11 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Memasuki era digitalisasi bisnis membawa pengaruh pada tatanan sistem perindustrian yang menyebabkan semakin ketatnya persaingan dalam dunia bisnis. Munculnya berbagai jenis perusahaan baik yang berskara kecil, menengah maupun yang berskala besar merupakan bentuk dari pesatnya persaingan bisnis. Perkembangan yang pesat pada dunia bisnis juga dapat dipengaruhi oleh persaingan ekonomi global. Disisi lain perekonomian global saat ini mendapatkan pukulan yang sangat keras atau sedang terkontraksi, artinya terjadi penurunan pada ekonomi global yang jauh lebih tajam dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan adanya peristiwa pandemi yang terjadi hampir di seluruh negara termasuk Indonesia. Peristiwa Pandemi Covid-19 adalah virus yang pertama kali muncul di Kota Wuhan, China pada akhir desember 2019. Terjadinya pandemi Covid-19 ini dapat meningkatkan jumlah risiko kesalahan penyajian material pada asersi-asersi manajemen dalam laporan keuangan perusahaan (IAPI, 2020).
Sekalipun berada di tengah tekanan dampak pandemi Covid-19, pada triwulan I tahun 2020 sektor industri Indonesia masih memberikan sumbangsih paling besar terhadap struktur Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dengan angka mencapai 19,98%. Berdasarkan data pada Badan Pusat Statistik (BPS), data menunjukan bahwa pertumbuhan industri pengolahan nonmigas berada diangka 2,01% sepanjang kuartal I-2020 (Kemenperin.go.id, 2020) Data lain yang ada menunjukan Pada triwulan I sektor industri makanan dan minuman memberikan kontribusi sebesar 36,4% terhadap PDB manufaktur. Sementara pada semester I 2020, sektor makanan dan minuman memberikan kontribusi paling besar terhadap capaian nilai ekspor pada sektor manufaktur, hingga mencapai US$13,73 atau sekira Rp 203,36 triliun.
Berikut data sumbangsih pertumbuhan industri makanan dan minuman industri manufaktur periode 2015-2020:
Gambar 1.1
Kontribusi Pertumbuhan Industri Makanan dan Minuman
(Sumber: bps.go.id diakses 2021)
Berdasarkan grafik di atas kontribusi yang disumbangkan oleh industri makanan dan minuman untuk pertumbuhan ekonomi dari tahun 2015-2020 mengalami fluktuasi dan penyumbang kontribusi terbanyak ditahun 2017. Grafik di atas juga menunjukan bahwa pada tahun 2020 pertumbuhan ekonomi sektor makanan dan minuman masih lebih rendah dibandingakan tahun-tahun sebelumnya, namun berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) industri makanan dan minuman masih menunjukan pertumbuhan yang positif sebesar 1,58% dari beberapa industri manufaktur lain yang mengalami pertumbuhan negatif, dan industi makanan dan minuman tetap prospektif di masa pandemi selain indutri kimia, farmasi dan obat tradisional.
Dampak menurunnya pertumbuhan ekonomi perusahaan manufaktur khususnya sektor makanan dan minuman yang disebabkan terjadinya pandemi Covid-19 menunjukan bahwa perusahaan mempunyai resiko tinggi atau mengalami kerugian. Menurut Modugu (2012) perusahaan yang memiliki resiko tinggi akan memperlambat manajemen untuk menginformasikan kinerja
7,54% 8,33% 9,23% 7,91% 7,78% 1,58% 0,00% 1,00% 2,00% 3,00% 4,00% 5,00% 6,00% 7,00% 8,00% 9,00% 10,00% 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Ti n gkat Pr e se n tase
perusahaan dan meningkatkan upaya kecurangan perusahaan untuk melakukan manipulasi laporan keuangan.
Laporan keuangan merupakan media menggambarkan kondisi ekonomi riil perusahaan yang disajikan dengan jujur. Laporan keuangan yaitu laporan yang digunakan sebagai pengamatan dalam pengambilan keputusan dengan menggunakan laporan hasil akhir dari proses akutansi (IAI, 2014:1). Sedangkan menurut Husaini Bala (2016) laporan keuangan adalah media utama bagi sebuah perusahaan untuk menginformasikan hasil keuangan serta posisi kuangan kepada pengguna. Pengguna informasi tersebut yaitu pemegang saham, calon investor kreditur, pemerintah, pemasok keuangan serta pihak luar lainnya yang berkepentingan dalam laporan keuangan perusahaan (Echobu et al., 2017). Adapun jenis keputusan dari para pengguna tersebut terutama adalah keputusan mengenai investasi, kredit dan yang terkait dengan keduannya. Kualitas pelaporan keuangan yang sangat baik mengurangi asimetri informasi antara prinsipal dan agen sesuai dengan kewajiban hukum perusahaan (Landsman et al. 2012).
Pelaporan keuangan yang berkualitas sangat penting karena akan memperoleh hasil akhir berupa informasi keuangan yang berguna untuk pengambilan keputusan yang dapat dicapai jika laporan keuangan memenuhi karakteristik kualitatif informasi keuangan (Winwin Yadiati & Abdullah Mubarok, 2017). Berikut karakteristik informasi keuangan yang telah dirumuskan oleh IASB dalam SAK No 1 Tahun 2015 yaitu relevansi (relevance), penyajian jujur (faithfull representation), dapat dibandingkan (comparability), dan dapat dipahami (understandability). Maka dari itu, disamping memenuhui unsur-unsur kualitatif laporan keuangan penyusunan laporan keuangan juga perlu disajikan berdasarkan dengan ketentuan pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK). PSAK akan memberikan arahan dan ketepatan dalam proses penyajian laporan keuangan yang dapat mempengaruhi kualitas informasi yang dihasilkan (Santoso dan Surenggono, 2018).
Jika dilihat dari pendekatan teori agensi, terdapat perbedaan kepentingan baik dari principal (pemegang saham) maupun agen (manajemen) dimana pemegang saham ingin laporan keuangan yang disajikan sesuai dengan keadaan perusahaan yang sesungguhnya, sedangkan manajemen ingin menunjukkan kinerjanya yang baik. Ketika manajemen mempunyai kepentingan untuk memaksimalkan kesejahteraannya, hal ini dapat memungkinkan manajemen untuk bertindak tidak sesuai dengan kepentingan principal (pemegang saham) (Annisya et al., 2016). Perbedaan tujuan kepentingan ini menciptakan timbulnya konflik dan memicu manajemen untuk melakukan kecurangan. Upaya dalam menyajikan pelaporan keuangan yang berkualitas menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan karena meningkatnya jumlah kasus manipulasi laporan keuangan.
Fenomena kecurangan yang terjadi pada praktik laporan keuangan perusahan manufaktur PT Kimia Farma Tbk pada tahun 2002. Adapun tindakan yang ditemukan yaitu adanya penggelembungan laba bersih pada laporan keuangan perusahaan Kimia Farma di tahun buku 2001. Berdasarkan hasil pemeriksaan Bapepam terdapat beberapa bukti yaitu pertama, ditemukan adanya kekeliruan dalam penilaian persediaan barang dan jasa serta kesalahan pencatatan penjualan untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2001. Kedua, adanya indikasi penggelembungan keuntungan dalam laporan keuangan pada semester I tahun 2002. Ketiga terdapat kesalahan penyajian laporan keuangan PT Kimia Farma Tbk adapun dampak kesalahan tersebut mengakibatkan overstated laba pada laba bersih untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2001 sebesar Rp 32,7 Milyar yang merupakan 2,3% dari penjualan dan 24,7% dari laba bersih PT Kimia Farma Tbk. Selain fenomena kecurangan PT Kimia Farma Tbk, kasus serupa terjadi pada perusahan sub sektor makanan dan minuman PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk pada tahun 2017. Kasus yang terungkap dalam laporan Hasil Investigasi Berbasis Fakta PT Ernst & Young Indonesia (EY) atas manajemen baru AISA tertanggal 12 Maret 2019. Adapun tindakan yang dilakukan yaitu adanya penggelembungan dana Rp 4 triliun dan dugaan penggelembungan pendapatan senilai Rp 662 miliar serta
penggelembungan lain senilai Rp 329 miliar pada pos EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi) entitas bisnis makanan dari emiten tersebut. Selain itu, ditemukan juga adanya pencatatan keuangan yang berbeda dengan pencatatan yang digunakan auditor keuangan dalam data internal, atau bisa disebut suatu rekayasa (window dressing) dalam proses mengaudit laporan keuangan 2017 (https//finance.detik.com).
Hal ini menunjukkan terjadinya manipulasi atau skandal laporan keuangan yang merupakan suatu kegagalan penyajian laporan keuangan untuk memenuhi kebutuhan informasi para pengguna. Kegagalan mencegah dan mendeteksi kecurangan atau salah saji dalam proses pelaporan keuangan akan memperburuk kualitasnya. Oleh sebab itu, pelaporan keuangan diharuskan memiliki kualitas yang baik sehingga informasi yang dihasilkan kedepannya tidak menyesatkan para penggunanya (Raharjo, 2017). Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas pelaporan keuangan yang berhubungan dengan karakteristik spesifik perusahaan meliputi leverage, ukuran perusahaan, profitabilitas, ukuran perusahaan audit, dan status listing (Ekwueme & Aniefor, 2019). Salah satu informasi keuangan yang menjadi pusat perhatian stakeholder yaitu indormasi mengenai laba, dimana laba yang diperoleh perusahaan berkaitan dengan nilai proftabilitas. Selain itu, ketika perusahaan melakukan struktur modal yang dimana akan berhubungan dengan leverage yang diperoleh perusahaan. Berdasarkan perspektif teori keagenan, proporsi kepemilikan saham oleh institusi dapat menjadi komponen pengawasan (monitoring) serta diharapkan dapat menyelaraskan kepentingan antara pemegang saham dan manajemen, dan fungsi pengawasan pihak eskternal. Oleh karena itu, profitabilitas, kepemilikan institusional dan leverage atas pelaporan keuangan pada suatu entitas sangat diperlukan untuk memastikan keandalan laporan keuangan perusahaan.
Berdasarkan penelitian terdahulu, menurut Muhammad Aulawy dan Utomo, (2021) menyebutkan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh negatif terhadap kualitas pelaporan keuangan, sedangkan menurut (Putriani & Indriani, 2019) menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh negatif signifikan terhadap kualitas pelaporan keuangan. Menurut Diptarina Yasmeen dan Sri Hermawati (2012) menyatakan bahwa Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Manajerial dan umur perusahaan (Age) tidak memiliki pengaruh terhadap kualitas pelaporan keuangan. Sedangkan, menurut Ulfa Setia Iswara (2016) menyatakan bahwa, kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas pelaporan keuangan. Menurut Susanti (2017) menyatakan bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan, sedangkan menurut (Ulfa Setia Iswara (2016) menyatakan bahwa, leverage terbukti berpengaruh signifikan terhadap kualitas pelaporan keuangan.
Dengan adanya perbedaan hasil penelitian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai kualitas pelaporan keuangan dengan judul “Pengaruh Profitabilitas, Kepemilikan Institusional, dan
Leverage Terhadap Kualitas Pelaporan Keuangan Pada Perusahaan
Manufaktur Sektor Makanan dan Minuman Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2015-2020”
1.2 Rumusan Masalah
Menurut Febrita and Kristanto (2019) Laporan keuangan dapat dikatakan berkualitas jika peusahaan mampu menggambarkan seberapa jauh laporan keuangan menghasilkan informasi yang jujur dan adil tentang penyajian posisi keuangan yang menjadi dasar kinerja perusahaan. Semakin tinggi kualitas pelaporan keuangan maka menunjukan bahwa informasi keuangan yang disajikan oleh manajemen perusahaan memenuhui karakteristik kualitatif laporan keuangan dan memenuhi pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) serta bebas dari kesalahan material. Apabila laporan keuangan pada suatu perusahan menunjukan adanya manajemen laba atau tindak kecurangan artinya informasi yang disajikan tidak memenuhi karakteristik kualitatif dan mengandung kesalahan material (IAI, 2011). Tujuan dari laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang berkaitan dengan kinerja perusahaan, posisi keuangan dan perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat untuk sebagian besar pengguna dalam pengambilan keputusan. Adapun faktor yang mempengaruhi kualitas pelaporan keuangan yang berhubungan dengan karakteristik spesifik perusahaan meliputi leverage, ukuran perusahaan, profitabilitas, ukuran perusahaan audit, dan status listing (Ekwueme & Aniefor, 2019). Berdasarkan perspektif teori keagenan, kepemilikan saham yang dimiliki institusi dapat menjadi komponen pengawasan (monitoring) terhadap aktivitas kinerja perushaan.
Sesuai dengan latar belakang yang telah diuaraikan sebelumnya, maka berikut adalah permasalahaan yang dirumuskan dalam penelitian ini:
1. Apakah terdapat pengaruh profitabilitas terhadap kualitas pelaporan keuangan pada perusahaan sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2015-2020?
2. Apakah terdapat pengaruh kepemilikan institusional terhadap kualitas pelaporan keuangan pada perusahaan sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Times New Roman (BEI) tahun 2015-2020?
3. Apakah terdapat pengaruh leverage terhadap kualitas pelaporan keuangan pada perusahaan sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2015-2020?
Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Bunga Valentina & Gayatri (2018) yang berjudul “Pengaruh Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, Struktur Kepemilikan, Leverage, dan Umur Perusahaan Pada Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan” namun dengan struktur kepemilikan, objek dan periode waktu penelitian yang berbeda. Sturuktur kepemilikan menggunkan kepemilikan institusional Objek pada penelitian ini yaitu Kualitas Pelaporan Keuangan dan menggunakan periode penelitian dari tahun 2015-2020.
1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahaan yang diajukan dalam penelitian, maka tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh profitabilitas, kepemilikan institusional dan leverage terhadap kualitas pelaporan keuangan pada perusahaan sector makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2015-2020 adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh profitabilitas terhadap kualitas pelaporan keuangan pada perusahaan sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2015-2020.
2. Untuk mengetahui pengaruh kepemilikan institusional terhadap kualitas pelaporan keuangan pada perusahaan sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2015-2020.
3. Untuk mengetahui pengaruh leverage terhadap kualitas pelaporan keuangan pada perusahaan sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2015-2020.
1.4 Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai kalangan. Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini yaitu:
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan tambahan gagasan pemikiran bagi penelitian selanjutnya. Juga diharapkan dapat menambah sumber informasi dan referensi yang akan dijadikan acuan penelitian lain guna mengembangkan ilmu pengetahuan dibidang ekonomi mengenai pengaruh profitabilitas, kepemilikan institusional dan laverage terhadap kualitas pelaporan keuangan. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan serta pengetahuan bagi peneliti terkait dengan pengaruh profitabilitas, kepemilikan institusional dan laverage terhadap kualitas pelaporan keuangan pada Perusahanan manufaktur yang terdaftar di BEI Tahun 2015-2020.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi stakeholders atau investor untuk memprediksi pengaruh profitabilitas, kepemilikan institusional dan laverage terhadap kualitas pelaporan keuangan pada Perusahanan manufaktur yang terdaftar di Bursa Kerja Efek Indonesia (BEI) sebagai gambaran yang dapat digunakan manajemen perusahaan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kualitas pelaporan keuangan untuk dijadikan sebagai masukan dalam pengambilan keputusan.
1.5 Sistematika Penulisan
Agar Penulisan Proposal Penelitian ini terfokus pada permasalahan yang dibahas dan juga lebih jelas, maka diperlukan penyusunan suatu sistematika penulisan yang tepat dengan perincian sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan
Bagian ini merupakan pendahuluan yang menjelaskan latar belakang permasalahan, identifikasi masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan.
BAB II Tinjauan Pustaka
Bagian ini mengulas dan menjelaskan mengenai tinjauan pustaka dan penelitian terdahulu yang relevan, kerangka pemikiran, perumusan hipotesis serta model penelitian.
BAB III Metodologi Penelitian
Bagian ini membahas tentang variabel penelitian dan definisi operasional, penentuan sampel penelitian, jenis dan sumber data yang diperlukan, metode pengumpulan dan metode alalisis data.
BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
Bagian ini menjelaskan dan membahas hasil penelitian yang terdiri dari deskripsi data atau gambaran umum objek penelitian serta hasil analisis dan uji hipotesis.
BAB V Penutup
Bagian ini menguraikan simpulan atau rangkuman hasil penelitian yang dicapai dan saran yang diperoleh oleh penulis.