7
Terdapat teori-teori yang melandasi dan mendukung kegiatan penelitian pada penelitian ini. Teori yang dipakai untuk penelitian ini merupakan teori-teori yang didapat dari penelitian-penelitian sebelumnya/terdahulu, sehingga dapat digunakan untuk referensi penelitian ini. Dalam bab ini akan membahas teori-teori mengenai knowledge, knowledge management, knowledge management
system, dan bahasan terkait.
2.1. Kerangka Teoritis
2.1.1. Knowledge
Menurut Davenport (1998). Knowledge dibagi menjadi dua jenis yaitu Explicit Knowledge dan Tacit Knowledge, yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Explicit Knowledge
Adalah sesuatu yang dapat diekspresikan dengan kata-kata dan angka, serta dapat disampaikan dalam bentuk ilmiah, spesifikasi, manual, dan sebagainya.pengetahuan jenis ini dapat diteruskan dari satu individu ke individu lainnya secara formal dan sistematis.
2. Tacit Knowledge
Adalah pengetahuan dari para pakar, baik individu maupun masyarakat, serta pengalaman mereka. Tacit Knowledge bersifat sangat personal dan sulit diformulasikan sehingga membuatnya sangat sulit dikomunikasikan atau disampaikan kepada orang lain. Perasaan pribadi, intuisi, bahasa tubuh, pengalaman fisik, serta petunjuk teknis (rule of thumbs) termasuk dalam jenis tacit
knowledge.
Terdapat 4 model konversi knowledge yang disebut SECI Model menurut Nonaka & Takeuchi (1995) pada buku Dalkir, Kimiz (2005, p53) sebagai berikut:
1. Proses Externalization, merupakan konversi Tacit knowledge ke Explicit knowledge;
2. proses Socialization, merupakan konversi Tacit knowledge ke
Tacit knowledge
3. proses Combination, merupakan konversi Explicit knowledge ke Explicit knowledge
4. proses Internalization, merupakan konversi Explicit knowledge ke Tacit knowledge
Gambar 2.1. Diagram SECI Sumber: Dalkir, Kimiz. (2005).
Kristian Prakoso, F. (2012) melengkapi pernyataan SECI Model sebagai berikut:
1. Socialization (Tacit to Tacit)
Pada proses ini, knowledge yang berjenis tacit dirubah menjadi tacit
knowledge yang lain. Sebagai contoh, belajar dari individu yang
memilii pengalaman yang lebih. Pada proses ini, membuat pengembangan diri dan peningkatan pada diri individu tersebut. Nantinya, proses ini akan berputar pada proses eksternalisasi. Pada proses eksternalisasi, seorang individu akan banyak menghasilkan explicit knowledge seiring banyaknya proses tacit knowledge baru yang didapatnya.
2. Externalization (Tacit to Explicit)
Pada tahap ini, proses yang terjadi yaitu pengubahan tacit knowledge yang dimiliki seorang individu menjadi explicit knowledge. Hal ini bisa diperoleh dengan cara mencatat know–how dan pengalaman yang didapat dalam bentuk tulisan artikel atau mungkin dari buku. Dari
catatan tersebut, memberikan bermanfaat bagi individu lain yang memerlukannya. Dialog merupakan cara yang paling efektif untuk dilakukan pada proses externalization.
3. Combination (Explicit to Explicit)
Pada proses combination, pemanfaatan explicit knowledge yang ada, lalu explicit knowledge tersebut diimplementasikan menjadi explicit
knowledge baru. Peningkatan Skill dan produktifitas diri sendiri
merupakan manfaat dari proses ini. Kombiasi explicit knowledge yang ada menjadi explicit knowledge baru yang lebih bermanfaat, juga melalu proses Combination ini.
4. Internalization (Explicit to Tacit)
Proses Internalization mengubah explicit knowledge yang merupakan inspirasi dari munculnya tacit knowledge. Dari keempat proses pada SECI Model, dapat dikatakan bahwa secara tidak langsung proses ini telah dilakukan. Degan kata lain, bisa dikatakan bahwa learning by
doing. Contohnya saja, seseorang mulai bekerja dengan referensi dari manual book yang ada, mendapat pengalaman baru, pemahaman baru,
dan know-how baru yang belum didapatkannya dari buku tersebut.
2.1.2. Eksternal dan Internal Knowledge
Berdasarkan Pojasek, Robert, B. (2001, pp 79) Knowledge terbagi atas eksternal knowledge dan internal knowledge bagi suatu organisasi.
