• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Diskriminasi Terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Diskriminasi Terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Konsep Hak Asasi Perempuan tidak lepas dari perbincangan mengenai Hak Asasi Manusia (HAM), Hak Konstitusional dan Konvensi Penghapusan Diskriminasi Terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms Discrimination Against Women) atau bisa disingkat dengan Konvensi CEDAW. Hak Asasi Perempuan sendiri dimaknai sebagai hak yang dimiliki oleh seorang perempuan, baik karena ia seorang manusia maupun sebagai seorang perempuan. Definisi tersebut mengindikasikan bahwa Hak Asasi Perempuan merupakan bagian dari hak asasi manusia adalah Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan dan perlindungan harkat dan martabat manusia.

Lahirnya konsep Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai sebuah isu penting terjadi karena munculnya kesadaran manusia akan pentingnya mengakui, menghormati dan mewujudkan eksisitensi kemanusiaan manusia secara utuh. Sistem ini meliputi berbagai instrumen hukum dan perangkat pelaksanaan sistem hukum baik di tingkat Nasional, Regional maupun Internasional.

Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan hak-hak individu yang paling fundamental yang mencakup hak-hak atas hidup dalam bidang politik, hukum, ekonomi, sosial, dan budaya. Hak tersebut merupakan kebutuhan mendasar yang

(2)

harus dimiliki setiap individu dan kelompok masyarakat tanpa membedakan suku, agama, jenis kelamin, dan sebagainya.1 Hak asasi manusia bersifat universal yang berarti melampaui batas-batas negeri, kebangsaan, dan di tunjukan kepada setiap orang baik miskin maupun kaya, laki-laki atau perempuan, normal maupun penyandang cacat dan sebaliknya.

Dikatakan universal karena hal-hak ini dinyatakan sebagai bagian dari kemanusiaan setiap sosok manusia, tak peduli apapun warna kulitnya, jenis kelaminnya, usianya, latar belakang kultural dan agama atau kepercayaan spiritualitasnya.2 Hal tersebut tertuang dalam Pasal 2 Universal Declaration of Human Right (UDHR), bahwa setiap orang berhak atas hak asasi nya tanpa dibeda-bedakan.

Lahirnya Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia membawa konsekuensi negara-negara anggota PBB untuk menyatakan bahwa mereka mengakui hak-hak setiap orang sebagai hak asasi yang harus dihormati, guna mencegah atau setidaktidaknya mengurangi berbagai tindakan dan kebijakan negara yang sewenang-wenang terhadap individu-individu warganya. Berdasarkan deklarasi ini semua negara menyatakan kewajibannya untuk menghormati (to respect), melindungi (to protect), dan memenuhi (to fulfil) hak-hak asasi setiap warganya.3

Hak dalam hak asasi mempunyai kedudukan atau derajat utama dan pertama dalam hidup bermasyarakat karena keberadaan hak asasi hakikatnya telah

1HM. Suaib Didu, Hak Asasi Manusia : Perspektif Hukum Islam Hukum

Internasional,Iris, Bandung, 2008, Hlm. 17.

2A. Masyhur Effendy, Perkembangan dimensi Hak Asasi Manusia(HAM) & Proses

Dinamika Penyusunan Hukum Asasi Manusia (HAKHAM), Ghalia Indonesia, 2005, hlm. 127

3H. Muladi, Hak Asasi Manusia Hakekat, Konsep dan Implikasinya dalam Prespektif

(3)

dimiliki, disandang dan melekat dalam pribadi manusia sejak saat kelahirannya. Seketika itu pula muncul kewajiban dari manusia lain untuk menghormatinya.

Saat ini, tidak ada satupun aspek kehidupan yang kita jalankan bisa keluar dari hak asasi manusia. Maka pembahasan utama saat ini adalah permasalahan hak asasi manusia. Masalah perlindungan internasional hak asasi manusia ini sudah diatur secara baik dalam hukum internasional hak asasi manusia yang secara khusus mengatur mengenai perlindungan individu dan kelompok dari pelanggaran berat hak asasi manusia yang dilakukan oleh aparat pemerintah.

Namun, pelanggaran terhadap hak asasi manusia masih sering terjadi. Pengekangan kebebasan atas hak-hak yang dimiliki seseorang, pendiskriminasian suatu etnis, gender sampai pada pemusnahan suatu kelompok tertentu masih saja terjadi. Pelanggaran-pelanggaran tersebut masih ada dan terjadi di tengah-tengah masyarakat internasional yang menjunjung tinggi persamaan dan martabat kehidupan manusia.

