• Tidak ada hasil yang ditemukan

WahanaInformasiPenelitianKehutanan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "WahanaInformasiPenelitianKehutanan"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

j

urnal

W ASI

Wahana

I

nf

ormasi

Penel

i

t

i

an

AN

Kehut

anan

Pengaruh

Et

ni

s

t

er

hadap

Pol

a

Pemanf

aat

an

Lahan

dan

Kont

r

i

busi

nya

bagi

Pendapat

an

Masyar

akat

di

Taman

Nasi

onal

Aket

aj

awe

Lol

obat

a

Pert

umbuhan

Li

ma

Pr

ovenan

Pul

ai

Gadi

ng

(

Al

s

t

oni

a

s

c

hol

ar

i

s

)

Umur

6

Bul

an

di

Sumber

Kl

ampok,

Bal

i

Ident

i

f

i

kasi

Ident

i

f

i

kasi

Penyebab

Penyaki

t

Ber

cak

Mer

ah

pada

Bi

bi

t

J

abon

Mer

ah

(

Ant

hoc

e

phal

us

mac

r

o-phy

l

l

us

(

Roxb.

)

Havi

l

)

di

Per

semai

an

Permanen

Ki

ma

At

as

,

Bal

ai

Penel

i

t

i

an

Kehu-t

anan

Manado

Var

i

asi

Si

f

at

Pert

umbuhan

Ul

i

n

(

Eus

i

de

r

o

xy

l

on

zwag

e

r

i

T.

et

B.

)

pada

Uj

i

Ket

urunan

di

Bon-dowoso

Ident

i

f

i

kasi

Penyebab

Penyaki

t

Ber

cak

Daun

pada

Bi

bi

t

Cempaka

(

Mag

nol

i

a

e

l

e

g

ans

(

Bl

ume.

)

H.

Keng)

dan

Tekni

k

Pengendal

i

annya

Komposi

si

dan

St

rukt

ur

Veget

asi

Mangr

ove

Ti

woho

di

Kawasan

Taman

Nasi

onal

Bunaken

JURNAL

WASIAN Vol.2 No.2 DesemberManado2015 2355-ISSN9969 KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

BADAN PENELITIAN PENGEMBANGAN DAN INOVASI

(2)

Pimpinan RedaksiPelaksana (Managing editor)

Anggota (Members) : Lulus Turbian,S.Hut Nurlita Indah Wahyuni,S.Hut Rinna Mamonto

Hendra Susanto Mokodompit

Rinto Hidayat,S.Hut(Pj.Kepala SeksiData,Informasidan Kerjasama)

Percetakan (Prinng Company): PT.PenerbitIPB Press

JurnalWASIAN memuatkarya tulis ilmiah darihasilpenelian atau pandangan ilmiah bidang konservasidan rehabilitasi hutan.Jurnaliniterbitsecara berkala dua kalidalam setahun (Junidan Desember).JurnalWASIAN terbitpertama kali tahun 2011 dengan nama INFO BPK Manado (ISSN 2252-4401),kemudian pada tahun 2014 berubah nama menjadi JurnalWASIAN.Wasian merupakan singkatan dariwahana informasipenelian dan berasaldarinama endemik lokal kayu kehutanan diSulawesiUtara.

Dewan Redaksi(EditorBoard):

Diterbitkan oleh (published by):

BalaiPenelian Kehutanan Manado (Forestry Research Instute ofManado)

Badan Penelian Pengembangan dan Inovasi(Research,Developmentand Innovaon Agency) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Ministry ofEnvironmentand Forestry Republic ofIndonesia)

AlamatRedaksi:

BalaiPenelian Kehutanan Manado

Jalan Raya Adipura,Kelurahan Kima Atas,Kecamatan Mapanget,Kota Manado,ProvinsiSulawesiUtara Telepon:085100666683

E-mail:[email protected]

Website:www.bpk-manado.litbang.dephut.go.id atau www.balithut-manado.org Penanggung Jawab :

Ir.Muh.Abidin,M.Si(Kepala BalaiPenelian Kehutanan Manado)

Susunan

Redaksi

JournalWASIAN contains scienfic paperfrom research resultorscienfic review in forestry.This journalwas issued periodically twice a year (June and December). Journal WASIAN was first issued at 2011 with the name INFO BPK Manado (ISSN 2252-4401),then in 2014 itchanged into JournalWASIAN.2. Wasian is an acronym forResearch Infor -maon Media,and it’s derived from the name ofthe localforestry wood endemic to North Sulawesi.

Mitra Bestari(Peerreviewer) Ir.J.S.Tasirin,M.Sc.F.,Ph.D (EkologiKonservasiSumberdaya Hutan,UNSRAT) Dr.Ir.HengkiWalangitan,M.P.(SosialEkonomiKehutanan,UNSRAT)

Dr.Ir.Mahfudz,M.P.(Silvikultur,BalaiBesarPenelian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta)

Dr.Ir.Terry M.Frans,M.Si(Entomology Hutan,UNSRAT)

Dr.Fabiola B.Saroinsong,SP,MAL.(DAS dan Landscape,UNSRAT) :

:

Medi

a

f

or

I

nf

or

mat

i

on

i

n

For

es

t

r

y

Res

ear

c

h

Ketua (Editorin Chief)

Anggota (Members) ::Ir.IrMarna .Johan Rombang,A.Langi,M.M.Sc.Sc.,Ph.,Ph.D D (Konser(Hidrolvasiogidan dan KonserRestorasivasiHutTanah,an,UNSRAT)UNSRAT) Ir.A.Thomas,MP (Biometrika Hutan,UNSRAT)

Wawan Nurmawan,S.Hut,M.Si(EkologiHutan,UNSRAT) Ir.Josephus I.Kalangi,MS (Klimatologi,UNSRAT)

(3)

i

VOL. 2 NO. 2, DESEMBER 2015

ISSN : 2355-9969

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

BADAN PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN INOVASI

BALAI PENELITIAN KEHUTANAN MANADO

Jurnal WASIAN

VOL. 2

No. 2

Hal 55-103

Manado

Desember 2015

ISSN

2355-9969

(4)

ii

UCAPAN TERIMA KASIH

Dewan Redaksi JURNAL WASIAN mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya

kepada mitra bestari (peer reviewers) yang telah menelaah analisa/naskah yang dimuat pada edisi

Vol. 2 No. 2 tahun 2015 :

Dr. Ir. Mahfudz, MP

(Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan)

Ir. J.S. Tasirin, M.Sc.F, Ph.D.

(Program Studi Kehutanan UNSRAT, Manado)

Dr. Ir. Terry M. Frans, M.Si

(Program Studi Kehutanan UNSRAT, Manado)

Dr. Fabiola B. Saroinsong, SP, MAL

(5)

iii

JURNAL WASIAN

Wahana Informasi Penelitian Kehutanan

VOL. 2 NO. 2, DESEMBER 2015

ISSN : 2355-9969

DAFTAR ISI

Pengaruh Etnis terhadap Pola Pemanfaatan Lahan dan Kontribusinya bagi

Pendapatan Masyarakat di Taman Nasional Aketajawe Lolobata

Ethnic Influence against Land Use Patterns and Its Contribution to Community

Income in The Aketajawe Lolobata National Park

Lis Nurrani, Halidah, dan Supratman Tabba ...

55-66

Pertumbuhan Lima Provenan Pulai Gading (Alstonia scholaris)

Umur 6 Bulan Di Sumber Klampok, Bali

Growth of 5 Provenances at 6 Months Old Alstonia Scholaris in Sumber Klampok, Bali

Mashudi ...

67-72

Identifikasi Penyebab Penyakit Bercak Merah pada Bibit Jabon Merah (Anthocephalus

macrophyllus (Roxb.) Havil) di Persemaian Permanen Kima Atas,

Balai Penelitian Kehutanan Manado

Identification of Causes of Red Leaf Spot on Red Jabon

(Anthocephalus macrophyllus (Roxb.) Havil) Seeds in Kima Atas Permanent Nursery,

Manado Forestry Research Institute

Hanif Nurul Hidayah dan Illa Anggraeni ...

73-78

Variasi Sifat Pertumbuhan Ulin (Eusideroxylon zwageri T. et B.) pada Uji

Keturunan di Bondowoso

Variation in Growth Traits of Ironwood (Eusideroxylon zwageri T. ET B.) Progeny Trial in

Bondowoso

Prastyono dan Mudji Susanto ...

79-86

Identifikasi Penyebab Penyakit Bercak Daun pada Bibit Cempaka

(Magnolia elegans (Blume.) H.Keng) dan Teknik Pengendaliannya

Identification Causes Leaf Spot Disease in Cempaka (Magnolia elegans (Blume.) H.Keng)

Seedling and Its Control Techniques

Arif Irawan, Illa Anggraeni, dan Margaretta Christita ...

87-94

Komposisi dan Struktur Vegetasi Mangrove Tiwoho di Kawasan

Taman Nasional Bunaken

Composition and Structure of Tiwoho Mangrove Vegetation at Bunaken National Park

(6)
(7)

v

JURNAL WASIAN

Wahana Informasi Penelitian Kehutanan

VOL. 2 NO. 2, DESEMBER 2015

ISSN : 2355-9969

Lembar Abstrak ini boleh diperbanyak tanpa izin dan biaya

UDC: 935.4

Lis Nurrani, Halidah dan Supratman Tabba (Balai Penelitian Kehutanan Manado)

Pengaruh Etnis terhadap Pola Pemanfaatan Lahan dan Kontribusinya bagi Pendapatan Masyarakat di Taman Nasional Aketajawe Lolobata

Jurnal WASIAN

Vol.2 No.2, Desember 2015, Hal 55-56

Tulisan ini merupakan hasil identifikasi pola-pola pemanfaatan lahan usaha masyarakat yang menyusun kawasan penyangga Taman Nasional Aketajawe Lolobata, khususnya blok Aketajawe. Desa contoh ditentukan secara stratifikasi menurut jaraknya dari batas taman nasional yaitu : < 3,3-5 km dan > 5 km. Pola pemanfaatan lahan yang diterapkan oleh masyarakat dibagi menjadi enam kelompok menurut komoditi yang dibudidayakan yaitu : hutan rakyat, kebun campuran, kebun murni, kebun tumpangsari, hortikultura dan sawah. Perbedaan pola ini dipengaruhi oleh latar belakang asal masyarakatnya dimana penduduk asli Pulau Halmahera lebih banyak mengolah kebun campuran sedangkan masyarakat pendatang/transmigran memanfaatkan lahan sebagai sawah dan hortikultura Sawah merupakan pola yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan petani dan hutan rakyat memberikan kontribusi paling rendah.

UDC: 232.11 Mashudi

(Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta)

Pertumbuhan Lima Provenan Pulai Gading (Alstonia

scholaris) Umur 6 Bulan di Sumber Klampok, Bali

Jurnal WASIAN

Vol.2 No.2, Desember 2015, Hal 67-72

Pulai gading (Alstonia scholaris (L.) R. Br.) merupakan jenis lokal di Indonesia dan tumbuh cepat yang memiliki potensi bagus untuk pengembangan hutan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan tanaman pulai gading umur 6 bulan di Sumber Klampok, Bali. Rancangan percobaan yang digunakan adalah

Rancangan Acak Lengkap Berblok dengan perlakuan provenan. Dalam penelitian ini digunakan 5 provenan, yaitu : Lombok (NTB), Jayapura (Papua), Solok (Sumatera Barat) dan Timor (NTT) dan Bali. Materi genetik yang digunakan sebanyak 46 pohon induk dan masing-masing pohon induk ditanam 4 bibit dan diulang sebanyak 6 kali (blok). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan provenan berpengaruh nyata terhadap parameter yang diamati, yaitu tinggi dan diameter batang. Provenan Bali, Lombok dan NTT merupakan tiga provenan yang menghasilkan persen hidup, tinggi tanaman dan diameter batang terbaik.

UDC: 416.15

Hanif Nurul Hidayah1 dan Illa Anggraeni2

(1Balai Penelitian Kehutanan Manado; 2Puslitbang Peningkatan Produktifitas Hutan)

Identifikasi Penyebab Penyakit Bercak Merah pada Bibit Jabon Merah (Anthocephalus macrophyllus (Roxb.) Havil) di Persemaian Permanen Kima Atas, Balai Penelitian Kehutanan Manado

Jurnal WASIAN

Vol.2 No.2, Desember 2015, Hal 73-78

Pemenuhan kebutuhan bibit jabon merah (Anthocephalus macrophyllus (Roxb.) Havil) di sisi lain dapat menciptakan kondisi ekosistem yang tidak seimbang Ketersediaan bibit Jabon merah dapat menjadi salah satu sumber pakan bagi organisme pengganggu, sehingga menyebabkan terjadinya ledakan hama dan pertumbuhan pathogen penyebab penyakit. Jenis penyakit yang paling sering menyerang bibit jabon merah di persemaian maupun di lapangan adalah bercak merah (antraknosa). Metode identifikasi jenis dilakukan dengan pengamatan gejala di lapangan, dilanjutkan dengan uji mikroskopis di laboratorium. Berdasarkan hasil identifikasi diketahui bahwa penyakit ini disebabkan serangan cendawan

Cercospora sp., Colletotrichum sp. dan Pestalotia sp.

Akibat yang ditimbulkan oleh ketiga cendawan patogen tersebut adalah terganggunya proses fotosintesis yang akhirnya menghambat pertumbuhan dan perkembangan bibit jabon merah.

(8)

vi

Prastyono dan Mudji Susanto

(Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta)

Variasi Sifat Pertumbuhan Ulin (Eusideroxylon zwageri T. et B.) pada Uji Keturunan di Bondowoso

Jurnal WASIAN

Vol.2 No.2, Desember2015, Hal 79-86

Pendugaan parameter genetik untuk sifat diameter dan tinggi tanaman ulin (Eusideroxylon zwageri T. et B.) dilakukan terhadap tanaman uji keturunan di Bondowoso, Jawa Timur pada umur 5,5 tahun. Rancangan uji keturunan yang digunakan adalah Rancangan Blok Tak Lengkap (Incomplete Block Design) yang terdiri atas 4 ulangan, 49 famili yang berasal dari 3 provenan (Batanghari, Berau and Kutai Kertanegara) dan satu pohon tiap plot (single tree plot). Hasil penelitian menunjukkan bahwa famili-famili ulin dari provenan Batanghari menunjukkan pertumbuhan terbaik untuk sifat pertumbuhan diameter dan tinggi tanaman dibandingkan dengan famili-famili dari provenan Berau dan Kutai Kertanegara. Sifat tinggi tanaman bervariasi antar famili dalam provenan, sedangkan untuk sifat diameter tidak terdapat variasi yang signifikan baik antar provenan maupun antar famili dalam provenan. Faktor non genetik atau lingkungan memberikan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan tanaman pada uji keturunan ulin sampai umur 5,5 tahun yang ditunjukkan oleh besarnya varian komponen sisa. Nilai heritabilitas individu untuk tinggi tanaman tergolong tinggi (0,37) dan diameter termasuk sedang (0,26). Terdapat korelasi genetik yang kuat antara sifat pertumbuhan diameter dengan tinggi tanaman yaitu sebesar 0,95. Informasi ini sangat penting untuk pemuliaan genetik jenis ulin di masa mendatang.

UDC: 416.15

Arif Irawan1, Illa Anggraeni2 dan Margaretta Christita1 (1Balai Penelitian Kehutanan Manado, 2Pusat Litbang Peningkatan Produktivitas Hutan)

Identifikasi Penyebab Penyakit Bercak Daun pada Bibit Cempaka (Magnolia elegans (Blume.) H.Keng) dan Teknik Pengendaliannya

Jurnal WASIAN

Vol.2 No.2, Desember 2015, Hal 87-94

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis patogen penyebab penyakit bercak daun pada bibit cempaka dan teknik pengendaliannya. Identifikasi penyebab penyakit perlu dilakukan untuk mengetahui teknik pengendalian yang cepat dan tepat. Identifikasi

penampakan luar tanaman yang sakit dan secara mikroskopis yaitu dengan mengetahui patogen penyebab penyakit. Identifikasi dilakukan dengan menggunakan kunci determinasi cendawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanda awal penyakit bercak daun pada bibit cempaka di persemaian adalah adanya noda atau bercak bercak pada permukaan daun dengan batas yang jelas. Bercak daun yang terbentuk umumnya berwarna coklat dengan dikelilingi oleh batasan yang berwarna lebih gelap. Berdasarkan identifikasi secara mikroskopis dapat diketahui bahwa penyebab penyakit bercak daun pada bibit cempaka adalah fungi Colletotrichum sp. Beberapa teknik pengendalian yang dapat dilakukan untuk meminimilasir penyebaran penyakit ini antara lain dengan mengisolasi bibit yang telah terserang, pengurangan intensitas naungan dan penggunaan fungisida yang tepat.

UDC: 182.41

Supratman Tabba, Nurlita Indah Wahyuni dan Hendra S. Mokodompit

(Balai Penelitian Kehutanan Manado)

Komposisi dan Struktur Vegetasi Mangrove Tiwoho di Kawasan Taman Nasional Bunaken

Jurnal WASIAN

Vol.2 No.2, Desember 2015, Hal 95-103

Hutan Mangrove Tiwoho merupakan wilayah dipesisir utara Provinsi Sulawesi Utara yang berfungsi sebagai sistem penyangga kehidupan bagi masyarakat dan kelestarian kawasan Taman Nasional Bunaken. Perannya yang sangat srategis dan penting sebagai perlindungan fungsi ekologis dan ekonomi sehingga informasi ilmiah terkait dinamika populasi mangrove sangat diperlukan guna penentuan kebijakan terkait pengelolaannya Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui komposisi dan struktur vegetasi penyusun kawasan mangrove tiwoho. Pengambilan data menggunakan petak contoh berukuran 20 m x 20 m, dibuat dari arah laut tegak lurus ke daratan hingga batas pasang surut tertinggi dengan jarak antar petak sepanjang 25 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat pohon Sonneratia alba memiliki nilai INP paling tinggi sebesar 206,88 % dan Brugueira sp. sebesar 46,06 %. Meski Rhizophora apiculata memiliki nilai INP lebih rendah dari Brugueira sp. namun kedua jenis ini memiliki nilai frekuensi relatif yang sama, artinya bahwa kedua jenis tersebut sering kali dijumpai pada plot pengamatan. Rhizophora apiculata menjadi jenis paling dominan pada tingkat tiang dan pancang, namun frekuensi perjumpaan terhadap jenis ini lebih rendah dari Brugueira sp. di tingkat tiang.

(9)

vii

JURNAL WASIAN

Wahana Informasi Penelitian Kehutanan

VOL. 2 NO. 2, DESEMBER 2015

ISSN : 2355-9969

The abstract may be reproduced without permission or charge UDC: 935.4

Lis Nurrani1,Halidah2 dan Supratman Tabba1 (Balai

1

Penelitian Kehutanan Manado dan 2Balai Penelitian Kehutanan Makassar)

Ethnic Influence against Land Use Patterns and Its Contribution to Community Income in the Aketajawe Lolobata National Park

Jurnal WASIAN

Vol.2 No.2,December 2015, Hal 55-56

The study was to identify the community land use patterns that shapes the buffer zone of Aketajawe Lolobata National Park particularly at Aketajawe block. Sampling villages were determined by stratification based on the distance from the National Park boundary which varied between <3,3-5, and > 5 km. The purposive random sampling was chosen 82 respondents to be interviewed. Land use pattern which applied by communities were divided into six groups according to cultivated commodities i.e. community forest, mixed garden, monoculture garden, intercropping garden, horticulture and rice fields. The differences of these patterns were influenced by background and origin of communities. Based on the land cover quality, mixed garden pattern was more similar to forest vegetation than another pattern. Rice field pattern gave the largest economic contribution while community forest gave the lowest contribution to the farmer’s income.

UDC: 232.11 Mashudi

(Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta)

Growth of 5 Provenances at 6 Months Old Alstonia

Scholaris in Sumber Klampok, Bali

Jurnal Wasian

Vol.2 No.2, December 2015, Hal 62-72

Alstonia scholaris (L.) R.Br. is one of native and fast

growing species in Indonesia. This species is potential for Forest plantation. Its wood can be used for boxes,

matches, heelpiece, crafts (mask and puppet), pencil slate, and pulp. This paper aims to study the growth of

Alstonia scholaris at 6 month old in Sumber Klampok,

Bali. This experiment was arranged in a randomized complete block design with provenances as treatment. The research used 5 provenances, i.e. Lombok (NTB), Jayapura (Papua), Solok (West Sumatera), Timor (NTT) and Bali. Material genetic from 46 parent trees were used and we observed 4 seedling of each patent trees with 6 replications. The result showed that provenances of Bali, Lombok dan NTT were the best provenances for survival rate, height, and stem diameter.

UDC: 416.15

Hanif Nurul Hidayah1 dan Illa Anggraeni2 (1Balai Penelitian Kehutanan Manado; 2Puslitbang Peningkatan Produktifitas Hutan)

Identification of Causes of Red Leaf Spot on Red Jabon (Anthocephalus macrophyllus (Roxb.) Havil) Seeds in Kima Atas Permanent Nursery, Manado Forestry Research Institute

Jurnal WASIAN

Vol.2 No.2, December 2015, Hal 73-78

Fulfillment the needs of Red Jabon (Anthocephalus

macrophyllus (Roxb.) Havil) seeds on the other hand

can create an unbalanced ecosystem. The availability of red Jabon seed was becoming a source of food for pests, then it causes an explosion of pests and pathogens. The disease that most often affect red Jabon seeds, both in the nursery and in the field was red leaf spot (antraknose). The initial step to control red leaf spot disease is the identification of causing. Identification method performed by observation of the symptoms in the field, followed by microscopic observation in a laboratory. Based on the identification result, it was known that the disease caused by the fungus Cercospora sp., Colletotrichum sp. and Pestalotia sp. The effect caused by those fungal pathogens was the disruption of the photosynthetic process that ultimately inhibits the growth of red Jabon seeds. The controls which have been done are arranged the watering intensity, isolated the infected seed,and applied the chemical fungicide.

(10)

viii

Prastyono dan Mudji Susanto

(Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta)

Variation in Growth Traits of Ironwood (Eusideroxylon

zwageri T. ET B.) Progeny Trial in Bondowoso

Jurnal WASIAN

Vol.2 No.2, December 2015, Hal 79-86

The estimation of genetic parameters for stem diameter and plant height of ironwood (Eusideroxylon zwageri T. et B.) was conducted in a progeny trial in Bondowoso, East Java at the age of 5,5 years. The trial was arranged in an incomplete block design, which comprised of 49 families from three provenances (Batanghari, Berau and Kutai Kertanegara) with 4 replications and single tree plot. Families of Batanghari provenance showed the best growth of stem diameter and plant height compared with another provenance. There was significant difference in plant height between families within provenance, whereas stem diameter was not significantly different both of between provenance as well as between families within one provenance. Non-genetic or environmental factors provide considerable influence on plant growth in the progeny test of ironwood until the age of 5.5 years; it was indicated by the residual variance component. Individual heritability for plant height was considered as high (0.37) and stem diameter was considered as moderate (0.26). There was a strong genetic correlation between the stem diameter and plant height (0.95). This information is very important for future genetic improvement of ironwood.

UDC: 416.15

Arif Irawan1, Illa Anggraeni2 dan Margaretta Christita1 (1Balai Penelitian Kehutanan Manado,2Pusat Litbang Peningkatan Produktivitas Hutan)

Identification Causes Leaf Spot Disease in Cempaka (Magnolia elegans (Blume.) H.Keng) Seedling and Its Control Techniques

Jurnal WASIAN

Vol.2 No.2, December 2015, Hal 87-94

This research purposes to identify the pathogen causing leaf spot in cempaka seedling and its control technique. Identify cause of disease is necessary to know precise technique control. Identification of disease was conducted in macroscopic appearances and microscopically to determine pathogens. Identification is done by using the determination key of fungi. The results showed that the early signs of leaf spot disease on

on the leaf surface with distinct boundaries. Leaf spots are formed generally brown surrounded by darker boundaries. The result shows leaf spot disease on cempaka seedling was caused by fungal pathogen

Colletotrichum sp. Techniques for controlling the

disease can be done by isolating the infected seeds, reducing the intensity of canopy, and using the appropriate fungicides.

UDC: 182.41

Supratman Tabba, Nurlita Indah Wahyuni dan Hendra S. Mokodompit

(Balai Penelitian Kehutanan Manado)

Composition and Structure of Tiwoho Mangrove Vegetation at Bunaken National Park

Jurnal WASIAN

Vol.2 No.2, December 2015, Hal 95-103

Tiwoho mangrove forest islocated in north coast of North Sulawesi province.This area functions as life buffer system for community and sustainability of Bunaken National Park. Due to the important and strategic roles of mangrove in protection and ecological functions, therefore, it is needed to know scientific information about mangrove population dynamics. This research aims to know the vegetation composition and structure vegetation of Tiwoho mangrove forest. Data collection used 20x20 m sample plots that were sistematically laid from the sea to the land side up to the highest tidal line. Distance between plots along 25 m. Results showed that at tree level Sonneratia alba had the highest Important Value Index (IVI) of 206,88 % and Brugueira sp. of 46,06 %. Although Rhizopora apiculata value is lower than

Brugueira sp. But the values of relative frequency of

these species are almost similar. It means that both species are frequently found in observation plots. Rhizophora apiculata dominate at pole and sapling levels, but frequency of occurance this species is lower than Brugueira sp. in pole level.

(11)
(12)

55

PENGARUH ETNIS TERHADAP POLA PEMANFAATAN LAHAN DAN

KONTRIBUSINYA BAGI PENDAPATAN MASYARAKAT DI TAMAN NASIONAL

AKETAJAWE LOLOBATA

ETHNIC INFLUENCE AGAINST LAND USE PATTERNS AND ITS CONTRIBUTION TO

COMMUNITY INCOME IN THE AKETAJAWE LOLOBATA NATIONAL PARK

Lis Nurrani,1 Halidah2 dan Supratman Tabba1

1

Balai Penelitian Kehutanan Manado

Jl. Raya Adipura Kel. Kima Atas Kec. Mapanget Kota Manado, Sulawesi Utara, Indonesia email : [email protected]

2

Balai Penelitian Kehutanan Makassar

Jl. Perintis Kemerdekaan Km.16,5 Sudiang Kota Makasssar, Sulawesi Selatan, Indonesia Telp. (0411) 554 871

Diterima: 14 Agustus 2014; direvisi: 28 Agustus 2015; disetujui: 04 September 2015

ABSTRAK

Pengelolaan kawasan penyangga adalah perpaduan keserasian pengelolaan lahan hutan dan pertanian yang disesuaikan dengan kondisi fisik kawasan serta kondisi sosial budaya masyarakatnya guna mendapatkan hasil optimal yang menunjang sistem perekonomian masyarakat lokal. Tulisan ini merupakan hasil identifikasi pola-pola pemanfaatan lahan usaha masyarakat yang menyusun kawasan penyangga Taman Nasional Aketajawe Lolobata, khususnya blok Aketajawe. Desa contoh ditentukan secara stratifikasi menurut jaraknya dari batas taman nasional yaitu : < 3,3-5 km dan > 5 km. Wawancara dilakukan secara purposive dengan jumlah responden sebanyak 82 orang, yang terbagi ke dalam tiga desa contoh. Pola pemanfaatan lahan yang diterapkan oleh masyarakat dibagi menjadi enam kelompok menurut komoditi yang dibudidayakan yaitu : hutan rakyat, kebun campuran, kebun murni, kebun tumpangsari, hortikultura dan sawah. Perbedaan pola ini dipengaruhi oleh latar belakang asal masyarakatnya dimana penduduk asli Pulau Halmahera lebih banyak mengolah kebun campuran sedangkan masyarakat pendatang/transmigran memanfaatkan lahan sebagai sawah dan hortikultura. Berdasarkan kualitas tutupan lahan, kebun campuran merupakan pola dengan tutupan yang lebih mendekati strata vegetasi hutan jika dibandingkan pola lainnya, adapun jenis tanaman yang dibudidayakan yaitu kelapa, pala, pisang coklat dan MPTS. Sedangkan sawah merupakan pola yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan petani dan hutan rakyat memberikan kontribusi paling rendah.

Kata kunci : pemanfaatan lahan, kawasan penyangga, Taman Nasional Aketajawe Lolobata

ABSTRACT

Buffer zone management is an integrated practice of managing forest and agriculture land based on biophysical nature of region and social-culture combination to obtain an optimum forest and agriculture products that support local livelihood economy. The study was to identify the community land use patterns that shapes the buffer zone of Aketajawe Lolobata National Park particularly at Aketajawe block. Sampling villages were determined by stratification based on the distance from the National Park boundary which varied between <3,3-5, and > 5 km. The purposive random sampling was chosen 82 respondents to be interviewed. Land use pattern which applied by communities were divided into six groups according to cultivated commodities i.e. community forest, mixed garden, monoculture garden, intercropping garden, horticulture and rice fields. The differences of these patterns were influenced by background and origin of communities. The indigenous people of Halmahera island used their land as mixed garden while the settler used theirs as rice field and horticulture. Based on the land cover quality, mixed garden pattern was more similar to forest vegetation than another pattern. Rice field pattern gave the largest economic contribution while community forest gave the lowest contribution to the farmer’s income.

Keywords : land utilization, buffer zone, Aketajawe Lolobata National Park

PENDAHULUAN

Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) merupakan kawasan hutan konservasi yang mewakili

keanekaragaman ekosistem dan spesies dari unit biogeografi Pulau Halmahera. Poulsen, Lambert dan Cahyadin (1999) menyebutkan bahwa kelompok

(13)

56

Halmahera termasuk salah satu “hot spot” keanekaragaman hayati dan menempati urutan kesepuluh dari 218 hot spot yang ada di dunia. Kawasan TNAL ditetapkan sebagai Taman Nasional berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 397/Kpts-II/2004 tanggal 18 Oktober 2004. Hutan konservasi ini terdiri dari kombinasi dua kawasan inti yang terpisah yaitu hutan Aketajawe dengan luas 77.100 ha dan hutan Lolobata seluas 90.200 ha.

Pemanfaatan sumberdaya hutan dengan basis taman nasional diharapkan lebih menjamin kelestarian sumberdaya alam dan dapat meningkatkan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat lokal yang lebih nyata. Manfaat ekonomi ini dapat dihasilkan dengan mengintensifkan pola pemanfaatan lahan di kawasan penyangga tanpa harus merusak ekosistem seperti menebang pohon di dalam zona-zona yang telah ditetapkan. Menurut Salim (1998) pembangunan zona penyangga (buffer

zone) adalah hal mendesak dalam pengembangan

sebuah Taman Nasional untuk mencegah kerusakannya, sebab segala kebutuhan masyarakat akan dipenuhi oleh kawasan penyanggga sehingga keutuhan kawasan dapat terjaga. Sebagai wilayah pendukung Taman Nasional zona penyangga merupakan kawasan potensial untuk dikelola guna mempertahankan kelestarian keanekaragaman hayati dan ekosistem baik sebagai aset wisata alam, penyangga kawasan, kawasan budidaya, sumber penghasil pangan, kayu bakar dan obat-obatan (Bismark dan Sawitri, 2006).

Tingginya ketergantungan masyarakat terhadap TNAL membuat pengelolaan zona penyangga pada kawasan ini menjadi sangat penting. Sekitar 100 ekor Kakatua Putih (Cacatua alba) dalam setahun diperdagangkan oleh masyarakat, dengan harga rata-rata Rp.500.000,- per ekor untuk wilayah di luar Maluku Utara khususnya Pulau Jawa (Wikipedia, 2011). Ketergantungan juga terlihat dari bahan baku perumahan masyarakat yang umumnya masih menggunakan kayu. Indikator di atas mengisyaratkan bahwa penetapan zonasi definitif di TNAL harus mendapatkan prioritas utama khususnya penentuan zona penyangga. Menurut Wiratno (1994) zona penyangga diperuntukkan sebagai kawasan untuk melindungi Taman Nasional dari gangguan yang berasal dari luar dan dalam Taman Nasional berupa perubahan tata guna lahan atau gangguan lainnya. Hingga tahun 2012 kawasan yang telah di zonasi dengan status penunjukkan adalah kawasan Lolobata, sedangkan kawasan Aketajawe masih dalam tahap perencanaan (Balai TNAL, 2012).

Etnis adalah penggolongan manusia berdasarkan kepercayaan, nilai, kebiasaan, adat istiadat, norma bahasa, sejarah, geografis dan hubungan kekerabatan (Pasal 1 Angka 3 Undang-Undang No.40 tahun 2008). Pengelompokkan ini membentuk pola pengetahuan, keterampilan, perilaku, sikap dan keyakinan yang melekat pada suatu kelompok masyarakat, dimana etnis yang satu memiliki ciri dan budaya yang berbeda dengan etnis lainnya. Perpindahan penduduk dari satu wilayah ke wilayah lainnya merupakan satu hal yang pasti terjadi dengan berbagai alasan dan kepentingan. Kondisi ini membuat masyarakat membutuhkan proses adaptasi, toleransi hingga akulturasi budaya masing-masing etnis dalam kehidupan keseharian mereka, termasuk juga dalam hal memanfaatkan lahan.

Areal budidaya kebun dan hutan rakyat adalah pola pemanfaatan lahan yang secara substansial berpengaruh terhadap kelestarian kawasan, sebab lahan ini merupakan mata pencarian utama masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang pola-pola pemanfaatan lahan penyusun kawasan penyangga dan menyusun rekomendasi pola-pola pemanfaatan zona penyangga yang sesuai dengan kondisi Biofisik dan Sosial Ekonomi Budaya TNAL.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilakukan di desa penyangga kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata di Provinsi Maluku Utara, dengan fokus pengamatan pada Blok Aketajawe. Pengambilan data dilaksanakan pada bulan April-September 2011 di tiga desa yang menjadi sampel yaitu Woda dan Trans Kosa-Koli di Kecamatan Oba Kota Tidore Kepulauan serta Desa Binagara di Kecamatan Wasile Selatan Kabupaten Halmahera Timur.

Alat yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari GPS, kuesioner, kamera, alat perekam (voice

recorder), peta penutupan lahan Blok Aketajawe

1:341.000, tali nilon, tali rafia, meteran 50 m, kertas milimeter, papan board dan alat tulis. Bahan yang digunakan sebagai obyek dalam kegiatan penelitian ini adalah lahan dan masyarakat yang berada di sekitar daerah penyangga kawasan Aketajawe.

Metode penelitian dilakukan melalui tiga tahap yaitu wawancara, survey lapangan, dan analisis data. 1. Wawancara

Wawancara dilakukan terhadap masyarakat yang memanfaatkan lahan di kawasan penyangga. Responden ditentukan secara purposive sebanyak 30 orang tiap desa. Penentuan jumlah responden

(14)

57

didasarkan pada ketidaktahuan jumlah populasi, sehingga menggunakan batas minimal jumlah responden sebagai syarat dilakukannya pengujian statistik (Gay dan Diehl, 1992).

2. Survey Lapangan

Penentuan desa contoh dilakukan dengan metode stratifikasi berdasarkan jarak desa dari batas taman nasional, yaitu pada jarak <3 km, 3–5 km dan >5 km. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada pertimbangan bahwa perbedaan jarak tersebut merupakan perwakilan zona penyangga yang terdiri dari jalur hijau, jalur interaksi dan jalur budidaya (Bismark, 2002). Pengelompokkan komoditas tanaman yang dibudidayakan sebagai dasar dalam

pengelompokkan pola pemanfaatan lahan yang diusahakan responden. Jenis tanaman dikelompokkan ke dalam jenis tanaman kehutanan, perkebunan, buah-buahan, sumber pangan, sayuran, obat-obatan, dan pakan ternak.

3. Analisis Data

Data hasil pengamatan dan pengukuran selanjutnya dikompilasi dan ditabulasi dalam bentuk tabel kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif (Hasan, 2008). Analisis kuantitatif menggunakan uji Chi-square dan uji Kruskal-Wallis yang dilakukan dengan menggunakan software SPSS 16.

Tabel 1. Metode pengumpulan data

No. Data/Informasi Metode Pengumpulan Metode Analisis Referensi 1. Karakteristik desa responden Wawancara dan data

sekunder

Deskriptif BPS Maluku

Utara, 2005 2. Pola Pemanfaatan Lahan Wawancara dan cek

lapangan

Deskriptif Soekartawi, 2002

3. Pengaruh etnis terhadap pola pemanfaatan lahan

Wawancara Tabulasi silang dilanjutkan dengan uji Chi-Square

Danandjaja, 2012 4. Kontribusi Pola Pemanfaatan

Lahan Bagi Pendapatan

Wawancara Metode non parametrik

dengan uji Kruskal-Wallis

Danandjaja, 2012

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Desa Responden

Desa-desa sekitar kawasan Aketajawe sebagian besar berada di pesisir pantai di luar kawasan taman nasional. Jumlah penduduk yang berada di sekitar TNAL sebanyak 71.653 jiwa dengan luas wilayah desa sekitar 5.373, 55 km2 atau kepadatan sekitar 13 jiwa/km2 (BPS Maluku Utara, 2005). Sebaran penduduk tertinggi terutama berada di desa-desa transmigrasi yang merupakan penduduk pendatang melalui program transmigrasi lokal maupun nasional.

Binagara merupakan desa transmigrasi yang dibuka sekitar tahun 1986 dimana 95 % masyarakatnya berasal dari Kabupaten Banyuwangi di Pulau Jawa. Desa Trans Kosa-Koli juga merupakan daerah transmigrasi namun wilayah ini merupakan perpaduan antara masyarakat lokal dan nasional (Jawa dan Sunda). Sedangkan Woda adalah desa yang masyarakatnya merupakan penduduk asli Pulau Halmahera dan pulau-pulau disekitarnya. Karakteristik desa responden dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Karakteristik desa responden di kawasan penyangga Aketajawe

Karakteristik Lokasi Desa

Desa Binagara Desa Trans Kosa Koli Desa Woda

Jumlah Kepala Keluarga 338 249 83

Bahan utama perumahan Kayu Kayu dan batubata Kayu

Jarak desa ke taman nasional 0,5 – 2 km > 5 km 2 – 5 km

Komposisi penduduk Pendatang Masyarakat lokal Pulau

Halmahera dan pendatang

Masyarakat lokal Pulau Halmahera

Etnis Jawa Tobelo dan Jawa Tobelo

Mata pencaharian Utama Petani, pedagang Petani Petani, PNS

Sampingan Buruh, pedagang, penebang kayu

Pedagang, buruh Pedagang, pembuat sagu, ojek, nelayan, penebang kayu Sumber: Analisis data primer 2011

(15)

58

Ketergantungan masyarakat di kawasan penyangga Aketajawe terhadap hutan dan hasil hutan masih sangat tinggi, hal ini bisa dilihat dari bahan utama perumahan yang digunakan yaitu kayu. Selain dimanfaatkan sebagai bahan utama pembuatan rumah, kayu juga diperlukan dalam pembuatan perkakas rumah tangga, jembatan penghubung, pagar, ajir tanaman dan kebutuhan pertanian lainnya serta bahan bakar untuk memasak. Frekuensi pengambilan kayu bakar yaitu 2-3 hari sekali sebanyak 1-2 ikat ranting-ranting kayu bakar.

Mata pencaharian masyarakat di tiga desa sekitar kawasan penyangga Aketajawe didominasi oleh petani dan pedagang hasil-hasil pertanian maupun sarana dan prasarana pendukung pertanian. Keterbatasan keterampilan dan pengetahuan menjadi penyebab utama kurangnya variasi mata pencaharian. Oleh karena itu ketergantungan masyarakat terhadap

lahan untuk pertanian lahan kering sangat besar, dengan harapan mendapat penghasilan lebih cepat.

Pola Pemanfaatan Lahan Masyarakat pada Tiga Desa di Kawasan Penyangga Aketajawe

Hasil wawancara responden dan survey lapangan menunjukkan bahwa pola pemanfaatan lahan masyarakat di kawasan penyangga Aketajawe dari batas luar taman nasional ke desa dibagi menjadi enam kategori. Pola pemanfaatan lahan yang dimaksud pada penelitian ini adalah hutan rakyat (dominasi tanaman hutan/kayu), kebun campuran (kombinasi antara dua atau lebih jenis tanaman kebun/tahunan), kebun murni (satu jenis tanaman kebun), kebun tumpangsari (kombinasi tanaman tahunan dengan tanaman musiman), hortikultura (dominasi tanaman musiman buah/sayuran) dan Sawah (tanaman padi).

Gambar 1. Pola pemanfaatan lahan masyarakat di kawasan penyangga Aketajawe

Gambar 1 menunjukkan bahwa hanya 3,70 % masyarakat Desa Woda yang memanfaatkan lahannya sebagai hutan rakyat dan pola ini tidak ditemui pada desa sampel lainnya. Tanaman utama pola hutan rakyat adalah jati (Tectona grandis) menggunakan sistem tanam monokultur dengan jarak tanam 3 x 4 m. Tumbuhan bawah yang ditemui berupa paku-pakuan (Pterophyta spp.), keladi

(Caladium bicolor) dan singkong (Manihot

esculenta) yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan

tambahan oleh masyarakat.

Sebanyak 88,89 % masyarakat Woda memanfaatkan lahannya sebagai kebun campuran, dimana dua atau lebih tanaman perkebunan ditanam

dalam satu bentang lahan. Tanaman utama kelapa (Cocos nucifera), dikombinasikan dengan tanaman pala (Myristica fragrans), coklat (Theobroma

Cacao), rambutan (Nephelium lappaceum), langsat

(Lansium domesticum) dan pisang (Musa

paradisiaca). Masyarakat Desa Woda belum menerapkan cara-cara pertanian intensif, hal ini terlihat dari pengaturan ruang tanaman yang masih belum tertata dan kurangnya perawatan terhadap tanaman. Penyebab kondisi tersebut adalah asumsi masyarakat melihat ketersediaan lahan masih luas, ketika areal pertanian mereka tidak dapat diolah lagi, masyarakat dapat membuka lahan baru lainnya. 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Pers en ta se p o la p em an faa ta n la h an (% ) Trans Kosa-Koli (> 5 km) Woda (3-5 km) Binagara (< 3 km)

(16)

59

Latar belakang asal Masyarakat Woda yang sebagian besar merupakan masyarakat relokasi dari Pulau Makian juga disinyalir sebagai faktor banyaknya lahan pertanian yang terbengkalai. Dimana telah terjadi perubahan perilaku mendasar pada masyarakat yaitu dari masyarakat nelayan kemudian dipaksa bertani untuk mempertahankan hidup. Masyarakat asli Pulau Halmahera dan sekitarnya cenderung menerapkan pola pemanfaatan lahan yang telah diajarkan dan diwariskan oleh leluhur mereka secara turun temurun. Keterampilan terhadap cara-cara berkebun lebih mereka kuasai ketimbang cara lainnya. Salah satu keuntungan dari pola kebun campuran adalah memberikan manfaat pendapatan masyarakat sepanjang tahun. Pendapatan jangka pendek (sehari-hari) diperoleh dari tanaman buah-buahan dan tumbuhan bawah (umbi-umbian dan sayuran) serta jangka panjang dari tanaman tahunan.

Masyarakat Binagara lebih memilih memanfaatkan lahannya sebagai sawah (58,83 %)

dan kebun tumpangsari dengan mengkombinasi tanaman kelapa dengan palawija dan tanaman jeruk dengan semangka. Teknologi pertanian yang diterapkan oleh masyarakat Binagara cenderung lebih baik karena telah dilengkapi dengan irigasi yang memanfaatkan aliran sungai dari kawasan Aketajawe. Kondisi ini lebih dipengaruhi oleh asal masyarakatnya yang sebagian besar merupakan transmigran dari Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur. Keterampilan mengolah sawah lebih dominan dibandingkan pola lainnya karena penguasaan dan penerapan teknologinya yang lebih maju. Siklus tanam di wilayah ini tidak pernah terputus, ketika musim kemarau sebagian lahan persawahan di manfaatkan untuk menanam jenis hortikultura dan palawija seperti Semangka (Citrullus lanatus), Terong (Solanum melongena) dan Cabe (Capsicum

annum), sehingga pendapatan masyarakat pun tetap

berlangsung secara berkesinambungan.

Gambar 2. Hutan rakyat jati Gambar 3. Kebun campuran

Gambar 4. Hortikultura melon Gambar 5. Kebun murni jeruk

Perpaduan latar belakang sosial masyarakat Trans Kosa-Koli berimplikasi pada masyarakatnya yang lebih beragam bahkan dalam hal pengolahan

lahan. Adanya saling tukar-menukar pengetahuan dan keterampilan yang terjadi antara masyarakat asli Halmahera dengan transmigran dari Pulau Jawa

(17)

60

membuat pola pemanfaatan lahan masyarakatnya beragam pula. Penerapan pola-pola kebun yang lebih teratur dan ditumpangsarikan dengan tanaman semusim merupakan ide yang muncul dari adanya perpaduan latar belakang tersebut. Jenis-jenis hortikultura dan palawija yang dikembangkan antara lain Kol (Brassica oleracea), Tomat (Solanum

lycopersicum), Cabe (Capsicum annum), Semangka

(Citrullus lanatus), Melon (Cucumis melo), Terong (Solanum melongena), Singkong (Manihot esculenta) dan Jagung (Zea mays). Sedangkan kebun murni yang dibudidayakan adalah jenis kelapa (Cocos

nucifera) dan jeruk (Citrus sinensis). Manfaat yang

dapat diambil dari kombinasi pola pemanfaatan lahan ini adalah masyarakat bisa memperoleh pendapatan jangka pendek dari tanaman semusim dan pendapatan jangka panjang dari tanaman kebun/tahunan.

Tutupan lahan pada pola kebun campuran lebih baik dibandingkan dengan pola kebun murni dan kebun tumpangsari. Dilihat dari potensi vegetasinya pola kebun campuran mendekati strata vegetasi hutan sekunder dengan lebih banyak variasi tanaman seperti Kelapa, Pala, Coklat, Rambutan, Langsat, Pisang dan tumbuhan cover crop seperti Ubi Rambat

(Ipomoea batatas), Paku-pakuan (Pterophyta) serta

tumbuhan bawah lainnya. Vegetasi yang mempunyai struktur tajuk yang berlapis mampu menurunkan kecepatan terminal air hujan dan memperkecil diameter tetesan air hujan, faktor vegetasi ini juga meningkatkan infiltrasi, memperlambat laju limpasan, dan meningkatkan kondisi fisik, kimia dan biologi tanah (Asdak, 2004).

Selain itu dengan beragamnya jenis variasi tanaman yang dibudidayakan di kebun petani, berbagai jenis hewan mampu bertahan hidup karena ketersediaan rantai makanan untuk flora dan fauna alami yang terjaga dengan baik (Isw, 2010). Beberapa jenis satwa yang diketahui dan teramati di

lapangan antara lain burung gagak halmahera (Corvus validus), elang bondol (Haliastur indus), burung madu hitam (Nectarinia aspasia), cabai benalu (Dicaeum hirundinaceum), julang irian (Rhyticeros plicatus), kasturi ternate (Lorius

garulus), kipasan kebun (Rhipidura leucophrys), nuri

kalung ungu (Eos squamata), babi hutan (Sus scrofa), rusa (Cervus timorensis), dan ular piton (Phyton

reticulata).

Pola kebun murni yang diterapkan masyarakat (kelapa dan jeruk) menggunakan cara pengelolaan intensif artinya bersih dari tumbuhan bawah. Ditinjau dari sisi perlindungan tanaman pola ini sangat rentan terhadap serangan penyakit, begitu pula dari sisi konservasi tanah dan air pola ini akan menyebabkan lahan pertanian rentan terhadap erosi permukaan karena tidak adanya tumbuhan bawah. Salah satu kelebihan pola pertanaman campuran dibanding sistem tanam monokultur adalah pemberantasan hama dan penyakit, menekan populasi hama dan penyakit karena memutuskan siklus hidup hama dan penyakit atau mengurangi sumber makanan serta tempat hidup hama dan penyakit (Arsyad, 1989).

Pengaruh Etnis terhadap Pola Pemanfaatan Lahan yang Diusahakan

Pola pemanfaatan lahan yang diterapkan pada ketiga desa dipengaruhi oleh latar belakang sosial dan asal masyarakatnya. Masyarakat asli Pulau Halmahera cenderung memanfaatkan lahan sebagai kebun sedangkan masyarakat pendatang dari Pulau Jawa memanfaatkan lahannya sebagai sawah. Hal ini dibuktikan dengan hasil analisis Chi-Square

mengenai hubungan kategorik antara status masyarakat terhadap pola pemanfaatan lahan yang diterapkan. Keterkaitan faktor tersebut dapat dilihat pada Tabel 3 dan 4.

Tabel 3. Hubungan kategorik antara etnis terhadap pola pemanfaatan lahan yang diusahakan

No Status

Tipe Pemanfaatan Lahan Hutan Rakyat Kebun Campuran Kebun Murni KebunTumpang

Sari Hortikultura Sawah

1 Asli/Lokal 2.50 67.50 2.50 17.50 7.50 2.50

2 Pendatang 0.00 9.52 9.52 14.29 19.05 47.62

(18)

61

pa ka ck pi pl ls pa nk 15 10 5 tree height (m)

Tabel 4. Analisis Chi-Square hubungan kategorik antara etnis terhadap pola pemanfaatan lahan yang diusahakan

Value Df Asymp. Sig. (2-sided)

Pearson Chi-Square 39.379a 5 .000

Likelihood Ratio 45.905 5 .000

Linear by Linear Association 34.436 1 .000

N of Valid Cases 82

a. 4 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .49.

Remark : pa (nutmeg), pl (palm), ck (cocoa), ka (coconut), nk (jackfruit), pi (banana), ls (langsat)

Gambar 6. Profil kebun campuran

Dilihat dari jarak lahan terhadap batas kawasan (Tabel 2), lahan yang berjarak antara 3-5 km dimanfaatkan sebagai kebun campuran dan hutan rakyat. Pada jarak >5 km mayoritas masyarakat memanfaatkan lahannya untuk pertanian hortikultura, kebun tumpangsari dan sawah. Kasus berbeda terjadi pada Desa Binagara yang merupakan desa paling dekat dari batas kawasan Taman Nasional. Pengamat menemukan pola pemanfaatan sawah dan hortikultura serta kebun tumpangsari meskipun jarak antara lahan dengan batas kawasan kurang dari 2 km. Keadaan ini terjadi karena Desa Binagara merupakan desa transmigrasi dan telah ada sebelum kawasan Taman Nasional ditetapkan. Kondisi ini dapat mengakibatkan fragmentasi yang dapat mempengaruhi habitat satwa liar dan ekosistem kawasan Taman Nasional. Menurut Primack, Supriatna, Indrawan dan Kramadibrata (1998), habitat terfragmentasi oleh adanya pembuatan jalan, lahan pertanian, perkotaan atau kegiatan manusia yang lain menyebabkan terjadinya dua hal penting yaitu: (1) fragmen memiliki daerah tepi yang lebih

luas daripada habitat asal (2) Daerah pusat (tengah) lebih dekat ke daerah tepi sehingga memungkinkan predator ataupun makhluk hidup pengganggu lebih mudah berinvasi ke dalam.

Kontribusi Tiap Pola Pemanfaatan Lahan terhadap Pendapatan Masyarakat

Hasil analisis Kruskal-Wallis menunjukkan nilai signifikansi 0,046 (< 0,05) yang berarti bahwa pola pemanfaatan lahan yang diterapkan oleh masyarakat ketiga desa penyangga kawasan Taman Nasional berpengaruh nyata terhadap perbedaan pendapatan yang diterima oleh petani. Hasil analisa tertera pada Tabel 5 dan 6.

Sawah memberikan kontribusi yang paling besar terhadap rata-rata pendapatan petani, yang kedua adalah dari hasil kebun tumpangsari. Sedangkan hutan rakyat memberikan kontribusi paling sedikit. Hal ini disebabkan komoditi yang dihasilkan oleh hutan rakyat merupakan komoditi tahunan yang dapat dinikmati hasilnya setelah minimum 15 tahun ditanam.

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50

(19)

62

Tabel 5. Rata-rata pendapatan yang diperoleh masyarakat per tahun

Pendapatan

Pola pemanfaatan lahan hutan

rakyat

kebun

campuran kebun murni

kebun

tumpangsari hortikultura sawah Rata-rata (Rp) 9.120.000 11.491.731 12.120.000 17.198.222 13.818.000 18.592.667 Sumber : Analisis data primer 2011

Tabel 6. Analisis Kruskall-Wallis : pengaruh pola pemanfaatan lahan terhadap pendapatan petani

Pendapatan

Chi-Square 11.261

Df 5

Asymp. Sig. .046

a. Kruskal Wallis Test b. Grouping Variable : Land

Minimnya kontribusi pendapatan masyarakat melalui pola hutan rakyat disebabkan karena usia tanaman yang belum memasuki usia minimum panen, dimana usia tanaman saat ini sekitar 7-8 tahun. Pendapatan yang diperoleh merupakan hasil penjualan dari tumbuhan yang ada dibawah tegakan Jati yang dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat dan protein nabati masyarakat setempat. Beberapa jenis tumbuhan yang ditanam oleh petani pada ruang diantara tanaman jati yaitu pisang (Musa

paradisiaca), ketela rambat (Ipomoea batatas),

Keladi (Caladium bicolor), ketela pohon (Manihot

esculenta) dan tumbuhan paku-pakuan (Pterophyta spp). Penghasilan masyarakat juga diperoleh dari

penjualan kayu bakar hasil pemangkasan (pruning) cabang dan penjarangan (thinning) tanaman.

KESIMPULAN

Berdasarkan latar belakang masyarakat yang bermukim di sekitar wilayah TNAL, pola pemanfaatan lahan yang paling tepat diterapkan pada zona penyangga taman nasional adalah pola kebun campuran dan kebun tumpangsari.

SARAN

Perlu adanya optimalisasi pengolahan kebun campuran melalui pengaturan produktivitas masing-masing jenis tanaman penyusunnya agar hasil produksi panen meningkat dan tetap stabil. Pendampingan oleh penyuluh perlu diintensifkan untuk sosialisasi mengenai cara-cara atau penerapan pola-pola pemanfaatan lahan yang dapat

mensinergikan antara kepentingan konservasi kawasan dan kebutuhan ekonomi masyarakat. Serta melakukan penindakan tegas kepada oknum masyarakat yang masih melakukan pembukaan lahan untuk kepentingan perluasan lahan garapan di dalam kawasan.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Atiti Kotango dan Dikdik (Polhut dari Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata) yang telah mendampingi tim peneliti di lapangan. Pak Otha dan Bu Otha yang telah banyak memberikan masukan dan diskusi yang bermanfaat dan merelakan rumahnya sebagai base camp tim. Salam hormat dan penghargaan kami berikan kepada Saprudin, Shut, M.Sc pembimbing dan guru kami.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Institut Pertanian Bogor Press. Bogor.

Asdak, C. 2004. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Badan Pusat Statistik Maluku Utara. 2005. Buku Statistik Provinsi Maluku Utara 2005. Ternate.

Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata. 2012. Laporan Akhir Kegiatan Teknis di Kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Sofifi.

Bismark, M. 2002. Integrasi kepentinganan konservasi dan kebutuhan sumber penghasilan masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi. Prosiding Hasil-Hasil Litbang Rehabilitasi dan Konservasi Sumber Daya Hutan. Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.

Bismark, M. dan R. Sawitri. 2006. Pengembangan dan pengelolaan daerah penyangga kawasan konservasi. Makalah Utama Pada Ekspose Hasil-Hasil Penelitian : Konservasi dan Rehabilitasi Sumber Daya Hutan. Padang.

Danandjaja. 2012. Metodologi penelitian sosial disertai aplikasi SPSS for windows. Graha Ilmu. Cetakan Pertama. Yogyakarta.

Departemen Kehutanan. 2004. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 397/Kpts-II/2004 tanggal 18 Oktober 2004. Tentang Penetapan Kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata di Maluku Utara. Jakarta.

Gay, L.R. dan P.L. Diehl. (1992). Research Methods for Business and Management. MacMillan Publishing Company. New York.

(20)

63

Hasan, Iqbal. 2008. Analisis Data Penelitian Dengan

Statistik. Cetakan ketiga. PT. Bumi Aksara. Jakarta.

Isw, 2010. Polikultur (kebun tanaman campuran) : pertanian tradisional + polikultur = ekologis dan ekonomis. Bitra Indonesia (The Activator For Rural Progress). http://www.bitra.or.id. Diakses tanggal 25 April 2012.

Poulsen, M. K., F.R. Lambert dan Y. Cahyadin. 1999. Evaluasi terhadap Usulan Taman Nasional Lalobata dan Aketajawe (Dalam Konteks Prioritas Konservasi Keanekaragaman Hayati di Halmahera). Bird Life International Indonesia Program Bekerjasama dengan Departemen Kehutanan. Bogor.

Primack, R.B., J. Supriatna., M. Indrawan dan P. Kramadibrata. 1998. Biologi Konservasi. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta

Salim, Emil. 1988. Pembangunan Berwawasan Lingkungan. Penerbit LP3ES. Jakarta.

Soekartawi. 2002. Analisis Usahatani. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Nurrani, L., Halidah, S. Tabba dan S.N. Patandi. 2012. Karakteristik Kualitatif Tipe Penggunaan Lahan di Zona Penyangga Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea 1(2):117-133.

Wikipedia Indonesia. 2011. Kakatua Putih. (Ensiklopedia bebas). http://www. wikipedia.org.id. Diakses Tanggal 6 Februari 2012.

Wiratno. 1994. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Menuju Pengelolaan Sebagai Biosphere Reserve. Majalah Kehutanan Indonesia. No 12 Tahun 1993/1994. Hal 3-7. Jakarta.

(21)

64

(22)

65

(23)
(24)

67

PERTUMBUHAN LIMA PROVENAN PULAI GADING (Alstonia scholaris)

UMUR 6 BULAN DI SUMBER KLAMPOK, BALI

GROWTH OF 5 PROVENANCES AT 6 MONTHS OLD Alstonia scholaris IN SUMBER

KLAMPOK, BALI

Mashudi

Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta Jl. Palagan Tentara Pelajar Km. 15, Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta, Indonesia

Telp. (0274) 895954, 896080, Fax. (0274) 896080; email : [email protected]

Diterima: 26 Maret 2015; direvisi: 09 September 2015; disetujui: 14 September 2015

ABSTRAK

Pulai gading (Alstonia scholaris (L.) R. Br.) merupakan jenis lokal di Indonesia dan tumbuh cepat yang memiliki potensi bagus untuk pengembangan hutan tanaman. Kayu pulai gading dapat dimanfaatkan untuk pembuatan peti, korek api hak sepatu, barang kerajinan (topeng dan wayang golek), pensil “slate” dan bubur kertas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan tanaman pulai gading umur 6 bulan di Sumber Klampok, Bali. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Berblok dengan perlakuan provenan. Dalam penelitian ini digunakan 5 provenan, yaitu : Lombok (NTB), Jayapura (Papua), Solok (Sumatera Barat) dan Timor (NTT), dan Bali. Materi genetik yang digunakan sebanyak 46 pohon induk dan masing-masing pohon induk ditanam 4 bibit dan diulang sebanyak 6 kali (blok). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan provenan berpengaruh nyata terhadap parameter yang diamati, yaitu tinggi dan diameter batang. Provenan Bali, Lombok dan NTT merupakan tiga provenan yang menghasilkan persen hidup, tinggi tanaman dan diameter batang terbaik.

Kata kunci : Alstonia scholaris, daya adaptasi, provenan, variasi pertumbuhan.

ABSTRACT

Alstonia scholaris (L.) R.Br. is one of native and fast growing species in Indonesia. This species is potential for forest

plantation. Its wood can be used for boxes, matches, heelpiece, crafts (mask and puppet), pencil slate, and pulp. This paper aims to study the growth of Alstonia scholaris at 6 month old in Sumber Klampok, Bali. This experiment was arranged in a randomized complete block design with provenances as treatment. The research used 5 provenances, i.e. Lombok (NTB), Jayapura (Papua), Solok (West Sumatera), Timor (NTT) and Bali. Material genetic from 46 parent trees were used and we observed 4 seedling of each patent trees with 6 replications. The result showed that provenances of Bali, Lombok dan NTT were the best provenances for survival rate, height, and stem diameter. Keywords : Alstonia scholaris, adaptability, provenance, growth variation.

PENDAHULUAN

Pulai gading (Alstonia scholaris (L.) R.Br.) merupakan indegenous species, cepat tumbuh dan multi guna yang mempunyai potensi bagus untuk pengembangan hutan tanaman. Menurut Soerianegara dan Lemmens (1994), pulai gading mempunyai sebaran hampir di seluruh wilayah Indonesia. Pulai sangat prospektif dikembangkan untuk pembangunan hutan tanaman, karena kegunaan kayu pulai cukup banyak dan saat ini permintaannya cukup tinggi. Kegunaan kayu pulai antara lain untuk pembuatan peti, korek api, hak sepatu, barang kerajinan seperti wayang golek dan topeng, cetakan

beton, pensil “slate” dan pulp (Samingan, 1980 dan Martawijaya et al., 1981). Beberapa industri yang menggunakan bahan baku kayu pulai adalah industri pensil ”slate” di Sumatera Selatan, industri kerajinan topeng di Yogyakarta dan industri kerajinan ukiran di Bali. Kebutuhan kayu pulai di Sumatera Selatan disuplai dari hutan rakyat, namun produksinya baru dapat memasok ± 50 % dari kapasitas yang dibutuhkan (Mashudi et al., 2005). Sementara itu kebutuhan kayu pulai di Yogyakarta dan Bali belum ada kepastian pasokan bahan baku (Leksono, 2003).

Sampai saat ini pulai belum banyak ditanam dalam skala luas di Indonesia. Di luar Jawa,

(25)

68

masyarakat umumnya belum melakukan budidaya pulai karena jenis ini masih mudah diperoleh di hutan belukar (Wawo, 1996 dalam Pratiwi, 2000). Salah satu perusahaan yang telah mencoba mengembangkan hutan tanaman pulai adalah PT. Xylo Indah Pratama (XIP) di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan dengan tujuan untuk mensuplai kebutuhan bahan baku pensil ”slate”. Produktivitas hutan yang dibangun relatif belum tinggi, yaitu dengan riap tinggi tanaman sebesar 1,04 m/tahun pada tanaman umur 4 tahun (Muslimin dan Lukman, 2007).

Implementasi pengembangan hutan tanaman pulai menuntut pasokan bibit tanaman dalam jumlah cukup secara berkesinambungan. Saat ini pasokan bibit berkualitas dari materi generatif belum bisa disediakan karena belum tersedianya sumber benih yang berkualitas. Fenomena di atas mengindikasikan bahwa upaya pengadaan benih berkualitas (unggul) dalam jumlah dan kualitas yang memadai sangat diperlukan. Untuk dapat menghasilkan benih unggul diperlukan dukungan kegiatan pemuliaan pohon secara berkesinambungan dengan menggunakan strategi yang tepat dan teknologi yang memadai. Terkait dengan permasalahan tersebut maka pembangunan uji keturunan pulai gading dilakukan. Langkah pembangunan uji keturunan ini didukung oleh hasil penelitian Hartati et al. (2007), bahwa keragaman genetik pulai dengan metode Nei masih cukup tinggi yaitu berkisar antara 0,1370 – 0,2254,

sehingga pembangunan uji keturunan menjanjikan hasilnya apabila dilaksanakan. Uji keturunan pulai gading telah dibangun di Sumber Klampok, Bali. Terkait dengan tanaman uji keturunan pulai gading tersebut maka penelitian ini dilakukan untuk mempelajari pertumbuhan tanaman pulai gading umur 6 bulan di Sumber Klampok, Bali.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan pada tanaman uji keturunan pulai gading yang berlokasi di Sumber Klampok, Bali. Menurut administrasi pemerintahan termasuk dalam wilayah Desa Sumber Klampok, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Jenis tanah lokasi studi adalah alluvial coklat kelabu, ketinggian tempat ± 25 m dpl, curah hujan 972 – 1.550 mm/tahun, suhu berkisar antara 22oC – 35oC dan rata-rata kelembaban relatif 66 %.

Bahan yang dipergunakan adalah tanaman uji keturunan pulai gading yang berlokasi di Sumber Klampok, Bali. Materi genetik yang digunakan untuk membangun uji keturunan berasal dari lima provenan, yaitu provenan Lombok (NTB), Jayapura (Papua), Solok (Sumatera Barat), Timor (NTT) dan Bali. Letak geografis, ketinggian tempat dan jumlah curah hujan kelima provenan disajikan pada Tabel 1. Alat penelitian yang digunakan adalah kaliper untuk mengukur diameter batang, galah meter untuk mengukur tinggi tanaman, dan field note untuk mencatat hasil pengukuran.

Tabel 1. Letak geografis, ketinggian tempat dan curah hujan dari 5 provenan pulai gading

No. Lokasi Letak Geografis Ketinggian tempat (m dpl) Curah Hujan (mm/thn) 1. Lombok, NTB 116o13’29,78”-116o30’00” BT dan 8o 20’00”-8o33’04,40” LS 150 – 300 1500-2000

2. Jayapura, Papua 140o31’26,81- 140o39’58,80” BT dan 2o31’18,43”- 2o35’04,00”LS

500 – 700 1500-4000

3. Solok, Sumbar 100o32’03,00”-101o41’30,00” BT dan 0o51’12,93”-1o41’29,32” LS 400 – 600 2000-2800 4. Timor, NTT 124o03’15,42”-124o30’13,00” BT dan 9o26’10,10”-9o50’51,42”LS 100 – 400 750 – 1500 5. Bali 115o31’53,91”-115o54’8,90” BT dan 8o21’23,67”-8o41’37,92” LS 200 – 350 893,4-2202,6

Penelitian dilaksanakan dengan cara melakukan pengukuran sifat pertumbuhan tanaman uji keturunan pulai gading dengan intensitas sampling 100 %. Karena tanaman baru berumur 6 bulan maka sifat pertumbuhan yang didata meliputi dua sifat yaitu

tinggi tanaman dan diameter batang (10 cm dari pangkal batang).

Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok atau Randomized

(26)

69

provenan. Dalam penelitian ini digunakan 5 provenan, yaitu : Lombok (NTB), Jayapura (Papua), Solok (Sumbar), Timor (NTT) dan Bali. Jumlah materi genetik yang digunakan untuk membangun plot uji sebanyak 46 pohon induk dengan masing-masing pohon induk ditanam 4 bibit dan diulang sebanyak 6 kali (blok).

Data hasil pengukuran dianalisis menurut Rancangan Acak Lengkap Berblok. Untuk mengetahui perlakuan yang berpengaruh nyata dilakukan sidik ragam (analisis varians) dengan model sebagai berikut (Steel dan Torrie, 1981):

Yij = μ + ri + τj + εij dengan :

Yij = rata-rata pengamatan pada ulangan ke-i dan provenan ke-j; μ = rata-rata umum; ri = pengaruh

ulangan ke-i; τj = pengaruh provenan ke-j dan εijk = galat.

Apabila hasil analisis varians menunjukkan perbedaan yang signifikan, maka dilanjutkan dengan

Uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) untuk mengetahui perbedaan karena perlakuan.

HASIL DAN PEMBAHASAN Persen Hidup

Persen hidup tanaman pada lokasi pengembangan dicerminkan oleh kemampuan bertahan hidup tanaman di lokasi penanaman. Berdasarkan hasil inventarisasi lapangan pertumbuhan tanaman pulai gading di Sumber Klampok, Bali umur 6 bulan relatif baik. Rerata persentase hidup tanaman antar provenan berkisar antara 86,67 - 97,62 % (Gambar 1). Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa daya adaptasi tanaman pulai gading sampai umur 6 bulan di Sumber Klampok, Bali relatif baik baik. Rerata persentase hidup tanaman antar provenan tersebut lebih rendah bila dibandingkan dengan persentase hidup pulai darat di Wonogiri pada umur yang sama yaitu berkisar antara 91,7 - 100 % (Mashudi, 2013). Hal ini terjadi kemungkinan karena curah hujan di Sumber Klampok, Bali relatif rendah sehingga sangat berpengaruh terhadap daya hidup (survival) tanaman.

Gambar 1. Persen hidup tanaman pulai gading umur 6 bulan di Sumber Klampok, Bali

Gambar 1 menunjukkan bahwa tiga provenan dengan persen hidup tertinggi dipegang oleh provenan NTT (97,62 %), Bali (96,67 %) dan Lombok (95,12 %). Hal ini dapat dipahami karena ketiga provenan secara geografis berada pada sebaran yang tidak jauh berbeda dengan wilayah Sumber Klampok, Bali. Wilayah Bali dan Nusa Tenggara secara umum memiliki kondisi agroekosistem yang tidak jauh berbeda (Tabel 1) sehingga daya adaptasi tanaman pulai gading dari ketiga provenan paling baik. Dua provenan yang lain yaitu provenan

Jayapura dan Solok memiliki persen hidup yang lebih rendah, yaitu masing-masing sebesar 86,67 % dan 91, 67 %. Hal ini diduga karena kondisi lingkungan (curah hujan dan suhu) kedua provenan cukup berbeda dengan kondisi lingkungan di lokasi uji (Tabel 1). Curah hujan provenan Jayapura dan Solok cukup berbeda dengan curah hujan lokasi uji sehingga cukup berpengaruh terhadap survival tanaman dari kedua provenan tersebut. Disamping itu ketinggian tempat (altitude) kedua provenan juga cukup berbeda dengan ketinggian tempat lokasi

Keterangan : A = prov. Lombok B = prov. Jayapura C = prov. Solok D = prov. NTT E = prov. Bali

Gambar

Gambar 1. Pola pemanfaatan lahan masyarakat di kawasan penyangga Aketajawe   Gambar  1  menunjukkan  bahwa  hanya  3,70  %
Tabel  4.  Analisis  Chi-Square  hubungan  kategorik  antara  etnis  terhadap  pola  pemanfaatan  lahan  yang  diusahakan
Tabel 1.  Letak geografis, ketinggian tempat dan curah hujan dari 5 provenan pulai gading
Gambar 1. Persen hidup tanaman pulai gading umur 6 bulan di Sumber Klampok, Bali  Gambar  1  menunjukkan  bahwa  tiga  provenan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pada LKS berbasis pendekatan saintifik materi laju reaksi diketahui menyajikan fenomena berupa gambar, rumus kimia, dan persamaan kimia yang mengakibatkan KPS siswa

Jo yksinkertainen kuntien väkilukujen vertailu kuitenkin osoittaa, että väestökehitys on hyvin epätasaista (ks. kuvio 1), jolloin myös väestön ja kunnan henkilöstön

13 Herman Hidayat, Sustainable Plantation Forestry, Sustainable Plantation Forestry (Indonesia: Springer Nature Singapore Pte Ltd, 2018), p.. Metode penebangan masyarakat suku

Analisa yang digunakan dalam proses perancangan sealing unit mesin filling dan packaging manisan carica dengan mekanisme cam antara lain:. Menghitung Diameter

Langkah selanjutnya dari analisis data adalah menguji hipotesis, dengan tujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang cukup jelas dan dapat dipercaya

Hasil akhir setelah peneliti melakukan kegiatan identifikasi kebutuhan di SMP Negeri 3 Candi Sidoarjo untuk mengembangkan buku panduan perilaku prososial maka dapat

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat daya nalar tinggi dan minat belajar tinggi memiliki hasil belajar yang lebih baik.. Adapun grafik rerata

Pada mata kuliah yang diajarkan di perkuliahan teori, dalam hal ini SKI, Fisika, Mekatronika, dan juga Otomasi Industri, apakah mahasiswa sudah pernah diajarkan mengenai