1. Pelanggan; pada kategori kebutuhan, keinginan, dan aktivitasnya pada pasar
2. Pesaing: pada kategori mengetahui kekuatan dan kelemahan, serta aktifitas pada pasar
3. Hukum/peraturan: pada kategori dalam mempengaruhi organisasi
Internal knowledge pada suatu organisasi, sebagai berikut: 1. Sejarah dan buadaya pada suatu organisasi
2. Petunjuk sebagai arahan yang strategis
3. Komunitas berdasarkan kegemaran, jaringan dan interaksi informal
4. Individu yangg ahli dalam suatu bidang 5. Pada proses tersebut
6. Produk maupun jasa 7. Sistem serta peralatan 8. Teknologi dan paten
9. Peraturan yang tertulis maupun tidak tertulis
10. Pada bagian mana informasi dialokasikan dan bagaimana untuk mengaksesnya
11. Bagaimana cara mengimplementasikan informasi untuk untuk dapat menyelesaikan masalah maupun hal lainnya
12. Bagaimana langkah untuk menjadi sukses
2.1.3. Knowledge Management
Menurut Debowski (2006), “Knowledge management adalah proses mengidentifikasi, menangkap dan menyebarkan aset intelektual yang kritis bagi kinerja jangka panjang organisasi”. Debowski (2006) membuat pola yang dinamakan The five P’s of Strategic Knowledge
Management, yang mana 5 (lima) p tersebut terdiri dari Planning, People, Process, Products, dan Performance. Pola tersebut sebagai untuk
menerapkan KM secara efektif.
Model Collison dan Parcell menunjukkan kesuksesan Knowledge
Management dalam berinteraksi di antara tiga elemen pokok yaitu: 1. People
Yang berarti Knowledge Management berasal dari orang. People merupakan bentuk dasar untuk membentuk suatu knowledge baru, maka jika tanpa adanya orang (manusia) tidak akan adanya knowledge.
2. Technology
Merupakan infrastruktur yang memiliki kriteria standar, konsisten, dan dapat diandalkan dalam mendukung alat-alat perusahaan.
3. Processes
Yang terdiri dari beberapa kategori yaitu, menyebarkan, mentransformasikan, mengesahkan, menyaring, dan menangkap
knowledge ke seluruh perusahaan dan dilengkapi dengan prosedur
Ketiga elemen tersebut saling melengkapi antara satu sama lain, karena knowledge management adalah wilayah dimana tiga elemen tersebut overlap seperti tampak pada gambar berikut.
Gambar 2.2. Three Fundamental Elements of Knowledge Management Sumber: Collison & Parc ell, 2004
Sedangkan menurut Becerra-Fernandez, Gonzalez & Sabherwal (2004), terdapat tiga aspek utama sebagai solusi penerapan KM secara efektif yaitu KM Processes, KM Systems, dan KM Infrastructure. Berdasarkan penuturan Zaeid (2012), knowledge management berperan sebagai proses yang memudahkan perusahaan untuk menemukan, memilih, mengatur, menyebarkan, dan mentransfer informasi dan kehalian penting yang diperlukan untuk operasional maupun support perusahaan. Dan berdasarkan perspektif yang relevan dengan studi kasus ini, maka akan dikaji lebih dalam mengenai KM Processes.
2.1.3.1. Lingkup Knowledge Management
Rosenberg (2001,pp 28) mengidentifikasi luas lingkup aplikasi Knowledge Management yang dibagi ke dalam 3 tingkatan
(level), yaitu:
Level 1: Document Management
Merupakan aplikasi knowledge management yang paling sederhana, dikatakan aplikasi sederhana karena hanya digunakan untuk memfasilitasi distribusi informasi perusahaan.
Level 2: Information Creation, Sharing, and Management
Knowledge management yang digunakan pada level ini antara
lain: isi baru dari penciptaan informasi, komunikasi dan kolaborasi, manajemen informasi waktu yang sesungguhnya, menangkap dan menyalurkan pengalaman para ahli.
Level 3: Enterprise Intelligence
"The truly know-how of the organization” digambarkan pada level
Knowledge management ini. Kemampuan berbasis knowledge yang melekat pada keseluruhan system yang berjalan dalam perusahaan merupakan hal yang berpengaruh pada pelaksanaan dari aktivitas primer pada suatu organisasi. Adapaun berbagai aktivitas knowledge management pada tingkat ini yaitu:
leveraging organizational “know-how”, performance support, interacting with operational databases dan building expert network. Maksudnya adalah, peningkatan organisasi “know-how”,
dukungan kinerja, interaksi kepada operasional basis data, dan membangun jaringan ahli.
Gambar 2.3. The Knowledge Management Pyramid Sumber: Rosenberg, 2014
2.1.4. Knowledge Management Process
Menurut para peneliti terdahulu yang telah mengemukakan tentang beberapa proses ataupun mekanisme Knowledge Management pada organisasi, salah satunya Debowski (2006) mengemukakan bahwa mekanisme KM terdiri dari lima fase yaitu knowledge sourcing, knowledge
abstraction, knowledge conversion, knowledge diffusion, knowledge development and refinement.
