i
Jamal Maulana Hudin, M.Kom Dr. Dwiza Riana, S.Si., MM., M.Kom
PENERBIT YAYASAN BARCODE 2020
ii
UNTUK PENGUJIAN MODEL PADA PENELITIAN SISTEM INFORMASI
Penulis :
Jamal Maulana Hudin, M.Kom Dr. Dwiza Riana, S.Si., MM., M.Kom
Tata Letak/Desain Cover:
Sulaiman Sahabuddin Copyright © 2020
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) ISBN: 978-623-7942-22-1
15 X 23 cm
Diterbitkan pertama kali oleh:
YAYASAN BARCODE
Divisi Publikasi dan Penelitian
Jl. Kesatuan 3 No. 9 Kelurahan Maccini Parang Kecamatan Makassar Kota Makassar
Email: [email protected] Website : www.yayasanbarcode.com
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat-Nya kepada kami sehingga buku ini bisa diterbitkan. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah untuk Rasul Muhammad SAW.
Sistem informasi menjadi hal yang sangat penting untuk meningkatkan kinerja dan target dari sebuah perusahaan dan telah terintegrasi ke dalam kegiatan bisnis sehari-hari seperti akuntansi, keuangan, manajemen operasi, pemasaran, manajemen sumber daya manusia, atau fungsi bisnis utama lainnya (O’Brien and Marakas, 2010:4). Pemanfaatan sistem informasi Akuntansi dalam industri keuangan telah meningkat segala bidang dan telah mengubah tatanan sistem keuangan modern. Dengan menggunakan teknologi sistem informasi terbukti dapat menekan biaya, menciptakan proses kerja yang lebih cepat dan efisien, serta menawarkan tingkat fleksibilitas yang tinggi (arvidsson, et al, 2014).
Update Model DeLone dan McLane (2003) telah
banyak digunakan, diantaranya oleh Dorobat (2014) menggunakan model DeLone dan McLane yang telah
iv
dimodifikasi untuk mengukur keberhasilan sistem E-Learning di Universitas. Kemudian Lee dan Yu (2012) yang menggunakan model DeLone dan McLane untuk mengevaluasi keberhasilan projek manajemen sistem informasi
Pemilihan Accurate sebagai objek penelitian didasarkan pada Accurate dibuat oleh orang Indonesia dan menjadi pilihan untuk di terapkan di lingkungan perusahaan dikarenakan ditinjau dari segi harga dan fitur-fitur yang sangat bersahabat dengan pengguna karena sebagian besar memakai bahasa Indonesia yang mudah dimengerti oleh kalangan masyarakat luas.
Akhir kata penulis berbesar hati apabila para pembaca sudi memberikan kritik, saran dan masukan dalam rangka proses penulisan dan karya berikutnya. Kesempurnaan hanya milik Tuhan, sementara kita hanya dapat berupaya.
v DAFTAR ISI Kata Pengantar_v Daftar Isi_vii BAB I PENDAHULUAN_1 BAB II INFORMASI AKUNTANSI_4 BAB III TINJAUAN STUDI_34 BAB IV
KERANGKA KONSEP MODEL DELONE & MCLEAN_41
BAB V
METODE OLAH DATA DENGAN SEM-PLS_48
BAB VI
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN_52
BAB VII
PENUTUP_78
1
BAB I
PENDAHULUAN
Sistem informasi menjadi hal yang sangat penting untuk meningkatkan kinerja dan target dari sebuah perusahaan dan telah terintegrasi ke dalam kegiatan bisnis sehari-hari seperti akuntansi, keuangan, manajemen operasi, pemasaran, manajemen sumber daya manusia, atau fungsi bisnis utama lainnya (O’Brien and Marakas, 2010:4). Pemanfaatan sistem informasi Akuntansi dalam industri keuangan telah meningkat segala bidang dan telah mengubah tatanan sistem keuangan modern. Dengan menggunakan teknologi sistem informasi terbukti dapat menekan biaya, menciptakan proses kerja yang lebih cepat dan efisien, serta menawarkan tingkat fleksibilitas yang tinggi (arvidsson, et al, 2014).
Di Kota Sukabumi beberapa perusahaan, instansi dan restoran telah mengadopsi dan menerapkan Sistem Informasi Akuntansi berbasis komputer. Sistem Informasi Akuntansi yang digunakan harus dapat memonitoring dan membantu proses kinerja sehingga dapat meningkatkan kualitas pekerjaan
2
dan manfaat yang besar bagi perusahaan, hal itu dapat dicapai dengan menerapkan perangkat lunak akuntansi yang mengoptimasi hampir seluruh siklus akuntansi. Beberapa contoh sistem informasi akuntansi adalah Accurate, MYOB(
Make Your Own Bussiness), DEA (Dac Easy Accounting) dan UBS ( User Business System).
Update Model DeLone dan McLane (2003) telah
banyak digunakan, diantaranya oleh Dorobat (2014) menggunakan model DeLone dan McLane yang telah dimodifikasi untuk mengukur keberhasilan sistem E-Learning di Universitas. Kemudian Lee dan Yu (2012) yang menggunakan model DeLone dan McLane untuk mengevaluasi keberhasilan projek manajemen sistem informasi
Pemilihan Accurate sebagai objek penelitian didasarkan pada Accurate dibuat oleh orang Indonesia dan menjadi pilihan untuk di terapkan di lingkungan perusahaan dikarenakan ditinjau dari segi harga dan fitur-fitur yang sangat bersahabat dengan pengguna karena sebagian besar memakai bahasa Indonesia yang mudah dimengerti oleh kalangan masyarakat luas.
Beberapa penelitian memberikan hasil bahwa kualitas sistem dan kualitas informasi merupakan prediktor yang
3 signifikan terhadap kepuasan pemakai, penggunaan, dan dampak individu (Roldan dan Leal 2003; McGill et al. 2003; Hussein et al. 2005), yang lain menunjukan bahwa kualitas sistem dan kualitas informasi merupakan prediktor yang signifikan terhadap penggunaan akan tetapi tidak signifikan terhadap kepuasan pemakai (Rai 2002; Hanmer 2004; Livari 2005; Radityo dan Zulaikha, 2007; Purwanto 2007). Dengan tidak konsistennya pengujian model yang dilakukan dibeberapa bidang penelitian tersebut, membuka peluang untuk mengembangkan model pada objek penelitian ini.
Harapan dari penelitian ini adalah ingin menganalisis faktor-faktor yang dapat mengukur keberhasilan model kesuksesan sistem informasi DeLone & McLean (2003) pada tempat,waktu dan objek yang berbeda.
4
BAB II
INFORMASI AKUNTANSI
A. Pengertian Informasi Akuntansi
Sistem informasi akuntansi adalah susunan berbagai formulir catatan, peralatan, termasuk komputer dan perlengkapannya serta alat komunikasi, tenaga pelaksana, dan laporan yang terkoordinasi secara erat yang didesain untuk mentransformasikan data keuangan menjadi informasi yang dibutuhkan manajemen. Sistem informasi merupakan suatu kumpulan berbagai prosedur, metode, formulir, dokumen yang saling berkaitan untuk memproses transaksi. Komponen sistem informasi akuntansi adalah sebagai berikut (Hall, 2004):
a. Sistem pemrosesan transaksi;
b. Sistem buku besar dan pelaporan keuangan; c. Sistem pelaporan manajemen.
Tujuan dari suatu sistem informasi akuntansi adalah untuk memberikan
informasi yang sesuai dengan kebutuhan manajemen bagi proses pengambilan keputusan. Informasi akuntasi adalah penting sekali bagi manajemen dari suatu satuan ekonomi yang efisien (Cushing, 1989).
5 B. Sistem Informasi Akuntansi Accurate
Accurate Accounting Software diciptakan oleh Putera/Puteri Bangsa Indonesia yang berdiri di bawah bendara PT. Cipta Piranti Sejahtera, lebih dikenal dengan sebutan CPSSoft, yang berlokasi di Jakarta. Accurate Accounting
Software merupakan software pertama yang dikembangkan
oleh CPSSoft. Dalam mengembangkan software, CPSSoft selalu menggunakan pinsip dasar 3 M, yaitu Murah, Massal , dan ber-Manfaat.
Pertama kali di luncurkan untuk kalangan umum pada bulan November 1999, dengan memanfaatkan event pameran komputer terbesar di Indonesia setiap tahun yaitu Indocomtech 1999 yang diselenggarakan JHCC, Jakarta. Versi yang diluncurkan pada waktu itu adalah Versi 1.0, dengan nama
Accurate 2000 Accounting Software. Accurate versi perdana
tersebut diluncurkan dengan angka 2000 dibelakang nama
Accurate karena waktu itu software tersebut dikembangkan
sudah Y2K Ready, dan target pasarnya adalah pengusaha kecil-menengah yang terganggu dengan millennium bug tapi belum menemukan solusi yang tepat, karena pada waktu, software
6
yang Y2K Ready harganya cenderung belum terjangkau oleh pengusaha kecil.
Pada waktu pameran tersebut , CPSSoft mendapat banyak sekali masukan yang berharga dari para user ataupun calon usernya. Berkat masukan dari user dan mengikuti perkembangan dunia usaha di Indonesia Accurate selalu membenah diri dan menyesuaikan dengan perkembangan tersebut. Hingga sekarang telah release versi 4. Pemunculan versi 4 ini tentunya memberikan beberapa kemudahan baru bagi user dalam menerapkan sistem akuntansinya ke dalam
7
Gambar 2.1 Masuk ke database Accurate
C. Fungsi dan Tujuan Sistem Informasi Akuntansi
Menurut Romney and Steinbart (2004) sistem informasi akuntansi memiliki tiga fungsi penting dalam organisasi yaitu sebagai berikut.
a. Mengumpulkan dan menyimpan data tentang aktivitas-aktivitas yang dilaksanakan oleh organisasi, sumber daya yang dipengaruhi oleh aktivitas- aktivitas
8
tersebut dan para pelaku yang terlibat dalam berbagai aktivitas tersebut, agar pihak manajemen, para pegawai, dan pihak-pihak luar yang berkepentingan meninjau ulang (review) hal-hal yang telah terjadi b. Mengubah data menjadi informasi yang berguna
bagi pihak manajemen untuk membuat keputusan dalam aktivitas perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan
c. Menyediakan pengendalian yang memadai untuk menjaga aset-aset organisasi, termasuk data organisasi, untuk memastikan bahwa data tersebut tersedia saat dibutuhkan, handal, dan akurat.
Fungsi utama sistem informasi akuntansi menurut Jogiyanto (1997:64) adalah melaksanakan empat fungsi utamanya yaitu sebagai berikut.
Mengumpulkan dan menyimpan data dari keseluruhan aktivitas dan transaksi perusahaan.
a. Memproses data menjadi sebuah informasi yang memiliki value added pihak manajemen.
b. Mengklarifikasikan dan mengarsipkan data ke dalam kelompok-kelompok yang sudah ditetapkan oleh perusahaan.
9 c. Mengendalikan kontrol data yang cukup sehingga
asset perusahaan dapat terjaga dengan aman.
Tujuan utama dari sistem informasi akuntansi adalah mencatat, memproses, menyimpan, meringkas, dan mengomunikasikan informasi-informasi atas suatu organisasi serta menyediakan suatu informasi yang relevan terhadap stakeholder eksternal perusahaan seperti, pemegang saham, kreditur, maupun pemerintah. Tujuan utama sistem informasi akuntansi terhadap stakeholder internal perusahaan yaitu menyediakan informasi keuangan bagi pihak manajemen sehingga dapat menggunakan laporan keuangan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan (Jogiyanto, 1997:64). Sementara tujuan umum sistem informasi akuntansi menurut Jogiyanto (1997) yaitu sebagai berikut.
a. Untuk memperbaiki informasi yang diberikan oleh sistem dalam kualitas, ketepatan waktu atau struktur dari informasi tersebut.
b. Untuk memperbaiki pengendalian akuntansi dan pengecekan intern yang berarti memperbaiki daya andal informasi akuntansi dan menyediakan catatan
10
yang lengkap sebagai pertanggungjawaban dalam melindungi harta perusahaan.
c. Untuk menurunkan biaya dalam menyelenggarakan catatan akuntansi.
D. Efektivitas Sistem Informasi
Jumaili (2005) mengemukakan bahwa secara umum, efektivitas penggunaan atau pengimplementasian teknologi sistem informasi dalam suatu perusahaan dapat dilihat dari kemudahan pemakai dalam mengidentifikasi data, mengakses data dan menginterpretasikan data tersebut. Data dalam sistem informasi tersebut seharusnya merupakan data yang terintegrasi dari seluruh unit perusahaan atau organisasi sehingga dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan tugas dalam perusahaan.
Diharapkan dengan penggunaan teknologi sistem informasi, individu dari perusahaan atau organisasi yang merupakan pemakai sistem tersebut dapat menghasilkan
output yang semakin baik dan kinerja yang dihasilkan tentu
11 E. Pengukuran Efektivitas Sistem Informasi
Pengukuran kesuksesan atau efektifitas sistem informasi sangat penting bagi pemahaman kita terhadap nilai dan kekuatan dari tindakan manajemen dan investasi sistem informasi.
William H. DeLone dan Ephraim R. McLean Model mengemukakan pengukuran keberhasilan sistem informasi, yang dikenal dengan D&M IS Success Model (DeLone dan McLean,2003). Model ini dapat dilihat pada gambar 2.1
Menurut DeLone dan McLean, ada suatu rangkaian kesatuan dari entitas individual sampai nasional yang dapat memberi dampak (impact) bagi aktivitas sistem informasi. Pemilihan mengenai dimana dampak ini harus diukur tergantung kepada sistem yang dievaluasi dan tujuannya. Untuk menghindari kerumitan dalam pemodelan, mereka mengelompokkan semua pengukuran mengenai impact menjadi satu variabel, yaitu net benefits.
DeLone dan McLean juga memberikan alternatif variabel intention to use bagi variabel use, dimana intention to
use merupakan suatu sikap (attitude) sedangkan use
menunjukkan suatu perilaku (behavior). Hal ini merupakan jawaban atas kritikan Seddon mengenai model proses dan
12
model kausal (Seddon, 1997) dalam (Widowati, 2004, p. 4).. Namun karena sikap merupakan hal yang sulit diukur, variabel
use tetap dapat digunakan dalam model ini. Model reformulasi
D&M tersebut digambarkan pada Gambar 2.1.
Sumber: Jogiyanto, 2007, p.107
Gambar 2.2 Update Model Reformulasi D&M (2003)
Penelitian ini akan mengadopsi Model Reformulasi D&M, dengan pertimbangan bahwa model ini cukup lengkap dalam menjelaskan variabel-variabel yang mempengaruhi efektivitas suatu sistem informasi.
Variabel intention to use tidak digunakan dalam penelitian ini, tetapi peneliti menggunakan variabel use karena
user “sudah” menggunakan sistem informasi (sedangkan
variabel intention to use menunjukkan kecenderungan bahwa
13
F. Kualitas Sistem
Kualitas sistem didefinisikan sebagai suatu karakteristik yang diinginkan dari sistem informasi untuk menghasilkan informasi (DeLone 1992, 62). Kualitas sistem (system quality) digunakan untuk mengukur kualitas sistem teknologi informasinya sendiri.
Menurut Hamilton dan Chervany (Hamilton 1981, p. 60) beberapa penelitian menyatakan bahwa pengukuran kualitas sistem dapat dilihat dari kekinian data yang diusulkan (propossed data currency), tingkat waktu respon (response
time), waktu pergantian (turnaround time), keandalan
(reliability), akurasi data (data accuracy), kelengkapan (completeness), keluwesan sistem (system flexibility), dan kemudahan penggunaan (ease of use)
Waktu respon dan keandalan merupakan salah satu pengukur kualitas sistem (Hamilton, 1981, p. 60). Waktu respon adalah seberapa lama sebuah sistem memenuhi kebutuhan pengguna (Pasternack 1998, p. 40). Kualitas sistem menurut pengguna dapat bermanfaat jika pengguna memahami isi pesan dan akan memperhitungkan kualitasnya dalam segala
14
bentuk, baik dari keandalan sampai pada keamanan serta kinerjanya (Hayes, 2002, p. 38).
Keandalan berguna untuk pengukuran kuantitatif yang mengontrol dan mengatur sistem informasi. Keandalan dapat digunakan untuk membandingkan berbagai macam sistem informasi, dan secara numerik pengukuran ini dapat digunakan untuk menganalisa biaya atau keuntungan investasi dalam pembangunan sistem informasi (Zahedi, 1997, p. 187).
Kemudahan penggunaan merupakan salah satu komponen pengukuran kualitas sistem . Kemudahan penggunaan adalah konsep yang saling berhubungan tentang penilaian individu terhadap keterlibatan usahanya dalam proses penggunaan sistem (Venkatesh, 2000, p. 344). Kemudahan penggunaan mengacu pada tingkat dimana teknologi komputer dirasakan mudah untuk dipahami dan digunakan (Lin, 2004, p. 101).
G. Kualitas Informasi
Informasi adalah data yang telah diubah menjadi konteks yang berarti dan berguna bagi para user tertentu (O’Brien 2005, p. 38). Perusahaan membutuhkan sistem informasi yang dapat mendukung kebutuhan pengambilan keputusan dan berbagai informasi (O’Brien 2005, p. 434).
15 Informasi yang dihasilkan perlu memiliki kualitas, yaitu karakteristik, bernilai dan bermanfaat bagi penggunanya (O’Brien 2005, p. 438).
Kualitas dari suatu informasi (quality of information) tergantung dari tiga hal, yaitu informasi harus akurat (Accurate), tepat pada waktunya (timely basis), dan relevan (relevance).
Informasi memiliki tiga dimensi, yaitu : (1) waktu; (2) isi; dan (3) bentuk (O’Brien 2005, p. 295). Ketiga dimensi ini masing-masing memiliki atribut yang digunakan sebagai pengukuran dalam menilai kualitas informasi, yaitu :
1. Dimensi Waktu
a. Ketepatan waktu : informasi harus tersedia ketika dibutuhkan.
b. Kekinian : informasi harus selalu baru ketika disediakan.
c. Frekuensi : informasi harus tersedia sesering yang dibutuhkan.
d. Periode waktu : informasi harus tersedia untuk periode waktu lampau, sekarang dan masa depan.
2. Dimensi Isi
16
b. Relevansi : informasi harus berhubungan dnegan kebutuhan informasi dari penerima tertentu untuk situasi tertentu.
c. Kelengkapan : Semua informasi yang dibutuhkan harus tersedia.
d. Keringkasan : hanya informasi yang dibutuhkan yang disediakan.
e. Cakupan : informasi dapat memiliki cakupan yang sempit dan luas, atau untuk fokus internal dan eksternal. f. Kinerja : informasi dapat menunjukkan kinerja dengan mengukur aktivitas yang diselesaikan, kemajuan yang dicapai, atau sumber daya yang diakumulasi.
3. Dimensi Bentuk
a. Kejelasan : informasi harus tersedia dalam bentuk yang mudah dipahami.
b. Rinci : informasi dapat disediakan dalam bentuk rinci dan ringkasan.
c. Urutan : informasi dapat disusun dalam urutan yang telah ditentukan.
d. Presentasi : informasi dapat disajikan dalam bentuk narasi, numerik, grafik, atau bentuk lainnya.
17 e. Media : informasi dapat disediakan dalam bentuk dokumen tercetak, tampilan video, atau media lainnya.
Kualitas informasi memfokuskan pada aktualitas, keakuratan, relevansi dan bentuk informasi yang dihasilkan oleh sistem informasi (Seddon 1994, p. 93).
Kualitas informasi didefinisikan sebagai hasil informasi yang memiliki karakteristik seperti keakuratan, dapat dipahami dan aktual (DeLone 1992, p. 62).
H. Kualitas Pelayanan
Pada prinsipnya, definisi kualitas pelayananan berfokus pada upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan, serta ketetapan penyampainnya untuk mengimbangi harapan pelanggan. Kualitas pelayananan berkontribusi signifikan bagi penciptaan deferensi, positioning dan strategi bersaing setiap organisasi pemasaran, baik perusahaan manufaktur atau penyedia jasa/pelayananan (Tjiptono, 2005, p. 121). Menurut Sachdev (2004) dalam (Tjiptono, 2005, p. 130), prespektif pengukuran kualitas dikelompokkan menjadi dua jenis: internal dan eksternal. Kualitas yang didasarkan perspektif internal diartikan sebagai
18
zero defect (“doing it right the first time” atau kesesuaian
dengan persyaratan), sedangkan perspektif eksternal memahami kualitas berdasarkan persepsi pelanggan, ekspektasi pelanggan, kepuasan pelanggan dan customer
delight.
Goetch dan Davis (1994) dalam (Tjiptono, 2005, p. 132), merumuskan perspektif mengenai definisi kualitas sebagai “kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, sumber daya manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan”. Dengan demikian aspek penilaian kualitas sebuah jasa misalnya child care centre, bisamencakup berbagai faktor yang saling terkait di antara lokasi, biaya status akreditas, jumlah dan kualitas staf, reputasi
child care centre bersangkutan, desain kelas dan arena
bermain, variasi menu yang disajikan, jam operasi, sikap staf, perhatian personal terhadap fasilitas bermain dan belajar. Individu yang berbeda akan memberikan bobot kepentingan yang berbeda pada masing-masing faktor.
Menurut Zeithaml-Parasuraman (1990) dalam Aritonang (2005, p.25), pengukuran kualitas Pelayanan didasarkan pada indikator-indikator:
19 1. Reliabilitas (rebility), berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk memberikan layanan yang akurat sejak pertama kali tanpa membuat kesalahan apapun dan menyampaikan jasanya sesuai dengan waktu yang disepakati. Seperti misalnya sistem informasi dapat diandalkan
2. Daya tanggap (responssiveness), berkenaan dengan kesediaan dan kemampuan para karyawan untuk membantu para pelanggan dan merespons permintaan mereka, serta menginformasikan kapan jasa akan diberikan dan kemudian memberikan jasa secara cepat. Seperti misalnya karyawan-karyawan sistem informasi memberikan pelayanan segera kepada pemakai-pemakai
3. Jaminan (assurance), yakni perilaku para karyawan mampu menumbuhkan kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan dan perusahaan bisa menciptakan rasa aman bagi para pelanggannya. Jaminan juga berarti bahwa para karyawan selalu bersikap sopan dan menguasai pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menangani setiap pertanyaan atau masalah pelanggan. Misalnya karyawan-karyawan sistem informasi
20
mempunyai pengetahuan untuk melakukan pekerjaannya dengan baik
4. Empati (empathy), berarti perusahaan memahami masalah para pelanggannya dan bertindak demi kepentingan pelanggan, serta memberikan perhatian personal kepada para pelanggan dan memiliki jam operasi yang nyaman. Misalnya sistem informasi mempunya kepentingan terbaikdi hati pemakai
5. Bukti fisik (tangibles), berkenaan dengan daya tarik fasilitas fisik, perlengkapan, dan material yang digunakan perusahaan, serta penampilan karyawan. Misalnya sistem informasi mempunyai perangkat keras dan perangkat lunak mutakhir.
I. Penggunaan Informasi
Menurut DeLone dan McLean (1992) dalam (Jogiyanto, 2007, p. 19), penggunaan informasi (information
use) adalah penggunaan keluaran suatu sistem informasi oleh
penenrima. Banyak penenlitian yang menggunakan proksi penggunaan laporan dari sistem informasi sebagai pengukur kesuksesan sistem informasi. Dampak yang ditimbulkan adalah jika sistem digunakan maka sistem tersebut harus sangat
21 berguna dan menghasilkan kesuksesan (Seddon 1994, p. 92). Jika penggunaan dipaksakan, maka frekuensi penggunaan sistem dan informasi yang disampaikan akan menurun sehingga kesuksesan tidak tercapai (Seddon 1994, p. 93).
Manfaat suatu sistem informasi adalah tingkat dimana seseorang percaya bahwa menggunakan sistem dengan teliti dapat meningkatkan kinerja (Seddon 1994, p. 93).
Penggunaan memfokuskan pada penggunaan aktual, penggunaan secara luas dalam pekerjaan, dan banyaknya sistem informasi yang digunakan dalam pekerjaan (Almutairi 2005, p. 114). Penggunaan didefinisikan sebagai suatu interaksi hasil informasi dengan penggunanya (DeLone 1992, p. 62).
22
J. Kepuasan Pengguna
Kepuasan pengguna memfokuskan pada keberhasilan interaksi antara sistem informasi dengan penggunanya (Almutairi, 2005, p. 114).
Kepuasan merupakan hasil keluaran dari individu baik merasa puas atau tidak puas yang telah diterima dan dievaluasi secara berkelanjutan (Seddon 1994, p. 93). Kepuasan pengguna adalah perasaan puas atau tidak puas dari hasil kumpulan seluruh keuntungan yang diharapkan seseorang atas penerimaan interaksi dengan sistem informasi (Seddon, 1994, p. 95). Tiap pengguna memiliki perbedaan penilaian keuntungan atau aspirasi terhadap sistem informasi.
Kepuasan pengguna merupakan pertimbangan penting dari ukuran kesuksesan sistem informasi (Doll, 1994, p. 453). Kepuasan pengguna ditampakkan melalui konsep yang terdiri dari lima bagian : isi, keakuratan, bentuk, kemudahan penggunaan dan aktualitas (Doll, 1994, p. 459).
Menurut model DeLone and McLean biasanya respon kepuasan pengguna sistem informasi diaspirasikan oleh tiga hal: (1) pengguna ingin sistem informasi menghasilkan informasi yang berkualitas, (2) pengguna ingin menjadi lebih
23 berkualitas; (3) dan pengguna ingin berguna bagi pekerjaan mereka (Seddon, 1994, p. 95).
Kepuasan pengguna sistem informasi adalah perluasan dari kepercayaan pengguna terhadap sistem yang dapat memenuhi kebutuhan informasi. Kepuasan pengguna sistem informasi diasumsikan sebagai tanda akan suksesnya sebuah sistem informasi (Lee, 1995, p. 194).
Kepuasan pengguna didefinisikan bagaimana sebuah produk informasi dapat mempengaruhi penggunanya (DeLone, 1992, p. 62). Kepuasan pengguna menunjukkan pengaruh positif yang berorientasi pada individu terhadap sistem informasi dan bagaimana baiknya perasaan pengguna terhadap sistem informasi
K. Manfaat-manfaat Bersih
Dampak dari sistem informasi sudah meningkat tidak hanya dampaknya pada pemakai individual dan organisasi saja, tetapi dampaknya sudah ke grup pemakai, ke antar organisasi, konsumer, pemasok, sosial bahkan ke negara. Karena banyaknya macam dampak ini, DeLone dan McLean (2003) mengusulkan untuk menamakannya semua manfaat menjadi suatu manfaat tunggal yang disebut dengan nama
manfaat-24
manfaat bersih (net benefits). Menurut DeLone dan McLane (2003) dalam (Jogiyanto, 2007, p. 105) kategori yang digunakan dalam mengukur Kesuksesan Sistem Informasi umumnya :
1) Kualifikasi manfaat. 2) Untuk Siapa.
3) Tingkat analisis.
Adams.et.al (1992) mendefinisikan kemanfaatan (usefulness) sebagai suatu tingkatan dimana seseorang percaya bahwa penggunaan suatu subyek tertentu akan dapat meningkatkan prestasi kerja orang tersebut. Berdasarkan definisi tersebut dapat diartikan bahwa kemanfaatan dari penggunaan komputer dapat meningkatkan kinerja, prestasi kerja orang yang menggunakannya. Menurut Thompson (1991) kemanfaatan TI merupakan manfaat yang diharapkan oleh pengguna TI dalam melaksanakan tugasnya. Pengukuran kemanfaatan tersebut berdasarkan frekuensi penggunaan dan diversitas/keragaman aplikasi yang dijalankan. Individu akan menggunakan TI jika mengetahui manfaat positif atas penggunaannya. Chin dan Todd (1991) memberikan beberapa dimensi tentang kemanfaatan TI. Menurut Chin dan Todd (1991) kemanfaatan dapat dibagi kedalam dua kategori, yaitu:
25 (1) Kemanfaatan dengan estimasi satu faktor meliputi:
a. Menjadikan pekerjaan lebih mudah (makes job easier) b. Bermanfaat (usefull)
c. Menambah produktifitas (Increase productivity) d. Mempertinggi efektifitas (enchance efectiveness) e. Mengembangkan kinerja pekerjaan (improve job
performance)
(2) Kemanfaatan dengan estimasi dua faktor (kemanfaatan dan efektifitas).
Kemanfaatan dengan estimasi dua faktor oleh Chin dan Todd (1991) dibagi menjadi dua kategori lagi yaitu kemanfaatan dan efektifitas, dengan dimensi-dimensi masing-masing dikelompokkan sebagai berikut:
a. Kemanfaatan meliputi dimensi :
1) menjadikan pekerjaan lebih mudah (makes job
easier),
2) bermanfaat (usefull)
3) Menambah produktifitas (Increase productivity).
b. Efektifitas meliputi dimensi:
1) mempertinggi efektifitas (enchance my effectiveness),
26
2) mengembangkan kinerja pekerjaan (improve my job
performance).
L. Partial Least Squares (PLS)
Partial Least Squares (PLS) adalah teknik statistika
multivariate yang melakukan perbandingan antara variabel dependen berganda dan variabel independen berganda. PLS adalah salah satu metoda statistika SEM berbasis varian yang didesain untuk menyelesaikan regresi berganda ketika terjadi permasalahan spesifik pada data, seperti ukuran sampel penelitian kecil, adanya data yang hilang (missing value) dan multikolinearitas (Jogianto dan Abdilah, 2009, p.11).
PLS telah di uji coba pada data riil dan dalam simulasi (Garthwaite, 1994; Tennenhaus, 1998) dalam (Jogianto dan Abdilah, 2009, p.12). PLS sangat popular dalam sains eksakta, seperti bidang ilmu kimia dan kemometrika yang sering menghadapi masalah besar dalam korelasi banyak variabel dan keterbatasan jumlah observasi(Ryan et al., 1999).
PLS adalah analisis persamaan structural (SEM) berbasis varian yang secara simultan dapat melakukan pengujian model pengukuran sekaligus pengujian model struktural. Model pengukuran digunakan untuk uji validitas
27 dan reliabilitas, sedangkan model struktural digunakan untuk uji kausalitas (Pengujian hipotesis dengan model prediksi). Perbedaan mendasar PLS yang merupakan SEM berbasis varian dengan LISREL atau AMOS yang berbasis kovarian adalah tujuan penggunaannya. SEM berbasis kovarian bertujuan untuk mengestimasi model untuk pengujian atau konfirmasi teori, sedangkan SEM varian bertujuan untuk memprediksi model untuk pengembangan teori. Karena itu, PLS merupakan alat prediksi kausalitas yang digunakan untuk pengembangan teori (Jogianto dan Abdilah, 2009, p.15).
Ada beberapa hal yang membedakan analisis PLS dengan model analisis SEM yang lain :
1. Data tidak harus berdistribusi normal multivariate. 2. Dapat digunakan sampel kecil. Minimal sampel >30
dapat digunakan.
3. PLS selain dapat digunakan unutk mengkonfirmasikan teori, dapat juga digunakan untuk menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antar variabel laten.
4. PLS dapat menganalisis sekaligus konstruk yang dibentuk dengan indikator reflektif dan formatif
5. PLS mampu mengestimasi model yang besar dan kompleks dengan ratusan variabel laten dan ribuan indikator (Falk and Miller, 1992).
Ada beberapa program komputer untuk mengestimasi model pada model persamaan struktural yaitu program
28
Smartpls, LISREL, AMOS, EQS, SAS PROC CALIS, dan STATISTICA-SEPATH (Ghozali 2008, p. 29).
M. Perkembangan Partial Least Squares (PLS)
Analisis jalur dan pemodelan hubungan kausal pertama kali dikenalkan oleh Wright pada 1920-an (Falk & Miller, 1992; Wright, 1921).pada akhir 1960-an, Herman O.A Wold mengembangkan PLS regresi untuk bidang ekonomika yang sebelumnya telah digunakan di bidang kimia untuk studi analitikal, fisika dan kimia klinikal (Gladi & Kowalski, 1986). Pada dasarnya, Wold membangun PLS untuk menguji teori yang lemah dan masalah pada asumsi normalitas distribusi data (Wold, 1982; Wold et al., 1987).
Tujuan PLS adalah untuk memprediksi pengaruh variabel X terhadap Y dan menjelaskan hubungan teoritikal diantara kedua variabel. PLS adalah metoda regresi yang dapat digunakan untuk identifikasi factor yang merupakan kombinasi variabel X sebagai penjelas dan variael Y sebagai respon (Talbot, 1997) dalam (Jogianto dan Abdilah, 2009, p.13). PLS serupa dengan regresi principal components analysis (PCA) namun merupakan alternatif yang lebih baik disbanding regresi berganda dan metoda regresi PCA karena menghasilkan
29 parameter model yang lebih kokoh tanpa mengubah atau mengalibrasi ulang sampel dari populasi (Falk & Miller, 1992; Geladi & Kowalski, 1986) dalam (Jogianto dan Abdilah, 2009, p.13).
N. PLS-SEM
Beberapa hal penting yang melandasi SEM menggunakan PLS menurut Monecke & Leisch (2012) diantaranya:
1. SEM menggunakan PLS terdiri tiga komponen, yaitu model struktural, model pengukuran dan skema pembobotan. Bagian ketiga ini merupakan ciri khusus SEM dengan PLS dan tidak ada pada SEM yang berbasis kovarian. Jika digambarkan model akan seperti dibawah ini.
30
Gambar 2.2 Model PLS - SEM
2. SEM menggunakan PLS hanya mengijinkan model hubungan antar variabel yang recursif (sarah) saja. Hal ini sama dengan model analisis jalur (path analysis) tidak sama dengan SEM yang berbasis kovarian yang mengijinkan juga terjadinya hubungan non-recursif (timbal-balik).
31 3. Pada model struktural, yang disebut juga sebagai model bagian dalam, semua variabel laten dihubungan satu dengan yang lain dengan didasarkan pada teori substansi. Variabel laten dibagi menjadi dua, yaitu eksogenous dan endogenous. Variabel laten eksogenous adalah variabel penyebab atau variabel tanpa didahului oleh variabel lainnya dengan tanda anak panah menuju ke variabel lainnya (variabel laten endogenous).
Gambar 2.3 Model jalur SEM dengan PLS (Sumber: Hair, Ringle & Sarstedt, 2011)
Model di atas mempunyai dua variabel laten exogenous (variabel bebas), yaitu Y1 dan Y2 dengan satu variabel laten
32
endogenous (variabel tergantung), yaitu Y3. Variabel Y1 dan Y2 diukur oleh dua indikator secara formatif, yaitu X1, X2 dan X3, X4. Sedang Variabel Y3 diukur dengan tiga indikator secara reflektif.
O. Langkah – langkah PLS SEM
a. Langkah 1: Setiap variabel laten disusun didasarkan dengan jumlah berbobot semua variabel manifestnya masing-masing.
b. Langkah 2: Setiap variabel laten diestimasi dengan menggunakan jumlah berbobot setiapvariabel laten yang berdekatan dengan variabel laten tersebut.
c. Langkah 3: Untuk inisialisasi semua bobot adalah 1 (satu). Kemudian bobot tersebut dihitungulang dengan
didasarkan pada nilai-nilai variabel laten yang diperoleh pada langkah kedua.
d. Langkah 4: Pengaturan vektor bobot luar dalam suatu matriks bobot luar untuk membuat estimasi nilai-nilai faktor (variabel laten) dengan didasarkan pada variabel-variabel manifest. Vektor adalah seperangkat variabel-variabel yang dapat diwakili dengan menggunakan indeks. Suatu vektor
33 dapat berupa variabel numerik atau string dan variabel tersebut dapat bersifat tetap atau sementara.
e. Langkah 5: Jika perubahan relatif semua bobot luar dari suatu iterasi ke iterasi berikutnya menjadi lebih kecil dibandingkan dengan toleransi yang sudah didefinisikan sebelumnya; maka 5 estimasi nilai-nilai faktor yang dilakukan pada langkah ke empat sudah dianggap final. Jika belum, maka langkah diulangi lagi ke langkah dua.
P. SmartPLS
SmartPLS adalah aplikasi perangkat lunak yang didesain untuk teknik structural equation model (SEM) dalam bentuk (GUI). Model diukur dengan menggunakan metoda analisis partial least squares (PLS). SmartPLS memungkinkan impor data indicator variabel dalam model. Aplikasi ini dibangun melalui proyek di Institute of Operation Management
an Organizations (School of Business), University of Mamburg (Germany) (Jogianto dan Abdilah, 2009, p.158).
34
BAB III
TINJAUAN STUDI
Sebagai referensi beberapa penelitian terdahulu terkait dengan penelitian ini di antaranya sebagai berikut:
Penelitian yang dilakukan oleh Firmawan dan Marsono (2009) dengan menggunakan teori atribusi (attribute theory) dan model penerimaan teknologi (acceptance technologi model) bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesuksesan penggunaan sistem informasi (system usage) oleh nasabah pada perusahaan Bank Mandiri. Hasil dari penelitian ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan Internet Banking Mandiri oleh nasabah Bank Mandiri adalah perceived usefulness (PU), perceived (PE), security and privacy (SP), internet connection (INCON), dan amount of information (INFO), dan perceived ease of use bukan merupakan faktor yang mempengaruhi penggunaan internet banking. Perceived usefulness bukan merupakan faktor yang mempengaruhi penggunaan internet banking karena nasabah
35 Bank Mandiri merasa bahwa pengguna internet banking masih rumit.
Penelitian Istianingsih dan Wijanto (2008) dengan menggunakan model persamaan struktur (structure equation model) bertujuan untuk menguji pengaruh kualitas sistem informasi, perceived usefulness, dan kualitas informasi terhadap kepuasan pengguna akhir software akuntansi. Hasil penelitian ini adalah kualitas sistem informasi berpengaruh positif terhadap perceived usefulness, kualitas informasi berpengaruh postif terhadap perceived usefulness, kualitas sistem informasi berpengaruh positif terhadap kepuasan pengguna sistem informasi, kualitas informasi berpengaruh positif terhadap kepuasan pengguna sistem informasi, dan perceived usefulness berpengaruh positif terhadap kepuasan pengguna sistem informasi.
Purwaningsih (2010) melakukan penelitian ini dengan menggunakan model keberhasilan sistem informasi DeLone and McLean yang bertujuan untuk menguji dan mendapatkan bukti-bukti empiris mengenai faktor-faktor penentu keberhasilan penerapan SIPT. Hasil penelitian ini adalah keberhasilan penerapan SIPT dipengaruhi secara signifikan oleh kualitas sistem, kualitas informasi, kualitas
36
pelayanan, dan kepuasan pengguna sistem informasi, serta kesesuaian tugas dan teknologi.
Penelitian Tjakrawala dan Cahyo (2010) dengan menggunakan model keberhasilan sistem informasi DeLone and McLean bertujuan untuk apakah software (komersil) akuntansi yang diadopsi oleh perusahaan telah berhasil diimplementasikan oleh para pengguna akhir dan memberikan dampak positif bagi kinerja individual. Hasil penelitian ini adalah software akuntansi yang diadopsi oleh perusahaan telah berhasil diimplementasikan oleh para pengguna akhir yang tercermin pada meningkatnya nilai persepsi kualitas sistem, nilai kepuasan pengguna akhir, nilai penggunaan sistem dan nilai dampak individual.
Untuk memudahkan memahami penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, maka dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut:
37
Tabel 3.1 Tinjauan Studi
Peneliti/Ta hun
Judul Variabel Hasil
Firmawan, Marsono, 2009 Analisis Faktor-Faktor yang mempengaruhi Kesuksesan Penggunaan Sistem Informasi (System Usage) Studi Empiris Pada Nasabah Bank Mandiri. 1. System Usage, 2. Perceived Usefulness 3. Perceived Ease Of Use 4. Perceived Enjoyment, 5. Security and Privacy, 6. Internet Connection 7. Amount Of Information 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan internet banking Mandiri oleh nasabah Bank Mandiri adalah perceived usefulness (PU), perceived (PE), security and privacy (SP), internet connection (INCON), dan amount of information (INFO). 2. Perceived ease of use (PEOU) bukan merupakan faktor yang mempengaruhi tingkat penggunaan internet banking Mandiri karena nasabah bank Mandiri masih merasa bahwa penggunaan
internet banking
38 Istianingsih, Wijayanto Hari Setyo , 2008 Pengaruh Kualitas Sistem Informasi, Perceived Usefulness, Dan Kualitas Informasi Terhadap Kepuasan Pengguna Akhir Software Akuntansi 1. Perceived usefulness 2. Perceived ease of use. 3. Kualitas sistem informasi (quality information system). 4. Kualitas informasi (information quality). 5. Kepuasan pengguna sistem informasi(user satisfaction) 1. System quality terbukti secara signifikan berpengaruh positif terhadap perceived usefulness. 2. Information quality terbukti secara signifikan berpengaruh positif terhadap perceived usefulness. 3. System quality terbukti secara signifikan berpengaruh positif terhadap user satisfaction. 4. Information quality terbukti secara signifikan berpengaruh positif terhadap user Satisfaction. 5. Perceived usefulness terbukti secara signifikan berpengaruh positif terhadap user satisfaction. Purwaningsi h, 2010 Analisis Kesuksesan Penerapan Sistem Informasi Pada Pelayanan Sistem Informasi Pelayanan Terpadu (SIPT) Online 1. Kualitas sistem 2. (system quality). 3. Kualitas informasi (information quality). 4. Kepuasan pengguna (user satisfaction). 5. Kesesuaian tugas teknologi (task teknologi fit). 1. Bahwa kesuksesan penerapan Sistem Informasi Pelayanan Terpadu (SIPT) Online PT Jamsostek
(Persero) dipengaruhi secara signifikan oleh kualitas sistem, kualitasinformasi, kualitas pelayanan, dan kepuasan pengguna serta kesesuaian tugas dan teknologi.
39 2. Kepuasan pengguna SIPT Online dipengaruhi secara signifikan oleh kualitas sistem, kualitas informasi, dan kualitas pelayanan. 3. Dampak individual
penggunaan SIPT Online dipengaruhi secara signifikan oleh kualitas sistem, kualitas informasi, kualitas pelayanan dan kepuasan pengguna sistem informasi Tjakrawala, Cahyo, 2010 Adaptasi Model Delon And McLean Yang Dimodifikasi Guna Menguji Keberhasilan Implementasi Software Akuntansi Bagi Individu Pengguna: Studi empiris pada Perusahaan Dalam Industri Barang Konsumsi Yang Terdaftar Di BEI. 1. Kualitas sistem (system quality). 2. Kualitas informasi (information quality). 3. Persepsi kualitas sistem (perceived system quality). 4. Penggunaan sistem (system usage). 5. Kepuasan pengguna akhir (user satisfaction). 6. Dampak Akhir (last of impact). 1. Kualitas sistem berpengaruh positif terhadap persepsi kualitas sistem. 2. Persepsi kualitas sistem
berpengaruh positif terhadap kepuasan pengguna akhir. 3. Kualitas informasi berpengaruh positif terhadap kepuasan pengguna akhir. 4. Kepuasan pengguna akhir berpengaruh positif terhadap penggunaan sistem.
5. Persepsi kualitas sistem berpengaruh positif terhadap penggunaan sistem.
40
6. Kepuasan pengguna akhir berpengaruh positif terhadap dampak individual.
7. Penggunaan sistem berpengaruh positif terhadap dampak individual.
41
BAB IV
KERANGKA KONSEP MODEL DELONE
& MCLEAN
Model Delone & Mclean (2003) menyatakan bahwa ada tiga variabel yang mempengaruhi variabel pengguna dan kepuasan pengguna yaitu variabel kualitas informasi, kualitas sistema dan kualitas pelayanan . Besar tingkat pengaruh penggunaan sistem akan mempengaruhi kepuasan pengguna secara positif atau negatif, dan tingkat kepuasan pengguna juga mempengaruhi penggunaan. Penggunaan dan kepuasan pengguna mempengaruhi langsung manfaat-manfaat bersih. Sehingga, dalam model ini dapat dibuat suatu pengaruh antar variabel sebagai berikut :
1. Kualitas sistem memiliki pengaruh terhadap penggunaan dan kepuasan pengguna.
2. Kualitas informasi memiliki pengaruh terhadap penggunaan dan kepuasan pengguna.
3. Kualitas pelayanan memiliki pengaruh terhadap penggunaan dan kepuasan pengguna.
42
4. Penggunaan memiliki pengaruh terhadap kepuasan pengguna .
5. Penggunaan memiliki pengaruh terhadap manfaat-manfaat bersih.
6. Kepuasan pengguna memiliki pengaruh terhadap manfaat-manfaat bersih.
Kualitas sistem mengukur baik atau buruknya sistem, konsistensi tampilan pengguna, kemudahan penggunaan, tingkat respon sistem interaktif, dokumentasi, dan kualitas serta pemeliharaan kode program. Kualitas informasi mengukur aktualitas, akurasi, hubungan, dan bentuk informasi yang dihasilkan sistem informasi. Penggunaan mengukur penggunaan sistem informasi pada umumnya, penggunaan sistem informasi dalam lingkup pekerjaan, dan banyaknya paket informasi yang digunakan dalam pekerjaan. Kepuasan pengguna mengukur kesuksesan interaksi antara sistem informasi dengan penggunaanya. Manfaat-manfaat bersih mengukur pengaruh sistem informasi terhadap kinerja penggunanya, dalam empa) aspek yaitu produktivitas, inovasi, kepuasan pelanggan, dan pengendalian manajemen.
Kerangka konsep secara praktis menggambarkan pengaruh antar variabel dalam model sukses DeLone dan
43 McLean, serta bagaimana penerapan model ini pada Sistem Informasi Akuntansi Accurate seperti diilustrasikan pada Gambar 2.4 berikut :
Gambar 4.1 Kerangka Konsep Pengaruh Antar Variabel
Masing-masing variabel-variabel penelitian diatas akan ditetapkan dan diukur
indikator-indikatornya antara lain sebagai berikut : a. Kualitas Informasi
Beberapa indikator kualitas informasi menurut (Seddon,1999) meliputi :
1) Ketepatan waktu, informasi diberikan tepat waktu 2) Keringkasan, informasi yang di sajikan ringkas dan jelas
KI (Kualitas Informasi) KP (Kualitas Pelayanan) KS (Kualitas Sistem) P (Pengguna) KPG (Kepuasan Pengguna) MB (Manfaat Bersih) H1 H2 H3 H4 H5 H6 H7 H8 H9
44
3) Mudah dipahami
4) Aktualitas, informasi selalu disampaikan yang terkini 5) Relevansi
b. Kualitas Sistem
Menurut Hamilton dan Chervany (Hamilton, 1981), indikator pengukuran kualitas sistem, meliputi : 1) Ketersediaan sistem, 2) Kecepatan respon, 3) Fleksibilitas sistem, 4) Kemudahan penggunaan, 5) Kelengkapan berintegrasi, 6) Keandalan sistem dan 7) Konsistensi respon. c. Kualitas Pelayanan
Pengukuran kualitas pelayanan didasarkan pada indikator-indikatornya (Zeithaml-
Parasuraman, 1990) dalam (Aritonang 2005, 25), meliputi: Program Pascasarjana Magister Ilmu Komputer STMIK Nusa Mandiri
1) Daya tanggap (responssiveness) 2) Jaminan (assurance)
45 3) Empati (emphaty)
d. Intensitas Penggunaan
Beberapa indikator penggunaan (Iivary, 2005 ), meliputi : 1) Frekuensi penggunaan (Frequency of use)
2) Penggunaan waktu harian (Time of use)
Beberapa indikator penggunaan ( DeLone & McLean,1992), meliputi :
3) Lama waktu koneksi (Amount of connect time) 4) Pengulangan penggunaan (recurring use)
e. Kepuasan Pengguna
Beberapa indikator kepuasan pengguna (Iivary, 2005 ), meliputi :
1) Penilaian kepuasan penggunaan system 2) Kesulitan penggunaan system
3) Kenyamanan penggunaan system
4) Persyaratan kepuasan penggunaan system
5) Kesenangan terhadap kepuasan penggunaan sistem f. Net Benefits
Beberapa indikator manfaat bersih (net benefits) (DeLone & McLean,
2003)yang diusulkan dalam penelitian ini, meliputi : 1) Menumbuhkan kreativitas
46
2) Peningkatan pengetahuan 3) Manfaat
4) Kemampuan memecahkan masalah 5) Meningkatkan partisipasi
6) Tercapainya sharing pengetahuan
Berdasarkan kerangka konsep pengaruh antar variabel, maka disusunlah hipotesis sebagai berikut :
H1: Diduga bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kualitas sistem (KS) terhadap penggunaan (P).
H2 : Diduga bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kualitas sistem (KS)
terhadap kepuasan pengguna (KPG).
H3 : Diduga bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kualitas informasi
(KI) terhadap penggunaan (P).
H4 : Diduga bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kualitas informasi
(KI) terhadap kepuasan pengguna (KPG).
H5 : Diduga bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kualitas pelayanan
47 H6 : Diduga bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kualitas pelayanan
(KP) terhadap kepuasan pengguna (KPG).
H7 : Diduga bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara penggunaan (P)
terhadap kepuasan pengguna (KPG).
H8 : Diduga bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara penggunaan (P)
terhadap manfaat-manafat bersih (MB).
H9 : Diduga bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kepuasan pengguna
(KP) manfaat-manafat bersih (MB)
Kerangka Pemikiran
48
BAB V
METODE OLAH DATA DENGAN
SEM-PLS
Pengembangan Model Berbasis Teori
Tujuan pengembangan model berbasis teori ini adalah untuk mengembangkan sebuah model yang mempunyai justifikasi (pembenaran) secara teoritis yang kuat, untuk mendukung upaya analisis terhadap suatu masalah yang menjadi obyek penelitian. Model yang dikembangkan SEM-PLS berdasarkan hubungan kausalitas. Kuatnya hubungan kausalitas antar variabel yang diajukan bukan terletak pada metode analisis yang dipilih, tetapi terletak pada justifikasi secara teoritis untuk mendukung analisis.
Untuk penelitian ini, model berbasis teori yang dikembangkan merupakan adopsi model kesuksesan sistem informasi DeLone dan McLean 2003 yang di uji dengan aplikasi SmartPLS seperti yang dapat dilihat pada Gambar 5.1 berikut:
49
Gambar 5.1 Model DeLone & Mclean (2003)
Pada penelitian ini terdapat 3 (satu) konstruk eksogen dan 3 (tiga) konstruk endogen. Konstruk eksogen disebut dengan
sources variables atau variabel independen yang tidak
diprediksi atau tidak dipengaruhi oleh variabel yang lain pada model meliputi.
1. Kualitas Sistem (KS) 2. Kualitas Informasi (KI) 3. Kualitas Pelayanan (KP)
50
Sedangkan konstruk endogen atau disebut variabel dependen yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang menerima akibat karena adanya variabel eksogen meliputi:
Konstruk eksogen atau independen variabel meliputi : 1. Penggunaan (P)
2. Kepuasan Pengguna (KPG) 3. Manfaat-Manfaat Bersih (MB)
Konstruk (faktor) dan dimensi-dimensi yang akan diteliti dari model teoritis diatas akan diuraikan dalam bagan berikut ini:
Tabel 5.2 Bangunan Model Teoritis
Variabel I n d i k a t o r Jumlah Item
Kualitas Informasi (KI) (DeLone & McLean, 2003)
X1= Ketepatan waktu 1 X2= Keringkasan 1 X3= Mudah difahami 1 X4= Aktualitas 1 X5= Relevansi 1 Kualitas System (KS) (DeLone & McLean, 2003)
X6= Ketersediaan sistem 1 X7= Kecepatan Respon 1 X8= Flexibilitas sistem 1 X9= Kemudahan Pengguna 1 X10= Kelengkapan Berintegrasi 1 X11= Keandalan Sistem 1 X12= Konsistensi Sistem 1 Kualitas Pelayanan (KP)
(DeLone & McLean, 2003)
X13= Daya Tanggap 1
X14= Jaminan 1
51
Pengguna (P)
(DeLone & McLean, 2003)
Y1= Waktu menggunakan 1
Y2= Frekuensi Penggunaan 1 Y3= Lama waktu koneksi 1 Y4= Pengulangan penggunaan 1 Kepuasan Pengguna (KPG)
(DeLone & McLean, 2003)
Y5= Penilaian kepuasan pengguna sistem 1 Y6= Kesulitan penggunaan sistem 1 Y7= Kenyamanan penggunaan sistem 1 Y8= Persyaratan kepuasan penggunaan
sistem
1 Y9= Kesenangan terhadap kepuasan
penggunaan sistem
1 Manfaat Bersih (MB)
(DeLone & McLean, 2003)
Y10= Menumbuhkan kreatifitas 1 Y11= Peningkatan pengetahuan 1
Y12= Manfaat 1
Y13= Kemampuan memecahkan masalah 1 Y14= Meningkatkan partisipasi 1 Y15= Tercapainya sharing pengetahuan 1
52
BAB VI
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
A. Profil Responden
Jumlah responden dari penelitian ini, yaitu pengguna software accurate di Kota Sukabumi adalah sebanyak 120 orang dan yang menjawab kuesioner sebanyak 100 orang, kuesioner tersebut disebarkan secara langsung. Data profil responden yang menjadi obyek penelitian dapat dilihat pada Tabel berikut:
Tabel 6.1 Profil Responden Penelitian
Klasifikasi Responden Jumlah Persentase
1. Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan 37 63 63% 37% Total 100 100% 2. Pendidikan : SMA D3 S1 40 24 36 40% 24% 36% Total 100 100% 3. Usia:
53 < 25 th 25-40 th 52 65 52% 65% Total 100 100%
Sumber : Data Primer Diolah (2015)
Berdasarkan Tabel 6.1 diatas, terlihat bahwa responden dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 37 orang atau 37% dan jumlah kelamin perempuan sebanyak 63 orang atau 63% orang. Selanjutnya responden berdasarkan kategori pendidikan sebanyak 40 orang dari SMA atau 40%, 24 orang dari D3 atau 24% dan 36 orang dari S1 atau 36%. Untuk responden berdasarkan usia adalah sebanyak 52 orang dari usia < 25 th atau 52 dan 65 orang dari usia 25-40 th atau 65%.
Data di atas sebanding dengan data kepegawaian, bahwa mayoritas pengguna sistem informasi akuntansi adalah perempuan. Dengan pertimbangan bahwa perempuan lebih teliti dibandingkan laki-laki.
54
B. Hasil Penelitian Analisis Data A. Hasil PLS- SEM
Gambar 4.1 Hasil Uji SmartPLS
1. Evaluasi model pengukuran / measurement (outer)
model
Evaluasi model pengukuran adalah mengukur korelasi antara indikator dengan konstruk/variabel laten. Dengan mengetahui korelasinya akan diketahui validitas dan reliabilitas sebuah model. Untuk mengukur validitas dan
55 reliabilitas konstruk, dilakukan dengan melihat validitas konvergen, validitas diskriminan, dan reliabilitas konstruk (Ghozali, 2008).
a). Validitas konvergen (convergent validity)
Nilai loading yang memiliki tingkat validitas yang tinggi apabila memiliki nilai factor masing-masing harus bernilai diatas 0,50 ( Jogianto dan Abdillah, 2009). Berikut disajikan hasil dari outer loading untuk setiap indikator-indikator yang dimiliki oleh tiap-tiap variabel laten eksogen dan endogen dalam model penelitian yang didapat dari olah data menggunakan SmartPLS
Tabel 6.2 Nilai Muatan OuterLoading
Variabel Indikator Muatan Ket
Kualitas Informasi (KI) (DeLone
& McLean, 2003)
X1= Ketepatan waktu 0,882715 Valid X2= Keringkasan 0,879582 Valid X3= Mudah difahami 0,94744 Valid X4= Aktualitas 0,786018 Valid X5= Relevansi 0,808393 Valid
Kualitas System (KS) (DeLone & McLean,
2003)
X6= Ketersediaan sistem 0,788693 Valid X7= Kecepatan Respon 0,800338 Valid X8= Flexibilitas sistem 0,889202 Valid X9= Kemudahan
Pengguna 0,716598 Valid
X10= Kelengkapan
56
X11= Keandalan Sistem 0,185467 Tidak Valid
X12= Konsistensi Sistem 0,788693 Valid Kualitas Pelayanan
(KP) (DeLone & McLean, 2003)
X13= Daya Tanggap 0,824252 Valid X14= Jaminan 0,821992 Valid X15= Empati -0,29047 Tidak Valid
Penggunaan (P) (DeLone & McLean,
2003)
Y1= Waktu menggunakan 0,525123 Valid Y2= Frekuensi Penggunaan 0,879582 Valid Y3= Lama waktu koneksi
-0,512589 Tidak Valid Y4= Pengulangan penggunaan 0,954498 Valid Kepuasan Pengguna (KPG) (DeLone & McLean, 2003)
Y5= Penilaian kepuasan
pengguna sistem 0,937965 Valid Y6= Kesulitan penggunaan
sistem 0,573519 Valid
Y7= Kenyamanan
penggunaan sistem 0,937965 Valid Y8= Persyaratan kepuasan
penggunaan sistem 0,949078 Valid Y9= Kesenangan terhadap
kepuasan penggunaan sistem
0,761663 Valid
Manfaat Bersih (MB) (DeLone & McLean,
2003)
Y10= Menumbuhkan
kreatifitas 0,730239 Valid Y11= Peningkatan
pengetahuan 0,895159 Valid Y12= Manfaat 0,730239 Valid Y13= Kemampuan
memecahkan masalah 0,895159 Valid Y14= Meningkatkan
partisipasi 0,901741 Valid Y15= Tercapainya sharing
pengetahuan 0,220304 Tidak Valid
57 Dari hasil di atas semua indikator model muatan (loading) yang lebih besar dari 0,50. Ada beberapa indikator yang memiliki muatan/ validitas rendah yaitu: X10, X11, X15, Y1, Y4, Y6, Y15. Selanjut indikator-indikator tersebut perlu diuji lebih lanjut untuk menentukan apakah akan dibuang atau dipertahankan.
b). Validitas Diskriminan (discriminant validity)
1). AVE (average variance extracted)
Pengukuran validitas diskriminan maka digunakan hasil output dari average value, seperti dijelaskan oleh tabel dibawah ini Indikator dikatakan valid secara discriminant, jika nilai AVE > 0.50 (Jogianto dan Abdillah, 2009).
.
Tabel 6.3 Average Value
AVE Ket KI 0,744408 Valid KS 0,46647 Tidak Valid KP 0,479617 Tidak Valid P 0,588845 Valid KPG 0,713872 Valid MB 0,588465 Valid
58
Dari tabel 4.4 diketahui ada dua variabel yang tidak valid yaitu KS = 0,46647 dan KP = 0,479617 dikarenakan kedua variabel tersebut mempunya nilai dibawah 0,50 hal ini terjadi dikarenakan ada indikator yang tidak valid secara
convergent validity di dalam variabel KS dan KP, oleh sebab
itu menandakan bahwa indikator yang tidak valid di variabel KS dan KP harus dibuang (Jogianto dan Abdillah, 2009).
2). Cross Validation
Dalam cross Validation Valid jika nilai loading ke variabel nya paling besar dibandingkan dengan ke variabel lain. Penjelasan lebih lanjut di gambarkan dalam tabel dibawah ini:
Tabel 6.4 Average Value
KI KS KP P KPG MB X1 0,8856 0,793047 0,742226 0,593682 0,783882 0,783969 X2 0,87729 0,785796 0,803658 0,436782 0,937965 0,895159 X3 0,9457 0,876418 0,787341 0,539625 0,949078 0,901741 X4 0,78205 0,7006 0,516853 0,385423 0,761663 0,622601 X5 0,81374 0,753728 0,759864 0,633694 0,715482 0,757942 X6 0,544718 0,80855 0,841901 0,954498 0,573519 0,730239 X7 0,877289 0,7858 0,803658 0,436782 0,937965 0,895159 X8 0,945697 0,87642 0,787341 0,539625 0,949078 0,901741 X9 0,782048 0,7006 0,516853 0,385423 0,761663 0,622601 X10 0,170022 0,2146 0,084113 0,165237 0,118286 0,139141
59 X11 0,0494 0,18787 0,115471 0,275493 0,087055 0,114585 X12 0,544718 0,80855 0,841901 0,954498 0,573519 0,730239 X13 0,544718 0,808553 0,841901 0,954498 0,573519 0,730239 X14 0,877289 0,785796 0,803658 0,436782 0,937965 0,895159 X15 -0,16799 0,153876 - -0,29015 -0,203815 -0,14327 0,145455 -Y1 0,373035 0,450942 0,385133 0,520097 0,399038 0,399907 Y2 0,544718 0,808553 0,841901 0,954498 0,573519 0,730239 Y3 -0,36288 0,405117 -0,384528 - -0,51259 -0,36135 0,358741 -Y4 0,544718 0,808553 0,841901 0,954498 0,573519 0,730239 Y5 0,877289 0,785796 0,803658 0,436782 0,93797 0,895159 Y6 0,544718 0,808553 0,841901 0,954498 0,57352 0,730239 Y7 0,877289 0,785796 0,803658 0,436782 0,93797 0,895159 Y8 0,945697 0,876418 0,787341 0,539625 0,94908 0,901741 Y9 0,782048 0,7006 0,516853 0,385423 0,76166 0,622601 Y10 0,544718 0,808553 0,841901 0,954498 0,573519 0,73024 Y11 0,877289 0,785796 0,803658 0,436782 0,937965 0,89516 Y12 0,544718 0,808553 0,841901 0,954498 0,573519 0,73024 Y13 0,877289 0,785796 0,803658 0,436782 0,937965 0,89516 Y14 0,945697 0,876418 0,787341 0,539625 0,949078 0,90174 Y15 0,186421 0,191357 0,092105 0,116668 0,177362 0,2203
Sumber: Data diolah (2015)
Dari tabel 6.5 diatas ada 5 variabel yang tidak valid yaitu X10, X11, X15,Y3 dan Y15. Secara terperinci untuk uji coba validitas antara convergent validity dan
60
Tabel 6.5 Perbandingan convergent dan discriminant
validity
Variabel Indikator convergent discriminat
validity validity
Kualitas Informasi (KI) (DeLone & McLean, 2003)
X1= Ketepatan
waktu Valid Valid
X2= Keringkasan Valid Valid X3= Mudah difahami Valid Valid X4= Aktualitas Valid Valid
X5= Relevansi Valid Valid
Kualitas System (KS) (DeLone & McLean, 2003)
X6= Ketersediaan
sistem Valid Valid
X7= Kecepatan
Respon Valid Valid
X8= Flexibilitas
sistem Valid Valid
X9= Kemudahan
Pengguna Valid Valid
X10= Kelengkapan
Berintegrasi Tidak Valid Tidak Valid X11= Keandalan
Sistem Tidak Valid Tidak Valid X12= Konsistensi
Sistem Valid Valid
Kualitas Pelayanan (SQ) (DeLone & McLean, 2003)
X13= Daya Tanggap Valid Valid
X14= Jaminan Valid Valid
X15= Empati Tidak Valid Tidak Valid
Penggunaan (P) (DeLone & McLean, 2003)
Y1= Waktu
menggunakan Valid Valid
Y2= Frekuensi
Penggunaan Valid Valid
Y3= Lama waktu
koneksi Tidak valid Tidak valid Y4= Pengulangan
61
Kepuasan Pengguna (KPG) (DeLone & McLean, 2003) Y5= Penilaian kepuasan pengguna sistem Valid Valid Y6= Kesulitan
penggunaan sistem Valid Valid Y7= Kenyamanan
penggunaan sistem Valid Valid Y8= Persyaratan kepuasan penggunaan sistem Valid Valid Y9= Kesenangan terhadap kepuasan penggunaan sistem Valid Valid Manfaat Bersih (MB) (DeLone & McLean, 2003)
Y10= Menumbuhkan
kreatifitas Valid Valid
Y11= Peningkatan
pengetahuan Valid Valid
Y12= Manfaat Valid Valid
Y13= Kemampuan
memecahkan masalah Valid Valid Y14= Meningkatkan
partisipasi Valid Valid
Y15= Tercapainya
sharing pengetahuan Tidak Valid Tidak Valid
Sumber: Data diolah (2015)
Dari hasil tersebut sebelum di buang indikator yang tidak valid alangkah lebih baik jika dilakukan satu uji coba lagi umtuk memastikan variabel mana yang benar-benar harus dihilangkan.
62
Tabel 6.6 Perbandingan convergent, discriminant
validity T- Statistic
Variabel Indikator convergent discriminat
validity validity
Kualitas Informasi (KI) (DeLone
& McLean, 2003)
X1= Ketepatan
waktu Valid Valid
X2= Keringkasan Valid Valid X3= Mudah difahami Valid Valid X4= Aktualitas Valid Valid X5= Relevansi Valid Valid
Kualitas System (KS) (DeLone &
McLean, 2003)
X6= Ketersediaan
sistem Valid Valid
X7= Kecepatan
Respon Valid Valid
X8= Flexibilitas
sistem Valid Valid
X9= Kemudahan
Pengguna Valid Valid
X10= Kelengkapan
Berintegrasi Tidak Valid Tidak Valid X11= Keandalan
Sistem Tidak Valid Tidak Valid X12= Konsistensi
Sistem Valid Valid
Kualitas Pelayanan (KP) (DeLone & McLean, 2003)
X13= Daya Tanggap Valid Valid
X14= Jaminan Valid Valid
X15= Empati Tidak Valid Tidak Valid
Penggunaan (P) (DeLone & McLean,
2003)
Y1= Waktu
menggunakan Valid Valid
Y2= Frekuensi
Penggunaan Valid Valid
Y3= Lama waktu
koneksi Tidak valid Tidak valid Y4= Pengulangan
63
Kepuasan Pengguna (KPG) (DeLone & McLean,
2003) Y5= Penilaian kepuasan pengguna sistem Valid Valid Y6= Kesulitan
penggunaan sistem Valid Valid Y7= Kenyamanan
penggunaan sistem Valid Valid Y8= Persyaratan kepuasan penggunaan sistem Valid Valid Y9= Kesenangan terhadap kepuasan penggunaan sistem Valid Valid Manfaat Bersih (MB) (DeLone & McLean,
2003)
Y10= Menumbuhkan
kreatifitas Valid Valid
Y11= Peningkatan
pengetahuan Valid Valid
Y12= Manfaat Valid Valid
Y13= Kemampuan
memecahkan masalah Valid Valid Y14= Meningkatkan
partisipasi Valid Valid
Y15= Tercapainya
sharing pengetahuan Tidak Valid Tidak Valid
Sumber: Data diolah (2015)
Berdasarkan pertimbangan dari pengukuran tabel 6.6 maka indikator yang akan di hilangkan adalah X10, X11, X15, Y3 dan Y15. Sehingga terbentuklah model akhir setelah dilakukan penghapusan sebagai berikut:
64
Gambar 6.7 Model setelah di hitung validasi dan signifikansi
Untuk melanjutkan uji inner model syarat yang harus dilakukan yaitu nilai AVE > 0,5 (Jogianto dan Abdillah, 2009). Dalam tabel AVE dibawah ini semua nilai AVE sudah > 0,5 sehingga syarat untuk ketahap berikutnya sudah terpenuhi.
65
Tabel 6.8 Hasil Akhir Average
AVE KI 0,744383 KS 0,640708 KP 0,680944 P 0,72138 KPG 0,713904 MB 0,69828
Sumber: Data diolah (2015)
c). Composite reliability
Pengujian lainnya untuk mengevaluasi outer model adalah dengan melihat reliabilitas konstruk variabel laten yang diukur dengan dua kriteria yaitu composite reliability (mengukur nilai actual konsistensi internal) dan cronbach alpha (mengukur batas bawah nilai konsistensi internal) dari blok indikator yang mengukur konstruk (chin dan Gopal 1995). Konstruk dinyatakan reliabel jika nilai composite reliability maupun nilai cronbach alpha diatas 0,70 (Jogianto dan Abdillah, 2009). Berikut hasil ouput dari SmartPLS: