BUPATI
KUTAI
KARTANEGARA
PROVINSI I(ALIMANTAN TIMUR
PERATURAN BUPATI KUTAI I(ARTAI{E{GARA NOMOR 119 TAHUN 2(}16
TEIYTAIYG
PENCEGAHAN DAIT PENINGKATN{ KUALITAS PERUMAHAN KUMUH DAIT PERMUKIMAII KUMUH
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUTAI KARTANEGARA,
Menimbang
:
a. bahwauntuk
menindaklanjuti ketentuan dalam pasal 98 ayat (3)Undang-undang Nomor 1
Tahun
20 1 1 tentang perumahan danKawasan Permukiman, Pemerintah Daerah
wajib
melaksanakan pencegahan dan peningkatankualitas
terhadap perumahan dan permukiman kumuh;b.
bahwa
berdasarkan pertimbangan
sebagaimana dimakusddalam
huruf
a diatas, makaperlu
membentuk peraturan Bupatitentang
Pencegahandan
peningkatan
Kualitas
perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh.Mengingat 1.
Pasal
18
ayat (6)
undang-Undang
Dasar
Negara
RepubrikIndonesia
Tahun
1945;2.
undang-undang Nomor
27
Tahun
lgsg
tentang
penetapanUndang-Undang
Darurat
Nomor
3
Tahun
1953
tentang Pembentukan Daerah TingkatII di
KalimantanTimur
(LembaranNegara
Republik
Indonesia
Tahun 19s3
Nomor
gl
sebagaiUndang-undang (Lembaran Negara
Republik
Indonesia Tahun1959
Nomor
72,
Tambahan Lembaran Negara
RepublikIndonesia Nomor l82O);
3.
Undang-Undang Nomor
28
Tahun 2oo2
tentang
BangunanGedung (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun
2ao2Nomor 134,
Tambahan Lembaran NegaraRepubrik
Indonesia Nomor a2+71;2.
Undang-Undang
Nomor
26
Tahun
2oor
tentang
penataanRuarrg Lernbarar, Negara
Republik
lndonesia
Tahun
2oo7Nomor
6S,Tambahan Lembaran Negara
Republik
Indonesia Nomor a7251;3.
undang-undang
Nomor 1Tahun
20 1 1 tentang perumahan danKawasan Permukiman
(tembaran
NegaraRepublik
IndonesiaTahun
2oll
Nomor
T,
Tambahan Lembaran
NegaraNomor 5188);
Jalan Wolter Monginsidi Kode Pos 75511 Kalimantan Timur Telp. 661"03i., 661029, 662088 Fax. (0541) 661094
4.
undang-undang
Nomor23
Tahun
2ol4
tentang pemerintahanDaerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2ol4
Nomor 244,
TambahanLembaran
NegaraRepublik
Indonesia Nomor 5587) sebagaimanatelah diubah
beberapakali
terakhir
dengan
Undang-Undang
Nomor
g
Tahun
2ots
tentangPerubahan Kedua Atas
undang-undang
Nomor23 Tahun
2oL4tentang
Pemerintahan
Daerah
(Lembaran Negara
RepublikIndonesia
Tahun
2075 Nomor58,
Tambahan t embaran nuegaraRepublik Indonesia Nomor 56T9);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang peraturan Pelaksanaan
Undang-undang Nomor
2g
rahur'
zoo2
tentang Bangunan Gedung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun2oo5
Nomor
83,
Tambahan
Lembaral
Negara
Republik Indonesia Nomora$2);
6.
Peraturan Pemerintah
No. 15 Tahun 2olo
TentangPenyelengga-raan Penataan
Ruang
(tembaran
Negara Republiklndonesia
Tahun
2olo Nomor
2r,Tarnbahan
LembaranNegara
Republik lndonesia
Nomor 5103);7.
Peraturan
Pemerintah
Nomor
14
Ta-hun
2016
TentangPenyelenggaraan
Perumahan
dan
Kawasan
permukiman(Lembaran
Negara Republik
lndonesia
Tahun
2016Nomor
101,Tambahan Lembaran
NegaraRepublik
lndonesia Nomor 5883);8. Peraturan Daerah
nomor
9
tahun
2013tentang
Rencana Tata Ruangwilayah
Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun2ol3-2o33.
(Lembaran
Daerah
KabupatenKutai
KartanegaraTahun
2ol3
Nomor 21).
MEMUTUSI{AN:
Menetapkan
:
PERTURAN
BUPATI
TENTaNG ptNcEGAHAN
DANPENINGKATAN
KUALITAS
PERUMAHAN
KUMUH
DAN PERMUKIMAN KUMUH.BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan Bupati
ini
yang dimaksud dengan:1.
Daerah adalah Kabupaten Kutai Kartanegara.2.
Pemerintah Daerah adalahBupati
sebagaiunsur
penyelenggara PemerintahanDaerah
yang
memimpin
peraksanaan urusanpemerintahan
yang
menjadi
kewenangan
daerah
otonomKabupaten Kutai Kartanegara.
3.
Bupati adalahBupati
Kutai Kartanegara.4.
Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tingga-l yang layakhuni,
sar'€rna pembinaan keluarga, cerminanharkat
5.
Perumahan adalah
kumpuran
rumah
sebagai
bagian
daripermukiman,
baik
perkotaan
maupun
perdesaan,
yangdilengkapi dengan prasarana,
sarana,
dan utilitas
umumsebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang layak huni.
6.
Perumahan swadaya adalah
rumah atau
perumahan
yangdibangun atas prakarsa
dan
upaya
masyarakat,baik
secarasendiri atau
berkelompok,
yang
meliputi
perbaikan, pemugafan/perluasa.n atau pembangunanrumah baru
beserta lingkungannya.7.
Permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yangterdiri
atas lebih
dari
satu
satuan
perumahan
yang
mempunyaiprasarana, sa.rana,
utilitas umum,
serta mempunyai penunjangkegiatan
fungsi
lain
di
kawasan perkotaan
atau
kawasan perdesaan.8.
Lingkunganhunian
adalah bagiandari
kawasan permukiman yangterdiri
atas lebihdari
satu satuan permukiman.9.
Kawasan permukiman adalah bagiandari
ringkunganhidup
diluar
kawasan
lindung,
baik
berupa kawasan
perkotaan maupun perdesaan, yal:g berfungsi sebagai lingkungan tempattinggal
atau
lingkungan
hunian dan
tempat kegiatan
yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.10.
Perumahan
kumuh
adalah
perumahan
yang
mengalami penurunan kualitas fungsi sebagar tempat hunian.1 1. Permukiman
kumuh
adalah permukiman yangtidak
layakhuni
karena
ketidakteraturan bangunan,
tingkat
kepadatan bangunan yang tinggi, dankualitas
bangunan serta sarana dan prasarana yangtidak
memenuhi syarat.12.Pencegahan
adalah tindakan
yang
dilakukan
untuk
menghindari
tumbuh dan
berkernbangnya perumahankumuh
dan permukiman
kumuh
baru.13.
Peningkatan
kualitas adalah upaya
untuk
meningkatkan kualitasbangunal
serta prasarana, sa-rana, danutilitas
umum.14. Pendanaan ada_lah penyediaan
sumber daya
keuangan yangberasal
dari
€mggaran pendapatan
dan
belanja
negara,anggaran pendapatan
dan
belanja
daerah,dan/atau
sumberdana latn yang
dibelanjakan
untuk
penyelenggaraanperumahan
dan
kawasan permukiman
sesuai
denganketen
tuan
peraturan perundan g-undangan.15. Masyarakat Berpenghasilan Rendah yang selanjutnya disingkat
MBR
adalah masyarakatyang
mempunyai keterbatasan dayabeli
sehinggaperlu
mendapat dukungan pemerintah untuk
memperoleh rumah.
