) 54,30% 59,75% 68,93% 63,37% 96,59% 137,19% Pangsa 1,86% 1,88% 2,00% 2,01% 3,13% 3,86%
Jasa dunia usaha 1.036.2941.068.135 1.111.712 1.053.542 659.519 689.364
Pertumbuhan (yoy) -6,83% -10,77% 2,56% -7,51% -38,26% -33,48% Pangsa 9,60% 9,10% 9,09% 8,19% 5,08% 5,23% Jasa sosial 154.580 175.582 189.648 224.709 313.052 502.826 Pertumbuhan (yoy) 92,30% 121,72% 47,83% 56,72% 102,52% 186,38% Pangsa 1,39% 1,54% 1,55% 1,75% 2,41% 3,82% Lainnya 4.996.8654.746.562 5.265.001 5.493.729 5.920.068 6.192.134 2009 2010 Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II Modal kerja 3.904.9043.882.268 4.389.328 4.774.801 4.711.515 4.513.090 Pertumbuhan (yoy) 23,43% 13,23% 18,64% 16,34% 21,36% 15,57% Pangsa 34,91% 34,28% 35,90% 37,12% 36,29% 34,26% Investasi 2.502.7532.521.433 2.589.495 2.597.372 2.414.582 2.571.141 Pertumbuhan (yoy) 13,44% 9,50% 8,75% 2,55% -4,24% 2,73% Pangsa 22,67% 21,97% 21,18% 20,19% 18,60% 19,52% Konsumsi 4.983.3714.718.651 5.249.256 5.492.592 5.856.546 6.088.652 Pertumbuhan (yoy) 30,69% 24,01% 19,40% 19,91% 24,11% 22,18% Pangsa 42,42% 43,75% 42,93% 42,69% 45,11% 46,22%
Sumber: Bank Indonesia
2009 2010
Tabel 3.2
Perkembangan Kredit Berdasarkan Jenis Penggunaan
Tabel 3.3
3.2. RISIKO KREDIT PERBANKAN
Hingga akhir Juni 2010, risiko kredit perbankan masih relatif terkendali di bawah target indikatif Bank Indonesia (5%). Risiko kredit pada triwulan laporan yang tercermin pada
NPLs gross bank berada pada tingkat 2,89%. Stabilnya risiko kredit tersebut, karena kondisi
perekonomian secara umum sudah membaik.
Rasio Non Performing Loan pada sektor-sektor yang memiliki profil risiko yang relatif tinggi menunjukkan arah tren yang menurun. Salah satunya adalah sektor pengangkutan yang rasio NPL-nya di atas target indikatif, pada triwulan laporan turun dari 16% menjadi 11%. Sebaliknya tren rasio NPL sektor jasa meningkat, menjadi 8,8% dari sebelumnya 7,5%. Sementara itu, NPL menurut jenis penggunaan khususnya kredit investasi mengalami penurunan dibanding triwulan lalu menjadi 6,7% dari sebelumnya 8,58%.
3.3. PERBANKAN SYARIAH
Pada triwulan II-2010, perkembangan perbankan syariah di Kepulauan Riau mulai ekspansi setelah mengalami perlambatan pada triwulan sebelumnya. Pertumbuhan aset bank syariah di Kepulauan Riau meningkat menjadi Rp783 miliar atau naik sebesar 32,35% (yoy) dengan pangsa 3,22% dari seluruh aset perbankan. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga masih menunjukkan tren melambat. Sementara itu pada fungsi intermediasi, semakin tingginya rasio FDR menunjukkan pertumbuhan pembiayaan lebih cepat daripada pertumbuhan penghimpunan dana. Hal ini menunjukkan simpanan di perbankan syariah belum menjadi pilihan utama sebagian besar masyarakat dalam berinvestasi. Selain itu, dana pemerintah daerah pun belum banyak yang ditempatkan di bank syariah.
0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2009 2010
Modal Kerja Konsumsi Investasi target indikatif 5% 0% 5% 10% 15% 20% 25% 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2009 2010 Industri Konstruksi Lain‐lain Perdagangan Pengangkutan Jasa Grafik 3.5
NPL berdasarkan Jenis Penggunaan
Grafik 3.6
NPL berdasarkan Sektor Ekonomi
Tabel 3.4
Beberapa Indikator Perbankan Syariah di Kepulauan Riau
Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II
Aset 568.558 592.004 632.002 678.004 696.477 783.492
Pertumbuhan (yoy) 76,36% 52,28% 59,24% 49,47% 22,50% 32,35%
Pangsa thd Total Aset Bank 2,67% 2,78% 2,79% 2,94% 2,95% 3,22%
DPK 473.910 486.430 411.893 481.338 443.143 469.402
Pertumbuhan (yoy) 78,51% 46,38% 30,46% 29,07% -6,49% -3,50%
Pembiayaan 415.286 435.166 505.140 543.815 516.516 657.541
Pertumbuhan (yoy) 20,15% 13,78% 21,42% 31,65% 24,38% 51,10%
FDR 87,63% 89,46% 122,64% 112,98% 116,56% 140,08%
Sumber: Bank Indonesia
BAB 4
PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH
4.1 APBD KEPULAUAN RIAU TAHUN 2010
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) seluruh kabupaten dan kota di provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2010 ditargetkan sebesar Rp 6,86 triliun, turun 1,5% dibanding total APBD Kepulauan Riau tahun sebelumnya. Di sisi penerimaan, penurunan terbesar terjadi pada pos Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang turun 1,9% menjadi sekitar Rp 1,03 triliun, serta pengurangan alokasi Dana Perimbangan sebesar 0,4% menjadi sekitar Rp 4,07 triliun.
Tabel 4.1.
Perkembangan Total APBD Provinsi Kepulauan Riau Tahun Anggaran 2007 s.d. 2010
(dalam jutaan Rupiah)
2007 2008 % ∆ 2007-2008 2009 % ∆ 2008-2009 2010 % ∆ 2009-2010 PENDAPATAN 4,815,445 4,178,569 -13.2% 5,336,421 27.7% 5,399,234 1.2% BAGIAN PENDAPATAN ASLI DAERAH 598,897 952,217 59.0% 1,050,396 10.3% 1,030,742 -1.9% DANA PERIMBANGAN 3,969,281 2,903,001 -26.9% 4,089,414 40.9% 4,073,660 -0.4% LAIN-LAIN PENDAPATAN DAERAH YANG SAH 247,267 323,351 30.8% 196,611 -39.2% 294,831 50.0% BELANJA 6,220,533 5,155,325 -17.1% 6,973,402 35.3% 6,865,662 -1.5% BELANJA TIDAK LANGSUNG 1,687,938 1,959,360 16.1% 2,574,573 31.4% 2,740,179 6.4% - Belanja subsidi 35,044 79,218 126.1% 123,996 56.5% 73,490 -40.7% - Belanja hibah 87,153 61,420 -29.5% 157,308 156.1% 242,361 54.1% - Belanja bantuan sosial 240,368 194,997 -18.9% 240,188 23.2% 233,971 -2.6% BELANJA LANGSUNG 4,532,595 3,195,965 -29.5% 4,398,829 37.6% 4,125,483 -6.2% - Belanja pegawai 616,802 400,679 -35.0% 607,547 51.6% 644,627 6.1% - Belanja barang dan jasa 1,477,486 1,330,753 -9.9% 1,617,929 21.6% 1,597,660 -1.3% - Belanja modal 2,438,307 1,464,533 -39.9% 2,173,353 48.4% 1,883,195 -13.4% SURPLUS/(DEFISIT) (1,405,088) (976,756) -30.5% (1,636,981) 67.6% (1,466,428) -10.4%
Meski demikan penerimaan pajak pemerintah daerah masih berpotensi meningkat sejalan dengan berlakunya UU No.28/2009 menggantikan UU No.18/1997 j.o. No.34/2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sejak 1 Januari 2010. Adapun dasar pemikirannya dilatarbelakangi banyaknya peraturan daerah yang ternyata justru berpengaruh negatif terhadap ekonomi dan juga bertentangan dengan hukum nasional yang nota benenya lebih tinggi. Praktek inilah yang sekarang dilarang dengan UU No.28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD).
Idealnya, peraturan baru ini dapat memberikan kontribusi penting bagi dunia bisnis, karena ada kepastian hukum terkait pungutan daerah. Setiap pungutan harus mengacu daftar tertutup (closed list) dalam Rancangan Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Artinya, daerah hanya diperbolehkan memungut pajak dan retribusi sesuai undang-undang ini sehingga tidak ada lagi daerah yang perlu mengubah, mencari, atau berkreasi yang tidak baik dalam arti mencari-cari penghasilan asli daerah. Adapun ketentuan Undang-Undang No. 34/2000 sebelumnya tidak mengandung closed list pajak dan retribusi. Pasal 2 ayat 4 undang-undang tersebut memungkinkan kabupaten/kota dapat memungut pajak lain lagi bila memenuhi kriteria tertentu, misalnya tidak berpengaruh negatif terhadap kegiatan ekonomi. Ketentuan yang relatif terbuka ini digunakan daerah untuk menaikkan pendapatan aslinya.
Berdasarkan UU No.28/2009, sumber penerimaan pajak provinsi bertambah 1 jenis yakni pajak rokok, sedangkan pajak kabupaten/kota bertambah 4 jenis yakni PBB, BPHTB, pajak sarang burung walet dan pajak pengambilan dan pemanfaatan air permukaan yang sebelumnya merupakan pajak provinsi. Selain itu, sumber penerimaan yang berasal dari retribusi daerah juga mengalami penambahan. Dimana retribusi jasa umum bertambah 4 pos yakni retribusi pengolahan limbah cair, pelayanan tera atau tera ulang, pelayanan pendidikan dan pengendalian menara telekomunikasi. Serta retribusi perizinan tertentu untuk izin usaha perikanan menjadi sumber penerimaan baru bagi daerah.
4.2. REALISASI APBD PROVINSI KEPULAUAN RIAU
Dari jumlah APBD pemerintah provinsi (pemprov) Kepulauan Riau tahun 2010 sebesar Rp 1,83 triliun, alokasi belanja terbesar ditujukan untuk belanja Modal senilai Rp 759,5 miliar atau 41,5% dari total APBD 2010. Selain itu alokasi belanja Barang dan Jasa sebanyak Rp 355,3 miliar juga memegang porsi yang relatif besar mencapai 19,4%. Komposisi ini dinilai cukup ideal untuk menggerakkan roda perekonomian yang manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Sementara di sisi penerimaan, pos bagi hasil pajak ditargetkan menyumbang pendapatan sebesar Rp 528,7 miliar atau 35,28% dari total penerimaan pemerintah provinsi di tahun 2010. Adapun penerimaan yang berasal dari PAD ditargetkan sekitar Rp382,7 miliar, yang memberi kontribusi mencapai 25,5% terhadap total penerimaan. Sedangkan pos dana perimbangan yang berasal dari DAU ditargetkan menyumbang penerimaan sekitar 22,6%.
4.2.1. Realisasi Penerimaan
Realisasi penerimaan pemerintah provinsi Kepulauan Riau sampai dengan posisi akhir triwulan II-2010 diestimasi sebesar Rp 884,7 miliar atau mencapai 59% dari target penerimaan tahun 2010 sebesar Rp 1,489 triliun. Pencapaian ini lebih baik jika dibandingkan persentase penerimaan selama semester I-2009 yang terealisasi sebesar 44,3%. Penerimaan pajak daerah sebagai sumber pendapatan utama tercatat sebesar Rp 252,9 miliar, dengan tingkat realisasi 66,4% dari target penerimaan pajak tahun 2010. Penerimaan pajak daerah tersebut bersumber dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBB-KB).
Tabel 4.3.
Perkembangan Realisasi Penerimaan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau
Tw.II‐2010 Tw.II‐2010 Tw.II‐2009
(Rp) (Rp) (%) (%) 1. PENDAPATAN ASLI DAERAH Pajak Daerah 382,664,083,000 116,357,421,335 136,520,467,552 66.08% 49.26% Retribusi Daerah 1,677,500,000 328,498,701 385,935,095 42.59% 29.02% ‐ Retribusi Jasa Umum 136,500,000 12,051,000 35,058,000 34.51% 25.46% ‐ Retribusi Jasa Usaha 1,516,000,000 303,197,701 335,627,095 42.14% 34.54% ‐ Retribusi Perizinan Tertentu 25,000,000 13,250,000 15,250,000 114.00% 0.00% Hasil Pengel.Kekayaan Daerah ydp 714,000,000 ‐ ‐ 0.00% 0.00% Lain‐lain Pendapatan Asli Daerah 15,828,508,000 3,446,577,485 3,581,610,521 44.40% 56.21% TOTAL PAD 400,884,091,000 120,132,497,521 140,488,013,168 65.01% 49.23% 2. DANA PERIMBANGAN Bagi Hasil Pajak / Bukan Pajak 204,832,837,000 23,630,330,622 117,296,561,057 68.80% 53.69% ‐ Bagi Hasil Pajak 103,950,000,000 810,344,510 7,499,695,050 7.99% 9.96% ‐ Bagi Hasil Bukan Pajak 27,105,868,000 4,179,850,119 91,156,730,014 351.72% 24.21% ‐ Pajak Penghasilan Orang Pribadi 73,776,969,000 18,640,135,993 18,640,135,993 50.53% 20.00% Bagi Hasil Bukan Pajak 528,715,569,000 212,232,513,609 68,001,414,000 53.00% 24.69% Dana Alokasi Umum 338,972,091,000 103,387,280,000 77,469,735,000 53.35% 58.33% Dana Alokasi Khusus 4,558,900,000 ‐ 1,367,670,000 30.00% 30.00% TOTAL DANA PERIMBANGAN 1,077,079,397,000 339,250,124,231 264,135,380,057 56.02% 42.61% 3. LAIN ‐ LAIN PENDAPATAN YANG SAH Pendapatan Hibah dari Pemerintah 20,718,151,000 20,718,151,000 35,362,500 100.17% ‐ 1,498,681,639,000 480,100,772,752 404,658,755,725 59.04% 44.34% TOTAL PENERIMAAN DAERAH
JENIS PENERIMAAN TARGET TA. 2010 Tw.I‐2010
Realisasi Penerimaan Akumulasi Penerimaan
Potensi peningkatan penerimaan yang berasal dari pajak masih terbuka mengingat bertambahnya sumber pajak provinsi menyusul berlakunya UU No.28/2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD), yakni pajak rokok. Selain itu, tarif pajak sebelumnya juga mengalami kenaikan, seperti pajak kendaraan bermotor yang naik dari 5% menjadi 10%. Untuk jenis pajak ini, kendaraan pemerintah yang sebelumnya tidak dikenakan pajak berubah menjadi objek pajak, dan daerah juga diperbolehkan untuk mengenakan tarif pajak progresif. Pajak bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB) juga naik dari 10% menjadi 20%, serta tarif pajak bahan bakar kendaraan bermotor meningkat dari 5% menjadi 10%.
Sumber : Badan Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Aset Daerah *) berdasarkan informasi terakhir, Juli 2010
Adapun pada pos dana perimbangan, realisasi penerimaan terbesar berasal dari dana bagi hasil (DBH) bukan pajak atas pengelolaan/pemanfaatan sumber daya alam sektor perikanan dan sektor Migas dimana hingga posisi Juni 2010 telah tercatat sebanyak Rp 280,2 miliar, atau mencapai 53% dari target. Tingkat realisasi ini jauh lebih besar dibanding kondisi di periode yang sama tahun 2009 yang baru terealisasi sekitar 24,7%.
Realisasi penerimaan tersebut belum termasuk tambahan insentif yang berasal dana alokasi kurang bayar DBH migas tahun 2008 yang diterima Pemprov Kepri sebesar Rp156.163.745.090, dari total alokasi untuk seluruh kabupaten/kota se-Kepri sebanyak Rp681.635.731.220. Dana alokasi yang diterima Pemprov tersebut terdiri atas DBH minyak bumi Rp92.739.192.088 dan DBH gas bumi sebesar Rp63.424.553.002. Adapun alokasi terbesar diperoleh Kabupaten Natuna yang merupakan daerah penghasil migas di Kepri, yakni Rp229.674.993.795 yang terdiri dari DBH minyak bumi sebesar Rp168.834.353.211 dan DBH gas bumi senilai Rp60.840.640.584. Besarnya tambahan penerimaan yang diterima tersebut seharusnya dapat dijadikan pemerintah untuk mengoptimalkan pembangunan di wilayahnya.
4.2.2. Realisasi Belanja
Sedangkan dari sisi pengeluaran, anggaran belanja yang direalisasi oleh Pemerintah Provinsi selama triwulan II-2010 meningkat cukup drastis dibanding triwulan sebelumnya. Jumlah pengeluaran dalam 3 bulan terakhir tercatat Rp 478,3 milyar, sementara pada posisi triwulan I-2010 baru terealisasi sekitar Rp197,1 miliar atau 10,8% (angka revisi) dari target pengeluaran APBD-2010 yang ditetapkan sebesar Rp 1,83 triliun.
Namun demikian, total belanja pemprov selama semester I-2010 baru tercatat sebesar Rp675,4 miliar atau hanya memenuhi 36,9% dari target, relatif meningkat dibanding pencapaian di semester I-2009 yang tercatat sebesar 30,3%. Dari total pengeluaran tersebut, penyerapan anggaran pada pos Belanja Tidak Langsung diperkirakan mencapai Rp 213,5 milyar, atau 40% dari target. Sedangkan pada pos Belanja Langsung sedikit lebih rendah yakni sekitar 35,6%.
