V. HASIL DAN PEMBAHASAN PERANCANGAN VERTICAL GREENERY
5.1 Sistem Vertical Greenery PT. Envirospace Consultant Indonesia
Perusahaan PT. ESCI merupakan konsultan lanskap yang mengerjakan proyek perancangan lanskap, salah satunya adalah vertical greenery. Proyek perancangan vertical greenery mulai dikembangkan sejak tahun 2010 sampai saat ini. Konsep dari vertical greenery PT. ESCI adalah menggunakan konsep bentukan yang sesuai karakter lanskap dan warna yang alami dari tanaman. Selain itu, konsep tersebut bertujuan untuk merefleksikan keindahan dari lanskap di sekitar, menciptakan suatu karakter pada lanskap tersebut dan menciptakan unsur
unity pada suatu lanskap. Keberadaan taman vertikal menjadi elemen penyatu
antara bangunan dengan taman rumah. Untuk tujuan perancangan vertical
greenery, perusahaan memperhatikan aspek estetika, keamanan, dan kenyamanan.
Tujuan yang mencakup aspek tersebut adalah :
a. untuk menciptakan unsur keindahan dari taman di lahan sempit, b. memberikan kesan alami di lingkungan perkotaan,
c. memperindah bangunan di perkotaan,
d. menciptakan suatu screen untuk bad view, dan
e. memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pengguna.
Tujuan perancangan vertical greenery dari PT. ESCI tersebut sesuai dengan Sujayanto (2011), bahwa manfaat vertical greenery adalah menjadikan solusi penataan taman dalam kondisi keterbatasan lahan, menciptakan keindahan yang alami di tengah lingkungan kota modern, merefleksikan atau memindahkan suatu pemandangan alam, menjadikan partisi dan screen untuk view yang tidak diinginkan.
Dalam pengembangan rancangan vertical greenery, perusahaan bekerja sama dengan induk perusahaan Envirospace Consultant Pte.Ltd, Singapura (ESC). ESC sendiri merupakan pecahan dari Garden and Landscape Center. Pte. Ltd, Singapura (GLC) yang merupakan perusahaan besar yang menangani design and
built bidang arsitektur lanskap di Singapura.
Pengembangan rancangan yang dilakukan memperhatikan kepraktisan dan keoptimalan rancangan. Kepraktisan dan keoptimalan yang dikembangkan
memperhitungkan elemen penting pada vertical greenery yaitu media tanam, tanaman, dan struktur pendukung. Kepraktisan yang dikembangkan adalah elemen struktur yang mudah dipasang dan dibongkar untuk kepentingan pemeliharaan dan pola rancangan yang dapat diatur sesuai keinginan klien. Keoptimalan rancangan mencakup penggunaan elemen tanaman yang tumbuh optimal pada bidang vertikal dan elemen media tanam yang mendukung pertumbuhan tanaman. Setiap elemen yang dihasilkan oleh PT. ESCI didiskusikan dengan pihak ESC dan diuji cobakan untuk mengetahui keberhasilan dari setiap elemen terhadap rancangan
vertical greenery.
Sistem awal vertical greenery yang dikembangkan oleh ESC yaitu menggunakan sistem porous mesh. Sistem ini menggunakan kantong jaring sebagai tempat menyimpan media dan tanaman (Gambar 22). Sistem ini menggunakan serpihan cocopeat sebagai media tanam. Sistem ini kurang optimal karena media cocopeat menjadi semakin rapuh akibat terkena cahaya matahari dan hujan yang terus menerus sehingga sulit ditahan oleh jaring.
Vertical greenery dengan sistem porous tersebut kemudian dikembangkan
dengan kerja sama ESCI dan PT. ESCI mengembangkan sistem VGM panel dengan media tanam berbentuk lempeng yaitu cocopeat lempeng dan pakis lempeng (Gambar 23). Selain sistem VGM, pengembangan lain dilakukan mencakup kepraktisan dalam pemasangan struktur dan keoptimalan dalam menciptakan rancangan. Pengembangan teknologi yang dilakukan untuk mencapai kepraktisan dan keoptimalan rancangan meliputi:
1. media tanam, 2. tanaman,
3. struktur pendukung.
Gambar 22. Sistem Porous Mesh
1. Media Tanam
Media tanam merupakan salah satu elemen penting dalam perancangan
vertical greenery sebagai sumber makanan bagi tanaman pada dinding. Hal yang
diperhatikan oleh PT. ESCI dalam pemilihan media adalah ketersediaan unsur hara, ketersediaan nutrisi, tahan lama, ketersediaan mineral, kemampuan menyerap air, menjaga kelembaban (porousitas air), aman dari penyakit, kemampuan mengikat akar, dan mempunyai drainase serta aerasi yang baik. Media tanam yang digunakan oleh PT. ESCI terdapat beberapa jenis yang berasal dari hasil alam (organik). Media tanam yang digunakan oleh PT. ESCI terdapat beberapa yang merupakan teknologi yang dikembangkan bersama pihak ESC dan ada yang dikembangkan oleh PT. ESCI sendiri. Untuk media tanam yang dikembangkan dengan pihak ESC, yaitu cocopeat , dan pakis. Media tanam yang dikembangkan sendiri oleh PT. ESCI yaitu batu apung, kombinasi (mixed media), dan humus bambu.
a. Cocopeat
Cocopeat adalah serbuk yang berasal dari serabut buah kelapa tua.
Cocopeat memiliki kelebihan mampu menyimpan dan menahan air. Sifat ini dibutuhkan untuk menjamin ketersediaan air bagi tanaman yang menyukai kelembaban. Hal tersebut dibutuhkan karena air irigasi pada sistem vertical
greenery cepat mengalir ke bawah mengikuti gaya gravitasi, sehingga lebih cepat
mengalami kekurangan air. Bahan media cocopeat sering digunakan dan merupakan media tanam yang pertama kali dikembangkan PT ESCI dan ESC sekitar tahun 2010. Bahan ini pertama kali digunakan, karena bahan dasarnya mudah didapat. Namun bahan ini memiliki kekurangan mudah rusak dan lapuk
Gambar 23. Sistem VGM panel
jika terkena sinar matahari dan air hujan yang berlebihan. Cocopeat yang awalnya berbentuk serpihan dikembangkan menjadi bentukan cocopeat panel. Gambar media cocopeat panel dapat dilihat pada Gambar 24.
b. Pakis
Media pakis adalah media tanam yang berasal dari tanaman pakis yang sudah tua. Media pakis sering digunakan PT. ESCI sebagai media tanam vertical
greenery dengan ESC. Konsep awal pakis yang berbentuk lempeng diajukan oleh
pihak ESC dan selanjutnya dibuat produknya oleh PT. ESCI. Pembuatan media pakis lempeng dilakukan di Indonesia oleh PT. ESCI, karena bahan dasarnya lebih mudah didapat dibanding di Singapura. Cara menanam tanaman pada lempeng pakis adalah menempelkan akar tanaman dengan menggunakan kawat atau paku. Hal ini dilakukan untuk memberikan perlakuan akar agar menempel pada lempeng pakis. Setelah akar ditempelkan, selanjutnya dilakukan pemupukan dan penyiraman agar akar dan daun berkembang.
Menurut Aditya (2009) ada beberapa kelebihan dari pakis. Kelebihan dari media pakis adalah memiliki sifat mengikat air, aerasi baik, drainase baik, mudah ditembus akar, dan mampu menjaga kelembaban air. Kelebihan mengikat air dan menjaga kelembaban dapat bermanfaat pada aspek penyiraman. Kelebihan tersebut dapat membantu mengoptimalkan proses penyiraman, karena dapat menjaga air tetap pada media untuk diserap akar. Hal tersebut perlu diperhatikan, karena pertumbuhan pada vertical greenery terjadi pada bidang vertikal sehingga dipengaruhi gaya gravitasi yang mempercepat aliran air irigasi dari atas. Aerasi dan drainase dapat membantu pertumbuhan akar dan mempermudah proses respirasi. Selain itu, kelebihan mengikat akar dan mudah ditembus berpotensi untuk menahan tanaman agar tetap kokoh. Hal tersebut sesuai pada Blanc (2008), bahwa media tanam pada taman vertikal harus dapat menopang tanaman secara kokoh.
Kekurangan dari pakis adalah sering menjadi sarang semut dan serangga lain. Hal tersebut dapat mengganggu kenyamanan user jika jumlah serangga berlebihan. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan proses pengukusan media tanam. Menurut Blanc (2008), media tanam taman vertikal sebaiknya bersifat steril, agar terhindar dari serangga, jamur, virus, dan mikroorganisme yang
merugikan. Salah satu upaya agar media tanam menjadi steril adalah melakukan proses pengukusan media tanam. Selain itu, jenis media pakis sulit didapat dan ilegal karena merupakan bahan langka yang sulit tumbuh. Hal tersebut sesuai pada Sujayanto (2011) bahwa jenis media pakis memiliki kekurangan mencakup ketersediaan media dan dilindungi karena pertumbuhannya yang lambat. Untuk mengatasi hal tersebut PT. ESCI menggunakan sisa pakis dari perkebunan.
Bentuk dari lempeng pakis yang digunakan oleh PT. ESCI adalah lempeng dan kantung panel. Lempeng pakis memiliki bentuk lempengan yang memiliki berbagai jenis ukuran panjang dan lebar dengan tebal 5 cm. Ukuran tebal tersebut berbanding lurus dengan kesuburan dan berpengaruh terhadap perkembangan akar. Semakin tebal ukuran lempeng pakis, maka semakin tinggi nutrisi dan unsur hara serta berpengaruh terhadap jangkauan akar. Selain itu, ukuran tebal panel pakis berbanding terbalik dengan bobot dari vertical green module (VGM). Semakin tebal ukuran lempeng pakis, maka semakin berat bobot VGM yang dapat berpengaruh terhadap kekuatan struktur vertical greenery.
Pakis yang berbentuk kantung panel adalah jenis media pakis yang dikembangkan PT. ESCI sejak tahun 2011. Jenis ini memiliki keunggulan dibanding lempeng pakis, yaitu mempunyai kantung yang berfungsi untuk menyimpan pupuk organik. Hal tersebut menambah ketersediaan unsur hara dan nutrisi bagi tanaman. Kelebihan dari penggunaan jenis ini adalah jangkuan akar lebih besar sehingga tanaman lebih kokoh menyokong media. Kekurangan jenis ini adalah bobot yang lebih besar dibanding jenis lempeng, karena kantung terbuat dari dua buah lempeng yang dibentuk. Produk media pakis yang digunakan oleh PT. ESCI dapat dilihat pada Gambar 25.
Gambar 24. Media Cocopeat
c. Batu Apung
Batu apung adalah media tanam vertical greenery yang biasa digunakan PT. ESCI untuk pelengkap taman gaya mediteranian. Media tanam ini dikombinasikan dengan tanaman bergaya mediteranian seperti Bromelia
(Neoregalia tricolor), Neoregalia Hybrid (Neoregalia sp), kriptantus (Cryptanthus sp), ophiopogon (Ophiopogon sp), dan Aechmea (Aechmea sp). Media ini
memiliki tektur kasar dengan batuan yang kering mendukung jenis taman kering
mediteranian. Jenis penggunaan media ini merupakan original yang dihasilkan
oleh PT. ESCI untuk perancangan vertical greenery dan diterapkan di Indonesia. Menurut Gusbiandha (2010) media batu apung memiliki kelebihan kandungan hara yang tinggi bagi tanaman, memiliki pori-pori makro lebih banyak, batuannya ringan, mampu melarutkan air, dan material penyusunnya yang tidak mudah lapuk. Penggunaan media ini akan membantu peredaran larutan unsur hara dan udara serta pada prinsipnya tidak menekan pertumbuhan akar. Kekurangan dari media apung adalah kemampuan mengikat air yang relatif rendah sehingga mudah basah dan cepat kering jika penyiraman tidak dilakukan secara rutin. Gambar media batu apung dapat dilihat Gambar 26.
Gambar 26. Media Batu Apung
(Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011) Gambar 25. Media Pakis (a.Lempeng dan b. Kantung Panel)
(Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011)
d. Humus Bambu
Humus bambu adalah jenis media yang terbuat dari daun bambu yang difermentasi dan diuraikan dengan bakteri mikroba dengan menggunakan teknologi fermentasi. Jenis ini original dikembangkan oleh PT. ESCI kerjasama dengan pihak LIPI sebagai alternatif media pakis yang merupakan bahan yang dilindungi. Keunggulan dari media ini adalah mengandung unsur hara dan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman, meningkatkan kesuburan dan memperbaiki kondisi media tanam baik di tanah maupun di dalam pot, mempercepat pertumbuhan akar halus dan tunas baru, mampu memelihara kondisi tanaman pada keadaan minim air.
Media humus bambu merupakan media vertical greenery yang dikembangkan oleh perusahaan sejak tahun 2011. Media ini menjadi alternatif pengganti pakis, karena mudah dicari dan merupakan sustainable product. Pembuatan jenis media bambu adalah sama seperti pada media pakis, yaitu berbentuk lempeng dan kantung panel. Gambar produk media humus bambu dapat dilihat pada Gambar 27.
e. Mixed Media (Media Campuran)
Mixed media (media campuran) adalah media tanam yang merupakan
kombinasi dari berbagai media. Bahan media tanam yang dicampur adalah pakis, cocopeat, kompos, dan batu apung dengan komposisi 25% : 25% : 25% : 25% (Gambar 28). Kelebihan dari mixed media adalah komposisi kandungan unsur hara dan nutrisi dari setiap media tanam lebih banyak dan lebih subur. Selain itu, kelebihan setiap media menjadi pendukung kekurangan pada media lain. Kelemahan dari jenis media ini adalah kurang praktis dalam proses pemasangan
Gambar 27. Media Humus Bambu (a. lempeng, dan b. Kantung Panel. (Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011)
pada bidang vertikal, karena memiliki bentuk serpihan yang sulit ditahan oleh struktur. Untuk mengatasi kendala tersebut PT. ESCI menggunakan bentuk VGM yang lebih komplek untuk menahan media.
2. Jenis Tanaman
Tanaman adalah salah satu elemen estetika dalam pembuatan vertical
greenery. Tanaman sebagai unsur estetika yang ditonjolkan pada vertical greenery
untuk menciptakan suasana asri, hijau, dan sejuk. Dalam pemilihan tanaman yang tepat untuk vertical greenery, PT. ESCI melakukan percobaan dari berbagai jenis tanaman. Percobaan yang dilakukan yaitu penanaman terhadap media pada posisi normal (horizontal) sampai akar menembus media dan daun mulai tumbuh. Selanjutnya posisi tanaman dan media diubah kedalam posisi vertikal dan diteliti jenis yang bertahan hidup. Hasil dari percobaan ini dihasilkan jenis tanaman yang cocok dengan sistem vertical greenery dan digunakan pada proyek di Indonesia oleh PT. ESCI dan di Singapura oleh ESC.
Jenis tanaman yang digunakan oleh perusahaan adalah epifit, tanaman merambat dan penutup tanah (ground cover). Hal tersebut sesuai dengan Sujayanto (2011), bahwa jenis tanaman yang digunakan untuk vertical greenery meliputi tanaman epifit, merambat, dan penutup tanah. Tanaman epifit paling adaftif untuk digunakan karena secara alami tumbuh menempel. Jenis tanaman epifit memiliki akar alami yang menempel pada suatu bidang, sehingga sesuai untuk sistem vertical greenery. Jenis tanaman epifit yang digunakan oleh PT. ESCI adalah Paku Sarang burung (Asplenium nidus), Kriptantus (Cryptanthus sp), Paku-pakuan (Nephrolepis sp), Bromelia (Neoregalia tricolor), Bromelia Hybrid (Neoregalia sp), dan Aechmea (Aechmea sp).
Gambar 28. Mixed Media (a.Cocopeat, b. Batu Apung, c. Kompos, dan d. Pakis) (Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011)
Tanaman penutup tanah (ground cover) dapat digunakan, karena memiliki bobot ringan, relatif kecil, dan berakar serabut. Jenis tanaman ground cover memiliki perakaran lunak dan dapat menembus material media tanam yang terbatas. Jenis tanaman ground cover digunakan PT. ESCI adalah Peperomia (Peperomia argyreia), Asparagus (Asparagus densiflorus ‘Mayer’), Ophiopogon (Ophiopogon sp), Pilea (Pilea microphylla), Hoya (Hoya sp) dan Embun pagi (Dissotis rotundifolia).
Jenis tanaman merambat memiliki karakter pertumbuhan yang dapat menyebar ke bidang vertikal. Tanaman merambat (climber) yang digunakan adalah Sirih Gading (Scindapsus sp/Epipremnum sp), Monstera (Monstera sp), Dolar-dolaran (Ficus repens), Philodendron (Philodendron sp), dan Sigonium (Sygonium sp).
3. Struktur Pendukung
Struktur pendukung berfungsi untuk memasang media dan tanaman pada bidang vertikal. Selain itu, dengan menggunakan struktur lebih praktis dalam memasang dan membongkar model vertical greenery. Terdapat beberapa bagian struktur pendukung vertical greenery yang digunakan oleh PT.ESCI yaitu:
a. vertical green module (VGM), b. frame module,
c. rel module.
a. Vertical Green Module (VGM)
Vertical Green Module (VGM) adalah bagian struktur model vertical greenery yang berfungsi sebagai tempat menahan media dan tanaman. VGM yang
digunakan oleh PT. ESCI memperhitungkan aspek kepraktisan dalam pemasangan, kokoh, tidak merusak tembok, mengotori bidang tembok, dan tidak merusak media serta tanaman. Bahan dasar dalam pembuatan VGM adalah menggunakan bahan yang tidak mengalirkan panas dan tahan seperti aluminium. Untuk jenis VGM yang digunakan oleh perusahaan adalah VGM bag dan VGM
panel.
VGM bag adalah jenis vertical green modul yang berbentuk kantung atau wadah untuk menyimpan media tanam. Pada bagian depan VGM dipasang besi
kasa untuk menahan media tanam yang berbentuk serpihan. Bagian dalam lubang tanaman dilengkapi dengan geotextile yang berfungsi untuk menahan akar. Jenis VGM ini dikembangkan oleh PT. ESCI untuk menahan media serpihan (mixed
media). Kelebihan dari jenis ini adalah kapasitas dalam penggunaan media lebih
tinggi dan beragam. Hal tersebut memungkinkan menggunakan kombinasi media (mixed media tanam) yang memiliki unsur hara dan nutrisi yang cukup. Kekurangan dari jenis ini adalah bobot massa yang lebih berat, sehingga berpengaruh terhadap aspek keamanan dan konstruksi penopang yang lebih rumit.
VGM panel adalah jenis vertical green modul berbentuk panel dilengkapi dengan lempengan media. Jenis VGM ini merupakan struktur yang dikembangkan PT. ESCI dengan pihak ESC. Jenis ini memiliki ketebalan 5–6 cm dan bobot massa yang ringan yaitu sekitar 700-1500 gr/m2 (bahan struktur+media tanam). Selain itu, bobot massa VGM yang ringan dapat menghindari resiko struktur
vertical greenery kelebihan beban. Hal tersebut sesuai dengan Blanc (2008),
bahwa hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan media adalah bobot. Bobot media tanam mempengaruhi berat total dari taman vertikal, sehingga media tanam yang digunakan disarankan memiliki bobot ringan. Kekurangan dari jenis ini adalah keterbatasan penggunaan jumlah media yang dapat berpengaruh terhadap jumlah kandungan unsur hara yang terkandung dalam media. Hal tersebut sesuai pada Blanc (2008), bahwa media taman vertikal harus menyediakan unsur hara makro dan mikro yang cukup untuk tanaman. Vertical green module (VGM) yang digunakan oleh PT.ESCI dapat dilihat pada Gambar 29 dan 30.
Gambar 29. Vertical Green Module Bag (a.Photo, dan b. Ilustrasi Tampak Isometri) (Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011)
b. Frame Module
Frame module adalah bagian dari struktur vertical greenery yang
berfungsi untuk menopang VGM. PT. ESCI merancang frame module berbentuk balok kanal U bertujuan sebagai bingkai untuk menahan beban dari VGM. Fungsi lain dari frame module adalah menyimpan pipa irigasi untuk mengairi media tanam. Bahan yang digunakan dalam pembuatan frame module adalah besi kanal U galvanis. Besi kanal U yang dilapisi oleh galvanis lebih tahan dan tidak berkarat. Frame module merupakan teknologi bagian struktur vertical greenery yang dikembangkan oleh PT. ESCI dengan ESC.
Kelebihan penggunaan frame module adalah kemudahannya dalam memasang dan membongkar VGM, karena memiliki prinsip kerja seperti bingkai foto. Kekurangan struktur ini adalah menimbulkan batas bingkai tebal pada saat pemasangan tanaman, sehingga penutupan tanaman tidak sempurna. Gambar dari
frame module dapat dilihat pada Gambar 31.
c. Rel Module
Rel module adalah struktur yang berfungsi untuk menahan dan menghubungkan VGM dan frame module ke bidang vertikal. Rel module yang
Gambar 30. Vertical Green Module Panel (a.Photo, dan b. Ilustrasi) (Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011)
a b Lempeng Pakis
Irrigation Column Aluminium Galvanis
digunakan terdapat 2 jenis, yaitu rel module langsung dan rel module tidak langsung (Gambar 32 dan 33). Kedua jenis tersebut merupakan teknologi yang dikembangkan oleh PT. ESCI dan ESC. Rel module langsung menghubungkan struktur vertical greenery ke bidang dinding menggunakan skrup. Jenis struktur ini biasanya digunakan pada bidang tembok yang berstruktur kuat dan kokoh, seperti beton atau bata dan semen. Hal tersebut sesuai pendapat Sujayanto (2011), bahwa untuk menahan struktur vertical greenery dibutuhkan tembok yang kuat seperti bata atau beton. Kelebihan dari struktur ini adalah lebih kuat menopang beban dari massa VGM dan frame module, karena didukung dinding tembok sebagai penopangnya. Kelemahan dari struktur ini adalah lebih beresiko merusak struktur pada bidang tembok.
Rel module tidak langsung adalah jenis struktur yang tidak menghubungkan struktur vertical greenery pada bidang tembok. Jenis struktur ini mempunyai pondasi sendiri sebagai penopang struktur vertical greenery. Struktur ini digunakan pada saat bidang tembok terbuat dari bahan yang mudah rusak seperti batako ringan. Kelebihan dari rel module ini adalah dapat digunakan pada tapak yang tidak memiliki bidang tembok, karena rel module memiliki struktur pondasi sendiri. Selain itu, jenis ini dapat digunakan untuk vertical greenery yang berfungsi sebagai screening atau tirai untuk menutup bad view. Kelemahan menggunakan rel module jenis ini adalah kurang praktis diaplikasikan pada area perkerasan, karena harus terlebih dahulu membongkar struktur perkerasan disbanding pada area tanah. Solusi untuk kendala tersebut adalah menggunakan VGM yang berbobot ringan.
Gambar 31. Frame Module (a. Foto dan b. Ilustrasi)
(Sumber: Bribach, 2010 dan PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011)
Depan
Samping
5.2. Perancangan Vertical Greenery Tiang Kolom Jalan Fly Over, Pramuka DKI Jakarta.
5.2.1. Hasil Perancangan Vertical Greenery Tiang Kolom Jalan Fly Over, Pramuka DKI Jakarta.
5.2.1.1. Deskripsi Proyek
Proyek perancangan vertical greenery tiang kolom jalan fly over Pramuka, bertujuan untuk memberikan penghijauan pada area di bawah jalan fly over. Kondisi eksisting area bawah fly over memiliki iklim mikro yang tidak nyaman.
Gambar 32. Rel Module Langsung (a. Foto, b. Potongan)
(Sumber: Bribach, 2010 dan PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011)
a
Gambar 33. Rel Module Tidak Langsung (a. Foto, b. Potongan) (Sumber: Bribach, 2010 dan PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011)
a b
Karena kondisi tersebut, dibutuhkan suatu penghijauan di sekitar area bawah fly
over untuk menciptakan iklim mikro yang nyaman dan memberikan suasana yang
asri bagi pengguna jalan.
Klien pada proyek ini adalah lembaga pemerintahan, yaitu Dinas Pemakaman dan Pertamanan DKI Jakarta. Kegiatan proyek ini merupakan keberlanjutan dari proyek penghijauan area bawah fly over yang dikerjakan bersama antara klien dan PT. Envirospace Consultant, Indonesia.
5.2.1.2. Proses Perancangan
Proses perancangan vertical greenery tiang kolom jalan fly over Pramuka, DKI Jakarta dilaksanakan melalui beberapa tahapan yang umum dikerjakan oleh konsultan lanskap. Mahasiswa magang diikutsertakan dalam kegiatan di lapang dan di studio. Kegiatan yang dilakukan di lapang meliputi, inventarisasi dan analisis tapak. Kegiatan di studio meliputi pembuatan dokumen gambar yaitu gambar konsep dasar, konsep desain awal (preliminary concept design), rencana tapak (site plan), pengembangan desain (design development), dan detail konstruksi (detail engineering design). Kegiatan pembuatan dokumen gambar dibimbing oleh staf divisi dan pimpinan perusahaan. Proses perancangan yang dikerjakan dapat dilihat pada Gambar 34.
5.2.1.3. Tahap Persiapan
Lingkup kerja pada proyek ini adalah perancangan vertical greenery tiang kolom jalan fly over Pramuka DKI Jakarta. Pada tahapan ini perusahaan melakukan proses kontrak proyek dengan klien. Kontrak tersebut berisi penjelasan mengenai lingkup pekerjaan time line progres pekerjaan, batasan pekerjaan dan daftar gambar kerja yang harus dibuat perusahaan. Klien pada proyek ini adalah Bidang Jalur Kota Tata Hijau Dinas Pertamanan dan Pemakaman Provinsi DKI
Gambar 34. Proses Perancangan Vertical Greenery Tiang Kolom Jalan Fly Over Pramuka, DKI Jakarta
(Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011)
Persiapan Inventarisasi Analisis Konsep Dasar
Pengembangan Desain Rencana Tapak
Konsep desain awal Detail Konstruksi
Jakarta. Setelah proses kontrak, pimpinan perusahaan melakukan tahap diskusi awal dengan klien untuk membicarakan kondisi awal tapak dan gambaran ide serta gagasan. Pada tahapan diskusi ini, klien menginginkan rancangan berupa
vertical greenery pada tiang kolom fly over untuk menciptakan suasana asri dan
indah.
5.2.1.4. Tahap inventarisasi
Jalan fly over Pramuka merupakan salah satu fly over di kawasan DKI
Jakarta yang sudah beroperasi sejak tahun 2009. Fly over Pramuka terletak di antara jalan Pemuda dan jalan Pramuka, Jakarta Timur (Gambar 29). Area yang menjadi cakupan pekerjaan perancangan adalah pada bagian kolom konstruksi tiang jalan fly over Pramuka. Jumlah tiang kolom yang menjadi cakupan pekerjaan adalah 10 (sepuluh) tiang kolom dengan tinggi yang berbeda-beda. Empat buah tiang dengan tinggi 2.5 m, empat buah tiang dengan tinggi 6 m dan dua buah tiang dengan tinggi 4 m. Cakupan luasan untuk perancangan vertical
greenery pada keseluruhan tiang kolom adalah 416 m2 .
Kondisi area sekitar tiang kolom adalah jalur kendaraan bermotor dan jalur
busway. Selain itu, di area bawah fly over terdapat pocket park yang sedang
dikerjakan pihak Dinas Pertamanan dan Pemakaman Provinsi DKI Jakarta. Kecepatan kendaraan di sekitar tiang kolom antara 20-35 km/jam dengan posisi tiang kolom berada di samping kanan ruas jalan. Pada tahapan inventarisasi ini, perusahaan menggunakan dua metode, yaitu inventarisasi data primer dan inventarisasi data sekunder. Data primer diperoleh langsung di lapang (site visit) dengan pengambilan foto (site photo). Site photo diperlukan untuk memotret kondisi fisik tiang kolom dari berbagai sudut yang selanjutnya akan dianalisis. Data sekunder diperoleh dari data google earth, Dinas Pertamanan dan Pemakaman Provinsi DKI Jakarta dan website. Data hasil inventarisasi dapat dilihat kembali pada Tabel 3.