KM Processes merupakan proses dari awal pengumpulan sampai
dengan pemanfaatan dari knowledge tersebut di sebuah organisasi. Banyak definisi dan tahapan KM Process, sebagai contohnya menurut Beliveau, Bernstein & Hsieh (2011). KM Process terdiri dari enam aspek, yaitu
Internal Knowledge Acquisition, External Knowledge Acquisition, Knowledge Upgrade, Knowledge Protection, Knowledge Conversion and
Knowledge Application. Menurut Tatoglu, Zaim & Zaim (2007) KM Process terdiri atas Knowledge Generation, Knowledge Transfer, Utilitzation dan Coding & Storage. Menurut Goldoni & Oliviera (2006)
dimana KM Process terbagi atas empat hal yaitu creation, storage,
dissemination dan utilization. Menurut Bose (2004) KM Process terdiri atas Create Knowledge, Capture Knowledge, Refine Knowledge, Store Knowledge, Manage Knowledge, Disseminate knowledge, dsb.
Penelitian ini menggunakan definisi yang dikemukakan oleh Becerra-Fernandez, Gonzalez & Sabherwal (2004) dimana KM Process terdiri dari Knowledge Discovery, Knowledge Capture, Knowledge Sharing, dan Knowledge Application.
2.1.4.1. Knowledge Discovery
Menurut Becerra-Fernandez, Gonzalez & Sabherwal (2004), Knowledge Discovery merupakan proses pengubahan pengetahuan tacit menjadi explicit baru dari data dan/atau informasi pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. Berdasarkan pemaparan tersebut, penulis mendapatkan cakupan knowledge discovery dari
knowledge process adalah sebagai berikut :
1. Internal Knowledge Acquisition, External Knowledge Acquisition & Knowledge Upgrade (Beliveau, Bernstein &
Hsieh, 2011)
2. Create Knowledge (Bose, 2004)
4. Generation (Tatoglu, Zaim & Zaim, 2007)
Goldoni & Oliviera (2006) menyatakan discussion group merupakan salah satu metric yang ia gunakan untuk mengukur
creation phase . Tatoglu, Zaim & Zaim (2007) menggunakan
aktivitas Research & Development sebagai salah satu indikator untuk pengukuran knowledge generation. Sedangkan Beliveau, Bernstein & Hsieh (2011) memecah knowledge discovery menjadi beberapa aktivitas yang salah satu merupakan External Knowledge
Acquisition dimana pada aktivitas ini, terjadi proses pengembangan
konten baru dan mengganti yang sudah ada dalam basis tacit dan
explicit knowledge suatu perusahaan, proses tersebut melibatkan
pihak luar (eksternal). Menurut Becerra-Fernandez, Gonzales & Sabherwal (2004), dapat dikatakan Knowledge Discovery jika dalam prosesnya terjadi sintesa atau pembentukan knowledge baru dari
knowledge-knowledge yang sudah ada. Tentu dalam konteks knowledge management di perusahaan sangatlah penting knowledge
yang ada lebih menitik beratkan kepada pemenuhan kebutuhan dan sudut pandang customer/user.
2.1.4.2. Knowledge Capture
Menurut Becerra-Fernandez, Gonzalez & Sabherwal (2004), Knowledge Capture merupakan proses pengambilan
people (individual atau grup), artifacts (practices, technologies, atau repositories) atau organizational entities. Dalam proses knowledge capture, terdapat variabel input dan output menurut Dow &
Pallaschke (2010), sebagai berikut :
Tabel 2.1. Input & output dari knowledge capture
Input Output
Experts Expert Interview
Dispersed Knowledge Source Content Management
Capture Tools Lesson Learned
Su mber: Do w & Pallaschke (2010)
2.1.4.3. Knowledge Sharing
Menurut Becerra-Fernandez, Gonzalez & Sabherwal (2004), knowledge sharing merupakan proses yang sudah dapat mengkomunikasin explicit yang didapatkan dari tacit kepada individu lainnya. Singkatnya proses transfer knowledge ke orang lain dari ilmu tacit yang sudah di-explicit-kan.
Karena inti dari knowledge sharing adalah berbagi ide dari satu individu kepada individu lain (Ahmed, Rafiq & Wang, 2008) maka hal tendensi atau kecenderungan dari pegawai adalah faktor penting untuk terjadinya proses knowledge sharing (Khamda & Monavvarian, 2010). Proses tersebut biasanya akan tercipta dengan sendirinya dalam lingkup kerja grup (group work) (Antonova, Csepregi & Marchev, 2011) .
2.1.4.4. Knowledge Application
Menurut Becerra-Fernandez, Gonzalez & Sabherwal (2004), knowledge application memungkinkan untuk mendukung pengambilan keputusan, mendukung perencanaan diberbagai fungsi organisasi, dan sebagai perpustakaan pengetahuan di organisasi. Proses ini terbagi atas dua hal yaitu direction dan routines (Becerra-Fernandez, Gonzalez, & Sabherwal, 2004).
