• Tidak ada hasil yang ditemukan

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PASCAPANEN BUNCIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PASCAPANEN BUNCIS"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PASCAPANEN

BUNCIS

DIREKTORAT BUDIDAYA DAN PASCAPANEN SAYURAN

DAN TANAMAN OBAT

DIREKTORAT JENDERAL HORTIKULTURA

2012

(2)
(3)

2

KATA PENGANTAR

Dalam rangka pengembangan komoditas buncis yang berdaya saing dan bermutu baik, serta berorientasi pasar, maka penanganan pascapanen perlu menjadi prioritas. Salah satu upaya yang dilakukan untuk memfasilitasi hal tersebut adalah dengan menyusun Buku SOP (Standard Operasional Prosedur) Pascapanen buncis.

Buku SOP pascapanen buncis ini dapat digunakan sebagai acuan bagi pelaku usaha/petani/petugas untuk melaksanakan pascapanen sehingga dapat meningkatkan mutu hasil kentang dan mengurangi kehilangan hasil/kerusakan dan mempertahankan umur simpan.

Buku ini disusun bersama-sama dengan para pakar dari Perguruan Tinggi (UNPAD), Balai Penelitian Sayuran dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat, Instansi terkait dan para petani buncis dan pelaku usaha yang menangani kegiatan pascapanen buncis. Kami mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan buku SOP Pascapanen buncis. Kami menyadari Buku ini masih jauh dari sempurna, karena itu memerlukan saran dan masukkan dari berbagai pihak dan para pembaca yang budiman semoga buku pedoman ini akan banyak manfaatnya.

Jakarta, Mei 2012

Direktur Budidaya dan Pascapanen Sayuran dan Tanaman Obat

(4)

3

TIM PENYUSUN

Penanggung Jawab : Dr. Ir. Yul Harry Bahar

Direktur Budidaya dan Pascapanen Sayuran dan Tanaman Obat

Tim Penyusun :

1. Prof. DR. Tino Mutiarawati 2. Dr. Ali Asgar

3. Dr. Nandang 4. Ir. Yanuardi .MM 5. Ir. Sussy Dwi Gustini

6. Pelaku Usaha Kabupaten Garut

7. Petugas Dinas Pertanian Kabupaten Garut 8. Petugas Dinas Pertanian Propinsi Jawa Barat 9. Fajar Anggraeni, SP

10. Mat Amin, AMd

Editor : Ir. Yanuardi .MM Ir. Sussy Dwi Gustini Fajar Anggraeni, SP

(5)

4

PENDAHULUAN

Buncis (Phaseolus vulgaris .L.) merupakan tanaman sayuran yang banyak

dimanfaatkan baik oleh ibu rumah tangga maupun industri pengolahan yang membutuhkan dalam jumlah besar. Selain dikonsumsi di dalam negeri, buncis merupakan produk ekspor ke Singapura, Hongkong, Australia, Malaysia, dan Inggris. Bentuk ekspor tersebut bermacam-macam, dalam bentuk polong segar, didinginkan atau dibekukan, dan ada pula yang berbentuk biji kering.

Saat ini produksi buncis dalam negeri relatif masih rendah. Usaha-usaha peningkatan produktivitas bisa dilakukan dengan cara intensifikasi, antara lain penggunaan bibit unggul, perbaikan cara bercocok tanam dan penanganan pasca panen yang baik.

Tanaman buncis mempunyai dua tipe pertumbuhan, yaitu : a. Tipe membelit atau merambat

Tanaman tipe ini pertumbuhannya membelit atau merambat sehingga memerlukan turus atau lanjaran setinggi kurang lebih 2 meter.

b. Tipe tegak (ajirnya pendek)

Tanaman tipe ini biasanya berbentuk semak dan memiliki tinggi sekitar 30 cm. Ruas batangnya agak pendek, percabangannya rendah dan sedikit. Dengan demikian jenis ini termasuk yang disarankan untuk ditanam karena dengan tidak digunakannya turus dapat memperkecil biaya produksi.

