BAB 1 PENDAHULUAN. Ventilator memegang peranan penting dalam keperawatan kritis yang berperan

Teks penuh

(1)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ventilator merupakan alat bantu pernafasan bertekanan negatif atau positif yang menghasilkan udara terkontrol pada jalan nafas sehingga pasien mampu mempertahankan ventilasi dan pemberian oksigen dalam jangka waktu lama. Tujuan dari penggunaan ventilator adalah untuk mempertahankan ventilasi alveolar secara optimal agar memenuhi kebutuhan metabolik pasien, memperbaiki hipoksemia dan memaksimalkan transport oksigen (Purnawan,2010).

Ventilator memegang peranan penting dalam keperawatan kritis yang berperan sebagai pengganti fungsi ventilasi pasien dengan gangguan fungsi respiratorik. Namun pemasangan ventilator pada pasien seringkali menyebabkan VAP (Ventilator Assosiated Pneumonia). VAPadalah jenis infeksi paru-paru yang terjadi pada pasien yang terpasang alat bantu nafas (ventilator) di rumah sakit selama lebih dari 48 jam. VAP adalah infeksi yang biasa ditemui dalam situasi perawatan kritis (Dorrie & Patricia, 2013).

(2)

2

Penelitian terhadap Healthcare associated infections (HAIs) oleh Center for desease andcontrol (CDC) menyatakan bahwa di dunia terdapat 721.800 kasus HAIs dan 39%. Diantaranya mengalami VAP yang berjumlah 157.000 kasus (CDC, 2016). VAP merupakan penyebab umum kedua pada kasus HAIs di Amerika Serikat dan bertanggung jawab 25% dari kasus infeksi yang terjadi di ICU (Sedwick, et all, 2012). Di Inggris 543 pasien meninggal setiap tahun di rumah sakit akibat VAP(Saxby et all, 2013). Di Thailand terjadi 621 VAP selama 6 tahun dengan angka mortalitas yang tinggi (Inchai, Pothirat & liwsrisakun, 2015). Ban (2011) mengatakan penggunaan ventilatormaningkatkan resiko terjadinya HAIs 6-21 kali lipat dibandingkan tidak menggunakan ventilatordan meningkatkan terjadinya pneumonia 1-3% perhari selama terpasang ventilator.

Tidak ada data nasional tentang insiden VAP yang dikeluarkan oleh kementrian kesehatan namun tiap rumah sakit melaporkan kejadian VAP ke Kementrian Kesehatan. Di beberapa rumah sakit tipe A yang memiliki perawatan intensif yang kompleks mengalami insidens VAP, seperti RS Cipto Mangunkusumo sebanyak 201 pasien mengalami VAP dari tahun 2003-2012 (Saragih, Amin, Sedodo, Pitoyo & Rumende, 2014), RSUP Persahabatan sebanyak 45 pasien dari tahun 2012-2016 (Komite PPI RS Persahabatan, 2017), Di RS Sanglah Bali sebanyak 15 pasien pada tahun 2011 (Aziz, Sawitri & Parwati, 2012). Kementrian Kesehatan merekomendasikan penerapan bundle VAP di setiap

(3)

3

rumah sakit di Indonesia yang dimulai dari rumah sakit tipe A, karena mengancam keselamatan pasien, merugikan rumah sakit dan membebani negara (Kemenkes, 2011).

Pentingnya masalah ini tercermin pada tingginya insiden VAPdan membuat VAPmenjadi infeksi yang paling umum di ICU dan dengan pengobatan biaya tinggi, jumlah hari rawat yang lebih besar, durasi yang lebih lama dari ventilasi mekanik dan kematian lebih tinggi (Mohammed, 2014). Kementrian kesehatan merekomendasikan penerapan bundleVAP di setiap rumah sakit di Indonesia yang dimulai dari rumah sakit tipe A yang memiliki perawatan intensif yang kompleks karena setiap kejadian VAP akan mengancam keselamatan pasien dan merugikan rumah sakit dan membebani negara (Kemenkes, 2011). Berdasarkan data VAP dan rekomendasi Kementerian Kesehatan maka setiap rumah sakit dituntut untuk membentuk komite pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) yang dapat mengendalikan angka kejadian VAP.