1. Directions
Memproses knowledge dengan tindakan, tanpa proses
transfer knowledge. Ketika seorang pekerja meminta bantuan
kepada seorang expert untuk memecahkan permasalahan yang dihadapinya.
2. Routines
Melibatkan pemanfaatan dari knowledge yang ada pada prosedur, aturan dan norma yang ada (Becerra-Fernandez, Gonzalez & Sabherwal , 2004)
2.1.5. Knowledge Management System
Knowledge Management System (KMS) menyediakan teknologi
untuk efisiensi manajemen pengetahuan. Teknologi yang mendukung KMS akan memfasilitasi interaksi, distribusi, pengambilan, dan penyimpanan pengetahuan. KMS harus dibuat semudah mungkin agar user dapat memiliki komitmen terhadap manajemen pengetahuan untuk mengakses
dan menggunakan sumber daya pengetahuan yang ada dalam organisasi. KMS yang baik memberikan kontribusi yang besar terhadap kesuksesan implementasi dan adopsi manajemen pengetahuan.
Gambar 2.4. Struktur KMS Sumber: Debowski (2006)
Menyediakan dukungan teknis yang memungkinkan untuk
meng-capture dan bertukar pengetahuan secara bebas diantara stakeholder dalam
adanya rintangan (masalah) bagi user untuk mencari, membagi, atau memperoleh pengetahuan dari berbagai sumber yang ada.
Gambar 2.5. Komponen Knowledge Management System Sumber: Debowski (2006)
Menurut Turban et al. (2001, p26), “Knowledge management
system adalah sistem informasi berbasis pengetahuan yang mendukung
kreasi, pengaturan dan penyebaran dari ilmu pengetahuan bisnis kepada para pekerja dan manajer dalam perusahaan secara menyeluruh.
KMS merupakan sebuah system yang digunakan sebagai fasilitator penyimpanan, pencarian, pengiriman dan pengembalian pengetahuan yang telah tersimpan di knowledge repository. Knowledge
repository merupakan salah satu kunci sukses dalam implementasi knowledge management. Terdapat tiga tipe repository pengetahuan, yaitu
dokumen berupa printout, dokumen pada basis data, self memory dimana dapat berupa dokumen kertas ataupun data komputer yang dipelihara oleh
individual. Implementasi knowledge management tidak harus dengan menggunakan teknologi IT, namun akan lebih efektif jika menggunakan teknologi IT.
Turban dan Anderson (2001) mengungkapkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar KMS sukses dalam implementasinya, sebagai berikut :
1. Menyediakan basis value bagi perusahaaan
2. Menstimulasi management agar focus pada hal-hal yang penting 3. Menjustifikasi investasi dari aktivitas KM
Knowledge management system yang berhasil akan mendorong
terbentuknya community of practice yang skalanya terus meningkat atau tidak pernah menurun sesuai jumlah populasi, yang dimana komunitas ini akan menjadikan anggotanya symber daya yang kreatif dan produktif hingga mampu melakukan pekerjaanya secara high performance.
2.1.6. Penerapan Knowledge Management dalam
Organisasi
Pada umumnya, organisasi terbentuk atas individu-individu yang memiliki latar belakang ekonomi, social, budaya, dan mungkin dengan politik yang tidak sama. Pada saat organisasi akan mengimplementasikan
knowledge management, terdapat beberapa poin atau aspek yang seharusnya
dipertimbangkan sehingga implementasi yang dimaksud akan membuahkan kesuksesan (Zaied, Hussein, dan Hassan, 2012). Adapaun aspek yang dimaksud, sebagai berikut:
1. Aspek konseptual
Aspek ini tujuannya untuk membuat organisasi dapat berkembang dengan kontstruksi secara integrasi, yang mana hal ini dapat digunakan sebagai bahan diskusi knowledge di dalam organisasi. 2. Aspek perubahan
Aspek perubahan perlu diperhatikan dikarenakan segala perubahan dapat terkait atau terkonesi dengan stabilitas organisasi, hal ini dikarenakan kerangka kerjanya berhubungan dengan organisasi maupun perkembangannya. Sebaiknya diutamkan agar knowledge dengan mudah dapat dijangkau, dimengerti dan dipahami, setelah itu barulah dapat dilakukan pengubahan struktur pada knowledge dan juga sistem yang berjalan pada organisasi tersebut. Sangat wajar dan seringkali ditemui secara fakta bahwa adanya perlawanan sebagai hambatan jika terdapat perubahan. Biasanya pada berbagai kondisi perubahan, memang selalu ada perlawanan, perlawanan tersebut bisa bersumber dari knowledge management itu sendiri, bisa juga berasal dari kendala menjangkau, menerima, memahami dan atau berasal dari kendala manajemen.
3. Aspek pengukuran
Mekanisme integrasi di dalam organisasi merupakan hal penting, maka dari itu aspek pengukuran merupakan aspek yang perlu mendapat perhatian. Sudut pandang ditentukan secara implisit dari setiap sistem. Pengukuran ini juga melihat kondisi bagaimana
penerapan dari knowledge management tersebut, apakah bergerak sesuai maksud dan tujuan atau malah jauh dari maksud dan tujuan yang ingin dicapai.
4. Aspek struktur organisasi
Pada aspek struktur organisasi, didalamnya terdapat pembagian tanggung jawab dan peran guna tercapainya efektifias knowledge
management untuk dapat terlaksana. Hal tersebut perlu
diperhatikan juga. Tanggung jawab dan peran yang dimaksud seperti penemu knowledge, penyebar knowledge, pencari
knowledge, dan koordinasi komunitas knowledge.
5. Aspek isi knowledge
Knowledge dapat dikategorikan atau diklasifikasikan dalam
berbagai cara, jika knowledge dianggap sebagai sebuah produk. Guna pengelolaan produk pada knowledge process, dibutuhkan
knowledgeyag saling mendukung dan sesuai. Konten dari knowledge tersebut juga harus berhubungan dengan kebutuhan
keterampilan karyawan. Dapat dikembangan direktori kemampuan, sistem pengelolaan keterampilan, pemetaan knowledge, maupun berbagai model knowledge untuk pengelolaan konten knowledge. Maka, berbagai isu seperti varsi dari pengawasan maupun resource dokumen, kualitas dan pengelolaan dokumen sangat diperlukan kesadaran yang dapat diwujudkan dengan berbagai manjemen yang terstruktur.
6. Aspek alat
Pada aspek alat, kaitannya adalah dengan avalibility pada sarana guna memperoleh knowledge. Maka dari itu, yang dapat menjadi pertimbangan strategi knowledge management adalah bagaimana metode untuk pengelolaan knowledge, dan representasi dari
knowledge yang akan dikelola, juga infrastruktur yang diperlukan
guna menunjang manajemen knowledge. Teknologi informasi dan komunikasi merupakan salah satu dari berbagai macam infrastruktur yang dapat digunakan untuk dukungan proses
knowledge organisasi maupun knowledge management. Teknologi
infromasi yang bisa digunakan atau diadopsi adalah bentuk kolaborasi dari bermacam-macam alat seperti system pengelolaan
knowledge, sistem pendukung memori organisasi, system
pendukung inovasi, alat untuk menemukan informasi, dan alat untuk menemukan data. Disamping aspek-aspek tersebut, juga dibutuhkan langkah perubahan sistematis berupa formulasi strategi, langkah tersebut dimaksud agar perubahan yang telah dilakukan berlangsung sukses. Pada konteks ini, fungsi formulasi lebih berfokus pada usaha untuk memberikan bahasa penyampaian dan pemahaman serta kesamaan sudut pandang. Dengan bahasa penyampaian, pemahaman dan kesamaan sudut pandang, aka memungkinkan para pelaku perubahan pada organisasi melihat aktivitas implementasi knowledge management sebagai kesatuan yang bersifat menyeluruh.
2.1.7. Kinerja Karyawan
Hasil kerja yang dicapai oleh suatu individu atau kelompok dalam suatu organisasi sesuai dengan tanggung jawab dan wewenang masing-masing dalam rangka mencapai tujuan disebut kinerja karyawan, adapun pengertian lain kinerja adalah suatu hal yang tidak dapat terpisahkan dalam sebuah organisasi, baik swasta maupun pemerintahan.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan yang baik menurut Anwar (2000), yaitu sebagai berikut :
1. Faktor Kemampuan
Kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (Knowledge +
skill), secara psikologis merupakan faktor dari kemampuan
karyawan. Arti dari (Knowledge + skill) yaitu dimana karyawan mempunyai IQ diatas rata-rata dengan nilai 110-120, dengan pendidikan dan jabatannya serta terampilan dalam pekerjannya, maka akan mudah mendapatkan prestasi yang diharapkan. Maka karyawan perlu ditempatkan pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya agar dapat memberikan kontribusi yang baik untuk perusahaan.
2. Faktor Motivasi
Terbentuknya sebuah motivasi dari seorang karyawan adalah saat menghadapi situasi pekerjaannya. Kondisi yang menggerakkan seorang karyawan untuk mencapai tujuan organisasi adalah arti dari motivasi.
menyatakan bahwa faktor-faktor penentu kinerja individu adalah: 1. Faktor Individu
“Secara psikologis, individu yang normal yang memiliki integritas yang tinggi antara fungsi psikis (rohani) dan fisiknya (jasmaniah). Individu akan memiliki konsentrasi diri yang baik jika terdapat tingginya integritas antara fungsi fisik dan psikis. Manfaat dari konsentrasi yang baik ini salah satunya merupakan modal utama pada individu manusia untuk dapat mengelola dan memanfaatkan potensi yang ada pada dirinya dengan optimal untuk melaksanakan kegiatan maupun aktivitas kerja setiap harinya guna mencapai tujuan organisasi. Maksudnya adalah, jika tidak ada konsentrasi yang baik pada individu dalam melaksanakan pekerjaan, maka harapan perusahaan untuk mendapatkan kinerja karyawan yang produktif dalam mencapai tujuan organisasi, hanya harapan dan mimpi belaka. Konsentrasi pada setiap individu dalam melaksanakan pekerjaan sangat dipengaruhi dari kemampuan potensi yaitu kecerdasar pikiran / Intelegensi
Quotiont (IQ) dan kecerdasan emosi/Emotional Quotiont (EQ).
2. Faktor Lingkungan Organisasi
Pengaruh yang dapat membuat kinerja lebih baik adalah faktor lingkungan kerja dan organisasi yang menunjang untuk setiap individunya. Faktor yang dimaksud adalah uraian jabatan yang jelas, target yang menantang, pola komunikasi kerja efektif, autoritas yang memadai, hubungan kerja yang harmonis, iklim
kerja yang respek dan dinamis, peluang berkarir dan fasilitas yang relatif memadai.
Walaupun faktor lingkungan yang tidak mendukung, namun bagi karyawan yang mempunyai tingkat kecerdasan dengan kecerdasan emosi baik, sebenarnya mereka tetap dapat berprestasi dalam bekerja. Hal ini bagi individu tersebut, lingkungan organisasi itu dapat diubah dan dapat diciptakan oleh dirinya serta merupakan pemacu (pemotivator), tantangan bagi dirinya dalam berprestasi di organisasinya.
2.1.8. Hubungan Knowledge Management Dengan
Kinerja Karyawan
Sebuah perusahaan untuk mendapatkan kinerja yang baik maka perusahaan harus menyediakan sistem yang baik pula. Yang dinamakan sistem bukan hanya sekedar peraturan atau standaritas perusahaan namun juga pihak-pihak yang terkait yaitu sumber daya manusia. Knowledge
management adalah salah satu sistem manajemen yang menawarkan suatu
disiplin yang memperlakukan intelektual sebagai aset yang dikelola (Honeycutt, 2005). Knowledge management dalam prakteknya dapat dijadikan guidance tentang pengelolaan intangible asset yang dapat menjadikan pilar perusahaan dalam menentukan nilai. Sebuah perusahaan harus dapat mengetahui sejauh mana knowledge management berperan dalam meningkatkan kinerja karyawan dalam sebuah perusahaan.
2.1.9. SEM (Structural Equation Model )
Santoso (2011) SEM adalah sekumpulan teknik-teknik statistik yang memungkinkan mengkaji sebuah rangkaian hubungan secara simultan. Hubungan tersebut dibangun antara satu atau beberapa variabel independen. SEM (Structural Equation Modeling) adalah suatu teknik untuk menganalisa hubungan antara konstruk laten dan indikatornya, konstruk laten yang satu dengan lainnya, serta kesalahan pengukuran secara langsung. SEM memungkinkan dilakukannya analisis di antara beberapa variabel dependen dan independen secara langsung (Hair et al, 2006).
Pada metode SEM peneliti dapat melakukan tiga kegiatan sekaligus, yaitu pemeriksaan validitas dan reliabilitas instrumen (setara dengan analisis faktor konfirmatori), pengujian model hubungan antar variabel laten (setara dengan analisis path), dan mendapatkan model yang bermanfaat untuk prediksi (setara dengan model struktural atau analisis regresi) (Yamin, 2009).
Beberapa alasan penggunaan metode SEM yaitu:
1) SEM memiliki kemampuan untuk menggambarkan hubungan antara konstruk laten dan variabel manifes atau variabel indikator.
2) Kemampuan yang dimiliki metode SEM yaitu untuk mengestimasi hubungan antar variabel yang bersifat multiple relationship. Hubungan ini dibentuk dalam model struktural (hubungan antara konstruk dependen dan independen).
1) Model jalur ialah suatu diagram yang menghubungkan antara variabel bebas, perantara dan tergantung. Pola hubungan ditunjukkan dengan menggunakan anak panah. Anak panah tunggal menunjukkan hubungan sebab-akibat antara variabel-variabel eksogen atau perantara dengan satu variabel tergantung atau lebih. Anak panah juga menghubungkan kesalahan-kesalahan (variabel error) dengan semua variabel endogen masing-masing. Anak panah ganda menunjukkan korelasi antara pasangan variabel-variabel eksogen.
2) Variabel eksogen dalam suatu model jalur ialah variabel yang variabilitasnya diasumsikan ditentukan oleh sebab-sebab yang berada di luar model.
3) Model sebab akibat (causal modeling,) atau disebut juga analisis jalur (path analysis), yang menyusun hipotesis hubungan sebab akibat (causal relationships) diantara variabel- variabel dan menguji model-model sebab akibat (causal model-models) dengan menggunakan sistem persamaan linier. Model-model sebab akibat dapat mencakup variabel-variabel manifes (indikator), variabel-variabel laten atau keduanya.
4) Variabel endogen ialah variabel yang variasinya dapat diterangkan oleh variabel eksogen dan endogen yang berada di dalam sistem. Variabel endogen diperlakukan sebagai variabel terikat dalam suatu himpunan variabel tertentu mungkin juga dikonsepsikan sebagai variabel bebas dalam hubungannya dengan variabel yang lain.
5) Variabel manifes adalah variabel yang digunakan untuk menjelaskan atau mengukur sebuah variabel laten. Dalam satu variabel laten terdiri dari beberapa variabel manifes.
6) Koefisien jalur adalah koefisien regresi standar atau disebut “beta” yang menunjukkan pengaruh langsung dari suatu variabel bebas terhadap variabel tergantung dalam suatu model jalur tertentu.
7) Variabel laten adalah variabel yang tidak dapat diukur secara langsung kecuali diukur dengan satu atau lebih variabel manifes.
8) Analisis faktor penegasan (confirmatory factor analysis), suatu teknik kelanjutan dari analisis faktor dimana dilakukan pengujian hipotesis-hipotesis struktur factor loadings dan interkorelasinya.
Metode path analysis adalah metode yang menguji pengaruh (efek) langsung ataupun tidak langsung dari variabel-variabel yang dihipotesiskan sebagai akibat pengaruh perlakuan terhadap variabel tersebut. Teknik ini digunakan untuk menguji hubungan kausal yang diduga masuk akal (plausibility) antara satu variabel dengan variabel lain di dalam kondisi noneksperimental (Muhidin, 2009).
Sugiyono (2006) Secara teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang atau objek, yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu objek dengan objek yang lain. Variabel juga dapat merupakan atribut dari bidang keilmuan atau kegiatan tertentu. Dalam model kausal, harus dibedakan antara variabel eksogen dan endogen. Variabel eksogen adalah variabel yang variabilitasnya diasumsikan ditentukan oleh sebab-sebab yang berada di luar model. Sedangkan variabel
endogen adalah variabel yang variasinya dapat diterangkan oleh variabel eksogen dan endogen yang berada di dalam sistem. Variabel endogen diperlakukan sebagai variabel terikat dalam suatu himpunan variabel tertentu mungkin juga dikonsepsikan sebagai variabel bebas dalam hubungannya dengan variabel yang lain.
2.2. Penelitian Terdahulu
Peneliti memerlukan acauan maupun dasar berupa teori-teori ataupun temuan dari hasil berbagai penelitian yang telah ada sebelumnya sebagai pendukung. Salah satunya yang dapat menjadi acuan maupun dasar penelitian merupakan penelitian terdahulu yang tentunya relevan dengan permasalahann yang dibahas pada penelitian ini. Fokus dari penelitian dari penelitian terdahulu yang menjadi acuan merupakan pada bagian topik Knowledge Management
Knowledge, khususnya Management System pada suatu perusahaan. Maka,
peneliti melakukan kajian pada beberapa hasil penelitian dari berbagai sumber seperti tesis, jurnal, dan sebagainya.
Fokus analisis penelitian ini adalah analisis implementasi Knowledge
Management System berdasarkan konsep/teori Knowledge Management Process.
Dari berbagai sumber yang telah dikaji, dapat dibuktikan bahwa analisis implementasi Knwoledge Management System tidak hanya terbatas pada
Knowledge Management Process saja, seperti kajian peneliti terdahulu berikut
yang akan dibahas lebih lanjut.
Berdasarkan penelitian yang ditulis oleh Kristin (2012), dengan topik
Management System Di Kompas Gramedia Menggunakan Analisis Faktor”, telah
didapatkan faktor-faktor dan indikator-indikator yang mempengaruhi kinerja KMS pada Kompas Gramedia. Penelitian tersebut meneliti data yang didapat dari observasi, wawancara dan penyebaran kuesioner kepada para pengguna KM Portal di Kompas Gramedia. Data tersebut diolah dengan metode analisa faktor yang terdiri dari uji reliabilitas dan KMO & Bartlett’s Test. Dari pengolahan data dengan metode tersebut, didapatkan faktor serta indikator yang mempengaruhi kinerja KMS yaitu faktor pertama adalah kualitas KM portal dan dukungan terhadap user yang terdiri dari indikator kelengkapan informasi, openness
communication channel, penyediaan wadah komunikasi, knowledge storage, KM
Portal user friendly, respon yang cepat, Information Update, Bahasa mudah dimengerti, reward; faktor kedua adalah partisipasi user yang terdiri dari indikator partisipasi user tanpa reward, partisipasi user tanpa paksaan, peran user, training mendukung pengguna KM Portal, akses ke departemen lain; dan faktor ketiga adalah proses prosedur yang terdiri dari indicator mudah dalam pencarian informasi, knowledge sharing, knowledge utilization, akses KM Portal yang berbeda-beda.
Sementara itu, dari penelitian lain yang masih dengan topic Knowledge
Management System yang ditulis oleh Akbar (2013) dengan judul “Pengaruh
Penerapan Knowledge Management System (Kms) Terhadap Peningkatan Kinerja Karyawan Di PT. PLN Distribusi Jakarta Dan Tangerang” melakukan penelitian dengan konsep personal knowledge, technology literature, dan job procedur. Pada penelitian tersebut, mencurigai bahwa terdapat pengaruh pada konsep tersebut terhadap kinerja KMS untuk meningkatkan kinerja karyawan PT. PLN
Distribusi Jakarta Dan Tangerang. Penelitian tersebut meneliti data yang didapat dari penyebaran kuesioner kepada karyawan PT. PLN Distribusi Jakarta Dan Tangerang. Untuk mengola data penelitian, peneliti tersebut melakukan uji validitas dan reliabilitas, uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroksiditas, uji autokorelitas, anova, dan pengujian hipotesis. Hasil kelola data tersebut menunjukkan bahwa personal knowledge berpengaruh terhadap kinerja KMS dengan hasil thitung lebih besar dari ttabel yaitu 6,396 > 1,661; technology literacy berpengaruh terhadap kinerja KMS dengan hasil thitung lebih besar dari ttabel yaitu 6,308 > 1,661; job procedure berpengaruh terhadap kinerja KMS dengan hasil thitung lebih besar dari ttabel yaitu 3,452 > 1,661.
2.3. Kerangka Berpikir
Abad kedua puluh satu adalah era pengetahuan ekonomi, di mana sebagian besar organisasi memiliki pengetahuan yang memungkinkan mereka untuk meningkatkan kinerja mereka (Zaied, Hussein, dan Hassan, 2012). Pengetahuan sudah diakui sebagai sumber daya terpenting pada perusahaan (Ling, Yih, Eze, Gan, dan Pei Ling; 2008).
Knowledge Management merupakan pilihan perusahaan untuk mengelola
pengetahuannya, sehingga mendapatkan manfaat yang besar dari pengetahuan yang harus dimiliki tersebut (Munir, 2011). Maka, knowledge merupakan sumber daya utama bagi organisasi dan menjadi core competency organisasi sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan keuntungan bisnis organisasi, oleh karena itu organisasi perlu menerapkan knowledge management, karena dapat
membantu mendorong strategi, menyelesaikan masalah lebih cepat, menerapkan
best practice dan meningkatkan pengetahuan dalam produk dan layanan.
Knowledge management akan diimplementasikan dalam sistem
pengelolaan pengetahuan atau biasa disebut dengan Knowledge Management
System (KMS). Maka diperlukan analisis guna mencari tahu faktor-faktor yang
mempengaruhi secara signifikan KMS untuk meningkatkan kinerja karyawan. Selanjutnya hasil dari analisis akan menjadi bahan evaluasi guna memberikan dampak baik bagi pengembangan KMS maupun organisasi.
Adapun kerangka berpikir untuk analisis KMS KOMET adalah dengan
knowledge management process yang memiliki 4 (empat) faktor didalamnya
yaitu faktor knowledge discovery, faktor knowledge capture, faktor knowledge
2.4. Kerangka Konsep
Tabel 2.2. Kerangka konsep penelitian Sumber: Hasil analisis peneliti, 2016
Tabel 2.7. diatas merupakan penjelasan mengenai kerangka konsep yang menjadi acuan dari penelitian studi kasus ini. Konsep tersebut diadopsi berdasarkan faktor yang dikemukakan oleh Becerra-Fernandez, Gonzalez & Sabherwal (2004), mengenai faktor dari KM Process, yaitu Knowledge
Discovery, Knowledge Capture, Knowledge Sharing, dan Knowledge Application. 1. Data 2. Informasi 3. Pengetahuan Knowledge Discovery 1. Instrumen Penelitian 2. Analisa Hasil Penelitian 3. Pengetahuan Knowledge Capture 1. People 2. Process 3. Technology Knowledge Sharing Organizational Performance : 1. Innovation 2. Competitive Advantage Knowledge Application Knowledge Management System