Berkebutuhan
Khusus
1. Mengajar dengan Hati: Sebuah Bentuk
K e r a m a h a n G e r e j a t e r h a d a p A n a k
Berkebutuhan Khusus
Salah satu bentuk keramahan yang bisa ditunjukkan oleh Gereja, secara khusus para pengajar di Gereja terhadap ASMBK adalah “Mengajar dengan Hati.” Mengajar dengan hati tidak hanya dipahami sebagai sebuah aktivitas mengajar biasa, mentransfer seperangkat pengetahuan atau ajaran Kristen kepada yang diajar. Mengajar dengan hati melampaui hal tersebut. Kata “hati” di sini menunjuk kepada keutuhan diri manusia: intelektual, emosi, dan perilaku (Hattu 2019, 6; Hendricks 1987, 85). Mengajar dengan hati memberi ciri yang kuat pada manusia yang membedakannya dengan mesin-mesin produksi di pabrik-pabrik yang bergerak dan memproduksi barang tanpa henti (Su iyanta dan Prihartini 2014, 96-97). Mengajar dengan hati mendorong kita mengasah pikiran, emosi, dan perilaku secara bersamaan, tanpa mengutamakan satu di antara yang lain.
Mengajar dengan hati dicirikan oleh empat hal berikut ini, yakni: kesiapan dan totalitas diri, pengenalan yang baik terhadap ASMBK, empati, dan keterampilan diri (lih. juga Hattu 2019, 1-14; Su iyanta dan Prihartini 2014, 95-98). Pertama, mengajar dengan hati membutuhkan kesiapan dan totalitas diri. Mengajar bukan hanya sekedar memenuhi tanggung jawab yang diberikan oleh Gereja/lembaga tertentu, tetapi lebih dari itu, mengajar adalah merespons panggilan Tuhan atas kita. Kita merespons panggilan Tuhan tersebut dengan sukacita dan rasa syukur karena kita dipilih dari antara sekian banyak orang dan dipercayakan tanggung jawab tersebut. Ketika kita memilih untuk merespons panggilan Tuhan melalui tanggung jawab mengajar, maka pilihan itu kita buat atas kehendak dan pertimbangan hati nurani, dan bukan atas desakan apalagi paksaan dari pihak lain. Orang yang mengajar karena pilihan pribadinya, akan menikmati setiap tanggung jawab yang dilakukan. Sebaliknya, orang yang mengajar karena desakan atau paksaan, apalagi hanya untuk memenuhi kegemaran sesaat yang menggebu-gebu tidak akan bertahan lama, terlebih
WESTERHOFF III (Westerhoff III (1979) Adalah seorang tokoh p e n t i n g d a n berpengaruh dalam d u n i a Pe n d i d i ka n Kristiani. Pemikiran Westerhoff tentang k o m u n i t a s d a p a t diterapkan dalam u p a y a m e n g a s u h , m e n d i d i k d a n m e n g a j a r a n a k b e r k e b u t u h a n k h u s u s . D i d a l a m komunitas, seseorang d a p a t d i t e r i m a d e n g a n s e g a l a k e k u r a n g a n d a n kelebihannya, karena p e n e k a n a n d a r i k o m u n i t a s i a l a h k e s a t u a n , b u k a n k e s e r a g a m a n . P e n e r i m a a n d a n kehangatan di dalam k o m u n i t a s a k a n menumbuhkan iman. Dan seseorang akan mampu menghayati k e k r i s t e n a n n y a k e t i k a m a m p u berinteraksi di dalam k o m u n i t a s , y a k n i interaksi yang dapat m e n e r i m a perbedaan.