Konsep Hak Asasi Manusia (HAM) yang pada hakikatnya juga konsep tertib dunia akan menjadi cepat dicapai apabila diawali dari tertib politik dalam setiap negara. Artinya kemauan politik pemerintah, antara lain berisi tekad dan kemauan untuk menegakkan hak asasi manusia dapat menjadi awal masalah.4

Salah satu permasalahan Hak Asasi Manusia (HAM) yang sering terjadi adalah perlakuan diskriminasi terhadap gender, dimana perempuan menjadi korban paling banyak terhadap diskriminasi. Diskriminasi yang banyak terjadi

4Jimly Asshidiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, Konstitusi Press, Jakarta, 2006, hlm. 152.

(4)

berada di dalam kategori pekerjaan, ternyata masih banyak perempuan yang menjadi pengangguran di seluruh dunia.5

Perempuan merupakan sumber daya yang jumlahnya cukup besar, bahkan di seluruh dunia melebihi jumlah laki-laki. Namun perempuan yang berpartisipasi di sektor publik berada jauh di bawah laki-laki. Oleh karena itu perempuan membutuhkan akses ke pendidikan dan pelatihan supaya bisa berpartisipasi dalam dunia ekonomi digital. Dibahas pula soal diskriminasi terhadap perempuan saat melamar kerja, diskriminasi soal gaji. Lalu ada pernyataan bahwa perempuan hanya bekerja di sektor-sektor seperti kesehatan dan pendidikan, tidak bisa bekerja di konstruksi, produksi industrial, engineering, dan lain-lain.6 Akibat diskriminasi tersebut membuat timbulnya ketidak setaraan gender.

Kesetaraan gender merupakan suatu keadaan setara antara laki-laki dan perempuan dalam hak secara hukum dan kondisi atau kualitas hidupnya sama. Kesetaraan gender merupakan salah satu hak asasi setiap manusia. Gender itulah yang pembedaan peran, atribut, sifat, sikap dan perilaku yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Peran gender terbagi menjadi peran produktif, peran reproduksi serta peran sosial kemasyarakatan. Akan tetapi pada kenyataannya sampai saat ini, perempuan seringkali dianggap lemah dan hanya menjadi sosok pelengkap. Terlebih lagi adanya pola berpikir bahwa peran perempuan hanya sebatas bekerja di dapur, sumur, mengurus keluarga dan anak, sehingga pada akhirnya peran di luar itu menjadi tidak penting. Istilah kesetaraan gender sering terkait dengan istilah diskriminasi terhadap perempuan, subordinasi, penindasan, perilaku tidak adil dan semacamnya. Diskriminasi gender, menyebabkan kerentanan terhadap perempuan dan anak perempuan serta berpotensi pada terjadinya kekerasan terhadap perempuan dalam berbagai bidang kehidupan. Oleh karena itu, banyak bermunculan program atau kegiatan, terutama dilakukan oleh beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), untuk memperbaiki kondisi perempuan, yang biasanya berupa pelatihan tentang isu-isu gender, pembangkitan kesadaran perempuan, dan pemberdayaan perempuan dalam berbagai segi kehidupan ekonomi, sosial dan politik. Namun, hal ini justru

5Ibid, hlm. 146.

6Jawahir Thontowi, Ph,d, Teori Feminisme Dalam Hubungan Internasional, Yogyakarta, 2016, hlm. 40.

(5)

berbanding terbalik dengan realita bahwa perempuan ternyata mempunyai peranan yang sangat besar dalam berbagai bidang, baik dalam bidang ekonomi, politik, maupun sosial, bahkan peranan perempuan justru sangat dirasakan oleh masyarakat luas.7

Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita atau biasa yang dikenal dengan CEDAW (Convention on the Elimination of Discrimination Against Women) adalah instrumen internasional yang merupakan salah satu konvensi hak asasi manusia. Melalui perjalanan panjang sejak dicetuskannya Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa sedunia tentang perempuan di Mexico City, perjuangan kaum perempuan untuk mendapat perlakuan yang sama dengan kaum laki-laki disahkan oleh PBB pada tahun 1979. Secara juridis (de jure) hak-hak perempuan di bidang ekonomi, sosial, budaya, sipil dan politik yang menjadi substansi dari Konvensi CEDAW, telah diakui dunia internasional termasuk Indonesia yang telah meratifikasi konvensi tersebut pada tahun 1984 dan sekaligus berkewajiban untuk melaksanakannya.8

Meskipun CEDAW telah diratifikasi oleh beberapa Negara, namun fakta menunjukkan bahwa perempuan masih memiliki kesempatan lebih sedikit daripada laki-laki untuk berpartisipasi dalam bidang politik, mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik, dan mendapatkan kesempatan untuk belajar. Kesetaraan gender sangat penting untuk realisasi hak asasi manusia untuk semua.

7

http://siteresources.worldbank.org/INTGENDER/Resources/indonesiansumm.pdf. Diakses pada tanggal 02 September 2020.

8Prof. DR. Komariah Emong Supardjaja,SH, Laporan Akhir Kompendiumtentang Hak-Hak Perempuan, Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Hukum dan HAM, 2006, hlm 1, Diakses pada tanggal 19 Maret 2021.

(6)

Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana prinsip pokok CEDAW (The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) diimplementasikan dalam keadaan darurat sebagai wujud tanggung jawab khususnya negara Indonesia yang telah meratifikasi CEDAW (The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women).

Contoh Kasus yang terjadi di Perusahaan Aice terdapat diskriminasi terhadap pekerja wanita yang dialami oleh salah satu buruh wanita yang kondisinya bisa dibilang dalam keadaan darurat, yaitu:

“Elitha, perempuan berusia 25 tahun ini sudah berusaha mengajukan pemindahan divisi kerja karena penyakit endometriosisnya kambuh. Tapi apa daya, perusahaan justru mengancam akan menghentikannya dari pekerjaan. Elitha terdesak dan tidak punya pilihan lain selain terus bekerja. Akhirnya, dia pun mengalami pendarahan hebat akibat bobot pekerjaannya yang berlebihan. Elitha terpaksa melakukan operasi kuret pada Februari lalu, yang berarti jaringan dari dalam rahimnya diangkat. Elitha hanya satu dari banyak buruh perempuan yang hak-haknya terabaikan oleh Aice. Sarinah, Juru Bicara Federasi Serikat Buruh Demokratik Kerakyatan (F-SEDAR), yang mewakili serikat buruh Aice, menyatakan bahwa sejak tahun 2019 hingga saat ini sudah terdapat 15 kasus keguguran dan enam kasus bayi yang dilahirkan dalam kondisi tak bernyawa dialami oleh buruh perempuan Aice. Pihak Aice telah membantah tuduhan tersebut. Perwakilan Aice, Simon Audry Halomoan Siagian, menyatakan bahwa pihaknya sudah melarang perempuan yang sedang hamil untuk bekerja di shift malam. Namun terlepas dari penjelasan yang diberikan, Aice tetap mendapat kecaman dari berbagai pihak dan bahkan menghadapi aksi boikot. Tapi perjuangan untuk meperjuangkan hak-hak buruh perempuan tampaknya masih jauh karena masih banyak perusahaan yang menelantarkan hak-hak buruh-buruh perempuan mereka demi mengejar efisiensi dan efektivitas produksi perusahaan. Para pengamat buruh dan gender berargumen praktik penindasan hak buruh perempuan merupakan akibat dari pelanggengan budaya patriarki di sektor ketenagakerjaan di Indonesia.”9

9 https://theconversation.com/kasus-aice-dilema-buruh-perempuan-di-indonesia-dan-pentingnya-kesetaraan-gender-di-lingkungan-kerja-133010, Diakses pada tanggal 11 Februari 2021.

(7)

Pada contoh kasus di atas pekerja wanita tersebut sedang dalam keadaan hamil yang bisa dibilang ia sedang dalam kondisi darurat. Oleh karena itu, kaum Perempuan sebagai manusia yang mempunyai harkat dan martabat kemanusiaan, maka eksistensi kemanusian mereka juga harus dijunjung tinggi, diakui dan dihormati, dilindungi dan dipenuhi oleh negara. Secara khusus Hak Asasi Perempuan diatur dalam CEDAW (Convention on the Elimination of All Forms

Discrimination Against Women), pengaturan mengenai Hak Asasi Perempuan,

memberikan tanggungjawab dan mewajibkan negara untuk menghormati (to respect) melindungi (to protect), dan memenuhi (to fulfill) Hak Asasi Perempuan tersebut.

Konvensi CEDAW (The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) diratifikasi Indonesia dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 Tentang Penghapusan Diskriminasi Terhadap Perempuan, hal tersebut mengikat Indonesia untuk melaksanakan perlakuan untuk tidak membeda-bedakan hak-hak perempuan dan laki-laki di segala bidang kehidupan. Hak-hak perempuan yang diakui secara de jure, tidak diperlakukan secara diskriminatif oleh negara, namun secara de facto, perlakuan tersebut masih dengan jelas terjadi.

Untuk memenuhi kebutuhan hukum bagi penegak hukum yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, yang tidak membedakan setiap warganegaranya terutama perempuan, diperlukan suatu cara untuk menginventarisasi dan mengumpulkan berbagai dokumen dan pemikiran para

(8)

pakar hukum, bagaimana sebaiknya hukum nasional mengantisipasi dan menghadapi perubahan-perubahan dimasa mendatang.

Maka berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan di atas penulis merasa tertarik untuk melakukan analisis lebih lanjut mengenai “ Pengaturan Hak Asasi TerhadapPerempuan Dalam Kondisi Darurat Menurut Cedaw

(The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women)”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana telah dijelaskan diatas, maka penulis merumuskan permasalahan sebagai pokok penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana pengaturan hak-hak perempuan dalam kondisi darurat menurut CEDAW (The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women)?

2. Bagaimana peranan CEDAW (The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) dalam menerapkan hak-hak perempuan dalam mencapai kesetaraannya?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang telah penulis kemukakan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui hak-hak asasi terhadap perempuan dalam kondisi darurat menurut CEDAW (The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women).

(9)

2. Untuk mengetahui peranan CEDAW (The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) dalam menerapkan hak-hak perempuan dalam mencapai kesetaraannya.

D. Manfaat Penelitian

Suatu penelitian akan bernilai apabila dapat memberi manfaat bagi berbagai pihak. Adapun manfaat dari penulisan ini adalah:

1. Adapun manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari penelitian ini adalah penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih bagi pengembangan studi Hubungan Internasional dalam bidang Civil Society dan Women Empowerment. Kemudian penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi dan menjadi bahan kajian para mahasiswa, khususnya studi Hukum Internasional serta pemerhati masalah internasional, seperti Hak Asasi Manusia, Kesetaraan Gender, dan Women Empowerment.

2. Adapun manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari penelitian ini adalah penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi organisasi-organisasi lainnya yang berfokus pada pemberdaayaan perempuan khususnya dalam bidang pendidikan.

E. Landasan Teori

Landasan teori dalam penelitian hukum adalah unsur yang sangat penting. Dalam memperjelas dan menunjang pembahasan dari permasalahan di atas, maka penggunaan beberapa teori, konsep serta asas-asas hukum sangat diperlukan. Teori hukum mempelajari hukum dengan tujuan memberikan pemahaman yang

(10)

lebih baik dan terutama lebih mendasar tentang hukum. Landasan teori yang dipergunakan untuk menganalisis permasalahan hukum dalam penelitian ini antara lain:

1. Teori Hak Asasi Manusia

Hak asasi manusia telah menjadi bahasan sehari-hari dan telah digunakan baik dikalangan birokrasi, militer maupun dikalangan masyarakat umum. Untuk memahami pembahasan konsep tentang Hak Asasi Manusia maka pengertian hak menjadi penting. Hak merupakan unsur normatif yang berfungsi sebagai pedoman berprilaku dan melindungi kebebasan, kekebalan serta menjamin adanya peluang bagi manusia dalam menjaga harkat dan martabatnya.10

Terdapat pula pembagian dalam teori hak asasi manusia ini antara lain: a. Teori Hak Kodrati (Natural Rights Theory)

HAM (Hak Asasi Manusia) adalah hak-hak yang dimiliki oleh semua orang setiap saat dan di semua tempat oleh karena manusia dilahirkan sebagai manusia. Hak-hak tersebut termasuk hak untuk hidup, kebebasan dan harta kekayaan. Pengakuan tidak diperlukan bagi HAM (Hak Asasi Manusia), baik dari pemerintah atau dari suatu sistem hukum, karena HAM (Hak Asasi Manusia) bersifat universal. Berdasarkan alasan ini, sumber HAM (Hak Asasi Manusia) sesungguhnya semata-mata berasal dari kodrat manusia secara alamiah.