Pada tahun 2003, CDC merancang bundle untuk mengurangi sampai menghilangkan terjadinya VAP. Bundle adalah suatu cara yang terstruktur untuk meningkatkan proses dan hasil perawatan pasien bila dilakukan secara kolektif dan handal yang dilaksanakan dengan praktek terbaik dan berdasarkan

(4)

4

evidence base (Al-tawfiq & Abed, 2010). Jadi BundleVAP merupakan sekumpulan tindakan yang dipergunakan untuk mengurangi terjadinya infeksi pneumonia akibat pemasangan ventilator (VAP).

Pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi VAP adalah dengan VAP Bundle. VAPBundle adalah serangkaian intervensi yang berhubungan dengan perawatan pada pasien dengan ventilator mekanik yang ketika di implementasikan bersama-sama akan mencapai hasil yang signifikan dibandingkan jika diterapkan secara individual, yang terdiri dari 5 elemen antara lain, elevasi tempat tidur (Head Of Bed) 30o-45o, penghentian secara berkala pemberian sedasi dan penilaian kesiapan ektubasi,profilaksis thrombosis vena dalam,profilaksis ulkus peptikum, dan Oral higiene secara berkala dengan chlorhexidine(Clinical Pulmonary Infection Score, 2012 ).

Seringnya intervensi keperawatan yang dilakukan oleh perawat berakibat terjadinya penyebaran organisme dari klien ke klien yang lainnya. Infeksi silang bisa disebabkan oleh perawat, dokter dan staf lainnya yang menjadi medium utama penyebaran infeksi nosokomial. Tingginya angka infeksi nosokomial ini tidak terlepas dari peranan tenaga kesehatan terutama tenaga keperawatan sebagai tenaga mayoritas di rumah sakit . Perawat yang bekerja pada ruang perawatan khusus (ICU) harus ditunjang dengan kemampuan,

(5)

5

perawat yang profesional, berpengalaman serta mampu menggunakan peralatan modern khususnya ventilasi mekanik (Dewi dkk, 2014 ).

Menurut penelitian di Finlandia tahun 2013, pengetahuan perawat ICU tentang kepatuhan terhadap Evidence Based Guidelines untuk mencegah VAP saat ini terbatas. Di Arab Saudi dan Mesir menurut El azab et al. (2013) penerapan bundle VAP selama 6 bulan dapat mereduksi kasus VAP dari 16,2 kasus menjadi 5,6 kasus, mengurangi lama rawat dari 9,7 hari menjadi 6,5 hari dan mengurangi angka kematian dari 23,4% menjadi 19,1%.

Kepatuhan penerapan bundle VAP oleh perawat ICU mengurangi lama perawatan 10 hari dan mengurangi biaya perawatan sebesar $40.000 dollar per kejadian VAP yang meningkat dibandingkan sebelumnya yaitu $11.897 pada tahun 1999 dan $25.072 pada tahun 2005 (Al-tawfiq & Abed, 2010; Scott, 2009). Dapat disimpulkan kepatuhan bundle VAP menurunkan angka kematian, biaya, lama rawat dan kejadian VAP.

RSUD Koja sebagai salah satu penyedia pelayanan kesehatan yang mempunyai fungsi rujukan harus dapat memberikan pelayanan rawat intensif yang salah satunya adalah PICU(Pediatrik Intensif Care Unit) yang professional dan

(6)

6

berkualitas dengan mengedepankan mutu dan keselamatan pasien. PICU adalah suatu unit perawatan yang merawat pasien anak (29 hari sampai 17 tahun) dengan fasilitas atau unit yang terpisah yang dirancang untuk penanganan pasien yang mengalami gangguan medis, bedah dan trauma atau kondisi yang mengancam nyawa lainnya yang memerlukan perawatan intensif, observasi yang bersifat komprehensif dan perawatan khusus.

Tenaga perawat di PICU RSUD Koja terdiri dari 35 orang perawat dengan tingkat pendidikan yang berbeda yakni S1 keperawatan 4 orang dan D3 keperawaratan 31orang dan sebagian merupakan perawat baru yang masa kerja di PICU kurang dari 5 tahun. Semua telah mendapatkan pelatihan BHD (Bantuan Hidup Dasar) dan pengetahuan tentang bundle VAP, serta sudah mendapatkan pelatihan intensif care unit sebanyak 6 orang. Namun berdasarkan pengamatan yang dilakukan bahwa tidak semua perawat melakukan / menerapkan bundle VAP.

Menurut CDC tahun 2014standar angka kejadian VAP adalah 5,8‰. Di ruang PICU RSUD Koja, ditemukan bahwa angka kejadian VAP masih terbilang tinggi, pada bulan Agustus 2017 angka kejadian VAP di PICU yaitu 9‰ yang disebabkan karena kuman Klebsiela Pneumonia, pada bulan September 2017 yaitu 10,4‰ yang disebabkan karena kuman Klebsiela Pneumonia dan

(7)

7

Acinobacter Baumanii, sedangkan pada bulan Oktober 2017 yaitu 6,2‰ yang disebabkan karena kuman Acitenobacter Baumanii(Laporan bulanan tim PPI ruang PICU ). Dari data yang didapat dari tim PPI didapatkan rata-rata kepatuhan dalam melakukan bundle VAPdi PICU pada bulan Juli 2017 sebesar 41,8%, bulan Agustus 2017 50,75% dan pada bulan September 2017 sebesar 47,8% sedangkan standar yang harus di capai adalah 100%.

Tingginya risiko VAP pada pasien yang terpasang ventilasi mekanik berdampak pada lama perawatan, biaya yang harus ditanggung dan angka mortalitas pasien maka penerapan bundle VAP terbukti mengurangi angka VAP, lama rawat dan mortalitas.Intervensi keperawatan dan kolaborasi yang terintegrasi dalam bundle VAP yang diterapkan oleh perawat ICU di berbagai negara terbukti sebagai unggulan dan sangat berperan dalam keberhasilan penurunan insiden VAP secara signifikan (Ban, 2011).

Kepatuhan perawat terhadap standar merupakan perilaku sebagai petugas profesional kesehatan. Ketidakpatuhan atau tidak mengikuti petunjuk merupakan suatu masalah yang serius dalam bidang kesehatan (Stanley & Beare, 2007). Menurut Al-Assaf (2001) tujuan dari dilakukannya penelitian terhadap kepatuhan untuk mengungkap kompleksitas masalah dan mengidentifikasi antara tingkat pengetahuan dan perilaku.

(8)

8

Pencegahan insiden VAP sangat diperlukan, terlebih upaya penilaian atau audit terhadap kepatuhan bundle VAP pada perawat di ruang perawatan intensif. Kurangnya kepatuhan terhadap pelaksanaan bundle VAP di ruang PICU RSUD Koja membuat penulis tertarik untuk mengetahui adakah hubungan antara kepatuhanperawat dalam pelaksanaan bundle VAP dengan angka kejadian VAP

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk meneliti “ Apakahada hubungankepatuhanperawat dalam penerapan bundle VAPdengan kejadian VAP(Ventilator Assosiated Pneumonia) di ruang PICU RSUD Koja Jakarta Utara”.

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.3.1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah diketahui hubungan kepatuhan perawatdalam penerapanbundle VAP dengan kejadian VAP

(9)

9 1.3.2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah :

1.3.2.1. Teridentifikasi gambaran karakteristik responden yang terdiri dari pendidikan, umur, masa kerja di PICU dan jenis kelamin.

1.3.2.2. Teridentifikasi gambaran kepatuhan perawat terhadap penerapan bundle VAP di ruang PICU RSUD Koja Jakarta Utara

1.3.2.3. Teridentifikasi gambaran kejadian VAP di ruang PICU RSUD Koja

1.3.2.4. Teridentifikasi hubungan kepatuhan perawat tentang bundle VAP dengan kejadian VAP di ruang PICU RSUD Koja Jakarta Utara

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Bagi pengembangan ilmu pengetahuan

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dan sebagai tambahan pengetahuan terkait tentang perawatan pasien dengan pemasangan ventilatormekanikuntuk mencegah terjadinya VAP.

1.4.2. Bagi Rumah Sakit dan Perawat

Penelitian ini diharapkan sebagai masukan tambahan bagi pihak rumah sakit khususnya ruangan PICU dalam menangani akibat dari kurangnya penerapan bundle VAP untuk menekan /menurunkan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas)dan sebagai evidence base practice dalam

(10)

10

memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan pemasangan ventilator mekanik di ruang PICU RSUD Koja Jakarta Utara.

1.4.3. Bagi peneliti

Sebagai ilmu pengetahuan dan pengalaman yang berharga untuk menambah wawasan mengenai penyebab terjadinya VAP, selain itu dapat memperluas pandangan agar lebih peka dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan pemasangan ventilator mekanik.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...