BAB II. PROFIL SANITASI SAAT INI
2.1. Gambaran Wilayah
Kota Yogyakarta terletak antara 110°24’19” - 110°28’53” Bujur Timur dan 07°15’24” -
07°49’26” Lintang Selatan dengan luas sekitar 32,5 Km
2. Kota Yogyakarta memiliki kemiringan
lahan yang cukup datar 0-2% dengan ketinggian rata-rata 114 meter diatas permukaan air laut
(dpa). Terdapat tiga buah sungai mengaliri Kota Yogyakarta dari utara ke selatan yaitu: Sungai
Gajah Wong yang mengalir di sisi timur, Sungai Code yang mengalir di sisi tengah dan Sungai
Winongo yang mengalir di sisi barat.
Secara administratif Kota Yogyakarta terdiri dari 14 kecamatan dan 45 kelurahan
dengan batas wilayah sebagai berikut:
Sebelah utara
: Kabupaten Sleman
Sebelah timur
: Kabupaten Bantul dan Sleman
Sebelah selatan
: Kabupaten Bantul
Sebelah barat
: Kabupaten Bantul dan Sleman
Sumber :RTRW Kota Yogyakarta 2008-2028
Gambar 2. 1. Peta Wilayah Kajian Strategi Sanitasi Kota
PETA WILAYAH KAJIAN SSK
KOTA YOGYAKARTA
PEMUTAHIRAN STRATEGI
SANTASIKOTA YOGYAKARTA
DAN MEMORANDUM SANITASI
Luasan lahan yang sudah terbangun ataupun belum dapat dilihat pada Tabel 2.1.
berikut.
Tabel 2.1. Nama dan Luas Wilayah perKecamatan serta Jumlah Kelurahan
Nama Kecamatan Jumlah Kelurahan/ Desa Luas Wilayah Administrasi Terbangun Km² (Ha) (%) terhadap Total Administrasi Km² (Ha) (%) terhadap Luas Administrasi Mantrijeron 3 2,61 261 8,0 2.38 238 91,19 Kraton 3 1,40 140 4,3 1.10 115 82,14 Mergangsan 3 2,31 231 7,1 1.96 196 85 Umbulharjo 7 8,12 812 25 6.22 622 78 Kotagede 3 3,07 307 9,4 2.36 236 77 Gondokusuman 5 3,98 398 12,3 3.20 320 80,40 Danurejan 3 1,10 110 3,4 0.89 89 80,91 Pakualaman 2 0,63 63 1,9 0.57 57 90,48 Gondomanan 2 1,12 112 3,4 0.83 101 90,27 Ngampilan 2 0,82 82 2,5 0.64 64 78,05 Wirobrajan 3 1,76 176 5,4 1.50 150 85.23 Gedongtengen 2 0,96 96 3 0.65 65 67,71 Jetis 3 1,70 170 5,2 1.59 159 93,53 Tegalrejo 5 2,90 290 9,0 2.74 274 94.48 Total 32,50 3.250 100
Sumber: BPS Kota Yogyakarta dalam angka 2014
Penggunaan lahan paling banyak adalah untuk perumahan yaitu sebesar 64.6%, jasa
8.6%, perusahaan 9.3%, industri 1.6%,pertanian 3,4%, non-produktif 0,6% dan lain-lain
11,9%.
Jumlah penduduk Kota Yogyakarta pada tahun 2013 sebanyak 402.679 jiwa dengan
rincian 195.712 jiwa penduduk laki-laki dan 206.967 jiwa penduduk perempuan, dengan
prosentase kenaikan jumlah penduduk pertahun rata-rata sebesar 1,6% maka di tahun 2015
jumlah penduduk kota Yogyakarta menjadi 410.217 jiwa dan di tahun 2020 sebanyak
411.275 jiwa. Jumlah penduduk terbanyak ada di Kecamatan Umbulharjo dengan 79.209
jiwa dan terendah Kecamatan Pakualaman dengan jumlah penduduk 11.198 jiwa
.
Kepadatan penduduk Kota Yogyakarta adalah 12.390 per km
2. Untuk kecamatan paling
padat adalah Kecamatan Ngampilan dengan kepadatan 20.361 jiwa per km
2dan terjarang
adalah Kecamatan Umbulharjo yaitu 9.984 jiwa per km
2. Jumlah Penduduk ini disajikan pada
Tabel 2.2 berikut ini.
Tabel 2. 2. Jumlah Penduduk saat ini dan proyeksinya untuk 5 tahun mendatang
Nama Kecamatan
Jumlah Penduduk (orang) Wilayah Perkotaan Tahun 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Mantrijeron
32.383
32.595
32.806 33.018 33.229 33.441 33.653 33.864 Kraton22.154
22.366
22.577 22.789 23.000 23.212 23.424 23.635 Mergangsan36.574
36.786
36.997 37.209 37.420 37.632 37.844 38.055 Umbulharjo78.786
78.998
79.209 79.421 79.632 79.844 80.056 80.267 Kotagede31.159
31.371
31.582 31.794 32.005 32.217 32.429 32.640 Gondokusuman42.328
42.540
42.751 42.963 43.174 43.386 43.598 43.809 Danurejan21.111
21.323
21.534 21.746 21.957 22.169 22.381 22.592 Pakualaman10.775
10.987
11.198 11.410 11.621 11.833 12.045 12.256 Gondomanan15.190
15.402
15.613 15.825 16.036 16.248 16.460 16.671 Ngampilan18.619
18.831
19.042 19.254 19.465 19.677 19.889 20.100 Wirobrajan13.863
14.075
14.286 14.498 14.709 14.921 15.133 15.344 Gedongtengen20.778
20.990
21.201 21.413 21.624 21.836 22.048 22.259 Jetis27.740
27.952
28.163 28.375 28.586 28.798 29.010 29.221 Tegalrejo36.321
36.533
36.744 36.956 37.167 37.379 37.591 37.802 Jumlah407.781
410.749
413.703 416.671
419.625
422.593 425.561
428.515
Sumber: BPS 2014 dan hasil analisis Pokja Sanitasi
Jumlah Kepala Keluarga Kota Yogyakarta pada tahun 2013 sebanyak 100.993 KK
denganprosentase rata-rata kenaikan jumlah KK pertahun sebesar 0,82 % maka di tahun
2015 jumlah KK Kota Yogyakarta menjadi 105.442 KK dan di tahun 2020 sebanyak 109.150
KK. Jumlah terbanyak ada di Kecamatan Umbulharjo dengan 19.802 dan terendah
Kecamatan Pakualaman dengan jumlah KK sebanyak 2.800. Tabel 2.3 menyajikan jumlah
KK saat ini di Kota Yogyakarta dan proyeksinya untuk 5 tahun mendatang.
Tabel 2. 3. Jumlah Kepala Keluarga saat ini dan proyeksinya untuk 5 tahun mendatang
Nama Kecamatan
Jumlah Kepala Keluarga (KK) Wilayah Perkotaan
Tahun
2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Mantrijeron
8.096
8.149
8.202 8.254 8.307 8.360 8.413 8.466Umbulharjo
19.697
19.749
19.802 19.855 19.908 19.961 20.014 20.067 Kotagede7.790
7.843
7.896 7.948 8.001 8.054 8.107 8.160 Gondokusuman10.582
10.635
10.688 10.741 10.794 10.847 10.899 10.952 Danurejan5.278
5.331
5.384 5.436 5.489 5.542 5.595 5.648 Pakualaman2.694
2.747
2.800 2.852 2.905 2.958 3.011 3.064 Gondomanan3.798
3.850
3.903 3.956 4.009 4.062 4.115 4.168 Ngampilan4.655
4.708
4.761 4.813 4.866 4.919 4.972 5.025 Wirobrajan3.466
3.519
3.572 3.624 3.677 3.730 3.783 3.836 Gedongtengen5.195
5.247
5.300 5.353 5.406 5.459 5.512 5.565 Jetis6.935
6.988
7.041 7.094 7.147 7.200 7.252 7.305 Tegalrejo9.080
9.133
9.186 9.239 9.292 9.345 9.398 9.451Sumber: BPS 2014 dan hasil analisis Pokja
Proyeksi pertumbuhan penduduk merupakan data dasar yang diperlukan dalam
menyusun strategi sanitasi kota. Dengan mengetahui proyeksi penduduk akan di dapatkan
kondisi kepadatan penduduk untuk beberapa kurun waktu ke depan. Proyeksi penduduk
dapat didekati dengan metode statistika. Metode statistika yang paling umum digunakan
dalam proyeksi penduduk yaitu: 1. Metode aritmatika ; 2. Metode Geometrik ; 3. Metode
Least Square. Berdasarkan beberapa penelitian mengenai proyeksi penduduk untuk Kota
Yogyakarta yang paling sesuai berdasarkan data penduduk yang ada maka digunakan
metode Aritmatika dengan persamaan sebagai berikut:
)
.(
0 0K
T
T
P
P
n
a n
1 2 1 2
T
T
P
P
K
a
Dengan:
P
n= jumlah penduduk pada tahun ke – n (jiwa)
P
0= jumlah penduduk pada tahun awal (jiwa)
T
n= tahun pada akhir tinjauan
T
0= tahun pada awal tinjauan
K
a= koefisien pertumbuhan penduduk
P
2= jumlah penduduk akhir tinjauan (jiwa)
P
1= jumlah penduduk awal tinjauan (jiwa
Tabel 2.4 dibawah ini menyajikan tingkat pertumbuhan penduduk di Kota Yogyakarta dalam
kurun waktu lima tahun mendatang.
Tabel 2.4. Tingkat pertumbuhan penduduk dan proyeksinya untuk 5 tahun mendatang
Nama Kecamatan Tingkat Pertumbuhan (%) Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Mantrijeron 0.65 0.65 0.64 0.64 0.63 0.63 Kraton 0.95 0.94 0.93 0.92 0.91 0.90 Mergangsan 0.58 0.57 0.57 0.57 0.56 0.56 Umbulharjo 0.27 0.27 0.27 0.27 0.27 0.26 Kotagede 0.67 0.67 0.67 0.66 0.66 0.65 Gondokusuman 0.50 0.49 0.49 0.49 0.49 0.49 Danurejan 0.99 0.98 0.97 0.96 0.95 0.95 Pakualaman 1.93 1.89 1.85 1.82 1.79 1.76 Gondomanan 1.37 1.36 1.34 1.32 1.30 1.29 Ngampilan 1.12 1.11 1.10 1.09 1.08 1.06 Wirobrajan 1.50 1.48 1.46 1.44 1.42 1.40 Gedongtengen 1.01 1.00 0.99 0.98 0.97 0.96 Jetis 0.76 0.75 0.75 0.74 0.73 0.73 Tegalrejo 0.58 0.58 0.57 0.57 0.57 0.56Sumber: BPS 2014 dan hasil analisis Pokja
Analisis kepadatan penduduk merupakan hasil bagi antara luas wilayah yang ada
dengan jumlah penduduk yang menempati wilayah tersebut. Kecamatan Ngampilan
merupakan kecamatan dengan tingkat kepadatan paling tinggi yaitu 23.222 jiwa per kilo
meter persegi (km
2). Sedangkan untuk Kecamatan Wirobrajan menduduki peringkat terakhir
kepadatan penduduknya yaitu 8.117 jiwa per kilometer persegi (km
2). Untuk proyeksi
kepadatan penduduk dalam lima tahun ke depan dapat dilihat pada Tabel 2.5 dibawah ini.
Tabel 2.5. Tingkat kepadatan penduduk dan proyeksinya untuk 5 tahun mendatang
Nama Kecamatan
Kepadatan Penduduk per km2 Tahun
2015 2016 2017 2018 2019 2020
Mantrijeron 12.569 12.651 12.732 12.813 12.894 12.975 Kraton 16.127 16.278 16.429 16.580 16.731 16.882
Umbulharjo 9.755 9.781 9.807 9.833 9.859 9.885 Kotagede 10.287 10.356 10.425 10.494 10.563 10.632 Gondokusuman 10.742 10.795 10.848 10.901 10.954 11.007 Danurejan 19.577 19.769 19.961 20.154 20.346 20.538 Pakualaman 17.775 18.111 18.447 18.783 19.118 19.454 Gondomanan 13.940 14.129 14.318 14.507 14.696 14.885 Ngampilan 23.222 23.480 23.738 23.996 24.254 24.513 Wirobrajan 8.117 8.237 8.358 8.478 8.598 8.718 Gedongtengen 22.085 22.305 22.525 22.746 22.966 23.187 Jetis 16.567 16.691 16.816 16.940 17.064 17.189 Tegalrejo 12.670 12.743 12.816 12.889 12.962 13.035
Sumber: BPS 2014 dan hasil analisis Pokja.
Jumlah penduduk miskin di Kota Yogyakarta sebanyak
60.230 jiwa atau18.881 KKatau 14,66
% dari jumlah penduduk tahun 2014 yang ada di Kota Yogyakarta. Jumlah penduduk miskin
tersebut terdiri dari 41.147 jiwa yang termasuk rawan miskin, 19.982 jiwa adalah penduduk
miskin, dan 101 jiwa fakir miskin. Jumlah penduduk miskin ini dapat dilihat pada Tabel 2.6
berikut ini.
Tabel 2.6. Jumlah Penduduk Miskin tiap Kecamatan
NO KECAMATAN / KELURAHAN Penduduk KK RM M FM RM M FM 1 Kec Tegalrejo 4383 1949 12 1410 571 3 Kricak 1280 296 0 411 96 0 Karangwaru 1224 647 0 382 181 0 Tegalrejo 1152 421 0 378 115 0 Bener 727 585 12 239 179 3 2 Kec Jetis 3670 1540 1 1130 482 1 Bumijo 1577 1005 0 492 317 0 Cokrodiningratan 1170 222 1 355 74 1 Gowongan 923 313 0 283 91 0 3 Kec Gondokusuman 4328 1454 0 1322 471 0 Demangan 657 198 0 196 72 0 Kotabaru 302 41 0 95 17 0 Klitren 1107 308 0 331 91 0 Baciro 1266 704 0 404 222 0
Terban 996 203 0 296 69 0 4 Kec Danurejan 2758 1991 4 834 587 1 Suryatmajan 579 535 0 179 167 0 Tegalpanggung 1524 949 0 447 259 0 Bausasran 655 507 4 208 161 1 5 Kec Gedongtengen 2720 660 4 875 210 1 Sosromenduran 681 86 0 225 27 0 Pringgokusuman 2039 574 4 650 183 1 6 Kec Ngampilan 1327 540 6 428 180 3 Ngampilan 876 283 3 280 103 2 Notoprajan 451 257 3 148 77 1 7 Kec Wirobrajan 3383 1469 29 998 470 7 Pakuncen 1301 945 28 355 280 6 Wirobrajan 1122 269 0 353 96 0 Patangpuluhan 960 255 1 290 94 1 8 Kec Mantrijeron 3296 1541 0 1085 495 0 Gedongkiwo 1582 571 0 499 183 0 Suryodiningratan 1045 602 0 372 197 0 Mantrijeron 669 368 0 214 115 0 9 Kec Kraton 2881 1101 12 897 380 7 Patehan 1082 247 1 323 81 1 Panembahan 1186 418 3 359 144 2 Kadipaten 613 436 8 215 155 4 10 Kec Gondomanan 1387 854 13 425 277 3 Ngupasan 332 250 0 93 83 0 Prawirodirjan 1055 604 13 332 194 3 11 Kec Pakualaman 1375 318 0 420 103 0 Purwokinanti 776 218 0 242 68 0 Gunungketur 599 100 0 178 35 0 12 Kec Mergangsan 3684 3023 20 1192 907 5 Keparakan 1301 1226 5 442 341 1 Wirogunan 1338 899 6 412 287 2 Brontokusuman 1045 898 9 338 279 2 13 Kec Umbulharjo 3266 1455 0 989 472 0 Semaki 460 310 0 144 100 0 Muja-Muju 555 339 0 171 108 0 Tahunan 363 52 0 103 13 0 Warungboto 289 68 0 89 25 0
Sorosutan 716 355 0 214 123 0 Giwangan 550 104 0 166 30 0 14 Kec Kotagede 2689 1087 0 862 378 0 Rejowinangun 944 147 0 303 47 0 Prenggan 683 628 0 204 209 0 Purbayan 1062 312 0 355 122 0
Jumlah Kota Yogyakarta 41147 18982 101 12867 5983 31
Sumber : TKPK Kota Yogyakarta Th 2014
Rencana Struktur Ruang Wilayah Kota yang terdiri dari pelayanan kota, rencana sub
pelayanan kota dan pelayanan lingkungan dapat dilihat pada gambar 2.1, sedangkan
pemanfaatan pola ruang Kota Yogyakarta terlihat pada gambar 2.2 di bawah ini.
Sumber :RTRW Kota Yogyakarta 2008-2028
Sumber :RTRW Kota Yogyakarta 2008-2028
2.2. Kemajuan Pelaksanaan SSK
Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam rangka Penyusunan Strategi Sanitasi
Kabupaten/Kota (SSK) disajikan pada Tabel 2.7 sampai Tabel 2.9 berikut:
a. Air limbah domestik
Tabel 2.7. Kemajuan SSK Air Limbah Domestik di Kota Yogya
Strategi Sanitasi Kota tahun 2012-2017 SSK saat ini
Tujuan Sasaran Data dasar*
Meningkatkan sistem pengelolaan air limbah yang terhubung di IPAL Sewon Jumlah pelanggan terpenuhi menjadi 5000 pelanggan atau meningkat dari 63% ke 100 % tahun 2014 Jumlah sambungan rumah sebanyak 10.478 pelanggan Jumlah sambungan rumah sebanyak 15.270 pelanggan. Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam perawatan sarana IPAL komunal
Partisipasi masyarakat dalam perawatan sarana IPAL meningkat tahun 2014 Pemakaian IPAL komunal belum dimanfaatkan secara optimal Optimalisasi IPAL komunal Pemungutan retribusi untuk biaya perawatan IPAL komunal Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang septik-tank yang aman Masyarakat meningkatkan perawatan terhadap sarana septink-tank tahun 2014
Jumlah septik tank komunal 45 dan melayani 1.429 kk
Jumlah septik tank komunal meningkat menjadi 56 unit dan melayani 1.997 kk Peningkatan Kapasitas IPAL Terpusat di Sewon Jumlah 25000 (Kartamantul) pelanggan IPAL terpenuhi tahun 2015-2017 atau melayani 100% kebutuhan SR kota Jumlah sambungan rumah sebanyak 10.478 pelanggan Jumlah sambungan rumah sebanyak 15.270 pelanggan. (Kuota untuk kota sudah terpenuhi, jika kuota Sleman dan Bantul tidak dipakai, maka bisa
dimanfaatkan oleh Kota)
b. Pengelolaan Persampahan
Tabel 2.8. Kemajuan SSK Persampahan di Kota Yogya
Strategi Sanitasi Kota tahun 2012-2017 SSK saat ini Tujuan Sasaran Data dasar*
Mendorong regulasi tentang persampahan Tersedianya regulasi tentang persampahan di tahun 2014 Terciptanya regulasi pengelolaan persampahan
Perda No. 5 tahun 2012 tentang Retribusi Jasa Umum, Perda No 10 Tahun 2012, tentang Pengelolaan Persampahan Meningkatkan sarana/prasarana persampahan Peningkatan jumlah layanan pengangkut an sampah dari 78% ke 90% ditahun 2016 Sampah dipilah kemudian diolah tidak semua masuk ke TPA Piyungan
Dalam persiapan IPST di beberapa wilayah Kota Yogyakarta. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan penting nya pengelolaan persampahan Menurunkan menjadi 0% masyarakat yang membuang sampah sembarangan , meningkatkan pengelolaan sampah dengan pola 3R Penyebarluasan tentang pengeloaan sampah dan perilaku hidup bersih sehat oleh Dinas terkait
Pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan melakukan pemilahan sampah mulai dari sumbernya (rumah,sekolah, kantor dll) Sampah dikelola dengan 3 R. (316 Bank sampah di Kota) Pembentukan bank sampah di tingkat RW *Data Dasar: BPS 2012
c. Drainase Perkotaan
Tabel 2.9. Kemajuan SSK Drainase di Kota Yogyakarta
Strategi Sanitasi Kota tahun 2012-2017 SSK saat ini Tujuan Sasaran Data dasar*
Adanya regulasi tentang pengelolaan drainase yang komprehensif Terbentuknya regulasi tentang pengelolaan drainase tahun 2014
Belum adanya sanksi kepada masyarakat yang menggunakan saluran drainase bukan untuk peruntukannya Merencanakan untuk menciptakan peraturan maupun UU tentang drainase Terwujudnya pembangunan antar kawasan mengenai sistem pengelolaan drainase yang komprehensif Mengurangi titik-titik genangan dengan pembuatan sudetan dengan cakupan layanan dari 50% menjadi 81% di tahun 2015
Jumlah titik genangan masih ada 57 titik(KPY) Studi genangan di tahun 2013 ada 50 titik Merencanakan mengurangi titik-titik genangan yang berjumlah 35 titik(10 ha dari luas wilayah 3.200 ha) Rencana
melakukan Studi genangan setiap 5 tahun sekali yaitu di tahun 2018 Terpeliharanya
sarana/prasarana drainase
Saluran drainase yang mengalami kerusakan dibeberapa titik (13%) harus diperbaiki sampai tahun 2017
Saluran drainase banyak yang tidak berfungsi sebagai SAH, saluran drainase banyak yang sudah tua sehingga perlu perbaikan Perbaikan yang sudah dilaksanakan sudah mencapai 50.% Meningkatkan kesadaran masya Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tdak membuang limbah di saluran drainase
Peran serta masya rakat dalam pengelolaan dan perawatan saluran drainase Perlunya gerakan penyadaran masyarakat untuk merawat saluran drainase
rakat akan penting nya saluran drainase
2.3. Profil Sanitasi Saat Ini
2.3.1. Air Limbah Domestik
Limbah domestik diklasifikasikan menjadi dua yaitu grey water dan black water. Air
limbah yang termasuk dalam kategori grey water adalah air limbah rumah tangga berupa
limbah cucian dapur, cucian pakaian (sabun), dan air buangan dari kamar mandi.
Sedangkan yang termasuk dalam black water adalah, tinja manusia, urine, air
penggelontor, kertas pembersih, dan air pembersih. Secara umum dari hasil survey air
limbah relatif terkelola dengan baik. Limbah rumah tangga selain tinja masuk dalam
saluran air limbah ataupun sumur peresapan, sedangkan limbah tinja terkelola dengan
tangki septik ataupun instalasi air limbah baik on site maupun off site.
1. Sistem dan Infrastruktur
Pengelolaan air limbah ini sangat mempengaruhi derajat kesehatan di masyarakat.
Jika limbah tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan pencemaran pada
lingkungan terutama pada air tanah. Pengelolaan air limbah yang baik dipengaruhi oleh
beberapa hal, antara lain: kesadaran masyarakat akan kesehatan, sarana dan prasarana
infrastruktur yang mendukung, dan kelembagaan yang ada. Di kota Yogyakarta ini sistem
pengelolaan air limbah di masyarakat dapat dijelaskan pada Gambar 2.4 Diagram Sistem
Sanitasi Pengelolaan Air Limbah di bawah ini.
1. Black Water Tanki septic Sumur peresapan
2. Black Water
IPAL komunal Sungai
3.
Black Water IPAL Sewon/Regional Sungai
4. Black Water
Sungai
5. Grey Water
Peresapan
6. Grey Water Sungai
7. Grey Water IPAL Regional (Sewon)
Gambar 2.4. Diagram Sistem Sanitasi Pengelolaan Air Limbah Domestik
Dari Gambar 2.4 dapat dijelaskan bahwa yang termasuk dalam sistem pengelolaan air
limbah adalah:
1. Black water, ditampung dengan tanki septik, selanjutnya airnya diresapkan dalam
sumur peresapan, sehingga meresap ke dalam tanah, dan menambah suplai air
tanah.
2. Black water ditampung di IPAL komunal, kemudian effluent-nya dibuang ke sungai.
3. Black water langsung di buang di IPAL Regional dengan sistem perpipaan, dan
effluent-nya di buang ke sungai, Di sini masyarakat yang terkoneksi dengan saluran
air limbah ini dikenakan wajib retribusi (WR).
4. Black grey dibuang langsung ke sungai tanpa diolah di tanki septik, jadi dari kloset
langsung ke sungai. Hal ini dikarenakan lokasi penduduk yang dekat dengan
sungai, namun lahan tidak ada untuk membangun tangki septik maupun tangki
septik komunal. Ada penduduk yang buang air besar langsung ke sungai, hal ini
dikarenakan rumah dekat dengan sungai, dan sudah menjadi kebiasaan buang air
besar langsung ke sungai.
5. Grey water langsung diresapkan ke dalam sumur peresapan.
6. Grey water langsung dibuang ke Sungai
7. Grey water dibuang ke IPAL Regional dengan sistem perpipaan, dan masyarakat
dikenakan retribusi (WR)
Dari Gambar 2.5 dibawah ini dapat dijelaskan bahwa di Kota Yogyakarta ini
bahwa masih ada masyarakat Yogyakarta yang buang air besar di sungai, saluran terbuka,
ataupun ditempat lain yang tidak di jamban (BABS) atau dengan kata lain sanitasi yang
tidak layak, yaitu seperti di Kelurahan Terban, Kricak, Tegalrejo,Kotabaru, Baciro, dan
Pandeyan. Biasanya masyarakat ini tempat tinggalnya dekat dengan sungai ataupun
saluran terbuka, sehingga mereka kalau mau BAB langsung ke sungai. Selain kebiasaan
BAB di sungai, faktor keterbatasan lahan manjadi penyebab masyarakat tersebut tidak
membuat jamban. Hal ini perlu segera diatasi dengan membuat jamban komunal, ataupun
IPAL komunal, ataupun tangki septik komunal, dan jika memungkinkan dengan saluran air
limbah yang langsung ke Sewon (IPAL Regional). Masyarakat yang masih mempunyai
–
kebiasaan BABS di Kota Yogyakarta ini sebesar 0,22% dari penduduk Kota Yogyakarta,
seperti yang disajikan pada Tabel 2.10 dibawah ini.
Sanitasi yang tidak layak selain BABS adalah masyarakat yang menggunakan
jamban untuk BAB dengan tangki septik yang tidak layak seperti cubluk, bocor, ataupun
rusak. Tangki septik yang dikatakan layak adalah jika tangki tersebut kedap air, tidak bocor
dan dapat melakukan proses penguraian limbah oleh bakteri yaitu tangki septik dengan
lubang penghawaan.
Sarana dan prasarana pendukung juga masih kurang seperti tidak adanya
mobil pelayanan sedot tinja. Belum terdapat Masterplan air limbah skala Kota Yogyakarta
juga merupakan permasalahan pembangunan sanitasi kota. Diperlukan juga SDM yang
memadai untuk pembangunan dan pengelolaan air Limbah Kota Yogyakarta.
Sumber:RTRW Kota Yogyakarta 2008-2028
Gambar 2.5. Peta Cakupan Akses dari Sistem Air Limbah di Kota Yogyakarta
Keterbatasan kapasitas IPAL Regional juga muncul sebagai permasalahan sanitasi
khususnya pengelolaan air limbah domestik.
Pada Tabel 2.10, masyarakat yang tangki septiknya tidak layak atau tidak aman
sebesar 2,09%.Tangki septik yang tidak layak ini masih dijumpai di Kelurahan Baciro, Klitren,
Demangan, Sorosutan, Pandeyan, Giwangan,dan Rejowinangun. Cakupan akses dan
sistem layanan air limbah domestik per kecamatan dan kelurahan disajikan pada Tabel 2.10
berikut ini:
Tabel 2.10. Cakupan akses dan sistem layanan air limbah domestik Kota Yogyakarta
No Nama Kecamatan
Sanitasi Tidak Layak Sanitasi Layak
Keterangan BABS
Sistem On Site Sistem Off Site
Individual Sistem Berbasis Komunal
Skala Kawasan/ Terpusat Cubluk Jamban Tidak Aman Cubluk Aman/Jamban Keluarga dgn Tangki Septik aman MCK Komunal Tangki Septik Komunal (>10KK) IPAL Komunal Sambungan Rumah yang berfungsi (KK) (KK) (KK) (KK) (KK) (KK) (KK) (KK) 1 Kecamatan Mantrijeron - - 6.705 90 - 40 1.903 2 Kecamatan Kraton - 124 2.626 445 - - 2.344 3 Kecamatan Mergangsan - 922 6.549 760 200 113 1.156 4 Kecamatan Umbulharjo 3 99 15.569 182 - 332 1.135 5 Kecamatan Kotagede - 41 7.387 97 33 232 - 6 Kecamatan Gondokusuman 139 516 9.448 261 - 41 177 7 Kecamatan Danurejan - 196 3.460 617 21 102 882 8 Kecamatan Pakualaman - - 1.295 386 - 33 980 9 Kecamatan Gondomanan - - 2.121 605 60 119 893 10 Kecamatan Ngampilan - - 2.220 300 230 289 1.616
11 Kecamatan Wirobrajan - 246 5.310 352 - 233 665 12 Kecamatan Gedongtengen - - 3.258 354 - 51 1.532 13 Kecamatan Jetis - - 5.080 145 111 241 1.358 14 Kecamatan Tegalrejo 87 35 7.970 151 - 246 591
Jumlah
229 2.179 78.995 4.745 655 2.072 15.232
Maka Prosentase Layanan Limbah
adalah
0.22%
2.09%
75.88%
4.56%
0.63%
1.99%
14.63%
0.22%
77.97%
7.18%
14.63%
82.53%
17.25%
2.31%
97.69%
Sumber: Hasil survei
*
Yang termasuk BABS : BAB langsung di kebun, kolam, sungai** Tidak Aman : Tangki septik tidak sesuai kriteria SNI atau tidak mempunyai tangki septik sama sekali
*** Cubluk dikategorikan tidak aman bila dibanguun di area dengan kepadatan > 50 org/Ha dan jarak sumber air bersih yang bukan perpipaan <10m **** MCK komunal : cakupan layanan 10-200 KK baik dengan tangki septik, biofilter dan dapat dilengkapi dengan biodegester. Termasuk didalamnya toilet bergerak (mobile toilet)
Tabel 2.11. Kondisi Prasarana dan Sarana Pengelolaan Air Limbah Domestik
No Jenis Satuan Jumlah/
kapasitas Kapasitas Kondisi Keterangan Berfungsi Tidak berfungsi SPAL Setempat (On Site)
1 Berbasis Komunal
MCK Komunal unit 982 982
2 Truk Tinja unit 1 1
3 IPLT m3/hari 25 1
SPAL Terpusat (Off Site)
1 Tangki Septik Komunal unit 21 21
> 10 KK
IPAL Komunal unit 57 47 10
2 IPAL Kawasan/Terpusat 1 1
Kapasitas m3/hari 25.000
Sistem
2. Kelembagaan dan Peraturan
Dinas yang terkait dalam penanganan air limbah domestik di Kota Yogyakarta
adalah Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil). Guna mendukung target
pencapaian pelayanan pengelolaan air limbah domestik di Kota Yogyakarta telah diatur
dalam:
1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air;
3. Keputusan Presiden Nomor 185 Tahun 2014 tentang Percepatan Penyediaan Air
minum dan Sanitasi;
4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/2008 tentang Kebijakan dan
Strategi Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman
(KSNP-SPLAP);
5. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2003
tentang Baku Mutu Air Limbah;
6. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 852/Menkes/SK/IX/2008 tentang Strategi
Nasional Sanitasi Total berbasis Masyarakat;
7. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 648-82/Kep/Bangda/2015 tentang
Perubahan atas Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 648-565/Kep/Bangda/2014
tentang Penetapan Kabupaten/Kota Sebagai Pelaksana Program Percepatan
Pembangunan Sanitasi Permukiman Tahun 2015;
8. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 660/4919/SJ tentang Pedoman
Pengelolaan Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) di
Daerah;
9. Peraturan Daerah Propinsi DIY Nomor 03 tahun 2013 Tentang Pengelolaan Air
Limbah Domestik;
10. Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Air
Limbah Domestik;
2.3.2. Persampahan
Masalah persampahan menjadi masalah klasik di setiap wilayah, baik di pedesaan
maupun di perkotaan. Volume sampah akan selalu meningkat seiring dengan pertambahan
jumlah penduduk. Untuk itu diperlukan suatu pengelolaan sampah supaya tidak
menimbulkan gangguan kesehatan di masyarakat, baik itu sampah di tingkat rumah tangga,
tingkat RT, RW, ataupun tingkat perkotaan. Pengelolaan sampah dapat dibagi dalam dua
kegiatan utama yaitu:
a. Pengumpulan sampah
b. Pemrosesan akhir
Kegiatan pengumpulan sampah dapat dimulai dari lingkup rumah tangga, kemudian
lingkup RT, dan kemudian lingkup kota. Pengelolaan sampah ini harus ada organisasi
pengelola, dari mulai tahapan pengumpulan, pengangkutan, sampai dengan tahapan
pemrosesan akhir baik oleh kelompok masyarakat, ataupun yang dikelola oleh dinas terkait.
Aktifitas pengelolaan sampah di tingkat masyarakat Kota Yogyakarta ini ada beberapa
model, yaitu:
1. Produksi sampah (rumah tangga) dikumpul di depan rumah dengan bak sampah dan
kemudian diambil oleh petugas sampah dengan gerobak sampah untuk ditampung di
Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS). Selanjutnya dari TPSS diangkut
dengan truk sampah oleh petugas dari dinas terkait ke tempat pembuangan akhir.
2. Sampah rumah tangga dibuang langsung ke TPSS, kemudian dari TPSS diangkut
3. Sampah rumah tangga dipilah atau dilkelompokan dalam beberapa jenis yaitu
organik, kertas, kaca, dan plastik oleh setiap rumah tangga, dan kemudian dibawa ke
bank sampah terdekat. Dalam hal ini sampah kering yang di bawa ke bank sampah.
Selanjutnya dari bank sampah dijual ke pengepul, sedangkan sampah organik di
buang ke tempat pembuangan sampah sementara untuk diangkut petugas sampah,
dan dibuang ke tempat pembuangan akhir.
4. Sampah rumah tangga dikumpul di arm roll dan diangkut oleh petugas dengan truk
sampah untuk dibuang ke tempat pembuangan akhir.
5. Sampah rumah tangga dikumpul dan dibakar, sedangkan sampah organik dikumpul
di lubang tanah dan ditimbun.
Model pengelolaan sampah di Kota Yogyakarta ini dapat dijelaskan dalam diagram sanitasi
pengelolaan sampah berikut ini:
Gambar 2.6. Diagram Sistem Sanitasi Pengelolaan Sampah
Model pengelolaan di masyarakat yang lainnya adalah dengan memilah dan
kemudian melakukan 3 R yaitu mengurang (reduce), menggunakan kembali yang masih bisa
dipakai (reuse), dan mendaur ulang(recycle) sampah menjadi barang yang lebih bernilai.
Pengelolaan 3 R oleh masyarakat di kota Yogyakarta dilakukan secara berkelompok dengan
membentuk Bank Sampah. Di kota Yogyakarta ini terbentuk Bank Sampah kurang lebih 323
kelompok.
Di Kota Yogyakarta pada tahun 2014 timbunan sampah per harinya rata-rata 245.074
kg/hari, yang terangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) 220.000 kg/hari. Dari hasil studi
lapangan yang telah dilaksanakan permasalahan yang timbul dalam pengelolaan sampah di
Kota Yogyakarta adalah bahwa masyarakat masih ada yang membuang sampah tidak pada
tempatnya, keterbatasan sarana dan prasarana, keterbatasan lahan.
Pola pengelolaan sampah dari produksi sampah sampai pembuangan akhir disajikan
pada Gambar 2.5 berikut ini. Cakupan akses pelayanan sampah di Kota Yogyakarta tahun
2014 disajikan pada Gambar 2.7 dan Tabel 2.12 berikut. Tabel 2.13 menyajikan timbulan
sampah di Kota Yogyakarta per kecamatan.
Sumber :Pokja Sanitasi Kota Yogyakarta
Tabel 2. 12 Cakupan Akses Pelayanan Sampah di Kota Yogyakarta tahun 2014
Nama Kecamatan
Pengelolaan 3R
Volume Sampah Yang
terangkut Ke TPA
Total
Wilayah Perkotaan
Total
Wilayah Perkotaan
%
m
3/hari
%
m
3/hari
%
m
3/hari
%
m
3/hari
Mantrijeron
0.44%
0.68
0.44%
0.68
7.9%
69.79
6.81%
70.47
Keraton
0.41%
0.63
0.41%
0.63
5.5%
48.03
4.71%
48.66
Mergangsan
0.66%
1.02
0.66%
1.02
8.9%
78.70
7.71%
79.73
Umbulharjo
1.22%
1.88
1.22%
1.88 19.1%
168.50 16.47% 170.38
Kota Gede
0.18%
0.28
0.18%
0.28
7.6%
67.18
6.52%
67.46
Gondokusuman
0.75%
1.15
0.75%
1.15 10.3%
90.94
8.90%
92.10
Danurejan
0.41%
0.63
0.41%
0.63
5.2%
45.81
4.49%
46.44
Pakualaman
0.12%
0.19
0.12%
0.19
2.7%
23.82
2.32%
24.01
Gondomanan
0.25%
0.39
0.25%
0.39
3.8%
33.21
3.25%
33.60
Ngampilan
0.28%
0.43
0.28%
0.43
4.6%
40.51
3.96%
40.94
Wirobrajan
0.40%
0.61
0.40%
0.61
3.5%
30.39
3.00%
31.00
Gedong Tengen
0.53%
0.82
0.53%
0.82
5.1%
45.10
4.44%
45.92
Jetis
0.48%
0.73
0.48%
0.73
6.8%
59.91
5.86%
60.64
Tegalrejo
0.76%
1.17
0.76%
1.17
8.9%
78.17
7.67%
79.34
TPST ( 6 unit)
Nama Kecamatan
Pengelolaan 3R
Volume Sampah Yang
terangkut Ke TPA
Total
Wilayah Perkotaan
Total
Wilayah Perkotaan
%
m
3/hari
%
m
3/hari
%
m
3/hari
%
m
3/hari
Jumlah
100%
154.19
100%
154.19
100%
880.07
100%
1.034.26
Akses Layanan
14.91%
85.09%
Sumber : BLH Kota Yogyakarta
Tabel 2. 13. Timbulan sampah per kecamatan, di Kota Yogyakarta, tahun 2014
Nama Kecamatan
Jumlah Penduduk Volume Timbulan Sampah Wilayah
Perdesaan
Wilayah
Perkotaan Total
Wilayah
Perdesaan Wilayah Perkotaan Total
Orang Orang Orang (%) m3/hari (%) m3/hari (%) m3/hari
Mantrijeron 32.806 32.806 7.93% 82.02 7.93% 82.02 Kraton 22.577 22.577 5.46% 56.44 5.46% 56.44 Mergangsan 36.997 36.997 8.94% 92.49 8.94% 92.49 Umbulharjo 79.209 79.209 19.15% 198.02 19.15% 198.02 Kotagede 31.582 31.582 7.63% 78.96 7.63% 78.96 Gondokusuman 42.751 42.751 10.33% 106.88 10.33% 106.88 Danurejan 21.534 21.534 5.21% 53.84 5.21% 53.84 Pakualaman 11.198 11.198 2.71% 28.00 2.71% 28.00 Gondomanan 15.613 15.613 3.77% 39.03 3.77% 39.03 Ngampilan 19.042 19.042 4.60% 47.61 4.60% 47.61 Wirobrajan 14.286 14.286 3.45% 35.72 3.45% 35.72 Gedongtengen 21.201 21.201 5.12% 53.00 5.12% 53.00 Jetis 28.163 6.81% 70.41 6.81% 70.41
Nama Kecamatan
Jumlah Penduduk Volume Timbulan Sampah Wilayah
Perdesaan
Wilayah
Perkotaan Total
Wilayah
Perdesaan Wilayah Perkotaan Total
Orang Orang Orang (%) m3/hari (%) m3/hari (%) m3/hari
Tegalrejo 36.744 36.744 8.88% 91.86 8.88% 91.86 Jumlah 413.703 413.703 100.00% 1.034.26 100.00% 1.034.26
Sumber : BLH Kota Yogyakarta
Kondisi sarana dan prasarana persampahan juga sangat menentukan keberhasilan dari tujuan pengelolaan sampah. Untuk kondisi sarana dan
prasarana persampahan di Kota Yogya disajikan pada Tabel 2.14 terkait jumlah tempat pembuangan sampah sementara dan jumlah gerobak
sampah , dan Tabel 2.15 terkait kondisi sarana dan prasarana persampahan di Kota Yogya.
Tabel 2. 14. Rekapitulasi Jumlah TPSS dan Gerobak Sampah Saat ini dan Usulan di Kota
Yogyakarta
NO KELURAHAN JUMLAH SAAT INI (UNIT) JUMLAH USULAN (UNIT)
TPSS GS TPSS GS 1 Baciro 3 21 0 13 2 Bausasran 0 0 60 12 3 Bener 1 0 0 0 4 Bumijo 1 1 7 3 5 Cokrodiningratan 1 0 0 0 6 Demangan 1 12 0 12 7 Giwangan 1 3 0 0 8 Gunungketur 1 1 0 1 9 Klitren 1 1 0 0 10 Kotabaru 7 5 1 1 11 Kricak 0 10 0 0 12 Muja-muju 0 0 0 60 13 Ngupasan 0 3 0 0 14 Notoprajan 0 1 0 1 15 Panembahan 2 4 1 1 16 Patehan 1 2 0 7 17 Prawirodirjan 0 3 0 0 18 Pringgokusuman 1 0 0 0 19 Purbayan 0 0 0 5 20 Rejowinangun 2 1 0 5 21 Semaki 0 5 0 4 22 Sosromenduran 2 0 1 15 23 Suryatmajan 0 5 0 5 24 Tegalpanggung 4 4 0 4 25 Tegalrejo 1 0 0 0 26 Terban 22 2 0 0 27 Wirogunan 0 10 0 15 Jumlah 52 94 442 164
Untuk kondisi sarana dan prasarana persampahan disajikan pada Tabel 2.15
Tabel 2. 15. Kondisi Sarana dan Prasarana Persampahan
Tabel Kondisi Prasarana dan Sarana Persampahan
No Jenis Prasarana/ Sarana Satuan Jumlah/luas total terpakai Kapasitas daya tampung Ritasi/ hari Kondisi Keterang an ** M3 Baik Rusak ringan Rusak berat
(i) (ii) (iii) (iv) (v) (vi) (vii) (viii) (ix) (x)
1 Pengumpulan Setempat Gerobak unit 1 1 - - - - Becak/Becak Motor(roda 3) unit 1 1 - - - -
Kendaraan Pick Up unit 2 2 - - - -
2 Tempat Penampungan Sementara (TPS) Bak Sampah (beton/kayu/fiber) unit - - - - Container unit - - - -
Transfer Stasiun unit - 10 3 baik - -
SPA (Stasiun
Peralihan Antara) unit - 20 5 baik - -
3 Pengangkutan
Dump Truck unit 35 20 - - - -
Arm Roll Truck unit - - - -
Compactor Truck unit - - - -
4 Pengolahan Sampah Sistem 3R unit - - - - Incinerator unit - - - - 5 TPA/TPA Regional Konstruksi: lahan urug saniter/lahan urug terkendali/ penimbunan terbuka
Operasional: lahan urug saniter/ lahan urug terkendali/ penimbunan terbuka
- - - BLH
Luas total TPA yang
terpakai - - -
Luas sel Landfill - - -
Daya tampung TPA - - -
6 Alat Berat
Bulldozer unit - - -
Whell/truck loader unit - - -
Excavator/backhoe unit 1 - - -
Truck tanah unit - - -
7 IPL: Sistem kolam/aerasi/…
Hasil pemeriksaan lab (BOD dan COD): Efluen di Inlet Efluen di Outlet
- - -
IPL: Instalasi Pengolahan Lindi
* daya tampung TPA: m3/tahun
2. Kelembagaan dan Peraturan
Untuk melaksanakan pengelolaan sampah di Kota Yogyakarta ini diperlukan
sebuah lembaga yang bertanggungjawab. Di Kota Yogyakarta ini dinas yang terkait adalah
Badan Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta.
Dalam rangka pencapaian target pelayanan pengelolaan persampahan di Kota
Yogyakarta telah diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2012 tentang
Pengelolaan Persampahan. Selain hal tersebut diatas bahwa untuk kewenangan dalam
pengelolaan persampahan melibatkan seluruh pemangku kepentingan baik itu pemerintah,
swasta maupun masyarakat. Di mana pemerintah memfasilitasi mulai perencanaan,
pengadaan sarana, pengelolaan, pembinaan dan monitoring. Sedangkan swasta bisa
berperan dalam pengadaan sarana dan prasarana persampahannya seperti armada
angkutan sampah. persampahan untuk pemrosesan akhir, diatur dalam UU 18/2008 tentang
pengelolaan sampah menyebutkan: 3 tahun setelah diundangkannya peraturan ini, maka
sistem open dumping sudah tidak diperkenankan lagi (pada 2011). Setelah 2012, maka,
ada, maka kota besar diharuskan menggunakan sistem sanitary landfill dan kota kecil
menggunakan sistem controlled landfill. Dalam praktiknya, ini boleh diartikan TPA regional
akan makin banyak dibangun. Keunggulan TPA regional adalah: i) skala ekonomisnya, ii)
pembebasan tanah yang relatif lebih murah, iii) pengelolaan dan operasinya mudah dan
lebih murah diberikan ke pihak ketiga, dan iv) dapat dilokasikan di luar kota. Perlu dicatat,
draf SPM menyatakan juga bahwa, jika TPA diletakkan sejauh lebih dari 25 km dari pusat
kota, maka diperlukan paling tidak satu tempat penampungan sementara (TPS) seluas
mimimum 1 ha.
Berikut ini beberapa peraturan yang terkait mengenai persampahan.
1. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor: 660/4919/SJ tentang Pedoman
Pengelolaan Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) di
Daerah;
2. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 648-82/Kep/Bangda/2015 tentang
Perubahan atas Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 648-565/Kep/Bang-
da/2014 tentang Penetapan Kabupaten/Kota Sebagai Pelaksana Program
Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman Tahun 2015
3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 21/PRT/ 2006 tentang Kebijakan dan
Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan (KSNP-SPP)
4. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 852/Menkes/SK/IX/2008 tentang Strategi
Nasional Sanitasi Total Berbasis MAsyarakat
5. Petunjuk Teknis Nomor KDT 636.728 Pet. I judul Petunjuk Teknis Spesifikasi Kompos
Rumah Tangga, Tata cara Pengelolaan Sampah Dengan Sistem Daur Ulang Pada
Lingkungan, Spesifikasi Area Penimbunan Sampah Dengan Sistem Lahan Urug
Terkendali Di TPA Sampah;
6. Petunjuk Teknis Nomor KDT 361.728 Pet I judul Petunjuk Teknis Pengomposan
Sampah Organik Skala Lingkungan;
7. Petunjuk Teknis Nomor KDT 636.728 Pet. I judul Petunjuk Teknis Spesifikasi Kompos
Rumah Tangga, Tata cara Pengelolaan Sampah Dengan Sistem Daur Ulang Pada
Lingkungan, Spesifikasi Area Penimbunan Sampah Dengan Sistem Lahan Urug
Terkendali Di TPA Sampah.
1.3.3. Drainase Perkotaan
Drainase memegang peranan penting dalam rangka menciptakan lingkungan
yang bersih dan sehat. Lingkungan yang bersih dan sehat dapat meningkatkan produktivitas
masyarakat. Drainase berfungsi untuk mengalirkan air hujan ataupun kelebihan air di
permukaan yang disebabkan luapan sungai yang masuk ke pemukiman, sehingga tidak
menimbulkan genangan air di lingkungan. Drainase dikatakan berfungsi dengan baik jika
kapasitas dari saluran drainase itu mencukupi kebutuhan untuk mengalirkan kelebihan air
permukaan. Kelebihan air di permukaan dapat menimbulkan genangan yang dapat
menimbulkan masalah seperti: kekumuhan lingkungan yang berdampak pada kondisi
kesehatan dan kenyamanan hidup. Genangan yang menimbulkan masalah yaitu jika tinggi
genangan tersebut minimal 30 cm, dan tidak segera surut dalam selama 2 jam, dan terjadi
minimal 2 kali dalam setahun. Kondisi saluran drainase perkotaan yang tidak terhubung oleh
saluran drainase primer. Panjang saluran drainase yang ada di Kota Yogyakarta ini total
234.433,92 m dan disajikan pada Tabel 2.17, dan data lokasi genangan di Kota Yogyakarta
pada tahun 2013 ada 50 titik genangan, dan sudah tertangani di beberapa titik, sehingga di
tahun 2014 tinggal 35 titik genangan yang perlu di tangani selanjutnya, dan lokasi genangan
rencana yang tersisa di tahun 2015 diharapkan hanya tinggal 10 titik. Data lokasi genangan
dan penyebab genangan disajikan pada Tabel 2.16, sedangkan kondisi sarana dan
prasarana drainase perkotaan di Kota Yogyakarta disajikan pada Tabel 2.17 berikut ini.
Tabel 2.16. Genangan dan Penyebabnnya di Kota Yogyakarta
No. Lokasi
Wilayah Genangan
Infrastruktur
Luas Gena ngan (ha) Tinggi Gena ngan (m) Lama Gena ngan (jam) Frekuensi Kejadian Genangan per tahun
Penyebab
Jenis
Ket
1 Jl.Kusumanegara Jl.Cendana, Jl.Soka,
Jl.Sukonandi, Jl.Kapas, dan Jl. Kenari 1.6 0.3 1 5
Dimensi saluran tidak cukup, Kapasitas Kali Manunggal / Kali Belik sudah tidak
mencukupi, Tambahan debit air irigasi dari jalan Gondosuli (Bendung Ngebruk)
Primer
2 Jl.Atmosukarto Jl.Krasak, Jl.Zakir,
Jl.Trimo, dan Jl.Dr.Sutomo 1.7 0.4 1 4
Dimensi saluran tidak cukup, Tambahan debit air pengglontor limbah dari selokan Mataram, Khusus Jln.Atmosukarto posisi jalan lebih rendah, Banyaknya utilitas bawah tanah yang menghalangi aliran air
Sekunder
3 Jl.Menteri Supeno Jl.Batikan, Jl.Veteran,
Jl.Sidikan 0.7 0.4 1 5 Luapan kali manunggal/kali belik.
Primer
4 Jl.Sorogenen, Kel.Sorosutan 0.12 0.3 1 3
SAH bercampur dengan saluran irigasi, SAH yang ke arah sungai code terhalang oleh saluran irigasi sehingga dimensinya menyempit ,
Primer
5 Jl.WR.Monginsidi, Kel.Karangwaru 0.4 0.4 1 4 Posisi jalan lebih rendah (pada daerah
cekungan)
Sekunder
6 Jl.Kartini, Jl.Sagan kidul dan Jl.Sagan
timur, jl.Sagan barat 0.15 0.2 1 5
Inlet masih kurang, khusus untuk Jl.Sagan
timur dan Jl.Kartini saluran belum ada
Sekunder
7 Jl.Pakuningratan, Kel.Cokrodiningratan 0.16 0.4 1 4
Jl.Pakuningratan sisi tengah posisi lebih rendah (cekungan), Dimensi saluran tidak cukup
Tersier
8 Jl.Jambon, Kel.Kricak 0.01 0.5 1 7 Dimensi saluran tidak cukup karena tambahan
debit dari saluran irigasi
Primer
9 Jl.Secodiningratan, Kel.Prawirodirjan 0.006 0.3 1 5
Posisi jalan lebih rendah daripada Jl.
Panembahan Senopati sehingga air dari utara dan dari timur masuk ke jalan yang posisinya paling rendah
Primer
10 Jl.Sorosutan, Kel. Sorosutan 0.02 0.3 1 3 Dimensi saluran tidak cukup dan terdapat
beberapa penyempitan pada in-gang
Sekunder
11 JL. Bener, Kel. Bener 0.15 0.2 1 4 Luapan air irigasi
Sekunder
12 Jl.Wiratama Timur dan Jl.Indraprasta 0.5 0.3 2 8
Luapan air irigasi dan kapasitas saluran tidak cukup, Kapasitas kali widuri sudah tidak mencukupi
Primer
13 Jl.Perwakilan, Kel. Suryatmajan 0.18 0.3 1 4 Belum ada salurannya
14 Jl.Letnan Jendral S.Parman, Kel.
Patangpuluhan 0.12 0.2 1 4 Posisi jalan cekung atau lebih rendah
Primer
15 Jl.Suryadiningratan, Kel.
Suryadiningratan 0.08 0.3 1 4
Posisi jalan lebih rendah daripada Jl.Bantul, Saluran irigasi sudah tidak mencukupi menampung saluran air hujan dari Jl.Suryodiningratan
Primer
16 Jl.Kusbini, Kel. Demangan 0.23 0.4 1 5 Posisi jalan rendah, Kapasitas saluran tidak
mencukupi
Sekunder
17 RW 13 Kel.Keparakan 0.09 0.5 1 3 Posisi kawasan lebih rendah daripada
ambang debit banjir sungai code
Primer
18 Jl.Manunggal, Kel. Bener 0.01 0.3 1 4 Luapan air irigasi
19 RT 48 RW 05 sampai Jl.Karangsari, Kel.
Rejowinangun 0.11 0.3 1 4
Saluaran drainase belum ada, Posisi jalan lebih rendah sehingga aliran air hujan dari Jl.Kebunraya masuk ke Jl.Karangsari
Sekunder
20 RT 75 Barat Pasar Talok RW 18, Kel.
Baciro 0.03 0.2 1 3 Belum ada SAH
21 Ngaglik Kel.Giwangan (Tamanan) 0.07 0.4 1 5 Gorong-gorong di Ring road selatan kecil
Sekunder
22 RW 14 RT 52, Kel. Karangwaru 0.002 0.4 1 5 Posisi kawasan lebih rendah daripada
ambang debit banjir sungai Buntung
Tersier
23 RT 01 RW 01 dan RT 05 Rw 02, Kel.
Wirogunan 0.07 0.5 1 5
Posisi kawasan lebih rendah daripada
ambang debit banjir sungai Code
Primer
24 RW 17 RT 61,62, dan 63 Danunegaran,
Kel. Mantrijeron 0.016 0.3 1 3 Tanah cekung dan tidak ada SAH
Tersier
25 RT 30 RW 07 (Sal.Urip Sumoharjo), Kel.
Klitren 1.2 0.5 1 5
Posisi kawasan lebih rendah daripada
ambang debit banjir sungai belik
Sekunder
26 RW 13 RT 54 (timur jembatan Jambu),
Kel. Tegalpanggung 0.001 0.5 1 5
Posisi kawasan lebih rendah daripada
ambang debit banjir sungai code
Sekunder
27
Sekitar Ledok Gondomanan RW 05, 14, 15, 16, 17, dan 18 bantaran kali Code, Kel. Prawirodirjan
0.03 0.5 1 5 Posisi kawasan lebih rendah daripada
ambang debit banjir sungai code
Primer
28 Jl.Bimo Kunthing, Kel. Demangan 0.1 0.3 1 4 Kapasitas saluran yang di Jl.Bimosakti tidak
muat
Tersier
29 Jl.Kusbini, Kel. Klitren 0.06 0.3 1 5 Posisi jalan rendah, Kapasitas dimensi
saluran tidak mencukupi
Sekunder
31
Sekitar Utara Pertemuan Sungai Buntung dan kali Winongo RW 09, 12, dan 13 bantara Kali Winongo Kel. Kricak
0.02 0.5 1 5 Posisi kawasan lebih rendah daripada
ambang debit banjir sungai Code
Primer
32 Sekitar RW 07 dan 08 di bantaran kali
Code, Kel. Ngupasan 0.01 0.2 1 5
luapan sungai Winongo
Primer
33 RT 44 RW 05 (5 titik), Kel. Notoprajan 0.05 0.2 1 5
luapan sungai Winongo
Primer
34 Jl.Kebun Raya , Kel. Rejowinangun, 0.04 0.2 1 5
belum ada saluran drainase
Sekunder
35 Jl.Gambiran sisi selatan 0.01 0.2 1 4
belum ada saluran drainase
Sekunder
Jumlah/rata-rata
0.11
0.20
1
4
Tabel 2.17. Data Kondisi Sarana dan Prasrana Drainase Perkotaan di Kota Yogyakarta
No Jenis Prasarana / sarana Satuan Volume
Tipe Kondisi Frekuensi Pemeliharaan (Kali/Tahun) Terbuka (m) Tertutup (m) Dolker
(m) Baik (m) Sedang (m) Buruk (m)
1 Saluran Primer m 60.301.55 116.490.38 208.017.14 4.125.45 285.971.86 33.071.56 9.589.55 1 2 Saluran Sekunder m 191.586.22 1 3 Saluran Tersier m 76.745.20 1 4 Bangunan Pelengkap
- Rumah Pompa unit - - - -
- Pintu Air unit - - - -
- Trash Rack/ Saringan
Sampah unit - - - - Jumlah 328.632.97 116.490.38 208.017.14 4.125.45 285.971.86 33.071.56 9.589.55 Prosentase 35.45% 63.30% 1.26% 87.02% 10.06% 2.92%
Tabel 2.18. Data Panjang Saluran Drainase di Kota Yogyakarta
NO NAMA JALAN SISI JALAN ARAH
PANJANG SALURAN
(M)
1 Bugisan Kanan Selatan 188.56
2 Bugisan Kanan Selatan 212.46
3 Jl. A.Yani Kiri Selatan 259.11
4 Jl. A.Yani Kiri Selatan 214.14
5 Jl. Abubakar Ali Kiri Timur 266.04
6 Jl. Abubakar Ali Kiri Selatan 267.93
7 Jl. Ahmad Jazuli Kiri Selatan 658.25
8 Jl. Alun-Alun Kidul Kn-Kiri Selatan 295.48
9 Jl. Alun-Alun Kidul Kr.-Kn Selatan 277.97
10 Jl. Alun-Alun Utara Kiri Timur 165.87
11 Jl. Alun-Alun Utara Kanan Selatan 404.40
12 Jl. AM Sangaji Kiri Timur 660.32
13 Jl. AM Sangaji Kanan Selatan 605.23
14 Jl. AM Sangaji Kiri Selatan 604.63
15 Jl. AM Sangaji Kiri Selatan 466.30
16 Jl. AM Sangaji Kanan Selatan 475.40
17 Jl. AM Sangaji Kiri Selatan 511.92
18 Jl. Andong Kanan Selatan 289.51
19 Jl. Babaran Kiri Timur 1355.54
20 Jl. Bangirejo Taman Kanan Barat 547.63
21 Jl. Bangirejo Taman Kanan Selatan 194.06
22 Jl. Bantul Kiri Sel-Tim 560.07
23 Jl. Bantul Kanan Selatan 1640.43
24 Jl. Bantul Kiri Selatan 1148.93
25 Jl. Basuki Kanan Selatan 250.16
26 Jl. Batikan Kanan Selatan 802.61
27 Jl. Batikan Kanan Tim-Sel 500.51
28 Jl. Batikan Kanan Selatan 465.05
29 Jl. Bausasran Kanan Barat 787.25
30 Jl. Bayangkara Kanan Selatan 351.48
31 Jl. Bayangkara Kiri Selatan 341.07
32 Jl. Bayangkara Kanan Selatan 159.00
33 Jl. Bener Kiri Timur 338.60
34 Jl. Bener Kanan Selatan 529.18
35 Jl. Bener Kiri Selatan 529.00
36 Jl. Beskalan Kanan Bar-Sel 482.85
37 Jl. Bimokunting Kiri Timur 198.83
38 Jl. Bimosakti Kiri Timur 1716.17
41 Jl. Blunyahrejo Kanan Selatan 215.20
42 Jl. Brigjen Katamso Kiri Selatan 251.61
43 Jl. Brigjen Katamso Kiri Selatan 432.73
44 Jl. Brigjen Katamso Kiri Selatan 381.82
45 Jl. Brigjen Katamso Kanan Selatan 616.20
46 Jl. Brigjen Katamso Kiri Selatan 277.73
47 Jl. Brigjen Katamso Kanan Selatan 535.82
48 Jl. Bumijo Kanan Selatan 536.90
49 Jl. Bumijo Tengah Kn.-Kiri Barat 361.98
50 Jl. Bumijo Tengah Kanan Selatan 240.63
51 Jl. C.Simanjutak Kanan Selatan 450.32
52 Jl. C.Simanjutak Kanan Selatan 288.41
53 Jl. C.Simanjutak Kiri Selatan 900.79
54 Jl. Cantel I Kiri Selatan 734.95
55 Jl. Cantel I Kanan Selatan 680.10
56 Jl. Cempaka Kanan Selatan 189.43
57 Jl. Cendana Kiri Selatan 571.94
58 Jl. Cendana Kanan Selatan 537.83
59 Jl. Cik. Di Tiro Kanan Selatan 707.56
60 Jl. Dagen Kanan Barat 615.10
61 Jl. Depokan Kiri Selatan 648.50
62 Jl. Depokan Kanan Barat 409.70
63 Jl. Depokan Kanan Selatan 210.67
64 Jl. Diponegoro Kiri Timur 631.85
65 Jl. Diponegoro Kanan Timur 362.83
66 Jl. DR. Sarjito Kanan Selatan 266.18
67 Jl. DR. Sarjito Kiri Timur 328.44
68 Jl. DR. Sarjito Kiri Selatan 413.84
69 Jl. DR. Sarjito Kiri Barat 151.32
70 Jl. Dr. Sutomo Kanan Selatan 767.18
71 Jl. Dr. Sutomo Kiri Selatan 416.96
72 Jl. Dr. Sutomo Kiri Selatan 322.64
73 Jl. Dr. Wahidin Sudiro Kiri Timur 579.77
74 Jl. Dr. Wahidin Sudiro Kiri Selatan 432.15
75 Jl. Dr. Wahidin Sudiro Kanan Selatan 160.66
76 Jl. Dr. Wahidin Sudiro Kiri Selatan 281.04
77 Jl. Emplasemen Lempuyan Kanan Selatan 187.37
78 Jl. Emplasemen Lempuyan Kiri Selatan 189.47
79 Jl. FM. Noto Kanan Barat 1239.86
80 Jl. FM. Noto Kiri Selatan 875.46
81 Jl. Gajah Kanan Selatan 679.98
82 Jl. Gajah Kiri Selatan 413.81