16. Prasarana adalah kelengkapan dasar
Iisik
lingkungan
hunian yang memenuhistandar tertentu
untuk
kebutuhan
bertempat tinggal yanglayak, sehat, arraarr, dan nyaman.17.
Sarana
adalah fasilitas dalam
lingkungan
hunian
yangberfungsi
untuk
mendukung
penyelengga_raan
danpengembangan kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi.
18.
utilitas umum
adalah
kelengkapan
penunjang
untuk
L9.rzin
Mendirikan Bangunan
yang
selanjutnya disingkat
IMBadalah
perizinanyang diberikan oleh pemerintah Kota
KutaiKartanegara
kepada
pemilik
bangunan gedung
untuk
membangun
baru,
mengubah,
memperluas,
mengurangi,dan/atau
merawat
bangunan
gedung
sesuai
denganpersyaratan administratif dan persyaratan teknis yang berlaku.
20.
Pelaku
pembangunan
adalah setiap orang
d.an/ataupemerintah
yang
melakukan
pembangunanperumahan
dan permukiman.21. setiap orang adalah or€rng perseorangan atau badan hukum.
22.Kelompok
swadayamasyarakat
adalahkumpuran
orang yang menyatukandiri
secara sukarela dalam kelompok dikarenakan adanya ikatan pemersatu,yaitu
adanyavisi, kepentingal,
dankebutuhan
yang
sarna, sehinggakelompok tersebut
memiliki kesamaantujuan
yang ingin dicapai bersama.23.Tingkat
Kekumuhan merupakan
ranr<rng/pembobotan yangdigunakan
untuk
menentukan
kondisi
kekumuhan
padaperumahal kumuh
danpermukiman kumuh
yalg
dinilai
darikondisi kekumuhan
fisik,
legalitas lahan,
dan
pertimbanganlain
(kondisinilai
strategis lokasi,kondisi
ekonomi, sosial, dan budaya).24. Kriteria Kekumuhan merupakan
kriteria
yang digunakanuntuk
menentukan
kondisi
kekumuhan pada perumahankumuh
darrpermukiman
kumuh yang ditinjau
dari
kondisi
bangunangedung. Jalan lingkungan,
penyediaanair
minum,
drainase lingkungan, pengelolaanair limbah,
pengelolaan persampahan, dan proteksi kebakaran.25. Prasarana
adalah
kelengkapandasar
fisik
lingkungan
yang memungkinkan lingkungan perumahan dan permukiman dapat berfungsi sebagaimana me stinya.26.sarana adalah fasilitas
penunjang
yang
berfungsi
untuk
penyelenggaraan
dan
pengembangan
kehidupan
ekonomi, sosial,dal
budaya.Pasal 2
Peraturan
Bupati
ini
dimaksudkan
untuk
memberikan landasan upaya pencegahandan
peningkatankualitas pennukiman kumuh
di
kawasan perkotaan
sebagaiacuan
bagi
seluruh
pemangkukepentingan
da-lam
mengimplementasikan
program
oankegiatanyang
terpadu dan
bersinergiyang pada gilirannya
dapat dilaksanakan sendiri olehPemerintah
Daerah secaramandiri
dan berkelanjutan.Pasal 3
Peraturan tsupati
ini
bertujuanuntuk:
a.
mencegahtumbuh
darr
berkembangnyaperumahan kumuh
dan
permukiman
kumuh
baru, untuk
mempertahankanperumahan dan permukiman yang telah dibangun
agar tetap terjaga kualitasnya; danb.
meningkatkan
kualitas
terhadap
perumahan
kumuh
danpermukiman
kumuh
dalam
mewujudkan perumahan
dan kawasan permukiman yang layakhuni,
lingkungan yang sehat, arnan, serasi, dan teratur.BAB
II
RUANG LINGKUP Pasa] 4
Ruang Lingkup Pencegahan
dan
Peningftatan Kualitas perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh Perkotaan meliputi:a.
kriteria
dan
tipologi
perumahan
kumuh dan
permukimankumuh;
b.
peningkatan
kualitas
terhadap
perumahan
kumuh
dan permukimankumuh;
c.
pencegahan terhadaptumbuh
dan berkembangnya perumahankumuh
dan permukimankumuh
baru;d.
penyediaan tanah;e.
pendanaan dan sistem pembiayaan;f.
tugas dan kewajiban pemerintah daerah; dang.
pola kemitraan, peran masyarakat, dan kearifan lokal.BAB
III
KRITERIA DAN TIPOLOGI PERUMAHAN KUMUH DAN PERMUKIMAN KUMUH
Bagian Kesatu
Kriteria Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh Pasal 5
Kriteria
perumalran
kumuh
dan
permukiman
kumuh
merupakan
kriteria yang
digunakan
untuk
menentukan kondisi kekumuhan pada suatu perumahan dan permukiman.Kriteria
perumahan
kumuh
dan
permukiman
kumuh
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
terdiri
dari:a.
bangunan;b.
jalan
lingkungan;c.
penyediaan atrminum;
d.
drainase lingkungan;e.
pengelolaan air limbah;f.
pengelolaan persampah an; dang.
proteksi kebakaran.Pasal 6
(1)
Kriteria
kekumuhan
ditinjau
dari
bangunan
sebagaimanadimaksud dalam Pasal
5
ayat (2)huruf
a mencakup:a.
ketidakteraturan bangunan;b.
tingkat
kepadatan bangunan yang tinggi yangtidak
sesuai dengan ketentuan rencana tata ruaag; dan(1)
(2)
c.
ketidaksesuaian terhadap persya-ratan teknis bangunan.Ketidakteraturan
bangunan
sebagaimala
dimaksud
padaayat
{1) huruf a
merupakan
kondisi
bangunan
pada perumahan dan permukiman:a. tidak
memenuhi ketentuan
tata
bangunan
datamperaturan
perundang-undangan,
yang
meliputi
pengaturan
bentuk,
besaran, perletakan,
dan
tampilan bangunan pada suatu zona; dan/
ataub.
tidak
memenuhi
ketentuan
tata
bangunan
dan
tata
kualitas lingkungan dalam
RencanaTata
Balgunan
danLingkungan
(RTBL),
yang meliputi
pengaturan
bloklingkungan,
kapling,
bangunan, ketinggian
dan
elevasilantai,
konsep identitas lingkungan, konsep
orientasilingkungan, dan wajah jalan.
Tingkat kepadatan bangunan yang tinggi yang
tidak
sesuai dengan ketentuanrencara tata
ruang sebagaimaria dimaksudpada
ayat
(1)
huruf
b
merupakan kondisi bangunan
pada perumahan dan permukiman dengan:a.
Koefisien Dasar Bangunan (KDB) yang melebihi ketentuanperaturan
perundang-undangan,
dan/atau
RTBL;danlatau
b.
