• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL KONSEP DIRI PRIA METROSEKSUAL KOTA SURABAYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL KONSEP DIRI PRIA METROSEKSUAL KOTA SURABAYA"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL

KONSEP DIRI PRIA METROSEKSUAL KOTA SURABAYA (Studi Deskriptif tentang Konsep Diri & Stigma Masyarakat terhadap Pria

Metroseksual di Kota Surabaya) Marza Aprilia Hasandra

071211433026

ABSTRAK

Menjadi pria metroseksual memiliki resiko tersendiri seperti upaya menjaga penampilan serta interaksi yang nyaman dengan orang lain. Pria metroseksual kota Surabaya yang berasal dari kaum ekonomi kelas atas mengkonsepsikan dirinya sebagai pria metroseksual. Berbelanja, selain memberikan kepuasan tersendiri juga membutuhkan biaya sehingga mendorong pria metroseksual guna mempertahankan gaya hidupnya.

I.1 Latar Belakang

Pria metroseksual semakin mengaburkan batas-batas nilai sosial pria terdahulu. Mereka menilai bahwa penampilan merupakan hal yang utama dalam hidupnya. Studi yang dilakukan oleh Nielsen, 2004 menunjukkan bahwa laki-laki maupun perempuan memiliki kepedulian yang sama terhadap penampilan meskipun pria cenderung untuk tidak mengikuti tren fashion. Dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa 19% pria yang mengikuti trend fashion sedangkan 56% setuju bahwa memakai pakaian yang menarik dapat meningkatkan kepercayaan diri mereka (marketing.co.id, 7 Juli 2011). Kebiasaan pria metroseksual yang senang merawat diri menjadikan mereka dianggap berbeda dengan pria pada umumnya.

Studi mengenai gaya hidup pria saat ini dijelaskan dalam riset oleh Euro RSCG pada tahun 2004 yang berjudul “The Future of Men”. Riset tersebut meyatakan bahwa laki-laki modern urban mulai nyaman mengekspresikan sisi femininnya. Riset tersebut

(2)

semakin memperkuat fenomena pria yang memiliki kebiasaan dan perilaku yang dulunya berorientasi wanita kini juga diadopsi oleh pria.

Keberadaan gaya hidup tersebut menimbulkan kesan modern. Para pria yang tinggal di kota besar menjadi bagian penikmat dari layanan salon atau klinik kecantikan yang mulai menjamur di kota-kota besar, yang sebelumnya merupakan tempat para wanita memanjakan diri. Mereka sangat menikmati aktivitas berbelanja, seleksi mode, dan melakukan eksperimen seperti potongan rambut serta produk perawatan. Terdapat penelitian yang dilakukan oleh salah satu biro pemasaran ternama yaitu MarkPlus&Co yang dilakukan di Jakarta pada tahun 2003 mengenai fenomena gaya hidup metroseksual. Survey tersebut melibatkan 400 responden pria dari ekonomi kelas atas (berpengeluaran lebih dari Rp. 5 juta perbulan), dengan rentang usia 26-55 tahun. Dalam survey tersebut ditemukan bahawa 35% dari responden mengaku bahwa aktivitas belanja dijadikan sebagai aktivitas belanja sebagai rekreasi. Mereka tidak lagi berbelanja berbelanja sesuai dengan kebutuhan seperti pria konvensional.

Kebiasaan pria metroseksual merupakan fenomena menarik karena mereka memiliki karakteristik yang sama dalam berbelanja dengan kaum wanita. Pria yang termasuk dalam golongan ini untuk memberi gambaran bahwa keberadaan mereka berbeda dengan pria heteroseksual maupun generasi sebelumnya. Kehadiran pria metroseksual menimbulkan stigma atas kebiasaan yang dinilai feminin. Gaya hidup metroseksual yang dijalani oleh pria metroseksual mengakibatkan terbentuknya label homo/gay dari lingkungannya. Gaya hidup tersebut juga menghambat proses belajar kaum pria metroseksual yang masih berstatus pelajar. Terhambatnya proses belajar disebabkan karena aktivitas-aktivitas mereka seperti perawatan tubuh di salon, nongrong dengan teman-temannya dan berbagai aktivitas lainnya di luar perkuliahan (Ardly, 2014).

II Rumusan Masalah

- Bagaimana konsep diri pria metroseksual Kota Surabya?

(3)

III. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini dibedakan menjadi dua yaitu : 1.3.1 Tujuan Umum

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memperoleh jawaban atas fokus penelitian yang telah disusun oleh peneliti yakni konsep diri pria metroseksual dan stigma masyarakat terhadap pria metroseksual di Kota Surabaya. 1.3.2 Tujuan Khusus

Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk:

1. Memperoleh informasi seluas-luasnya mengenai konsep diri pria metroseksual dan stigma masyarakat terhadap pria metroseksual.

2. Memperoleh pemahaman sedalam-dalamnya mengenai bagaimana konsep diri pria metroseksual dan stigma masyarakat terhadap pria metroseksual di Kota Surabaya.

3. Mengetahui respon pria metroseksual dalam menanggapi stigma yang diberikan.

IV. Manfaat Penelitian

Secara umum, penelitian ini diharapkan agar memberi manfaat kepada kalangan akademisi khusunya mahasiswa dan masyarakat umum. Adapun manfaat-manfaat tersebut adalah:

1. Bagi kalangan akademisi khususnya mahasiswa dapat memperkaya wawasan mengenai konsep diri pria metroseksual serta stigma masyarakat terhadap pria metroseksual. Penelitian ini juga dapat digunakan sebagai referensi penelitian selanjutnya.

2. Bagi masyarakat umum penelitian ini memberikan informasi lebih mendalam mengenai konsep diri dan stigma pria metroseksual. Selain itu memberi pengetahuan kepada pria metroseksual mengenai stigma masyarakat terhadap dirinya.

V. Kerangka Teori

(4)

Sebelum masuk dalam alur pemikiran Goffman mengenai stigma, alangkah baiknya jika kita membahas konsepsi mengenai self dan identitas. Karena kerja stigma didukung oleh dua konsep pemikiran tersebut. Baik self maupun identitas akan sangat mempengaruhi hasil dari kerja stigma yang akan dijelaskan sebagai berikut dalam skema teoritik :

Dari skema tersebut dapat dijelaskan keterkaitan self dan identity atas terciptanya stigma. Pertama dimulai dari pemaknaan diri sendiri pada konsep self, dimana individu memaknai dirinya sendiri melalui proses interaksi dengan lingkungan disekelilingnya. Kemudian yang kedua pembentukan identitas, dimana pembentukan identitas dapat terjadi berasal dari pemaknaan individu atas dirinya sendiri (self identity) dan yang kedua adalah pemaknaan yang berasal dari orang lain (personal identity). Identitas menurut setting sosialnya dibagi menjadi dua yaitu virtual identity dan actual identity. Dua konsep ini hampir sama dengan konsep Goffman yaitu Dramaturgi. Dimana virtual identity sebagai panggung dalam sedangkan actual identity sebagai panggung luar. Konsep pembentukan identitas ini merupakan konsep pokok lahirnya pemikiran tentang stigma, berikut dibawah ini merupakan penjelasan konsep pokok stigma :

I. Self

Goffman mendefinisikan self sebagai sebuah kode yang membuat pemahaman atas seluruh aktifitas individu dan memberikan dasar untuk mengorganisirnya. Self ini, yang dapat dipahami tentang indvidu dengan melihat pada tempat yang ia ambil dalam organisasi di aktivitas sosialnya, sebagai penegasan atas pernyataan sikap individu

(5)

tersebut. Individu, bagaimanapun juga dipaksa oleh masyarakat untuk menunjukkan sebuah bentuk “ia dapat bekerja” atau dengan kata lain berusaha untuk membuat dirinya diterima oleh masyarakat (Lemert dan Branaman, 1997: liiii).

Self sangat berhubungan dengan pemikiran seorang individu, yaitu bagaimana ia memandang dan memaknai dirinya, termasuk kontribusi pemikiran dari orang lain yang membentuk sebuah pemikiran atas “kedirian” seorang. Hal ini berhubungan dengan pengalaman dan interaksi yang dialami individu dengan orang lain dalalm kehidupan sosialnya. Ketika seorang berinteraksi, maka bukan tidak mungkin terjadi proses „mempengaruhi‟ atau pengkonstruksian dari orang lain atas individu tersebut.

II.Identitas

Goffman dalam pemikirannya mengajukan dua konsep tentang identitas, yaitu personal identity dan self identity. Personal identity biasanya terdapat pada pembingkaian tentang pengalaman individu oleh orang lain dan bukan oleh individu itu sendiri, tetapi pada bagaimana ia diidentifikasi oleh orang lain.personal identity menurut Goffman mengarah pada berbagai karakteristik dan berbagai fakta yang diletakkan atau dipasangkanpada pikiran individu oleh orang lain. Goffman dalam hal ini memberi contoh bagaimana foto dari seorang individu dapat menampilkan image tertentu dalam pemikirang orang lain, kemudian seseorang individu yamng memiliki pengetahuan akan mendapat tempat yang istimewa dalam lingkungan pertemanannya karena ia dinilai oleh orang dilingkungannya sebagai orang yang berpengetahuan dan layak mendapat tempat istimewa (Goffman, 1963: 56).

III.Stigma

Penelitian ini merujuk pada pemikiran dari Erving Goffman. Goffman menjelaskan tentang apa itu yang disebut dengan stigma. Goffman mendefinisikan stigma sebagai situasi yang tidak menerima penerimaan utuh. Goffman menggunakan konsep stigma untuk menggambarkan suatu proses yang dimana orang-orang tertentu secara moral dianggap tidak berharga atau dengan kata lainstigma merupakan sikap, perlakuan, atau perilaku masyarakat yang memandang perilaku tertentu sebagai suaatu hal yang tidak pantas untuk ditampilkan. Sehingga dengan demikian orang yangg

(6)

menampilkan perilaku tersebut akan mendapat sikap, penilaian, atau perlakuan dan sebagian masyarakat yang lain sebagai orang yang secara moral tidak berharga. Goffman secara rinci jika stigma yang dimunculkan dari masyarakat terhadap suatu individu akan mengakibatkan dua kemungkinan atau dua akibat. Kemungkinan pertama jika individu mengafirmasi atau menerima stigma tersebut, tak jarang stigma itu bisa membuat individu itu tak bisa mengenali dirinya sendiri. Hal itu bisa terlihat karena individu akan terus bertanya-tanya apakah benar stigma yang diarahkan itu benar-benar mencerminkan dirinya. sedangkan kemungkinan kedua, individu yang mendapat stigma mampu menjelaskan melalui argumentasi atau tindakan lainnya jika stigma yang diarahkan kepada individu tersebut ternyata tidak benar (Goffman: 1963).

VI Metode Penelitian VI.1 Tipe Penelitian

peneliti menggunakan tipe penelitian deskriptif, yaitu menurut peneliti memilih tipe penelitian deskriptif yaitu bagaimana peneliti menjelaskan sebuah isu, fenomena, maupun fakta sosial yang telah terjadi dengan mencari data-data dari media massa maupun berupa gambaran umum mengenai pria metroseksual.

Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti berupaya untuk memberikan gambaran mengenai suatu fenomena secara terperinci dan memusatkan perhatian pada masalah yang bersifat aktual, yang pada akhirnya memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai fenomena yang diteliti, yaitu dengan memberikan gambaran dan fakta-fakta yang terjadi. Di dalam penelitian ini mengurai sejauh mengenai konsep diri kaum pria metroseksual.

VI.2 Setting Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan dengan mengambil setting di Surabaya. Pemilihan setting didasari karena Surabaya merupakan kota yang menyediakan banyak fasilitas hiburan seperti mall dan butik, salon dan sebagainya yang dapat menunjang kebutuhan pria metroseksual. Selain itu pria metroseksual sangat mudah ditemui di kota Surabaya.

(7)

VI.3 Sasaran Peneltian

Dalam hal ini peneliti menetapkan karakteristik subjek penelitian yaitu pria usia 20 – 35 tahun dengan penampilan menarik dan memiliki ciri-ciri pria metroseksual. Pada usia ini, para pria metroseksual mempunyai tugas perkembangan yang berhubungan dengan orang lain, antara lain bekerja atau berkarier, menikah, membentuk keluarga dan memelihara serta mempertahankan pernikahan (Hurlock, 1999). Awal penentuan informan dilakukan dengan cara sudah diketahui sebelumnya stigma yang mereka dapat dari lingkungan sekitar. Kemudian untuk menentukan informan-informan selanjutnya juga ditentukan sendiri dan memperoleh informasi dari informan sebelumnya dan dari teman-teman.

