• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UNIVERSITAS INDONESIA"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS INDONESIA

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA BAPAK T DENGAN

MASALAH KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI KURANG

DARI KEBUTUHAN PADA ANAK USIA SEKOLAH

DI RW 03 KELURAHAN CISALAK PASAR

KECAMATAN CIMANGGIS DEPOK

KARYA ILMIAH AKHIR NERS

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ners

Winda Eriska

0806334565

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

PROGRAM STUDI PROFESI KEPERAWATAN

DEPOK

JULI 2013

(2)

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA BAPAK T DENGAN

MASALAH KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI KURANG

DARI KEBUTUHAN PADA ANAK USIA SEKOLAH

DI RW 03 KELURAHAN CISALAK PASAR

KECAMATAN CIMANGGIS DEPOK

KARYA ILMIAH AKHIR NERS

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ners

WINDA ERISKA 0806334565

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN PROGRAM STUDI PROFESI KEPERAWATAN

DEPOK JULI 2013

(3)

ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Karya ilmiah akhir ini adalah karya sendiri,

dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : Winda Eriska

NPM : 0806334565

Tanda Tangan :

(4)

Skripsi ini diajukan oleh: Nama : Winda Eriska NPM : 0806334565 Program Studi : Ilmu Keperawatan

Judul Karya Ilmiah : Asuhan keperawatan keluarga Bapak T dengan masalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan pada anak usia sekolah di RW 03 Kelurahan Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis Kota Depok

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji untuk diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Ners pada Program studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia.

DEWAN PENGUJI

Pembimbing : Poppy Fitriyani, S.Kp., M.Kep., Sp.Kom ( ) Penguji : Ns.Tri Widyastuti Handayani, S.Kep ( ) Penguji : Ns. Uswatul Hasah, S. Kep., M. Kep ( )

Ditetapkan di : Depok, Jawa Barat Tanggal : 9 Juli 2013

(5)

iv

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, nikmat, dan ridho-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas akhir ini. Tugas akhir ini dibuat dalam rangka memenuhi salah tugas mata ajar Karya Ilmiah Akhir pada semester genap Program Profesi di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini tidak akan selesai tanpa bantuan, bimbingan, dan dorongan semangat dari berbagai pihak selama proses penyusunannya. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada

(1) Ibu Dewi Irawaty, MA, PhD selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia;

(2) Ibu Poppy Fitriyani, S.Kp., M.Kep., Sp. Kom selaku pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan penulis dalam penyusunan tugas akhir ini;

(3) Seluruh dosen dan karyawan FIK UI yang banyak memberikan pengarahan dan motivasi selama masa perkuliahan;

(4) Suami tercinta Yusmanizar dan kedua orang tua dan mertua yang sangat aku sayang, doa dan dukungan dari kalian yang selalu menguatkanku;

(5) Sahabat-sahabatku Siska, Difi, Leli, Memel, dan semua teman di FIK UI 2008 yang sangat peduli;

Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, peneliti menerima berbagai kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan penelitian ini. Peneliti berharap Allah SWT berkenan membalas semua kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga laporan hasil penelitian ini membawa manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Depok, 9 Juli 2013

(6)

Sebagai civitas akademik Universitas Indonesia, Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Winda Eriska NPM : 0806334565 Program Studi : Ilmu Keperawatan Fakultas : Ilmu Keperawatan Jenis Karya : Karya Ilmiah Akhir

demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Nonekslusif (Non-xclusive Royalty – Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:

“Asuhan keperawatan keluarga Bapak T dengan masalah

ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan pada anak usia sekolah di RW 03 Kelurahan Cisalak Pasar Kecamatan Cimanggis Kota Depok” beserta perangkat yang ada jika (diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Nonekslusif Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di : Depok

Pada Tanggal : 9 Juli 2013 Yang menyatakan

(7)

vii Universitas Indonesia

ABSTRAK

Nama : Winda Eriska Program Studi : Ilmu Keperawatan

Judul : Asuhan Keperawatan Keluarga Bapak T dengan Masalah Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan pada Anak Usia Sekolah di RW 03 Kelurahan Cisalak Pasar Kecamatan Cimanggis Depok

Masyarakat perkotaan sangat sibuk sehingga orangtua sering mengabaikan kebutuhan nutrisi anaknya. Hal ini terjadi pada orangtua dengan anak usia sekolah karena anak sudah mengenal jajan dan memilih makanannya sendiri. Kebiasaan ini berbahaya apabila jajanannya tidak sehat dan tidak bergizi. Kurang gizi dapat menyebabkan masalah pertumbuhan dan perkembangan, serta prestasi belajar menurun. Hal ini terjadi pada An.S yang mengalami ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan dalam keluarga BapakT. Intervensi dan implementasi unggulan yang diberikan adalah pendidikan kesehatan tentang gizi seimbang. Tujuannya agar keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami kurang gizi. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan keluarga BapakT tentang gizi seimbang.

Kata kunci: asuhan keperawatan keluarga, gizi, ketidakseimbangan nutrisi

ABSTRACT

Name : Winda Eriska Study Program : Nursing

Title : Family Nursing Care of Mr.T Family with Imbalance Nutrition Less Than Body Requirements of School Age Children In RW 03 Kelurahan Cisalak Pasar Kecamatan Cimanggis Depok

Urban communities are very busy, so parents often neglect the nutritional needs of their children. This happens to parents with school-age children are at that age children are familiar with snacks and choose their own food. This habit will be dangerous if the snacks unhealthy and not nutritious. Malnutrition can lead problems of growth and development, and also decreased academic achievement. This case happened to An.S that experiences imbalance nutrition less than body requirements in Mr.T family. Intervention and the main implementation was given by providing health education about balanced nutrition to Mr.T’s family. The goal is the family to be able to care of family member that experiencing malnutrition. The evalution showed the increasing of Mr. T family’s knowledge of balanced nutrition.

(8)

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS... HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR ... HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... ABSTRAK ... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR ... DAFTAR LAMPIRAN ... 1. PENDAHULUAN... 1.1 Latar Belakang... 1.2 Rumusan Masalah ... 1.3 Tujuan Penelitian... 1.3.1 Tujuan Umum ... 1.3.2 Tujuan Khusus ... 1.4 Manfaat Penelitian ... 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 2.1 Konsep Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan... 2.2 Anak Usia Sekolah Sebagai Aggregate Beresiko... 2.3 Gizi Anak Sekolah ...…... 2.2.1 Gizi Seimbang ... 2.2.2 GiziKurang... 2.4 Keluarga Dengan Anak Usia Sekolah ... 2.5 Asuhan Keperawatan Keluarga ...

3. LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA 31

3.1 Pengkajian 32

3.2 Perencanaan

3.3 Implementasi ... 3.4 Evaluasi ... 4. ANALISIS SITUASI ... 4.1 Profil Lahan Praktek ... 4.2 Analisis Masalah Keperawatan dengan Konsep Terkait KKMP

dan Konsep Kasus Terkait…... 4.3 Analisis Salah Satu Intervensi dengan Konsep dan Penelitian Lain

4.4 Alternatif Pemecahan yang Dapat Dilakukan ... 5. PENUTUP... 5.1 Kesimpulan... 5.2 Saran... DAFTAR PUSTAKA ... ii iii iv vi vii viii ix x 1 1 5 5 5 5 6 7 7 8 10 10 12 13 14 19 19 21 23 26 28 29 29 30 32 34 34 35 36

(9)

ix Universitas Indonesia

DAFTAR GAMBAR

(10)

Lampiran 1 Pengkajian keluarga Bapak T Lampiran 2 Analisis data

Lampiran 3 Skoring diagnosa keperawatan Lampiran 4 Rencana asuhan keperawatan

Lampiran 5 Catatan perkembangan implementasi dan evalusi Lampiran 6 Evaluasi sumatif

Lampiran 7 Tingkat kemandirian keluarga Lampiran 8 Media leaflet

(11)

1 Universitas Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kondisi lingkungan hidup di perkotaan yang ada di Indonesia tidak lagi kondusif terutama dalam hal kesehatan. Kondisi ini bisa dilihat dari keadaan lingkungan, kepadatan penduduk, tingkat aktivitas, dan perilaku hidup yang tidak sehat. Menurut Stanhope dan Lancaster (2004) kepadatan penduduk di daerah perkotaan menjadi tidak bisa terkendali terbukti dengan meningkatnya angka urbanisasi dan timbul perumahan-perumahan kumuh atau jumlah penduduk yang tinggal per kilometer perseginya lebih dari seribu jiwa. Tingkat aktivitas penduduk di perkotaan juga sangat tinggi bisa mencapai 24 jam setiap harinya.

Tingkat aktivitas yang padak tersebut menyebabkan perilaku hidup penduduk di perkotaan banyak yang tidak sesuai dengan kesehatan. Perilaku yang tidak sehat tersebut misalnya banyak mengkonsumsi makanan cepat saji dan mengandung banyak bahan pengawet demi untuk menghemat waktu karena padatnya aktivitas. Konsumsi makanan yang tidak sehat tersebut menjadi sangat beresiko terutama untuk anak-anak khususnya anak usia sekolah (Potter & Perry, 2005).

Anak usia sekolah berada pada periode pertengahan dari sebuah rentang kehidupan. Periode ini dimulai saat anak berusia 6 sampai 12 tahun (Hockenberry, 2004). Pada periode ini anak mulai bergabung dengan teman seusianya yang merupakan hubungan dekat pertama di luar kelompok keluarga. Pada kelompok usia ini pula individu lebih mudah dikenali seperti pertumbuhan, perkembangan, pola aktivitas, kepribadian, kebutuhan gizi, dan asupan makanan. Karena itu masalah kesehatan yang biasanya sering dialamai pada anak usia sekolah antara lain kerusakan gigi, anemia dan gizi tidak seimbang. Dari ketiga masalah tersebut, yang dianggap paling mengancam adalah masalah gizi tidak seimbang terutama pada kondisi masyarakat urban.

(12)

Kondisi gizi anak usia sekolah di Indonesia masih mengkhawatirkan. Perkiraan jumlah anak usia sekolah di Indonesia pada tahun 2010 khususnya usia 5 sampai 14 tahun yaitu 45.924.660 anak. Dari jumlah tersebut diketahui 35,6% anak usia sekolah di Indonesia bertubuh pendek, 12,2% bertubuh kurus, dan 9,2 % bertubuh gemuk. Selain itu hasil riset kesehatan dasar tahun 2007 juga menunjukkan bahwa prevalensi kurus pada anak usia 6 sampai 14 tahun di perkotaan berjumlah 22,9%, sedangkan di pedesaan berjumlah 25, 3% (Direktorat Bina Kesehatan Masyarakat, 2010). Hal ini juga terjadi di kota Depok yang saat ini sedang maju pesat.

Sensus penduduk di kota Depok tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah penduduk kota Depok sebesar 1,7 juta jiwa, sedangkan pada tahun 2011 mencapai 1,8 juta jiwa. Badan Pusat Statistik (BPS) kota Depok tahun 2011 mengungkapkan bahwa penduduk terbesar di kota Depok adalah Kecamatan Cimanggis 242.214 orang (13,95%). Kelurahan Cisalak Pasar di Kecamatan Cimanggis memiliki penduduk sebanyak 17.869 jiwa (7,4%). Berdasarkan jumlah penduduk tersebut didapatkan jumlah anak usia sekolah (6-12 tahun) sekitar 3066 jiwa (17,2%) (Laporan Rekapitulasi Penduduk Kelurahan Cisalak Pasar Kecamatan Cimanggis Kota Depok, 2011).

Pengkajian yang dilakukan di Cisalak Pasar khususnya RW 03 pada tanggal 15 dan 16 Mei 2013 menunjukkan bahwa terdapat 19 anak yang mengalami masalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan dari 47 anak yang di skrining status gizinya. Data tersebut diperoleh dari hasil pengukuran berat dan tinggi badan anak, sehingga diperoleh nilai IMT yang selanjutnya disesuaikan dengan usia anak. Pengkajian dilakukan dengan menggunakan tabel data antropometri anak usia sekolah dari Kemenkes RI. Dari hasi tersebut menunjukkan bahwa 19 anak tersebut status nutrisinya berada di bawah -3 standar deviasi. Sebagian dari anak-anak tersebut kemudian dikelola oleh mahasiswa untuk diberikan asuhan keperawatan keluarga selama kurang lebih enam minggu.

(13)

3

Universitas Indonesia

Asuhan keperawatan keluarga yang diberikan berfokus pada anggota keluarga yang mengalami ketidakseimbangan nutrisi khususnya yang kurang dari kebutuhan. Asuhan keperawatan dilakukan mulai dari pengkajian, penentuan diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, sampai tahap evaluasi. Asuhan keperawatan keluarga merupakan sentral pelayanan keperawatan, sehingga disfungsi apapun yang terjadi di keluarga akan berdampak pada satu atau lebih anggota keluarga secara keseluruhan. Keluarga sendiri memiliki pengertian sebagai sekumpulan orang yang dihubungkan oleh perkawinan, adopsi dan kelahiran yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial dari individu-individu yang ada di dalamnya terlihat dari pola interaksi yang saling ketergantungan untuk mencapai tujuan bersama (Friedman, Bowden, & Jones, 2003). Karena itulah peran keluarga dianggap sangat penting.

Kasus gizi kurang yang dialami seorang anak pada sebuah keluarga merupakan tanggung jawab orang tuanya. Akibat dari gizi kurang pada anak antara lain daya tahan tubuh kurang, gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan, mudah terserang penyakit, prestasi belajar menurun, serta perilaku tidak tenang, mudah tersinggung, cengeng, dan sering bingung (Wong, Hockenberry, & Wilson, 2002). Begitu besarnya akibat dari ketidakseimbangan nutrisi pada pertumbuhan dan perkembangan anak maka seharusnya orang tua lebih memperhatikan asupan gizi pada anaknya. Namun dinamika masyarakat diperkotaan saat ini orang tua lebih banyak waktu untuk bekerja daripada mengurus anaknya. Hal ini juga terjadi di kelurahan Cisalak Pasar khususnya pada keluarga yang menjadi kelolaan.

Keluarga yang dipilih menjadi keluarga kelolaan yaitu keluarga Bapak T. Keluarga ini merupakan keluarga inti yang terdiri dari Bapak T (kepala keluarga), Ibu S (istri), An. R( anak 14 tahun), dan An. S (8 tahun). Anggota keluarga Bapak T yang mengalami gizi kurang yaitu An. S. Hal ini dibuktikan dengan hasil pengukuran berat badan An. S 16 kg dan tinggi badan 113 cm.

(14)

Kemudian dihitung nilai IMT dari nilai berat badan dan tinggi badan yang didapat, dan disesuaikan dengan umur (IMT/U) menggunakan tabel antropometri NCHS dari Kemenkes RI diketahui bahwa An. S berada pada rentang -3 standar deviasi sampai -2 standar deviasi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa An.S dinyatakan kurus dengan berat badan dan tinggi badan tidak sesuai dengan usia anak.

Berdasarkan data tersebut maka diagnosa keperawatan yang ditegakkan yaitu ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan pada An.S. Rencana intervensi dibuat untuk membantu keluarga dalam mengatasi masalah yang dihadapi. Pelaksanaan intervensi dilakukan sebanyak 5 kali kunjungan rumah. Intervensi yang menjadi unggulan yaitu pendidikan kesehatan tentang gizi seimbang. Pendidikan kesehatan yang dilakukan dengan menggunakan metode diskusi, menyusun bahan makanan berdasarkan konsep triguna makanan, demonstrasi cara mengolah makanan, dan menyusun jadwal menu masak harian. Hasil evaluasi asuhan keperawatan yang dilakukan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan keluarga tentang gizi seimbang dan pada akhir pengukuran berat badan An.S mengalami peningkatan yaitu menjadi 17 kg.

Penjelasan lengkap tentang asuhan keperawatan yang diberikan kepada keluarga Bapak T akan dipaparkan dalam karya ilmiah ini. Asuhan keperawatan keluarga yang diberikan bertujuan untuk membantu keluarga menyelesaikan masalah kesehatan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan pada keluarga Bapak T khususnya An. S. Proses asuhan keperawatan akan dijelaskan mulai dari pengkajian, diagnosa masalah, rencana kepewaratan, implementasi keperawatan, sampai pada evaluai hasil tindakan keperawatan yang telah diberikan.

(15)

5

Universitas Indonesia

1.2 Perumusan masalah

Dinamika masyarakat perkotaan yaitu memiliki aktivitas yang padat dan sibuk dengan urusan pekerjaan. Padatnya aktivitas tersebut menyebabkan masyarakat ingin segala sesuatu menjadi praktis dan cepat, termasuk dalam hal makan. Karena itu banya masyarakat perkootaan yang memilih untuk mengkonsumsi makanan cepat saji dan tidak lagi memikirkan kandungan gizi dalam makanan tersebut. Hal ini sangat berbahaya karena dapat menimbulkan masalah kesehatan, khususnya bagi anak-anak.Pada usia anak sekolah variasi individu lebih mudah dikenali seperti pertumbuhan, perkembangan, pola aktivitas, kebutuhan gizi, kepribadian, dan asupan makanan. Oleh karena itu, masalah kesehatan yang sering muncul pada anak usia sekolah yaitu masalah gizi atau asupan nutrisi. Jika asupan gizi pada anak kurang, maka dapat mengakibatkan masalah pada pertumbuhan dan perkembangan anak, selain itu prestasi belajar anak juga akan mengalami penurunan. Keluarga merupakan unit terpenting untuk bertanggung jawab dalam pemenuhan asupan nutrisi pada anak. Karena itu penulis melakukan asuhan keperawatan keluarga pada keluarga Bapak T khususnya An. S yang mengalami ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan.

1.3 Tujuan penulisan

Karya ilmiah ini dibuat dengan beberapa tujuan: 1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum karya ilmiah ini adalah untuk menggambarkan hasil asuhan keperawatan keluarga khususnya dengan anak usia sekolah yang memiliki masalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan.

1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus karya ilmiah ini adalah untuk memaparkan asuhan keperawatan keluarga yang terdiri dari:

(16)

b. Perencanaan keperawatan yang akan diberikan kepada keluarga Bapak T

c. Implementasi keperawatan yang diberikan kepada keluarga Bapak T d. Evaluasi keperawatan yang telah diberikan kepada keluarga Bapak T

1.4 Manfaat penulisan

Karya ilmiah ini dibuat dengan beberapa manfaat: a. Pendidikan

Hasil penulisan karya ilmiah ini bermanfaat bagi dunia pendidikan sebagai sumber informasi untuk belajar tentang penerapan asuhan keperawatan keluarga yang memiliki masalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan khususnya pada agregate anak usia sekolah.

b. Pelayanan

Hasil penulisan karya ilmiah ini memberikan manfaat untuk menambah sumber informasi bagi dunia keperawatan khususnya keperawatan komunitas dalam menangani kasus keluarga di perkotaan dengan masalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan pada agregat anak usia sekolah.

c. Penelitian

Karya ilmiah ini memberikan manfaat sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya yang memiliki tema sama yaitu asuhan keperawatan keluarga dengan masalah gizi pada anak usia sekolah.

(17)

7 Universitas Indonesia

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Keperawatan Kesehatam Masyarakat Perkotaan

Masyarakat perkotaan yaitu masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan, yang kegiatan utamanya bukan pertanian. Masyarakat pindah ke kota dan menjadi masyarakat urban dengan tujuan mempebaiki hidup dan mendapat pekerjaan yang layak (Allender & Spradley, 2010). Gejala urbanisasi di sebuah kota dapat dilihat dari jumlah penduduk yang terus bertambah, seperti yang saat ini terjadi di Kota Depok. Sensus penduduk di kota Depok tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah penduduk kota Depok sebesar 1,7 juta jiwa, sedangkan pada tahun 2011 sudah mencapai 1,8 juta jiwa (Badan Pusat Statistik, 2012).

Akibat dari kepadatan penduduk di daerah perkotaan yang tidak terkendali yaitu meningkatnya angka urbanisasi dan timbul perumahan-perumahan kumuh atau jumlah penduduk yang tinggal per kilometer perseginya lebih dari seribu jiwa. Tingkat aktivitas penduduk di perkotaan juga sangat tinggi bisa mencapai 24 jam setiap harinya, sehingga berdampak juga pada perilaku hidup penduduk yang tidak sehat (Allender & Spradley, 2010). Perilaku hidup penduduk di perkotaan yang tidak sehat misalnya banyak mengkonsumsi makanan cepat saji dan mengandung banyak bahan pengawet. Hal ini menjadi sangat beresiko terutama untuk anak-anak.

Konsep keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan sama halnya dengan konsep keperawatan komunitas. Hal ini karena masyarakat perkotaan merupakan komunitas yang tinggal di daerah perkotaan dengan segala keadaaan dan kondisi yang ada di lingkungan kota. Keperawatan komunitas adalah pelayanan keperawatan profesional yang ditujukan pada masyarakat dengan penekanan pada kelompok risiko tinggi dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal melalui pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan dengan menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan yang

(18)

dibutuhkan dan melibatkan klien sebagai mitra dalam pelaksanaan dan evaluasi pelayanan keperawatan (Anderson & Mc. Farlance, 2000).

Berdasarkan Allender dan Spradley (2010) keperawatan masyarakat perkotaan memiliki 8 karakteristik dan merupakan hal yang penting dalam melakukan praktik. Delapan karakteristik tersebut yaitu merupakan lahan keperawatan, merupakan kombinasi antara keperawatan publik dan keperawatan klinik, berfokus pada populasi, menekankan terhadap pencegahan akan penyakit serta adanya promosi kesehatan dan kesejahteraan diri, mempromosikan tanggung jawab klien dan self care, menggunakan pengesahan/pengukuran dan analisisi, menggunakan prinsip teori organisasi, dan melibatkan kolaborasi interpersonal.

2.2 Anak Usia Sekolah Sebagai Aggregate Beresiko

Setiap masa usia akan memiliki kerentanan terhadap masalah kesehatan, begitu pula dengan anak usia sekolah. Menurut United States Department of Health and Human Service (U.S. DHHS) (1989) dalam Potter dan Perry (2005) pada masa ini masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak-anak yaitu kecelakaan dan cedera, selain itu infeksi saluran pernapasan juga masih menjadi masalah infeksi utama pada masa kanak-kanak. Selanjutnya retardasi mental, gangguan belajar, kerusakan sensasi, dan malnutrisi merupakan prevalensi terbanyak pada anak-anak yang hidup dalam kemiskinan (U.S DHHS, 1992; Potter & Perry, 2005).

Masalah kesehatan yang terkait nutrisi rentan terjadi pada golongan anak usia sekolah sampai remaja. Kelompok remaja menunjukkan fase pertumbuhan pesat sehingga memerlukan zat-zat gizi relatif banyak (Moehji, 2003). Sedangkan anak sekolah biasanya mempunyai banyak perhatian dan aktivitas di luar rumah, shingga sering melupakan waktu makan (RSCM & PERSAGI, 2003). Anak usia sekolah mulai berhubungan dengan selain keluarga seperti guru, teman, pelatih, pengasuh, dan lainnya. Sehingga orang di luar keluarga tersebut turut mempengaruhi konsumsi makan anak (Brown, 2005).

(19)

9

Universitas Indonesia

Terdapat tiga strategi yang biasa dipakai oleh petugas keperawatan kesehatan anak pada komunitas. Menurut Stanhope dan Lancester (2004) Strategi tersebut meliputi home based service programs, program for homeless families, dan

day care and school setting.

a. Home-based Service Programs

Maksud dari program ini adalah kunjungan rumah. Pemberi layanan kesehatan mengunjungi rumah keluarga di suatu komunitas agar dapat memberikan pelayanan kesehatan baik promosi maupun edukasi sesuai dengan masalah kesehatan yang terjadi di rumah tersebut. Program kunjungan rumah ini menawarkan beberapa pelayanan sesuai dengan kebutuhan komunitasnya seperti monitoring status kesehatan dari populasi yang rentan, pendidikan dalam membesarkan anak, pelayanan konseling, dukungan sosial, pelayanan klinik, instruksi keamanan.

Home based programs telah menunjukkan penurunan angka kelahiran

premature dan berat badan bayi lahir rendah, memperbaiki kemampuan

parenting bagi orang tua, meningkatkan perkembangan anak yang

mengalami kesulitan dan menurunkan biaya perawatan (Olds, 1991) dalam Stanhope dan Lancester (2004). Intervensi dibuat berdasarkan pengkajian dari kebutuhan anak dan keluarga. Area yang bisa dikaji meliputi interakasi dan hubungan, lingkungan, dan ketepatan perkembangan.

b. Programs for Homeless Families

Anak-anak yang tinggal dengan orang tua yang tidak memiliki rumah biasanya tidak diimunisasi dan menderita gizi buruk. Mereka juga mengalami keterbatasan dalam mengakses pelayanan kesehatan. Pada umumnya anak-anak tersebut akan mengalami masalah kesehatan, bahaya lingkungan, dan stress yang kemudian menjadi homeless child syndrome (Redlener, 1991) dalam Stanhope dan Lancester (2004). Pelayanan kesehatan yang diberikan meliputi pemeriksaan fisik, tingkah laku dan pengkajian perkembangan, dukungan nutrisi, tes skrining, dan imunisasi (Stanhope & Lancester, 2004).

(20)

c. Day Care and School

Perawat kesehatan komunitas mendirikan program dan melayani sebagai sumber untuk day care centers dan sekolah. Perawat menyediakan informasi mengenai penyakit dan pencegahan luka kepada pemberi perwatan anak dan guru untuk memperbaiki kesehatan dan keamanan anak. Pendidikan untuk keluarga dari anak fokus pada strategi koping, seperti divisi responsibilitas, identifikasi frustasi, dan menghubungkan dengan perilaku yang menandakan stress dan tensi. Perawat sebagi posisi kunci untuk konsultasi dengan komunitas tersebut melayani sebagai sumber dari program perkembangan (Stanhope & Lancester, 2004).

2.3 Gizi Anak Sekolah 2.3.1 Gizi Seimbang

Gizi merupakan bahan makanan yang dibutuhkan tubuh. Pemberian makanan yang sebaik-baiknya harus memperhatikan kemampuan tubuh seseorang untuk mencerna makanan, umur, jenis kelamin, jenis aktivitas, dan kondisi tertentu seperti sakit, hamil, atau menyusui. Setiap orang memerlukan lima kelompok zat gizi (karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral) dalam jumlah yang cukup tidak berlebihan dan tidak juga kekurangan untuk meningkatkan kualitas hidup (Direktorat Bina Kesehatan Masyarakat, 2002).

Zat gizi terkandung dalam berbagai jenis makanan. Apabila konsumsi makanan sehari-hari kurang beranekaragam, maka akan menimbulkan ketidakseimbangan antara masukkan dan kebutuhan zat gizi yang diperlukan untuk hidup sehat dan produktif. Sebaliknya, apabila konsumsi makanan beranekargan maka kekurangan zat gizi pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi oleh zat gizi pada jenis makanan yang lain sehingga diperoleh masukan zat gizi yang seimbang. Karena itu untuk mencapai masukan zat gizi yang seimbang harus mengkonsumsi berbagai jenis makanan yang mengandung zat gizi yang berbeda-beda (Direktorat Bina Kesehatan Masyarakat, 2002).

(21)

11

Universitas Indonesia

Setiap jenis makanan memiliki peranan masing-masing dalam menyeimbangkan masukan zat gizi bagi tubuh. Peranan tersebut tergambar dalam logo gizi seimbang yang berbentuk kerucut atau tumpeng. Dalam tumpeng gizi seimbang tersebut, bahan makanan dikelompokkan berdasarkan fungsi utama zat gizi yang lebih dikenal dengan istilah “Triguna Makanan”. Triguna makan terdiri dari sumber zat tenaga, zat pengatur, dan zat pembangun (Direktorat Bina Kesehatan Masyarakat, 2002).

Berikut ini penjelasan manfaat dan contoh dari triguna makanan berdasarkan Pedoman Umum Gizi Seimbang tahun 2002 yang dikeluarkan oleh Direktorat Bina Kesehatan Masyarakat. Zat tenaga bermanfaat untuk memberikan energi pada tubuh. Energi yang dihasilkan oleh zat tenaga berguna untuk menunjang aktivitas sehari-hari seperti bekerja, belajar, dan bermain. Contoh bahan makanan sumber tenaga adalah padi-padian, umbi-umbian, dan tepung-tepungan. Zat pengatur bermanfaat untuk melancarkan kerja fungsi organ tubuh karena mengandung berbagai vitamin dan mineral. Makanan sumber zat pengatur adalah semua sayur-sayuran dan buah-buahan. Zat pembangun berperan penting dalam proses pertumbuhan, perkembangan, serta kecerdasan. Sumber bahan makanan yang mengandung zat pembangun berasal dari nabati adalh kacang-kacangan, tempe, dan tahu. Sedangkan sumber bahan makanan yang berasal dari hewan adalah telur, ikan, ayam, daging, susu beserta olahannya (Direktorat Bina Kesehatan Masyarakat, 2002).

Selain itu dalam pedoman umum gizi seimbang terdapat tiga belas pesan yang perlu diperhatikan yaitu makanlah aneka ragam makanan, makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi, makanlah makanan sumber karbohidrat, setengah dari kebutuhan energi, batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kecukupan energi, gunakan garam beryodium, makanlah makanan sumber zat besi, berikan ASI saja pada bayi sampai umur 4 bulan dan tambahkan MP-ASI sesudahnya, biasakan makan pagi, minumlah air bersih, aman yang cukup jumlahnya, lakukan aktivitas fisik secara teratur, hindari minuman yang beralkohol, makanlah makanan yang aman bagi kesehatan, bacalah label pada makanan yang dikemas (Direktorat Bina Kesehatan

(22)

Masyarakat, 2002). Ketiga belas pesan tersebut harus diperhatikan dalam menyediakan gizi seimbang untuk keluarga .

2.2.2 Gizi Kurang

Ada beberapa penyebab terjadinya gizi kurang pada anak sekolah. Salah satu penelitian menyatakan bahwa keluhan ibu pada kelompok anak usia sekolah biasanya karena anak kurang nafsu makan, sehingga sulit sekali disuruh makan yang cukup dan teratur (Sediaoetama, 2000). Sebuah penelitian pada anak usai sekolah dasar di Amerika diketahui bahwa 40% anak tidak makan sayur, 20% tidak makan buah dan 36% anak makan snack (Worthingthon, 2000).

Menurut Moehji (2003) terdapat tiga faktor yang dapat mempengaruhi atau memperburuk keadaan gizi pada anak usia sekolah. Faktor pertama yaitu pada usia ini anak sudah mampu memilih dan menentukan makanan yang disukai dan tidak disukai. Dalam hal ini sering kali anak memilih makanan yang salah, terlebih jika orang tua tidak memberi petunjuk atau bimbingan pada anak. Faktor kedua yaitu kebiasaan jajan pada anak. Jika jajanan yang dibeli merupakan makanan yang bersih dan bergizi maka tidak menjadi masalah, namun pada kenyataannya jajanan yang sering dibeli merupakan jajanan yang yang disukai oleh anak saja. Biasanya jajanan yang disukai anak adalah makanan yang manis dan gurih. Faktor ketiga yaitu malas makan di rumah dengan alasan sudah terlalu lelah bermain di sekolah.

Akbibat dari gizi kurang sangat berbahaya. Gizi kurang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan terutama pada masa anak usia sekolah. Pada usia 10 tahun perkembangan jaringan otak yang sehat disertai stimulasi akan mencapai 90 persen. Namun tanpa stimulasi perkembangan jaringan otak akan jauh di bawah persentase tersebut. Sedangkan stimulasi perkembangan diperoleh dari gizi bahan makanan yang dimakan. Selain itu pula dapat mengganggu proses pertumbuhan karena anak akan tampak kurus, pendek, dan produktivitas akan menurun. Gizi yang kurang pada tubuh juga dapat menyebabkan anak mudah terserang penyakit (Wong, Hockenberry, & Wilson,

(23)

13

Universitas Indonesia

2002). Oleh karena itu penting untuk menjaga keseimbangan gizi makanan yang dikonsumsi oleh anak.

2.4 Keluarga Dengan Anak Usia Sekolah

Keluarga memiliki tahapan dan setiap tahapan memiliki tugas perkembangan yang berbeda-beda. Seorang perawat keluarga harus memahami tugas perkembangan suatu keluarga berdasarkan tahapannya agar dapat memberikan intervensi yang sesuai sehingga dapat membantu keluarga mencapai tugas perkembangan sesuai dengan tahap perkembangannya (Potter & Perry, 2005). Menurut Potter dan Perry (2005) keluarga dengan anak pertama berusia sekolah merupakan keluarga tahap IV. Tugas perkembangan yang harus dicapai pada tahap ini antara lain yaitu mensosialisasikan anak termasuk meningkatkan prestasi sekolah dan mengembangkan hubungan dengan teman sebaya, mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan, memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga, membiasakan belajar teratur, dan memperhatikan anak saat menyelesaikan tugas sekolah.

Anak usia sekolah adalah anak pada rentang waktu pertengahan antara masa kanak-kanak menuju masa remaja awal. Periode anak usia sekolah dimulai saat anak berusia 6 sampai 12 tahun (Wong, Hockenberry, & Wilson, 2002). Menurut Hurlock (2006) anak usia sekolah termasuk dalam kelompok late

childhood yaitu usia 9 sampai 12 tahun apabila dikelompokkan berdasarkan

perkembangan psikologisnya.

Anak usia sekolah memiliki beberapa tugas perkembangan yang harus diselesaikan. Tugas-tugas perkembangan tersebut antara lain mengembangkan keterampilan sosial yang berimplikasi pada membangun rasa percaya diri, dan mengakui pencapaian yang diperolehnya (fase industri) atau anak berkembang tidak realistis pada pengharapan atau berlebihan terhadap kritik kasar sebagai petunjuk perhatian yang tidak adekuat (Hitchcock, Schubert, & Thomas, 1999). Berdasarkan Wong, Hockenberry, dan Wilson (2002) tahap perkembangan anak usia sekolah merupakan tahap ketika anak diarahkan menjauh dari

(24)

kelompok keluarga dan berpusat di dunia hubungan sebaya yang lebih luas. Selain itu terjadi pula penekanan terhadap perkembangan kompetensi keterampilan. Pada tahap ini kerja sama sosial dan perkembangan moral dini lebih penting. Periode ini merupakan periode kritis dalam perkembangan konsep diri. Berdasarkan hal tersebut maka perawat harus merancang intervensi peningkatan kesehatan berdasarkan tahap perkembangan anak. Anak usia sekolah juga mengalami proses pertumbuhan. Laju pertumbuhan selama tahun sekolah awal lebih lambat daripada setelah lahir. Akan tetapi pertumbuhan akan meningkat secara terus-menerus. Laju pertumbuhan setiap anak berbeda-beda. Rata-rata tinggi badan meningkat 5 cm per tahun dan berat badan meningkat 2-3,5 kg per tahun. Banyak anak yang berat badannya dua kali lipat selama anak dalam periode pertengahan (Potter & Perry, 2005).

2.5 Asuhan Keperawatan Keluarga

Keluarga merupakan suatu unit inti dalam masyarakat. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Dep Kes R.I, 2006).

Keluarga merupakan sentral pelayanan keperawatan. Hal ini karena keluarga merupakan sumber kritikal untuk pemberian pelayanan keperawatan, intervensi yang dilakukan pada keluarga merupakan hal penting untuk pemenuhan kebutuhan individu. Disfungsi apapun yang terjadi pada keluarga akan berdampak pada satu atau lebih anggota keluarga atau keseluruhan keluarga. Maksud dari kalimat tersebut bila ada satu orang yang sakit akan berpengaruh pada keluarga secara keseluruhan.

Karakteristik keluarga yang sehat adalah bila anggota keluarganya berinteraksi satu dengan yang lainnya maka setiap anggota keluarga akan terlibat dalam peran masing-masing secara fleksibel. Anggota keluarga juga selalu termotivasi untuk berkomunikasi dengan keluarga lainnya dan juga dengan masyarakat sekitar serta setiap anggota keluarga menguasi salah satu tugas

(25)

15

Universitas Indonesia

keluarga seperti pengambilan keputusan atau upaya pencarian informasi. Berdasarkan karakteristik keluarga tersebut maka asuhan keperawatan keluarga pun muncul dengan dilandaskan pada teori model Family Centre Nursing Friedman.

Gambar 2.4 Model Family Centre Nursing Friedman Sumber: Friedman, Bowden dan Jones (2003) Pengkajian keluarga:

 Identifikasi data sosiokultural  Data lingkungan

 Struktur keluarga  Fungsi keluarga

 Strategi koping dan stres keluarga

Pengkajian individu sebagai anggota keluarga:

 Mental

Sosial  Fisik

Spiritual  Emosi

Identifikasi keluarga, subsistem keluarga dan masalah kesehatan individu (diagnosa keperawatan)

Rencana tindakan:  Setting tujuan

 Identifikasi sumber daya  Alternatif pendekatan  Memilih alternatif tindakan  Prioritas masalah

Intervensi implementasi dari rencana tindakan

Identifikasi keluarga, subsistem keluarga dan masalah kesehatan individu (diagnosa keperawatan)

(26)

Model Family Centre Nursing Friedman seperti pada gambar 2.4 diatas menjelaskan bahwa keluarga sebagai suatu sistem sosial yang merupakan kelompok terkecil dari masyarakat. Menurut Friedman, Bowden, dan Jones (2003) keluarga merupakan sekumpulan orang yang dihubungkan karena perkawinan, adopsi dan kelahiran yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial dari individu yang didalamnya terlihat dari pola interaksi yang saling ketergantungan untuk mencapai tujuan bersama.

Data yang berhasil dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan diagram masalah untuk menyusun diagnosa keperawatan keluarga berdasarkan lima tugas perawatan keluarga seperti potensial, resiko, dan aktual. Tahap awal perencanaan adalah penyusunan tujuan. Rencana intervensi disusun berdasarkan tujuan khusus dengan menggunakan media informasi kesehatan seperti leaflet, buku panduan, booklet, maupun lembar balik. Media informasi berguna untuk merubah pengetahuan, sikap, dan tindakan keluarga terhadap masalah kesehatan yang dialami keluarga (Friedman, Bowden & Jones, 2003).

Implementasi keperawatan dilakukan untuk membantu memandirikan keluarga sesuai dengan cara yang telah direncanakan pada rencana intervensi. Dalam pelaksanaan intervensi keperawatan untuk keluarga perawat mengambil peran salah satunya sebagai pendidik. Perawat komunitas harus mampu memberikan informasi kesehatan yang dibutuhkan keluarga melalui pendidikan kesehatan dengan melakukan kunjungan rumah atau pada institusi formal (Stanhope & Lancaster, 2004). Fokus dan isi pendidikan kesehatan kepada keluarga meliputi peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, dan dampak dari penyakit (Friedman, Bowden, & Jones, 2003).

Implemntasi kegiatan asuhan keperawatan komunitas ditujukan untuk melakukan perubahan masyarakat baik perubahan pengetahun, sikap, dan perilaku kesehatan. Salah satu bentuk program kegiatan yang dilakukan perawat komunitas adalah melakukan pendidikan kesehatan kepada keluarga yang membutuhkan. Pendidikan kesehatan merupakan upaya persuasi atau pembelajaran kepada masyarakat agar masyarakat mau melakukan tindakan untuk memelihara dan

(27)

17

Universitas Indonesia

meningkatkan kesehatan. Berbagai media dapat digunakan untuk membantu transformasi pengetahuan dari perawat kepada masyarakat. Media yang dapat digunakan antara lain leaflet, poster, flipchart, lembar balik, pemutaran film, papan tulis, sticker, televisi, dan majalah (Notoadmojo, 2010).

Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan keluarga. Evaluasi menggambarkan keberhasilan dalam proses keperawatan keluarga dan dapat digunakan untuk perencanaan selanjutnya (Friedman, Bowden & Jones, 2003). Menurut Achjar (2010) evaluasi digunakan untuk mengetahui seberapa tujuan telah tercapai dan apakah ada intervensi yang dilakukan tidak efektif untuk keluarga setempat sesuai dengan kondisi dan situasi keluarga, apakah sesuai dengan rencana atau apakah dapat mengatasi masalah keluarga.

Evaluasi terdiri dari evaluasi formatif dan sumatif. Evaluasi formatif menghasilkan informasi untuk umpan balik selama program berlangsung dan didokumentasikan dalam catatan perkembangan keluarga dalam bentuk SOAP (subjektif, objektif, analisis, planning). Sedangkan evaluasi sumatif dilakukan setelah program selesai dan mendapatkan informasi tentang efektifitas pengambilan keputusan. Pengukuran efektifitas program dapat dilihat dengan cara mengevaluasi kesuksesan dalam pelaksanaan program (Friedman, Bowden & Jones, 2003).

Proses evaluasi terkahir yaitu tingkat kemandirian keluarga. Keberhasilan asuhan keperawatan keluarga yang dilakukan perawat dapat dinilai dari seberapa tingkat kemandirian keluarga dengan mengetahui kriteria atau ciri-ciri yang menjadi ketentuan tingkatan mulai dari tingkat kemandirian I sampai tingkat kemandirian IV. Terdapat tujuh kriteria tingkat kemandirian yaitu: 1) menerima petugas perawatan kesehatan masyarakat, 2) menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana keperawatan, 3) tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatan secara benar, 4) melakukan tindakan keperawatan sederhana sesuai yang dianjurkan, 5) memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan secara aktif, 6) melaksanakan tindakan pencegahan sesuai anjuran, dan 7) melakukan tindakan promotif secara aktif (Depkes R.I, 2006).

(28)

Berdasarkan tujuh kriteria tersebut, keluarga dibagi menjadi empat tingkat kemandirian. Keluarga mandiri tingkat I adalah apabila kriteria pertama dan kedua tercapai yaitu keluarga menerima petugas dan pelayanan keperawatan yang diberikan. Keluarga mandiri tingkat II adalah apabila kriteria pertama sampai kriteria kelima tercapai yaitu kriteria pada keluarga mandiri tingkat I ditambah dengan keluarga tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatan secara benar, melakukan tindakan keperawatan sederhana yang telah diajarkan, dan memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan secara aktif. Keluarga mandiri tingkat III yaitu apabila kriteria kesatu sampai keenam terpenuhi, yaitu sama dengan kriteria pada tingkat II ditambah dengan keluarga melaksanakan tindakan pencegahan sesuai anjuran. Keluarga mandiri tingkat empat yaitu apabila kesemua tujuh kriteria tingkat kemandirian keluarga terpenuhi yaiut keluarga sudah mampu melakukan tindakan promotif secara aktif (Depkes R.I, 2006).

(29)

28 Universitas Indonesia

BAB 3

LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA

3.1 Pengkajian

Keluarga Bapak T (42 tahun) menjadi keluarga kelolaan selama sekitar enam pekan. Rumah Bapak T bertempat di Jalan Bulak Duren II RT 06 RW 03 kelurahan Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis. Bapak T tinggal berempat di dalam rumahnya. Ketiga anggota keluarga yang lain yaitu Ibu S (37 tahun) istri dari Bapak T, An. R (14 tahun) dan An. S (8 tahun) yang merupakan anak kandung dari Bapak T. Dengan demikian keluarga Bapak T merupakan tipe keluarga inti dengan tahap perkembangan V yaitu keluarga dengan anak pertama usia remaja.

Keluarga juga memiliki beberapa riawayat kesehatan. Saat ini Ibu S sedang hamil anak ke-3 dimana usia kehamilan sudah mencapai 20 minggu. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik dan wawancara Ibu S tidak memiliki keluahan maupun data abnormal untuk masalah kesehatan Ibu dan bayinya. An. R memiliki riwayat gastritis. Menurut Ibu S sewaktu kecil An. R sangat kurus dan pernah masuk rumah sakit sampai harus dirawat karena mengalami sakit maag (gastritis). Namun hasil pemeriksaan saat ini An. R berada pada kondisi sehat. An. S adalah anak bungsu dari Bapak T yang saat ini sedang duduk di kelas 2 SD. Saat dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan data bahwa berat badan An. S adalah 16 kg dan tinggi badannya 113 cm. Kemudian dihitung nilai indeks massa tubuh dari nilai berat badan dan tinggi badan yang didapat, dan disesuaikan dengan umur (IMT/U) menggunakan tabel antropometri NCHS dari Kementrian Kesehatan RI diketahui bahwa An. S berada pada rentang -3 standar deviasi sampai -2standar deviasi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa An.S dinyatakan kurus dengan berat badan dan tinggi badan tidak sesuai dengan usia anak. Saat berusia 7 tahun An. S pernah dirawat di rumah sakit karena masalah pencernaan.

(30)

Hasil wawancara dengan Ibu S pada saat pengkajian diketahui bahwa terdapat beberapa data maladaptif pada keluarga Bapak T yang berkaitan dengan kondisi gizi kurang pada An. S. Ibu S mengatakan bahwa An. S susah makan dan sering tidak menghabiskan makanan yang diberikan. Ibu S mengakui bahwa beliau jarang masak karena repot. Selama ini Ibu S sering membeli masakan jadi di warung sambil pulang dari menjemput An. S sekolah. Ibu juga mengakui bahwa ia tidak pernah menyuruh anak-anaknya makan. Ibu akan memberi anaknya makan hanya jika anak meminta. Namun Ibu S bercerita pernah suatu malam An. S mengatakan lapar pada ibunya. Saat itu sudah malam sekali sehingga Ibu S malas untuk menyiapkannya dan mengacuhkan saja permintaan An. S. Berdasarkan pernyataan Ibu S, keluarga juga tidak memiliki waktu makan bersama.

Selanjutnya pengkajian terkait pengetahuan keluarga tentang gizi seimbang. Ibu S sebagai sumber informasi utama mengatakan bahwa Ibu tidak tahu pengertian gizi dan gizi seimbang. Ibu S mengatakan gizi kurang yaitu memiliki badan yang kurus. Ibu S mengaku tidak tahu akibat dari gizi kurang dan mengatakan bahwa penyebab gizi kurang karena hanya makan sedikit. Ibu menyatakan tidak tahu bagaimana cara merawat anak dengan gizi kurang. Ibu mengungkapkan bingung kenapa anaknya susah sekali makan dan tidak tahu harus berbuat apa, sehingga tidak berbuat apa-apa dan membiarkan saja kondisi tersebut.

Lingkungan rumah Bapak T cukup bersih. Hanya saja ada polusi udara hasil dari limbah produksi tempe. Bapak T dan tetangganya adalah produsen tempe yang sehari-hari pekerjaannya membuat tempe di rumah. Hal ini juga yang menyebabkan An. S tidak suka tempe karena menurut An. S rasanya pahit dan bau. Di lingkungan sekitar rumah banyak anak-anak kecil sebaya dengan An. S. Seringkali ketika dilakukan kunjungan rumah, An. S sedang bermain dengan teman-temannya. Ketika dilakukan skrining awal, didapatkan data bahwa banyak anak-anak di lingkungan tersebut yang bertubuh kurus.

(31)

21

Universitas Indonesia

3.2 Perencanaan

Berdasarkan data-data dari hasil pengkajian maka diagnosa keperawatan utama pada keluarga Bapak T adalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan pada An. S. Kemudain untuk menyelesaikan masalah tersebut maka disusunlah rencana intervensi untuk melakukan asuhan keperawatan keluarga pada keluarga Bapak T khususnya An.S.

Rencana asuhan keperawatan yang dibuat memiliki tujuan umum dan beberapa tujuan khusus. Tujuan umum atau tujuan jangka panjang dari rencana asuhan keperawatan ini yaitu agar setelah dilakukan intervensi keperawatan, keluarga mampu memenuhi kebutuhan nutrisi An. S yang ditandai dengan peningkatan berat badan. Tujuan khusus ataupun tujuan jangka pendek yang dibuat mengacu pada lima tugas keluarga.

Tujuan khusus dari intervensi ini yaitu setelah dilakukan perawatan diharapkan keluarga dapat mengenal masalah kurang gizi sebagai tugas keluarga kesatu. Kemudian tujuan khusus kedua atau tugas keluarga kedua yaitu keluarga mampu mengambil keputusan untuk merawat keluarga yang mengalami kurang gizi. Tugas ketiga yaitu keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kurang gizi. Tugas keempat adalah keluarga mampu memodifikasi lingkungan untuk merawat anggota keluarga yang mengalami kurang gizi. Tugas kelima yaitu tujuan khusus kelima adalah keluarga mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada.

Tujuan khusus pertama yaitu keluarga mampu mengenal masalah kurang gizi. Pada tujuan pertama ini, diharapkan keluarga mampu menyebutkan definisi gizi yaitu zat-zat yang ada di dalam makanan yang diperlukan tubuh untuk kelangsungan hidupnya. Kemudian keluarga diharapkan dapat menyebutkan kembali pengertian kurang gizi yaitu suatu keadaan dimana tubuh tidak mendapatkan zat-zat tubuh tertentu dari makanan. Keluarga juga diharapkan dapat menyebutkan tanda dan gejala pada masalah kurang gizi yaitu badan kurus tidak mau makan, rambut tipis dan mudah rontok, lemah dan pucat, kulit kering dan kusam, pusing, kaki, tangan, dan sekitar mata bengkak, otot mengecil atau

(32)

lembek. Keluarga juga diharapkan dapat menyebutkan penyebab timbulnya masalah kurang gizi yang terdiri dari makanan yang masuk ke dalam tubuh kurang dari kebutuhan, pemilihn, pengolahan bahan makanan dan penyimpanan makanan tidak tepat, komposisi makanan yang tidak seimbang, makan tidak teratur, memiliki penyakit tertentu, dan pola asuh yang salah. Dan yang terakhir, keluarga diminta untuk dapat mengidentifikasi anggota keluarga yang mengalami kurang gizi.

Tujuan khusus kedua yaitu keluarga mampu mengambil keputusan untuk merawat anggota keluarga yang mengalami kurang gizi. Dalam upaya mencapai tujuan tersebut, keluarga dijelaskan akibat dari kurang gizi yaitu daya tahan tubuh kurang, gangguan pertumbuhan, mudah terserang penyakit, prestasi belajar menurun, perilaku tidak tenang, mudah tersinggung, cengeng, dan sering bingung. Setelah dijelaskan keluarga diminta agar dapat mengulang kembali hingga keluarga dapat memutuskan untuk merawat anggota keluarga yang mengalami kurang gizi.

Tujuan khusus ketiga adalah keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kurang gizi. Langkah yang pertama yaitu keluarga dapat menyebutkan cara mengatasi masalah kurang gizi yaitu dengan man makanan yang seimbang (triguna makanan), makanan sesuai dengan kebutuhan anak, makan yang teratur, dan menggunakan prinsip penyajian makanan. Kemudian keluarga dijelaskan tentang gizi seimbang dan triguna makanan sehingga mampu mengelompokkan bahan makanan yang disediakan berdasarkan konsep triguna makanan. Kemudian keluarga akan diajarkan cara memilih makanan yang benar serta cara mengolah makanan yang benar. Setelah itu akan dilakukan demonstrasi cara mengolah makanan yang benar yaitu demo masak sayur bayam.

Tujuan khusus keempat yaitu keluarga mampu memodifikasi lingkungan untuk merawat anggota keluarga yang mengalami kurang gizi. Keluarga akan dijelaskan cara penyajian makanan yaitu jenis makanan bervariasi, mengkombinasikan jenis makanan hewani dan nabati, perhatikan jadwal menu makanan, jumlah makanan sesuai dengan kebutuhan. Selain itu akan dijelaskan pula cara mengatasi anak yang tidak mau makan. Cara untuk mengatasinya yaitu jangan dipaksa tapi ikuti

(33)

23

Universitas Indonesia

keinginan anak misalnya sambil bermain, beri makan sesuai selera anak dan tidak membosankan, jangan memberi makanan manis sebelum makan, sajikan makanan dalam bentuk menarik, berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering. Kemudian keluarga diajarkan agar dapat memodifikasi lingkungan yang mendukung untuk meningkatkan status gizi anak dengan cara makan bersama anggota keluarga lain, menggunakan alat makan yang menarik, makan sambil bercerita, jenis makanan bervariasi dan menarik, dan yang terakhir yaitu membuat jadwal makan anak dan jadwal menu makanan yang akan dimasak oleh ibu.

Tujuan khusus kelima yaitu keluarga mampu menggunakan fasilitas kesehatan yang ada untuk meningkatkan status gizi anak. Keluarga harus mampu menyebutkan fasilitas pelayanan kesehatan yang terdapat disekitar lingkungan tempat tinggal terkait dengan peningkatan status gizi anak. Keluarga dapat menyebutkan fasilitas kesehatan yang dapat dikunjungi seperti puskesmas, rumah sakit, dan klinik dokter. Keluarga dapat menyebutkan manfaat mengunjungi fasilitas pelayanan kesehatan yaitu mendapatkan pemeriksaan kesehatan anak dan mendapatkan penyuluhan atau pendidikan kesehatan. Dan yang terakhir keluarga bersedia mengunjungi pelayanan kesehatan untuk pemeriksaan kesehatan anak atau anggota keluarga yang lain.

3.3 Implementasi

Pelaksanaan rencana keperawatan dilakukan pertama kali pada tanggal 30 Mei 2013. Padaa saat pemberian implementasi anggota keluarga yang hadir yaitu Bapak T, Ibu S, An. S, An. R dan beberapa teman An. S ikut melihat. Implementasi pertama dilakukan dengan menjelaskan tujuan khusus kesatu sampai ketiga.

Penjelasan tujuan khusus kesatu yaitu mengenal masalah dimulai dengan menjelaskan pengertian gizi dan gizi kurang (seperti yang telah dijelaskan dibagian perencanaan). Setelah yakin keluarga paham, kemudian dilanjutkan dengan menjelaskan tanda dan gejala kurang gizi. Setelah dijelaskan, ibu diminta untuk menyebutkan mana diantara tanda-tanda tersebut yang terdapat pada An.S.

(34)

Setelah itu keluarga dijelaskan mengenai penyebab timbulnya masalah kurang gizi. Dan terakhir, keluarga diminta untuk mengidentifikasi anggota keluarga yang mengalami masalah kurang gizi. Setelah keluarga berhasil menyebutkan anggota keluarga yang mengalami masalah kurang gizi, maka dilanjutkan pada penjelasan tujuan khusus yang kedua.

Tujuan khusus yang kedua yaitu keluarga mampu mengambil keputusan dalam merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kurang gizi. Sebelumnya keluarga dijelaskan terlebih dahulu tentang akibat dari kurang gizi. Keluarga diajak berdiskusi bersama. Mahasiswa menanyakan kepada keluarga, akibat dari kurang gizi yang mana yang sudah tampak pada An. S. Keluarga menyebutkan dua akibat yaitu prestasi belajar menurun dan bertubuh kecil. Selanjutnya maka keluarga mengambil keputusannya untuk merawat An. S yang mengalami masalah kurang gizi.

Tujuan khusus yang ketiga yaitu keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kurang gizi. Pertama keluarga dijelaskan tentang 4 cara mengatasi kurang gizi yaitu makan makanan yang seimbang, makan sesuai dengan kebutuhan tubuh, makan yang teratur, dan menggunakan prinsip penyajian makanan. Setelah itu keluarga dijelaskan tentang gizi seimbang dan konsep triguna makanan beserta contohnya, serta prinsip cara mengatasi anak yang tidak mau makan. Kemudian keluarga diminta untuk mengklasifikasikan bahan makanan berdasarkan konsep triguna makanan.

Kegiatan mengklasifikasikan bahan makanan berlangsung seru dan ramai karena melibatkan seluruh anggota keluarga. Mahasiswa menggunakan bahan makanan tiruan (foodmodel) yang dipinjam dari kampus. Sebelumnya mahasiswa juga menyiapkan tiga kertas bertuliskan zat tanaga, zat pengatur, dan zat pembangun. Mahasiswa kemudian meletakkan ketiga kertas tersebut berurutan. Dan selanjutnya tugas keluarga untuk mengelompokkan bahan makanan yang tersedia ke dalam masing-masing kelompok zat makanan.

Implementasi kedua dilakukan pada tanggal 3 Juni 2013. Pertemuan dimulai dengan menjelas kepada keluarga tentang cara memilih dan mengolah makanan

(35)

25

Universitas Indonesia

yang benar. Setelah keluarga paham maka, kegiatan berikutnya yaitu mendemonstrasikan cara mengolah makanan yang benar. Pada kegiatan ini perawat dan keluarga mengolah makanan sederhana yaitu memasak sayur bayam. Cara yang dilakukan yaitu sayuran dicuci di air mengalir kemudian dipotong-potong dan dimasukkan saat air mendidih. Sebelumnya masukkan terlebih dahulu bawang merah, bawang putih, cabai, garam, dan secukupnya. dan diangkat saat sayuran tidak menjadi layu. Setelah selesai memasak, keluarga diberi penjelasan tentang tujuan khusus empat dan lima. Kemudian membuat kontrak untuk pertemuan selanjutnya menyusun menu dan jadwal makan untuk An. S dalam rangka memodifikasi lingkungan untuk mencapai tujuan khusus ke empat.

Implementasi berikutnya dilaksanakan tanggal 10 Juni 2013. Pada pertemuan ini, keluarga dijelaskan tentang cara memodifikasi lingkungan untuk menciptakan suasana yang sesuai dalam merawat anggota keluarga dengan gizi kurang. Terdapat empat cara yang dijalaskan dalam memodifikasi lingkungan yaitu makan bersama anggota keluarga lain, menggunakan alat makan yang menarik, makan sambil bercerita, dan jenis makanan bervariasi serta menarik, serta makan sesuai jadwal. Setelah itu mahasiswa masuk ke tujuan khusus kelima yaitu menjelaskan maanfaat pelayanan kesehatan bagi keluarga. Setelah keluarga menyatakan paham terhadap penjelasan yang diberikan, maka kegiatan dilanjutkan.

Kegiatan selanjutnya yaitu menyusun menu dan jadwal makan An. S. Keluarga diminta untuk menyusun rencana menu masakan yang akan dimasak Ibu S selama seminggu. Rencana menu masakkan dituliskan ke dalam tabel rencana sesuai dengan jadwal makan anak yaitu pagi, siang, dan sore. Disebelah kolom menu terdapat kolom catatan untuk menuliskan hal yang terjadi nanti apakah Ibu memasak makanan sesuai rencana atau ada perubahan. Setiap makanan yang dimakan An. S pada jam makan, maka jenis makanan tersebut dituliskan di kolom catatan.

Selain implementasi yang dilakukan di rumah keluarga Bapak T, keluarga juga diikutkan dalam implementasi kelompok di komunitas RW 03. Implementasi kelompok yang pertama pada tanggal 1 Juni 2013 yaitu penyuluhan gizi seimbang dan memimilih jajanan sehat. Sasaran implementasi ini adalah anak-anak usia

(36)

sekolah di RW 03. An. S ikut hadir pada acara ini dengan didampingi oleh Ibu S. Penyuluhan tentang gizi seimbang disampaikan dengan metode dongeng menggunakan over head projector. Setelah penyuluhan selesai dilanjutkan dengan lomba menyusun puzzle piramida makanan, dan lomba memilih jajanan sehat di warung mini yang disediakan mahasiswa.

Implementasi kelompok yang kedua pada tanggal 12 Juni 2013 yaitu penyuluhan gizi seimbang dan demonstrasi pembuatan nugget tempe. Sasaran implementasi ini yaitu ibu-ibu di RW 03 yang memiliki anak usia sekolah. Namun, Ibu S tidak datang pada acara ini karena harus menjemput An. S pulang sekolah. Hal ini langsung ditindak lanjuti dengan melakukan kunjungan rumah ke keluarga Bapak S setelah selesai acara. Perawat datang membawakan leaflet yaang dibagikan saat acara implementasi berisi materi tentang gizi seimbang dan resep pembuatan nugget tempe. Perawat juga membawakan nugget tempe yang sudah jadi untuk dicoba oleh An. S dan anggota keluarga yang lain.

3.4 Evaluasi

Kegiatan evaluasi yang dilakukan yaitu evaluasi formatif, sumatif, dan tingkat kemandirian. Evaluasi formatif dilakukan sesaat setelah pemberian intervensi pada setiap waktu implementasinya. Evaluasi sumatif dilakukan diakhir pertemuan dengan keluarga sekaligus terminasi yaitu pada tanggal 20 Juni. Tingkat kemandirian keluarga kemudian dinilai setelah menyusun semua laporan dengan memperhatikan kesuksesan berdasarkan catatan perkembangan keluarga. Saat dilakukan implementasi pertama yaitu penjelasan tentang tujuan khusus 1sampai 3 dengan masalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan pada keluarga Bapak T perawat langsung mengevaluasi pemahanan keluarga saat itu juga. Hasil dari evaluasi dibuat buat dalam bentuk laporan subjektif, objektif, analisis, dan planning. Analisis dari evaluasi subjektif dan objektif diketahui bahwa masalah teratasi sebagian dan tujuan khusus kesatu sampai ketiga tercapai. Rencana pertemuan selanjutnya adalah demontrasi cara mengolah makanan yang benar.

(37)

27

Universitas Indonesia

Evaluasi implementasi kedua yaitu kegiatan demonstrasi cara mengolah makanan. Perawat bersama keluarga khususnya Ibu S bersama-sama mendemonstrasikan cara memasak sayur bayam. Pertama mahasiswa mencontohkan cara membersihkan bayam sebelum dipotong potong. Setelah sebagian bayam dicuci mahasiswa, sebagiannya lagi Ibu S yang mencuci. Tampak Ibu S mampu membersihkan bayam dengan baik dan benar. Setelah itu saat memasak bayam, ditunggu dahulu sampai air rebusan mendidih baru bayam dimasukkan kedalam panci. Panci ditutup sebentar lebih kurang selama 2 menit tepatnya sebelum bayam menjadi layu maka api kompor dimatikan dan tutup panci dibuka. Keluarga mengatakan baru tahu jika harus sebentar sekali memasaknya. Selama ini ditunggu sampai layu sekali bayamnya baru dimatikan api kompornya. Analisis kegiatan ini yaitu tujuan khusus ketiga yaitu mendemonstrasikan cara mengolah makanan tercapai. Rencana pertemuan selanjutnya yaitu penjelasan tujuan khusus keempat dan kelima. Kegiatan modifikasi lingkungan yang dipilih yaitu menyusun menu makanan untuk An. S.

Evaluasi implementasi yang ketiga yaitu memodifikasi lingkungan dan memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan. Pengetahuan keluarga sudah baik setelah dievaluasi secara kognitif langsung setelah penjelasan selesai. Namun untuk psikomotor keluarga belum berhasil menerapkan dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan tidak dipatuhinya beberapa jadwal makan dan masakkan yang telah dibuat bersama-sama. Mahasiswa menemukan ini saat dilakukan kunjungan tidak terencana ke rumah keluarga Bapak T pada tanggal 14 Juni 2013.

Evaluasi keseluruhan atau evaluasi sumatif dilakukan pada tanggal 20 Juni 2013. Hasilnya menunjukkan bahwa keluarga Bapak T secara kognitif sudah mengetahui tentang gizi seimbang. Kemajuan yang dapat dilihat yaitu Ibu S mengatakan apabila tidak ada sayur pada menu hari itu, maka Ibu S akan menggantinya dengan buah yang dibeli di pasar. Evaluasi berat badan An. S pada akhir pertemuan naik 1 kg dari 16 kg menjadi 17 kg. Berdasarkan data-data tersebut maka tingkat kemandirian keluarga Bapak T berada pada tingkat kemandirian ketiga.

(38)

BAB 4

ANALISIS SITUASI

4.1 Profil Lahan Praktek

Lahan praktek yang digunakan adalah RW 03 kelurahan Cisalak Pasar kecamatan Cimanggis. Daerah Cimanggis merupakan daerah padat penduduk di kota Depok. Badan Pusat Statistik (BPS) kota Depok tahun 2011 mengungkapkan bahwa penduduk terbesar di kota Depok adalah Kecamatan Cimanggisyaitu 242.214 orang (13,95%). Kelurahan Cisalak Pasar di Kecamatan Cimanggis memiliki penduduk sebanyak 17.869 jiwa (7,4%). Berdasarkan jumlah penduduk tersebut didapatkan jumlah anak usia sekolah (6-12 tahun) sekitar 3066 jiwa (17,2%) (Laporan Rekapitulasi Penduduk Kelurahan Cisalak Pasar Kecamatan Cimanggis Kota Depok, 2011).

Lokasi RW 03 Cisalak Pasar sangat strategis. Hal ini karena terdapat pasar yang cukup besar di kelurahan ini. Selain itu bagian depan dilintasi oleh jalan raya Bogor, bagian samping dilalui jalan pintu masuk tol Cijago. Letak puskesmas pun mudah dijangkau karena berada dipinggir jalan raya Bogor yang dilewati berbagai angkutan umum.

Puskesmas Cimanggis memiliki bagian khusus program gizi yang dikelola oleh satu orang pegawai. Berdasarkan hasil pengkajian selama di mahasiswa bertugas di Puskesma diketahui bahwa bagian Program Gizi di Puskesmas Cimanggis tidak memiliki rancangan kegiatan untuk gizi anak usia sekolah. Selama ini anak usia sekolah datang berobat masuk kedalam klinik anak namun tidak dilakukan skrining gizi pada anak usia sekolah yang berkunjung. Namun selama mahasiswa praktik, mahasiswa sudah melakukan kegiatan skrining status gizi pada anak usia sekolah dan memberikan pendidikan kesehatan tentang gizi seimbang bagi anak yang teridentifikasi mengalami masalah ketidakseimbangan nutrisi. Hal tersebut juga telah diajarkan dan disosialisasikan kepada perawat yang bertugas di poli anak, sehingga untuk kedepannya kegiatan dapat dilanjutkan dan masalah nutrisi pada anak usia sekolah di kelurahan Cisalak Pasar dapat teratasi.

(39)

29

Universitas Indonesia

Sebagian besar penduduk RW 03 bersuku Jawa. Mereka mengaku merantau ke Jakarta untuk mencari kerja. Hal ini didukung dengan banyaknya kontrakan di daerah RW 03 yang berbentuk rumah petakkan. Warga RW 03 memiliki variasi perkerjaan seperti pekerjaan tetap dan tidak tetap. Banyak warganya bekerja sebagai karyawan sedang yang lain bekerja sebagai buruh pabrik di Jakarta, tukang ojek, wiraswasta dengan berdagang (warung sayur dan kelontongan). Rata-rata penghasilan warga setempat adalah menengah ke bawah. Menurut sebagian warga penghasilan yang mereka dapatkan sudah lumayan cukup untuk kehidupan mereka. Selain itu ditemukan ada lebih dari 10 warga yang memiliki

home industri pembuatan tempe.

Keluarga Bapak T merupakan salah satu yang memiliki usaha pembuatan tempe di rumahnya. Setiap hari Bapak T mengeloh 50kg kacang kedelai untuk dibuat menjadi tempe. Bapak T mengolah sendiri tempenya dengan dibantu oleh Ibu S. Produksi tempe biasanya dimulai jam 13.00. Kemudian Bapak T akan membawa tempe-tempenya jam 02.00 dini hari ke pasar terdekat yaitu di Cisalak pasar. Hal ini yang menjadi alasan Ibu S tidak sempat masak karena sibuk membantu Bapak membuat tempe. Selain itu Ibu S mengatakan banyak warung nasi didekat rumahnya , sehingga Ibu S sering membeli sayur dan lauk-pauk sambil pulang dari menjemput An. S sekolah.

4.2 Analisis Masalah Keperawatan dengan Konsep Terkait KKMP dan Konsep Kasus Terkait

Masalah kesehatan pada keluarga Bapak T adalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan pada An. S. Keluarga tinggal dipinggiran kota Depok yaitu kelurahan Cisalak Pasar kecamatan Cimanggis. Kota Depok saat ini sedang berkembang dengan pesat dan terjadi peningkatan jumlah penduduk yang signifikan setiap tahunnya. Hal ini juga berdampak pada daerah kecamatan Cimanggis yang berada dekat dengan jantung kota Depok. Selain itu daerah Cimanggis menjadi penghubung Jakarta, Depok, dan Bogor melalui akses jalan raya bogor yang melintas disepanjang daerah Cimanggis. Badan Pusat Statistik

(40)

(BPS) kota Depok tahun 2011 mengungkapkan bahwa penduduk terbesar di kota Depok adalah Kecamatan Cimanggis yaitu sebanyak 242.214 orang (13,95%). Hal ini menyebabkan masyarakat kota Depok juga mulai merasakan dinamika masyarakat perkotaan. Sebagian besar orang tua bekerja baik ayah dan ibu. Anak biasa dititipkan ditempat penitipan ataupun dijaga oleh nenek. Orang tua jarang masak di rumah karena sudah banyak tersedia masakan jadi di warung-warung makan maupun restoran. Karena kesibukan orangtua, kandungan gizi dalam makanan tidak menjadi paling utama lagi yang penting makan dan kenyang. Kondisi ini didukung makin banyaknya makanan cepat saji mulai dari yang mahal ada di restoran dan di mall-mall sampai yang murah meriah dipinggir jalan.

Strategi yang dipilih untuk membantu keluarga Bapak T dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang sedang dihadapi yaitu home based service programs. Menurut Stanhope dan Lancester (2004) home based service programs adalah pemberi layanan kesehatan mengunjungi rumah keluarga di suatu komunitas agar dapat memberikan pelayanan kesehatan berupa edukasi dan promisi. Program ini dijalankan dengan melakukan kunjungan rumah ke keluarga Bapak T untuk memberikan pelayanan kesehatan. Bentuk pelayanan kesehatan yang diberikan yaitu promosi dan edukasi kesehatan tentang gizi seimbang. Penjelasan lengakap tentang intervensi yang telah diberikan telah diuraikan di BAB 3.

4.3 Analisis salah satu intervensi dengan konsep dan penelitian lain

Implementasi yang menjadi unggulan dalam asuhan keperawatan keluarga yang diberikan pada keluarga Bapak T adalah pendidikan kesehatan tentang gizi seimbang. Pada awal pengkajian pengetahuan keluarga tentang gizi seimbang tidak baik. Keluarga hanya mengatakan pernah mendengar tentang empat sehat lima sempurna dan menganggap minum susu itu penting. Keluarga mengatakan tidak tahu tentang gizi seimbang. Latar belakang pendidikan keluarga Bapak T terutama Bapak T dan Ibu S hanya sebatas SD. Hal ini yang menjadi alasan mengapa pendidikan kesehatan tentang gizi seimbang menjadi intervensi unggulan untuk keluarga Bapak T.

Gambar

Gambar 2.5  Model Family Centre Nursing Friedman ......................................15
Gambar 2.4 Model Family Centre Nursing Friedman  Sumber: Friedman, Bowden dan Jones (2003) Pengkajian keluarga:

Referensi

Dokumen terkait

Hari Kamis tanggal 15 bulan Maret tahun 2018, telah dilakukan pengajuan Skripsi atas nama Rizki Nurrahmawati NIM 2014150015, dengan judul Skripsi “HUBUNGAN ANTARA BIMBINGAN

Korelasi kebutuhan dan gaya hidup dengan keputusan pembelian smartphone sedang 0.768 serta kebutuhan dan gaya hidup mampu menjelaskan keputusan pembelian smartphone

Dokumen rencana operasional ini berisi misi, tujuan,sasaran dan indikator kinerja untuk mengetahui pencapaian tujuan, sasaran strategis termasuk target-target

· Untuk mengukur volume larutan yang tidak memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi.. · Menampung zat kimia · Memanaskan cairan · Media pemanasan

PENGUMUMAN KELULUSAN MAHASISWA/I BARU UNIGHA TAHUN AKADEMIK 2017/2018. JURUSAN SEJARAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan permasalahan yang berkaitan dengan penelitian ini, antara lain adalah masih sedikit lulusan SMK

Laju konsumsi makanan, eisiensi makanan di konsumsi dan eisiensi makanan dicerna tidak berbeda nyata jika dibandingkan dengan serangga yang tidak diberi perlakuan..

Dompet yag rencanaya dibuat sesimpel dan semenarik mungkin dengan penambahan lukisan simpel demi menyelipkan nilai estetika yang dibuat tangan untuk