Koefisien Lantai Bangunan (KLB) yang melebihi ketentuan dalam peraturan perundang-undang an, dan / atau RTBL.Ketidaksesuaian
terhadap
persyaratan
teknis
bangunan sebagaimanadimaksud
pada
ayat (1)
huruf
c
merupakal
kondisi bangunan pada perumahan
dan
permukiman
yang bertentangan dengum persyaratan :a.
pengendalian dampak lingkungan;b.
pembangunan bangunan
di
atas
dan/atau
di
bawah tanah, atr dan / atau prasaran af sarana umum;c.
keselamatan bangunan;d.
kesehataa bangunan;e.
kenyamanan bangunan; danf.
kemudahan bangunan.Pasal 7
Dalam ha-l
kota
belummemiiiki
RD?Rdan/atau
RTBL, makapenilaian
ketidakteraturan
dan
kepadatan
bangunandilakukan
dengan
merujuk pada
persetujuan
mendirikan bangunanuntuk
jangkawaktu
sementara.Dalarn
hai
bangunan
tidak
memitiki
IMB
dan
persetujuanmendirikan
bangunanuntuk jangka waktu
sementara, rnakapenilaian
ketidakteraturan
dan
kepadatan
bangunandilakukan oleh
pemerintah
daerah
d.engan mendapatkanpertimbangan dari Tim
Ahli
Bangunan Gedung (TABG).(3)
(41
(1)
(1) (2) (3) (1) (2) (3) Pasal 8
Kriteria
kekumuhan
ditinjau dari jalan
lingkungan sebagaimanadimaksud
da_lampasal
5
ayat (2)
huruf
b mencakup:a.
jaringan
jalan
lingkungan
tidak
melayani
seluruhlingkungan perumahan atau permukiman; dan
/
ataub.
kualitas
permukaanjdan
lingkungan buruk.Jaringanjalan
lingkungantidak
melayani seluruh lingkunganperumahan
atau
permukiman
sebagajmartadimaksud
padaayat (1)
huruf
a
merupakan
kondisi
sebagian lingkunganperumahan
atau
permukiman
tidak
terlayani
denganjalan
lingkungan.Kualitas permukaan
jalan
lingkungan
buruk
sebagaimana dimaksud pada ayat {1)huruf b
merupakankondisi
sebagianatau
seluruhjalan lingkungan terjadi kerusakan
permukaan jatan.Pasal 9
Kriteria
kekumuhan
ditinjau
dari
penyediaan
air
minumsebagaimana
dimaksud dalam
Pasal
5
ayat (2)
huruf
cmencakup:
a.
ketidaktersediaan akses arnan airminum;
dat/atau
b.
tidak
terpenuhinyakebutuhan
air
minum
setiapindividu
sesuai standar yang berlaku.
Ketidaktersediaan
akses
aman
air
minum
sebagaimanadimaksud
padaayat
(1)huruf
a
merupakankondisi
dimana masyarakattidak
dapat mengaksesair minum
yangmemiliki
kualitas
tidak
berwarna,tidak
berbau, dantidak
berasa.Tidak
terpenuhinya
kebutuhan
air
minum
setiap individu
sebagaimana
dimaksud pada
ayat
(1)
huruf
b
merupakankondisi
dimana kebutuhan
air
minum
masyarakat
dalamlingkungan perumahan
atau
permukiman
tidak
mencapaiminimal
sebanyak l2O liter / orang/harl
Pasal 10(1)
Kriteria
kekumuhan
ditinjau
dari
drainase
lingkungansebagaimana
dimaksud dalam
Pasal
5
ayat
(21
huruf
dmeliputi:
a.
drainaselingkungan tidak mampu
mengalirkan limpasan airhujan
sehingga menimbulkan genangan;b.
ketidaktersediaan drainase;c.
tidak
terhubung dengan sistem drainase perkotaan;d.
tidak dipelihara
sehinggaterjadi akumulasi limbah
padat dan cair di dalamnya; dan/atau
(21 Drainase
lingkungan tidak
mampu mengalirkan limpasanair
hujan
sehingga menimbulkan genangan
sebagaimana dimaksudpada ayat
(1)huruf a
merupakankondisi
dimanajaringan
drainase
lingkungan
tidak
mampu
mengalirkanlimpasan
air
sehinggamenimbulkan
genangan dengan tinggilebih
dari
30 cm
selamalebih
dari
2
(dua)jam
dan
terjadi lebih dafi 2 (dua)kali
setahun.Ketidaktersediaan drainase sebagaimana dimaksud pada ayat
(1)
huruf
b
merupakan
kondisi
dimana saluran
tersier,dan/atau
saluran lokaltidak
tersedia.Tidak
terhubung dengan
sistem
drainase
perkotaan sebagaimanadimaksud pada
ayat
(1)
huruf
c
merupakan kondisi dimana saluran lokaltidak
terhubung dengan saluranpada
hierarki
diatasnya sehingga menyebabkan
air
tidak
dapat mengalir dan menimbulkan genangan.
Tidak dipelihara sehingga terjadi akumulasi limbah padat dan cair di dalamnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf
dmerupakan
kondisi dimana pemeliharaan saluran
drainasetidak
dilaksanakan baik berupa:a.
pemeliharaanrutin;
dan/atau
b.
pemeliharaan berkalaKualitas konstruksi
drainaselingkungan
buruk
sebagaimanadimaksud
padaayat
(1)huruf e
merupakankondisi
dimanakualitas konstruksi
drainase
buruk,
karena
berupa
galiantanah
tanpamaterial
pelapisatau penutup atau telah
terjadi kerusakan.Pasal 1 1
Kriteria
kekumuhan
ditinjau
dari
pengelolaanair
limbahsebagaimana
dimaksud dalam
Pasal
5
ayat (2)
huruf
emencakup:
a.
sistem pengelolaanair
limbahtidak
sesuai dengan standar teknis yangberlaku; danlatau
b.
prasarana
dan
sarana
pengelolaanair
limbah
setempattidak
memenuhi persyaratan teknis.sistem
pengelolaanair
limbah
tidak
sesuai dengan standarteknis
yang
berlaku
sebagaimanadimaksud pada
ayat
(1)huruf a
merupakan kondisi dimana
pengelola_anair
limbahpada lingkungan perumahan atau permukiman
tidak
memiliki sistemyang
memadai,yaitu
terdiri dari
kakus/kloset
yangterhubung dengan tangki septik baik
secaraindividual/domestik,
komunal maupun terpusat.(3)
Prasarana dan sa-rana pengelolaarr air limbahtidak
memenuhi persyaratan teknis sebagaimanadimaksud
pada ayat(ll
huruf
b
merupakankondisi
prasaranadan
sarana pengelolaanair
limbah pada perumahan atau permukiman dimana:a.
tidak
tersedianya MCK yang layak;b.
klosettidak
terhubung dengan tangki septik; atauc.
tidak
tersedianya sistem pengolahan limbah setempat atau terpusat. (s) (3) (4) (6) (1) \2\(1)
Pasal 12
Kriteria kekumuhan
ditinjau dari
pengelolaan persampahan sebagaimanadimaksud
dalam
Pasal
5
ayat
(21
huruf
f
meliputi:
a.
prasaranadan
sarana persampahantidak
sesuai dengan persyaratan teknis;b.
sistem
pengelolaan
persampahan
tidak
memenuhi persyaratanteknis;
dan/
atauc.
tidak
terpeliharanya sarana
dan
prasa-rana pengelolaanpersampahan sehingga
terjadi
pencemaran
lingkungansekitar oleh
sampah,
baik
sumber
atr
bersih,
tanahmaupun
jaringan
drainase.Prasarana
dan
sarana persampahan
tidak
sesuai
denganpersyaratan
teknis
sebagaimanadimaksud
pada ayat
(1)huruf a
merupakan
kondisi
dimana prasarana
dan
saranapersampahan pada lingkungan perumahan
atau
permukiman tidak memadai sebagai berikut:a.
tempat sampah dengan pemilahan sampah pada
skala domestik atau rumah tangga;b.
tempat pengumputan sampah (TPS)atau
TPS3R
\reducc,,reLtse, recgcle) pada skala permukiman;
c.
gerobak
sampah
dan/atau
truk
sampah
pada
skala lingkungan; dand.
tempat pengumpulan sampah pada skala perumahan atau kelompok bank sampah.Sistem
pengelolaan persampahan
tidak
memenuhi persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1)huruf
b
merupakankondisi
dimana pengelolaan persampahan padalingkungan perumahan
atau
permukiman
tidak
memenuhi persyaratan sebagai berikut :a.
pewadahan dan pemilahan domestik;b.
pengumpulan lingkungan;c.
pengangkutan lingkungan; dand.
pengolahan lingkungan.Tidak
terpeliharanya
sarana
dan
prasarana
pengelolaanpersampahan sehingga terjadi pencemaran lingkungan sekitar oleh sampah,
baik
sumberair
bersih, tanah maupun jaringandrainase
sebagaimanadimaksud
pada ayat
(1)
huruf
cmerupakan
kondisi
dimana
pemeliharaan
sarana
danprasarana pengelolaan persampahan
tidak
dilaksanakan baik berupa:a.
pemeliharaanrutin;
dan./ataub.
pemeliharaan berkala.Pasal 13
(1)
Iftiteria
kekumuhan
ditinjau
dari
proteksi
kebakaran sebagaimanadimaksud dalam
Pasal
5
ayat (2)
huruf
gmencakup ketidaktersediaan :
a.
prasarana proteksi kebakaran;dan/atau
b.
sarana proteksi kebakaran.(2)
(3)
(2j Ketidaktersediaan prasarana proteksi kebakaran sebagaimana
dimaksud pada
ayat (1)huruf
a
merupakankondisi
dimanatidak
tersedianya prasarana
proteksi
kebakaran
yang meliputi:a.
pasokanair
dari sumber alam maupun buatan;b.
jalan
lingkungan
yang
memudahkan
akses
masuk keluarnya kendaraan pemadam kebakaran;c.
sarana komunikasi
untuk
pemberitahuan
teqadinyakebakaran kepada Instansi pemadam kebakaran; dan
d.
data tentang sistem proteksi kebakaran lingkungan.Ketidaktersediaan
sarana proteksi kebakaran
sebagaimanadimaksud
padaayat
(1)huruf
b
merupakal kondisi
dimanatidak
tersedianya
prasarana proteksi kebakaran
yang meliputi:a.
alat pemadam api ringan (APAR);b.
hidran,
selang, nozzle;c.
mobil pemadam kebakaran;d.
rnobil tangga sesuaikebutuhan;
dane.
peralatan pendukung
lainnya,
seperti:
pemadamkebakaran
portable
(motor/speed
boat
pemadamkebakaran).
Masyarakat
wajib
da-lamkeikutsertaan
pemeliharaan sarana dan prasa.rafla sistem proteksi kebakaran (APARI.Bagian Kedua
Tipologi Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh Pasal 14
Tipologi
perumahan
kumuh
dan
permukiman
kumuh
perkotaan merupakan
pengelompokanperumahan kumuh
dan
permukiman
kumuh
berdasarkan
letak lokasi
secara geografis.Tipologi
perumahan
kumuh
dan
permukiman
kumuh
perkotaan sebagaimana
dimaksud
padaayat
(1),terdiri
dari permukiman kumuh:a.
di tepi air;b.
di dataran; danc-
diperbukitan-Tipologi perumahan
kumuh
dan
permukiman
kumuh
sebagaimana
dimaksud
pada ayat (2) harus
disesuaikal
dengan a-lokasi peruntukan dalam rencana tata ruang.
Dalam
hal
rencana
tata
ruang
tidak
mengalokasikankeberadaan
tipologi
perumahan
kumuh
dan
permukimankumuh
sebagaimana
dimaksud
pada ayat
(3),
makakeberadaannya harus dipindahkan pada lokasi yang sesuai.
(3) (41 (1) (2) (3) (41
(1)
(2)
BAB IV
PENINGKATAN KUALITAS TERHADAP PERUMAHAN KUMUH DAN PERMUKIMAN KUMUH
Bagian Kesatu Umum
Pasal 15
Peningkataa
kua-litas terhadap perumahan
kumuh
danpermukiman kumuh didahului
dengan penetapanlokasi
dan perencanaan penanganan.Pola-pola penanganan
terhadap
perumahan
kumuh
danpermukiman
kumuh
sebagaimanadimaksud pada
ayat
(1)ditindaklanjuti
dengan pengelolaanuntuk
mempertahankandan
menjagakualitas perumahan
dan
permukiman
seca-raberkelanjutan.
Bagian Kedua Penetapan Lokasi
Pasal 16
Penetapan
lokasi
sebagaimanadimaksud
dalam
pasal
15ayat (1) dilakukan pada kawasan perumahan
kumuh
danpermukiman
kumuh
denganluasan
di
bawah
10
Ha
yangmenj adi kewenangan Peme rintah Daerah.
Pemerintah
Daerah
dapat
memberikan
masukan
dalampenetapan kawasan perumahan
kumuh dan
permukimankumuh
dengan luasan:a. di
atas 10
Ha
sampai dengan
15 Ha
yang
menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi; danb. di
atas 15
Ha yang
menjadi
kewenangan pemerintah Pusat.Penetapan
lokasi
perumahan
kumuh
dan
permukimankumuh
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)wajib didahului
proses pendataan
yang
dilakukan
oleh
Pemerintah Daerah dengan melibatkan peran masyarakat.Proses
pendataan
sebagaimanadimaksud
pada
ayat
(1)meliputi
proses:a.
identifikasi lokasi; danb.
penilaian lokasi.Penetapan
lokasi dilakukan oleh pemerintah Daerah
dalam bentuk Keputusan Bupati berdasarkan hasit penilaian lokasi.Penetapan
lokasi
ditindaklaljuti
dengan
perencanaan penang€manperumahan
kumuh dan
permukiman kumuh
yang dilakukan oleh
Pemerintah Daerah dengan melibatkan masyarakat.(u
(2) (s) (4) (s) (6)Pasal 17
Identifikasi lokasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (4)huruf
a meliputi:a.
satuan perumahan dan permukiman;b.
kondisi kekumuhan;c.
legalitas lahan; dand.
pertimbangan lain.Pasal 18
Identifikasi
satuan perumahan dan permukiman sebagaimanadimaksud pada Pasal 17
huruf
a
merupakan upaya
untuk
menentukan
batasal
atau lingkup
entitas perumahan
danpermukiman
formal
atau
swadayadari
setiap lokasi
dalam suatu wilayah perkotaan.Penentuan
satuan
perumahan
dan
permukiman
untuk
perumahan
dan
permukiman
formal
dilakukan
dengan pendekatan fungsional melalui identifikasi deliniasi.Penentuaa
satuan
perumahan
dan
permukiman
untuk
perumahan
dan
permukiman swadaya
dilakukan
dengan pendekatan administratif.Penentuan satuan perumahan
swadayadilakukan
dengan pendekatanadministratif
pada tingl<atrukun
tetangga.Penentuan
satuan permukiman
swadayadilakukan
dengan pendekat art administratif
pada tin gkat kelurahan / de sa.Pasal 19
Identifikasi
kondisi
kekumuhan
sebagaimanadimaksud
dalamPasal 17
huruf
b
merupakan upaya
untuk
menentukan tingkat
kekumuhan
pada
suatu
perumahan
dan
permukiman
dengan mengidentifikasi permasalahankondisi
bangunan beserta saranadan
prasarana pendukungnya. Identifikasi
kondisi
kekumuhandilakukan
berdasarkan
knteria
perurnahan
kumuh
danpermukiman kumuh. (41 (s) (1) (2t (3) (1) Pasal 20
Identifikasi legalitas
lahan
sebagaimana dimaksudPasal
17 huruf
c
merupakan
tahap
identifikasimenentukan
status
legalitas
lahan
pada
setiap perurnahankrrrnuh
dan permukirnan
kurnuh
sebagai yang menentukan bentuk penanganan.Identifikasi legalitas
lahan
sebagaimana
dimaksud ayat (1) meliputi aspek:a.
kejelasan status penguasaan lahan;danb.
kesesuaian dengan rencana tata ruang.dalam
untuk
lokasi dasar pada (2)(3)
Kejelasan
status
penguasaan
lahan
merupakan
kejelasanterhadap status penguasaan lahan berupa:
a.
kepemilikan sendiri, denganbukti
dokumensertifikat
hak atas tanah atau bentuk dokumen keterangan status tanah lainnya yang sah; ataub.
kepemilikan
pihak
lain
(termasuk
milik
adat/ulayat), denganbukti izin
pemanfaatantanah
dari
pemegang hakatas
tanah atau pemilik tanah dalam bentuk
perjanjiantertulis
antara
pemeganghak
atas tanah
atau
pemiliktanah dengan pengguna tanah.
Kesesuaian
dengan rencana
tata ruang
merupakan kesesuaianterhadap peruntukan lahan dalam
rencana tata ruang, denganbukti
Izin Pemanfaatan Ruang.Pasal 21
(1)
Identifikasi pertimbanganlain
sebagaimanadimaksud
dalarnPasal
77
huruf
d
merupakan
tahap
identifikasi
terhadap beberapahal lain
yarrg bersifatnon fisik
untuk
menentukanskala
prioritas
penar.ganar,
perumahan
kumuh
dan permukiman kumuh.(,21
Identifikasi pertimbangan
lain
sebagaimanadimaksud
pada ayat (1) meliputi aspek:a.
nilai
strategis lokasi;b.
kependudukan; danc.
kondisi sosial, ekonomi, dan budaya.(3)
Nilai
strategis
lokasi
sebagaimanadimaksud pada
ayat
l2l
huruf
a
merupakan pertimbangan
letak
lokasi
perumahanatau permukiman pada:
a.
fungsi strategis kota; ataub.
bukan fungsi strategis kota.t4)
Kependudukan sebagaimana dimaksud pada ayat {2)huruf
bmerupakan
pertimbangan kepadatanpenduduk pada
lokasi perumahan atau permukiman dengan klasifikasi:a.
rendahyaitu
kepadatan penduduk di bawah 150jiwa/ha;
b.
sedang
yaitu
kepadatan
penduduk
antara
151-200jiwa/ha;
c.
tinggi
yaitu
kepadatan
penduduk
antara
2OL-4OOjiwa/ha;
d.
sangat padat
yaitu
kepadatan penduduk
di
atas
400jiwa/ha.
(5)
Kondisi sosial, ekonomi,dan
budaya sebagaimana dimaksudpada
ayat (21huruf
c
merupakan pertimbangan potensi yangdimiliki
lokasi perumahan atau permukiman berupa:a.
potensi sosialyaitu tingkat
partisipasi masyarakat datam mendukung pembangunan ;b.
potensi ekonomiyaitu
adanya kegiatan ekonomi tertentu yang bersifat strategis bagi masyarakat setempat; danc.
potensi
budaya
yaitu
adanya kegiatan
atau
warisan budaya tertentu yangdimiliki
masyarakat setempat.Pasal 22
f1)
Prosedur pendataan
identifikasi lokasi perumahan kumuh
dan permukiman
kumuh dilakukan
oleh Organisasi PerangkatDaerah
yang
bertanggung
jawab dalam
penyelenggaraan perumahan dan permukiman.(2)
Prosedurpendataan
sebagaimanadimaksud pada ayat
(1),juga dilakukal
denganmelibatkan peran
masyarakat padalokasi yang terindikasi
sebagai perumahan
kumuh
danpermukiman kumuh.
(3) Untuk
mendukung
prosedur
pendataan
sebagaimanadimaksud
pada ayat (1),
pemerintah daerah
menyiapkanformat
isian dan
prosedur
pendataan
identifikasi
lokasiperumahan
kumuh
dan permukiman kumuh.{+l
Format isian dan prosedur pendataan sebagaimana dimaksudpada
ayat
(3) tercantum dalam Lampiran yang
merupakan bagiantidak
terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.Pasal 23
Berdasarkan identifikasi yarrg telah
dilakukan
terhadap aspek dankriteria
permukiman
kumuh,
maka
lokasi
permukiman kumuh
yang terdapat di Daerah meliputi:
a.
Kawasan Samboja yang beradadi
KelurahanKuala
Samboja Kecamatan Samboja denganluas
17,92 Ha;b.
Kawasan
Kota
Bangun
yang
berada
di
Kelurahan
Kota Bangun Ulu Kecamatan Kota Bangun seluas 25,14 Ha;c.
Kawasan
Muara
Badak
yang
berada
di
Kelurahan
Muara BadakIlir
Kecamatan Muara Badak seluas 15,44 Ha;'d.
Kawasan LoaKulu
yang beradadi
KelurahanLaa
Kulu
Kota dantnh
Sumber Kecamatan LoaKulu
seluas 11,56 Ha;e.
Kawasan Tenggarongyang berada
di
Kelurahal
Panji,
LoaIpuh,
Sukarame,
Baru, dart
Mangkurawang
Kecamatan Tenggarong seluas 44,54 Ha;f.
Kawasan
Tenggarong
Seberang
yang
berada
di
DesaManunggal
Jaya
Kecamatan
Tenggarong Seberang seluas 26,70 Ha;g.
KawasanLoa Janan yang berada
di
Desa
Loa
Janan
Ulu Kecamatan Loa Janan seluas 16,32 Ha; danh.
Kawasan Muara Jawa yang beradadi
Kelurahan Muara Jawa Pesisir Kecamatan Muara Jawa seluas 15,O6 Ha.Pasal 24
(1)
Penilaian
lokasi dilakukan
untuk
menilai
hasil
identifikasi lokasi yang telahdilakukan
terhadap aspek:a.
kondisi kekumuhan;b.
legalitas lahan; danc-
pertimban ganTain-(2)
Penilaian
lokasi
berdasarkan
aspek kondisi
kekumuhan sebagaimanadimaksud pada
ayat
(1)
huruf
a
terdiri
atas klasifikasi:b.
kumuh
kategori sedang; danc.
kumuh
kategori berat.(3)
Penilaran
lokasi
berdasarkan
aspek
legalitas
lahansebagaimana
dimaksud pada ayat (1)
huruf
b
terdiri
atas klasifikasi:a.
status lahan legal; danb.
status lahantidak
legal.(4)
Penilaian berdasarkan aspek pertimbanganlain
sebagaimana dimaksud pada ayat(ll
huruf
cterdiri
atas:a.
pertimbanganlain
kategori rendah;b.
pertimbanganlain
kategori sedang; danc.
pertimbangan lain kategori tinggi.(5)
Formulasi penilaian
lokasi
sebagaimana
dimaksud
padaayat
(1)tercantum dalam
Lampiranyang
merupakan bagiantidak
terpisahkan dari PeraturanBupati
ini.Pasal 25
(1)
Hasilidentifikasi
dan penilaian lokasi permukimankumuh
di Daerah sebagai berikut:a.
Identifikasi
dan
penilaian kekumuhan
di
KawasanSamboja seluas 17,92 Ha, meliputi:
7.
tingkat kekumuhanfisik
: sedang2.
tingkat legalitaslahan
: legaldan
tidak
legal3.
tingkat pertimbanganlain
: sedangb.
Identifikasi dan penilaian kekumuhan
di
Kawasan KotaBangun
seluas25,t4
Ha" meliputi:1.
tingkat kekumuhanfisik
: ringan2.
tingkat legalitaslahan
: legaldan
tidak
legal3.
tingkat pertimbanganlain
: sedangc.
ldentifikasidan
penilatankekumuhan di
Kawasan MuaraBadak
seluas 75,44 Ha, meliputi:1.
tingkat kekumuhanfisik
: ringan2.
tingkat legalitaslahan
: legaldan
tidak
legal3.
tingkat pertimbanganlain
: sedangd.
Identifikasi
dan
penilaian kekumuhan
di
Kawasan LoaKulu
seluas 11,56 Ha, meliputi:1.
tingkat kekumuhanfisik
: ringan2.
tingkat legalitaslahan
: legaldan
tidak
legaI3.
tingkat pertimbanganlain
: sedange.
