• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISSN X KONFERENSI NASIONAL ENGINEERING PERHOTELAN. Prosiding. rhotelan IV VII -20 ISSN X. Nomor 1/Volume 4/September 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ISSN X KONFERENSI NASIONAL ENGINEERING PERHOTELAN. Prosiding. rhotelan IV VII -20 ISSN X. Nomor 1/Volume 4/September 2016"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

Jurusan Teknik Mesin

Fakultas Teknik, Universitas Udayana

Kampus Bukit Jimbaran, Bali 80362

Kampus Bukit Jimbaran, Bali 80362

Telp./Fax.: +62 361 703321

http://www.mesin.unud.ac.id

ISSN 2338 – 414X

Nomor 1/Volume 4/September 2016

P R O S I D I N G

P R O S I D I N G

P R O S I D I N G

P R O S I D I N G

o

n

fe

re

n

si

N

a

si

o

n

a

l

E

n

g

in

e

e

ri

n

g

P

e

rh

o

te

la

n

IV

P R O S I D I N G

P R O S I D I N G

P R O S I D I N G

P R O S I D I N G

KONFERENSI NASIONAL

ENGINEERING PERHOTELAN

“Hilirisasi Teknologi Berbasis Rekayasa Manufaktur

P

ro

si

d

in

g

a

l

E

n

g

in

e

e

ri

n

g

P

e

rh

o

te

la

n

IV

P

ro

si

d

in

g

K

o

n

fe

re

n

si

N

a

si

o

rh

o

te

la

n

IV

P

ro

si

d

in

g

K

o

n

fe

re

n

si

N

a

si

o

n

a

l

E

n

g

in

e

e

ri

n

g

3

Jurusan Teknik Mesin

Fakultas Teknik

Universitas Udayana

2

0

Prosiding

KKonferensi

Nasionnal

Engineering

PePerhoelan

VII

- 201

6

(2)

Nasional Engineering Perhotelan

Prosiding Konferensi i Nasional Engineering Perhoteellan

2

2 September 2016

Ghurri, S.T., M.T., Ph.D.

e Gatot

t Adi Atmika, S.T., M.T.

dy Prananda Surya, S.T., M.T.

r. Tjok Gd. Tirta Nindhia (UNUD)

r. ING Antara M.Eng. (UNUD)

r.Ir. IGB Wijaya Kusuma (UNUD)

ohny Wahyuadi M, DEA (UI)

Dr. Kuncoro Diharjo, ST,MT. (UNS)

turwati (UNTIRTA)

r.Ing. Mulyadi Bur (Sekjen BKSTM)

I Wayan Surata,

Dipublikasikan dan didistribusikan oleh Jurusan Teknik Mesin

Udayana, Kampus Bukit Jimbaran, Bali 80362,

i

ISS

N:

Prosiding Konferens

an

Ainu

I Ma

Ketua Editor

:

I Dewa Gede Ary Subagia, ST, MT

Editor Pelaksana

: Dr.

Wayan Nata Septiadi, ST, MT Dr. Ir. I Ketut Gede Wirawan, MT

I Ke

IG T

I Ketut Adi Atmika, S.T., M.T. I Made Astika, ST, MT. I Ketut Astawa, ST, MT

Prof

Penyunting Ahli :

Prof

Prof

Prof

Prof

Dr C

Prof

Prof. Ir. I.N.G. Wardhana, MEng., PhD (Universitas Brawijaya) Prof. Dr.-Ing. Ir. Mulyadi Bur (Universitas Andalas)

Prof. Ir. I. Nyoman Sutantra, MSc., PhD (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Prof. Dr. Ir. Agus Suprapto M.Sc,.Ph.D (Universitas Merdeka Malang)

Prof. Dr. Ir. Eddy Sumarno Siradj, MSc (Universitas Indonesia) Prof. Dr. Ir. Yatna Yuwana Martawirya (Institut Teknologi Bandung) Prof. Dr. I Made Kartika Dhiputra , Dipl.Ing (universitas Indonesia) Prof. I Nyoman Suprapta Winaya,ST,MASc.Ph.D (universitas Udayana) Prof. Ir. NPG Suardana,MT.PhD (Universitas Udayana)

Prof. Dr.Ir.Rudy Suenoko,M.Eng Sc (Universitas Brawijaya) Prof. Ir.Jamasri,Ph.D (Universitas Gajah Mada)

Prof. Dr.Kuncoro Diharjo, ST.MT (Universitas Negeri Sebelas Maret) Prof. Dr. Tjok Gde Tirta Nindhia,ST,MT (Universitas Udayana) Dr. Mulya Juarsa, S.Si., M.Esc (PTRKN-BATAN)

Dr. Agus Sunjarianto Pamitran,ST.M.Eng (Universitas Indonesia)

Hak Cipta @ 201

6 oleh KNEP

Jurusan Teknik Mesin – Universitas Udayana

Dilarang mereproduksi dan

bagian dari publikasi ini dalam bentuk

maupun media apapun tanpa seijin Jurusan

Teknik Mesin – Universitas Udayana.

Dipublikasikan dan didistribusikan oleh Jurusan Teknik Mesin

Udayana, Kampus Bukit Jimbaran, Bali 80362, Indonesia.

N:

2338-414X

Prosiding Konferensi Nasional Engineering Perhot

V

II – 2016

oleh KNEP V

II – 2016

Universitas Udayana.

dan mendistribusi

bagian dari publikasi ini dalam bentuk

maupun media apapun tanpa seijin Jurusan

Universitas Udayana.

Dipublikasikan dan didistribusikan oleh Jurusan Teknik Mesin – Universitas

(3)

Konferensi Nasional Engineering perhotelan VII, Universitas Udayana, 2016

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmatNya acara Konferensi Engineering perhotelan VII (KNEP-VII) bisa terselenggara pada tanggal 22 september 2016, di Paragon Hotel Bali, Kampus Bukit Jimbaran.

KNEP-VII diselenggarakan sebagai suatu forum untuk membicarakan, mendiskusikan serta mempresentasikan inovasi inovasi, hasil riset yang dilakukan oleh berbagai kalangan baik peneliti, mahasiswa maupun praktisi guna menunjang perkembangan industri pariwisata. Adapun seminar atau konferensi ini juga terkait dengan perayaan kegiatan BKFT ke 51 dan Dies Natalis Universitas Udayana ke-54. KNEP-VII mengambil suatu tema: “Hilirisasi Teknologi Berbasis

Rekayasa manufaktur dan Eco-Energy Pendukung Industri Pariwisata” yang dikelompokkan

dalam Empat topik yakni: 1. Energi dan Termofluid 2. Desain manufaktur 3. Rekayasa Material 4. Engineering perhotelan

Adapun makalah yang dipresentasikan dalam konferensi ini merupakan makalah yang lolos pada seleksi abstrak dan diterima sebagai makalah yang dipresentasikan secara oral. Adapun jumlah makalah berjumlah 50 makalah dengan 25 makalah dari bidang Energi dan Termofluid (ET), 12 makalah dari bidang Desain Manufaktur (DM), 11 Makalah dari bidang Reakayasa Material (RM) dan 2 makalah dari bidag Engineering Perhotelan (EP).

Kami mengucapkan terima kasih kepada para narasumber (Keynote speaker), para pemakalah, peneliti, sciencetific committee serta praktisi yang telah berpartisipasi pada Konferensi Engineering Perhotelan VII ini sehingga kegiatan ini dapat terselenggara dengan baik. Tidak lupa juga kami ucapkan terima kasih kepada staf pimpinan di lingkungan Universitas Udayana baik Rektor, Dekan serta Ketua Jurusan yang juga telah membantu terselenggaranya kegiatan ini dengan sukses.

Bukit Jimbaran, Bali 22 September 2016 Ketua panitia KNEP VII

(4)

Konferensi Nasional Engineering perhotelan VII, Universitas Udayana, 2016

NARASUMBER

Prof. Dr.-Ing. Nandy Putra

Beliau aktif dalam bidang riset: pipa kalor, termoelektrik, termoakustik, nanofluida dan Phase Change Material (PCM). Karier mengajarnya dimulai sejak tahun 1995. Hingga saat ini, beliau masih aktif mengajar di Departemen Teknik Mesin. Predikat Guru Besar diraihnya pada tahun 2009. Mata Kuliah yang beliau ajarkan antara lain Perpindahan Kalor dan Masa, Alat Penukar Kalor, Teknik Pengukuran dan Metrologi, dan Desain Penelitian. Selain sebagai dosen beliau juga pernah menjabat sebagai Kepala Laboratorium Perpindahan Kalor FTUI, Wakil Ketua Departemen bidang Non Akademik, Manajer Umum FTUI dan sekarang menjabat sebagai Direktur Logistik Universitas Indonesia.

Dr. Anhar R Antariksawan

Tahun 1993 – 1995 beliau menjadi ketua dari Thermalhydraulic Group, Thermalhydraulic Installation, Center for Development of Nuclear Safety Technology, BATAN. Tahun 1995 – 1999 beliau aktif sebagai Head of Thermalhydraulic Installation, Center for Development of Nuclear Safety Technology, BATAN. 1999 – 2003 beliau aktif sebagai Head of Risk Analysis and Accident Mitigation Division, Center for Nuclear Safety and Reactor Technology, BATAN. Kedudukan sebagai Director of Center for Nuclear Safety and Reactor Technology, BATAN beliau jabat pada tahun 2006 – 2008. Beliau juga menjabat sebagai Deputy Chairman of BATAN for Basic and Applied Research dan Deputy Chairman BATAN for Nuclear Technology Utilization pada periode tahun 2008 – 2014 dan tahun 2014 – 2016.

Ir. Arief Yuwono, MA

Prof. Dr.-Ing. Nandy Putra adalah Guru Besar di Departemen Teknik Mesin Fakultas

Teknik, Universitas Indonesia. Lahir di Palembang pada 25 Oktober 1970. Beliau meraih gelar Sarjana Teknik di Departemen Teknik Mesin FTUI pada tahun 1994 dengan judul tugas akhir Design and Testing of Aerofilt. Setelah menyelesaikan pendidikan Sl, beliau memperoleh beasiswa dari DAAD untuk melanjutkan studi ke Jerman. Jenjang Doktoral bidang heat transfer di Universitaet der Bundeswehr Hamburg Jerman diselesaikan pada tahun 2002 dengan judul tesis Heat Transfer in

Dispersed Material. Kini beliau aktif dalam kegiatan riset pada Applied Heat Transfer

Research Grouph (AHTRG) Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Dr. Anhar R Antariksawan adalah Senior Researcher di PTRKN-BATAN. Lahir di

Semarang, November 11, 1962. Beliau meraih gelar Sarjana di Department of Nuclear Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada tahun 1986. Melanjutkan ke jenjang Master of Energetique Physique (DEA), E.N.S de Physique de Grenoble, Institute National Polytechnique de Grenoble (INPG), France pada tahun 1988 dan selesai pada tahun 1989. Gelar Doktor beliau peroleh pada Physique de Grenoble, Institute National Polytechnique de Grenoble (INPG), France pada tahun 1993.

Mulai tahun 1993 beliau aktif sebagai peneliti di PTRKN-BATAN dimana pada tahun tersebut beliau sebagai Staff at Center for Education and Training, BATAN.

(5)

[DM-004]

Penerapan Total Productive Maintenance Untuk Peningkatan Efisiensi Produksi Dengan Menggunakan Metode Overall Equipment Effectiveness Pada Turbin Uap Type C5 Ds Ii – Gvs Di PT. PP London Sumatera Indonesia Tbk Begerpang POM

Joel Bastanta Perangin Angin, Evin Dunan Manurung, Alfian Hamsi Siregar

187-196

[DM-005]

Aplikasi metode elemen hingga dalam kajian gaya potong dengan pendekatan simulasi tegangan pada alat pemanen sawit yang berbeda

Reynold Patria Andri Surbakti

197-204

[DM-006]

Analisa pertumbuhan keausan pahat karbida coated dan uncoated pada alloy steel AISI 4340

Sobron Lubis, Steven Darmawan, Rosehan dan Tommi Tanuwijaya

205-214

[DM-007]

Pengaruh Alur Las dan Variasi Kuat Arus Pengelasan Shielded Metal Arc Welding Baja ST 60 Terhadap Umur Lelah

Tri Sisiwanto Kamid, I Ketut Suarsana, NGK Kt Putra Negara

215-220

[DM-008]

Rancangan Alat Potong Tebu Semi Otomatis yang Ergonomis

Dirgahayu Lantara, Nurhayati Rauf, Muhammad Dahlan, A.Pawennari

221-226

[DM-009]

Rancang Bangun Mesin Penyangrai Kacang Tanah Untuk Peningkatan Produktivitas Pada Industri Mochi di Sukabumi

Silvi Ariyanti, Chandrasah Soekardi, Resa Taruna Suhada dan Wildan Yoga Pratama

227-234

[DM-010]

Analisis Ergonomi Postur Kerja Operator Pada Proses Pembuatan Batako

Regina Anggraini, Lamto Widodo, Wayan Sukania

235-244

[DM-011]

Studi sistem kontrol suspensi dengan pemodelan delapan dof untuk memperbaiki kinerja perilaku arah kendaraan

I Ketut Adi Atmika dan IGAK.Suriadi

245-250

[DM-012]

Perancangan Prototipe Mesin Pemungut Sampah Pesisir Pantai “Vacuum Boat Cleaner” (VBC)

I Gusti Agung Ngurah Putranata, Raymond Nicholas Silalahi, I Putu Yajnartha Shanon Lestari, I.D.G Ary Subagia

(6)

Prosiding Konferensi Nasional Engineering Perhotelan VII - 2016 (149-154)

Karakterisasi Termal Kolektor Surya Berbasis Pipa Kalor

untuk Pengembangan Sistem Pemanas Air

Wayan Nata Septiadi

1,2)

*, I Ketut Gede Wirawan

1)

, I Made Suinata

3)

1)

Teknik Mesin Universitas Udayana, Kampus Bukit Jimbaran, Badung-Bali

2)

Laboratorium Perpindahan Panas, Teknik Mesin Universitas Udayana

3)

Magister Teknik Mesin, Pascasarjana Universitas Udayana, Kampus Sudirman, Denpasar-Bali

Abstrak

Menipisnya ketersediaan energi fosil sebagai salah satu sumber energi mengakibatkan sumber energi alternatif seperti energi terbarukan menjadi salah satu sumber energi yang mulai banyak dilirik untuk menggantikan energi fosil. Pengembangan berbagai perangkat ataupun sistem yang mampu untuk mengkonversi sumber sumber energi terbarukan mulai banyak dikembangkan. Kolektor surya dengan memanfaatkan pipa kalor (Heat pipe) sebagai sistem penangkap dan pengantar kalor mulai banyak dikembangkan. Dalam penelitian ini dilakukan pengembangan kolektor surya berbasis pipa kalor untuk sistem pemanas air. Kolektor surya di desain menggunakan tabung vacuum dengan diameter 60 mm dan panjang 600 mm, dimana pipa kalor berdiameter 10 mm dengan panjang 700 mm terdapat pada bagian dalam tabung dan bagian di luar tabung digunakan sebagai bagian dari sistem yang memanaskan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterik termal kolektor surya berbasis pipa kalor untuk pengembangan sistem pemanas air. Pengujian dilakukan dengan pembebanan pada kolektor surya berbasis pipa kalor melalui pemanasan oleh sinar matahari, dengan bagian kondensor tanpa aliran air. Beberapa termokopel tipe-K dipasang pada bagian evaporator dan bagian kondensor untuk mengetahui temperatur pada masing masing bagian tersebut. Temperatur yang terukur selanjutnya dihubungkan dengan sistem data aquisisi NI 9213 dan c-DAQ 9174. Pengamatan dilakukan terhadap capaian temperatur pada bagian evaporator dan bagian kondensor sepanjang pukul 08.00 sampai dengan pukul 14.30 Wita, serta hambatan termal pipa kalor sebagai sistem kolektor surya untuk pengembangan pemanas air. Dari hasil pengujian didapatkan temperatur tertinggi pada bagian evaporator rata-rata mencapai 58oC dan pada bagian kondensor rata-rata mencapai 84oC dengan hambatan termal terkecil mencapai 0,26 oC/Watt.

Kata kunci :Kolektor surya, pipa kalor, pemanas air, tabung vacuum, karakterisasi termal.

1. Pendahuluan

Pada umumnya energi yang digunakan dalam berbagai kegiatan manusia adalah energi yang bersumber dari fosil. Kegiatan manusia tersebut menyebabkan tejadinya eksploitasi besar besaran pada sumber energi fosil yang berdampak pada perusakan lingkungan hidup. Di samping itu pula pemakaian energi fosil juga menghasilkan berbahaya seperti CO2, CO, NOX dan sebagainya yang berdampak buruk bagi kehidupan manusia dan juga menimbulkan pemanasan global[1]. Masalah lain yang cukup memperihatinkan adalah masalah ketersediaan sumber energi, dimana besarnya permintaan atas sumber energi yang tidak dapat diperbaharui, maka hal ini mengakibatkan menipisnya ketersediaan energi fosil sebagai salah satu sumber energi. Energi alternatif seperti energi terbarukan menjadi salah satu sumber energi yang mulai banyak dilirik untuk menggantikan energi fosil.

Pengembangan berbagai perangkat ataupun sistem yang mampu untuk mengkonversi sumber sumber energi terbarukan mulai banyak dikembangkan. Salah satu energi alternatif yang dapat kita gunakan adalah energi matahari. Kolektor surya dengan memanfaatkan pipa kalor (Heat pipe) sebagai sistem penangkap dan pengantar kalor mulai banyak dikembangkan [2]. Pengembangan pipa kalor dengan sumbu kapiler sebagai tube kolektor solar water heater, di integrasikan guna mengurangi konsumsi listrik pada bagian kolektor. Sumbu kapiler merupakan media berpori yang berfungsi sebagai media untuk memompa cairan dari bagian kondensor ke bagian evaporator pada sistem heat pipe yang berfungsi sebagai kolektor pada solar water heater [3,4]. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, pipa kalor memang memiliki keunggulan tersendiri. Disamping kinerjanya yang sangat baik karena berlangsung secara dua fasa, pipa kalor juga merupakan alat yang memindahkan kalor secara pasif atau tidak memerlukan daya tambahan dari luar sehingga secara tidak langsung dapat mengurangi konsumsi energi listrik. Keuntungan dalam pemanfaatan pipa kalor sebagai penukar kalor atau pendingin diantaranya siklus pemindahan kalor yang relatif lebih singkat, kekompakan dimensi, koefisien perpindahan kalor yng cukup tinggi serta tidak diperlukannya daya tambahan karena sirkulasi terjadi secara natural [4]. D.A.G. Redpath [5-7] menyebutkan pemanfaatan heat pipe pada solar collector bertipe tabung vakum merukapan pengembangan yang baru. D.A.G. Redpath pada risetnya tentang “Thermosyphon heat-pipe

Korespondensi: Tel. +62 81916356509 E-mail: [email protected]

(7)

evacuated tube heat-pipe solar water heaters for northern maritime climates,” menyebutkan bahwa pada kondisi klimatik sementara, riset sebelumnya melaporkan bahwa solar kolektor tabung vakum dengan penyerap heat pipe adalah solusi paling efektif untuk pengumpulan energi panas. D.A.G. Redpath, dkk. juga menyebutkan bahwa sebuah ruang berselubung gelas vakum dapat mengurangi kehilangan kalor secara konveksi dan konduksi dari penyerap ke lingkungan sementara pemilihan lapisan tertentu akan mengurangi kehilangan kalor secara radiasi. Dari beberapa penelitian tersebut maka pada penelitian ini akan dilakukan karakterisasi termal kolektor surya berbasis pipa kalor untuk pengembangan sistem pemanas air (heat pipe solar water heater).

2. Metode

2.1. Perancangan Kolektor Surya

Kolektor surya dibuat menggunakan pipa kalor tembaga berdiameter 10 mm dengan panjang 700 mm.Sumbu kapiler pipa kalor merupakan jenis sintered powder tembaga. Bagian isolator dibuat dengan menggunakan tabung kaca dengan ukuran diameter luarnya adalah 60 mm dan panjang 600 mm. Tabung ini ditutup dengan plange yang dilengkapi dengan katup vacuum seperti pada gambar 1. Bagian kolektor surya ini akan dipasangkan menjadi sistem pemanas air berbasis pipa kalor, dimana sistem terdiri dari empat buah kolektor surya berbasis pipa kalor dengan bagian kondensor berada pada bagian dalam chamber berdiameter 100 mm yang merupakan tempat terjadinya pertukaran kalor atau tempat pemanasan air. Sistem pemanas air tersebut terlihat pada gambar 2.

Gambar 1. Kolektor surya berbasis heat pipe

Gambar 2. Sistem pemanas air berbasis pipa kalor 2.2 Skematik Pengujian

Gambar 3 merupakan skematik pengujian karakterisasi termal kolektor surya berbasis pipa kalor. Pada pengujian ini sistem pemanas air belum dialiri air. Pengujian karakteristik ini dilakukan dengan memberikan pembebanan sinar matahari pada kolektor sirya dan mengkarakterisasi distribusi temperatur pada bagian evaporator dan bagian kondensor dari kolektor tersebut. Termokopel tipe-K dipasang pada beberapa titik pada bagian evaporator dan bagian kondensor

(8)

untuk mengukur temperatur yang tercapai pada bagian tersebut masing-masing. Masing-masing termokopel dihubungkan dengan sistem data aquisisi (c-DAQ) dengan modul temperatur NI 9213 dan NI-c-DAQ 9174 untuk meneruskan sidnal yang terukur pada bagian ujung termokopel yang selanjutnya diolah pada computer melalui software LabView. Proses karakterisasi dilakukan mulai pikul 09:00 sampai dengan 14:30 Wita dimana fluks kalor matahari sebagai pembebanan pada kolektor surya diukur dengan solar power meter yang diambil setiap periode 30 menit.

Dimana besarnya beban kalor yang terserap pada bagian evaporator kolektor surya dihitung melalui persamaan 1. 2 (Watt) ( ) (meter) . Q W q m A Q q A = = (1)

dimana q merupakan fluks kalor matahari (W/m2), Q merupakan besar beban kalor yang terserap ke

bagian evaporator (W) dan A merupakan luasan evaporator (m).

Hambatan termal dihitung melalui rasio beda temperatur pada bagian evaporator dengan kondensor dibandingkan dengan besar beban kalor yang terserap pada bagian evaporator. Besarnya hambatan termal kolektor surya berbasis heat pipe dihitung melalui persamaan 2.

evap cond T T R Q − = (2)

dengan R merupakan hambatan termal kolektor surya berbasis heat pipe (oC/W).

Gambar 3. Skematik pengujian

3.Hasil dan Pembahasan

3.1. Distribusi Temperatur pada kolektor surya dan besar kalor (Q) yang diserap pada evaporator

Gambar 4 (a) memperlihatkan data fluks kalor matahari pada pengujian dari pukul 09:00 sampai dengan 14:30 Wita dimana terlihat bahwa fluks kalor dari dari pukul 09:00 sampai dengan pukul 13:00 Wita dan selanjutnya cenderung mengalami penurunan kembali. Fluks kalo

tertinggi dari empat kali pengambilan data mencapai 1200 sampai dengan 1300 W/m2 pada

pukul 13:00 sampai 13:30. Besarnya Fluks kalor matahari berpengaruh terhadap distribusi temperatur pada bagian kolektor surya serta besarnya serapat kalor pada bagian evaporator kolektor, dimana

Prosiding Konferensi Nasional Engineering Perhotelan VII, Universitas Udayana, Bali, 22-24 September 2016

(9)

distribusi temperatur kolektor surya dan besarnya serapan kalor pada bagian evaporator ditunjukkan oleh table 1 dan gambar 4 (b).

Trend distribusi temperatur pada bagian kolektor surya cenderung mengikuti trend dari fluks kalor matahari untuk semua kolektor surya. Temperatur evaporator maupun temperatur bagian kondensor mengalami kenaikan sampai degan pukul 13:00 dan selajutnya cenderung mengalami penurunan kembali, dimana selisih maksimal antara bagian evaporator dengan bagian kondensor

mencapai 4oC dengan temperatur pada bagian kondensor rata rata mencapai 53oC. dengan jumlah

kalor yang terserap pada bagian evaporator mencapai 40,22 Watt. Dilihat dari

temperatur kondensor yang mampu mencapai 48oC untuk satu pipa kalor sebagai kolektor surya

memberikan potensi untuk mampu memanaskan air dengan 4 buah kolektor surya pada

capaian temperatur minimal 48oC sampai dengan 60oC.

Tabel 1. Distribusi temperatur pada bagian evaporator dan besar beban kalor yang diserat oleh evaporator

Gambar 4. (a) Fluks kalor matahari, (b) Distribusi temperatur pada kolektor surya

(10)

3.2. Hambatan Termal Kolektor Surya

Pada gambar 5 diperlihatkan hambatan termal pipa kalor mulai jam 09.00 sampai dengan

14.30 wita. Di awal pengujian hambatan termal pipa kalor sebesar 1,8 Watt/oC kemudian

semakin lama semakin turun. Hambatan termal terendah terjadi pada akhir pengujian

sebesar 0,08 watt/oC. Penurunan hambatan thermal ini disebabkan karena semakin besar

energi panas matahari maka hambatan termal semakin turun, dimana penurunan hambatan termal terjadi dengan peningkatan pembebanan kalor (Q), ini sejalan dengan penelitian penelitian pipa kalor terdahulu [8-13]. Hambatan termal dihitung untuk mengetahui karakter kemampuan memindahkan kalor, dimana dengan hambatan termal yang kecil maka dapat dikatakan kolektor tersebut cenderungan memiliki kemampuan memindahkan kalor dalam jumlah besar. Melihat besar hambatan termal yang berada pada 0,2 sampai dengan yang paling rendah

0.08 Watt/oC secara konsep pipa kalor hambatan tersebut menunjukkan kinerja pipa kalor

sebagai kolektor surya sangat baik.

Gambar 5. Hambatan termal kolektor surya 4. Kesimpulan

Kolektor surya berbasis pipa kalor untuk pengembangan pemanas air (heat pipe solar water heater), memiliki kemampuan menyerap kalor pada bagain evaporator untuk masing-masing sebesar 40,22 Watt pada kondisi fluks kalor matahari maksimal yakni 1200 sampai dengan

1300 W/m2. Distribusi temperatur kolektor surya memiliki selisih yang sangat kecil antara

bagian evaporator dengan bagian kondensor yakni berkisar 4oC, serta hambatan termal

kolektor surya paling rendah mencapai 0.08 oC/W.

Ucapan Terima Kasih:

Terima kasih diucapkan kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Universitas Udayana atas dukungan dana melalui skema hibah HUPS 2016,

No:2464/UN14.1.31/LT/2016.

Daftar Pustaka

[1] Raharjo and I. Fitriana, “Analisis Potensi Pembengkit Listrik Tenaga Surya di Indonesia,” Strategi Penyediaan Listrik Nasional Dalam Rangka Mengantisipasi Pemanfaatan PLTU Batubara Skala Kecil, PLTN dan Energi Terbarukan, P3TKKE, BPPT, Januari, 2005

[2] G. Bourke and P. Bansal, “New Test Method For Gas Boosters With Domestic Solar Water Heater,” Solar Energy, Vol. 86, pp. 78-86, 2012

Prosiding Konferensi Nasional Engineering Perhotelan VII, Universitas Udayana, Bali, 22-24 September 2016

(11)

[3] T. Kaya and J. Goldak, “Numerical Analysis of Heat and Mass Transfer in The Capillary Structure of a Loop Heat Pipe,” International Journal of Heat and Mass Transfer, vol. 49, pp.3211-3220, 2006

[4] V.M. Kiseev, V.V. Vlassov, and I. Muraoka, “Experimental Optimization ofpillary Structures for Loop Heat Pipes and heat switches,” Applied Thermal Engineering, Vol. 30, pp.1312-1319,2010

A. A. Pawar, D. B. Shelke, “Thermal performance of wickless heat pipe solar collector with surfactant added nanofluid and solar tracking- A Review,” International Journal of Science, Engineering and Technology Research (IJSETR), Volume 4, Issue 1, January 2015

[5] D.A. Redpath, “Thermosyphon Heat-Pipe Evacuated Tube Solar Water Heaters For Northern Maritime Climates, “ Solar Energy, Vol. 86, pp. 705-715, 2012

[6] D. Reay, R. Mc Glen, and P. Kew, Heat Pipes: Theory, Design and Applications: Butterworth-Heinemann, 2013

[7] D.A.G. Redpath, P. C. Eames, S. N.G. Lo, P. W. Griffiths, “Experimental investigation of natural convection heat exchange within a physical model of the manifold chamber of a thermosyphon heat-pipe evacuated tube solar water heater,” Solar Energy 83 988-997. 2009 [8] D.A.G. Redpath, “Thermosyphon Heat-pipe Evacuated Tube Solar Water Heaters for Northern

Maritime Climates,” Solar Energy 86 705-712, 2012

[9] L.L. Vasiliev, Heat pipes in modern heat exchangers, Applied Thermal Engineering, vol. 25, pp. 1-19. 2005

[10] N. Putra, W. N. Septiadi, H. Rahman, and R. Irwansyah, “Thermal performance of Screen Mesh Wick Heat Pipes With Nanofluids,” Experimental Thermal and fluid Science, vol. 40 pp. 10-17, 2012

[11] N. Putra, R. A. Koestoer DEA, W. N. Septiadi, Pengembangan Solar Kolektor berbasis Pipa Kalor Dengan Fluida Kerja Nano Fluida, Universitas Indonesia, 2014

[12] N. Putra, W. N. Septiadi, “Teknologi Pipa Kalor,” Teori, Desain dan Aplikasi, Universitas Indonesia, 2014

[13] N. G. Yoga, A. Suwono, Abdurrachim, T. Hardianto, “Kaji Eksperimental Penggunaan Pipa Kalor Dalam Kollektor Surya Sebagai Penyerap Energy Termal Surya Untuk Penyuplai Pompa Kalor Temperatur Tinggi”, SNTTM ke-9, Palembang 2010

Dr. Wayan Nata Septiadi, ST, MT. Lahir di Klungkung pada tanggal 12 September 1984.

Menempuh pendidikan S1 di Teknik Mesin Universitas Udayana pada tahun 2003 dan memperoleh gelar Sarjana Teknik pada tahun 2006. Diangkat menjadi dosen di Teknik Mesin Universitas Udayana pada tahun 2008 dan pada September 2009 melanjutkan ke jenjang Magister di Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia dan mendapatkan gelar Magister Teknik pada Januari 2011. Menyelesaikan program doktoralnya pada Juni 2014 dalam bidangriset pipa kalor dan nanofluida dengan judul disertasi Pengembangan Pipa Kalor Berbasis Terumbu Karang dan Nanofluida.

Dr. Ir. I Ketut Gde Wirawan, MT, memperoleh gelar Doktor di Teknik Mesin Universitas Brawijaya,

pada tahun 2014. Kini beliau aktif dalam bidang riset dan pendidikan di Jurusan Teknik Mesin Universitas Udayana.

I Made Suinata, ST merupakan mahasiswa program magister Teknik Mesin Universitas Udayana. Beliu

aktif mengajar di Sekolah Menengah Kejuruan bidang Teknik Mesin. Beliu aktif meneliti mengenai heat pipe solar water heater di bawah bimbingan Dr. Wayan Nata Septiadi, ST, MT dan Dr. Ir. I Ketut Gde Wirawan, MT.

(12)
(13)

Karakterisasi Termal Kolektor

Surya Berbasis Pipa Kalor untuk

Pengembangan Sistem

Pemanas Air

by Wayan Nata Septiadi

FILE

TIME SUBMITTED 31-JAN-2017 04:32AM

SUBMISSION ID 764471708

WORD COUNT 2231

CHARACTER COUNT 13638

YA_BERBASIS_PIPA_KALOR_UNTUK_PENGEMBANGAN_SISTEM_PEM ANAS_AIR.PDF (705.9K)

(14)
(15)
(16)
(17)
(18)
(19)
(20)

%

3

SIMILARIT Y INDEX

%

2

INT ERNET SOURCES

%

0

PUBLICAT IONS

%

1

ST UDENT PAPERS

1

%

1

2

%

1

3

<

%

1

4

<

%

1

5

<

%

1

6

<

%

1

EXCLUDE QUOTES OFF

EXCLUDE BIBLIOGRAPHY

ON

EXCLUDE MATCHES OFF

Karakterisasi Termal Kolektor Surya Berbasis Pipa Kalor

untuk Pengembangan Sistem Pemanas Air

ORIGINALITY REPORT

PRIMARY SOURCES

Submitted to University of Malaya

St udent Paper

es.scribd.com

Int ernet Source

etd.lib.nsysu.edu.tw

Int ernet Source

banjarangkan1.diskesklungkung.net

Int ernet Source

175.45.184.24

Int ernet Source

www.lmi-malang.org

Gambar

Gambar 1. Kolektor surya berbasis heat pipe
Gambar 3. Skematik pengujian
Tabel 1. Distribusi temperatur pada bagian evaporator dan besar beban kalor yang diserat oleh evaporator
Gambar 5. Hambatan termal kolektor surya

Referensi

Dokumen terkait

Analisa Limbah Cair dan Limbah Uap pada Rencana Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Bedugul Sistem Binary dengan Simulasi CFD

Baja karbon rendah yang dicarburizing menggunakan carburizer 80% arang bamboo dan 20% BaCO 3 , dipanaskan sampai 950 0 C, ditahan selama 4 jam dan didinginkan dengan

Dimana pada keadaan termofilik temperatur pemanasan 45 o C pada digester II merupakan temperatur yang paling ideal untuk bakteri termofilik dalam proses degradasi

Analisa Limbah Cair dan Limbah Uap pada Rencana Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Bedugul Sistem Binary dengan Simulasi CFD

Dari grafik kinerja transmisi menunjukkan semakin banyak tingkat transmisi, semakin kecil traksi yang terbuang.Karakteristik traksi mendekati karakteristik idealnya

 Waktu yang dibutuhkan system HPAC untuk temperatur kabin 16C penggunaan heat pipe pada posisi horizontal dengan adanya bagian adiabatic membutuhkan waktu 100 detik lebih

Berdasarkan hasil pengujian dan analisa tentang pengaruh variasi waktu penahanan (holding time) dan temperatur pack carburizing terhadap umur lelah baja ST 42, maka

Pada gambar 4.1 grafik diagram batang menjelaskan bahwa konsumsi daya kompresor dengan temperatur kabin 16°C dengan menggunakan heat pipe vertical kinerja dari sistem AC lebih