• Tidak ada hasil yang ditemukan

Memahami Anak Sekolah Minggu

Berkebutuhan

Khusus

AMOS YONG Ia melakukan pende-katan untuk melihat orang-orang berke-butuhan khusus se-b a g a i c i t r a A l l a h sekaligus penerima k a r u n i a . K o n d i s i d i s a b i l i t a s t i d a k d i l i h a t s e b a g a i p e n g h a m b a t b a g i seseorang untuk ikut berkarya dalam misi A l l a h , t e r m a s u k bagaimana menemu-kan makna dibalik kondisi disabilitas yang dialami, tidak t e r f o k u s p a d a b a g a i m a n a m e m b e r a n t a s disabilitas. https://bit.ly/34SMe I8

14 15

Semua anak berkebutuhan khusus berhak

memperoleh pendidikan yang bermutu dan

sesuai dengan kebutuhannya. Mengapa?

Secara iloso is, anak berkebutuhan khusus memiliki k e b u t u h a n u n t u k h i d u p , b e r k e m b a n g d a n mengaktualisasikan diri, sebagaimana manusia lainnya. Secara yuridis, dimata hukum ABK memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Secara pedagogis- psikologis, ABK memiliki potensi yang dapat dikembangkan, sehingga dapat bermanfaat dan memberi kontribusi bagi diri dan masyarakatnya. Secara sosiologis, manusia perlu saling membantu dan memfasilitasi satu sama lain untuk maju dan berkembang supaya terbangun kehidupan bersama yang berkualitas.

A. Mengapa ABK Perlu Dilayani Secara Inklusif?

MISI UNTUK SEMUA. Ini adalah sebuah idealisme yang sepatutnya menjadi aspirasi dari kita semua. Dengan standar yang semakin meningkat dalam hal perawatan kesehatan, maka sudah sepantasnya orang-orang berkebutuhan khusus lebih dihargai dan diperlakukan setara dengan yang lain. Mereka juga harus bisa hidup di tengah-tengah masyarakat, bukan dalam institusi, apalagi menjadi kelompok yang terpinggirkan dalam masyarakat yang kompetitif. Kepedulian yang tulus kepada orang-orang berkebutuhan khusus menolong kita melihat mereka secara holistik. Institusi-institusi kerap lebih fokus pada masalah-masalah disabilitas atau kekurangan tertentu, sehingga memaksakan suatu model medis tentang disabilitas. Namun, orang-orang berkebutuhan khusus yang cukup mandiri cenderung untuk memperjuangkan hak-haknya. Apakah Gereja terlibat dalam penyediaan perawatan, rehabilitasi, atau pelayanan kepada atau bersama orang-orang dengan disabilitas. Gereja perlu menegaskan sikapnya berkenaan dengan kesetaraan dan

BAB 2

Memahami Anak

Sekolah Minggu

Berkebutuhan

Khusus

AMOS YONG Ia melakukan pende-katan untuk melihat orang-orang berke-butuhan khusus se-b a g a i c i t r a A l l a h sekaligus penerima k a r u n i a . K o n d i s i d i s a b i l i t a s t i d a k d i l i h a t s e b a g a i p e n g h a m b a t b a g i seseorang untuk ikut berkarya dalam misi A l l a h , t e r m a s u k bagaimana menemu-kan makna dibalik kondisi disabilitas yang dialami, tidak t e r f o k u s p a d a b a g a i m a n a m e m b e r a n t a s disabilitas. https://bit.ly/34SMe I8

16 17 martabat, yang sejalan dengan pesan Kristiani dan

menyokong pelaksanaannya secara penuh.

Menurut de inisinya, Gereja adalah sebuah komunitas dan tempat yang terbuka, yang mengundang setiap orang tanpa membeda-bedakan. Ini adalah sebuah tempat yang penuh kehangatan dan penerimaan, seperti dilukiskan oleh pesan Tuhan yang diterima oleh Abraham dan Sarah di dalam Perjanjian Lama (Kej. 18). Sebuah cerminan di dunia akan persatuan ilahi yang juga disembah dalam Allah Tritunggal. Gereja adalah sebuah komunitas yang mencakup orang-orang dengan berbagai karunia yang saling melengkapi. Ini sebuah visi tentang keutuhan, juga kesembuhan, kepedulian serta saling berbagi. Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus (1Kor 12:12).

Kasih Tuhan mendorong kita untuk peduli terhadap sesama, apa pun perbedaan yang mereka miliki. Sebagai gambar Allah, kita diciptakan untuk hidup saling berdampingan dengan manusia lain. Maka, Misi Gereja bagi orang-orang berkebutuhan khusus, terlebih anak-anak adalah menyalurkan kasih yang transformatif (mengubahkan), yang dapat membuat tindakan-tindakan keadilan dapat terlaksana. Kasih transformatif yang diberikan pada orang-orang berkebutuhan khusus memberi mereka keyakinan diri dan perasaan bahwa dirinya bermartabat (Agustini 2018, 70-71).

B. Arah dan Tujuan Pengajaran bagi ABK

Mengapa Gereja Perlu Mendesain Pelayanan yang Inklusif?

Setidaknya ada tiga tujuan dasar berdasarkan iman Kristen, di balik semangat inklusi ini, yaitu:

1. Menghadirkan kasih Tuhan yang memberikan kesempatan yang sama bagi anak-anak untuk datang

kepada-Nya – termasuk anak-anak yang menyandang disabilitas. Sebab setiap anak adalah citra Allah, dikasihi dan diterima Allah sepenuhnya.

2. Menciptakan ruang inklusi bagi anak untuk belajar hidup dalam keberagaman: berbagi kasih, saling memberi dan menerima di tengah berbagai perbedaan yang ada. Di dalam Kristus, setiap anak adalah pribadi yang merdeka. Penyandang disabilitas pun tidak lebih rendah dari yang lain karena kondisi yang dialaminya.

3. Ikut membangun generasi yang mereformasi sistem yang memarginalkan penyandang disabilitas, dengan meneladani kasih Kristus yang tidak membedakan orang. Berdasarkan uraian di atas, maka ada sejumlah prinsip pokok yang perlu diperhatikan dan dikembangkan oleh Gereja dalam pelayanan dan juga pendidikan bagi penyandang disabilitas, yang dalam konteks belajar dikaitkan dengan anak/siswa/murid berkebutuhan khusus, yang memerlukan pendekatan serta strategi khusus agar bisa mengembangkan potensinya secara maksimal

Jenis Kebutuhan Khusus

Dalam Pasal 4 Penjelasan atas UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, dijelaskan tentang de inisi s e t i a p r a g a m d i s a b i l i t a s a d a l a h (https://lingkarsosial.org/mengenal-ragam-disabilitas/12 Juli 2020):

a. “Penyandang Disabilitas Fisik” adalah terganggunya fungsi gerak, antara lain amputasi, lumpuh layuh atau kaku, paraplegia, kelumpuhan otak, akibat stroke, akibat kusta, dan orang kecil/kerdil.

b. Pe nya n d a n g D i s a b i l i t a s I n te l e k t u a l ” a d a l a h terganggunya fungsi pikir karena tingkat kecerdasan dibawah rata-rata antara lain lambat belajar, disabilitas grahita dan Down Syndrome.

c. “Penyandang Disabilitas Mental” adalah terganggunya f u n g s i p i k i r, e m o s i , d a n p e r i l a k u , a n t a r a

16 17 martabat, yang sejalan dengan pesan Kristiani dan

menyokong pelaksanaannya secara penuh.

Menurut de inisinya, Gereja adalah sebuah komunitas dan tempat yang terbuka, yang mengundang setiap orang tanpa membeda-bedakan. Ini adalah sebuah tempat yang penuh kehangatan dan penerimaan, seperti dilukiskan oleh pesan Tuhan yang diterima oleh Abraham dan Sarah di dalam Perjanjian Lama (Kej. 18). Sebuah cerminan di dunia akan persatuan ilahi yang juga disembah dalam Allah Tritunggal. Gereja adalah sebuah komunitas yang mencakup orang-orang dengan berbagai karunia yang saling melengkapi. Ini sebuah visi tentang keutuhan, juga kesembuhan, kepedulian serta saling berbagi. Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus (1Kor 12:12).

Kasih Tuhan mendorong kita untuk peduli terhadap sesama, apa pun perbedaan yang mereka miliki. Sebagai gambar Allah, kita diciptakan untuk hidup saling berdampingan dengan manusia lain. Maka, Misi Gereja bagi orang-orang berkebutuhan khusus, terlebih anak-anak adalah menyalurkan kasih yang transformatif (mengubahkan), yang dapat membuat tindakan-tindakan keadilan dapat terlaksana. Kasih transformatif yang diberikan pada orang-orang berkebutuhan khusus memberi mereka keyakinan diri dan perasaan bahwa dirinya bermartabat (Agustini 2018, 70-71).

B. Arah dan Tujuan Pengajaran bagi ABK

Mengapa Gereja Perlu Mendesain Pelayanan yang Inklusif?

Setidaknya ada tiga tujuan dasar berdasarkan iman Kristen, di balik semangat inklusi ini, yaitu:

1. Menghadirkan kasih Tuhan yang memberikan kesempatan yang sama bagi anak-anak untuk datang

kepada-Nya – termasuk anak-anak yang menyandang disabilitas. Sebab setiap anak adalah citra Allah, dikasihi dan diterima Allah sepenuhnya.

2. Menciptakan ruang inklusi bagi anak untuk belajar hidup dalam keberagaman: berbagi kasih, saling memberi dan menerima di tengah berbagai perbedaan yang ada. Di dalam Kristus, setiap anak adalah pribadi yang merdeka. Penyandang disabilitas pun tidak lebih rendah dari yang lain karena kondisi yang dialaminya.

3. Ikut membangun generasi yang mereformasi sistem yang memarginalkan penyandang disabilitas, dengan meneladani kasih Kristus yang tidak membedakan orang. Berdasarkan uraian di atas, maka ada sejumlah prinsip pokok yang perlu diperhatikan dan dikembangkan oleh Gereja dalam pelayanan dan juga pendidikan bagi penyandang disabilitas, yang dalam konteks belajar dikaitkan dengan anak/siswa/murid berkebutuhan khusus, yang memerlukan pendekatan serta strategi khusus agar bisa mengembangkan potensinya secara maksimal

Jenis Kebutuhan Khusus

Dalam Pasal 4 Penjelasan atas UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, dijelaskan tentang de inisi s e t i a p r a g a m d i s a b i l i t a s a d a l a h (https://lingkarsosial.org/mengenal-ragam-disabilitas/12 Juli 2020):

a. “Penyandang Disabilitas Fisik” adalah terganggunya fungsi gerak, antara lain amputasi, lumpuh layuh atau kaku, paraplegia, kelumpuhan otak, akibat stroke, akibat kusta, dan orang kecil/kerdil.

b. Pe nya n d a n g D i s a b i l i t a s I n te l e k t u a l ” a d a l a h terganggunya fungsi pikir karena tingkat kecerdasan dibawah rata-rata antara lain lambat belajar, disabilitas grahita dan Down Syndrome.

c. “Penyandang Disabilitas Mental” adalah terganggunya f u n g s i p i k i r, e m o s i , d a n p e r i l a k u , a n t a r a

18 19 lain:psikososial di antaranya skizofrenia, bipolar,

depresi, ansietas dan gangguan kepribadian; dan disabilitas perkembangan yang berpengaruh pada kemampuan interaksi sosial di antaranya autis dan hiperaktif.

d. “ P e n y a n d a n g D i s a b i l i t a s S e n s o r i k ” a d a l a h terganggunya salah satu fungsi dari panca indera, antara lain disabilitas netra, disabilitas rungu, dan/atau disabilitas wicara.

e. “Penyandang Disabilitas ganda atau multi” adalah penyandang disabilitas yang mempunyai dua atau lebih ragam disabilitas, antara lain disabilitas rungu-wicara dan disabilitas netra-tuli.

f. Ada sejumlah jenis kebutuhan khusus lainnya dalam Mangunsong (2014) yang perlu diperhatikan dan memerlukan strategi khusus dalam belajar.

g. K e s u l i t a n b e l a j a r d i t u n j u k k a n d e n g a n ketidakmampuan atau kesulitan terutama dalam aspek kognitif seperti membaca, berhitung dan berpikir, juga bisa dalam aspek sosial yaitu dalam berhubungan dengan orang lain. Sebagian anak lain mempunyai persoalan bahasa, masalah dalam aspek motorik, khususnya dalam keterampilan perseptual motorik. Termasuk juga anak dengan kesulitan membaca (disleksia), bahasa tulisan (disgra ia), matematika (diskalkulia), gangguan atensi dan hiperaktivitas (ADHD).

h. Gifted/ berbakat, adalah anak dengan kecerdasan yang tinggi, kreatif dan memiliki ketekunan yang menonjol, khususnya pada bidang-bidang tertentu. Anak ini mudah bosan dan bila tidak mendapat tugas yang sesuai dengan kecepatannya dalam beraktivitas dan menyelesaikan tugas, ia akan cenderung menjadi “pengganggu” anak lain, jahil, atau bikin kegaduhan di situasi belajar di kelas.

Aspek-aspek yang Perlu Distimulasi di Usia Dini

Aspek-aspek yang perlu distimulasi atau diintervensi sedini mungkin/di usia dini dari ABK, adalah (Supena 2017, sebagaimana dikutip oleh Agustini 2018, 82):

(1) perkembangan isik (2) perkembangan bahasa (3) perkembangan kognitif (4) perkembangan psikososial

Bila perkembangan-perkembangan ini di stimulasi, dilatih secara optimal, maka dapat mengurangi hambatan-hambatan yang bisa terjadi di fase perkembangan selanjutnya, terutama ketika mulai belajar di pendidikan formal.

Aspek-aspek dalam Pendidikan ABK

Sejumlah aspek penting yang perlu diperhatikan dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus, adalah (Supena 2017, sebagaimana dikutip oleh Agustini 2018, 82): (1) kemampuan menolong diri sendiri (2) kemampuan memotivasi diri (3) kemampuan memahami konsep diri (4) kemampuan memelihara diri (5) kemampuan mengarahkan diri Prinsip-prinsip Pendidikan bagi ABK

Sejumlah prinsip yang perlu dikembangkan dalam pendidikan bagi ABK adalah: prinsip kasih sayang, layanan individual, kesiapan, keperagaan, motivasi, belajar kelompok, Prinsip keterampilan, penanaman dan penyempurnaan sikap (Supena 2017, sebagaimana dikutip oleh Agustini 2018, 82). Perlakuan terhadap ABK

Dalam berinteraksi dengan ABK, ada sejumlah cara bersikap yang perlu diperhatikan, yaitu: perlakukanlah ABK dengan sewajarnya, bersikaplah realistis, memberikan kesempatan kepada ABK untuk mengatasi berbagai masalah yang menjadi hambatannya, dan memberikan kesempatan kepada ABK

18 19 lain:psikososial di antaranya skizofrenia, bipolar,

depresi, ansietas dan gangguan kepribadian; dan disabilitas perkembangan yang berpengaruh pada kemampuan interaksi sosial di antaranya autis dan hiperaktif.

d. “ P e n y a n d a n g D i s a b i l i t a s S e n s o r i k ” a d a l a h terganggunya salah satu fungsi dari panca indera, antara lain disabilitas netra, disabilitas rungu, dan/atau disabilitas wicara.

e. “Penyandang Disabilitas ganda atau multi” adalah penyandang disabilitas yang mempunyai dua atau lebih ragam disabilitas, antara lain disabilitas rungu-wicara dan disabilitas netra-tuli.

f. Ada sejumlah jenis kebutuhan khusus lainnya dalam Mangunsong (2014) yang perlu diperhatikan dan memerlukan strategi khusus dalam belajar.

g. K e s u l i t a n b e l a j a r d i t u n j u k k a n d e n g a n ketidakmampuan atau kesulitan terutama dalam aspek kognitif seperti membaca, berhitung dan berpikir, juga bisa dalam aspek sosial yaitu dalam berhubungan dengan orang lain. Sebagian anak lain mempunyai persoalan bahasa, masalah dalam aspek motorik, khususnya dalam keterampilan perseptual motorik. Termasuk juga anak dengan kesulitan membaca (disleksia), bahasa tulisan (disgra ia), matematika (diskalkulia), gangguan atensi dan hiperaktivitas (ADHD).

h. Gifted/ berbakat, adalah anak dengan kecerdasan yang tinggi, kreatif dan memiliki ketekunan yang menonjol, khususnya pada bidang-bidang tertentu. Anak ini mudah bosan dan bila tidak mendapat tugas yang sesuai dengan kecepatannya dalam beraktivitas dan menyelesaikan tugas, ia akan cenderung menjadi “pengganggu” anak lain, jahil, atau bikin kegaduhan di situasi belajar di kelas.

Aspek-aspek yang Perlu Distimulasi di Usia Dini

Aspek-aspek yang perlu distimulasi atau diintervensi sedini mungkin/di usia dini dari ABK, adalah (Supena 2017, sebagaimana dikutip oleh Agustini 2018, 82):

(1) perkembangan isik (2) perkembangan bahasa (3) perkembangan kognitif (4) perkembangan psikososial

Bila perkembangan-perkembangan ini di stimulasi, dilatih secara optimal, maka dapat mengurangi hambatan-hambatan yang bisa terjadi di fase perkembangan selanjutnya, terutama ketika mulai belajar di pendidikan formal.

Aspek-aspek dalam Pendidikan ABK

Sejumlah aspek penting yang perlu diperhatikan dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus, adalah (Supena 2017, sebagaimana dikutip oleh Agustini 2018, 82): (1) kemampuan menolong diri sendiri (2) kemampuan memotivasi diri (3) kemampuan memahami konsep diri (4) kemampuan memelihara diri (5) kemampuan mengarahkan diri Prinsip-prinsip Pendidikan bagi ABK

Sejumlah prinsip yang perlu dikembangkan dalam pendidikan bagi ABK adalah: prinsip kasih sayang, layanan individual, kesiapan, keperagaan, motivasi, belajar kelompok, Prinsip keterampilan, penanaman dan penyempurnaan sikap (Supena 2017, sebagaimana dikutip oleh Agustini 2018, 82). Perlakuan terhadap ABK

Dalam berinteraksi dengan ABK, ada sejumlah cara bersikap yang perlu diperhatikan, yaitu: perlakukanlah ABK dengan sewajarnya, bersikaplah realistis, memberikan kesempatan kepada ABK untuk mengatasi berbagai masalah yang menjadi hambatannya, dan memberikan kesempatan kepada ABK

20 21 untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya (Supena

2017, sebagaimana dikutip oleh Agustini 2018, 82).

Pelayanan terhadap anak Sekolah Minggu berkebutuhan khusus sebagai wujud pelayanan inklusif Gereja berguna bagi ABK dalam hal:

(1) Pertumbuhan spiritualnya. ABK dapat dibimbing untuk menemukan rencana dan tujuan Allah untuk dikerjakan dalam kehidupannya (lih. juga Ef. 2: 10). (2) Pertumbuhan isik dan mentalnya. Bila gejala dapat

dideteksi sejak dini dan dilakukan penanganan yang tepat dan intensif dalam bentuk stimulasi dan intervensi, maka bakat ABK dapat berkembang optimal. Hal ini tentu memberi masa depan yang lebih baik karena tergalinya dan dikembangkannya potensi optimal yang ditemukan dalam diri ABK. Hal ini diperlukan oleh ABK yang bersekolah minggu bersama anak-lain dengan latar belakang yang berbeda-beda. Kemampuan Mengobservasi ABK

Setiap anak berhak untuk mendapatkan pelayanan yang optimal sesuai dengan kelebihan dan keterbatasan yang dimilikinya. GSM sebagai pengajar hendaknya menciptakan suatu pembelajaran yang kondusif dan sesuai dengan kebutuhan pengembangan spiritual anak. Untuk merancang kegiatan pembelajaran yang sesuai maka para GSM harus memahami bagaimana cara melakukan asesmen. Dengan mempertimbangkan hasil asesmen yang dilakukan tersebut GSM akan dapat mengembangkan kegiatan-kegiatan dan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. GSM diharapkan mempunyai pemahaman yang komprehensif tentang bagaimana merancang dan mengolah hasil asesmen. Pada akhirnya diharapkan anak dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Orang tua, sebagai orang pertama yang mengenal dan membesarkan anaknya, seringkali terlambat mengetahui bahwa anaknya berkebutuhan khusus. Orangtua baru

memeriksakan dan menerapkan terapi pada anaknya ketika anak sudah berusia di atas 5 (lima) tahun sehingga kebiasaan yang sudah terbentuk pada anak sukar untuk diubah dan potensi-potensi anak menjadi tidak muncul. Untuk mencegah keterlambatan tersebut, maka sebaiknya orangtua mengetahui terlebih dahulu tugas perkembangan anak. Deteksi awal anak berkebutuhan khusus dibutuhkan agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. Berikut adalah beberapa langkah deteksi yang dapat dilakukan:

a. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, yaitu untuk mengetahui atau menemukan status gizi kurang atau gizi buruk pada anak.

b. Deteksi dini penyimpangan perkembangan, yaitu untuk m e n g e t a h u i g a n g g u a n p e r k e m b a n g a n a n a k (keterlambatan bicara dan berjalan), gangguan daya lihat, dan gangguan daya dengar.

c. Deteksi dini penyimpangan mental emosional, yaitu untuk mengetahui adanya masalah mental emosional, autisme dan gangguan pemusatan perhatian disertai hiperaktivitas.

20 21 untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya (Supena

2017, sebagaimana dikutip oleh Agustini 2018, 82).

Pelayanan terhadap anak Sekolah Minggu berkebutuhan khusus sebagai wujud pelayanan inklusif Gereja berguna bagi ABK dalam hal:

(1) Pertumbuhan spiritualnya. ABK dapat dibimbing untuk menemukan rencana dan tujuan Allah untuk dikerjakan dalam kehidupannya (lih. juga Ef. 2: 10). (2) Pertumbuhan isik dan mentalnya. Bila gejala dapat

dideteksi sejak dini dan dilakukan penanganan yang tepat dan intensif dalam bentuk stimulasi dan intervensi, maka bakat ABK dapat berkembang optimal. Hal ini tentu memberi masa depan yang lebih baik karena tergalinya dan dikembangkannya potensi optimal yang ditemukan dalam diri ABK. Hal ini diperlukan oleh ABK yang bersekolah minggu bersama anak-lain dengan latar belakang yang berbeda-beda. Kemampuan Mengobservasi ABK

Setiap anak berhak untuk mendapatkan pelayanan yang optimal sesuai dengan kelebihan dan keterbatasan yang dimilikinya. GSM sebagai pengajar hendaknya menciptakan suatu pembelajaran yang kondusif dan sesuai dengan kebutuhan pengembangan spiritual anak. Untuk merancang kegiatan pembelajaran yang sesuai maka para GSM harus memahami bagaimana cara melakukan asesmen. Dengan mempertimbangkan hasil asesmen yang dilakukan tersebut GSM akan dapat mengembangkan kegiatan-kegiatan dan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. GSM diharapkan mempunyai pemahaman yang komprehensif tentang bagaimana merancang dan mengolah hasil asesmen. Pada akhirnya diharapkan anak dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Orang tua, sebagai orang pertama yang mengenal dan membesarkan anaknya, seringkali terlambat mengetahui bahwa anaknya berkebutuhan khusus. Orangtua baru

memeriksakan dan menerapkan terapi pada anaknya ketika anak sudah berusia di atas 5 (lima) tahun sehingga kebiasaan yang sudah terbentuk pada anak sukar untuk diubah dan potensi-potensi anak menjadi tidak muncul. Untuk mencegah keterlambatan tersebut, maka sebaiknya orangtua mengetahui terlebih dahulu tugas perkembangan anak. Deteksi awal anak berkebutuhan khusus dibutuhkan agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. Berikut adalah beberapa langkah deteksi yang dapat dilakukan:

a. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, yaitu untuk mengetahui atau menemukan status gizi kurang atau gizi buruk pada anak.

b. Deteksi dini penyimpangan perkembangan, yaitu untuk m e n g e t a h u i g a n g g u a n p e r k e m b a n g a n a n a k (keterlambatan bicara dan berjalan), gangguan daya lihat, dan gangguan daya dengar.

c. Deteksi dini penyimpangan mental emosional, yaitu untuk mengetahui adanya masalah mental emosional, autisme dan gangguan pemusatan perhatian disertai hiperaktivitas.

22 23 Deteksi dini tumbuh kembang anak dapat digambarkan

dalam alur berikut ini (Agustini 2018, 49):

Deteksi dini ini dapat dilakukan sejak anak lahir, ketika proses kelahiran atau kondisi anak memerlukan perhatian atau tergolong berisiko mengalami hambatan perkembangan bila tidak dilakukan intervensi, terapi, stimulasi khusus sesuai

"Yesus Sang Pembimbing” An ield Wibowo (2020) Yesus akan membimbing ku ke jalan yang benar di kala aku tersesat dan melindungi ku saat aku dalam mara bahaya.

22 23 Deteksi dini tumbuh kembang anak dapat digambarkan

dalam alur berikut ini (Agustini 2018, 49):

Deteksi dini ini dapat dilakukan sejak anak lahir, ketika proses kelahiran atau kondisi anak memerlukan perhatian atau tergolong berisiko mengalami hambatan perkembangan bila tidak dilakukan intervensi, terapi, stimulasi khusus sesuai

"Yesus Sang Pembimbing” An ield Wibowo (2020) Yesus akan membimbing ku ke jalan yang benar di kala aku tersesat dan melindungi ku saat aku dalam mara bahaya.

24 25

BAB 3

Mengajar Anak

Dokumen terkait