Identifikasi
dan
penilaian kekumuhan
di
KawasanTenggarong seluas ++,54 Ha, meliputi:
1.
tingkat kekumuhanfisik
: berat2.
tingkat legalitaslahan
: Iegaldan
tidak
legal3.
tingkat pertimbanganlain
: sedangf
.
Identifikasi
dan
penilaian kekumuhan
di
KawasanTenggarong Seberang seluas 26,70 Ha, meliputi:
1.
tingkat kekumuhanIisik
: ringan2.
tingkat legalitaslahan
: legal3.
tingkat pertimbanganlain
: rendahg.
Identifikasi
dan
penilaian kekumuhan
di
Kawasan LoaJanan seluas 76,32Ha, meliputi:
1.
tingkat kekumuhanfisik
: berat2.
tingkat legalitas lahan : legaldan
tidak
lega13.
tingkat pertimbanganlain
: tinggii.
Identifrkasi dan penilaran kekumuhandi
Kawasan Muara Jawa seluas 15,06Ha, meliputi:1.
tingkat kekumuhanfisik
: sedang2.
tingkat legalitas lahan : legaldan
tidak
legal3.
tingkat
pertimbanganlatn
: sedang(2)
Format
identifikasi
dan
penilaian
tingkat
kekumuhansebagaimana
dimaksud pada
ayat (1)
tercantum
pad,alampiran yang
tidak
terpisahkan dalam peraturan Bupati. Bagian KetigaKetentuan Penetapan Lokasi Pasal 26
Penetapan
lokasi
sebagaimanadimaksud
dalam
pasal
16ayat
(1)
berdasarkan
kondisi
kekumuhan, aspek
legalitaslahan,
dan
tipologi digunakan
sebagai pertimbangan dalammenentukan
pola
penanganan
perumahan
kumuh
dan permukiman kumuh.Penetapan
lokasi
sebagaimanadimaksud
dalam
pasal
16ayat
(1)
berdasarkan aspek pertimbangan
lain
digunakan sebagai dasar penentuan prioritas penanganan.Penetapan
lokasi
sebagaimanadimaksud
datam
pasal
16ayat (3) dilengkapi dengan:
a.
tabei
daltar lokasi perumahan
kumuh
dan
permukimankumuh;
danb.
peta
sebaran perumahan
kumuh
dan
permukiman kumuh.Tabel
daftar
lokasi
sebagaimanadimaksud
pada
ayat
(3)huruf
a,
berisi data terkait nama lokasi, luas,
lingkupadministratif,
titik
koordinat,
kondisi
kekumuhan,
statuslahan
dan
prioritas
penanganan
untuk
setiap
lokasiperumahan
kumuh
dan permukimankumuh
yang ditetapkan.Prioritas
penang€rnan sebagaimanadimaksud
pada
ayat
(21berdasarkan hasil penilaian aspek pertimbangan lain.
Format kelengkapan penetapan lokasi sebagaimana dimaksud
pada
ayat
(1) tercantum
da-lamLampiran yang
merupakan bagiantidak
terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.(1) (2t (3) (4) (s) (6)
t1)
(2t
(3)
{4)
Pasal 27
Penetapan lokasi
dilakukan peninjaual
ulalg
paling sedikit
1(satu)
kali
dalam 5 (lima) tahun.Peninjauan
ulang
sebagaimanadimaksud
pada ayat
(1)dilakukan
oleh
pemerintah
daerah
untuk
mengetahuipengurangan
jumlah
lokasi
dan Iatau luasan
perumahankumuh
dan
permukiman
kumuh
sebagai
hasil
daripenanganan yang telah dilakukan.
Peninjauan
ulang
sebagaimanadimaksud
pada ayat
(1)dilakukan melalui proses pendataan.
Hasil peninjauan
ulang
sebagaimana dimaksud padaayat
(1)ditetapkan dalam bentuk Keputusan Bupati. Pasal 28
(1)
Perencanaan penanganan sebagaimana
dimaksud
dalam Pasal 16 ayat (6)dilakukan
melalui tahap:a.
persiapan;b.
survei;c.
penJrusunan data dan fakta;d.
analisis;e.
penyusunan konsep penanganan; danf.
penyusunan rencana penanganan.(2)
Penyusunan rencana penanganan
sebagaimana dimaksudpada
ayat
(1)
huruf
f
berupa rencana
penangananjangka
pendek,
jangka
menengah, danf ataujangka
panjang beserta pembiayaannya. Bagian Keempat Pola Penanganan Paragraf 1 Umum Pasal 29Pola
penanganan didasarkan
pada hasil
penilaian
aspek kondisi kekumuhan dan aspek legalitas lahan.Pola
penanganan
sebagaimanadimaksud
pada
ayat
(1)direncanakan dengan mempertimbangkan tipologi perumahan
kumuh
dan permukiman kumuh.Pola
pen€rnganurnsebagaimana
dimaksud
pada
ayat
(1)meliputi:
a.
pemugarafi;b.
peremajaan; danc-
pemukiman kembali.Pola-pola penanganan sebagajmana
dimaksud
padaayat
(3)dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah provinsi
danpemerintah daerah sesuai dengan
kewenangannya dengan melibatkan peran masyarakat.(1)
(21
(3)
(5)
Pola-pola penanganan terhadap perumahandan
pemukimankumuh
di
kawasaa
khusus
dilakukan sesuai
dengan ketentuan Peraturan Perundangan.Pasal 30 Pola penanganan
diatur
dengan ketentuan:a.
dalam
hal
lokasi memiliki
klasifikasi
kekumuhan
ringandengan
status lahan
legal,
maka pola
penarrgafiafi yangdilakukan
adalah pemugaran;b.
da-lamhal
lokasi
memiliki
klasihkasi
kekumuhan
sedangdengan
status lahan
legal, maka
pola
penanganan yangdilakukal
adalah pemugaran atau peremajaan;c.
dalam
hal
lokasi
memiliki klasifikasi
kekumuhan
beratdengan
status
Lahanlegal, maka
pola
penangallan
yangdilakukan
adaJ;ah peremag'aan;d.
dalam
hat
lokasi memiliki
klasifikasi
kekumuhan
ringandengan
status
lahan
ilegal, maka pola
penanganan yangdilakukan
adalah pemukiman kembali;e.
dalam
hal
lokasi
memiliki klasifikasi kekumuhan
sedangdengan
status
lahan
ilegal, maka pola
pena,nganan yangdilakukan
adalah pemukiman kembali; danf.
dalam
hal
lokasi memiliki klasifikasi
kekumuhan
beratdengan
status
lahan
ilegal,
maka
pola
penanganan
yarrgdilakukan
adalah pemukiman kembali. Pasal 3 1Pola
penarrgarrarlperumahan
kumuh
dan
permukiman kumuh
dengan mempertimbangkan tipologi
diatur
dengan ketentuan:a.
dalamhal
lokasi termasuk
dalamtipologi
perumahankumuh
dan permukiman
kumuh
di
tepi air,
maka
penzmganan yangdilakukan
harus
memperhatikan karakteristik daya
dukung tanah tepi air, pasangsurut air
serta kelestarian air dan tanah;b.
dalamhal
lokasi termasuk dalam tipologi
perumahankumuh
dan permukiman kumuh
di
dataran,
maka pena.nga.nan yangdilakukal
harus
memperhatikan
karakteristik
daya dukung
tanah,jenis
tanah serta kelestarian tanah; danc.
dalamhal
lokasi termasuk dalam tipologi
perumahankumuh
dal
permukiman
kumuh
di
perbukitaa,
maka
penanganan yangdilakukan
haru s memperhatikankarakteristik
kelerengan, dayadukung tanah,jenis
tanah serta kelestarian tanah.Pasal 32
Pola penanganan perumahan
kumuh
danpermukiman kumuh
di Daerah sebagai berikut:a.
Pola penangananpermukiman
kumuh
di
Kawasan Sambojadilakukan
dengan pola permukiman kembali dan peremajaan;b.
Pola
pen€rng.rnurnpermukiman
kumuh
di
Kawasan
KotaBangun dilakukan
dengan
pola
permukiman
kembdi
dan peremajaan;C. d. e. f. o b. h.
Pola
penangananpermukiman
kumuh
di
Kawasan MuaraBadak dilakukan
dengan
pola
permukiman
kembali
dan perem4jaan;Pola penanganan
permukiman
kumuh
di
Kawasan Loa Kuludilakukan
dengan pola permukiman kembali dan peremajaan;Pola
penanganan permukiman
kumuh di
Kawasan Tenggarongdilakukan
dengan pola permukiman kembali dan perema.jaan;Pola
penanganan permukiman
kumuh di
Kawasan Tenggarong Seberangdilakukan
dengan pola pemuga-ran;Pola penanganan permukiman
kumuh di
Kawasan Loa Janandilakukan
dengan pola permukiman kembali dan peremajaan; danPola
penangzur.anpermukiman
kumuh
di
Kawasan MuaraJawa dilakukan
dengan
pola
permukiman
kembali
danperemajaan.
Patagraf2
Pemugaran
Pasa-l 33
Pemugaran sebagaimana
dimaksud dalam
Pasal29
ayat
(3)huruf
a dilakukan
untuk
perbaikandan/atau
pembangunankembali perumahan
dan
permukiman menjadi
perumahan dan permukiman yang layak huni.Pemugaran sebagaimana
dimaksud
pada ayat (1) merupakankegiatan perbaikan
rumah,
sa-rana,prasarana, dan/atau
utilitas umum
untuk
mengembalikanfungsi
sebagaimanasemula.
Pemugaran sebagaimana
dimaksud pada ayat
(1) dilakukan mela,lui tahap:a.
prakonstruksi;
b.
konstruksi;
danc.
pasca konstruksi.Pasal 34
(1)
Pemugaran
pada tahap
pra
konstruksi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (3)huruf
a meliputi:identifikasi
permasalahan
dal kajian
kebutuhan pemugaran;sosialisasi
dan
rembug
warga
pada
masyarakatterdampak;
c.
pendataan masyarakat terdampak;d.
penyusunan rencana pemugaran; dane.
musyawarahuntuk
penyepakatan.\2\
Pemugaranpada
tahap konstruksi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (3)huruf
b meliputi:a.
proses pelaksanaankonstruksi;
danb.
pemantauan dan evaluasi pelaksanaan konstruksi.(1)
(2)
(3)
a.
(1)
(3)
Pemugaran
pada tahap
pasca konstruksi
sebagaimana dimaksud da-lam Pasal 33 ayat (3)huruf
c meliputi:a.
pemanfaatan; danb.
pemeliharaan dan perbaikan. Paragraf 3Peremajaan
Pasal 35
Peremajaan sebagaimana
dimaksud dalam
Pasal29
ayat
(3)huruf
b
diiakukan
untuk
mewujudkan
kondisi
rumah,perumahan,
dan
permukiman
yang
lebih baik
gunamelindungi
keselamatan
dan
keamanan
penghuni
danmasyarakat sekitar.
Peremajaan sebagaimana
dimaksud
padaayat
(1)dilakukan
meialui
pembongkaran
dan
penataan secara
menyeluruhterhadap rumah, prasarana, sarana, danf atau
utilitas
umum. Peremajaan sebagaimanadimaksud
pada ayat (1)
harusdilakukan
dengan
terlebih dahulu
menyediakan
tempattinggal sementara bagi masyarakat terdampak.
Peremqjaan sebagaimana
dimaksud pada ayat
(1) dilakukan melalui tahap:a.
pra konstruksi;b.
konstruksi;
danc.
pascakonstruksi.
Pasal 36
(1)
Peremajaan sebagaimanadimaksud dalam
Pasal35
ayat
(a)huruf
a pada tahap prakonstruksi
meliputi:a.
identifikasi
permasalahan
dan kajian
kebutuhanperemaJauln;
b.
sosialisasi
dan
rembug
wargaterdampak;
pada
masyarakatc.
pendataan masyarakat terdampak;d.
penyusunan rencana percmajaan;e.
musyawarahdal
diskusi penyepakatan; danf.
penghunian sementarauntuk
masyarakat terdampak.(21
Peremajaan sebagaimanadimaksud dalam
Pasai35
ayat
(4)huruf
b pada tahapkonstruksi
meliputi:a.
proses
ganti
rugi
bagi
masyarakat terdampak
sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku ;b.
penghunian sementara masyarakat terdampak pada lokasi lain;c.
proses
pelaksanaankonstruksi
peremajaanpada
lokasi permukiman eksisting;(21
(3)
d.
pemantauan
dan
evaluasi
pelaksanaan
konstruksi
peremajaal; dan
e.
proses penghunian kembali masJrarakat terdampak.(3)
Peremajaan sebagaimanadimaksud dalam
pasa-l35
ayat (4)huruf
c pada tahap pascakonstruksi
meliputi:a.
pemanfaatan; danb.
pemeliharaan dan perbaikan. Paragral 4Pemukiman Kembali Pasal 37
(1)
Pemukimankembali
sebagaimanadimaksud dalam
pasal 29 ayat (3)huruf
cdilakukan untuk
mewujudkan kondisi rumah,perumahan,
dan
permukiman
yang
lebih baik
gunamelindungi
keselarnatan
dan
keamanan
penghuni
danmasyarakat.
(2)
Permukiman kembali
sebagaimanadimaksud pada ayat
(1)dilakukan melalui tahap:
a.
pra konstruksi;b.
konstruksi;
danc.
pasca konstruksi.Pasal 38
(1)
Permukiman kembali sebagaimana dimaksud dalam pasal 37 ayat(21huruf
apada tahap prakonstruksi
meliputi:a.
kajian pemanfaatanruangdan/atau
kqiian legalitaslahan;
b.
pendataan masyarakat terdampak;c.
penyusunan
rencana
pemukiman
baru,
rencanapembongkaran
pemukiman
eksisting
dan
rencana pelaksanaan pemukiman kembati;d.
sosialisasi
dan
rembug
warga
pada
masyarakatterdampak;
e.
musyawarah dan diskusi penyepakatan; danf.
penghunian sementarauntuk
masyarakatdi
perumahan dan permukimankumuh
pada lokasi rawan bencana.(2)
Permukiman kembali sebagaimana dimaksud dalam pasal 37ayat (2)
huruf
b pada tahapkonstruksi
meliputi:a.
proses
ganti
rugi
bagi
masyarakat terdampak
sesuai Peraturan Perundang-undangan ;b.
proses legalisasi lahan pada lokasi pemukiman baru;c-
proses pelaksanaankonstruksi
pembangunan perumahandan permukiman baru;
d.
pemantauan
dan
evaluasi
pelaksanaan
konstruksi
pemukiman kembali;
e.
proses penghunian kembali masyarakat terdampak; dan(3)
Permukiman kembali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (2)huruf
c pada tahap pascakonstruksi
meliputi:a.
pemanfaatan; danb.
pemeliharaan dan perbaikan. Bagian KelimaPengelolaan
Pasal 39
(1)
Pengelolaanterhadap perumahan
kumuh dan
permukimankumuh yang telah ditangani bertujuan
untuk
mempertahalkan
dan
menjaga
kualitas
perumahan
dan permukiman secara berkelanju tan.(2)
Pengelolaan sebagaimanadimaksud pada ayat
(1)dilakukan
oleh pemerintah dan masyarakat secara swadaya.(3)
Pengelolaanoleh
masyarakat secara
swadaya sebagaimanadimaksud
pada ayat (2) dapat
dilakukan
oleh
kelompok swadaya masyarakat.(4)
Pengelolaan sebagaimanadimaksud
padaayat
(1)dilakukan
melalui pemeliharaan dan perbaikan.
