• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN KAMPOENG BATIK LAWEYAN BERBASIS INDUSTRI KREATIF

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGEMBANGAN KAMPOENG BATIK LAWEYAN BERBASIS INDUSTRI KREATIF"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

67

PENGEMBANGAN KAMPOENG BATIK LAWEYAN BERBASIS INDUSTRI KREATIF Ir. Alpha Febela Priyatmono, MT.

Dosen Progdi Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta Email : [email protected]

Abstrak

Kota dibentuk oleh banyak elemen kawasan, salah satunya adalah kampung. Sebagai kota budaya, Solo telah dicanangkan oleh pemerintah pusat sebagai salah satu kota kreatif di Indonesia. Kegiatan kreatif suatu kota diharapkan ke depannya akan mendorong berkembangnya kegiatan industri kreatif. Berdasar pengamatan , kampung dengan segala proses kehidupan warganya memungkinkan berkembang menjadi salah satu agen potensial yang mendorong terwujudnya industri kreatif suatu kota. Kota Solo kaya akan kampung kampung tradisional yang layak untuk dikembangkan demi terwujudnya Solo sebagai kota kreatif. Sehubungan dengan hal tersebut di atas perlu adanya upaya dari Pemerintah Kota dan dari semua pihak mendorong masyarakatnya untuk berkreasi dan berpartisipasi secara langsung demi terwujudnya kampung kampung kreatif di kota Solo. Salah satu kampung kreatif berbasis budaya tradisi di kota Solo adalah Kampoeng Batik Laweyan. Laweyan dikembangkan dengan konsep Eco Cultural Creative Kampoeng. Potensi utama kampung diantaranya yang terdiri dari sejarah kawasan, bangunan, lingkungan, home industry khususnya batik, tradisi sosial, seni budaya dikembangkan dengan konsep pembangunan yang berkelanjutan yang berbasis IT dan wisata kreatif. Untuk mewujudkan konsep tersebut diperlukan adanya kerjasama antara organisasi pengelola (masyarakat setempat) dengan pemerintah, praktisi, komunitas sejenis, NGO, dunia pendidikan, media cetak dan elektronik.

Kata Kunci : Kampoeng Batik Laweyan, Industri Kreatif PENDAHULUAN

Industri batik maju dan berkembang mencapai puncak kejayaannya pada awal abad IX. Antropolog Amerika Clifford Geetz memprediksi kaum saudagar batik inilah ke depan yang akan menjadi elite ekonomi Indonesia. Kejayaan tersebut tercermin dengan terbentuknya enklave enklave batik antara lain Laweyan Solo. Dalam perkembangannya banyak saudagar batik yang tumbang dan enklave bisnis kaum saudagar batik banyak yang hancur dan mati suri tak terkecuali industri batik Laweyan. Kehancuran bisnis batik tersebut diakibatkan antara lain kurang responsif menghadapi gelombang mekanisasi dan modernisasi industri di Tanah Air disamping batik kurang mengakar di masyarakat (Tohari, 2006). Hal ini terbukti dari masih banyaknya masyarakat yang belum paham tentang batik yang sebenarnya. Batik hanya dipahami dari sisi perdagangannya dan jarang dipahami dari sisi budayanya. Masyarakat masih sulit membedakan antara batik dan bukan batik (printing) Sehingga sewaktu muncul produk baru yang relatif lebih murah dan bervariatif disertai adanya manajemen perusahaan yang kurang bagus, maka hancurlah batik tradisional. Seiring dengan didirikannya Kampoeng Batik Laweyan pada tahun 2004, serta telah diakuinya batik sebagai warisan budaya Indonesia oleh Unesco pada 2 Oktober 2009, geliat industri batik di Laweyan mulai tumbuh dan berkembang kembali. Kawasan Laweyan dikembangkan dengan konsep Eco Cultural Creative. Potensi utama kawasan yang dikembangkan antara lain sejarah kawasan, bangunan, lingkungan,

home industry, tradisi sosial, seni budaya. Potensi tersebut dikembangkan dengan konsep

pembangunan berkelanjutan yang berbasis IT dan wisata kreatif. Untuk mewujudkan konsep tersebut diperlukan adanya kerjasama antara organisasi pengelola (masyarakat setempat) dengan pemerintah, praktisi, komunitas sejenis, NGO, dunia pendidikan, media cetak dan elektronik.

KAMPOENG LAWEYAN

Laweyan sudah sejak lama dikenal sebagai penghasil batik tradisional, Laweyan adalah bagian dari kerajaan Pajang semasa Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir) tahun 1546. Laweyan berkembang menjadi kawasan pusat perdagangan lawe (bahan sandang) yang maju pesat, setelah Kyai Ageng Henis yang merupakan kerabat Sultan Hadiwijaya bermukim di daerah tersebut. Seiring dengan perkembangan jaman industri batik di Laweyan mengalami pasang surut. Salah satu puncak kejayaan Laweyan terwujud semasa KH. Samnhudi dengan Serikat Dagang Islamnya pada awal abad 20. Industri batik di Laweyan mulai terpuruk di era tahun 1970 an, hal ini kalah bersaing dengan batik

(2)

68

printing. Keterpurukan tersebut mengalami masa puncak pada awal tahun 2000 an, hal ini antara lain ditandai dengan semakin sedikitnya perusahaan batik yang masih eksis serta banyaknya bangunan rumah juragan batik yang rusak atau hancur. Kondisi ini menggugah masyarakat untuk bangkit menyelamatkan Laweyan dari ambang kehancuran. Akhirnya pada tanggal 25 September 2004 masyarakat Laweyan bangkit mendeklarasikan Laweyan sebagai Kampoeng Batik yang dikelola sebagai klaster wisata kreatif dengan konsep pembangunan berkelanjutan dan berbasis IPTEKS (Priyatmono, 2015).

BATIK

Batik merupakan salah satu cabang seni rupa dengan latar belakang sejarah dan akar budaya yang kuat dalam perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia. Menurut Badan Standarisasi Nasional Indonesia (2013), pengertian batik adalah kerajinan tangan sebagai hasil pewarnaan secara perintangan menggunakan malam (lilin batik) panas sebagai perintang warna dengan alat utama pelekat lilin batik berupa canting tulis dan atau canting cap yang membentuk corak tertentu yang memiliki makna dan/atau identitas. Batik merupakan produk bangsa Indonesia yang tumbuh dan berkembang dalam lintasan sejarah yang sangat panjang dan mentradisi. Di setiap daerah di Indonesia, batik mempunyai ragam hias yang beraneka macam dan merupakan identitas masing masing daerah. Batik merupakan kebudayaan yang terus hidup dan berkembang mengikuti perkembangan jaman. Batik sebagai kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang terus tumbuh dan berkembang dengan segala faktor pengaruh dan pendukungnya. Batik awalnya sebagai kebutuhan estetis simbolis untuk kebutuhan upacara adat keraton (khususnya di Jawa), akhirnya berkembang antara lain menjadi konsumsi perdagangan kebutuhan sandang, interior, hiasan dinding. Batik bukan hanya sekedar proses pembuatan, tetapi merupakan produk gagasan yang berwujud media khususnya kain yang berornamentasi dan mempunyai makna.

Menurut Suyanto (2002), ada dua pendapat tentang asal muasalnya batik. Pendapat pertama mengatakan bahwa batik pertama kali masuk ke Indonesia bersamaan dengan hadirnya budaya Hindu dan Budha. Tetapi ada pula yang mengatakan bahwa batik adalah produk budaya asli bangsa Indonesia, karena budaya pembuatan batik tidak hanya dikenal didaerah yang langsung kena pengaruh agama Hindu dan Budha saja seperti Jawa dan Madura, tetapi juga dikenal didaerah Toraja, Flores dan Papua yang ada di bumi Nusantara sebelum datangnya pengaruh Hindu. Di Jawa, batik tumbuh dan berkembang hampir di seluruh kawasan antara lain Betawi, Garut, Tasikmalaya, Indramayu, Cirebon, Pekalongan, Banyumas, Purworejo, Jogjakarta, Solo, Sragen, Pacitan, Ponorogo, Lasem, Tuban, Madura. Menurut Prasetyo (2010), seni pewarnaan dengan menggunakan teknik batik sudah dikenal sejak jaman Mesir abad ke 4 SM. Di Tiongkok teknik membatik diterapkan tahun (618-907), di Jepang pada periode Nara tahun (645-794). Sedang di Indonesia sendiri masih menurut Prasetyo batik mulai dikenal semasa jaman kerajaan Majapahit dan populer di akhir abad XVIII. Dewasa ini batik telah menjadi salah satu produk industri kreatif yang memasyarakat.

INDUSTRI KREATIF

Menurut Departemen Perdagangan Republik Indonesia (2008), Industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu. Seiring dengan pergeseran orientasi ekonomi menuju ekonomi kreatif, industri kreatif mulai berkembang menjadi salah satu faktor penggerak di dalam perekonomian nasional. Pengembangan industri kreatif sangat dibutuhkan dalam persaingan global, karena memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan, menciptakan iklim bisnis yang positif, membangun citra dan identitas bangsa, berbasis kepada sumberdaya yang terbarukan, menciptakan inovasi dan kreativitas. Sub sektor industri kreatif antara lain : periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fesyen, video, film dan fotografi, permainan interaktif, seni pertunjukkan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan piranti lunak, televisi dan radio serta riset dan pengembangan.

Sebagai salah satu sub sektor industri kreatif, batik telah berkembang pesat dari sisi jenis produk, materi bahan baku serta proses pembuatannya. Batik tidak hanya dipergunakan untuk kebutuhan sandang tetapi juga untuk keperluan rumah tangga serta kebutuhan hidup lainnya.

(3)

69

.

KONSEP PENGEMBANGAN KAMPUNG 1. Potensi Utama Kampung :

a. Arsitektur Bangunan dan Lingkungannya.

Setiap kampung mempunyai ciri khas bangunan dan lingkungan yang berbeda beda sesuai dengan aktifitas penduduknya. Aktifitas penduduk yang berbeda beda antar kampung akan memunculkan bentuk , pola tata ruang rumah tinggal serta pola tata ruang kawasan yang berbeda pula. Perbedaan perbedaan tersebut akan menjadi keunikan dan potensi daya tarik yang layak untuk dikembangkan. Melalui kegiatan revitalisasi dengan menyesuaikan fungsi yang ada, wisatawan atau pengunjung diharapkan bisa menikmati dan mempelajari keindahan dan keunikan arsitektur bangunan dan permukiman suatu kampung tanpa mengganggu kehidupan warganya. Potensi yang memungkinkan untuk dikembangkan dari sisi bangunan antara lain : bentuk atau gaya, pola tata ruang, detail ornamen hiasan, landscape dan material bangunan. Adapun dari sisi lingkungan permukiman antara lain : pola tata ruang kawasan, street furniture, landscape. Laweyan terkenal dengan bangunan tradisional Jawa, Indisce serta town scape kawasan dengan jalan gang sempit, pagar tinggi. b. Home Industry

Industri kecil kerajinan tradisional rumahan yang dihasilkan oleh masyarakat kampung. Diprioritaskan home industry yang sudah mentradisi dan dominan. Industri tersebut bisa berupa barang, makanan, pertunjukan dan jasa. Sehingga wisatawan atau pembeli yang datang ke suatu kampung, bisa menikmati hasil produk sambil melihat proses, mencoba untuk belajar dan mencoba ikut berproduksi. Kondisi ini sangat menarik, karena akan memberikan kesan dan pengalaman tersendiri. Laweyan terkenal dengan industri batiknya yang sudah turun temurun ratusan tahun lamanya.

c. Sejarah

Sejarah yang ada di suatu kampung terkait dengan semua aspek kehidupan yang ada di dalamnya, antara lain : sejarah tentang terbentuknya kawasan, sejarah industri kreatif, sejarah tradisi sosial, seni budaya. Berdasar sejarah Laweyan merupakan cikal bakal dinasty kerajaan Mataram. Serikat Dagang Islam lahir di Laweyan yang merupakan embrio Kebangkitan Nasional.

d. Tradisi Sosial, Seni Budaya

Setiap kampung mempunyai tradisi sosial, seni budaya yang berbeda beda sesuai dengan struktur kehidupan masyarakat penghuninya. Tradisi sosial,seni budaya yang positif akan menjadi atraksi tersendiri dan akan menjadi daya tarik kawasannya. Tradisi Jawa di Laweyan yang tidak bertentangan dengan nilai agama Islam tetap dipertahankan. Laweyan yang mayoritas penduduknya Islam masih memegang teguh tradisi agama.

2. Pengelolaan Kawasan

Untuk menjadi kampung kreatif diperlukan adanya kemandirian. Sehubungan dengan itu potensi kampung dikelola dengan konsep :

a. Pembangunan berkelanjutan

Yang dimaksud pembangunan berkelanjutan minimal harus ramah lingkungan, berbasis potensi budaya lokal dan ekonomis. Untuk membentuk kawasan yang ramah lingkungan antara lain dengan mewujudkan adanya green planning, green building, green industry,

green water, green community, green transportation, green energy, green open space. P2KH

Kementrian PU dan Cipta Karya (2015).

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, budaya lokal yang dikembangkan adalah budaya yang bermartabat, yaitu budaya yang memperhatikan nilai nilai agama (budi pekerti dan moralitas). Adapun ekonomis yang dimaksud adalah cara suatu kawasan secara mandiri bisa membiayai dirinya sendiri untuk hidup dan berkembang.

(4)

70

b. Pariwisata Kreatif,

Menurut Hermantoro (2011), pariwisata kreatif merupakan bentuk dari konsep pariwisata yang bertanggung jawab terhadap keberadaan komunitas lokal. Pariwisata kreatif dipahami sebagai pariwisata yang bertujuan untuk pengembangan diri, tidak bersifat masal, mengakomodasikan keberadaan usaha menengah dan kecil, memberikan ruang interaksi pada komunitas dan memberikan penghargaan pada lingkungan. Sehingga wisatawan atau pengunjung datang ke suatu kampung bisa belajar tentang arsitektur bangunan dan kawasan, membeli hasil produk home industry khususnya batik sambil bisa mencoba untuk belajar dan mencoba ikut berproduksi. Wisatawan berbelanja sambil menikmati suasana kampung yang unik dan spesifik serta bisa melihat atraksi seni budaya lokal.

c. Informasi dan Teknologi

Pemanfaatan teknologi terutama yang berbasis digital dan dunia maya sangat diperlukan untuk berkembangnya suatu kawasan, khususnya untuk mempermudah dalam disan produk, promosi informasi dan penjualan online. Laweyan bekerjasama dengan telkom telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai Kampung UKM Digital Nasional.

d. Kerjasama antar Lembaga/Instansi

Perlu adanya pengelolaan kampung secara profesional dan terintegrasi. Dalam hal ini diperlukan adanya kerjasama beberapa elemen. Elemen elemen tersebut antara lain organisasi pengelola lokal (unsur masyarakat setempat), pemerintah, dunia pendidikan,

NGO, komunitas sejenis, media masa.

TUJUAN/GAGASAN

MENGEMBANGKAN KAWASAN BERBASIS POTENSI BUDAYA LOKAL KHUSUSNYA BATIK

POTENSI BUDAYA DAN ALAM (SAUJANA) 1. TRADISI, SENI BUDAYA

(BERMARTABAT)

2. BANGUNAN DAN LINGKUNGAN

3. SEJARAH KAWASAN 4. HOME INDUSTRY SUSTAINABLE DEVELOPMENT WISATA KREATIF BERBASIS IT VISI PENGEMBANGAN KAWASAN BERBASIS ECO CULTURAL CREATIVE

ORGANISASI PENGELOLA (MASYARAKAT LOKAL), PEMERINTAH, NGO, DUNIA PENDIDIKAN, PRAKTISI, KOMUNITAS SEJENIS, MEDIA CETAK, MEDIAELEKTRONIK MISI

GRAND DESIGN PENATAAN KAWASAN (TATA RUANG, BANGUNAN, EKONOMI, INDUSTRI,

KONSERVASI LINGKUNGAN, KONSERVASI BANGUNAN, SOSIAL, SENI BUDAYA)

(5)

71

HASIL PENGAMATAN

Setelah Laweyan dicanangkan sebagai Kampoeng Batik pada tahun 2004 sampai dengan tahun 2015 mengalami perkembangan antara lain :

Pengusaha batik dan turunannya di tahun 2015 semakin bertambah, yaitu hampir 400 persen dibandingkan dengan tahun 2004 awal berdirinya Kampoeng Batik Laweyan. Kesadaran masyarakat akan produksi bersih, konservasi bangunan dan lingkungan semakin berkembang. Kondisi tersebut dapat dilihat dari semakin meningkatnya jumlah kunjungan dari kalangan pemerintah, dunia pendidikan, wisatawan asing dan domestik ke Laweyan untuk belanja dan wisata edukasi batik serta studi pengembangan kawasan.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Standarisasi Nasional Indonesia, 2013, RSNI Pengertian dan Istilah batik, Jakarta Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2007, Studi Pemetaan Industri Kreatif, Jakarta Hermantoro , 2011, Creative-Based Tourism, Aditri, Jakarta

Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Dirjen Cipta Karya Direktorat Bina Penataan Bangunan, 2015, Panduan Penyelenggaraan Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH), Jakarta.

Prasetyo, Anindito, 2010, Batik Karya Agung Warisan Budaya Dunia, Pura Pustaka,Jogjakarta Priyatmono, Alpha Febela, 2015, Pengembangan Industri Batik Ramah Lingkungan Studi Kasus

Kampoeng Batik Laweyan, Simposium Nasional RAPI XIV, FT UMS Suyanto, 2002, Sejarah Batik Yogyakarta, Rumah Penerbitan Merapi, Yogyakarta

Tohari, Hajriyanto, 2006, Robohnya Entrepreneur Santri Kita, Majalah Gatra Edisi Lebaran 2006,Jakarta.

Diagram 2. Konsep Pengembangan Budaya dan Kreatifitas TRSDISI BUDAYA LOKAL NILAI NILAI AGAMA BUDAYA BERMAR TABAT KREATIFITAS BUDAYA KREATIF

Gambar

Diagram 1. Konsep Pengembangan Kampoeng
Diagram 2. Konsep Pengembangan Budaya dan Kreatifitas

Referensi

Dokumen terkait

Pantai Citepus memiliki potensi sumber daya alam pesisir yang indah dan selalu ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara yang mencari kehangatan Ombak

Dari hasil penelitian yang telah diperoleh dilapangan ditemukan bahwa: (1) peran masing-masing agen yang terlibat dalam jaringan prostitusi yakni peran dari Germo,

Hal ini disebabkan karena semakin lama guru mengajar pada umumnya guru memiliki kemampuan lebih dalam mengenali emosi diri, mengelola emosinya, memotivasi diri sendiri, terampil

Dari hasil penelitian kendala penderita hipertensi primer tentang diet rendah garam , dalam hal ini bila dilihat dari latar belakang pendidikan informan yang

Masalah yang akan dibahas pada penelitian ini adalah menentukan faktor-faktor yang menyebabkan siswa lebih memilih Perguruan Tinggi Negeri di Jawa dari pada

Raka Wizaksana, S.Pd dan Sukaesih, S.Pd selaku Guru Fisika SMPN 1 Tirtajaya Karawang yang telah memberikan bimbingan dan motivasi kepada penulis.. Siswa-Siswi SMPN

Dari uji pengaruh tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang menyatakan bahwa kualitas auditor, kemampuan keuangan auditor, hubungan auditor dengan klien, besar kecilnya

The representati on of Persians as Villains in an Movie Script “300”: (An Analysis with an Orientalism Perspective by Edward Said). Universitas Pendidikan Indonesia |