• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kerangka otonomi daerah, salah satu titik tekan locus desentralisasi pemerintahan negara adalah desa. Desa menjadi salah satu bahasan pokok dalam otonomi daerah1 sebab desa merupakan satuan pemerintahan yang paling dekat secara spasial dengan warga negara. Hal itu berimplikasi pada tuntutan institusionalisasi pemerintahan desa dalam melaksanakan fungsi-fungsi pemerintahan, terutama dalam memberika pelayanan publik (public services delivery).

Beberapa isu sentral yang mengemuka berkaitan dengan persoalan desa dalam kerangka otonomi daerah, antara lain: pertama, bagaimana grand design demokrasi substansial dan prosedural dalam pemerintahan desa. Apakah akan menganut desain demokrasi modern (liberal) sesuai dengan laju gelombang demokratisasi yang sulit untuk dibendung?2

Kedua, bagaimana desain kelembagaan desa dalam rangka mengimplementasikan prinsip-prinsip demokrasi di desa dan untuk mewujudkan checks and balances antar elemen pemerintahan di desa. Bagaimana pola hubungan eksekutif-legislatif di desa untuk memastikan terselenggaranya control system antar lembaga dalam pemerintahan desa.

Ketiga, bagaimana tata kelola sumber daya dalam organisasi pemerintahan desa. Sumber daya dalam hal ini dapat berupa sumber daya manusia maupun sumber daya keuangan (financial resources). Bagaimana meningkatkan sumber pendapatan asli desa untuk mewujudkan program-program pembangunan di desa dan lain sebagainya.

1 Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah membahas secara khusus

mengenai desa pada Bab XI tentang Desa, yang terdiri dari 17 Pasal, yaitu dari Pasal 200 sampai Pasal 216.

2 Meminjam istilah Samuel Huntington dan John Markoff. Lihat Huntington, The Third Wave of Democratization. Lihat juga Markoff, 2002, Gelombang Demokrasi Dunia: Gerakan Sosial dan Perubahan Politik (terj.), CCSS bekerjasama dengan Pustaka Pelajar Yogyakarta

(2)

2

Untuk menjawab dua isu pertama di atas, Undang-Undang telah memberikan kerangka makronya. UU No. 32/2004 mengusung nilai demokrasi substansial yang bersifat universal seperti akuntabilitas, transparansi dan partisipasi. Tentu banyak pihak menerima nilai-nilai universal ini, mengingat desa sekarang telah menjadi institusi modern.3 Unit-unit lembaga pemerintahan

di desa didisain untuk beradaptasi dengan institusionalisasi demokrasi modern dalam pemerintahan negara. Dalam kerangka tersebut, UU Pemerintahan Daerah memberikan penekanan pada penguatan lembaga Kepala Desa dan Badan Permusyawaratan Desa serta lembaga-lembaga lainnya di desa. Hal itu untuk memastikan terjadinya pembagian kekuasaan dan kewenangan serta berlangsungnya saling kontrol satu sama lain.

Untuk menjawab isu yang ketiga, khususnya sumber daya keuangan, banyak terobosan menarik yang dilakukan oleh desa, terutama berbasis pada penggalian dan pemanfaatan potensi lokal masing-masing desa. Salah satu pilihan pemanfaatan potensi desa untuk peningkatan sumber daya keuangan desa sekaligus untuk mendorong program-program pembangunan adalah pengembangan program desa wisata. Desa wisata merupakan program kepariwisataan untuk mengekplorasi potensi-potensi lokal di desa yang dapat “dijual” untuk menarik kunjungan wisatawan, sekaligus untuk mendatangkan sumber-sumber pendapatan keuangan desa dari sektor wisata.

Kebijakan pengembangan desa wisata merupakan kebijakan publik untuk merealisasikan kemanfaatan sebesar-besarnya untuk publik, dalam hal ini untuk kesejahteraan masyarakat dan pembangunan desa setempat dan sekitarnya, serta untuk menggerakkan peningkatan pendapatan daerah dan negara dari sektor pariwisata. Sebagai masalah publik, desa wisata harus dipastikan terselenggara sesuai dengan prinsip-prinsip kebijakan publik yang baik mulai dari tahap identifikasi masalah, implementasi, hingga evaluasi.

3 Meskipun nilai-nilai universal tersebut sering dipersoalkan kompatibibilitasnya dengan kondisi

lokal. Juga mudah dipertanyakan, apakah masyarakat mampu memahami akuntabilitas,

transparansi dan partisipasi dengan cara pandang lokal atau adakah nilai-nilai dan kearifan lokal yang bisa diangkat untuk memberi makna dan simbol akuntabilitas, transparansi dan partisipasi. Lihat Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Desa, hlm. 2.

(3)

3

Dalam konteks Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta, terdapat sekitar 35 desa wisata dan 6 desa rintisan desa wisata.4 Dengan jumlah tersebut, tersedia cukup banyak potensi sumber-sumber keuangan atau pendapatan dari sektor pariwisata, khususnya di desa-desa wisata tersebut. Selain peluang, juga tersedia tantangan dalam pengelolaan desa wisata untuk mengatasi beberapa persoalan desa wisata.

Terdapat beberapa permasalahan berkaitan dengan desa wisata, misalnya berkenaan dengan pengelolaan desa wisata yang dinilai masih banyak menghadapi kendala dan kelemahan. Beberapa persoalan yang masih disorot antara lain lemahnya partisipasi seluruh elemen masyarakat desa wisata dan masih rendahnya inovasi dalam menawarkan produk-produk pariwisata di desa-desa wisata tersebut.5

Selain itu, pendapatan keuangan di desa wisata juga menuntut terselenggaranya tata kelola yang akuntabel dan transparan. Akuntabilitas dan transparansi dalam pelaksanaan desa wisata harus diwujudkan untuk meminimalisasi penyelewengan dan korupsi, atau paling tidak inefektivitas dan inefisiensi.

Sebagai sebuah objek wisata, desa wisata tentunya memiliki sumber-sumber income yang lebih banyak dibandingkan dengan desa-desa pada umumnya. Di luar pendapatan dari aktivitas kepariwisataan di desa wisata tersebut, pendapatan tambahan juga mereka dapatkan dari subsidi negara (dalam hal ini pemerintah daerah) sebagai bagian dari program pembinaan atau pengembangan desa wisata. Anggaran pengembangan yang diterima desa-desa wisata berkisar antara 60 juta sampai 100 juta rupiah, yang pada tahun 2012

4 Data disampaikan oleh Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Dinas Kebudayaan dan

Pariwisata Kabupaten Sleman Shavitri Nurmala Dewi, sebagaimana dikutip Kompas dan Tempo. Lihat http://regional.kompas.com/read/2013/01/25/18184819/Desa.Wisata.di.Sleman.

Kurang.Inovatif. Lihat juga http://www.tempo.co/read/news/2013/01/25/199456952/Desa-Wisata-di-Sleman-Dinilai-Kurang-Inovatif. Dua portal online tersebut diakses pada tanggal 14 April 2013.

5 Baca “Desa Wisata di Sleman Kurang Inovatif”. Lihat http://regional.kompas.com/read/2013/

01/25/18184819/Desa.Wisata.di.Sleman.Kurang.Inovatif. Lihat juga “Desa Wisata di Sleman dinilai kurang Inovatif”, di situs http://www.tempo.co/read/news/2013/01/25/199456952/Desa-Wisata-di-Sleman-Dinilai-Kurang-Inovatif. Dua sumber tersebut diakses pada tanggal 14 April 2013.

(4)

4

diterimakan kepada 16 desa wisata sebagai bagian dari dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pariwisata.6

Hal itu semakin menuntut terselenggaranya tata kelola desa wisata yang baik. Tata kelola desa wisata tersebut seharusnya sejalan dengan ideal penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance). Prinsip-prinsip pemerintahan yang baik dapat menjadi pedoman atau acuan dalam penyelenggaraan tata kelola desa wisata.

Penyelenggaraan tata kelola desa wisata yang baik akan berimplikasi terhadap terwujudnya beberapa hal berikut: Pertama, terwujudnya demokrasi modern (baik substantif maupun prosedural) yang lebih baik di desa wisata. Kedua, terselenggaranya tata kelola yang berorientasi pada publik, baik dalam bentuk partisipasi maupun pertanggungjawan. Ketiga, terwujudnya institusionalisasi desa sebagai unit public services delivery, sekaligus peningkatan kapasitas personalia dalam pelaksanaan pemerintahan yang baik. Keempat, meningkatnya output dan outcome program-program pembangunan di desa dan pada akhirnya berdampak juga pada peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.

Satu komponen penting dalam mendukung dan mendorong terwujudnya situasi ideal tersebut adalah partisipasi publik. Partisipasi merupakan elemen kunci dalam demokrasi, sebagaimana partisipasi juga merupakan indikator utama dalam tata kelola yang baik (good governance).7

Sayangnya partisipasi tidak mendapatkan fokus yang memadai dalam membaca desa wisata sebagai objek studi dan kajian ilmiah. Dalam berbagai studi dan penelitian terdahulu mengenai desa wisata, pembacaan lebih banyak dilakukan atas desa wisata sebagai media pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat, strategi pemasaran dan kepariwisataan desa wisata, dampak

6 Muh Syaifullah, “Desa Wisata di Sleman dinilai kurang Inovatif”, lihat

http://www.tempo.co/read/news/2013/01/25/199456952/Desa-Wisata-di-Sleman-Dinilai-Kurang-Inovatif. Sumber tersebut diakses pada tanggal 14 April 2013.

7 Indikator-indikator good governance yang digariskan oleh Bappenas, ADB, dan UNDP

menempatkan partisipasi sebagai salah satu yang utama. Demikian halnya para akademisi dan pakar manajemen dan kebijakan publik menempatkan partisipasi sebagai acuan apakah sebuah kebijakan telah dibuat dan diimplementasikan dengan baik atau tidak.

(5)

5

sosiologis desa wisata, dan tata kelola desa wisata. Oleh karena itu, peneliti ingin mengambil fokus kajian pada aspek partisipasi dalam tata kelola desa wisata di Kabupaten Sleman, khususnya di Deswa Wisata Garongan.

Dalam konteks Kabupaten Sleman, keseluruhan desa wisata dapat dikategorikan ke dalam tiga lapisan, yaitu desa wisata unggulan, desa wisata menengah (biasa), dan desa wisata rintisan. Yang termasuk unggulan antara lain Desa Wisata Pentingsari, Brayut, dan Kembangarum. Salah satu desa wisata yang termasuk katagori menengah atau biasa adalah Desa Wisata Garongan yang terletak di Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman.

Hasil studi preliminary yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa Desa Wisata Garongan mengandalkan beberapa potensi khas desa tersebut, antara lain pemandangan alam yang indah, terutama untuk menikmati view Gunung Merapi secara utuh. Di samping itu, Desa Wisata Garongan juga menawarkan wisata pertanian, khususnya pertanian salak Pondoh. Sebagaimana banyak diketahui, Kecamatan Turi merupakan salah satu sentra pertanian Salak Pondoh di Sleman. Selain itu, Desa Wisata Garongan juga menawarkan atraksi budaya tradisional, seperti Gejog Lesung, Merti Bumi Tunggul Arum, dan sebagainya.

Desa Wisata Garongan, sebagai Desa Wisata katagori menengah membutuhkan beberapa peningkatan dalam hal tata kelola untuk bisa meningkatkan kualitasnya sebagai desa wisata. Partisipasi warga dalam tata kelola akan lebih memungkinkan peningkatan kualitas tersebut. Oleh karena itu, melalui penelitian ini, peneliti akan mendalami masalah partisipasi sebagai isu publik dalam tata kelola Desa Wisata Garongan.

B. Rumusan Masalah

Fokus studi dalam penelitian ini berangkat dari satu rumusan masalah (research question) utama, yaitu bagaimana partisipasi warga dalam tata kelola Desa Wisata Garongan Wonokerto Turi Sleman?

(6)

6 C. Tujuan Penelitian

Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan menganalisis partisipasi warga dalam tata kelola Desa Wisata Garongan Wonokerto Turi Sleman.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini dapat diklasifikasikan pada dua katagori: teoretis dan praktis. Manfaat teoretis penelitian ini antara lain:

a. Memperluas khazanah pengetahuan mengenai Desa Wisata sebagai isu publik.

b. Memperluas wawasan mengenai implementasi konsep good governance dalam lingkup yang lebih luas dan spesifik, yaitu dalam tata kelola desa wisata dalam aspek partisipasi publik.

c. Menjadi salah satu simpul dari penelitian lebih lanjut mengenai tata kelola desa dalam kerangka otonomi daerah.

d. Menjadi bagian dari “pohon keilmuan” mengenai studi kebijakan mengenai desa wisata.

Sedangkan manfaat praktis penelitian ini di antaranya:

a. Menjadi salah satu rujukan bagi pengambil kebijakan terkait untuk mengevaluasi kebijakan desa wisata.

b. Memberikan informasi ilmiah yang memadai bagi perangkat pengelola desa wisata, baik Desa Wisata Garongan maupun desa-desa wisata lainnya, untuk meningkatkan kualitas pengelolaan desa wisata, sehingga semakin mendekati tata kelola yang baik dan bersih sekaligus semakin menyejahterakan masyarakat di desa wisata yang bersangkutan.

c. Memberikan informasi-informasi kunci bagi pengelola Desa Wisata Garongan untuk memperbaiki kualitas partisipasi warga dalam tata kelola desa wisata di daerah tersebut.

(7)

7 E. Metode Penelitian

1. Setting Lokasi

Penelitian ini mengambil setting lokasi di Desa Wisata Garongan, Wonokerto, Turi, Sleman. Lokasi tersebut dipilih karena dari studi permulaan yang dilakukan peneliti, ditemukan gejala-gejala permulaan yang berkaitan dengan masalah penelitian.

2. Jenis, Pendekatan, dan Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif-deskriptif.8 Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan naturalistik. Dengan pendekatan ini, peneliti bersifat aktif dalam melakukan interaksi dengan subjek penelitian dalam situasi apa adanya tanpa adanya rekayasa, sehingga data diperoleh dari fenomenanya yang bersifat asli dan natural.

Penelitian ini akan mengkombinasikan dua metode, yaitu field-study dan desk-study. Secara operasional metode field-study digunakan untuk pengumpulan data primer melalui wawancara dan observasi/pengamatan.

Sedangkan metode desk-study secara teknis digunakan untuk melakukan pengumpulan data sekunder dan analisis data penelitian.

3. Sumber Data dan Subjek Penelitian

Sumber data penelitian ini berupa person dan paper.9 Penentuan subjek

penelitian berupa person dilakukan dengan teknik purposif. Dengan teknik ini, ditetapkan kriteria-kriteria sesuai dengan tujuan penelitian, sebagaimana berikut:

8 Penelitian kualitatif yang dimaksud adalah penelitian yang dilakukan secara intensif dan

terperinci terhadap suatu organisme, lembaga, atau gejala tertentu melalui suatu pengamatan atau analisis untuk menghasilkan data deskriptif, yaitu data yang berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang, gejala atau perilaku yang diamati. Lihat Lexy J Moleong, 1998, Metodologi

Penelitian Bidang Sosial. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, hlm. 3

9 Yang dimaksud dengan sumber data disini adalah subjek dari mana data diperoleh. Suharsimi

Arikunto mengklasifikasi sumber data menjadi tiga jenis; a. person, yaitu sumber data

(informan) berupa orang. b. place, yaitu sumber data berupa tempat, dan c. paper, yaitu sumber data berupa simbol. Lihat Suharsimi Arikunto, 2002, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan

(8)

8

a. Penduduk dan/atau pengelola Desa Wisata Garongan, di Desa Wonokerten, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman,

b. Memiliki informasi mengenai pengelolaan Desa Wisata Garongan. Pengumpulan data dari mereka dilakukan dengan teknik wawancara mendalam (indepth interview) dilakukan dengan berpedoman pada panduan wawancara (interview guide). Panduan tersebut tidak sepenuhnya mengikat proses wawancara secara kaku, sebaliknya wawancara dapat berkembang sesuai dengan situasi masyarakat dan khususnya informan. Meski demikian, peneliti tetap berupaya secara jeli agar wawancara dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan sesuai tujuan penelitian.

Informan dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Agus Sugiarto, Ketua Pengelola Desa Wisata Garongan 2. Farid, Wakil Ketua Pengelola Desa Wisata Garongan 3. Sunaryo, Kepala Dukuh Pojok Wonokerto

4. Rahmat Hidayat, Kepala Dukuh Kembang Wonokerto 5. Andre, Warga Garongan Pojok

6. Fatkhul Damanhury, Warga Garongan Kembang

Sedangkan subjek berupa paper digunakan sebagai sumber data-data sekunder sesuai dengan tujuan penelitian. Penelusuran data-data sekunder dilakukan melalui teknik dokumentasi: pengkajian atas berbagai dokumen resmi baik yang bersifat internal maupun eksternal. Bersifat internal dalam artian pengkajian langsung atas dokumen, sedangkan yang bersifat eksternal berupa sumber-sumber yang mendukung pengkajian atas dokumen. Dokumen yang menjadi sumber data penelitian ini antara lain Data Monografi Kecamatan Turi Kabupaten Sleman serta dokumen-dokumen terkait dengan pengelolaan Desa Wisata Garongan.

(9)

9 4. Pengujian Keabsahan Data

Pengujian keabsahan data menggunakan triangulasi.10 Teknik triangulasi yang digunakan adalah triangulasi sumber, yaitu dengan membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi melalui waktu dan alat yang berbeda. Triangulasi sumber dalam penelitian ini dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh dari wawancara mendalam dengan satu narasumber dengan nara sumber yang lain dan dengan data RPJMDes Desa Wonokerto.

5. Teknik Analisis Data

Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data induktif,11 yang lazim digunakan dalam penelitian-penelitian kualitatif. Sedangkan langkah-langkah analisis yang digunakan secara lebih teknis dalam penelitian ini meliputi reduksi data, display data, kesimpulan dan verifikasi.

10 Triangulasi adalah suatu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang

lain di luar data, untuk melakukan pengecekan atau pembandingan terhadap data itu. Lihat Lexy J Moleong, 2002, Metodologi Penelitian Kualitatif, PT Remaja Rosda Karya, Bandung, hlm. 178

11 Analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisir data ke dalam suatu pola,

Referensi

Dokumen terkait

Latar Belakang: Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses persiapan operasi karena mental pasien yang tidak siap atau labil dapat

Limbah cair industri tekstil (mengandung logam Cr) yang dibuang ke lingkungan dapat mencemari lahan pertanian karena digunakan sebagai sumber air irigasi. Selain itu, pencemaran

Penyusunan tugas akhir ini merupakan salah satu syarat yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro dalam

underwear rules ini memiliki aturan sederhana dimana anak tidak boleh disentuh oleh orang lain pada bagian tubuhnya yang ditutupi pakaian dalam (underwear ) anak dan anak

Analisis stilistika pada ayat tersebut adalah Allah memberikan perintah kepada manusia untuk tetap menjaga dirinya dari orang-orang yang akan mencelakainya dengan jalan

Pada tahap pertama ini kajian difokuskan pada kajian yang sifatnya linguistis antropologis untuk mengetahui : bentuk teks atau naskah yang memuat bentuk

Seperti halnya penerapan ICT berdasarkan sarana dan prasarana (infrastruktur) yang ada di Museum Angkut, dimana penerapan ICT ini bertujuan untuk mempermudah

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: pertama, keabsahan akta notaris meliputi bentuk isi, kewenangan pejabat yang membuat, serta pembuatannya harus memenuhi