Tahap site visit untuk inventarisasi dilakukan 2 kali untuk melakukan proses cross cek data sekunder dengan keadaan di lapang. Proses cross cek dilakukan untuk mencocokkan informasi data sekunder dengan informasi yang ada di lapang. Data sekunder yang digunakan pada saat proses cross cek adalah gambaran spasial dari google earth dan peta basemap yang sudah dibuat
perusahaan (Gambar 36). Tahap inventarisasi dilakukan oleh pimpinan perusahaan ESCI, staf perancangan dan perencanaan, dan mahasiswa magang. Mahasiswa magang diikutsertakan dalam kegiatan inventarisasi bertujuan untuk pembelajaran mengenai cara melakukan inventarisasi tapak dan pengetahuan mengenai data yang akan dianalisis.
5.2.1.5. Tahap Analisis
Kondisi fisik dari tiang kolom fly over kurang baik dari segi visual. Banyak terdapat bekas pamflet yang ditempel dan coretan gambar di beberapa bagian tiang kolom, sehingga kurang enak dilihat dari arah pengendara. Kondisi tersebut dapat dilihat pada Gambar 37. Selain itu, kondisi tiang kolom yang berdebu menciptakan suasana kumuh yang jauh dari kesan asri dan hijau seperti yang diinginkan klien.
Gambar 35. Lokasi dan Jumlah Tiang Kolom Fly Over
(Sumber: google earth, 2011) (Foto: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011) t = 6 m t = 4 m t = 6 m t = 6 m t = 2,5 m t = 4 m t = 6 m t = 2,5 m t = 2,5 m t = 2.5 m
Gambar 36. Base Map Tiang Kolom Fly Over Jakarta (Sumber: PT. Envirosp
Gambar 37. Kondisi Tiang Kolong Fly Over (Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011)
Kondisi biofisik dari tiang kolom yaitu terdapat jalur kendaraan di sebelah kanan tiang dan beberapa zebracross serta trotoar. Kecepatan kendaraan di sekitar tiang kolom adalah antara 20-35 km/jam dengan posisi tiang kolom berada di samping kanan ruas jalan. Kecepatan kendaraan tersebut menjadi dasar untuk menghadirkan vertical greenery di sepanjang jalan yang bisa dinikmati keindahan dan keasriannya oleh pengguna jalan tanpa mengganggu arus lalu lintas. Selain itu, ada beberapa existing pocket park di area kolong tol yang berpotensi sebagai titik irigasi bagi sistem vertical greenery (Gambar 38). Tidak semua tiang berada di dekat posisi titik air, sehingga diperlukan sistem irigasi yang lebih komplek untuk mengairi tanaman pada semua vertical greenery.
Pengguna jalan sekitar tiang kolom fly over Pramuka adalah masyarakat kota maupun luar kota yang berkendara melewati area tiang kolom fly over. Jenis kendaraan yang menggunakan jalan adalah mobil pribadi, angkutan umum, dan
busway. Kondisi jalan yang sering terjadi kemacetan, bisa menjadi potensi untuk
menikmati aspek visual dan ekologis dari vertical greenery.
Iklim mikro di area sekitar tiang kolom tidak nyaman dengan kondisi udara yang tercemar debu dan asap kendaraan. Selain itu efek dari aspal dan beton
fly over mengakibatkan radiasi panas yang tidak nyaman bagi pengguna jalan.
Karena hal tersebut diperlukan penghijauan, dengan penggunaan vertical greenery pada area tiang kolom, yang bertujuan untuk menciptakan iklim mikro yang lebih baik secara amenity.
5.2.1.6. Konsep Dasar (Concept Plan)
Rencana konsep dari proyek vertical greenery ini adalah menciptakan keindahan alami di lingkungan sekitar jalan bawah fly over, kenyamanan bagi pengendara dan dapat dinikmati pada kondisi normal dan macet. Karakter bentuk yang digunakan adalah bentukan rectilinier yang memberikan kesan formal, kaku dan mengikuti bentukan tiang kolom yang kokoh. Karakter tersebut dikombinasikan dengan tekstur tumbuhan yang lembut alami. Untuk konsep warna yang digunakan adalah warna alami yaitu hijau meliputi hijau tua dan hijau muda. Konsep warna yang digunakan merupakan permintaan dari pihak klien untuk menciptakan kombinasi warna yang dinamis agar tidak monoton. Untuk pembuatan konsep. PT. ESCI memberikan beberapa alternatif kombinasi bentuk dan warna (Gambar 39).
Konsep desain yang diajukan kepada klien mengalami beberapa kali diskusi untuk mendapatkan konsep yang tepat. Dasar pemikiran dari konsep yang
Gambar 39 Pola Konsep Desain yang Diajukan Kepada Klien
(Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011) (Digambar Oleh: Fauzi, 2011)
A B C D E
Gambar 38 Exsisting Pocket Park Kolong Fly Over (Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011)
dipilih mempertimbangkan bentuk pola desain yang tidak monoton, tidak terlalu rumit dan bersifat dinamis, sehingga memberikan suasana nyaman untuk dinikmati oleh pengendara. Konsep yang disetujui oleh klien terdapat 2 (dua) pola yaitu Pola A dan B (Gambar 40). Pola tersebut dipilih klien karena memiliki susunan warna dan bentuk yang tidak terlalu rumit dan dinamis. Kedua pola tersebut ditempatkan pada posisi a-b-a-b pada setiap tiang kolom untuk menciptakan suatu irama searah laju kendaraan (Gambar 41).
5.2.1.7. Tahap Konsep Desain Awal (Preliminary Concept Design)
Tahap konsep desain awal menghasilkan produk gambar ilustrasi yang bertujuan untuk menggambarkan konsep yang digunakan pada tahap rencana konsep (concept plan) sebelumnya. Produk dari tahap ini diajukan kepada klien untuk didiskusikan. Produk yang dihasilkan pada tahap ini berupa:
a. Feature image of softscape
b. Feature image of vertical greenery c. Artist impression
Gambar 40. Dua Konsep Desain yang Disetujui Klien
(Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011) (Digambar Oleh: Fauzi, 2011)
Gambar 41. Pola a-b-a-b
(Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011) (Digambar Oleh: Fauzi, 2011)
a. Feature image of softmaterial
Feature image of softmaterial merupakan gambar usulan mengenai elemen softmaterial (tanaman) yang akan digunakan pada vertical greenery. Spesifikasi
warna tanaman disesuaikan dengan konsep kombinasi warna yang telah direncanakan. Tanaman tersebut adalah bromelia merah (Neoregelia tricolor) untuk warna merah, sirih “gold”(Scindapsus aureum) untuk warna kuning, pakis kelabang (Nephrolepis biserrata) untuk warna hijau muda, dan sirih gading (Scindapsus aureus) untuk warna hijau tua (Gambar 42).
b. Feature image of vertical greenery
Feature image of vertical greenery merupakan gambar usulan mengenai
gambaran desain yang akan dikerjakan. Gambar tersebut mencakup aplikasi dari konsep softscape pada vertical garden (Gambar 43), aplikasi vertical greenery pada bidang kolom (Gambar 44), bahan hardmaterial dan bahan media yang akan digunakan (Gambar 45).
Gambar 42. Tanaman untuk Vertical Greenery (a. bromelia merah (Neoregelia tricolor), b. sirih “gold”(Scindapsus aureum), c. pakis kelabang (Nephrolepis
biserrata), d. sirih gading (Scindapsus aureus)). (Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011)
Gambar 43. Feature Image Aplikasi Konsep Softscape pada Vertical Greenery (Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011)
c. Artist impression
Artist impression merupakan gambar ilustrasi yang dibuat untuk
menggambarkan rencana konsep kepada pihak klien. Ilustrasi tersebut meliputi
view dari vertical greenery pada kolom (Gambar 46) dan perspektif suasana vertical greenery (Gambar 47).
Gambar 44. Feature Image Aplikasi Vertical Greenery pada Bidang Kolom (Sumber: Blanc, 2008)
a
d
b c
e
Gambar 45. Feature Image Bahan Hard Material ( a. modul aluminium galvanis ) dan bahan media tanam (b. pakis, c. batu apung, d. cocopeat, e. geotextile)
Gambar 46 Ilustrasi View Vertical Gre en ery Tiang Kolom Fly Over
(Sumber: PT. Envirospace Consultant Indon
esia, 2011) (Digambar
5.2.1.8. Rencana Tapak ( Site Plan)
Tahap rencana pelaksanaan bertujuan untuk menggambarkan rencana garis besar proyek vertical greenery. Rencana pelaksanaan yang dibuat menggambarkan posisi vertical greenery dan posisi titik air pada pocket park
exsisting untuk sistem irigasi (Gambar 48). Pada site plan terlihat posisi vertical greenery berada di bawah tiang kolom fly over antara Jalan Pramuka dan Jalan
Pemuda. Pola desain A dan B yang sudah ditentukan sebelumnya dipasangkan secara berselang untuk menciptakan irama yang tidak monoton. Ukuran tiang kolom dengan ketinggian yang berbeda dengan komposisi tinggi ke rendah dikombinasikan dengan komposisi vertical greenery yang berselang.
5.2.1.9. Tahap Pengembangan Desain (Design Development)
Tahap pengembangan desain adalah tahapan dari pengembangan konsep elemen hardscape dan softscape ke dalam suatu rancangan. Pengembangan elemen hardscape berupa pembuatan desain konstruksi dengan berbagai alternatif. Pengembangan elemen softscape berupa pembuatan desain penanaman secara
vertical serta pengembangan penggunaan media tanam. Produk yang dibuat pada
tahapan ini adalah a) desain konstruksi vertical greenery, b) desain penanaman, dan c) sistem irigasi (irrigation system).
Gambar 47. Ilustrasi Perspektif Vertical Greenery Tiang Kolom Fly Over (Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011) (Digambar Oleh: Fauzi, 2011)
1
2 3 4 52
Gambar 48. Rencana Induk Vertical Gr eenery Tiang Kolom Fly O ver
(Sumber: PT. Envirospace Consultant Indon
esia, 2011) (Digambar
a. Desain konstruksi vertical greenery
Desain konstruksi vertical greenery merupakan pengembangan konsep dari elemen hardmaterial pada tahap konsep desain awal (preliminary concept
design). Pada perancangan proyek ini, PT. ESCI menggunakan struktur vertical green module (VGM). VGM berfungsi sebagai tempat menyimpan media yang
akan ditanami. Sistem ini memodifikasi tanaman agar dapat tumbuh secara vertikal. Selain itu, sistem VGM digunakan untuk memudahkan dalam menyusun tanaman sesuai dengan konsep warna dan bentuk yang sudah ditentukan, karena prinsip kerjanya seperti puzzle. Bagian struktur yang digunakan perusahaan selanjutnya adalah struktur frame module. Struktur ini berfungsi untuk menopang dan mengunci VGM. Penggunaan sistem ini memudahkan dalam memasang dan membongkar VGM, karena memiliki prinsip kerja seperti bingkai foto. Posisi VGM terhadap frame module dapat dilihat pada Gambar 49.
Posisi VGM dan frame module terhadap bidang kolom mengikuti bentuk keliling lingkaran agar dapat menutup bagian luasan kolom. Selain itu, dalam pemasangan VGM terhadap frame module harus memperhatikan sudut antar VGM dan frame module. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam proses pemasangan VGM.
Struktur terakhir yang digunakan untuk menopang frame module dan VGM adalah rel module. PT. ESCI menawarkan dua alternatif desain untuk menghubungkan antara rel module dengan bidang kolom yaitu rel module langsung dan tidak langsung. Alternatif tersebut memperhitungkan perlakuan terhadap struktur kolom yang menopang fly over.
a b
Gambar 49. Posisi Vertical Green Module Terhadap Frame Module (a. Tampak Depan, b. Tampak Samping
Alternatif pertama adalah menggunakan struktur penghubung yang dihubungkan langsung ke bidang kolom. Struktur ini menggunakan 2 (dua) buah rel module untuk menopang satu baris frame module dan VGM. Setiap baris terdapat 5 buah VGM uk. 1000x200x75 mm dan 10 buah frame module. Total rel module yang digunakan adalah 16 buah pada setiap tiang kolom. Struktur rel
module dihubungkan langsung terhadap struktur kolom dengan menggunakan
skrup baja (Gambar 50).
Alternatif kedua adalah menggunakan pondasi beton untuk menahan rel besi. Alternatif ini menggunakan 1 (satu) buah rel module dilengkapi struktur pondasi dengan flat besi yang berukuran lebih besar menopang 11 VGM uk. 700x450x75mm dan 22 buah frame module. Rel module tersebut memiliki pondasi telapak untuk menopang struktur vertical greenery agar tetap kokoh. Setiap Rel module yang mengelilingi tiang kolom diikat menggunakan besi ulir untuk memperkuat struktur secara keseluruhan dan mengurangi resiko karena kelebihan beban (Gambar 51).
Dua alternatif tersebut diajukan kepada klien untuk didiskusikan dan mendapatkan persetujuan. Diskusi dilakukan oleh dua belah pihak yaitu pihak PT. ESCI dan pihak klien. Untuk pihak perusahaan yang melakukan diskusi adalah pimpinan perusahaan dan perwakilan staf perancangan, sedangkan dari pihak klien adalah pimpinan sub bidang dan perwakilan anggota sub bidang. Setelah melakukan diskusi dengan klien, klien memilih alternatif 2 (dua) untuk dibuat gambar detail engineering design (DED). Alternatif tersebut dipilih karena lebih memperhatikan keamanan struktur tiang kolom.
b. Desain Penanaman
Desain Penanaman adalah pengembangan dari konsep vegetasi yang sudah direncanakan sebelumnya, yaitu menggunakan kombinasi warna tanaman (merah, kuning, hijau muda dan hijau tua). Pada tahapan ini tim proyek membuat suatu sistem penanaman pada vertical greenery yang disesuaikan dengan konstruksi modul. Sistem penanaman yang digunakan adalah menggunakan teknik porous atau mesh. Media tanam yang digunakan adalah serabut kelapa (cocopeat), batu apung, pakis dan kompos dengan komposisi masing-masing 25%.
Gambar 50. Desain Alt
ernatif I dengan
Rel M
odule
Langsung (a. T
ampak Atas, b. Tampak Samping
(Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011)
(Digambar
Gambar 51. Desain Alt
ernatif II dengan
Rel M
odule
Tidak Langsu
ng (a. Tampak Atas, b. Tampak Samping
(Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011)
(DIgambar
Komposisi tanaman yang digunakan pada pengembangan pola desain A adalah Bromelia bunga (Neoregelia tricolor) 25% , Pakis kelabang (Nephrolepis
biserrata) 30%, Sirih gading (Scindapsus aureum) 20%, Sirih gading kuning
(Scindapsus aureus’Gold’) 25%. Pola desain B adalah Bromelia bunga (Neoregelia tricolor) 20%, Pakis kelabang (Nephrolepis biserrata) 35%, Sirih gading (Scindapsus aureum) 15%, Sirih gading kuning (Scindapsus aureus’Gold’) 30%. Jarak tanam yang didesain tergantung dari diameter tajuk tanaman yang digunakan. Untuk tanaman yang berukuran lebih besar seperti Bromelia bunga (Neoregelia tricolor) dan Pakis kelabang (Nephrolepis biserrata) dengan lebar tajuk tanaman sekitar 30cm-40cm memiliki jarak tanam 30cm-40cm. Tanaman berukuran lebih kecil seperti Sirih gading (Scindapsus aureum), Sirih gading kuning (Scindapsus aureus’Gold’) dengan lebar tajuk lebih ramping antara 10 cm-20cm memiliki jarak tanam 10cm-cm-20cm.
Teknik penanaman yang digunakan pada proyek ini adalah vertical class, yaitu teknik penanaman dengan posisi tanaman secara vertikal. Arah tumbuh tanaman mengarah horizontal menuju pandangan manusia (Gambar 52).
c. Sistem Irigasi (Irrigation system).
Sistem irigasi yang digunakan pada proyek perancangan vertical greenery ini adalah irigasi tetes (drip irrigation) yang mengairi bagian perakaran. Perakaran tersebut berada pada campuran media yang dapat menyimpan air (cocopeat, batu
apung, pakis) untuk diserap tanaman. Untuk jumlah pipa subline yang Gambar 52.Teknik Penanaman secara Vertikal (a. Tampak, b.Potongan)
(Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011) (Digambar Oleh: Fauzi, 2011)
a b
Arah tanaman Horizontal Bidang
mendistribusikan air irigasi pada vertical greenery, jumlahnya tergantung dari tinggi kolom dan jumlah modul yang digunakan. Tinggi tiang kolom 6 m menggunakan 6 (enam) pipa subline, tinggi tiang 4 m menggunakan 4 (empat) pipa subline, dan tinggi tiang 2,5 m menggunakan 2 (dua) pipa subline. Pipa
subline yang digunakan dipasang diatas kantung VGM dan terhubung dengan
media tanam (Gambar 53).
5.2.1.10. Detail Engineering Design (DED)
Detail engineering design (DED) merupakan tahapan pembuatan gambar
kerja konstruksi yang dilengkapi dengan spesifikasi material beserta dimensi yang akan diimplementasikan oleh kontraktor. Tahapan ini merupakan pengembangan dari tahap design development setelah melalui tahap persetujuan dan revisi. Pembuatan produk gambar kerja konstruksi dilakukan oleh mahasiswa magang dibimbing oleh bagian perancangan dan perencanaan serta pimpinan perusahaan. Selain itu, gambar melalui tahap koreksi dan revisi oleh pimpinan perusahaan agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam membuat konstruksi yang sudah direncanakan sebelumnya. Setelah melalui tahap diskusi dengan perusahaan, selanjutnya gambar kerja diajukan kepada klien untuk didiskusikan dan direvisi untuk disesuaikan dengan keinginan klien. Drawing list dari tahapan ini dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Drawing List DED
No Nama Gambar Skala Kode Gambar
(DED) No Gambar (Skripsi)
1 Rencana Tapak 1 : 1200 DED-VG-001 Gambar 42
2 >Detail Plan Vertical Greenery 1 : 60 DED-VG-002 Gambar 49
>Detail A (Tiang Besi) 1 : 60
>Tampak Depan ( t = 2.5 m ) 1 : 140
>Tampak Depan ( t = 4 m ) 1 : 140
>Tampak Depan ( t = 6 m ) 1 : 140
3 >Tipikal Potongan 1 : 140 DED-VG-003 Gambar 50
>Detail B 1 : 30
>Vertical Green Module NTS
>Detail C ( Pondasi Tiang Besi ) 1 : 120
>Tampak Depan ( t = 6 m ) 1 : 120
4 Contoh Tanaman Vertical Greenery Pola A NTS DED-VG-007 Gambar 54
5 Contoh Tanaman Vertical Greenery Pola B NTS DED-VG-008 Gambar 55
6 Rencana Induk Sistem Irigasi 1 : 120 DED-VG-009 Gambar 56
Gambar 53.
Sistem Irigasi Pipa
Subline
(Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011)
(Digambar
Tahap DED dikerjakan di studio dengan beberapa jenis pekerjaan, yaitu a) pekerjaan hardmaterial, b) pekerjaan softmaterial, dan c) pekerjaan irigasi.
a. Pekerjaan Hardmaterial
Pekerjaan hardmaterial merupakan tahap pembuatan gambar detail konstruksi vertical greenery yang mencakup elemen keras (Gambar 54 dan 55). Pekerjaan ini dibantu oleh tim ahli dari divisi struktur dan sipil. Divisi tersebut tidak mengerjakan pembuatan gambar konstruksi, tetapi hanya melakukan diskusi dan konsultasi mengenai spesifikasi hardmaterial yang digunakan untuk mendukung desain konstruksi.
Produk dari pekerjaan hardmaterial merupakan pengembangan dari gambar desain konstruksi design development. Pada tahap DED, elemen
hardmaterial dilengkapi dengan spesifikasi bahan meliputi jenis bahan dan
dimensi material. Bagian dari struktur yang telah dilengkapi dengan spesifikasi bahan tersebut yaitu:
• vertical green module (VGM), • frame module,
• rel module (tiang rangka besi), • pondasi,
• besi pengikat.
• Vertical Green Module (VGM)
VGM berfungsi sebagai wadah dari kantong media tanam dan memberikan kemudahan untuk menempatkan tanaman pada bidang vertikal. Jenis VGM yang digunakan adalah VGM bag dengan spesifikasi bahan menggunakan bahan lempeng aluminium yang dilapisi galvanis dan dimensi yaitu (450x700x75) mm + baja kasa. Galvanis dan baja kasa berfungsi untuk menahan media dan akar. Jumlah VGM bag yang digunakan setiap tiang kolom adalah 32 buah untuk kolom tinggi 2 m, 56 buah untuk kolom tinggi 4 m, dan 88 buah untuk kolom tinggi 6 m. Jumlah total VGM yang digunakan PT. ESCI pada proyek ini adalah 128 buah untuk kolom tinggi 2 m, 112 buah untuk kolom tinggi 4m, dan 352 buah untuk kolom tinggi 6 m.
Gambar 54.
Detail Engineering Design
Detail Plan
dan
View
(Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011)
(Digambar
Gambar 55.
Detail Engineering Design
General Section
da
n
Detail Se
ction
(Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011)
(Digambar
• Frame Module
Frame modul berfungsi sebagai bingkai penopang untuk menopang dan memasukkan VGM, prinsip kerjanya seperti bingkai foto. Konstruksi ini menempel pada bagian rel module dengan cara dilas menggunakan besi panas. Spesifikasi bahan frame module adalah menggunakan besi kanal U uk. 80x45x5 dan dilapisi galvanis. Jenis besi ini digunakan karena memiliki bentuk seperti bingkai yang dapat menopang VGM. Selain itu, jenis besi ini lebih gampang ditemukan dipasaran untuk memudahkan kontraktor. Ukuran kanal disesuaikan dengan ketebalan dari VGM. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam pemasangan dan pembongkaran VGM. Kanal besi U dilapisi oleh galvanis agar tidak mudah berkarat. Gambar kanal besi U dapat dilihat pada Gambar 56.
• Rel Module (Tiang rangka besi)
Rel module (tiang rangka besi) merupakan bagian dari konstruksi desain
vertical greenery yang berfungsi sebagai penopang VGM dan frame module.
Spesifikasi tiang rangka besi yaitu menggunakan besi kanal C uk. (100x50x20x2.3) mm yang telah digabungkan dari 2 besi kanal C. Pemasangan 2 besi kanal C dilakukan untuk menimbulkan gaya saling mengikat untuk meningkatkan kekuatan menahan beban. Selain itu, jenis besi tersebut digunakan karena lebih kuat menahan beban frame module dan VGM. Kanal besi C dilapisi galvanis agar tidak mudah berkarat. Jenis besi kanal C dapat dilihat pada Gambar 57. Panjang tiang kanal C disesuaikan dengan ketinggian tiang kolom, yaitu kolom tinggi 2.5 m menggunakan tiang besi kanal C tinggi 2.5 m, tinggi 4 m menggunakan tiang besi kanal C tinggi 4 m dan tinggi 6 m menggunakan tiang besi kanal C tinggi 6 m.
Gambar 56. Besi Kanal U (Sumber: PT. Bas-Baja, 2011)
• Pondasi Beton
Pondasi beton merupakan bagian struktur vertical greenery yang berada di dalam tanah. Pondasi beton berfungsi sebagai penopang tiang rangka besi untuk menahan gaya gravitasi dan tiang rangka tetap berdiri kokoh. Jenis pondasi yang digunakan adalah pondasi telapak untuk menahan 1 (satu) tiang rel module. Spesifikasi yang digunakan untuk pondasi beton yaitu menggunakan adukan 1pc:3ps. Kedalaman pondasi yaitu 1/3 dari tinggi tiang, sedangkan panjang dan lebar pondasi yaitu 300x300 mm.
Penghubung antara pondasi dan tiang rangka besi, menggunakan plat baja hitam. Penggunaan plat baja bertujuan untuk menahan rel module agar lebih kokoh. Ukuran plat baja yang digunakan adalah (300 x 300 x 10) mm. Ukuran tersebut digunakan untuk sebagai pijakan untuk menahan beban rel besi. Plat baja dipasang dengan menggunakan skrup 15-20 cm ke dalam struktur pondasi.
• Besi Pengikat
Besi pengikat merupakan bagian dari konstruksi vertical greenery yang berfungsi mengikat setiap rel module agar tetap kokoh. Penggunaan struktur tersebut untuk mengurangi resiko tiang rel module kelebihan beban. Jenis bahan yang digunakan untuk besi pengikat adalah besi ulir (deformed bar) uk. Ø 10 mm. Jenis besi ulir memiliki kelebihan mampu menahan gaya tarik dan gaya tekan. Hal
Gambar 57. Besi Kanal C (Sumber: PT. Bas-Baja, 2011)
tersebut dapat diaplikasikan untuk menahan beban yang ditahan oleh tiang rel
module. Gambar besi ulir (deformed bar) dapat dilihat pada Gambar 58.
b. Pekerjaan Softmaterial
Pekerjaan softsmaterial yang dikerjakan oleh mahasiswa magang adalah membuat gambar kerja detail penanaman yang meliputi spesifikasi tanaman yang meliputi nama tanaman, diameter standar tanaman, density, luasan area, dan jumlah polibag per m2. Prosentase jumlah tanaman disesuaikan dengan luasan warna pada konsep. Pola A, mempunyai prosentase merah (25%), hijau muda (30%), hijau tua (20%), dan kuning (25%). Pola B, prosentasenya merah (20%), hijau muda (35%), hijau tua (15%), dan kuning (30%).
Density pada tanaman adalah jumlah tanaman setiap ukuran 1 m2.
Kuantitas dari density berbanding terbalik dengan ukuran diameter tajuk. Semakin besar diameter tajuk tanaman, maka semakin kecil jumlah density nya dalam suatu area. Untuk jarak tanam berbanding lurus dengan ukuran diameter dari tajuk tanaman. Semakin besar ukuran diameter tajuk, maka semakin besar jarak penanaman. Tanaman berukuran besar seperti Bromelia Merah (Neoregelia
tricolor) memiliki diameter 30 cm dan jarak tanam 30 cm serta density 12 pb/m2.
Pakis Kelabang (Nephrolepis biserrata) memiliki diameter tajuk 20 cm dan jarak tanam 20 cm serta density 16 pb/m2. Sirih Gading (Scindapsus aureus) memiliki diameter tajuk lebih kecil adalah 15 cm dan jarak tanam 15 cm serta density 36 pb/m2. Sirih gading ‘Gold’ (Scindapsus aureum ‘Gold’) memiliki diameter tajuk sama yaitu 15 cm dengan jarak tanam 15 cm serta density 36 pb/m2. Spesifikasi penanaman untuk pekerjaan vertical greenery dapat dilihat pada Gambar 59 dan 60.
Gambar 58. Besi Ulir (Sumber: PT. Bas-Baja, 2011)
Gambar 59. Spesifikasi Ta naman Vertic al Greener y Tiang Kolom Fly Over Pol a Des ain A
(Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011)
(Digambar Oleh: Fauzi, 2011) Blo w Up Il us trasi Po la Tan aman
Gambar 60. Spesifikasi Ta naman Vertic al Greener y Tiang Kolom Fly Over Pola Desain B
(Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011)
(Digambar Oleh: Fauzi, 2011) Blo w Up Il us trasi Po la Tan aman
c. Pekerjaan Irigasi
Pekerjaan irigasi merupakan pekerjaan untuk membuat sistem pengairan dan penentuan peralatan yang dibutuhkan untuk mendukung sistem tersebut. PT. ESCI membuat produk pekerjaan irigasi hanya sampai rencana induk irigasi yang berupa penentuan titik air dan letak pipa untuk irigasi baik itu pipa subline dan
main line. Pekerjaan irigasi yang lebih detail dilakukan oleh konsultan mechanical and electrical (ME) yang ditunjuk oleh pihak klien. Konsultan ME ditunjuk
sebagai bagian tim proyek karena lebih menguasai sistem kompleks pekerjaan irigasi, pekerjaan pipa dan pekerjaan listrik, tetapi konsep dasar atau desain pengembangan berasal dari konsultan arsitektur lanskap.
Detail irigasi yang didesain oleh PT. ESCI adalah letak pipa mainline,
subline dan letak titik air. Pipa mainline adalah pipa yang berfungsi sebagai
distributor untuk mengalirkan air irigasi dari sumber pompa utama ke setiap tiang kolom. Panjang total pipa mainline adalah 271 m1 untuk mengalirkan air ke semua tiang kolom. Letak pipa mainline berada di atas fly over agar tidak mengganggu kendaraan. Ukuran pipa yang digunakan adalah Ø 25 mm.
Pipa subline adalah pipa yang berfungsi mendistribusikan aliran air dari pipa mainline ke dalam VGM pada tiang kolom. Ukuran pipa yang digunakan adalah Ø 25 mm. Letak pipa subline berada di dalam frame module agar aliran irigasi dapat langsung mengairi media tanam. Selain itu, pipa tersebut dimasukkan ke dalam frame module agar tidak terlihat dan mengganggu estetika.
Letak titik air berada pada eksisting pocket park sekitar tiang fly over. Titik air yang sudah ditentukan tersebut akan dibuat untuk sumur pompa. Pengadaan dan pemasangan sumur pompa diperlukan agar saluran irigasi untuk
vertical greenery dapat lebih mudah.
Titik air adalah bagian dari rencana irigasi yang berfungsi sebagai sumber air yang didistribusikan ke pipa mainline (Gambar 61). Di dalam titik air tersebut terdapat sumur pompa, panel kontrol manual dan otomatis. Adapun elemen-elemen yang diperlukan untuk pengadaan dan pemasangan sumur pompa adalah sebagai berikut: pengadaan dan pemasangan pompa transfer air bersih lengkap dengan pondasi dan instalasi listrik. Untuk pusat kontrol irigasi dibuat rumah pompa yang terbuat dari kerangka besi.
Gambar 61. Rencana Sist
em Irigasi
(Sumber: PT. Envirospace Consultant Indonesia, 2011)
(Digambar Oleh: Fauzi, 2011) Ir igasi otom atis Ir igasi Manual Ir igasi Manual Ir igasi otom atis Ir igasi otom atis Ir igasi otom atis
Beberapa material pendukung dalam rencana irigasi adalah Ball Valve
Drat Br Kitz 400 Psi T 1 1/2 ", Elbow (Tee ukuran 1 1/4"), dan Elbow (Knee 45º
ukuran 1 1/4"). Ball valve adalah kran yang berfungsi untuk mengatur aliran air irigasi dari pipa. Elemen ini digunakan pada pipa mainline dan subline. Elbow Tee adalah elemen pendukung dari instalasi pipa yang berfungsi membagi aliran air.
Elbow knee adalah elemen pendukung yang berfungsi untuk mengatur arah pipa.
Elemen pendukung dapat dilihat pada Gambar 62.
Tiang kolom yang berjumlah dua buah dengan ketinggian 6 m berada pada posisi yang susah menjangkau titik air (lihat kembali Gambar 61). Tiang kolom tersebut berada di berada di bagian tengah badan jalan, sehingga sulit dihubungkan dengan pipa mainline dari titik air. Untuk mengatasi hal tersebut, PT. ESCI menggunakan sistem irigasi manual dengan menggunakan selang dan tangki air. Sistem aliran irigasi sama seperti pada sistem automatis dimana air dialirkan dari atas sampai membasahi media dan daun tanaman. Sistem ini dikerjakan oleh bagian pemeliharaan taman Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta.
5.2.2 Pembahasan Perancangan Vertical Greenery Tiang Kolom Jalan Fly Over, Pramuka DKI Jakarta.
5.2.2.1. Konsep Desain.
Konsep desain yang digunakan PT. ESCI pada proyek ini meliputi konsep bentuk dan konsep warna. Konsep bentuk menggunakan garis geometris horizontal dan vertikal yang membentuk rectilinier. Bentuk recliniear menurut
Gambar 62. Elemen Pendukung Instalasi Irigasi (a. Ball Valve, b. Elbow Tee, dan c. Elbow Knee
(Sumber: plumbing-suplay, 2011)
a
Lin (1993) menciptakan kesan kaku, tegas dan formal. Kesan tersebut dikombinasikan dengan warna dingin (hijau tua dan hijau muda) dan warna panas (merah dan kuning) untuk menghilangkan kesan tidak monoton untuk dinikmati pengguna jalan secara visual. Bentukan rectilinier yang digunakan didominasi pola yang mengarah secara vertikal (Gambar 63). Bentukan tersebut memberikan aksentuasi terhadap ketinggian yang dapat berfungsi sebagai pengarah jalan bagi kendaraan. Kedua pola desain yang dirancang dengan membentuk ritme a-b-a-b (berselang) (lihat kembali Gambar 41) dapat memberikan kesan dinamis sebagai pengarah terhadap pengendara saat melaju.
Dari beberapa konsep desain yang diajukan kepada klien, terdapat satu pola yang tidak termasuk bentukan rectilinier yaitu pola E (lihat kembali Gambar 39). Pola tersebut dibentuk dari garis geometris diagonal yang membentuk bentukan rectilinier 45º. Bentukan rectilinier dan rectilinear 45º menurut Lin (1993), termasuk jenis pola desain yang mempunyai karakter dan bentukan yang berbeda. Hal tersebut mengakibatkan ketidakkonsistenan dalam pengajukan pola desain kepada klien.
Warna yang digunakan pada pola A dan B adalah 50% warna dingin (hijau muda dan hijau tua) dan 50% warna panas (merah dan kuning). Warna dingin yaitu hijau tua dan hijau muda menurut Sutton dan Whelan (2004), memberikan panjang gelombang yang pendek mudah diterima oleh mata, sehingga memberikan kesan sejuk. Kesan warna sejuk tersebut belum bisa menutupi warna merah kuning yang memberikan kesan panas. Hal tersebut perlu diperhatikan karena tiang kolom berada di area jalan raya yang gersang dan panas.
Gambar 63. Ilustrasi Pola Rectilinier Dominasi Arah Vertikal (Digambar Oleh: Fauzi, 2011)
5.2.2.2. Tanaman Vertical Greenery a. Konsep Tanaman
Konsep vegetasi (softscape material) yang digunakan oleh PT. ESCI adalah tanaman yang memiliki warna hijau muda, hijau tua, merah dan kuning gersang berasal dari daun. Warna hijau muda dan hijau tua yang digunakan sebagai warna dominan menimbulkan kesan sejuk cocok untuk kondisi tapak. Warna merah dan kuning berfungsi sebagai aksen untuk mengurangi kesan monoton pada pola penanaman. Selain itu, pemilihan tanaman yang digunakan memperhatikan syarat tumbuh terhadap kebutuhan matahari. Tiang kolom berada di bawah jalan fly over yang minim cahaya matahari, sehingga membutuhkan tanaman semi naungan atau naungan. Hal tersebut sesuai dengan Sujayanto (2011), bahwa jenis tanaman untuk pengisi taman harus memperhatikan syarat kebutuhan naungan, semi naungan dan cahaya penuh. Analisis jenis tanaman terhadap kebutuhan cahaya dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Analisis Jenis Tanaman dengan Kebutuhan Cahaya
No Nama Tanaman Warna
daun/Bunga Jenis Tanaman
Syarat tumbuh penyinaran 1 Neoregelia tricolor/ Bromelia Bunga merah penutup tanah semi naungan 2 Nephrolepis biserrata/Pakis Kelabang hijau muda penutup tanah semi naungan dan naungan 3 Scindapsus aureus/Sirih Gading hijau tua merambat semi naungan 4 Scindapsus aureus/Sirih Gading kuning merambat semi naungan
Sumber: Lestari dan Kencana (2008)
Penentuan konsep tanaman yang digunakan oleh PT. ESCI pada proyek ini menggunakan konsep yang lebih menonjolkan estetika seperti warna dan bentuk daun, tetapi untuk konsep ekologis tanaman seperti penyerap polutan tidak digunakan. Hal ini perlu diperhatikan karena kondisi udara sekitar fly over didominasi polutan udara hasil emisi kendaraan. Fungsi ekologis tanaman perlu diperhitungkan agar vertical greenery optimal memberikan manfaat bagi user.
Jenis kendaraan yang digunakan di sekitar fly over meliputi kendaraan pribadi (mobil, sepeda motor), angkutan umum (angkot, bis kota, bajaj, dan
busway), dan pengangkut barang (truk box, truk tangki). Jenis kendaraan tersebut
sering melewati area fly over dan menimbulkan asap kendaraan yang berlebihan saat kondisi macet. Kondisi tersebut menyebabkan lokasi di sekitar fly over
memiliki resiko tersemar polutan. Hal ini mengacu pada Santoso (2010), bahwa faktor dominan penyebab polusi udara berasal dari sektor transportasi perkotaan meliputi:
a. perkembangan jumlah kendaraan yang cepat,
b. tidak seimbangnya prasarana transportasi dengan jumlah kendaraan yang ada,
c. jenis, umur dan karakter kendaraan bermotor, d. jenis bahan bakar yang digunakan,
Menurut Yusad (2003), jenis emisi polutan yang disebabkan oleh kendaraan bermotor adalah SO2, CO, NO, dan NO2. Semua zat tersebut dapat menyebabkan gangguan pernapasan, radang paru-paru, dan menghambat fungsi paru-paru. Jenis bensin yang beredar di Indonesia masih banyak yang mengandung logam timbal, sehingga pertikel logam yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor mengandung partikel timbal (pb) (Santoso, 2010). Efek negatif partikel timbal bagi kesehatan menurut Onggo (2006), meliputi tekanan darah tinggi, serangan jantung, kemandulan, dan penurunan kecerdasan anak. Selain gas SO2, CO, NO, Pb, dan NO2 menurut Andayani et.al (2012), terdapat zat polutan yang bersumber dari asap kendaraan yaitu formaldehid dalam bentuk gas dan benzena dalam bentuk cairan hidrokarbon aromatik. Selain polutan dalam wujud gas, logam dan cairan, asap kendaraan bermotor dapat menghasilkan partikel halus (fine particulate matter) sebesar ≤10µm, yang dapat dihirup oleh manusia dan diteruskan ke organ pernapasan (Mediastika, 2002). Sumber polutan partikel halus (fine particulate matter) juga dapat ditimbulkan dari permukaan jalan beraspal yang terjadi pada saat gesekan roda kendaraan dan permukaan jalan.
Deskripsi tersebut menghasilkan hipotesis bahwa area jalan sekitar tiang kolom fly over Pramuka beresiko memiliki udara tercemar polusi yang bersumber dari asap kendaraan dan bahan permukaan jalan. Zat polutan yang berpotensi dihasilkan pada area tesebut meliputi emisi gas SO2, CO, NO, NO2, formaldehid, partikel logam timbal (pb), cairan benzena, dan partikel halus (fine particulate
matter). Jenis tanaman yang memiliki karakter kemampuan tinggi menyerap
benzena menurut Santoso (2010) adalah memiliki ciri-ciri, yaitu a) daun berbulu halus, b) permukaan daun kasar, c) daun bersisik, e) tepi daun bergerigi, f) daun jarum, dan g) permukaan daun bersifat melekat. Menurut Mediastika (2002), syarat tumbuhan mengendapkan partikel halus (fine particulate matter) adalah a) memiliki permukaan daun tidak licin (berbulu), b) berdaun lebat dengan posisi dedaunannya yang tumpang tindih, c) jenis semak dan perdu-perduan atau tanaman rambat (climbing plants), d) luas daun minimal 5 cm², e) kondisi tumbuh sekitar 1-1,5m di atas permukaan tanah.
Pada proyek ini PT. ESCI menggunakan beberapa jenis tanaman semak rendah, penutup tanah dan epifit. Jenis tanaman tersebut adalah a) bromelia merah (Neoregalia sp), b) paku boston (Nephrolepis biserata), c) sirih gading (Scindapsus aureus), d) sirih gading ‘Gold’(Scindapsus aureum ‘Gold’).
a.1 Bromelia Merah (Neoregalia sp)
Morfologi daun tanaman Bromelia Merah (Neoregalia sp) menurut Rahayu (2011), adalah tanaman bromelia memiliki tepian daun bergerigi. Morfologi daun yang dimiliki bromelia tersebut termasuk salah satu kriteria tanaman penyerap polutan. Hal tersebut sesuai pada Andayani et.al (2012) yang menyatakan bahwa tanaman bromelia sp mampu membersihkan berbagai jenis polutan udara terutama pada malam hari.
Permukaan daun bromelia tidak memiliki bulu tetapi memiliki beberapa karakter pengendap partikel halus (fine particulate matter), yaitu a) posisi daun tumpang tindih, b) berdaun lebat, c) luas daun > 5 cm2. Karakter daun berpotensi untuk mengendapkan partikel halus (fine particulate matter). Morfologi daun tanaman Bromelia merah (Neoregalia sp) memiliki potensi untuk menyerap emisi gas polutan dan mengendapkan partikel halus (fine particulate matter). Jenis Bromelia Merah memiliki kapasitas 22.5 % dari total tanaman yang digunakan pada proyek ini.
a.2 Pakis Kelabang (Nephrolepis biserrata)
Menurut Andayani et.al (2012), tanaman Nephrolepis biserrata mampu mendekomposisi formaldehid di udara melalui stomata. Selain itu, kapasitas
sebesar 1800 µg/hr. Jenis Nephrolepis biserrata memiliki kapasitas total 32.5 % dari total tanaman yang digunakan pada proyek ini.
a.3 Sirih Gading (Scindapsus aureus)
Menurut Nasrullah et.al (2000), tanaman Sirih Gading termasuk dalam tanaman penyerap gas emisi NO2 sedang yaitu 25,63 µg/g. Menurut Bidwell dan Fraser (1981) yang diacu dalam Santoso (2010), jenis tanaman Sirih Belanda atau Scindapsus aureus dapat menyerap gas emisi CO sejumlah 113 ppm/hari. Selain itu menurut Andayani et.al (2012) Sirih Gading berpotensi menyerap zat polutan yaitu NO2, benzena, dan formaldehid.
Sirih Gading (Scindapsus aureus) termasuk jenis tanaman merambat (climber) yang memiliki morfologi daun yaitu permukaan daun licin sempurna (dilapisi lilin). Karakter daun Sirih Gading tersebut menurut Mediastika (2002) kurang maksimal untuk mengendapkan partikel halus (fine particulate matter) dibandingkan dengan jenis tanaman yang berdaun kasar (dilapisi bulu). Kedua hasil analisis tersebut menghasilkan suatu hipotesis bahwa jenis tanaman Sirih Gading (Scindapsus aureus) memiliki potensi untuk menyerap gas emisi NO2, CO, formaldehid, benzena dan partikel halus (fine particulate matter) sekitar kolom fly over. Jenis Scindapsus aureus memiliki kapasitas total 17.5 % dari total tanaman yang digunakan pada proyek ini.
a.4 Sirih Gading ‘Gold’(Scindapsus aureum’Gold’)
Sirih Gading ‘Gold’ (Scindapsus aureum) adalah jenis tanaman family Araceae yang merupakan spesies dari keluarga tanaman Sirih Gading. Potensi tanaman ini sama seperti jenis Scindapsus aureus yaitu berpotensi menyerap gas emisi NO2, CO, formaldehid, benzena dan partikel halus (fine particulate matter). Jenis Sirih Gading ‘Gold’ memiliki kapasitas total 27.5 % dari total tanaman yang digunakan pada proyek ini.
Dapat disimpulkan bahwa jenis tanaman yang digunakan oleh PT.ESCI pada proyek ini memiliki potensi menyerap polutan udara. Jenis tanaman tersebut adalah a) Bromelia Merah (Neoregalia sp) mampu menyerap dan mengendapkan partikel halus (fine particulate matter), b) Pakis Kelabang (Nephrolepis exaltata) mampu menyerap formaldehid, c) Sirih Gading (Scindapsus aureus) mampu
menyerap NO2, CO, formaldehid, benzena dan partikel halus (fine particulate
matter), dan d) Sirih Gading ‘Gold’(Scindapsus aureum’Gold’) mampu menyerap
NO2, CO, formaldehid, benzena dan partikel halus (fine particulate matter). Zat polutan yang kemungkinan dapat diserap oleh tanaman vertical greenery pada area jalan sekitar fly over adalah gas NO2, CO, benzene, formaldehid, dan partikel halus (fine particulate matter). Hal tersebut menghasilkan hipotesis terdapat zat polutan yang tidak diserap pada area jalan sekitar fly over, yaitu SO2 dan timbal (pb). Rekomendasi jenis tanaman penyerap SO2 dan benzene memiliki karakter tanaman vertical greenery adalah Sansivera sp
5.2.2.3. Desain Penanaman
Sistem penanaman yang digunakan PT.ESCI pada proyek ini adalah
vertical class. Sistem tersebut adalah penanaman dengan bidang vertikal sebagai
cakupannya dan orientasi tanaman mengarah horizontal untuk mengekspos bentuk tanaman kepada user. Menurut Hortpark (2009), teknik penanaman vertical class adalah rancangan penanaman dimana tanaman dirancang ditanam secara vertikal dengan dinding sebagai bidang cakupan. Kelebihan dari sistem ini adalah bentuk tanaman bisa diekspos terhadap arah pandangan manusia dan dapat dinikmati dari jarak dekat. Hal tersebut kurang berpengaruh pada vertical greenery tiang kolom yang dipasang di sebelah jalan, karena waktu untuk memperhatikan tekstur tanaman relatif lebih kecil pada saat laju kendaraan. Sistem penanaman lebih bisa dinikmati pada saat kondisi macet, karena warna dan bentuk daun dapat dinikmati dalam waktu yang lebih lama dibandingkan saat kendaraan melaju.
5.2.2.4. Media Tanam
Jenis media tanam yang digunakan oleh PT.ESCI pada proyek ini adalah jenis media campuran. Campuran tersebut adalah serbuk pakis 25%, serbuk
cocopeat 25%, kompos 25%, dan batu apung 25%. Penggunaan jenis ini bertujuan
agar kandungan unsur hara dan nutrisi dari setiap jenis media lebih banyak dan beragam. Hal tersebut sesuai Ginting (2008), bahwa penggunaan media campuran cenderung mendorong pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik. Hal tersebut lebih baik dibanding media tunggal karena masing-masing media saling