• Tidak ada hasil yang ditemukan

Cover Pedoman SM ABK - final complete 10 Desember :59:07

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Cover Pedoman SM ABK - final complete 10 Desember :59:07"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

0 5 25 75 95 100

Cover Pedoman SM ABK - final complete 10 Desember 2020 11:59:07

(2)

#

B u k u P e d o m a n

Pembina Anak

Sekolah Minggu

Berkebutuhan Khusus

Ditjen Bimas Kristen

Kementerian Agama RI

(3)

“ Biarkan anak-anak itu (dengan segala

keberbedaannya) datang kepada-Ku,

jangan menghalang-halangi mereka, sebab

orang-orang yang seperti itulah yang

empunya Kerajaan Aah”

Markus 10: 14

"Yesus Mencintai Anak Anak”

An ield Wibowo (2019)

Berbahagialah anak anak karena Tuhan Yesus begitu mencintai kalian.

(4)

“ Biarkan anak-anak itu (dengan segala

keberbedaannya) datang kepada-Ku,

jangan menghalang-halangi mereka, sebab

orang-orang yang seperti itulah yang

empunya Kerajaan Aah”

Markus 10: 14

"Yesus Mencintai Anak Anak”

An ield Wibowo (2019)

Berbahagialah anak anak karena Tuhan Yesus begitu mencintai kalian.

(5)

DITJEN BIMAS KRISTEN KEMENTERIAN RI

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas dapat dibuka pada website kami,

https://bimaskristen.kemenag.go.id

Sanksi Pelanggaran Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 1987. Undang-Undang No. 12 Tahun 1997, bahwa:

Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau menyebarkan suatu ciptaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dengan pidana penjara masing-masing paling lambat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.1.000.000,- (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan atau denda paling banyak Rp.5.000.000.000.- (lima miliar rupiah).

Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan atau denda paling banyak Rp.500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).

BUKU PEDOMAN PEMBINA ANAK

SEKOLAH MINGGU BERKEBUTUHAN

KHUSUS

Copyright © 2020 Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) ISBN : XXX-XXX-XXXX-XX-X 14.8 x 21 cm vi, 60 halaman Cetakan Pertama, Desember 2020 Ditjen Bimas Kristen Kemenag RI, 2020 Penata Letak/Layout Ariadi Wibowo Desain Cover Ariadi Wibowo Ilustrasi An ield Wibowo, Siswa SMPLB/B Pangudi Luhur, Jakarta Diterbitkan oleh: Ditjen Bimas Kristen Kementerian Agama RI Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apapun, termasuk dengan cara penggunaan mesin fotocopy, tanpa seizin sah dari penerbit.

(6)

DITJEN BIMAS KRISTEN KEMENTERIAN RI

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas dapat dibuka pada website kami,

https://bimaskristen.kemenag.go.id

Sanksi Pelanggaran Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 1987. Undang-Undang No. 12 Tahun 1997, bahwa:

Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau menyebarkan suatu ciptaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dengan pidana penjara masing-masing paling lambat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.1.000.000,- (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan atau denda paling banyak Rp.5.000.000.000.- (lima miliar rupiah).

Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan atau denda paling banyak Rp.500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).

BUKU PEDOMAN PEMBINA ANAK

SEKOLAH MINGGU BERKEBUTUHAN

KHUSUS

Copyright © 2020 Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) ISBN : XXX-XXX-XXXX-XX-X 14.8 x 21 cm vi, 60 halaman Cetakan Pertama, Desember 2020 Ditjen Bimas Kristen Kemenag RI, 2020 Penata Letak/Layout Ariadi Wibowo Desain Cover Ariadi Wibowo Ilustrasi An ield Wibowo, Siswa SMPLB/B Pangudi Luhur, Jakarta Diterbitkan oleh: Ditjen Bimas Kristen Kementerian Agama RI Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apapun, termasuk dengan cara penggunaan mesin fotocopy, tanpa seizin sah dari penerbit.

(7)

Kata Pengantar

ami menyambut dengan sukacita tanggung jawab

K

menulis “Buku Pedoman Pembina Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus” ini. Buku ini hadir sebagai salah satu upaya membekali para pembina anak Sekolah Minggu antara lain pendeta, penatua, diaken, Guru Sekolah Minggu, agar terbuka dan menyambut dengan ramah kehadiran anak-anak berkebutuhan khusus dalam kehidupan bergereja.

Dalam penulisan buku ini, kami menggunakan istilah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan Penyandang Disabilitas. Ketika menguraikan berbagai hal secara umum, istilah ABK yang digunakan, tetapi ketika konteks percakapan mengambil terkait dengan proses belajar-mengajar, maka istilah ABK yang digunakan.

Buku ini terdiri atas enam bagian. Bagian awal buku ini berisi narasi dari anak berkebutuhan khusus, orang tua anak berkebutuhan khusus, Guru Sekolah Minggu yang mengajar anak berkebutuhan khusus dan pendeta yang memiliki p e rh a t i a n d a n p e d u l i te rh a d a p ke b e ra d a a n a n a k berkebutuhan khusus. Bab pertama, memberikan landasan alkitabiah, teologis, psikologis, dan hukum tentang Gereja dan anak-anak berkebutuhan khusus dan bagaimana Gereja mengembangkan sikap yang ramah terhadap mereka. Bab kedua berisi penjelasan tentang bagaimana memahami anak berkebutuhan khusus. Bab ketiga berisi penjelasan tentang prinsip-prinsip pedagogis (baik teori maupun tips praktis)

mengajar anak berkebutuhan khusus. Bab keempat berisi tentang bagaimana melaksanakan monitoring dan evaluasi tentang penggunaan buku pedoman ini dalam konteks gereja-gereja di Indonesia. Bab Lampiran berisi berbagai sumber yang d a p a t m e n j a d i r u j u k a n u n t u k mengembangkan pelayanan Sekolah Minggu ABK.

Kami mengucapkan terima kasih banyak kepada para pembaca dan penelaah teks buku pedoman ini. Secara khusus, kami menghaturkan rasa terima kasih kami y a n g d a l a m k e p a d a D r a . M a r j a m Budhisetiawan, M.Psi. dan Pdt. Helen Aramada Setyoputri, S.Si. (Teol), M.A. yang telah membaca, menelaah dengan teliti, dan memberikan masukan-masukan yang sangat memperkaya buku pedoman ini. Kami berharap buku ini membuka cakrawala berpikir kita untuk melihat b a hwa G e re j a s e l aya k nya m e n j a d i komunitas iman yang mau menyambut siapapun, termasuk anak berkebutuhan khusus dan keluarga mereka untuk hadir dan terlibat bersama dalam berbagai kegiatan pelayanan Gereja. Semoga buku ini memperlengkapi siapa saja yang mau belajar darinya.- Tim Penyusun "Yesus, Gembala Yang Baik” An ield Wibowo (2020) Dia akan membawa ku ke rumput yang hijau dan ke air yang tenang

(8)

Kata Pengantar

ami menyambut dengan sukacita tanggung jawab

K

menulis “Buku Pedoman Pembina Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus” ini. Buku ini hadir sebagai salah satu upaya membekali para pembina anak Sekolah Minggu antara lain pendeta, penatua, diaken, Guru Sekolah Minggu, agar terbuka dan menyambut dengan ramah kehadiran anak-anak berkebutuhan khusus dalam kehidupan bergereja.

Dalam penulisan buku ini, kami menggunakan istilah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan Penyandang Disabilitas. Ketika menguraikan berbagai hal secara umum, istilah ABK yang digunakan, tetapi ketika konteks percakapan mengambil terkait dengan proses belajar-mengajar, maka istilah ABK yang digunakan.

Buku ini terdiri atas enam bagian. Bagian awal buku ini berisi narasi dari anak berkebutuhan khusus, orang tua anak berkebutuhan khusus, Guru Sekolah Minggu yang mengajar anak berkebutuhan khusus dan pendeta yang memiliki p e rh a t i a n d a n p e d u l i te rh a d a p ke b e ra d a a n a n a k berkebutuhan khusus. Bab pertama, memberikan landasan alkitabiah, teologis, psikologis, dan hukum tentang Gereja dan anak-anak berkebutuhan khusus dan bagaimana Gereja mengembangkan sikap yang ramah terhadap mereka. Bab kedua berisi penjelasan tentang bagaimana memahami anak berkebutuhan khusus. Bab ketiga berisi penjelasan tentang prinsip-prinsip pedagogis (baik teori maupun tips praktis)

mengajar anak berkebutuhan khusus. Bab keempat berisi tentang bagaimana melaksanakan monitoring dan evaluasi tentang penggunaan buku pedoman ini dalam konteks gereja-gereja di Indonesia. Bab Lampiran berisi berbagai sumber yang d a p a t m e n j a d i r u j u k a n u n t u k mengembangkan pelayanan Sekolah Minggu ABK.

Kami mengucapkan terima kasih banyak kepada para pembaca dan penelaah teks buku pedoman ini. Secara khusus, kami menghaturkan rasa terima kasih kami y a n g d a l a m k e p a d a D r a . M a r j a m Budhisetiawan, M.Psi. dan Pdt. Helen Aramada Setyoputri, S.Si. (Teol), M.A. yang telah membaca, menelaah dengan teliti, dan memberikan masukan-masukan yang sangat memperkaya buku pedoman ini. Kami berharap buku ini membuka cakrawala berpikir kita untuk melihat b a hwa G e re j a s e l aya k nya m e n j a d i komunitas iman yang mau menyambut siapapun, termasuk anak berkebutuhan khusus dan keluarga mereka untuk hadir dan terlibat bersama dalam berbagai kegiatan pelayanan Gereja. Semoga buku ini memperlengkapi siapa saja yang mau belajar darinya.- Tim Penyusun "Yesus, Gembala Yang Baik” An ield Wibowo (2020) Dia akan membawa ku ke rumput yang hijau dan ke air yang tenang

(9)

Kata Pengantar

(10)

Kata Pengantar

(11)

1. Pdt. Justitia Vox Dei Hattu, Th.D.

2. Prof. Dr. Frieda Maryam Mangunsong Siahaan,

M.Ed., Psikolog

3. Pdt. Dr. Yerusa Maria Agustini, S. Si., M.Pd.

4. Ridayani Damanik, S.Ak. (PGI)

5. Rini Prasetyaningsih (SLB Rawinala)

Daftar Isi

KATA PENGANTAR

TIM PENULIS

DAFTAR ISI

BUNGA RAMPAI KISAH INSPIRATIF DI SEKITAR

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK)

• Harapan Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus • Harapan Orang Tua Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus • Harapan Pemerhati dengan Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus • Harapan Pendeta dengan Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus BAB 1: PELAYANAN GEREJA BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) • Landasan Alkitabiah dan Teologis Pelayanan Gereja bagi Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus • Landasan Psikologis tentang Pelayanan Gereja bagi Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus • Landasan Hukum tentang Pelayanan Gereja bagi Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus

Tim Penyusun

Penanggung jawab : Jannus Pangaribuan Ketua : Levina Pelenggina Nahumury Wakil Ketua : Evendy Hutabarat Sekretaris : Justitia Vox Dei Hattu Anggota : 1. Frieda Mangunsong 2. Yerusa Maria Agustini Hadiprijanto 3. Ridayani Damanik 4. Janfrido M. Siahaan 5. Edward Tony Pelmelay 6. Marjam Budhisetiawan 7. Ligat Umbak Simbolon 8. Helen Aramada Setyoputri 9. Rini Prasetyaningsih 10. Endang Kusmawati 11. Dian Wulansary Triliaster 12. Maeka Lubis 13. Dyah Utami Putri 14. Betty Sembiring 15. Harryson Eddy Chandra S. 16. Pahala Tua Nababan

(12)

1. Pdt. Justitia Vox Dei Hattu, Th.D.

2. Prof. Dr. Frieda Maryam Mangunsong Siahaan,

M.Ed., Psikolog

3. Pdt. Dr. Yerusa Maria Agustini, S. Si., M.Pd.

4. Ridayani Damanik, S.Ak. (PGI)

5. Rini Prasetyaningsih (SLB Rawinala)

Daftar Isi

KATA PENGANTAR

TIM PENULIS

DAFTAR ISI

BUNGA RAMPAI KISAH INSPIRATIF DI SEKITAR

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK)

• Harapan Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus • Harapan Orang Tua Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus • Harapan Pemerhati dengan Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus • Harapan Pendeta dengan Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus BAB 1: PELAYANAN GEREJA BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) • Landasan Alkitabiah dan Teologis Pelayanan Gereja bagi Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus • Landasan Psikologis tentang Pelayanan Gereja bagi Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus • Landasan Hukum tentang Pelayanan Gereja bagi Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus

Tim Penyusun

Penanggung jawab : Jannus Pangaribuan Ketua : Levina Pelenggina Nahumury Wakil Ketua : Evendy Hutabarat Sekretaris : Justitia Vox Dei Hattu Anggota : 1. Frieda Mangunsong 2. Yerusa Maria Agustini Hadiprijanto 3. Ridayani Damanik 4. Janfrido M. Siahaan 5. Edward Tony Pelmelay 6. Marjam Budhisetiawan 7. Ligat Umbak Simbolon 8. Helen Aramada Setyoputri 9. Rini Prasetyaningsih 10. Endang Kusmawati 11. Dian Wulansary Triliaster 12. Maeka Lubis 13. Dyah Utami Putri 14. Betty Sembiring 15. Harryson Eddy Chandra S. 16. Pahala Tua Nababan

(13)

BAB 2: MEMAHAMI ANAK SEKOLAH MINGGU

BERKEBUTUHAN KHUSUS

• Arah dan Tujuan Pengajaran ABK • Kemampuan Mengamati ABK • Kemampuan Berempati terhadap ABK

BAB 3 : MENGAJAR ANAK SEKOLAH MINGGU

BERKEBUTUHAN KHUSUS

• Mengajar dengan Hati • Kreativitas Memodi ikasi Pengajaran Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

BAB 4: MONITORING DAN EVALUASI

PENGGUNAAN BUKU PEDOMAN

DAFTAR ACUAN

LAMPIRAN

Link Bahan-Bahan Rujukan: https://bit.ly/34SMeI8 Harapan Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus

Kehidupan Sekolah Minggu

Bersama Anak

Berkebutuhan Khusus

Jalinan relasi antara ABK dan Non ABK seringkali memberi kesan sebuah relasi pengganggu dan terganggu. Baik ABK dan Non ABK bisa menjadi pihak pengganggu, maupun yang terganggu. Kedua pihak membentuk komunitas yang fragile. Oleh sebab itu, sangatlah penting bagaimana menciptakan komunitas yang terbuka.

Keterbukaan menciptakan adanya rasa saling menerima dan menghargai. Keterbukaan juga mempersempit jurang perbedaan yang ada. Kenyataannya, masih ditemukan bentuk-bentuk ketidakramahan warga gereja terhadap ABK. Hal ini terlihat dengan belum memadainya ketersediaan fasilitas sesuai kebutuhan anak dengan disabilitas, metode pembelajaran, dan “ruang” bagi anak untuk bercerita, ruang Sekolah Minggu belum cukup difasilitasi dan disesuaikan dengan kondisi disabilitas anak. Diperlukan Sekolah Minggu dengan metode pembelajaran berbasis teknologi, juga beberapa hal lain yang menarik untuk mendukung penyerapan materi pembelajaran bagi ABK. (Sweety 2018, 82-83)

"Yesus Sang Penolong”

An ield Wibowo (2020) Dia akan menopangku di saat aku lemah,

(14)

BAB 2: MEMAHAMI ANAK SEKOLAH MINGGU

BERKEBUTUHAN KHUSUS

• Arah dan Tujuan Pengajaran ABK • Kemampuan Mengamati ABK • Kemampuan Berempati terhadap ABK

BAB 3 : MENGAJAR ANAK SEKOLAH MINGGU

BERKEBUTUHAN KHUSUS

• Mengajar dengan Hati • Kreativitas Memodi ikasi Pengajaran Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

BAB 4: MONITORING DAN EVALUASI

PENGGUNAAN BUKU PEDOMAN

DAFTAR ACUAN

LAMPIRAN

Link Bahan-Bahan Rujukan: https://bit.ly/34SMeI8 Harapan Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus

Kehidupan Sekolah Minggu

Bersama Anak

Berkebutuhan Khusus

Jalinan relasi antara ABK dan Non ABK seringkali memberi kesan sebuah relasi pengganggu dan terganggu. Baik ABK dan Non ABK bisa menjadi pihak pengganggu, maupun yang terganggu. Kedua pihak membentuk komunitas yang fragile. Oleh sebab itu, sangatlah penting bagaimana menciptakan komunitas yang terbuka.

Keterbukaan menciptakan adanya rasa saling menerima dan menghargai. Keterbukaan juga mempersempit jurang perbedaan yang ada. Kenyataannya, masih ditemukan bentuk-bentuk ketidakramahan warga gereja terhadap ABK. Hal ini terlihat dengan belum memadainya ketersediaan fasilitas sesuai kebutuhan anak dengan disabilitas, metode pembelajaran, dan “ruang” bagi anak untuk bercerita, ruang Sekolah Minggu belum cukup difasilitasi dan disesuaikan dengan kondisi disabilitas anak. Diperlukan Sekolah Minggu dengan metode pembelajaran berbasis teknologi, juga beberapa hal lain yang menarik untuk mendukung penyerapan materi pembelajaran bagi ABK. (Sweety 2018, 82-83)

"Yesus Sang Penolong”

An ield Wibowo (2020) Dia akan menopangku di saat aku lemah,

(15)

Harapan Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus

Kehidupan Orang tua

Bersama Anak

Berkebutuhan Khusus

Bagi orang tua dengan ABK, mengajak mereka untuk ikut Sekolah Minggu merupakan pergumulan tersendiri. Orang tua meyakini bahwa Sekolah Minggu memiliki visi melayani anak. Mereka juga meyakini bahwa anak-anak mereka akan mengalami perkembangan iman melalui Sekolah Minggu. Sebagai orang tua dari ABK, mereka pun memiliki kerinduan agar anak mereka mengalami perkembangan iman dan dapat diterima seperti anak-anak lainnya.

Terkadang permasalahan datang dari pihak orang tua ABK yang belum dapat menerima keberadaan anak mereka. Seperti misalnya dalam kisah berikut, dosa masa lalu yang pernah dilakukan, diyakini oleh Pak Iman sebagai penyebab kondisi disabilitas yang dialami anaknya. Dalam hal inilah, Teologi Disabilitas sangat diperlukan untuk memberi perspektif teologis yang benar tentang dosa, bahwa kondisi disabilitas bukanlah disebabkan oleh dosa manusia.

Orang tua dengan anak berkebutuhan khusus cenderung sangat sulit untuk berelasi dalam komunitas karena merasa kondisi anak yang berbeda akan sulit diterima dalam komunitas. Untuk itu, Sekolah Minggu dirasakan perlu untuk mengadakan pembinaan bagi para orang tua agar mereka bisa dan siap menerima keberadaan anak mereka apa adanya, secara personal dan untuk di kemudian siap berelasi dalam komunitas. (Sweety 2018, 90-91)

Harapan Pemerhati Anak Berkebutuhan Khusus

Kehidupan Para Aktivis

Sekolah Minggu Bersama

Anak Berkebutuhan Khusus

Para aktivis dan GSM mempunyai visi dan kerinduan untuk mewujudkan Sekolah Minggu ramah anak. Bahkan ada keinginan dan kesungguhan yang besar melalui pernyataan GSM untuk segera mewujudkan kelas Sekolah Minggu bagi ABK. Namun, masih ada keraguan untuk segera melangkah dan mewujudkannya.

Masih banyaknya hal yang perlu dipertimbangkan menunjukkan ketidaksiapan gereja ketika ingin mewujudkan Sekolah Minggu ramah anak bagi ABK. Pertama, banyak orang tua tidak siap menerima dan mengakui bahwa anaknya memiliki kondisi disabilitas. Kedua, metode pembelajaran yang harus disesuaikan kebutuhan anak dengan disabilitas. Ketiga, keterlibatan dan peran serta gereja secara utuh, terutama dalam pemenuhan sarana dan prasarana, juga dampak terhadap anggaran bagi Sekolah minggu. Keempat, kualitas guru Sekolah Minggu yang belum memadai dan memenuhi kualitas seorang pengajar ABK sehingga membutuhkan pembinaan.

Dibutuhkan penyeleksian kualitas guru Sekolah Minggu dengan baik saat penerimaan calon guru Sekolah Minggu dan dilakukan pengevaluasian kembali kualitas para guru Sekolah Minggu setiap tahunnya. Selain itu, dibutuhkan pula pembinaan bagi penambahan pengetahuan psikologis dan peningkatan spiritualitas para guru Sekolah Minggu. (Sweety 2018, 97-98)

(16)

Harapan Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus

Kehidupan Orang tua

Bersama Anak

Berkebutuhan Khusus

Bagi orang tua dengan ABK, mengajak mereka untuk ikut Sekolah Minggu merupakan pergumulan tersendiri. Orang tua meyakini bahwa Sekolah Minggu memiliki visi melayani anak. Mereka juga meyakini bahwa anak-anak mereka akan mengalami perkembangan iman melalui Sekolah Minggu. Sebagai orang tua dari ABK, mereka pun memiliki kerinduan agar anak mereka mengalami perkembangan iman dan dapat diterima seperti anak-anak lainnya.

Terkadang permasalahan datang dari pihak orang tua ABK yang belum dapat menerima keberadaan anak mereka. Seperti misalnya dalam kisah berikut, dosa masa lalu yang pernah dilakukan, diyakini oleh Pak Iman sebagai penyebab kondisi disabilitas yang dialami anaknya. Dalam hal inilah, Teologi Disabilitas sangat diperlukan untuk memberi perspektif teologis yang benar tentang dosa, bahwa kondisi disabilitas bukanlah disebabkan oleh dosa manusia.

Orang tua dengan anak berkebutuhan khusus cenderung sangat sulit untuk berelasi dalam komunitas karena merasa kondisi anak yang berbeda akan sulit diterima dalam komunitas. Untuk itu, Sekolah Minggu dirasakan perlu untuk mengadakan pembinaan bagi para orang tua agar mereka bisa dan siap menerima keberadaan anak mereka apa adanya, secara personal dan untuk di kemudian siap berelasi dalam komunitas. (Sweety 2018, 90-91)

Harapan Pemerhati Anak Berkebutuhan Khusus

Kehidupan Para Aktivis

Sekolah Minggu Bersama

Anak Berkebutuhan Khusus

Para aktivis dan GSM mempunyai visi dan kerinduan untuk mewujudkan Sekolah Minggu ramah anak. Bahkan ada keinginan dan kesungguhan yang besar melalui pernyataan GSM untuk segera mewujudkan kelas Sekolah Minggu bagi ABK. Namun, masih ada keraguan untuk segera melangkah dan mewujudkannya.

Masih banyaknya hal yang perlu dipertimbangkan menunjukkan ketidaksiapan gereja ketika ingin mewujudkan Sekolah Minggu ramah anak bagi ABK. Pertama, banyak orang tua tidak siap menerima dan mengakui bahwa anaknya memiliki kondisi disabilitas. Kedua, metode pembelajaran yang harus disesuaikan kebutuhan anak dengan disabilitas. Ketiga, keterlibatan dan peran serta gereja secara utuh, terutama dalam pemenuhan sarana dan prasarana, juga dampak terhadap anggaran bagi Sekolah minggu. Keempat, kualitas guru Sekolah Minggu yang belum memadai dan memenuhi kualitas seorang pengajar ABK sehingga membutuhkan pembinaan.

Dibutuhkan penyeleksian kualitas guru Sekolah Minggu dengan baik saat penerimaan calon guru Sekolah Minggu dan dilakukan pengevaluasian kembali kualitas para guru Sekolah Minggu setiap tahunnya. Selain itu, dibutuhkan pula pembinaan bagi penambahan pengetahuan psikologis dan peningkatan spiritualitas para guru Sekolah Minggu. (Sweety 2018, 97-98)

(17)

Harapan Pendeta Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Anak Berkebutuhan Khusus

di Mata Aah:

“Mereka juga adalah

Mahakarya Aah”

Sebagai masterpiece-nya Allah, ABK adalah pribadi yang unik dan Allah mempunyai rencana serta tujuan bagi hidup ABK. Apa rencana dan tujuan Allah bagi hidup ABK? Efesus 2:10 menyatakan, “karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Yesus Kristus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Roma 15:7 menyatakan, “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah” Dua teks Alkitab ini memperlihatkan bahwa Gereja dibutuhkan untuk memberi harapan dan cinta kepada ABK dan orang-orang yang mereka cintai, karena Tuhan memiliki tujuan dan rencana untuk semua orang, termasuk ABK.

“Kekuatan dalam Kerapuhan”

Pada gambar di samping tercermin jelas bagaimana warga jemaat berkebutuhan khusus bergandengan tangan bersama warga jemaat lain, mulai dari yang berkursi roda lalu ke kanan: (1) Anak perempuan dengan kursi roda; (2) Anak laki-laki dengan kruk (penyangga kaki waktu berjalan); (3) Anak perempuan yang tidak memiliki kebutuhan khusus; (4) Nenek dengan alat bantu dengar dan tongkat; (5) Pria yang

tidak mengalami kebutuhan khusus; (6) Pria dengan kacamata minus/plus (visual impairment); (7) Pria yang tidak mengalami visual impairment; (8) Anak laki-laki dengan kaca mata hitam dan tongkat (visual impairment). Teks 2 Korintus 12:1-10 mengingatkan kita bahwa ada anugerah di tengah sebuah persekutuan tubuh Kristus sehingga ada kekuatan dalam kerapuhan. Oleh karena itu: (1) jangan takut dengan kerapuhan karena kerapuhan itu bagian dari kehidupan komunitas kita yang tak terelakkan; (2) ketika kita menerima kerapuhan komunitas kita akan merasakan kekuatan; dan (3) dalam kerapuhan kita saling bergantung satu dengan yang lain dan komunitas kita menjadi bergantung pada Tuhan.

Memulai Pelayanan bagi ABK di Sekolah Minggu bukanlah hal yang mudah, harus dimulai dari mempersiapkan komunitas imannya, kemudian instruksional lalu misionalnya. Pelayanan Anak Sekolah Minggu berkebutuhan khusus didasarkan pada pergumulan teologis bahwa mereka adalah anak-anak yang berharga dimata Allah yang patut menerima anugerah kasih Allah juga, apapun keterbatasan yang menunjukkan kerapuhan mereka, akan tetap dapat ditemukan kekuatan pribadi mereka maupun komunitas imannya.

Ketika orang tua dan guru Sekolah Minggu berhasil menemukan potensi dalam diri anak di usia dini (sebelum 8 tahun) dan mampu mendorongnya hingga mencapai potensi optimalnya, maka Sekolah Minggu akan menemukan kekuatan dalam kerapuhan mereka yang membuat kehidupan pribadi dan komunitas imannya lebih baik. Kemudian dengan melibatkan mereka dalam pelayanan di Sekolah Minggu sesuai kemampuan optimalnya, itu artinya Sekolah Minggu telah memberi kesempatan mereka untuk memenuhi tujuan Tuhan dalam kehidupan mereka yaitu melakukan pekerjaan - pekerjaan baik yang Tuhan ingin mereka kerjakan di dunia ini. Efesus 2:10. (Yerusa Maria, 2018)

(18)

Harapan Pendeta Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Anak Berkebutuhan Khusus

di Mata Aah:

“Mereka juga adalah

Mahakarya Aah”

Sebagai masterpiece-nya Allah, ABK adalah pribadi yang unik dan Allah mempunyai rencana serta tujuan bagi hidup ABK. Apa rencana dan tujuan Allah bagi hidup ABK? Efesus 2:10 menyatakan, “karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Yesus Kristus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Roma 15:7 menyatakan, “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah” Dua teks Alkitab ini memperlihatkan bahwa Gereja dibutuhkan untuk memberi harapan dan cinta kepada ABK dan orang-orang yang mereka cintai, karena Tuhan memiliki tujuan dan rencana untuk semua orang, termasuk ABK.

“Kekuatan dalam Kerapuhan”

Pada gambar di samping tercermin jelas bagaimana warga jemaat berkebutuhan khusus bergandengan tangan bersama warga jemaat lain, mulai dari yang berkursi roda lalu ke kanan: (1) Anak perempuan dengan kursi roda; (2) Anak laki-laki dengan kruk (penyangga kaki waktu berjalan); (3) Anak perempuan yang tidak memiliki kebutuhan khusus; (4) Nenek dengan alat bantu dengar dan tongkat; (5) Pria yang

tidak mengalami kebutuhan khusus; (6) Pria dengan kacamata minus/plus (visual impairment); (7) Pria yang tidak mengalami visual impairment; (8) Anak laki-laki dengan kaca mata hitam dan tongkat (visual impairment). Teks 2 Korintus 12:1-10 mengingatkan kita bahwa ada anugerah di tengah sebuah persekutuan tubuh Kristus sehingga ada kekuatan dalam kerapuhan. Oleh karena itu: (1) jangan takut dengan kerapuhan karena kerapuhan itu bagian dari kehidupan komunitas kita yang tak terelakkan; (2) ketika kita menerima kerapuhan komunitas kita akan merasakan kekuatan; dan (3) dalam kerapuhan kita saling bergantung satu dengan yang lain dan komunitas kita menjadi bergantung pada Tuhan.

Memulai Pelayanan bagi ABK di Sekolah Minggu bukanlah hal yang mudah, harus dimulai dari mempersiapkan komunitas imannya, kemudian instruksional lalu misionalnya. Pelayanan Anak Sekolah Minggu berkebutuhan khusus didasarkan pada pergumulan teologis bahwa mereka adalah anak-anak yang berharga dimata Allah yang patut menerima anugerah kasih Allah juga, apapun keterbatasan yang menunjukkan kerapuhan mereka, akan tetap dapat ditemukan kekuatan pribadi mereka maupun komunitas imannya.

Ketika orang tua dan guru Sekolah Minggu berhasil menemukan potensi dalam diri anak di usia dini (sebelum 8 tahun) dan mampu mendorongnya hingga mencapai potensi optimalnya, maka Sekolah Minggu akan menemukan kekuatan dalam kerapuhan mereka yang membuat kehidupan pribadi dan komunitas imannya lebih baik. Kemudian dengan melibatkan mereka dalam pelayanan di Sekolah Minggu sesuai kemampuan optimalnya, itu artinya Sekolah Minggu telah memberi kesempatan mereka untuk memenuhi tujuan Tuhan dalam kehidupan mereka yaitu melakukan pekerjaan - pekerjaan baik yang Tuhan ingin mereka kerjakan di dunia ini. Efesus 2:10. (Yerusa Maria, 2018)

(19)

1 Harapan Gereja Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Perintis Sekolah Minggu

Anak Berkebutuhan Khusus

Gereja Kristus Ketapang

(GK K)

Sekolah Minggu untuk anak berkebutuhan khusus Gereja Kristus Ketapang dimulai dari dua orang Guru Sekolah Minggu yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Ketika anak-anak mereka masih kecil sampai kira-kira mereka berusia 12 tahun, mereka masih merasa bahwa anak-anak ini masih baik dan bisa ikut kegiatan Sekolah Minggu dengan baik.

Ketika anak-anak mereka mulai beranjak remaja, mereka bergumul apakah anak-anak mereka bisa mengikuti Sekolah Minggu dengan baik? Mereka bukan tidak percaya dengan GSM yang lain, tetapi dengan bertambahnya usia tentu pelajaran yang mereka terima lebih berat dan tentu itu menjadi tantangan bagi anak-anak mereka.

Oleh karena itulah, mereka memberitahukan pergumulan tersebut kepada hamba Tuhan dan akhirnya Sekolah Minggu ABK dimulai di Gereja Kristus Ketapang pada bulan September 2008 sampai saat ini (Ev. Relly 2020).

(20)

1 Harapan Gereja Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Perintis Sekolah Minggu

Anak Berkebutuhan Khusus

Gereja Kristus Ketapang

(GK K)

Sekolah Minggu untuk anak berkebutuhan khusus Gereja Kristus Ketapang dimulai dari dua orang Guru Sekolah Minggu yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Ketika anak-anak mereka masih kecil sampai kira-kira mereka berusia 12 tahun, mereka masih merasa bahwa anak-anak ini masih baik dan bisa ikut kegiatan Sekolah Minggu dengan baik.

Ketika anak-anak mereka mulai beranjak remaja, mereka bergumul apakah anak-anak mereka bisa mengikuti Sekolah Minggu dengan baik? Mereka bukan tidak percaya dengan GSM yang lain, tetapi dengan bertambahnya usia tentu pelajaran yang mereka terima lebih berat dan tentu itu menjadi tantangan bagi anak-anak mereka.

Oleh karena itulah, mereka memberitahukan pergumulan tersebut kepada hamba Tuhan dan akhirnya Sekolah Minggu ABK dimulai di Gereja Kristus Ketapang pada bulan September 2008 sampai saat ini (Ev. Relly 2020).

(21)

2 3

BAB 1

Pelayanan Gereja

Bagi Anak

Berkebutuhan

Khusus

A. Landasan Alkitabiah dan Teologis Pelayanan

Gereja Bagi Anak Sekolah Minggu Berkebu-tuhan Khusus

Gereja adalah “rumah” bagi semua orang. Oleh karena itu, siapapun seharusnya disambut dan diterima dalam rumah bersama ini. Sebagai rumah bagi semua orang, Gereja sudah selayaknya menolong setiap warga jemaat untuk bertumbuh dalam pengenalan yang benar akan Tuhan dan terhubung dengan warga jemaat lain sehingga mereka belajar bersama untuk saling menghargai satu dengan yang lain. Sebagai rumah bagi semua orang, Gereja harus mengajar umatnya untuk menerima mereka yang berbeda: suku, ras, usia, karakter, kehidupan ekonomi, dan keadaan diri. Sayangnya, dalam praktik hidup menggereja, warga jemaat (terlebih anak-anak) berkebutuhan khusus belum sepenuhnya diterima oleh Gereja. Dengan mengatakan belum semua Gereja, itu berarti ada juga Gereja-baik pada aras lokal maupun sinodal-yang terbuka menerima warga jemaat berkebutuhan khusus. Kepada gereja-gereja ini, apresiasi patut diberikan.

Gereja dan Anak Berkebutuhan Khusus

Mengapa belum semua Gereja bisa menerima bahkan memberi perhatian kepada warga jemaat, terlebih ABK? Salah satu alasan utama penyebab kurangnya perhatian Gereja adalah karena stigma (suatu ciri negatif yang dilekatkan kepada diri seseorang atau sekelompok orang) yang berkembang di kalangan warga jemaat terhadap ABK. Misalnya: (1) ABK itu lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Oleh karenanya, mereka tidak perlu dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan gereja; (2) ABK adalah pengganggu dalam ibadah. Kehadiran mereka mengganggu warga jemaat yang lain, sehingga lebih baik mereka tinggal di rumah daripada datang ke gereja dan membuat kekacauan dalam ibadah; (3) kondisi isik atau psikis yang dialami oleh ABK adalah hukuman Tuhan atas mereka atau dosa orang tua mereka (Aritonang dan Aritonang 2017, 192-196). Cara berpikir seperti ini masih menguasai banyak warga jemaat. Gereja dilihat sebagai rumah bagi orang-orang yang dinilai

Nancy Eiesland

Adalah penulis buku “The Disabled God.” Teologi disabilitas yang dikembangkan olehnya memberikan p e n c e r a h a n b a g i o r a n g - o r a n g b e r k e b u t u h a n k h u s u s . Te r l a h i r d e n g a n k o n d i s i c o n g e n i t a l b o n e d e f e c t , d a n serangkaian upaya pemulihan melalui o p e r a s i t i d a k m e m b a w a h a s i l seperti diharapkan. Pengajaran tentang A l l a h d i S e k o l a h M i n g g u b a h w a m a n u s i a a d a l a h ciptaan Allah yang i s t i m e w a membawanya dalam p e r g u l a t a n i m a n , m e n g a p a i a diciptakan dengan kondisi disabilitas. S e b u a h m i m p i tentang Allah yang tubuhnya ringkih, dan dalam kondisi d i s a b i l i t a s p a d a akhirnya melahirkan p e m a k n a a n b a r u tentang Allah yang selama ini dikenal

(22)

2 3

BAB 1

Pelayanan Gereja

Bagi Anak

Berkebutuhan

Khusus

A. Landasan Alkitabiah dan Teologis Pelayanan

Gereja Bagi Anak Sekolah Minggu Berkebu-tuhan Khusus

Gereja adalah “rumah” bagi semua orang. Oleh karena itu, siapapun seharusnya disambut dan diterima dalam rumah bersama ini. Sebagai rumah bagi semua orang, Gereja sudah selayaknya menolong setiap warga jemaat untuk bertumbuh dalam pengenalan yang benar akan Tuhan dan terhubung dengan warga jemaat lain sehingga mereka belajar bersama untuk saling menghargai satu dengan yang lain. Sebagai rumah bagi semua orang, Gereja harus mengajar umatnya untuk menerima mereka yang berbeda: suku, ras, usia, karakter, kehidupan ekonomi, dan keadaan diri. Sayangnya, dalam praktik hidup menggereja, warga jemaat (terlebih anak-anak) berkebutuhan khusus belum sepenuhnya diterima oleh Gereja. Dengan mengatakan belum semua Gereja, itu berarti ada juga Gereja-baik pada aras lokal maupun sinodal-yang terbuka menerima warga jemaat berkebutuhan khusus. Kepada gereja-gereja ini, apresiasi patut diberikan.

Gereja dan Anak Berkebutuhan Khusus

Mengapa belum semua Gereja bisa menerima bahkan memberi perhatian kepada warga jemaat, terlebih ABK? Salah satu alasan utama penyebab kurangnya perhatian Gereja adalah karena stigma (suatu ciri negatif yang dilekatkan kepada diri seseorang atau sekelompok orang) yang berkembang di kalangan warga jemaat terhadap ABK. Misalnya: (1) ABK itu lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Oleh karenanya, mereka tidak perlu dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan gereja; (2) ABK adalah pengganggu dalam ibadah. Kehadiran mereka mengganggu warga jemaat yang lain, sehingga lebih baik mereka tinggal di rumah daripada datang ke gereja dan membuat kekacauan dalam ibadah; (3) kondisi isik atau psikis yang dialami oleh ABK adalah hukuman Tuhan atas mereka atau dosa orang tua mereka (Aritonang dan Aritonang 2017, 192-196). Cara berpikir seperti ini masih menguasai banyak warga jemaat. Gereja dilihat sebagai rumah bagi orang-orang yang dinilai

Nancy Eiesland

Adalah penulis buku “The Disabled God.” Teologi disabilitas yang dikembangkan olehnya memberikan p e n c e r a h a n b a g i o r a n g - o r a n g b e r k e b u t u h a n k h u s u s . Te r l a h i r d e n g a n k o n d i s i c o n g e n i t a l b o n e d e f e c t , d a n serangkaian upaya pemulihan melalui o p e r a s i t i d a k m e m b a w a h a s i l seperti diharapkan. Pengajaran tentang A l l a h d i S e k o l a h M i n g g u b a h w a m a n u s i a a d a l a h ciptaan Allah yang i s t i m e w a membawanya dalam p e r g u l a t a n i m a n , m e n g a p a i a diciptakan dengan kondisi disabilitas. S e b u a h m i m p i tentang Allah yang tubuhnya ringkih, dan dalam kondisi d i s a b i l i t a s p a d a akhirnya melahirkan p e m a k n a a n b a r u tentang Allah yang selama ini dikenal

(23)

4 5 “sempurna atau normal“ secara isik dan psikis.

Akibat dari cara berpikir yang demikian, maka tidaklah mengherankan kalau ABK (dan keluarganya) tidak disambut dengan ramah di Gereja. Bahkan beberapa kali harus mengalami penolakan secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini menyebabkan para ABK dan orang tua mereka menjadi kecewa terhadap Gereja. Rasa kecewa ini membuat banyak orang tua memutuskan untuk tidak membawa anak-anak mereka ke Sekolah Minggu, ibadah umum atau berbagai kegiatan gereja lainnya, dan lebih memilih untuk beribadah bersama mereka di rumah. Padahal, dari sisi orangtua yang memiliki ABK, menerima realita bahwa anak-anak mereka terlahir dalam keadaan yang demikian pun, bukanlah hal yang mudah. Menurut Wardani sebagaimana dikutip oleh Agustini, para orang tua setidaknya harus melewati beberapa tahap untuk sampai pada tahap penerimaan, yaitu: “shock dan terganggu, penolakan, kesedihan, kecemasan dan ketakutan, marah, dan akhirnya menyesuaikan diri” (Agustini 2018, 30). Menurut Telford dan Sawrey sebagaimana dikutip oleh Agustini, reaksi para orang tua terhadap realitas ini juga beragam, antara lain: “mengatasi secara realistik masalah anak, menolak kecacatan (disabilitas) anak, mengasihi diri sendiri, perasaan ambivalen, proyeksi, rasa bersalah malu dan depresi, serta rasa saling ketergantungan” (Agustini 2018, 31-32). Dengan melihat ragam reaksi dari para orang tua ini, maka kita menyadari sungguh bahwa realitas hidup bersama dengan ABK bukanlah hal yang mudah, namun tidak kemudian menjadi alasan untuk tidak peduli dan mengabaikan mereka. Topangan warga jemaat yang lain sungguh dibutuhkan, sehingga ABK dan para orang tua mereka tidak merasa berjalan sendiri.

Cara pandang yang keliru ini berdampak pula pada cara Gereja bersikap terhadap ABK. Beberapa contoh diantaranya adalah:

(1) Memberikan nama khusus (pelabelan) kepada ABK sebagai anak yang tidak bisa apa-apa, pencipta kegaduhan, berisik, dan sebagainya.

(2) Desain dan arsitektur Gereja yang yang tidak terlalu memadai dan tidak ramah bagi ABK. “Ramah” yang dimaksudkan di sini adalah bagaimana sarana dan p r a s a r a n a g e r e j a m e m u d a h k a n b a h k a n memungkinkan ABK bisa beraktivitas secara mandiri. Misalnya, tangga gereja yang terlalu tinggi seringkali membuat anak-anak yang buta sulit menapakinya satu per satu termasuk juga mereka yang menggunakan kursi roda; atau toilet umum yang tidak memiliki perangkat khusus di dalamnya yang menyulitkan ABK menggunakannya.

(3) Desain-desain ibadah dan model pembelajaran yang tidak membuka ruang secara maksimal untuk ABK b i s a b e r p a r t i s i p a s i d i d a l a m nya . M i s a l nya : ketersediaan media visual, gambar, gerakan tubuh, ekspresi wajah, dan sebagainya.

Beberapa contoh di atas, sedikit-banyaknya memperlihatkan bahwa Gereja, mulai dari tingkat pemimpin sampai dengan umatnya belum sepenuhnya siap menerima orang-orang, terlebih ABK, yang sebenarnya adalah warga Gereja. Padahal, Gereja selalu mengklaim dirinya sebagai persekutuan yang terbuka terhadap siapa saja. Tindakan Allah yang terbuka dan menyambut siapa saja, rupa-rupanya belum dihidupi secara maksimal oleh Gereja. Sikap dan perilaku Gereja yang demikian memperlihatkan secara jelas apa yang dikatakan oleh Nancy L. Eiesland dalam bukunya berjudul The Disabled God: Toward a Liberatory Theology of Disability, bahwa Gereja dalam pandangan orang-orang berkebutuhan khusus seperti “city on a hill” – kota di atas bukit, sesuatu yang jauh dan tak terjangkau oleh orang-orang berkebutuhan khusus (Eiesland 1994, 20).

Mengapa Gereja Perlu Bersikap Ramah

terhadap ABK?

Menjadi Gereja yang ramah terhadap ABK adalah sebuah pilihan yang harus dibuat dan dilakukan oleh Gereja. Ada sejumlah alasan mengapa Gereja harus bersikap ramah

sebagai Allah Yang Maha Kuasa, menjadi Allah sebagai seorang d i s a b i l i t a s , y a n g b e r p i h a k k e p a d a kaum disabilitas. https://bit.ly/34SMeI 8

(24)

4 5 “sempurna atau normal“ secara isik dan psikis.

Akibat dari cara berpikir yang demikian, maka tidaklah mengherankan kalau ABK (dan keluarganya) tidak disambut dengan ramah di Gereja. Bahkan beberapa kali harus mengalami penolakan secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini menyebabkan para ABK dan orang tua mereka menjadi kecewa terhadap Gereja. Rasa kecewa ini membuat banyak orang tua memutuskan untuk tidak membawa anak-anak mereka ke Sekolah Minggu, ibadah umum atau berbagai kegiatan gereja lainnya, dan lebih memilih untuk beribadah bersama mereka di rumah. Padahal, dari sisi orangtua yang memiliki ABK, menerima realita bahwa anak-anak mereka terlahir dalam keadaan yang demikian pun, bukanlah hal yang mudah. Menurut Wardani sebagaimana dikutip oleh Agustini, para orang tua setidaknya harus melewati beberapa tahap untuk sampai pada tahap penerimaan, yaitu: “shock dan terganggu, penolakan, kesedihan, kecemasan dan ketakutan, marah, dan akhirnya menyesuaikan diri” (Agustini 2018, 30). Menurut Telford dan Sawrey sebagaimana dikutip oleh Agustini, reaksi para orang tua terhadap realitas ini juga beragam, antara lain: “mengatasi secara realistik masalah anak, menolak kecacatan (disabilitas) anak, mengasihi diri sendiri, perasaan ambivalen, proyeksi, rasa bersalah malu dan depresi, serta rasa saling ketergantungan” (Agustini 2018, 31-32). Dengan melihat ragam reaksi dari para orang tua ini, maka kita menyadari sungguh bahwa realitas hidup bersama dengan ABK bukanlah hal yang mudah, namun tidak kemudian menjadi alasan untuk tidak peduli dan mengabaikan mereka. Topangan warga jemaat yang lain sungguh dibutuhkan, sehingga ABK dan para orang tua mereka tidak merasa berjalan sendiri.

Cara pandang yang keliru ini berdampak pula pada cara Gereja bersikap terhadap ABK. Beberapa contoh diantaranya adalah:

(1) Memberikan nama khusus (pelabelan) kepada ABK sebagai anak yang tidak bisa apa-apa, pencipta kegaduhan, berisik, dan sebagainya.

(2) Desain dan arsitektur Gereja yang yang tidak terlalu memadai dan tidak ramah bagi ABK. “Ramah” yang dimaksudkan di sini adalah bagaimana sarana dan p r a s a r a n a g e r e j a m e m u d a h k a n b a h k a n memungkinkan ABK bisa beraktivitas secara mandiri. Misalnya, tangga gereja yang terlalu tinggi seringkali membuat anak-anak yang buta sulit menapakinya satu per satu termasuk juga mereka yang menggunakan kursi roda; atau toilet umum yang tidak memiliki perangkat khusus di dalamnya yang menyulitkan ABK menggunakannya.

(3) Desain-desain ibadah dan model pembelajaran yang tidak membuka ruang secara maksimal untuk ABK b i s a b e r p a r t i s i p a s i d i d a l a m nya . M i s a l nya : ketersediaan media visual, gambar, gerakan tubuh, ekspresi wajah, dan sebagainya.

Beberapa contoh di atas, sedikit-banyaknya memperlihatkan bahwa Gereja, mulai dari tingkat pemimpin sampai dengan umatnya belum sepenuhnya siap menerima orang-orang, terlebih ABK, yang sebenarnya adalah warga Gereja. Padahal, Gereja selalu mengklaim dirinya sebagai persekutuan yang terbuka terhadap siapa saja. Tindakan Allah yang terbuka dan menyambut siapa saja, rupa-rupanya belum dihidupi secara maksimal oleh Gereja. Sikap dan perilaku Gereja yang demikian memperlihatkan secara jelas apa yang dikatakan oleh Nancy L. Eiesland dalam bukunya berjudul The Disabled God: Toward a Liberatory Theology of Disability, bahwa Gereja dalam pandangan orang-orang berkebutuhan khusus seperti “city on a hill” – kota di atas bukit, sesuatu yang jauh dan tak terjangkau oleh orang-orang berkebutuhan khusus (Eiesland 1994, 20).

Mengapa Gereja Perlu Bersikap Ramah

terhadap ABK?

Menjadi Gereja yang ramah terhadap ABK adalah sebuah pilihan yang harus dibuat dan dilakukan oleh Gereja. Ada sejumlah alasan mengapa Gereja harus bersikap ramah

sebagai Allah Yang Maha Kuasa, menjadi Allah sebagai seorang d i s a b i l i t a s , y a n g b e r p i h a k k e p a d a kaum disabilitas. https://bit.ly/34SMeI 8

(25)

6 7 terhadap warga jemaat (terlebih kelompok anak)

berkebutuhan khusus. Alasan pertama, Gereja adalah rumah yang terbuka bagi semua orang yang di dalamnya berhimpun seluruh umat dari berbagai latar belakang dan kondisi isik/psikis. Oleh karena Gereja adalah rumah, maka siapa saja boleh datang, dan yang datang harus disambut dengan sebaik mungkin oleh anggota keluarga yang lain. Keterbukaan di sini tidak hanya bersifat basa-basi. Sebab dalam praktiknya banyak yang mengatakan terbuka terhadap berbagai perbedaan namun dalam kenyataannya sikap terhadap ABK masih dipandang sebelah mata oleh komunitas. ABK tidak boleh dipandang dan diperlakukan sebagai kelompok kesekian atau pelengkap dalam kehidupan bergereja. Mereka adalah orang-orang yang berharga di hadapan Allah.

Alasan kedua, anak membutuhkan komunitas iman untuk bertumbuh dan berkembang. Kehadiran anak di Gereja membuka ruang baginya untuk bisa berinteraksi dengan teman-teman sebayanya maupun dengan warga jemaat lain yang datang dari generasi yang berbeda-beda. Dari semua orang yang berbeda ini, anak belajar tentang menjadi seorang Kristen. Itu sebabnya, pola relasi dan komunikasi yang dikembangkan di dalam Gereja haruslah mencerminkan kasih yang merangkul sesama tanpa batas (Mercer 2005, 11- 12). Pola relasi dan komunikasi yang ramah terhadap anak-a n 12). Pola relasi dan komunikasi yang ramah terhadap anak-a k b e r ke b u t u h 12). Pola relasi dan komunikasi yang ramah terhadap anak-a n k h u s u s 12). Pola relasi dan komunikasi yang ramah terhadap anak-a k 12). Pola relasi dan komunikasi yang ramah terhadap anak-a n m e m p e n g 12). Pola relasi dan komunikasi yang ramah terhadap anak-a r u h i pertumbuhan iman (spiritualitas) sang anak, termasuk orang tuanya. Sebab, anak belajar pertama-tama melalui pengamatannya terhadap lingkungan sekitar. Jika lingkungan, tempat dimana dia bertumbuh, ramah terhadapnya, maka anak akan merasa diterima dan dihargai dengan segala keberadaan dirinya. Namun, jika lingkungan, tempat dimana dia bertumbuh dan berkembang, menolak dan mendiskriminasikannya, maka anak akan menganggap dirinya tidak diterima di dalam komunitas. Pembentukan dan pertumbuhan iman seorang anak terjadi ketika ia berelasi dan berinteraksi dalam komunitas iman (Westerhoff, 2012, 48).

Alasan ketiga, dengan menerima anak berkebutuhan khusus, Gereja mempraktikkan dalam tindakan ajarannya tentang kasih, keadilan dan penerimaan terhadap yang lain. Ajaran tentang kasih, keadilan dan penerimaan terhadap yang lain bukanlah slogan yang hanya untuk diucapkan saja dari waktu ke waktu, melainkan harus mewujud dalam sikap dan perilaku hidup setiap warga Gereja. Dengan menjadikan hal ini sebagai gaya hidup, maka secara tidak langsung warga Gereja sementara meneladankan sesuatu yang baik bagi ABK dan bagi generasi-generasi berikutnya.

Alasan keempat, dengan menerima ABK dalam komunitas bergereja, Gereja menjadi model bagi masyarakat tentang bagaimana bersikap terhadap ABK. Meskipun pemerintah Indonesia sudah mengeluarkan Undang-undang No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan menegaskan bahwa ABK memiliki kedudukan, hak, kewajiban, dan peran yang sama yang harus dipenuhi sama seperti warga Indonesia lainnya, namun faktanya UU ini belum sepenuhnya menuntun cara masyarakat Indonesia bersikap terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka masih mengalami diskriminasi dan perlakuan tidak adil dari masyarakat. Masyarakat Indonesia masih membutuhkan sejumlah role model dan di sinilah Gereja bisa mengampanyekan yang tepat melalui tutur dan laku, maka akan menjadi contoh yang baik bagi masyarakat luas.

Alasan kelima, semua manusia pada waktu tertentu memiliki keterbatasan dan kerapuhan. Hal ini disebabkan karena tubuh manusia tidak selamanya berfungsi dengan baik di sepanjang waktu hidupnya; pada waktu-waktu tertentu siapa saja bisa mengalami keadaan khusus (lih. Creamer 2019, 31).

Bentuk-bentuk Keramahan Gereja terhadap

ABK

Dengan berdasar pada prinsip-prinsip di atas, maka Gereja bisa melakukan berbagai hal sehingga ABK merasakan Gereja sebagai rumah mereka. Bentuk-bentuk pelayanan Gereja ini

(26)

6 7 terhadap warga jemaat (terlebih kelompok anak)

berkebutuhan khusus. Alasan pertama, Gereja adalah rumah yang terbuka bagi semua orang yang di dalamnya berhimpun seluruh umat dari berbagai latar belakang dan kondisi isik/psikis. Oleh karena Gereja adalah rumah, maka siapa saja boleh datang, dan yang datang harus disambut dengan sebaik mungkin oleh anggota keluarga yang lain. Keterbukaan di sini tidak hanya bersifat basa-basi. Sebab dalam praktiknya banyak yang mengatakan terbuka terhadap berbagai perbedaan namun dalam kenyataannya sikap terhadap ABK masih dipandang sebelah mata oleh komunitas. ABK tidak boleh dipandang dan diperlakukan sebagai kelompok kesekian atau pelengkap dalam kehidupan bergereja. Mereka adalah orang-orang yang berharga di hadapan Allah.

Alasan kedua, anak membutuhkan komunitas iman untuk bertumbuh dan berkembang. Kehadiran anak di Gereja membuka ruang baginya untuk bisa berinteraksi dengan teman-teman sebayanya maupun dengan warga jemaat lain yang datang dari generasi yang berbeda-beda. Dari semua orang yang berbeda ini, anak belajar tentang menjadi seorang Kristen. Itu sebabnya, pola relasi dan komunikasi yang dikembangkan di dalam Gereja haruslah mencerminkan kasih yang merangkul sesama tanpa batas (Mercer 2005, 11- 12). Pola relasi dan komunikasi yang ramah terhadap anak-a n 12). Pola relasi dan komunikasi yang ramah terhadap anak-a k b e r ke b u t u h 12). Pola relasi dan komunikasi yang ramah terhadap anak-a n k h u s u s 12). Pola relasi dan komunikasi yang ramah terhadap anak-a k 12). Pola relasi dan komunikasi yang ramah terhadap anak-a n m e m p e n g 12). Pola relasi dan komunikasi yang ramah terhadap anak-a r u h i pertumbuhan iman (spiritualitas) sang anak, termasuk orang tuanya. Sebab, anak belajar pertama-tama melalui pengamatannya terhadap lingkungan sekitar. Jika lingkungan, tempat dimana dia bertumbuh, ramah terhadapnya, maka anak akan merasa diterima dan dihargai dengan segala keberadaan dirinya. Namun, jika lingkungan, tempat dimana dia bertumbuh dan berkembang, menolak dan mendiskriminasikannya, maka anak akan menganggap dirinya tidak diterima di dalam komunitas. Pembentukan dan pertumbuhan iman seorang anak terjadi ketika ia berelasi dan berinteraksi dalam komunitas iman (Westerhoff, 2012, 48).

Alasan ketiga, dengan menerima anak berkebutuhan khusus, Gereja mempraktikkan dalam tindakan ajarannya tentang kasih, keadilan dan penerimaan terhadap yang lain. Ajaran tentang kasih, keadilan dan penerimaan terhadap yang lain bukanlah slogan yang hanya untuk diucapkan saja dari waktu ke waktu, melainkan harus mewujud dalam sikap dan perilaku hidup setiap warga Gereja. Dengan menjadikan hal ini sebagai gaya hidup, maka secara tidak langsung warga Gereja sementara meneladankan sesuatu yang baik bagi ABK dan bagi generasi-generasi berikutnya.

Alasan keempat, dengan menerima ABK dalam komunitas bergereja, Gereja menjadi model bagi masyarakat tentang bagaimana bersikap terhadap ABK. Meskipun pemerintah Indonesia sudah mengeluarkan Undang-undang No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan menegaskan bahwa ABK memiliki kedudukan, hak, kewajiban, dan peran yang sama yang harus dipenuhi sama seperti warga Indonesia lainnya, namun faktanya UU ini belum sepenuhnya menuntun cara masyarakat Indonesia bersikap terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka masih mengalami diskriminasi dan perlakuan tidak adil dari masyarakat. Masyarakat Indonesia masih membutuhkan sejumlah role model dan di sinilah Gereja bisa mengampanyekan yang tepat melalui tutur dan laku, maka akan menjadi contoh yang baik bagi masyarakat luas.

Alasan kelima, semua manusia pada waktu tertentu memiliki keterbatasan dan kerapuhan. Hal ini disebabkan karena tubuh manusia tidak selamanya berfungsi dengan baik di sepanjang waktu hidupnya; pada waktu-waktu tertentu siapa saja bisa mengalami keadaan khusus (lih. Creamer 2019, 31).

Bentuk-bentuk Keramahan Gereja terhadap

ABK

Dengan berdasar pada prinsip-prinsip di atas, maka Gereja bisa melakukan berbagai hal sehingga ABK merasakan Gereja sebagai rumah mereka. Bentuk-bentuk pelayanan Gereja ini

(27)

8 9 harus holistik, tidak bisa terpisah-pisah. Beberapa di

antaranya adalah: Pertama, semua warga Gereja memiliki cara pandang yang benar terhadap para ABK. Cara pandang yang benar akan terlihat secara jelas dalam sikap dan perilaku terhadap ABK. Contoh tindakan sederhana yang bisa memberikan dampak luar biasa jika serius dilakukan adalah stop pelabelan. Pelabelan adalah proses mengaitkan sebuah kondisi atau keadaan tertentu dengan penilaian negatif yang bernilai sama. Misalnya: ABK suka merepotkan, ABK adalah pengganggu, dan ABK tidak bisa berbuat apa-apa. Kedua, menggunakan sapaan/istilah yang benar dan ramah dalam menyapa ABK. Kata “cacat” dan “tuna” sudah seyogyanya tidak digunakan lagi untuk menyapa ABK. Kata “cacat” memberi kesan tegas bahwa ada yang terlahir sempurna, dan ada yang tidak, dan ABK dimasukkan dalam kategori yang tidak sempurna ini. Sedangkan, kata “tuna” berasal dari bahasa Jawa kuno, yang berarti rusak atau rugi. Ketiga, mendesain model-model peribadatan dan pembelajaran yang memperhatikan dengan seksama kebutuhan ABK sehingga mereka bisa terlibat dalam ibadah dan belajar bersama dengan anak-anak yang lain. Keempat, melibatkan ABK dalam berbagai aktivitas gerejawi, baik itu di lingkup Sekolah Minggu, ibadah umum maupun berbagai kegiatan Gereja lainnya. Kelima, sarana-prasarana termasuk arsitektur Gereja harus ramah terhadap ABK.

B. Landasan Psikologis tentang Pelayanan

G e r e j a b a g i A n a k S e k o l a h M i n g g u

Berkebutuhan Khusus

"Biarkan lah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga" (Mat. 19:14).

Merujuk pada ayat di atas, panggilan Yesus tidak hanya ditujukan bagi anak-anak yang akan duduk dengan tenang untuk mendengarkan Firman Tuhan serta tertib mengikuti

arahan selama ibadah berlangsung, tetapi juga bagi anak-anak yang menunjukkan beberapa karakteristik seperti: tampak asyik dengan dunianya sendiri, bernyanyi sendiri dengan suara keras, mau melakukan aktivitas sendiri dan tidak mau dibantu oleh guru maupun teman, menunjukkan sikap tidak suka bahkan menampilkan perilaku agresi (memukul teman). Sejumlah karakteristik tersebut umumnya di te m u i p a da m e re ka ya n g di se b u t se b a ga i a n a k berkebutuhan khusus. ABK adalah anak-anak yang menyimpang dari rata-rata anak normal dalam hal: ciri-ciri mental, kemampuan-kemampuan sensorik, isik, dan neuromuskular, perilaku sosial dan emosional, kemampuan berkomunikasi, maupun kombinasi dua atau lebih dari hal-hal di atas; sejauh ia membutuhkan penyesuaian terkait aspek akademik maupun pelayanan lainnya, yang ditujukan untuk mengembangkan potensi atau kapasitasnya secara maksimal (Mangunsong 2014).

Sebagaimana anak yang bertumbuh dan berkembang tanpa adanya hambatan tertentu, ABK juga memiliki hak memperoleh layanan pendidikan yang bermutu. Dari perspektif psikologis, tujuan dari pemberian layanan pendidikan adalah membantu anak berkembang sebagai pribadi yang utuh, sesuai dengan kemampuan terbaiknya. Tujuan ini tidak hanya berlaku pada layanan pendidikan formal, tetapi juga pendidikan informal seperti Sekolah Minggu. Jika di sekolah, ABK dibantu agar mereka berhasil dalam proses belajar, maka pelayanan Sekolah Minggu bagi ABK berupaya membantu mereka mengenal Kristus melalui berbagai cara yang terbaik, demi terpenuhinya kebutuhan akan pertumbuhan secara rohani atau spiritual.

Dalam keterbatasannya, ABK memiliki tantangan belajar yang unik. Namun demikian, jangan sampai tantangan belajar tersebut menjadi hambatan untuk mengenali kekuatan atau potensi mereka. Seringkali, kekuatan mereka tidak berhasil dikenali sejak dini karena kekhususan atau keterbatasannya yang menjadi fokus perhatian. Padahal, mereka lebih membutuhkan lingkungan yang mendukung untuk bisa bertumbuh dan berkembang secara optimal, khususnya di dalam mengembangkan hubungan mereka bersama Tuhan.

(28)

8 9 harus holistik, tidak bisa terpisah-pisah. Beberapa di

antaranya adalah: Pertama, semua warga Gereja memiliki cara pandang yang benar terhadap para ABK. Cara pandang yang benar akan terlihat secara jelas dalam sikap dan perilaku terhadap ABK. Contoh tindakan sederhana yang bisa memberikan dampak luar biasa jika serius dilakukan adalah stop pelabelan. Pelabelan adalah proses mengaitkan sebuah kondisi atau keadaan tertentu dengan penilaian negatif yang bernilai sama. Misalnya: ABK suka merepotkan, ABK adalah pengganggu, dan ABK tidak bisa berbuat apa-apa. Kedua, menggunakan sapaan/istilah yang benar dan ramah dalam menyapa ABK. Kata “cacat” dan “tuna” sudah seyogyanya tidak digunakan lagi untuk menyapa ABK. Kata “cacat” memberi kesan tegas bahwa ada yang terlahir sempurna, dan ada yang tidak, dan ABK dimasukkan dalam kategori yang tidak sempurna ini. Sedangkan, kata “tuna” berasal dari bahasa Jawa kuno, yang berarti rusak atau rugi. Ketiga, mendesain model-model peribadatan dan pembelajaran yang memperhatikan dengan seksama kebutuhan ABK sehingga mereka bisa terlibat dalam ibadah dan belajar bersama dengan anak-anak yang lain. Keempat, melibatkan ABK dalam berbagai aktivitas gerejawi, baik itu di lingkup Sekolah Minggu, ibadah umum maupun berbagai kegiatan Gereja lainnya. Kelima, sarana-prasarana termasuk arsitektur Gereja harus ramah terhadap ABK.

B. Landasan Psikologis tentang Pelayanan

G e r e j a b a g i A n a k S e k o l a h M i n g g u

Berkebutuhan Khusus

"Biarkan lah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga" (Mat. 19:14).

Merujuk pada ayat di atas, panggilan Yesus tidak hanya ditujukan bagi anak-anak yang akan duduk dengan tenang untuk mendengarkan Firman Tuhan serta tertib mengikuti

arahan selama ibadah berlangsung, tetapi juga bagi anak-anak yang menunjukkan beberapa karakteristik seperti: tampak asyik dengan dunianya sendiri, bernyanyi sendiri dengan suara keras, mau melakukan aktivitas sendiri dan tidak mau dibantu oleh guru maupun teman, menunjukkan sikap tidak suka bahkan menampilkan perilaku agresi (memukul teman). Sejumlah karakteristik tersebut umumnya di te m u i p a da m e re ka ya n g di se b u t se b a ga i a n a k berkebutuhan khusus. ABK adalah anak-anak yang menyimpang dari rata-rata anak normal dalam hal: ciri-ciri mental, kemampuan-kemampuan sensorik, isik, dan neuromuskular, perilaku sosial dan emosional, kemampuan berkomunikasi, maupun kombinasi dua atau lebih dari hal-hal di atas; sejauh ia membutuhkan penyesuaian terkait aspek akademik maupun pelayanan lainnya, yang ditujukan untuk mengembangkan potensi atau kapasitasnya secara maksimal (Mangunsong 2014).

Sebagaimana anak yang bertumbuh dan berkembang tanpa adanya hambatan tertentu, ABK juga memiliki hak memperoleh layanan pendidikan yang bermutu. Dari perspektif psikologis, tujuan dari pemberian layanan pendidikan adalah membantu anak berkembang sebagai pribadi yang utuh, sesuai dengan kemampuan terbaiknya. Tujuan ini tidak hanya berlaku pada layanan pendidikan formal, tetapi juga pendidikan informal seperti Sekolah Minggu. Jika di sekolah, ABK dibantu agar mereka berhasil dalam proses belajar, maka pelayanan Sekolah Minggu bagi ABK berupaya membantu mereka mengenal Kristus melalui berbagai cara yang terbaik, demi terpenuhinya kebutuhan akan pertumbuhan secara rohani atau spiritual.

Dalam keterbatasannya, ABK memiliki tantangan belajar yang unik. Namun demikian, jangan sampai tantangan belajar tersebut menjadi hambatan untuk mengenali kekuatan atau potensi mereka. Seringkali, kekuatan mereka tidak berhasil dikenali sejak dini karena kekhususan atau keterbatasannya yang menjadi fokus perhatian. Padahal, mereka lebih membutuhkan lingkungan yang mendukung untuk bisa bertumbuh dan berkembang secara optimal, khususnya di dalam mengembangkan hubungan mereka bersama Tuhan.

(29)

10 11 Oleh karena itu, pelayanan Sekolah Minggu idealnya bisa

menjadi tempat di mana anak-anak berkebutuhan khusus menerima lebih banyak cinta, perawatan, perhatian dan penerimaan dibandingkan di tempat lain (1Kor. 12:22-25). Melayani ABK tentu bukan perkara mudah, terutama dalam penerapan setting inklusif. Bukan lagi ABK yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya, melainkan guru-guru Sekolah Minggu yang melakukan adaptasi atau modi ikasi dalam pengajaran sesuai dengan kebutuhan anak-anak tersebut. Oleh karenanya, dibutuhkan leksibilitas, kreativitas dan sensitivitas GSM sehingga pelayanan Sekolah Minggu yang optimal bagi ABK dapat diberikan. Dalam upaya mewujudkan tujuan tersebut, GSM sebaiknya memiliki pengetahuan tentang karakteristik anak berkebutuhan khusus serta berbagai strategi yang dapat diterapkan dalam mengajar dan mendampingi mereka. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah pemahaman terhadap esensi dan prinsip-prinsip pembelajaran/pendidikan bagi ABK.

Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, esensi dari l a y a n a n p e n d i d i k a n b a g i A B K a d a l a h m e n c a p a i perkembangan anak secara utuh (mencakup aspek isik-motorik, kognitif, sosio-emosional, dan spiritual) dan optimal (sesuai kemampuan terbaik/potensi dirinya) untuk meningkatkan kualitas hidup (bahagia dan produktif ). Sehubungan dengan itu, prinsip-prinsip pembelajaran yang perlu diperhatikan GSM dalam pelayanan Sekolah Minggu antara lain kesetaraan (pemberian kesempatan yang sama bagi setiap anak untuk berkembang), penerimaan (tidak hanya oleh guru tetapi juga oleh teman-teman sebaya), keterpaduan dan keserasian antara aspek kognitif, afektif dan psikomotorik dalam membuat rencana belajar (termasuk menentukan metode/aktivitas belajar), serta konsistensi (pembiasaan/pengulangan).

C. Landasan Hukum Pelayanan Gereja bagi

Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus

Pemerintah Indonesia adalah salah satu negara yang ikut

mengesahkan Konvensi Hak Anak (KHA) yang dilakukan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 20 November 1989. Hari Pengesahan tersebut dijadikan menjadi Hari Anak Sedunia. Selanjutnya pada tanggal 26 Januari 1990, Indonesia ikut menandatangani KHA tersebut dan kemudian Presiden Soeharto mengesahkan KHA sebagai aturan hukuman positif dan merati ikasinya pada tanggal 5 September 1990 melalui Keputusan Presiden No. 36/1990. Dua belas tahun kemudian lahirlah Undang–Undang Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002 sebagai bukti negara Indonesia mengambil bagian dalam upaya perlindungan anak.

Pemerintah Indonesia juga mengakomodir pasal-pasal yang ada di KHA dan juga di UU Perlindungan Anak yang dimasukkan ke dalam agenda kerja nasional. Pada pasal 59 UU Perlindungan Anak, Negara Indonesia juga menjamin perlindungan khusus bagi semua anak termasuk anak dalam kategori disabilitas. Sebagai respon untuk anak berkebutuhan khusus pemerintah Indonesia juga mengeluarkan Undang-undang No. 8/2016 tentang Pe-nyandang Disabilitas.

Untuk mewujudkan dunia yang layak bagi anak maka setiap penyelenggara perlindungan anak dimulai dari orang tua/keluarga, negara dan masyarakat wajib memberikan prinsip dasar yang terbaik bagi anak. Adapun prinsip-prinsip yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1. Prinsip Umum Konvensi Hak Anak (KHA)

Prinsip umum Konvensi Hak Anak (KHA) menjadi pertimbangan dalam pada setiap penyusunan program termasuk juga dalam melakukan pendampingan atau pelayanan terhadap Anak. Empat prinsip dasar Hak Anak tersebut adalah sebagai berikut :

a. Non diskriminasi artinya semua hak yang diakui dan terkandung dalam KHA harus diberlakukan kepada setiap anak tanpa perbedaan apapun. Prinsip ini merupakan cerminan dan prinsip universal Hak Asasi Manusia (HAM).

(30)

10 11 Oleh karena itu, pelayanan Sekolah Minggu idealnya bisa

menjadi tempat di mana anak-anak berkebutuhan khusus menerima lebih banyak cinta, perawatan, perhatian dan penerimaan dibandingkan di tempat lain (1Kor. 12:22-25). Melayani ABK tentu bukan perkara mudah, terutama dalam penerapan setting inklusif. Bukan lagi ABK yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya, melainkan guru-guru Sekolah Minggu yang melakukan adaptasi atau modi ikasi dalam pengajaran sesuai dengan kebutuhan anak-anak tersebut. Oleh karenanya, dibutuhkan leksibilitas, kreativitas dan sensitivitas GSM sehingga pelayanan Sekolah Minggu yang optimal bagi ABK dapat diberikan. Dalam upaya mewujudkan tujuan tersebut, GSM sebaiknya memiliki pengetahuan tentang karakteristik anak berkebutuhan khusus serta berbagai strategi yang dapat diterapkan dalam mengajar dan mendampingi mereka. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah pemahaman terhadap esensi dan prinsip-prinsip pembelajaran/pendidikan bagi ABK.

Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, esensi dari l a y a n a n p e n d i d i k a n b a g i A B K a d a l a h m e n c a p a i perkembangan anak secara utuh (mencakup aspek isik-motorik, kognitif, sosio-emosional, dan spiritual) dan optimal (sesuai kemampuan terbaik/potensi dirinya) untuk meningkatkan kualitas hidup (bahagia dan produktif ). Sehubungan dengan itu, prinsip-prinsip pembelajaran yang perlu diperhatikan GSM dalam pelayanan Sekolah Minggu antara lain kesetaraan (pemberian kesempatan yang sama bagi setiap anak untuk berkembang), penerimaan (tidak hanya oleh guru tetapi juga oleh teman-teman sebaya), keterpaduan dan keserasian antara aspek kognitif, afektif dan psikomotorik dalam membuat rencana belajar (termasuk menentukan metode/aktivitas belajar), serta konsistensi (pembiasaan/pengulangan).

C. Landasan Hukum Pelayanan Gereja bagi

Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus

Pemerintah Indonesia adalah salah satu negara yang ikut

mengesahkan Konvensi Hak Anak (KHA) yang dilakukan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 20 November 1989. Hari Pengesahan tersebut dijadikan menjadi Hari Anak Sedunia. Selanjutnya pada tanggal 26 Januari 1990, Indonesia ikut menandatangani KHA tersebut dan kemudian Presiden Soeharto mengesahkan KHA sebagai aturan hukuman positif dan merati ikasinya pada tanggal 5 September 1990 melalui Keputusan Presiden No. 36/1990. Dua belas tahun kemudian lahirlah Undang–Undang Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002 sebagai bukti negara Indonesia mengambil bagian dalam upaya perlindungan anak.

Pemerintah Indonesia juga mengakomodir pasal-pasal yang ada di KHA dan juga di UU Perlindungan Anak yang dimasukkan ke dalam agenda kerja nasional. Pada pasal 59 UU Perlindungan Anak, Negara Indonesia juga menjamin perlindungan khusus bagi semua anak termasuk anak dalam kategori disabilitas. Sebagai respon untuk anak berkebutuhan khusus pemerintah Indonesia juga mengeluarkan Undang-undang No. 8/2016 tentang Pe-nyandang Disabilitas.

Untuk mewujudkan dunia yang layak bagi anak maka setiap penyelenggara perlindungan anak dimulai dari orang tua/keluarga, negara dan masyarakat wajib memberikan prinsip dasar yang terbaik bagi anak. Adapun prinsip-prinsip yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1. Prinsip Umum Konvensi Hak Anak (KHA)

Prinsip umum Konvensi Hak Anak (KHA) menjadi pertimbangan dalam pada setiap penyusunan program termasuk juga dalam melakukan pendampingan atau pelayanan terhadap Anak. Empat prinsip dasar Hak Anak tersebut adalah sebagai berikut :

a. Non diskriminasi artinya semua hak yang diakui dan terkandung dalam KHA harus diberlakukan kepada setiap anak tanpa perbedaan apapun. Prinsip ini merupakan cerminan dan prinsip universal Hak Asasi Manusia (HAM).

Referensi

Dokumen terkait