53 4.1. Gambaran Umum SDN Cermo 02
Penelitian ini dilakukan di SDN Cermo 02 Kecamatan Sambi Kabupaten Boyolali semester II tahun pelajaran 2015/2016 dengan subyek penelitian kelas V dengan jumlah sebanyak 20 siswa. SDN Cermo 02 terletak di lingkungan yang cukup kondusif karena jauh dari pasar sehingga suasana di SDN Cermo tergolong nyaman karena jauh dari kebisingan kendaraan umum. Sarana dan prasaran di SDN Cermo 02 sudah cukup lengkap dan fasilitas untuk mengajar seperti alat peraga, LCD dan sumber- sumber lain (buku) sudah sangat menunjang proses pembelajaran.
Siswa SDN Cermo 02 berjumlah 146 siswa yang terdiri mulai dari kelas I sampai dengan kelas 6 dengan masing-masing kelas terdiri 1 kelas. Masing-masing kelas diampu oleh seorang guru kelas, 1 guru pendidikan Bahasa Inggris, 1 guru Pendidikan Komputer, 1 guru Pendidikan Agama Islam, 1 guru Pendidikan Agama Kristen dan 1 guru Olah Raga. Proses belajar mengajar berlangsung mulai pukul 07.00 sampai dengan 12.20 siang, kecuali pada hari Jum’at dan Sabtu yang berlangsung mulai dari pukul 07.00 sampai dengan pukul 10.45.
4.2. Hasil Penelitian
4.2.1. Deskripsi Kondisi Awal
Kondisi awal merupakan kondisi sebelum penelitian tindakan kelas dilakukan.Pembelajaran pada kondisi awal, guru lebih sering menggunakan metode ceramah dan dilanjutkan pemberian tugas sehingga pembelajaran lebih berpusat pada guru, kondisi yang demikian menyebabkan siswa merasa cepat bosan dan kurang termotivasi dan berdampak pada hasil belajar siswa. Hasil tes ulangan terakhir yang dilakukan siswa pada kelas V SDN Cermo 02 yang
berjumlah 20 siswa pada mata pelajaran Matematika, terlihat bahwa hasil belajar siswa masih rendah. Hal ini dapat dilihat pada hasil evaluasiulangan siswa pada mata pelajaran Matematika, dimana sejumlah peserta didik memperoleh nilai di bawah KKM = 60. Data hasil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan, dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.1
Rekapitulasi Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V SDN Cermo 02 Sebelum Tindakan
No Nilai Sebelum Tindakan Keterangan Jumlah Siswa (%) 1 95 – 100 - - - 2 90 – 94 - - - 3 85 – 89 - - - 4 80 – 84 2 10 Tuntas 5 75 – 79 2 10 Tuntas 6 70 – 74 1 5 Tuntas 7 65 – 69 1 5 Tuntas 8 60 – 64 1 5 Tuntas 9 55 – 59 4 20 Belum tuntas 10 50 – 54 4 20 Belum tuntas 11 < 50 5 25 Belum tuntas Jumlah 20 100 Rata-rata 55.08 Nilai tertinggi 80 Nilai terendah 40
Tabel 4.1 di atasmenunjukkan bahwa perbandingan siswa yang telah mencapai KKM adalah 7 siswa atau 35% dan siswa yang belum mencapai KKM berjumlah 13 siswa atau 65%, yang diuraikan dengan data pada tabel di atas yaitu siswa yang mendapat nilai < 50 sebanyak 5 siswa atau 25%, siswa yang mendapat nilai antara 50-54 sebanyak 4 siswa atau 20%, siswa yang mendapat nilai antara 55-59 sebanyak 4 siswa atau 20%, siswa mendapat nilai antara 60 – 64 sebanyak 1 siswa atau 5%, siswa yang mendapat nilai antara 65 – 69 berjumlah 1 siswa atau 5%,siswa yang mendapat nilai antara 70 – 74 berjumlah 1 siswa atau 5%, siswa yang mendapatkan nilai antara 75-79 berjumlah 2 siswa atau 10% dan siswa yang mendapat nilai antara 80-84 sebanyak 2 siswa
atau 10%. Nilai rata-rata yang diperoleh kelas adalah 55.08%, dengan perolehan nilai terendah yaitu 40 dan tertinggi 80.
Prosentase keseluruhan siswa yang mencapai kriteria ketuntasan maupun belum tuntas belajar berdasarkan KKM yang telah ditentukan, disajikan pada tabel berikut ini:
Tabel 4.2
Prosentase Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Kelas V SDN Cermo 02 Sebelum Tindakan
No Nilai Sebelum Tindakan Keterangan Jumlah Siswa (%) 1 < 60 13 65 Belum tuntas 2 ≥ 60 7 35 Tuntas Jumlah 20 100 Rata-rata 55.08 Nilai tertinggi 80 Nilai terendah 40
Prosentase ketuntasan hasil belajar siswa kelas V SDN Cermo 02 sebelum dilakukan tindakan, diketahui bahwa siswa yang memperoleh nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM = 60) sebanyak 13 siswa atau 65% dari total keseluruhan siswa; sedangkan siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal sebanyak 7 siswa atau 35% dari total seluruh siswa. Berikut, prosentase siswa yang belum ataupun telah mencapai KKM disajikan pada gambar berikut ini:
Gambar 3.
Prosentase Ketuntasan Hasil Belajar Sebelum Tindakan
Rendahnya hasil belajar siswa disebabkan karena metode yang sering digunakan adalah metode ceramah yaitu dengan guru mendominasi dalam penjelasan materi kemudian dilanjutkan dengan pemberian tugas. Hal ini berdampak pada siswa yang menjadi cepat bosan dan kurang termotivasi pada saat pelajaran Matematika, ini terlihat ketika di kelas, siswa mudah bosan selama mengikuti kegiatan pembelajaran. Selain itu, cara guru mengajar yang masih didominasi dengan ceramah membuat kelas menjadi monoton dan sajian pelajaran menjadi kurang menarik perhatian siswa.
Hasil belajar siswa pada pra siklus atau data hasil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan, dari situlah penulis melakukan sebuah penelitian tindakan kelas (PTK) sesuai dengan rancangan penelitian yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya. Dalam penelitian di SDN Cermo 02, penulis menggunakan model pembelajaran CTL atau Contextual Teaching and Learning. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, dimana tiap siklus dilakukan dua pertemuan.
35%
65%
KETUNTASAN HASIL BELAJAR
PRA SIKLUS
4.2.2. Pelaksanaan Penelitian a. Pelaksanaan Siklus I
Pelaksanaan siklus I dengan kompetensi dasar mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar dilakukan melalui empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan/observasi, dan refleksi yang sesuai dengan tahap penelitian Kemmis & Mc Taggart dalam Arikunto (2007:16). Langkah pelaksanaan siklus I diuraikan pada perencanaan tindakan mengenai apa yang diperlukan dan dilaksanankan saat pembelajaran. Observasi dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan dari rencana yang telah dibuat, kemudian diuraikan refleksi berdasarkan hasil observasi. Adapun penjelasan masing-masing tahapan dijabarkan sebagai berikut.
a) Tahap Perencanaan Tindakan
Sebelum dilaksanakan tindakan perbaikan, ada beberapa langkah yang dilakukan oleh penulis, antara lain:
1) Memeriksa kembali RPP yang telah disusun, sambil mencermati kembali setiap butir yang direncanakan untuk dilaksanakan pada pelaksanaan tindakan.
2) Menyiapkan semua alat peraga dan sarana lain yang akan digunakan. Setelah itu dilakukan pengecekan lagi alat peraga tersebut apakah sudah benar-benar tersedia dan sesuai dengan perencanaan pembelajaran yang hendak dilakukan.
3) Mengecek kembali kelengkapan dan ketersediaan alat pengumpul data, seperti lembar observasi yang telah disepakati dengan guru yang mendampingi sebagai observer. b) Pelaksanaan Tindakan
Setelah menyusun langkah-langkah kegiatan pembelajaran, maka disepakatilah untuk melakukan kegiatan perbaikan pembelajaran yang terdiri dari dua pertemuan pembelajaran yaitu:
Pertemuan I 1) Kegiatan Awal
Kegiatan awal yang dilakukan meliputi beberapa kegiatan seperti yang telah didesain dalam rencana pembelajaran yaitu membuka pembelajaran dengan salam, berdoa, mengabsen, mengecek kerapian siswa, mengatur tempat duduk siswa dan melakukan apersepsi. Kegiatan apersepsi yang dilakukan adalah mengingatkan kembali kepada para siswa tentang materi Memahami sifat-sifat bangun dan hubungan antar bangun.
2) Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti, yang dilakukan adalah menjelaskan materi pembelajaran yaitu Memahami sifat-sifat bangun dan hubungan antar bangun, dengan sub materi “Mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar”. Guru memaparkan materi dengan menggunakan permodelan dengan benda-benda di sekitar seperti buku, penggaris, cermin, kaca, kemudian siswa didorong mengemukakan pengetahuan awal tentang konsep yang akan dibahas. Kemudian siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep melalui pengumpulan, pengorganisasian, perinterpretasian data dalam sebuah kegiatan yang telah dirancang oleh guru. Kemudian guru membimbing siswa dalam membentuk kelompok. Guru memberikan masalah atau pertanyaan kepada setiap kelompok. Kemudian siswa berdiskusi membahas masalah (kasus) yang sudah dipersiapkan oleh guru.
3) Kegiatan penutup
Bersama-sama dengan siswa mengambil kesimpulan tentang materi yang telah dipelajari dengan menggunakan metode CTL, sekaligus memberikan kesempatan kepada siswa yang masih belum memahami materi pelajaran yang
diberikan, Guru memberikan pesan kepada siswa untuk mempelajari lagi materi tersebut di rumah, karena masih akan dilakukan lagi pertemuan berikutnya, dan memberikan Pekerjaan Rumah (PR).
Pertemuan II 1) Kegiatan awal
Pelaksanaan pada pertemuan II guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam, berdoa, mengabsensi siswa, mengatur suasana di ruangan kelas, dan apersepsi. Kemudian, guru bertanya kepada siswa “siapa yang tidak mengerjakan PR?”. Guru mencocokkan PR dan mengingatkan kembali tentang materi yang diajarkan dipertemuan sebelumnya yaitu “Memahami sifat-sifat bangun dan hubungan antar bangun”.
2) Kegiatan inti
Pada kegiatan inti pertemuan kedua ini, yang dilakukan oleh kolabolator adalah menjelaskan materi pembelajaran tentang Memahami sifat-sifat bangun dan hubungan antar bangundengan sub materi Mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar. Untuk memberikan penjelasan tentang sub materi tersebut, guru menggunakan model CTL. Guru memaparkan materi dengan menggunakan permodelan dengan benda-benda di sekitar seperti buku, penggaris, cermin, kaca. Kemudian Siswa didorong mengemukakan pengetahuan awal tentang konsep yang akan dibahas. Kemudian siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep melalui pengumpulan, pengorganisasian, mempresentasikan data dalam sebuah kegiatan yang telah dirancang oleh guru. Kemudian guru membimbing siswa dalam membentuk kelompok. Guru memberikan masalah atau pertanyaan kepada setiap kelompok. Kemudian siswa berdiskusi
kelompok dengan mengamati dan memanipulasi model bangun datar serta menentukan sifat-sifat dari bangun datar sesuai tugasatau masalah (kasus) yang sudah dipersiapkan oleh guru.
3) Kegiatan penutup
Setelah waktu selesai, guru memberikan kesempatan kepada siswa yang belum memahami pelajaran termasuk metode pembelajarn untuk bertanya, guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan. Guru membagikan lembar evaluasi kepada masing-masing siswa untuk dikerjakan.
c) Observasi
Pada kegiatan ini, yang diamati adalah aktivitas guru dan siswa, serta motivasi belajar siswa setelah diberikan tindakan dengan model CTL. Berikut ini dipaparkan hasil aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan model CTL serta motivasi belajar siswa yang diperoleh setelah dilakukan tindakan pada siklus I, baik pada pertemuan pertama maupun pertemuan kedua.
1. Aktivitas Guru
Aktivitas guru yang diamati adalah aktivitas guru dalam pembelajaran dengan menerapkan model CTL dalam pelajaran Matematika. Aktivitas guru yang diamati meliputi aktivitas pada pertemuan pertama dan kedua. Data hasil observasi aktivitas guru menggunakan model CTL dalam pembelajaran Matematika, dinilai dengan rumus di bawah ini (Djamarah, 2005:331):
Dengan kriteria nilai sebagai berikut: 80 ke atas : baik sekali
56 – 65 : cukup 46 – 55 : kurang 45 ke bawah : gagal
Hasil pengamatan dari kedua pertemuan tersebut disajikan berikut ini:
Tabel 4. 3
Hasil Observasi Aktivitas Guru Menerapkan Model CTL Siklus I Pertemuan 1
Siklus Materi Total skor Nilai Aktivitas
Kriteria I Sifat-sifat bangun
datar
14 70% Baik
Berdasarkan tabel 4.3 diketahui bahwa aktivitas guru pada pertemuan pertama siklus I, dalam menerapkan model CTL pada pelajaran Matematika materi sifat-sifat bangun datar masuk dalam kriteria atau katogeri baik, dengan perolehan skor yaitu 14 dengan nilai aktivitas yaitu 70%, dengan kategori baik.
Selama pembelajaran berlangsung pada pertemuan kedua, juga diamati aktivitas guru dalam menerapkan model CTL pada pelajaran Matematika. Untuk menghitung aktivitas guru tersebut, juga digunakan cara yang sama, seperti menghitung aktivitas guru dalam menerapkan model CTL pada pertemuan pertama. Hasilnya sebagai berikut:
Tabel 4. 4
Hasil Observasi Aktivitas Guru Menerapkan Model CTL Siklus I Pertemuan 2
Siklus Materi Total skor Nilai Aktivitas Kriteria I Sifat-sifat
bangun datar
15 75% Baik
Hasil aktivitas guru yang disajikan pada tabel 4.4 di atas, diketahui bahwa aktivitas guru dalam menerapkan model CTL pada siklus I pertemuan 2 masuk dalam kriteria baik, di mana perolehan total skor dalam menerapkan model CTL adalah 15 dengan nilai persentase aktivitas yaitu 75%.
Tabel 4.3 dan tabel 4.4 menunjukkan skor perolehan terhadap aktivitas guru yang diukur melalui lembar observasi. Pertemuan I diperoleh nilai aktivitas sebesar 70% hal ini menunjukkan bahwa guru telah mampu menerapkan model CTL meskipun masih terdapat bebrapa langkah pembelajaran yang belum terlaksana seperti pada kegiatan awal, guru belum memeriksa kesiapan siswa, guru belum memberikan motivasi kepada siswa, guru belum memberikan penjelasan terhadap kegiatan kelompok, guru belum memberikan bimbingan ketika siswa melakukan kegiatan presentasi serta guru belum melakukan evaluasi terhadap presentasi yang dilakukan siswa. Setelah dilakukan refleksi kekurangan-kekurangan tersebut mulai teratasi meskipun masih ada beberapa aspek yang masih belum terlaksana. Refleksi pada akhir pertemuan 1 dilakukan dengan membahas permasalahan yang terjadi pada pertemuan 1 sekaligus merancang solusi yakni guru harus lebih memahami langkah-langkah CTL. Nilai aktivitas pada pertemuan 2 meningkat menjadi 75% hal ini menunjukkan bahwa ada perbaikan terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.
2. Aktivitas Siswa
Selain aktivitas guru, aktivitas yang diamati adalah aktivitas siswa. Aktivitas siswa dalam hal ini adalah kesiapan siswa, respon siswa dalam mengikuti pembelajaran modelCTL. Aktivitas siswa yang diamati adalah aktivitas siswa pada siklus I pertemuan 1 dan pertemuan 2. Penghitungan aktivitas siswa, sama juga dengan mengikuti persamaan dalam menghitung aktivitas guru menerapkan model CTL pada pelajaran Matematika, dengan persamaan berikut:
80 ke atas : baik sekali 66 – 79 : baik 56 – 65 : cukup 46 – 55 : kurang 45 ke bawah : gagal
Aktivitas siswa dalam mengikuti pelajaran menggunakan CTL pada pelajaran Matematikadi Siklus I ini, masing-masing disajikan berikut ini.
Tabel 4. 5
Hasil Observasi Aktivitas Siswa Mengikuti Pelajaran Menggunakan Model CTL Siklus I Pertemuan 1 Siklus Materi Total skor Nilai Aktivitas Kriteria
I Sifat-sifat bangun datar
11 61% Cukup
Hasil pada tabel 4.5 dapat diketahui bahwa aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran pada siklus I pertemuan 1 masuk dalam kriteria cukup, dengan perolehan total skor yaitu 11 dengan persentase nilai aktivitas yaitu 61%.
Siklus I pertemuan kedua juga dilakukan pengamatan terhadap aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model CTL pada pelajaran Matematika. Hasil aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran tersebut disajikan pada tabel berikut ini:
Tabel 4. 6
Hasil Observasi Aktivitas Siswa Mengikuti Pelajaran Menggunakan Model CTL Siklus I Pertemuan 2 Siklus Materi Total skor Nilai Aktivitas Kriteria
I Sifat-sifat bangun datar
13 72% Baik
Hasil observasi pada siklus I pertemuan 2 menunjukkan peningkatan dalam aktivitas siswa, dimana perolehan aktivitas siswa berada pada kriteria cukup baik dalam mengikuti pelajaran IPA menggunakan model CTL. Skor yang diperoleh adalah 13 dengan nilai aktivitas yaitu 72%.
Hasil penilaian terhadap aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran dengan CTL menunjukkan adanya peningkatan dari pertemuan 1 ke pertemuan 2 siklus I, di mana pada siklus 1 nilai aktivitas yang diperoleh sebesar 61% meningkat menjadi 72%. Kendala pada pertemuan 1 yang dialami siswa yakni ketika diberikan tugas kelompok, masih banyak siswa yang terlihat bingung mengenai tugas yang diberikan hal ini terjadi karena siswa belum terbiasa dengan model yang digunakan, namun dengan bimbingan guru kendala tersebut dapat teratasi terbukti dengan peningkatan skor penilaian terhadap aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran.
3. Motivasi Belajar Siswa
Patokan untuk mengukur motivasi siswa adalah nilai (skala) tertinggi pada jawaban angket yaitu 4 dikalikan dengan jumlah soal yaitu 25, dikalikan dengan jumlah siswa yang mengikuti pembelajaran yaitu 20 siswa. Uraiannya adalah seperti berikut:
Untuk skor perolehan, diperoleh sebagai berikut: 4 x 25 x 20 = 2000. Jumlah skor yang diperoleh adalah 1440. Dengan berpatokan pada rumus untuk menghitung skor motivasi belajar siswa yaitu: = 72%.
Dengan kriteria nilai sebagai berikut: >86% = baik sekali
70 – 85% = baik 55 – 69% = cukup baik <54% = kurang
Hasil penghitungan motivasi belajar Matematika dengan menggunakan model CTL, siklus I pertemuan pertama dan kedua dipaparkan pada tabel berikut ini:
Tabel 4.7
Motivasi Belajar Siswa Siklus I
No Kode Siswa Skor (%)
1 AV2016 75 75% 2 BV2016 75 75% 3 CV2016 70 70% 4 DV2016 73 73% 5 EV2016 75 75% 6 FV2016 69 69% 7 GV2016 75 75% 8 H2016 73 73% 9 IV2016 75 75% 10 JV2016 73 73% 11 KV2016 75 75% 12 LV2016 70 70% 13 MM2016 70 70% 14 NN2016 70 70% 15 OO2016 70 70% 16 PQ2016 72 72% 17 RS2016 70 70% 18 TU2016 70 70% 19 VW2016 70 70% 20 XY2016 70 70% Total 1440 72%
Motivasi belajar siswa kelas V SDN Cermo 02 pada mata pelajaran Matematika secara keseluruhan mendapatkan skor yang diperoleh sebesar 1440 atau secara prosentase sebesar 72% dan dikatakan pada kategori baik setelah dilakukan tindakan pada siklus I, dengan menggunakan model CTL sebagai model pembelajaran.
d) Evaluasi Hasil Belajar Siklus I
Hasil belajar pada siklus I yang diperoleh selama proses pembelajaran Matematika dengan menggunakan model CTL kelas V SDN Cermo 02, adalah sebagai berikut:
Tabel 4.8
Rekapitulasi Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I
No Nilai Siklus I Keterangan
Jumlah Siswa (%) 1 95 – 100 - - - 2 90 – 94 - - - 3 85 – 89 3 15 Tuntas 4 80 – 84 - - - 5 75 – 79 4 20 Tuntas 6 70 – 74 2 10 Tuntas 7 65 – 69 3 15 Tuntas 8 60 – 64 2 10 Belum tuntas 9 55 – 59 4 20 Belum tuntas 10 50 – 54 1 5 Belum tuntas 11 < 50 1 5 Belum tuntas Jumlah 20 100 Rata-rata 66.25 Nilai tertinggi 85 Nilai terendah 45
Tabel 4.8 di atas menunjukkan bahwa kondisi perolehan hasil belajar siswa berubah setelah diberikan tindakan pada siklus I, dimana hanya terdapat 1 siswa yang mendapatkan nilai di bawah 50 atau sebesar 5%. Siswa yang mendapatkan nilai pada rentang 50 – 54 sebanyak 1 siswa atau 5%, Siswa yang mendapatkan nilai pada rentang 55 – 59 sebanyak 4 siswa atau 20%, siswa yang mendapatkan nilai rentang 60 - 64 berjumlah 2 siswa dengan prosentase 10%. Siswa yang mendapatkan nilai antara 65 – 69 berjumlah 3 siswa atau 15%, siswa yang mendapatkan nilai pada rentang 70 – 74 sebanyak 2 siswa atau 10%, 4 siswa yang mendapatkan nilai pada rentang 75 – 79 atau 20%, tidak ada siswa yang mendapatkan nilai pada rentang 80 – 84, dan ada 3 siswa yang mendapatkan nilai pada rentang 85 – 90 atau 15% dan tidak ada siswa yang mendapatkan nilai pada rentang antara 90 – 100. Nilai rata-rata siswa meningkat dari awal
sebelum tindakan yaitu 55.08 menjadi 66.25 pada siklus I. Nilai terendah dicapai dengan nilai 45 dan nilai tertinggi adalah 85.
Berikut disajikan dalam tabel, prosentase ketuntasan belajar pada siklus I. hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.9
Prosentase Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Kelas V SDN Cermo 02 Siklus I
No Nilai Siklus I Keterangan
Jumlah Siswa (%) 1 < 60 6 30 Belum tuntas 2 ≥ 60 14 70 Tuntas Jumlah 20 100 Rata-rata 66.25 Nilai tertinggi 85 Nilai terendah 45
Prosentase ketuntasan hasil belajar siswa SD Negeri Cermo 02, sebelum dilakukan tindakan atau pada pra siklus diketahui bahwa siswa yang memiliki nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal sebanyak 13 siswa atau 65%; sedangkan yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal sebanyak 7 siswa dengan prosentase 35%. Kondisi ini berubah setelah dilaksanakan tindakan pada siklus I, dimana siswa yang berhasil lulus KKM sebanyak 14 siswa atau 70% dan siswa yang belum berhasil lulus KKM sebanyak 6 siswa atau 30%. Berikut prosentase hasil belajar siklus I disajikan pada gambar di bawah ini:
Gambar 4.
Prosentase Ketuntasan Belajar Siklus I
Perbandingan hasil belajar siswa setelah diadakan tindakan pada siklus I menunjukkan adanya peningkatan terhadap ketuntasan belajar siswa. Terjadi peningkatan ketuntasan belajar sebanyak 14 siswa atau secara prosentase sebanyak 70%, kemudian terjadi penurunan bagi siswa yang belum tuntas atau mencapai KKM yaitu menjadi sebanyak 6 siswa atau secara prosentase sebesar 30%. Hal ini disebabkan karena siswa termotivasi dan mulai merasa senang dalam proses pembelajaran. Meskipun awalnya siswa sangat ribut, namun terlihat bahwa siswa menikmati dan tidak merasa bosan saat mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas.
e) Refleksi
Pembelajaran Matematika kelas V pada materi Memahami sifat-sifat bangun dan hubungan antar bangun pada siklus I ini belum berhasil sesuai indikator kinerja yang ditentukan karena ketuntasan belajar baru 70%.
Tuntas 70% Tidak Tuntas
30%
Hasilnya diungkapkan faktor penyebab kekurang-berhasilan dalam pembelajaran yaitu:
1) Pembelajaran masih gaduh dan kurang terkendali pada saat siswa mulai diminta untuk membuat kelompok.
2) Guru belum memberi reward/penguatan pada siswa yang menjawab benar.
3) Guru masih kaku dalam memandu siswa yang belum memahami langkah-langkah dalam model CTL.
Data yang telah dianalisis dan data hasil diskusi, maka peneliti melakukan penelaahan dan mencoba menyimpulkan hasil tindakan yang telah dilakukan.Hasil ini menunjukkan bahwa penguasaan siswa sudah meningkat, meskipun belum sesuai dengan kriteria keberhasilan yang ditentukan karena ketuntasan belajar baru 70%.
Hasil evaluasi observasi yang telah didapat, kemudian peneliti memutuskan untuk mengadakan perbaikan pembelajaran pada siklus II, yaitu sebagai berikut:
1) Memandu siswa dalam membentuk kelompok dan mengarahkan dalam langkah-langkah pembelajaran dalam materi yang sedang dipelajari melalui model CTL.
2) Memberikan reward kepada siswa yang menjawab benar. Reward atau penguatan kepada siswa berupa gambar bintang atau pujian.
b. Pelaksanaan Siklus II
Tahap pelaksanaan siklus II sama seperti tahap pelaksanaan pada siklus I, yakni mengacu pada tahap penelitian Kemmis & Mc Taggart dalam Arikunto (2007:16), pelaksanaan siklus II terdiri dari empat langkah yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan/observasi, dan refleksi.Kompetensi dasar yang digunakan yakni mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang. Bagian pelaksanaan siklus II menguraikan perencanaan tindakan mengenai apa yang dilaksanakan sebagai perbaikan
dari kekurangan siklus I. Setelah perencanaan dan pelaksanaan, diuraikan refleksi berdasarkan hasil obsevasi.
a. Tahap Perencanaan
Peneliti menyiapkandan merevisi RPP dan menyiapkan kembali skenario tindakan yang akan dilaksanakan pada perbaikan pembelajaran siklus II. Berdasarkan hasil diskusi dan refleksi siklus I maka peneliti melakukan upaya perbaikan pembelajaran, memandu siswa dalam membentuk kelompok dan mengarahkan dalam langkah-langkah pembelajaran dalam materi yang sedang dipelajari melalui model CTL dan memberikan reward atau penguatan kepada siswa yang menjawab benar. Selain itu penulis juga menyiapkan kembali lembar kerja siswa, lembar evaluasi, lembar observasi, angket motivasi dan menyiapkan alat peraga.
b. Pelaksanaan Pertemuan I 1) Kegiatan awal
Pelaksanaan pada pertemuan II guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam, berdoa, mengabsensi siswa, mengatur suasana di ruangan kelas, dan apersepsi. Kemudian, guru bertanya kepada siswa “siapa yang tidak mengerjakan PR?”. Guru mencocokkan PR dan mengingatkan kembali tentang materi yang telah diajarkan dipertemuan sebelumnya yaitu materi Mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar.
2) Kegiatan inti, guru menjelaskan kembali materi tentang Mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar. Setelah bertanya jawab sebentar, guru melanjutkan materi Mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang.Untuk memberikan penjelasan tentang sub materi tersebut, guru menggunakan model CTL. Guru memaparkan materi dengan menggunakan permodelandengan benda-benda di sekitar seperti kardus,
kemudian Siswa didorong mengemukakan pengetahuan awal tentang konsep yang akan dibahas. Kemudian siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep melalui pengumpulan, pengorganisasian, mempresentasikan data dalam sebuah kegiatan yang telah dirancang oleh guru. Kemudian guru membimbing siswa dalam membentuk kelompok. Guru memberikan masalah atau pertanyaan kepada setiap kelompok. Kemudian siswa berdiskusi kelompok dengan mengamati dan memanipulasi model bangun datar serta menentukan sifat-sifat dari bangun datar sesuai tugasatau masalah (kasus) yang sudah dipersiapkan oleh guru.
3) Kegiatan akhir
Setelah waktu selesai, siswa diberikan tugas secara individual untuk dikerjakan di rumah, guru memberikan kesempatan kepada siswa yang belum memahami pelajaran untuk bertanya, guru selaku pengajar bersama-sama dengan siswa mengambil kesimpulan dan guru mengingatkan untuk mempelajari sub materi berikutnya yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya. Tidak lupa, guru juga memberikan pujian kepada siswa atau kelompok yang aktif bertanya, sambil mengingatkan pada siswa yang lain, bahwa bertanya adalah hal penting dan mendasar di dalam belajar.
Pertemuan II
1) Kegiatan awal
Seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, kegiatan awal dimulai dengan salam, berdoa, mengabsensi siswa, mengatur suasana di ruangan kelas, dan apersepsi. Setelah itu, guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada pertemuan itu.
Melanjutkan materi pada pertemuan sebelumnya, pada pertemuan II siklus II ini, masih dibahas materi tentang Mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar.Untuk memberikan penjelasan tentang sub materi tersebut, guru menggunakan model CTL. Guru memaparkan materi dengan menggunakan permodelan dengan benda-benda di sekitar seperti kardus. Kemudian Siswa didorong mengemukakan pengetahuan awal tentang konsep yang akan dibahas. Kemudian siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep melalui pengumpulan, pengorganisasian, mempresentasikan data dalam sebuah kegiatan yang telah dirancang oleh guru.Kemudian guru membimbing siswa dalam membentuk kelompok. Guru memberikan masalah atau pertanyaan kepada setiap kelompok. Kemudian siswa berdiskusi kelompok dengan mengamati dan memanipulasi model bangun datar serta menentukan sifat-sifat dari bangun datar sesuai tugasatau masalah (kasus) yang sudah dipersiapkan oleh guru.
3) Kegiatan akhir
Setelah semua siswa selesai mengerjakan tugasnya, guru memberikan kesempatan siswa untuk bertanya pada hal-hal yang belum dipahami. Ada siswa mengacungkan tangan; awalnya guru berpikir bahwa siswa tersebut hendak bertanya, ternyata siswa tersebut mengeluarkan pendapatnya: “bu, ternyata cara belajar yang berkelompok menyenangkan ya bu, saya jadi banyak tahu tentang materi yang diajarkan dan semakin semangat untuk belajar. Sebelum menutup pelajaran, guru memberikan tes akhir atau tes evaluasi kepada siswa, juga memberikan pujian dan mengucapkan terimakasih atas kerjasama selama guru melakukan penelitian.
c. Observasi
Kegiatan observasi ini, yang diamati adalah aktivitas guru dan siswa, serta motivasi belajar siswa setelah diberikan tindakan dengan model CTL. Berikut ini dipaparkan hasil aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan model CTL serta motivasi belajar siswa yang diperoleh setelah dilakukan tindakan pada siklus II, baik pada pertemuan pertama maupun pertemuan kedua.
1. Aktivitas Guru
Aktivitas guru yang diamati adalah aktivitas guru dalam pembelajaran dengan menerapkan model CTL dalam pelajaran Matematika. Aktivitas guru yang diamati meliputi aktivitas pada pertemuan pertama dan kedua. Data hasil observasi aktivitas guru menggunakan model CTL dalam pembelajaran Matematika, dinilai dengan rumus di bawah ini (Djamarah, 2005:331):
Dengan kriteria nilai sebagai berikut: 80 ke atas : baik sekali
66 – 79 : baik 56 – 65 : cukup 46 – 55 : kurang 45 ke bawah : gagal
Hasil pengamatan dari kedua pertemuan tersebut disajikan berikut ini:
Tabel 4. 10
Hasil Observasi Aktivitas Guru Menerapkan Model CTL Siklus II Pertemuan 1
Siklus Materi Total skor Nilai Aktivitas Kriteria II Sifat-sifat bangun
ruang
17 85% Baik
Tabel 4.10 menunjukkan bahwa aktivitas guru pada pertemuan pertama siklus II, dalam menerapkan model CTL pada pelajaran Matematika materi sifat-sifat bangun ruang masuk dalam kriteria atau katogeri baik sekali, dengan perolehan skor yaitu 17 dengan nilai aktivitas yaitu 85%, dengan kategori baik sekali.
Selama pembelajaran berlangsung pada pertemuan kedua, juga diamati aktivitas guru dalam menerapkan model CTL pada pelajaran Matematika. Untuk menghitung aktivitas guru tersebut, juga digunakan cara yang sama, seperti menghitung aktivitas guru dalam menerapkan model CTL pada pertemuan pertama. Hasilnya sebagai berikut:
Tabel 4. 11
Hasil Observasi Aktivitas Guru Menerapkan Model CTL Siklus II Pertemuan 2
Siklus Materi Total skor Nilai Aktivitas Kriteria II Sifat-sifat
bangun datar
19 95% Baik
Sekali Hasil aktivitas guru yang disajikan pada tabel 4.11 di atas, diketahui bahwa aktivitas guru dalam menerapkan model CTL pada siklus II pertemuan 2 masuk dalam kriteria baik sekali, di mana perolehan total skor dalam menerapkan model CTL adalah 19 dengan nilai persentase aktivitas yaitu 95%.
Penilaian terhadap guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan CTL menunjukkan adanya peningkatan dari pertemuan 1 dan pertemuan 2 siklus II. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa guru telah menguasai langkah-langkah pembelajaran CTL terbukti dengan nilai aktivitas guru pada pertemuan ke 2 siklus II mencapai 95%.
2. Aktivitas Siswa
Selain aktivitas guru, aktivitas yang diamati adalah aktivitas siswa. Aktivitas siswa dalam hal ini adalah kesiapan siswa,
respon siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan model CTL. Aktivitas siswa yang diamati adalah aktivitas siswa pada siklus II pertemuan 1 dan pertemuan 2. Penghitungan aktivitas siswa, sama juga dengan mengikuti persamaan dalam menghitung aktivitas guru menerapkan model CTL pada pelajaran Matematika, dengan persamaan berikut:
Dengan kriteria nilai sebagai berikut: 80 ke atas : baik sekali
66 – 79 : baik 56 – 65 : cukup 46 – 55 : kurang 45 ke bawah : gagal
Aktivitas siswa dalam mengikuti pelajaran menggunakan model CTL pada pelajaran Matematikadi Siklus II ini, masing-masing disajikan berikut ini.
Tabel 4. 12
Hasil Observasi Aktivitas Siswa Mengikuti Pelajaran Menggunakan Model CTL Siklus II Pertemuan 1 Siklus Materi Total skor Nilai Aktivitas Kriteria
II Sifat-sifat bangun ruang
15 83% Baik
Sekali Tabel 4.12 menunjukkan bahwa aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran pada siklus II pertemuan 1 masuk dalam kriteria baik sekali, dengan perolehan total skor yaitu 15 dengan persentase nilai aktivitas yaitu 83%.
Siklus II pertemuan kedua juga diamati aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model CTL pada pelajaran Matematika. Hasil aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran tersebut disajikan pada tabel berikut ini:
Tabel 4. 13
Hasil Observasi Aktivitas Siswa Mengikuti Pelajaran Menggunakan Model CTL Siklus I Pertemuan 2 Siklus Materi Total skor Nilai Aktivitas Kriteria
II Sifat-sifat bangun ruang
16 89% Baik Sekali
Siklus II pertemuan 2, terjadi peningkatan dalam aktivitas siswa, dimana perolehan aktivitas siswa berada pada kriteria Baik Sekali baik dalam mengikuti pelajaran IPA menggunakan model CTL. Skor yang diperoleh adalah 16 dengan nilai aktivitas yaitu 89%.
3. Motivasi Belajar Siswa
Pemaparan hasil pengamatan motivasi belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran Matematika dengan menggunakan model CTL akan dijelaskan pada bagian ini. Patokan untuk mengukur motivasi belajar siswa adalah nilai (skala) tertinggi pada jawaban angket yaitu 4 dikalikan dengan jumlah soal yaitu 25, dikalikan dengan jumlah siswa yang mengikuti pembelajaran yaitu 20 siswa. Uraiannya adalah seperti berikut:
Skor maksimum, diperoleh sebagai berikut: 4 x 25 x 20 = 2000.Dari hasil pengumpulan angket motivasi belajar, diketahui bahwa perolehan nilai adalah 1800.
= 90%.
Kriteria nilai sebagai berikut: >86% = baik sekali 70 – 85% = baik 55 – 69% = cukup baik
<54% = kurang
Hasil penghitungan motivasi belajar Matematika siswa dalam menggunakan model CTL dalam pembelajaran disajikan pada tabel berikut ini:
Tabel 4.14
Motivasi Belajar Siswa Siklus II
No Kode Siswa Skor (%)
1 AV2016 95 95% 2 BV2016 93 93% 3 CV2016 100 100% 4 DV2016 85 85% 5 EV2016 100 100% 6 FV2016 91 91% 7 GV2016 100 100% 8 H2016 99 99% 9 IV2016 91 91% 10 JV2016 95 95% 11 KV2016 100 100% 12 LV2016 91 91% 13 MM2016 80 80% 14 NN2016 80 80% 15 OO2016 85 85% 16 PQ2016 85 85% 17 RS2016 85 85% 18 TU2016 80 80% 19 VW2016 85 85% 20 XY2016 80 80% Total 1800 90%
Motivasi belajar siswa kelas V SDN Cermo 02 pada mata pelajaran Matematika secara menyeluruh mendapatkan perolehan skor sebesar 1800 atau secara prosentase sebesar 90% dan dikatakan pada kategori baik sekali setelah dilakukan tindakan pada siklus II, dengan menggunakan Model CTL sebagai model pembelajaran.
d. Evaluasi Hasil Belajar Siklus II
Hasil belajar pada siklus II yang diperoleh selama proses pembelajaran Matematika dengan menggunakan model CTL kelas V SDN Cermo 02, adalah sebagai berikut:
Tabel 4.15
Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Siklus II No
Nilai Siklus II Keterangan
Jumlah Siswa (%) 1 95 – 100 6 30 Tuntas 2 90 – 94 3 15 Tuntas 3 85 – 89 3 15 Tuntas 4 80 – 84 1 5 Tuntas 5 75 – 79 3 15 Tuntas 6 70 – 74 4 20 Tuntas Jumlah 20 100 Rata-rata 84.5 Nilai tertinggi 100 Nilai terendah 70
Tabel 4.15 di atas menunjukkan bahwa terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus II dibandingkan dengan pada siklus I. Jika pada siklus I, siswa yang tuntas belajar mencapai 70% dari total jumlah keseluruhan siswa, maka pada siklus II siswa yang tuntas belajar 100%, dengan uraian sebagai berikut: yang mendapatkan nilai pada rentang 70 – 74 sebanyak 4 siswa atau 20%, kemudian pada rentang 75 – 79 sebanyak 3 siswa atau 15%, pada rentang 80 – 84 berjumlah 1 siswa dengan prosentase 5%; yang mendapatkan nilai dalam rentang 85 – 89 berjumlah 3 siswa atau 15%, yang mendapatkan nilai pada rentang 90 – 94 ada 3 siswa atau 15% dan yang mendapatkan nilai pada rentang 95 – 100 berjumlah 6 orang atau 30%. Nilai rata-rata kelas menjadi meningkat yaitu 84.5, dengan nilai terendah 70 dan tertinggi 100.
Tabel 4.16
Prosentase Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II
No Nilai Siklus II Keterangan
Jumlah Siswa (%) 1 < 60 - - Belum tuntas 2 ≥ 60 20 100 Tuntas Jumlah 20 100 Rata-rata 84.5 Nilai tertinggi 100 Nilai terendah 70
Ketuntasan Hasil belajar siswa SD Negeri Cermo 02, sebelum dilakukan tindakan dapat diketahui bahwa siswa yang memiliki nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM ≥ 60) sebanyak 13 siswa atau 65% pada siklus I kemudian terjadi penurunan menjadi 6 siswa atau 30% setelah dilakukan siklus II tidak ada lagi siswa yang tidak berada pada di bawah KKM. Sedangkan, yang mencapai ketuntasan minimal sebelum dilaksanakan tindakan yaitu sebanyak 7 siswa atau 35% pada siklus I kemudian meningkat menjadi 14 siswa atau 70%, dan pada siklus II mengalami peningkatan lagi menjadi 100% tuntas dalam belajar Matematika. Dengan hasil ini membuktikan penelitian yang telah dilakukan telah berhasil karena telah melebihi batas ketuntasan yaitu 80% sedangkan hasil yang didapat adalah 100%.
Hasil tes dan pengamatan aktivitas siswa setelah diadakannya tindakan pada siklus II, terjadi peningkatanhasil belajar siswa. Peningkatan ketuntasan hasil belajar pada siklus II adalah sebesar 20 siswa tuntas semua atau secara prosentase sebesar 100% tuntas secara KKM, kemudian tidak ada lagi siswa yang belum tuntas hasil belajarnya. Terjadinya kenaikan hasil belajar siswa tersebut karena siswa merasa senang dalam proses pembelajaran. Siswa terlihat sangat antusias, aktif dalam bertanya dalam pembelajaran menggunakan model CTL.
e. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
Perbandingan hasil belajar dari kondisi awal, siklus I dan siklus II akan dijabarkan melalui tabel di bawah ini.
Tabel 4.17
Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
No. Nilai Tuntas Belum Tuntas
Jumlah Siswa % Jumlah Siswa % 1 Kondisi Awal 7 35% 13 65% 2 Siklus I 14 70% 6 30 % 3 Siklus II 20 100 % - -
Tabel 4.17 di atas menunjukkan bahwa terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar baik pada siklus I maupun siklus II. Pada kondisi awal ketuntasan hasil belajar siswa sebanyak 35%, sedangkan ketuntasan hasil belajar pada siklus I meningkat menjadi 70%, dengan kata lain terjadi peningkatan sebesar 35% dari kondisi awal ke Siklus I. Kemudian terjadi peningkatan kembali pada siklus II yaitu sebesar 100% bagi yang tuntas, dengan kata lain terjadi peningkatan sebesar 30% dari ketuntasan hasil belajar dari Siklus I ke siklus II. Hasil ini dapat disimpulkan bahwa model CTL berhasil pada pelajaran Matematika materi Memahami sifat-sifat bangun dan hubungan antar bangundapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas V SDN Cermo 02 semester II tahun pelajaran 2015/2016.
Hasil ini disajikan pada grafik perbandingan ketuntasan hasil belajar pada kondisi awal, siklus I dan siklus II yang dapat dilihat pada grafik yang tersaji berikut ini:
Gambar 5.
Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
f. Perbandingan Motivasi Belajar Siklus I dengan Siklus II Perbandingan motivasi belajar Siklus I dan II dilakukan untuk mengetahui terjadinya peningkatan motivasi belajar Matematika siswa kelas V SDN Cermo 02. Berikut ini akan dipaparkan perbandingan motivasi belajar Matematika siswa dalam menggunakan model CTL sebagai model pembelajaran. Perbandingannya diuraikan melalui tabel berikut ini:
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Pra Siklus Siklus I Siklus II 7 14 20 13 6 0 Ju m la h S isw a Tuntas Tidak Tuntas
Tabel 4.18
Perbandingan Motivasi Belajar Siklus I dengan Siklus II No Kode Siswa Siklus I Siklus II
Skor % Skor % 1 AV2016 75 75% 95 95% 2 BV2016 75 75% 93 93% 3 CV2016 70 70% 100 100% 4 DV2016 73 73% 85 85% 5 EV2016 75 75% 100 100% 6 FV2016 69 69% 91 91% 7 GV2016 75 75% 100 100% 8 H2016 73 73% 99 99% 9 IV2016 75 75% 91 91% 10 JV2016 73 73% 95 95% 11 KV2016 75 75% 100 100% 12 LV2016 70 70% 91 91% 13 MM2016 70 70% 80 80% 14 NN2016 70 70% 80 80% 15 OO2016 70 70% 85 85% 16 PQ2016 72 72% 85 85% 17 RS2016 70 70% 85 85% 18 TU2016 70 70% 80 80% 19 VW2016 70 70% 85 85% 20 XY2016 70 70% 80 80% T o t a l 1440 72% 1800 90%
Melihat tabel di atas, dapat kita ketahui bahwa peningkatan motivasi belajar siswa pada siklus I dari total perolehan keseluruhan secara prosentaase sebesar 72%, meningkat menjadi total perolehan keseluruhan secara prosentaase sebesar 90% pada siklus II, setelah dilaksanakan tindakan pada siklus II.Hal ini terjadi karena guru melakukan beberapa perbaikan kekurangan-kekurangan yang terjadi pada pelaksanaan tindakan pada siklus II.Berdasarkan hasil ini, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar Matematika siswa kelas V SDN Cermo 02, meningkat dari baik pada siklus I menjadi baik sekali pada siklus II.
g. Refleksi
Setelah dilakukan perbaikan pembelajaranpada materi Memahami sifat-sifat bangun dan hubungan antar bangun,
peneliti melakukan refleksi.Ternyata hasil perbaikan pembelajaran memberikan hasil sesuai yang diharapkan, dimana semua siswa pada siklus II berhasil tuntas dalam belajarnya. 4.3. Deskripsi Hasil Penelitian
4.3.1. Pelaksanaan Pembelajaran dengan Model CTL oleh Guru Bagian ini akan menguraikan penggunaan model CTL dalam pembelajaran baik yang dilakukan oleh guru, maupun oleh siswa. Uraian penggunaan model CTL dalam pembelajaran Matematika ini dimaksudkan untuk melihat sejauh mana model ini benar-benar diterapkan, sehingga dengan demikian dapat diambil kesimpulan darinya bahwa model ini dapat meningkatkan motivasi maupun hasil belajar Matematika pada siswa kelas V SDN Cermo 02.
Acuan untuk penggunaan model CTL dalam pembelajaran ini, diambil dari lembar observasi guru maupun lembar observasi siswa. Berikut ini, akan disajikan dalam tabel penggunaan model CTL sebagai model pembelajaran oleh guru dalam mengajarkan mata pelajaran Matematika. Penggunaan model CTL dalam pembelajaran Matematika tersebut, akan disajikan dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.19
Pembelajaran dengan Model CTL oleh Guru No Aktivitas
Guru yang diamati
Siklus I Siklus II
Pertemuan Pertemuan Pertemuan Pertemuan
I II I II
Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak 1 Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang perlu dicapai √ √ √ √ 2 Penyampaian Materi dan Strategi Pembelajaran √ √ √ √ 3 Penggunaan Model Pembelajaran dan Pemanfaatan Sumber Belajar √ √ √ √ 4 Penilaian Hasil Belajar √ √ √ √ 5 Mengakhiri Pelajaran √ √ √ √ Total 2 3 4 1 5 - 5 -
Melihat atau mengacu pada lembar observasi guru dalam menggunakan Model CTL dalam pembelajaran Matematika, diketahui bahwa pada siklus I pertemuan I, dari 5 aktivitas yang perlu dilakukan dengan menggunakan model CTL, hanya 2 yang dilakukan atau 50% dari keseluruhan aktivitas dan 3 langkah tidak dilakukan. Pada pertemuan II siklus I, terjadi peningkatan yaitu dari 5 aktivitas pembelajaran berdasarkan Model CTL, 4 langkah dilakukan sedangkan 1-nya tidak dilakukan.
Siklus II pertemuan I dan II, dari 5 aktivitas yang dilakukan dalam pembelajaran, kelima langkah tersebut dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran.
4.3.2. Pelaksanaan Pembelajaran dengan Model CTL oleh Siswa Pengamatan juga dilakukan pada siswa dalam kegiatan pembelajaran. Pengamatan ini dimaksudkan bahwa sejauh mana siswa memahami model pembelajaran dengan menggunakan model CTL itu sendiri. Berikut ini, dipaparkan dalam tabel, hasil amatan siswa dalam pembelajaran Matematika, baik siklus I dan siklus II dengan menggunakan model CTL.
Tabel 4.20
Pembelajaran dengan Model CTL oleh Siswa
No Aktivitas Siswa yang diamati
Siklus I Siklus II
Pertemuan Pertemuan Pertemuan Pertemuan
I II I II
Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak 1 Siswa mendengarkan tujuan pembelajaran √ √ √ √ 2 Siswa memperhatikan penjelasan materi yang dilakukan oleh guru dengan permodelan √ √ √ √ 3 Siswa mengaitkan materi dengan permodelan yang dipaparkan guru. √ √ √ √ 4 Siswa menyelidiki dan menemukan konsep melalui pengumpulan, pengorganisasian, perinterpretasian data dalam sebuah kegiatan yang telah dirancang oleh guru
√ √ √ √ 5 Siswa membentuk kelompok √ √ √ √ 6 Siswa mendapatkan reward dari perolahan skor dalam pembelajaran yang telah dilakukan. √ √ √ √ Total 2 4 2 4 6 - 6 -
Pertemuan pertama dan kedua siklus I menunjukkan bahwa dari 6 aktivitas pembelajaran dengan model CTL yang perlu dilakukan oleh siswa, hanya 2 aktivitas yang benar-benar dilakukan oleh siswa; sedangkan
4 aktivitas lainnya tidak dilakukan. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, pertama bahwa model CTL adalah model pembelajaran yang pertama kali diterapkan; kedua, guru sendiri masih kaku dalam mengajar dengan menggunakan model CTL; ketiga, guru belum melakukan pendampingan kepada siswa dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model CTL, akibatnya siswa belum memahami dengan benar dalam pembelajaran Matematika.
Berbeda pada siklus II, dengan memperbaiki kekurangan-kekurangan pada siklus I, guru mencoba memperbaiki hal-hal yang perlu dilakukan pada siklus II.Setelah dilakukan perbaikan, hasilnya siswa kemudian terlibat aktif dalam bertanya, siswa mulai lebih tertib dan tidak lagi saling bertanya dengan temannya yang menjadikan suasana menjadi ribut.
4.3. Pembahasan
Hasil analisis komparatif, menunjukkan bahwa adanya peningkatan terhadap ketuntasan belajar siswa mulai dari kondisi pra siklus hingga siklus II. Hasil belajar pondisi awal atau kondisi pra siklus menunjukkan bahwa jumlah ketuntasan siswa mencapai 35%, hal ini dikarenakan dalam pembelajaran guru masih menggunakan metode pembelajaran yang konvensional yakni dengan ceramah dan dilanjutkan pemberian tugas. Kondisi demikian tidaklah sesuai dengan karakteristik pembelajaran matematika. Bruner (Heruman, 2008) menyatakan bahwa dalam pembelajaran matematika diperlukan kegiatan yang membuat siswa menemukan sendiri apa yang diperlukannya. Mencermati kondisi yang terjadi, maka diperlukan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik pembelajaran matematika salah satunya adalah model CTL. Rusman (2010) menjelaskan bahwa pembelajaran CTL membuat siswa dapat menemukan konsep mereka sendiri karena pembelajaran yang dirancang membantu siswa menghubungkan konsep materi ajar dengan dunia nyata sehingga menolong siswa dalam memahami materi. Pembelajaran dengan CTL membantu siswa dalam belajar dengan adanya
pemodelan yakni menghubungkan materi dengan dunia nyata sehingga memudahkan siswa dalam memahami materi, hal ini tentu berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.
Pembelajaran dengan CTL membuat pembelajaran matematika menjadi lebih bermakna, didukung dengan komponen yang ada dalam CTL, yakni kontruktivisme, menemukan, bertanya, masyarakat belajar, permodelan, refleksi, dan penialian nyata (Rusman, 2010). Komponen-komponen tersebut selanjutnya diterapkan dalam rancangan pembelajaran pada penelitian ini. Pada tahap kontruktivisme, guru membangun atau menyusun pengetahuan baru pada siswa dengan menanyakan materi yang dipelajari yankni pada siklus I materi yang dipelajari adalah bangun datar dan pada siklus II adalah bangun ruang. Guru membangun konsep dengan menghubungkan benda-benda disekitar dengan materi yang dipelajari melalui pertanyaan, sehingga siswa memahami dan menemukan konsep dengan cara mereka sendiri.
Tahap inquiry atau menemukan diterapkan dalam kegiatan pemberian tugas yakni siswa mendapat sebuah permasalahan di mana siswa harus melakukan diskusi dengan melakukan pengamatan dan manipulasi terhadap objek tertentu untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. Tahap bertanya adalah tahap di mana, siswa diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan terkait permasalahan yang diberikan oleh guru, selanjutnya pada tahap masyarakat belajar dilakukan dalam kegiatan presentasi. Kegiatan presentasi merupakan wujud dari tahap masyarakat belajar, pada tahap ini siswa diminta untuk mempresentasikan hasil dari soal yang diselesaikan dalam kelompok. Tahap permodelam merupakan tahap di mana guru memberi peragaan terhadap cara mengamati dan memanipulasi obyek dengan cara yang benar, pada tahap ini guru juga membimbing siswa untuk mengaitkan apa yang telah dipelajari ke dalam kehidupan sehari-hari. Tahap refleksi dilakukan dalam bentuk pembuatan kesimpulan, siswa dibimbing untuk menyimpulkan materi yang telah dipelajari. Komponen yang terakhir pada CTL adalah penialian, guru
melakukan penilaian terhadap kemampuan siswa. Penilaian diberikan secara individu melalui tes evaluasi di akhir siklus.
Setelah dilakukan tindakan yakni dengan menerapkan model pembeljaran CTL, dapat dilihat peningkatan hasil belajar siswa dari kondisi pra siklus ke siklus I adalah sebesar 35% yakni ketuntasan peningkatan dari 35% (kondisi pra siklus) menjadi 70% (kondisi siklus I), meskipun terjadi peningkatan ketuntasan terhadap hasil belajar siswa, namun hasil tersebut belum dapat dikatakan berhasil karena ketuntasan pada siklus I masih dibawah dari indikator keberhasilan yang ditentukan yakni 80% siswa mendapat nilai di atas KKM (KKM ≥ 60) sehingga diperlukan tindakan pada siklus II.
Hasil observai pada siklus I menunjukakan bahwa proses pembelajaran sudah berjalan dengan baik, meskipun ada beberapa langkah pembelajaran yang terlewatkan, siswa masih mengalami kebingungan dalam penyelesaian tugas namun setelah dilakukan evaluasi dan didiskusikan bersama dengan guru kelas, maka dirancang solusi dari permasalahan tersebut, diantaranya guru perlu lebih memahami langkah-langkah pembelajaran sehingga langkah-langkah-langkah-langkah pembelajaran dengan model CTL dapat terlaksana seluruhnya. Hasil observasi pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan baik terhadap guru maupun siswa, hal tersebut membuktikan bahwa guru telah dapat melaksanakan pembelajaran CTL dengan baik, selain itu ketuntasan belajar siswa juga mengalami peningkatan.
Kondisi pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan yakni sebesar 30%, jika dibandingkan dengan kondisi awal peningkatan ketuntasan belajar mencapai 65% yakni dari 35% (kondisi pra siklus) menjadi 100% (kondisi siklus II). Nilai ketuntasan belajar pada siklus II menunjukkan keberhasilan dalam penelitian ini karena nilai ketuntasan pada siklus II telah mencapai indikator keberhasilan yang ditentukan. Peningkatan terhadap motivasi belajar siswa juga terlihat, pada siklus I nilai motivasi belajar siswa mencapai 72% kemudian meningkat sebesar
18% menjadi 90% pada siklus II, dengan demikian penerapan model CTL dalam meningkatkan motivasi belajar telah berhasil. Hal ini sejalan dengan pendapat Sanjaya (2006: 142) yang menyatakan bahwa model pembelajaran CTL dapat memotivasi siswa untuk memahami materi karena model pembelajaran CTL mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari sehingga memudahkan siswa untuk belajar dan membangkitkan motivasi belajarnya.
Hasil penelitian ini memperkuat penelitian-penelitian yang dilakukan sebelumnya. Penelitian yang dilakukan oleh Sutinah menunjukkan adanya keberhasilan dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada kelas IVB dengan menerapkan CTL. Peningkatan hasil belajar siswa terlihat pada siklus II yakni terjadi peningkatan sebesar 94,12% dari kondisi awal 41,18%. Penelitian lainnya adalah penelitian dari Mokhamad Afif yang menunjukkan peningkatan terhadap motivasi belajar siswa sebesar 81 dari kondisi awal 64.
Hasil penelitian ini sekaligus mendukung teori dari Elaine B. Johnson (2009: 65) yang menyebutkan bahwa CTL merupakan proses pembelajaran yang menghubungkan materi ajar dengan konteks kehidupan sehari-hari siswa sehingga memudahkan siswa dalam memahami materi yang diajarkan. Kondisi tersebut membuat siswa menjadi bersemangat dan termotivasi dalam belajar sehingga berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa.