• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UNIVERSITAS INDONESIA"

Copied!
141
0
0

Teks penuh

(1)

EDUKASI TRIGUNA MAKANAN DAN JADWAL MAKAN

BERSAMA KELUARGA DENGAN MASALAH

KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI: KURANG DARI

KEBUTUHAN TUBUH PADA ANAK USIA SEKOLAH DI RW

03 KELURAHAN SUKATANI, KOTA DEPOK

KARYA ILMIAH AKHIR-NERS

AGNES FEBRIYANTI 0906629220

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN PROGRAM STUDI NERS

(2)

UNIVERSITAS INDONESIA

EDUKASI TRIGUNA MAKANAN DAN JADWAL MAKAN

BERSAMA KELUARGA DENGAN MASALAH

KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI: KURANG DARI

KEBUTUHAN TUBUH PADA ANAK USIA SEKOLAH DI RW

03 KELURAHAN SUKATANI, KOTA DEPOK

KARYA ILMIAH AKHIR-NERS

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ners

AGNES FEBRIYANTI 0906629220

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN PROGRAM STUDI NERS

(3)

Karya I1miah Akhir Ners ini adalah hasil saya sendiri,

dan semua sumber baik yang dikutip maupun di rujuk

telah saya nyatakan benar

Nama : Agnes Febriyanti

NPM : 0906629220

Tanda Tangan

(4)

- .

Nama : Agnes Febriyanti

NPM : 0906629220

Program Studi : Ners

J udul Karya Ilmiah : Edukasi Triguna Makanan dan J adwal Makan Bersama Ke1uarga dengan Masalah

Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang Dari

Kebutuhan Tubuh pada Anak Usia Sekolah Di R W 03 Kelurahan Sukatani, Kota Depok

Telah berhasil dipertahankan dihadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Ners pada Program Studi Ners, Fakultas IImu Keperawatan, Universitas Indonesia

DEWAN PENGUJI

Pembimbing: Agus Setiawan, S.Kp., M.N., DN (

Penguji : Ns. Aisyiah, S.Kep., M.Kep ( )

Ditetapkan di : Depok Tanggal : 07 Juli 2014

(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah mencurahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah akhir ners yang berjudul “Edukasi Triguna Makanan dan Jadwal Makan bersama Keluarga dengan Masalah Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh pada Anak Usia Sekolah Di RW 03 Kelurahan Sukatani, Kota Depok”. Penulisan karya ilmiah akhir ners ini dilakukan dalam rangka memenuhi mata ajar Karya Ilmiah Akhir Ners pada Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan karya ilmiah akhir ners ini, sangatlah sulit bagi penulis untuk menyelesaikan tulisan ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih pada:

1. Ibu Dra. Juniati Sahar, S.Kp., M.App., Ph.D selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

2. Bapak Agus Setiawan,S.Kep., M.N., D.N selaku pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan penulis dalam penulisan karya ilmiah akhir ners ini.

3. Ibu Dwi Nurviyandari S.Kp, M.N selaku pembimbing akademik penulis. 4. Segenap tim dosen FIK UI, khususnya keilmuan Keperawatan Komunitas

yang telah membimbing dalam pelaksanaan praktik profesi ini.

5. dr. Septanti selaku kepala Puskesmas Sukatani yang telah bekerja sama dengan kami selama praktik Praktik Klinik Keperawatan Masyarakat Perkotaan.

6. Bapak Jhon Amiruddin Ritonga dan Ibu Farida Nurhayati Napitupulu selaku orang tua, Kakak saya Anita Florentina Pintauli dan Amru Fernando Janfried Ritonga yang penulis sayangi dan selalu mendoakan dengan segenap cinta,

(6)

membantu penulis dalam menghadapi setiap masalah.

8. Teman-teman FIK 48 yang terdiri dari Hesi Oktamiati, Okti Sirait, Helena Winata, Puspa Astriana, Christafenny, Tika Widowati, dan Ningsih Tresia R sebagai teman dalam suka maupun duka dan juga David serta Epafras sebagai teman pendukung di dalam doa hingga penyelesaian KIA-N.

9. Teman-teman angkatan 2009, terutama PKKMP peminatan Komunitas dengan agregat anak usia sekolah di RW 03, Rizky, Shinta, Rio, Dewi Retno, Debby Christy, terima kasih untuk suka dan duka dalam stase terakhir di profesi 10. Keluarga Bapak S, khususnya Ibu E dan An S yang telah menerima

mahasiswa dengan baik selama melakukan asuhan keperawatan keluarga dalam Praktik Klinik Keperawatan Masyarakat Perkotaan.

11. Masyarakat di RW 03 dan segenap kader yang telah membantu kami dalam pelaksanaan kegiatan asuhan keperawatan komunitas, serta bersedia menyediakan waktu dan tempat untuk kami.

12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih atas bantuan kalian semua selama penulisan KIA-N ini.

semoga segala kebaikan dan bantuan yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan karya ilmiah akhir ners ini. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan penyusunan penulisan di masa yang akan datang.

Depok, Juli 2014

(7)

dibawah ini: Nama NPM

: Agnes Febriyanti : 0906629220 Program Studi : Ners

Fakultas : Ilmu Keperawatan

Jenis Karya : Karya Ilmiah Akhir Ners

demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Nonekslusif (Non-exclusive RoyaltyFree

Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:

Edukasi Triguna Makanan dan Jadwal Makan bersama Keluarga dengan Masalah Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh pada

Anak Usia Sekolah di RW 03 Kelurahan Sukatani, Kota Depok

beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan hak bebas royalti nonekslusif ini Universitas Indonesia bebas menyimpan, mengalihmedial formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap dicantumkan nama saya sebagai penulisJpencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pemyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di : Depok

Pada tanggal : 07 Juli 2014

(8)

Nama : Agnes Febriyanti Program Studi : Ners

Judul : Edukasi Triguna Makanan dan Jadwal Makan bersama Keluarga dengan Masalah

Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh pada Anak Usia Sekolah di RW 03 Kelurahan Sukatani, Kota Depok

Kemiskinan merupakan akar masalah dari munculnya masalah gizi kurang pada masyarakat perkotaan. Karya Ilmiah Akhir ini memberikan gambaran tentang asuhan keperawatan keluarga yang dilaksanakan pada keluarga Bapak S dengan masalah ketidakseimbangan nutrisi pada anak usia sekolah. Implementasi yang telah dilakukan terdiri dari implementasi yang bersifat kognitif, afektif, dan psikomotor dengan pendekatan lima tugas kesehatan keluarga. Intervensi yang menjadi unggulan ialah penyusunan menu makanan dengan gizi seimbang pada anak usia sekolah berdasarkan triguna makanan dan jadwal makan bersama keluarga. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa terjadi peningkatan berat badan pada anak usia sekolah kelolaan. Ibu E melaporkan bahwa telah menyediakan makanan sesuai dengan triguna makanan. Keluarga Bapak S melaporkan bahwa telah melakukan upaya pemenuhan makanan dengan gizi seimbang dan jadwal makan bersama dengan anak.

Kata kunci: Anak usia sekolah, Gizi kurang, Jadwal makan bersama, Triguna makanan

(9)

Name : Agnes Febriyanti Study Program : Ners

Title : Triguna Makanan Education and Eat Together with Family’s Schedule with Health Problem Nutrition Imbalance: Less than Body Requirment on School Aged Children at RW 03 Kelurahan Sukatani, Kota Depok

Poverty is the underlying cause of the emergence of nutritional problems, especially malnutrition in urban communities. This final assignment describes the nursing care process of Mr. S’s family with nutrition imbalance problem among school aged children. The implementation to the family consisted of the cognitive, affective, and psychomotor aspect that used the five family health tasks. Nursing interventions that become the main intervention was scheduling of nutritional balance menus based on “triguna makanan” and eat together with family for school aged children. The evaluation showed that the0 nursing care was effective to make school aged children to gain weight. Mrs. E, client S’s mother, reported that she had provided food according to “triguna makanan”. Mr. S’s family reported that the family has made efforts to provide the food with balanced nutrition and scheduled eating together with their children.

