DALAM MEMBANGUN SENIMAN DAN DESAINER
BERKARAKTER KEBANGSAAN
1
Oleh: I Gede Arya Sugiartha Institut Seni Indonesia Denpasar
1. Pendahuluan
Topik diskusi yang diberikan panitia kepada saya, yaitu “Peran Perguruan Tinggi Seni Dalam Membangun Seniman dan Desainer Berkarakter Kebangsaan” sangat strategis, karena baru saja kita memperingati hari bersejarah, yaitu “Kebangkitan Nasional” tanggal 20 Mei 2017, tentu diharapkan kita dapat mengambil hikmah dari peringatan tersebut. Makna hari Kebangkitan nasional adalah bangkitnya rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang dulu telah terbukti dapat mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Sebagai generasi penerus kita harus memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa dan berterima kasih kepada seluruh pejuang kemerdekaan, karena dengan semangat persatuan dan rasa kebangsaan yang tinggi Indonesia mampu meraih cita-‐cita.
Setelah 72 tahun Indonesia merdeka apakah semangat kebangsaan kita masih tetap tinggi atau sebaliknya mulai melemah. Saya kira topik yang ingin didiskusikan oleh panitia lebih pada persoalan melemahnya semangat kebangsaan kita dewasa ini sehingga memunculkan berbagai persoalan pelik. Indikasinya ditandai oleh perubahan prilaku generasi muda Indonesia yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Lickona (2012: 20-‐29) menyebutkan ada sepuluh indikasi yang perlu dikhawatirkan terjadi pada “trend anak muda” kita dewasa ini, yaitu kekerasan dan tindakan anarkis, pencurian, perbuatan curang, mengabaikan aturan, tawuran, tidak toleran, penggunaan
1 Makalah disampaikan pada Seminar Nasional FSRD ISI Denpasar, Tanggal 25 Mei
bahasa yang tidak baik, seksual yang menyimpang, perusakan diri, dan penyalahgunaan narkoba.
Kekhawatiran Lickona ternyata benar dengan munculnya berbagai persoalan sosial budaya yang mengancam Ke-‐Indonesiaan kita belakangan ini dan persoalan tersebut kini telah merasuk ke ruang publik. Mulai dari permasalahan politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga kemanusiaan kini menjadi “santapan” batin kita sehari-‐hari yang dapat disaksikan melalui media masa secara bebas. Tanpa disadari pikiran kita dibelenggu, didistorsi, dan distimulasi untuk ikut merespon. Terjadinya peristiwa-‐peristiwa tragis seperti radikalisme, konflik SARA , konflik bersenjata, isu disintegrasi bangsa, hadirnya jaringan terorisme, narkoba, hingga perkelahian antar pelajar dan mahasiswa sungguh menjadikan Indonesia ibarat kawasan “mara bahaya” yang sewaktu-‐ waktu dapat mengancam setiap orang di dalamnya. Keinginan untuk menjadikan Indonesia “tata tentrem karta raharja” (tertib, damai, dan jauh dari laku kejahatan) sebagaimana sering dituturkan dalam dunia pewayangan kita kini sudah semakin jauh dari harapan (Mulyono, dalam Lubis (Ed.), 2007:187-‐188). Banyak pihak lantas menyatakan bahwa persoalan sosial budaya ini disebabkan oleh kemiskinan, ketidakmerataan, dan ketidakadilan. Saya juga setuju dengan pendapat tersebut, namun kali ini saya ingin lebih menyoroti faktor sumber daya manusia, yaitu lemahnya karakter kebangsaan manusia Indonesia yang menyebabkan kekacauan tersebut.
Sebagai “kambing hitam” akhirnya lembaga pendidikan terutama perguruan tinggi yang dianggap belum mampu melahirkan manusia Indonesia seutuhnya sebagaimana diamanatkan oleh Undang-‐Undang Dasar 1945. Sebagai organ perguruan tinggi, kitapun akhirnya sadar, ingin menelisik kembali apakah perguruan tinggi khususnya perguruan tinggi seni Indonesia telah berperan dalam membangun generasi muda Indonesia yang berkarakter kebangsaan. Jika ternyata belum, maka perguruan tinggi seni harus melakukan perbaikan terhadap banyak hal mulai dari kebijakan, manajemen, kurikulum, hingga proses pembelajaran agar mampu menghasikan lulusan yang handal. Tentu kita tidak ingin di cap “melahirkan pengangguran intelektual”, atau yang lebih ekstrem
“melahirkan lulusan yang cerdas nalarnya serta trampil tangannya akan tetapi tumpul rasanya”. Melalui makalah ini saya ingin urun rembuk, menelusuri apa yang sesungguhnya telah, sedang, dan semestinya dilakukan perguruan tinggi seni untuk melahirkan seniman dan desainer yang berkarakter kebangsaan.
2. Kebangsaan Indonesia Dalam Dinamika
Sebelum masuk pada kajian tentang peran perguruan tinggi seni dalam membangun seniman dan desainer yang berkarakter kebangsaan, saya ingin mengajak kita semua untuk menengok ke belakang, memahami dinamika Ke-‐ Indonesiaan kita dari masa ke masa. Fakta sejarah meneguhkan bahwa diawali oleh pergerakan Budi utomo pada tahun 1908 para pejuang kemerdekaan Indonesia memandang persatuan dan kesatuan bangsa adalah kata kunci untuk meraih kemerdekaan. Puncaknya adalah deklarasi kebangsaan yang dikumandangkan pada Kongres Pemuda II tahun 1928 yang dikenal dengan nama Sumpah Pemuda. Deklarasi ini menyatakan bahwa paham kebangsaan Indonesia meliputi kesadaran memiliki satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa. Kesadaran ini dipandang akan dapat menjembatani perbedaan suku, bahasa, dan agama di kalangan bumiputra. Ciri penting dari kesadaran kebangsaan Indonesia adalah sama sekali tidak berbasis pada identitas dan tradisi etnis tertentu, artinya solidaritas sosial atas nama “Ke-‐Indonesiaan” dibangun di atas realitas dan tantangan kuat akan keragaman dan perbedaan di antara suku bangsa, agama, dan bahasa. Model kebangsaan yang multikultur ini senantiasa berusaha melampaui dan mampu mengatasi realitas perbedaan, kemudian menjelmakannya menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini kemudian diperkuat dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, dengan Pancasila sebagai rohnya dan Undang-‐Undang Dasar 1945 sebagai pedoman dalam kehidupan bernegara. Keempat hal ini kemudian dikukuhkan sebagai pilar kebangsaan, penyangga utama untuk tegaknya kesadaran kebangsaan Indonesia.
Selain fakta sejarah, solidaritas kebangsaan Indonesia juga dibangun berdasarkan fakta geo-‐historis yang membentuk Indonesia. Geo-‐historis ini
telah menyadarkan setiap warga negara betapa luasnya negeri kepulauan Indonesia sekaligus betapa besar tanggung jawab pandu-‐pandu Ke-‐Indonesiaan untuk mempersatukan berbagai perbedaan yang ada. Patut diingat bahwa lautan di Indonesia bukan merupakan sarana pemisah, melainkan pemersatu karena menjadi tali penghubung kesatuan wilayah negara yang mesti dijaga secara bersama-‐sama. Namun harus disadari karena luasnya bentangan geo-‐historis menyebabkan ikatan kebangsaan juga kerap dilanda ancaman bersamaan dengan tumbuhnya nasionalisme itu sendiri.
Ancaman kebangsaan sesungguhnya sudah terjadi sejak zaman kerajaan dengan perebutan kekuasaan dan wilayah yang berujung pada jatuh bangunnya kerajaan-‐kerajaan di Nusantara. Pada zaman penjajahan, selama 350 tahun rakyat Indonesia sengaja dipecah belah dengan politik adu domba dan belah bambu yang tentu cara ini sangat menguntungkan penjajah. Kemudian pada zaman Orde Lama terjadi pertikaian ideologi partai-‐partai politik, politik aliran dan organisasi etnik, pemberontakan kelompok radikal, hingga meletusnya peristiwa tragis G30S PKI. Pemerintahan Orde Baru berupaya menyeleraskan kembali paham kebangsaan melalui pembangunan stabilitas politik nasional. Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 45, dan NKRI “dikeramatkan” melalui program-‐program seperti misalnya wajib penatara P4 bagi mahasiswa, calon pegawai negeri sipil, organisasi pemuda, organisasi masyarakat, dan unsur lainnya. Tidak jarang juga negara mengambil tindakan tegas terhadap elemen atau golongan pengganggu yang berusaha mempersoalkan atau mengkritisi dasar negara dan kebangsaan (Dewan Analisis Strategis Badan Intelijen Negara, 2013:22). Akan tetapi pemerintah Orde Baru lupa satu hal, bahwa dibalik upaya memupuk kesadaran kebangsaan telah melahirkan politik keseragaman, menciptakan tafsir tunggal atas Pancasila. Akibatnya bangsa yang plural dan multikultural direduksi menjadi perbedaan yang bisa disatukan dalam wajah Ke-‐ Indonesiaan. Hal inilah memunculkan penolakan elemen masyarakat yang tidak menginginkan tafsir tunggal yang diteguhkan dengan cara-‐cara represif.
Zaman reformasi diprediksi akan mampu merubah dan memperkuat kembali paham kebangsaan dari yang sebelumnya berazas tunggal dengan
memberikan kewenangan daerah untuk mengelola kekayaannya sendiri dalam skhema otonomi daerah. Selain itu, lewat jargon yang dikenal dengan masyarakat madani atau civil society, semangat reformasi ingin membentuk masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-‐nilai peradaban, masyarakat yang toleran, egaliter, solider, sederajat, bersikap inklusif, dan demokratis. Dengan masyarakat madani setiap individu memiliki kebijaksanaan dalam memahami perbedaan, memperkokoh kebersamaan dan perdamaian, tanpa diskriminasi (Burhanuddin, dalam Sustiawati, 2015: 102). Akan tetapi hasilnya tidak sesuai dengan harapan, entah karena apa justru yang terjadi pada era reformasi sekarang ini adalah menguatnya politik aliran yang dikemas dalam politik identitas atas nama golongan, suku, dan agama. Isu-‐isu sensitif seperti kemiskinan dan kesenjangan sosial dijadikan domain politik sehingga menumbuhkan sikap kritis masyarakat yang tidak terarah. Kebebasan berubah menjadi kebablasan yang pada akhirnya merupakan pengingkaran terhadap nilai-‐nilai luhur paham kebangsaan yang diinginkan.
Pada zaman reformasi, manusia Indonesia malah lebih terjerumus dalam cara berfikir logosentris dan oposisi biner yang hanya menganggap ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sebagai tulang punggung pembangunan semesta. Ilmu pengetahuan dan teknologi penting untuk mempermudah hidup kita dalam memenuhi kebutuhan lahiriah, namun dalam tatanan kehidupan bersama juga diperlukan penguatan jiwa agar kita bisa hidup rukun dan saling memahami. Disinilah perlu upaya keseimbangan pembangunan antara yang fisik dan metafisik, antara logika, etika, dan estetika, antara yang rasional dengan yang irasional, antara kenyataan dengan keyakinan. Selama ini kita hanya fokus melakukan upaya-‐upaya untuk menggali dan meningkatkan keunggulan dan potensi rasio dari manusia, padahal sejarah menunjukkan bahwa temuan-‐ temuan besar seperti Hukum Archimedes, Kuantum, dan lainnya tidak digapai hanya dengan metode ilmiah rasional, tetapi memanfaatkan potensi internal nir-‐
rasio seperti ketajaman intuisi, kepekaan emosional, dan kesadaran spiritual
(Amien, 2005:318). Kurangnya perhatian kita terhadap pembangunan potensi
individualistis, egois, tidak peduli, dan tidak peka terhadap permasalahan sosial budaya dan juga persoalan kebangsaan. Mencermati kondisi di atas, perguruan tinggi seni memiliki peluang dan peran penting, karena mengelola bidang ilmu yang memadukan tiga hal, yaitu logika, etika, dan estetika.
3. Kebijakan Perguruan Tinggi Seni Indonesia
Indonesia memiliki sembilan perguruan tinggi seni, yaitu ISI Yogyakarta, ISI Denpasar, ISI Surakarta, ISI Padang Panjang, ISBI Bandung, IKJ Jakarta, STKW Surabaya, ISBI Aceh, dan ISBI Tanah Papua. Selain itu di beberapa perguruan tinggi umum (baik swasta maupun negeri) terutama yang memiliki Fakultas Ilmu Budaya dan Fakultas Ilmu Pendidikan juga banyak yang membuka program studi seni dengan fokus kajiannya yang beragam. Di universitas-‐universitas eks-‐ IKIP, seperti UNJ Jakarta, UNY Yogyakarta, UNESA Surabaya, UNDIKSHA Singaraja, dan UPI Bandung juga memiliki program studi Pendidikan Seni baik seni rupa maupun seni pertunjukan. Berbagai disiplin ilmu seni telah dibuka oleh perguruan tinggi dimaksud dan berbagai epistemologi telah dikembangkan, seperti pengkajian, penciptaan, pendidikan, dan juga penyajian atau kesenimanan. Masing-‐masing perguruan tinggi seni di Indonesia telah menetapkan visi dan misi dan dari rumusan visi dan misi tersebut kita bisa membaca arah kebijakan dan profile lulusan yang diinginkan. Sebagai contoh:
a. Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta memiliki visi “Menjadi pelopor perguruan tinggi seni nasional yang unggul, kreatif, dan inovatif berdasarkan Pancasila”;
b. Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar memiliki visi “Menjadi pusat unggulan seni budaya berbasis kearifan lokal berwawasan universal”; c. Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta memiliki visi “Sebagai pusat
unggulan kreativitas dan keilmuan seni budaya untuk membentuk insan Indonesia cerdas, kompetitif, dan berkarakter”;
d. Institut Seni Indonesian (ISI) Padang Panjang memiliki visi “Mewujudkan seniman dan ilmuwan seni budaya Melayu-‐Nusantara”;
e. Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Bandung memiliki visi “Menjadi institutsi pendidikan tinggi seni budaya yang berjati diri, berkualitas, dan berdaya saing, dalam skala lokal dan global”;
f. Institut Kesenian Jakarta (IKJ) memiliki visi “memusatkan perhatian pada seni urban dan industri budaya dengan pendekatan inter dan multidisiplin antara berbagai bidang ilmu seni; dan
g. Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya memiliki visi “Menjadi lembaga terdepan dalam menghasilkan lulusan yang kompetitif dan berwawasan luas, berjiwa luhur dan berorientasi pada pengembangan dan pelayanan seni budaya terutama seni budaya Jawa Timur berstandar nasional dan internasional.
Mencermati visi ketujuh perguruan tinggi seni di atas, kata-‐kata seperti unggul, kompetitif, terdepan, dan berkualitas banyak dipilih menjadi kata kunci kemudian disambung dengan kata-‐kata seperti berkarakter, kearifan lokal, berjiwa luhur dan berjati diri sebagai pelengkap. Hal ini mengindikasikan bahwa ketujuh perguruan tinggi seni Indonesia sesungguhnya sudah memiliki kebijakan agar bisa melahirkan sarjana yang tidak saja unggul dan pintar secara akademik, akan tetapi juga berkarakter yang baik. Pernyataan visi adalah kalimat kunci yang memayungi seluruh aktivitas kelembagaan, karena seluruh program kerja dan rencana anggaran tidak boleh bertentangan dengan visi yang ditetapkan.
Sebagai salah satu contoh, saya ingin memberikan informasi singkat mengenai kebijakan yang dilakukan ISI Denpasar dalam menjalankan misi untuk mencapai visinya. Berdasarkan visi yang telah ditetapkan ISI Denpasar ingin melahirkan sarjana seni yang unggul, penelitian yang berkualitas dan bernilai guna, karya seni yang kreatif dan adaptif, pengabdian yang bermanfaat bagi masyarakat, serta menjadi pusat layanan data dan informasi seni budaya. Untuk mencapai keunggulannya ISI Denpasar menggunakan kearifan lokal (ungkapan dan nilai budaya tradisional) sebagai landasan dan objek material untuk dikembangkan agar berdaya saing universal. ISI Denpasar memiliki motto yang berbunyi “Sewaka Guna Widya, Satyam, Siwam, Sundaram”, yang berarti
kewajiban untuk mengembangkan ilmu pengetahuan melalui kebenaran, kesucian, dan keindahan. Motto ini akan selalu dipedomani oleh setiap insan ISI Denpasar bahwa dalam melaksanakan aktivitas selalu berlandaskan kebenaran (logika, nalar), kesucian (kebaikan, etika, tata krama), dan keindahan (kenyamanan, ketentraman).
Kompetensi lulusan yang ingin dilahirkan oleh ISI Denpasar adalah sarjana seni yang memiliki sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang baik dan unggul. Sikap ditempatkan paling depan memberi makna bahwa tanpa sikap yang baik, seorang pintar dan trampil belum tentu dapat berguna bagi masyarakat. Bagaimana kompetensi sikap menjadi sangat penting dikedepankan di ISI Denpasar, saya memiliki pengalaman masa lalu ketika pertama kali menginjakkan kaki di kampus ini (dulu ASTI Denpasar) tahun 1985. Saya ingat betul ungkapan yang pernah dilontarkan seorang guru karawitan yang kemudian dinobatkan menjadi Mpu Karawitan Bali, yaitu Bapak I Wayan Beratha (Almarhum). Dalam sebuah pengantar kelas komposisi karawitan beliau berkata:
“untuk menjadi seseorang yang pintar bermain gamelan dan mencipta lagu tidak susah bagi saya mengajari anda semua. Saya yakin jika anda belajar dengan tekun anda akan menjadi seniman karawitan yang hebat. Namun yang susah bagi saya adalah menjadikan anda seniman karawitan yang baik, “ngelah lek” (memiliki rasa malu). Seniman seni karawitan yang baik bukan hanya diukur dari ketrampilannya bermain dan mencipta lagu, akan tetapi akan lebih bermakna jika kemampuan yang dimiliki dapat digunakan untuk membantu orang lain dan masyarakat. Kalau anda pintar tetapi tidak menjadi orang baik, artinya anda adalah orang yang tidak berguna.”
Selain dari Almarhum Pak Beratha, saya juga pernah mendengar wejangan dari tokoh dalang I Made Sija dari Desa Bona, Blahbatuh, Gianyar. Beliau menuturkan bahwa para orang tua kita zaman dulu kalau menasehati putra-‐putrinya seringkali menggunakan ungkapan-‐ungkapan seperti “de je bene keto, lekang
ibene gigis kenken ye” (jangan seperti itu tolong malulah sedikit). Jika orang tua
sudah marah ungkapannya menjadi lebih keras “jeleme sing ngelah lek ati” (manusia tidak tahu malu). Ungkapan kedua seniman sepuh di atas mengandung makna bahwa ketika seorang guru/dosen memberikan pengetahuan dan
ketrampilan kepada peserta didik harus dibarengi pula dengan upaya membentuk sikap.
Dewasa ini kita tengah berada dalam situasi dunia yang terus berubah dengan cepat, penuh ketidakpastian dan persaingan. Oleh sebab itu perguruan tinggi seni harus membuka diri, saling mengisi melalui kolaborasi dan komunikasi. Jika ingin dihargai dan disetarakan dalam kolaborasi dan komunikasi, jika ingin diperhitungkan dalam persaingan, perguruan tinggi seni harus memiliki modal strategis. Bagi ISI Denpasar salah satu modal strategisnya adalah kearifan lokal yang memberi identitas yang sarat nilai dan makna, serta telah teruji aktual sepanjang zaman. Nilai dan makna yang terkandung dalam kearifan lokal merupakan konstalasi konsep yang memandu kita dalam memaknai semesta. Dalam konteks sejarah, nilai dan makna yang terkandung dalam kearifan loka adalah jembatan penghubung antara masa lalu dengan masa kini dalam sebuah mata rantai yang saling mengisi. Melalui kearifan lokal kita bisa memetik nilai dan makna dari masa lalu untuk membangun masa kini dan merencanakan masa depan.
Namun dibalik kuatnya kearifan lokal tidak lantas membuat ISI Denpasar harus terlena dengan kejayaan masa lampau dengan sesuatu yang sifatnya “given”. Kesuksesan harus juga diperjuangkan dengan cara terus memupuk prilaku kreatif, yaitu kemampuan untuk mencipta atau daya cipta. Guilford (dalam Supriadi, 1994:7) menemukan lima sifat yang menjadi ciri kemampuan berfikir kreatif, yaitu kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility), keaslian
(originality), penguraian (elaboration), dan perumusan kembali (redefinition).
Mengacu temuan Guilford di atas, seniman dan desainer lulusan ISI Denpasar memang dirancang agar selalu kreatif, memiliki banyak gagasan, ide, sigap, serta mampu menggunakan bermacam-‐macam pendekatan dalam mengatasi persoalan. Dengan kreativitas lulusan ISI Denpasar dapat melakukan berbagai upaya, dari pemuliaan khasanah budaya yang diwariskan hingga menciptakan hal-‐hal baru yang dirasakan relevan dengan kebutuhan-‐kebutuhan kekinian yang universal.
4. Perguruan Tinggi Seni Dalam Membangun Karakter Kebangsaan
Perguruan tinggi memiliki tugas pokok mendidik dengan modal utamanya adalah ilmu pengetahuan. Menurut Murgiyanto (2015:7), kegiatan mendidik mencakup tiga tindakan, yaitu (1) melatih untuk membuat anak didik trampil di satu bidang profesi; (2) mengajarkan pengetahuan untuk menjadikan mahasiswa cerdas, menguasai, memahami, serta mampu memecahkan masalah; dan (3) mengasah sensibilitas agar peserta didik peka rasa terhadap nilai-‐nilai kemanusiaan dan keindahan. Dengan tugas ini perguruan tinggi memposisikan diri sebagai penyedia layanan pengetahuan (knowledge server) dan juga sebagai pusat pengembangan budaya masyarakatnya (communiversity). Sebagai penyedia layanan pengetahuan, perguruan tinggi menyimpan, menghasilkan, menjaga, mentransmisikan, mengembangkan, dan memanfaatkan pengetahuan dalam berbagai bentuk sesuai kebutuhan masyarakat (Amien, 2005:364). Sumber pengetahuan di perguruan tinggi ada pada banyak hal, mulai dari dosen yang berkualitas dalam berbagai disiplin ilmu, perpustakaan dengan koleksi yang lengkap, kurikulum, sistem pembelajaran, hingga sarana dan prasarana pendukung. Dalam kapasitasnya sebagai pusat pengembangan budaya masyarakat, perguruan tinggi seyogyanya memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya untuk memainkan peran sebagai pendorong dan fasilitator peningkatan kualitas tatanan, mempelopori upaya-‐upaya transformasi sosial termasuk mempromosikan nilai-‐nilai baru.
Dalam merealisasikan tugas pokok, peran, posisi, dan fungsinya perguruan tinggi melaksanakan kegiatan yang disebut tri dharma, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Tri dharma tentu dilakukan sesuai dengan bidang-‐bidang ilmu yang dikelola, sebagai contoh perguruan tinggi seni seperti misalnya ISI, ISBI, dan STSI melakukan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat dalam bidang seni. Kaitannya dengan perannya sebagai pembangun karakter bangsa, perguruan tinggi seni sesungguhnya telah memiliki “bonus” karena mengelola bidang-‐bidang ilmu humaniora, bidang ilmu yang mengkaji tentang manusia, bidang ilmu yang bertujuan untuk memuliakan manusia.
Dalam kurikulum pendidikan tinggi seni terdapat keseimbangan antara pemberian mata pelajaran teori dengan praktek, artinya seorang mahasiswa yang kuliah di perguruan tinggi seni tidak hanya belajar ilmu seni melainkan juga belajar berkesenian (menyajikan seni, mencipta seni, menikmati seni) sehingga dapat merasakan manfaat dari seni itu sendiri. Dalam pembelajaran seni selain diberikan pengetahuan dan ketrampilan mahasiswa juga diajarkan secara langsung mengasah sensibiitas rasa terutama terhadap keindahan yang merupakan bidang kajiannya. Seseorang yang sensitif terhadap keindahan pada akhirnya juga akan sensitif terhadap nilai-‐nili kemanusiaan, kebaikan dan solidaritas sosial dalam pergaulan.
Unsur pendidikan lain yang juga selalu didapatkan oleh mahasiswa perguruan tinggi seni adalah interaksi yang intens baik antara sesama mahasiswa, antara mahasiswa dengan dosen, dan antara mahasiswa dengan masyarakat. Dengan interaksi yang intens dalam menyelesaikan program-‐ program kerja seperti pameran, pergelaran, workshop, dan diskusi maka terjalin hubungan yang baik dan saling memahami. Hal ini secara tidak langsung akan membentuk karakter mahasiswa, menyadarkan bahwa berkehidupan bersama sangat penting dan hal ini pula akan dapat memicu kecintaan mereka terhadap lingkungan, bangsa, dan negara. Berikut ini saya mencoba menelusuri beberapa aktivitas baik secara eksplisit maupun implisit yang telah dilakukan atau semestinya dilakukan perguruan tinggi seni dalam memacu peserta didik menjadi seniman dan desainer yang berkarakter kebangsaan.
a. Penguatan Paham Multikultur
Menurut Burhanudin (2003: 86), multikulturalisme adalah gerakan sosio-‐intelektual yang mempromosikan nilai-‐nilai dan prinsip-‐prinsip perbedaan serta menekankan pentingnya penghargaan pada setiap kelompok yang mempunyai kultur berbeda. Orientasinya adalah kehendak untuk membawa masyarakat ke dalam suasana rukun, damai, egaliter, toleran, saling menghargai, saling menghormati, tanpa ada konflik dan kekerasan, tanpa mesti menghilangkan kompleksitas perbedaan yang ada. Perlu ditekankan bahwa
multikultur bukan dimaksud untuk menyatukan atau melebur berbagai kultur yang ada menjadi ‘asas tunggal’. Berkaitan dengan hal ini nasionalisme juga tidak dipahami sebagai homogenisasi kehidupan dalam segala aspeknya terlebih lagi mengesampingkan keragaman karena dianggap faktor penghambat integrasi. Jadi multikulturalisme adalah Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri, keragaman tetap dipelihara dalam imajinasi kebersamaan untuk menjadi satu.
Dalam dunia pendidikan, pembelajaran multikultur baik secara eksplisit maupun implisit wajib dilakukan. Kurikulum pembelajaan semua jenjang pendidikan harus memberikan porsi yang memadai untuk saling mengenal setidaknya dengan budaya-‐budaya antar etnis di Indonesia. Pada jenjang perguruan tinggi multikultur dapat diajarkan secara lebih mendalam, mulai dari memberikan pemahaman arti dan makna, tujuan dan fungsi, hingga praktek dalam berbagai bentuk. Setiap mata kuliah yang diajarkan di perguruan tinggi bisa dikemas agar mengandung muatan untuk memperkuat paham multikultur. Di perguruan tinggi seni sebagaimana yang telah dilakukan selama ini, penguatan paham multikultur selain memacu mahasiswa untuk menghargai perbedaan juga akan menguntungkan mahasiswa terutama dalam mencari sumber inspirasi penciptaan karya seni. Sebagai misal, mahasiswa yang berasal dari etnis Bali bisa mencermati kekhasan seni ukir Jepara atau Madura dijadikan objek material untuk diinovasi menjadikannya karya baru. Demikian juga seorang interior desainer berasal dari etnik Jawa bisa mengambil inspirasi dari alam magis pewarnaan Bali (poleng) untuk menciptakan ruangan yang berkarakteristik khas. Dalam kaitan saling tukar sumber inspirasi ini seorang seniman dan desainer mau tidak mau harus mencari informan dari daerah lain agar karya yang diciptakan tidak hanya sekedar tempelan, melainkan dapat dikatagorikan sebagai karya orisinil. Dengan terbiasa menghargai keunikan karya seni etnis lain, pakar dari etnis lain akan muncul rasa persaudaraan bahwa hidup ini saling membutuhkan. Pemahaman dan sikap ini merupakan awal dari penguatan karakter kebangsaan, karena seniman dan desainer kita merasa bahwa perbedaan dan keragaman itu adalah sumber kekuatan .
b. Memaknai Sejarah dan Warisan Budaya
Sejarah adalah rekonstruksi masa lampau sedangkan warisan budaya adalah bukti bahwa masa lampau adalah sumber nilai yang sangat berguna untuk membangun bangsa. Melalui pelajaran sejarah kita bisa berkaca pada kejadian masa lampau yang penuh makna untuk membangun sikap penghormatan kepada para pendahulu. Dalam konteks sejarah, nilai dan makna yang terkandung dalam seni dan warisan budaya adalah jembatan penghubung antara masa lalu dengan masa kini dalam sebuah mata rantai yang saling mengisi. Melalui sejarah dan warisan budaya kita bisa memetik nilai dan makna dari masa lalu untuk membangun masa kini dan merencanakan masa depan. Oleh sebab itu perlu dibangun semangat dan kesadaran para generasi muda untuk belajar dari sejarah dan warisan seni budaya.
Cara memaknai masa lampau yang telah dilakukan oleh perguruan tinggi seni adalah menggunakan ceritera sejarah sebagai sumber penciptaan seni dan melakukan workshop seni dengan para maestro seni budaya. Ceritera sejarah yang digunakan sebagai sumber penciptaan dilakukan oleh mahasiswa dalam berbagai prodi di perguruan tinggi seni. Sebagai contoh mahasiswa Prodi Seni Rupa Murni, Seni Kriya, Seni Tari, dan Seni Pedalangan ISI Denpasar kerap menggunakan ceritera-‐ceritera seperti babad dan legenda sebagai sumber inspirasi karya-‐karyanya. Program studi lainnya seperti Interior, DKV, Desain Mode, FTV juga banyak mengambil inspirasi dari karya-‐karya warisan budaya masa lampau. Tujuannya selain mendapatkan inspirasi artistik dari keindahan masa lampau, sejarah dan warisan budaya banyak mengandung pesan-‐pesan kebaikan yang patut dipedomani. Dengan memaknai sejarah dan warisan budaya secara tidak langsung kita telah membangun kepribadian anak didik untuk menghormati dan bangga akan bangsanya sendiri. Kebanggaan akan bangsa sendiri adalah salah satu wujud nyata dari karakter seniman dan desainer yang kita inginkan. Jika anak-‐anak hanya diperkenalkan dengan teknologi dan cara-‐cara berfikir logosentrisme, maka iapun hanya akan menghargai bangsa lain dari pada bangsanya sendiri.
c. Merajut Kebersamaan Melalui Festival dan Ritual
Perguruan tinggi seni sangat sering mengadakan kegiatan yang dapat merajut semangat kebersamaan, salah satunya adalah festival seni. Festival seni dalam berbagai bentuk, jenis, dan formatnya biasanya diikuti oleh kelompok-‐ kelompok seni dari berbagai jenis dan etnis, bertujuan memberikan pengalaman berkehidupan bersama kepada mahasiswa. Dalam festival mahasiswa diajarkan cara bekerjasama, belajar memahami keunggulan yang lain, belajar secara langsung dari mahasiswa daerah lain agar ia tidak ibarat “katak di bawah tempurung” merasa paling hebat hanya di kandang sendiri. Dalam festival seni mahasiswa secara langsung ditunjukkan fakta bahwa diseberang sana juga ada keunggulan yang mungkin saja belum mereka miliki. Hal ini akan menyadarkan mahasiswa bahwa kebersamaan, kerjasama, kolaborasi adalah sumber belajar yang sangat efektif untuk peningkatan kompetensi diri.
Sebagai contoh mahasiswa ISI Denpasar dari Program Studi Desain Interior, DKV, FTV, Fotografi, dan Kriya Seni atas kesadarannya sendiri menyelenggarakan dan membiayai sendiri kegiatan-‐kegiatan temu karya nasional yang diselenggarakan secara bergilir di berbagai wilayah di Indonesia. Mahasiswa Desain Mode kerap kali melakukan kerjasama dengan para fashion
desainer dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengadakan fashion show
bersama. Demikian juga mahasiswa dari program studi Seni Rupa Murni kerap mengikuti pameran-‐pameran bersama dengan mahasiswa dan seniman-‐seniman lukis dan patung dari berbagai wilayah di Indonesia. Dengan kegiatan seperti ini kita sangat yakin mahasiswa mendapat pengalaman tidak hanya dalam berkreativitas akan tetapi juga menyadari bahwa kebersamaan dan saling pengertian sangat penting dalam segala aktivitas. Dengan kerjasama dalam festival mahasiswa disadarkan bahwa selain membangun kelokalan kita sebagai indentitas, kita sangat perlu membangun Ke-‐Indoneisaan kita sebagai bangsa yang besar dan beradab. Hal ini adalah modal dari terbentuknya seniman dan desainer yang berkarakter kebangsaan.
Selain menyelenggarakan dan mengikuti festival, khususnya ISI Denpasar kerap melakukan kegiatan kebersamaan dalam bentuk ritual. Mengapa ritual
menjadi hal yang sangat penting bagi ISI Denpasar, karena dalam kaitan ritual, seni difungsikan sebagai media persembahan, dikemas dalam bentuknya sangat sederhana dan ditandai dengan ekspresi simbolik. Setiap goresan, gerakan, nyanyian, ekspresi muka, melodi, ritme, dan harmoni yang ditampilkan dalam seni ritual mengandung makna untuk mengagungkan kebesaran Tuhan. Dengan cara itu sang seniman dan masyarakat merasakan kenikmatan, ketentraman, dan kenyamanan hidup.
Dalam sebuah ritual tidak ada kebiasaan mempersoalkan konsep seni secara khusus dan mengidentifikasikannya baik atau tidak, apakah ia masuk katagori seni atau tidak. Dalam ritual, seni itu bukan kelangenan/hiburan, semua orang yang hadir bukan untuk menonton, melainkan sebagai bagian dari ritual tersebut sehingga dilakoni dengan hidmat dan penuh keyakinan. Apa yang dapat kita ambil hikmahnya dari fungsi seni dalam hal ini adalah untuk ketentraman, kenyamanan, dan ketenangan batin serta menumbuhkan gairah kebersamaan, yakni semacam energi positif yang dapat memotivasi umat manusia untuk selalu bangkit. Seni dalam upacara ritual adalah peristiwa penghayatan tatanan bersama yang niscaya berdaya guna dalam kehidupan kolektif, hal ini juga merupakan modal untuk membentuk karakter kebangsaan.
d. Diplomasi Budaya
Indonesia hingga kini masih menyandang status negara yang belum maju dari segi teknologi dan ekonomi. Kekurangan ini yang justru terlalu banyak mengemuka dalam setiap diskusi kita tentang Indonesia. Hal ini tentu merupakan stigma yang tidak baik bagi anak bangsa karena membuat mereka selalu menjadi manusia-‐manusia yang pesimistis, tidak bangga menjadi orang Indonesia. Untuk menjadikan anak bangsa ini bangga menjadi orang Indonesia, kita perlu menunjukkan keunggulan kita dan untuk itu kita perlu kuat dalam berdiplomasi. Candi Borobudur sebagai produk budaya Indonesia telah masuk dalam daftar tujuh keajaiban dunia, sistem pertanian tradisional Bali, yaitu Subak dan sembilan genre tari Bali juga baru saja ditetapkan oleh Unesco menjadi warisan budaya dunia. Selain itu kini gamelan Indonesia (Jawa dan Bali)
telah menjadi program unggulan di berbagai universitas ternama di Amerika Eropa, dan Jepang. Jika kita sadar kondisi ini dapat dijadikan sumber diplomasi yang handal untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia sebagai negara adibudaya.
Seni adalah salah satu bidang ilmu yang mampu menjadikan Indonesia unggul di mata dunia. Hal ini telah disadari oleh para pemimpin dan ilmuwan negeri ini sejak masa lampau. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Kentjaraningrat (dalam Sustiawati, 2015: 107) bahwa di abad elektronik dan atom ini kita sulit mengembangkan teknologi ala Indonesia karena bangsa Indonesia sudah terlampau terbelakang. Demikian juga dalam bidang ekonomi bangsa Indonesia sudah terlampau miskin untuk dapat mengembangkan sistem ekonomi berkepribadian ala Indonesia. Bahasa Indonesia baik untuk penguatan identitas, namun sangat sulit digunakan untuk meninggikan rasa kebanggaan bangsa. Religi dan agama sulit juga dikemas agar bisa menuruti sifat-‐sifat khas Indonesia karena agama adalah titah Tuhan. Hal yang masih tersisa hanya kesenian yang akan dapat menonjolkan sifat khas dan mutu untuk menjadikan Indonesia diperhitungkan dalam persaingan antar bangsa.
Kesenian dapat dijadikan media diplomasi yang handal untuk meningkatkan daya saing Indonesia di mata dunia, agar generasi muda Indonesia memiliki kebanggaan dan harga diri. Program-‐program yang mengusung label diplomasi budaya terus menerus digiatkan. Sebagai contoh pada tahun 1987-‐1990 Indonesia menggunakan pertunjukan budaya untuk memperbaiki citra negatif Indonesia atas permasalahan Timor-‐Timur di mata dunia. Pada acara World Expo tahun 1992 di Sevilla, Sepanyol, anjungan Indonesia mampu memperoleh predikat sebagai anjungan dengan pengunjung sangat banyak hanya dengan mengandalkan pameran budaya, yaitu seni rupa dan pertunjukan dari berbagai daerah di Indonesia. Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar terlibat aktif dalam kedua kegiatan tersebut di atas. Jika Amerika dan negara-‐negara Eropa mengandalkan teknologinya dalam mendatangkan pengunjung, anjungan Indonesia yang relatif sempit dan tertata sederhana justru menjadi primadona pengunjung. Indonesia tidak memiliki
teknologi hebat yang mampu dipersaingkan dengan negara-‐negara maju dalam expo tersebut, akan tetapi Indonesia memiliki keunggulan dan keragaman seni budaya yang dapat menjadikan anak bangsa ini bangga menjadi warga negara Indonesia.
e. Pendidikan Karakter
Pada masa pemerintahan Orde Baru pernah diterapkan program-‐ program untuk memperkuat paham kebangsaan melalui Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Saya masih ingat betul ketika masuk ASTI tahun 1985, ada persyaratan mahasiswa dinyatakan diterima secara penuh jika telah lulus penataran P4 pola 100 jam. Maka dengan demikian kita diberikan penataran selama dua minggu dengan rincian delapan jam setiap hari. Materi pembelajarannya adalah menuntun bagaimana kita menghayati dan mengamalkan Pancasila secara murni dan konskwen. Saya dapat menyimpulkan bahwa inti dari penataran P4 adalah mendorong mahasiswa untuk hidup rukun dalam pergaulan bersama, menyadari kebhinekaan, dan berwawasan kebangsaan. Setelah pembelajaran teori tentang makna Pancasila biasanya diadakan simulasi bagaimana memecahkan masalah, bagaimana menjalin hubungan antar manusia dalam berkehidupan bersama, dan memupuk rasa bangga menjadi warga negara Indonesia. Dengan Penataran P4 karakter kebangsaan kita benar-‐benar diasah dan dibentuk setiap saat. Sejak zaman reformasi, kegiatan Penataran P4 seolah lenyap ditelan bumi, namun ketika ditengarai melunturnya karakter kebangsaan barulah kemudian kita sadar bahwa generasi muda kita masih perlu diberikan pendidikan karakter. Terlebih ketika Presiden Joko Widodo mengumandangkan “Revolusi Mental” banyak pihak akhirnya disadarkan bahwa ternyata kita masih perlu membangun karakter anak bangsa.
Karakter adalah nilai-‐nilai prilaku yang berhubungan dengan Tuhan, lingkungan, diri sendiri, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-‐norma agama, hukum, tatakrama, budaya, dan istiadat. Karakter bukanlah pembawaan sejak lahir, oleh
sebab itu bisa dibentuk dan dibangun lewat pendidikan mulai dari pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi. Perguruan tinggi seni, dalam proses pendidikannya selain mengasah sensibilitas rasa terhadap keindahan juga mengasah sensibilitas rasa terhadap kemanusiaan, kebersamaan, dan menghormati perbedaan. Mata kuliah-‐mata kuliah tentang kewarganegaraan diberikan kepada mahasiswa sebagai mata kuliah wajib untuk membangun kesadaran mahasiswa sebagai bagain dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu dalam kegiatan-‐kegiatan ekstra kurikuler perguruan tinggi seni, seperti misalnya ISI Denpasar secara berkesinambungan melaksanakan workshop-‐workshop pendidikan karakter untuk mahasiswa seperti anti narkoba, anti rokok, anti HIV, dan anti korupsi. Sejak tiga tahun belakangan ini ISI Denpasar juga telah memprogramkan agar mahasiswa diberikan pelajaran tentang bela negara, baik secara eksplisit dalam bentuk mata kuliah khusus atau secara implisit dalam beberapa mata kuliah terkait.
4. Penutup
Adanya kecendrungan melemahnya karakter kebangsaan kita belakangan ini harus ditinjau dari berbagai segi dan secara holistik. Sudah saatnya bangsa Indonesia menata kembali perhatiannya terhadap pembangunan bidang sumber daya manusia. Ilmu pengetahuan modern dan teknologi yang selama ini seolah dijadikan domain pembangunan Indonesia memang banyak memberikan kemudahan, akan tetapi kini mengalami berbagai anomali yang membuat kita harus menata kembali hakekat makna dan realitas semesta. Ketika penerapan sain modern ternyata tidak mampu menata masalah kemanusiaan dan sosial yang sangat kompleks, akhirnya bidang-‐bidang ilmu humaniora seperti misalnya seni budaya dengan segala manifestasinya memiliki peluang sebagai “lata
mahosadi” (obat mujarab) untuk membangun karakter kebangsaan kita.
Perguruan tinggi seni Idonesia sebagai lembaga pendidikan formal yang “mengibarkan bendera seni” telah berbuat banyak dalam membangun seniman dan desainer berkarakter kebangsaan. Mulai dari tataran kebijakan perguruan tinggi seni telah menetapkan visi dan misi, rencana strategi, dan rencana
operasional untuk melahirkan sarjana seni yang tidak hanya trampil dalam berkarya akan tetapi juga memiliki olah gagasan, kritis, kreatif, inovatif, dan memiliki sensibilitas rasa yang tinggi, sebagai salah satu ciri kaum arif atau cendekiawan. Dengan kompetensi seperti di atas seorang sarjana seni diyakini dapat berkiprah dan mengabdikan ilmunya di masyarakat. Dengan kompetensi yang disebutkan terakhir, yaitu memiliki sensibilitas rasa seorang sarjana seni akan mudah bergaul dan secara tulus iklas ikut membantu mengatasi berbagai problema di masyarakat, tentu sesuai dengan bidang ilmu yang dimiliki. Pada umumnya mereka memiliki wawasan yang lebih luas dalam memaknai pergaulan, menganggap perbedaan sebagai kekuatan, kerjasama sebagai jalan terbaik memecahkan masalah, dan yang tidak kalah pentingnya mereka bangga menjadi warga negara Republik Indonesia.
Pada tataran operasional, melalui skhema tri dharma, perguruan tinggi seni telah menerapkan prinsip-‐prinsip kebangsaan melalui proses belajar mengajar yang terbuka dengan memberi peluang kepada mahasiswa untuk menjalin kebersamaan lewat kerja praktek, workshop, dan kolaborasi. Pada kegiatan penelitian dan penciptaan seni, mahasiswa dan dosen perguruan tinggi seni telah terbiasa bekerjasama untuk memecahkan masalah dan menyelesaikan pekerjaan. Sementara dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat perguruan tinggi seni secara terstruktur melakukan kegiatan luar kampus guna mendekatkan mahasiswa kepada masyarakat melalui program-‐program seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN), pergelaran dan pameran ke desa-‐desa, membantu masyarakat dalam membangun seni, dan melakukan kegiatan magang kepada maestro. Dengan kegiatan tri dharma ini perguruan tinggi seni tidak hanya berhasil membangun kerakter kebangsaan untuk mahasiswa akan tetapi juga berdampak sistemik terhadap pembangunan karakter kebangsaan bagi masyarakat yang lebih luas.
Pustaka Acuan
Amien, A. Mappadjantji. 2005. Kemandirian Lokal: Konsepsi Pembangunan,
Organisasi, Pendidikan dari Perspektif Sains Baru. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
___________________________. 2005. Belajar Merajut Realitas. Makasar: Hasanudin University Press.
Barker, Chris. 2005. Cultural Studies: Teori dan Praktek. Bandung: PT Bentang Pustaka.
Burhanuddin. 2003. “Pendahuluan”, dalam Burhanuddin ed., Mencari Akar
Kultural Civil Society di Indonesia. Jakarta: INCIS.
Dewan Analisis Straegis. 2013. “Indonesia Outlook 2014-‐2019: Memperkuat Posisi Indonesia Dalam Dunia Yang Sedang Berubah”, Jakarta: Badan Intelejen Negara.
Giddens, Antony. 2009. Konskwensi-‐Konskwensi Modernitas. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Hefner, Robert W (Editor). 2011. Politik Multikulturalisme: Menggugat Rasa
Kebangsaan. Yogyakarta: kanisius.
Johan. 2011. “Perilaku Musikal dan Kepribadian Kreatif”, Pidato Pengukuhan Guru Besar Pada Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta.
Lickona, T. 2012. Educating For Character: How Our School Can Teach Respect
and Responsibility (Terjemahan oleh Wamaungo), Jakarta: PT Bumi
Aksara.
Lubis, M. Safrinal dkk. 2007. Jagat Upacara: Indonesia dalam Dialektika yang
Sakral dan yang Profan. Yogyakarta: Ekspresi Buku.
Murgiyanto, Sal. 1994. “Aktualisasi Seni Tradisi Pada Masyarakat Urban”, makalah Seminar Seni Pertunjukan, Yogyakarta: MSPI Komda Yogyakarta.
___________________. 2013. “Mengukir Prestasi Di Era Globalisasi: ISI Denpasar Menuju Pusat Unggulan Seni Budaya”. Pidato Ilmiah disampaikan dalam rangka Dies Natalis X dan Wisuda XI ISI Denpasar, Tanggal 28 Juli 2013.
___________________. 2015. “Pendidikan, Kesenian, dan Kasih”. Pidato Ilmiah disampaikan pada acara Syukuran 45 Tahun Institut Kesenian Jakarta, Tanggal 26 Juni 2015.
Sunandar, Asep (Editor). 2015. Prof. Son Sang Pendidik Multikultural, Malang: Intelegensia Media.
Supriadi, Dedi. 1994. Kreativitas, Kebudayaan dan Perkembangan Iptek. Bandung: CV ALFABETA.
Sutrisno, Mudji dan Hendar Putranto. 2005. Teori-‐Teori Kebudayaan, Yogyakarta: Kanisius.
Tim Penyusu. 2011. “Rencana Strategis Institut Seni Indonesia Denpasar Tahun 2010-‐2014”. Denpasar: ISI Denpasar.
Tim Penulis. 2013. Terobosan Kemdikbud 2010-‐2013. Jakarta: Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat.