• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAMPIRAN : Il. RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pembahasan Panitia Khusus (Pansus) DPR - RI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAMPIRAN : Il. RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pembahasan Panitia Khusus (Pansus) DPR - RI"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

LAMPIRAN :

Il .

PERSANDJNGAN

RUU TENTANG PENDIDIKAN NASIONAL KONSEP PEMERINTAH' DENGAN

RUU TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL HASIL PEMBAHASAN PANTIA KHUSUS (P ANSUS)

DPR-RI

RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah

RAN CAN GAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN

TENTANG PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

. MAHAESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Menimbang :

Bahwa Undang-Undang Dasar 1945 mengamanat-kan agar Pemerintah mengusahamengamanat-kan dan menye-lenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang;

Bahwa pembangunan nasional di bidang pendi-dikan merupakan upaya mencerdaskan kehidup-an bkehidup-angsa dalam mewujudkkehidup-an masyarakat ykehidup-ang maju/adil, dan makmur, serta memungkinkan para warganya mengembangkan diri masing-masing berkenaan dengan aspek jasmaniah, pera-saan, sosial, intelektual maupun spiritual ber-dasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;

Bahwa untuk mewujudkan pembangunan nasio-nal di bidang pendidkan tersebut diperlukan adanya pembinaan, peningkatan dan pengembangan penyelenggaraan pendidikan nasional;

Bahwa Undang-undang Nomor 4 Tahun 1950 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajar-an di Sekolah, UndPengajar-ang-undPengajar-ang Nomor 12 Tahun 1954 tentang Pernyataan Berlakunya Undang-undang Nomor 4 Tahun 1950 dari Republik Indonesia Dahulu tentang Dasar-dasar Pendi-dikan dan Pengajaran di Sekolah untuk seluruh Indonesia, dan Undang-undang Nomor22 Tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi, serta Undang-undang Nomor 14 PRPS Tahun 1965 tentang Majelis Pendidikan Nasional dan Undang-undang

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pembahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR - RI

RAN CAN GAN

UNDANG-UNDANG REPUBUK INDONESIA NOMOR TAHUN

TENTANG

SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

MAHAESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang:

a. bahwa Undang-Undang Dasar 1945 menga-manatkan upaya untuk mencerdaskan kehi-dupan bangsa serta agar Pemerintah mengu-sahakan dan menyelenggarakan satu sis-tem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang;

b. bahwa pembangunan nasional di bidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan ke-hidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujudkan .masyarakat yang maju, adil dan makmur, serta memungkinkan para warganya me-mengembangkan diri baik berkenaan de-ngan aspek jasmaniah maupun rohaniah berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;

c bahwa untuk mewujudkan pembangunan nasional di bidang pendidikan diperlukan peningkatan dan penyempurnaan penyeleng-garaan pendidikan nasional;

d. Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah (Lem-baran Negara Tahun 1950 Nomor 550), Undang-undang Nomor 12 Tahun 1954 tentang Pernyataan Berlakunya Undang-undang Nomor 4 Tahun 1950 dari Republik Indonesia Dahulu tentang Dasar-dasar Pendi-dikan dan Pengajaran di Sekolah Untuk Seluruh Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1954 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 550), dan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1961 tentang Perguruan

(2)

RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah

Nomor 19 PNPS tahun 1965 tentang Pokok-pokok Sistem Pendidikan Nasional Pancasila tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan per-kembangan pendidikan nasional dewasa ini

dalam kenyataannya;

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pembahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR- RI

Tinggi (Lcmbaran Negara Tahun 1961 Nomor 302, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2361), serta Undang-undang Nomor 14 PRPS Tahun 1965 tentang Majelis Pen-didikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1965 Nomor 80) dan Undang-undang Nornor 19 PNPS Tahun 1965 tentang Pokok-pokok Sistem Pendidikan Nasional Pancasila (Lembaran Negara Tahun 1965 Norn or 81 ), perlu disesuaikan 'dengan ke-butuhan dan tuntutan perkembangan pen-didikan nasional sebagai satu sistem; Bahwa sehubungan dengan hal-hal tersebut di e.

atas dan dalam rangka memantapkan ketahanan nasional serta mewujudkan masyarakat maju yang berakar pada kebudayaan bangsa dan persatuan nasional atas dasar Bhineka Tunggal

bahwa sehubungan dengan hal-hal terse-but di atas dan dalam rangka memantapkan

ketahanan nasional serta mewujudkan rnasyarakat rnaju yang berakar pada kebu-dayaan bangsa dan persatuan nasional berwawasan Bhineka Tunggal lka berda-sarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 perlu ditetapkan Undang-undang ten-tang Sistern Pendidikan Nasional.

Ika yang berdasarkan Pancasila dan Undang Dasar 1945, perlu ditetapkan Undang-undang tentang Pendidikan Nasional;

Mengingat :

Pasal 5 ayat (1), Pasal 20, Pasal 30, Pasal 31, Pasal 32, Pasal 33, dan Pasal 36 Undang-Undang Dasar 1945;

Dengan persetujuan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PENDIDIKAN NASIONAL

RANCANGAN PENJELASAN UMUM

I>i!l!l!l ..

kehidupan suatu bangsa, pendidikan mempunyai peranan yang amat penting un-tuk rnenjarnin perkernbangan dan kelangsungan kehidupan bangsa yang bersangkutan. Peranan pendidikan bagi bangsa Indonesia dapat dilihat dalam pernyataan Pembukaan Undang-Und<ing Dasar 1945 yang rnengemukakan bahwa kemer-dekaan kebangsaan Indonesia disusun untuk .... melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut rnelaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. ... ".

Mengingat :

Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 31 Undang-Undang Dasar 1945.

Dengan persetuj uan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : UNDANG-UNDANG SJSTEM PENDIDIKAN NASIONAL RANCANGAN PENJELASAN

UMUM

Dalam kehidupan suatu bangsa, pendidikan mem· p,unyai peranan yang arnat penting untuk rnen-jamin perkembangan dan kelangsungan

kehi-dupan bangsa yang bersangkutan.

Perjuangan pergerakan kernerdekaan Indonesia yang telah mengantarkan pernbentukan suatu pernerintah negara Indonesia untuk "melin-dungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia" serta "rnemajukan ke-sejahteraan umum, · mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut rnelaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial menuntut" penyeleng-garaan dan pengembangan pendidikan yang

(3)

RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah

Untuk mewujudkan tujuan yang dimantapkan oleh Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 khususnya ketentuan Pasal 31 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945, diperlukan perangkat hukum yang mampu memberi pedoman pada upaya kegiatan pendidikan nasiona!; Dalam rangka inilah Undang-undang tentang Pendidikan Nasional ini disusun. Penyusunan Undang-undang ini semakin diperlukan mengi-ngat bahwa peraturan perundangan-undangan yang sekarang berlaku bagi pengaturan, pembi-naan dan pengembangan pendidikan nasional sudah tidak memenuhi kebutuhan lagi. Oleh ka-rna itu, Undang-undang Nomor 4 Tahun 1950 tentang Dasar..<fasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah, Undang-undang Nomor 12 Tahun 1954 tentang Pernyataan Berlakunya Undang-undang Nomor 4 Tahun 1950 dari Republik

Indonesia Dahulu tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah untuk seluruh Indo-nesia dan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi, serta Undang-undang Nomor 14 PRPS Tahun 1965 tentang Majelis Pendidikan Nasional dan Undang-undang Nomor 10 PNPS Tahun 1965 ten tang Pokok-pokok Sistem Pendidikan Nasional Pancasila perlu di-cabut.

Dengan landasan tersebut, pendidikan nasional disusun sebagai usaha sadar untuk memungkin-kan bangsa Indonesia mempertahanmemungkin-kan kelang-sungan hidupnya dan mengembangkan dirinya secara terus-menerus dari satu generasi ke generasi berikut.

Dengan menyadari sifat pendidikan yang kait-mengait dengan bidang pembangunan yang lain, maka pendidikan diselenggarakan secara semesta, menyeluruh dan terpadu. Semesta dalam arti terbuka bagi seluruh rakyat di seluruh Nusantara; menyeluruh dalam arti mencakup semua jenis dan jenjang pendidikan; terpadu dalam arti adanya sating keterkaitan antara pendi-dikan nasional dengan keseluruhan usaha pem-angunan nasional.

Pendidikan nasional yang bersifat semesta, menyeluruh dan terpadu, mempunyai dua pe-ranan dalam pembangunan nasional. Pertama, peranan sebagai pembentuk manusia Indonesia seutuhnya. Kedua, peranan sebagai pendukung perkembangan masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia, serta pendukung ketahanan nasional. Untuk memenuhi tuntutan seperti dikemukakan di atas, setiap warga negara harus dijamin haknya

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pembahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR- RI

dapat menjamin perkembangan dan kelangsung-an kehidupkelangsung-an bkelangsung-angsa Indonesia.

Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan melalui BAB XIII, Pasal 31 ayat (2), bahwa pendidikan yang dimaksud harus diusahakan dan diselenggarakan oleh Pemerintah sebagai "satu sistem pengajaran nasional". Sesuai dengan judul bab yang bersangkutan, yaitu

PENDIDIK-AN, pengertian "satu sistem pengajaran nasional" dalam undang-undang ini diperluas menjadi "satu sistem pendidikan nasional". Perluasan pengertian ini memungkinkan undang-undang ini tidak membatasi perhatian pada pengajaran saja, melainkan juga memperhatikah unsur-unsur pen-didikan yang berhubungan dengan pertumbuhan kepribadian manusia Indonesia yang bersama-sama merupakan perwujudan bangsa Indonesia, suatu bangsa yang bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, memelihara budi pekerti ke-manusiaan dan memegang teguh cita·dta moral rakyat yang luhur, sebagaimana dimaksud dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor : II/MPR/1978 ten-tang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ekaprasetia Pancakarsa).

Dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasio-nal sebagai pengalaman Pancasila di bidang pen-didikan, maka pendidikan nasional menusahakan pertama, pembentukan manusia Pancsila sebagai manusia pembangunan yang tinggi kualitasnya dan mampu mandiri, dan kedua, pemberian dukungan bagi perkembangan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang terwujud dalam ketahanan nasional yang tangguh yang mengan-dung makna terwujudnya kemampuan bangsa menangkal setiap ajaran, paham dan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. Sehubung-an dengSehubung-an itu, maka PendidikSehubung-an PendahuluSehubung-an Bela Negara diberikan kepada peserta didik seba-gai bagian dari keseluruhan sistem pendidikan nasional.

Dengan landasan pemikiran tersebut, pendidik-an nasional disusun sebagai usaha sadar untuk memungkinkan bangsa Indonesia mempertahan-kan kelangsungan hidupnya dan mengembangmempertahan-kan dirinya secara terus-menerus dari sa tu genq:asi ke generasi berikutnya.

Sistem pendidikan nasional adalah sekaligus alat dan tujuan yang amat penting dalam perju-angan mencapai cita-cita dan tujuan nasional. Sistem pendidikan naaional dilaksanakan secara

(4)

RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah

untuk memperoleh kesempatan pendidikan yang seluas-luasnya, sekurang-kurangnnya untu1c memperoleh pendidikan yang setara dengan tamatan pendidikan dasar.

Mengingat pentingnya arti dan peranan pendi-didikan, maka setiap warga negara diharapkan dapat belajar seurnur hidup. lni hanya dapat berlangsung apabila setiap warga negara diberi ke-sempatan yang seluas-luasnya untuk menjadi peserta didikan, baik melalui jalur utama yaitu pendidikan formal dan pendidikan 1 nonformal maupun jalur pendidikan informal. Jalur pen-didikan informal juga merupakan salah satu upaya mencerdaskan kehidupan bangsa yang berlangsung di luar jalur formal ataupun non-formal yang biasa disebut pendidikan dalam ke-lauarga yang tidak ditata dan diperoleh tanpa tujuan tertentu melalui pengalaman seumur hi-dup rnanusia yang bersangkutan.

Pendidikan infomasi atau pendidikan dalam ke-luarga memberikan keyakinan agama, nilai bu-daya yang mencakup nilai moral dan aturan-aturan pergaulan serta pandangan keterampilan dan sikap hidup yang mendukung kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kepada anggota keluarga yang bersangkutan. Oleh ka-rena itu dalam penerimaan peserta didikan tidak dibenarkan adanya perbedaan atas dasar jenis kelamin, agama, ras, suku, latar belakang sosial dan tingkat kemampuan ekonomi kecuali apabila ada satuan pendidikan yang memiliki kekhususan.yang harus diindahkan.

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pembahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR- RI

sementara, menyeluruh dan terpadu; semesta da-lam arti terbuka bagi seluruh rakyat dan berlaku di seluruh wilayah negara; menyeluruh dalam arti mencakup semua jalur, jenjang, dan jenis pendi-dikan; dan terpadu dalam arti adanya saling terkaitan antara pendidikan nasional dengan se-luruh usaha pembangunan nasional.

Pendidikan nasional yang ditetapkan dalam un-dang-undang ini mengungkapkan satu sistem yang :

a. berakar pada kebudayaan nasional dan ber-dasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta melanjutkan dan meningkatkan Pendidikan Pedornan Penghayatan dan Penga-malan Pancasila (Ekaprasetia Pancakarsa); b. merupaka satu kesatuan dan dikembangkan

untuk ikut berusaha mencapai tujuan nasio-nal;

c. mencakup, baik jalur pendidikan sekolah maupun jalur pendidikan Iuar sekolah;

d. mengatur, bahwa jalur pendidikan sekolah terdiri atas 3 (tiga) jenjang utama, yang masing-masing terbagi pula dalam jenjang atau tingkatan;

e. mengatur, bahwa kurikulum peserta didik dan tenaga kependidikan terutama guru, dosen atau tenaga pengajar-merupakan tiga unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan belajar-mengajar;

f. mengatur secara terpusat (sentralisasi), namun penyelenggaraan satuan dan kegiatan pendi-dikan dilaksanakan secara tidak terpusa t (dis en tralisasi) ;

g. menyelenggarakan satuan dan kegiatan pendi-dikan sebagai tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan Pemerintah; h. mengatur, bahwa satuan dan kegiatan

pendi-dikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan masyarakat berkedudukan serta diper-lakukan dengan penggunaan ukuran yang

sama;

i. rnengatur, bahwa satuan dan kegiatan pendi-dikan yang diselenggarakan oleh masyarakat memiliki kebebasan untuk

(5)

menyelenggarakan-RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pembahasan Panitla Khusus

(Pansus) DPR- RI

nya sesuai dengan ciri atau kekhususan masing-masing sepanjang ciri itu tidak ber-tentangan dengan Pancasila sebagai dasar negara pandangan hidup bangsa dan ideologi bangsa dan negara; dan

j. mengadakan peserta didik memperoleh pen-didikan yang sesuai dengan bakat, minat dan tujuan yang hendak dicapai serta memudah-kan menyesuaik:an diri dengan perubahan lingkungan.

Sistem pendidikan nasional harus dapat memberi pendidikan dasar bagi setiap warga negara Repu-blik Indonesia, agar masing-masing memperoleh sekurang-kurangnya pengetahuan dan kemam-puan dasar, yang meliputi kemamkemam-puan membaca, menulis dan berhitung serta menggunakan bahasa Indonesia, yang diperlukan oleh setiap warga negara untuk dapat berperanserta dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan berne-gara.

Setiap warga negara diharapkan mengetahui hak dan kewajiban pokoknya sebagai warga negara serta memiliki kemampuan untuk dapat

memenu-hi kebutuhan diri sendiri, ikut serta dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat, dan memper-kuat persatuan dan kesatuan serta upaya pem-belaan negara. Pengetahuan dan kemampuan

ini harus dapat diperoleh dari sistem pendidikan nasional. Hal ini dimaksudkan untuk memberi makna pada amanat Undang-Undang Dasar 1945, BAB XIII, Pasal 31 ayat (1) yang menyatakan, bahwa "Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran ".

Warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan pada tahap rnanapun dalam

perjalan-an hidup-pendidikperjalan-an seumur hidup -, meskipun sebagai anggota masyarakat ia tidak diharapkan untuk terus-menerus belajar tanpa mengabdikan kemampuan yang diperoleh untuk kepentingan masyarakat. Pendidikan dapat dipcrolch baik mclalui jalur pendidikan sekolah maupun jalur pcndidikan luar sckolah.

Sistem pendidikan nasional mcmbcri kcscmpatan belajar yang seluas-luasnya kepada setiap warga negara, olch karcna itu dalam pcncrirnaan sc-scorang scbagai pcserta didik tidak dibenarkan adanya pcrbedaan atas dasar jcnis kelamin, agarna, ras, suku, latarbclakang sosial dan tingkat kemampuan ckonomi, kecuali apabila ada sa-tuan atau kegiatan pendidikan yang mcmiliki kckhususan yang harus diindahkan.

(6)

RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pembahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR- RI

Juar .sekolah merupakan salah satu upaya men-cerdaskan kehidupan bangsa melalui pengalam-an seumur hidup.

Pendidikan dalam keluarga memberikan keya-kinan agama, nilai budaya yang mencakup nilai moral dan aturan-aturan pergaulan serta pandangan, keterampilan dan sikap hidup yang mendukung kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kepada anggota keluarga yang bersangkutan.

Dalam rangka meningkatkan peran serta kelu-arga, masyarakat dan Pemerintah dalam pelak-sanaan sistem pendidikan nasional, maka semua pihak perlu berusaha untuk menciptakan suasana lingkungan yang mendukung terwujudnya tujuan pendidikan nasional. Dalam hubungan ini, maka pengadaan dan pendayagunaan sumber daya pen-didikan, baik yang disediakan oleh Pemerintah maupun masyarakat perlu dipertahankan fungsi sosialnya, dan tidak mengarah pada usaha men-capai keuntungan material.

Upaya peningkatan taraf dan mutu kehidupan bangsa dan pengembangan kebudayaan nasional, yang diharapkan menaikkan harkat dan marta-bat manusia Indonesia, diadakan terus-menerus, sehingga dengan sendirinya senantiasa menun-tut penyesuaian pendidik:an pada kenyataan yang selalu berubah. Pendidikan juga harus senantiasa disesuaikan dengan tuntutan perkem-bangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengaturan dalam Undang-undang ini pada dasar-nya dirumuskan secara umum, agar supaya pe-ngaturan yang lebih khusus, yang harus disesuai-kan dengan keadaan yang telah mengalami peru-bahan sebagairnana dimaksud di atas, dan bah-kan harus memperhitungbah-kan kemungkinan tun-tutan perkembangan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia di masa yang akan datang, dapat dilakukan melalui pengaturan yang lebih mudah dibuat, diubah dan dicabut. Dalam hu-bungan inilah dibentuk Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional yang bertugas untuk mem-beri pertirnbangan kepada Menteri mengenai segala ha! yang dipandang perlu dalam rangka perubahan, perbaikan, dan penyempurnaan penyelenggaraan pendidikan nasional.

Pengaturan perundang-undangan yang sekarang berlaku · bagi pengaturan, pembinaan, dan pengembangan pendidikan nasional perlu dise-suaikan dengan kebutuhan dan tuntutan per-kembangan pembangunan pendidikan nasional.

(7)

RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pembahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR- RI

Undang-undang yang lama, yakni unda11B-undang Nomor 4 Tahun 1950 tentang Dasar-dasar Pen-didikan dan Pengajaran di Sekolah (Lembaran Negara Tahun 1950 Nomor 550); Undang-undang Nomor 12 Tahun 1954.tentang Pernyataan Ber-lakunya Undang-undang Nomor 4 Tahun 1950 dari Republik Indonesia Dahulu tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran Sekolah untuk Seluruh Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1954 Nomor 38 Tambahan · Lembaran Negara Nomor 550); Undang-undang nomor 22 Tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi (Lembaran Ne-gara Tahun 1961 Nomor 302, Tambahan Lem-baran Negara Nomor 2361); Undang-undang Nomor 14 PRPS Tahun 1965 tentang Majelis Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1965 Nomor 80); Undang-undang Nomor 19 PNPS Tahun 1965 tentang pokok-pokok Sis-tem Pendidikan Nasional. Pancasila Lembaran Negara Tahun 1965 Nomor 81) perlu dicabut dan dinyatakan tidak berlaku serta diganti de-ngan Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional ini.

(8)

R UU Tentang Pendidikan Nasional Kansep Pernerintah

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalain undang-undang ini yang dimaksud

de-ngan :

Pendidikan adalah usaha sadar untuk rnenyiap-kan peserta didikan rnelalui kegiatan birnbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di rnasa yang akan datang;

Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berpedornan pada Pancasila dan Undang-Undang

Dasar 1945;

Sistem pendidikan nasional adalah satu kese-luruhan yang terpadu dari semua satuan pendi-dikan yang berkaitan satu dengan lain untuk mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan bangsa Indonesia;

Jenis pendidikan adalah satuan pendidikan yang dikelompokkan sesuai dengan sifat dan tujuan-nya;

Jenjang pendidikan dadalah suatu tahap dalarn pendidikan berkelanjutan yang ditetapkan ber-dasarkan tingkat pekembangan kepribadian para peserta didikan yang bersangkutan dan tingkat kerumitan bahan pengajaran;

Peserta didikan adalah anggota masyarakat yang berusaha rnemperoleh pendidikan dan/atau dijadikan sasaran kegatan tenaga pendidk;

Tenaga pendidik adalah anggota masyarakat yang bertugas membirnbing, rnengajar, dan/atau melatih peserta didikan;

Kurikulum adalah seperangkat pengaturan yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar;

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pernbahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR- RI.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalarn undang-undang ini yang dirnaksud

de-ngan :

1. Pendidikan adalah usaha dasar untuk rne-nyiapkan peserta didik rnelalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang; 2. Pendidiku nasional adalah pendidikan yang

berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan yang berdasarkan pada Pancasila dan

Undang-Undang Dasar 1945;

3. Sistem pendidikan nasional adalah satu ke-seluruhan yang terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan lainnya untuk mengusaha-kan tercapainya tujuan pendidimengusaha-kan nasio-nal;

4. Jenis pendidikan adalah pendidikan yang dikelompokkan sesuai dengan sifat dan kekhususan tujuannya;

5. Jenjang pendidikan adalah suatu tahap dalam pendidikan berkelanjutan yang di-tetapkan berdasarkan tingkat perkernbangan para peserta didik serta keluasan dan kedala-man bahan pengajaran.

6. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya me-lalui proses pendidikan pada jalur, jenjang, danjenis pendidikan tertentu;

7. Tenaga pendidikan adalah anggota masya-rakat yang mengabdikan diri dalam penye-lenggaraan pendidikan;

8. Tenaga pendidik adalah anggota masyarakat ·yang bertugas membirnbing, mengajar dan/

atau melatih peserta didik;

9. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pe-lajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar.

(9)

RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah

Sumber daya pendidikan adalah upaya pelaksana-an pendidikpelaksana-an ypelaksana-ang terwujud sebagai tenaga, dana, sarana dan prasarana yang tersedia atau diadakan dan didayagunakan oleh keluarga, masyarakat, peserta didikan, dan Pemerintah, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama;

Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab atas bidang pendidikan nasional.

Penjelasan Pasal 1 Cukup jelas

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pembahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR- RI

10. Sumber daya pendidikan adalah pendukung dan penunjang pelaksanaan pendidikan yang terwujud sebagai tenaga, dana, sarana

mm

prasarana yang tersedia atau diadakan dan didayagunakan oleh keluarga, masyarakat, peserta didik dan Pemerintah, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama;

11. Warga negara adalah warga negara Repu-blik Indonesia;

12. Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab atas bidang pendidikan nasional.

Penjelasan Pasal 1 Cukupjelas

(10)

RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah

BAB II

DASAR, FUNGSI, DAN TUJUAN Pasal 2

Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 .

Petiielasan Pasal 2 Cukupjelas

Pasal 3

Pendidikan nasional berfungsi untuk mengem-bangkan daya kemampuan dan meningkatkan mutu kehidupan nasional Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional.

Penjelasan Pasal 3

Dalam fungsinya untuk mengembangkan dan menjamin kelangsungan hidup bangsa, maka pendidikan nasional berusaha untuk mengem-bangkan daya kemampuan, martabat dan mutu kehidupan manusia Indonesia; memerangi segala kekurangan, keterbelakangan, dan kebodohan; menetapkan pertahanan nasional; serta mening-katkan rasa persatuan dan kesatuan berlandas-kan kebudayaan bangsa dan ke Bhineka tunggal Ika-an.

Pasal 4

Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manu-sia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa memi-liki kesegaran jasmani dan rohani, budi pekerti luhur, pengetahuan dan keterampilan, kepribadi-an ykepribadi-ang mkepribadi-antap, rasa cinta pada bkepribadi-angsa dkepribadi-an tanah air Indonesia, memiliki kemampuan untuk membangun dirinya sendiri dan memiliki kemam-puan tanggung jawab bersama atas upaya pem-bangunan bangsa dan negara Indonesia.

Penjelasan

Pasal 4

Cukupjelas

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasiol)al Hasil Pembahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR- RI

BAB II

DASAR, FUNGSI, DAN TUJUAN

Pasal 2

Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;

Pasal 3

Penjelasan

Pasal 2 Cukupjelas

Pendidikan nasional berfungsi untuk mengem-bangkan daya kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indo-nesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional.

Penjelasan Pasal 3

Dalam fungsinya untuk mengembangkan dan menjamin kelangsungan hidup bangsa, maka pendidikan nasional berusaha untuk mengem-bangkan kemampuan, mutu dan martabat ke-hidupan manusia Indonesia; memerangi segala kekurangan, keterbelakangan, dan kebodohan; memantapkan ketahanan nasional; serta mening-katkan rasa persatuan dan kesatuan berlandaskan kebudayaan bangsa dan ke-Bhineka Tunggal Ika-an.

