• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL ILMIAH KOHESI Vol. 3 No. 1 Januari 2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL ILMIAH KOHESI Vol. 3 No. 1 Januari 2019"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

48

PERILAKU SEKSUAL PRIA DENGAN WANITA PEKERJA SEKS KOMERSIAL (PSK)

TERHADAP PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR SEKSUAL (PMS)

DI WARUNG BUBUR DUSUN VI GAYA BARU KECAMATAN

TEBING TINGGI TAHUN 2014

Ninsah M Putri Sembiring1⃰, Heru Santoso2, Edy Syahrial3 1Staf Dosen STIKes Mitra Husada Medan

2Staf Pengajar Departemen Biostatistik, Kependudukan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Infeksi menular seksual merupakan salah satu dari sepuluh penyebab pertama penyakit yang tidak menyenangkan pada dewasa muda laki-laki dan penyebab kedua terbesar pada dewasa muda wanita di negara berkembang. Dewasa dan remaja (15-24 tahun) merupakan 25% dari semua populasi yang aktif secara seksual, tetapi memberikan kontribusi sebesar hampir 50% dari semua kasus IMS baru yang didapat. Kasus-kasus IMS yang terdeteksi hanya menggambarkan 50%-80% dari semua kasus IMS yang ada di Amerika. Ini mencerminkan keterbatasan “screening” dan rendahnya pemberantasan akan IMS, serta menjadikan pemikiran dari seluruh dunia yang merupakan target dari MDGs sendiri yang nomor 4 dalam pemberantasan HIV/AIDS.

Jenis penelitian ini menggunakan metode atau pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Dilakukan dengan observasi dan wawancara mendalam untuk memperoleh informasi dan menggali realita tentang perilaku seksual yang dilakukan oleh informan yang menggunakan jasa PSK di Warung Bubur Dusun VI Gaya Baru Kecamatan Tebing Tinggi tahun 2014. Subjek dalam penelitian ini adalah pria yang menjadi pelanggan tetap PSK. Pengambilan subjek penelitian atau informan ini dilakukan dengan menggunakan teknik penarikan sampel bola salju (snowball sampling). Teknik ini banyak ditemui dalam riset kualitatif. Teknik ini bagaikan bola salju yang turun menggelinding dari puncak gunung ke lembah, semakin lama semakin membesar ukurannya.

Hasil wawancara yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa para lelaki pengguna jasa PSK di Warung Bubur tidak menggunakan kondom sebagai alat pencegahan penyakit menular seksual. Dan mereka kurang mengetahui penyakit menular seksual yang bisa terjadi kalau melakukan hubungan seksual tanpa alat pengaman.

Disarankan untuk mencegah terjadinya Penyakit Menular Seksual, diharapkan kepada seluruh Pria pengguna jasa PSK diminta kesadarannya untuk menggunakan kondom khusus pria.

Kata Kunci : Perilaku, Seksual Pria, Wanita Pekerja Seks Komersial(PSK), Penyakit Menular Seksual(PMS)

PENDAHULUAN

Infeksi menular seksual merupakan salah satu dari sepuluh penyebab pertama penyakit yang tidak menyenangkan pada dewasa muda laki-laki dan penyebab kedua terbesar pada dewasa muda wanita di negara berkembang. Dewasa dan remaja (15-24 tahun) merupakan 25% dari semua populasi yang aktif secara seksual, tetapi memberikan kontribusi sebesar hampir 50% dari semua kasus IMS baru yang didapat.

(2)

49

Kasus-kasus IMS yang terdeteksi hanya menggambarkan 50%-80% dari semua kasus IMS yang ada di Amerika. Ini mencerminkan keterbatasan “screening” dan rendahnya pemberantasan akan IMS, serta menjadikan pemikiran dari seluruh dunia yang merupakan target dari MDGs sendiri yang nomor 4 dalam pemberantasan HIV/AIDS.

Di Indonesia IMS yang paling banyak ditemukan adalah syphilis dan gonorhoe, prevalensi IMS di Indonesia sangat tinggi yakni dengan prevalensi gonorhoe 37,4%, Chlamydia 34,5% dan syphilis 25,2%. Kecenderungan meningkatnya penyebaran penyakit ini disebabkan perilaku seksual yang bergonta ganti pasangan, dan adanya hubungan seksual pranikah dan diluar nikah yang cukup tinggi. Kebanyakan penderita IMS adalah wanita usia reproduktif (Adhitama, 2008).

Penderita IMS di Jawa Timur terdapat 1454 jiwa pada tahun 2003 dan mengalami peningkatan pada tahun 2004 menjadi 2329 jiwa, untuk semua jenis kasus IMS dan semua jenis golongan umur. Meskipun demikian, kemungkinan kasus yang sebenarnya dipopulasi masih banyak yang belum terdeteksi. Program pencegahan dan pemberantasan IMS mempunyai target bahwa seluruh kasus IMS yang ditemukan harus diobati sesuai standar. IMS terjadi pada umur 12-20 tahun.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya tahun 2009, ada beberapa IMS yang mengalami penurunan dibandingkan pada tahun 2008, diantaranya kandidiasis dari 443 menjadi 308, bakteri vagina dari 151 menjadi 144, HIV dari 114 menjadi 9, gonorhoe dari 120 menjadi 71, condiloma acuminate dari 95 menjadi 68, herpes genetalis dari 68 menjadi 59, AIDS dari 23 menjadi 17 dan syphilis dari 6 menjadi 2. Demikian pula beberapa kasus yang meningkat antara lain herpes simpleks dari 140 menjadi 149 dan trichomonas vaginalis dari 6 menjadi 9.

Di Banyuwangi sendiri tampak kecenderungan meningkat prevalensi PMS seperti syphilis 10% pada kelompok WTS, 35% pada kelompok waria dan 2% pada kelompok ibu hamil. Prevalensi gonorhoe meningkat sampai 30%-40% demikian juga HIV/AIDS meningkat tajam sejak tahun 1993 (Ditjen PP & PL DepKes RI, 2008). Sedangkan dari data NKKBS dan puskesmas di daerah lokalisasi Gempol 20% WTS yang terkena PMS diantaranya gonorhoe, herpes simpleks, syphilis, trichomonas dan HIV/AIDS.

Besarnya proporsi laki-laki sebagai pelanggan penjaja seks digambarkan dalam report yang diterbitkan oleh AusAID (2006) berjudul “Impact of HIV/AIDS 2005-2025”, bahwa pemerintah Indonesia mengestimasi jumlah laki-laki pelanggan seks di Indonesia mencapai 7 sampai dengan 10 juta orang. Sedangkan menurut Utomo dan Dharmaputra (2001) bahwa separuh dari laki-laki di Indonesia mengunjungi pekerja seks setiap tahunnya. Hal ini tentu menjadi jalur yang sangat potensial untuk menyebarkan HIV/AIDS melalui pelanggan penjaja seks (AusAID, 2006).

Hasil SSP (Survey Surveilance Perilaku) 2004-2005 pada kelompok pria menunjukkan bahwa sopir/kernet truk yang membeli seks dalam setahun terakhir meningkat dari 40% pada tahun 2002/2003 menjadi 59% pada tahun 2004/2005, sedangkan pelaut/ABK yang membeli seks juga meningkat dari 48% menjadi 55%, dan tukang ojek meningkat dari 28% menjadi 31% pada kurun waktu yang sama. Sementara itu perilaku selalu menggunakan kondom hanya berkisar antara 3-11%. Disamping itu, penyakit menular seksual seperti syphilis dan gonorhoe bila dikombinasikan dengan seringnya melakukan seks yang tidak aman dengan laki-laki yang sering mobile akan menambah kerentanan penjaja seks untuk terinfeksi HIV (Puslitkes, 2006).

(3)

50

Perilaku seks beresiko juga menjadi penyebab penularan utama HIV/AIDS. Hal ini bisa terlihat dari perkembangan Penyakit Menular Seksual yang sangat tinggi. Di beberapa kota berdasarkan data DepKes RI (2012), PSK yang mengidap penyakit gonorhoe dan klamidia mencapai 39% sampai 61%, itu artinya 2 sampai 3 dari 5 PSK mengidap penyakit tersebut. Itu belum termasuk penyakit menular seksual lainnya. Padahal adanya PMS memudahkan penularan HIV. Angka ini merupakan tertinggi di Asia.

Pengidap HIV terbanyak ada dikalangan pria. Dari 3 juta pria di Indonesia yang sering jajan PSK diperkirakan setengahnya mengidap HIV. Kebanyakan dari mereka memiliki pasangan tetap atau istri. Dari pria pengidap HIV ini bisa menularkan pada istrinya. Jika wanita yang mengidap HIV mengandung maka beresiko menularkan pada anaknya. Fenomena ini yang membuat jumlah penderita HIV semakin tinggi dan menjadi epidemi. Pada area geografis tertentu, pathogen IMS ditularkan diantara atau dari individu beresiko tinggi dengan angka infeksi yang tinggi dan kekerapan berganti-ganti pasangan seksual (kelompok inti). Dengan perkembangan epidemi, patogen dapat menyebar dari kelompok inti kepada populasi pelanggan (populasi antara) yang menjadi perantara penting lintas seksual antara kelompok inti dan populasi umum (MenKes, 2011).