Buncis yang telah dipanen sering kali mengalami kerusakan akibat pengangkutan hasil produk dari lapangan atau penanganan pasca panen yang kurang intensif sehingga tidak sedikit hasil panen terbuang sia-sia. Cara untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan melakukan kegiatan yang intensif pada setiap tahapan mulai dari kegiatan

budidaya di lapangan, pengangkutan, perlakuan pasca panen dengan

mempertimbangkan kondisi lingkungan penyimpanan seperti suhu dan kelembaban, sampai dengan pemasaran. Penanganan pasca panen yang baik memerlukan koordinasi dan integrasi yang hati-hati dari seluruh tahapan dari pemanenan sampai ke tingkat konsumen untuk mempertahankan mutu. Buncis yang selesai dipanen harus segera dilakukan penanganan pasca panen agar mutunya dapat dipertahankan tetap tinggi serta kehilangan hasil dapat ditekan, sehingga mutu buncis bisa mendekati standar yang telah

(6)

5

ditetapkan oleh pasar.

Penanganan panen buncis dilakukan dengan cara memetik dengan tangan dan dilakukan secara bertahap setiap 2 hari sekali, untuk kriteria kualitas ‘Super’ panen dilakukan setiap hari, panen dihentikan bila tidak ada lagi polong buncis ‘layak pasar’ yang bisa dipanen pada tanaman tersebut.

Jenis buncis yang banyak diusahakan petani adalah varietas Gipsy 1-2, Lebat ,varietas Green Ambro, baby buncis dll.

Tujuan pemasaran buncis pada umumnya adalah pasar segar yaitu untuk pemasaran konsumsi segar (Pasar induk, Supermarket), kemudian untuk pasar ekspor.

Target standar buncis yang akan dicapai dalam rangka penerapan Standar Operasional Prosedur Pascapanen ini adalah :

Ukuran buncis sesuai permintaan pasar, bentuk sesuai deskripsi varietas, buncis tidak cacat, tidak terkontaminasi benda lain, tidak melebihi ambang batas residu pestisida, menghasilkan buncis yang bermutu, menekan tingkat kehilangan hasil ≤ 10 %, dan meningkatkan efisiensi agribisnis buncis.

REFEREENSI

1. DR. Tino Mutiarawati (Dosen Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran) 2. DR. Ali Asgar (BALITSA)

3. DR. Nandang Sunandar (BPTP JABAR)

4. Pengalaman petani buncis, Kel Tani Tunas Tani (ketua: Sofyan) di Desa Sindangprabu Kecamatan Wanaraja Kab: Garut. Provinsi Jawa Barat.

(7)

6

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PASCAPANEN BUNCIS Standar Operasional

Prosedur SOP B. I Nomor: Tanggal Dibuat ………..

Penentuan Waktu Panen

dan Penanganan panen Tanggal…….. Revisi…….. ……….. Disahkan

I. PENENTUAN WAKTU PANEN DAN PENANGANAN PANEN A. Pengertian

- Penentuan waktu panen :

Penentuan waktu panen : panen berdasarkan penampilan polong, seperti ukuran/panjang polong, tonjolan biji belum terlihat.

- Penanganan panen :

Penanganan panen dilakukan dengan cara memetik dengan tangan dan dilakukan secara bertahap setiap 2 hari sekali, untuk kriteria kualitas ‘super’ panen dilakukan setiap hari, panen dihentikan bila tidak ada lagi polong buncis ‘layak pasar’ yang bisa dipanen pada tanaman tersebut.

B. Tujuan :

Dapat melakukan pemanenan buncis yang baik dan mendapatkan hasil panen dengan produksi dan kualitas yang tinggi.

C. Standar Penentuan Waktu dan Penanganan Panen

1. Penentuan saat panen dilakukan dengan melihat perkembangan fisik polong. 2. Umur panen pada dasarnya ditentukan oleh varietas, lokasi penanaman dan

pemeliharaan.

D. Alat dan Bahan Penentuan Waktu dan Penanganan Panen 1. Pengamatan visual (tidak membutuhkan alat bantu).

(8)

7

Standar Operasional Prosedur Nomor: SOP B.I Tanggal Dibuat ……….. Penentuan Waktu (Kematangan) dan Penanganan panen Revisi…….. Tanggal…….. ……….. Disahkan

E. Prosedur Kerja penentuan waktu dan penanganan panen:

1. Lakukan pengamatan secara visual terhadap ukuran dan bentuk polong. 2. Tetapkan waktu dan interval panen.

3. Siapkan alat yang di butuhkan untuk pemanenan.

4. Lakukan pemetikan terhadap polong yang sudah memenuhi ciri – ciri : a. Ukuran sesuai permintaan, kultivar dan jenis

b. Biji dalam polong belum menonjol

c. Panen juga semua polong yang cacat, terlalu besar, kena hama penyakit (segera di pisahkan)

5. Catat sebagaimana format yang digunakan pada buku kerja (Tabel 1, lampiran)

F. Sasaran

Untuk mendapatkan hasil buncis dengan menentukan waktu panen yang tepat, sehingga sesuai dengan kriteria dan kualitas yang diminta pasar serta memperoleh produktivitas yang optimal.

(9)

8

Standar Operasional Prosedur Nomor: SOP B. II Tanggal Dibuat ……….. Perlakuan Segera Setelah Panen Revisi……. Tanggal …….. Disahkan ……….. II. PERLAKUAN SEGERA SETELAH PANEN

A. Pengertian

“Perlakuan segera setelah panen” adalah tindakan – tindakan yang harus dilakukan pada komoditas segera setelah panen. Pada buncis tindakan ini berupa pengumpulan, menyimpan ditempat teduh untuk mengurangi suhu panas yang terbawa dari lapangan

B. Tujuan

Perlakuan segera setelah panen untuk mengurangi kerusakan yang dapat terjadi setelah panen dan mempertahankan kualitas serta memperpanjang masa simpan. C. Standar Perlakuan segera setelah panen:

1. Tempat pengumpulan hasil panen buncis harus terlindung dari sinar matahari langsung dan hujan serta dekat dengan lokasi panen.

2. Isi kontainer/wadah panen tidak boleh terlalu padat untuk mengurangi suhu panas pada buncis dan memudahkan pengangkutan ke gudang/packinghouse. D. Alat dan Bahan

1. Wadah tempat penampungan (keranjang plastik/kontainer) 2. Tenda panen/saung

(10)

9

Standar Operasional Prosedur Nomor: SOP B.II Tanggal Dibuat ……….. Perlakuan Segera Setelah Panen Revisi……. Tanggal …….. Disahkan ………..

E. Prosedur Kerja Perlakuan segera setelah panen

1. Siapkan tempat pengumpulan yang bisa melindungi buncis dari sinar matahari dan hujan.

2. Kumpulkan hasil panen di tempat yang telah di sediakan.

3. Lakukan pencatatan sebagaimana format yang digunakan pada buku kerja (Tabel 2, lampiran)

F. Sasaran

(11)

10

Standar Operasional Prosedur Nomor: SOP B. III Tanggal Dibuat ………..

Sortasi dan Grading Revisi …….

Tanggal ………

Disahkan ……….. III. SORTASI DAN GRADING

A. Pengertian

Kegiatan sortasi merupakan tindakan yang dilakukan untuk mendapatkan mutu yang baik dengan cara mensortir antara produk yang baik dengan yang rusak. Produk yang baik adalah produk yang bebas dari cacat (polong sudah tua, bengkok, bentuk menyimpang) atau kerusakan fisik akibat kegiatan panen

maupun serangan hama penyakit. Setelah sortasi dilakukan

pengkelasan(grading) sesuai dengan Standar Mutu yang diinginkan pasar/buyer (ekspor), atau kesepakatan lainnya.

Grading adalah pengkelasan/penggolongan buncis berdasarkan tingkatan kualitas.

B. Tujuan

Untuk mendapatkan mutu buncis yang baik dengan cara mensortir antara produk buncis yang super dan BS (Below Standard/di bawah standar) serta sekaligus melakukan proses pengkelasan berdasarkan tingkatan kualitas buncis sesuai permintaan pasar.

C. Standard Grading

Pengkelasan buncis berdasarkan tingkatan kualitas sesuai permintaan pasar. D. Bahan dan Alat

1. Meja sortir dan kursi untuk grading

2. Kontainer box untuk meletakan buncis yang sudah di sortasi dan di grading 3. Tempat sampah untuk membuang buncis yang rusak/busuk.

(12)

11

Standar Operasional Prosedur Nomor: SOP B. III Tanggal Dibuat ……….. Grading Revisi ……. Tanggal ……… Disahkan ……….. E. Prosedur Kerja Grading

1. Siapkan meja untuk grading

2. Lakukan persiapan untuk keperluan pasar lokal, cukup memisahkan antara buncis kualitas Super A (ukuran 18 – 20 cm), Super B (21 - 22 cm) Baby (8 – 13 cm). Lakukan pengkelasan buncis berdasarkan kualitas (ukuran, bentuk, keseragaman, kecacatan).

4. Lakukan pencatatan sebagaimana format yang digunakan pada buku kerja (Tabel 3)

F. Sasaran

Untuk mengkelaskan buncis berdasarkan kualitas mutu yang diinginkan konsumen.

(13)

12

Standar Operasional Prosedur Nomor: SOP B. IV Tanggal Dibuat ……….. Pengemasan Revisi ……… Tanggal ……….. Disahkan ……….. IV. PENGEMASAN A. Pengertian

Pengemasan adalah proses perlindungan komoditas buncis dari gangguan faktor luar yang dapat mempertahankan kualitas dan masa simpan, memudahkan penanganan dan meningkatkan nilai jual produk.

B. Tujuan

Untuk melindungi komoditas buncis dari kerusakan mekanis, menciptakan daya tarik bagi konsumen dan memberikan nilai jual produk buncis tersebut dan memperpanjang umur simpan.

C. Standar Pengemasan

1. Bahan kemasan yang digunakan untuk buncis harus dapat menjaga dan mempertahankan/melindungi mutu buncis dari pengaruh luar dan kerusakan mekanis, fisiologis dan biologis.

2. Bahan kemasan terbuat dari bahan yang aman, ramah lingkungan dan tidak merusak buncis.

3. Kemasan yang umum digunakan : kantong plastik, keranjang plastik, kardus, tray, wrapping plastic, dan dilengkapi dengan label (keterangan produk, asal, berat, kualitas)

D. Alat dan Bahan : 1. Keranjang plastik 2. Kantung plastik 3. Kardus 4. Tray 5. Wrapping plastic 6. Mesin wrapping

(14)

13

Standar Operasional Prosedur Nomor: SOP B. IV Tanggal Dibuat ……….. Pengemasan Revisi ……… Tanggal ……….. Disahkan ……….. 7.Label (ket. produk, asal, berat, kualitas)

8. Timbangan 9. Tali/plester

10. Alat tulis/ blangko isian untuk mencatat kegiatan E. Prosedur Kerja Pelaksanaan :

1. Lakukan pengemasan buncis dengan menggunakan kantung plastik berlubang dengan kapasitas disesuaikan dengan permintaan pasar.

2. Lakukan pengemasan buncis untuk pemasaran luar daerah dengan menggunakan kardus yang sudah dilubangi untuk fentilasi udara.

3. Lakukan pengemasan untuk pasar swalayan dengan tray dan ditutup plastik wrapping atau kemasan dengan kantong plastik transparant yang dilubangi dengan berat 0,25 kg. Lubang kantong plastik berfungsi mencegah terjadinya pengembunan udara dalam plastik yang dapat membusukkan buncis.

4. Lakukan pengemasan buncis untuk ekspor dengan kemasan kardus khusus dari eksportir lengkap dengan nama dagang dan tanggal panen. Kardus diberi lubang kecil dengan ukuran kardus untuk kapasitas 5 – 10kg (sesuai permintaan pasar).

5. Lakukan pencatatan sebagaimana format yang digunakan pada buku kerja (Tabel 4).

F. Sasaran

Untuk mendapatkan hasil buncis dengan kemasan yang sesuai permintaan pasar dan mengurangi kerusakan mekanis, fisiologis dan biologis saat pengangkutan.

(15)

14

Standar Operasional Prosedur Nomor: SOP B. V Tanggal Dibuat ……….. Penyimpanan Revisi ……. Tanggal ……… Disahkan ……….. V. PENYIMPANAN (Bila diperlukan )

A. Pengertian

Penyimpanan produk akhir dilakukan untuk mempertahankan daya simpan produk buncis sehingga terhindar dari kerusakan, dapat mengendalikan transpirasi, respirasi dan dapat mempertahankan kesegarannya. Penyimpanan dilakukan di ruangan yang berudara sejuk dan kering.

B. Tujuan

Mempertahankan masa simpan dan menjaga kualitas buncis, menampung produk buncis yang melimpah dan membantu dalam pengaturan pemasaran serta meningkatkan keuntungan finansial bagi produsen.

C. Standar Penyimpanan

1. Mengendalikan laju transpirasi, respirasi dan mencegah serangan penyakit. 2. Mempertahankan/memperpanjang daya simpan buncis.

3. Mempertahankan kesegaran buncis.

4. Temperatur penyimpanan di atur pada suhu 5 – 7 ºC dengan kelembaban 70 - 80%.

5. Ruangan penyimpanan harus memiliki sirkulasi udara yang baik. D. Alat dan Bahan

1. Ruang berpendingin 2. Thermometer 3. Keranjang plastik.

(16)

15

Standar Operasional Prosedur Nomor: SOP T. V Penyimpanan Revisi ……. Tanggal ……… Disahkan ……….. E. Prosedur Pelaksanaan

1. Siapkan tempat penyimpanan buncis ditempat yang terpisah, bersih, aman dari gangguan hama penyakit.

2. Siapkan tempat penyimpanan berpendingin yang dapat mengendalikan transpirasi (penguapan), respirasi (pernafasan) dan mempertahankan kesegaran.

3. Gunakan wadah, keranjang, pembungkus dengan rapi dan bersih sehingga terlindung dari kontaminasi silang.

4. Lakukan penyimpanan dengan sistem refrigarasi untuk buncis yang dikemas tujuan pasar swalayan dan restaurant bila tidak langsung dipasarkan.

6. Lakukan pengiriman segera.

5. Apabila tidak langsung dipasarkan lakukan penyimpanan pada ruangan berpendingin pada suhu 5 - 7º C dan kelembaban 70 - 80%.

6. Lakukan pencatatan sebagaimana format yang digunakan (Tabel 5) F. Sasaran

(17)

16

Standar Operasional Prosedur Nomor: SOP B. VI Tanggal Dibuat ……….. Pengangkutan Revisi …….. Tanggal ………. Disahkan ……….. VI. PENGANGKUTAN A. Definisi

Pengangkutan produk sayuran khususnya buncis merupakan kegiatan untuk memindahkan produk tersebut dari suatu tempat ke tempat lain dengan mempertahankan mutu produk. Mulai dari produsen sampai ke konsumen akhir. B. Tujuan

Untuk distribusi produk agar sampai di konsumen akhir dengan kualitas yang baik. Perlu diperhatikan sifat/ karakteristik produk yang diangkut, lamanya perjalanan, alat sarana pengangkutan yang digunakan.

C. Standar Pengangkutan

1. Sarana atau alat angkutan yang digunakan harus bersih, mudah dibersihkan serta mampu menjaga produk buncis tersebut dari kerusakan fisik maupun fisiologis. Sarana angkutan yang tidak berpendingin harus mempunyai fentilasi yang memadai.

2. Produk sayuran buncis harus diletakkan secara teratur (posisi tidur) di dalam sarana angkutan dengan mempertimbangkan ketinggian tumpukan kemasan. 3. Produk buncis yang diangkut harus terhindar dari sinar matahari langsung

selama pengangkutan.

(18)

17

Standar Operasional Prosedur Nomor: SOP B . VI Tanggal Dibuat ……….. Pengangkutan Revisi …….. Tanggal ………. Disahkan ……….. D. Alat dan Bahan

1. Alat pengangkutan dengan persyaratan : harus bersih, mudah dibersihkan 2. Sarana pengangkutan berpendingin/tidak berpendingin.

3. Alat tulis dan blangko isian untuk mencatat kegiatan E. Prosedur Pelaksanaan

1. Siapkan alat atau sarana angkutan yang akan digunakan disesuaikan dengan tujuan pasar dan volumenya.

2. Gunakan sarana angkutan yang berpendingin, apabila tidak berpendingin harus dilengkapi atap/penutup yang mempunyai fentilasi yang cukup.

3. Jaga kondisi udara (suhu dan kelembaban) dalam alat pengangkut.

4. Lakukan penataan kemasan buncis dalam sarana pengangkutan dengan teratur untuk menghindari benturan, gesekan dan tekanan serta tidak boleh

jatuh atau bergeser. Jangan melebihi kapasitas angkut dan

mempertimbangkan ketinggian tumpukan kemasan.

5. Lakukan pencatatan sebagaimana format yang digunakan pada buku kerja (Tabel 6)

F. Sasaran

Mendistribusikan buncis dengan alat transportasi yang sesuai sehingga sampai ke konsumen dengan kondisi baik.

(19)

18

BUKU KERJA

Tabel. 1 Form Catatan Kegiatan Penentuan Waktu Panen Buncis

Nama Petani :

Varietas :

Luas Tanam :

Alamat Lahan : Desa... Kecamatan...Kab...

No Tanggal Waktu Panen* Luas

Panen(Ha) Produksi (Kg) Petugas Keterangan : * Pagi 07.00 – 10.00 Siang ≥ 10.00 – 14.00 Sore ≥ 14.00 – 18.00

(20)

19

Tabel. 2 Form Kegiatan perlakuan segera setelah panen Buncis Nama Petani :...

Alamat Lahan :...

No Hasil

Perlakuan segera setelah panen

Hasil akhir

Pengumpulan Pendinginan Sortasi Treatment

Tabel. 3 Form Catatan Kegiatan Grading Buncis Nama Petani :...

Alamat Lahan :...

No Standar Super A (kg) Super B Ke1(kg) Baby (kg) Kesepakatan

(kg) 2 3 ... ... Total

(21)

20

Tabel. 4 Form Catatan Pengemasan Buncis

Nama Petani : ………..

Alamat Lahan : ………..

Tanggal Bahan kemasan Ukuran dan berat

kemasan (kg) Tujuan pasar Petugas

Tabel 5. Form Catatan Kegiatan Penyimpanan Buncis

Nama Petani : ………..

Alamat Lahan : ………..

Tanggal Ruang

Penyimpanan

Tujuan

(22)

21

Tabel 6. Form Pengangkutan Nama Petani : ……….. Alamat Lahan : ……….. Tanggal Tujuan Pengiriman Jenis alat angkut Jumlah Pengiriman (Ton) Lama Perjalanan Petugas

(23)

Gambar

Tabel 5. Form Catatan Kegiatan Penyimpanan Buncis   Nama Petani    : …………………..

Referensi

Dokumen terkait

No Nama Perusahaan Alamat dan No. Pembukaan/ download dokumen penawaran sampul 1 dilakukan pada hari ... pukul ...WIB melalui aplikasi lpse.lipi.go.id. Jumlah peserta

Dilakukan dengan cara mempelajari dan memahami banyaknya SOP yang perlu diterapkan, konsekuensi penerapan SOP, target penerapan dan kompetensi pegawai dalam

Pelunasan dapat dilakukan dengan cara angsuran atau dicicil sesuai dengan kesepakatan pada akad perjanjian kedua belah pihak (KSPPS Amanah Usaha Mulia (AULIA) Magelang

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis yang dilakukan, terbukti bahwa standar operasionl prosedur secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap

Selain dari yang telah disebutkan diatas, pembayaran akan dilakukan dengan cara pembuatan cek oleh Bendahara Pengeluaran diserahkan kepada BPP Rutin dan Belanja Pegawai

No Nama Perusahaan Alamat dan No. Pembukaan/download dokumen penawaran sampul 1 dilakukan pada hari ... pukul ...WIB melalui aplikasi lpse.lipi.go.id. Jumlah peserta

Wawancara dengan panitia kurban dilakukan dengan cara datang langsung kepada ta’mir masjid atau panitia kurban yang terlibat dalam penyelenggaraan penyembelihan

Pada penelitian ini, pengukuran efektifitas penerapan SOP dilakukan pada 5 SOP yang berhubungan dengan pelanggan antara lain SOP Penyaluran Obat ke Apotek, SOP Penanganan Obat Palsu dan