Pada posisi triwulan II-2010 ini, porsi belanja modal mengalami kenaikan yang tajam seiring dengan dimulainya pelaksanaan program kerja yang telah direncanakan sebelumnya pada APBD 2010. Realisasi belanja modal mencapai 31,9%, sedangkan di triwulan I-2010 baru terealisasi sebesar 9,04%. Selain dari aktivitas investasi rutin, anggaran modal banyak terserap pada proyek multiyears pembangunan ibukota provinsi di pulau Dompak. Efek positifnya, belanja barang dan jasa juga meningkat drastis untuk mendukung pelaksanaan
proyek investasi tersebut. Pencapaian ini perlu diapresiasi yang mengindikasikan keseriusan pemerintah daerah dalam mempercepat pembangunan ekonomi di wilayahnya.
Tabel 4.4.
Perkembangan Realisasi Pengeluaran Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau
Tw.II‐2010 Tw.II‐2010 Tw.II‐2009
(Rp) (Rp) (%) (%) 1. BELANJA TIDAK LANGSUNG ‐ Belanja Pegawai 175,410,121,045 35,928,966,088 71,104,276,401 61.02% 39.86% ‐ Belanja Subsidi 10,000,000,000 ‐ ‐ 0.00% ‐ ‐ Belanja Hibah 107,950,000,000 24,512,500,000 50,030,000,000 69.05% 42.58% ‐ Belanja Bantuan Sosial 79,832,000,000 9,145,850,000 22,768,567,500 39.98% 40.58% ‐ Belanja Bagi Hasil kpd Provinsi/Kab/Kota 149,766,790,000 ‐ ‐ 0.00% 6.08% ‐ Belanja Bantuan Keuangan 8,500,000,000 ‐ ‐ 0.00% 50.00% ‐ Belanja Tidak Terduga 2,000,000,000 ‐ ‐ 0.00% 0.00% TOTAL BELANJA TIDAK LANGSUNG 533,458,911,045 69,587,316,088 143,902,843,901 40.02% 27.83% 2. BELANJA LANGSUNG ‐ Belanja Pegawai 181,774,685,598 13,675,512,820 36,333,004,441 27.51% 37.90% ‐ Belanja Barang dan Jasa 355,279,279,929 45,195,486,660 123,695,419,105 47.54% 28.43% ‐ Belanja Modal 759,487,123,428 68,624,114,816 174,370,130,904 31.99% 30.82% TOTAL BELANJA LANGSUNG 1,296,541,088,955 127,495,114,296 334,398,554,450 35.63% 31.21% TOTAL BELANJA DAERAH 1,830,000,000,000 197,082,430,384 478,301,398,351 36.91% 30.34%
JENIS BELANJA/PENGELUARAN TARGET TA. 2010 Tw.I‐2010
Realisasi Belanja Akumulasi Belanja
Komitmen pemerintah dalam pemberdayaan masyarakat kecil dan pemberantasan kemiskinan ditunjukkan dengan besarnya realisasi anggaran hibah yang mencapai Rp 74,5 milyar, melebihi dari target proporsional yang semestinya. Namun belanja pemerintah dalam memberikan bantuan sosial belum terealisasi dengan baik dimana baru mencapai 40% dari target anggaran 2010.
Sumber : Badan Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Aset Daerah *) berdasarkan informasi terakhir, Juli 2010 (data sangat sementara)
BAB 5
PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN
Bank Indonesia dalam menjalankan fungsi sistem pembayaran senantiasa menjaga aspek keamanan, efisiensi, kesetaraan akses dan perlindungan konsumen. Sementara itu dalam kaitannya sebagai lembaga yang melakukan pengedaran uang, kelancaran sistem pembayaran diwujudkan dengan terjaganya jumlah uang tunai yang beredar di masyarakat dan dalam kondisi yang layak edar atau biasa disebut clean money policy. Secara siklikal pada triwulan II, perkembangan transaksi sistem pembayaran di Kepulauan Riau mulai mengalami kenaikan dibandingkan triwulan lalu baik jumlah aliran uang masuk dan keluar maupun jumlah transaksi pembayaran melalui kliring dan Bank Indonesia – Real Time Gross Settlement (BI-RTGS).
5.1 TRANSAKSI PEMBAYARAN TUNAI
5.1.1 Aliran Uang Kartal Masuk/Keluar
Perkembangan aliran uang kartal di wilayah kerja KBI Batam pada triwulan II 2010 mengalami kenaikan outflow dan penurunan inflow. Peningkatan jumlah uang kartal yang keluar dari Kantor Bank Indonesia Batam pada Triwulan II telah menjadi siklus atau musiman jika memperhatikan pada data series tahun-tahun sebelumnya. Hal ini diperkirakan karena adanya peningkatan permintaan uang kartal menjelang pergantian tahun ajaran pendidikan. Peningkatan outflow ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga triwulan selanjutnya pada saat terjadinya hari-hari raya keagamaan. KBI Batam memiliki karateristik net ouflow di mana outflow lebih besar daripada inflow. Secara tahunan net outflow pada triwulan laporan mengalami kenaikan sebesar 37,36% (y-o-y). Sementara itu, secara triwulanan net outflow mengalami kenaikan sebesar 135,49% (q-t-q).
‐ 200 400 600 800 1.000 1.200 1.400 1.600 1.800
Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II
2008 2009 2010
Grafik 5.1. Perkembangan Inflow-Outflow Uang Kartal Di Kepulauan Riau
‐ 10 20 30 40 50 60 70 80
Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II Rp Miliar
Grafik 5.2. Perkembangan Pemusnahan Uang di Kantor Bank Indonesia Batam
5.1.2 Penyediaan Uang Kartal Layak Edar
Bank Indonesia senantiasa menjaga kualitas uang kartal yang layak edar dengan menerapkan clean money policy yaitu dengan melakukan pemusnahan atau pemberian tanda tidak berharga (PTTB) terhadap uang kartal yang sudah tidak layak edar. Selama triwulan II-2010, KBI Batam telah melakukan pemusnahan uang kertas sebanyak 4,2 juta lembar atau Rp 44,7 Milyar. Berdasarkan denominasi yang paling banyak dimusnahkan adalah pecahan Rp 1.000, Rp 5.000, Rp 20.000, dan Rp 10.000, masing-masing sebesar 39%, 20%, 18%, dan 15%.
5.2 TRANSAKSI PEMBAYARAN NON TUNAI
5.2.1 Kliring Lokal
Total nominal penyelesaian transaksi melalui kliring di Kepulauan Riau pada triwulan II 2010 meningkat. Sementara itu jumlah warkat yang dipertukarkan selama triwulan laporan juga meningkat dibandingkan triwulan lalu dan triwulan yang sama pada tahun 2009. Salah satu faktor yang memengaruhi peningkatan nilai maupun jumlah warkat transaksi tersebut antara lain karena meningkatnya posisi giro di perbankan pada triwulan laporan. Sementara itu, kualitas kliring di Kepulauan Riau pada triwulan II 2010 cukup baik, meskipun tolakan kliring tetap meningkat seiring pertumbuhan jumlah transaksi kliring. Penataushaan daftar hitam nasional penarik cek dan atau bilyet giro kosong sangat mendukung rendahnya tolakan kliring yang jumlah sebesar 2,8% dari seluruh jumlah warkat selama laporan.
5.2.2 Real Time Gross Settlement (RTGS)
Dilihat dari segi volume, penyelesaian transaksi melalui BI-RTGS belum mendominasi pembayaran non tunai di Kepulauan Riau, meskipun dari segi nominal transaksi RTGS lebih besar daripada kliring. Hal ini menunjukkan sebagian besar pengguna instrumen sistem pembayaran non tunai hanya menggunakan BI-RTGS untuk transaksi besar dan lebih sedikit yang menggunakannya untuk transaksi mendesak atau untuk alasan kecepatan. Transaksi
Tw.1 Tw.2 Tw.3 Tw.4 Tw.1 Tw.2 qtq yoy
Lembar 101.670 105.943 107.009 110.917 107.252 111.723 4,17% 5,46% Nominal (Rp miliar) 2.597 2.549 2.677 2.858 2.706 2.827 4,45% 10,88% Lembar 1.812 2.036 2.923 2.917 2.607 3.118 19,60% 53,14% Nominal (Rp miliar) 56,98 56,45 72,35 87,86 66,29 70,44 6,26% 24,78% Sumber: Bank Indonesia
2010 Pertumbuhan
Perputaran Kliring
Penolakan C ek/BG Kosong
Keterangan 2009