• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II METODE QIRA AH DAN PRESTASI BELAJAR BAHASA ARAB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II METODE QIRA AH DAN PRESTASI BELAJAR BAHASA ARAB"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

20

A. Metode Qira’ah

1. Latar Belakang Metode Qira’ah

Banyak penelitian mengenai situasi pengajaran bahasa asing di Amerika Serikat pada saat itu menyimpulkan bahwa tidak ada satu metode pun yang mampu menjamin hasil yang gemilang. Tujuan pengajaran bahasa asing yang menekankan keterampilan berbicara, sebagaimana dimaksudkan oleh metode langsung, dianggap kurang memuaskan hasilnya karena waktu yang disediakan untuk bahasa asing bagi para pelajar atau mahasiswa hanya sedikit.1

Oleh karena itu Profesor Coleman dan kawan-kawan dalam sebuah laporan yang ditulis pada tahun 1929 menyarankan penggunaan suatu metode dengan satu tujuan pengajaran yang lebih realistis, yang paling diperlukan oleh para pelajar, yakni keterampilan membaca. Metode yang kemudian dinamai “metode membaca” ini digunakan di sekolah menengah dan

perguruan tinggi diseluruh Amerika dan negara-negara lain di Eropa.2

1 Acep Hermawan, Metodelogi Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,

2011), hlm. 192.

2

Ahmad Fuad Effendy, Meodologi Pengajaran Bahasa Arab, (Malang: MISYKAT, 2012), hlm. 53.

(2)

2. Pengertian Metode Qira’ah

Metode qira’ah yaitu metode yang memberi perhatian kepada

kemahiran membaca.3 Dasar pemakaian dari metode qira’ah adalah adanya

anggapan bahwa bahasa merupakan sarana dalam menyampaikan informasi. Sedangkan, satuan bahasa yang terkecil adalah kosakata. Setiap makna kosakata tersebut akan menentukan makna kalimat. Oleh karena itu, kosakata merupakan unsur yang sangat menentukan bahasa. Dengan demikian, kosakata merupakan komponen terpenting dalam hal pengajaran bahasa. Mengajarkan bahasa asing terhadap peserta didik berarti memberikan latihan-latihan kepada mereka untuk memahami gagasan-gagasan yang terkandung dalam teks-teks bahasa asing. Sementara itu, mengajarkan bahasa dimulai dari unsur-unsur terkecil, yaitu kosakata.Dari sinilah, muncul sebuah ide dalam mengajarkan bahasa asing dengan metode membaca. Pembelajaran bahasa pun harus dimulai dari titik terkecil, yang hal ini diterapkan dalam metode membaca, yaitu

dimulai dengan latihan penguasaan kosakata.4

3Radliyah Zaenuddin, Metodologi dan Strategi Alternatif Pembelajaran Bahasa Arab,

(Yogyakarta: STAIN Cirebon Press, 2005), hlm. 40.

4

Ulin Nuha, Metodologi Super Efektif Pembelajaran Bahasa Arab, (Yogyakarta: DIVA Press, 2012), hlm. 188.

(3)

3. Karakteristik Metode Qira’ah

Karakteristik metode Qira’ah ini antara lain adalah sebagai berikut: a. Tujuan utamanya adalah kemahiran membaca, yaitu agar pelajar mampu

memahami teks ilmiah untuk keperluan studi mereka.

b. Materi pelajaran berupa buku bacaan utama dengan suplemen daftar kosa kata dan pertanyaan-pertanyaan isi bacaan, buku bacaan penunjang untuk perluasan (extensif reading / ةعسوم ةءارق), buku latihan mengarang terbimbing dan percakapan.

c. Basis kegiatan pembelajaran adalah memahami isi bacaan, didahului oleh pengenalan kosa kata pokok dan maknanya, kemudian mendiskusikan isi bacaan dengan bantuan guru. Pemahaman isi bacaan melalui proses analisis, tidak dengan penerjemahan harfiah, meskipun bahasa ibu boleh digunakan dalam mendiskusikan isi teks.

d. Membaca diam (silent reading / ةتم اص ةءارق) lebih diutamakan dari pada membaca keras (loud-reading / ةيرهج ةءارق).

e. Kaidah bahasa diterangkan seperlunya tidak boleh berkepanjangan.5

(4)

4. Langkah-langkah Penggunaan Metode Qira’ah

Banyak langkah yang mungkin dilakukan oleh guru dalam menggunakan metode qira’ah. Tetapi pada umumnya adalah sebagai berikut: a. Pendahuluan, berkaitan dengan berbagai hal tentang materi yang akan

disajikan baik berupa appresiasi, atau tes awal tentang materi, atau yang lainnya.