Keywords: Eat together, Malnutrition, Nutritional balance (Triguna makanan), School aged children

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN SAMPUL ... ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

KATA PENGANTAR ……… ... v

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Perumusan Masalah ... 9 1.3 Tujuan Penulisan ... 10 1.4 Manfaat Penulisan ... 12 1.5 Sistematika Penulisan... 12

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Perkotaan /Urban Nursing ... 13

2.1.1 Teori dan Konsep Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan ... 13

2.1.2 Masalah Kemiskinan dan Gizi Kurang yang Terjadi di Perkotaan……… ... 14

2.2 Keluarga dengan Anak Usia Sekolah ... 15

2.2.1 Keluarga dengan Anak Usia Sekolah ... 15

2.2.2 Anak Usia Sekolah sebagai Agregat at Risk... 17

2.2.3 Gizi Anak Usia Sekolah ... 19

2.2.4 Peran Perawat Keluarga... 24

2.3 Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Anak Usia Sekolah Gizi Kurang... 26 2.3.1 Pengkajian Keluarga ... 26 2.3.2 Diagnosis Keperawatan ... 27 2.3.3 Intervensi Keperawatan ... 29 2.3.4 Implementasi Keperawatan ... 29 2.3.5 Evaluasi Keperawatan ... 32

BAB 3 LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA 3.1 Pengkajian Keperawatan Keluarga... 35

3.2 Diagnosis Keperawatan Keluarga... 39

(11)

BAB 4 ANALISIS SITUASI DAN INOVASI UNGGULAN

4.1 Profil Lahan Praktik... 48 4.2 Analisis Masalah Keperawatan dengan Konsep KKMP dan Konsep Kasus Terkait... 51 4.3 Analisis Intervensi Penyusunan Menu Makanan Gizi Seimbang

berdasarkan Triguna Makanan dan Jadwal Makan bersama Keluarga sebagai Intervensi Unggulan dengan Konsep dan

Penelitian Terkait... 53 4.4 Alternatif Pemecahan Masalah yang dapat Dilakukan... 58

BAB 5 PENUTUP

5.1 Simpulan... 61 5.2 Saran... 62 DAFTAR PUSTAKA

(12)

DAFTAR TABEL

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Pengkajian Keluarga Lampiran 2 Skoring Masalah

Lampiran 3 Rencana Asuhan Keperawatan Keluarga Lampiran 4 Catatan Perkembangan

Lampiran 5 Evaluasi Sumatif

Lampiran 6 Evaluasi Tingkat Kemandirian Keluarga Lampiran 7 Leaflet Intervensi Unggulan

(14)

Nama : Agnes Febriyanti Program Studi : Ners

Judul : Edukasi Triguna Makanan dan Jadwal Makan bersama Keluarga dengan Masalah

Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh pada Anak Usia Sekolah di RW 03 Kelurahan Sukatani, Kota Depok

Kemiskinan merupakan akar masalah dari munculnya masalah gizi kurang pada masyarakat perkotaan. Karya Ilmiah Akhir ini memberikan gambaran tentang asuhan keperawatan keluarga yang dilaksanakan pada keluarga Bapak S dengan masalah ketidakseimbangan nutrisi pada anak usia sekolah. Implementasi yang telah dilakukan terdiri dari implementasi yang bersifat kognitif, afektif, dan psikomotor dengan pendekatan lima tugas kesehatan keluarga. Intervensi yang menjadi unggulan ialah penyusunan menu makanan dengan gizi seimbang pada anak usia sekolah berdasarkan triguna makanan dan jadwal makan bersama keluarga. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa terjadi peningkatan berat badan pada anak usia sekolah kelolaan. Ibu E melaporkan bahwa telah menyediakan makanan sesuai dengan triguna makanan. Keluarga Bapak S melaporkan bahwa telah melakukan upaya pemenuhan makanan dengan gizi seimbang dan jadwal makan bersama dengan anak.

Kata kunci: Anak usia sekolah, Gizi kurang, Jadwal makan bersama, Triguna makanan

(15)

Name : Agnes Febriyanti Study Program : Ners

Title : Triguna Makanan Education and Eat Together with Family’s Schedule with Health Problem Nutrition Imbalance: Less than Body Requirment on School Aged Children at RW 03 Kelurahan Sukatani, Kota Depok

Poverty is the underlying cause of the emergence of nutritional problems, especially malnutrition in urban communities. This final assignment describes the nursing care process of Mr. S’s family with nutrition imbalance problem among school aged children. The implementation to the family consisted of the cognitive, affective, and psychomotor aspect that used the five family health tasks. Nursing interventions that become the main intervention was scheduling of nutritional balance menus based on “triguna makanan” and eat together with family for school aged children. The evaluation showed that the0 nursing care was effective to make school aged children to gain weight. Mrs. E, client S’s mother, reported that she had provided food according to “triguna makanan”. Mr. S’s family reported that the family has made efforts to provide the food with balanced nutrition and scheduled eating together with their children.

Keywords: Eat together, Malnutrition, Nutritional balance (Triguna makanan), School aged children

(16)

ilmiah ini, rumusan masalah, tujuan umum dan tujuan khusus, manfaat penulisan dan sistematika penulisan.

1.1 Latar Belakang

Kesehatan perkotaan merupakan masalah yang sangat penting karena tingkat perkembangan penduduk kota di Indonesia sangat pesat. Munculnya masalah kesehatan di perkotaan merupakan akumulasi dari berbagai faktor, antara lain tingginya jumlah penduduk yang kurang memiliki akses kesehatan karena kemisikinan, pengangguran yang dapat menimbulkan masalah ekonomi dan sosial, serta perubahan lingkungan akibat dari adanya arus urbanisasi (Allender & Spradley, 2010).

Salah satu dampak dari arus urbanisasi adalah pada faktor ekonomi, yaitu kemiskinan. Konferensi Dunia Untuk Pembangunan Sosial di Kopenhagen 1995 (Kementerian Koordinator Bidang Kesra, 2002) menyatakan kemiskinan dalam arti luas di negara-negara berkembang memiliki wujud yang multidimensi yang meliputi sangat rendahnya tingkat pendapatan dan sumber daya produktif yang menjamin kehidupan berkesinambungan sehingga menyebabkan kelaparan dan kekurangan gizi, keterbatasan dan kurangnya akses kepada pendidikan dan layanan-layanan pokok lainnya kondisi tak wajar dan kematian akibat penyakit yang terus meningkat, kehidupan tinggal di jalan dan tempat tinggal yang jauh dari memadai, lingkungan yang tidak aman, serta diskriminasi dan keterasingan sosial.

Peningkatan kemiskinan dilihat dari sudut pandang geografis dan dari sisi ekonomi, terjadi secara drastis di wilayah perkotaan. Data dan hasil penelitian

(17)

membuktikan bahwa kemiskinan sangat berhubungan dengan tingginya angka kesakitan dan kematian (United Nations Declaration, 2000). Tingkat pendapatan di bawah garis kemiskinan dan rendahnya kesempatan memperoleh berbagai fasilitas kesejahteraan sosial akan mempersulit terpenuhinya berbagai keperluan pangan bergizi atau kemampuan untuk menangkis penyakit (United Nations Declaration, 2000; Stanhope & Lancaster, 2000).

Kemiskinan merupakan masalah yang muncul dan sering terjadi di masyarakat perkotaan. Kemiskinan menjadi salah satu penyebab pokok atau akar masalah gizi buruk. Peningkatan ekonomi masyarakat dapat menurunkan masalah gizi dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, mengurangi biaya kematian dan kesakitan, kedua melalui peningkatan produktifitas. Pernyataan tersebut sejalan dengan yang diungkapkan oleh Soekirman (2006) yaitu kemiskinan memiliki hubungan timbal balik dengan permasalahan gizi. Kurang gizi berpotensi sebagai penyebab kemiskinan melalui rendahnya pendidikan dan produktivitas. Sebaliknya, kemiskinan menyebabkan anak tidak mendapat makanan bergizi yang cukup sehingga kurang gizi.

Masalah gizi tidak hanya terdapat di daerah terpencil, tetapi juga menjadi salah satu masalah di masyarakat perkotaan. Masalah gizi semakin lama semakin disadari sebagai salah satu faktor penghambat proses pembangunan nasional (Neldawati, 2006). Masalah gizi yang timbul dapat memberikan berbagai dampak antara lain meningkatnya angka kematian bayi dan anak. Tingginya angka kematian anak merupakan ciri yang umum dijumpai di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Data dunia menunjukkan sebanyak setengah dari seluruh anak di India mengalami malnutrisi (Isbach, et al, 2012). Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) nasional tahun 2007 menyatakan prevalensi anak usia sekolah kurus (laki-laki) adalah 13,3%, sedangkan untuk perempuan sebesar 10,9% di Indonesia. Sebanyak 16

(18)

provinsi mempunyai prevalensi anak usia sekolah kurus (laki-laki) di atas prevalensi nasional dan sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi anak usia sekolah kurus (perempuan) di atas prevalensi nasional. Depkes (2008) dalam Profil Kesehatan Indonesia 2008, secara nasional prevalensi kurus pada usia sekolah adalah 13,6%. Angka ini masih tergolong tinggi sehingga masalah kurus di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius.

Hasil analisis data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas, 2005) menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan gizi kurang pada anak usia sekolah, yaitu pada tahun 2004 dan 2005. Pada tahun 2004, dari 17.835 anak usia sekolah ditemukan 435 anak usia sekolah berstatus gizi buruk dan 7.400 anak usia sekolah lainnya gizi kurang, dan yang status gizi baik hanya sekitar 10.000 anak. Sedangkan tahun 2005, dari 16.076 anak usia sekolah yang mempunyai status gizi buruk sejumlah 476 anak, 7600 lainnya mengalami gizi kurang, dan status gizi baik sekitar 8000 anak (Arisman, 2006). Masalah gizi anak usia sekolah di Kota Depok khususnya Puskesmas Sukatani belum ditetapkan bagi seluruh anak usia sekolah (hanyak anak kelas 1). Hal ini disebabkan program gizi lebih difokuskan pada balita (Profil Depok, 2009).

Kecamatan Tapos memiliki jumlah anak usia sekolah yang cukup tinggi. Sukatani merupakan salah satu wilayah dari Kecamatan Tapos dengan jumlah anak usia sekolah yang banyak. Wilayah Kelurahan Sukatani memiliki jumlah anak usia sekolah yang cukup banyak, jumlah yang ada di RW 03 adalah sebanyak 193 orang. Anak usia sekolah yang memiliki masalah gizi termasuk gizi kurang di wilayah ini, khususnya untuk RW 03 adalah sebanyak 22 %.

Masalah gizi pada hakekatnya merupakan masalah kesehatan masyarakat, namun penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja (Indriyani, 2007). Masalah gizi timbul akibat berbagai faktor yang saling berkaitan. Masalah gizi buruk dan gizi kurang dipengaruhi

(19)

langsung oleh faktor konsumsi pangan dan penyakit infeksi dan secara tidak langsung dipengaruhi oleh pola asuh, ketersediaan pangan, faktor sosial ekonomi, budaya, dan politik (Indriyani, 2007).

Akibat gizi kurang pada anak usia sekolah antara lain anak menjadi lemah, cepat lelah, dan sakit-sakitan, sehingga anak menjadi sering absen serta mengalami kesulitan untuk mengikuti dan memahami pelajaran dengan baik. (Sinaga, et al, 2012). Banyak siswa yang terpaksa mengulang di kelas yang sama atau bahkan meninggalkan sekolah (drop-out) sebagai dampak kurang gizi. Hal ini merupakan hambatan yang serius untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan (Sinaga, et al, 2012; Allender & Spradley, 2010).

Pelaksanaan pelayanan keperawatan komunitas di Indonesia selama ini menjadi tanggung jawab Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), sedangkan fokus pengembangan keperawatan masih berpusat pada rumah sakit sehingga sumber perawat di Puskesmas masih sangat minim (Huriah, 2006). Penanggulangan masalah gizi kurang pada anak usia sekolah memerlukan adanya program peningkatan kesehatan masyarakat, pendidikan (penyuluhan) kesehatan, dan perbaikan pada konsumsi. Salah satu kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan melakukan praktik keperawatan komunitas yang ditujukan kepada individu, keluarga, juga kelompok berisiko tinggi dengan cara melakukan pendekatan terhadap keluarga sebagai entry point kegiatan keperawatan komunitas.

Keluarga merupakan salah satu faktor penentu status gizi anak usia sekolah. Keluarga memiliki peranan yang penting bagi peningkatan dan pengawasan status gizi anak usia sekolah. Kemampuan keluarga dalam melaksanakan tugas kesehatan keluarga sangat diperlukan agar keluarga dapat menungkatkan status gizi anak usia sekolah di rumah. Kontribusi asuhan keperawatan keluarga akan

(20)

mendukung terciptanya kemandirian keluarga dalam meningkatkan status gizi anak usia sekolah (Hidayati, 2011).

Keluarga cenderung terlibat dalam pembuatan keputusan dan proses terapeutik pada setiap tahap sehat dan sakit pada setiap anggota keluarganya, sepeti mulai dari keadaan sehat hingga diagnosis, tindakan hingga penyembuhan. Keluarga mempunyai peranan dalam memenuhi nutrisi pada usia sekolah karena keluarga yang melakukan pemulihan sampai konsumsi pada anak (Widyatuti, 2001). Pemahaman keluarga tentang tugas kesehatan keluarga sangat diperlukan agar keluarga bisa memenuhi kebutuhan usia sekolah secara tepat.

Berdasarkan hal tersebut, penulis melakukan asuhan keperawatan keluarga pada masyarakat perkotaan dalam mengelola keluarga dengan masalah gizi pada anak usia sekolah. Praktik penulis diawali dengan melakukan screening saat praktik peminatan komunitas yang dilakukan di RW 03 Kelurahan Sukatani. Penulis mulai menilai status gizi dari setiap usia sekolah dan menentukan keluarga yang akan menjadi kelolaan yaitu keluarga dengan anak usia sekolah yang memiliki masalah gizi kurang. Terdapat 18 keluarga yang menjadi keluarga binaan di RW 03 oleh mahasiswi profesi Ners yang melakukan praktik peminatan komunitas. Hasil screening didapatkan data bahwa 22 % anak tergolong gizi kurang, 50% gizi normal, gemuk 11%, dan obesitas 17%. Penulis memutuskan untuk menjadikan salah satu keluarga binaan yang memiliki anak dengan gizi kurang (keluarga Bapak S) menjadi fokus bahasan dalam karya ilmiah akhir ners ini.

Asuhan keperawatan keluarga dilakukan pada keluarga Bapak S selama tujuh minggu bertempat di RT 1 RW 03 Kelurahan Sukatani Kecamatan Tapos Kota Depok. Keluarga Bapak S (63 tahun) dan Ibu E (44 tahun) memilki lima orang anak yaitu An. T (23 tahun), An. L (18 tahun), An. A (16 tahun), An. Z (9 tahun), dan An.S (8 tahun). Keluarga Bapak S merupakan keluarga nuclear family dan memiliki masalah kesehatan gizi kurang pada anak usia sekolah.

(21)

An. S merupakan entry point dalam asuhan keperawatan memiliki berat badan 15 kg, dan tinggi badan 110 cm. Status gizi An S berdasarkan tabel WHO-NCHS termasuk dalam kategori gizi kurang. An S memiliki ciri-ciri fisik berbadan kurus, rambut tipis, jarang dan agak kemerahan. An S memiliki kesulitan untuk makan (hanya senang makan mie) dan sejak kecil berat badannya susah untuk naik.

Ibu E mengatakan makanan yang dimakan An. S sama dengan menu makanan yang disajikan untuk keluarga lain. An. S memiliki porsi makan yang tidak menentu, terkadang banyak namun lebih sering sedikit dan sulit untuk makan. Ibu E biasanya memasak nasi, sayur sop atau bayam, tempe, tahu atau ikan. An. S dapat menghabiskan makan nasi dan lauk pauk 2 kali sehari, dengan porsi sekitar 10 sendok makan dan memakan makanan selingan seperti kerupuk yang biasa dibeli dari warung sebelah rumah. An. S mengaku tidak menyukai buah-buahan dan tidak senang makan sayur.

An.S mengaku sehari-hari jarang sarapan karena tidak biasa dan Ibu E juga tidak membuatkan sarapan atau menyiapkan bekal untuk dibawa ke sekolah. Menurut Ibu E, waktu sekolah An.S yang hanya dua jam menyebabkan Ibu E merasa tidak perlu menyiapkan sarapan/bekal karena An.S pulang cepat sehingga bisa makan di rumah saja. An.S diberi uang jajan setiap harinya sebesar Rp 1.000,00. Biasanya An.S akan jajan chiki/es di sekolah. Bila tidak jajan di sekolah, uang tersebut digunakan untuk membeli kerupuk di rumah.

Keluarga tidak membiasakan praktik higiene dirumah, khususnya kebiasaan mencuci tangan sebelum makan. Keluarga jarang melakukan cuci tangan sesuai langkah-langkah cuci tangan yang benar dan makan buah dan sayur setiap hari (khususnya An.S). Saat dilakukan food recall selama 3 hari berturut-turut, An.S diketahui hanya makan 2 kali setiap harinya, dengan makan nasi 10 sendok makan dan mie instant di siang hari serta makan nasi 10 sendok makan dan telur dadar di

(22)

sore hari. Selanjutnya hari kedua An.S makan nasi 12 sendok dan kentang sambal serta kerupuk di siang hari dan sore hari. Hari ketiga An.S makan 10 sendok nasi goreng dengan telur ceplok di siang hari dan 1 mangkuk mie instant di sore hari.

Berdasarkan hasil observasi didapatkan data bahwa keluarga selalu memasak untuk makanan setiap harinya. Hal ini diketahui saat melihat tersedianya makanan di siang hari. Namun, setiap harinya keluarga tidak menyiapkan variasi makanan. Hal ini terlihat dari food recall yang didapat 3 hari sebelumnya. Keluarga juga belum mampu melakukan pengolahan makanan yang benar, pengaturan jadwal makan yang teratur dan tersedianya cemilan/makanan sehat untuk anak.

Masalah gizi pada keluarga Bapak S dilakukan melalui tahap asuhan keperawatan dalam pendekatan keluarga menurut Friedman, Bowden, dan Jones (2003) yang berfokus pada pengkajian, penetapan diagnosis, perencanaan intervensi, implementasi, dan evaluasi. Konsep pengkajian yang diimplementasikan dilakukan melalui proses wawancara dan observasi perilaku orang tua untuk mendapatkan data yang berfokus pada masalah keluarga.

Perencanaan intervensi dan implementasi dilakukan untuk melakukan strategi dalam mengatasi masalah gizi kurang yang terjadi pada keluarga. Evaluasi dilakukan setelah semua tindakan asuhan keperawatan telah terlaksana. Penulis memberikan asuhan keperawatan berpusat kepada lima fungsi tugas keluarga menurut Maglaya (2009). Kemampuan keluarga dalam melaksanakan tugas kesehatan keluarga sangat diperlukan agar dapat meningkatkan status gizi anak usia sekolah di rumah.

Implementasi yang telah dilakukan pada keluarga Bapak S melalui pendidikan kesehatan dan pemberian informasi berpedoman pada tugas kesehatan keluarga terkait masalah kurang gizi pada anak usia sekolah dengan menjelaskan kepada keluarga tentang pengertian gizi seimbang, triguna makanan dan manfaatnya, penyebab, tanda-tanda masalah gizi, serta akibat gizi kurang. Selanjutnya penulis

(23)

juga mendiskusikan dengan keluarga mengenai perawatan anggota keluarga yang mempunyai masalah gizi, upaya yang dilakukan untuk mencegah masalah gizi, informasi mengenai triguna makanan dan demonstrasi pengelompokkan makanan sesuai triguna makanan, cara memilih dan mengolah makanan, berapa porsi makanan yang dibutuhkan, cara penyusunan menu dengan gizi seimbang berdasarkan triguna makanan, penyusunan jadwal makan bersama keluarga, serta cemilan sehat untuk anak usia sekolah.

Penulis memiliki intervensi unggulan dalam pemberian asuhan keperawatan keluarga dari beberapa implementasi yang telah dilakukan. Intervensi unggulan yang dipilih adalah penyusunan menu gizi seimbang pada usia sekolah berdasarkan triguna makanan dan jadwal harian makan anak bersama keluarga. Implementasi mengenai penyusunan makanan berdasarkan triguna makanan dipilih karena setelah dilakukan evaluasi terjadi peningkatan pengetahuan dan berat badan anak. Selain itu, setelah keluarga Bapak S mulai menjadwalkan makan harian bersama keluarga dan melakukannya bersama anggota keluarga di rumah, terjadi peningkatan selera makan dan porsi makan anak sehingga An.S mau makan secara teratur dan cukup sesuai kebutuhannya.

Menurut Basuki (2008) penyebab gizi kurang salah satunya adalah rendahnya pengetahuan ibu tentang gizi sehingga anak usia sekolah menjadi kurang diperhatikan dan akhirnya berat badannya pun di bawah standar. Asupan makanan yang tidak seimbang dapat mempengaruhi status gizi anak usia sekolah. Hasil penelitian Plan International Indonesia dan Departemen gizi Masyarakat IPB (2008) di Kabupaten Timor Tengah Selatan menunjukkan prevalensi gizi kurang 30% dan penyebabnya karena kurangnya kualitas dan kuantitas makanan. Menurut Satoto (2009, dalam Harsiki, 2003) dikemukakan bahwa faktor yang cukup dominan dalam menyebabkan meluasnya keadaan gizi kurang ialah faktor perilaku yang kurang benar di kalangan masyarakat dalam memilih dan memberikan makanan kepada anggota keluarga, terutama anak-anak.

(24)

1.2 Perumusan Masalah

Anak usia sekolah berada dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan yang pesat sehingga membutuhkan asupan nutrisi yang cukup. Makanan yang bergizi kurang dikonsumsi anak karena pada usia 7-12 tahun sering timbul masalah terutama dalam pemilihan makan pada anak. Gizi buruk pada anak usia sekolah tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi diawali dengan kenaikan berat badan anak usia sekolah yang tidak cukup. Perubahan berat badan usia sekolah dari waktu ke waktu merupakan petunjuk awal perubahan status gizi anak usia sekolah. Keadaan ini dapat berakibat pada terganggunya atau pun terjadinya keterlambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, bahkan dapat mempengaruhi tingkat kecerdasan anak.

Permasalahan gizi anak usia sekolah merupakan permasalahan yang menjadi prioritas karena hasil penelitian Riskesdas (2007) menyatakan prevalensi anak usia sekolah kurus (laki-laki) adalah 13,3%, sedangkan untuk perempuan sebesar 10,9%. Hasil Riskesdas (2010) mendeskripsikan peta masalah kesehatan di Jawa Barat pada anak usia 6-12 tahun menunjukkan prevalensi gizi kurang sebesar 10,2%.

RW 03 merupakan salah satu wilayah dari Kelurahan Sukatani yang menjadi salah satu kantung masalah gizi dan memiliki jumlah usia sekolah dengan masalah gizi yang cukup banyak. Hasil screening yang dilakukan dalam kegiatan profesi komunitas, ditemukan kasus masalah gizi kurang pada 18 anak usia sekolah. Isu pelayanan kesehatan yang perlu diperhatikan oleh perawat komunitas adalah terkait angka gizi kurang yang masih cukup tinggi dan pola asuh pemenuhan nutrisi pada anak usia sekolah dalam keluarga yang kurang baik.

Berdasarkan hal tersebut, mahasiswa melakukan asuhan keperawatan keluarga untuk meningkatkan pengetahuan ibu terkait penyusunan menu makanan dengan gizi seimbang berdasarkan triguna makanan sebagai upaya meningkatkan status

(25)

kesehatan keluarga, terutama status gizi pada usia sekolah. Intervensi mengenai triguna makanan merupakan salah satu upaya dalam asuhan keperawatan keluarga yang bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada keluarga tentang pentingnya asupan nutrisi yang adekuat pada anak usia sekolah. Penyusunan makanan dengan gizi seimbang bertujuan agar keluarga bisa memenuhi asupan nutrisi dan kebutuhan gizi anak usia sekolah secara tepat.

1.3 Tujuan Penulisan 1.3.1 Tujuan Umum

Memberikan gambaran tentang asuhan keperawatan keluarga pada keluarga Bapak S di RW 03 Kelurahan Sukatani, Kota Depok dengan masalah gizi kurang pada anak usia sekolah.

1.3.2 Tujuan Khusus

Memberikan gambaran mengenai:

- Masalah gizi kurang yang terdapat pada usia sekolah di RW 03 - Hasil pengkajian keperawatan pada keluarga Bapak S

- Diagnosa keperawatan yang muncul pada keluarga Bapak S

- Perencanaan intervensi keperawatan berupa inovasi unggulan terkait penyusunan menu makanan dengan gizi seimbang berdasarkan triguna makanan dan jadwal makan harian bersama keluarga pada keluarga Bapak S

- Implementasi keperawatan pada keluarga Bapak S - Evaluasi keperawatan pada keluarga Bapak S

- Analisis atas pemberian asuhan keperawatan pada keluarga Bapak S

1.4 Manfaat Penulisan

1.4.1 Pendidikan Keperawatan

Menambah informasi dan pengembangan keperawatan di bidang pendidikan kesehatan, khususnya kesehatan masyarakat perkotaan dalam lingkup keluarga

(26)

mengenai pentingnya pemenuhan asupan nutrisi dengan gizi yang seimbang pada anak usia sekolah melalui penyusunan menu makanan dengan gizi yang seimbang berdasarkan triguna makanan dan penyusunan jadwal makan bersama keluarga.

1.4.2. Pelayanan Keperawatan

Mengembangankan pelayanan keperawatan melalui pendidikan dan promosi kesehatan mengenai triguna makanan dan jadwal makan bersama keluarga dalam upaya meningkatkan motivasi untuk memenuhi asupan nutrisi yang cukup pada anak usia sekolah sebagai upaya untuk memperbaiki status gizi usia anak sekolah. Penulisan ini dapat memberikan informasi dan sumbangan pemikiran bagi program perawat kesehatan masyarakat, khususnya pada program gizi anak usia sekolah di Puskesmas Sukatani dalam mengembangkan media promosi kesehatan tentang gizi pada anak usia sekolah dan penyuluhan pada keluarga dengan masalah gizi.

1.4.3. Praktik Selanjutnya

Menjadikan hasil penulisan ini sebagai data dasar dalam mengembangkan praktik keperawatan selanjutnya dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya asupan nutrisi yang adekuat melalui pengetahuan tentang triguna makanan sebagai dasar dalam penyusunan menu gizi seimbang dan pengaturan jadwal harian makanan anak bersama keluarga dengan masalah gizi kurang pada anak usia sekolah.

1.5 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dibagi menjadi 5 bab yang terdiri dari berbagai sub bab. Pada bab 1 menjabarkan secara detail latar belakang penulisan, perumusan masalah penulisan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, serta sistematika penulisan. Bab 2 menguraikan konsep keperawatan perkotaan, keluarga dengan anak usia sekolah, dan asuhan keperawatan keluarga dengan anak usia sekolah gizi kurang. Bab 3 mendeskripsikan laporan kasus keloaan yang terdiri dari pengkajian keperawatan keluarga, diagnosis keperawatan, intervensi keperawatan,

(27)

implementasi keperawatan, dan evaluasi keperawatan. Sedangkan bab 4 membahas analisis situasi dan analisis inovasi unggulan terkait masalah gizi kurang. Selanjutnya, penulisan karya ilmiah akhir ners ditutup di bab 5 dengan simpulan dan saran.

(28)

masalah kesehatan sebagai rujukan yang akan dibahas dalam karya ilmiah akhir ners ini. Penjabaran tinjauan pustaka meliputi konsep keperawatan perkotaan, keluarga dengan anak usia sekolah, dan asuhan keperawatan keluarga dengan anak usia sekolah gizi kurang.

2.1 Konsep Keperawatan Perkotaan/Urban Nursing

2.1.1 Teori dan Konsep Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Menurut Paul B. Horton dan C. Hunt (1999), masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut (dalam Murdiyatmoko, 2000). Masyarakat urban merupakan kumpulan manusia yang mendiami daerah perkotaan didorong oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya untuk menjadi lebih baik.

Daerah perkotaan adalah suatu wilayah administratif setingkat desa/kelurahan yang memenuhi persyaratan tertentu dalam hal kepadatan penduduk, persentase rumah tangga pertanian, dan sejumlah fasilitas perkotaan, seperti jalan raya, sarana pendidikan formal, sarana kesehatan umum, dan sebagainya (BPS, 2010). Perkotaan merupakan wilayah dengan susunan fungsi sebagai permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintah, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.

Perkotaan merupakan wilayah yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi dan masyarakat yang beragam (heterogen). Kawasan perkotaan (urban) adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi

(29)

pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Perkotaan memiliki karakteristik yaitu besarnya peranan kelompok sekunder, anonimitas merupakan ciri kehidupan masyarakatnya, heterogen, mobilitas sosial tinggi, tergantung pada spesialisasi, hubungan antara orang satu dengan yang lain lebih didasarkan atas kepentingan daripada kedaerahan, lebih banyak tersedia lembaga atau fasilitas untuk mendapatkan barang dan pelayanan, serta lebih banyak mengubah lingkungan (Indrizal, 2006).

2.1.2 Masalah Kemiskinan dan Gizi Kurang yang Terjadi di Perkotaan Peningkatan kemiskinan dilihat dari sudut pandang keberadaan wilayah dan dari sisi pendapatan suatu keluarga, terjadi secara drastis di wilayah perkotaan. Data dan hasil penelitian membuktikan bahwa kemiskinan sangat berhubungan dengan tingginya angka kesakitan dan kematian. Tingkat pendapatan di bawah garis kemiskinan dan rendahnya kesempatan memperoleh berbagai fasilitas kesejahteraan sosial akan mempersulit terpenuhinya berbagai keperluan pangan bergizi atau kemampuan untuk menangkis penyakit (United Nations Declaration, 2000).

Kemiskinan adalah suatu keadaan di mana seseorang atau sekelompok tidak dapat memenuhi kebutuhannya secara maksimal disebabkan tidak produktif dan penghasilan yang tak mencukupi (Anonim, 2009). Data kemiskinan berasal dari pendataan yang dilakukan oleh BKKBN, keluarga miskin adalah suatu keluarga yang tidak dapat memenuhi salah satu indikator atau lebih dari enam indicator penentu kemiskinan alasan ekonomi yaitu pangan, sandang, papan, penghasilan, status gizi dan penanggulangan kesehatan, dan pendidikan (www.bappenas.go.id).

Kemiskinan merupakan salah satu dampak dari arus urbanisasi adalah pada faktor ekonomi. Kemiskinan merupakan salah satu akar timbulnya masalah kesehatan perkotaan yang sering terjadi. Kemiskinan menjadi salah satu penyebab pokok

(30)

atau akar masalah gizi buruk. Permasalahan gizi sangat berkaitan erat dengan masalah kemiskinan. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh Soekirman (2006) yaitu kemiskinan memiliki hubungan timbal balik dengan permasalahan gizi. Kurang gizi berpotensi sebagai penyebab kemiskinan melalui rendahnya pendidikan dan produktivitas. Sebaliknya, kemiskinan menyebabkan anak tidak mendapat makanan bergizi yang cukup sehingga kurang gizi.

Risiko tinggi kurangnya nutrisi dalam Stanhope dan Lancaster (2000) dihubungkan dengan risiko ekonomi yaitu faktor kemiskinan. Hughes dan Simpson (1995, dalam Hitchcock, Schubert & Thomas, 1999) melaporkan bahwa status sosial ekonomi sebagai salah satu faktor yang terbesar yang mempengaruhi kesehatan nutrisi. Penduduk miskin memiliki risiko lebih besar untuk timbul permasalahan kesehatan. Ketidakmampuan keluarga terhadap sumber daya finansial akan berdampak tidak terpenuhinya kebutuhan pokok kehidupan harian keluarga, dengan demikian permasalahan kesehatan, termasuk didalamnya gizi kurang akan mudah timbul pada anak usia sekolah (Hidayati, 2011).

Risiko tinggi kurangnya nutrisi pada anak usia sekolah disebabkan karena faktor risiko sosial ekonomi khususnya kemiskinan. Anak yang miskin dihubungkan dengan faktor ketersediaan makanan, keterbatasan akses makanan, faktor orang tua karena pendidikan yang kurang, pilihan gaya hidup yang tidak sehat, kurangnya informasi dan akses (Hidayati, 2011). Prevalensi gizi kurang mayoritas pada kelompok sosial ekonomi yang kurang disebabkan kurangnya variasi makanan (Hitchcock, Schubert & Thomas, 1999).

2.2 Keluarga dengan Anak Usia Sekolah 2.2.1 Keluarga dengan Anak Usia Sekolah

Anak usia sekolah adalah anak yang telah menginjak usia 6-12 tahun, yang artinya sekolah merupakan pengalaman inti anak (Wong, 2009). Periode ini merupakan masaa anak dianggap mulai bertanggung jawab atas perilakunya sendiri dalam

(31)

hubungannya dengan oranngtua, teman sebaya, dan orang lainnya. Usia sekolah merupakan masa anak memperoleh dasar-dasar pengetahuan untuk keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan dewasa dan memperoleh keterampilan tertentu.

Keluarga adalah dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan kebersamaan dan ikatan emosional, serta yang mengidentifikasi diri sebagai bagian dari keluarga (Whall, 1986 dalam Friedman, Bowden, & Jones, 2003). Keluarga adalah kumpulan orang-orang yang bergabung bersama diikat oleh perkawinan, darah, atau adopsi, dan lainnya yang berada dalam satu rumah (Friedman, Bowden, & Jones, 2003). Family Service America (2000 dalam Friedman, Bowden, & Jones, 2003) mendefinisikan keluarga dalam suatu cara yang komprehensif yaitu sebagai dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan kebersamaan dan keintiman.

Status sehat/sakit para anggota keluarga saling mempengaruhi satu sama lain. Keluarga cenderung menjadi seorang reaktor terhadap masalah-masalah kesehatan dan menjadi aktor dalam menentukan masalah-masalah anggota keluarga. Keluarga cenderung terlibat dalam pembuatan keputusan dan proses terapeutik pada setiap tahap sehat sakit setiap anggota keluarga, seperti mulai dari keadaan sehat hingga diagnosa, tindakan penyembuhan (Hidayati, 2011).

Tahapan perkembangan keluarga merupakan panduan perawat dalam intervensi dengan keluarga agar dapat mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan setiap anggota keluarga. Berdasarkan teori Duvall (1985 dalam Firedman et all, 2003) keluarga dengan anak usia sekolah memiliki beberapa tugas perkembangan. Tugas perkembangan keluarga tahapan keluarga dengan anak usia sekolah antara lain memenuhi kebutuhan anak (alat sekolah dan biaya sekolah), membiasakan belajar teratur, memperhatikan anak saat menyelesaikan tugas sekolah, memberikan pengertian anak bahwa pendidikan sangat penting untuk masa depan

(32)

anak, serta membantu anak dalam bersosialisasi lebih luas dengan lingkungan sekitar.

Keluarga dengan anak usia sekolah merupakan kelompok yang kompleks yang terdiri dari orang tua dan anak-anak. Tahapan perkembangan keluarga berhubungan dengan pertumbuhan individu anggota keluarga dan memenuhi kebutuhan sesuai dengan perkembangannya (Fitriyani, 2009). Keluarga harus menciptakan pola pemeliharaan kesehatan untuk mencapai kesehatan fisik, mental, dan sosial yang optimal. Anak usia sekolah merupakan masa dimana gizi yang adekuat diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi secara pesat dan tidak dapat terulang (Potter & Perry, 2005).

2.2.2 Anak usia sekolah sebagai Agregat At Risk

Hichcock, Scubert, dan Thomas (1999) mengemukakan adanya faktor risiko yang akan meningkatkan kemungkinan perkembangan penyakit atau masalah kesehatan. UNICEF (2008) mengemukakan anak usia sekolah rentan terhadap penyakit. Sebanyak lebih dari sepertiga anak-anak yang meninggal akibat pneumonia, diare, dan penyakit lainnya. WHO (2008) melaporkan penyebab utama angka kematian anak usia sekolah di dunia adalah masalah neonatal (37%), ISPA (17%), dan diare (16%). Di Indonesia, penyebab utama angka kematian pada anak usia sekolah adalah masalah neonatal (41%), injury (17%), dan diare (13%). Kurang gizi memberi kontribusi terbesar dari tiga penyebab kematian tersebut.

Anak anak usia sekolah dengan gizi kurang adalah kelompok umur yang rentan gizi dan rawan penyakit. Kelompok umur ini merupakan kelompok umur yang paling banyak menderita KEP (Kurang Energi Protein). Populasi yang rentan mengalami masalah adalah populasi anak usia sekolah gizi kurang. Prevalensi jenis penyakit yang dialami oleh anak usia sekolah dan kondisi tubuh anak usia

(33)

sekolah yang memiliki keterbatasan dalam sistem imun menyebabkan anak usia sekolah berada pada label populasi rentan (Fitriyani, 2009).

UNICEF (2008) mengungkapkan masalah gizi pada anak usia sekolah disebabkan oleh pola makan dan perawatan yang buruk serta diperburuk oleh penyakit. Anak-anak yang bertahan hidup mungkin menjadi terkunci dalam siklus penyakit yang berulang dan goyah pertumbuhannya. Gizi kurang juga bisa terjadi pada anak usia sekolah karena masa peralihan antara saat disapih dan mulai mengikuti pola makan orang dewasa atau karena keluarga mengikuti kebiasaan makan keliru dalam memberikan asupan makanan pada anak usia sekolah (Arisman, 2003).

Pemenuhan gizi erat kaitannya dengan pemasukan makanan. Anak anak usia sekolah perlu didorong untuk makan, tetapi tidak memaksa mereka untuk makan. Anak usia sekolah perlu dibantu ketika mereka sedang belajar untuk makan sendiri. Jika anak usia sekolah menolak untuk memakan berbagai makanan, pengasuh dapat melakukan percobaan dengan kombinasi makanan, rasa, dan tekstur yang berbeda, serta metode dororngan (Hidayati, 2011). Makanan kecil boleh diberikan antara dua waktu makan, sepanjang tidak mengurangi selera makan. Keluarga harus bisa meminimalkan masalah pada saat anak usia sekolah makan (UNICEF, 2010).

Keluarga harus bisa meminimalkan gangguan pada saat anak usia sekolah makan. Keluarga seharusnya menghindari hukuman tetapi banyak memberikan pujian ketika makanan diberikan, memperkenalkan makanan baru, membangun teratur pola makan dan waktu makan, serta membuat waktu makan menjadi menyenangkan, membiarkan anak membantu untuk menyiapkan makanan atau peletakan meja (Hidayati, 2011; Pedomam Umum Gizi Seimbang, 2011). Keluarga juga harus memperhatikan kesesuaian kemauan anak.

(34)

Gizi anak usia sekolah tidak hanya ditentukan oleh ketahanan pangan keluarga tetapi juga oleh kualitas perawatan anggota keluarga dan kuantitas lingkungan kesehatan rumah tangga (Smith & Haddad, 2000). Keluarga mempunyai peranan penting dalam memenuhi nutrisi pada anak usia sekolah karena keluarga melakukan pemilihan sampai dikonsumsi pada anak (Widyatuti, 2001). Pemahaman keluarga tentang tugas kesehatan keluarga sangat diperlukan agar keluarga bisa memenuhi kebutuhan gizi anak usia sekolah dan mendukung optimalnya gizi anak usia sekolah (Hidayati, 2011).

2.2.3 Gizi Anak Usia Sekolah

Gizi (nutrient) adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang makanan dan hubungannya dengan kesehatan optimal. Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi (Almatsier, 2004). Hitchcock, Schubert dan Thomas (1999) mendefinisikan gizi adalah semua proses dimana makanan dicerna, diasimilasi, dan digunakan untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit.

Status gizi merupakan keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi. Asupan gizi yang seimbang atau sesuai dengan kebutuhan tubuh akan meningkatkan status gizi, atau sebaliknya asupan yang tidak sesuai akan menyebabkan malnutrisi, atau kurang gizi (Jumadil, 2010). Makanan dan gizi sangat penting dan mempengaruhi status gizi serta kesehatan anak usia sekolah.

Faktor biologis yang mempengaruhi anak usia sekolah gizi kurang sebagai populasi rentan adalah faktor usia dan ketergantungan pada orang lain (orang tua) dalam penyediaan makanan anak usia sekolah. Usia anak usia sekolah yang masih muda membuat ketergantungan pada orang lain dalam ketersediaan makanan sehingga mempunyai peluang besar terhadap risiko penyakit dan masalah gizi. Pada masa anak usia sekolah, anak membutuhkan nutrisi dari berbagai sumber dan makanan untuk pertumbuhan dan perkembangannya.asupan makanan dapat

(35)

mempengaruhi pola makan serta nafsu makan anak. Secara langsung asupan makanan yang dikonsumsi dapat mempengaruhi status gizi anak. Hal ini berarti zat-zat gizi yang terkandung di dalam makanan mempunyai kandungan gizi yang berbeda, oleh karena itu khususnya ibu harus pandai memilih makanan yang akan dikonsumsi oleh anak (Smith & Maurer, 2009).

Menurut Stanhope dan Lancaster (2000) faktor predisposisi yang menempatkan anak usia sekolah gizi kurang sebagai kelompok populasi rentan adalah karena anak usia sekolah yang mengalami kurang nutrisi disebabkan oleh faktor risiko sosial ekonomi, khususnya kemiskinan. Ketidakmampuan keluarga terhadap sumber daya finansial akan berdampak tdak terpenuhinya kebutuhan pokok kehidupan harian keluarga, dengan demikian permasalahan kesehatan akan mudah timbul pada anak usia sekolah, salah satunya masalah gizi.

Gizi kurang merupakan salah satu masalah gizi yang terjadi di Indonesia. Keadaan gizi kurang dapat terjadi karena tubuh kekurangan satu atau beberapa jenis zat gizi yang dibutuhkan. Trend gizi buruk dan gizi kurang di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun (Fitriyani, 2009). UNICEF (2006) menjelaskan bahwa jumlah anak anak usia sekolah penderita gizi buruk mengalami lonjakan dari 1,8 juta pada tahun 2005 menjadi 2,3 juta pada tahun 2006, dan masih ada 5 juta lebih yang mengalami gizi kurang. Jumlah gizi kurang ini sekitar 28% dari total anak usia sekolah di seluruh Indonesia.

Beberapa faktor yang mempengaruhi status gizi pada anak usia sekolah, yaitu penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Penyebab langsung yang mempengaruhi status gizi anak usia sekolah adalah faktor asupan makanan dan penyakit infeksi. Faktor tersebut saling mempengaruhi satu sama lain. Faktor asupan makanan, anak usia sekolah yang tidak cukup mendapatkan makanan yang bergizi seimbang memiliki daya tahan tubuh yang lemah sehingga rentan terkena penyakit sehingga mudah terinfeksi. Penyakit infeksi menyebabkan asupan zat

(36)

gizi tidak terserap dengan baik sehingga berakibat gizi kurang dan gizi buruk (Indriyani, 2007).

Gizi kurang dan infeksi merupakan masalah kesehatan yang penting pada masa anak-anak. Gangguan gizi dan infeksi sering bekerja sinergis. Infeksi memperburuk taraf gizi dan gizi kurang menghambat reaksi imunologis yang menyebabkan kemampuan anak melawan kuman infeksi menurun. Penyakit infeksi yang terdapat di dalam tubuh anak mengakibatkan anak kehilangan nafsu makan sehingga anak sering menolak untuk makan, yang berarti pemasukan zat gizi juga tidak ada. Infeksi juga dapat menyebabkan penghancuran jaringan tubuh, baik oleh bibit penyakit maupun oleh tubuh sendiri untuk memperoleh protein sebagai daya tahan tubuh. Keadaan gizi buruk melemahkan kemampuan anak untuk melawan infeksi yang dapat menimbulkan penyakit bahkan kematian pada anak dengan gizi buruk (Neldawati, 2006).

Faktor infeksi ini dapat disebabkan oleh kurangnya kesadaran akan kebersihan diri di dalam keluarga. Kurangnya air bersih dan sanitasi lingkungan yang tidak memadai serta praktek-praktek kebersihan yang buruk adalah beberapa penyebab malnutrisi, penyakit dan kematian pada anak-anak (Hidayati, 2011). Jika anak mengalami diare yang disebabkan kuarena kurangnya air bersih atau karena praktek kebersihan yang buruk, makan akan menguras nutrisi dalam tubuhnya. Begitu seterusnya dari buruk menjadi lebih buruk (UNICEF, 2008).

Penyebab tidak langsung terdiri dari ketersediaan pangan keluarga, pola asuh serta pelayanan kesehatan. Hal ini didukung oleh pernyataan Soekirman (2006) bahwa ada tiga penyebab masalah gizi yang dialami oleh anak. Pertama, anak usia sekolah tidak mendapat makanan yang bergizi seimbang yang berhubungan dengan ketahanan pangan. Status ekonomi berkaitan dengan ketersediaan pangan dalam keluarga. Status ekonomi keluarga menurut Friedman, Bowden dan Jones (2003) adalah pendapatan keluarga dari beberapa sumber pendapatan. Pendapatan

(37)

dalam keluarga dapat mempengaruhi daya beli dan konsumsi pangan sehingga mempengaruhi status gizi anak usia sekolah (Hidayati, 2011). Kurangnya ekonomi dalam keluarga berdampak pada kesehatan kurangnya perawatan diri, peningkatan ketidakmampuan menyediakan makanan, keterbatasan aktivitas, dan peningkatan terjadinya penyakit kronis. Potts dan Mandleco (2007) mengemukakan pendapatan keluarga mempunyai efek yang signifikan terhadap kesejahteraan pada masa anak usia sekolah. Status gizi kurang pada anak dihubungkan dengan kemiskinan.

Faktor yang kedua adalah pola pengasuhan anak. Sebuah studi positive deviance tahun 1990 diketahui bahwa pola pengasuhan anak berpengaruh terhadap timbulnya gizi buruk. Pola pengasuhan ini berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak, terkait hal memberikan makan pada anak, merawat anak, kebersihan, memberi kasih sayang, dan sebagainya. Pola asuh ini juga berkaitan dengan kualitas dan kuantitas SDM dimana berkaitan dengan pengetahuan tentang gizi dan kesehatan. Kurangnya informasi keluarga tentang nutrisi dan bagaimana mengatur nutrisi dengan gizi seimbang dapat menyebabkan kebiasaan makan anak menjadi tidak sehat.

Ketiga, pelayanan kesehatan terkait kunjungan keluarga ke pelayanan kesehatan. Hal ini erat kaitannya dengan pelaksanaan tugas kesehatan keluarga kemandirian keluarga dari Depkes (2006) yang meliputi menerima petugas, menerima pelayanan kesehatan sesuai rencana keperawatan, tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatan secara benar, memanfaatkan fasilitas kesehatan sesuai anjuran, melakukan tindakan keperawatan sederhana sesuai anjuran, melakukan tindakan pencegahan aktif, dan melakukan tindakan pencegahan aktif, serta melakukan tindakan peningkatan (promotif) secara aktif.

Kunjungan ke pelayanan kesehatan memiliki peranan penting terhadap status kesehatan anak usia sekolah. Kunjungan ke pelayanan kesehatan ini, terutama

(38)

untuk melakukan penimbangan berat badan secara teratur, penanganan diare, tindakan cepat pada anak yang tidak naik berat badan, pendidikan, dan penyuluhan kesehatan serta kebersihan lingkungan tempat tinggal. Semakin dekat jangkauan keluarga terhadap pelayanan dan sarana kesehatan, ditambah dengan pemahaman ibu tentang kesehatan, semakin kecil risiko anak terkena penyakit dan kekurangan gizi (Hidayati, 2011).

Hal penting yang juga tidak boleh luput dari pemenuhan asupan nutrisi anggota lainnya adalah melalui jadwal makan anak bersama keluarga. Pengaturan jadwal makan harian anak bersama keluarga merupakan kegiatan makan bersama yang dilakukan oleh suatu keluarga untuk meningkatkan suasana yang menimbulkan nafsu makan meningkat. Kegiatan ini dilakukan dalam waktu yang telah disepakati anggota keluarga secara terjadwal setiap harinya. Keteraturan jadwal akan meningkatkan asupan nutrisi yang cukup bagi anak usia sekolah.

Menurut Sulistyoningsih (2011) melalui makan bersama keluarga, orangtua tidak hanya mendorong anak untuk makan gizi seimbang, melainkan turut terlibat dan memberi contoh untuk anak dalam mengkonsumsi makanan gizi seimbang. Kegiatan makan bersama orang tua menjadikan orangtua sebagai model perilaku makan yang anak tiru (Birch, 2002; Grodner, Long., dan Walkingshaw, 2007), mengarahkan anak untuk mengonsumsi makanan sehat (Neumark-Sztainer et al., 2000; Videon & Manning, 2003) dan meningkatkan asupan gizi anak usia 9-14 tahun melalui makanan sehat (Gilman et al., 2000 dalam Waysima, et al, 2010). Kegiatan makan bersama juga bermanfaat untuk memantau jumlah jenis makanan yang dimakan oleh anak (Moore, 2009).

Maulana (2012) menyatakan pemenuhan nutrisi pada anak usia sekolah dipengaruhi oleh kebudayaan, kebiasaan makan di rumah, dan lembaga pendidikan tempat anak bersekolah. Suatu kebiasaan makan yang teratur bersama keluarga akan membentuk kebiasaan yang baik untuk pemenuhan nutrisi bagi

(39)

anak. Selanjutnya keluarga juga harus memperhatikan frekuensi makan bersama dalam keluarga dan pembiasaan makan yang seimbang gizinya agar anak tidak mengalami masalah nutrisi kurang (Rosa, 2011). Marut (2007) menyatakan kebiasaan makan bersama keluarga dapat meningkatkan konsumsi energi dan protein pada anggota keluarga.

Menurut Neumark-Sztainer, et al (2000), kegiatan makan bersama keluarga secara positif berhubungan dengan konsumsi sayur, buah-buahan yang mengandung biji-bijian dan makanan kaya kalsium pada anak. Hannon, et al (2003) juga menyatakan bahwa orang yang sering melayani anak atau makan bersama anak dengan kebiasaan mengkonsumsi buah dan sayuran berkorelasi positif dengan perilaku anak dalam mengkonsumsi buah dan sayuran. Hal serupa pada penelitian Cullen et al. tahun 2000 (dalam Waysima, et al, 2010) terhadap anak anak di usia sekolah yang menyatakan bahwa kehadiran orang lain pada situasi makan mempengaruhi sikap dan konsumsi anak terhadap buah sayur. Akhmadi (2009) juga menyatakan bahwa kegiatan makan bersama dan jadwal penyusunan makan dapat mendukung anak dalam pemenuhan nutrisi.

2.2.4 Peran Perawat Keluarga

Ruang lingkup praktik keperawatan masyarakat meliputi upaya-upaya peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan (preventif), pemeliharaan kesehatan dan pengobatan (kuratif), pemulihan kesehatan (rehabilitatif) dan mengembalikan serta memfungsikan kembali baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat ke lingkungan sosial dan masyarakatnya (resosialisasi). Tujuan dari praktik keperawatan masyarakan adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan status kesehatan masyarakat (Effendi, 2009).

Kegiatan praktik keperawatan komunitas yang dilakukan perawat mempunyai lahan yang luas dan tetap menyesuaikan dengan tingkat pelayanan kesehatan wilayah kerja perawat, tetapi secara umum kegiatan praktik keperawatan

(40)

komunitas adalah sebagai berikut: pertama yaitu memberikan asuhan keperawatan langsung kepada individu, keluarga, kelompok khusus baik di rumah (home nursing), di sekolah (school health nursing), di perusahaan, di Posyandu, di Polindes dan di daerah binaan kesehatan masyarakat (BPKM Komunitas, 2013). Kegiatan kedua memberikan penyuluhan/pendidikan kesehatan masyarakat dalam rangka merubah perilaku individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Kegiatan ketiga melakukan konsultasi dan pemecahan masalah kesehatan yang dihadapi. Kegiatan keempat melalui bimbingan dan pembinaan sesuai dengan masalah yang mereka hadapi. Kegiatan kelima dengan melaksanakan rujukan terhadap kasus-kasus yang memerlukan penanganan lebih lanjut. (Stanhope & Lancaster, 2000).

Kegiatan keenam yaitu penemuan kasus pada tingakat individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Kegiatan ketujuh sebagai penghubung antara masyarakat dengan unit pelayanan kesehatan. Kegiatan kedelapan melaksanakan asuhan keperawatan komunitas, melalui pengenalan masalah kesehatan masyarakat, perencanaan kesehatan, pelaksanaan dan penilaian kegiatan dengan menggunakan proses keperawatan sebagai suatu usaha pendekatan ilmiah keperawatan. Kegiatan kesembilan mengadakan koordinasi di berbagai kegiatan asuhan keperawatan komunitas. Kegiatan kesepuluh yaitu mengadakan kerja sama lintas program dan lintas sektoral dengan instansi terkait dan terakhir memberikan ketauladanan yang dapat dijadikan panutan oleh individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang berkaitan dengan keperawatan dan kesehatan (Stanhope & Lancaster, 2000).

Perawat keluarga memiliki beberapa peran dalam membantu mengatasi masalah kesehatan yang ada di dalam keluarga. Asuhan keperawatan keluarga yang dilakukan bertujuan untuk memberdayakan keluarga dalam pengambilan keputusan dan menangani persoalan yang penting untuk kesehatan atau kesejahteraan di dalam keluarga. Perawat keluarga perlu melakukan

(41)

tahapan-tahapan mulai dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan evaluasi tindakan dalam proses penyelesaian masalah (Anderson & McFarlane, 2007).

Asuhan keperawatan keluarga yang diberikan dapat berupa upaya-upaya preventif dan promotif yang berupa pendidikan kesehatan mengenai masalah kesehatan yang ada dalam keluarga, dalam hal ini terkait masalah gizi kurang pada anak usia sekolah. Perawat keluarga berperan sebagai edukator dalam memberikan pendidikan dan promosi kesehatan pada keluarga sebagai upaya menyelesaikan masalah gizi kurang pada anak usia sekolah. Perawat keluarga dapat memberikan informasi kesehatan yang berkelanjutan dan memberikan saran kepada keluarga mencakup komunikasi terkait temuan masalah kesehatan dna cara mengatasinya. Tujuan pendidikan adalah mendukung dan mengubah perilaku tidak sehat, meskipun perubahan perilaku tidak secara langsung terlihat (Friedman, Bowden, & Jones, 2003).

Perawat keluarga dapat memberikan bimbingan antisipatif pada keluarga mengenai masalah kesehatan yang bersifat potensial atau fase pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya. Perawat keluarga dapat berperan sebagai konsultan. Konseling adalah suatu proses untuk membantu keluarga dan anggota keluarganya dalam memperhatikan, menyelesaikan, dan mengatasi masalah dalam keluarga secara benar. Peran perawat sebagai konsultan sering kali memberikan bantuan untuk menyelesaikan masalah kesehatan dalam keluarga. Perawat keluarga juga dapat berperan sebagai koordinator, perawat memastikan bahwa keluarga dapat melakukan duplikasi dari asuhan keperawatan yang telah diberikan (Friedman, Bowden, & Jones, 2003).

2.3 Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Anak Usia Sekolah Gizi Kurang Perawat perlu melibatkan keluarga dalam pelaksanaan intervensi keperawatan keluarga pada anak usia sekolah dengan gizi kurang. Asuhan keperawatan komunitas dengan pendekatan keluarga dapat menurunkan risiko kesehatan dan

(42)

meningkatkan kesehatan anak usia sekolah dengan gizi kurang. Menurut Hitchcock, Schubert dan Thomas (1999), intervensi keperawatan dapat dilakukan untuk mencegah masalah gizi kurang anak usia sekolah pada level pencegahan primer, dengan cara memberikan edukasi pada orang tua tentang nutrisi anak, melakukan kunjungan rumah, dan membantu keluarga dalam penyediaan makanan.

2.3.1 Pengkajian Keluarga

Asuhan keperawatan keluarga dimulai dengan tahap pengkajian. Pengkajian bertujuan untuk mengumpulkan data-data yang ada pada keluarga. Pengumpulan data dalam pengkajian dilakukan melalui metode wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik. Menurut teori/model Family Centre Nursing Friedman (Friedman, Bowden, & Jones, 2003), pengkajian asuhan keperawatan keluarga meliputi 8 komponen pengkajian yaitu (1) data umum : identitas kepala keluarga, komposisi anggota keluarga, genogram, tipe keluarga, suku bangsa, agama, status sosial ekonomi keluarga, (2) aktifitas rekreasi keluarga: riwayat dan tahap perkembangan keluarga, tahap perkembangan keluarga saat ini, tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi, riwayat keluarga inti, riwayat keluarga sebelumnya, (3) lingkungan: karakteristik rumah, karakteristik tetangga dan komunitas tempat tinggal, mobilitas geografis keluarga, perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat, sistem pendukung keluarga, (4) struktur keluarga: pola komunikasi keluarga, struktur kekuatan keluarga, struktur peran (formal dan informal), nilai dan norma keluarga, (5) fungsi keluarga: fungsi afektif, fungsi sosialisasi, fungsi perawatan kesehatan, (6) stres dan koping keluarga: stresor jangka panjang dan stresor jangka pendek serta kekuatan keluarga, respon keluarga terhadap stres, strategi koping yang digunakan, strategi adaptasi yang disfungsional, (7) pemeriksaan fisik: tanggal pemeriksaan fisik dilakukan, pemeriksaan kesehatan dilakukan pada seluruh anggota keluarga, aspek pemeriksaan fisik mulai dari vital sign, rambut, kepala, mata, mulut, THT, leher, thoraks, abdomen, ekstremitas atas dan bawah, sistem

(43)

genetalia, kesimpulan dari hasil pemeriksaan fisik, (8) harapan keluarga: terhadap masalah kesehatan keluarga, terhadap petugas kesehatan yang ada.

Pemeriksaan yang dilakukan berfokus pada pemeriksaan tanda dan gejala yang ditemukan pada anak usia sekolah dengan masalah gizi kurang. Menurut Arisman (2003), penilaian status gizi merupakan proses pemeriksaan keadaan gizi seseorang yang diperoleh dari pemeriksaan klinis, penilaian antropometri, uji biokimiawi, dan pengkajian makanan. Penilaian klinis didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi yang dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.

Pengukuran status gizi dengan antropometri merupakan penilaian untuk mengidentifikasi status gizi yang paling sering digunakan. Pengukuran antropometri yang sering digunakan antara lain umur, berat badan, tinggi badan, massa tubuh, lingkar/sirkumferensi (lingkar lengan atas, kepala, pinggang/perut, panggul, dan dada) dan tebal lipatan kulit. Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter yaitu indeks massa tubuh dibanding usia (IMT/U) menurut tabel standar antopometri penilaian status gizi anak (Kemenkes, 2010).

Tabel 2.1 Tabel Standar Antopometri Penilaian Status Gizi Anak (Kemenkes, 2010)

Indeks Kategori Status Gizi Ambang Batas (z-score) Indeks Massa Tubuh

menurut Umur (BB/U) Anak Umur 5-18 tahun

Gizi Buruk <-3SD

Gizi Kurang -3SD sampai dengan <-2SD

Gizi Baik -2SD sampai dengan 2 SD

(44)

2.3.2 Diagnosis Keperawatan

Diagnosis keperawatan dapat diangkat melalui perolehan data-data hasil pengkajian, dirumuskan melalui analisa data. Diagnosis keperawatan adalah pernyataan yang menggunakan dan menggambarkan respon manusia (Potter & Perry, 2005). Diagnosis keperawatan keluarga adalah diagnosis yang mencakup sistem keluarga dan subsistem dari setiap sistem yang ada, serta hasil dari pengkajian keluarga yang dilakukan (Friedman, Bowden, & Jones, 2003).

2.3.3 Perencanaan Intervensi Keperawatan

Perencanaan dilakukan untuk mengatasi masalah keperawatan yang muncul melalui intervensi keperawatan pada keluarga. Perencanaan adalah sekumpulan tindakan yang ditentukan perawat untuk dilaporkan dalam memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan yang telah diidentifikasi (Friedman, Bowden, & Jones, 2003).

Penyusunan perencanaan diawali dengan melakukan pembuatan tujuan dari asuhan keperawatan, tujuan yang dibuat terdiri tujuan umum dan tujuan khusus. Perencanaan juga memuat kriteria hasil. Pembuatan kriteria hasil harus didasari dengan prinsip SMART (Spesific, Measurable, Achievable, Realistic,dan Time-oriented) (Carpenito, 2000). Perencanaan asuhan keperawatan juga memuat tindakan yang sesuai dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat.

Perencanaan intervensi keperawatan komunitas pada populasi anak usia sekolah gizi kurang dapat dilakukan dengan tiga tingkat pencegahan masalah yaitu pencegahan primer, sekunder, dan tersier (Fitriyani, 2009). Menurut Stanhope dan Lancaster (2004), pencegahan primer adalah suatu upaya untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah munculnya penyakit. Pencegahan sekunder dapat berupa deteksi dini keadaan kesehatan masyarakat dan penatalaksanaan yang tepat untuk mengatasi masalah. Pencegahan tersier adalah upaya untuk mengembalikan kemampuan individu agar dapat berfungsi secara optimal.

(45)

2.3.4 Implementasi Keperawatan

Implementasi dilakukan berdasarkan perencanaan intervensi yang telah dibuat. Implementasi yang dilakukan perawat generalis untuk mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia sekolah menggunakan pendekatan lima tugas kesehatan keluarga menurut Maglaya (2009) yaitu menyebutkan bahwa lima tugas kesehatan keluarga terdiri dari mengenal masalah, memutuskan mengatasi masalah, merawat keluarga dengan masalah, memodifikasi lingkungan, dan memanfaatkan pelayanan kesehatan.

Implementasi yang dilakukan dalam asuhan keperawatan keluarga dilakukan dengan memberikan edukasi pada orang tua tentang nutrisi pada anak, melakukan kunjungan rumah, dan membantu keluarga dalam penyediaan makanan. Pemberian edukasi pada keluarga terkait nutrisi meliputi gizi seimbang, gizi kurang, triguna makanan, serta penyusunan jadwal makan harian anak bersama keluarga.

Pemberian edukasi kepada orang tua merupakan hal yang penting yang dapat dilakukan perawat pada keluarga guna meningkatkan pengetahuan orangtua khususnya ibu mengenai gizi anak usia sekolah. Pengetahuan orang tua khususnya ibu merupakan satu hal yang penting guna memperbaiki gizi anak usia sekolah. Peningkatkan pengetahuan ibu mengenai triguna makanan merupakan salah satu cara edukasi yang dapat dilakukan.

Triguna makanan terdiri dari tiga zat gizi yang masing-masing memiliki fungsi yang berbeda-beda. Makanan dengan gizi seimbang ini berpedoman pada triguna makanan, yaitu makanan yang mengandung karbohidrat dan lemak sebagai zat tenaga, protein sebagai zat pembangun, dan vitamin serta mineral sebagai zat pengatur.

Gambar

Tabel 2.1 Tabel Standar Antopometri (Kemenkes, 2010)..................................
Tabel 2.1 Tabel Standar Antopometri Penilaian Status Gizi Anak (Kemenkes,  2010)

Referensi

Dokumen terkait

Keluarga Sadar Gizi (KADARZI), merupakan gambaran keluarga yang berperilaku gizi seimbang, mampu mengenali dan memecahkan masalah gizi anggota keluarganya... Mengapa sasarannya

Judul Skripsi : Peran Pekerja Sosial Medis Dalam Pencapaian Kualitas Hidup Terbaik bagi Pasien dan Anggota Keluarga Pasien Kanker Stadium Lanjut yang Menjalani Perawatan Paliatif

Menurut pendapat Patrick (2001, 401) preventive maintenance adalah kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan untuk mencegah timbulnya kerusakan-kerusakan yang

defisit perawatan diri. Keluarga mampu membuat perencanaan perawatan dan aktivitas berkelanjutan pada anggota keluarga yang mengalami masalah defisit perawatan

Distribusi Balita dengan Status Gizi Stunting menurut Berat Lahir, Tinggi Badan Ibu, Konsumsi Energi, Konsumsi Protein, Konsumsi Lemak, Status Ekonomi Keluarga, Jumlah Anggota

Masih banyaknya masalah gizi anak di Indonesia, pentingnya gizi anak usia sekolah, pentingnya pengetahuan anak mengenai asupan gizi dan masalah yang akan timbul apabila

Pada tahap awal, responden mempraktikkan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan sebagai upaya pengendalian dan pencegahan penularan dalam perawatan anggota keluarga dengan TB

Perawatan bayi baru lahir termasuk Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) dan imunisasi tetap dilakukan. Berikan informasi kepada ibu dan keluarga mengenai perawatan