https://bit.ly/34SMeI 8
24 25
BAB 3
Mengajar Anak
Sekolah Minggu
Berkebutuhan
Khusus
1. Mengajar dengan Hati: Sebuah Bentuk
K e r a m a h a n G e r e j a t e r h a d a p A n a k
Berkebutuhan Khusus
Salah satu bentuk keramahan yang bisa ditunjukkan oleh Gereja, secara khusus para pengajar di Gereja terhadap ASMBK adalah “Mengajar dengan Hati.” Mengajar dengan hati tidak hanya dipahami sebagai sebuah aktivitas mengajar biasa, mentransfer seperangkat pengetahuan atau ajaran Kristen kepada yang diajar. Mengajar dengan hati melampaui hal tersebut. Kata “hati” di sini menunjuk kepada keutuhan diri manusia: intelektual, emosi, dan perilaku (Hattu 2019, 6; Hendricks 1987, 85). Mengajar dengan hati memberi ciri yang kuat pada manusia yang membedakannya dengan mesin-mesin produksi di pabrik-pabrik yang bergerak dan memproduksi barang tanpa henti (Su iyanta dan Prihartini 2014, 96-97). Mengajar dengan hati mendorong kita mengasah pikiran, emosi, dan perilaku secara bersamaan, tanpa mengutamakan satu di antara yang lain.
Mengajar dengan hati dicirikan oleh empat hal berikut ini, yakni: kesiapan dan totalitas diri, pengenalan yang baik terhadap ASMBK, empati, dan keterampilan diri (lih. juga Hattu 2019, 1-14; Su iyanta dan Prihartini 2014, 95-98). Pertama, mengajar dengan hati membutuhkan kesiapan dan totalitas diri. Mengajar bukan hanya sekedar memenuhi tanggung jawab yang diberikan oleh Gereja/lembaga tertentu, tetapi lebih dari itu, mengajar adalah merespons panggilan Tuhan atas kita. Kita merespons panggilan Tuhan tersebut dengan sukacita dan rasa syukur karena kita dipilih dari antara sekian banyak orang dan dipercayakan tanggung jawab tersebut. Ketika kita memilih untuk merespons panggilan Tuhan melalui tanggung jawab mengajar, maka pilihan itu kita buat atas kehendak dan pertimbangan hati nurani, dan bukan atas desakan apalagi paksaan dari pihak lain. Orang yang mengajar karena pilihan pribadinya, akan menikmati setiap tanggung jawab yang dilakukan. Sebaliknya, orang yang mengajar karena desakan atau paksaan, apalagi hanya untuk memenuhi kegemaran sesaat yang menggebu-gebu tidak akan bertahan lama, terlebih
WESTERHOFF III (Westerhoff III (1979) Adalah seorang tokoh p e n t i n g d a n berpengaruh dalam d u n i a Pe n d i d i ka n Kristiani. Pemikiran Westerhoff tentang k o m u n i t a s d a p a t diterapkan dalam u p a y a m e n g a s u h , m e n d i d i k d a n m e n g a j a r a n a k b e r k e b u t u h a n k h u s u s . D i d a l a m komunitas, seseorang d a p a t d i t e r i m a d e n g a n s e g a l a k e k u r a n g a n d a n kelebihannya, karena p e n e k a n a n d a r i k o m u n i t a s i a l a h k e s a t u a n , b u k a n k e s e r a g a m a n . P e n e r i m a a n d a n kehangatan di dalam k o m u n i t a s a k a n menumbuhkan iman. Dan seseorang akan mampu menghayati k e k r i s t e n a n n y a k e t i k a m a m p u berinteraksi di dalam k o m u n i t a s , y a k n i interaksi yang dapat m e n e r i m a perbedaan.
https://bit.ly/34SMeI 8
26 27 ketika ia berhadapan dengan tantangan dalam mengajar.
Mengajar dengan hati membutuhkan komitmen yang sungguh dan menghidupkan komitmen membutuhkan dedikasi yang tinggi. Tanggung jawab mengajar harus dijalani dengan kesungguhan hati, tidak dengan setengah hati apalagi dengan berat hati.
Kedua, mengajar dengan hati menuntut para pengajar mengenal dengan baik dirinya dan anak berkebutuhan khusus. Pengajar perlu berupaya memiliki pemahaman yang u t u h m e n g e n a i d i r i nya d a n A S M ( k e k u a t a n d a n kelemahannya, hal-hal yang dapat memicu emosinya, dst) serta mampu bersikap responsif (tidak reaktif ) ketika berinteraksi dengan ASMBK. Sebelum menanggapi perilaku ASM, terutama ketika mereka menunjukkan perilaku-perilaku yang unik atau khas dan cenderung tidak terkendali, pengajar diharapkan memikirkan terlebih dahulu berbagai alternatif respons karena dapat berpengaruh terhadap reaksi maupun perkembangan ASM selanjutnya. Sebagai contoh, hal-hal yang harus diolah/dipikirkan GSM sebelum memberikan respons adalah: apa yang sedang terjadi pada ASMBK, apa situasi/kondisi/perasaan awal/sebelumnya yang terjadi sampai muncul perilaku yang tidak terkendali; apa yang sebaiknya GSM lakukan, apa dampaknya terhadap ASMBK ketika GSM melakukan tindakan A atau B, dst.
Pengenalan yang baik tentang ASM, secara khusus ASMBK, akan membentuk sebuah cara pandang yang tepat, yang kemudian mewujud dalam sikap dan perilaku yang tepat pula. Pengenalan yang baik bermula dari pola relasi yang bersahabat. Dalam pola relasi yang bersahabat tersedia “ruang yang aman dan nyaman” untuk orang saling mengenal satu terhadap yang lain, apa yang diinginkan dan tidak diinginkan, apa yang diharapkan dan tidak diharapkan, dan sebagainya. Pola relasi yang bersahabat meniadakan jarak yang seringkali menciptakan gap antara pengajar dan ASM. Dengan demikian, ruang-ruang yang memungkinkan terjadinya relasi yang menguasai dan dikuasai ditiadakan, dan yang tercipta adalah pola-pola relasi yang setara dan menghargai setiap individu yang terlibat bersama dalam
pembelajaran, entah dia pengajar atau yang diajar. Pola relasi yang bersahabat mampu menyentuh hati setiap orang s e h i n g ga m e re ka m e ra s a ka n ke a m a n a n d a n j u ga kenyamanan dalam berelasi (Su iyanta dan Prihartini 2014-118). Suasana yang aman dan nyaman membuka ruang bagi pengajar untuk mendekatkan diri kepada anak-anak dan juga sebaliknya. Kedekatan yang didasarkan atas pengenalan yang benar ini membuat anak-anak merasa dirinya berharga, dirinya diterima, dirinya adalah sahabat bagi para pengajar dan teman-temannya yang lain.
Ketiga, mengajar dengan hati membutuhkan kemampuan berempati seorang pengajar. Empati adalah kemampuan untuk melihat situasi dari perspektif orang lain. Empati melibatkan pemikiran, perasaan, dan bahkan reaksi isik sebagai respons kepedulian terhadap perasaan dan perilaku seseorang. Empati berbeda dengan rasa kasihan atau mengasihani orang lain. Empati juga tidak semata-mata bersifat bawaan, melainkan bisa dilatih, dipelajari melalui pendidikan, pengalaman maupun melalui model dari orang-orang yang bermakna (signi ikan) bagi kita. Empati merupakan karakteristik paling esensial dari guru yang mengajar dalam setting inklusif. Empati memungkinkan guru untuk mengambil keputusan secara objektif, bersikap re lektif (tidak reaktif), memperlakukan anak-anak secara adil, serta membangun suasana belajar yang kondusif. Melalui penguasaan akan kemampuan berempati, diharapkan terjalin relasi positif di antara GSM dengan ASMBK, GSM dengan orang tua, yang mendukung proses pertumbuhan iman atau spiritualitas anak secara optimal. Suasana yang empatik dalam pelayanan Sekolah Minggu, terutama untuk mendorong kemampuan berempati di antara ASM (ASM terhadap ASMBK), dapat terbangun ketika GSM secara konsisten menjadi teladan dalam menerapkan empati. Oleh karena itu, GSM idealnya memberikan contoh yang baik dan dapat ditiru bagi ASM. Salah satu contoh perwujudan empati adalah mengembangkan sikap welas asih dan tidak menghakimi. Di dalam memberikan pelayanan kepada ASMBK, GSM harus menyadari panggilannya sebagai seorang
26 27 ketika ia berhadapan dengan tantangan dalam mengajar.
Mengajar dengan hati membutuhkan komitmen yang sungguh dan menghidupkan komitmen membutuhkan dedikasi yang tinggi. Tanggung jawab mengajar harus dijalani dengan kesungguhan hati, tidak dengan setengah hati apalagi dengan berat hati.
Kedua, mengajar dengan hati menuntut para pengajar mengenal dengan baik dirinya dan anak berkebutuhan khusus. Pengajar perlu berupaya memiliki pemahaman yang u t u h m e n g e n a i d i r i nya d a n A S M ( k e k u a t a n d a n kelemahannya, hal-hal yang dapat memicu emosinya, dst) serta mampu bersikap responsif (tidak reaktif ) ketika berinteraksi dengan ASMBK. Sebelum menanggapi perilaku ASM, terutama ketika mereka menunjukkan perilaku-perilaku yang unik atau khas dan cenderung tidak terkendali, pengajar diharapkan memikirkan terlebih dahulu berbagai alternatif respons karena dapat berpengaruh terhadap reaksi maupun perkembangan ASM selanjutnya. Sebagai contoh, hal-hal yang harus diolah/dipikirkan GSM sebelum memberikan respons adalah: apa yang sedang terjadi pada ASMBK, apa situasi/kondisi/perasaan awal/sebelumnya yang terjadi sampai muncul perilaku yang tidak terkendali; apa yang sebaiknya GSM lakukan, apa dampaknya terhadap ASMBK ketika GSM melakukan tindakan A atau B, dst.
Pengenalan yang baik tentang ASM, secara khusus ASMBK, akan membentuk sebuah cara pandang yang tepat, yang kemudian mewujud dalam sikap dan perilaku yang tepat pula. Pengenalan yang baik bermula dari pola relasi yang bersahabat. Dalam pola relasi yang bersahabat tersedia “ruang yang aman dan nyaman” untuk orang saling mengenal satu terhadap yang lain, apa yang diinginkan dan tidak diinginkan, apa yang diharapkan dan tidak diharapkan, dan sebagainya. Pola relasi yang bersahabat meniadakan jarak yang seringkali menciptakan gap antara pengajar dan ASM. Dengan demikian, ruang-ruang yang memungkinkan terjadinya relasi yang menguasai dan dikuasai ditiadakan, dan yang tercipta adalah pola-pola relasi yang setara dan menghargai setiap individu yang terlibat bersama dalam
pembelajaran, entah dia pengajar atau yang diajar. Pola relasi yang bersahabat mampu menyentuh hati setiap orang s e h i n g ga m e re ka m e ra s a ka n ke a m a n a n d a n j u ga kenyamanan dalam berelasi (Su iyanta dan Prihartini 2014-118). Suasana yang aman dan nyaman membuka ruang bagi pengajar untuk mendekatkan diri kepada anak-anak dan juga sebaliknya. Kedekatan yang didasarkan atas pengenalan yang benar ini membuat anak-anak merasa dirinya berharga, dirinya diterima, dirinya adalah sahabat bagi para pengajar dan teman-temannya yang lain.
Ketiga, mengajar dengan hati membutuhkan kemampuan berempati seorang pengajar. Empati adalah kemampuan untuk melihat situasi dari perspektif orang lain. Empati melibatkan pemikiran, perasaan, dan bahkan reaksi isik sebagai respons kepedulian terhadap perasaan dan perilaku seseorang. Empati berbeda dengan rasa kasihan atau mengasihani orang lain. Empati juga tidak semata-mata bersifat bawaan, melainkan bisa dilatih, dipelajari melalui pendidikan, pengalaman maupun melalui model dari orang-orang yang bermakna (signi ikan) bagi kita. Empati merupakan karakteristik paling esensial dari guru yang mengajar dalam setting inklusif. Empati memungkinkan guru untuk mengambil keputusan secara objektif, bersikap re lektif (tidak reaktif), memperlakukan anak-anak secara adil, serta membangun suasana belajar yang kondusif. Melalui penguasaan akan kemampuan berempati, diharapkan terjalin relasi positif di antara GSM dengan ASMBK, GSM dengan orang tua, yang mendukung proses pertumbuhan iman atau spiritualitas anak secara optimal. Suasana yang empatik dalam pelayanan Sekolah Minggu, terutama untuk mendorong kemampuan berempati di antara ASM (ASM terhadap ASMBK), dapat terbangun ketika GSM secara konsisten menjadi teladan dalam menerapkan empati. Oleh karena itu, GSM idealnya memberikan contoh yang baik dan dapat ditiru bagi ASM. Salah satu contoh perwujudan empati adalah mengembangkan sikap welas asih dan tidak menghakimi. Di dalam memberikan pelayanan kepada ASMBK, GSM harus menyadari panggilannya sebagai seorang
28 29 pendidik, sehingga GSM dapat mendidik dengan penuh kasih
dan tanpa menghakimi (termasuk tidak melabel ASMBK). GSM sebaiknya menghargai adanya perbedaan individu. Dengan demikian, GSM secara konsisten terdorong untuk melakukan berbagai upaya dalam tujuan memahami ke b u t u h a n s e t i a p AS M ( te r u t a m a AS M B K ) u n t u k memberikan respons/layanan yang sesuai dengan kebutuhan.
Keempat, mengajar dengan hati membutuhkan keterampilan. Niat hati saja tidak cukup dalam mengajar ASMBK, karena dibutuhkan pula sejumlah keterampilan dalam mengajar. Keterampilan menjadi seperti sejumlah perangkat yang dibutuhkan oleh seorang petani ketika akan menggarap lahan pertanian. Tanpa perangkat tersebut proses penggarapan tidak akan terjadi secara maksimal. Demikian pula dengan seorang pengajar, ia perlu berkomitmen tinggi untuk memperlengkapi diri ketika akan terlibat dan mengajar anak-anak berkebutuhan khusus. Keterampilan yang perlu dimiliki mencakup banyak hal, antara lain: kemampuan untuk berkomunikasi dengan anak-anak berkebutuhan khusus, kemampuan untuk menggunakan berbagai metode mengajar yang tepat dalam mengajar, dan sebagainya. Kesemuanya itu dibutuhkan supaya aktivitas belajar-mengajar yang terjadi mendatangkan manfaat bagi setiap anak. Karena itu, seorang pengajar tidak akan pernah jemu memperlengkapi diri dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan baru. Berdasarkan empat ciri di atas, maka ada sejumlah langkah praktis dan strategis yang bisa dikembangkan dalam mengajar ASMBK, yaitu:
1. Mengutamakan interaksi dan dialog dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Inisiatif untuk berinteraksi dan berkomunikasi harus lebih banyak datang dari para pengajar: berikanlah senyuman, sapalah si anak, tanyakanlah keadaannya dan bagaimana perasaannya, tawarkanlah bantuan jika dia membutuhkan, jadilah pendengar yang baik ketika anak bercerita, dan sebagainya.
2. Menciptakan lingkungan belajar yang aman dan
nyaman bagi kondisi isik maupun psikis anak, sehingga ia merasa diterima dan disambut dengan ramah oleh pengajar dan semua warga jemaat yang ada di Gereja. Lingkungan yang aman dan nyaman harus mengutamakan keselamatan si anak serta menolong anak berekspresi tanpa merasa diintimidasi dan dikekang kebebasannya.
3. Memberikan kesempatan yang sama untuk semua anak. terlepas dari kekhususan atau keterbatasan yang dimiliki, untuk mengembangkan minat dan potensi diri. Sebagai contoh: melibatkan ASMBK dalam aktivitas di kelas (jika ada aktivitas kelompok, ASMBK dipasangkan dengan ASM non ABK), melibatkan ASMBK dalam perlombaan atau perayaan Paskah dan Natal, dan sebagainya.
4. Mengembangkan ragam metode dalam mengajar. Oleh karena setiap anak memiliki kebutuhan yang spesi ik, maka satu metode pengajaran saja tidak cukup dan tidak bisa diberlakukan sama untuk semua. Setiap anak harus ditolong untuk belajar dengan metode yang sesuai dengan gaya belajar dan jenis disabilitasnya. 5. Membangun kerja sama dengan anak-anak dan para
pengajar yang lain, warga jemaat dan orang tua si anak. Pengajar perlu menyadari bahwa ia tidak sendiri dan ia tidak bisa melakukan segalanya sendiri. Pengajar membutuhkan orang lain untuk mewujudkan sebuah proses pembelajaran yang baik.
Beberapa contoh kegiatan bagi ASMBK tertentu dapat dilihat pada Lampiran….
2. Kreativitas Memodi ikasi Pengajaran bagi
ABK
Akomodasi, Modi ikasi, dan Desain Belajar Universal (Universal Design for Learning= UDL)
Kita perlu merasa familiar, atau tidak asing, terhadap penyandang disabilitas. Sebab dengan merasa tidak asing terhadap mereka, kita belajar untuk menerima setiap pribadi sebagai pribadi yang utuh dan berharga. Disabilitas yang
28 29 pendidik, sehingga GSM dapat mendidik dengan penuh kasih
dan tanpa menghakimi (termasuk tidak melabel ASMBK). GSM sebaiknya menghargai adanya perbedaan individu. Dengan demikian, GSM secara konsisten terdorong untuk melakukan berbagai upaya dalam tujuan memahami ke b u t u h a n s e t i a p AS M ( te r u t a m a AS M B K ) u n t u k memberikan respons/layanan yang sesuai dengan kebutuhan.
Keempat, mengajar dengan hati membutuhkan keterampilan. Niat hati saja tidak cukup dalam mengajar ASMBK, karena dibutuhkan pula sejumlah keterampilan dalam mengajar. Keterampilan menjadi seperti sejumlah perangkat yang dibutuhkan oleh seorang petani ketika akan menggarap lahan pertanian. Tanpa perangkat tersebut proses penggarapan tidak akan terjadi secara maksimal. Demikian pula dengan seorang pengajar, ia perlu berkomitmen tinggi untuk memperlengkapi diri ketika akan terlibat dan mengajar anak-anak berkebutuhan khusus. Keterampilan yang perlu dimiliki mencakup banyak hal, antara lain: kemampuan untuk berkomunikasi dengan anak-anak berkebutuhan khusus, kemampuan untuk menggunakan berbagai metode mengajar yang tepat dalam mengajar, dan sebagainya. Kesemuanya itu dibutuhkan supaya aktivitas belajar-mengajar yang terjadi mendatangkan manfaat bagi setiap anak. Karena itu, seorang pengajar tidak akan pernah jemu memperlengkapi diri dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan baru. Berdasarkan empat ciri di atas, maka ada sejumlah langkah praktis dan strategis yang bisa dikembangkan dalam mengajar ASMBK, yaitu:
1. Mengutamakan interaksi dan dialog dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Inisiatif untuk berinteraksi dan berkomunikasi harus lebih banyak datang dari para pengajar: berikanlah senyuman, sapalah si anak, tanyakanlah keadaannya dan bagaimana perasaannya, tawarkanlah bantuan jika dia membutuhkan, jadilah pendengar yang baik ketika anak bercerita, dan sebagainya.
2. Menciptakan lingkungan belajar yang aman dan
nyaman bagi kondisi isik maupun psikis anak, sehingga ia merasa diterima dan disambut dengan ramah oleh pengajar dan semua warga jemaat yang ada di Gereja. Lingkungan yang aman dan nyaman harus mengutamakan keselamatan si anak serta menolong anak berekspresi tanpa merasa diintimidasi dan dikekang kebebasannya.
3. Memberikan kesempatan yang sama untuk semua anak. terlepas dari kekhususan atau keterbatasan yang dimiliki, untuk mengembangkan minat dan potensi diri. Sebagai contoh: melibatkan ASMBK dalam aktivitas di kelas (jika ada aktivitas kelompok, ASMBK dipasangkan dengan ASM non ABK), melibatkan ASMBK dalam perlombaan atau perayaan Paskah dan Natal, dan sebagainya.
4. Mengembangkan ragam metode dalam mengajar. Oleh karena setiap anak memiliki kebutuhan yang spesi ik, maka satu metode pengajaran saja tidak cukup dan tidak bisa diberlakukan sama untuk semua. Setiap anak harus ditolong untuk belajar dengan metode yang sesuai dengan gaya belajar dan jenis disabilitasnya. 5. Membangun kerja sama dengan anak-anak dan para
pengajar yang lain, warga jemaat dan orang tua si anak. Pengajar perlu menyadari bahwa ia tidak sendiri dan ia tidak bisa melakukan segalanya sendiri. Pengajar membutuhkan orang lain untuk mewujudkan sebuah proses pembelajaran yang baik.
Beberapa contoh kegiatan bagi ASMBK tertentu dapat dilihat pada Lampiran….
2. Kreativitas Memodi ikasi Pengajaran bagi
ABK
Akomodasi, Modi ikasi, dan Desain Belajar Universal (Universal Design for Learning= UDL)
Kita perlu merasa familiar, atau tidak asing, terhadap penyandang disabilitas. Sebab dengan merasa tidak asing terhadap mereka, kita belajar untuk menerima setiap pribadi sebagai pribadi yang utuh dan berharga. Disabilitas yang
30 31 disandang seseorang tidak mengurangi nilai atau harga
dirinya. Penyandang disabilitas pun sama berharganya dengan orang-orang lain yang tidak menyandang disabilitas. Dengan merasa dekat dengan penyandang disabilitas, kita juga akan semakin familiar dalam hal pemakaian istilah-istilah terkait penyandang disabilitas, semakin terbiasa mendesain kegiatan-kegiatan yang bisa diakses oleh penyandang disabilitas, dan tidak canggung saat berinteraksi dengan mereka. Hal ini penting agar kita tidak menyisihkan dan tidak melukai hati sesama kita yang menyandang disabilitas. Selain itu, saat kita ingin mengupayakan kegiatan-kegiatan yang terbuka bagi penyandang disabilitas, misalnya dengan mengadakan akomodasi, modi ikasi, dan pemakaian UDL, penerimaan terhadap penyandang disabilitas menjadi kunci utama dalam seluruh upaya ini. Dengan memandang setiap pribadi sebagai subjek yang penting dan berharga, kita tidak akan merasa percuma untuk melakukan usaha yang “lebih dari yang biasa”.
Akomodasi
Akomodasi adalah penyesuaian terhadap cara seseorang mengakses materi reguler. Dalam konteks sekolah, juga Sekolah Minggu, akomodasi ditujukan bagi ASMBK agar tetap dapat menerima materi yang disampaikan di kelas reguler, dengan beberapa penyesuaian secara personal. Jika berbicara tentang akomodasi, kita tidak berbicara soal mengubah konten materi. Materi yang diberikan tetap sama, hanya saja kita mengakomodir kebutuhan seorang ASMBK, agar dapat mengakses materi yang sama dengan materi yang diakses oleh ASM/siswa lain di kelas.
Beberapa contoh akomodasi misalnya, posisi tempat duduk yang lebih dekat dengan papan tulis, posisi tempat duduk yang tidak terlalu silau, memperbolehkan jawaban lisan untuk anak yang kesulitan menulis, menyediakan rekaman jika diperlukan untuk mengulang-ulang cerita, menambah pemakaian gambar/video atau alat peraga yang dapat diakses secara inderawi, menambah waktu untuk mengerjakan tugas tertentu, menyediakan materi bacaan dengan ukuran huruf yang lebih besar, dan sebagainya. Semua
upaya ini tidak mengubah konten:isi pelajaran, tetapi memungkinkan ASMBK untuk mengaksesnya.
Modi ikasi
Berbeda dengan akomodasi, modi ikasi berkaitan dengan penyesuaian konten/isi pelajaran serta sistem penilaian dengan kemampuan anak. Misalnya, dengan mengurangi jumlah bacaan dan mengurangi jumlah soal, mengubah standar penilaian untuk anak yang menyandang disabilitas tertentu, menyediakan clue atau petunjuk untuk mengerjakan soal, atau memperbolehkan bekerja dalam tim. Bagi orang-orang yang belum familiar dengan sistem inklusif atau sistem yang terbuka untuk penyandang disabilitas, penyediaan modi ikasi bagi ABK terkadang dirasa tidak adil bagi anak-anak yang lain yang tidak memiliki