VI.4 Teknik Pemilihan Informan

Metode yang digunakan dalam penelitian ini untuk menetukan subjek penelitian atau informan adalah dengan cara purposif. Cara purposif adalah informan ditentukan oleh peneliti dengan berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tertentu. Subjek yang dipilih dengan cara purposif ini merupakan informan yang diharapkan berkompeten dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Pertimbangan-pertimbangan yang mendasari pemilihan informan antara lain: pertama, informan harus memiliki waktu yang luang untuk pewawancara; kedua, informan memiliki kemampuan dan kesediaan untuk menceritakan pengalaman dan perasaan mereka di masa lalu dan masa kini dalam kata-kata; ketiga, pertimbangan bahwa informan adalah termasuk “jenis” orang yang menarik perhatian peneliti (Bogdan dan Taylor, 1992: 172-173).

VII. ANALISIS DATA

VII.1 Self pada Pria Metroseksual

Pada konsepsi self ini pria metroseksual juga mempunyai keinginan untuk menunjukkan bahwa mereka merupakan pria normal seperti pada umumnya dan tidak memiliki

(8)

disorientasi seksual. Mereka hanya pria yang menjaga penampilan dan tetap menyukai lawan jenis. Penampilannya yang terkesan feminin bukan menjadi patokan seseorang untuk menilai dirinya.

Jika di analogikan pada (semua informan) adalah mereka memaknai bahwa diri mereka adalah seorang pria yang sangat menjaga penampilannya dengan baik, akan tetapi (informan) tidak bisa menutup kemungkinan jika apa yang mereka yakini itu mendapat pemaknaan yang berbeda dari lingkungan disekitar mereka tinggal. Hal itu tidak bisa dipungkiri mengingat manusia itu selau berinteraksi dengan manusia lainnya. Melalui proses interaksi tersebut bukan tidak mungkin mereka akan mengalami proses „mempengaruhi‟ dari orang sekitar mereka.

Terdapat pula informan yang menkonsepsikan dirinya sebagai pria metroseksual karena gambaran kesuksesan yang tercermin dari penampilannya serta barang yang digunakan. Meskipun demikian, terdapat informan yang sadar bahwa pemaknaan diri mereka mempunyai perbedaan dengan pendapat maupun anggapan yang muncul disekeliling mereka. Mereka sebagai pria metroseksual juga mengetahui apa yang menyebabkan perbedaan ini muncul. Pada temuan data telah diketahui jika mereka sebagai pria metroseksual dihadapkan dengan persoalan berupa nilai-nilai yang sudah berkembang di masyarakat bahwa pria tidak seharusnya berdandan dan membeli banyak pakaian layaknya perempuan.

Menurut Goffman, self sangat bergantung pada bagaimana serta dimana individu itu berada. Ketika seorang individu hidup di lingkungan yang sesuai dengan dirinya, maka mereka akan menganggap bahwa gaya hidup yang dijalaninya merupakan hal yang wajar.

Sedangkan seorang individu yang hidup di lingkungan yang tidak sependapat dengan dirinya, maka mereka akan menganggap bahwa gaya hidup yang dijalaninya seharusnya tidak perlu dilakukan. Hal tersebut mempengaruhi pola pikir individu tersebut (pria metroseksual) bahwa kemungkinan orang lain akan mempresepsikan sesuatu mengenai dirinya.

Dengan kata lain kondisi lingkungan telah mempengaruhi bagaimana self dalam diri pria metroseksual terbentuk. Mereka memahami bahwa diri mereka sebagai pria

(9)

yang tidak seperti umumnya, karena mereka merasa bahwa lingkungan sekitar yang tidak sependapat dengan yang diyakini oleh pria metroseksual sehingga pria metroseksual menganggap bahwa orang lain mungkin akan mempresepsikan dirinya mengenai hal yang bersifat negatif.

VII.2 Identity pada Pria Metroseksual

Konsep identity ini merupakan pengembangan konsep self. Jika pada konsep self dijelaskan tentang bagaimana subyek memaknai dirinya sendiri melalui suatu proses interaksi, sedangkan konsep identity ini sangat menekankan pemaknaan subyek berdasarkan lingkungan disekelilingnya. Goffman juga membagi identitas menjadi dua, yaitu self identity dan personal identity. Self identity sangat berkaitan erat dengan identitas internal. Jika dianalogikan pada penelitian ini adalah dimana pria metroseksual memaknai dirinya sendiri dan penjelasan tersebut telah dijelaskan di sub bab sebelumnya.

Pada konsep personal identity, dapat diketahui tentang konsep-konsep identitas eksternal yaitu dimana subyek atau individu mengetahui tentang identitas dirinya sendiri berdasarkan pemaknaan dari orang lain. pemaknaan dari orang lain tersebut mampu menghadirkan warna baru bagi diri subyek. Dari penjelasan tersebut maka dapat diketahui bagaimana pria metroseksual memaknai dirinya sendiri berdasarkan pemaknaan dari orang disekitarnya. Pemaknaan tersebut didapatkan ketika lingkungan pria metroseksual memberi respon yang buruk terhadap penampilannya.

Sedangkan pada konsep virtual identity dan actual identity, fakta lapangan menunjukkan bahwa pria metroseksual benar-benar ingin diakui sebagai pria yang hanya dipresepsi anggapan saja. Walaupun sosok pria metroseksual selalu dianggap tidak seperti pria pada umumnya, tetapi mereka tetap berperilaku sesuai dengan yang masyarakat harapkan.

VII.3 Stigma pada Pria Metroseksual

Konsep stigma pada penelitian ini dimana pria metroseksual yang terdiskualifikasi dari penerimaan sosial yang utuh atau situasi yang tidak menerima

(10)

penerimaan utuh. Dengan kata lain, konsep stigma untuk menggambarkan suatu proses yang dimana pria metroseksual secara sosial dianggap berbeda.

Konsep sesuai dengan hasil dari temuan data, dimana pria metroseksual selalu dianggap penampilannya tidak seperti pria pada umumnya yang cenderung tidak mempedulikan penampilan. Perkembangan zaman yang seharusnya diikuti dengan berkembangnya pola berpikir, rupanya sebagian masyarakat belum bisa menerima bahwa pria yang berpenampilan menarik merupakan suatu kelebihan tersendiri. Bentuk stigma tersebut yaitu melalui ejekan, dianggap sebagai pria feminin. selain itu informan juga mendapat stigma sebagai pria yang mengalami disorientasi seksual (homoseksual) dari temannya.

Pria metroseksual juga sempat mengalami perilaku diskriminasi akibat penampilannya. Hal itu dikarenakan tercerabutnya nilai-nilai sosial yang dimiliki oleh pria metroseksual sehingga perilaku diskriminatif dapat terjadi. Akan tetapi perialku diskriminatif yang terjadi bukan-lah perlakuan yang sangat menyudutkan posisi pria metroseksual. Bentuk dari perilaku diskriminatif tersebut adalah informan sempat menjadi pusat perhatian lantaran penampilannya yang terlalu mencolok bagi seorang pria. Sehingga para pria metroseksual masih dapat melakukan aktivitas secara leluasa.

Jika dianalogikan pada tema penelitian ini maka dapat diketahui jika pria metroseksual menerima dan mengafirmasi setiap stigma yang selalu dituduhkan pada mereka, maka kemungkinan besar mereka akan tidak mengenali siapa sebenarnya mereka. Indikatornya adalah pria metroseksual tersebut akan muncul pertanyaan dalam dirinya, apakah mereka ini buruk seperti apa yang telah dituduhkan kepada mereka. Sedangkan kemungkinan yng kedua adalah ketika pria metroseksual tidak menerima atau menolak setiap stigma yang masuk dalam kehidupan mereka. Jika pria metroseksual menolak stigma tersebut maka mereka benar-benar mengerti siapa diri mereka sebenarnya. Indikatornya adalah pria metroseksual mampu menjelaskan kepada masyarakat mengenai argumen-argumennya jika mereka itu tetaplah pria normal layaknya pria pada umumnya. Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa Goffman memberikan „ruang‟ agar interaksi ini tidak terjadi hanya satu arah, akan tetapi terjadi dua arah, yaitu, antara masyarakat umum yang memberikan stigma dengan pria metroseksual yang cenderung mendapat stigma.

(11)

VIII. Kesimpulan

Pria metroseksual yang bekerja di sektor formal mengkonsepsikan dirinya sebagai pria metroseksual yang tidak hanya berpenampilan menarik namun juga sukses dalam mengejar karirnya. Hal tersebut karena menjadi pria metroseksual membutuhkan modal yang tidak sedikit sehingga tidak semua pria mampu menjadi sosok pria metroseksual. Sedangkan pria yang bekerja di sektor informal mengkonsepsikan dirinya sebagai pria normal seperti pada umumnya. Hal tersebut karena penghasilan yang tergolong sedikit dan masih menggantungkan hidupnya dengan orang tua. Sedangkan pria metroseksual yang masih berstatus sebagai pelajar menganggap bahwa konsep dirinya sebagai pria metroseksual hanya sebatas kesenangan saja. Alasannya karena aktivitas yang dilakukan oleh pria metroseksual yakni belanja dan perawatan merupakan aktivitas untuk memenuhi kesenangan pribadi.

Stigma yang diberikan masyarakat terhadap pria metroseksual juga bermacam-macam. Pria metroseksual sempat mendapat stigma sebagai pria yang penampilannya tidak maskulin atau dianggap sebagai pria feminin. Stigma tersebut didapat akibat kebiasaan mereka dalam merawat diri dan juga belanja yang dianggap tidak sepatutnya dilakukan oleh laki-laki. Selain itu pria metroseksual juga mendapat stigma sebagai pria yang mengalami disorientasi seksual. Stigma tersebut didapat karena penampilannya yang dianggap terlalu modis dan terkesan berlebihan dibandingkan dengan pria pada umumnya.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Goffman, Erving, 1963a, Stigma: Notes on the Management of Spoiled Identity, Englewood Cliffs, NJ: Prentica Hall; NY: Touchston Books, Simon and Schuster. Bogdan, Robert dan Steve Taylor, 1992, Pengantar Metode Penelitian Kualitatif: Suatu Pendekatan Fenomenologi terhadap Ilmu-Ilmu Sosial, Surabaya: Usaha Nasional

Kartajaya, H. 2006. Marketing in Venus. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Ardly, Reza Maulana, 2014, Konstruksi Mahasiswa Terhadap Gaya Hidup Metroseksual Studi pada Mahasiswa Metroseksual di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Airlangga, Skripsi Jurusan Sosiologi, Universitas Airlangga

Mark Simpson. Here Come the Miror Man: Why the Future is Metrosexual

Metrosexualantaranews.com-pria pesolek surabaya habiskan Rp. 3jt Per-Bulan untuk Kosmetik

theage.com.au – Rise of the Metrosexual

salon.com – Meet the metrosexual

kasandraassociates.com – Bila si Dia Suka Berdandan

Gaunlett, David, 2002, Media, Gender, and Identity, London

Conseour, Alison Amanda, 2004, Factor Influencing the Emergence of the

Metrosexual, The University of Georgia

Janowska, Karolina, 2008, Metrosexual Man’s Shopping Habbits – study of the modern men’s clothing brand selection

(13)

Cheng, Shean Fan, Cheng Soon Ooi, Ding Hooi Ting, Factors Affecting

Consumption Behaviour Of Metrosexual Toward Male Grooming Products, Monash University Malaysia

(14)

Referensi

Dokumen terkait

Badan Semi Otonom Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia yang selanjutnya disebut BSO BEM FIK UI adalah lembaga semi otonom yang

Pembimbing penulisan skripsi saudari Mei Sakriani Hadrus, Nim: 20400113114, mahasiswa Jurustan Pendidikan Bahasa Inggris pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN

Pada dua kelompok tersebut, sama-sama dilakukan pre-test dan post-test dalam penelitian ini fokus memperoleh data dan gambaran di lapangan tentang pengaruh layanan bimbingan

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis dengan menggunakan pengujian hipotesis, dimana penelitian ini bertujuan untuk menguji bagaimana pengaruh masa

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI PADA IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) YANG TERSERANG PENYAKIT DI

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbandingan persentase rumput laut dan kedelai yang digunakan memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter kadar abu,

5. Fungsi personel sebagai fungsi organik militer merupakan bagian penting dalam sistem pembinaan secara keseluruhan. Manusai sebagai subjek dan objek pembinaan mempunyai

Terdapat hubungan positif antara minat siswa dengan keberhasilan melaksanakan praktek kerja industri pada siswa kelas XI SMK Gajah Mungkur Wonogiri yang