OVERMACHT DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN
(
Studi Komparatif Antara Hukum Islam dan Hukum Pidana Indonesia)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Program Strata Satu (S. 1)
Dalam Ilmu Syari’ah
Oleh :
Muh Wahib Muslim NIM. 062211009
JURUSAN JINAYAH SIYASAH
FAKULTAS SYARI’AH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
S E M A R A N G
ii
KEMENTRIAN AGAMA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
FAKULTAS SYARI’AH
PENGESAHAN
Nama : Muh Wahib MuslimNIM : 062211009
Jurusan : Jinayah Siyasah (JS)
Judul Skripsi : OVERMACHT DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN
(
Studi Komparatif Antara Hukum Pidana Islam danHukum Pidana Indonesia
)
Telah dimunaqasahkan oleh Dewan Penguji Fakultas Syari‟ah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang, pada hari/tanggal:
Rabu, 22 Juni 2011
Dan dapat diterima sebagai kelengkapan ujian akhir dalam rangka menyelesaikan Studi Program Sarjana Strata 1 (S.1) tahun akademik 2010/2011, guna memperoleh gelar Sarjana dalam Ilmu Syari‟ah.
Semarang, 5 Juli 2011
Ketua Sidang Sekretaris Sidang
Drs. H. Musahadi, M. Ag. Maria Anna Muryani, S.H. M.H. NIP:19690709 199405 1 003 NIP: 19620601 199303 2 001
Penguji I Penguji II
Drs. H. Johan Masruhan, M.M. Rustam D.K.A.H., M.Ag. NIP:19690709 199405 1 003 NIP: 19690723 199803 1 005
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. Rokhmadi, M. Ag Maria Anna Muryani, S.H. M.H. NIP:19660518 199403 1 002 NIP: 19620601 199303 2 001
iii Drs.Rokhmadi, M.Ag.
Jln. Jati Luhur 318 RT.01 RW.V Ngresep Banyumanik Semarang Maria Ana Muryani, SH. MH.
Jln.Ganesha Raya 299B Pedurungan Semarang
PERSETUJUAN PEMBIMBING Lamp : 4 (empat) eks
Hal : Naskah Skripsi
An. Sdr. Muh Wahib Muslim Kepada: Yth. Dekan Fakultas Syari‟ah IAIN Walisongo
Di tempat.
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Setelah saya meneliti dan mengadakan perbaikan seperlunya, bersama ini saya kirimkan naskah skripsi Saudara :
Nama : Muh Wahib Muslim
Nim : 062211009
Jurusana : Jinayah Siyasah
Judul Skripsi: OVERMACHT DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN (Studi Komparatif antara Hukum Pidana Islam dan Hukum Pidana Indonesia)
Dengan ini saya mohon kiranya skripsi saudara tersebut dapat segera dimunaqosahkan.
Demikian harap menjadi maklum.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Semarang, 10 Juni 2011
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. Rokhmadi,M.Ag Maria Anna Muryani, SH. MH
iv
MOTTO
إ
امهفخأ باكتراب اررض امهمظعأ ىعور ناتدسفم ضراعت ا
“Apabila dua mafsadah bertentangan, maka perhatikan mana yang lebih besar mudharatnya dengan mengerjakan yang lebih ringan
v
PERSEMBAHAN
Skripsi ini penulis persembahkan sepenuhnya untuk:
1. Ayahanda Sugiyo al-Aziz Muslim dan Ibunda Saripah tercinta yang telah mengenalkanku pada sebuah kehidupan dengan sebuah kasih sayang yang tak bertepi. Ridhamu adalah semangat hidupku, doamu adalah penjaga langkahku, serta adik-adikku Umi Nur Azizah dan Lu‟lu‟ Nurul Hidayati. 2. KH Sirodj Khudhori, KH Ahmad Izzuddin, M. Ag beserta keluarga.
3. teman-teman kamar “Al-Hilal”,dan segenap keluarga besar PP Daarun Najaah Jerakah Tugu Semarang
4. Teman-temanku jurusan Jinayah Siyasah angkatan 2006, teman-temanku group “al-Chemophat” Kimia UNNES 2004, teman-teman “al-Mahboeb 2006”, (Gus Labib, Muttaqin, Huda Darno, Akmadi, Suleman, Ulin Albab, Anam Alkend, Karim Faiz, Jacky Ahmad, Dedi Asfia, Hudam, Wartono, Munir Kudus) Termakasih atas semangat yang telah kalian berikan.
5. Mas Rosikhan, Mbak Ofa Mamah Zita, Zita Balqis Aulia, Mas Rizal, Mas Akrom, Lek Anip Jamil, Mas Choy, Seniman Robby Zidni „Ilman Nafi‟a. Terimakasih atas kopi, teh dan “uba rampene” yang selalu menemani penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
vi DEKLARASI
Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, penulis menyatakan bahwa skripsi ini tidak berisi materi yang pernah ditulis oleh orang lain atau diterbitkan. Demikian juga skripsi ini tidak berisi satu pun pikiran-pikiran orang lain, kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan rujukan.
Semarang, 10 Juni 2011 Deklarator
Muh Wahib Muslim NIM. 062211009
vii ABSTRAKS
Terwujudnya suatu tindak pidana, tidak selalu dijatuhkan hukuman atas pelakunya. Pertanggungjawaban pidana dapat hapus karena hal-hal yang bertalian dengan perbuatan atau karena hal-hal yang bertalian dengan pelaku. Dalam hukum pidana Indonesia, paksaan (overmacht) merupakan salah satu alasan yang dapat menghapuskan hukuman. Hapusnya hukuman karena adanya overmacht ini berlaku bagi semua tindak pidana, termasuk tindak pidana pembunuhan, sehingga pelaku yang terbukti melakukan pembunuhan karena adanya paksaan, maka pelaku lepas dari segala tuntutan hukum.
Dalam hukum pidana Islam, paksaan dikenal dengan istilah ikrah dan
dharurah. Dalam masalah tindak pidana pembunuhan, menurut hukum pidana
Islam overmacht tidak dapat mempengaruhi hukuman terhadap tindak pidana tersebut, dalam artian tidak dapat membolehkan atau menghapuskan hukuman. Sedangkan Para fuqaha berbeda pendapat mengenai hukuman bagi pelaku pembunuhan karena terpaksa. Sebagian fuqaha berpendapat hukumannya adalah
qisas, dan sebagian yang lain berpendapat hukumannya adalah diyat atau ta‟zir.
Yang menjadi perumusan masalah sebagai berikut: Bagaimana dasar hukum dan alasan overmacht dalam tindak pidana pembunuhan menurut hukum pidana Islam dan hukum pidana Indonesia Bagaimana penerapan sanksi bagi pelaku tindak pidana pembunuhan karena overmacht menurut hukum pidana Islam dan hukum pidana Indonesia. Penelitian ini bersifat kepustakaan (library
research). Data-data dikumpulkan dan diperoleh dari sumber primer dan skunder
kemudian dianalisis. Dalam menganalisis data, penulis menggunakan analisis deskriptif dan komparatif. Dalam penelitian ini penulis mencoba menggali serta meneliti data dengan menggunakan beberapa pendekatan diantaranya pendekatan normatif. Pendekatan ini dilakukan dalam rangka membahas suatu permasalahan dengan menitikberatkan pada aspek-aspek yang berkaitan dengan hukum Islam, serta melihat dan membahas suatu permasalahan yang menitikberatkan pada aspek-aspek hukum pidana seperti KUHP dan juga dengan penerapan kaidah-kaidah hukum. Selain itu penulis juga menggunakan pendekatan hermeneutik. Pendekatan ini diperlukan untuk memahami makna yangn terkandung dalam ayat-ayat al qur‟an maupun rumusan KUHP.
Kesimpulan akhir dari skripsi ini adalah dalam hukum pidana Islam,
overmacht tidak dapat menghapuskn hukuman terhadap tindak pidana
pembunuhan dan penjatuhan sanksi merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari pelaku overmacht dalam tindak pidana pembunuhan. Sedangkan menurut hukum pidana Indonesia, pembunuhan yang dilakukan karena overmacht dapat menghapuskan hukuman. Dengan adanya alasan pembenar dan alasan pemaaf, pelaku dinyatakan lepas dari tuntutan hukum.
viii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabil’alamin, segala puji kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada penulis berupa kekuatan, kesabaran dan kemampuan berfikir sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tanpa ada hambatan yang berarti. Sholawat serta salam penulis haturkan kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat dan keluarga-Nya. Berkat limpahan rahmat, taufik, hidayah dan inayah-Nya serta usaha yang sungguh-sungguh, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul "OVERMACHT DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN (Studi Komparatif Antara Hukum Pidana Islam dan Hukum Pidana Indonesia)”.
Selanjutnya penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1. Dekan Fakultas Syari‟ah IAIN Walisongo Semarang Bpk Dr. Imam Yahya, M.Ag dan Pembantu-Pembantu Dekan yang telah memberikan izin kepada penulis untuk menulis skripsi tersebut dan memberikan fasilitas untuk belajar dari awal hingga akhir.
2. Ketua & Sekretaris Jurusan yang telah memberikan berbagai motifasi dan arahan, mulai dari proses awal hingga proses berikutnya.
3. Bapak Drs. Rokhmadi, M.Ag, dan Ibu Maria Ana Muryani SH, MH. selaku dosen pembimbing yang dengan tulus ikhlas dan meluangkan waktu untuk mengarahkan dan memberi petunjuk dalam penyusunan skripsi ini.
ix
4. Bapak dan Ibu serta adik-adikku tercinta yang senantiasa memberikan semangat dan do‟a demi tercapainya karya ilmiah ini.
5. Sahabat-sahabatku di Jurusan Jinayah Siyasah (JS) dan teman- teman dan sahabat, serta semua pihak yang telah memberikan bantuan dan semangat serta motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
Semoga amal baik mereka diterima oleh Allah SWT dan semoga mendapat balasan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT baik di dunia maupun kelak di akhirat. Amiin.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini jauh dari sempurna, oleh karena itu saran dan kritik yang konstruktif dan inovatif dari pihak manapun sangatlah penulis harapkan sebagai bahan penyempurnaan skripsi ini. Akhirnya hanya kepada Allah SWT tempat kembali, disertai harapan semoga skripsi ini dapat menambah khasanah keilmuan umat Islam dan memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya. Amiin.
Semarang, 10 Juni 2011 Penulis
Muh Wahib Musslim NIM :062211009
x DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
DEKLARASI ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... x
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pokok Permasalahan ... 9
C. Tujuan Penulisan ... 10
D. Telaah Pustaka ... 10
E. Metode Penelitian ... 13
F. Sistematika Penulisan ... 15
BAB II : KETENTUAN OVERMACHT MENURUT HUKUM PIDANA ISLAM DAN HUKUM PIDANA INDONESIA A. Ketentuan Overmacht Menurut Hukum Pidana Islam... 17
B. Ketentuan Overmacht Menurut Hukum Pidana Indonesia... 30
BAB III : OVERMACHT DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN A. Ketentuan Tindak Pidana Pembunuhan... ... 46
xi
B. Overmacht Dalam Tindak Pidana Pembunuhan Menurut Hukum Pidana Islam ... 58 C. Overmacht Dalam Tindak Pidana Pembunuhan Menurut
Hukum Pidana Indonesia... 75 BAB IV : ANALISIS OVERMACHT DALAM TINDAK PIDANA
PEMBUNUHAN
A. Analisis Dasar Hukum dan Alasan Overmacht Dalam Tindak Pidana Pembunuhan ... 84 B. Analisis Penerapan Sanksi Bagi Pelaku Overmacht Dalam
Tindak Pidana Pembunuhan... 94 BAB V : PENUTUP
Kesimpulan ... 108 DAFATAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Syariat merupakan ketentuan yang ditetapkan Allah Swt. yang dijelaskan oleh rasul-Nya tentang pengaturan semua aspek kehidupan manusia dalam mencapai kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat. Ketentuan syariat ini terbatas dalam firman Allah dan sabda Rasulullah Saw.1
Hukum Islam adalah hukum yang dibangun berdasarkan pemahaman manusia atas nas al-Qur‟an maupun al-Sunnah untuk mengatur kehidupan manusia.2 Sebagaimana diketahui bahwa hukum Islam merupakan istilah khas Indonesia, sebagai terjemahan dari al-fiqh al-Islamiy atau dalam istilah barat dikenal dengan Islamic Law. Aspek penting dalam hukum Islam adalah mengutamakan keadilan dan kemaslahatan. Prinsip ini menjadi rujukan dalam penetapan dan penerapan hukum Islam.
Dalam Islam, keadilan yang muncul dari hasil kreasi nalar adalah keadilan relatif sebagaimana terbatasnya kemampuan nalar manusia. Menurut Islam, keadilan sejati adalah keadilan mutlak yang didasarkan pada wahyu Tuhan dan diimplementasikan melalui hukum Islam. Keadilan demikian bukan hanya sebagai acuan ideal bagi manusia, tetapi merupakan suatu keyakinan yang wajib dilakukan manusia dan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Tuhan.
1
Ismail Muhammad Syah, FilsafatHukum Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1992, hlm 16.
2
Said Agil al-Munawar, Hukum Islam dan Pluralitas Sosial, Jakarta: Penamadani, 2004, hlm. 6.
2
Hukum Islam disyariatkan oleh Allah dengan tujuan utama melindungi kemaslahatan manusia, baik untuk kemaslahatan individu maupun masyarakat. Menurut Abdul Wahab Khallaf dalam ‘Ilmu Ushul
al-Fiqh-nya menjelaskan bahwa produk hukum apa pun dalam Islam harus
mempertimbangkan unsur maslahat yang tercakup dalam dharuriyat
al-khamsah yang terdiri dari hifź al-nafs (menjaga jiwa), hifź al-‘aql (menjaga
akal), hifź din (menjaga agama), hifź mal (menjaga harta) dan hifź
al-nasl (menjaga keturunan).3
Kejahatan atau tindak pidana dalam Islam merupakan larangan-larangan syariat yang dikategorikan dalam istilah jarimah atau jinayah. Pakar fikih telah mendefinisikan jarimah dengan perbuatan-perbuatan tertentu yang apabila dilakukan akan mendapatkan ancaman hukuman hudud atau ta’zir.4 Adapun istilah jinayah kebanyakan para fuqaha memaknai kata tersebut hanya untuk perbuatan yang mengenai jiwa atau anggota badan seperti membunuh, melukai, memukul, menggugurkan kandungan dan sebagainya.5
Pembunuhan merupakan tindak pidana yang berakibat pada hilangnya nyawa manusia. Menurut jumhur fuqaha, pembunuhan dibedakan menjadi tiga; pembunuhan dengan sengaja, pembunuhan yang mirip dengan sengaja, dan pembunuhan karena keliru.6 Konsekuensi dari pembunuhan
3
Abdul Wahab Khallaf, ‘Ilmu Ushul al-Fiqh, Kairo: Da‟wah Islamiyah al-Azhar, tt, hlm. 200.
4
Muhammad Abu Zahrah, al-Jarimah, Beirut: Dar al-Fikr al- Arabi, tt, hlm.2.
5
Ahmad Hanafi, Asas-asas Hukum Pidana Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1993, hlm.2.
6
Abdul Qadir Awdah, Tasyri’ al-Jina’i al-Islamiy, Jilid 2, Beirut: Muassasah al-Risalah, tt., hlm.7.
3
disengaja adalah qisas atau diyat sebagaimana Allah Swt berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 178:
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar diyat kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.”.7
Permasalahanya adalah bagaimana jika pembunuhan sengaja tersebut dilakukan karena dalam keadaan terpaksa (overmacht), baik paksaan tersebut berupa paksaan dari orang lain, maupun paksaan yang disebabkan karena keadaan darurat.
