ABSTRAK
SETIA RIFAYANI DAMAI. Pengaruh penyulingan (metode uap) terhadap rendemen dan mutu fisik minyak sereh wangi (di bawah bimbingan ELISA GINSEL POPANG).
Penelitian ini dilatar belakangi karena pada saat sekarang ini minyak sereh wangi mempunyai harga pasaran yang tinggi, minyak sereh merupakan komoditi di sektor agribisnis yang memiliki pasaran bagus dan berdaya saing kuat di pasaran luar negeri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung rendemen serta menguji kualitas mutu dari minyak sereh wangi dengan menggunakan metode uap.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pemgolahan Minyak Atsiri dan Laboratorium Kimia Analitik Program Studi Teknologi Pengolahan Hasil Perkebunan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Variabel bebas pada penelitian ini berupa perlakuan lama penyulingan (3 jam, 3,5 jam, 4 jam, 4,5 jam dan 5 jam). Kemudian dilakukan analisis terhadap rendemen, bobot jenis, indeks bias dan warna. Hasil yang diperoleh dilanjutkan dengan analisis statistik.
Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa penyulingan metode uap yang digunakan tidak berbeda nyata terhadap rendemen, bobot jenis, indeks bias dan warna. Semakin lama penyulingan terhadap minyak atsiri maka rendemen ya ng dihasilkan semakin tinggi. Berdasarkan analisis sidik ragam, perlakuan lama penyulingan untuk rendemen, bobot jenis, indeks bias dan warna yang terbaik adalah perlakuan P0 (lama penyulingan 3 jam).
RIWAYAT HIDUP
Setia Rifayani Damai, lahir di Kota Samarinda pada tanggal 06 Mei 1987, merupakan anak ketiga dari empat bersaudara dari Ayahanda Damai Darmadi dan Ibunda Sukawati (alm).
Menyelesaikan Pendidikan Dasar pada Sekolah Dasar 0541 di Samarinda lulus pada tahun 1999, kemudian pada tahun 2002 menyelesaikan pendidikan di MTS. Darul Ikhsan Negeri Samarinda, selanjutnya pada tahun 2005 tamat Pendidikan di SPP/SPMA Negeri Samarinda. Pada tahun 2005 melanjutkan pendidikan di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Program Studi Teknologi Pengolahan Hasil Perkebunan, Jurusan Pengolahan Hasil Hutan.
Pada bulan Juni 2006 melaksanakan kunjungan industri ke PTPN XIII di Waru Kabupaten Paser.
Pada Tanggal 24 sampai 29 September 2007 mengikuti Praktek Lapang di PTPN XIII di Danau Salak dan PT. Insan Bonafide di Banjarmasin Propinsi Kalimantan Selatan.
Pada tanggal 8 Maret sampai dengan 8 Mei 2008 mengikuti kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT. Bumi Jaya, Poros Tanjung - Balikpapan Kabupaten Tabalong Propinsi Kalimantan Timur.
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas Rahmat dan Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Penyusunan Karya Ilmiah ini sebagai salah satu persyaratan bagi Penulis untuk menyelesaikan studi Diploma III di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, Penulis berharap agar Karya Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Elisa Ginsel Popang, S.TP selaku Pembimbing dan Dosen Wali yang telah memberikan motivasi dan memberi petunjuk dalam menyelesaikan dan penyusunan laporan Karya Ilmiah ini.
2. Bapak Ir. Wartomo, MP selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
3. Bapak Edi Wibowo Kurniawan, S.TP.,M.Sc selaku Ketua Program Studi Teknologi Pengolahan Hasil Perkebunan dan Dosen Penguji.
4. Ibu Andi Early Febrinda, S.TP,MP selaku dosen penguji seminar proposal atas semua bimbingan serta saran yang membangun untuk penulis.
5. Seluruh staf pengajar Program Studi Teknologi Pengolahan Hasil Perkebunan yang telah menstranformasi ilmu pengetahuan dan dorongan moril hingga selesainya pendidikan ini.
6. Seluruh staf administrasi Program Studi Teknologi Pengolahan Hasil Perkebunan yang banyak membantu menyediakan sarana dan prasarana demi terselenggaranya proses belajar mengajar.
7. Orangtua tercinta yang telah memberikan dorongan dan kepercayaan untuk menyelesaikan pendidikan pada Politeknik Pertanian Negeri Samarinda pada Jurusan Pengolahan Hasil Hutan Program Studi Teknologi Pengolahan Hasil Perkebunan atas perhatian dan amal baik yang Bapak / Ibu berikan, semoga Tuhan Yang Maha Esa akan memberikan pahala yang setimpal.
8. Terimakasih sebesar-besarnya untuk sahabatku Ezra Saliber, Dewi Mawar, Rindawati, Asnani, Poltak FG Aritonang yang telah banyak memberikan saran dan mendukung penulis hingga selesainya Karya Ilmiah ini.
9. Rekan-rekan mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.
Penyusunan Karya Ilmiah ini sebagai salah satu persyaratan bagi Penulis untuk menyelesaikan studi Diploma III di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Penulis berharap agar Karya Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Penulis
DAFTAR ISI Halaman HALAMAN PENGESAHAN... ii ABSTRAK... iii RIWAYAT HIDUP……….. iv KATA PENGANTAR... v DAFTAR ISI... vi
DAFTAR TABEL... vii
DAFTAR GAMBAR... viii
DAFTAR LAMPIRAN... ix
I. PENDAHULUAN... 1
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Tentang Sereh Wangi... 3
B. Tinjauan Umum Minyak Atsiri... 4
C. Sejarah dan Perkembangan Minyak Sereh Wangi... 6
D. Komposisi Kimia Minyak Sereh Wangi... 7
E. Proses Penyulingan Minyak Sereh Wangi... 7
F. Syarat Mutu Minyak Sereh Wangi... 9
III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian... 14
B. Alat dan Bahan... 14
C. Prosedur Penelitian... 14
D. Pengambilan dan Analisis Data... 18
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Rendemen... 20
B. Bobot Jenis ... 22
C. Indeks Bias ... 23
D. Warna ... 25
V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan... 26
B. Saran... 26
DAFTAR PUSTAKA... 27
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Syarat Mutu Minyak Sereh Wangi yang Ditetapkan
Pemerintah RI... 8
2. Standar Mutu Minyak Sereh Wangi Indonesia Berdasarkan Sifat Fisika dan Kimia ... 9
3 Rata-rata Rendemen Tiap Perlakuan Penyulingan... 20
4. Ansira Rendemen Minyak Sereh Wangi... ... 21
5. Rata-Rata Bobot Jenis Tiap Perlakuan Penyulingan... 21
6. Ansira Bobot Jenis Minyak Sereh Wangi... ... 23
7. Rata-Rata Indeks Bias Tiap Perlakuan Penyulingan... 23
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Analisa Sidik Ragam (Ansira) Rendemen Minyak Sereh
Wangi... ... 28
2. Analisa Sidik Ragam (Ansira) Bobot Jenis Minyak Sereh Wangi... 30
3. Analisa Sidik Ragam (Ansira) Indeks Bias Minyak Sereh Wangi... 32
4. Pemanenan, Penjemuran dan Penimbangan Daun Sereh Wangi ... 34
5. Pengambilan Minyak Dan Pemisahan Minyak Dan Air ... 35
6. Analisis Indeks Bias dan Bobot Jenis... ... 36
7. Hasil Minyak Sereh Wangi Proses Penyulingan Metode Uap... ... 37
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Alat Penyulingan Metode Uap... 13 2. Diagram Alir Proses Penyulingan... 16 3. Grafik Pengaruh Lama Penyulingan Terhadap
Rendemen Minyak Sereh Wangi... 20 4. Grafik Pengaruh Lama Penyulingan Terhadap
Bobot Jenis Minyak Sereh Wangi... 22 5. Grafik Pengaruh Lama Penyulingan Terhadap
I. PENDAHULUAN
Minyak atsiri adalah produk alam yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dimana minyak atsiri adalah bahan yang mudah menguap, sehingga ia mudah dipisahkan dari bahan-bahan lain yang terdapat dalam tumbuhan. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak atsiri yang utama di dunia. Beberapa diantara minyak atsiri tersebut diekspor keluar negeri, seperti minyak nilam, minyak sereh, minyak daun cengkeh, minyak terpetin, minyak cendana, dan minyak kayu putih.
Negara kita termasuk negara penghasil minyak atsiri dan minyak ini juga merupakan komoditi yang menghasilkan devisa negara. Oleh karena itu pada tahun-tahun terakhir ini, minyak atsiri mendapat perhatian yang cukup besar dari pemerintah Indonesia. Sampai saat ini Indonesia baru menghasilkan sembilan jenis minyak atsiri yaitu minyak cengkeh, minyak kenanga, minyak nilam, minyak akar wangi, minyak pala, minyak kayu putih dan minyak sereh wangi. Dari sembilan jenis minyak atsiri ini terdapat enam jenis minyak yang paling menonjol di Indonesia yaitu minyak pala, minyak nilam, minyak cengkeh dan minyak sereh wangi.
Minyak sereh merupakan komoditi di sektor agribisnis yang memiliki pasaran bagus dan berdaya saing kuat di pasaran luar negeri. Tetapi tanaman sereh ini tampaknya masih banyak yang belum digarap untuk siap di investasi. Sebagai contoh tanaman sereh wangi, tanaman penghasil minyak atsiri yang dalam perdagangan dikenal dengan nama "eitronella oil". Nama ini
masih asing bagi sebagian orang, sebab hampir sepuluh tahun lebih sereh wangi luput dari perbincangan dan perhatian orang.
Suatu hal yang perlu diketahui bahwa pada saat sekarang ini minyak sereh wangi mempunyai harga pasaran yang tinggi sesudah minyak pala dan minyak lada. Hal ini tentu akan melipat gandakan penghasilan petani. Hanya masalahnya sekarang adalah masih banyak para petani sereh wangi yang melakukan penyulingan hanya secara tradisiona l saja. Sehingga untuk mendapatkan rendemen yang tinggi serta kualitas minyak yang dikehendaki konsumen tidak terpenuhi.
Dibalik harga yang tinggi dari minyak sereh wangi itu, minyak ini sangat sulit dicari dalam jumlah yang banyak, artinya dapat menghasilkan rendemen yang tinggi serta kualitas ekspor.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung rendemen serta menguji kualitas mutu dari minyak sereh wangi yang dihasilkan dengan penyulingan metode uap.
Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi kepada masyarakat mengenai lama penyulingan yang optimum dengan menggunakan metode uap. Sehingga lebih lanjutnya penelitian ini dapat menjadi suatu peningkatan evaluasi tentang pengetahuan kelebihan dan kekurangan proses pembuatan minyak atsiri khususnya di bidang pendidikan pengolahan hasil perkebunan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum tentang Sereh Wangi
Menurut Ketaren (1981) dalam Ginting (2004) tanaman sereh wangi (Cymbopogon nardus L) dipercayai berasal dari Selatan Ind ia atau Sri Lanka. Sereh wangi juga tumbuh liar di kebanyakan negara di Asia Tropika, Amerika dan Afrika. Di Malaysia, sereh wangi biasanya ditanam di halaman rumah sebagai tanaman dapur dan belakangan ini terdapat beberapa pengusaha yang berminat menanam sereh wangi untuk menghasilkan minyak patinya.
Tanaman penghasil minyak atsiri ini berdaun cukup lebar serta bonggol akarnya muncul sendiri ke permukaan tanah setelah berumur beberapa tahun. Tunas muda yang tumbuh dari pangkal daun induk tumbuh menjadi rumpun dan berdaun sampai lebih dari 125 cm sehingga akhirnya ujung daun dapat menyentuh tanah.
Daunnya berbentuk tirus, panjang hingga 70-80 cm dan 2-5 cm lebarnya. Berwarna hijau muda, dan mempunyai aroma yang lebih kuat jika dibandingkan dengan sereh dapur. Sereh wangi jarang berbunga dan hanya berbunga bila sudah cukup matang yaitu pada waktu tanaman berumur melebihi 8 bulan.
Tanaman sereh termasuk golongan rumput-rumputan yang disebut Andropogon nardus atau Cymbopogon nardus. Genus Cymbopogon meliputi hampir 80 spesies, tetapi hanya beberapa jenis yang menghasilkan minyak astiri yang mempunyai arti ekonomi dalam perdagangan. Diantara spesies
yang terpenting adalah Cympogon nardus atau lenabatu dari Ceylon dan Cympogon winterianus atau maha pengiri dari Jawa, yang masing- masing sumber minyak sereh wangi di Ceylon dan Jawa. Klasifikasi botani dari tanaman sereh wangi sebagai berikut:
Devisio : Anthophyta Phylum : Angiospermae Klas : Monocotyledonae Famili : Gramineae Genus : Cymbopogon
Species : Cymbopogon nardus L
B. Tinjauan Umum Minyak Atsiri
Minyak atsiri dikenal juga dengan nama minyak eteris atau minyak terbang (volatile oil) yang dihasilkan oleh tanaman. Minyak tersebut mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, mempunyai rasa getir (pungent teste), berbau wangi sesuai dengan bau tanaman penghasilnya.
Rendemen minyak yang dihasilkan dari daun sereh tergantung dari bermacam- macam faktor antara lain: iklim, kesuburan tanah, umur tanaman dan cara penyulingan.
Rendemen dipengaruhi ole h musim kemarau rata-rata 0,7 % dan musim hujan 0,5 %. Menurut De Jong rendemen minyak dari daun segar sekitar 0,5-1,2%, dan rendemen minyak di musim kemarau lebih tinggi dari pada di musim hujan. Daun sereh jenis lenabatu menghasilkan rendemen minyak 0,5%.
Umumnya larut dalam pelarut organik dan tidak larut air. Minyak atsiri ini merupakan salah satu hasil dari proses metabolisme dalam tanaman yang terbentuk karena reaksi antara berbagai persenyawaan kimia dengan adanya air. Minyak tersebut disintesa dalam sel glandular pada jaringan tanaman dan ada juga yang terbentuk dalam pembuluh resin, misalnya minyak terpentin dari pohon pinus (Ketaren, 1981 dalam Ginting, 2004).
Tanaman penghasil minyak atsiri diperkirakan berjumlah 150-200 spesies tanaman yang termasuk dalam famili Pinaceae, Labiatae, Compositae, Lauraceae, Myrtaceae dan Umbelliferaceae. Minyak atsiri dapat bersumber pada setiap bagian tanaman yaitu, dari daun, bunga, buah, biji, batang atau kulit dan akar atau rizhome.
Minyak atsiri selain dihasilkan oleh tanaman, dapat juga bentuk dari hasil degradasi oleh enzim atau terdapat dibuat secara sintesis (Richards, 1944 dalam Ginting, 2004).
Di Indonesia banyak dibuat jenis-jenis minyak atsiri, seperti minyak nilam, minyak cengkeh, minyak pala, minyak lada, minyak sereh dan lain- lain. Minyak sereh adalah salah satu minyak atsiri yang penting di Indonesia di samping minyak atsiri lainnya. Produksi minyak sereh sebelum perang dunia II menempati puncak yang tertinggi di pasaran dunia, begitu juga tentang mutunya. Akan tetapi setelah perang dunia II produksi tersebut menurun dengan cepat, sehingga penghasil minyak sereh sampai akhir tahun 1941 nilainya seperdelapan dari nilai sebelumnya (Guenther, 1987 dalam Ginting, 2004).
C. Sejarah dan Perkembangan Minyak Sereh Wangi
Di Indonesia secara umum tanaman sereh dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu sereh lemon atau sereh bumbu (Cymbopogon citratus) dan sereh wangi atau sereh sitronella (Cymbopogon nardus). Umumnya kita tidak membedakan nama sereh wangi dan sereh lemon, meskipun kedua jenis ini mudah dibedakan (Harris, 1987 dalam Ginting, 2004).
Sereh wangi di Indonesia ada 2 jenis yaitu jenis mahapengiri dan jenis lenabatu. Jenis mahapengiri mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: daunnya lebih luas dan pendek, disamping itu menghasilkan minyak dengan kadar sitronellal dan geraniol yang tinggi. Sedangkan jenis lenabatu menghasilkan minyak dengan kadar sitronellal dan geraniol yang lebih rendah. Mahapengiri dapat dikenal dari bentuk daunnya lebih pendek dan lebih luas dari pada daun yang lenabatu.
Catatan pertama di Eropa mengenai minyak sereh ditulis oleh Nicolaus Grimm, yaitu seorang tabib tentara yang belajar obat-obatan di Colombo pada akhir abad 17. Grimm menamakan rumput yang menghasilkan minyak tersebut Arundo Indica Odorata. Pengiriman dari ”Olium Siree” yang pertama sampai di Eropa adalah pada awal abad 18, pada waktu itu minyak tersebut kelihatannya hanya sedikit diekspor. Pada tahun 1851 dan 1855 sedikit contoh minyak sereh diperlihatkan di ”Word Fairs” yang diadakan di London dan Paris. Kemudian minyak ini semakin dikenal di Eropa, dan kegunaannya semakin berkembang yaitu untuk wangi- wangian sabun dan sebagai bahan dasar dalam industri wangi-wangian. Sejak tahun 1870 permintaan untuk
minyak sereh naik, dan sejumlah besar dihasilkan di Ceylon. Samapi tahun 1890 Ceylon tetap merupakan penghasil yang terbesar di dunia, meskipun Jawa sudah mulai menghasilkan minyak sereh dengan kualitas yang lebih baik. Sekarang hasil minyak tipe Jawa telah jauh melampaui tipe Ceylon. Walaupun demikian minyak Ceylon masih dapat melawan persaingan dunia, karena harganya lebih murah (Ketaren, 1985 dalam Ginting, 2004).
D. Komposisi Kimia Minyak Sereh Wangi
Komponen kimia dalam minyak sereh wangi cukup komplek, namun komponen yang terpenting adalah sitronellal dan geraniol. Kedua komponen tersebut menentukan intensitas bau, harum, serta nilai harga minyak sereh wangi. Kadar komponen kimia penyusun utama minyak sereh wangi tidak tetap, dan tergantung pada beberapa faktor. Biasanya jika kadar geraniol tinggi maka kadar sitronellal juga tinggi.
Komposisi minyak sereh wangi ada yang terdiri dari beberapa komponen, ada yang mempunyai 30-40 komponen, yang isinya antara, lain alkohol, hidrokarbon, ester, aldehid, keton, oxida, lactone, terpene dan sebagainya.
E. Syarat Mutu Minyak Sereh Wangi
Penyebab bau utama yang menyenangkan pada minyak sereh wangi adalah sitronellal, yang merupakan bahan dasar untuk pembuatan parfum, oleh kerena itu minyak yang demikian akan diperoleh dari fraksi pertama penyulingan. Khususnya di Indonesia, minyak sereh wangi yang diperdagangkan diperoleh dengan cara penyulingan daun tanaman
Cymbopogon nardus. Minyak sereh wangi Indonesia digolongkan dalam satu jenis mutu utama dengan nama “Java Citronella Oil".
Standar mutu minyak sereh wangi untuk kualitas ekspor dapat dianalisa menurut kriteria fisik yaitu berdasarkan: warna, bobot jenis, indeks bias, ataupun secara kimia, berdasarkan: total geraniol, total sitronellal.
Minyak sereh wangi tidak memenuhi syarat ekspor apabila kadar geraniol rendah. Kadar geraniol dan sitronellal yang rendah biasanya disebabkan oleh jenis tanaman sereh yang kurang baik, disamping pemeliharaan tanaman yang kurang baik serta umur tanaman yang terlalu tua. Bahan-bahan yang terdapat dalam minyak sereh wangi berupa lemak, alkohol dan minyak tanah sering digunakan sebagai bahan pencampur. Bahan ini terdapat dalam minyak sereh mungkin karena berasal dari bahan kemasan yang sebelumnya mengandung zat tersebut di atas (Ketaren, 1978 dalam Ginting, 2004).
Adapun kriteria mutu minyak sereh wangi yang ditetapkan oleh pemerintah RI dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Syarat Mutu Minyak Sereh Wangi yang Ditetapkan Pemerintah RI a Warna kuning pucat sampai kuning kecoklatan b kandungan geraniol 85 % (minimum)
c kandungan citronellol 35 % (minimum) d kelarutan dalam etanol
80 %
perbandingan volume 1:2 jernih, seterusnya sampai maksimum
e alkohol tambahan Negatif f minyak lemak Negatif
g sisa penyulingan uap 2,5 % (maksimum) h minyak pelikan Negatif
Adapun standar mutu minyak sereh wangi Indonesia berdasarkan sifat Fisika dan Kimia dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Standar Mutu Minyak Sereh Wangi Indonesia Berdasarkan Sifat Fisika dan Kimia
a Warna kuning pucat sampai kecoklatan b Bobot jenis, 25° C 0,850 - 0,892
c Indeks bias, 25° C 1,454 - 1,473 d Total geraniol, min 85 %
e Total sitronellal, min 35 %
f Alkohol -
g Minyak pelican -
h Lemak -
Sumber : Departemen Perdagangan (1974)
F. Proses Penyulingan Minyak Sereh Wangi
Menurut Ames dan Matthews (1968) dalam Ginting (2004) Minyak atsiri adalah zat cair yang mudah menguap bercampur dengan persenyawaan padat yang berbeda dalam hal komposisi dan titik cairnya, larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air. Berdasarkan sifat tersebut, maka minyak atsiri dapat diekstrak dengan 4 macam cara, yaitu penyulingan (destilation), pressing (eks-pression), ekstraksi dengan pelarut (solvent ekstraksion) dan absorbsi oleh menguap lemak padat (enfleurage). Cara yang tepat untuk pengambilan minyak dari daun sereh adalah denga n cara penyulingan.
Penyulingan adalah proses pemisahan komponen yang berupa cairan atau padatan dari 2 macam campuran atau lebih berdasarkan perbedaan titik uapnya dan proses ini dilakukan terhadap minyak atsiri yang tidak larut dalam air minyak sereh wangi (Stephen, 1948 dalam Ginting, 2004).
Jumlah minyak yang menguap bersama-sama uap air ditentukan oleh 3 faktor, yaitu besarnya tekanan uap yang digunakan, berat molekul dari
masing- masing komponen dalam minyak dan kecepatan minyak yg keluar dari bahan.
Semakin cepat aliran uap air dalam ketel suling, maka jumlah minyak yang dihasilkan per kg kondesat uap semakin rendah, sebaliknya semakin lambat gerakan uap dalam ketel maka waktu penyulingan lebih lama dan rendemen minyak per jam rendah. Sebagai bahan bakar penyulingan, para penyuling biasanya menggunakan kayu bakar, namun untuk mengurangi biaya produksi para penyuling kebanyakkan menggunakan ampas hasil sulingan (Satyadiwiria, 1979 dalam Ginting, 2004).
Proses ekstraksi minyak pada permulaan penyulingan berlangsung cepat, dan secara bertahap semakin lambat sampai kira-kira 2/3 minyak telah tersuling.
Berdasarkan pengamatan, tidak semua petani pengolah dapat menghasilkan minyak sereh wangi yang bermutu tinggi, karena daun sereh wangi yang disuling sering bercampur dengan rumput-rumputan atau karena daun yang dipanen terlalu muda atau terlalu tua. Untuk menghasilkan rendemen minyak yang maksimum, biasanya para penyuling skala rakyat mengeringkan daun di bawah sinar matahari selama 3-4 jam dan lama penyulingan diatur sedemikian rupa, sehingga komponen minyak seluruhnya terekstraksi dan berkualitas baik. Tetapi cara ini akan menghasilkan mutu minyak sereh wangi yang rendah (Ketaren, 1985 dalam Ginting, 2004).
Penyulingan minyak sereh wangi di Indonesia biasanya dlakukan dengan menggunakan uap air yaitu dengan dua cara, secara langsung dan secara tidak langsung.
Pada penyulingan secara langsung, bahan atau daun sereh wangi yang akan diambil minyaknya dimasak dengan air, dengan demikian penguapan air dan minyak berlangsung bersamaan. Kendati penyulingan langsung seolah-olah memudahkan penanganan tetapi ternyata mengakibatkan kehilangan hasil dan penurunan mutu. Penyulingan langsung dapat mengakibatkan teroksidasi dan terhidrolisis, selain itu menyebabkan timbulnya hasil sampingan yang tidak dikehendaki. Pada penyulingan secara tidak langsung, yaitu dengan cara memisahkan penguapan air dengan penguapan minyak. Bahan tumbuhan diletakkan di tempat tersendiri yang dialiri uap air, atau secara lebih sederhana bahan tumbuhan diletakkan di atas air mendidih (Harris, 1987 dalam Ginting, 2004).
Lama penyulingan tergantung dari tekanan uap yang dipergunakan dan faktor kondisi terutama kadar air daun sereh. Pada prinsipnya, tekanan yang dipergunakan tidak boleh terlalu tinggi, karena pada tekanan yang terlalu tinggi minyak akan terdekomposisi, terutama pada waktu penyulingan yang terlalu lama. Suatu hal yang terpenting dalam penyulingan minyak sereh adalah agar suhu dan tekanan tetap seragam dan tidak menurun secara tiba-tiba selama proses berlangsung (Virmani, 1971 dalam Ginting, 2004).
Menurut Santoso (1992), proses penyulingan dengan menggunakan metode uap prinsip kerjanya adalah sebagai berikut :
1. Ketel uap diisi air.
2. Bahan baku diletakkan di atas saringan ketel penyulingan, sehingga tidak berhubungan langsung dengan air yang mendidih, tetapi akan berhubungan dengan uap air dari ketel uap.
3. Partikel–partikel minyak atsiri akan terbawa bersama uap dan dialirkan melalui pipa ke alat pendingin, sehingga terjadi pengembunan dan uap air yang bercampur dengan minyak atsiri tersebut akan mencair kembali. 4. Selanjutnya dialirkan kealat pemisah untuk memisahkan minyak atsiri dari
air.
III. METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pengola han Minyak Atsiri dan Laboratorium Kimia Analitik Program Studi Teknologi Pengolahan Hasil Perkebunan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dimulai pada bulan Juli 2008 sampai dengan bulan Nopember 2008.
B. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan : alat penyulingan, erlenmeyer, kondensor, timbangan analitik, buret, kertas, piknometer, refraktometer abbe, water bath, pisau, labu pemisah, pipet, selang, ember, drum kecil, gayung dan kompor.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun sereh wangi, bahan bakar, air, aquades dan MgS04.
C. Prosedur Penelitian 1. Persiapan
Persiapan ini berupa pengumpulan sereh wangi yang diambil dari lokasi SPMA/SPP (Sekolah Pertanian Pembangunan) Jl. Thoyib Hadiwijaya Sempaja Samarinda.
2. Perlakuan
Perlakuan yang diberikan dalam penelitian ini yaitu lama penyulingan 3 jam, 3,5 jam, 4 jam, 4,5 jam dan 5 jam, dengan 3 kali ulangan.
3. Cara Kerja
Adapun prosedur penelitian sebagai berikut :
a. Daun sereh wangi dilayukan selama 1 hari sebelum disuling.
b. Daun sereh wangi yang telah dilayukan kemudian dirajang sepanjang 12-15 cm, untuk mengurangi sifat kamba, daun sereh yang telah dirajang dimasukkan ke dalam ketel penyulingan, kemudian ketel uap diisi air tidak sampai penuh. Kedua ketel tersebut ditutup rapat, dan jangan sampai tejadi kebocoran.
c. Api di bawah tungku dinyalakan, dan besarnya api harus terkontrol. Pada fase ini, telah terjadi penguapan dalam ketel air, kemudian lewat pipa yang berbentuk leher angsa uap tersebut disalurkan ke ketel penyulingan. Maka terjadilah penguapan minyak sereh wangi, tetapi uap tersebut masih bercampur dengan uap air. Kemudian campuran uap itu dialirkan lagi melalui pipa ke alat pendingin.
d. Sesudah uap tersebut sampai ke alat pendingin, yang berupa bak permanen berisi air dingin, terjadilah proses pengembunan, yakni pencairan kembali campuran uap tersebut. Selanjutnya, campuran cairan minyak dan air ya ng mempunyai suhu sekitar 40-45o Celcius ini, dialirkan ke alat pemisah.
e. Fase berikut nya adalah pemisahan minyak sereh wangi dari air secara fisis. Mengingat berat jenis minyak sereh wangi lebih ringan dari pada air, maka minyak sereh wangi tersebut akan mengapung di atas air, yang selanjutnya dialirkan mela lui bagian alat pemisah ke alat pengumpul minyak.
Diagram alir proses penyulingan dapat dilihat pada Gambar 2.
Daun sereh wangi
Air Minyak
Gambar 2. Diagram Alir Proses Penyulingan 4. Parameter yang diamati
a. Rendemen
Destilat yang dihasilkan ditampung dalam erlenmeyer. kemudian dipindahkan ke buret untuk memisahkan minyak dengan air. Minyak yang diperoleh ditimbang beratnya dengan timbangan analitik.
Pelayuan selama 1hari
Perajangan (pengecilan ukuran bahan)
Penyulingan
Penampungan hasil
Adapun rumus untuk menentukan rendemen minyak atsiri : Rendemen x100% Input Output ? Dimana :
Input = Berat daun kering sebelum diproses Output = Berat minyak atsiri yang dihasilkan
Menentukan rendemen rata – rata minyak atsiri :
n x
x ?
?
Dimana = x : Rendemen rata – rata SX : Jumlah rendemen total n : Jumlah proses penyulingan b. Bobot jenis
Piknometer dikosongkan hingga bebas dari air, kemudian ditimbang (berat piknometer kosong). Setelah itu piknometer diisi aquades secara pelan-pelan hingga tidak terjadi gelembung udara dan diletakkan di water bath yang mempunyai sirkulasi air pada suhu 25o C selama 30 menit. Kemudian diangkat, dilap sampai bersih kemudian diletakkan di dalam timbangan analitik selama 30 menit dan ditimbang beratnya (berat piknometer + minyak).
Bobot jenis aquades berat minyak contoh berat ?
c. Indeks bias
Ke dalam alat refraktometer abbe yang telah dialirkan air pada suhu 25°C ditempatkan minyak sereh wangi pada permukaan prisma dan tutup dengan memutar skrup. Dibiarkan alat beberapa menit kemudian dibaca.
Nilai indeks bias dipengaruhi oleh suhu dan dapat dihitung sebagai berikut :
R = R’ + K ( T’-T ) Keterangan :
R = Indeks bias pada suhu ToC R’ = Indeks bias pada suhu T’oC K = Faktor koreksi (0,0005) d. Warna
Minyak hasil penyulingan di tampung dalam gelas ukur kemudian dilihat warnanya.
D. Pengambilan dan Analisis Data 1. Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan menggunakan RAL (Rancang Acak Lengkap) dengan 3 perlakuan yaitu lama penyulingan 3 jam, 3,5 jam, 4 jam, 4,5 jam dan 5 jam dan diulangi selama 3 kali.
RAL dengan rumus matematik sebagai berikut (Sastrosupadi) : Yij = µ + Ti + €ij ; i = 1,2,...t
keterangan :
Yij = Respon atau nilai pengamatan dari perlakuan ke- i dan ulangan ke-j. µ = Nilai tengah umum
Ti = Pengaruh perlakuan ke- i
€ij = Pengaruh galat percobaan di perlakuan ke- i dan ulangan ke-j 2. Analisis Data
Analisis data menggunakan analisis sidik ragam. Jika hasil Fhitung
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Rendemen
Dari hasil analisa uji rendemen tiap perlakuan penyulingan adalah sebagai berikut :
Tabel 3. Rata–rata Rendemen Tiap Perlakuan Penyulingan. Ulangan
Perlakuan
1 2 3 Jumlah Rata - Rata
P0 1,4686 1,8230 2,0594 5,351 1.7837 P1 1,4854 1,8568 2,0762 5,4184 1,8061 P2 1,5023 1,8906 2,0931 5,486 1,8287 P3 1,5192 1,9074 2,11 5,5366 1,8455 P4 1,5276 1,9243 2,1269 5,5788 1,8596 Jumlah 7,5031 9,4021 10,4656 27,3708
Dari Tabel 3 dapat dilihat jelas perbedaan rendemen minyak sereh wangi akibat lama penyulingan yang berbeda. Dimana dari perlakuan tersebut dapat dilihat rendemen minyak berkisar antara 1,7837% – 1,8596%. Semakin lama waktu penyulingan maka rendemen yang diperoleh semakin tinggi. Dalam hal ini, lama penyulingan 5 jam menghasilkan rendemen yang tertinggi yaitu 1,8596%. Rendemen 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 1.8 2 P0 P1 P2 P3 P4 Perlakuan Rata-rata
Gambar 3. Grafik Pengaruh Lama Penyulingan Terhadap Rendemen Minyak Sereh Wangi
Dari hasil analisis sidik ragam (Ansira) diketahui bahwa perbedaan perlakuan lama penyulingan daun sereh wangi adalah tidak berbeda nyata terhadap rendemen minyak sereh wangi yang dihasilkan. Sehingga analisis selanjutnya tidak dilanjutkan. Hasil Analisis sidik ragam rendemen dapat dilihat pada lampiran 1.1.
Tabel 4. Ansira Rendemen Minyak Sereh Wangi.
F tabel SK db JK KT Fhitung 5% 1% Perlakuan Galat 4 10 0,0111 0,9016 0,02775 0,09016 0,3079tn 3,48 5,98 Total 14 0,9127 0,11791 Keterangan : tn = Tidak Berbeda Nya ta
Semakin disuling sampai batas 5 jam rendemen minyak akan semakin naik, hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya panas yang diterima oleh bahan untuk menguapkan sel-sel minyak dari bahan dan semakin banyak uap yang berhubungan dengan sel-sel minyak, sehingga minyak yang terekstraksi semakin banyak. Disamping itu semakin lama penyulingan maka semakin banyak panas yang diterima dan proses diffusi akan meningkat sehingga proses penyulingan semakin dipercepat. (Rusli, 1979 dalam Ginting, 2008).
Rendemen minyak yang dihasilkan dari daun sereh wangi tergantung dari bermacam- macam faktor antara lain: iklim, kesuburan tanah, umur tanaman, proses pengeringan dan cara penyulingan (Lutony dan Yeyet, 1994).
B. Bobot Jenis
Dari hasil analisa uji bobot jenis tiap perlakuan penyulingan adalah sebagai berikut :
Tabel 5. Rata–rata Bobot Jenis Tiap Perlakuan Penyulingan. Ulangan
Perlakuan
1 2 3 Jumlah Rata - Rata
P0 0,835 0,817 0,845 2,497 0,832 P1 0,825 0,837 0,505 2,167 0,722 P2 0,827 0,841 0,840 2,508 0,836 P3 0,825 0,835 0,829 2,489 0,830 P4 0,845 0,829 0,850 2,524 0,841 Jumlah 4,157 4,159 3,869 12,185
Dari Tabel 5 dapat dilihat dengan jelas semakin lama penyulingan bobot jenisnya semakin kecil sampai batas lama penyulingan 5 jam dan akan semakin turunnya bobot jenis sampai batas lama penyulingan 5 jam.
Gambar 4. Grafik Pengaruh Lama Penyulingan Terhadap Bobot Jenis Minyak Sereh Wangi
Dari hasil uji bobot jenis hasil perlakuan yang terbaik adalah P2 danP4. Sedangkan perlakuan yang terendah adalah P1. Nilai bobot jenis berkisar antara 0,72 – 0,84 dan diantaranya P2 dan P4 adalah 0,84.
Dari Analisis sidik ragam diketahui bahwa perbedaan perlakuan lama penyulingan daun sereh wangi adalah tidak berbeda nyata terhadap bobot jenis
Bobot Jenis 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 P 0 P1 P2 P 3 P4 Perlakuan Rata-rata
minyak sereh wangi yang dihasilkan. Hasil Analisis sidik ragam bobot jenis dapat dilihat pada lampiran 2.1
Tabel 6. Ansira Bobot Jenis Minyak Sereh Wangi.
F tabel SK db JK KT Fhitung 5% 1% Perlakuan Galat 4 10 0,030603333 0,07174 0,007650833 0,007174 1,066466825tn 3,48 5,98 Total 14 0,102343333 0,014824833 Keterangan : tn = Tidak Berbeda Nyata.
Nilai bobot jenis ditentukan oleh komponen kimia yang terkandung di dalamnya. Pada waktu penyulingan, penetrasi uap pada bahan berukuran kecil berlangsung lebih mudah karna jaringannya lebih terbuka sehingga uap air panas yang kontak dengan minyak lebih banyak. Kondisi tersebut mengakibatkan lebih mudah dan cepat diuapkan (Sumangat dan Ma’mun, 2003).
C. Indeks Bias
Dari hasil analisis uji indeks bias tiap perlakuan penyulingan adalah sebagai berikut :
Tabel 7. Rata–rata Indeks Bias Tiap Perlakuan Penyulingan. Ulangan
Perlakuan
1 2 3 Jumlah Rata – Rata
P0 1,4703 1,4713 1,4693 4,4109 1,4703 P1 1,4703 1,4694 1,4704 4,4101 1,4700 P2 1,4704 1,4714 1,4694 4,4112 1,4704 P3 1,4704 1,4713 1,4703 4,412 1,4707 P4 1,4702 1,4712 1,4702 4,4116 1,4705 Jumlah 7,3516 7,3546 7,3496 22,0558
Dari Tabel 7 dapat dilihat perbedaan indeks bias minyak sereh wangi karena pengaruh lama penyulingan. Dari perlakuan yang dilakukan, nilai
indeks bias berkisar 1.4700 – 1. 4707. Dalam hal ini perlakuan P3 memiliki nilai tertinggi yaitu 1.4707 dan nilai ini memenuhi standar yang ditetapkan
oleh Departemen Perdagangan yang mensyaratkan nilai indeks bias 1,454 - 1,473.
Gambar 5. Grafik Pengaruh Lama Penyulingan Terhadap Indeks Bias Minya Sereh Wangi
Dari Analisis sidik ragam diketahui bahwa perbedaan perlakuan penyulingan minyak sereh wangi berpengaruh tidak berbeda nyata terhadap indeks bias minyak sereh wangi yang dihasilkan, sehingga proses analisis selanjutnya tidak dilanjutkan. Hasil Analisis sidik ragam dapat dilihat pada lampiran 3.1.
Tabel 8. Ansira Indeks Bias Minyak Sereh Wangi.
F tabel SK db JK KT Fhitung 5% 1% Perlakuan Galat 4 10 0,0000007 0,00000588 0,000000175 0,000000588 0,297619047tn 3,48 5,98 Total 14 0,000000658 0,0000000763 Keterangan : tn = Tidak Berbeda Nyata.
Di samping lama penyulingan, pengecilan atau perajangan ukuran bahan yang akan disuling mempengaruhi nilai indeks bias yang di hasilkan. Semakin kecil ukuran bahan, maka nilai indeks bias minyaknya semakin
Indeks Bias 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 P0 P1 P2 P3 P4 Perlakuan Rata-rata
besar. Hal ini disebabkan karena penguapan minyak dari bahan berukuran kecil berlangsung lebih mudah sehingga minyak yang terkandung lebih banyak, yang mengakibatkan kerapatan molekul minyak lebih tinggi dan sinar yang menembus minyak sukar diteruskan. Semakin sukar sinar diteruskan dalam suatu medium (minyak), maka nilai indeks bias tersebut semakin tinggi (Sumangat dan Ma’mun, 2003).
D. Warna
Adapun warna minyak sereh wangi yang dihasilkan adalah berwarna kuning pucat dan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Departemen Perdagangan.
Air yang digunakan dalam penyulingan serta bahan yang mengandung banyak kotoran yang melekat pada bahan oleh karena proses pemanenan serta pengeringan bahan akan mempengaruhi warna pada minyak sereh wangi yang dihasilkan.
V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian pengaruh lama penyulingan dengan metode uap terhadap rendemen dan mutu fisik minyak sereh wangi, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Lama penyulingan tidak berpengaruh nyata terhadap rendemen, bobot jenis, indeks bias dan warna minyak sereh wangi. Dari perlakuan yang dilakukan, semakin lama penyulingan, rendemen yang dihasilkan semakin banyak.
2. Dari parameter yang diamati dalam penelitian ini, minyak sereh wangi yang dihasilkan memenuhi standar yang ditetapkan oleh Departemen Perdagangan.
3. Berdasarkan Analisis sidik ragam, perlakuan lama penyulingan untuk rendemen, bobot jenis, warna dan indeks bias yang terbaik adalah perlakuan P0 (lama penyulingan 3 jam).
B. Saran
1. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut mengenai tekanan dan temperatur yang digunakan pada penyulingan minyak sereh wangi.
2. Untuk menghasilkan mutu dan rendemen yang dikehendaki, lama penyulingan yang optimum adalah 3 jam.
3. Untuk Penelitian yang akan datang sebaiknya dilakukan uji kadar geraniol dan uji kadar sitronellal.
DAFTAR PUSTAKA
Ginting, S. 2004. Pengaruh Lama Penyulingan Terhadap Rendemen dan Mutu Minyak Atsiri Daun Sereh Wangi.
http://library.usu.ac.id/modules.php?op=modload&name=Downloads&file=index& req=getit&lid=1105.
Haris, R. 1987. Tanaman Minyak Atsiri. Penebar Swadaya, Jakarta.
Lutony, T. L dan Yeyet, R. 1994. Produksi dan Perdagangan Minyak Atsiri. Penebar Swadaya, Jakarta.
Santoso, H. B. 1992. Sereh Wangi Bertanam dan Penyulingan. Kanisius, Yogyakarta.
Sumangat, D dan Ma’mun. 2003. Pengaruh Ukuran dan Susunan Bahan Baku
Serta Lama Penyulingan Terhadap Rendemen
http://www.balittro.go.id/index.php?pg=pustaka&child=buletin&page=lihat &tid=&id=8
Lampiran 1. Analisis Sidik Ragam (Ansira) Rendemen Minyak Sereh Wangi 1. t x r Tij FK 2 ? 3 5 3708 , 27 2 x FK? 15 1607 , 749 ? FK FK? 49,9440 2. FK t TK JKP? ? 2 49,9440 3 ) 5788 , 5 5366 , 5 486 , 5 184 , 5 531 , 5 ( 2 2 2 2 2 ? ? ? ? ? ? JKP 9440 , 49 3 ) 12300944 , 31 65393956 , 30 096196 , 30 35905856 , 29 633201 , 28 ( ? ? ? ? ? ? JKP 9440 , 49 3 8654046 , 149 ? ? JKP JKP? 49,9551?49,9440 JKP?0,0111 3. JKT?T(Yij2)?FK 9440 , 49 ) 1269 , 2 9243 , 1 5276 , 1 11 , 2 9074 , 1 5192 , 1 0931 , 2 8906 , 1 5023 , 1 0762 , 2 8568 , 1 4854 , 1 0594 , 2 8230 , 1 4686 , 1 ( 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? JKT 9440 , 49 ) 52370361 , 4 70293049 , 3 33356176 , 2 4521 , 4 63817476 , 3 30796864 , 2 38106761 , 4 57436836 , 3 25690529 , 2 31060644 , 4 44770624 , 3 20641316 , 2 24112836 , 4 323329 , 3 15678596 , 2 ( ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? JKT
9440 , 49 8567 , 50 ? ? JKT 9127 , 0 ? JKT 4. JKG? JKT?JKP?0,9127?0,0111?0,9016 5. db perlakuan = r – 1 = 5 – 1 = 4 6. db galat = r (t-1) = 5 (3-1) = 5 x 2 = 10 7. 0,02775 4 0111 , 0 ? ? ? n dbperlakua JKP KTP 8. 0,09016 10 9016 , 0 ? ? ? dbgalat JKG KTG 9. Fhitung = 0,3079 09016 , 0 02775 , 0 ? ? KTG KTP
Tabel 1. Tabel Ansira Indeks Bias Minyak Sereh Wangi.
F tabel SK db JK KT Fhitung 5% 1% Perlakuan Galat 4 10 0,0111 0,9016 0,02775 0,09016 0,3079tn 3,48 5,98 Total 14 0,9127 0,11791
a. Jika Fhitung > Ftabel 1% maka dinyatakan berbeda sangat nyata (**) b. Jika Fhitung > Ftabel 5% maka dinyatakan berbeda nyata (*)
Lampiran 2. Analisis Sidik Ragam (Ansira) Bobot Jenis Minyak Sereh Wangi 1. t x r Tij FK 2 ? 3 5 185 , 12 2 x FK? 15 474225 , 148 ? FK FK? 9,898281667 2. FK t TK JKP? ? 2 9,898281667 3 ) 524 , 2 489 , 2 508 , 2 167 , 2 497 , 2 ( 2? 2? 2? 2? 2 ? ? JKP 9,898281667 3 ) 370576 , 6 195121 , 6 290064 , 6 695889 , 4 235005 , 6 ( ? ? ? ? ? ? JKP 898281667 , 9 3 786655 , 29 ? ? JKP JKP? 9,928885?9,898281667 JKP?0,030603333 3. JKT?T(Yij2)?FK 898281667 , 9 ) 850 , 0 829 , 0 845 , 0 829 , 0 835 , 0 825 , 0 840 , 0 841 , 0 827 , 0 505 , 0 837 , 0 825 , 0 845 , 0 817 , 0 835 , 0 ( 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? JKT 898281667 , 9 ) 7225 , 0 687241 , 0 714025 , 0 687241 , 0 697225 , 0 680625 , 0 7056 , 0 707281 , 0 683929 , 0 255025 , 0 700569 , 0 680625 , 0 714025 , 0 667489 , 0 697225 , 0 ( ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? JKT
898281667 , 9 000625 , 10 ? ? JKT 102343333 , 0 ? JKT 4. JKG? JKT?JKP?0,102343333?0,030603333?0,07174 5. db perlakuan = r – 1 = 5 – 1 = 4 6. db galat = r (t-1) = 5 (3-1) = 5 x 2 = 10 7. 0,007650833 4 030603333 , 0 ? ? ? n dbperlakua JKP KTP 8. 0,007174 10 07174 , 0 ? ? ? dbgalat JKG KTG 9. Fhitung = 1,066466825 007174 , 0 007650833 , 0 ? ? KTG KTP
Tabel 2. Tabel Ansira Bobot Jenis Minyak Sereh Wangi.
F tabel SK db JK KT Fhitung 5% 1% Perlakuan Galat 4 10 0,030603333 0,07174 0,007650833 0,007174 1,066466825tn 3,48 5,98 Total 14 0,102343333 0,014824833
a. Jika Fhitung > Ftabel 1% maka dinyatakan berbeda sangat nyata (**) b. Jika Fhitung > Ftabel 5% maka dinyatakan berbeda nyata (*)
Lampiran 3. Analisis Sidik Ragam (Ansira) Indeks Bias Minyak Sereh Wangi 1. t x r Tij FK 2 ? 3 5 0558 , 22 2 x FK? 15 4583136 , 486 ? FK FK? 32,43055424 2. FK t TK JKP? ? 2 32,43055424 3 ) 4116 , 4 412 , 4 4112 , 4 4101 , 4 4109 , 4 ( 2? 2? 2? 2? 2 ? ? JKP 43055424 , 32 3 ) 46221456 , 19 465744 , 19 45868544 , 19 44898201 , 19 45603881 , 19 ( ? ? ? ? ? ? JKP 43055424 , 32 3 29166481 , 97 ? ? JKP JKP? 32,43055494?32,43055424 JKP?0,0000007 3. JKT?T(Yij2)?FK 43055424 , 32 ) 4702 , 1 4712 , 1 4702 , 1 4703 , 1 4713 , 1 4704 , 1 4694 , 1 4714 , 1 4704 , 1 4704 , 1 4694 , 1 4703 , 1 4693 , 1 4713 , 1 4703 , 1 ( 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? JKT
43055424 , 32 ) 16148804 , 2 16442944 , 2 16148804 , 2 16178209 , 2 16472369 , 2 16207616 , 2 15913636 , 2 16501796 , 2 16207616 , 2 16207616 , 2 15913636 , 2 16178209 , 2 15884249 , 2 16472369 , 2 16178209 , 2 ( ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? JKT 43055424 , 32 43056082 , 32 ? ? JKT 00000658 , 0 ? JKT 4. JKG? JKT?JKP?0,00000658?0,0000007?0,00000588 5. db perlakuan = r – 1 = 5 – 1 = 4 6. db galat = r (t-1) = 5 (3-1) = 5 x 2 = 10 7. 0,000000175 4 0000007 , 0 ? ? ? n dbperlakua JKP KTP 8. 0,000000588 10 00000588 , 0 ? ? ? dbgalat JKG KTG 9. Fhitung = 0,297619047 000000588 , 0 000000175 , 0 ? ? KTG KTP
Tabel 3. Tabel Ansira Indeks Bias Minyak Sereh Wangi.
F tabel SK db JK KT Fhitung 5% 1% Perlakuan Galat 4 10 0,0000007 0,00000588 0,000000175 0,000000588 0,297619047tn 3,48 5,98 Total 14 0,000000658 0,0000000763
a. Jika Fhitung > Ftabel 1% maka dinyatakan berbeda sangat nyata (**) b. Jika Fhitung > Ftabel 5% maka dinyatakan berbeda nyata (*)
Lampiran 4. Pemanenan, Penjemuran dan Penimbangan Daun Sereh Wangi
Pemanenan Daun Sereh Wangi
Penimbangan Daun Sereh Wangi
Lampiran 5. Penyulingan Metode Uap dan Pemisahan Minyak dan Air
Pemisahan Minyak dan Air
Lampiran 6. Analisis Indeks Bias dan Bobot Jenis
Penimbangan piknometer untuk analisa bobot jenis
Lampiran 7. Hasil Minyak Sereh Wangi Proses Penyulingan Metode Uap