b. Teori Hak Positivisme

10Muhammad Alim, Demokrasi dan Hak Asasi Manusia Dalam Konstitusi Madinah dan

(11)

Tidak semua pihak setuju dengan pandangan teori hak-hak kodrati, teori positivis termasuk salah satunya. Teori positivisme secara tegas menolak pandangan teori hak -hak kodrati. Penganut teori ini berpendapat, bahwa mereka secara luas dikenal dan percaya bahwa hak harus berasal dari suatu tempat. Kemudian, hak seharusnya diciptakan dan diberikan oleh konstitusi, hukum atau kontrak. Keberatan utama teori positivisme ini adalah karena hak-hak kodrati sumbernya dianggap tidak jelas. Menurut positivisme suatu hak mestilah berasal dari sumber yang jelas, seperti dari peraturan perundang-undangan atau konstitusi yang dibuat oleh negara.11 c. Teori Relativisme Budaya

Teori relativisme budaya (cultural relativist theory) yang memandang teori hak-hak kodrati dan penekanannya pada universalitas sebagai suatu pemaksaan atas suatu budaya terhadap budaya yang lain yang diberi nama imperalisme budaya (cultural imperalism). Menurut para penganut teori relativisme budaya, tidak ada suatu hak yang bersifat universal. Mereka merasa bahwa teori hak-hak kodrati mengabaikan dasar sosial dari identitas yang dimiliki oleh individu sebagai manusia. Manusia selalu merupakan produk dari beberapa lingkungan sosial dan budaya dan tradisi-tradisi budaya dan peradaban yang berbeda yang memuat cara-cara yang berbeda menjadi manusia yang hidup di latar kultur yang berbeda pula.12

11Jaka Isgiyarta, Telaah Kritis Filsafat Positivisme Untuk Pengembangan Teori Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang.pdf, Diakses pada tanggal 14 Maret 2021.

12https://dwicahyo15blog.wordpress.com/2018/04/01/teori-hak-asasi-manusia/. Diakses pada tanggal 7 Agustus 2020.

(12)

2. Teori Kesetaraan Gender

Kesetaraan dan keadilan gender adalah suatu kondisi dimana porsi dan siklus sosial perempuan dan laki-laki setara, seimbang dan harmonis. Kesetaraan gender mengupayakan bagaimana laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan untuk merealisasikan hak-hak dan potensinya untuk memberikan kontribusi pada perkembangan politik, ekonomi, sosial, dan budaya, serta sama-sama dapat menikmati hasil dari perkembangan itu.13

Bentuk keadilan dan kesetaraan gender dapat dilakukan dengan hal-hal berikut ini:14

1. Menerima dan memandang secara wajar perbedaan pada laki-laki dan perempuan, karena adanya penghormatan pada perbedaan termasuk wujud dari ketidakadilan gender.

2. Mendiskusikan bagaimana cara merombak struktur masyarakat yang membedakan peran dan relasi antara laki-laki dan perempuan, serta berupa menyeimbangkannya.

3. Meneliti kemampuan dan bakat masing-masing warga negara, baik laki-laki maupun perempuan, untuk terlibat dalam pembangunan masyarakat, memecahkan problem-problemnya dan mempersiapkan masa depannya.

4. Memperjuangkan secara terus menerus hak asasi manusia, dimana gender merupakan salah satu dari bagiannya yang tak terpisahkan. 5. Mengupayakan perkembangan dan penegakan demokrasi dan

pemerintahan yang baik dalam semua institusi masyarakat, dengan melibatkan perempuan dalam semua levelnya.

6. Pendidikan merupakan kunci bagi keadilan gender, karena pendidikan merupakan tempat masyarakat mentransfer norma-norma, pengetahuan, dan kemampuan mereka.

Menurut Sasongko, terdapat beberapa aliran teori yang menjelaskan kesetaraan dan keadilan gender, yaitu: teori nature, teori nurture dan

13Prof Jawahir Thontowi, Asas Kesetaraan (Equality), Sinar Grafika, 2016, hlm. 45. 14

(13)

keseimbangan kedua teori tersebut yang dikenal dengan teori equilibrium. Berikut penjelasan ketiga teori kesetaraan gender tersebut:15

a. Teori Nature

Menurut teori nature adanya pembedaan laki-laki dan perempuan adalah kodrat, sehingga harus diterima. Perbedaan biologis itu memberikan indikasi dan implikasi bahwa diantara kedua jenis kelamin tersebut memiliki peran dan tugas yang berbeda. Perbedaan itu membuat perempuan selalu tertinggal dan terabaikan peran dan kontribusinya dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ada peran dan tugas yang dapat dipertukarkan, tetapi ada yang tidak bisa karena memang berbeda secara kodrat alamiahnya.

b. Teori Equilibrium

Di samping kedua aliran tersebut terdapat kompromistis yang dikenal dengan keseimbangan (equilibrium) yang menekankan pada konsep kemitraan dan keharmonisan dalam hubungan antara perempuan dengan laki-laki. Pandangan ini tidak mempertentangkan antara kaum perempuan dan laki-laki, karena keduanya harus bekerja sama dalam kemitraan dan keharmonisan dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. F. Landasan Konseptual

Supaya tidak terjadi penafsiran yang berbeda dan mempermudah dalam pembahasan skripsi ini, maka paparan kerangka konsepsional sebagai berikut:

a. Hak Asasi Perempuan

15 https://www.kajianpustaka.com/2019/04/kesetaraan-gender-teori-peran-dan-keadilan.html. Diakses pada tanggal 7 Agustus 2020.

(14)

Hak asasi perempuan adalah hak yang dimiliki oleh seorang perempuan, baik karena ia seorang manusia maupun sebagai seorang perempuan. Dalam khasanah hukum hak asasi manusia, dapat ditemui pengaturannya dalam berbagai sistem hukum tentang hak asasi manusia. Pengaturan mengenai pengakuan atas hak seorang perempuan terdapat dalam berbagai sistem hukum tentang hak asasi manusia. Sistem hukum tentang hak asasi manusia yang dimaksud adalah sistem hukum hak asasi manusia baik yang terdapat dalam ranah internasional maupun nasional.16

b. Definisi Perempuan

Pengertian perempuan secara etimologis berasal dari kata empu yang berarti “tuan”, yaitu orang yang mahir atau berkuasa, kepala, hulu, yang paling besar. Perempuan merupakan makhluk yang penuh kasih sayang dan harus dihargai karena perasaannya yang halus. Secara umum sifat perempuan yaitu keindahan, kelembutan serta rendah hati dan memelihara. Demikianlah gambaran perempuan yang sering terdengar di sekitar kita. Perbedaan secara anatomis dan fisiologis menyebabkan pula perbedaan pada tingkah lakunya, dan timbul juga perbedaan dalam hal kemampuan, selektif terhadap kegiatan-kegiatan intensional yangbertujuan dan terarah dengan kodrat perempuan.17 c. Kondisi Darurat

16

Louisa Yesami Krisnalita, Jurnal Perempuan, Ham Dan Permasalahannya Di

Indonesia, Vol.7No.1, Fakultas Hukum Universitas Krisnadwipayana, 2018, hlm. 75. Diakses

pada tanggal 20 Maeret 2021.

17http://bem-sttmigasbpp.blogspot.com/2016/03/pengertian-perempuan-dan-sejarah.html. Diakses pada tanggal 8 Agustus 2020.

(15)

Menurut FEMA (Federal Emergency Management Agency) kondisi darurat/keadaan darurat adalah kejadian yang tidak direncanakan dan tidak diinginkan yang bisa mengakibatkan kematian atau luka serius pada seseorang atau bahkan suatu masyarakat, mematikan/mengganggu proses pekerjaan, menyebabkan kerusakan fisik atau lingkungan, atau mengancam kerusakan fasilitas bangunan, atau merusak citra publik. Dan kondisi darurat/keadaan darurat menurut David A. Colling adalah segala situasi yang memerlukan respon dengan segera dikarenakan bencana yang tidak dapat diduga, tidak diharapkan dan tidak memuaskan yang dapat menyebabkan kerusakan yang besar dan kerusakan lainnya.18

G. Metode Penelitian

Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika, dan konsisten dengan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari suatu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan cara menganalisis.19 Dan metode penelitian yang digunakan dalam proposal skripsi ini adalah:

1. Tipe Penelitian

Tipe penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah tipe penelitian normatif. Dimana penelitian normatif menurut pendapat Bahder Johan Nasution dalam bukunya yang berjudul Metode Penelitian Hukum menyatakan bahwa:

18https://Analisa%2520persiapan-Literatur.pdf. Diakses pada tanggal 12 Desember 2020. 19Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI Press, Jakarta, 1981, hlm.43.

(16)

Pendekatan normatif dalam penelitian atau pengkajian ilmu hukum normatif, kegiatan untuk menjelaskan hukum tidak diperlukan dukungan data atau fakta-fakta sosial, sebab ilmu hukum normatif tidak mengenal data atau fakta sosial yang dikenal hanya bahan hukum, jadi untuk menjelaskan hukum atau untuk mencerminkan dan memberi nilai akan hukum tersebut hanya digunakan konsep hukum dan langkah-langkah yang ditempuh adalah langkah-langkah normatif.20

Dalam penelitian ilmu hukum normatif ada banyak pendekatan yang dapat digunakan sesuai dengan isi atau permasalahan yang dibahas, antara lain:

a) Pendekatan Undang-Undang atau statuta approach dan sebagai ilmuan hukum menyebutkan dengan pendekatan yuridis, yaitu penelitian terhadap produk-produk hukum.

b) Pendekatan historis, yaitu penelitian atau pengkajian terhadap perkembangan produk-produk hukum berdasarkan urutan-urutan periodesasi atau kenyataan sejarah yang melatarbelakanginya.

c) Pendekatan konseptual, yaitu penelitian terhadap konsep-konsep hukum seperti: sumber hukum, fungsi hukum, lembaga hukum, dan sebagainya. Konsep hukum ini berada pada tiga ranah tau tataran sesuai dengan tingkatan ilmu hukum itu sendiri yaitu: tataran ilmu hukum dogmatik konsep hukumnya teknis yuridis, tataran teori hukum konsep hukumnya konsep dasar.

d) Pendekatan komparatif, yaitu penelitian tentang perbandingan hukum baik mengenai perbandingan sistem hukum antar negara, maupun perbandingan produk hukum dan karakter hukum antarwaktu dalam suatu negara.

e) Pendekatan politis, yaitu penelitian terhadap pertimbangan-pertimbangan atau kebijakan elit politik dan partisipasi masyarakat dalam pembentukan dan penegakkan berbagai produk hukum.

f) Pendekatan kefilsafatan, yaitu pendekatan mengenai bidang-bidang yang menyangkut dengan objek kajian filsafat hukum yang meliputi: 1. Ontologi hukum, yaitu mengkaji hakekat hukum seperti hakekat

demokrasi, hubungan hukum dengan moral, dan sebagainya. 2. Aksiologi hukum, yaitu mempelajari isi dari nilai seperti nilai

kebenaran, nilai keadilan, nilai kebebasan dan sebagainya.

3. Epistemologi hukum, yaitu cara mendapatkan ilmu pengetahuan yang benar tentang ilmu hukum.

4. Teleologi hukum, yaitu menentukan isi dan tujuan hukum.

5. Ideologi hukum, yaitu pemahaman secara menyeluruh tentang manusia dan masyarakat.

20 Bahder Johan Nasution. Metode Penelitian Hukum, cetakan 1. Mandar Maju, Bandung, 2008, hlm.87.

(17)

6. Logika hukum, yaitu mempelajari kaidah-kaidah berpikir secara hukum dan argumentasi hukum.

7. Keilmuan hukum, yaitu merupakan meta teori bagi hukum.21 2. Pendekatan Penelitian

Pendekatan masalah dalam penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan pendekatan permasalahan terhadap permasalah yang diteliti, metode pendekatan masalah yang diguanakan adalah pendekatan Perundang-undangan (Statue Approach), pendekatan konsep (Conceptual Approach), pendekatan perbandingan (Comparative Approach), pendekatan Analitis (Analytical Approach), Pendekatan Historis (Historical Approach), dan pendekatan Kasus (Case Approach).22

3. Bahan Penelitian Hukum

Sumber penelitan yang digunakan oleh penulis adalah bahan sekunder, yaitu yang berasal dari berbagai literatur baik berupa buku maupun perundang-undangan. Dalam pengelompokkannya dapat dikelompok kan menjadi:

a. Bahan Hukum Primer

Yaitu bahan-bahan hukum yang mempunyai kaitan kuat dengan judul yakni bahan hukum internasional dan bahan hukum nasional seperti Perjanjian Internasional (treaty), Deklarasi (declaration), dan Konvensi (convention) yang berhubungan dengan pengaturan tentang Hak Asasi Manusia (HAM), Kesetaraan Gender dan Women Empowerment, yaitu: 1. CEDAW (The Convention on the Elimination of All Forms of

Discrimination Against Women)

21 Ibid, hlm. 92-93

22Johnny Ibrahim. Teori dan Metode Penelitian Hukum Normatif. Malang: Bayumedia Publishing, 2010.hlm.57

(18)

2. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. b. Bahan Hukum Sekunder

Ialah bahan hukum yang terdiri atas buku-buku teks yang ditulis para ahli hukum yang berpengaruh, jurnal-jurnal hukum, pendapat para sarjana, kasus-kasus hukum, yurisprudensi.23

c. Bahan hukum tersier, adalah bahan hukum yang memberikan petunjuk atau penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus hukum, dan ensiklopedia.24

4. Analisis Bahan Hukum

Hasil analisis dituangkan dalam bentuk uraian yang bersifat deskriptif kualitiatif, yaitu suatu uraian yang menggambarkan permasalahan serta pemecahan secara jelas dan lengkap berdasrkan bahan hukum yang diperoleh. Analisis dilakukan dengan cara:

a. Menginterventasi semua peraturan perundang-undangan sesuai dengan permasalahan yang dibahas.

b. Mengsistematisasi perundang-undangan yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti.

c. Menginterprestasi bahan-bahan hukum yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

H. Sistematika Penulisan

Untuk memperoleh gambaran secara jelas dan rinci atas seluruh materi skripsi ini secara sistematis dan untuk memudahkan dalam menghubungkan serta

23Ibid.,hlm.296. 24

(19)

memahami antara bab yang satu dengan bab yang lainya, maka disusunlah sistematika penulisan skripsi ini dalam 4 (empat) bab, tiap-tiap bab dirinci lagi kedalam bagian terkecil sesuai dengan kebutuhan. Berikut ini adalah uraian singkat pembahasan masing-masing bab yang terdiri dari:

BAB I : Pendahuluan dalam bab ini menggambarkan secara ringkas latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, landasan teoritis, kerangka konseptual dan metode penelitian serta sistematika penulisan.

BAB II : Pada bab ini berisi tentang tinjauan umum hak asasi perempuan dan gambaran umum tentang sejarah hak asasi manusia di internasional, sejarah CEDAW (The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Againts Women), instrumen DUHAM (Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia) dan CEDAW (The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Againts Women) dan Diskriminasi.

BAB III : Pada bab ini merupakan inti pembahasan sesuai dengan perumusan masalah mengenai Pengaturan Hak Asasi terhadap Perempuan dalam kondisi darurat menurut CEDAW (The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Againts Women)

BAB IV : Pada bab terakhir atau penutup yang memuat kesimpulan dan saran dari apa yang telah diuraikan penulis dalam bab sebelumnya

Referensi

Dokumen terkait

(3) Belanja yang bersifat mengikat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan belanja yang dibutuhkan secara terus menerus dan harus dialokasikan oleh pemerintah

Konsep perkembangan megacities yang akan diterapkan merupakan kerjasama lintas daerah dari Kota Jakarta, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kabupaten Bekasi,

Dari dua puluh kesalahan yang dikemukakan oleh Darsel diatas maka kesalahan yang masih sering dilakukan oleh kepala dalam melaksanakan supervisi kepada guru

Hambatan atau faktor penghambat Ditpolair Polda Lampung dalam melakukan penegakan hukum terhadap nelayan yang menggunakan alat tangkap ikan illegal dalam hal ini

Secara praktis hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yakni pelaksanaan pembelajaran kitab Nadzam Hidayatus Shibyan (Syifaul

Informasih yang diperoleh dari hasil analisis daya dukung secara umum akan menyangkut masalah kemampuan (daya dukung) yang dimiliki oleh suatu daerah dalam mendukung

Yaitu ilmu yang menerangkan arti dan maksud-maksud sumpah Tuhan atau sumpah-sumpah lainnya yang terdapat di dalam

Hal ini dibuktikan dengan hasil analisis deskriptif yang membuktikan adanya peningkatan nilai rata – rata arus kas operasi dan adanya fluktuasi atas harga saham,