Paksaan dalam Islam dikenal dengan istilah al-ikrah. Pada dasarnya paksaan dalam tindak pidana dapat menghapus suatu hukuman. Dalam Islam, alasan atau keadaan yang menghapus hukuman tersebut yaitu; paksaan, mabuk, gila dan anak kecil (di bawah umur). Sebagaimana pernyataan Abdul Qadir Awdah:
7
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya,Bandung: Diponegoro, 2010, hlm. 27.
4
Artinya: “Hukuman dihapuskan terhadap pelaku dalam empat perkara yaitu paksaan, mabuk, gila, dan anak kecil”
Dalam al-Qur‟an dijelaskan:
Artinya: “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah Dia beriman (diamendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir Padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, Maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar..9 (Q.S. al-Nahl 106)
Dan firman Allah Swt yang berbunyi:
Artinya: “Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya, dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. 10 (Q.S. al-An‟am: 119)
8
Abdul Qadir Awdah, op.cit, Jilid 1, hlm.562.
9
Departemen Agama RI, op. cit, hlm.279
10
5
Dalam Q.S. al-Baqarah ayat 173 dijelaskan;
Artinya: “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah, tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 11 (Q.S. al-Baqarah: 173)
Dalam hadiś juga disebutkan:
Artinya: “Dari Ibnu Abbas radhiyallahu „anhu berkata bahwa sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mengampuni beberapa perilaku umatku, yakni keliru, lupa dan apa yang dipaksakan terhadapnya.” (HR. Ibnu Majah)
Dalam tindak pidana pembunuhan yang disebabkan adanya paksaan (ikrah), paksaan tersebut tidak dapat menghapus hukuman. Para fuqaha sepakat bahwa overmacht tidak bisa menghapus hukuman dari orang yang dipaksa apabila tindak pidana yang dilakukannya adalah pembunuhan, pemotongan anggota badan, atau pemukulan yang membinasakan.13 Dalil mereka adalah firman Allah Swt.:
11Departemen Agama RI, Op, Cit, hlm. 32.
12
Abi „Abdillah Muhammad Ibn Zaid al-Qazwainy, Sunan Ibnu Majah, Jilid 1, Beirut: Dar al-Fikr, tt. hlm. 69.
13
Ibnu Nujaim, Bahru Raiq , dalam Abdul Qadir Awdah, Tasyri’ Jina’i
6
Artinya: “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar”.14
(Q.S. al-An‟am 151)
Artinya: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat, tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata”.15
(Q.S. al-Ahzab: 58)
Tindak pidana pembunuhan yang disebabkan adanya paksaan dilarang karena orang yang dipaksa melakukan pembunuhan terhadap korbannya itu dengan cara disengaja dan melawan hukum, secara zalim disertai keyakinan bahwa membunuh korban menyebabkan jiwanya selamat dan terhindar dari kejahatan pemaksa atau bahaya.16
Adapun kaidah fikih yang dipakai adalah:
ررضلاب لازي لا ررضلا
“Kemudharatan tidak boleh dihilangkan dengan kemudharatan lagi.”
إ
امهفخأ باكتراب اررض امهمظعأ ىعور ناتدسفم ضراعت ا
“Apabila dua mafsadah bertentangan, maka perhatikan mana yang lebih besar mudharatnya dengan mengerjakan yang lebih ringan mudharatnya”. Hukuman yang dijatuhkan kepada orang yang dipaksa membunuh menurut Imam Malik dan Imam Hambali hukumanya adalah qisas, ulama‟
14
Departemen Agama RI, op. cit, hlm. 148.
15
Ibid, hlm. 426.
16
Abdul Qadir Awdah, op.cit, Jilid 1, hlm.568.
17
Jalal al-Din „Abdu al-Rahman Ibn Abi Bakr al-Suyuthi, al-Asybah wa al-Nadhair, Beirut: Daar al-Kutub al-„Ilmiyah, tt, hlm. 86.
18
7
Syafiiyah dalam pendapatnya yang kuat menyatakan bahwa hukumanya adalah qisas. Adapun dalam mazhab Hanafi, menurut Zufar hukumanya adalah qisas sedang menurut Abu Yusuf hukumanya adalah diyat, sedangkan Abu Hanifah hukumanya adalah diyat.19
Dalam hukum pidana Indonesia, overmacht diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 48 yang berbunyi: “Barang siapa yang melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa tidak dipidana”.20
Kata “daya paksa” ini adalah salinan dari kata overmacht yang berasal dari bahasa Belanda yang artinya kekuatan atau daya yang lebih besar.21 Undang-undang tidak memberikan keterangan lebih jauh tentang daya paksa. Dalam Memorie van Toelichting (MvT) terdapat keterangan mengenai daya paksa yang mengatakan sebagai “setiap kekuatan, setiap dorongan, setiap paksaan yang orang tidak dapat memberikan perlawanan”.22
Overmacht dibedakan menjadi tiga, yaitu paksaan absolut (vis
absoluta), paksaan relatif (vis compulsiva), dan keadaan darurat
(noodtostand). Paksaan yang dimaksud dalam pasal 48 KUHP adalah paksaan
relatif, yaitu suatu tekanan yang sedemikian kuatnya sehingga seseorang berada dalam keadaan yang mengharuskannya melakukan tindak pidana,
19
Muhammad Abu Zahrah, Op. Cit, hlm 546.
20
Andi Hamzah, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Jakarta: Rineka Cipta, 2006, hlm. 25.
21
Moeljatno. Azas-azas Hukum Pidana, Jakarta: Bina Aksara, 1987, hlm. 139.
22
8
tetapi di samping perbuatan yang telah dilakukanya itu ada pilihan perbuatan lain sebagai alternatifnya.23
Dari segi sebab timbulnya paksaan dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Paksaan dalam arti sempit adalah paksaan yang disebabkan karena orang lain.
2. Paksaan yang disebabkan karena keadaan darurat (selain manusia).24 Prinsip yang dipakai dalam pasal 48 KUHP ini adalah mengorbankan kepentingan hukum yang lebih kecil demi melindungi atau mempertahankan kepentingan hukum yang lebih besar.25 Apabila kepentingan yang dikorbankan lebih berat dari kepentingan yang diselamatkan, maka tidak ada hal yang memaksa (overmacht), maka pelaku dalam hal ini harus dihukum. Apabila kepentingan yang dikorbankan , hanya sedikit lebih berat dari kepentingan yang diselamatkan, atau kepentingan itu sama beratnya, maka ada hal yang memaksa dan pelaku tidak dikenai hukuman pidana.26
Dalam hal pembunuhan contohnya ketika terjadi kecelakaan laut, yakni tenggelamnya sebuah kapal, ada dua orang penumpang yang dalam usahanya hendak menyelamatkan nyawanya berpegang pada sebuah papan yang mana papan tersebut hanya dapat menahan satu orang saja. Apabila kedua orang itu tetap berpegangan pada papan, maka kedua orang itu akan
23
Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana 2, Jakarta: Raja Grafindo Pustaka, 2002, hlm.33.
24
Andi Hamzah, op.cit,, hlm. 155-156.
25
Adami Chazawi, op cit. hlm. 32.
26
Wiryono Projodikoro, Azas-Azas Hukum Pidana di Indonesia, Jakarta: Eresco, 1981, hlm.77.
9
tenggelam dan mati. Maka dalam usaha untuk meyelamatkan diri dari ancaman kematian, maka salah satu dari keduanya mendorong yang lain dan orang yang didorong tersebut mati.27
Dari contoh itu menurut hukum pidana Indonesia, walaupun perbuatan tersebut pada kenyataannya telah memenuhi unsur pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, namun dalam konsep overmacht dalam hukum pidana Indonesia ini berlaku untuk semua tindak pidana, termasuk dalam tindak pidana pembunuhan. Berbeda dengan hukum pidana Islam yang tidak memberlakukan overmacht pada tindak pidana pembunuhan, pemotongan anggota badan, dan penganiayaan berat. Secara mendalam masalah ini akan penulis jelaskan dalam skripsi yang berjudul : “OVERMACHT DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN (Studi Komparatif Antara Hukum Islam dan Hukum Positif Indonesia)”
B. Rumusan Masalah
Untuk membuat permasalahan menjadi lebih spesifik dan sesuai dengan titik tekan kajian, maka harus ada rumusan masalah yang benar-benar fokus. Ini dimaksudkan agar pembahasan dalam karya tulis ini, tidak melebar dari apa yang dikehendaki. Dari latar belakang yang telah disampaikan di atas, ada beberapa pokok masalah yang akan dikaji yaitu;
1. Bagaimana dasar hukum dan alasan overmacht dalam tindak pidana pembunuhan menurut hukum Islam dan hukum pidana Indonesia?
27
10
2. Bagaimana penerapan sanksi bagi pelaku tindak pidana pembunuhan karena overmacht menurut hukum Islam dan hukum pidana Indonesia?
C. Tujuan penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui dasar hukum dan alasan tindak pidana pembunuhan karena overmacht menurut hukum Islam dan hukum pidana Indonesia. 2. Untuk mengetahui penerapan sanksi yang dijatuhkan bagi pelaku
tindak pidana pembunuhan karena overmacht menurut hukum Islam dan hulum pidana Indonesia.
D. Telaah Pustaka
Penelitian seputar overmacht dalam hukum pidana telah banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya, namun dengan pendekatan yang berbeda dalam pengujian datanya. Untuk itu penulis akan menyebutkan beberapa literatur yang akan penulis jadikan sebagai previous finding (penelitian maupun penemuan sebelumya).
Dalam buku karya Adami Chazawi yang berjudul Pelajaran Hukum
Pidana 1 terdapat beberapa penjelasan mengenai overmacht menurut hukum
pidana Indonesia yang diatur dalam pasal 48 KUHP. Menurut penulis buku ini, prinsip yang digunakan dalam pasal tersebut adalah mengorbankan kepentingan hukum yang lebih kecil demi untuk melindungi atau mempertahankan kepentingan hukum yang lebih besar.
11
Buku yang berjudul Konsep Darurat dalam Hukum Islam yang merupakan terjemahan dari Nazhariyah al-Dharurah al-Syar’iyah karya Wahbah Zuhaili menjelaskan tentang pengertian, batasan-batasan, dan penerapan kaidah-kaidah dharurah dalam Islam. Buku ini juga menerangkan bahwa tidak diperbolehkanya membunuh yang disebabkan karena
dharurah.28
Skripsi buah karya M. Eko Wahyudi (NIM: 2199184) tahun 2004 dengan judul: Analisis Atas Pemikiran Muhammad Abu Zahrah tentang
Pembunuhan sebagai Upaya dalam Mempertahankan Harta. Kesimpulan
yang dapat diperoleh dari penelitian ini bahwa menurut Imam Abu Zahrah seseorang yang membunuh dengan alasan mempertahankan harta dibolehkan, pelakunya digugurkan dari perbuatannya dan tidak ada hukuman baginya.
Skripsi buah karya oleh Syarifudin (NIM: 2198007) tahun 2003dengan judul: Studi Hukum Islam Tentang Pembunuhan Sengaja oleh
Wanita Karena Mempertahankan Diri dari Pemerkosaan (Studi Analisis
Pandangan Mashab Syafi’i. Penulis skripsi in menyatakan bahwa seorang
wanita yang membunuh dengan sengaja karena mempertahankan diri menurut pandangan madzhab Syafi‟i pelakunya digugurkan dari perbuatanya dan tidak ada hukuman baginya, baik qisas, diyat, maupun kafarat.
Skripsi buah karya Imron (NIM: 2100094) tahun 2006 dengan judul:
Qisas dan Upaya Pencapaian Maslahah dalam Surat al-Baqarah Ayat 17.
Dalam skripsi ini disimpulkan bahwa hukum qisas sebenarnya sudah berlaku
28
Wahbah Zuhaili, Nazhariyah al-Dharurah al-Syar’iyah, terj. Said Agil al-Munawar dan M. Hadri Hasan, “Konsep Darurat dalam Hukum Islam”, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997.
12
pada masyarakat Arab dari agama Yahudi dan Nasrani. yang membedakan antara keduanya dengan Islam adalah adanya prinsip musawah (persamaan), karena hukum qisas yang berlaku sebelum Islam adalah pembalasan yang tidak seimbang, misalnya budak dibalas dengan orang merdeka, perempuan dibalas laki-laki. Islam telah mensyari‟atkan hukum qisas -diyat terhadap pelaku tindak pidana pembunuhan dengan melakukan sanksi sepadan dengan perbuatan pelaku atau diserahkan kepada ahli waris untuk memilih diantara dua alternatif sanksi tersebut.
Skripsi buah karya Hardianto Siagian (NIM: 05360085) tahun 2010 dengan judul Overmacth Menurut Hukum Islam dan Hukum Pidana
Indonesia.29 Penulis skripsi ini menjelaskan tentang konsep dan batasan-batasan overmacht menurut hukum pidana dan perdata Indonesia yang dikomparasikan dengan hukum pidana Islam. Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang akan penulis teliti, karena dalam penelitian ini penulis mencoba untuk menganalisis bagaimana penerapan dan sanksi terhadap pelaku overmacht dalam tindak pidana pembunuhan.
E. Metode penelitian
Setiap penulisan karya ilmiah harus memakai suatu metode, karena metode merupakan suatu instrumen yang penting agar suatu penelitian dapat terlaksana dengan terarah sehingga tercapai hasil yang maksimal. Dalam penyusunan skripsi ini digunakan metode sebagai berikut:
1. Jenis Penelitian
29
Hardianto Siagian, “Overmacth Menurut Hukum Islam dan Hukum Pidana
13
Jenis penelitian ini termasuk penelitian pustaka (library research), yaitu penelitian yang menggunakan buku-buku sebagai sumber datanya30. Penulis akan mengumpulkan karangan ilmiah, pendapat para ahli, maupun teori-teori yang ada dalam buku atau kitab yang ada relevansinya dengan skripsi ini.
2. Sumber Data
Data yang dikumpulkan adalah jenis data kualitatif31, karena yang menjadi objek penelitian merupakan konsepsi-konsepsi dalam pemikiran seseorang atau banyak orang.
a. Sumber data primer
Sumber data primer merupakan literatur yang langsung berhubungan dengan permasalahan penelitian, yaitu: Kitab at-Tasyri’ Jinaiy
al-Islamy karya Abdul Qadir Awdah, Kitab al-Jarimah karangan
Muhammad Abu Zahra, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), buku Sifat Melawan Hukum dari Perbuatan Pidana dan
Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana buku karangan
Roeslan Saleh.
b. Sumber data sekunder
Untuk melakukan analisa terhadap konsep yang sudah ada sebagaimana dideskripsikan di atas, penulis mencari sumber dari
30
Sutrisno Hadi, Metodologi Riset, Yogyakarta: Andi Offset, 1990, hlm. 9
31
Adalah penelitian yang bersifat atau memiliki karakteristik, bahwa datanya dinyatakan dalam keadaan sewajarnya, atau sebagaimana aslinya (natural setting), dengan tidak dirubah dalam bentuk simbol-simbol atau bilangan. Penelitian kualitatif ini tidak bekerja menggunakan data dalam bentuk atau diolah dengan rumusan dan tidak ditafsirkan / diinterpretasikan sesuai ketentuan statistik / matematik. Hadawi dan Mimi Martin, Penelitian Terapan, Yogyakarta: Gajahmada University Press, 1996, hlm. 174.
14
buku yang mempunyai keterkaitan, baik buku atau kitab seperti ;
Asas-Asas Hukum Pidana Islam oleh Ahmad Hanafi, Asas-Asas-asas Hukum
Pidana Indonesia oleh Moeljatno, al-Asybah wa al-Nadhair, karya
Jalal al-Din „Abd al-Rahman Ibn Abi Bakr al-Suyuthi, Hukum
Pidana Islam, karya Ahmad Wardi Muslih dan buku-buku lain yang
relevan. 3. Analisis Data
a. Metode Analisis
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode analisis data deduktif, yaitu menganalisis litelatur-litelatur yang bersifat umum, kemudian diolah untuk mendapatkan kesimpulan yang khusus.32 Metode ini digunakan oleh penulis untuk mengekplorasi data yang terdapat pada bab II dan III.
Penulis juga menggunakan metode analisis komparatif, yaitu menganalisa data yang berbeda dengan jalamn membandingkan untuk diketahui kelebihan, kelemahan, mana yang benar dan mana yang lebih kuat. Metode ini digunakan untuk menguraikan pokok permasalahan pada bab IV.
b. Pendekatan
Pendekatan masalah yang digunakan adalah pendekatan normatif yaitu dalam menganalisis data didasarkan pada asas-asas hukum dan
32
15
perbandingan-perbandingan hukum yang ada dalam masyarakat.33 Dalam
skripsi ini pendekatan masalah dengan melihat dan membahas suatu
permasalahan dengan menitikberatkan pada aspek-aspek yang berkaitan dengan hukum Islam, serta melihat dan membahas suatu permasalahan yang menitikberatkan pada aspek-aspek hukum pidana seperti KUHP dan juga dengan penerapan kaidah-kaidah hukum.
Pendekatan lain yang digunakan adalah pendekatan hermeunetik.34 Pendekatan ini diperlukan untuk memahami makna yangn terkandung dalam ayat-ayat al qur‟an maupun rumusan KUHP.
F. Sistematika Pembahasan
Agar penelitian ini dapat mengarah pada suatu tujuan penelitian, maka di susun sistematika terdiri dari lima bab yang mempunyai karakteristik yang berbeda namun dalam kesatuan yang berkaitan dan saling melengkapi.
Bab Pertama merupakan pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah beserta tujuan dilakukannya penelitian, telaah pustaka, metodologi penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab Kedua berisikan bahasan mengenai ketentuan pidana yang menyajikan landasan yuridis dan beberapa penjelasan para fuqaha‟ terdahulu terkait dengan overmacht. Detailnya, dalam bab dua ini meliputi; dasar
33
Soerdjono Soekanto, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta:Raja
Grafindo Persada, 2001, hlm. 6.
34
Adalah pendekatan yang menggunakan cara penafsiran terhadap makna-makna yang terdapat dalam isi tulisan dari objek penelitian yang didapat dari analisis konteksnya. Lihat Sumaryoto E., Hermeunetik; Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius,1993, hlm, 25.
16
peniadan pidana, macam-macam overmacht, syarat-syarat berlakunya
overmacht,baik menurut hukum Islam maupun hukum pidana Indonesia.
Bab Ketiga dalam bab ini memuat dasar hukum, alasan, dan penerapan sanksi bagi pelaku overmcht dalam tindak pidana pembunuhan menurut hukum Islam dan hukum pidana Indonesia..
Bab Keempat berupa analisis terhadap bab-bab sebelumnya, yaitu analisis mengenai dasar hukum, alasan, serta penerapan sanksi overmacht dalam tindak pidana pembunuhan.
Bab Kelima merupakan proses akhir dari semua bab sehingga dapat ditarik kesimpulan mengenai hipotesa penulis yang berkaitan dengan
overmacht dalam tindak pidana pembunuhan dan dalam bab ini terdiri dari
17 BAB II
KETENTUAN OVERMACHT MENURUT HUKUM ISLAM DAN HUKUM PIDANA INDONESIA
A. Ketentuan Overmacht Menurut Hukum Islam 1. Pengertian Overmacht Menurut Hukum Islam
a. Pengertian Ikrah dan Dharurah
Secara leksikal (bahasa) ikrah berasal dari kata هركأ - هركي - اهاركإ yang artinya memaksa.1 Secara terminologis, terdapat beberapa pendapat yang berbeda tentang pengertian ikrah seperti dibawah ini:
Abdul Qadir Audah memberikan pengertian ikrah sebagai berikut2:
معفنا ّنإ اعُفدم ًب زيصي ّىعم يزكمنا ِأ محمنا ّف ثدحي يزكمنا هم دجُي معف
ًىم بهط ْذنا
Artinya: “Suatu perbuatan yang ditimbulkan dari pemaksa dan menimbulkan pada diri orang yang dipaksa suatu keadaan yang mendorong dirinya untuk mengerjakan perbuatan yang dituntut (oleh pemaksa) darinya”.
Sedangkan Muhammad Abu Zahrah adalah sebagai berikut3:
ًٌزكي ءّش معف ّهع صخشنا ممح
Artinya: “menyuruh seseorang melakukan sesuatu yang dibencinya”
1
Adib Bisri dan Munawwir A. Fatah, Kamus Al-Bisri, Surabaya: Pustaka Progressif, 1999, hlm.433.
2
Abdul Qadir Audah, at-Tasyri’ Jinaiy Islamiy Jilid I, Beirut: Dar Kitab al-Arabi, tth, hlm. 563.
3
18
Apabila kita perhatikan dari beberapa pengertian tersebut di atas, maka yang berbeda hanya dalam susunan kalimatnya, namun intinya sama yaitu suatu ancaman dari orang yang memaksa terhadap orang yang dipaksa yang membuatnya harus melakukan suatu perbuatan yang dipaksakan padanya. Paksaan biasanya disertai dengan ancaman dapat berupa penyiksaan, ancaman pembunuhan, pemukulan, dan lain-lain.
Dharurat dapat dipersamakan dengan ikrah. Perbedaanya hanya
pada sebab timbulnya perbuatan di mana dalam ikrah seseorang mendapatkan ancaman yang berasal dari orang lain (manusia), sedang dalam dharurat seseorang tidak diancam oleh orang lain melainkan ia mendapat dorongan dalam suatu keadaan yang mengharuskan ia melakukan perbuatan yang terlarang.4
Dharurah menurut makna leksikal berasal dari kata ّرَض - ّرُضي- ّرُض yang artinya bahaya.5
Secara terminologis Muhammad Abu Zahrah memberikan pengertian dharurat sebagai:
ايرَزضنا تسم اٍولأ تمزح ّتنا تارُضحمنا ميشت
Artinya: “menghilangkan sesuatu yang diharamkan karena bisamenyebabkan bahaya”
Wahbah al-Zuhaily mendefinisikan dharurat sebagai;
“datangnya bahaya atau kesulitan (masaqqah) yang amat berat pada manusia yang membuat dia khawatir akan terjadinya mudarat atau
4
Ahmad Hanafi, Asas-asas HukumPidana Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1993, hlm. 364-365.
5
Adib Bisri dan Munawwir A. Fatah, Op.Cit, hlm. 633
6
19
sesuatu yang menyakitkan atas jiwa, anggota tubuh, akal, harta dan bertalian denganya."7
Dari beberapa pengertian di atas, dapat dipahami bahwa dharurat adalah situasi yang dikhawatirkan dapat menimbulkan kematian atau mendekati kematian. Dengan kata lain, pengertian tersebut mengarah kepada tujuan pemeliharaan jiwa (hifz al-nafs). Wahbah Zuhaili menilai pengertian-pengertian tersebut kurang lengkap, karena dharurat mencakup semua yang berakibat dibolehkannya yang haram atau ditinggalkannya yang wajib. Maka ia menambahkan selain memelihara jiwa, dharurat juga memelihara akal, kehormatan dan memelihara harta. b. Dasar Hukum Overmacht
Dalam al-Qur‟an dijelaskan:
Artinya: “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah Dia beriman (diamendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir Padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, Maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.8 (Q.S al-Nahl: 106)
Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah murka terhadap orang yang kafir kepada-Nya, namun bagi orang yang dipaksa orang lain untuk
7
Wahbah al-Zuhaily, Nazariyyah al-darurah al Syar’iyah ma’a al Qanun al-Wad’i, terj. Said Agil al-Munawar dan M. Hadri Hasan, “Konsep Darurat dalam Hukum Islam”, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997, hlm. 72.
8
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung: Diponegoro, 2010, hlm. 279
20
mengucapkan kafir terhadap Allah, sedangkan hatinya tetap beriman, maka tidak ada dosa bagi orang tersebut.
Dalam Q.S. al-An‟am ayat 119 dijelaskan:
Artinya: “Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya, dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.9
Dalam Q.S. al-Baqarah ayat 173 dijelaskan;
Artinya: “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah, tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 10
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa orang manusia pada dasarnya dilarang untuk memakan binatang (makanan) yang diharamkan,
9
Departemen Agama RI, Ibid,, hlm. 143.
10
21
namun apabila dalam keadaan terpaksa (dharurah), maka diperbolehkan untuk memakannya.
Dalam hadiś juga disebutkan:
Artinya: “Dari Ibnu Abbas radhiyallahu „anhu berkata bahwa sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mengampuni beberapa perilaku umatku, yakni keliru, lupa dan apa yang dipaksakan terhadapnya.” (HR. Ibnu Majah)
Dalam hadis ini dapat dipahami bahwa beberapa perbuatan yang dilakukan karena keliru, lupa dan terpaksa karena dikerjakan karena tidak sengaja atau karena tidak ada kemampuan memilih, maka perbuatan ini dapat dimaafkan.
c. Macam-macam Ikrah
Dari hasil penelitian, penulis tidak menemukan adanya macam-macam dharurah, tetapi dalam masalah ikrah dibagi menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut:
1) Ikrah mulji’
Ikrah mulji’ adalah paksaan yang menghilangkan kerelaan dan
merusak pilihan (ikhtiyar) pada orang yang dipaksa.12 Yang dimaksud dengan kerelaan (ridha) adalah rasa senang mengerjakan sesuatu serta ingin padanya. Sedangkan yang dimaksud dengan pilihan (ikhtiyar) ialah keadaan lebih cenderung untuk mengerjakan sesuatu dibanding
11
Abi „Abdillah Muhammad Ibn Zaid al-Qazwainy, Sunan Ibnu Majah, Jilid 1, Beirut: Dar al-Fikr, tt. hlm. 69.
12
22
meninggalkannya ataupun sebaliknya.13 Wahbah Zuhaily mendefinisikan ikrah mulji’ sebagai pemaksaan yang membuat seseorang tidak memiliki kemampuan atau pilihan, seperti seseorang mengancam orang lain dengan sesuatu yang merusak dirinya, atau organ tubuhnya, atau pukulan yang berlebihan secara beruntun yang dikhawatirkan dapat membinasakan diri, sebagian anggota tubuh, baik pukulan itu sedikit atau pun banyak.14
Paksaan jenis ini dikhawartirkan akan mengakibatkan hilangnya nyawa pada diri orang yang dipaksa. Ikrah mulji’ memiliki pengaruh terhadap tindakan-tindakan yang menuntut adanya kerelaan dan pilihan secara sekaligus. Misalnya seseorang yang dipaksa melakukan pembunuhan, maka paksaan yang terjadi pada orang yang dipaksa harus menghilangkan kerelaan dan merusak pilihanya. Artinya, paksaan tersebut menjadikan orang yang dipaksa sama sekali tidak memiliki kemampuan dan pilihan lain untuk menolak tindakan yang dipaksakan kepadanya.
2) Ikrah ghairu mulji’
Ikrah ghairu mulji’ yaitu paksaan yang menghilangkan kerelaan
(ridha) tetapi tidak sampai merusak pilihan (ikhtiyar) pada diri orang yang dipaksa. Dalam hal ini biasanya tidak dikhawatirkan akan mengakibatkan hilangnya nyawa, seperti ancaman dipenjarakan atau diikat untuk waktu yang singkat atau dipukul dengan pukulan yang
13
Wahbah Zuhaili, Op.Cit, hlm. 71.
14
23
tidak merusak (pukulan-pukulan ringan). Ikrah ghairu mulji’ hanya berpengaruh pada tindakan hukum yang mensyaratkan adanya kerelaan seperti jual-beli, sewa-menyewa, atau pengakuan. Berdasarkan hal ini, ikrah ghairu mulji’ tidak berpengaruh terhadap tindak pidana.15
d. Syarat-syarat Ikrah dan Dharurah 1) Syarat-syarat ikrah
Paksaan harus memenuhi persyaratan berikut ini. Apabila syarat-syarat ini tidak dapat dipenuhi, paksaan itu dianggap tidak ada dan seseorang dianggap tidak dipaksa. Syarat-syarat tersebut diantaranya16:
a) Ancaman yang menyertai paksaan akan mengakibatkan bahaya yang sangat besar yang menyangkut keselamatan jiwa, sehingga dapat menghapus kerelaan, misalnya ancaman akan dibunuh. Penentuan ukuran ancaman yang menimbulkan bahaya merupakan suatu permasalahan yang subjektif, namun menurut ulama‟ Hanafiah, penentuan ukuran tersebut diserahkan kepada pendapat penguasa.
b) Ancaman harus berupa perbuatan yang dilarang dalam syariat Islam. Jika perbuatan yang diancamkan disyariatkan orang yang mengancam tidak dianggap memaksa.
15
Ahmad Hanafi, Op. Cit, hlm. 356
16
24
c) Apa yang diancamkan seketika dan hampir tejadi, yang dikhawatirkan akan dilakukuan jika orang yang dipaksa tidak melaksanakan perintah pemaksa. Jika dalam pelaksanaanya, ancaman memiliki tenggat waktu, keadaan ini tidak dapat dinamakan sebagai paksaan karena dalam tenggat waktu tersebut orang yang dipaksa masih memiliki waktu untuk melindungi dirinya. Tolok ukur dalam menentukan apakah ancaman itu dilaksanakan secara seketika atau tidak adalah keadaan orang yang dipaksa dan perkiraannya yang didasarkan pada sebab-sebab yang logis.
d) Orang yang memaksa memiliki kemampuan untuk melaksanakan ancamanya, sebab paksaan tidak akan terlaksana kecuali dengan adanya kemampuan. Jika yang mengancam itu tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakan ancamannya, maka hal itu tidak dianggap sebagai ancaman.
e) Orang yang diancam harus meyakini bahwa ancaman yang diterimanya benar-benar akan dilaksanakan oleh pemaksa apabila kehendak pemaksa tidak dipenuhinya. Jika dia meyakini bahwa orang yang mengancam tidak sungguh-sungguh atau dia mampu menghindari ancaman itu dengan cara apapun namun orang yang dipaksa tetap melaksanakan perbuatan tersebut, maka dia tidak dianggap sebagai orang yang dipaksa. Dalam hal ini dugaan orang yang dipaksa harus didasari oleh sebab-sebab yang logis.
25 2) Syarat-syarat dharurah
a) Keadaan dharurat harus sudah ada bukan masih ditunggu, dengan kata lain kekhawatiran akan kematian itu benar-benar ada dalam kenyataan.
b) Orang yang terpaksa tidak punya pilihan lain kecuali melanggar perintah atau larangan syar‟i atau tidak ada cara lain yang dibenarkan untuk menghindari kemudharatan selain melanggar hukum.
c) Tidak boleh melanggar prinsip-prinsip syar‟i (maqasid al-syari’ah) seperti diharamkan zina, pembunuhan, dalam kondisi bagaimanapun.
d) Dalam menghindari keadaan darurat hanya dipakai tindakan seperlunya dan tidak berlebihan.17
2. Dasar Peniadaan Pidana Dalam Islam
Pertanggungjawaban pidana dapat hapus karena hal-hal yang bertalian dengan perbuatan atau karena hal-hal yang bertalian dengan pelaku. Sebab-sebab yang berkaitan dengan perbuatan yang diperbolehkan disebut asbab al–ibahah. Sedangkan sebab-sebab yang berkaitan dengan keadaan pelaku disebut asbab raf’i al-uqubah. Abdul Qadir Audah sebagaimana dikutip Ahmad Wardi Muslich menngemukakan bahwa sebab diperolehkannya perbuatan yang terlarang terdapat enam macam yaitu:18
17
Wahbah Zuhaili, Op. Cit, hlm. 73-74
18
Ahmad Wardi Muslich, Pengantar dan Asas-asas Hukum Pidana Islam, Jakarta: Sinar Grafika, 2005, hlm. 85.
26 a. Pembelaan yang sah
b. Pendidikan dan pengajaran c. Pengobatan
d. Permainan olahraga
e. Hapusnya jaminan keselamatan
f. Menggunakan wewenang dan melaksanakan kewajiban bagi pihak yang berwajib.
Asbab raf’i al-uqubah terbagi menjadi empat yaitu:
a. Paksaan
Paksaan dalam jarimah menjadi salah satu dasar penghapusan pidana sebagaimana sabda Rasulullah saw:
Artinya: “Dari Ibnu Abbas radhiyallahu „anhu berkata bahwa sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mengampuni beberapa perilaku umatku, yakni keliru, lupa dan apa yang dipaksakan terhadapnya.” (HR. Ibnu Majah)
b. Mabuk
Hukum Islam mengharamkan meminum khamr baik sampai mengakibatkan mabuk maupun tidak. Meminum khamr termasuk tindak pidana hudud, dan pelakunya dihukum delapan puluh kali dera.
Pertanggungjawaban pidana bagi orang yang mabuk menurut pendapat yang kuat dalam mazhab empat menetapkan bahwa orang yang mabuk tidak dijatuhi hukuman atas tindak pidana yang dilakukannya
19
27
apabila seseorang meminumnya karena dipaksa atau meminumnya karena kehendak sendiri, tetapi ia tidak tahu bahwa minuman tersebut memabukkan, atau ia meminum obat untuk mengobati dirinnya kemudian memmbuatnya mabuk dan melakukan tindak pidana. Hal ini karena ia melakukan tindak pidana dalam keadaan hilangnya pikiran sehingga ia dihukumi seperti orang gila atau orang yang tidur atau yang seumpamanya. Akan tetapi jika seseorang minum khamr karena kemauan sendiri, dengan sengaja tanpa alasan, dalam hal ini seseorang harus bertanggungjawab atas setiap jarimah yang dilakukannya.
Berbeda dengan orang yang meminum khamr karena kemauannya sendiri tanpa ada alasan, maka dia harus bertanggungjawab atas semua tindak pidana yang dilakukannya ketika ia mabuk. Dalam hal ini dia harus dijatuhi hukuman pokoknya sebab dia telah menghilangkan akal sehatnya sendiri.20 Hukuman tersebut diberikan kepadanyan sebagai pengajaran, karenaia telah menghilangkan akalnya sendiri dengan sengaja.21
c. Gila
Syariat Islam memandang seseorang sebagai mukallaf 22 yang dapat dibebani pertanggungjawaban pidana apabila ia memiliki kemampuan berfikir (idraak) dan memilih (ikhtiyar). Apabila dua hal ini
20
Abdul Qadir Audah, Op. Cit, hlm 582.
21
Ahmad Hanafi, Op. Cit, hlm. 373.
22
Mukallaf adalah orang yang dianggap mampu atau cakap bertindak hukum, baik yang berhubungan dengan perintah Allah maupun yang berhubungan dengan larangan-Nya, dan oleh karenanya ia memikul pertanggungjawaban hukum atas perbuatannya. Lihat Nasrun Haroen,
28
tidak ada, maka pertanggungjawaban pidana menjadi terhapus.23 Kemampuan berfikir seseorang itu dapat hilang karena bawaan sejak lahir atau karena adanya gangguan seperti sakit atau cacat mental. Hilangnya kemampuan berfikir ini bisa disebut dengan gila.
Abdul Qadir Audah memberikan pengertian gila sebagai berikut:
ًفعض َأ ًنلاتخا َأ مقعنا لاَس ًوأب نُىجنا
Artinya: “Gila adalah hilangnya akal, rusak atau lemah”
Gila bukan berarti membolehkan, melainkan menghapuskan hukuman dari si pelaku25. Ketetapan ini disepakati oleh para fuqaha. Imam Malik dan Abu Hanifah, dan Ahmad bin Hambal berpendapat bahwa kesengajaan orang gila adalah perbuatan tersalah sebab orang gila tidak mungkin berniat melakukan suatu perbuatan dengan niat yang benar. Karena itu apabila perbuatannya tidak diniatkan, perbuatan tersebut bukan sengaja melainkan tersalah.
d. Anak di bawah umur
Pertanggungjawaban hukum bagi anak kecil berbeda dengan orang dewasa seiring berdasarkan perbedaan perbedaan fase-fase yang dilalui oleh manusia semenjak lahirnya sampai pada waktu sempurnanya kekuatan berfikir (idraak) dan pilihan (ikhtiyar). Ketika dilahirkan, manusia menurut tabi‟atnya memiliki kekuatan akal dan pilihan yang lemah kemudian sedikit demi sedikit mulai terbentuk hingga akhirnya
23
Ahmad Wardi Muslich, Op.Cit, hlm. 127.
24
Abd al-Qadir Audah, Op. Cit.hlm. 587
25
29
manusia dapat memahami sampai batas waktu tertentu hingga akhirnya pertimbuhan akalnya menjadi sempurna.
Atas dasar adanya tahapan-tahapan dalam membentuk idrak ini, dibuatlah kaidah tanggung jawab pidana. Ketika kekuatan berpikir ridak ada pada diri manusia, tanggungjawab pidana juga tidak ada. Ketika kekuatan berfikirnya lemah, yang dijatuhkan padanya bukan tanggungjawab pidana melainkan hukuman untuk mendidik. Anak kecil tidak dijatuhi hukuman hudud, qisas dan ta’zir apabila melakukan
jarimah.
Dalam hukum pidana Indonesia, anak memikul pertanggungjawaban atas tindak pidana yang dilakukannya. Mengenai sanksi terhadap anak dalam Undang-undang No 3 Tahun 1997 ditentukan berdasarkan perbedaan umur anak, yaitu bagi anak yang berumur 8 (delapan) sampai 12 (dua belas) tahun hanya dikenakan tindakan, seperti dikembalikan kepada orang tuanya, ditempatkan pada organisasi sosial, atau diserahkan pada negara. Sedangkan yang berusia di atas 12 tahun hingga 18 tahun dijatuhkan pidana.26
26
Ali Imron HS, Pertanggungjawaban Hukum,Semarang: Walisongo Press, 2009, hlm. 153.
30
B. Ketentuan Overmacht Menurut Hukum Pidana Indonesia 1. Pengertian Overmacht dan Macam-macamnya
a. Pengertian Overmacht
Overmacht dalam hukum pidana diatur dalam pasal 48 KUHP
yang menyatakan:
“Barang siapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa, tidak dipidana”.27
Menurut bunyi pasal tersebut, daya paksa (overmacht) menjadi dasar peniadaan hukuman. Undang-undang hanya menyebut tidak dipidana seseorang yang melakukan perbuatan karena terdorong keadaan atau daya yang memaksa. Undang-undang tidak menjelaskan apakah yang dimaksud dengan daya paksa (overmacht). Pengertian dan penjelasan tersebut diberikan oleh para sarjana hukum.
Kata “daya paksa” dalam pasal tersebut adalah salinan kata Belanda “overmacht”, yang artinya suatu keadaan, kejadian yag tidak dapat dihindarkan dan terjadi di luar dugaan (di luar kekuasaan manusia) 28.
Moeljatno memberikan pengertian overmacht sebagai kekuatan atau daya paksa yang lebih besar29. Surjanatamihardja menerjemahkan kata overmacht dengan berat lawan, sedang Jusuf
27
Andi Hamzah, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Jakarta: Rineka Cipta, 2006, hlm. 25.
28
Simorangkir dkk, Kamus Hukum, Jakarta: Sinar Grafika, 2009, hlm. 118.
29
31
Ismail menerjemahkannya dengan terpaksa oleh sesuatu kekuasaan yang tidak dapat dihindarkan.30
Terdapat beberapa pendapat yang berbeda-beda mengenai penjelasan overmacht, yang bukan tidak mungkin dapat menimbulkan kesalahpahaman atau kebingungan, apabila tidak dijelaskan.
Menurut Van Hammel, overmacht yaitu suatu keadaan yang menggambarkan adanya suatu ketidakmungkinan untuk memberikan perlawanan.31 Menurut Memorie van Toelichting (MvT) mengenai pembentukan pasal 48 KUHP tersebut, overmacht disebut sebagai suatu yang datang dari luar yang membuat sesuatu perbuatan itu menjadi tidak dapat dipertanggungjawabkan kepada pelakunya dan telah dirumuskan sebagai kekuatan yang datang bukan dari diri sendiri. Setiap paksaan, setiap tekanan dimana terhadap kekuatan, paksaan atau tekanan tersebut orang tidak dapat memberikan perlawanan.32
Overmacht ini merupakan kekuatan yang datang dari luar,
yang disebabkan oleh alam lingkungan yang mengelilingi, atau juga yang dipaksa oleh orang lain. Overmacht dapat digambarkan sebagai peristiwa dimana seseorang karena ancaman bahaya, dipaksa melakukan suatu tindak pidana. Orang tersebut bisa melawan ancaman tersebut, tetapi apabila hal ini dilakukannya akan merupakan suatu perbuatan kepahlawanan atau perbuatan nekad yang berakibat fatal bagi
30
Wirjono Azas-Azas Hukum Pidana di Indonesia, Jakarta: Eresco, 1981 hlm. 75
31
Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia. Bandung: Sinar Baru 1990, hlm 410
32
32
dirinya. Misalnya seseorang yang diancam oleh orang lain dengan sebuah pistol, kemudian menembak mati orang lain, apabila hal ini dibenarkan dapat dianggap sebagai overmacht. Ia tidak dipidana karena tunduknya pada ancaman tersebut, diakui sebagai suatu yang dapat dimaafkan.33
b. Dasar Hukum Overmacht
Dalam hukum pidana Indonesia, overmacht diatur dalam BAB III Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 48 yang berbunyi:
“Barang siapa yang melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa tidak dipidana”.34
Pasal tersebut mengandung unsur-unsur; 1) Melakukan perbuatan
Suatu perbuatan harus memiliki sifat layak dipidana, dengan kata lain mempunyai relevansi dari sudut pandang hukum pidana. 2) Karena pengaruh daya paksa
3) Tidak dipidana.
Tidak dipidana maksudnya terdakwa diputus lepas dari segala tuntutan hukum jika pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu
33
J.E. Sahetapy, Hukum Pidana, Yogyakarta: Liberty, 1995, hlm. 153.
34
Andi Hamzah, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Jakarta: Rineka Cipta, 2006, hlm. 25.
33
tidak merupakan suatu tindak pidana. Hal ini diatur dalam pasal 191 ayat 2 KUHAP.35
Dalam rancangan KUHP tahun 2008, overmacht diatur dalam pasal 43 yang berbunyi:36
“Tidak dipidana, seseorang yang melakukan tindak pidana karena: 1. Dipaksa oleh kekuatan yang tidak dapat ditahan, atau
2. Dipaksa oleh adanya ancaman, tekanan, dan kekuatan yang tidak dapat dihindari”
Pasal di atas mengandung unsur-unsur: 1) Tidak dipidana
Maksudnya terdakwa lepas dari segala tuntutan hukum. 2) Orang yang melakukan tindak pidana
Melakukan tindak pidana berarti perbuatan seseorang melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang oleh peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana.
Untuk dinyatakan sebagai tindak pidana, selain perbuatan tersebut dilarang dan diancam pidana oleh aturan perundang-undangan, harus juga bersifat melawan hukum atau bertentangan dengan hukum yang hidup dimasyarakat.
3) Dipaksa oleh kekuatan yang tidak dapat ditahan
Yang dimaksud dengan “kekuatan yang tidak dapat ditahan” adalah daya paksa absolut / vis absoluta
35
Andi Hamzah,Op. Cit, hlm308
36
http://www.legalitas.org/database/rancangan/2008/KUHPBukuI2008.pdf.Diunduh pada tanggal 5 Nopember 2010.
34
4) Dipaksa oleh adanya ancaman, tekanan, dan kekuatan yang tidak dapat dihindari
Yang dimaksud dengan “dipaksa oleh adanya ancaman, tekanan, atau kekuatan yang tidak dapat dihindari” adalah daya paksa relatif / vis compulsiva
c. Macam-macam Overmacht Dalam Hukum Pidana Indonesia.
Hazewinkel-Suringa membagi overmacht menjadi 3 macam37: 1) Daya paksa absolut (absolute overmacht/vis absoluta)
Paksaan absolut adalah suatu keadaan dimana paksaan dan tekanan sedemikian kuatnya pada diri seseorang, sehingga ia tidak dapat lagi berbuat sesuatu yang lain selain apa yang terpaksa dilakukan atau apa yang terjadi”.38
Daya paksa absolut ini bisa berupa paksaan fisik, paksaan psikis. Contoh daya paksa absolut yang berupa paksaan fisik adalah seorang yang kuat menerjang seorang anak yang berdiri di dekat kaca, membuat anak itu terpental dan mengenai kaca dan pecahlah kaca tersebut.
Contoh daya paksa absolut oleh adanya paksaan psikis dari perbuatan manusia, seorang yang berada dalam keadaan dihipnotis diperintah untuk membakar sebuah mobil.
2) Daya paksa relatif (relative overmacht/ vis compulsiva)
Paksaan relatif adalah suatu paksaan yang sedemikian rupa menekan seseorang, sehingga ia berada dalam keadaan yang serba salah, suatu
37
A. Zainal Abidin Farid, Hukum Pidana 1, Jakarta: Sinar Grafika, 2007, hlm. 193
38
Adami Chazawi, Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana 2, Jakarta: Raja Grafindo Pustaka, 2002, hlm. 30.
35
keadaan yang memaksa dia mengambil suatu sikap dan berbuat yang pada kenyataanya melanggar Undang-undang, yang bagi setiap orang normal tidak akan mengambil sikap dan berbuat lain berhubung resiko dari pilihan perbuatan itu lebih besar terhadap dirinya.39 Contohnya adalah seorang anaknya diculik kemudian dia dipaksa untuk membunuh orang lain dengan ancaman anaknya akan dibunuh.
3) Keadaan Darurat (noodstoestand)
Noodtoestand atau keadaan darurat adalah suatu keadaan dimana
suatu kepentingan hukum terancam bahaya, yang untuk menghindari ancaman itu terpaksa dilakukan perbuatan yang pada kenyataanya melanggar kepentingan hukum yang lain.
Dalam doktrin hukum bentuk noodtoestand terjadi dalam 3 hal40: a) Pertentangan antara dua kepentingan hukum
Apabila terjadi suatu keadaan dimana terjadi konflik antara dua kepentingan hukum yang saling berhadapan, dimana tidak dapat memenuhi semua kepentingan hukum yang saling bertentangan, melainkan dengan terpaksa harus mengorbankan salah satu dari kepentingan hukum itu, maka pihak yang terpaksa melanggar kepentingan hukum tidak dipidana.
Contohnya ketika terjadi kecelakaan laut, yakni tenggelamnya sebuah kapal, ada dua orang penumpang yang dalam usahanya
39
Adami Chazawi, Ibid. hlm 32
40