(5)
Pengelolaandapat difasilitasi oleh
pemerintah daerahuntuk
meningkatkan
keswadayaanmasyarakat dalam
pengelolaan perumahan dan permukiman layak huni.(6)
Fasilitasi
sebagaimanadimaksud
pada
ayat
(S)
dilakukan dalam bentuk:a.
penyediaan dan sosialisasi norma, standar, pedoman, dankriteria;
b.
pemberian bimbingan, pelatihan/penyuluhan,
supervisi, dan konsultasi;c.
pemberian kemudahandanlatau
bantuan;d.
koordinasi
antar
pemangku kepentingan seca-ra periodikatau sesuai kebutuhan;
e.
pelaksanaan
kajian
perumahan
dan
permukiman;dan/atau
f.
pengembangan sistem informasi dan komunikasi.Bagian Keenam Pemeliharaan
Pasal 40
(1)
Pemeliharaanrumah dan
prasarana, sarana,dan fasiutilitas
umum
sebagaimanadimaksud
dalam
Pasa,l39
ayat
(4)dilakukan
melalui
perawatan
dan
pemeriksaan
secaraberkala.
(2)
Pemeliharaanrumah
sebagaimanadimaksud pada
ayat
(1)wajib
dilakukan
oleh setiap orang.(3j
Pemeliharaan prasararta,sarana,
dan utititas
umum untuk
perumahan,
dan
permukiman
wajib
dilakukan
oleh(4)
Pemeliharaansarana
dan
utilitas
umum
untuk
lingkunganhunian
wajib
dilakukan oleh
pemerintahpusat,
pemerintah provinsi, pemerintah daerah , dan/ atau badan hukum.(5)
Pemeliharaanprasarana
untuk
kawasanpermukiman
wajibdilakukan
oleh
pemerintah
pusat,
pemerintah
provinsi,pemerintah daerah,
dan/atau
badanhukum
Bagian Ketujuh Perbaikan
Pasal 4 1
(1)
Perbaikanrumah
dan prasarana, sa-rana,dan utilitas
umum sebagaimanadimaksud
dalam
Pasal39
ayat
(41 dilakukan melalui rehabilitasi atau pemugaran.(21
Perbaikan
prasarana,
sa-rana,dan
utilitas
umum
wajibdilakukan
oleh Pemerintahdan/atau
setiap orang.(3)
Perbaikan
sarana
dan
utilitas
umum
untuk
lingkunganhunian wajib dilakukan oleh
PemerintahPusat,
Pemerintah Provinsi, Pemerintah Daerah,
dart/ atau setiap orarrg.(4)
Perbaikan prasarana
untuk
kawasan permukiman
wajibdilakukan
oleh
Pemerintah
Pusat,
Pemerintah
provinsi,Pemerintah Daerah
,
darrf atau badan hukum. BAB VPENCEGAHAN TERHADAP TUMBUH DAN BERKEMBANGNYA PERUMAHAN KUMUH DAN PERMUKIMAN KUMUH BARU
Bagian Kesatu Umum
Pasai 42
Pencegahan
terhadap tumbuh
dan berkembangnyapernukiman
kumuh
baru dilaksanakan mela-lui:a.
pengawasan dan pengendalian;b.
pemberdayaan masyarakat.Bagian Kedua
Pengawasan dan Pengendalian Paragraf 7
Umum
Pasal 43
t1)
Pengawasan dan pengendalian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42huruf
adilakukan
atas kesesuaian terhadap:a.
penzinan;b.
standar teknis; danc.
kelayakan fungsi.(1)
(2t
(2)
Pengawasandan
pengendalian sebagaimanadimaksud
pada ayat (1) dilaksanakan pada:a.
tahap pereficarLaarL;b.
tahap pembangunan; danc.
tahappemanfaatan-Paragraf 2
Bentuk Pengawasan dan Pengendalian Pasal 44
Pengawasan dan pengendalian kesesuaian terhadap perizinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
43
ayat (1)huruf
a sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.Pengawasan dan pengendalian kesesuaian terhadap perizinan sebagaimana
dimaksud pada ayat
(1)dilakukan pada
tahap perencanaan perumahan dan permukiman.Pengawasan dan pengendalian kesesuaian terhadap perizinan
sebagaimana
dimaksud
pada ayat
(1)
dilakukan
untuk
menjamin:
a.
kesesuaian
lokasi
perumahan
dan
permukiman
yang direncanakan dengan rencana tata ruangi danb.
keterpaduan rencana
pengembanganprasarana,
sarana,dan
utilitas
umum
sesuai denganketentuan dan
standar teknis yang berlaku.Pasal 45
Pengawasan
dan
pengendalian kesesuaianterhadap
standarteknis
sebagaimana dimaksud dalam Pasal43
ayat (1)huruf
bdilakukan
terhadap:a.
bangunan;b.
jalan
lingkungan;c.
penyediaanajr
minum;d.
drainase lingkungan;e.
pengelolaan air limbah;f.
pengelolaan persampahan; dang.
proteksi kebakaran.Pengawasan
dan
pengendalian kesesuaianterhadap
standarteknis
sebagaimanadimaksud pada
ayat {71dilakukan
pada tahap pembalgunan perumahan dan permukiman.Pengawasan
dan
pengendalian kesesuaianterhadap
standarteknis
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)dilakukan
untuk
menjamin:
a.
terpenuhinya
sistem
pelayanan
yang
dibangun
sesuai ketentuan standar teknis yang berlaku;b.
terpenuhinya
kuantitas
kapasitas
dan
dimensi
yangdibangun
sesuaiketentuan standar teknis yang
berlaku; dan(3)
(1)
(21
(1)
c.
terpenuhinya
kualitas bahan
atau
material
yangdigunakan serta
kualitas
pelayanan yangdiberikan
sesuai ketentuan standar teknis yang berlaku.Pasa1 46
Pengawasan
dan
pengendalian kesesuaian terhadap kelaikan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal43
ayat (1)huruf
cdilakukan
terhadap:a.
bangunan;b.
jalan
lingkungan;c.
penyediaan air minum;d.
drainase lingkungan;e.
pengelolaan air limbah;f.
pengelolaan persampahan; dang.
proteksi kebakaran.Pengawasan
dan
pengendalian kesesuaian terhadap kelaikanfungsi
sebagaimanadimaksud pada ayat
(1)dilakukan
pada tahap pemanfaatan perumahan dan permukiman.Pengawasan
dan
pengendalian kesesuaian terhadap kelaikanfungsi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)dilakukan
untuk
menjamin:
a.
kondisi
sistem
pelayanan,
kuantitas kapasitas
dandimensi
serta
kua-litas
bahan
atau
material
yangdigunakan masih sesuai dengan kebutuhan fungsionalnya masing-masing;
b.
kondisi
keberfungsian
bangunan beserta
prasarana,sarana
dan utilitas umum
dalam
perumahan
danpermukiman;
c.
kondisi kerusakan bangunan
besertaprasarana,
saranadan utilitas
umum
tidak
mengurangi keberfungsiannyamasing-masing.
Pasal 47
Pengawasan
dan
pengendalian sebagaimala
dimaksud
dalam Pasa-l44, Pasa) 45,
dan
Pasal
+6
dilakukan
sesuai
denganketentuan
peraturan perundang-undangan. Paragraf 3Tata Cara Pengawasan dan Pengendalian Pasal 48
Pengawasan
dan
pengendalian
terhadap
tumbuh
dan berkembangnya perumahankumuh
dan permukimankumuh
baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42huruf
a,dilakukan
denganCAIA: