RPI2JM
Rencana Pembangunan InvestasiInfrastrukturJangkaMenengah KabupatenLuwu UtaraBidangCiptaKarya 23
2.1 Gambaran Geografis dan Administratif Wilayah
Kabupaten Luwu Utara adalah merupakan salah satu Kabupaten di bagian selatan Sulawesi Selatan yang berjarak kurang lebih 420 Km dari ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan yang terletak diantara 01° 53’ 019” - 02° 55’ 36” Lintang Selatan (LS) dan 119° 47’ 46” - 120° 37’ 44” Bujur Timur (BT) dengan batas-batas administrasi:
- Sebelah Utara : Berbatasan dengan Sulawesi Tengah - Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Teluk Bone
- Sebelah Barat : Berbatasan dengan Prov. Sulawesi Barat dan Kab. Tana Toraja
- Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kab. Luwu Timur Luas wilayah Kabupaten Luwu Utara ± 7.502,58 Km² terbagi dalam 12 kecamatan yang meliputi 171 desa/kelurahan yang terdiri dari 4 kelurahan dan 167 desa.
Diantara 12 Kecamatan di Luwu Utara, Kecamatan Seko merupakan Kecamatan yang terluas dengan luas 2.109,19 Km² atau 28,14 % dari total wilayah Kabupaten Luwu Utara, sekaligus merupakan kecamatan yang terletak paling jauh dari Ibukota Kabupaten Luwu Utara yakni berjarak 198 Km. Terluas kedua adalah Kecamatan Rampi dengan luas 1.565,65 Km² atau 20,87 % dan yang paling sempit wilayahnya adalah Kecamatan Malangke Barat dengan luas wilayah 93,75 Km² atau 1,25 % dari luas wilayah Kabupaten Luwu Utara.
Pada tahun 2012 di bentuk satu kecamatan baru yang merupakan pemekaran dari kecamatan Bone-Bone yaitu Kecamatan Tana Lili. Berdasarkan Peraturan Daerah Kab. Luwu Utara Nomor : 01 tahun
RPI2JM
Rencana Pembangunan InvestasiInfrastrukturJangkaMenengah KabupatenLuwu UtaraBidangCiptaKarya 24
2012 tanggal 05 April 2012 dan Peraturan Bupati Luwu Utara Nomor : 19 Tahun 2012 Tanggal 04 Juni 2012 tentang pembentukan Kecamatan Tana Lili dengan jumlah 10 Desa.
Tabel. 2.1
LUAS DAERAH DAN PEMBAGIAN DAERAH ADMINISTRASI DI KABUPATEN LUWU UTARA
Tahun 2013
No KECAMATAN LUAS (Km²)
PESENTASE ( % )
BANYAKNYA DESA/ KELURAHAN DEFENITIF PERSIAPAN JUMLAH
1 2 3 4 5 6 7 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. SABBANG BAEBUNTA MALANGKE MALANGKE BARAT SUKAMAJU BONE-BONE MASAMBA MAPPEDECENG RAMPI RONGKONG SEKO TANA LILI 525,08 295,25 350,00 93,75 255,48 129,92 1.068,85 275,50 1.565,65 686,50 2.109,19 149,41 7,00 3,94 4,67 1,25 3,41 1,73 14,25 3,67 20,87 9,15 28,11 1,99 20 20 14 13 25 11 19 15 6 7 12 10 - - - - - - - - - - - - 20 21 14 13 25 12 19 15 6 7 12 10 Kab. LuwuUtara 7.502,58 100,00 173 0 174
RPI2JM
Rencana Pembangunan InvestasiInfrastrukturJangkaMenengah KabupatenLuwu UtaraBidangCiptaKarya 25
Gambar 2.1
RPI2JM
Rencana Pembangunan InvestasiInfrastrukturJangkaMenengah KabupatenLuwu UtaraBidangCiptaKarya 26
2.2 Profil Demografi
Jumlah Penduduk Kabupaten Luwu Utara pada tahun 2014 adalah 299.989 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak 150.702 jiwa dan perempuan sebanyak 149.287 jiwa. Pertumbuhan penduduk setiap tahun terus meningkat harus menjadi perhatian pemerintah dalam perencanaan pembangunannya. Rata-rata jumlah anggota rumah tangga sebanyak 4 jiwa. Kecamatan Baebunta merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk terbesar yaitu sebesar 44.790 jiwa. Sedangkan yang terkecil adalah Kecamatan Rampi, sebesar 3.082 jiwa. Kepadatan penduduk rata-rata di Luwu Utara sebesar 40 jiwa /Km².
Tabel 2.2
JumlahPendudukMenurutJenisKelamin per-Kecamatan Dan RasioJenisKelamin di KabupatenLuwuUtara
Tahun 2013
NO KECAMATAN Laki-Laki Perempuan Jumlah Rasio
1 SABBANG 18.495 18.419 36.914 100.41 2 BAEBUNTA 22.404 22.159 44.563 101 3 MALANGKE 13 807 13.660 27.467 101.08 4 MALANGKE BARAT 12.055 11.988 24.043 100.56 5 SUKAMAJU 20.839 20.672 41.511 100.81 6 BONE-BONE 13.158 12 753 25 911 103.18 7 MASAMBA 16.904 17.551 34.455 96,31 8 MAPPEDECENG 11 484 11 400 22 884 100,74 9 RAMPI 1 646 1 436 3 082 114,62 10 LIMBONG 2.025 1 857 3 882 109,05 11 SEKO 6 627 6 310 12 937 105 12 TANA LILI 11 162 10 951 22 113 105,02 Jumlah 150.606 149.156 299.762 103,14 Sumber :KabupatenLuwuUtaraDalamAngkaTahun2015
RPI2JM
Rencana Pembangunan InvestasiInfrastrukturJangkaMenengah KabupatenLuwu UtaraBidangCiptaKarya 27
Sedangkan untuk jumlah penduduk kabupaten Luwu Utara berdasarkan kelompok umur menunjukkan bahwa penduduk usia produktif (15-64 tahun) yang terbanyak dengan jumlah 184.328 jiwa atau sekitar 62%. Sedangkan penduduk yang belum produktif (0-14 tahun) sebesar 97.440 orang atau 32,77% dan tidak produktif lagi (65 tahun ke atas) sebesar 15.545 orang atau 5,23%. Sehingga di peroleh rasio ketergantungan penduduk Luwu Utara sebesar 61,29 yang artinya setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sebanyak 61 penduduk usia non produktif.
Tabel 2.3
BanyaknyaPendudukMenurutKelompokUmur dan JenisKelamin Di KabupatenLuwuUtara
Tahun 2013
KELOMPOK UMUR LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH
0 – 4 16 277 15 755 32 032 5 – 9 16 626 15 681 32 307 10 – 14 16 826 16 275 33 101 15 - 19 14 405 13 088 27 493 20 – 24 10 764 10 940 21 704 25 – 29 11 214 12 270 23 484 30 – 34 11 265 11 998 23 263 35 – 39 11 425 11 152 22 577 40 – 44 9 674 9 287 18 961 45 - 49 8 047 7 875 15 922 50 – 54 6 203 6 471 12 674 55 – 59 5 283 5 070 10 353 60 - 64 3 931 3 966 7 897 65+ 7 455 8 090 15 545 Jumlah 149 395 147 918 297 313 KabupatenLuwuUtaraDalamAngkaTahun 2014
RPI2JM
Rencana Pembangunan InvestasiInfrastrukturJangkaMenengah KabupatenLuwu UtaraBidangCiptaKarya 28
2.2.1 Jumlah penduduk miskin
Jumlah Keluarga Sejahtera dapat menjadi gambaran keberhasilanpemerintah. Besarnya jumlah keluarga miskin menandakan tingkat kesejahteraan tersebut masih kurang. Tingkat kemiskinan di Kab. Luwu Utara dari tahun ketahun semakin berkurang.
Pada tahun 2012 menurut data BPS Kab. Luwu Utara, jumlah pendudukmiskin adalah sebesar 41.100 jiwa. Atau 14,02% dengan besarnya garis kemiskinan 224.241 Rp/Kap/Bulan.
Tabel 2.4
Banyaknya Keluarga dan Klasifikasi Keluarga di Luwu Utara 2013
Tahun Garis Kemiskinan Penduduk Miskin Rp/Kap/Bln Jml Persentase 2007 160 517 57,9 18,38 2008 192 085 52,5 16,40 2009 206 944 46,8 16,25 2011 215 419 42,6 14,64 2012 224 241 41,1 14,02 KabupatenLuwuUtaraDalamAngkaTahun 2014
RPI2JM
Rencana Pembangunan InvestasiInfrastrukturJangkaMenengah KabupatenLuwu UtaraBidangCiptaKarya 29
Gambar 2.2
RPI2JM
Rencana Pembangunan InvestasiInfrastrukturJangkaMenengah KabupatenLuwu UtaraBidangCiptaKarya 30
2.2.2 Laju pertumbuhan penduduk
Tabel 2.5
Laju Pertumbuhan Penduduk di Kab. Luwu Utara Tahun 2012-2013
No Kecamatan Jumlah Penduduk Laju
Pertumbuhan (%) 2012-2013 2012 2013 1 Sabbang 35 327 35 402 0.21 2 Baebunta 43 468 43 483 0.03 3 Malangke 27 105 26 781 -1.20 4 Malangke Barat 23 631 23 920 1.22 5 Sukamaju 40 939 40 911 -0.07 6 Bone-bone 24 769 24 824 0.22 7 Tana Lili 21 595 21 782 0.87 8 Masamba 31 988 33 614 5.08 9 Mappedeceng 22 142 22 296 0.70 10 Rampi 2 912 3 042 4.46 11 Limbong 3 826 3 870 1.15 12 Seko 12 663 12 840 1.40 Jumlah 290 365 292 765 0.83 KabupatenLuwuUtaraDalamAngkaTahun 2015
RPI2JM
Rencana Pembangunan InvestasiInfrastrukturJangkaMenengah KabupatenLuwu UtaraBidangCiptaKarya 31
2.2.3 Persebaran penduduk
Gambar 2.3
RPI2JM
Rencana Pembangunan InvestasiInfrastrukturJangkaMenengah KabupatenLuwu UtaraBidangCiptaKarya 32
2.3 Gambaran Topografi
Berdasarkan kondisi topografinya Kabupaten Luwu Utara terbagi dalam beberapa morfologi bentuk lahan. Kondisi ini dapat dijelaskan melalui persebaran kelas lereng Kabupaten Luwu Utara. Secara keseluruhan persebaran kelas lereng Kabupaten Luwu Utara dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.6
Kelas Lereng dan Ketinggian Tiap Kecamatan Di Kabupaten Luwu Utara
No Kecamatan Kelas Lereng
(%) Ketinggian (mdpl) Keterangan Fisik Lahan 1 Sabbang 8 – 15 25 – 100 Bergelombang 2 Baebunta 8 – 15 25 – 100 Bergelombang 3 Malangke 0 – 8 0 – 100 Landai
4 Malangke Barat 0 – 8 0 – 100 Landai
5 Sukamaju 0 – 15 25 – 100 Landai & Bergelombang
6 Bone Bone 0 – 8 0 – 100 Landai
7 Masamba 3 – 15 25 – 100 Landai & Bergelombang
8 Mappedeceng 3 – 15 25 – 100 Landai & Bergelombang
9 Rampi > 30 > 1000 Curam
10 Limbong 15 – 30 500 – 1000 Berbukit
11 Seko 15 – 30 > 1000 Berbukit
12 Tana Lili 8 – 15 25 – 100 Bergelombang
RPI2JM
Rencana Pembangunan InvestasiInfrastrukturJangkaMenengah KabupatenLuwu UtaraBidangCiptaKarya 33
2.4 Gambaran Geohidrologi
Pada umumnya kondisi hidrologi di Kabupaten Luwu Utara sangat berkaitan dengan tipe iklim dan kondisi geologi yang ada. Kondisi hidrologi permukaan ditentukan oleh sungai-sungai yang ada yang pada umumnya berdebit kecil, oleh karena sempitnya daerah aliran sungai sebagai wilayah tadah hujan (cathmen area) dan sistem sungainya. Kondisi tersebut diatas menyebabkan banyaknya aliran sungai yang terbentuk.
Air tanah bebas (watertable groundwater) dijumpai pada endapan aluvial dan endapan pantai. Kedalaman air tanah sangat bervariasi yang tergantung pada keadaan dan jenis lapisan batuan.
Diwilayah wilayah Kabupaten Luwu Utara terdapat 8 (delapan) sungai besar yang melintas diwilayah tersebut, dan sungai yang terpanjang adalah Sungai Rongkong dengan panjang sekitar 108 Km dan melewati 3 kecamatan yaitu Kecamatan Sabbang, Baebunta, dan Kecamatan Malangke. Sungai-sungai di wilayah Kabupaten Luwu Utara yang berfungsi sebagai cathmen area dijelaskan pada tabel berikut :
Tabel 2.7
Daftar Sungai dan Daerah Aliran Sungainya Di Kabupaten Luwu Utara
No Nama Sungai Daerah Aliran Panjang
(Km)
Daerah Tangkapan (Km)
< 100 m > 100 m Total
1 Rongkong Sabbang, Baebunta, 108 1.245,2 423,8 1.669,0
2 Baebunta Baebunta, Masamba 60 96,8 281,1 377,9
3 Masamba Masamba 75 102,2 203,7 305,9
4 Baliase Masamba, Baliase 185 826,3 172,6 998,9
5 Lampuawa Bone-Bone 30 56,5 115,6 172,1
RPI2JM
Rencana Pembangunan InvestasiInfrastrukturJangkaMenengah KabupatenLuwu UtaraBidangCiptaKarya 34
7 Bone-Bone Bone-Bone 27 64,1 57,6 121,7
8 Bungadidi Tana Lili 35 80,9 29,0 109,9
Sumber : BPS Kab. Luwu Utara, Tahun 2013& Map of South Sulawesi, 1981 (United Kingdom & Departement of General worker Indonesia)
Sistem aliran hidrologi di Kabupaten Luwu Utara menunjukkan bahwa pergerakan air permukaan maupun air tanah, langsung menuju ke air laut. Aquifer umumnya terdapat pada lapisan pasir, kerikil dan lapisan tipis batu gamping. Salah satu keunggulan dari sungai-sungainya adalah kondisi air yang masih jernih dan bening.Sumber daya air khususnya air permukaan sangat melimpah didaerah Luwu Utara. Sebagian kecil dari potensi air permukaan telah dimanfaatkan untuk pengembangan irigasi, pembangkit listrik dan bididaya perikanan. Potensi air tanah dangkal terbatas didaerah dataran rendah.
Berdasarkan kondisi geohidrolonginya, maka Kabupaten Luwu Utara dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) wilayah dengan karakteristik seperti berikut :
1. Wilayah Dataran Rendah (Sabbang, Baebunta, Malangke, Malangke Barat, Mappedeceng, Sukamaju Bone-BonedanTanaLili) dengan ketebalan tanah yang dalam, memiliki ketersediaan air yang cukup untuk kegiatan pertanian
2. Wilayah Perbukitan yang berada pada bagian utara (Sabbang, Baebunta, Masamba, Mappedeceng, Sukamaju dan juga Bone-Bone) dengan kedalaman tanah dangkal, memiliki ketersediaan air yang terbatas untuk kegiatan pertanian.
3. Wilayah Perbukitan/Pengunungan (Limbong, Seko, Masamba, dan Rampi) memiliki ketebalan tanah sangat dangkal, tidak dapat dialokasikan untuk kegiatan pertanian.
RPI2JM
Rencana Pembangunan InvestasiInfrastrukturJangkaMenengah KabupatenLuwu UtaraBidangCiptaKarya 35
Gambar 2.4
RPI2JM
Rencana Pembangunan InvestasiInfrastrukturJangkaMenengah KabupatenLuwu UtaraBidangCiptaKarya 36
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, di daerah ini mengalir berbagai sungai besar, yakni :
1. Sungai Rongkong melalui Sabbang dan Baebunta sepanjang 108 km dengan daerah tangkapan hujan 1.669,0 km2.
2. Sungai Baebunta melalui Baebunta dan Masamba sepanjang 48 km dengan daerah tangkapan 377,9 km2.
3. Sungai Masamba mengalir melalui Masamba sepanjang 55 km dengan areal tangkapan 305,9 km2.
4. Sungai Baliase yang berhulu di Gunung Baliase sepanjang 95 km dengan areal tangkapan 998,9 km2.
5. Sungai Lampuawa melalui Bone-Bone sepanjang 34 km dengan areal tangkapan 172,1 km2.
6. Sungai Kanjiro melalui Bone-Bone sepanjang 41 km dengan areal tangkapan 203,5 km2.
7. Sungai Bone-Bone melalui Bone-Bone sepanjang 20 km dengan Areal 121,7 km2.
8. Sungai Bungadidi melalui TanaLili sepanjang 20 km dengan areal 109,9 km2.
Dari data aliran sungai tersebut diatas, tampak bahwa Kecamatan Bone-Bone dialiri oleh 4 (empat) buah sungai dari 8 (delapan) sungai yang mengalir di Kabupaten Luwu Utara, sehingga tampak di Kecamatan Bone-Bone kegiatan pertanian sebagai areal transmigrasi bertumbuh cukup pesat.
Berdasarkan sistem aliran hidrologi di Kabupaten Luwu Utara menunjukkan bahwa pergerakan air (air permukaan maupun air tanah) keduanya bergerak menuju laut. Kondisi air permukaan yang jernih/bening menjadi peluang pengembangan pariwisata, dengan potensi melimpah sehingga dapat dikembangkan untuk irigrasi,
RPI2JM
Rencana Pembangunan InvestasiInfrastrukturJangkaMenengah KabupatenLuwu UtaraBidangCiptaKarya 37
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), dan Budidaya Perikanan Air Tawar.
2.5 Gambaran Geologi
2.5.1 Bahan Galian
Bahan galian yang terdapat di Kabupaten Luwu Utara terdiri dari batuan beku, sedimen dan metamorf. Berikut ini akan dibahas masing-masing tipe bahan galian tersebut.
A. Batuan Beku
Bahan galian tipe batuan beku terdiri dari serpentinit Formasi Pampangeo, tersingkap di kecamatan Rampi, Mappedeceng, dan Bone-bone. Selain itu dijumpai pula basalt dan andesit, Formasi Lamasi,Tineba, Sekala, Masamba, dan Barupu dapat dijumpai di Kecamatan Limbong, Baebunta, Sabbang, Masamba dan Mappedeceng; Latit kuarsa Formasi Tineba dapat ditemukan di kecamatan Seko, Limbong dan Rampi, dan granit Kambuno yang tersebar meluas di Kecamatan Seko, Limbong, Masamba, Sabbang, dan Baebunta.
B. Batuan Sedimen
Bahan galian tipe batuan sedimen terdiri dari batugamping, dan barurijang Formasi Latimojong yang tersebar di Kecamatan Seko, Rampi dan Sabbang; tufa Formasi Lamasi dapat dijumpai di Kecamatan Limbong, Baebunta, Sabbang, Masamba, dan Mappedeceng.
RPI2JM
Rencana Pembangunan InvestasiInfrastrukturJangkaMenengah KabupatenLuwu UtaraBidangCiptaKarya 38
Selain itu juga terdiri dari tufa Beropa di Kecamatan Seko; tufa kristal dan tufa gelas Rampi di Kecamatan Seko dan Rampi; tufa Formasi Sekala di Kecamatan Seko dan Rampi; serta pasir, krikil dan kerakal endapan aluvial di Kecamatan Rampi, Baebunta, Malangke, Malangke Barat, Sukamaju dan Bone-bone.
C. Batuan Metamorf
Bahan galian tipe batuan metamorf terdiri dari batusabak, dan kuarsit Formasi Latimojong yang tersebar di Kecamatan Seko, Rampi dan Sabbang. Selain itu juga dijumpai sekis, genes, batusabak, marmer dan kuarsit. Formasi Pompangeo yang
dapat ditemukan di Kecamatan Rampi,
Mappacedeng dan Bonebone; serta batugamping meta di Kecamatan Rampi.
2.5.2 Potensi Bahan Tambang
A. Logam Emas Mulia
Kondisi geologi keberadaan emas dijumpai pada formasi batuan gunung api bawah laut Lamasi (Palaogen) dan batuan granit Kambuno (Pliosen). Kedua batuan tersebut sebagai host rock dan heat sources dari emas. Indikasi emas dijumpai sebagai emas tunggal (native gold) dan emas dan perak (electrum) pada konsentirat dulang, batuan gelundungan (float) dan singkapan (outcrop) terubah (allerasi) dan emineralisasi (< 1,0 – 20,0 ppm). Emas letakan/sekunder yang dijumpai pada endapan
RPI2JM
Rencana Pembangunan InvestasiInfrastrukturJangkaMenengah KabupatenLuwu UtaraBidangCiptaKarya 39
sungai (alluvial) telah diusahakan oleh masyarakat dengan cara pendulangan (Kecamatan Rampi dan Seko). Dari hasil eksplorasi dalam tingkat prospecting/finding dan continue/survey, maka tipe mineralisasi diperkirakan epitermal (vein type) dan porfiri (disseminated/stockwork).
B. Minyak dan Gas Bumi
Kondisi geologi keberadaan minyak dan gas bumi diperkirakan terjebak/ terperangkap pada batuan sedimen darat formasi Bone-Bone (Miosen Akhir-Pliosen) yang terdiri dari batuan konglomerat, batupasir, napal dan lempung tufaan. Struktur geologi regional pada darah ini dan sekitarnya adalah sesar geser Palu-Koro, sesar Matano dan sesar Wallance. Jika dikorelasikan dengan gas alam di Kabupaten Wajo (Gillireng) maka formasi batuannya sama yaitu sedimen darat (Molase) dan berumur sama. Hasil pemboran eksplorasi kerjasama pertamina dan BP di wilayah pantai Teluk Bone (on shore) dijumpai potensi minyak 2,4 milyar barel equivalent. Indikasi gas alam adalah dari hasil pemboran air permukaan yaitu semburan gas (blow up).
C. Panas Bumi (Geothermal)
Manifestasi panas bumi bawah permukaan adalah kemunculan mata air panas dipermukaan. Kemunculan mata air panas umumnya pada batuan granit Kambuno (Pliosen). Berdasarkan temperatur permukaan dan komposisi kimia air maka potensi
RPI2JM
Rencana Pembangunan InvestasiInfrastrukturJangkaMenengah KabupatenLuwu UtaraBidangCiptaKarya 40
(Pararra) dan 25 mW (Pincara). Krisis listrik adalah masalah nasional, tentunya kondisi ini lebih serius di Kabupaten Luwu Utara mengingat statusnya sebagai kabupaten baru. Potensi panas bumi merupakan salah satu alternatif pemenuhan kebutuhan listrik di Kabupaten Luwu Utara. Kelebihannya ramah lingkungan dan lestari. Kendalanya padat modal, utamanya untuk kegiatan eksplorasi maupun pengolahan dan pemanfaatannya.
D. Radioaktif
Kondisi geologi indikasi radioaktif umumnya dijumpai pada batuan Granit Kambuno. Indikasi radioaktif diperoleh dari hasil eksplorasi pendahuluan Badan Tenaga Atom, Bandung.
E. Suiseki
Adalah batuan yang bentuknya variatif terbentuk secara alamiah oleh proses pengikisan air sungai. Variasi dari bentuknya dipengaruhi oleh umur batuan, gradien/slope sungai dan intensitas curah hujan. Berdasarkan kondisi tersebut, maka suiseki sangat memungkinkan dijumpai melimpah di Kabupaten Luwu Utara. Saat ini telah dilakukan eksploitasi di sungai Rongkong. Berdasarkan kondisi tersebut maka terhadap sungai lainnya sangat memungkinkan dijumpai melimpah seperti di sungai Baliase, Masamba dan sungai Radda. Suiseki di Kabupaten Luwu Utara berasal dari batuan granit dan batuan andesit yang terkersikan.Bagi negara-negara maju, suiseki dimanfaatkan untuk eksterior (taman,
RPI2JM
Rencana Pembangunan InvestasiInfrastrukturJangkaMenengah KabupatenLuwu UtaraBidangCiptaKarya 41
pusat keramaian), interior (perkantoran, hotel, pusat perbelanjaan dan rumah tinggal) dan prasasti.
F. Granit Kehijauan - Abu-Abu Kehijauan
Dari segi warna maka granit ini termasuk langka (scarcity) jadi mempunyai nilai jual dan berharga (precious) sebab langka. Granit yang berwarna putih suram dan berbintik hitam menyebar umum dijumpai di Indonesia dan melimpah.
G. PasirKuarsa
Jika dibandingkan dengan potensi pasir kuarsa yang ada diKabupaten lain di Sulawesi Selatan maka pasir kuarsa di Kabupaten Luwu Utara terbanyak dan melimpah. Komposisi kimia : (SiO2: 80-95%); (Al2O3 : 0,02%); (MgO: 0,11%); (CaO: 0,23%); (Na2 O: 0,10%) dan (Lot: 0,12%).
2.5.3. Potensi Rawan Bencana Alam
A. Banjir
Kawasan di Kabupaten Luwu Utara yang sering mengalami banjir adalah kawasan disekitar Sungai Rongkong dan Sungai Baliase. Kawasan tersebut sering mengalamibanjir karena berkurangnya lahan hijau di bagian atas dan bagian bawah. Penebangan hutan liar di bagian atas, berkurangnya hutan mangrove di daerah pantai adalah pemicu utama berkurangnya lahan hijau di daerah-daerah tersebut. Berkurangnya lahan hijau tersebut menyebabkan berkurangnya daerah peresapan sehingga air Sungai Rongkong dan Sungai Baliase mudah meluap dan menyebabkan banjir.
RPI2JM
Rencana Pembangunan InvestasiInfrastrukturJangkaMenengah KabupatenLuwu UtaraBidangCiptaKarya 42
B. Longsor
Longsor atau juga biasa disebut dengan gerakan tanah (mass movement) adalah suatu proses perpindahan massa tanah/ batuan ke tempat yang lebih rendah, sebagai akibat gangguan keseimbangan lereng karena pengaruh gravitasi, arus air atau beban luar. Gerakan massa ini dapat terjadi pada lereng-lereng yang hambat geser tanah atau batuannya lebih kecil dari berat massa tanah atau batuan itu sendiri.
Wilayah di Kabupaten Luwu Utara yang rawan akan bencana longsor adalah kawasan dengan ketinggian 200–400 m. Kawasan tersebut merupakan daerah perbukitan yang ditumbuhi hutan hujan tropis. Daerah dengan ketinggian200-400 m tersebut dapat menjadi kawasan yang rawan bencana longsor apabila hutan yang terdapat dikawasan tersebut berkurang dalam jumlah yang cukup berarti. Dengan curah hujan yang cukup tinggi dan tidak adanya pelindung tanah maka bencana tanah longsor dapat terjadi dengan mudah.
C. Gempa Bumi
Pulau Sulawesi mempunyai struktur geologi yang rumit. Pulau ini dilewati oleh Zona Sesar Palu-Koro (ZSPK) yang membelah Pulau Sulawesi pada arah Barat Laut-Tenggara. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim Riset Unggulan Terpadu Tahun 1997, sistem sesar Palu-Koro menghasilkan kegempaan yang ternyata lebih kompleks dari yang semula diduga.
RPI2JM
Rencana Pembangunan InvestasiInfrastrukturJangkaMenengah KabupatenLuwu UtaraBidangCiptaKarya 43
Di Kabupaten Luwu Utara, Zona Sesar Palu-Koro melewati bagian tengah kabupaten tersebut. Oleh sebab itu, kawasan rawan bencana gempa bumi di kabupaten Luwu Utara berada di bagian yang dilewati oleh Sesar Palu-Koro tersebut. Untuk lebih jelasnya, kawasan Zona Sesar palu-Koro dapat dilihat pada gambar berikut ini.
2.6 Gambaran Klimatologi
Curah hujan rata-rata selama tahun 2012 berkisar antara 74,5 mm sampai 534,4 mm.
2.7 Kondisi Sosial Dan Ekonomi
2.7.1 Kondisi sosial
Kultur Sosial Budaya masyarakat merupakan hal yang mutlak untuk dipertimbangkan dalam mengembangkan suatu daerah dan diusahakan akan tetap. Masalah budaya tidak terlepas dari masalah keagamaan, secara umum masyarakat Kabupaten Luwu Utara adalah mayoritas memeluk agama Islam.
2.7.2 Kondisi ekonomi
Kondisi perekonomian suatu daerah atau wilayah sangat tergantung pada potensi dan sumberdaya yang dimiliki serta kemampuan daerah itu untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki. Potensi dan sumberdaya yang dimiliki kabupaten Luwu Utara jika dapat diolah dan dipergunakan semaksimal mungkin maka akan dapat meningkatkan nilai tambah bagi proses pembangunan di kabupaten Luwu Utara.
RPI2JM
Rencana Pembangunan InvestasiInfrastrukturJangkaMenengah KabupatenLuwu UtaraBidangCiptaKarya 44
Tabel 2.8
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kab. Luwu Utara Tahun 2012 - 2014 NO PENDAPATAN Tahun 2012 (Rp) Tahun 2013 (Rp) Tahun 2014 (Rp) 1 BagianSisaLebihPerhitunganA nggaranTahunLalu - 2 BagianPendapatanAsli Daerah 27.620.000 46.690.000 36,740.000
3 Bagian Dana Perimbangan 421.920.000 542.130.000 599.000.000
4 BagianPinjaman Daerah - - -
5 Lain – Lain Penerimaan yang
sah 12.950.000 14.200.000 16.860.000 TOTAL 462.950.000 603.020.000 612.600.000 PENGELUARAN 1 BelanjaRutin 383.690.000 224.000.000 551.000.000 2 Belanja Pembangunan 246.900.000 136.240.000 132.300.000 TOTAL 630.590.000 360.240.000 683.300.000 (x 1000)
Sumber: Luwu Utara Dalam Angka 2013
Penerimaandaerahberasaldaribeberapasumberyaitupendapatanasli daerah (PAD), danaperimbangan, danpendapatan lain yang sah.