Sistem pendidikan inklusi adalah sistem yang ideal dalam upaya kita meneladani kasih Kristus yang terbuka untuk semua, tidak membedakan atau mengkotak-kotakan orang-orang yang menyandang disabilitas dalam kelompok tertentu. Sekalipun demikian, sangat mungkin bahwa ada pribadi-pribadi penyandang disabilitas yang tidak merasa terdukung atau tidak dapat berkembang dengan baik di dalam kelas-kelas reguler yang didesain secara inklusif. Mungkin ada ABK yang lebih merasa nyaman dan bisa menunjukkan kemajuan yang signi ikan justru saat berada dalam kelas khusus.
LRE adalah lingkungan yang paling mendukung atau paling sedikit hambatannya bagi proses belajar anak-anak. Cara pandang untuk menentukan LRE bagi ABK berangkat dari respons atau kemajuan anak tersebut di lingkungan kelas yang berbeda-beda, bukan berdasarkan kenyamanan pengajar atau anak-anak lain yang tidak memiliki kebutuhan khusus. Misalnya, bagi seorang anak yang menyandang asperger – di mana ia sangat sensitif terhadap suara, mungkin LRE-nya adalah kelas khusus yang lebih sepi. Bagi seorang anak yang menyandang gangguan kecemasan atau mudah merasa panik, mungkin LRE-nya juga adalah kelas khusus, atau bahkan perlu metode satu dengan satu agar ia bisa belajar dengan tenang.
Mungkin ada kalanya pengajar di kelas reguler tidak merasa nyaman dengan anak tertentu yang menyandang disabilitas karena sering berteriak-teriak, atau sulit diajak berkomunikasi. Tetapi, sekali lagi, penentuan LRE adalah berdasarkan bagaimana respons dan kemajuan ABK itu, dan bukan semata-mata rasa nyaman atau tidak nyaman yang dirasakan oleh pengajar. Dengan kata lain, pengajar tidak boleh memindahkan ABK dari kelas reguler hanya dengan a l a s a n b a hwa i a m e m e r l u k a n u s a h a l e b i h u n t u k berkomunikasi dengan anak itu. Jika anak tersebut dapat menunjukkan kemajuan belajar di kelas reguler, mungkin itulah LRE-nya, bukan justru di kelas khusus.
ABK yang menunjukkan kemajuan di kelas-kelas reguler dengan dibantu adanya akomodasi, modi ikasi, serta UDL, dapat bertumbuh juga dalam kepercayaan dirinya karena merasa diterima oleh sesama. Di sisi lain, di kelas-kelas reguler yang didesain inklusif itu anak-anak lain yang tidak memiliki kebutuhan khusus juga bisa belajar sesuatu yang sangat berharga, yaitu bagaimana menerima sesamanya yang berkebutuhan khusus. Interaksi dalam kelas dapat dibingkai dalam teladan kasih Kristus bagi semua. Kristus mengasihi dan memandang berharga orang yang tidak dapat berjalan, tidak dapat melihat, serta orang-orang yang menderita kusta dan dijauhi oleh masyarakat.
Satu catatan penting untuk menciptakan kelas inklusif, adalah bahwa anak-anak yang tidak memiliki kebutuhan khusus perlu dipersiapkan dan selalu diajar untuk semakin menerima ABK sebagai temannya/sesamanya. Peran pengajar sangat penting dalam hal ini. Jika kita hanya membuka kesempatan bagi ABK untuk belajar bersama anak-anak yang tidak berkebutuhan khusus, tetapi tidak mempersiapkan mereka untuk menerima temannya yang tampak berbeda dalam beberapa hal, maka bisa terjadi potensi eksklusivisme atau mengucilkan teman yang b e r k e b u t u h a n k h u s u s , a t a u b a h k a n m e n g a l a m i perundungan.
32 33 anak-anak yang bisa mengakses pengarusutamaan (naik
tangga, membaca banyak tulisan, menghafal banyak istilah baru, dan sebagainya). Tetapi, bagi penyandang disabilitas, cara-cara dalam UDL tersebut akan sangat banyak membantu.
Penggunaan UDL dalam pengajaran iman di Sekolah Minggu juga mencerminkan daya jangkau gereja terhadap penyandang disabilitas – sudahkah gereja meneladani Kristus yang menjangkau setiap orang tanpa membedakan berdasarkan disabilitasnya?
Lingkungan yang tidak Membatasi (Least
Restrictive Environment =LRE)
Sistem pendidikan inklusi adalah sistem yang ideal dalam upaya kita meneladani kasih Kristus yang terbuka untuk semua, tidak membedakan atau mengkotak-kotakan orang-orang yang menyandang disabilitas dalam kelompok tertentu. Sekalipun demikian, sangat mungkin bahwa ada pribadi-pribadi penyandang disabilitas yang tidak merasa terdukung atau tidak dapat berkembang dengan baik di dalam kelas-kelas reguler yang didesain secara inklusif. Mungkin ada ABK yang lebih merasa nyaman dan bisa menunjukkan kemajuan yang signi ikan justru saat berada dalam kelas khusus.
LRE adalah lingkungan yang paling mendukung atau paling sedikit hambatannya bagi proses belajar anak-anak. Cara pandang untuk menentukan LRE bagi ABK berangkat dari respons atau kemajuan anak tersebut di lingkungan kelas yang berbeda-beda, bukan berdasarkan kenyamanan pengajar atau anak-anak lain yang tidak memiliki kebutuhan khusus. Misalnya, bagi seorang anak yang menyandang asperger – di mana ia sangat sensitif terhadap suara, mungkin LRE-nya adalah kelas khusus yang lebih sepi. Bagi seorang anak yang menyandang gangguan kecemasan atau mudah merasa panik, mungkin LRE-nya juga adalah kelas khusus, atau bahkan perlu metode satu dengan satu agar ia bisa belajar dengan tenang.
Mungkin ada kalanya pengajar di kelas reguler tidak merasa nyaman dengan anak tertentu yang menyandang disabilitas karena sering berteriak-teriak, atau sulit diajak berkomunikasi. Tetapi, sekali lagi, penentuan LRE adalah berdasarkan bagaimana respons dan kemajuan ABK itu, dan bukan semata-mata rasa nyaman atau tidak nyaman yang dirasakan oleh pengajar. Dengan kata lain, pengajar tidak boleh memindahkan ABK dari kelas reguler hanya dengan a l a s a n b a hwa i a m e m e r l u k a n u s a h a l e b i h u n t u k berkomunikasi dengan anak itu. Jika anak tersebut dapat menunjukkan kemajuan belajar di kelas reguler, mungkin itulah LRE-nya, bukan justru di kelas khusus.
ABK yang menunjukkan kemajuan di kelas-kelas reguler dengan dibantu adanya akomodasi, modi ikasi, serta UDL, dapat bertumbuh juga dalam kepercayaan dirinya karena merasa diterima oleh sesama. Di sisi lain, di kelas-kelas reguler yang didesain inklusif itu anak-anak lain yang tidak memiliki kebutuhan khusus juga bisa belajar sesuatu yang sangat berharga, yaitu bagaimana menerima sesamanya yang berkebutuhan khusus. Interaksi dalam kelas dapat dibingkai dalam teladan kasih Kristus bagi semua. Kristus mengasihi dan memandang berharga orang yang tidak dapat berjalan, tidak dapat melihat, serta orang-orang yang menderita kusta dan dijauhi oleh masyarakat.
Satu catatan penting untuk menciptakan kelas inklusif, adalah bahwa anak-anak yang tidak memiliki kebutuhan khusus perlu dipersiapkan dan selalu diajar untuk semakin menerima ABK sebagai temannya/sesamanya. Peran pengajar sangat penting dalam hal ini. Jika kita hanya membuka kesempatan bagi ABK untuk belajar bersama anak-anak yang tidak berkebutuhan khusus, tetapi tidak mempersiapkan mereka untuk menerima temannya yang tampak berbeda dalam beberapa hal, maka bisa terjadi potensi eksklusivisme atau mengucilkan teman yang b e r k e b u t u h a n k h u s u s , a t a u b a h k a n m e n g a l a m i perundungan.
34 35 berikut ini beberapa upaya yang dapat ditempuh:
a. Totalitas/ komitmen untuk menjangkau penyandang disabilitas bukan sebagai “mereka” melainkan sebagai bagian dari “kita”. Dalam hal ini diperlukan upaya pengenalan secara personal, kreativitas untuk membuka akses-akses bagi penyandang disabilitas untuk mengikuti kegiatan gerejawi, konsistensi, serta monitoring/ evaluasi.
b. Belajar: Jemaat dari segala usia perlu belajar untuk mengerti bagaimana pandangan Kristus tentang penyandang disabilitas dan bagaimana tugas perutusan yang diterima oleh gereja sebagai institusi dan pribadi dalam hal ini. Upaya belajar ini dapat dilakukan misalnya dengan memasukkan tema khotbah seputar teologi disabilitas, mengakses berita-berita terkini tentang kegiatan umum yang melibatkan atau dilakukan oleh penyandang disabilitas, mengakses artikel-artikel mengenai penerimaan terhadap penyandang disabilitas, dan sebagainya. Materi pembelajaran tentang keterbukaan masyarakat terhadap penyandang disabilitas ini sangat dinamis, terus berkembang dari waktu ke waktu. Maka, gereja jangan sampai tertinggal karena tidak meningkatkan d i r i d e n ga n b e l a j a r te r u s m e n e r u s . C o n to h perkembangan istilah yang dipakai, misalnya, kata “cacat” sudah dipandang tidak pantas lagi untuk dipakai, digantikan dengan istilah “penyandang disabilitas”.
c. Advokasi: gereja dapat membentuk kelompok dukungan atau kelompok-kelompok advokasi untuk menyuarakan aspirasi penyandang disabilitas dan keluarganya. Dapat juga diadakan diskusi-diskusi seputar topik ini.
d. Berjejaring: gereja dapat bekerjasama dengan pihak lain untuk mengembangkan pelayanan terhadap penyandang disabilitas. Misalnya, bekerjasama dengan pemerintah setempat untuk mendirikan sentra disabilitas dimana siapapun dapat mengakses kebutuhan informasi, literatur, atau bahkan berbagai
terapi di sana. Atau, gereja bekerjasama dengan lembaga yang telah terlebih dahulu bergerak dalam bidang pembinaan ABK, untuk melakukan pelatihan-pelatihan mengajar.
Beragamnya langkah yang diupayakan oleh gereja untuk menerima dan merangkul penyandang disabilitas sebagai bagian yang menyatu dengan “kita” mencerminkan kesungguhan gereja untuk menghadirkan kasih Kristus bagi setiap orang. Dengan demikian, pengadaan akomodasi, modi ikasi, serta UDL pun tidak akan dirasakan sebagai penambahan beban. Sama seperti Kristus yang mengajar melalui perumpamaan domba yang hilang, yang satu itu pun berharga dan dicari dengan segala upaya. Demikianlah pelayanan inklusif di gereja, bukan tentang berapa persen dari jumlah anggota jemaat yang memerlukan pelayanan inklusif ini – melainkan, sekalipun hanya satu orang, ia berharga dan harus dilayani dengan kesungguhan. "Dokter Dari Segala Dokter" An ield Wibowo Tuhan adalah Dokter dari segala dokter, Dia akan menyembuhkan bumi/manusia/kita yang sedang menderita sakit karena pandemi ini, hendaknya kita manusia selalu dan hanya berharap pada Tuhan.
34 35 berikut ini beberapa upaya yang dapat ditempuh:
a. Totalitas/ komitmen untuk menjangkau penyandang disabilitas bukan sebagai “mereka” melainkan sebagai bagian dari “kita”. Dalam hal ini diperlukan upaya pengenalan secara personal, kreativitas untuk membuka akses-akses bagi penyandang disabilitas untuk mengikuti kegiatan gerejawi, konsistensi, serta monitoring/ evaluasi.
b. Belajar: Jemaat dari segala usia perlu belajar untuk mengerti bagaimana pandangan Kristus tentang penyandang disabilitas dan bagaimana tugas perutusan yang diterima oleh gereja sebagai institusi dan pribadi dalam hal ini. Upaya belajar ini dapat dilakukan misalnya dengan memasukkan tema khotbah seputar teologi disabilitas, mengakses berita-berita terkini tentang kegiatan umum yang melibatkan atau dilakukan oleh penyandang disabilitas, mengakses artikel-artikel mengenai penerimaan terhadap penyandang disabilitas, dan sebagainya. Materi pembelajaran tentang keterbukaan masyarakat terhadap penyandang disabilitas ini sangat dinamis, terus berkembang dari waktu ke waktu. Maka, gereja jangan sampai tertinggal karena tidak meningkatkan d i r i d e n ga n b e l a j a r te r u s m e n e r u s . C o n to h perkembangan istilah yang dipakai, misalnya, kata “cacat” sudah dipandang tidak pantas lagi untuk dipakai, digantikan dengan istilah “penyandang disabilitas”.
c. Advokasi: gereja dapat membentuk kelompok dukungan atau kelompok-kelompok advokasi untuk menyuarakan aspirasi penyandang disabilitas dan keluarganya. Dapat juga diadakan diskusi-diskusi seputar topik ini.
d. Berjejaring: gereja dapat bekerjasama dengan pihak lain untuk mengembangkan pelayanan terhadap penyandang disabilitas. Misalnya, bekerjasama dengan pemerintah setempat untuk mendirikan sentra disabilitas dimana siapapun dapat mengakses kebutuhan informasi, literatur, atau bahkan berbagai
terapi di sana. Atau, gereja bekerjasama dengan lembaga yang telah terlebih dahulu bergerak dalam bidang pembinaan ABK, untuk melakukan pelatihan-pelatihan mengajar.
Beragamnya langkah yang diupayakan oleh gereja untuk menerima dan merangkul penyandang disabilitas sebagai bagian yang menyatu dengan “kita” mencerminkan kesungguhan gereja untuk menghadirkan kasih Kristus bagi setiap orang. Dengan demikian, pengadaan akomodasi, modi ikasi, serta UDL pun tidak akan dirasakan sebagai penambahan beban. Sama seperti Kristus yang mengajar melalui perumpamaan domba yang hilang, yang satu itu pun berharga dan dicari dengan segala upaya. Demikianlah pelayanan inklusif di gereja, bukan tentang berapa persen dari jumlah anggota jemaat yang memerlukan pelayanan inklusif ini – melainkan, sekalipun hanya satu orang, ia berharga dan harus dilayani dengan kesungguhan. "Dokter Dari Segala Dokter" An ield Wibowo Tuhan adalah Dokter dari segala dokter, Dia akan menyembuhkan bumi/manusia/kita yang sedang menderita sakit karena pandemi ini, hendaknya kita manusia selalu dan hanya berharap pada Tuhan.
36 37
A. Pengertian Monitoring dan Evaluasi
Monitoring atau Pemantauan adalah suatu proses
pengumpulan dan menganalisis informasi dari penerapan suatu program termasuk mengecek secara reguler pelaksanaan program tersebut untuk memastikan apakah kegiatan/program tersebut berjalan sesuai rencana sehingga masalah yang dilihat/ditemui dapat diatasi. Monitoring juga bermanfaat untuk melihat tantangan dan hambatan yang dihadapi dalam menjalankan pelaksanaan program. Hasil monitoring yang digunakan sebagai umpan balik untuk penyempurnaan pelaksanaan program dalam konteks ini adalah perbaikan atau pengembangan pedoman pembina anak Sekolah Minggu berkebutuhan khusus bagi gereja-gereja.