152
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS VII
SMP NEGERI DI KANDANGAN PADA KONSEP PENCEMARAN LINGKUNGAN
Gina Silvia1, Ria Mayasari1
1 Prodi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Banjarmain, Jl. Sultan Adam Kompleks H. Iyus Blok A No.18 RT.23
Abstrak
Pelajaran IPA dikalangan siswa kelas VII masih dianggap sebagai produk yaitu kumpulan konsep berupa hafalan sehingga berdampak pada rendahnya kemampuan siswa pada aspek kognitif. Namun pada kenyataannya aspek tingkat tinggi seperti analisis mengevaluasi dan menciptakan belum bisa dilatihkan pada siswa. Selain itu pembelajaran yang dilakukan masih berfokus pada guru sehingga siswa kurang aktif dan tidak mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model PBL terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian quasi eksperimen dengan model rancangan nonequivalent prates-post tes control group design.. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negeri di Kandangan. Penentuan sampel menggunakan random sampling, berdasarkan hal tersebut, maka yang dijadikan sebagai subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 3 Kandangan dan siswa kelas VII SMP Negeri 1 Angkinang. Instrumen pengumpulan data untuk mengukur variabel terikat berupa tes keterampilan berpikir kritis dalam bentuk tes essay. Analisis data dilakukan dengan teknik statistik deskriptif untuk mendeskripsikan data dari variabel penelitian. Pengujian hipotesis dilakukan dengan teknik analisis varian (anava) yang membantu dengan program SPSS versi 17 for windows.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model PBL berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa SMP Negeri di Kandangan, hasil ini dapat dilihat dari rata-kemampuan berpikir kritis siswa kelas kontrol 64,11 dan pada kelas eksperimen sebesar 68,64 dan dilihat dari nilai Fhitung = 7,77 sedangkan Ftabel = 0,05 artinya Fhitung > Ftabel.
Kata Kunci: Model Problem Based Learning (PBL), keterampilan berpikir kritis, pengaruh, pencemaran lingkungan.
Publised : Desember 2017
PENDAHULUAN
Pelajaran IPA di kalangan siswa kelas VII masih dianggap sebagai produk, yaitu berupa kumpulan konsep yang harus di hafal sehingga berdampak pada rendahnya kemampuan peserta didik pada aspek kognitif. Aspek kognitif terdiri dari enam aspek yakni mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan. Namun, pada kenyataannya aspek tingkat tinggi seperti analisis mengolah masalah, mengevaluasi dan menciptakan belum biasa dilatihkan kepada siswa. Siswa masih kesulitan dalam menerapkan pengetahuan yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari. Siswa juga belum biasa menyelesaikan suatu permasalahan yang didahului dengan kegiatan penyelidikan, maka siswa dapat terlatih dan membiasakan diri berpikir kritis secara mandiri.
153
Salah satu kemampuan berpikir yang dimiliki siswa yaitu kemampuan berpikir kritis. Berpikir kritis yaitu pemikiran yang bersifat selalu ingin tahu terhadap informasi yang ada untuk mencapai suatu pemahaman yang mendalam. Menurut Fisher (2007) berpikir kritis adalah metode berpikir mengenai hal, substansi atau masalah apa saja dimana si pemikir meningkatkan kualitas pemikirannya dengan menangani secara terampil struktur-struktur yang melekat dalam pemikirannya dan menerapkann standar-standar intelektual padanya.
Berdasarkan uraian tersebut maka dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran setiap jenjang pendidikan seharusnya menitikberatkan pada pengembangan berpikir kritis siswa. Namun upaya untuk melatih keterampilan berpikir kritis siswa belum maksimal mendapat perhatian dari guru. Sedangkan berpikir kritis harus ada upaya-upaya sistematis untuk mencapainya, misalnya melalui pembelajaran disekolah dengan menggunakan model
Problem Based Learning. Menurut Arends dalam Al-Tabany (2014) Problem Based Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa mengerjakan permasalahan
autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampialn berpikir tingkat tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri.
Berdasarkan hasil dari observasi dan wawancara pada saat PPL 1 dan PPL 2 di SMP Negeri di Kandangan diperoleh bahwa pembelajaran biologi seringkali disampaikan dengan cara menggunakan metode ceramah atau penggunaan slide power point. Hal ini mengakibatkan konsep yang diterima siswa hanya berupa hapalan saja dan kurang menarik minat siswa untuk mempelajarinya, kondisi tersebut juga ditunjang oleh kurangnya pembelajaran yang bersifat hand on, seperti praktek yang mampu merangsang pengembangan kreativitas siswa tersebut sebagai aplikasi awal dari pengetahuan yang mereka miliki.
Berdasarkan informasi dari guru biologi di SMP Negeri di Kandangan bahwa ketuntasan belajarnya masih di bawah standar ketentuan, yaitu hanya 68 % siswa yang tuntas belajar pada tahun pembelajaran 2015/2016. Informasi ini menunjukkan data bahwa berpikir kritis masih belum maksimal terutama belum 100% sesuai KKM. Hal ini disebabkan karena kurangnya aktivitas belajar dalam proses pembelajaran sebagai akibat dari seringnya metode ceramah digunakan dalam pembelajaran. Kondisi pembelajaran yang demikian jika tidak dicari solusinya akan berdampak pada menurunnya kualitas pembelajaran yang berakibat pada rendahnya mutu pendidikan di sekolah.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen semu (quasi
eksperiment) dengan model rancangan yang dikenal dengan “nonequivalent prates-post test control group design” (Sugiyono, 2015). Penelitian ini terdiri dari 4 kali pertemuan.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negeri di Kandangan kelas VII. Jumlah total sampel pada penelitian ini yaitu 50 Siswa. Terdiri atas siswa putra dan siswa putri SMP Negeri di Kandangan kelas VII SMP Negeri 1 Angkinang sebagai kelas kontrol, dan kelas VII SMP Negeri 3 Kandangan sebagai kelas eksperimen yang difasilitasi strategi pembelajaran PBL. Melakukan pretes pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, untuk mengetahui keterampilan berpikir kritis biologi siswa sebelum penerapan model pembelajaran PBL dan pembelajaran STAD, Melakukan pemahaman keterlaksanakan skenario pembelajaran terkait dengan model pembelajaran yang dieksperimenkan kepada guru model dan observer, Pengumpulan data terkait tahap 4 model pembelajaran PBL yaitu mengembangkan dan menyajikan hasil karya pada siswa dalam pembuatan hasil karya, Melakukan postest pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis Biologi setelah siswa mengikuti seluruh kegiatan penelitian eksperimen (penerapan model pembelajaran PBL).
Analisis data dilakukan dengan teknik statistik deskriptif untuk mendeskripsikan data dari variabel penelitian. Pengujian hipotesis dilakukan dengan teknik analisis varian (anava) satu jalur yang dibantu dengan program SPSS versi 17 for Windows. Taraf signifikansi yang digunakan dalam pengujian hipotesis adalah 0,05 (p ≤ 0,05). Sebelum analisis varians (anava satu jalur) dilakukan dahulu uji asumsi yang meliputi (1) uji normalitas data dan (2) uji homogenitas varian.
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
Analisis data dilakukan untuk membandingkan kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen yang menerapkan model Problem Based Learning (PBL) dan kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas kontrol yang menerapkan model STAD. Selanjutnya analisis data menggunakan teknik statistik deskriptif untuk mendekskripsikan data dari variabel penelitian.
Ringkasan deskripsi data hasil pengukuran pretes dan postest pada model pembelajaran yang digunakan diperoleh informasi bahwa kelas yang menerapkan model pembelajaran PBL pada pretes memiliki rata-rata 35,91 sedangkan pada postest meningkat dengan rata-rata sebesar 68,64. Pada kelas STAD menunjukan rata-rata pretest sebesar 35,54 dan postest sebesar 64,11. Deskripsi data hasil kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 1. Deskripsi Statistik Kemampuan Berpikir Kritis.
Tabel 1. Deskripsi Statistik Kemampuan Berpikir Kritis
NO KELAS N MEAN
1. Pretest Kelas Kontrol Kelas Eksperimen 28 22 35,54 35,91 Total 50 35,70
2. Postest Kelas Kontrol Kelas Eksperimen
28 22
64,11 68,64
Sebelum dilakukan analisis terlenih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh dari subjek penelitian berdistribusi normal atau tidak dilakukan dengan uji One-Sample
Kolmogorov-Smirnov. Hasil uji normalitas data diperoleh sebesar 0,20 dan postest diperoleh
sebesar 0,10 dikatakan signifikansi karena > 0,05 maka data dinyatakan berdistribusi normal. Sedangkan uji homogenitas dilakukan melakukan uji Levene’s Test yaitu untuk mengetahui apakah varian sama atau berbeda. Hasil uji homogenitas skor signifikansi (sig) pretes keterampilan berpikir kritis (0,94) dan postest kemampuan berpikir kritis (0,27) melebihi taraf signifikansi 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa semua varian kelompok eksperimen sama atau homogen.
Berdasarkan Hasil Uji Anava Satu Jalur menunjukkan bahwa nilai F hitung sebesar 7,77 dengan nilai 0,008 atau kurang dari 0,05, hal ini memberikan makna bahwa ada perbedaan kemampuan berpikir kritis antara siswa yang menerapkan model pembelajaran
155
Tabel 2. Hasil Uji Anava Pengaruh Kemampuan Berpikir Kritis
Sumber Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 252.73 1 252.73 7.77 0.008
Within Groups 1561.77 48 32.54
Total 1814.50 49
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pembelajaran biologi dengan menggunakan model Problem Based Learning (PBL) yang diterapkan di kelas eksperimen dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa secara signifikan. Ini dapat dilihat dari hasil tes kemampuan berpikir kritis siswa setelah diberikan pembelajaran dengan model Problem Based Learning (PBL).
Hasil analisis menunjukkan bahwa ada perbedaan kemampuan berpikir kritis biologi antara siswa kelas eksperimen yang difasilitasi dengan model Problem Based Learning dengan kelas kontrol yang tidak difasilitasi dengan model PBL. Skor rata-rata kemampuan berpikir kritis biologi siswa kelas eksperimen yang difasilitasi model PBL sebesar 68,64 dan rata-rata skor siswa kelas STAD sebesar 64,11. Sehingga secara keseluruhan, kemampuan berpikir kritis biologi siswa yang difasilitasi dengan model Problem Basead Learning lebih baik.
Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa model Problem Based Learning lebih unggul dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa yang juga dibuktikan dengan hasil penelitian Mayasari (2015) dan Ramdiah (2015) tentang Pengaruh Model PBL Terhadap Hasil Belajar dan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi siswa.
Pengujian analisis terhadap model Problem Based Learning (PBL) terhadap kemampuan berpikir kritis tersebut menunjukkan terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis antara kelompok siswa yang belajar dengan model Problem Based Learning dengan kelompok siswa yang belajar dengan model STAD. Secara garis besar, kemampuan berpikir kritis siswa yang belajar dengan model pembelajaran berbasis masalah lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang belajar dengan pembelajaran STAD. Hal ini terjadi karena model pembelajaran yang diterapkan di kelas eksperimen memberikan peluang kepada siswa yang mengembangkan kemampuan atau keterampilan berpikir kritisnya melalui proses pemecahan masalah yang kompleks, dalam kelompok diskusi kecil, sehingga kemampuan pemecahan masalah, kemampuan analisis dan evaluasi menjadi lebih baik.
Model pembelajaran Problem Based Learning memiliki keunggulan dalam memecahkan suatu masalah dan kemajuan berpikir siswa dalam menyelesaikan suatu masalah. Keunggulan tersebut meliputi : Sebagai suatu strategi pembelajaran memiliki beberapa keunggulan, di antaranya: (1) Siswa lebih memahami konsep yang diajarkan lantaran ia yang menemukan konsep tersebut. (2) Melibatkan siswa secara aktif dalam memecahkan masalah dan menuntut keterampilan berfikir siswa yang lebih tinggi. (3) Pengetahuan tertanam berdasarkan skemata yang dimiliki oelh siswa, sehingga pembelajaran lebih bermakna. (4) Siswa dapat merasakan manfaat pembelajran, karena masalah-masalah yang diselesaikan langsung dikaitkan dengan kehidupan nyata. hal ini bisa meningkatkan motivasi dan ketertarikan siswa terhadap bahan yang dipelajarinya. (5) Menjadikan siswa lebih mandiri dan dewasa mampu memberikan aspirasi dan menerima pendapat orang lain, serta menanamkan sifat sosial yang positif dengan siswa lainnya. (6) Pengondisian siswa dalam belajar kelompok yang saling berinteraksi terhadap pembelajaran dan temannya, sehingga pencapaian ketuntasan belajar siswa dapat diharapkan. (7) PBL diyakini pula dapat menumbuh kembangkan kemampuan kreativitas siswa, baik secara individual maupun kelompok, karena hampir disetiap langkah menuntut adanya keatifan siswa (Sanjaya, 2014).
Kondisi belajar yang aktif dapat menumbuhkan keterampilan untuk memecahkan masalah pada saat proses pembelajaran. Hal ini juga dinyatakan oleh Ratumanan, 2002 (dalam Trianto, 2007), PBL merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi. Model ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Model ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun komplek. Menurut Nurhadi dalam Putra (2013), PBL adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pembelajaran. PBL adalah proses kegiatan pembelajaran dengan cara menggunakan atau memunculkan masalah dunia nyata sebagai bahan pemikiran bagi siswa dalam memecahkan masalah untuk memperoleh pengetahuan dari suatu materi pelajaran Hal tersebut menunjukan bahwa model Problem Based Learning yang dirancang mampu mengembangkan serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa ternyata lebih efektif dibandingkan dengan model (STAD). Model Problem Based Learning merupakan sebagai serangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah Sanjaya (2014). Menurut Nur Hadi dalam Putra (2013) PBL adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pembelajaran.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran PBL terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII SMP Negeri Kandangan. Hal ini dapat terlihat pada uji anava satu jalur yang memperoleh nilai F hitung 7,77 dengan nilai P 0,008 atau kurang dari 0,05 yang berarti signifikan dengan rata-rata kemampuan berpikir kritis pada kelas eksperimen sebesar 68,64 sedangkan pada kelas kontrol sebesar 64,11.
DAFTAR RUJUKAN
Al-Tabany, Trianto Ibnu Badar.2014. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif,
dan Kontekstual.Jakarta.Kencana,
Fisher, Alec. 2007. Berpikir Kritis Sebuah Pengantar. Terjemahan oleh Sagara. 2009. Jakarta: Erlangga.
Mayasari, Ria., & Adawiyah, Rabiatul. 2015. Pengaruh Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah Pada Pembelajaran Biologi Terhadap Hasil Belajar dan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi di SMA, Jurnal JPBI (Jurnal Pendidikan Biologi
Indonesia), No.3, Vol.1, 255-262. http: //ejournal.umm.ac.id/ index.php/ jpbi/article/
view/2658.
157
Ramdiah, Siti, Mayasari, Ria & Wahyunita. 2015. Pengaruh Pembelajaran PBL Terhadap Hasil Belajar Kognitif Biologi Siswa Putra dan Putri Kelas VII SMPIT. Jurnal
Ilmiah BioSmart JIBS, No.2 , Vol. 3, 53-61.
Sanjaya, Wina. 2014. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenadamedia Group.
Sugiono, 2015. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, dan Kualitatif R&D). Bandung: Alfabeta.
Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.