IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN ACCELERATED
LEARNING UNTUK
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR ILMU
PENGETAHUAN ALAM PADA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR
NEGERI 3 DENCARIK KABUPATEN BULELENG TAHUN PELAJARAN
2013/2014
I Kd Mertayasa
1, I Wyn Suwatra
2, Md Sumantri
3 1,3Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
2Ketua Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
email: [email protected]
1,[email protected]
2,
[email protected]
3Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa setelah mengimplementasikan model Pembelajaran Accelerated Learning pada mata pelajaran IPA kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Dencarik Kabupaten Buleleng Tahun pelajaran 2013/2014. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 2 siklus.
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Dencarik Kabupaten Buleleng tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah17 orangdengan 8 orang siswa laki-laki dan 9 orang siswa perempuan. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode tes. Data tentang hasil belajar siswa dikumpulkan dengan tes hasil belajar yang berupa tes objektif dan tes uraian. Data yang didapatkan dari tes selanjutnya dianalisis dengan teknik deskriptif-kuantitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa kelas V semester 1 Sekolah Dasar Negeri 3 Dencarik tahun pelajaran 2013/2014 pada pembelajaran IPA dapat ditingkatkan melalui implementasi model pembelajaran Accelerated Learning. Hal ini dapat dilihat dari tingkat ketuntasan belajar secara klasikal pada siklus I mencapai 70,58% yang berada pada rentang tingkat ketuntasan cukup baik dan tingkat ketuntasan belajar secara klasikal pada siklus II mencapai 88,23% yang berada pada rentang tingkat ketuntasan sangat baik. Tingkat ketuntasan belajar secara klasikal mengalami peningkatan sebesar 17,65%.
Kata Kunci: Model Pembelajaran Accelerated Learning, Hasil Belajar Siswa.
Abstract
This study aims to determine the improvement of student learning outcomes after implementing Learning Accelerated Learning model of teaching science in public elementary school fifth grade 3 Dencarik Buleleng school year 2013/2014. This research is classroom action research (CAR) conducted in two cycles.
The subjects were students of class V Elementary School 3 Dencarik Buleleng academic year 2013/2014 , amounting to 17 people with 8 boys and 9 girls . Collecting data in this study was conducted using the test . Data on student learning outcomes test results gathered by studying the form of objective tests and test descriptions . The data obtained from the test were then analyzed with descriptive - quantitative technique .
The results showed that the class V student learning outcomes Elementary School 1st half 3 Dencarik academic year 2013/2014 on science learning can be enhanced through the implementation of the Accelerated Learning learning model. It can be seen from the level of mastery learning is classical in the first cycle reaches 70.58%, which is in the range pretty good level of thoroughness and level of mastery learning classically on the second cycle reached 88.23%, which is in the range of completeness level is very good. The level of mastery learning classically an increase of 17.65%.
Keywords: Models of Learning Accelerated Learning, Student Learning Outcomes.
PENDAHULUAN
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi membuat pendidikan tidak hanya berorientasi pada masa lalu dan
masa kini, tetapi sudah seharusnya
merupakan proses yang mengantisipasi
dan membicarakan masa depan.
Pendidikan hendaknya memikirkan jauh ke depan dan memikirkan apa yang akan dihadapi peserta didik masa yang akan datang. Memperhatikan tujuan pendidikan
di jenjang sekolah, seyogyanya
penyelenggaraan pembelajaran mampu
mempersiapkan, membina, dan membentuk
peserta didik yang menguasai
pengetahuan, sikap, nilai dan kecakapan dasar yang diperlukan dalam kehidupan masyarakat. Untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut, sudah seharusnya proses belajar yang dilaksanakan didukung oleh iklim pembelajaran yang kondusif. Hal ini
disebabkan karena pada dasarnya
pendidikan merupakan proses
memanusiakan manusia agar mampu
mengaktualisasikan diri dalam kehidupan. Tujuan pendidikan yang baik tidak hanya mempersiapkan para siswa untuk suatu
profesi atau jabatan, tetapi untuk
menyelesaikan masalah-masalah yang
dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari (Trianto, 2007).
Masalah pendidikan di Indonesia yang muncul akhir-akhir ini ke permukaan banyak berkaitan dengan mutu pendidikan, baik dalam proses maupun hasilnya. Salah satu masalah pokok dalam pembelajaran pada pedidikan formal dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik. Hal ini tampak dari rerata hasil belajar peserta didik yang masih rendah. Ada beberapa deskripsi mengenai kualitas pendidikan di Indonesia yaitu sebagai
berikut. Berdasarkan hasil Human
Develoment Index Rankings (HDI) yang
disusun oleh UNDP (United Nations Development Programmer) pada tahun
2007/2008, Indonesia berada pada
peringkat 107 dari 177 Negara dan digolongkan ke dalam medium human development (UNDP dalam Juni, 2011). Disamping itu, berdasarkan hasil studi yang dilaksanakan pada tahu 1999 oleh the
Third International Mathematics and
Science Study- Repeat (TIMSS-R) yang melaporkan bahwa siswa di Indonesia menempati peringkat 32 untuk IPA dan peringkat 34 untuk matematika dari 38 Negara yang disurvai di Asia (TIMSS-R dalam Juni 2011). Hasil studi tersebut menunjukkam bahwa mutu pendidikan di Indonesia masih perlu ditingkatkan dan
tergolong masih rendah dibandingkan
dengan negara-negara lain.
Salah satu penyebab rendahnya pencapaian hasil balajar siswa adalah pengajaran yang masih dipandang sebagai
proses transfer pengetahuan, bukan
sebagai proses membangun pengetahuan,
keterampilan proses, dan sikap IPA
(Suparno,1997: 76). Sistem evaluasi yang dilakukan guru mencangkup bentuk soal yang sangat mempengaruhi pola belajar
siswa. Guru selama ini kurang
mempersoalkan kemampuan siswa dalam menyatakan definisi, menganalisis makna dari suatu hukum atau prinsip dan tidak menuntut kemampuan memecahkan soal secara bersistem. Pandangan mengajar mengenai bagaimana mengemas pedidikan
agar dapat meningkatkan kualitas
pendidikan hanya dilihat berdasarkan ketuntasan hasil belajar yang dicapai oleh
siswa, tanpa memperhatikan tujuan
pedidikan yang sebenarnya, dengan kata lain metode pengajaran yang diterapkan
masih konvensional. Kurangnya
pemahaman siswa terhadap konsep
dari keterbatasan guru dalam memilih dan melaksanakan metode belajar yang cocok dan sesuai dengan materi yang diajarkan.
Berbagai upaya telah dilakukan
oleh pemerintah untuk mengatasi
kesenjangan yang terjadi dalam bidang pendidikan. Upaya-upaya tersebut antara
lain, meningkatkan kualitas tenaga
pendidik, misalkan dengan mengadakan penataran guru dan menyetarakan jenjang
pendidikan guru, melengkapi fasilitas
sekolah, serta mengadakan perbaikan kurikulum. Berlakunya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang telah direvisi
menjadi Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP), menuntut perubahan
paradigma dalam pendidikan dan
pembelajaran, khususnya pada jenis dan jenjang pendidikan formal. Di samping itu, upaya meningkatkan mutu pendidikan secara umum memerlukam perubahan pola pikir yang digunakan sebagai landasan dalam pembelajaran. Perubahan pola pikir atau reformasi pendidikan hendaknya perlu memikirkan bagaimana siswa dalam proses belajarnya, bukan hanya berfokus pada hasil belajar yang dicapai. ”Belajar pada hakikatnya merupakan proses modifikasi gagasan-gagasan yang telah ada pada diri pelajar yang terjadi melalui konstruksi dan elaborasi struktur kognitif atas dasar pengalaman” (Rusyam,1993: 88). Untuk itu,
seorang pelajar harus mampu
memanfaatkan pengetahuan awalnya
sebagai landasan dalam mempelajari suatu konsep, sehingga terjadi proses belajar yang bermakna.
Di samping itu, para kontruktivis memandang perlu adanya pergeseran makna secara tajam dari individu-individu yang berdiri di depan kelas sebagai guru. Suatu pergeseran dari seseorang yang mengajar menjadi seorang fasilitator dan
mediator dalam mengeksplorasi
pengetahuan awal siswa. Suatu pergeseran dari mengajar sebagai proses pembebanan
menuju mengajar sebagai proses
negosiasi. Perubahan tersebut harus juga diikuti sikap guru untuk mau bertanggung jawab atas penyelenggaraan pembelajaran di sekolah. Diharapkan para guru mampu melaksanakan proses belajar mengajar
dengan baik melalui model-model
pembelajaran yang mereka rancang. Hal ini
disebabkan karena model pembelajaran
yang diterapkan di sekolah sangat
mempengaruhi hasil belajar yang akan dicapai oleh siswa serta pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang mereka peroleh dari hasil belajarnya.
Model pembelajaran yang
mengeksplorasi pengetahuan siswa, serta meningkatkan pemahaman konsep yang
nantinya bermuara pada peningkatan
aktivitas dan hasil belajar siswa yaitu model pembelajaran yang melibatkan peran aktif
siswa dalam melakukan kegiatan
pembelajaran. Salah satu model
pembelajaran yang mengacu pada
pandangan kontruktivis tersebut adalah model pembelajaran Accelerated Learning. Model pembelajaran Accelerated Learning mencangkup cara-cara yang ditempuh oleh seorang guru untuk membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman konsepnya.
Model pembelajaran Accelerated
Learning merupakan “salah satu model
pembelajaran yang mengekplorasi
pengetahuan siswa dan memberikan
kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran” (Meir, 2002: 49). Model pembelajaran ini pertama kali diajukan oleh Georgi Lazanov seorang
psikiater Bulgaria. Dasar model
pembelajaran Accelerated Learning ini
adalah filosofi learn how to learn.
Berdasarkan filosofi ini, belajar bukan hanya mengetahui jawaban-jawaban, tetapi belajar merupakan suatu proses eksplorasi artinya dalam proses pembelajaran siswa
terlibat aktif menggunakan seluruh
kemampuan yang dimilikinya untuk
menemukan konsep-konsep yang
melandasi jawaban tersebut sehingga keterampilan siswa akan berkembang.
Rose (2003: 67) menyatakan bahwa model pembelajaran Accelerated Learning dalam proses pembelajaran memiliki enam langkah pembelajaran yaitu 1) Memotivasi siswa yaitu pada tahap ini, guru membantu
memotivasi pikiran siswa untuk
memperoleh informasi dengan cara
mengaitkan kegunaan materi dalam
kehidupan sehari-hari dan menyampaikan masalah yang berkaitan dengan dunia
nyata siswa. Dari permasalahan
kontekstual yang diberikan diharapkan siswa tertarik pada pokok bahasan yang
akan diajarkan, 2) Memperoleh informasi yaitu pada tahap ini, guru mengarahkan siswa untuk menemukan konsep yang dicari dengan memberikan pertanyaan penuntun. Siswa bersama kelompoknya memberikan jawaban sementara terkait dengfan tertanyaan yang diberikan oleh guru, 3) Menyelidiki makna, yaitu guru memberikan siswa untuk berdiskusi dengan
kelompoknya mengenai jawaban
sementara yang sudah dilakukan
sebelumnya. Hal ini ditujukan agar siswa mampu mengaitkan konsep yang didapat dengan permasalahan sehari-hari sehingga
pembelajaran menjadi bermakna, 4)
Memicu memori siswa, yaitu guru
memberikan masing-masing kelompok
menyampaikan hasil diskusi tentang
kesimpulan yang sudah dilakukan
sebelumnya. Selanjutnya guru membimbing siswa untuk membahas
permasalahan-permasalahan yang timbul, 5)
Mendemonstrasikan pengetahuan, yaitu guru mengajak siswa untuk menunjukkan apa yang telah diketahui dengan cara memberikan pertanyaan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa mengenai konsep-konsep yang telah diperoleh, dan 6) Merefleksi, yaitu guru menyuruh siswa untuk menyampaikan konsep yang yang
belum dimengerti, dan tugas guru
memberikan penekanan pada konsep yang belum dimengerti oleh siswa.
Salah satu ciri model pembelajaran ini adalah nampak adanya kemampuan siswa untuk bekerja sama dalam kelompok
kecil. Masing-masing anggota dalam
kelompok memiliki tugas yang setara. Karena di dalam proses pembelajaran keberhasilan kelompok sangat diperhatikan. Dalam penerapan model pembelajaran ini siswa akan dikelompokkan sesuai dengan
tingkat kemampuan yang dimilikinya.
Misalnya siswa yang memiliki tingkat kemampuan yang tinggi akan dibentuk menjadi satu kelompok, begitu pula siswa yang memiliki tingkat kemampuan yang sedang maupun yang rendah akan dibentuk sama seperti kelompok yang memiliki tingkat kemampuan yang tinggi. Tugas
seorang guru yaitu lebih banyak
memberikan bimbingan kepada kelompok siswa yang tingkat kemampuanya rendah. Hal ini bertujuan agar kelompok yang
memiliki tingkat kemampuan yang rendah bisa memahami tugas yang diberikan guru tanpa membiasakan cara belajar yang
hanya mengandalkan temannya yang
pintar.
Prinsip-prinsip model pembelajaran
Accelerated Learning adalah sebagai
berikut, belajar melibatkan seluruh pikiran dan tubuh, belajar adalah berkreasi bukan mengkonsumsi, kerja sama membantu proses belajar, pembelajaran berlangsung pada banyak tingkatan secara simultan, belajar berasal dari mengerjakan pekerjaan itu sendiri (dengan umpan balik), emosi
positif sangat membantu proses
pembelajaran (Meir, 2001). Dengan cara demikian konsep yang diperoleh siswa akan melekat dalam ingatannya, dan siswa akan memahami apa yang dipelajarinya serta akan merasakan proses belajarnya lebih bermakna, dengan demikian hasil belajar yang akan dicapai siswa juga akan meningkat.
Namun, kenyataan di lapangan tidak menunjukkan hasil yang diharapkan. Hal ini dapat ditunjukkan dengan hasil observasi awal dan wawancara dengan Bapak I Kadek Sukerta, A.ma selaku guru IPA kelas V SD 3 Dencarik. Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara yang
dilaksanakan tanggal 17 Juli 2013,
diperoleh informasi bahwa pembelajaran IPA di Kelas V Sekolah Dasar Negeri 3
Dencarik Kabupaten Bulelengmasih
mengalami permasalahan dalam hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai ulangan harian IPA siswa kelas V di Sekolah Dasar tersebut baru mencapai 60,5 sedangkan KKM yang ditetapkan adalah 75.
Hal ini disebabkan karena guru
belum mengoptimalkan pengajuan
masalah-masalah real yang ada dalam fenomena kehidupan berkaitan dengan materi pelajaran yang sedang dibelajarkan, aktivitas dan kemampuan siswa dalam
memecahkan masalah masih sangat
kurang, serta guru belum mampu secara
optimal mengimplementasikan model
pembelajaran dan memilih metode yang tepat dalam menyajikan pembelajaran IPA sehingga siswa belum mampu memahami konsep IPA secara optimal. Berdasarkan hasil belajar yang kurang optimal tersebut,
maka diperlukan adanya perbaikan pola pembelajaran agar hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA meningkat. Berkaitan dengan hal tersebut, maka dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa setelah mengimplementasikan Model Pembelajaran Accelerated Learning pada mata pelajaran IPA kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Dencarik Kabupaten Buleleng Tahun pelajaran 2013/2014.
METODE
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang terdiri dari 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 (empat) tahapan yaitu: (1) perencanaan tindakan yang terdiri dari menyusun rumusan masalah, menentukan tujuan dan metode penelitian serta membuat rencana tindakan; (2) pelaksaan tindakan, apa yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya perubahan yang dilakukan; (3) observasi dan evaluasi, untuk mengamati hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan terhadap siswa; (4) refleksi, peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan. Hasil refleksi ini digunakan sebagai dasar perencanaan dan tindakan berikutnya sehingga membentuk sebuah siklus.
Penelitian ini dilaksanakan di
Sekolah Dasar Negeri 3 Dencarik. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Dencarik Kabupaten Buleleng tahun ajaran 2013/2014 yang
berjumlah 17 orang dengan 8 orang siswa
laki-laki dan 9 orang siswa perempuan
Objek yang diteliti dalam penelitian ini adalah hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas V tahun pelajaran 2013/2014 setelah diimplementasikannya model pembelajaran Accelerated Learning secara efektif.
Pada penelitian ini melibatkan 2 variabel, yaitu variabel bebas dan variabel
terikat. Variabel bebas yaitu Model
Pembelajaran Accelerated Learning dan Variabel terikat yaitu hasil belajar ilmu pengetahuan alam. Data dalam penelitian
ini, data dikumpulkan dengan
menggunakan metode tes. Metode tes
pada hakikatnya merupakan cara
pengumpulan data dengan memberikan beberapa pertanyaan atau tugas yang semuanya harus dikerjakan atau dijawab oleh peserta tes (testee), dan hasil dari tes
berupa skor atau bersifat interval.
Pengumpulan data mengenai hasil belajar IPA siswa dalam penelitian ini dikumpulkan melalui tes tertulis yang dilakukan pada akhir pembahasan setiap pokok bahasan. Tes hasil belajar siswa yang digunakan dalam bentuk tes objektif dan tes uraian. Tes obyektif terdiri dari 20 butir soal dan 5 soal tes uraian.
Data yang telah dikumpulkan
dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif karena data yang dikumpulkan berupa skor dalam skala interval yang dituangkan dalam bentuk tabel dan grafik. Metode ini digunakan
untuk menentukan tingkatan tinggi
rendahnya hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) siswa secara klasikal yang dikonversikan ke dalam Penilaian Acuan Patokan (PAP) skala lima sebagai berikut.
Tabel 1 Kriteria Tingkat Penguasaan Kompetensi SD N 3 Dencarik Mata Pelajaran IPA
Tingkat Penguasaan Kompetensi
Nilai
Huruf Kategori Keterangan
85% - 100% A Sangat Baik Tuntas
75% - 84% B Baik Tuntas
65% - 74% C Cukup Tuntas
55% - 64% D Kurang Tidak tuntas
35% - 54% E Sangat
kurang
Tidak tuntas
Secara keseluruhan penelitian ini dikatakan berhasil apabila hasil belajar siswa mencapai nilai minimal 75 (baik secara individu maupun klasikal) dan
ketuntasan belajar secara klasikal
mencapai 75% (sesuai dengan KKM mata pelajaran IPA kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Dencarik).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada tanggal 14 Oktober 2013 sampai dengan tanggal 8 Nopember
2013 pada siswa kelas V Sekolah Dasar
Negeri 3 Dencarik Tahun pelajaran
2013/2014 dengan jumlah siswa 17 orang. Adapun hasil dan analisis data mengenai hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam terdiri dari hasil refleksi awal, hasil siklus I, dan hasil siklus II.
Data hasil belajar siswa pada saat observasi awal dapat dilihat dari persentase
ketuntasan secara klasikal. Adapun
persentase kategori ketuntasan hasil
belajar IPA siswa kelas V Sekolah Dasar
Negeri 3 Dencarik Tahun pelajaran
2013/2014, dapat dilihat pada Tabel berikut.
Tabel 2 Persentase Kategori Ketuntasan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V Semester 1 Sekolah Dasar Negeri 3 Dencarik Tahun Pelajaran 2013/2014 pada Observasi Awal No Rentang Skor Jumlah Siswa Persentase (%)
Kategori Jumlah Siswa
Tuntas
1 85% - 100% - - Sangat Baik 52,95% siswa
tuntas 47,05% siswa tidak tuntas 2 75% - 84% 9 52,95 Baik 3 65% - 74% - - Cukup baik 4 55% - 64% 4 23,53 Kurang 5 35% - 54% 4 23,53 Sangat Kurang Jumlah 17 100
Dengan demikian pada observasi awal tingkat penguasaan materi secara klasikal pada pembelajaran IPA kelas V semester 1 baru mencapai 52,95%. Jika dilihat berdasarkan rentang ketuntasan
konversi nilai raport mata pelajaran IPA kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Dencarik Tahun pelajaran 2013/2014 yang berada pada rentang skor 45% - 64% yang tergolong dalam kategori kurang bai Data hasil belajar Ilmu Pengetahuan
Alam siswa kelas V semester 1 Sekolah Dasar Negeri 3 Dencarik pada siklus I dapat dilihat dari persentase ketuntasan secara klasikal. Adapun data persentase
kategori ketuntasan hasil belajar IPA pada siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Dencarik Tahun pelajaran 2013/2014 dapat dilihat pada Tabel berikut.
Tabel 3 Persentase Kategori Ketuntasan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Dencarik Tahun Pelajaran 2013/2014 pada Siklus I
No Rentang Skor Jumlah
Siswa
Persentase (%)
Kategori Jumlah Siswa
Tuntas
1 85% - 100% 2 11,76 Sangat Baik 70,59% siswa
tuntas
2 75% - 84% 9 52,94 Baik
3 65% - 74% 1 5,88 Cukup baik
5 35% - 54% - - Sangat Kurang tuntas
Jumlah 17 100
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa tingkat penguasaan materi secara klasikal pada materi IPA mencapai 70,59%. Jika dilihat berdasarkan rentang ketuntasan konversi nilai raport mata IPA kelas V Negeri 3 Dencarik tahun pelajaran 2013/2014 yang berada pada rentang skor 65% - 74%, maka tingkat penguasaan materi secara klasikal tergolong dalam kategori cukup baik.
Data hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas V semester 1 Sekolah Dasar Negeri 3 Dencarik pada siklus II dapat dilihat pada persentase ketuntasan secara klasikal. Adapun data persentase kategori ketuntasan hasil belajar IPA pada siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Dencarik tahun pelajaran 2013/2014 dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut.
Tabel 4 Persentase Kategori Ketuntasan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Dencarik Tahun Pelajaran 2013/2014 pada Siklus II
No Rentang Skor Jumlah
Siswa
Persentase (%)
Kategori Jumlah Siswa
Tuntas
1 85% - 100% 7 41,18 Sangat Baik 88,24% siswa
tuntas 2 75% - 84% 8 47,06 Baik 3 65% - 74% - - Cukup baik 4 55% - 64% 2 11,76 Kurang 11,76% siswa tidak tuntas 5 35% - 54% - - Sangat Kurang Jumlah 17 100
Dari tabel 4 dapat dilihat bahwa tingkat penguasaan materi secara klasikal pada materi IPA mencapai 88,23%. Jika dilihat berdasarkan rentang ketuntasan konversi nilai raport mata pelajaran IPA kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Dencarik tahun pelajaran 2013/2014 yang berada pada rentang skor 85% - 100%, maka tingkat penguasaan materi secara klasikal tergolong dalam kategori sangat baik.
Berdasarkan analisis tentang data hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA, diperoleh hasil pada siklus I yaitu rata-rata hasil belajar siswa mencapai 71,05 dan tingkat ketuntasan belajar siswa secara klasikal sebesar 70,58% yang berada pada rentang ketuntasan 65% - 74% dengan kategori cukup baik. Hasil belajar IPA pada siklus I yaitu 12 siswa tuntas dan 5 siswa tidak tuntas dengan rincian 2 siswa dengan kategori sangat baik, 8 siswa dengan kategori baik, 2 siswa dengan kategori
cukup baik dan 5 siswa dengan kategori kurang baik.
Sedangkan analisis hasil belajar siswa pada siklus II diperoleh rata-rata hasil belajar siswa mencapai 79 dan tingkat ketuntasan belajar secara klasikal sebesar
88,23% yang berada pada rentang
ketuntasan 85%-100% dengan kategori sangat baik. Hasil belajar IPA pada siklus II adalah 15 siswa tuntas dan 2 siswa tidak tuntas dengan rincian 7 siswa dengan kategori sangat baik, 6 siswa dengan kategori baik, 2 siswa dengan kategori cukup baik dan 2 siswa dengan kategori kurang baik.
Dengan demikian dapat dilihat
bahwa, rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I mencapai 71,05 dan rata-rata hasil belajar siswa pada siklus II mencapai 79 jadi rata-rata hasil belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 7,95 dan tingkat ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal pada siklus I mencapai 70,58% dengan kategori cukup baik dan pada siklus
II tingkat ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal mencapai 88.23% dengan kategori sangat baik jadi tingkat ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal pada
siswa kelas V semester 1 dalam
pembelajaran IPA mengalami peningkatan
sebesar 17,65% dimana peningkatan
belajar siswa meningkat secara kuantitatif. Hasil belajar yang diperolah siswa sebelum dan sesudah diadakan tindakan siklus I dan siklus II, menunjukkan adanya peningkatan baik secara individu maupun secara klasikal. Hal ini disebabkan bahwa dalam pelaksanaan tindakan siklus II tidak lagi muncul kendala-kendala seperti pada siklus I. Hasil belajar siswa dapat mencapai target yang ditentukan sehingga penelitian ini dapat dihentikan. Dalam proses pembelajaran siswa sudah terbiasa dan telah terlatih belajar dengan mengikuti
implementasi model pembelajaran
Accelerated Learning. Hal ini terlihat dari kegiatan yang dilakukan siswa, dimana pada tahap pertama yaitu pada tahap memotivasi pikiran siswa, terlihat bahwa siswa sudah tertarik dalam mengikuti
pembelajaran, mampu dan berani
memberikan contoh-contoh terkait materi pembelajaran, dan berani mengemukakan
pendapat di awal pembelajaran. Ini
mengindikasikan bahwa siswa sudah
termotivasi untuk belajar. Pada tahap kedua yaitu tahap menemukan informasi, siswa
terlibat aktif menggunakan seluruh
kemampuan yang dimilikinya untuk
menemukan konsep-konsep IPA yang melandasi jawaban dari pertanyaan yang
diajukan peneliti dalam proses
pembelajaran melalui diskusi kelompok dalam mengerjakan LKS. Tahap ketiga yaitu mencari makna, terlihat siswa sudah terbiasa dalam berdiskusi dengan teman kelompoknya dalam mencari pengertian maupun jawaban berdasarkan pertanyaan penuntun dari guru.
Tahap memicu memori terlihat dari kegiatan siswa dalam berdiskusi di kelas dengan melakukan presentasi berdasarkan hasil diskusi kelompok, sudah saling membantu antar anggota kelompok, serius
dalam diskusi kelompok, berani
mengajukan pertanyaan, mengemukakan
pendapat dan menanggapi pendapat
temannya. Dengan adanya kegiatan ini
maka siswa yang kurang pandai akan terbantu oleh teman-temannya yang sudah
paham tentang materi. Tahap
mendemonstrasikan pengetahuan terlihat ketika siswa mengemukakan pendapat dan pemikirannya ketika diberikan pertanyaan
oleh guru terkait dengan kegiatan
pembelajaran yang telah dilakukan. Tahap terakhir adalah tahap refleksi, dimana siswa diberikan kesempatan untuk menyimpulkan pembelajaran dan menyampaikan konsep-konsep yang belum dipahami.
Berbagai macam temuan yang
didapatkan dalam pelaksanaan
pembelajaran dengan Accelerated Learning diantaranya: 1) siswa terbiasa melakukan
diskusi, 2) mampu mengungkapkan
pendapatnya masing-masing, 3) siswa terlihat aktif dalam pembelajaran, 4) siswa
berani bertanya dan mengungkapkan
pendapat.
Hal tersebut tampaknya sejalan dengan teori Meir yang menyatakan bahwa kelebihan model pembelajaran Accelerated Learning yaitu merupakan salah satu model
pembelajaran yang mengekplorasi
pengetahuan siswa dan memberikan
kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran, belajar merupakan suatu proses eksplorasi artinya dalam proses pembelajaran siswa terlibat aktif menggunakan seluruh kemampuan yang dimilikinya untuk menemukan konsep-konsep yang melandasi jawaban tersebut
sehingga keterampilan siswa akan
berkembang.
Dimyati dan Mudjono (2006:295) menyatakan bahwa belajar adalah kegiatan individu memperoleh pengetahuan, perilaku dan keterampilan dengan cara mengolah bahan belajar, dalam belajar tersebut
individu menggunakan ranah kognitif,
afektif, dan psikomotorik, maka dari akibat
belajar tersebut kemampuan kognitif,
kemampuan afektif, dan kemampuan
psikomotor makin bertambah. Teori ini sejalan dengan teori yang diungkapkan oleh Meir.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti dan uraian yang telah dipaparkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa implementasi model
pembelajaran akselerasi (accelerated
IPA pada siawa kelas V Sekolah Dasar
Negeri 3 Dencarik tahun pelajaran
2013/2014. Hal ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Martawan (2010) dengan judul Implementasi Model
Pembelajaran Akselerasi (Accelerated
Learning) dalam Upaya Meningkatkan Kinerja Ilmiah dan Prestasi Belajar Fisika Siswa Kelas VIIIB SMP Negeri 6 Singaraja tahun Pelajaran 2008/2009, menyimpulkan
bahwa Accelerated Learning dapat
meningkatkan nilai rata-rata kinerja ilmiah dan prestasi belajar fisika siswa.
Untuk itu disarankan kepada guru
mata pelajaran IPA untuk berupaya
mengimplementasi model pembelajaran akselerasi (accelerated learning) dalam proses pembelajaran sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar IPA. Selain itu, pengimplementasian model
pembelajaran akselerasi (accelerated
learning) ini juga dapat dijadikan referensi dan prinsip fundamental yang bersifat progresif dan konstruktif dalam meneliti mata pelajaran lain terutama dalam melaksanakan proses pembelajaran.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan
bahwa hasil belajar siswa kelas V
semester 1 Sekolah Dasar Negeri 3 Dencarik tahun pelajaran 2013/2014 pada
pembelajaran IPA dapat ditingkatkan
melalui implementasi model pembelajaran Accelerated Learning. Hal ini dapat dilihat dari tingkat ketuntasan belajar secara klasikal pada siklus I mencapai 70,58%
yang berada pada rentang tingkat
ketuntasan cukup baik dan tingkat
ketuntasan belajar secara klasikal pada siklus II mencapai 88,23% yang berada pada rentang tingkat ketuntasan sangat baik. Tingkat ketuntasan belajar secara klasikal mengalami peningkatan sebesar 17,65%
Berdasarkan temuan penelitian ini dapat diajukan saran 1) Bagi siswa yaitu melalui implementasi model pembelajaran Accelerated Learning maka diharapkan hasil belajar siswa dapat ditingkatkan secara optimal pada mata pelajaran IPA kelas V Sekolah Dasar, 2) Bagi guru, yaitu melalui implementasi model pembelajaran
Accelerated Learning maka diharapkan profesionalisme guru dapat ditingkatkan dalam pengelolaan proses pembelajaran, 3) Bagi sekolah yaitu melalui implementasi model pembelajaran Accelerated Learning maka hasil belajar IPA siswa SD N 3
Dencarik Kabupaten Buleleng tahun
Pelajaran 2013/2014 dapat ditingkatkan, 4) Bagi peneliti lain yaitu agar peneliti lain tertarik untuk melakukan penelitian yang
lebih mendalam tentang
pengimplementasian model pembelajaran, serta mencari faktor-faktor lain yang mempengaruhi hasil belajar pada mata pelajaran IPA di sekolah dasar.
DAFTAR PUSTAKA
Agung, A. A. Gede. 2005. Metodologi
Penelitian Pendidikan Suatu
Pengantar. Singaraja: Fakultas Ilmu Pendidikan Istitut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Negeri Singaraja. Candiasa. 2011. Statistik Univariat dan
Bivariat disertai Aplikasi SPSS. Singaraja: Pascasarjana
Dimyati, dan Mudjiono. 2006. Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: Rineka
Cipta.
Juni. 2011. Implementasi Model
Pembelajaran Akselerasi
(Accelerated Learning) Dengan
Metode Kerja Kelompok Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Kelas V Semester 2 Sekolah Dasar Negeri 8
Tejakula Tahun Pelajaran
2010/2011. Skripsi (tidak
diterbitkan). Singaraja: Undiksha Meir, D. 2001. The Accelerated Learning
Handbook. Bandung: Kafia.
---, 2002. The Accelerated Learning Handbook: Panduan Kreatif & efektif Merancang program Pendidikan dan Pelatihan. Bandung: Kafia.
Rose & Nicholl. 2003. Accelerated Learning For The 21 Century. Jakarta: Yayasan Nuansa Cendikia.
Rusyam, Tabrani, A. Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. CV. Rajawali Press, 1993. Jakarta
Suparno, P. 1997. Filsapat Konstruktivisme
dalam Pendidikan. Yogyakarta:
Karnisius.
Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.