• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Oleh Fatma Pratiwi NIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIPSI. Oleh Fatma Pratiwi NIM"

Copied!
128
0
0

Teks penuh

(1)

i SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh Fatma Pratiwi NIM 105361116616

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2020

(2)
(3)
(4)

iv

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : FATMA PRATIWI

Nim : 105361116616

Jurusan : Pendidikan Matematika

Judul Skripsi : Analisis Kesalahan Menyelesaikan Soal Matematika Tipe HOTS (Higher Order Thinking Skill) Menggunakan Prosedur Newman Pada Kelas VII SMP Negeri 13 Makassar

Dengan ini menyatakan bahwa:

Skripsi yang saya ajukan di depan TIM Penguji adalah ASLI hasil karya saya sendiri, bukan hasil ciplakan dan tidak dibuat oleh siapapun.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.

Makassar, Januari 2021

Yang membuat pernyataan

(5)

v

SURAT PERJANJIAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

N a m a : FATMA PRATIWI

N I M : 105361116616

Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi saya. Saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).

2. Dalam penyusunan skripsi saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh Pimpinan Fakultas.

3. Saya tidak akan melakukan penciplakan (plagiat) dalam penyusunan skripsi saya.

4. Apabila saya melanggar perjanjian saya pada point 1, 2, dan 3 maka saya bersedia menerima sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.

Makassar, Januari 2021 Yang Membuat Perjanjian

FATMA PRATIWI \

(6)

vi

MOTTO DAN PERSAMBAHAN

Motto

“Awali dengan bismillah dan akhiri dengan Alhamdulillah”

Perhatikan hal-hal yang menyebabkan kamu menangis, Jangan hal-hal yang menyebabkan kamu tertawa.

Persembahan Karya ini ku persembahkan untuk papa dan mamaku Tercinta yang tak henti-hentinya memberikan dukungannya moril dan materil dan atas segala pengorbanan, jerih payah dan doa restunya

demi keberhasilan penulis dalam menuntut ilmu. Semoga apa yang mereka korbankan menjadi mahkota keselamatan

di dunia dan akhirat kelak Amin.

(7)

vii ABSTRAK

Fatma Pratiwi. 2020. Analisis Kesalahan menyelesaikan Soal Matematika Tipe

HOTS (Higher Order Thinking Skill) menggunakan Prosedur Newman pada Kelas VII SMP Negeri 13 Makassar. Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Ibu Mutmainna dan Pembimbing II Ibu Ernawati

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal matematika tipe HOTS (Higher Order Thinking Skill) menggunakan prosedur Newman pada kelas VII SMP Negeri 13 Makassar. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode tes tertulis dan metode wawancara. Pengambilan subjek penelitian dilakukan dengan memberikan pra tes soal essai pada siswa kelas VII.C yang kemudian hasil tersebut 3 subjek penelitian berdasarkan kategori yang telah ditentukan kemudian akan diberikan tes soal essai tipe HOTS (Higher Order Thinking Skill). Dari hasil pekerjaan subjek penelitian dianalisis untuk mendeskrpsikan jenis-jenis kesalahan menggunakan prosedur Newman kemudian dilanjutkan dengan wawancara untuk mendeskripsikan penyebab kesalahan dari dalam diri siswa. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika materi bilangan bulat tipe HOTS (Higher

Order Thinking Skill) adalah: (1) kesalahan membaca, yang meliputi tidak teliti

dalam membaca soal, tergesah-gesah dalam membaca soal dan tidak paham dengan simbol-simbol matematika. (2) kesalahan memahami soal, meliputi tidak lengkap menuliskan hal yang diketahui, sulit menentukan hal yang diketahui dalam soal, dan tidak menuliskan hal yang ditanyakan dalam soal. (3) kesalahan transformasi, meliputi tidak memiliki kemampuan untuk mengubah hal yang diketahui menjadi kalimat matematika, dan tidak mampu menuliskan metode yang akan digunakan. (4) kesalahan keterampilan proses, meliputi kesalahan yang dilakukan sebelumnya, tidak mampu menuliskan metode penyelesaian dan kesalahan dalam perhitungan. (5) kesalahan penulisan jawaban akhir, meliputi kesalahan yang dilakukan sebelumnya, menuliskan jawaban akhir dengan tidak tepat, dan tidak dapat menuliskan kesimpulan. Penyebab kesalahan dari dalam diri siswa adalah tidak teliti dalam membaca, tidak mampu menuliskan hal yang diketahui dan hal yang ditanyakan dalam soal, tidak terbiasa menuliskan rumus matematika, tidak paham dengan materi bilangan bulat, kurang berlatiha soal-soal cerita bilangan bulat, tidak menyukai pelajaran matematika, tidak teliti dalam melakukan proses perhitungan, tidak mampu menuliskan metode penyelesaian dengan tepat.

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah , segalapuji hanya milik Allah SWT sang penentu segalanya, atas limpahan Rahmat dan Hidah-Nyalah sehinggah penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Salam dan Shalawat senantiasa tercurahkan kepada baginda Rasullah Muhammad SAW juga kepada seluruh ummat beliau yang tetap istiqamah dijalannya dalam mengarungi bahtera kehidupan dan melaksanakan tugas kemanusian ini hingga akhir.

Skripsi ini berjudul “analisis kesalahan menyelesaikan soal matematika tipe HOTS (Higher Order Thinking Skill) menggunakan prosedur Newman pada kelas VII SMP Negeri 13 Makassar” dalam hal ini penulis hadirkan sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Dengan peneuh harapan dapat memberikan kontribusi positif di bidang ilmu pendidikan untuk Indonesia lebih maju.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan oleh sebab itu kritik dan saran yang sifatnya membangun senantiasa penulis harapkan dari semua pihak sebagai bahan masukan dalam penyusunan skripsi ini.

Pada kesempatan ini penulis secara istimewa berterima kasih kepada kedua orang tua tercinta Amir pangala dan ibunda Rumagi atas segala cinta kasih sayang, doa dan segalah pengorbanannya untuk kesuksesan penulis.

(9)

ix

selanjutnya, penulis ucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada:

1. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Bapak Prof. Dr. H. Ambo Asse., M.Ag.

2. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Bapak Erwin Akib, M.Pd., Ph.D.,

3. Ketua Prodi Pendidikan Matematika, Bapak Mukhlis, S.Pd., M.Pd. 4. Sekretaris Prodi Pendidikan Matematika, Bapak Ma’rup, S.Pd., M.Pd. 5. Pembimbing I ibu Mutmainnah, S.Pd., M.Pd. dan pembimbing II ibu

Ernawati, S.Pd., M.Pd. yang telah meluangkan waktunya untuk senantiasa membimbing dan memberikan motivasi dengan baik sampai skripsi ini dapat terselesaikan.

6. Pembimbing validasi instrument, Bapak Dr. Haerul Syam, M.Pd. dan Bapak Ahmad Syamsuadi, S.Pd., M.Pd. yang senantiasa memberikan bimbingan dalam rangka penyempurnaan instrument.

7. Para dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan khususnya dosen prodi pendidikan matematika yang senantiasa membimbing penelitian selama menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar. 8. Kepala sekolah SMP Negeri 13 Makassar, bapak Drs. Ramli, M. Pd. Yang

telah mengizinkan untuk melaksanakan penelitian ini.

9. Guru mata pelajaran matematika kelas VII.C Ibu Syamsuharty, S. Pd. Yang telah membantu berjalannya penelitian ini.

10. Siswa (i) kelas VII.C SMP Negeri 13 Makassar, yang telah meluangkan waktunya sebagai Subjek penelitian dalam penelitian ini.

(10)

x

11. Rekan-rekan pendidikan matematika ALGORITMA 16, khususnya kelas 16 E yang telah sama-sama berjuang menempuh pendidikan untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

12. Serta seluruh pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tak langsung dalam penyelesaian skripsi ini yang tak sempat penulis sebutkan.

Akhirnya semoga allah SWT menerima dan membalas segala amal perbuatan pihak-pihak yang telah membantu penulis. Penulis menyadari bahwa tiada gading yang tak retak, namun penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak Aamiin.

Billahi Fii Sabilil Haq fastabiqul Khaerat. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Makassar, januari 2021

(11)

xi

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL... ... i

LEMBARAN PENGESAHAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMIBNG ... iii

SURAT PERNYATAAN... iv

SURAT PERJANJIAN ... v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... 5ii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv BAB I PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 5 C. Tujuan Penelitian... 5 D. Manfaat Penelitian... 5 E. Batasan Istilah ... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 8

A. Landasan Teori ... 8

1. Pembelajaran Matematika ... 8

2. Analisis Kesalahan ... 9

3. HOTS (Higher Order Thinking Skill)... 11

4. Karakteristik Soal HOTS (Higher Order Thinking Skill)... 13

5. Materi Bilangan Bulat ... 14

6. Prosedur Newman ... 20

(12)

xii

BAB III METODE PENELITIAN... 24

A. Jenis Penelitian ... 24

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 25

C. Subjek Penelitian ... 25

D. Pengkodean ... 25

E. Instrument Penelitian... 28

F. Teknik Pengumpulan Data ... 28

G. Teknik Analisis Data ... 30

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 33

A. Hasil Penelitian ... 33

1. Tahap Penentuan Subjek ... 33

2. Pelaksanaan Wawancara ... 36

B. Pembahasan ... 58

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 65

A. Kesimpulan ... 65

B. Saran ... 67

DAFTAR PUSTAKA ... 69 LAMPIRAN-LAMPIRAN

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

2.1 Membandingkan Bilangan Bulat ... 15

2.2 Perkalian Berdasarkan Tanda Bilangan Bulat... 17

2.2 Faktor Dan Indikator Kesalahan Siswa ... 21

3.1 Indikator prosedur Newman ... 26

3.2 Kriteria Tingkat Tingkat Kemampuan Siswa ... 30

4.1 Pengelompokan Kemampuan Siswa ... 34

4.3 Waktu Pelaksanaan Tes Wawancara pada Subjek Penelitian ... 35

4.4 Jumlah Kesalahan Tiap Subjek Penelitian Ditinjau dari Jenis Kesalahan Menurut Prosedur Newman. ... 60

(14)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

4.1 Jawaban Tes S1 pada Soal 1 ... 26

4.2 Jawaban Tes S2 Nomor 1 ... 35

4.3 Jawaban Tes S2 pada Soal Nomor 1 ... 39

4.4 Jawaban Tes S2 pada Soal Nomor 1 ... 40

4.5 Jawaban Tes S2 Soal Nomor 2 ... 42

4.6 Jawaban Tes S3 pada Soal Nomor 1 ... 44

4.7 Jawaban Tes S3 Soal Nomor 1 ... 45

4.8 Jawaban Tes S3 Soal Nomor 1 ... 47

4.9 Soal Nomor 2 ... 48

4.10 Jawaban Tes S3 Soal Nomor 2 ... 50

4.11 Jawaban Tes S3 pada Soal Nomor 2 ... 51

4.12 Jawaban Tes Soal Nomor 2 ... 53

(15)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Soal Tes Pra Penelitian

Lampiran 2 Soal Hots (Higher Order Thinking Skill)

Lampiran 3 Pedoman Wawancara Siswa Berdasarkan Prosedur Newman Lampiran 4 Pedoman Wawancara Siswa Berdasarkan Prosedur Newman Lampiran 5 Hasil Pra Tes Soal Matematika Kelas Vii Smp Negeri 13 Makassar Lampiran 6 Hasil Tes Penelitian Soal Matematika Tipe Hots (Higher Order

Thinking Skill)

Lampiran 7 Kesalahan Subjek Penelitian Ditinjau Dari Jenis Kesalahan Menurut Prosedur Newman

Lampiran 8 Hasil Wawancara Lampiran 9 Dokumentasi

(16)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dunia pendidikan di Indonesia berkembang secara dinamis, seiring dengan penemuan-penemuan baru dibidang pendidikan secara lebih luas. Namun seiring dengan perkembangannya, pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari berbagai permasalahan yang mengikutinya. Kualitas seorang guru sangat berperang penting dalam proses belajar mengajar untuk peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

Tindakan yang mampu digunakan dalam penggunaan metode dan pemamfaatan sumber daya pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran itulah yang disebut strategi pendidikan. Adapaun yang menjadi bagian dari strategi pembelajaran yaitu metode pembelajaran yang memiliki fungsi dalam menguraikan, meyaji, memberi latihan serta contoh dalam mencapai tujuan dan strategi tersebut harus diperrhatikan oleh tenaga pengajar termasuk guru maupun dosen yang di prakterkkan dalam pembelajaran.

Menurut (Putra, 2016:204) bahwa matematika adalah pembelajaran yang mendasar dan sebagai pembelajaran inti serta sangat penting untuk dipelajari dalam keberlangsungan kehidupan sehari-hari, sehingga mata pelajaran matermatika diwajibkan untuk diajarkan mulai dari tingkat sekolah hingga lebih tinggi. Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari adalah dalam proses jual-beli matematika memiliki peranan penting begitupun dengan

(17)

proses pembangunan gedung dan lain-lain. Hal ini sejalan yang dikemukakan oleh (Sari dan Arifin, 2018:1136) bahwa matematika adalah induk dalam segala pembelajaran. Matematika dapat meningkatkan keterampilan, kreativitas, dan pola pikir yang kritis. Disisi lain pembelajaran matematika juga masih dianggap sebagai pembelajaran yang rumit karena yang berisi angka dan perhitungan yang kompleks. Hal dapat dilihat dari hasil dari nilai UNBK mata pelajaran matematika tahun 2019 termaksud dalam kategori terendah yakni 46,19% (Kemdikbud, 2019).

PISA (Programme for International Student Assessment) merupakan sistem ujian oleh OECD (Organisationfor Cooperation Development) untuk menilai kompetensi dasar yaitu membaca, matematika, dan sain dilaksanakan setiap tiga tahun sekali (Pengestika, 2020:2). Pada tabel Snapshot of

performance in science, reading, and mathematics tahun 2018 terlihat bahwa

kemampuan matematika peserta didik di Indonesia memperoleh nilai rata-rata dibawah internasional sebesar 379. Sedeangkan presentase pada science,

reading, and mathematics level 5 atau 6 sebesar 0,6 dan level 2 sebesar 51,7.

Hasil dari PISA (Programme for Student Assesment) tersebut dapat dijadikan tolak ukur bagi pemerintah untuk membuat strategi yang lebih biak dalam meningkatkan pencampaian kompetensi matematika peserta didik Indonesia supaya naik dari posisi/ranking yang telah dicapai.

Salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pencapaian kompetensi matematika peserta didik Indonesia di dunia pendidikan Internasional adalah dengan cara melatih peserta didik

(18)

menggunakan soal tipe HOTS (Higher Order Thinking Skill). Menurut (Aryani & Maulida, 2019:275) bahwa HOTS (Higher Order Thinking Skill) merupakan keahlian dalam proses berpikir (kritis, reflektif, metakognitif, logis dan kreatif) yang dilimiki oleh peserta didik. HOTS (Higher Order Thinking

Skill) atau berkemampuan tingkat tinggi sangat diperlukan dalam

memecahkan masalah di era sekarang ini. Menurut krathwohl dalam (R Nurmala & Mucti Alfian, 2019:118) memyatakan indikator untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi meliputi menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan menciptakan (C6).

Pentingnya soal HOTS (Higher Order Thinking Skill) yaitu salah satu cara untuk melatih dalam berpikir kritis. sehingga dengan terbiasanya peserta didik berpikir kritis melalui proses pembelajaran yang menerapkan pola berpikir HOTS peserta didik menjadi terbiasa menghadapi apa saja di kehidupannya secara kritis dan tidak mudah melakukan hal-hal yang tidak menguntungkan pengembangan dirinya maupun dirinya sendiri.

Salah satu strategi pembelajaran yang mengaitkan soal-soal tipe HOTS (Higher Order Thinking Skill) adalah pemecahan masalah (Mulyani, 2019:2). Salah satu permasalahan dalam pembelajaran matematika adalah ketika soal tersebut diungkapkan dalam bentuk cerita termasuk pada materi bilangan bulat. Materi bilangan bulat merupakan awal materi yang dipelajari oleh peserta didik pada jenjang sekolah menengah pertama dan menjadi dasar yang akan digunakan untuk materi matematika selanjutnya. Meskipun bilangan bulat sudah dipelajari di tingkat sekolah dasar, namun kenyataan di lapangan

(19)

menunjukkan lemahnya pengetahuan peserta didik tentang pemahaman konsep dan kemampuan bernalar peserta didik masih kurang.

Berdasarkan hasil observasi pada saat magang 3 yang dimulai pada tanggal 24 Juli sampai 12 September 2019 yang dilaksanakan di SMP Negeri 13 Makassar terdapat permasalahan tentang minimnya hasil belajar matematika peserta didik. Hal tersebut di pengaruhi oleh pemahaman konsep dan keterampilan berpikir yang kurang di kuasi oleh peserta didik yang menyebabkan kesalahan dalam mengerjakan soal, dan termaksud soal cerita dalam bentuk bilangan bulat.

Menemukan adanya kesalahan dalam proses belajar sehingga perlu diperbaiki. Sebelum melakukan perbaikan, terlebih dulu guru menganalisis kesalahan-kesalahan peserta didik dalam menyelesaikan soal cerita. Dari hasil analisis yang ditemukan, guru mengambil sebagai acuan memberikan arahan atau solusi kepada peserta didik. Salah satu teori yang dapat digunakan guru dalam menganalisis kesalahan adalah teori Newman.

Newman’s Error Analysis atau disingkat NEA adalah prosedur yang

dirancang secara sederhana dalam menyelesaikan soal cerita matematika. Newman dalam (Karnasi, 2015:39-40) menyatakan bahwa setiap peserta didik mampu menyelesaikan masalah matematika secara tertulis mereka mampu melewati langkah-langkah ini yang meliputi (1) membaca (reading), (2) memahami masalah (comprehension), (3) transformasi (transformation), (4) keterampilan proses (process skill), (5) menuliskan jawaban akhir (encoding). Oleh karena itu, dengan adanya prosedur ini peserta didik diharapkan mampu

(20)

menyelesaikan soal matematika tanpa melakukan kesalahan pada tiap tahapnya.

Berdasarkan uraian di atas peneliti mengangkat judul “Analisis Kesalahan menyelesaikan Soal Matematika Tipe HOTS (Higher Order

Thinking Skill) menggunakan Prosedur Newman pada Kelas VII SMP Negeri

13 Makassar.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana kesalahan peserta didik dalam menyelesaikan soal matematika tipe HOTS (Higher Order Thinking Skill) menggunakan prosedur Newman pada kelas VII SMP Negeri 13 Makassar?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kesalahan peserta didik dalam menyelesaikan soal matematika tipe HOTS (Higher Order Thinking Skill) menggunakan prosedur Newman pada kelas VII SMP Negeri 13 Makassar.

D. Manfaat penelitian

Di bawah ini merupakan beberapa manfaat yang ingin dicapai pada penelitian, yaitu:

1. Bagi peserta didik

a. Untuk melihat kesalahan yang terjadi dalam mengerjakan soal matematika.

b. Memberikan motivasi peserta didik dalam meningkatkan hasil belajar dengan usaha yang giat dalam belajar.

(21)

c. Untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam penyelesaian soal cerita matematika khususnya pada tipe HOTS (Higher Order

Thinking Skill).

1. Bagi Pendidik

a. Penelitian ini mampu memberikan gambaran dan pedoman dalam menemukan strategi dan metode pembelajaran yang sesuai berdasarkan masalah yang ditemukan sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara baik.

b. Untuk melihat kemampuan peserta didik dalam mengerjakan soal cerita matematika tipe HOTS (Higher Order Thinking Skill).

2. Bagi Peneliti

a. Menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti.

b. Memperoleh suatu informasi dari peserta didik tentang kesalahan dalam menyelesaikan soal matematika khususnya soal cerita sehingga mampu dijadikan sebagai bahan acuan maupun bekal untuk menjadi pendidik di masa depan.

E. Batasan Istilah

1. Penelitian ini mengutamakan terjadinya kesalahan peserta didik dalam menyelesaikan soal matematika tipe HOTS (Higher Order Thinking Skill) 2. Kesalahan peserta didik dalam mengerjakan soal matematika tersebut

dianalisis melalui prosedur Newman

3. Soal-soal yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal tipe HOTS (Higher Order Thinking Skill)

(22)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan teori

1. Pembelajaran Matematika

Pendidikan adalah usaha untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran peserta didik secara aktif dalam mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia agar berguna bagi masyarakat, bangsa dan Negara (Saraswati, Rahma R & Hidayat).

(Astika, et al 2019:86) menyatakan bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor penentu mutu dari sumber daya manusia yang ada dalam suatu Negara. Pendidikan adalah salah satu bagian investasi terbesar terlebih lagi untuk mempersiapkan keterampilan pada abad 21 yang tengah direncanakan sekarang ini, keterampilan abad 21 yakni berpikir kreatif dan inovatif, pemecahan masalah dan berpikir kritis, komunikasi dan kolaborasi dapat diwujudkan dalam pembelajaran matematika menurut (Rafi & Sabrina, 2019:47).Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan peran pendidik dalam perancangan kegiatan pembelajaran matematika.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah bentuk usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian serta kemampuan di dalam dan di luar sekolah yang `berlangsung seumur hidup. Pendidikan juga merupakan kebutuhan hidup sepanjang hayat. Hal

(23)

ini menimbulkan pendidikan itu sangat penting, karena tanpa dunia pendidikan manusia akan sulit untuk berkembang.

(Ekawati, et al 2019:184) pembelajaran matematika merupakan usaha untuk membantu peserta didik menkonstruksi pengetahuan melalui proses. Serta menurut Bruner (Siagian, Muhammad D 2016:65) menyatakan pembelajaran matematika merupakan usaha membantu peserta didik dalam menkonstruksi pengetahuan melalui proses, karena mengetahui adalah suatu proses, bukan suatu produk.

Salah satu tujuan pembelajaran matematika telah ditetapkan dalam guru menggunakan bahasa mereka sendiri, peserta didik juga masih bingung dengan membedakan sebuah contoh dan yang bukan contoh dari suatu konsep, apalagi memaknai matematika dalam bentuk nyata (Sarniah, et al 2019:88-89). Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika adalah suatu kegiatan yang dilakukan guru dan peserta didik d alam mempelajari ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan konsep-konsep abstrak, dan pengetahuan tentang penalaran yang logis dan sistematis. 2. Analisis kesalahan

Dalam Kamus Bahasa Indonesia dalam (Halim, 2019:38) menyatakan analisis adalah penyelidikan suatu peristiwa (karangan, perbuatan dan sebagainya) untuk mengetahui apa sebab-sebabnya, bagaimana perkaranya dan sebagainya. Menurut KBBI dalam (Pratama, Ariyanto P 2017:40) menyatakan bahwa analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa atau suatu perbuatan untuk mengetahui keadaan

(24)

yang sebenarnya. Sedangkan menurut (Setiawan, H & Kusmanto B, 2018:267) analisis adalah suatu kegiatan untuk menyelidiki, mengurai, dan atau menelusuri akar persoalan suatu masalah. Pada intinya analisis adalah kegiatan penyelidikan yang dilakukan untuk memeriksa suatu peristiwa atau masalah.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia dalam (Amir, 2015:137) kesalahan diartikan sebagai perihal salah, kekeliruan, kealpaan, atau tidak sengaja. Sahriah (Nurjanatin, I 2017:24) menyatakan kesalahan merupakan penyimpangan hal yang benar yang sifatnya sistematis, konsisten kejadian pada daerah tertentu. Sedangkan kesalahan merupakan penyimpangan terhadap hal yang benar, prosedur yang ditetapkan sebelumnya, atau penyimpangan dari suatu yang diharapkan (Ulifa, Nur Siti 2014:124). Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan kesalahan adalah kekeliruan atau perbuatan yang salah.

Analisis kesalahan adalah penyelidikan terhadap suatu bentuk penyimpangan atau kekeliruan dari jawaban tulis peserta didik. (Pratama,

2017:40) mengungkapkan bahwa kesalahan merupakan upaya

penyelidikan terhadap penyimpangan dari yang benar untuk mengetahui keadaan yang sebenar-benarnya. Disimpulkan bahwa analisis kesalahan adalah sebuah upaya penyelidikan terhadap suatu penyimpangan untuk mencari tahu apa yang menyebabkan suatu peristiwa itu bisa terjadi.

Untuk mengatasi kesulitan belajar tersebut salah satunya adalah dengan Analisis kesalahan peserta didik dalam menyelesaikan soal cerita

(25)

matematika. Analisis kesalahan tersebut untuk mengetahui untuk mengetahui kesalahan yang dilakukan peserta didik dalam menyelesaikan soal cerita matematika (Nafiin, 2018:489). Namun kenyataannya, kesalahan juga dapat menurunkan rasa percaya diri peserta didik dalam menyelesaikan masalah sehingga dapat berakibat pada menurunnya kemampuan peserta didik.

Kesulitan belajar peserta didik dalam memecahkan masalah atau penyelesaian soal cerita matematika dapat terlihat dari adanya kesalahan peserta didik dalam menyelesaikan soal. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengetahui kesalahan belajar yang dialami peserta didik yaitu dengan menganalisis kesalahan hasil belajar peserta didik dalam mengerjakan soal matematika.

3. HOTS (Higher Order Thinking Skill)

HOTS (Higher Order Thinking Skill) merupakan salah satu keterampilan berpikir tingkat tinggi. Tujuan utama dari HOTS (Higher

Order Thinking Skill) adalah bagaimana meningkatkan kemampuan

berpikir peserta didik pada level yang lebih tinggi, terutama yang berkaitan dengan kemampuan untuk berpikir secara kritis dalam menerima berbagai jenis informasi, dalam berpikir kreatif juga memecahkan suatu masalah menggunakan pengetahuan yang dimiliki serta membuat keputusan dalam situasi-situasi yang kompleks Saputra dalam (Dinni, 2018:171).

Krathwohl dalam (Lailly, Rochmah N, 2015:28) menyatakan indikator kemampuan berpikir tingkat tinggi meliputi menganalisis (C4),

(26)

mengevaluasi (C5), dan menciptakan (C6). Kurikulum 2013 menuntut peserta didik mampu untuk memprediksi, mendesain, dan memperkirakan pada materi pembelajarannya.

Kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah salah satu bagian terpenting dalam proses belajar mengajar. Sebagaimana HOTS (Higher

Order Thinking Skill) adalah keterampilan berpikir yang lebih dari pada

sekedar menghafalkan fakta atau konsep. HOTS (Higher Order Thinking

Skill) mengharuskan peserta didik melakukan sesuatu atas fakta-fakta

tersebut. Peserta didik harus memahami, menganalisis satu sama lain, mengkategorikan, memanipulasi, menciptakan cara-cara baru secara kreatif, dan menerapkannya dalam mencari solusi terhadap persoalan-persoalan baru (Riadi,2016:154).

Kemampuan berpikir tingkat tinggi bukan hanya sekedar menghafal dan menyampaikan informasi yang telah diketahui, namun juga

mampu memahami, dan mentransformasikan pengetahuan serta

pengalaman yang telah dimiliki untuk dipergunakan dalam mengambil sebuah keputusan dan memecahkan masalah baru ataupun yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

4. Karakteristik soal HOTS (Higher Order Thinking Skill)

Soal tipe HOTS (Higher Order Thinking Skill) memiliki karakteristik yang sangat menonjol, yaitu terletak pada pencapaian peserta didik dalam berpikir kritis. Secara terpisah Anderson & Krathwohl’s Taksonomi (2010) merevisi level kognitif tersebut menjadi dua tipe soal,

(27)

Yaitu; Soal tipe LOTS (Low Order Thinking Skill) hanya menguji kemampuan peserta didik dalam mengingat (C1), memahami (C2), dan menerapkan (C3), sedangkan soal tipe HOTS (Higher Order Thinking

Skill) peserta didik dituntut untuk bisa menganalisis (C4), mengevaluasi

(C5), dan mencipta (C6) (Rochman, 2018:79).

Tetapi peserta didik mampu berpikir secara kritis dan kreatif dalam mengerjakan soal. Soal kategori HOTS (Higher Order Thinking Skill) menuntut peserta didik memiliki pemahaman terhadap informasi, bukan hanya sekedar mengingat informasi, dan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Sehingga diperlukan informasi atau dasar pertanyaan untuk memudahkan peserta didik untuk menjawab pertanyaan dan peserta didik menunjukkan pemahaman terhadap ide. Ketika peserta didik dihadapkan pada suatu masalah yang berhubungan dengan matematika, peserta didik dapat menggunakan keterampilan berpikir untuk mengali, menemukan kembali, menganalisis dan mengevaluasi informasi dalam penyelesaian masalah yang dihadapinya.

Karakteristik keterampilan berpikir tingkat tinggi mencangkup pemikiran kritis dan pemikiran kreatif pernyataan (Fanani, 2018:63). Ariyana & Bestary dalam (Rohim, 2019:438) menyatakan karakteristik soal HOTS (Order Thinking Skill) yaitu (1) dapat mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi, (2) menggunakan permasalahan yang menarik atau permasalahan kehidupan sehari-hari, dan (3) menggunakan jenis soal dengan bentuk yang bermacam-macam. Sedangkan menurut Kemendikbud

(28)

(2017), salah satu karakteristik soal HOTS (Higher Order Thinking Skill) adalah digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi termaksud berpikir kritis (critical thinking), keterampilan pemecahan masalah (problem solving), berpikir kreatif (creative thinking), dan kemampuan mengambil keputusan (decision making).

Dalam penelitian ini soal tipe HOTS (Higher Order Thinking Skill) disusun ke dalam bentuk soal cerita yang memiliki hubungan dengan kehidupan sehari hari, soal tipe HOTS (Higher Order Thinking Skill) biasanya dikaitkan dengan materi belajar yang situasi nyata dengan kehidupan sehari-hari. Permasalahan sehari-hari agar peserta didik terbiasa disajikan dengan soal yang bersifat kontekstual dan menarik untuk diselesaikan. Soal cerita pada penelitian ini terkait materi bilangan bulat. 5. Materi Bilangan Bulat

a. Pengertian Bilangan Bulat Bilangan bulat terdiri atas: 1) Bilangan asli: 1, 2, 3, … 2) Bilangan nol: 0

3) Bilangan negatif: -3, -2, -1

Bilangan lain yang ada dalam bilangan bulat, diantaranya adalah:

1) Bilangan cacah: C = {0,1,2,3,...} 2) Bilangan ganjil: J = {1,3,5,…} 3) Bilangan genap: G = {2,4,6,…} 4) Bilangan prima: {2,3,5,7,…}

(29)

Jadi dapat dikatakan bahwa himpunan bilangan asli merupakan himpunan bagian dari bilangan bulat. Himpunan bilangan cacah juga merupakan himpunan bagian dari bilangan bulat.

b. Membandingkan bilangan bulat

Dengan memperhatikan tempat pada garis bilangan, dapat dinyatakan bahwa:

1) 5 > 3, karena 5 terletak di sebelah kanan 3

2) -3 < 1, karena -3 terletak di sebelah kiri 1, dan lain sebagainya. 3) Simbol-simbol yang digunakan untuk menyatakan hubungan antara dua bilangan bulat dijelaskan dalam tabel 1.1:

Tabel 2.1. Tabel Membandingkan Bilangan

Kalimat Simbol

a lebih dari b a > b

a kurang dari b a < b

a lebih dari atau sama dengan b a ≥ b

a kurang dari atau sama dengan b a ≤ b

Menggukan bilangan bulat pada prinsipnya menuliskan bilangan bulat secara urut dari nilainya yang terbesar atau dari nilainya yang terkecil. Dalam membandingkan bilangan yang besar, cara mudahnya adalah dengan membandingan nilai tempat dari kedua bilangan tersebut.

(30)

c. Penjumlahan dan sifat-sifatnya

1) Sifat komutatif (pertukaran): a+b = b+a

2) Sifat asosiatif (pengelompokan): (a+b)+c = a+ (b+c)

3) Sifat tertutup (penjumlahan dua atau lebih bilangan bulat menghasilkan bilangan bulat. Jika a dan b bilangan bulat , maka a+b = c bilangan bulat.

4) Bilangan 0 disebut unsur identitas pada penjumlahan bilangan bulat dengan nol hasilnya bilangan bulat itu sendiri: a+0 = 0+a = a 5) Hasil penjumlahan bilangan bulat dengan lawannya sama dengan

nol (0): a+(-a) = -a+a = 0 d. Pengurangan bilangan bulat

Pengerjaan hitung penjumlahan dan pengurangan merupakan dua operasi hitung yang saling beerlawanan. Hal ini berarti pengurangan a oleh b sama dengan penjumlahan a dengan lawan b. a – b = a + (-b)

a – (-b) = a + b

e. Perkalian bilangan bulat dan sifat-sifatnya

Perkalian bilangan bulat meliputi perkalian bilangan positif dengan positif, bilangan negatif dengan bilangan negatif, bilangan negatif dengan bilangan positif, bilangan positif dengan bilangan negatif, misalkan a dan b bilangan bulat positif, perkalian a dab b adalah penjumlahan berulang bilangan b sebanyak a suku.

(31)

Sifat perkalian dapat dilihat dalam tabel 2.2

Tabel 2.2. Tabel Perkalian Berdasarkan Tanda Bilangan Bulat Bilangan 1 Bilangan 2 Bilangan 1 x

bilangan 2 (+) (+) (+) (+) (-) (-) (-) (+) (-) (-) (-) (+) 0 (+) 0 0 (-) 0

f. Pembagian bilangan bulat

Pembagian adalah operasi kebalikan (invers) dari perkalian. a:b = c atau b x c = a.

Adapun contoh soal cerita bilangan bulat termaksud kategori HOTS (Higher Order Thinking Skill) yaitu:

 Pada pukul 12.00 suhu dikota A adalah 20ºC dan suhu dipuncak gunung B adalah 10ºC makin sore suhu udara makin turun, setiap 1 jam suhu di kota A turun 4ºC sedangkan dipuncak gunung B turun 2ºC. pdad pukul berapakah suhu dikota A sama dengan suhu dipuncak gunung B?

A. Pukul 16.00 B. Pukul 17.00 C. Pukul 18.00 D. Pukul 15.00

(32)

Penyelesaian: Waktu awal 12.00

Suhu awal : A = 20ºC → 4ºC/ jam B = 10ºC → 2ºC/ jam

Pukul Suhu di kota A Suhu di kota B

Pukul 13.00 16ºC 8ºC Pukul 14.00 12ºC 6ºC Pukul 15.00 8ºC 4ºC Pukul 16.00 4ºC 2ºC Pukul 17.00 0ºC 0ºC Pukul 18.00 -4ºC -2ºC

 Seorang peserta ujian masuk perguruan tinggi menjawab 36 soal dengan benar dan 8 soal salah dari 50 soal ynag disediakan. Jika setiap jawaban benar diberi skor 4, jawaban yang salah diberi skor -2, dan tidak dijawab diberi skor -1. Maka skor yang diperoleh peserta adalah… A. 144 B. 128 C. 122 D. 114 Penyelesaian: Benar 36 x 4 = 144

(33)

Salah 8 x -2 = -16

Yang tidak dijawab 50 – 44 = 6 x -1 = -6

Maka skor yang diperoleh peserta adalah 144 – 22 = 122

 Dalam suatu tes setiap soal dijawab benar diberi skor 4 salah diberi skor -2 dan tidak dijawab diberi skor -1. Ali menjawab benar 28, tidak dijawab 5 dan mendapat jumlah skor 93. Banyak soal yang dijawab salah adalah…

A. 7 B. 8 C. 6 D. 5

Penyelesaian:

Dik. Benar : 28, Tidak di jawab : 5, Jumlah skor : 93. Dit. Soal yang dijawab salah (X)…?

28 . 4 + 5 . -1 + X . -2 = 93 112 – 5 – 2X = 93 112 – 5 – 93 = 2X 107 – 93 = 2X 14 = 2X → X = 7 6. Prosedur Newman

Metode analisis kesalahan Newman diperkenalkan pertama kali pada tahun 1977 oleh Anne Newman, seorang guru mata pelajaran matematika di Australia. Menurut Prakitipon & Nakamura dalam

(34)

(Rokhimah, 2015:13) menyatakan prosedur Newman adalah sebuah metode untuk menganalisis kesalahan dalam soal uraian. Prosedur ini bertujuan untuk memahami serta menganalisis bagaimana peserta didik memecahkan suatu masalah melalui beberapa langka-langka kesalahan, yaitu (1) membaca (reading), (2) kmemahami masalah (comprehension), (3) transformasi (transformation), (4) ketarampilan proses (process skill), (5) penulisan (encoding).

Jha dkk, dalam (Sughesti, 2016:564-565) memberikan beberapa faktor dan indikator yang menjadi penyebab peserta didik melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal bentuk uraian yang didasarkan prosedur Newman. Adapun tabel faktor dan Indikator penyebab peserta didik melakukan kesalahan adalah:

(35)

Table 2.3 Faktor Dan Indikator Kesalahan Peserta didik

No Jenis Kesalahan Indikator

1. Kesal ahan dalam

membaca (Reading

Error)

Peserta didik salah dalam membaca istilah, simbol, kata-kata atau informasi penting dalam soal.

2. Kesalahan dalam

memahami soal

(Comprehension

Error)

a. Peserta didik tidak mengetahui apa yang sebenarnya ditanyakan pada soal.

b. Kesalahan menangkap informasi yang ada disoal sehingga tidak dapat menyelesaikan ke proses selanjutnya.

3. Kesalahan dalam

transformasi proses (Transformation

Error)

a. Peserta didik gagal dalam

mengubah bentuk model

matematika yang benar.

b. Peserta didik salah

menggunakan tanda operasi

hitung untuk menyelesaikan soal.

4. Kesalahan dalam

keterampilan proses (Process Skill Error)

a. Peserta didik salah dalam perhitungan dan komputasi b. Peserta didik tidak melanjutkan

prosedur penyelesaian.

5. Kesalahan dalam

menuliskan jawaban

akhir (Encoding

Error)

a. Peserta didik tidak dapat menuliskan jawaban akhir yang diminta soal.

b. Peserta didik tidak dapat menyimpulkan jawaban sesuai kalimat matematika.

c. Kesalahan karena kecerobohan atau kurang cermat.

B. Penelitian Relevan

1. Mahmudah Wilda (2018) Hasil penelitian menyimpulkan bahwa 4 jenis kesalahan dan dan besar presentase untuk setiap jenis kesalahan yaitu kesalahan pemahaman 65%, kesalahan transformasi 30%, kesalahan keterampilan proses 8,5% dan kesalahan notasi 10%. Hasil menunjukkan kesalahan pemahaman dan kesalahan transformasi lebih dominan

(36)

dibandingkan kesalahan lainnya. Secara umum faktor penyebab kesalahan adalah kemampuan penalaran dan kreativitas peserta didik yang rendah dalam memecahkan masalah konteks nyata dan memanipulasinya ke dalam bentuk aljabar. Faktor yang paling berpengaruh adalah peserta didik tidak terbiasa menggunakan proses pemecahan masalah dengan benar. Persamaannya melakukan kesalahan memahami soal, kesalahan transformasi, kesalahan keterampilan proses, dan kesalahan penulisan jawaban akhir. Hasilnya juga lebih dominan di kesalahan memahami. Perbedaannya pada penelitian ini terjadi kesalahan membacan dan hasilnya juga lebih dominan di kesalahan penulisan jawaban akhir karena sulit menarik sebuah kesimpulan dari hasil jawabannya sendiri.

2. Erna Wati (2019) Hasil penelitian menyimpulkan bahwa 4 jenis kesalahan dan besar presentase untuk setiap jenis kesalahan yaitu kesalahan pemahaman 31%, kesalahan transformasi 24%, kesalahan keterampilan proses 18%, dan kesalahan penulisan jawaban 27%. Hasil menunjukkan kesalahan pemahaman lebih dominan dibandikan dengan kesalahan lainnya. Selanjutnya, berdasarkan hasil rekapitulasi analisis data yang diperoleh kesalahan yang lebih dominan dilakukan peserta didik dari ketiga responden yaitu, responden pertama pada kategori K5 (kesalahan dalam penulisan jawaban) indikator a dan b. Responden kedua pada kategori K3 (kesalahan dalam transformasi) indikator kesalahan terletak pada b dan d. Responden ketiga pada kategori K3 (kesalahan dalam transformasi) indikator b dan kategori K5 (kesalahan penulisan jawaban) indikator b. persamaannya pada penelitian ini sama-sama melakukan kesalahan yaitu kesalahan memahami, kesalahan transformasi, kesalahan keterampilan proses, dan kesalahan penulisan jawaban akhir. Perbedaannya dengan penelitian ini yaitu terjadi kesalahan membaca salah satu responden.

3. Kurnia Lisda (2020) Hasil penelitian menyimpulkan bahwa peserta didik melakukan lima kesalahan yaitu (1) kesalahan membaca sebanyak 3%, hal tersebut terjadi karena peserta didik tidak membaca keseluruhan soal, (2)

(37)

kesalahan memahami sebanyak 83%, kesalahan tersebut terjadi karena peserta didik tidak menuliskan apa yang diketahui dan yang ditanyakan serta peserta didik tidak memahami soal yang diberikan, (3) kesalahan transformasi sebanyak 62%, penyebab kesalahan ini terjadi karena peserta didik salah memilih operasi yang digunakan, (4) kesalahan keterampilan proses sebanyak 66%, terjadi karena peserta didik kebingungan dalam menentukan rumus lanjutan untuk menentukan, (5) kesalahan penulisan jawaban akhir sebanyak 89%, dan merupakan kesalahan yang paling tinggi terjadi karena peserta didik tidak menuliskan kesimpulan atau jawaban akhir. Persamaan pada penelitian ini adalah sama-sama melakukan 5 kesalahan yaitu (1) kesalahan membaca hal tersebut terjadi karena peserta didik tidak paham dengan simbol-simbol matematika, (2) kesalahan memahami ini terjadi karena peserta didik tidak mampu menuliskan hal yang diketahui dan hal yang ditanyakan dalam soal, (3) kesalahan transformasi hal ini terjadi karena peserta didik tidak paham dengan operasi yang digunakan, (4) kesalahan keterampilan proses ini terjadi karena peserta didik kebingungan dalam menentukan atau menuliskan rumus, (5) kesalahan penulisan jawaban akhir hal ini terjadi karena peserta didik tidak menuliskan kesimpulan dan salah denagan jawaban akhir. Kesalahan ini juga merupakan kesalahan yang dilakukan oleh semua responden. Perbedaannya pada penelitian ini tidak karena sama-sama melakukan 5 kesalahan.

(38)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif melalui metode penelitian kualitatif yang akan memberikan gambaran ataupun deskripsi mengenai kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal matematika tipe HOTS berdasarkan teori Newman.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Waktu dilaksanakan penelitian ini yaitu pada proses pembelajaran di sekolah semester ganjil tahun pelajaran 2020/2021. Adapun tempat dilaksanakannya penelitian ini di kelas VII. C SMP Negeri 13 Makassar C. Subjek Penelitian

Penelitian dilakukan pada peserta didik kelas VII. C SMP Negeri 13 Makassar semester ganjil tahun ajaran 2020/2021. Subjek utama dalam penelitian ini terdiri dari 3 peserta didik yang terdiri dari masing-masing perwakilan peserta didik yang memiliki kemampuan yang berbeda yaitu kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Namun sebelum penentuan subjek utama, peneliti memberikan tes uraian open ended kepada semua peserta didik yang terdapat pada kelas yang terpilih. kemudian utama selanjutnya akan diwawancarai terkait dengan jawaban yang sudah mereka tuliskan. Pengambilan subjek dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive

(39)

sampling, yang berarti yang akan diteliti dan dipilih berdasarkan pertimbangan

peneliti sesuai tujuan kemudian subjek diambil secara acak. D. Pengkodean

Tahap selanjutnya adalah penentuan kode untuk masing-masing subjek penelitian, untuk setiap nomor soal yaitu pada butir soal nomor 1 diberi kode (1), soal nomor 2 diberi kode (2), dan seterusnya. Adapun pengkodean untuk masing-masing indikator prosedur Newman, yaitu:

Tabel 3.1. Indikator prosedur Newman

No. Indikator Kode

1 Kesalahan Membaca A

2 Kesalahan Memahami Masalah B

3 Kesalahan Transformasi C

4 Kesalahan Keterampilan Proses D

5 Kesalahan penulisan jawaban akhir E

Adapun keterangan penetapan pengkodean untuk mempermudah dalam menganalisis data, yaitu sebagai berikut:

S1 : Peserta didik berkemampuan tinggi

S2 : Peserta didik berkemampuan sedang

S3 : Peserta didik berkemampuan rendah

S11E : Peserta didik berkemampuan tinggi nomor soal urut 1 indikator E

(40)

S21E : Peserta didik berkemampuan sedang nomor soal urut 1 indikator E

S22E : Peserta didik berkemampuan sedang nomor soal urut 2 indikator E

S31C : Peserta didik berkemampuan rendah nomor soal urut 1 indikator C

S31D : Peserta didik berkemampuan rendah nomor soal urut 1 indikator D

S31E : Peserta didik berkemampuan rendah nomor soal urut 1 indikator E

S32A : Peserta didik berkemampuan rendah nomor soal urut 2 indikator A

S32B : Peserta didik berkemampuan rendah nomor soal urut 2 indikator B

S32C : Peserta didik berkemampuan rendah nomor soal urut 2 indikator C

S32D :Peserta didik berkemampuan rendah nomor soal urut 2 indikator D

S32E :Peserta didik berkemampuan rendah nomor soal urut 2 indikator E

E. Instrumen Penelitian

Pada proses penelitian harus menggunakan suatu alat untuk mengukur yang biasanya disebut sebagai instrumen penelitian, baik peralatan keras (kelengkapan catatan lapangan (pulpen dan buku), alat rekaman dll), lunak (pedoman wawancara dan pedoman observasi).

Dalam penelitian kualitatif instrumen utamanya adalah peneliti sendiri. Peneliti harus mampu menemukan semuanya, mampu mencari, menemukan, memaknai dan mampu menyimpulkan dari hasil yang telah diperoleh di lapangan.

(41)

F. Teknik Pengumpulan Data

Tujuan utama penelitian adalah mendapatkan data. Sehingga pada dasarnya setiap penelitian harus memiliki teknik pengumpulan data. Adapun yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengambil atau mengumpulkan data yaitu metode observasi, metode tes, dan tes wawancara.

1. Metode Observasi

Metode observasi adalah langkah awal peneliti dalam mengetahui masalah yang terjadi dalam proses pembelajaran dan mampu melihat tingkah laku peserta didik dalam menyelesaikan soal tes yang diberikan peneliti serta mengetahui tingkat komunikasi matematis peserta didik khususnya pada soal HOTS.

2. Tes Tertulis

Dalam penelitian ini tes yang digunakan adalah dalam bentuk Tes tertulis, tes tersebut berupa uraian yang terdiri dari 8 soal cerita matematika tipe HOTS (Higher Order Thinking Skill) yang terbagi ke dalam dua sesi. Tes tersebut dilakukan secara mandiri atau perindividu. Dalam tes esai ini memiliki tujuan untuk melihat cara proses berpikir peserta didik dan ketelitian menjalankan prosedur dalam menyelesaikan soal cerita matematika tipe HOTS (Higher Order Thinking Skill).

3. Tes Wawancara

Wawancara dilakukan kepada subjek utama untuk mendapatkan data yang lebih akurat karena peneliti menanyakan tentang jawaban yang telah dituliskan sebelumnya.

(42)

Peneliti juga menggunakan jenis wawancara tidak terstruktur dalam memberikan pertanyaan secara bebas. Peneliti juga menggunakan hasil tes soal cerita matematika tipe HOTS (Higher Order Thinking Skill) untuk diberikan pertanyaan kepada subjek yang terpilih dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang penyebab terjadinya kesalahan peserta didik dalam mengerjakan soal yang berikan. Untuk mengetahui tingkat kesalahan subjek, peneliti menggunakan garis besar permasalahan dan memiliki hubungan dengan data yang dibutuhkan dan hasil wawancara direkam untuk mencatat hal-hal yang penting. Berikut disajikan tabel 3.2 tentang tingkat kemampuan peserta didik.

Tabel 3.2 Kriteria Tingkat Tingkat Kemampuan Peserta didik

4. Teknik Analisis Data

Dalam menyikapi, menyusun, memilih dan mengolah data yang telah diperoleh secara sistematis tentunya diperlukan analisis data.

Data yang dianalisis yaitu hasil observasi, wawancara dan jawaban dari tes tertulis soal cerita matematika tipe HOTS (Higher Order Thinking

Skill) yang sudah diberikan pada peserta didik kemudian membagi. Menurut

Milles & Huberman dalam (Helaluddin, 2019:123) menyatakan teknik analisis

No Interval Kesalahan

1 80-100 Tinggi

2 60-79 Sedang

(43)

data menggunakan langkah-langkah yang terdiri dari 3 langkah yaitu; reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan.

1. Reduksi Data

Reduksi data yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk lebih fokus kepada hal-hal ataukah data yang dianggap penting sehingga data yang diperoleh bisa lebih jelas. 2. Penyajian Data

Penyajian data ini dapat dilakukan setelah data yang diperoleh telah direduksi. Mengkaji data yang dimaksud pada penelitian ini adalah memuat paparan yang singkat dan lebih mengarah pada penarikan kesimpulan sesuai data yang telah didapatkan sebelumnya.

3. Penarikan Kesimpulan

Langkah ini adalah langkah terakhir penjabaran data yang sudah dikaji dalam penelitian ini. Kesimpulan yang dikemukakan harus teruji berdasarkan data-data yang telah diperoleh beserta dukungan bukti-bukti yang kongkret dan konsisten sehingga mampu menjawab dari rumusan masalah.

(44)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sebagaimana dijelaskan pada Bab I penelitian ini bertujuan untuk melihat kesalahan peserta didik dalam menyelesaikan soal matematika tipe HOTS (Higher Order Thinking Skill) menggunakan prosedur Newman pada kelas VII SMP Negeri 13 Makassar

Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian tentang kesalahan peserta didik dalam menyelesaikan soal cerita bilangan bulat menggunakan prosedur Newman adalah sebagai berikut:

A. HASIL PENELITIAN

1. Tahap Penentuan Subjek Penelitian

Penelitian ini diawali dengan pemberian soal uraian tes tertulis sebanyak 5 soal, dilanjutkan dengan tes tertulis kedua sebanyak 2 soal, dan diakhiri dengan melakukan proses wawancara pada peserta didik. Soal uraian yang diberikan kepada peserta didik berupa soal cerita matematika tipe HOTS (Higher Order Thinking Skill) dengan materi bilangan bulat. Dari hasil jawaban peserta didik, dilakukan pemberian skor yang sesuai dengan skor yang telah ditentukan pada tiap-tiap nomor. Kemudian berdasarkan hasil jawaban peserta didik pada tes tertulis pertama, akan dipilih 3 dari 23 peserta didik berdasarkan tingkat kesalahan peserta didik tersebut dengan pengelompokan yaitu 1 tinggi, 1 sedang dan 1 rendah untuk menentukan

(45)

subjek yang memenuhi kriteria pengelompokan dengan jumlah soal yang diberikan 2 soal.

4.1 Tabel Pengelompokan Kemampuan Peserta didik

kemampuan / kriteria Jumlah Tinggi (80-100) Sedang (60-79) Rendah (0-59) 4 6 13 23

Setelah melihat dari hasil tes yang telah dilaksanakan oleh peserta didik/siswi dapat dikategorikan menjadi 3 tingkatan yaitu:

a. Kemampuan tinggi, jika peserta didik memperoleh nilai 80–100 pada tes matematika dengan nilai 90

b. Kemampuan sedang, jika peserta didik memperoleh nilai 60–79 pada tes matematika dengan nilai 75

c. Kemampuan rendah, jika peserta didik memperoleh nilai 0-59 pada tes matematika dengan nilai 32.5

2. Pelaksanaan Wawancara

Tahap tes wawancara dilaksanakan di masing-masing rumah subjek. Adapun waktu pelaksanaan proses tes wawancara dengan subjek akan dipaparkan pada

(46)

Tabel 4.3 Waktu Pelaksanaan Tes Wawancara pada Subjek Penelitian

No Kode Subjek Waktu

1. S1 07 November 2020

2. S2 08 November 2020

3. S3 08 November 2020

Ketiga subjek pada tabel 4.1 yang telah dipilih akan dilakukan analisis kesalahan peserta didik dalam menyelesaikan soal bilangan bulat tipe HOTS (Higher Order Thinking Skill). Berikut adalah identifikasi hasil tes dan hasil wawancara pada masing-masing subjek.

1. Subjek Penelitian 1 (S1)

a. Identifikasi kesalahan penulisan jawaban akhir S1

Gambar 4.1 Jawaban Tes S1 pada Soal 1

Berikut transkrip potongan hasil wawancara S1 yang berkaitan pada Indikator A yaitu sebagai berikut:

P1E01 : baik dek, pertanyaan selanjutnya yaitu apa yang anda

(47)

S11E01 : yang diketahui yaitu jarak tempuh rumah Andi ke sekolah

sejauh 2 km, setelah itu menempuh jarak 500 meter, dia putar balik sejauh 150 meter ke toko buku, berangkat ke sekolah menempuh jarak 600 meter, jarak 300 meter Andi menghampiri Budi.

P1E02 : ya, terus kira-kira apa yang ditanyakan dari soal nomor

1?

S11E02 : berapa jarak rumah Budi ke sekolah. P1E03 : terus penyelesaiannya bagaimana dek?

S11E03 : 2 km diubah ke meter 2000 meter. Terus 2000 – 500 –

(-150) – 600 – 300 = 1500 +150 – 600 - 300 = 1650 – 600 – 300 = 750

P1E04 : menurut ade apakah hasil perhitungannya sudah tepat? S11E04 : iye’ kak.

P1E05 : apa kesimpulan yang ade dapatkan dari hasil jawaban

ade ?

S11E04 : jarak rumah Budi ke sekolah sejauh 750 meter.

Dari data di atas diperoleh fakta bahwa S1 melakukan kesalahan sesuai dengan prosedur Newman pada indikator E dalam mengerjakan soal nomor 1.

Berdasarkan analisis yang dilakukan bahwa hasil jawaban S1 sudah benar akan tetapi kesalahan S1 tidak mampu menuliskan

(48)

kesimpulan dari jawabannya sendiri, ini terlihat pada gambar 4.1 tidak terdapatnya satu pun kesimpulan yang mampu dituliskan oleh S1.

Berdasarkan analisis tes dan wawancara S1 pada soal nomor 1,

dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa kesalahan dalam

menyelesaikan soal matematika tipe HOTS (Higher Order Thinking

Skill) disesuaikan berdasarkan indikator prosedur Newman yaitu S1

tidak dapat menuliskan kesimpulan. S1 telah menuliskan hasil jawaban soal tes dan wawancara dengan baik.

2. Subjek Penelitian 2 (S2)

a. Identifikasi kesalahan memahami masalah S2

Gambar 4.2 jawaban tes S2 nomor 1

Berikut transkip potongan hasil wawancara S2 yang berkaitan pada indikator B yaitu sebagai berikut:

P1B01 : coba ade bacakan soal nomor 1?

S21B01 : jarak rumah Andi ke sekolah sejauh 2 km. setelah

menempuh jarak 500 meter, dia putar balik dan berjalan sejauh 150 meter menuju toko buku untuk membeli buku tulis. Lalu Andi kembali berangkat ke sekolah dan setelah menempuh jarak 600 meter, Andi berhenti untuk membeli

(49)

bensin. Dia melanjutkan perjalanan dan setelah menempuh jarak 300 meter Andi menghampiri Budi. Mereka berangkat bersama. Berapa jarak rumah Budi dengan sekolah?

P1B02 : apa yang diketahui dalam soal tersebut Dek?

S21B02 : jarak rumah Andi ke sekolah 2 km sama dengan 2000

meter, setelah menempuh jarak 500 meter dia putar balik 150 meter meneju toko buku, setelah menempuh jarak 600 meter Andi berhenti untuk membeli bensin, setelah itu menempuh jarak 300 meter Andi menghampiri Budi.

P1B03 : apakah masih ada lagi yang diketahui dek? S21B03 : tidak ada m kak.

P1B04 : apa yang ditanyakan dalam soal tersebut dek? S21B04 : berapa jarak rumah Budi dengan sekolah kak.

Dari data di atas diperoleh fakta bahwa S2 melakukan kesalahan sesuai dengan prosedur Newman pada indikator B dalam mengerjakan soal nomor 1.

Dianalisis penyebab kesalahan yang dilakukan S2 yang terdapat pada soal nomor 1. S2 hanya mampu menuliskan hal yang diketahui 2 km = 2.000 meter. Dimana S2 menuliskan informasi tidak secara lengkap dalam soal akan tetapi masih ada beberapa yang harus dituliskan dalam diketahui yaitu jarak ke toko buku 350 meter, jarak ke toko buku ke penjual bensin 600, dan jarak penjual bensin ke Budi

(50)

300. ini terlihat pada gambar 4.2, S2 tidak dapat menuliskan secara lengkap apa yang diketahui dan apa yang ditanya. Bahkan hal yang ditanyakan tidak ada satu pun ia tuliskan dari hasil pekerjaannya.

Hasil tes dan hasil wawancara dari S2, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa kesalahan memahami masalah dalam soal masih kurang. Karena S2 hanya mampu menyebutkan apa yang diketahui dan tidak mampu menuliskan apa yang ditanyakan.

b. Identifikasi kesalahan keterampilan proses S2

Gambar 4.3 Jawaban Tes S2 pada Soal Nomor 1

Berikut transkip potongan hasil wawancara S2 pada soal nomor 1 yang berkaitan dengan indikator D yaitu sebagai berikut:

P1D01 : ada berapa operasi hitung yang ade gunakan? S21D01 : ada satu kakak yaitu pengurangan.

P1D02 : coba ade tuliskan cara penyelesaiannya?

P1D02 : rumah Andi ke sekolah 2000 meter. 2000 – 500 – 150 –

600 – 300 = 2000 – 1550 = 450 meter.

P1D03 : apakah hasil perhitungan dan proses yang ade gunakan

sudah benar?

(51)

Dari data di atas diperoleh fakta bahwa S2 melakukan kesalahan sesuai dengan prosedur Newman pada indikator D dalam mengerjakan soal nomor 1.

Dianalisis kesalahan yang dilakukan S2 pada soal nomor 1. S2 mengalami kesalahan karena 500 meter jarak yang ditempuh Andi S2 menjumlahkan dengan 150 meter ke toko buku, seharusnya S2 melakukan pengurangan karena Andi putar balik sejauh 150 meter. Sehingga S2 sehingga terjadi kesalahan perhitungan dan tidak memiliki keahlian dalam metode penyelesaian yang tepat.

hasil tes dan hasil wawancara S2 disimpulkan bahwa terjadinya kesalahan dalam keterampilan proses karena tidak mampu menuliskan apa yang di informasikan dalam soal. Penyebab terjadinya kesalahan S2 tidak memahami metode penyelesaian yang diterapkan. S2 juga kurang percaya diri bahwa S2 mampu mengerjakan soal tersebut.

c. Identifikasi kesalahan penulisan jawaban akhir S2

Gambar 4.4 Jawaban Tes S2 pada Soal Nomor 1

Berikut transkip potongan hasil wawancara S2 pada soal nomor 1 yang berkaitan dengan indikator E yaitu sebagai berikut:

(52)

P1E01 : apa yang ditanyakan dalam soal tersebut? S21E01 : jarak rumah Budi ke sekolah kak

P1E02 : coba anda tuliskan langkah apa yang anda harus

lakukan untuk menemukan apa yang ditanyakan dari soal tersebut?

S21E02 : tidak tau kak.

P1E03 : tapi hal yang diketahui dalam soal yang diketahui dek? S21E03 : iye’ kak. jarak rumah andi ke sekolah 2 km, terus

berjalan 150 meter menuju toko buku, dan menempuh jarak 600 meter andi membeli bensin, setelah itu andi menempuh jarak 300 meter ia bertemu dengan budi kak

P1E04 : ade sudah paham apa yang diketahui dan apa yang

ditanyakan, coba ade tuliskan cara penyelesaiannya dek?

S21E04 : tidak ku tau mi kak kalau cara penyelesaiannya.

Dari data di atas diperoleh fakta bahwa S1 melakukan kesalahan sesuai dengan prosedur Newman pada indikator E dalam mengerjakan soal nomor 1.

Dianalisis letak kesalahan yang terjadi karena S2 telah melakukan kesalahan sebelumnya sehingga hasil akhir dari pekerjaan S2 tidak tepat atau salah. Terlihat jelas pada gambar 4.4 kesalahan yang dilakukan oleh S2 dengan menuliskan hasil akhir 450 meter penyebabnya karena S2 tidak menuliskan metode penyelesaian yang benar.

(53)

Sesuai hasil data yang didapatkan dapat disimpulkan bahwa penyebab terjadinya S2 melakukan kesalahan adalah S2 kurang paham mengenai perhitungan yang dia gunakan. Terjadi kesalahan S2 kurang mampu menuliskan metode penyelesaian yang tidak tepat. Dari hasil wawancara penyebab S2 yaitu tidak memiliki kemampuan dalam mengerjakan soal.

d. Identifikasi kesalahan penulisan jawaban akhir S2

Gambar 4.5 Jawaban Tes S2 Soal Nomor 2

Berikut ini transkip potongan hasil wawancara S2 pada soal nomor 2 yang berkaitan dengan indikator D yaitu sebagai berikut: P2E01 : ada berapa satuan yang ade gunakan?

S22E01 : ada 3 kak

P2E02 : kalau 3 coba sebutkan dek?

S22E02 : pertama itu kak perkalian, pertambahan, dan

pengurangan.

P2E03 : apakah semua proses yang ade gunakan dalam

(54)

S22E03 : iye kak,

P2E04 : selanjutnya, menurut anda apa kesimpulan yang anda

dapat kan dari hasil jawaban ade?

S22E04 : kesimpulannya kak, urutan nilai peserta tes dari terkecil

ke terbesar Yaitu Melsi, Yulfi, Lorna, dan Sakia kak.

P2E05 : pertanyaan terakhir dari hasil jawaban anda, kenapa

tidak menuliskan kesimpulan dari hasil jawaban ade.

S22E05 : tidak terbiasa kak dan kemarin juga terburu-buru, jadi

lupa tulisnya.

Dari data di atas diperoleh fakta bahwa S1 melakukan kesalahan sesuai dengan prosedur Newman pada indikator E dalam mengerjakan soal nomor 2.

Dianalisis terdapat kesalahan yang dilakukan S2 pada soal nomor 2. S2 melakukan metode penyelesaian dengan tepat, sehingga S2 mampu menuliskan hasil akhirnya dengan benar. Akan tetapi kesalahan S2 tidak mampu menuliskan kesimpulan dari hasil jawabannya sendiri. Ini jelas terlihat pada gambar 4.5 tidak terdapatnya satu pun kesimpulan yang mampu dituliskan oleh S2.

Hasil data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa penyebab terjadinya kesalahan S2 yaitu tidak mampu menuliskan kesimpulan dari hasil jawabannya sendiri, penyebab kesalahan S2 tidak terbiasa menuliskan kesimpulan dalam mengerjakan soal dan terburu-buru karena S2 telah kehabisan waktu dalam menjawab soal 3.

(55)

3. Subjek Penelitian 3 (S3)

a. Identifikasi Kesalahan Transformasi

Gambar 4.5 Jawaban Tes S3 pada Soal Nomor 1

Berikut transkip potongan hasil wawancara S3 pada soal nomor 1 yang berkaitan dengan indikator C yaitu sebagai berikut:

P1C01 : ada berapa operasi hitung yang ade gunakan dalam

menyelesaikan soal nomor 1?

S31C01 : hmmm tidak tau deh kak.

P1C02 : coba ade tuliskan rumus yang ade gunakan dalam

mengerjakan soal tersebut?

S31C02 : (diam beberapa menit) tidak tau kak.

Dari data di atas diperoleh fakta bahwa S1 melakukan kesalahan sesuai dengan prosedur Newman pada indikator C dalam mengerjakan pada soal nomor 1.

Dianalisis penyebab terjadinya kesalahan yang terdapat pada soal nomor 1 yang dilakukan oleh S3. S3 mampu menuliskan hasil akhirnya tanpa melakukan metode penyelesaian. Sehingga S3

(56)

melakukan kesalahan transformasi Ini terlihat jelas pada gambar 4.5 S3 tidak mampu melakukan operasi hitung yang ia gunakan.

Hasil tes dan hasil wawancara dapat disimpulkan penyebab kesalahan S3 tidak mampu menyelesaikan apa diketahui dan tidak mampu menuliskan apa yang ditanyakan. Penyebab kesalahan S3 tidak paham tentang operasi hitung.

b. Identifikasi kesalahan keterampilan proses

Gambar 4.6 Jawaban Tes S3 Soal Nomor 1

Berikut transkip potongan hasil wawancara S3 dengan soal nomor 1 yang berkaitan pada indikator D yaitu sebagai berikut.

P1D01 : coba ade kerjakan soal tersebut sesuai

langkah-langkah yang ade ketahui?

S31D01 : tidak tau kak

P1D02 : coba jelaskan langkah-langkah penyelesaian yang ade

dapatkan dari hasil 750 meter

S31D02 : 2000 – 150 – 500 lupa kak dan tidak tau juga selesaikan

ini soal kak

(57)

S31D03 : tidak paham kak.

Dari data di atas diperoleh fakta bahwa S1 melakukan kesalahan yang sesuai dengan prosedur Newman pada indikator D dalam menyelesaikan soal nomor 1.

Dianalisis penyebab terjadinya kesalahan yang telah dilakukan oleh S3 yang terdapat pada soal nomor 1. S3 mampu menuliskan hasil akhirnya dengan benar yaitu 750 meter, sehingga terjadi kesalahan yang dilakukan S3 adalah tidak mampu menuliskan dan menentukan metode penyelesaian dengan benar, ini terlihat pada gambar 4.6 tidak terdapat satu pun metode penyelesaian yang mampu dituliskan oleh S3.

Hasil data yang telah diperoleh terjadi kesalahan yang dilakukan yaitu tidak mampu menuliskan metode penyelesaian yang benar. Penyebab terjadinya kesalahan S3 tidak memiliki keahlian dalam menyelesaikan soal. S3 juga tidak memahami materi bilangan bulat.

c. Identifikasi kesalahan penulisan jawaban

(58)

Berikut transkip potongan hasil wawancara S3 dengan soal nomor 1 yang berkaitan sesuai dengan indikator yaitu sebagai berikut:

P1E01 : metode apa yang digunakan dalam mengerjakan soal

dek?

S31E01 : tidak tau kak,

P3E02 : dari jawaban akhir ade sudah betul, cuman cara

penyelesaiannya bagaimana dek?

S31E02 : bingung ma juga itu kak,

P1E03 : pertanyaan terakhir apakah ade suka dengan pelajaran

matematika?

S31E03 : tidak kak.

Dari data di atas diperoleh fakta bahwa S1 melakukan kesalahan sesuai dengan prosedur Newman yang terdapat pada indikator E dalam penyelesaian soal nomor 1.

Dianalisis kesalahan yang terjadi pada soal nomor 1. S3 mengulangi kesalahan yang sebelumnya. Terjadi kesalahan yang dilakukan oleh S3 yaitu tidak ada satu pun yang dituliskan dalam metode penyelesaian dan S3 juga tidak memiliki keahlian dalam penyelesaian soal.

Hasil data yang didapat maka disimpulkan penyebab terjadinya kesalahan yang dilakukan S3 sesuai dengan soal nomor 1, dimana S3 tidak menuliskan metode penyelesaian yang tepat. S3 tidak memiliki

(59)

keahlian dalam mengerjakan soal tersebut. S3 tidak menyukai pelajaran matematika.

d. Identifikasi kesalahan membaca.

Gambar 4.8 Soal Nomor 2

Berikut transkip potongan hasil data wawancara S3 dengan soal nomor 2 yang berkaitan dengan indikator A yaitu sebagai berikut: P2A01 : coba ade bacakan soal nomor 2?

S32A01 : suatu rumah sakit di kota Makassar mengadakan tes

tertulis dalam penerimaan karyawan. Jika setiap jawaban diberi nomor 4, jawaban yang salah kurang 2 dan tidak dijawab diberi skor kurang 1. Berikut data 5 orang karyawan yang mengikuti tes. Yuli 19 6 5, Lorna 24 3 3, Saskia 26 3 1, Melsi 18 9 3, Ainun 27 3 0. Dari data tersebut urutan nilai peserta tes dari terkecil ke terbesar?

P2A02 : dari soal yang ade baca tanda (-) itu dibaca kurang

Gambar

Tabel 2.1. Tabel Membandingkan Bilangan
Tabel 2.2. Tabel Perkalian Berdasarkan Tanda Bilangan Bulat  Bilangan 1  Bilangan 2  Bilangan 1 x
Table 2.3 Faktor Dan Indikator Kesalahan Peserta didik
Tabel 3.1. Indikator prosedur Newman
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pada soal nomor 2, dapat diketahui letak kesalahan peserta didik yaitu kesalahan melaksanakan pemecahan masalah peserta didik tidak teliti dalam menghitung dan juga kurang paham

Kesimpulan yang dalam penelitian ini terdapat kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa pada saat menjawab soal yang telah diberikan, yaitu: siswa tidak menggunakan simbol

BPR Klepu Mitra Kencana menjelaskan bahwa, adapun hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh karyawan dalam perjanjian waktu kerja tertentu yaitu pihak

Pelunasan Pokok Obligasi dan pembayaran Bunga Obligasi akan dilakukan oleh KSEI selaku Agen Pembayaran atas nama Perseroan kepada Pemegang Obligasi melalui Pemegang Rekening di

Peran utama puskesmas yaitu memberikan pelayanan primer dalam bentuk preventif, kuratif serta promotif sehingga mendorong kemandirian masyarakat untuk mengatasi masalah

Karena hasil pengujian piezoelektrik menggunakan tekanan air hujan lebih besar dari hasil pengujian piezoelektrik menggunakan tekanan pegas dan putaran disk baik

Hasil perhitungan GAP keseluruhan didapatkan nilainya adalah -14.3197, hal ini berarti persepsi mahasiswa lebih kecil dari harapan mahasiswa atau kepuasan pelayanan Jurusan

Teknologi telah menghegemoni atau mengarahkan dan mengontrol manusia pada budaya dan ideologi, nalar dan paradigm berpikir, gaya hidup, nilai baik dan buruk melalui