Menteri Kesehatan mengemukakan untuk melindungi perempuan dan anak-anak dari infeksi HIV ada ditangan laki-laki, terutama yang melakukan perilaku beresiko, seperti mengunjungi pelacuran. Penulis ingin tekankan betapa besarnya peran dan tanggung jawab laki-laki dalam menyelamatkan Negara ini. Epidemi penyebaran HIV/AIDS di Indonesia hanya bisa dikendalikan apabila pengguna kondom di atas 80% (Argina, 2012).

Perkembangan HIV/AIDS di Indonesia merupakan yang paling pesat di Asia pada dekade terakhir ini. Di Indonesia sejak kasus AIDS pertama dilaporkan pada Tahun 1987 di Bali, jumlah kasus bertambah secara perlahan menjadi 225 kasus di Tahun 2000. Sejak saat itu, kasus AIDS bertambah cepat dipicu oleh pengguna NAPZA suntik. Kementrian Kesehatan (2011), melaporkan hingga Desember 2010 jumlah kumulatif pasien AIDS di Indonesia adalah 24.131 orang dan 55.848 orang dengan HIV. Jumlah itu tentu saja merupakan fenomena gunung es dimana pada kenyataannya ada lebih banyak lagi pasien yang menderita HIV/AIDS. Populasi dewasa terinfeksi HIV di Indonesia mencapai 333.200 orang, dimana diantaranya 25% adalah perempuan. Selain itu sebagian pasien AIDS merupakan usia produktif 25-49 tahun (88%) sehingga berdampak pada penurunan produktivitas suatu Negara (MenKes RI, 2011).

Surveilans Terpadu HIV dan Perilaku (STHP) pada tahun 2007 menunjukkan prevalensi HIV di Indonesia adalah Wanita Penjaja Seks (WPS) langsung 10,4% WPS tidak langsung 4,6%, Waria 24,4%, Pelanggan WPS 0,8%, Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) 5,2%. Upaya penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia dinilai telah mencapai beberapa kemajuan. Dengan menambah berbagai upaya strategis ke depan, pemerintah menargetkan pada Tahun 2030 nanti penyakit yang mematikan ini tidak lagi menjadi masalah kesehatan di Tanah Air. Tahun 2013 terdapat 1 juta lebih orang Indonesia yang dilakukan tes, dimana 127.427 diantaranya terdiagnosa positif HIV. Sampai pertengahan Tahun 2014 sebanyak 529.889 orang yang dites dan 15.561 diantaranya positif HIV (MenKes RI, 2013).

IMS dan HIV/AIDS merupakan salah satu diantara penyebab penyakit utama di dunia dan memberi dampak luas pada masalah kesehatan dan ekonomi di berbagai negara. Sampai saat ini merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia, baik di negara maju maupun berkembang, insiden maupun prevalensi yang sebenarnya di berbagai negara tidak diketahui secara pasti.

(4)

51

Oleh karena itu, untuk menekan penyebaran PMS yang menimbulkan masalah adalah dengan menggunakan kondom, serta untuk mencegah dan meminimalisir terjadinya IMS baik dalam tataran yang ringan ataupun sudah berkomplikasi selalu dilakukannya advokasi serta penyuluhan-penyuluhan terhadap pekerja seks komersial untuk selalu melakukan screening test, papsmear serta menghindari hubungan seksual bila ada gejala IMS (Widyastuti, 2009).

Berdasarkan data Puskesmas Sei Rampah sampai bulan Mei tahun 2014 jumlah rumah (barak) ± 13 buah dengan rata-rata 4 PSK per rumah dengan jumlah PSK sekitar 40 PSK. Pada umumnya bangunan sudah permanen, walaupun sebagian kecil saja bangunan masih berlantai tanah. Dari survei pendahuluan yang dilakukan penulis jumlah PSK terbanyak di Kabupaten Serdang Bedagai terdapat di Desa Naga Kesiangan sebanyak 40 orang PSK, dari 40 orang PSK tersebut ditemukan sekitar 32 kasus IMS, dua diantaranya dideteksi gonorhoe, enam orang servisitis, satu orang terkena kandidiasis, dan enam orang terkena IMS lainny seperti Bubo Kondilomata. Desa Naga Kesiangan adalah salah satu desa di Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Serdang Bedagai merupakan desa yang mempunyai resiko tinggi terhadap penularan infeksi menular seksual. Hal ini dikarenakan adanya daerah lokalisasi terselubung.

Menurut laporan bulan Mei Puskesmas Sei Rampah terdapat 50 orang pasien pasangan resiko tinggi (Resti) yang ditemukan mengidap penyakit IMS. Salah satu diantaranya mengaku pelanggan PSK di Warung Bubur dan ketika melakukan hubungan seks pria tersebut tidak menggunakan kondom.

Menurut Martin Monto, seorang Sosiolog di Universitas Portland mengatakan “ salah satu motivasi pria dibalik mencari pelacur adalah ada sesuatu yang menarik atau beresiko. Sifat terlarang membuatnya lebih menarik”. Alasan lain yang cukup mengejutkan adalah bahwa satu dari tiga pria yang mengunjungi PSK mengaku ingin belajar soal seks lebih daripada hubungan intim dengan pasangan tetap mereka. Mereka menginginkan lebih banyak seks atau aktivitas intim dengan pasangan tetap mereka. Sebagian pria yang menggunakan jasa PSK adalah mereka yang kesepian, merasa terkucil secara sosial atau mengalami masalah hubungan.

Banyak faktor yang menyebabkan perilaku seksual pria dengan wanita pekerja seks komersial dilihat dari berbagai aspek, yaitu dari pria itu faktor personal/individu, pengetahuan mengenai HIV/AIDS. Penyakit Menular Seksual (PMS), aspek-aspek kesehatan reproduksi, sikap terhadap layanan kesehatan seksual dan reproduksi, kerentanan yang dirasakan terhadap resiko kesehatan reproduksi, gaya hidup, pengendalian diri, aktifitas sosial, rasa percaya diri dan variabel-variabel demografi seperti: usia, agama, status perkawinan, Faktor lingkungan (akses dan kontak dengan sumber-sumber informasi, sosial-budaya, nilai dan norma sebagai pendukung sosial untuk perilaku tertentu, faktor perilaku yaitu gaya hidup seksual, jumlah pasangan, peristiwa-peristiwa kesehatan (PMS, kehamilan) dan penggunaan kondom serta alat kontrasepsi (Banun, 2012).

Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat diperoleh gambaran bahwa pria memiliki resiko penularan penyakit IMS. Maka dirasa perlu dilakukan penelitian mengenai “Perilaku Seksual Pria Dengan wanita Pekerja Seks Komersial (PSK) Terhadap Pencegahan Penyakit Menular Seksual (PMS) Di warung Bubur Dusun VI Gaya Baru Kecamatan Tebing Tinggi Tahun 2014”.

(5)

52

METODE

Jenis penelitian ini menggunakan metode atau pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Dilakukan dengan observasi dan wawancara mendalam untuk memperoleh informasi dan menggali realita tentang perilaku seksual yang dilakukan oleh informan yang menggunakan jasa PSK di Warung Bubur Dusun VI Gaya Baru Kecamatan Tebing Tinggi tahun 2014.

Subjek dalam penelitian ini adalah pria yang menjadi pelanggan tetap PSK. Pengambilan subjek penelitian atau informan ini dilakukan dengan menggunakan teknik penarikan sampel bola salju (snowball

sampling). Teknik ini banyak ditemui dalam riset kualitatif. Teknik ini bagaikan bola salju yang turun

menggelinding dari puncak gunung ke lembah, semakin lama semakin membesar ukurannya.

Teknik snowball sampling merupakan teknik penentuan subjek penelitian yang awalnya berjumlah kecil, kemudian berkembang semakin banyak. Responden pertama diminta memilih atau menunjuk responden lain untuk dijadikan informan lagi, begitu seterusnya sampai jumlahnya lebih banyak. Sehingga beberapa orang pertama tersebut menjadi titik awal pemilihan informan. Proses ini berakhir bila peneliti merasa data telah jenuh, artinya peneliti merasa tidak lagi menemukan sesuatu yang baru dari wawancara (Kriyantono, 2009).

Metode pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data. Ada beberapa teknik atau metode pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti. Peneliti menggunakan salah satu atau gabungan dari metode yang ada tergantung masalah yang dihadapi (Kriyantono, 2009).

Analisis data adalah suatu proses pengorganisasian dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistensikannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.

Tahap analisis data memegang peranan penting dalam riset kualitatif, yaitu sebagai faktor utama penilaian kualitatif riset. Penelitian ini mengguankan teknik analisis data kualitatif dimana data yang digunakan bila data-data yang terkumpul dalam riset adalah data kualitatif berupa kata-kata, kalimat-kalimat atau narasi-narasi. Baik yang diperoleh dari wawancara mendalam maupun observasi. Melalui data kualitatif, data yang diperoleh dari lapangan diambil kesimpulan yang bersifat khusus kepada yang bersifat umum kemudian disajikan dalam bentuk narasi (Kriyantono, 2009).

HASIL

Irfandi adalah seorang pria yang masih lajang berasal dari keluarga sederhana. Pendidikan terakhir Irfandi adalah STM, dia bekerja sebagai wiraswasta pembawa aren dari daerah Medan ke daerah Tanjung Kasuh. Sebelumnya Irfandi juga pernah bekerja di daerah lokalisasi Parapat.

Alasan utama yang membuat Irfandi menjadi pelanggan tetap di daerah Warung Bubur adalah awalnya hanya sekedar istirahat minum, namun lama kelamaan dia sering melihat seorang wanita pekerja seks komersial dan ingin melakukan hubungan seksual dengannya. Mengingat pengalaman yang pernah dilakukan sebelumnya maka timbul hasrat ingin mencoba. Sampai akhirnya Irfandi menjadi pelanggan tetap dengan satu orang PSK saja.

(6)

53

Aktivitas Seksual

Perkenalan adalah sebuah langkah awal untuk memulai suatu hubungan. Hubungan tersebut bisa berkembang menjadi sesuatu hubungan yang intim atau hubungan yang biasa-biasa saja.

Irfandi pertama kali berkenalan dengan wanita PSK di Warung Bubur sampai akhirnya ia menjadi pria pengguna jasa PSK dengan satu wanita saja. Dari komunikasi yang singkat, akhirnya tejalin suatu hubungan yang lebih intim. Dimana hubungan intim tersebut merupakan kelanjutan dari perkenalan dan diteruskan dengan hubungan individu terhadap lawan jenis. Selanjutnya melakukan pertemuan rutin yang sudah direncanakan untuk menjalani hubungan yang lebih dekat lagi atau lebih kerennya disebut dengan

dating.

2. Bersentuhan (Touching) dan Berciuman (Kissing)

Hubungan ini pun berlanjut. Irfandi yang pandai membuat wanita PSK ini merasa nyaman, bersentuhan dan berciuman adalah hal yang lumrah yang dilakukan di Warung Bubur, apalagi dilakukan oleh sepasang insan yang sedang dimabuk asmara ini. Hal ini terjadi karena memang dia berpandangan jika ciuman adalah salah satu bentuk kasih sayang.

3. Menyentuh Alat-alat Kelamin (Petting)

Setiap ada kesempatan, Irfandi selalu menyampaikan kepada peneliti apapun yang dia lakukan dengan wanita PSK yang menjadi teman kencannya. Dengan pengalaman yang pernah dia dapatkan sebelumnya, Irfandi sangat menguasai adegan-adegan seksual yang dapat merangsang wanita PSK tersebut. Irfandi juga pernah menyuruh wanita PSK yang menjadi teman kencannya untuk melakukan petting terhadap genitalnya sehingga dia mencapai orgasme.

4. Seks Oral (Oral Seks)

Tidak hanya Petting, Irfandi dan wanita PSK yang menjadi teman kencannya juga sering melakukan seks oral. Awalnya Irfandi merasa risih karena baru pertama melakukannya dengan wanita teman kencannya. Namun, karena Irfandi menjadi pelanggan tetap oleh satu orang wanita akhirnya dia sering melakukan seks oral. Irfandi pernah bertanya kepada saya, apakah seks oral bisa menyebabkan penyakit menular? Peneliti mengatakan padanya bahwa seks oral dapat menyebabkan infeksi pada mulut si penghisap karena begitu banyak kuman yang menempel di alat kelamin pria tersebut.

5. Hubungan Seksual (Sexual Intecourse)

Hubungan seksual kerap mereka lakukan setiap kali pertemuan. Namun, dalam hal ini Irfandi selalu menggunakan kondom pada saat melakukan hubungan seksual dengan alasan takut terkena penyakit menular seksual. Wanita PSK juga tidak mau melakukan hubungan seksual kalau pria pasangannya tidak mau menggunakan kondom.

Begitu Irfandi sampai di Warung Bubur, maka wanita PSK yang menjadi pelanggannya langsung menyambut kehadiran Irfandi. Merekapun melakukan komunikasi singkat, sampai kemudian mereka masuk kekamar dan langsung menutup pintu kamarnya.

PEMBAHASAN

Dalam bab ini peneliti akan membahas mengapa para pria sampai memilih menggunakan jasa wanita PSK dan menjadi pelanggan tetap bahkan sampai melakukan hubungan seksual. Pacaran atau dating adalah interaksi heteroseksual yang didasari oleh rasa cinta, kasih dan sayang serta kebutuhan, saling memberi dan melengkapi pasangannya. Proses pertemuan dua manusia lawan jenis tersebut merupakan proses mengenal dan memahami lawan jenisnya.

Penyebab paling dekat mengapa pria memilih menggunakan jasa wanita PSK dalam memuaskan hubungan seksual dari hasil penelitian ini adalah :

(7)

49

1. Kebutuhan Seksualitas

Seksualitas merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Lingkungan seksualitas suatu yang lebih luas dari pada hanya sekedar kata seks yang merupakan kegiatan hubungan fisik seksual. Kondisi seksualitas yang sehat juga menunjukkan gambaran kualitas kehidupan manusia, terkait dengan perasaan paling dalam, dapat berupa pengalaman, penerimaan dan ekspresi diri manusia.

Kenyamanan adalah suatu rasa dimana kita merasa tenang berada di dalamnya, rasa yang dapat membangkitkan potensi yang ada di dalam diri kita, rasa yang membuat kita mempertahankannya, rasa yang membuat kita betah berlama-lama di dalamnya. Sebenarnya kenyamanan itu hanyalah sebuah sugesti dan tergantung dari orang yang melakukasennya. Dimas yang dulunya pernah gagal dalam membina rumah tangga, mau melakukan hubungan seksual dengan wanita PSK karena wanita tersebut sudah membuat dirinya merasa nyaman, tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar, dan selalu menghargainya dalam hal apapun. Secara tidak langsung Dimas sudah merasa nyaman, karena wanita PSK tersebut dianggapnya mampu membuatnya keluar dari segala masalah keluarga yang sedang dihadapinya.

2. Imbalan

Imbalan merupakan pengertian dari sesuatu yang kita berikan kepada orang lain sebagai tanda jasa atau tanda terima kasih kepada orang lain yang sudah memberikan dan membantu kita sesuatu yang tidak kita dapatkan dari orang lain. Seperti halnya hasil penelitian dari ketiga informan penelitian kualitatif, mereka sama-sama memiliki masalah, meskipun tergantung dari berat ringannya suatu masalah tersebut. Dan bukan karena keinginan dari dalam diri mereka, mulai dari masalah keluarga, lingkungan yang tidak mendukung sampai kemasalah kebutuhan.

Cinta, kenyamanan, status, beruntungnya punya pacar, banyak sekali yang didapat mereka di lokasi ini. Hidup terasa lebih indah, pikiran penuh dengan sensasi yang menyenangkan. Berfantasi dan mengkhayalkan saat-saat bercumbu, membuat otak hilang akan kewarasannya. Segala kepenatan dan tekanan akan hilang seperti lenyap ditelan bumi.

3. Kontrol Diri (Self Control)

Masa pacaran adalah masa yang sangat rentan dengan permasalahan-permasalahan yang dapat mengarahkan khususnya setiap pria untuk melakukan hubungan seksual. Tidak kuatnya menahan hawa nafsu, suasana yang mendukung dan kemampuan tawar yang rendah pada pria apalagi saat kebutuhanakan seks mendesak apalagi saat berduaan dengan PSK akan membuat mereka lebih rentan dengan penyakit menular seksual. Meskipun banyak faktor yang menjadi penyebab mengapa pria lebih suka melakukan hubungan seksual dengan menggunakan jasa wanita PSK, tetapi kursi terpenting adalah kemampuan pria itu sendiri untuk mengendalikan hawa nafsunya (self control).

Kontrol diri berkaitan dengan bagaimana individu mengendalikan emosi serta dorongan-dorongan dalam dirinya. Individu mempunyai kebutuhan untuk memuaskan keinginan dan kebutuhannya sehingga agar tidak mengganggu dan melanggar kenyamanan dan keselamatan orang lain, individu harus mengontrol perilakunya. Jika individu mampu menghindari situasi-situasi yang dapat memicu sifat-sifat negatif berarti individu tidak membiarkan diri menyerah pada kecenderungan-kecenderungan untuk bereaksi secara negatif ketika individu menghadapi realitas keras dalam hidupnya, bahwa individu dalam mengontrol perilaku melibatkan tiga hal yaitu, pertama: memilih dengan sengaja, kedua: pilihan antara dua perilaku yang bertentangan, dalam artian satu pihak perilaku menawarkan kepuasan dengan segera, sedangkan perilaku yang lain menawarkan ganjaran jangka panjang, ketiga: memanipulasi stimulus, agar satu perilaku yang kurang mungkin dilakukan dengan perilaku lain yang lebih mungkin dilakukan.

Motivasi individu untuk mengatur kesan akan menguat apabila berada dalam situasi yang melibatkan tujuan-tujuan yang dianggap penting bagi dirinya, seperti mengharapkan persetujuan dan imbalan, juga

(8)

50

apabila individu merasa bergantung kepada orang lain yang berkuasa untuk mengatur dirinya. Kondisi-kondisi seperti itu merupakan penekanan bagi individu, sehingga individu cenderung akan mengatur tingkah lakunya agar memberi kesan positif.

4. Lingkungan Keluarga

Suasana keluarga yang menimbulkan rasa tidak aman dan menyenangkan serta hubungan keluarga yang kurang baik dapat menimbulkan bahaya psikologis, sehingga cenderung terpengaruh dengan pengaruh negatif lingkungan sosialnya. Pengaruh suasana rumah yang kurang nyaman dan cenderung tidak menghargai seseorang akan membuat kondisi rumah tersebut menjadi tidak stabil. Ketidakstabilan ini sangat terasa bagi perkembangan seseorang yang tinggal didalamnya.

KESIMPULAN

Pekerja Seks Komersial(PSK) atau biasa disebut pelacur adalah seseorang yang berprofesi menjual jasa untuk memuaskan kebutuhan seksual pelanggan. Biasanya pelayanan ini dalam bentuk menyewakan tubuhnya. Faktor penyebab seesorang menjadi PSK diantaranya adalah : faktor ekonomi, faktor broken home, faktor ingin hidup mewah dan faktor penipuan. Dampak menjadi seorang PSK adalah terganggunya kesehatan reproduksi seperti tertularnya penyakit menular seksual.

Sedangkan alasan mengapa pria lebih suka menggunakan jasa PSK adalah karena mereka merasa kesepian, merasa terkucil secara sosial atau mengalami masalah dalam hubungan seksual dengan istri. Alasan lain pria mengunjungi PSK adalah karena ingin belajar soal seks lebih daripada hubungan intim dengan pasangan tetap mereka. Mereka menginginkan lebih banyak seks atau aktivitas seks yang berbeda.

SARAN

Untuk mencegah terjadinya Penyakit Menular Seksual, diharapkan kepada seluruh Pria pengguna jasa PSK diminta kesadarannya untuk menggunakan kondom khusus pria.

Kepada seluruh wanita PSK hendaknya menolak melakukan hubungan seksual kepada para pria yang tidak mau memakai kondom dalam melakukan hubungan seksual guna mencegah terjadinya penyakit menular seksual yang dapat mengakibatkan terjadinya gangguan kesehatan organ reproduksi wanita.

Kepada Dinas Kesehatan setempat hendaknya memberikan konseling tentang kesehatan reproduksi dan promosi kondom pada PSK yang ada di Warung Bubur Kecamatan Tebing Tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Adhitama, TY., 2008. Pemantauan Prevalensi HIV Melalui Surveilance Terpadu Biologi dan Perilaku (STBT), di akses 22 Mei 2014. http://www.dinkeskotabaru.com/content/view/13/.

2. Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatau Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. 3. Argina., 2012. 61 Tahun IBI. Jakarta: IBI.

4. AusAID, 2006. Impact of HIV/AIDS 2005-2006 in Papua new Guinea, Indonesia anf East Timur, Final Report of HIV Epidemiological Modelling And Impact Study.

5. Azwar, S. 2007. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya, Edisi 2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

6. Badan Pusat Statistik Departemen Kesehatan RI. Situasi Perilaku Berisiko Tertular HIV di Indonesia, Hasil SSP Tahun 2004-2005, di akses 14 Agustus 2014. http://staff.ui.ac.id/internal/140119296/publikasi/BSS2004ReportNasional.pdf.

7. Banun, F., 2012. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Seksual Pranikah Pada Mahasiswa Stikes X Jakarta Timur Tahun 2012.

(9)

51

8. Benson, A., 2009. Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis Kozier & Erb. Jakarta: EGC.

9. BKKBN, 2006. Pendewasaan Usia Perkawinan dan Hak-Hak Reproduksi bagi Remaja Indonesia. Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, BKKBN. Jakarta. Diakses 2 Januari 2012. http://lip4.bkkbn.go.id/file.php/1/moddata/forum/1/30/.

10. DepKes RI., 2011. Himpunan Peraturan Tentang Penanggulangan HIV/AIDS dan Petunjuk Pelaksanaan. Jakarta: Biro Bina Sosial. 2008. Pedoman Penatalaksanaan Infeksi Menular Seksual. Jakarta: Biro Bina Sosial.

11. DinKes, 2012. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2012. Medan.

12. Efendilee., 2012. Tahapan Gairah Seks Pria Menurut Umurnya. Diakses 2 Januari 2012. http://efendilee.mywapblog.com/tahapan-gairah-seks-pria-menurut-umurnya.xhtml.

13. Eka, A., 2008. Studi Kasus Perilaku Wanita Pekerja Seksual Tidak Langsung dalam Pencegahan IMS, HIV/AIDS Di Kota Semarang.

14. Green,et.al., 2000. Komunikasi Untuk Kesehatan dan Perubahan Perilaku. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

15. Hutapea, R., 2003. AIDS & PMS dan Perkosaan. Jakarta: Rineka Cipta. 16. Irianto, K., 2013. Permasalahan Seksual. Bandung: Yrama Widya.

17. Ilyas, Y., 2003. Mengenal Asuransi Kesehatan: Review Utilisasi, Manajemen Klaim dan Fraud (Kecurangan Asuransi Kesehatan). Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. 18. Kartono, K., 2006. Psikologi Wanita. Bandung: Mandar Maju.

19. Kasnodihardjo, 2010., Dinamika Pelacuran di Wilayah Jakarta dan Surabaya dan Faktor Sosio Demografi yang Melatarbelakanginya. Diakses 12 januari 2010. Jakarta. http://www.kalbe.co.id/files/17_151_dinamika Pelacuran.html.

20. Kemenkes RI., 2011. Laporan Surveilans AIDS Kemenkes RI Periode April-Juni Tahun 2011. 21. Koentjoro., 2010. Tutur dari Seorang Pelacur. Yogyakarta: Tinta (Qalam-KPQ).

22. Kriyantono., 2009. Pengolahan dan Analisis Data Kesehatan. Yogyakarta: Mitra Cendika Press. 23. Manuaba, I., 2009. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta: Arcam.

24. Mariyah., 1992. AIDS dan Perilaku Seksual Beresiko. Jakarta: Jaringan Epidemiologi Nasional. 25. Moleong, L., 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Rosdakarya.

26. Notoatmodjo, S., 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. 27. Nugroho., 2011. Mengungkap Tuntas PMS. Yogyakarta: Nuha Medika.

28. Nursalam., 2007. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta: Salemba Medika. 29. Puslitkes UI., 2003. Laporan Survei Surveilans Perilaku Risiko Tinggi PMS/HIV di Bali, Kupang dan

Ujung Pandang Tahun 2002. Jakarta: Puslitkes UI.

30. Sarwono, S., 2007. Pendidikan dan Perilaku Seksual Pranikah. Jakarta: Grafindo. 31. Sulistyawati, A., 2011. Pelayanan Keluarga Berencana. Jakarta: Salemba Medika. 32. Wahyuningsih., 2008. Etika Profesi Kebidanan. Yogyakarta: Fitra Maya.

Referensi

Dokumen terkait

bahsul masa’il perbankan, seminar dan aktivitas perbankan syariah dalam memajukan bisnis jasa perbakan syariah untuk

Dimana dengan akad seseorang sudah terikat dengan perjanjiannya baik itu antara seseorang dengan Allah maupun antara seseorang dengan hamba-hambanya (makhluk

Menunjukkan bahwa tabulasi silang antara hubungan pengetahuan ibu yang mempunyai balita dengan kejadian diare, dari 61 responden yang diteliti diperoleh bahwa yang

Kinerja CPU dan memori serta waktu yang dibutuhkan oleh OSSEC untuk mendeteksi serangan dapat dilihat pada Gambar 7 dan Gambar 8 yang merupakan hasil pengujian terhadap port

Penelitian ini adalah penelitian expost facto dengan rancangan Analytical Cross Sectional Study, yang dilakukan melalui dua tahapan yaitu penelitian di lapangan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengembangan karier dengan kinerja pegawai Badan Kepegawaian Daerah Kota Samarinda.Pada penelitian ini penulis

Pada form ini admin dapat melihat data pasien yang telah tersimpan dalam database dengan meng klik tombol “find”. Dan Admin dapat mengisi data pasien baru yang belum terdaftar

Disimpulkan dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendapatan dengan tingkat konsumsi yang terjadi pada karyawan