1412 _____________
ISSN 0853-0203
PERUBAHAN DAN KESINAMBUNGAN
TRADISI GONDANG DAN TORTOR DALAM PESTA ADAT PERKAWINAN PADA MASYARAKAT BATAK TOBA DI MEDAN
Emmi Simangunsong
ABSTRACT
In general, this study aims to determine the development of gondang and tortor tradition in a Batak Toba society in Medan. This study specifically aims to examine the continuity and change in the traditions contained in the gondang and tortor in wedding ceremonies a Batak Toba society in Medan. The approach of the research uses qualitative methods using two theories: the theory of functions of music and theory of change. The data collection techniques used include observation, interviews, and literature. All data is processed using qualitative descriptive analysis techniques and interpretative. The research findings indicate that the traditional wedding ceremonies Batak Toba society, gondang and tortor tradition is still maintained as a Batak Toba culture of sustainability in the field, although its implementation has changed. Changes can be seen from the process of the ceremony, the influence of Christianity, the development of technology and education, the selection of ensemble music used to accompany the ceremony, and the selection of the song title being played in the traditional ceremonies. Cultural continuity can be seen from a custom implementation of dalihan na tolu that is still implemented in the gondang and tortor event.
---
Keywords: Change, contuinity, tradition, gondang and tortor
I. PENDAHULUAN
Masyarakat Batak Toba adalah masyarakat adat yang secara berkelanjutan mengalami perubahan di berbagai aspek kehidupan. Perubahan sosial mendorong perubahan produk kebudayaannya yang tidak saja dalam lingkup konsep atau gagasan tetapi juga dalam bentuk-bentuk yang lebih konkrit dan visual. Dampak perubahan sosial ini mengakibatkan adanya nilai-nilai tradisi yang terkikis bahkan terlupakan (Purba 2007: 2).
Gondang merupakan suatu tradisi masyarakat Batak Toba yang masih dipertahankan hingga saat ini. Perkataan gondang berkaitan dengan banyak aspek. Dalam konsep pemikiran masyarakat Batak Toba, perkataan „musik‟ memberi arti yang berbeda dengan perkataan gondang. Walaupun perkataan gondang mempunyai persamaan arti dengan musik, tetapi tujuan menggunakan perkataan musik dengan gondang tidaklah sama. Perkataan „musik‟ dikaitkan dengan musik modern sedangkan perkataan gondang dikaitkan dengan musik tradisional. Oleh karena itu, jika dikatakan upacara pesta adat itu diiringi oleh „musik‟, maksudnya adalah iringan musik tiup (brassband [atau uning-uningan]) bukan iringan [musik] gondang sabangunan.
1413 _____________
ISSN 0853-0203
Perkataan gondang mempunyai arti sebagai berikut: (1) ansambel musik, misalnya ansambel gondang sabangunan dan ansambel gondang hasapi; (2) satu set alat-alat musik dram yaitu taganing dan gordang; (3) satu komposisi musik atau judul lagu, misalnya Gondang Sampur Marmeme Sampur Marorot (gondang memohon diberi anak); (4) kelompok repertoar („keluarga gondang’), misalnya Gondang Somba (gondang untuk menyembah…); (5) nama upacara, misalnya Gondang Saem (upacara penyembuhan), Gondang Mandudu (upacara memanggil hujan), Gondang Saur Matua (upacara adat kematian), Gondang Na Poso (pesta muda mudi); (6) tempo lagu, misalnya gondang na jae-jae (gondang bertempo sedang); (7) „doa‟ (misalnya ketika dimainkan Gondang Sampur Marmeme Sampur Marorot, ia merupakan „doa‟ memohon supaya diberi anak); (8) nama bagian acara dalam upacara pesta adat yang berkaitan dengan adat dalihan na tolu yaitu gondang ni suhut, gondang ni dongan tubu, gondang ni boru, dan gondang ni hula-hula (Simangunsong 2002: 51).
Penyajian gondang sabangunan dalam pesta adat disertai dengan acara manortor (menari). Kata manortor berasal dari perkataan tortor yang berarti tarian adat. Oleh karena acara-acara adat tidak terlepas dari tortor (tarian adat), acara gondang ni suhut dan gondang ni dongan tubu disebut juga tortor suhut karena dongan tubu (keluarga lelaki bersaudara) dan suhut (pelaksana pesta/upacara) adalah satu kesatuan sebagai pelaksana upacara pesta adat. Demikian pula gondang ni boru dan gondang ni hula-hula disebut menjadi satu acara yaitu tortor adat ni dalihan na tolu (acara tarian adat dari unsur-unsur kekerabatan). Alasannya adalah kalau kelompok boru (menantu) menari sudah pasti kelompok hula-hula (mertua) juga menari. Kelompok boru dan kelompok hula-hula merupakan satu kesatuan dalam acara tortor.
Penggunaan perkataan gondang dalam konteks yang berbeda-beda itu memberi gambaran tentang konsep berpikir orang Batak Toba mengenai musiknya, membedakan antara upacara/pesta adat, upacara bukan-adat dan upacara „agama‟ (kepercayaan asli) serta pengelompokan acara gondang dan tortor dari unsur-unsur kekerabatannya. Jika tidak paham konteks penggunaannya dalam pesta/upacara, perkataan gondang akan memberi arti yang salah. Satu contoh adalah perkataan Gondang Saem dan Gondang Sampur Marmeme Sampur Marorot. Walaupun kedua-duanya memakai perkataan gondang, tetapi tidak mempunyai arti yang sama dan digunakan dalam konteks yang berbeda. Perkataan gondang dalam judul Gondang Saem mempunyai arti sebagai nama upacara penyembuhan dalam konteks kepercayaan asli Batak Toba. Sedangkan perkataan gondang dalam judul Gondang Sampur Marmeme Sampur Marorot dalam konteks upacara/pesta adat berarti „doa‟ permohonan supaya diberi anak oleh Maha Pencipta.
Gondang dan tortor merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam pelaksanaan pesta adat perkawinan. Dalam penyajiannya terdapat beberapa aspek yang harus dilaksanakan misalnya mangido gondang (meminta judul lagu gondang untuk dimainkan), menyebutkan judul-judul gondang dan
1414 _____________
ISSN 0853-0203
manortor (menari) bersama. Namun dalam pengamatan penulis di beberapa pelaksanaan pesta adat perkawinan di kota Medan saat ini, aspek-aspek tersebut tidak lagi dilaksanakan sebagaimana seharusnya pada masa lalu. Perubahan telah terjadi walaupun masih tetap mempertahankan tradisi gondang dan tortor. Penyajian gondang dan tortor dalam pesta adat perkawinan menunjukkan kesadaran masyarakat Batak Toba tentang kesinambungan budaya mereka walaupun dalam pelaksanaannya telah terjadi perubahan. Berdasarkan latar belakang tersebut permasalahan yang dibahas adalah:
1. Bagaimanakah pelaksanaan tradisi gondang dan tortor pada masyarakat Batak Toba di kota Medan khususnya dalam upacara adat perkawinan sebagai kesinambungan kebudayaannya?
2. Perubahan apakah yang terjadi dalam tradisi gondang dan tortor akibat dari perubahan sosial dalam masyarakat Batak Toba yang ada di kota Medan?
Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan tradisi gondang dan tortor pada masyarakat Batak Toba dikota Medan. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk menelaah perubahan dan kesinambungan yang terdapat dalam tradisi gondang dan tortor dalam upacara adat perkawinan pada masyarakat Batak Toba di kota Medan.
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam berbagai hal, antara lain sebagai informasi yang lebih mendalam mengenai perubahan dan kesinambungan tentang tradisi gondang dan tortor dalam pesta adat perkawinan pada masyarakat Batak Toba di kota Medan. Selain itu, penelitian ini diharapkan memberi manfaat bagi peneliti yang berniat melakukan penelitian lanjutan tentang tradisi gondang dan tortor pada masyarakat Batak Toba.
II. METODOLOGI PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan etnomusikologi dengan penekanan kepada antropologi musik, yang dilihat dari fungsi musik dalam masyarakat dan konteks penggunaannya (Merriam 1964: 227). Penelitian ini dimaksudkan untuk membuat deskripsi atau gambaran secara lengkap, factual dan teliti mengenai fakta-fakta, sifat dan hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nasir 1999: 63). Metode ini akan mendasari penelitian ini khususnya di dalam pengumpulan data maupun penganalisaan data.
Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data sekunder dikumpul dari buku-buku, skripsi, tesis, disertasi, jurnal, dan yang berkaitan dengan pesta adat perkawinan pada masyarakat Batak Toba di kota Medan. Data primer diperoleh dari narasumber dengan teknik wawancara kepada ketua adat, pemain musik dan pelaksana pesta adat perkawinan. Selain itu, data primer diperoleh dari pengamatan yang dilakukan secara langsung melihat pelaksanaan pesta adat perkawinan pada masyarakat Batak Toba di Medan yang menggunakan gondang sabangunan, musik tiup (brass band) dan uning-uningan.
1415 _____________
ISSN 0853-0203
Metode analisis data yang pertama dilakukan adalah seleksi data untuk memilih dan merangkum data sesuai dengan kebutuhan penelitian tentang tradisi gondang dan tortor. Kemudian dilakukan pengklasifikaian data untuk menyusun data dan pembagiannya. Selanjutnya data diuraikan untuk memperoleh gambaran yang jelas dan terperinci tentang data khususnya yang relevan dengan fokus penelitian. Setelah itu, dilakukan interpretasi data untuk mencari hubungan antara fakta-fakta yang ditemukan dan memberikan pemahaman yang jelas tentang faktor-faktor yang menjelaskan kesinambungan dan perubahan yang terjadi dalam tradisi gondang dan tortor pada masyarakat Batak Toba di Medan. Langkah akhir adalah menyimpulkan hasil analisis secara ringkas dan padat tentang apa yang ditemukan dalam penelitian ini.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pilar-pilar masyarakat modern sesungguhnya sudah tercermin dalam nilai spiritual seni tradisi, seperti etika dan moralitas, demokrasi, kebebasan dan keterbukaan, hak asasi manusia, keadilan sosial dan pemerataan kesempatan, serta pelestarian lingkungan hidup (Bandem 2000: 3).
Tradisi gondang dan tortor mempunyai fungsi ritual, dilaksanakan sebagai pemberi legitimasi pesta adat perkawinan pada masyarakat Batak Toba di kota Medan. Bagaimana kemudian menyesuaikan diri dengan tuntutan jaman, kiranya penting dilihat fleksibelitas yang dimiliki tradisi gondang dan tortor untuk mengatasi keadaan itu.
Setiap ulaon adat (pesta adat) biasanya dilaksanakan dengan margondang yaitu kegiatan yang menggunakan gondang sabangunan. Tetapi dengan adanya perubahan budaya dalam masyarakat Batak Toba, istilah margondang sering juga digunakan untuk pesta adat yang menggunakan musik tiup atau uning-uningan.
Masyarakat Batak Toba di Medan mengenal tiga ansembel musik untuk mengiringi pesta adat perkawinan yaitu gondang sabangunan, musik tiup (brass band) dan uning-uningan. Keberadaan musik tiup dan uning-uningan muncul disebabkan pengaruh agama Kristen pada masyarakat Batak Toba. Alasannya adalah musik tiup dan uningan-uningan dapat dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu rohani dan lagu-lagu-lagu-lagu rakyat yang mempunyai tangga nada diatonis sedangkan gondang sabangunan tidak dapat digunakan karena mempunyai tangganada pentatonik. Jika pelaksana pesta adat adalah orang kaya, ketiga ansambel musik ini dapat digunakan dalam satu pesta adat perkawinan karena mampu membayar pemain musik dari ketiga ansambel tersebut.
Ansambel gondang sabangunan terdiri dari alat-alat musik sebagai berikut: klasifikasi aerofon yaitu sarune bolon satu buah sebagai pembawa melodi, klasifikasi membranofon yaitu satu set taganing dan gordang sebagai pembawa melodi atau ritem variabel, klasifikasi idiofon yaitu ogung oloan, ogung ihutan, ogung panggora, ogung doal dan hesek sebagai pembawa ritem konstan.
1416 _____________
ISSN 0853-0203
Ansambel musik tiup terdiri dari alat-alat musik sebagai berikut: terompet, saxophone, trombone, bass tuba, keyboard, gitar, dan drum set. Untuk setiap grup musik, jumlah dan alat musiknya dapat bervariasi.
Uning-uningan adalah alat musik tradisional Batak Toba yang dapat dimainkan secara tunggal (tidak dalam bentuk ansambel). Namun karena adanya perubahan, khususnya di kota Medan, istilah uning-uningan digunakan untuk perpaduan beberapa alat musik yang dipakai dari gondang sabangunan, gondang hasapi dan musik tiup. Alat-lat musik dalam ansambel gondang hasapi terdiri dari: sarune etek, hasapi ende, hasapi doal, garantung, sulim dan hesek.
Dari perpaduan tersebut, ansambel uning-uningan yang biasa digunakan di kota Medan terdiri dari alat-alat musik sebagai berikut: sulim, satu set taganing dan gordang, hasapi, ogung, dan hesek. Namun uning-uningan ini sering juga dimainkan dengan menambah alat dari musik tiup seperti keyboard, trombone dan gitar bas. Perpaduan alat-alat musik tersebut juga dapat bervariasi untuk setiap grup musik. Sebutan untuk pemain musik gondang sabangunan adalah pargonsi (baca: pargocci). Untuk pemain musik tiup dan uning-uningan disebut parmusik. Namun saat ini ada juga menyebut pargonsi untuk pemain musik tiup (brass band) dan juga untuk pemain musik uning-uningan.
3.1. Nilai-nilai Kehidupan dalam Adat ni Dalihan na Tolu
Untuk pelaksanaan pesta adat perkawinan, masyarakat Batak Toba di Medan sering menghabiskan banyak waktu, uang, dan tenaga. Hal itu terjadi karena dalam adat ni dalihan na tolu terdapat konsep tentang nilai-nilai yang dicapai dalam kehidupan orang Batak Toba. Nilai-nilai kehidupan itu tergambar dalam tiga perkataan, iaitu hamoraon, hagabeon dan hasangapon
Untuk mencapai tiga nilai tersebut yaitu hamoraon, hagabeon, hasangapon, orang- orang Batak Toba harus bekerja kuat, banyak belajar dan hidup menurut agama dan adat ni dalihan na tolu. Hamoraon, hagabeon, hasangapon merupakan „kekuatan‟, „kesinambungan‟ dan „kesempurnaan‟ dari adat ni dalihan na tolu. Hamoraon dicapai supaya mempunyai kekuatan; hagabeon dicapai supaya mempunyai kesinambungan marga keturunan; dan hasangapon dimiliki supaya mencapai kesempurnaan.
Untuk menunjukkan bahwa seseorang Batak Toba sudah mencapai hamoraon, hagabeon, hasangapon, akan terlihat dalam pelaksanaan pesta adat perkawinan atau kematian. Misalnya, seseorang na mora (yang kaya) ketika melaksanakan pesta adat perkawinan akan mengundang kelompok musik, apakah gondang sabangunan, musik tiup (brass-band) atau uningan-uningan. Dalam pesta adat perkawinan tersebut, penyajian gondang dan tortor dilaksanakan sesuai dengan adat ni dalihan na tolu. Penyajian gondang dan tortor bertujuan memenuhi adat na gok („adat yang komplit/sempurna‟) yang berarti juga menunjukkan adat ni dalihan na tolu dilakukan dengan sempurna (sangap).
Selain itu, ia juga bertujuan mangalidangkon si haadongonna (menunjukkan kekayaan [hamoraan]nya). Memenuhi adat na gok (adat yang
1417 _____________
ISSN 0853-0203
sempurna [mencakup hagabeon dan hasangapon]) dan „mangalidangkon sihaadonganna’ (menunjukkan kekayaannya) adalah aspek-aspek penting dalam nilai-nilai kehidupan masyarakat Batak Toba. Oleh karena itu, orang-orang Batak Toba berusaha mencapai nilai-nilai kehidupan itu supaya dapat memenuhi adat ni dalihan na tolu dengan sebaik mungkin.
3.2. Perubahan dan Kesinambungan dalam Tradisi Gondang dan Tortor Tradisi gondang dan tortor masih tetap sebagai satu bagian penting dalam sistem sosial dan budaya Batak Toba sehingga kesinambungan tradisi gondang dan tortor masih tetap bertahan. Namun akibat pengaruh agama Kristen di Tanah Batak dan pengaruh perkembangan jaman terjadilah perubahan sosial sehingga tradisi gondang dan tortor mengalami perubahan. Perubahan tersebut dapat dilihat dari penggunaan ansambel musik yang digunakan, pemilihan judul gondang atau judul lagu yang dimainkan, dan penggunaan waktu sesingkat mungkin tetapi tidak mengurangi nilai-nilai adat.
3.2.1. Judul lagu Gondang
Pesta adat perkawinan sering dilaksanakan masyarakat Batak Toba di kota Medan. Acara tortor dalam pesta adat perkawinan ini dapat diiiringi salah satu ansambel Batak Toba yaitu gondang sabangunan, musik tiup, atau uning-uningan. Bagi orang kaya, sering mengundang ketiga ansambel musik tersebut sehingga dalam acara tortor, panortor (kelompok penari) dapat memilih ansambel yang sesuai dengan keinginannya.
Misalnya ketika salah satu kelompok hula-hula (pihak mertua) manortor (menari), mereka memilih gondang sabangunan karena mengingat tradisi yang sudah biasa mereka lakukan sebelumnya walaupun musik tiup dan uning-uningan disediakan hasuhuton (pelaksana pesta adat). Judul gondang yang mereka minta dimainkan oleh pemain gondang sabangunan juga dari kumpulan repertoar gondang sabangunan. Hal ini menunjukkan tradisi gondang dan tortor masih tetap dipertahankan.
Kelompok hula-hula lainnya memilih musik tiup atau uning-uningan karena mereka menginginkan lagu-lagu rohani atau lagu rakyat mengiringi mereka manortor (menari). Hal ini terjadi karena pengaruh agama Kristen dalam masyarakat Batak Toba khususnya di Medan. Namun demikian, walaupun musik tiup atau uning-uningan yang mereka pilih untuk mengiringi hula-hula menari, paminta gondang (orang yang dihunjuk meminta judul lagu dimainkan) sering meminta judul lagu dari musik gondang sabangunan tetapi yang dimainkan pemain musik adalah lagu rohani atau lagu rakyat. Ini menunjukkan bahwa bagi sebagian masyarakat Batak Toba di Medan sebutan judul gondang itu sudah melekat di hatinya sehingga lagu rohani atau lagu rakyat yang dimainkan dianggap sama seperti lagu gondang sabangunan. Yang penting bagi mereka adalah tujuan dalam acara gondang dan tortor dapat tercapai. Hal ini menunjukkan adanya perubahan dalam tradisi gondang dan tortor.
1418 _____________
ISSN 0853-0203
Berdasarkan hasil penelitian di kota Medan, kelompok hula-hula/parboru yang memilih gondang sabangunan biasanya memilih judul gondang yang lajim dimainkan dalam pesta adat perkawinan, yang dibagi berdasarkan tiga bagian sebagai berikut: I. Gondang Mula-mula (gondang pembuka sebagai permohonan kepada Tuhan agar acara pesta adat dapat terlaksana dengan baik) dan Gondang Somba (gondang menyembah...); II. Gondang Pinta-pinta (permohonan) dengan memilih satu atau dua judul : 1) Gondang Sampur Marmeme Sampur Marorot ( „doa memohon diberi anak‟); 2) Gondang Sampe-sampe („menyampaikan berkat [antara hula-hula dan boru]‟); 3) Gondang Mangaliat atau Gondang Liat-liat („gondang untuk manortor ‘berkeliling‟ atau „berputar‟ [dengan tujuan untuk menyampaikan berkat [antara hula-hula dan boru); IV. Gondang Hasahatan (pengharapan): 1) Gondang Hasahatan Sitio-tio („doa‟ pengharapan bahwa semua yang dimohon akan terkabul).
Kelompok hula-hula/parboru yang memilih musik tiup atau uning-uningan biasanya memilih judul lagu rohani yang lajim dimainkan dalam pesta adat perkawinan sebagai berikut: 1) KasihNya Seperti Sungai; 2) Marolop-olop Tondingki; 3) Surgo i Sambulonta do i; 4) Setia-setialah; 5) Sai Puji Debata; 6) Dalam Nama Yesus; 7) Molo Masa Parungkilon; 8) Bergandengan Tangan; 9) Yesus itulah Satu-satunya; 10) Dison adong Huboan Tuhan; 11) Ahama Endehononku; 12) Dalam Yesus Ada Suka Cita; 13) Soraklah.
Judul lagu rakyat yang biasa dimainkan adalah sebagai berikut: 1) Anakhonhi do Hamoraon di Au; 2) Siunte Manis; 3) Biring-biring; 4) Aek Sibulbulon; 5) Pos ni Uhur; 6) Selayang Pandang; 7) Batu ni Unte; 8) Si Bunga Ri; 9) Emmada; 10) Dengke Na Niura; 11) Arbab; 12) Sarma Dengan-dengan; 13) Tading ma Ham.
3.2.2. Gondang dan Tortor Adat Ni Dalihan Na Tolu
Pada masa sekarang ini terdapat perbedaan-perbedaan pelaksanakan pesta adat perkawinan khususnya di Medan. Pihak hasuhuton (yang melaksanakan upacara) yang satu boleh berbeda dengan pihak hasuhuton yang lain khususnya dalam hal pemilihan ansambel musik yang mengiringi acara tortor dan pemilihan judul lagu yang dimainkan. Pelaksanaan acara gondang dan tortor juga boleh berbeda; ada yang melaksanakannya dengan lebih singkat dan ada juga melaksanakannya dengan memakan waktu lebih hingga sampai malam.
Cara yang biasa dilakukan di kota Medan adalah menyatukan unsur-unsur dalihan na tolu dalam satu acara gondang dan tortor. Dengan demikian penggunaan waktu digunakan secara efektif dan effisien tanpa mengurangi nilai adat yang sepatutnya dilaksanakan. Untuk itu, pihak hasuhuton (pelaksana pesta adat) akan mangelek (memohon) kepada kelompok panortor supaya jumlah judul gondang atau lagu yang diminta tidak melebihi tiga judul gondang kalau boleh cukup satu judul gondang saja. Walaupun demikian caranya, adat ni dalihan na tolu masih tetap menjadi inti (essence) dalam pelaksanaan pesta adat perkawinan.
1419 _____________
ISSN 0853-0203
Dalam pesta adat perkawinan di kota Medan, acara gondang dan tortor dimulai dari keluarga pihak pengantin perempuan, yang terdiri dari lima bagian, yaitu: 1) acara gondang dan tortor dari kelompok Hula-hula atau Parboru (orangtua dari pihak perempuan); 2) acara gondang dan tortor dari kelompok Tulang Rorobot (paman dari ibu pengantin perempuan); 3) acara gondang dan tortor dari kelompok Bona Tulang (paman dari ayah pengantin perempuan); 4) acara gondang dan tortor dari kelompok Bona Ni Ari (tulang ni ompung [paman dari kakek pengantin laki-laki; 5) acara gondang dan tortor dari kelompok Tulang (paman dari pengantin perempuan).
Namun untuk mempersingkat waktu, biasanya pelaksanaan acara gondang dan tortor dari pihak pengantin perempuan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu 1) acara gondang dan tortor dari kelompok Hula-hula/Parboru; 2) kelompok Tulang Rorobot, Bona Tulang dan Bona Ni Ari disatukan dalam satu acara gondang dan tortor; 3) acara gondang dan tortor dari kelompok Tulang.
Setelah itu, dilanjutkan dengan acara gondang dan tortor dari pihak pengantin laki-laki. Untuk mempersingkat waktu, acara gondang dan tortor dibagi dua, yaitu: 1) kelompok Tulang Rorobot (paman dari ibu pengantin laki), kelompok Bona Tulang (paman dari ayah pengantin laki-laki), dan kelompok Bona Ni Ari (paman dari kakek pengantin laki-laki) disatukan dalam satu acara gondang dan tortor; 2) kelompok Tulang (paman dari pengantin laki-laki).
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, dalam pesta adat perkawinan di Medan, hasuhuton yang kaya ada yang mengundang tiga ansambel yaitu gondang sabangunan, musik tiup dan uning-uningan. Ada juga hanya dua ansambel yaitu gondang sabangunan dan musik tiup atau musik tiup dan uning-uningan. Untuk mengiringi tortor adat ni dalihan na tolu, jumlah dan judul gondang dapat berbeda di setiap pesta adat perkawinan. Hal ini terjadi disebabkan setiap kelompok panortor (penari tarian adat [tortor]) mempunyai keinginan yang berbeda-beda.
Misalnya, jika kelompok panartor masih tetap mengingat tradisi gondang sabangunan, ketika mangido gondang (seseorang yang dihunjuk meminta judul gondang dimainkan), mereka akan meminta gondang sabangunan untuk mengiringi mereka manortor (menari). Judul gondang yang diminta dimainkan pargonsi (pemain musik) adalah dari repertoar gondang sabangunan.
Ada juga kelompok panortor masih mengingat tradisi gondang tetapi tidak meminta gondang sabangunan untuk mengiringi mereka manortor. Yang diminta dimainkan adalah musik tiup dan uning-uningan. Tetapi ketika mangido gondang, judul gondang yang diminta adalah dari repertoar gondang sabangunan sedangkan yang dimainkan pemain musik adalah dari repertoar musik tiup atau repertoar musik uning-uningan. Biasanya mereka meminta lagu rohani dan juga lagu rakyat. Hal ini menunjukkan adanya perubahan dalam tradisi gondang dan tortor.
Dalam penentuan judul gondang atau lagu yang dimainkan, peranan pargonsi atau pemain musik juga penting. Misalnya, ketika paminta gondang
1420 _____________
ISSN 0853-0203
tidak mengetahui judul gondang atau lagu apa yang seharusnya dimainkan, maka pemain musiklah yang memilih lagunya sesuai dengan suasana dan keinginan kelompok panortor. Selain itu, ketika paminta gondang meminta judul Gondang Mangaliat (dari repertoar gondang sabangunan), pemain musik tiup atau uning-uningan memainkan lagu Aek Sibulbulon. Kemudian diminta Gondang Sampur Marmeme Sampur Marorot, yang dimainkan KasihNya Seperti Sungai atau Anakhonhi do Hamoraon di Au. Alasannya karena musik yang dimainkan adalah alat-alat musik tiup mempunyai tangga nada diatonik. Alat-alat musik dalam ansambel uning-uningan sekarang ini telah ada yang dilaras sesuai dengan tangga nada diatonik sehingga cocok untuk memainkan lagu-lagu rohani atau lagu rakyat. Untuk alat-alat musik gondang sabangunan masih mempunyai tangganada pentatonik sehingga tidak dapat atau tidak cocok memainkan lagu KasihNya Seperti Sungai atau Anakhonhi do Hamoraon di Au . Pemain musik gondang sabangunan tidak dapat memainkannya karena lagu Aek Sibulbulon, KasihNya Seperti Sungai dan Anakhonhi do Hamoraon di Au mempunyai nada-nada diatonik.
Berikut ini beberapa contoh yang diminta judul gondang sabangunan tetapi yang dimainkan adalah lagu rohani atau lagu rakyat dalam acara gondang dan tortor. Dalam setiap pesta adat perkawinan dapat terjadi variasi sesuai dengan keinginan kelompok panortor.
Tabel 1. Contoh penyesuasian dari judul lagu gondang sabangunan yang diminta diganti menjadi lagu rohani atau lagu rakyat, yang dimainkan dalam pesta adat perkawinan pada masyarakat Batak Toba di Medan.
No. Judul Lagu
Gondang Sabangunan
Yang dimainkan Lagu Rohani
Yang dimainkan Lagu Rakyat 1. Gondang Mula-mula -Sai Puji Debata
-Marolop-olop tondingki
Sarma Dengan-dengan
2. Gondang Mangaliat
(diminta oleh paminta gondang dari hula-hula/ parboru karena hendak mangulosi boru [memberi
berkat kepada kedua
pengantin]) KasihNya seperti Sungai -Aek Sibulbulon – Anakhonhi do Hamoraon di Au -Tading Ma Ham
3. Gondang Sampur Marmeme Sampur Marorot
(diminta karena hula-hula/parboru hendak mangulosi boru [memberi
berkat kepada kedua
pengantin])
Marolop-olop Tondingki
-Si Unte Manis- -- Arbab
1421 _____________
ISSN 0853-0203
4. Gondang Somba (diminta oleh paminta gondang dari boru karena hendak manom-ba hula-hula dengan cara memberi uang) KasihNya Seperti Sungai 5. Gondang Hasahatan-Sitio-tio (gondang penutup) Emmada
Dalam acara pesta adat perkawinan, jumlah judul lagu gondang yang dimainkan tidak lagi harus berjumlah ganjil (tujuh gondang, lima gondang atau tiga gondang) tetapi jumlah judul gondang yang diminta dapat berjumlah genap seperti dua atau empat judul gondang. Judul lagu yang diminta kelompok panortor atau yang dimainkan pemain musik juga bervariasi; bukan hanya lagu-lagu Batak Toba namun lagu-lagu-lagu-lagu dari etnis lain juga dapat dimainkan. Misalnya lagu Biring-biring merupakan lagu rakyat dari etnis Karo; lagu Tading Ma Ham dan Sarma Dengan-dengan merupakan lagu rakyat dari Simalungun. Walaupun pelaksana pesta adat adalah orang Batak Toba, tetapi lagu-lagu dari etnis lainnya dapat diterima dengan baik. Hal ini menunjukkan adanya perubahan sikap dan saling menghargai di antara masyarakat Batak Toba dengan etnis lainnya. Penggabungan acara gondang dan tortor serta berkurangnya jumlah judul gondang yang dimainkan, menjadikan pesta adat perkawinan di kota Medan dilakukan lebih efektif walaupun kadang-kadang nampak seperti diburu waktu. Namun begitu, semua acara gondang dan tortor adat ni dalihan na tolu dapat dilaksanakan walaupun dalam waktu yang singkat.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
Setelah menjelaskan uraian tentang pelaksanaan pesta adat perkawinan pada masyarakat Batak Toba di kota Medan, maka diadakan analisa dan evaluasi antara uraian teoritis dengan hasil penelitian. Berdasarkan uraian tersebut maka dapat dibuat kesimpulan tentang perubahan dan kesinambungan tradisi gondang dan tortor dan memberikan saran-saran yang diharapkan berguna untuk pembaca dan peneliti berikutnya yang tertarik dengan topik penelitian ini.
4.1. Kesimpulan
Adat sangat penting dalam kehidupan masyarakat Batak Toba di kota Medan karena adat berkaitan dengan falsafah hidup, kebudayaan dan keagamaan/kepercayaan. Adat pula telah berubah sebagaimana keadaan sosial, dan ia telah mempengaruhi pelaksanaan pesta adat perkawinan, termasuk tradisi gondang dan tortor. Namun begitu, ketika terjadi perubahan, margondang dan adat ni dalihan na tolu masih tetap bertahan sebagai kesinambungan budaya masyarakat Batak Toba di Medan.
Ajaran agama Kristen, perkembangan teknologi dan pendidikan telah mempengaruhi gaya kehidupan orang-orang Batak Toba di kota Medan yang
1422 _____________
ISSN 0853-0203
nampak semakin sibuk dan lebih modern. Namun, ia tidak merubah adat ni dalihan na tolu dan masih tetap dihargai oleh masyarakat Batak Toba di kota Medan hingga saat ini. Dalam pesta adat perkawinan, adat ni dalihan na tolu menjadi inti (essence). Pesta adat perkawinan pada masyarakat Batak Toba di kota Medan yang sering diiringi ansambel musik gondang sabangunan, musik tiup atau uning-uningan, memberi ruang dan waktu untuk kesinambungan tradisi gondang dan tortor dalam acara tortor adat ni dalihan na tolu.
Perubahan dan kesinambungan tradisi gondang dan tortor pada pesta adat perkawinan dapat juga dilihat dari pemilihan judul gondang atau lagu yang dimainkan. Perubahan terjadi karena pengaruh ansambel musik yang dimainkan. Misalnya yang diminta adalah judul lagu dari repertoar gondang sabangunan sementara musik yang mengiringi adalah musik tiup atau uning-uningan maka judul lagu gondang sabangunan yang diminta kelompok panortor, diganti oleh pemain musik dengan lagu rohani atau lagu rakyat. Judul lagu rakyat yang diminta kelompok panortor nampak bervariasi sesuai dengan hubungan kekerabatan hasuhuton sebagai pelaksana pesta adat. Lagu-lagu dari etnis lain (seperti etnis Karo dan Simalungun) dapat diterima dengan baik.
Peranan pemain musik juga penting dalam pemilihan/penentuan judul lagu yang dimainkan. Ketika kelompok panortor kurang paham judul lagu gondang yang hendak dimainkan, pemain musik dapat memahami keinginan kelompok panortor dari hata-hata mangido gondang-nya (ucapan yang disampaikan kepada hasuhuton sebelum manortor). Namun ada juga kelompok panortor yang mengerti tentang judul lagu yang sesuai untuk mengiringi tortor sehingga ketika mangido gondang ia langsung menyebut judul lagu dari lagu rohani atau lagu rakyat. Oleh karena itu, judul gondang atau lagu yang dimainkan dapat berbeda-beda di dalam pesta adat perkawinan di kota Medan.
Dalam acara gondang dan tortor, tortor adat ni dalihan na tolu masih merupakan inti dalam pesta adat perkawinan. Namun dalam pelaksanaannya telah terjadi perubahan. Pesta adat perkawinan pada masyarakat Batak Toba di kota Medan sedapat mungkin dilakukan dengan singkat. Berbagai cara dilakukan seefektif mungkin misalnya menggabung acara gondang dan tortor dari kelompok Tulang Rorobot (paman dari ibu pengantin laki), kelompok Bona Tulang (paman dari ayah pengantin laki-laki), dan kelompok Bona Ni Ari (paman dari kakek pengantin laki-laki).
. Dengan cara itu, pelaksanaan pesta adat perkawinan dapat dilakukan lebih efektif walaupun kadang-kadang nampak seperti diburu waktu. Namun demikian, tujuan utama gondang dan tortor hula-hula/parboru dan boru yaitu „meminta dan memberi berkat‟ antara boru dan hula-hula dapat dilakukan dalam acara gondang dan tortor adat ni dalihan na tolu. Gerakan tortor dari boru yaitu gerakan manea-nea atau marsomba meminta berkat dari hula-hula dan gerakan tortor dari hula-hula yaitu gerakan mamasu-masu memberi berkat kepada boru masih tetap dilaksanakan. Hal ini menunjukkan kesinambungan makna gondang
1423 _____________
ISSN 0853-0203
dan tortor masih tetap dipertahankan walaupun dalam pelaksanaannya telah terjadi perubahan.
4.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan tentang perubahan dan kesinambungan tradisi gondang dan tortor dalam pesta adat perkawinan pada masyarakat Batak Toba di kota Medan, dapat disampaikan dua saran sebagai berikut.
1. Bagi masyarakat Batak Toba dan pembaca tulisan ini secara khusus yang berasal dari etnis Batak Toba di kota Medan, hendaknya tetap mempertahankan tradisi gondang dan tortor agar seni tradisi ini tidak hilang ditelan arus modernisasi. Perubahan boleh terjadi tapi tradisi gondang dan tortor dapat berkelanjutan sebagai kesinambungan budaya masyarakat Batak Toba.
2. Penelitian ini dilakukan hanya dalam waktu singkat di beberapa tempat di kota Medan, sehingga belum dapat disimpulkan secara menyeluruh di Medan. Oleh karena itu, bagi peneliti yang berminat tentang topik penelitian ini, masih sangat dibutuhkan penelitian lanjutan. Banyak hal yang menarik untuk diteliti lagi misalnya pelaksanaan pesta adat perkawinan yang ber-etnis Batak Toba tetapi menikah dengan etnis yang berbeda misalnya dari etnis Karo atau Simalungun dan etnis lainnya. Dengan adanya percampuran etnis ini, mungkin akan terjadi perubahan yang berbeda lagi dalam pelaksanaan pesta adat perkawinan pada masyarakat Batak Toba di kota Medan.
DAFTAR PUSTAKA
Bandem, I Made. 2000. “Seni Tradisi Di Tengah Arus Perubahan.” Dalam Idea, Jurnal lmiah Seni Pertunjukan. Kemurnian Seni di tengah (Kecenderungan) Persilangan Budaya. Edisi 1. Yogyakarta: Tarawang Press.
Gultom, D.J. 1992. Dalihan Na Tolu: Nilai Budaya Suku Batak. Medan: Armanda. Giddens, Anthony. 1994. Masyarakat Post-Tradisional. Yogyakarta: IRCiSoD. Jansen, Arlin D. 1981. „Gonrang Music: Its Structure and Function in Simalungun
Batak Society in Sumatra‟. PhD thesis. University of Washington, Seatle. Merriam, A.P. 1964. The Anthropology of Music. Evanston, III: Nortwestern
University Press.
Nasir, Mohd. 1999. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Okazaki, Yoshiko. 1994. „Music, Identity, and Religious change among the Toba Batak People of North Sumatra.‟. Unpublished Ph.D thesis, University of California, Los Angeles.
Purba, Mauly. 1998. ‘Musical and Function Change in Gondang Sabangunan Tradition of the Protestant Toba Batak 1860s-1990s with special
1424 _____________
ISSN 0853-0203
refrence to the 1980s-1990s.‟ Unpublish Ph.D thesis, Monash University, Melbourne.
___________ 2007. “Musik Tradisional Masyarakat Sumatera Utara: Harapan, Peluang, Dan Tantangan.” Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Etnomusikologi. Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara.
Simangunsong, Emmi. 2002. „Ensambel Gondang Sabangunan Batak Toba: Perhubungan Di anatar Muzik, Tortor Dan Adat Dalihan Na Tolu.‟ Unpublish M.A. thesis, University Sains Malaysia, Pulau Pinang, Malaysia.
Simon, Arthur. 1984. “Functional Changes in Batak Traditional Music and Its Role in Modern Society.” Asian Music 15 (2): 58-66.
____________ 1987. “Social and Religious Functions of Batak Ceremonial Music.” Dalam Cultures and Societies of North Sumatra, ed. Reiner Carle, Berlin. Dietrich: 337-349.
1425 _____________