b. Pemberian kosa kata dan isti’lah yang dianggap sukar. Ini diberikan dengan

definisi-definisi dan contoh-contoh dalam kalimat.6

c. Penyajian teks bacaan tertentu. Teks ini dibaca secara diam (qira’ah al-shamitah/ silnt reading) selama kurang lebih 10-15 menit atau disesuaikan dengan alokasi waktu yang tersedia. Bisa juga guru menugaskan para pelajar untuk membaca teks ini di rumah masing-masing pelajar sebelum pertemuan ini. Cara ini lebih menghemat waktu sehingga guru dapat lebih leluasa mengembangkan bacaan di kelas.

d. Diskusi mengenai isi bacaan. Langkah ini dapat berupa dialog dengan bahasa pelajar.

e. Pembicaraan atau penjelasan tentang tata bahasa secara singkat jika diperlukan untuk membantu pemahaman pelajar tentang isi bacaan.

6

Aziz Fahrurrozi dan Erta Mahyudin, Pembelajaran Bahasa Arab, (Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam Kementrian Agama, 2012), Cet.2, hlm 85.

(5)

f. Jika guru diawal belum memberikan penjelasan kosa kata yang dianggap sukar dan relevan dengan materi pelajaran, maka pada langkah ini bisa dilakukan.

g. Diakhir pertemuan guru memberikan tugas kepada para pelajar tentang isi bacaan, misalnya: membuat rangkuman dengan bahasa pelajar, atau membuat komentar tentang isi bacan, atau membuat diagram, atau yang lainnya. Jika dipandang perlu, guru dapat memberikan tugas di rumah untuk

membaca taks yang akan diberikan pada pertemuan selanjutnya.7

5. Kelebihan dan Kekurangan Metode Qira’ah Diantara kelebihan metode qira’ah adalah:

a. Metode ini memungkinkan para pelajar dapat membaca bahasa baru dengan kecepatan yang wajar bersamaan dengan penguasaan isi bahan bacaan tanpa harus dibebani dengan analisis gramatikal mendalam dan tanpa penerjemahan.

b. Pelajar menguasai banyak kosa kata pasif dengan baik.

c. Pelajar bisa memahami aturan tata bahasa secara fungsional.8

Diantara kelemahan metode qira’ah adalah:

a. Pelajar kurang dalam keterampilan membaca nyaring (pelafalan, intonasi dan lain-lain).

7

Acep Hermawan, Metodelogi Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 194.

(6)

b. Pelajar tidak terampil dalam menyimak dan berbicara c. Pelajar kurang terampil dalam mengarang bebas.

d. Karena kosa kata yang dikenalkan hanya yang berkaitan dengan isi bacaan (pasif), maka pelajar lemah dalam memahami teks lain selain teks yang telah

mereka pelajari.9

B. Prestasi Belajar

1. Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi belajar belajar terdiri dari dua kata, yaitu prestasi dan belajar. Menurut Departemen Pendidikan Nasional, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pengertian prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan dan sebagainya).Sedangkan pengertian belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian, berlatih, berubah tingkah laku atau

tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.10

Prestasi belajar siswa juga sangat penting bagi siswa, guru maupun sekolah. Oleh karena itu, penentuan prestasi belajar siswa dapat dilihat menurut segi kepentingan dari masing-masing elemen yang ada di sekolah. Bagi siswa, prestasi belajar dapat dijadikan tolak ukur atas kemampuan dan keberhasilannya dalam menyerap segala pengetahuan dan keterampilan yang dilakukan. Prestasi belajar ini merupakan suatu indikator dan dapat dijadikan

9

Aziz Fahrurrozi dan Erta Mahyudin, Op Cit, hlm 86.

10

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), Cet.3, hlm. 700.

(7)

acuan tentang seberapa jauh pengetahuan dan keterampilan yang diharapkan sebelumnya telah dimiliki untuk dapat mengupayakan peningkatannya.

Prestasi merupakan suatu indikator dari perkembangan dan kemajuan siswa atas penguasaannya terhadap bahan pelajaran yang telah diberikan guru kepada siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Nasrun Harahap, dan kawan-kawan.Sebagaimana dikutip oleh Syaiful Bahri bahwa prestasi adalah penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan murid yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum.

Prestasi merupakan hasil penilaian pendidikan atas perkembangan dan kemajuan siswa dalam belajar.Prestasi menunjukkan hasil dari pelaksanaan kegiatan yang diikuti siswa disekolah.Kegiatan belajar yang diikuti siswa dapat diukur melalui penguasaan materi yang diajarkan guru serta nilai-nilai

yang terdapat dalam kurikulum.11

Sementara itu, menurut Thursan Hakim mendefinisikan bahwa belajar merupakan proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku, seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya piker, dan lain-lain kemampuannya.

11

Umiarso dan Imam Gojali, Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2010), hlm. 226.

(8)

Berdasarkan pemahaman tentang pengertian prestasi dan belajar diatas, maka dapat ditarik kesimpulanbahwa prestasi belajar siswa merupakan hasil yang dicapai dari aktivitas atau kegiatan belajar siswa. Lebih lanjut Syaiful Bahri mengemukakan pendapatnya tentang prestasi belajar. Menurutnya prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari kreativitas belajar.

Prestasi belajar merupakan hasil yang berupa kesan-kesan akibat adanya perubahan dalam diri individu dari kegiatan belajar yang dilakukannya. Perubahan yang dicapai dapat berbentuk kecakapan, tingkah laku, ataupun kemampun yang merupakan akibat dari proses belajar yang dapat bertahan dalam kurun waktu tertentu. Dalam konteks ini, prestasi belajar merupakan hasil nyata dari proses belajar mengajar yang dilakukan antara guru dan peserta didik dengan materi pembelajaran. Dalam melakukan aktivitas belajar, tentunya siswa memiliki tujuan dan kegiatan yang diikutinya tersebut.Prestasi belajar yang tinggi merupakan tujuan dan akibat dari

kegiatan belajar yang maksimal atau sebaliknya.12

(9)

2. Prinsip-prinsip Belajar

Dari beberapa teori yang dikemukakan oleh para ahli bisa dirangkum prinsip-prinsip belajar antara lain sebagai berikut:

a. Belajar akan berhasil jika disretai kemauan dan tujuan tertentu. b. Belajar akan lebih berhasil jika disertai berbuat, latihan dan ulangan. c. Belajar lebih berhasil jika member sukses yang menyenangkan.

d. Belajar lebih berhasil jika tujuan belajar berhubungan dengan aktifitas itu sendiri atau berhubungan dengan kebutuhan hidupnya.

e. Belajar lebih berhasil jika bahan yang sedang dipelajari dipahami, bukan sekedar menghafal kata.

f. Dalam proses belajar memerlukan bantuan dan bimbingan orang lain. g. Hasil belajar dibuktikan dengan adanya perubahan dalam diri si pelajar.

h. Ulangan dan latihan perlu akan tetapi harus didahului oleh pemahaman.13

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Belajar merupakan proses kegiatan untuk mengubah tingkah laku bagi subjek belajar (peserta didik), ternyata banyak faktor yang mempengaruhinya. Berhasil atau tidaknya proses belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor

(10)

yang dapat dibagi dalam faktor intern (faktor yang berada dalam diri siswa)

dan faktor ekstern (faktor yang berasal di luar diri siswa).14

Sehubungan dengan adanya dua faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa seperti yang telah disebutkan di atas, W.S. Winkel menjelaskan kedua faktor tersebut sebagai berikut:

a. Faktor intern meliputi:

1) Faktor intelektual, yaitu taraf intelegensi, kemampuan belajar, dan cara belajar, serta

2) Faktor non intelektual, yaitu motivasi belajar, sikap, perasaan, dan kondisi psikis.

b. Faktor ektern meliputi:

1) Faktor pengatur proses belajar dan pengelompokan siswa.

2) Faktor sosial disekolah yang terdiri dari sistem sekolah,statis sosial siswa, interaksi guru dengan siswa, dan sebagainya.

3) Faktor situsional yang terdiri dari keadaan politik ekonomi, waktu,

tempat, dan keadaan musim.15

Dalam kaitannya dengan belajar siswa, peranan guru pun sangat menentukan terhadap keberhasilan belajar siswa. Guru merupakan faktor penting dalam menunjang prestasi belajar siswa. Dalam hal ini guru harus memperhatikan kemampuan anak didik dan mengatur tingkat penguasaan

14

Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, Cet ke-2, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004), hlm. 138.

(11)

materi pelajaran pada siswa. Oleh karena itu, guru berperan besar terhadap peningkatan kemampuan anak didik dengan kemampuan yang dimilikinya serta pengalamannya dapat mengarahkan dan membimbing para siswa secara baik untuk meningkatkan prestasi belajar mereka.

Menurut L. B. Kinning, studi tentang pembinaan anak didik agar dapat meningkatkan prestasi belajar dapat ditempuh dengan berbagai jalan. Pertama, mengadakan perencanaan secara kooperatif dengan anak didik. Kedua, mengembangkan kepemimpinan dan tanggung jawab pada anak didik. Ketiga, membina prosedur belajar di kelas secara demokratis, mengorganisasi kegiatan belajar secara kelompok, dan memberikan kesempatan bekerja sama. Keempat, memberikan partisipasi secara luas dalam berbagai kegiatan edukatif sesuai dengan kesanggupan anak didik sendiri. Kelima, memberikan kesempatan untuk berfikir kritis dalam mengembangkan buah pikiran sendiri, terutama dalam mengemukakan dan menerima pendapat. Keenam, menciptakan kesempatan untuk mengembangkan sikap yang dikehendaki

secara sosiologis, psikologis, dan biologis.16

(12)

4. Faktor Pendukung dan Penghambat Pengajaran Bahasa Asing a. Faktor Pendukung

1) Bahasa Arab telah dikenal oleh para peserta didik karena mereka telah menggunakan sejak kecil, baik untuk do’a ibadah sholat maupun untuk do’a-do’a yang lain.

2) Sejak kecil para peserta didik telah mengenal huruf Arab yaitu yang disebut huruf Hijaiyyah, karena mereka telah belajar mengaji di rumah atau dimasjid kampung,

3) Para peserta didik telah mengenal kebudayaan bangsa Arab dan latar belakangnya, walaupun baru sedikit. Mereka juga telah menyadari bahwa agama Islam itu datangnya dari Negara Arab atau Mekah.

4) Selain untuk keperluan komunikasi sebagaimana bahasa asing yang lain, mempelajari bahasa Arab ada hubungannya dengan usaha memenuhi tuntunan ajaran agama.

5) Bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam merupakan spirit tersendiri untuk mempelajari bahasa Arab.

6) Dari segi tata bahasa, antara bahasa Arab dengan bahasa Indonesia banyak terdapat unsur persamaan.

b. Faktor Penghambat

1) Apabila ditinjau dari segi tata bahasa, bahasa Arab tata bahasanya dalam pembagian kata kerja maupun kata benda relative lebih banyak

(13)

dan lebih rangkap. Sehingga menyebabkan waktu yang lebih lama untuk mempelajarinya.

2) Kemampuan tata bahasa Arab sebagai alat untuk membaca, karena berkaitan erat dengan perubahan bunyi kata yang disebut dengan “I’rob”, segi tulisannya sama namun kalau harakat huruf yang terakhir dirubah sedikit saja pasti mempunyai maksud dan arti yang berbeda. 3) Perbedaan-perbedaan ungkapan, istilah-istilah, dan nama-nama benda

yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia.

4) Negara-negara Arab sendiri melalui perwakilannya diIndonesia, tampaknya juga masih belum sempat mengambil langkah guna menyebarluaskan bahasa Arab, dengan mencari metode pengajarannya,

dari tingkat rendah sampai tingkat tertinggi.17

17 Wa Muna, Op Cit, hlm. 51

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh bahwa nilai rata-rata tes evaluasi penguasaan bahasa arab pokok bahasan almadrosatu peserta didik kelas

Pembelajaran bahasa Arab merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit oleh para siswa. Dengan demikian membutuhkan berbagai macam cara dan metode untuk

Pembelajaran bahasa Arab merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit oleh para siswa. Dengan demikian membutuhkan berbagai macam cara dan metode untuk

Penyebab kesalahan pengucapan bunyi konsonan ini dikarenakan latar belakang pendidikan sampel yang mengenal bahasa Arab saat duduk di Madrasah Aliyah, penyebab selanjutnya

Pada prinsipnya, metode ini sangat utama dalam pembelajaran bahasa Arab, karena siswa dapat secara langsung melatih kemahiran lidahnya tanpa menggunakan bahasa ibu

Setiap guru mempunyai kepribadian, latar belakang, dan pengalaman mengajar yang berbeda. Semua itu merupakan hal intern guru yang dapat mempengaruhi pemilihan dan penentuan

Tujuan tersebut dapat peneliti simpulkan bahwa pembelajaran Bahasa Arab akan mempermudah peserta didik untuk memahami Al- Qur’an, Hadist, serta kebudayaan Islam

Tipe prestasi belajar sintesis merupakan jalan satu terminal untuk menjadikan orang lebih kreatif. Berpikir kreatif merupakan salah satu hasil yang hendak dicapai dalam