Pasal 4

Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan ke-hidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. yaitu manusia yang beri-man dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur. memiliki penge-tahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan kemampuan dan keterampilan tamatan pendidik-serta rasa tanggung Jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Peitjelasan Pasal4 Cukup Jelas

(11)

RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah

BAB III

HAK WARGA NEGARA UNTUK MEMPEROLEH PENDIDIKAN

Pasal 5

Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan.

P'enjelasan Pasal 5

Pasal ini menetapkan bahwa setiap warga nega-ra memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendi-dikan. Oleh karena itu, pengaturan pelaksanaan hak tersebut tidak boleh mengurangi arti kea-dilan dan pemerataan bagi setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan.

Pasal 6

Setiap warga negara berhak atas kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengikuti pendidik-an agar memperoleh kemampupendidik-an dpendidik-an keteram-pilan yang sekurang-kurangnnya serta dengan kemampuan dan keterampilan tamatan pendidik-an dasar.

Penjelsan Pasal 6

Pasal ini memberikan pedoman bahwa pendidik-an dasar, mempunyai fungsi untuk mempersiap-bekal dasar bagi pengembangan kehidupan, sikap, pengetahuan dan keterampilan, yang diperlu-kan oleh setiap warga negara sekurang-kurang-nya serta dengan pendidikan dasar dalam mem-bekali dirinya dengan kemampuan berbahasa Indonesia, membaca, menulis dan berhitung.

Pasal 7

Penerimaan seseorang sebagai peserta didikan dalam suatu satuan pendidikan diselenggarakan dengan tidak membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, kedudukan sosial dan tingkat kemam-puan ekonomi, dan dengan tetap mengindahkan kekhususan satuan pendidikan yang bersangkut-an.

Penjelasan Pasal 7

Pendidikan nasional memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada setiap orang untuk

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pembahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR- RI

BAB III

HAK WARGA NEGARA UNTUK MEMPEROLEH PENDIDIKAN

Pasal 5

Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan.

· Penjelasan Pasal 5

Pasal ini menegaskan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pen-didikan. Oleh karena itu, pengaturan pelaksana-an hak tersebut tidak boleh mengurpelaksana-angi arti keadilan dan pemerataan · bagi setiap warga ne-gara untuk memperoleh pendidikan.

Pasla 6

Setiap warga negara berhak atas kesepakatan yang selus-luasnya untuk mengikuti pendidikan agar rnemperoleh pengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang sekurang-kurangnya serta de-ngan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan tamatan pendidikan dasar.

Penjelasan Pasal 6

Pasal ini memberikan pedoman bahwa pendidik-an dasar, mempunyai fungsi untuk mempersiap-kan bekal dasar bagi pengembangan kehidupan, sikap, pengetahuan dan keterampilan, yang diperlukan o!eh setiap warga negara sekurang-kurangnya setara dengan pendidkan dasar dalam membekali dirinya.

Pasal 7

Penerimaan seseorang sebagai peserta didik da-lam suatu satuan pendidikan diselenggarakan dengan tidak membedakan jeni kelamin, agama, suku, ras, kedudukan sosial dan tingkat kemam-puan ekonomi, dan dengan tetap mengindahkan kekhususan satuan pendidikan yang bersang-kutan.

Penjelasan Pasal 7

Pendidikan nasional memberikan kesernpatan yang seluas-luasnya kepada setiap warga negara

(12)

RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah

memperoleh pendidikan, karena itu dalam pe-nerimaan peserta didikan tidak dibenarkan ada-nya pembedaan atas dasar jenis kelamin, agama, suku, ras, la tar belakang sosial dan tingka t kemampuan ekonomi, kecuali dalam satuan pendidikan yang memiliki kehususan. Misalnya satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendi-dikan atas dasar kewanitaan dibenarkan untuk menerima hanya wanita sebagai peserta didikan dan tidak menerima pria.

Sedangkan satuan pendidikan yang menyeleng-garakan pendidikan bagi calon ahli agama ter-tentu dibenarkan untuk menerima hanya penga-mat agama yang bersangkutan sebagai peserta.

Pasal 8

Warga negara yang memiliki kelainan fisik dan/ atau mental dapat memperoleh pendidikan khusus.

Warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa dapat memperoleh per-hatian khusus.

Pelaksanaan lebih lanjut ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Penjelasan Pasal 8 Ayat (1)

Pendidikan khusus di sini adalah pendidikan yang disesuaikan dengan kelainan peserta didikan ber-kenaan dengan cara penyelenggaraan dan/atau isi pendidikan yang bersangkutan.

Ayat (2)

Pendidikan khusus di sini adalah pendidikan yang disesuaikan denan kecerdasan luar biasa peserta didikan berkenaan dengan cara penyelenggaraan dan/atau isi pendidikan yang bersangkutan.

Ayat (3) Cukupjelas

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pembahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR- RI

untuk memperoleh pendidikan, karena itu dalam penerimaan peserta didik tidak dibenarkan adanya pembedaan atas dasar jenis kelamin, agama, suku, ras, latarbelakang sos:.tl, dzn tingkat kemampuan ekonomi, kecuali dalam satuan pen-didikan yang memiliki kekhususan. Misalnya, satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendi-dikan atas dasar kewanitaan dibenarkan untuk menerima hanya wanita sebagai peserta didik dan tidak menerima pria. Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan agama tertentu dibenarkan untuk menerima hanya penganut agama yang bersangkutan.

Pasal 8

(1) Warga negara yang memiliki kelainan fisik dan/atau mental memperoleh pendidikan luar biasa.

(2) Warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak mempero-leh pendidikan khusus.

(3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimak-sud pada ayat (1) dan (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Penjelasan Pasal 8 Ayat (1)

Pendidikan luar biasa adalah pendidikan yang disesuaikan dengan kelainan peserta didik ber-kenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bersangkutan.

Ayat (2) Cukup jelas

Ayat (3) Cukupjelas

(13)

RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah

BAB IV

SATUAN, JALUR DAN JENIS PENDIDIKAN

Pasal 9

Satuan pendidikan menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar · yang dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah.

Sekolah adalah satuan pendidikan yang merupa-kan bagian dari jalur formal yang berjenjang dan bersinambungan.

Penjelasan Pasal 9 Ayat (1)

Satuan pendidikan dapat terwujud sebagai suatu sekolah, kursus, kelompok belajar, ataupun bentuk lain, baik yang menempati bangunan tertentu, seperti yang diwujudkan oleh satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh Universitas Terbuka, dan bentuk-bentuk satuan pendidikan yang sejenis.

Ayat (2)

Sekolah biasanya menempati bangunan tertentu, sebagian dari bangunan tertentu, untuk sebagian saja dari waktu hari-hari sekolah, atau lebih daripada satu bangunan tertentu. Sekolah bisa juga menyelenggarakan pendidikan dengan para peserta didikan yang berada di luar bangunan satuan pendidikan yang bersangkutan, seperti Sekolah Menengah Terbuka.

Pasal 10

Menyelenggarakan pendidikan dilaksanakan me-lalui 2 (dua) jalur utama yaitu jalur formal dan jalur nonformal;

Selain kedua jalur sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pendidikan juga dilaksanakan melalui jalur informal.

Pelaksanaan lebih lanjut ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pembahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR-RI

BAB IV

SATUAN, JALUR DAN JENIS PENDIDIKAN

Pasal 9

(1) Satuan pendidikan menyelenggarakan ke-giatan belajar-mengajar yang dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah.

(2) Satuan pendidikan yang disebut sekolah merupakan bagian dari pendidikan yang ber-jenjang dan bersinambungan.

(3) Satuan pendidi.kan luar sekolah meliputi keluarga, kelompok belajar, khusus, dan satuan pendidikan yang sejenis.

Penjelasan Pasal 9 Ayat (1)

Satuan pendidikan dapat terwujud sebagai suatu sekolah, kursus, kelompok belajar, atau-pun bentuk lain, baik yang menempati bangunan tertentu maupun yang tidak, seperti satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan jarakjauh. Ayat (2) Cukupjelas Ayat (3) Cukupjelas Pasal 10

(l) Penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui 2 (dua) jalur yaitu jalur pendidik-an sekolah dpendidik-an jalur pendidikpendidik-an luar seko-lah.

(1) Jalur pendidikan sekolah merupakan pendi-dikan yang diselenggarakan di sekolah me-lalui kegiatan belajar-mengajar secara ber-jenjang dan bersinambungan.

(3) Jalur pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di luar se-kolah melalui kegiatan belajar-mengajar yang tidak harus berjenjang dan bersinam-bungan.

(14)

RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pernerintah

Penjelasan Pasal 10 Ayat (1)

Pendidikan formal adalah pendidikan yang di-selenggarakan rnelalui prasarana terlembaga se-perti sekolah, akaderni dan universitas. Pendidik-an ini merupakPendidik-an pendidikPendidik-an berurut yPendidik-ang men-calrnp jangka waktu yang cukup lama dan yang berjenjang. Keberhasilan dalam menjalani pendi dikan ini pada tahap-tahap tertentu dilambang-kan dengan pemberian ijazah. Pada pendidikan tinggi lulusan program pendidikan tertentu di-beri hak untuk menggunakan sebutan keilmuan atau profesional. Pendidikan nonforrnal adalah pendidikan yang diselenggarakan di luar jalur formal. Meskipun demikian, pendidikan non-formal juga ditata dan mempunyai tujuan ter-tentu yang hendak dicapai. Pendidikan non-formal dapat juga merupakan pendidikan yang berurut, meskipun belum tentu berjenjang. Ciri-ciri yang jelas membedakan pendidikan .10nforrnal dengan pendidikan formal adalah keluwesan pendidikan nonformal berkenaan de-ngan waktu dan lama belajar, usia peserta didik-an, isi ajardidik-an, cara penyelenggaraan pengajaran dan cara penilaian basil belajar. Pendidikan non-formal pada umumnya merupakan pendidikan keterampilan yang rnernpersiapKan peserta didik-an agar memiliki kemampudidik-an menyelenggarakdidik-an pekerjaan tertentu yang dibutuhkan da1am

bidang produksi danfatau jasa, serta untuk me-ningkatkan rnutu kehidupan peserta sendiri. Pendidikan nonforrnal ini sering juga dikenal se-bagai "pendidikan luar sekolah", meskipun pada umumnya pendidikan inipun diselenggarakan di ruangan sekolah atau ruangan yang rnenyerupai sekolah.

Ayat (2)

Lihat penjelasan urnum

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pernbahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR- RI

(4)

(5)

Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diseleng-garakan dalam keluarga dan yang memberi-kan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan.

Pelaksanaan ketentuan sebagairnana dirnak-sud pada ayat (3) yang tidak menyangkut ketentuan sebagaimana dirnaksud pada ayat (4) ditetapkan dengan Peraturan Pe-merintah.

Penjelasan Pasal 10 Ayat (1)

Pendidikan sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan melalui prasarana yang dilem-bagakan. Pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di Juar sekolah baik yang dilembagakan maupun tidak. Ciri-ciri yang membedakan pendidikan luar sekolah dengan pendidikan sekolah adalah keluwesan pendidikan luar sekolah berkenaan dengan wak-tu dan lama belajar, usia peserta didik, isi pela-jaran, cara penyelenggaraan pengajaran dan cara penilaian hasil belajar.

Ayat (2)

(15)

RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah

Ayat (3) Cukupjelas

Pasal 11

Pendidikan yang termasuk dalam jalur formal di-bagi menurut jenisnya dalam pendidikan umum, pe!'ldidikan khusus, pendidikan kejuruan, pendi-dikan kedinasan, dan pendipendi-dikan keagarnaan. Pelaksanaan lebih lanjut ketentuan sebagairnana dirnaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

RUU Tentang Sistem Pendidik.an Nasional Hasil Pembahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR- RI Ayat (3) Cukupjelas Ayat (4) Cukupjelas Ayat (5)

Keluarga merupakan pendidikan yang penting peranannya dalam upaya pendidikan umumnya. Pemerintah mengakui kernandirian keluarga untuk melaksanakan upaya pendidikan dalam lingkungan sendiril.

Pasal 11

(1) J enis pendidikan yang termasuk jalur pen-didikan sekolah terdiri atas pendidi.kan urnum, pendidikan kejuruan, pendidikan luas biasa, pendidikan kedinasan, pendidik-kan keagamaan, pendidipendidik-kan akadernik, dan pendidikan profesional.

(2) Pendidikan umurn merupakan pendidikan yang mengutamakan perluasan pengetahuan dan peningkatan keterampilan peserta didik dengan pengkhususan yang diwujudkan pa-da tingkat-tingkat akhir masa pendidikan.

(3) Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu. (4) Pendidikan luar biasa rnerupakan

pendidik-an ypendidik-ang khusus diselenggarakpendidik-an untuk peserta didik yang menyandang kelainan fisik dan/atau mental.

(5) Pendidikan kedinasan merupakan pendidik-an ypendidik-ang berusaha meningkatkpendidik-an kemam-puan dalam pelaksanaan tugas kedinasan untuk pegawai atau calon pegawai suatu Departemen Pemerintah atau Lembaga Pemerintah Nondepartemen.

(6) Pendidikan keagamaan merupaka pendidik-an ypendidik-ang mempersiapkpendidik-an peserta didik un-tuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan khusus tentang ajaran agama yang bersangkutan. (7) Pend\dikan akademik merupakan

pendidik-an ypendidik-ang diarahkan terutama pada pengua-saan ilmu pengetahuan.

(16)

RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah

Penjelasan Pasal 11

Ayat (1)

Pendidikan umum mempersiapkan peserta didik-an sebagai mdidik-anusia perordidik-angdidik-an, sebagai warga negara maupun sebagai manusia yang berkarya agar menguasai kemampuan dasar yang diperlu-kan untuk dapat melanjutdiperlu-kan pendididiperlu-kan atau memasuki lapangan kerja. Pendidikan khusus diselenggarakan untuk peserta didikan yang me-miliki kelainan fisik, mental, sosial atau kelain-an gkelain-anda maupun ykelain-ang memiliki kemampukelain-an dan kecerdasan luar biasa. Pendidikan keilmuan atau akademik memusatkan perhatian pada upaya memperluas dan memperdalam penge-rnhuan peserta didikan. Pendidikan kejuruan mempersiapkan peserta didikan dalam menguasai pengetahuan dan keterampilan tertentu yang diperlukan untuk memasuki lapangan kerja tertentu dan sekaligus memberikan kemampuan untuk melanjutkan pendidikan ke pendidikan kejuaraan yang !ebih tinggi. Di pendidikan ting-gi, pendidikan ini lebih dikenal sebagai pendidik-an profesional. Pendidikpendidik-an kedinaspendidik-an mening-katkan kemampuan peserta didikan yang berke-dudukan sebagai pegawai atau anggota suatu

departemen Pemerintah atau lembaga Pemerin-tah I nondepartemen 1 dalam menjalankan

tugas-nya. Pendidikan keagamaan mempersiapkan peserta didikan agar dapat menjalankan peran-an yperan-ang menuntut pengetahuperan-an khusus tentperan-ang agama dalam kehidupan keagamaan masyarakat.

Ayat (2)

Cukupjelas

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pembahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR-RI

(8) Pendidikan profesional merupakan pendi-dikan yang diarahkan terutama pada kesiap-an penerapkesiap-an keahlikesiap-an terentu.

(9) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimak-sud pada ayat (2) sampai dengan ayat (8)

ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Penjelasan

Pasal 11

Ayat (1) Cukup jelas

Ayat (2)

Pendidikan umum diselenggarakan pada jenjang pendidikan dasar dan jenjang pendidikan me-nengah.

Ayat (3)

Pendidikan kejuruan diselenggarakan pada jen-jang pendidikan menengah.

Ayat (4)

Ayat ini didasarkan atas kenyataan bahwa pe-serta didik yang dimaksud sesungguhnya

(17)

me-RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pembahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR- RI

merlukan bantuan dan perhatian yang lebih banyak dalam pendidikan dan upaya belajar mereka daripada yang dapat diberikan oleh se-kolah biasa. Pendidikan luar biasa diselenggara-kan pada jenjang pendididiselenggara-kan dasar dan jenjang pendidikan menengah.

Ayat (5)

Pendidikan kedinasan diselenggarakan pada jen-jang pendidikan menengah dan jenjen-jang

pendidik-an tinggi.

Ayat (6)

Pendidikan keagamaan diselenggarakan pada semua j enjang pendidikan

Ayat (7)

Pendidikan akademik, yang juga dikenal sebagai pendidikan keilmuan, diselenggarakan pada jen-jang pendidikan tinggi. Istilah "akademik" dalam ha! ini tidak terkait pada bentuk perguruan ting-gi yang dikenal sebagai akademik.

Ayat (8)

Pendidikan profesional, yang juga dikenal seba-gai pendidikan keahlian, diselenggarakan pada jenjang pendidikan tinggi.

Ayat (9)

(18)

RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah BAB V JENJANG PENDIDIKAN Bagian Kesatu Um um Pasal 12

Jenjang pendidikan yang termasuk jalur formal terdiri dari pendidikan dasar. pendidikan me-nengah dan pendidikan tinggi.

Selain jenjang pendidikan sebagairnana dimak-sud dalam ayat (1 ), dapat diselenggarakan pendi-dikan pra sekolah.

Syarat-syarat dan tatacara pendirian 1 serta bentuk satuan, lama pendidikan dan penyeleng-garaan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Penjelasan Pasal 12 Ayat (1)

Pendidikan di jalur formal merupakan pendidik-an ypendidik-ang berjenjpendidik-ang. Jenjenag pendidikpendidik-an adalah tahap pendidikan berkelanjutan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik-an. tingkat kerumitan bahan pengajaran dan cara penyajian bahan pengajaran.

Ayat (2)

Pendidikan pra-sekolah dapat diikuti oleh peser-ta didikan sebelum memasuki pendidikan dasar. Pendidikan pra-sekolah tidak merupakan per-syaratan untuk mengikuti pendidikan dasar.

Ayat (3)

Cukupjelas Bagian Kedua Pendidikan Dasar

Pasal 13

Pendidikan dasar diselenggarakan untuk menum-buhkan sikap serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan pe-serta didik yang memenuhi persyaratan untuk

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pembahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR- RI BABY JENJANG PENDIDIKAN Bagian Kesatu Um um Pasal 12

(1) Jenjang pendidikan yang termasuk jalur pendidikan sekolah terdiri atas pendidikan dasar. pendidikan menengah dan pendidik-an tinggi.

(2) Selain jenjang pendidikan sebagaimana di-maksud pada ayat (1) dapat diselenggara-kan pendididiselenggara-kan prasekolah.

(3) Syarat-syarat dan tata cara pendirian serta bentuk satuan, lama pendidikan, dan pe-ny.elenggaraan pendidkan sebagairnana dimaksud pada ayat (2) ditetapkna dengan Peraturan Pemerintah.

Penjelasan Pasal 12 Ayat (1 l

Pendidikan di jalur pendidikan sekolah meru-pakan pendidikan yang berjenjang. Jenjang pen-didikan adalah tahap penpen-didikan berkelanjutan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkem-bangan peserta didik, keluasan dan kedalaman bahan pengajaran dan cara penyajian bahan pengajaran. Tidak semua jenis pendidikan pada jalur pendidikan sekolah harus dirnulai dari pen-didikan dasar sampai dengan penpen-didikan tinggi.

Ayat (2)

Pendidikan prasaekolah dapat diikuti oleh pe-serta didik sebelum memasuki pendidian dasar. Pendidikan prasekolah tidak merupakan per-syaratan untuk memasuki pendidikan dasar.

Ayat (3)

Cukupjelas Bagian Kedua Pendidikan Dasar

Pasal 13

(1) Pendidikan dasar diselenggarakan untuk me-ngembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta

(19)

RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah

mengikuti pendidikan menengah.

Syarat-syarat dan tata cara pendirian bentuk satuan, lama pendidikan dasar, penyelenggara-an pendidiipenyelenggara-an dasar diatur lebih lpenyelenggara-anjut dengpenyelenggara-an peraturan pemerintah.

Penjelasan Pasal 13 Ayat (1)

Pendidikan dasar pada hakekatnya merupakan pendidikan yang memberikan kemampuan dasar bagi perkembangan kehidupan, baik untuk pri-f>adi maupun untuk masyarakat. Oleh karena · itu, setiap warga negara harus diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk memperoleh pendi-djkan dasar.

Program pendidikan dasar ini dapat disarnpaikan melalui pendidikan di sekolah termasuk yang merupakan pendidikan khusus dan/atau pendi-dikan di luar sekolah.

Pendidikan dasar juga mempersiapkan peserta d.idikan untuk dapat mengikuti pendidikan menengah. Untuk itu pendidikan dasar diseleng-garakan dengan memberikan pendidikan yang meliputi antara lain penumbuhan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, pembangunan watak, sikap dan kepribadian serta pemberian pengetahuan.

Ayat (2) Cukupjelas

Pasal 14

Warga negara yang berumur 6 (enam) tahun dan selambat-lambatnya 7 (tujuh) tahun berhak mengikuti pendidikan dasar.

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pembahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR- RI

didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendid.ikan menengah.

(2) Syarat-syarat dan tata cara pendirian, ben-tuk satuan, lama pendidikan dasar dan pe-nyelenggaraan pendidikan dasar ditetapkan dengan peraturan pemerintah

Penjelasan Pasal 13 Ayat (1)

Pendidikan dasar rnerupakan pendidikan yang lamanya 9 (sembilan) tahun yang diselenggara-kan selarna 6 (enarn) tahun di sekolah dasar (SD) dan 3 (tiga) tahun di sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) atau satuan pendidikan yang sederajat.

Pendidikan dasar diselenggarakan dengan mem-berikan pendidikan yang rneliputi antara lain penurnbuhan keirnanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, pernbangunan watak dan kepribadian serta pernberian pengetahuan dan keterarnpilan dasar.

Pendidikan dasar pada hakikatnya merupakan pendidikan yang rnernberikan kesanggupan pada peserta didik bagi perkernbangan kehidupannya, baik untuk pribadi rnaupun untuk rnasyarakat. Oleh karena itu, setiap warga negara harus diberi kesernpatan yang seluas.Juasnya untuk rnernperoleh pendidikan dasar.

Program pendidikan dasar ini dapat disarnpaikan rnelalui pendidikan di sekolah terrnasuk yang rnerupakan pendidikan luar biasa dan/atau pen-didikan di luar sekolah.

Pendidikan dasar juga mempersiapkan peserta didik untuk dapat mengikuti pendidikan rne-nengah.

Ayat (2) Cukupjelas

Pasal 14

(1) Warga negarayang berurnur 6 (enam) tahun berhak mengikuti pendidikan dasar.

(20)

RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah Penjelasan Pasal 15 Cukupjelas Bagian Ketiga Pendidikan Menengah Pasal 15

Pendidikan menengah diselenggarakan untuk me-nyiapkan peserta didik menjadi anggota masya-rakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal-balik dengan lingkungan sosial, budaya

-dan---

alam sekitar serta dapat mengem-bangkan kemampuan Iebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi.

Penjelasan Pasal 15 Cukupjelas

.

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pembahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR- RI

(2) Warga negara ya~ berumur 7 (tujuh) tahun berkewajiban mengikuti pendidikan dasar atau pendidikan yang setara, sampai tamat.

(3) Pelaksanaan wajib belajar ditetapkan dengan · • Peraturan Pemerintah.

Penjelasan Pasal 14 Ayat (1)

Cukupjelas Ayat (2)

Pendidikan yang setara dengan pendidikan dasar berkenaan dengan kemungkinan memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang lingkup dan tarafnya sepadan dengan pendidikan seko-lah lanjutan tingkat pertama (SLTP) dan dise-lenggarakan pada jalur pendidikan luar sekolah.

Ayat (3) Cukupjelas Bagian Ketiga Pendidikan Menengah

Pasal 15

(1} Pendidikan menengah diselenggarakan un-tuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengenai hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi.

(2) Pendidikan menengah tertinggi atas pendi-dikan umum, pendipendi-dikan kejuruan, pen-didikan luar biasa, penpen-didikan kedinasa:n, dan pendidikan keagamaan.

(3) Lulusan pendidikan menengah yang me-menuhi persyaratan berhak melanjutkan pendidikan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

(4) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimak-sud pada ayat (1) ,dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Penjelasan Pasal 15 Ayat (1)

(21)

RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah

Pasal 16

pendidikan menengah terdiri dari pendidikan menengah umum, pendidikan menengah keju-ruan dan pendidikan menengah lain.

Penjelasan Pasal 16

Pendidikan menengah umum diselenggarakan untuk mempersiapkan peserta didikan memiliki kemampuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan tinggi.

Pendidikan menengah kejuruan dan pendidikan menengah lain diselenggarakan untulc memper-siapkan peserta didikan buat memasuki lapang-an kerja dalam bidlapang-ang pekerjalapang-an tertentu. Pendidikan menengah lain adalah pendidikan yang bukan pendidikan umum dan juga bukan pendidikan kejuruan, seperti pendidikan mene-ngah keagamaan.

Pasal 17

Lulusan pendidikan menengah kejuruan yang memenuJ¥ persyaratan penerirnaan mahasiswa di perguruan tinggi dapat juga melanjutkan pen-didikan pada tingkat penpen-didikan yang lebih tinggi di perguruan tinggi yang bersangkutan.

Penjelasan Pasal 17 Cukupjelas

Pasal 18

Syarat-syarat dan tata cara pendirian bentuk satuan, lama pendidikan dan penyelenggaraan

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pembahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR-RI

Pendidikan menengah merupakan pendidikan yang lamanya 3 (tiga) tahun sesudah pendidikan dasar dan diselenggarakan di sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) atau satuan pendidikan yang sederajat. Ayat (2) Cukupjelas Ayat (3) Cukupjelas Ayat (4) Cukup jelas.

(22)

R UU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah

pendidikan menengah serta termasuk syarat sebagaimana dimaksud dalaJn Pasal 1 7 diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Penjelasan Pasal 18 Cukupjelas Bagian Keempat Pendidikan Tingi Pasal 19

Pendidikan tinggi diselenggarakan oleh perguru-an tinggi untuk menyiapkperguru-an peserta didik men-jadi anggota masyarakat yang memiliki kemam-puan akademik atau keilmuan dan/atau profesi-onal sehingga dapat menerapkan, mengembang-kan dan/atau menciptamengembang-kan ilmu pengetahuan, tehnologi dan/atau kesenian.

Perguruan tinggi dapat berbentuk akademi, sekolah politeknik, sekolah tinggi, institut atau universitas.

Syarat-syarat dan ·tata cara pendirian, lama pen-didikan, program pendidikan dan penyelengga-raan pendidikan tinggi diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pembahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR- RI

Bagian Keempat

Pendidikan Tinggi Pasal 16

(1) Pendidikan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kernam-puan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/ atau menciptakan ilmu pengetahuan, tek-nologi dan/atau kesenian.

(2) Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi disebut perguruan tinggi yang dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut atau universitas. (3) Akademi merupakan perguruan tinggi yang

menyelenggarakan terapan dalam satu ca-bang sebagai caca-bang ilmu pengetahuan, teknologi atau kesenian tertentu.

(4) Politeknik merupakan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan terapan dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus. (5) Sekolah tinggi merupakan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akade-mik dan/atau profesional dalam satu dis-siplin ilmu tertentu.

(6) lnstitut merupakan perguruan tmggi yang terdiri atas sejumlah fakultas yang menye-Ienggarakan pendidikan akademik dan/atau profesional dalam sekelompok disiplin ilmu yang sejenis.

(7) Universitas merupakan perguruan tinggi terdiri atas sejumlah fakultas menyelengga-rakan pendidikan akademik dan/atau profe-sional dalam sejurnlah disiplin ilmu ter-tentu.

(23)

RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah

Penjelasan Pasal 19 Ayat (1)

Agar para mahasiswa dapat mengembangkan diri sebagai calon-calon tenaga ahli yang tidak hanya mempunyai kemampuan untuk memenuhi tuntutan ilmu pengetahuan dan/atau profesi, tapi juga mempunyai kemampuan untuk menja-lankan peranan yang dituntut oleh agama, masyarakat, bangsa, negara dan lingkungan alamiah, mahasiswa juga diwajibkan mengikuti program mata kuliah dasar umum.

Ayat (2)

Akademi menyelenggarakan program pendidikan profesional yang berhubungan dengan satu ke-ahlian terapan tertentu, seperti kemiliteran, kepolisian, kepariwisataan dan bahasa.

Sekolah tinggi menyelenggarakan program pendi-dikan keilmuan dan profesional yang terdiri dari beberapa jurusan.

Sekolah politeknik menyeJenggarakan program profesional dalam beberapa bidang keahlian. Institut menyelenggarakan program pendidikan akademik atau keilmuan dan profesional dalam suatu bidang ilmu pengetahuan, teknologi, atau kesenian, lnstitut terdiri dari sejumlah fakultas sedangkan setiap fakultas terdiri dari satu jurusan atau Jebih. Setiap jurusan dapat menyelenggarakan satu atau lebih program studi. Universitas menyelenggarakan program pendidik-an keilmupendidik-an dpendidik-an profesional dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan kese-nian. Universitas terdiri dari beberapa jurusan. Setiap jurusan dapat menyelenggarakan lebih dari satu program studi.

Suatu satuan pendidikan jenis tertentu dapat tumbuh berkembang sehingga berubah menjadi satuan pendidikan jenis Jain, seperti sekolah tinggi menjadi institut dan institut menjadi universitas.

Ayat (3) Cukupjelsa

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pembahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR- RI

struktur perguruan tinggi dan penyelengga-raan pendidikan tinggi ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Penjelasan Pasal 16 Ayat (1) Cukupjelas Ayat (2) Cukupjelas Ayat (3) Cukupjelas

(24)

RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah

Pasa.l 20

Pendidikan tinggi terdiri dari 2 (dua) jalur pendi-dikan atas pendipendi-dikan akademik dan pendipendi-dikan profesional.

Sekolah tinggi, institut atau universitas menye-lenggarakan pendidikan akademik atau profesio-nal.

Akademi dan sekolah politeknik menyelenggara-kan pendidimenyelenggara-kan profesional.

Penjelasan Pasal20 Ayat (1) Cukupjelas Ayat (2) Cukupjels Ayat (3) Cukup jelas Pasal 21

Pada perguruan tinggi ada sebutan sarjana, magister. doktor dan sebutan profesional. Sebutan sarjana hanya diberikan oleh institut dan universitas.

Sebutan magister dan doktor diberikan oleh ins-titut dan universitas yang memenuhi psersyarat-an ypsersyarat-ang ditetapkpsersyarat-an dengpsersyarat-an peraturpsersyarat-an pemerin-tah.

Sebutan profesional diberikan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan pro-fesional.

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pembahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR- RI Ayat (4) Cukupjelas Ayat (5) Cukupjelas AYat (6) Cukupjelas Ayat (7) Cukupjelas Ayat (8) Cukupjelas Pasal 17

( 1) Pendidikan tinggi terdiri atas pendidikan akademik dan pendidikan profesional.

(2) Sekolah tinggi, institut, dan universitas menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau profesional.

(3) Akademi dan profesional menyelenggarakan pendidikan profesional. Penjelasan Pasal 17 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukupjelas Ayat (3) Cukupjelas Pasal 18

(1) Pada perguruan tinggi ada gelar sarjana, magister, doktor, dan sebutan profesional. (2) Gelar sarjana hanya diberikan oleh sekolah

tinggi, institut, dan universitas.

(3) Gelar magister dan doktor diberikan oleh sekolah tinggi, institut, dan universitas yang memenuhi persyaratan.

( 4) Sebutan profesional dapat diberikan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan profesional.

(25)

RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah

Universitas dan institut tertentu dapat diberi hak untuk memberikan sebutan doktor kehor-matan (Doktor Honoris Causa) kepada tokoh-tokoh yang dianggap perlu memperoleh peng-hargaan amat tinggi berkenaan dengan jasa-jasa yang luar biasa dalam bidang ilmu pe-ngetahuan, teknologi ataupun kebudayaan.

Jenis sebutan, syarat-syarat dan tata cara pem-berian, perlindungan dan pemakaian sebutan diatur dengan peraturan pemerintah.

Penjelasan PasaJ 21 Ayat (l) Cukupjelas

Ayat (2)

Dengan ketentuan ini maka perguruan tinggi di luar institut dan universitas tidak dapat mem-berikan sebutan sarjana, melainkan hanya sebut-an profesional saja.

Pasal (3)

Oleh karena pemberian sebutan magister dan doktor memerlukan persyaratan tertentu, maka hanya institut dan universitas yang telah meme-nuhi persyaratan itu saja yang dapat menyeleng-garakan program dan memberikan sebutan ter-sebut.

Ayat (4)

Berdasarkan ketentuan ini, maka sebutan pro-fesional diberikan oleh akademi, sekolah po-liteknik dan sekolah tinggi, tetapi dapat pula diberikan oleh institut dan universitas yang me-nyelenggarakan pendidikan profesional.

Ayat (5)

Sebutan kehormatan yang dimaksud dalam pasal ini adalah sebutan kehormatan yang diberikan kepada mereka yang dianggap telah memb~rikan

jasa yang luar biasa terhadap ilmu pengetahuan dan umat manusia seperti doktor kehormatan (Doktor Honoris Causa) Tidak semua perguruan tinggi termasuk institut dan universitas (diberi hak untuk qiemberikan sebutan doktor kehor-matan).

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Basil Pembahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR- RI

(5) lnstitut dan universitas yang memenuhi persyaratan berhak untuk memberikan gelar doktor kehormatan (Doktor Honoris Causal) kepada tokoh-tokoh yang dianggap

perlu memperoleh penghargaan amat tinggi berkenaan dengan jasa-jasa yang luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, kemasyarakatan ataupun kebudayaan. (6) Jenis gelar dan sebutan, syarat-syarat dan

tata cara pemberian, perlindungan dan penggunaannya ditetapkan dengan pera-turan pemerintah. Penjelasan Pasa118 Ayat (1) Cukupjelas Ayat (2)

Dengan ketentuan ini maka perguruan tinggi di luar sekolah tinggi, institut, dan universitas tidak dapat memberikan gelar sarjana, melainkan ha-nya sebutan profesional.

Ayat (3)

Oleh karena pemberian gelar magister dan dok-tor memerlukan persyaratan tertentu, maka hanya sekolah tinggi, institut, dan universitas yang telah memenuhi persyaratan yang dapat menyelenggarakan program dan memberikan gelar tersebut

Ayat (4)

Tidak semua pendidikan profesional diakhiri dengan pemberian sebutan-profesional.

Ayat (5)

Gelar doktor kehormatan yang dirnaksud dalam ayat ini adalah gelar kehormatan yang diberikan kepada mereka yang dianggap telah memberi-kan jasa yang luar bisa terhadap ilmu pengetahu-an dpengetahu-an umat mpengetahu-anusia.

Pemberian gelar doktor kehormatan (Doctor Honoris Causa disingkat Dr. (HC) diusulkan oleh senat fakultas dan dikukuhkan oleh senat institut atau universitas.

(26)

RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pemerintah

Ayat (5)

Cukupjelas Pasal22

Sebutan lulusan perguruan tinggi hanya dibe-narkan digunakan oleh lulusan per-guruan tinggi yang dinyatakan berhak memiliki sebutan yang bersangkutan.

Penggunaan sebutan lulusan perguruan tinggi hanya dibenarkan dalam bentuk yang diterima dar( perguruan tinggi yang bersangkutan atau dalam bentuk singkatan sesuai dengan ketentu-an yketentu-ang ditetapkketentu-an dengketentu-an peraturketentu-an pemerin-tah. Penjelasan Pasa! 22 Ayat (1) Cukupjelas Ayat (2)

Dalam penggunaan sebutan Julusan perguruan tinggi tidak dibenarkan perubahan bentuk se-butan yang bersangkutan, seperti penggantian sebutan yang diperoleh dengan sebutan atau singkatan sebutan lulusan perguruan tinggi di negeri lain.

Pasal 23

Penggunaan sebutan keilrnuan atau profesional yang diperoleh dari perguruan tinggi di luar negeri hams digunakan dalam bentuk asli se-bagairnana diperoleh dari perguruan tinggi yang bersangkutan. secara lengkap ataupun dalam bentuk singkatan.

Penjelasan Pasal 23

Mengingat keanekaragarnan sistern pendidikan di dunia kita ini, sebutan keilrnuan atau profesio-nal yang melambangkan keahlian yang dimiliki oleh tenaga ahli yang diberi hak menggunakan-nya belum tentu sama dengan keahlian yang dilambangkan oleh sebutan keilmuan dan pro-fesional yang diberikan oleh perguruan tinggi di Indonesia. Agar supaya rnasyarakat terhindar

dari penggunaan sebutan keilmuan dan profe-sional yang sesungguhnya terkait pada keahlian

RUU Tentang Sistem Pendidikan Nasional Hasil Pembahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR- RI

Ayat (6)

Cukup jelas Pasal 19

(I) Gelar dan/atau sebutan lulusan perguruan tinggi hanya dibenarkan digunakan oleh lulusan perguruan tinggi yang dinyatakan berhak rnemiliki gelar dan/atau sebutan yang bersangkutan.

(2) Penggunaan gelar dan/atau sebutan lulusan perguruan tinggi hanya dibenarkan dalam bentuk yang diterirna dari perguruan linggi yang bersangkutan atau dalam bentuk sing-katan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Penjelasan Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas

Ayat (2)

Dalam penggunaan gelar dan/atau seb.utan lulusan perguruan tinggi tidak dibenarkan perubahan bentuk gelar dan/atau sebutan yang bersangkut-an, seperti penggantian gelar dan/atau sebutan yang diperoleh dengan gelar dan/atau sebutan atau singkatan gelar dan/atau sebutan lulusan perguruan tinggi negeri lain.

Pasa! 20

Penggunaan gelar akademik atau sebutan pro-f esional yang diperoleh dari perguruan tinggi di luar negeri harus digunakan dalarn bentuk asli sebagaimana diperoleh dari perguruan tinggi yang bersangkutan, secara lengkap ataupun dalarn ben tuk singka tan.

Penjelasan Pasal 20 Cukup j elas.

(27)

RUU Tentang Pendidikan Nasional Konsep Pernerintah

yang berbeda daripada yarig lazim dilarnbangkan oleh sebutan-sebutan keilrnuan dan profesional Indonesia, penggunaan sebutan keilrnuan atau profesional asing yang diperoleh dari perguruan tinggi di luar negeri tidak dibenarkan

Pasal 24

Pada universitas dan institut dapat diangkat guru besar atau profesor.

P-engangkatan guru besar atau profesor didasar-kan atas kernarnpuan akadernik atau keilrnuan tertentu.

Syarat-syarat dan tata cara pengangkatan ter-rnasuk penggunaan sebutan guru besar atau pro-fesor diatur lebih lanjut dengan peraturan perne-rintah.

· Penjelasan

Pasal 24 Ayat (1)

Pengangkatan guru besar atau profesional pada universitas atau institut adalah dalarn usaha pernbinaan dan pengernbangan ilmu pengeta-huan. Pengangkatan guru besar pada sebuah universitas atau institut bukan suatu keharusan, meJainkan harus memperhatikan. syarat-syarat tertentu, antara lain kemampuan akademik/ keilmuan kepribadian, dan lain-lain. Jadi pe-ngangkatin guru besar bukan senantiasa dikait-kan pada kepangkatan atau senioritas jabat-.an tetapi pada kemampuan akademik.

Ayat (2)

Cukup jelas dan lihat penjelasan ayat (1) Ayat (3)

Cukup jelas. Pasal 25

Dalarn penyelenggaraan pendidikan dan pengern-bangan ilmu pengetahuan pada perguruan tinggi berlaku kebebasan akademik.

Pelaksanaan lebih lanjut ketentuan tentang ke-bebasan akademik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan peraturan pemerin-tah.

RUU Tentang Sistem Pendiwkan Nasionai Hasil Pernbahasan Panitia Khusus

(Pansus) DPR- RI

Pasal 21

(1) Pada universitas, institut, dan sekolah ting-gi dapat diangkat guru besar atau profe-sor.

(2) Pengangkatan gguru besar atau prnfesor sebagai jabatan akademik didasarkan atas kemampuan dan prestasi akademik atau keilrnuan tertentu.

(3) Syarat-syarat dan tata cara pengangkatan termasuk penggunaan sebutan guru besar atau profesor ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Pe11jelasan Pasal 21 Ayat (1) Cukupjelas Ayat (2) Cukupjelas Ayat (3) Cukupjelas Pasal 2S

(1) Dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan ilrnu pengetahuan pada per-guruan tinggi berlaku kebebasan akademik dan kebebasan rnirnbar akademik serta otonomi keilmuan.

(2) Perguruan tinggi memiliki otonomi dalarn pengelolaan lembaga pusat penyelengga-raan pendidikan tinggi dan penelitian ilrniah.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, diperoleh informasi bahwa diksi yang terdapat dalam hikayat Soeltan Atjeh

Algoritma ini tidak menggunakan metode LSB, namun ia menghitung penyebaran byte-byte dari steganogram citra (dalam hal ini citra berformat JPEG (Joint Photographic

Pendapat ini ada benarnya juga karena penyebaran Islam di Jawa pertama kali dibawa oleh Syaikh Maulana Malik Ibrahim (salah seorang wali songo) dan beliau pernah belajar

Karena para pemain sepakbola untuk memiliki lebih, melibatkan waktu bermain dalam permainan (lebih banyak kesempatan untuk memecahkan masalah yang hanya

Dan ketentuan ini tidak hanya berlaku pada SS dimana terdapat peserta sesuai dengan Kelas / Group yang berhenti atau tidak menjalani SS dan masih diperhitungkan

kebijakan Direksi dalam melaksanakan pengurusan bank serta memberikan nasehat kepada Direksi.  Dewan Komisaris telah melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya

 Distribution Layer di tangani mesin router Mikrotik 3.23 level 6 menangani routing terpusat, jadi semua unit /lokasi tidak ada NAT kecuali untuk Lab, sehingga kita bisa terhubung

Persamaan penelitian ini dengan penelitian Negara (2011) yang berjudul “Karakteristik Diksi dalam Rubrik “Email dari Amerika” Surat Kabar Harian Surya Edisi Tahun 2009”