• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hotel Bisnis Kualanamu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Hotel Bisnis Kualanamu"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Terminologi Judul

2.1.1 Definisi Hotel

• Menurut Keputusan Menteri Parpostel no Km 94/HK103/MPPT 1987, hotel adalah salah satu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau keseluruhan bagian untuk jasa

pelayanan penginapan, penyedia makanan dan minuman serta jasa lainnya bagi masyarakat

umum yang dikelola secara komersil.

• Menurut Wikipedia, hotel berasal dari kata hostel, konon diambil dari bahasa Perancis kuno yang artinya tempat penampungan buat pendatang atau bisa juga “bangunan penyedia

pondokan dan makanan untuk umum.

• Menurut Endar Sri,1996:8, pengertian hotel adalah suatu bangunan yang dikelola secara komersil guna memberikan fasilitas penginapan kepada masyarakat umum dengan fasilitas

antara lain jasa penginapan, pelayanan barang bawaan, pelayanan makanan dan minuman,

penggunaan fasilitas perabot dan hiasan-hiasan yang ada di dalamnya serta jasa pencucian

pakaian.

• Menurut Lawson, 1976:27, pengertian hotel adalah sarana tempat tinggal umum untuk wisatawan dengan memberikan pelayanan jasa kamar, penyedia makanan dan minuman

serta akomodasi dengan syarat pembayaran.

Dari pengertian diatas maka pengertian atau definisi hotel secara umum adalah badan usaha

akomodasi atau perusahaan yang menyediakan pelayanan bagi masyarakat umum dengan

fasilitas jasa penginapan, penyedia makanan dan minuman, jasa layanan kamar, serta jasa

pencucian pakaian. Fasilitas ini diperuntukan bagi mereka mereka yang bermalam di hotel

(2)

2.1.2 Definisi Bisnis

• Menurut Musselman adalah keseluruhan dari aktivitas yang diorganisir oleh orang yang tidak berurusan di dalam bidang industri dan perniagaan yang menyediakan barang dan jasa

agar terpenuhinya suatu kebutuhan dalam perbaikan kualitas hidup.

• Menurut Hooper, Pengertian Bisnis ialah keseluruhan yang lengkap pada berbagai bidang seperti industri dan penjualan, industri dasar dan industri manufaktur dan jaringan,

distribusi, perbankkan, transportasi, insuransi dan lain sebagainya; yang kemudian melayani

dan memasuki dunia bisnis secara menyeluruh.

• Peterson dan Plowman mengemukakan Pengertian Bisnis merupakan serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan pembelian ataupun penjualan barang dan jasa yang dilakukan

secara berulang-ulang. Menurut paterson dan plowman, penjualan jasa ataupun barang yang

hanya terjadi satu kali saja bukanlah merupakan pengertian bisnis.

• menurut Owen adalah suatu perusahaan yang berhubungan dengan distribusi dan produksi barang-barang yang nantinya dijual ke pasaran ataupun memberikan harga yang sesuai pada

setiap jasanya.

• Menurut Hunt dan Urwick, Pengertian Bisnis ialah segala perusahaan apapun yang membuat, mendistribusikan ataupun menyediakan berbagai barang ataupun jasa yang

dibutuhkan oleh anggota masyarakat lainnya serta bersedia dan mampu dalam membeli atau

membayarnya.

Dari pengertian diatas maka pengertian atau definisi bisnis secara umum adalah komersial,

perdagangan atau kegiatan keuangan yang mempergunakan waktu, perhatian tenaga kerja, dan

penanaman modal demi perbaikan/kemajuan.

2.1.3 Kesimpulan Judul

Pengertian dari judul “Hotel Bisnis Kualanamu” adalah tempat akomodasi yang terletak

di Kualanamu, Batang Kuis, dimana diperuntukkan khususnya untuk para pelaku bisnis

(3)

2.2 Lokasi

2.2.1 Kriteria Pemilihan Lokasi

No Kriteria Pemilihan Lokasi Keterangan

1 Tinjauan terhadap arsitektur

kota

Lokasi yang dipilih berada pada jangkauan Bandar

udara Kualanamu yang menjadi titik pusat

perancangan.

2 Pencapaian Lokasi yang mudah dicapai, baik dari arah kota

maupun bandara. (Kendaraan umum, pribadi,

pejalan kaki.)

3 Area Pelayanan Lokasi memiliki area pelayanan ±1 km dari

berbagai fasilitas seperti bank, pusat perbelanjaan ,

area perdagangan , pasar, kantor, dll

4 Sarana dan Prasarana Tersedia sarana dan prasarana seperti jalan raya ,

rambu lalu lintas , dll dan jaringan utilitas seperti

jaringan PLN, PDAM, Telkom, Riol Kota, dll

5 Persyaratan lain Lokasi harus memiliki tingkat privasi yang tinggi

dan cocok digunakan sebagai tempat rekreasi.

Lokasi harus jelas kepemilikannya, terkait dengan

pembebasan lahan, potensi dan peraturan yang

berlaku.

Tabel 3: Kriteria pemilihan lokasi perancangan

2.2.2 Deskripsi Kondisi Eksisting Lokasi

• Luas Site : ± 2 ha • Kontur : Datar

• Kondisi Eksisting : Tanah kosong • GSB pada site : 13.5 m

(4)

2.3 Tinjauan Fungsi

2.3.1 Deskripsi Penggunaan dan Kegiatan

Pengguna kegiatan dalam “Hotel Bisnis Kualanamu” terdiri atas pengunjung,

pengelola, servis.

• Pengunjung adalah pihak yang melakukan kunjungan ke “Hotel Bisnis Kualanamu” yang terdiri dari pedagang, pengusaha, petugas konvensi, pejabat yang melakukan dinas

(swasta/pemerintah), dll. Tamu hotel bisnis juga terdiri dari berbagai tingkatan, yaitu:

o Bepergian seorang diri atau berdua atau lebih

o Menginap dalam waktu relatif singkat

o Ingin cepat menyelesaikan tugasnya , sehingga pertimbangan jarak pencapaian ke objek

tujuan sependek mungkin

o Pertimbangan ekonomis dalam pengeluaran biaya merupakan hal yang utama

• Rekreasi bukan merupakan objek utama.

o Pengelola adalah pihak yang melakukan pengelolaan kegiatan administrasi dan

operasional yang dibedakan dalam 2 tingkatan, yaitu :

o Pimpinan, terdiri dari direktur dan wakil direktur. Direktur ini dibantu oleh sekretaris

yang bertanggung jawab langsung kepada direktur

o Kepala bagian, terdiri dari kabag operasional, keuangan, pemasaran, keamanan,

pemeliharaan, dan perawatan gedung

• Servis adalah pihak yang melakukan kegiatan pelayanan bangunan seperti masalah teknis, kebersihan, keamanan, utilitas, pantry dan pergudangan.

2.3.2 Tinjauan Hotel

Adapun pengertian, klasifikasi dan perkembangan hotel adalah: Pengertian Hotel

Secara harfiah, kata hotel berasal dari bahasa latin yaitu hospitium, yang artinya ruang tamu.

Kata ini kemudian mengalami proses perubahan pengertian dan untuk membedakan guest

(5)

hotel menurut SK Menparpostel Nomor KM 94/ HK 103/MPPT 1987 adalah suatu jenis

akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh bangunan untuk menyedikan jasa

pelayanan penginapan, makan dan minum serta jasa lainnya bagi umum, yang dikelola secara

komersial.

Hotel adalah sarana tempat tinggal umum untuk wisatawan dengan memberikan

pelayanan jasa kamar, penyedia makanan dan minuman serta akomodasi dengan syarat

pembayaran ( Lawson, 1976:27) Hotel adalah suatu bangunan atau suatu lembaga yang

menyediakan kamar untuk menginap, makan dan minum serta pelayanan lainnya untuk umum

(Kamus Webster)

Jadi, dapat disimpulkan pengertian hotel adalah suatu bangunan yang menyediakan jasa

penginapan, makanan dan minuman, serta jasa lainnya yang diperuntukkan bagi umum dan

dikelola secara komersial.

2.3.2.1 Klasifikasi Hotel

Kriteria klasifikasi hotel di Indonesia secara resmi terdapat pada peraturan pemerintah,

yaitu SK: Kep-22/U/VI/78 oleh Dirjen Pariwisata. Klasifikasi hotel ditinjau berdasarkan

beberapa faktor, yaitu:

1. Harga jual

Klasifikasi hotel berdasarkan system penjualan harga kamar, dimana harga kamar yang

dijual hanya harga kamar saja atau merupakan system paket yaitu:

• European plan hotel

Hotel dengan biaya untuk harga kamar saja. Keistimewaan:

o Praktis, banyak digunakan di hotel

o Memudahkan system billing

o Semua system pemasaran kamar kebanyakan menggunakan system ini.

• American plan hotel

Hotel dengan perencanaan biaya termasuk harga kamar dan harga makan, terbagi

dua yaitu:

• Full American Plan (fap)

Harga kamar termasuk makan tiga kali sehari(sarapan, makan siang dan makan

(6)

• Modified American Plan (MAP)

Harga kamar temasuk dua kali makan sehari yaitu:

o Kamar + makan pagi + makan siang

o Kamar + makan pagi + makan malam

• Kontinental plan hotel

Hotel dengan perencanaan harga kamar sudah termasuk dengan continental

breakfast.

• Bermuda plan hotel

Hotel dengan perencanaan harga kamar yang sudah termasuk dengan American

breakfast.

2. Ukuran Hotel

Klasifikasi hotel berdasarkan ukuran ditentukan oleh jumlah kamar yang ada, yaitu: • Small hotel

Hotel kecil dengan jumlah kamar dibawah 150 kamar • Medium hotel

Hotel sedang, yang terdiri dari 2 jenis, yaitu:

o Average hotel : jumlah kamar antara 150- 299 kamar

o Above hotel : jumlah kamar antara 300- 600 kamar

o Large hotel : hotel besar dengan jumlah kamar minimal 600 kamar

3. Tipe Tamu Hotel

Klasifikasi hotel berdasarkan asal usul dan latar belakang tamu menginap yaitu: • Family hotel

Hotel untuk tamu yang menginap bersama keluarga • Business hotel

Hotel untuk tamu berupa pengusaha • Tourist hotel

(7)

Hotel untuk tamu yang menginap dalam proses pengobatan atau penyembuhan

penyakit.

4. Sistem Bintang

Semakin banyak jumlah bintang suatu hotel, pelayanan yang dituntut semakin

banyak dan baik. Klasifikasi hotel berdasarkan system bintang yaitu: • Hotel bintang satu (*)

• Hotel bintang dua (**) • Hotel bintang tiga (***) • Hotel bintang empat (****) • Hotel bintang lima (*****)

Khusus untuk hotel bintang lima, terdapat tingkatan yaitu Palm, Bronze, dan diamond.

5. Lama Tamu Menginap

Klasifikasi hotel berdasarkan lamanya tamu menginap, yaitu:

• Transit hotel : hotel dengan lama tinggal tamu rata- rata semalam.

• Semi residential hotel : hotel dengan lama tinggal tamu lebih dari satu hari tetapi tetap dalam jangka waktu pendek, berkisar dua minggu hingga satu bulan.

• Residential hotel : hotel dengan lama tinggal tamu cukup lama, berkisar paling sedikit satu bulan.

6. Lokasi

Klasifikasi hotel berdasarkan lokasi yaitu:

• City hotel : hotel yang terletak dalam kota, dimana sebagian besar yang menginap melakukan kegiatan bisnis

• Urban hotel : hotel yang terletak di dekat kota • Suburb hotel : hotel yang terletak di pinggiran kota

• Resort hotel : hotel yang terletak di daerah wisata, dimana sebagian besar tamu yang menginap tidak melakukan usaha. Hotel Resort berdasarkan lokasinya dibagi atas:

o Mountain hotel : hotel yang berada di pegunungan

o Beach hotel : hotel yang berada di pinngir pantai

o Lake hotel : hotel yang berada di tepi danau

o Hill hotel : hotel yang berada di puncak bukit

o Forest hotel : hotel yang berada di kawasan hutan lindung

(8)

7. Aktifitas Tamu Hotel

Klasifikasi hotel berdasarkan maksud kegiatan selama tamu menginap, yaitu: • Sport Hotel : Hotel yang berada pada kompleks kegiatan olahraga

• Ski Hotel : Hotel yang menyediakan area bermain ski

• Conference Hotel : Hotel yang menyediakan fasilitas lengkap untuk konferensi • Convention Hotel : Hotel sebagai bagian dari komplek kegiatan konvensi

• Pilgrim Hotel : Hotel yang sebagian tempatnya berfungsi sebagai fasilitas ibadah • Casino Hotel : Hotel yang sebagian tempatnya berfungsi untuk kegiatan berjudi. 8. Jumlah Kamar dan Persyaratannya

Berdasarkan jumlah bintang yang disandang, jumlah persyaratan kamar adan lainnya

yaitu:

• Hotel bintang satu (*) : Jumlah kamar standar, minimal 15 kamar, kamar mandi di dalam, luas kamar standar, minimum 20

• Hotel bintang dua (**) : jumlah kamar standar, minimal 20 kamar. Kamar suite, minimum 1 kamar. Kamar mandi di dalam. Luas kamar standar, minimum 22. Luas

kamar suite, minimum 44

• Hotel bintang tiga (***) : jumlah kamar standar, minimal 30 kamar. Kamar suite, minimum 2 kamar Kamar mandi di dalam. Luas kamar standar, minimum 24. Luas

kamar suite, minimum 48

• Hotel bintang empat (*****) : jumlah kamar standar, minimal 50 kamar. Kamar suite, minimum 3 kamar Kamar mandi di dalam. Luas kamar standar, minimum 24.

Luas kamar suite, minimum 48

• Hotel bintang lima (*****) : jumlah kamar standar, minimum 100 kamar

Kamar suite, minimum 4 kamar Kamar mandi di dalam. Luas kamar standar,

minimum 26. Luas kamar suite, minimum 52

Di Indonesia, klasifikasi hotel dilakukan dengan sistem bintang. Dimulai dari

(9)

• Jumlah kamar yang tersedia • Letak atau keadaan lokasi

2.3.3 Deskripsi Perilaku

• Kegiatan pengunjung, altivitas umum yang dilakukan pengunjung adalah: o Menginap

o Konvensi

o Makan/Minum

• Kegiatan pengelola, aktifitas umum yang dilakukan pengelola adalah: o Mengelola dan mengatur jalannya operasional bangunan

o Melayani kebutuhan para konsumen

o Memberikan informasi singkat

o Melakukan kegiatan administrasi

o Penyelenggaraan kegiatan penunjang ( bisa saja bekerjasama dengan badan lain yang

bersangkutan )

o Dll

• Kegiatan servis, aktifitas umum yang diakukan adalah: o Membersihkan setiap ruangan

o Melakukan perawatan dan perbaikan terhadap bangunan dan peralatan-peralatan yang

ada didalamnya

o Mengurus loading dock

o Mengurus utilitas bangunan

o Menjaga keamanan

2.3.4 Deskripsi Persyaratan dan Kriteria Ruang

• Kegiatan pengunjung, altivitas umum yang dilakukan pengunjung adalah: o Menginap

o Konvensi

o Makan/Minum

• Kegiatan pengelola, aktifitas umum yang dilakukan pengelola adalah: o Mengelola dan mengatur jalannya operasional bangunan

o Melayani kebutuhan para konsumen

(10)

o Melakukan kegiatan administrasi

o Penyelenggaraan kegiatan penunjang ( bisa saja bekerjasama dengan badan lain yang

bersangkutan )

o Dll

• Kegiatan servis, aktifitas umum yang diakukan adalah: o Membersihkan setiap ruangan

o Melakukan perawatan dan perbaikan terhadap bangunan dan peralatan-peralatan yang

ada didalamnya

o Mengurus loading dock

o Mengurus utilitas bangunan

(11)

2.3.3 Deskripsi Kebutuhan Ruang dan Besaran Ruang

(12)

Tabel 5: Program ruang penzoningan hotel bangunan

(13)
(14)
(15)
(16)
(17)

Tabel 10: Program ruang penzoningan admin+ME bangunan

Tabel 11: Program ruang, total keseluruhan

2.3.4 Jenis dan Fasilitas Standar Kamar Tamu

Pada hotel, ruang tidur merupakan ruang privat yang perlu diperhatikan untuk

memenuhi tuntutan kenyamanan dan privatisasi tamu. Aspek efisiensi juga harus diperhatikan

sehingga tamu merasa betah menginap di hotel tersebut. Adapun bentuk kamar tidur pada hotel

(18)

Gambar 1: Bentuk kamar tidur pada hotel

Klasifikasi kelas kamar pada sebuah hotel adalah :

• Standard room

Jenis kamar yang tersedia untuk dua orang penghuni dengan kondisi, berisi satu tempat

tidur double (double bed) atau dua tempat tidur dan fasilitas yang tersedia di dalam

(19)

mewah dan lebih lengkap dengan fasilitas tambahan seperti ruang tamu, makan, dan

dapur kecil (kithenette) seperti mini bar. Tempat tidurnya terdapat double bed, twin bed

atau bahkan single bed. Adapun fasilitas standar yang terdapat pada masing- masing

jenis kamar tersebut adalah sebagai berikut:

• Kamar mandi private (bathroom) dan perlengkapannya • Tempat tidur (jumlah dan ukurannya sesuai dengan jenis) • Lemari pakaian

• Rak untuk menyimpan koper (luggage rack) • Telepon, lampu, AC

• Radio dan Televisi

• Meja rias/ tulis (dressing table) dan kursi • Meja lampu

• Asbak, korek api, handuk, alat tulis (stationeries), dll

2.3.5 Studi Banding Arsitektur Fungsi Sejenis

Santika Dyandra Medan

Gambar 2: Santika Dyandra Medan

Terletak di Medan, Santika Premiere Dyandra Hotel & Convention - Medan hanya

beberapa menit dari Sun Plaza dan Shri Mariaman. Hotel bintang 4 ini terletak di dekat Vihara

Borobudur dan Medan Mall. Dilengkapi oleh 324 kamar yang ber-AC, dengan lemari es dan

minibar, televisi LCD dengan pemrograman kabel memberikan hiburan, akses Internet nirkabel

(20)

• Fasilitas

Gambar 3: Swimming Pool Santika Dyandra

Bersantai di spa dengan layanan lengkap, di mana dapat menikmati pijat, perawatan

tubuh, dan perawatan wajah. Kolam renang dan pusat kebugaran juga tersedia. Hotel ini juga

menyediakan akses Internet nirkabel gratis, layanan concierge, dan layanan pernikahan.

Mendapatkan ke tempat-tempat wisata sangat mudah dengan antar-jemput daerah (biaya

tambahan).

• Dining

Gambar 4: Restoran Santika Dyandra

Memuaskan selera di restoran hotel, menyajikan sarapan, makan siang, dan makan

(21)

• Bisnis, Fasilitas Lainnya

Gambar 5: Ruangan Serba Guna Santika Dyandra

Fasilitas pilihan mencakup pusat bisnis 24 jam, koran gratis di lobi, dan layanan laundry

/ dry cleaning. Fasilitas acara di hotel ini terdiri atas pusat konferensi dan ruang rapat.

Antar-jemput dari bandara ke hotel disediakan dengan biaya tambahan pada waktu yang dijadwalkan,

dan parkir sendiri gratis tersedia di tempat.

2.4 Elaborasi Tema

2.4.1 Pengertian

Adapun keluaran dari penelitian perancangan “Hotel Bisnis Kualanamu” ini adalah

dengan pendekatan arsitektur bioklimatik, yaitu suatu pendekatan yang mengarahkan arsitek

untuk mendapatkan penyelesaian desain dengan memperhatikan hubungan antara bentuk

arsitektur dengan lingkungannya dalam kaitanyan iklim daerah tersebut. Pendekatan desain

arsitektur bioklimatik dengan demikian mengandung keandalan sebagai salah satu tipe desain

arsitektur yang hemat energi ditinjau dari penggunaan energi saat pengoperasian bangunan

yang bersangkutan. Sebagai bagian dari kelompok eko-arsitektur, maka tujuan dari arsitektur

bioklimatik juga menghadirkan bangunan yang ramah lingkungan, diantaranya turut berperan

serta dalam meredam efek rumah kacapada lingkungan urban, misalnya melalui upaya

pengurangan produksi gas CO2 dan CFC ke atmosfer.

Populasi penduduk Indonesia menempati urutan ke-4 setelah Cina, India, dan Amerika

Serikat. Padatnya populasi masyarakat Indonesia menjadi beban pemerintah untuk

menyediakan pangan dan energi yang memadai. Pertumbuhan penduduk Indonesia pada tahun

2006 adalah 1,6 % pertahun dan sekarang ini populasi penduduk Indonesia mencapai 220 juta

jiwa. Maka pemakaian energi di Indonesia juga akan sangat besar. Untuk itu perlu adanya

(22)

berkelanjutan khususnya dalam bidang arsitektur adalah bagaimana menciptakan suatu

rancangan bangunan yang hemat energi. Penerapan dalam bidang arsitektur hemat energi ini

harus diawali di kota-kota besar Indonesia, khususnya Kota Medan. Kota Medan merupakan

kota metropolitan terbesar ke-3 di Indonesia dengan jumlah penduduk kurang lebih 2 juta jiwa

dengan angka pastinya 1.993.602 jiwa. Konsentrasi penduduk yang padat pastinya

menciptakan tata bangunan yang padat seperti perumahan, perkantoran, daerah komersial.

Suatu perkotaan yang padat seperti Kota Medan pasti menimbulkan masalah dalam

menyediakan energi untuk warganya. Dewasa ini Kota Medan telah mengalami krisis energi

listrik. Hampir setiap hari masyarakat Kota Medan harus mengalami pemutusan aliran listrik

secara bergilir.

Arsitektur hemat energi merupakan solusi yang dapat dipakai untuk jangka pendek dan

jangka panjang yang berkelanjutan. Salah satu arsitektur yang berorientasi pada penghematan

energi adalah Arsitektur Bioklimatik. Berikut adalah pengertian dari tema Arsitektur

Bioklimatik:

• Bio : Iklim alam • Klimatik : Pengaruh

Jadi, bioklimatik adalah style dalam bidang Arsitektur yang bentuknya dibentuk dengan

sengaja, mempergunakan teknik dengan tenaga rendah yang pasif agar dapat berinteraksi

positif dengan iklim dan sesuai dengan data meteorologi, menggunakan tenaga yang rendah,

namun memiliki kualitas bangunan yang baik.

Pengertian Arsitektur : Dalam Ensiklopedia Nasional Indonesia, “Arsitektur adalah

ilmu dan seni merancang bangunan,kumpulan bangunan dan struktur lain yang

fungsional,terstruktur dengan baik serta memiliki nilai-nilai estetika” (Ensiklopedia Nasional

Indonesia, 1990).

Pengertian Bioklimatik : diambil dari bahasa asing Bioclimatology. Menurut Yeang

(23)

Yeang juga mengatakan bahwa penggunaan tehnik hemat energi yang berhubungan

dengan iklim setempat dan data meteorolgi, hasilnya adalah bangunan yang berinteraksi

dengan lingkungan,dalam penjelmaan dan operasinya serta penampilan berkualitas tinggi.

2.4.2 Perkembangan Arsitektur Bioklimatik

Perkembangan arsitektur bioklimatik berawal dari tahun 1960-an. Arsitektur

bioklimatik merupakan arsitektur modern yang dipengaruhi oleh iklim. Arsitektur bioklimatik

merupakan pencerminan kembali arsitektur Frank Loyd Wright yang terkenal dengan arsitektur

yang berhubungan dengan alam dan lingkungan dengan prinsip utamanya bahwa di dalam seni

membangun tidak hanya efesiensinya saja yang dipentingkan tetapi juga ketenangan

,keselarasan,kebijaksanaan, kekuatan bangunan dan kegiatan yang sesuai dengan bangunannya

, Oscar Niemeyer dengan falsafah arsitekturnya yaitu penyesuaian terhadap keadan alam dan

lingkungan, penguasaan secara fungsional ,dan kematangan dalam pengolahan serta pemilihan

bentuk, bahan, dan struktur.

Akhirnya dari Frank Lioyd Wright dan Oscar Niemeyer lahirlah arsitek lainseperti

Victor Olgay pada tahun 1963 mulai memperkenalkan arsitektur bioklimatik. Setelah

tahun1990-an Kenneth Yeang mulai menerapkan arsitektur bioklimatik pada bangunan tinggi

bioklimatik yang memenangkan penghargan Aga Khan award tahun 1996 dan Arcasia Award

pada tahun 1996 .

2.4.3 Teori Bioklimatik

Ada beberapa teori mengenai arsitektur bioklimatik yang pada dasarnya teori yang

dipaparkan memiliki banyak kesamaan tentang arsitektur bioklimatik. Salah satu teorinya

seperti yang dikemukan oleh seorang pionir lahirnya arsitektur bioklimatik, Kenneth Yeang.

“What is the justification for designing with climate? Designing the tall building to take

advantage of the meteorological data of the location inevitably means some physical and

economic departure from the criteria outlined above. For instance, sun shading increases the

thickness of the external wall; external lift cores may be less efficient than a central-core

layout. What justification might we have for this departure, besides, of course, reasons of

architectural aesthetics?.”

Kenneth Yeang, merancang bangunan tingkat tinggi dengan pendekatan iklim yang

(24)

dibuat lebih tebal, penempatan core lift yang terpusat dinilai lebih efisien dari penempatan core

luar.

Teori bioklimatik dalam pandangan Yeang dengan menanggapi lingkungan secara

esensial adalah bagaimana strategi merancang dengan merespon lingkungan secara luas.

Pendekatan bioklimatik pada dasarnya memiliki dua penilaian, pertama adalah menciptakan

kenyamanan dalam bangunan secara pasif, dan kedua adalah penggunaan energi yang rendah.

Hemat energi merupakan suatu langkah bijak untuk menghemat keuangan.

2.4.4 Prinsip-Prinsip Bioklimatik Menurut Kenneth Yeang

2.4.4.1 Ekologi

“A further justification is ecological. Designing with climate would result in a reduction of the

overall energy consumption of the building by the use of passive (non-mechanical) structural

devices. Savings in operational costs derive from less use of electrical energy which is usually

derived from the burning of non-renewable fossil fuels. The lowering of energy consumption

would further reduce overall emission of waste heat, thereby cutting the overall heat-island

effect on the locality.”

Ekologi menjadi dasar pertimbangan teori bioklimatik yang dikemukan oleh Yeang.

Menurut Yeang, merancang bangunan dengan pendekatan iklim akan mengurangi konsumsi

energi pada bangunan dengan menggunakan struktur pasif (non-mekanik). Menciptakan

bangunan hemat energi dengan pemakaian energi listrik yang lebih sedikit selanjutnya akan

mengurangi pembakaran bahan bakar fosil dan dapat menurangi akumulasi peningkatan suhu

bumi. Adapun prinsip-prinsip bioklimatik secara ekologi adalah sebagai berikut:

• Penempatan Core

“Service core position is of central importance in the design of the tall building. The service

core not only has structural ramifications, it also affects the thermal performance of the

building and its views, and it determines which parts of the peripheral walls will become

(25)

double-core configuration in which the window openings run north and south, and the cores

are placed on the east and west sides. The same considerations apply in temperate zones.”

Menurut Yeang posisi sevis core sangat penting dalam merancang bangunan tingkat

tinggi. Servis core bukan hanya sebagai bagian struktur, tapi juga mempengaruhi

kenyamanan termal. Posisi core diklasifikasikan dalam tiga bentuk yaitu: core terpusat

(central core), core ganda (double core), core tunggal yang terletak di sisi bangunan

(single-sided core), dan core sisi timur dan barat (east and west sides). Core ganda memiliki banyak

keuntungan, dengan memakai dua core dapat dijadikan sebagai penghalang panas yang

masuk ke dalam bangunan. Penelitian harus menunjukkan penggunaan pengkondisian udara

secara minimum dari penempatan sevis core ganda yang tampilan jendela menghadap Utara

dan Selatan, dan core ditempatkanpada sisi Timur dan Barat. Penerapan ini juga bisa

diterapkan pada daerah beriklim sejuk.

Gambar 6: Peletakan Core

Penjelasan di atas merupakan teori peletakan servis core yang umum dipakai pada

bangunan bertingkat tinggi. Akan tetapi yang menjadi bahasan pokok adalah bagaimana

sebenarnya peletakan service core menurut konsep arsitektur bioklimatik? Menurut Yeang

peletakan servis core adalah bagaimana caranya agar servis core tidak hanya berfungsi

sebagai struktur pendukung bangunan tetapi juga sebagai ruang penetralisir panas. Sebagi

contoh pada bangunan Menara Mesiniaga, peletakan sevis corenya ditarik ke arah Utara agar

menciptakan ruang kerja yang lebih leluasa dan gang untuk sirkulasi yang lebih sedikit.

Selain itu menurut Yeang, menempatkan inti bangunan (service core) tangga, lift, toliet dan

mekanikal, elektrikal dan plumbing-di sisi yang paling banyak menerima sengatan matahari

yakni timur gedung. Sehingga dapat disimpulkan bahwa menempatkan servis core pada arah

lintasan matahari adalah salah satu pendekatan Yeang dalam perancangan bangunan

(26)

• Menentukan Orientasi

“Tall buildings are exposed to the full impact of external temperatures and radiant heat.

Accordingly, the overall building orientation has an important bearing on energy

conservation. In general, arranging the building with its main and broader openings facing

north and south gives the greatest advantages in reducing insolation (and the resulting

air-conditioning load). It frequently happens that the geometry of the site does not coincide

with sunpath geometry. In these cases, the other built elements may, if expedient for

planning purposes, follow the site geometry (for example, to optimise basement

car-parking layouts). Typical floor window openings should generally face the direction of least

insolation (north and south in the tropics). Corner-shading adjustments or shaping may

need to be done for sites further north or south of the tropics or for non conformity of the

building plan to the solar path.”

Bangunan bertingkat tinggi mendapatkan penyinaran matahari secara penuh dan radiasi

panas. Orientasi bangunan sangat penting untuk menciptakan konservasi energi. Secara

umum, susunan bangunan dengan bukaan yang menghadap utara dan selatan memberikan

keuntungan dalam mengurangi insulasi panas.

Orientasi bangunan yang terbaik adalah dengan meletakkan luas permukaan bangunan

terkecil menghadap timur-barat memberikan dinding eksternal pada luar ruangan atau pada

emperan terbuka. Kemudian Untuk daerah tropis, peletakan core lebih disenangi pada poros

timur-barat. Hal ini dimaksudkan untuk menyediakan daerah buffer dan dapat menghemat

AC dalam bangunan.

• Menentukan Bukaan Jendela

“Generally, window openings should orientate north and south unless important views

(27)

Bukaan jendela harus sebaiknya menghadap utara dan selatan sangat penting untuk

mendapatkan orientasi pandangan. Jika memperhatikan alasan aesthetic, curtain wall bisa

digunakan pada fasad bangunan yang tidak menghadap matahari. Pada daerah iklim sejuk,

ruang transisional bisa menggunakan kaca pada bagian fasad yang lain maka teras bisa

berfungsi sebagai ‘ruang sinar matahari’, berkumpulnya panas matahari, seperti rumah

kaca.

Menggunakan kaca jendela yang sejajar dengan dinding luar dan menggunakan

kaca dengan sistem Matricial Bioclimatic Window (MBW). MBW didesai sebagai sistem

elemen dengan fungsi yang dikhususkan untuk ventilasi, perlindungan tata surya,

penerangan alami, area visualisasi dan kebebasan pribadi serta mengatur sistem di luar yang

aktif.

• Penggunaan Balkon

“Deep recesses may provide shade on the building's hot sides. A window can be totally

recessed to form a balcony or a small skycourt that can serve a number of functions besides

shading. Placing balconies on hot elevations permits glazing to these areas to be full-height

clear panels. These can give access to the balcony spaces which can serve as evacuation

spaces, as large terraces for planting and landscaping, and as flexible zones for the

addition of future facilities.”

Menurut Yeang penempatan teras pada bagian dengan tingkat panas yang tinggi

dapat mengurangi penggunaan panel-panel anti-panas. Hal ini dapat memberikan akses ke

teras yang dapat juga digunakan sebagai area evakuasi jika terjadi bencana seperti

kebakaran. Menempatkan balkon akan membuat area tersebut menjadi bersih dari

panel-panel sehingga mengurangi sisi panas yang menggunakan kaca. Karena adanya teras-teras

yang lebar akan mudah membuat taman dan menanam tanaman yang dapat dijadikan

pembayang sinar yang alami, dan sebagai daerah yang fleksibel akan mudah untuk

menambah fasilitas-fasilitas yang akan tercipta dimasa yang akan datang.

• Membuat Ruang Transisional

“Large multi-storey transitional spaces might be introduced in the central and

peripheral parts of the building as air spaces and atriums. These serve as 'in-between'

(28)

houses of the tropics. Atriums should not be totally enclosed but should be placed in this

in-between space. Their tops could be shielded by a louvered roof to encourage wind-flow

through the inner arcas of the building. These may also be designed to function as wind

scoops to control natural ventilation to the inner parts of the building.”

Ruang transisional dapat diletakkan di tengah dan sekeliling sisi bangunan sebagai

ruang udara dan atrium. Ruang ini dapat menjadi ruang perantara antara ruang dalam dan

ruang luar bangunan. Ruang-ruang ini bisa menjadi koridor luar seperti rumah-rumah toko

tua pada awal abad sembilan belas di daerah tropis. Atrium sebaiknya tertutup, tetapi

diletakkan diantara ruangan. Puncak bangunan seharusnya dilindungi oleh siri-sirip atap

yang mendorong angin masuk ke dalam bangunan. Hal ini juga bisa didesain sebagai fungsi

wind scoops untuk mengendalikan pengudaraan alamiyang masuk ke dalam bagian

gedung.

• Desain Pada Dinding

“External walls should be regarded as permeable, environmentally interactive membranes

with adjustable openings (rather than as a sealed skin). In temperate climates the external

wall has to serve very cold winters and hot summers. In this case, the external wall should

be filter-like, with variable parts that provide good insulation but are openable in warm

periods. In the tropics the external wall should have moveable parts that control and enable

good cross-ventilation for internal comfort, provide solar protection, regulate wind-driven

rain, besides facilitating rapid discharge of heavy rainfall.”

Penggunaan membran yang menghubungkan bangunan dengan lingkungan dapat

dijadikan sebagai kulit pelindung. Pada iklim sejuk dinding luar harus dapat menahan

dinginnya musim dingin dan panasnya musim panas. Pada kasus ini, dinding luar harus

seperti pelindung, dengan bagian yang variable yang menyediakan insulasi yang bagus

tetapi harus dapat dibuka pada musim kemarau.

Pada daerah tropis dinding luar harus bisa digerakkan yang mengendalikan dan cross

(29)

Freestanding fortress-like buildings also tend to separate the building from the pavement,

further alienating the street. Free-standing buildings become isolated on their plots.

Planting and landscaping should be used not only for their ecological and aesthetic

benefits, but also to cool buildings. Planting should be introduced as vertical landscaping

to faces and inner courts of upper parts of tall buildings. Plants absorb carbon dioxide and

generate oxygen, benefiting the building and its surroundings.”

Menurut Yeang, lantai dasar bangunan daerah tropis seharusnya lebih terbuka ke luar

dan menggunakan ventilasi yang alami karena hubungan lantai dasar dengan jalan juga

penting. Fungsi atrium dalam ruangan pada lantai dasar bisa mengurangi tingkat kepadatan

jalan. Tumbuhan dan lanskap digunakan tidak hanya untuk kepentingan ekologis dan

aestetik semata, tetapi juga membuat bangunan menjadi lebih sejuk.

Mengintegrasikan antara elemen biotik tanaman dengan eleman abiotik, yaitu

bangunan. Hali ini dapat memberikan efek dingin pada bangunan dan membantu proses

penyerapan O2 dan pelepasan CO2.

• Menggunakan Alat Pembayang Pasif

“Solar shading is essential for all glazed walls facing the sun (generally east and west

in the tropics). A number of configurations of passive devices can be used (fins, spandrels,

egg-crates, etc.), depending on facade orientation. Shading blocks insolation in summer

and prevents heat penetration of the building all year round in the tropics and in summer

in temperate zones. Cross ventilation should be used (even in air-conditioned spaces, to

cope with system breakdowns), letting fresh air in and exhausting hot room air. Good air

movement promotes heat emission from the human body surface and gives a feeling of

comfort. Skycourts, balconies, and atriums as open spaces and transitional spaces at the

upper parts of the tall building encourage wind flow into internal spaces. Side vents

operating as wind scoops located at the edges of the facade capture wind and make the

best use of the high wind speeds found at upper levels. Wind can be channelled into ceiling

plenums to ventilate inner spaces.”

Pembayangan sinar matahari adalah esensi pembiasan sinar matahari pada dinding yang

menghadap matahari secara langsung (pada daerah tropis berada di sisi timur dan barat).

Sedangkan cross ventilation seharusnya digunakan (bahkan di ruang ber-ac) meningkatkan

(30)

• Penyekat Pada Lantai

“Good thermal insulation of the building skin reduces heat transfer, both from solar gain

and loss of coolness from the inside. A second skin (a rain wall) can be built over the inner

wall with an air gap in between. Structural building mass may be used to store heat. The

mass loses heat during the night and keeps internal spaces cool during the day. In

temperate climates, structural and building mass can absorb solar heat during the day and

release it at night. A water-spray system on hot facades promotes evaporation and

therefore cooling. In temperate climates, solar windows or a solar-collector wall can be

located on the outer face of the building to collect the sun's heat.”

Insulator panas yang baik pada kulit bangunan dapat mengurangi pertukaran panas yang

terik dengan udara dingin yang berasal dari dalam bangunan. Karakteristik thermal

insulation adalah secara utama ditentukan oleh komposisinya. Dengan alasan tersebut maka

thermal insulation dibagi menjadi lima bagian utama, walaupun banyak insulator yang

utama merupakan turunan produk jenis-jenis ini. Lima jenis utama adalah:

o Flake (serpihan)

o Fibrous (berserabut)

o Granular (butiran-butiran)

Flake insulation tersusun oleh partikel-partikel kecil atau serpihan yang tersebar di

udara. Serpihan serpihan ini bisa atau tidak terikat bersama serpihan yang lain. Fibrous

insulation tersusun oleh serat-serat berdiameter kecil yang tersebar di udara. Serat-serat ini

bisa terdiri dari organik maupun anorganik dan bisa atau tidak saling terikat. Serat organik

bisa dari rambut, kayu, atau sintetis. Serat anorganik bisa kaca, benang wol keras, ampas

benang wol, alumina silika, asbestos, atau karbon.

Granular insulation terdiri oleh butiran-butiran kecil yang berongga. Hal ini tidak

dimaksudkan pada material sel sejati sejak gas bisa dipindahkan antara ruang individual.

Materialnya bisa magnesia, kalsium silikat, diatomaceous bumi, dan vegetable cork.

Cellular insulation terdiri dari sel individu yang kecil terpisah dari yang lainnya. Dihasilkan

pada kaca, karet, dan plastik. Reflective insulation terdiri dari lembaran paralel yang tipis o Cellular (terdiri dari sel)

(31)

Struktur massa bangunan bekerja melepaskan panas pada siang hari dan melepaskan

udara dingin pada siang hari. Pada iklim yang sejuk struktur bangunan dapat menyerap

panas matahari sepanjang siang hari dan melepaskannya pada siang hari. Solar window

atau solar collector-heat dapat ditempatkan di depan fisik gedung untuk menyerap panas

matahari.

2.4.4.2 Tanggapan Terhadap Lingkungan

“Our current research and development work on the bioclimatic approach is essentially a

sub-set of broader environmentally responsive design strategies. We find that there are

basically two justifications for the bioclimatic approach, one a comfort-based rationale

and the other a passive, low-energy one. The latter eventually was found to be expeditious

for us in explaining our environmentally responsive design agenda to commercially minded

clients. Energy savings could be easily accounted for in terms of monetary savings.”

Teori bioklimatik dalam pandangan Yeang dengan menanggapi lingkungan secara

esensial adalah bagaimana strategi merancang dengan merespon lingkungan secara luas.

Pendekatan bioklimatik pada dasarnya memiliki dua penilaian, pertama adalah

menciptakan kenyamanan dalam bangunan secara pasif, dan kedua adalah penggunaan

energi yang rendah. Hemat energi merupakan suatu langkah bijak untuk menghemat

keuangan. Menurut Yeang sautu bangunan tanggap terhadap lingkungan dapat memberikan

kontribusi yang sangat besar seperti penjelasan di atas yaitu menghemat energi dan

memberikan kenyamanan kepada pengguna, berupa kenyamanan tanpa bantuan alat-alat

mekanis. Artinya keamanan yang tercipta karena desain bangunan yang tanggap terhadap

lingkungannya.

• Perencanaan Gedung

“The building plan, in addition to responding to the commercial intentions of the building

(for example. enabling single, double or multiple tenancies), should reflect the patterns of

life and culture of the place, and its climate. In part this involves an understanding of the

spatial modalities of the people, the way they work, the way culture arranges privacy and

community. This can be reflected, for example, in the plan configuration, the building's

depth, the position and layout of entrances and exits, the means of movement through and

between spaces, the orientation and views as interpreted in the plan. The plan should also

(32)

Pada perencanaan gedung berdasarkan teori arsitektur bioklimatik yang dikemukakan

oleh Yeang seharusnya mencerminkan pola kehidupan budaya setempat, dan iklimnya.

Termasuk di dalamnya melibatkan spatial manusia seperti cara mereka bekerja, dan tatanan

budaya. Hal ini dapat dipantulkan sebagai contoh konfigurasi perencanaan, lebar bangunan,

posisi bangunan dan penempatan entrance, serta pergerakan dari ruang ke ruang.

Perencanaan bangunan juga mencerminkan pergerakan udara dan cahaya yang masuk

ke dalam bangunan.

• Ruang Kerja

“Work spaces, even in a high-rise commercial development, have to have some degree

of humanity, some degree of interest and some use of scale. For example, large skycourts

and terraces might function as communal spaces as well as means of ventilation for the

upper parts of the building.”

Pada perencanaan ruang kerja gedung komersial tingkat tinggi harus memahami

beberapa tingkatan manusia. Artinya manusia harus menjadi standar ukuran dalam

perancangan ruang kerja untuk penentuan skala ukuran dan tingkat kepentingan.

2.4.5 Interpretasi Tema

Perancangan pengembangan rancangan ini ditekankan pada kebutuhan dan aktifitas

serta kenyamanan yang optimal yang kemudian diwujudkan dalam penggunaan ruang-ruang

yang ada serta mengolah sirkulasi yang efektif dan efisien sehingga secara umum rancangan

ini akan berhasil secara bioklimatik. Bangunan bioklimatik ini juga menerapkan desain ramah

lingkungan terhadap bangunan sekitar maupun bangunan itu sendiri. Sehingga menciptakan

kenyamanan ruang dalam dan ruang luar untuk setiap pengguna bangunan tersebut. Hal – hal

yang menjadi fokus terciptanya bangunan ini antara lain mengutamakan kenyamanan

pengguna, bentuk berasal dari iklim atau cuaca tropis, bagian - bagian bangunan dibedakan

sesuai dengan tujuannya dan sruktur disesuaikan dengan fungsi dan penekanan pada

(33)

• Penghematan energi dari segi bentuk bangunan,penempatan bangunan,dan pemilihan material.

• Mengikuti pengaruh dari budaya setempat.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mendesain bangunan dengan tema bioklimatik strategi

pengendalian iklim:

• Memperhatikan keuntungan matahari

• Meminimalkan perlakuan aliran panas - Meminimalkan pembesaran bukaan/bidang terhadap matahari

• Memperhatikan ventilasi

• Memperhatikan penguapan pendinginan,sistem atap

Unsur-unsur perancangan Bioklimatik:

• Sirkulasi vertikal

Terdiri dari tangga, escalator, elevator, dumb waiters, semua komponen tersebut berada di

dalam core. Sirkulasi vertikal berfungsi :

o Kekakuan struktur

o Pelindung matahari

o Pelindung Angin

o Emergency refuge zone

o Hubungan antara setiap lantai

Penempatan core pada bangunan bioklimatik harus pada sisi bangunan (pheriphery

core) . Untuk iklim tropis seperti di Medan mempunyai banyak keuntungan yaitu :

o Tidak memerlukan ducting fire-fighting presuration.

o Dapat melihat keluar bangunan melalui lobby lift.

o Dapat memasukan ventilasi alami dan pencahayaan alami dalam ruang core.

(34)

• Sirkulasi Landscape

Keuntungannya dari sirkulasi landscape ini adalah:

o Mempunyai nilai estetika untuk pengguna bangunan dan menghasilkan

produktifitas kerja yang tinggi.

o Memperlunak fasade bangunan.

o Melindungi ruang dalam dan dinding luar bangunan

o Meminimalkan radiasi panas pantulan sinar matahari dan kaca ke dalam bangunan.

o Menyerap CO2 dan CO dari polusi udara dan memberikan O2 melalui fotosintesis.

o Menghalangi pandangan dan menyerap suara terutama pada skycourt.

• Ventilasi

Penggunaan ventilasi pada bangunan bioklimatik lebih mengutamakan ventilasi alami

terutama pada lobby, elevator, tangga dan toilet area. Keuntungan ventilasi alami adalah: a.

untuk menambah kenyamanan pada periode kelembaban tinggi. b. Untuk alasan kesehatan,

menyediakan oksigen yang cukup. c. Untuk kenyamanan penglihatan yang lebih baik pada

penghuni bangunan. d. Untuk konservasi energi melalui pengurangan dan meniadakan

mekanikal ventilasi.

• Dinding Luar Bangunan.

o Efesiensi energi maksudnya adalah kulit bangunan harus dapat mengurangi

pemakaian energi.

o Penyediaan of sentral daylight untuk mengurangi radiasi matahari langsung.

o Meminimalkan penembusan udara dan kondensasi.

o Penyediaan pemilihan warna,tekstur dan finising.

o Dilengkapi dengan peralatan pembersih jendela otomatis.

o Dapat mengakomodasikan pergerakan bangunan.

o Meminimalkan beban pada rangka struktur.

(35)

service core dan kolom dan juga dipengaruhi oleh syarat struktur untuk menahan beban

mati, angin dan gempa serta sitem kekakuan bangunan. Struktur juga dapat

dikombinasikan dengan sistem low energi.

• Mekanikal dan Energi.

M&E meliputi system AC, ventilasi, system pemanasan, penyediaan air, listrik

dan penerangan, telekomunikasi, sewage, system sanitasi, system komputer, system

keamanan dan intelligent building system. Tujuan utama dari bangunan bioklimatik

ialah untuk mengurangi ketergantungan pemakaian bangunan pada system M&E dan

untuk mengurangi penggunaan energi bangunan melalui system passive low energy.

2.4.6 Studi Banding Arsitektur Tema Sejenis

Menara Mesiniaga (1992), Kuala Lumpur, Malaysia, Kenneth Yeang

Menara mesiniaga merupakan kantor pusat IBM di Subang Jaya dekat Kuala Lumpur.

Bangunan ini merupakan bangunan high-tech yang memiliki tinggi bangunan 15 lantai.

Bangunan tunggal dengan tower tinggi yang modern merupakan hasil penelitian arsitek,

Kenneth Yeang selama sepuluh tahun tentang prinsip-prinsip desain bangunan tinggi medium.

Tiga bangian struktur terdiri dari bangian dasar “hijau” yang dinaikan, sepuluh lantai ruang

kantor yang dilingkari balkon taman, hiasan dinding luar sebagai pembayang, dan puncaknya

di pasang atap matahari (sun roof) yang spektakuler.

Strategi desain yeang menggunakan pendekatan Ekologi dan lingkungan mengurangi

biaya perawatan jangka panjang dengan mengurangi pemakaian energi. Sangat penting bahwa

merancang bangunan dengan pendekata iklim memberikan dimensi estetik bagi pekerjaannya

(yeang) yang tidak ditemukan pada jenis bangunan medium high rise dengan penutup kaca dan

(36)

Gambar 7: Menara Mesiniaga

Bangunan ini dirancang dengan tetap mempertahankan konsep ramah lingkungan dan

dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Untuk itu, menara ini menggunakan banyak

kanopi dan kisi-kisi. Dapat dilihat pada gambar, hightechniaga tower setnggi 8 lantai dirancang

dengan style modern dan bertemakan Bioklimatik.

Pendekatan Arsitektur tropis ternyata mampu menjadi bangunan yang lebih murah dan

efisien ketimbang bangunan pada umumnya. Hal ini terbukti pada bangunan Menara

Mesiniaga, Kuala Lumpur yang digunakan untuk kantor pusat warabala IBM. Menara yang

dirancang oleh T.R. Hamzah & Yeang, Sdn.Bhd. dan terdiri 15 lantai, luas 12.345 m2 didukung

dengan penggunaan material yang biasa dipakai untuk gedung tinggi, misalnya struktur baja

dan komponen ringan pembatas ruang, tetapi dengan cerdik Yeang bereksperimen dalam cara

penggunaannya melalui penempatan bahan tersebut sebagai penangkal sengatan panas dalam

ukuran yang berbeda-beda dan bentuk melengkung susuai pergerakan matahari. Menara

mesiniaga juga lebih efisien karna infrastruktur (service core) yang biasanya di tengah ditarik

ke tepi timur sehingga ruang kerja bisa lebih leluasa dan gang untuk sirkulasi lebih sedikit.

Yeang mendesain gedung yang memamerkan citra high tech sekaligus memberikan suasana

(37)

bertulang yang dilubangi dua jenis penangkis matahari, dinding baja dan kaca sejalan dengan

podium dan puncak gedung dari metal, mampu menghadirkan citra high tech.

Gambar 8: Fasade Menara Mesiniaga

Yeang menyebut pendekatannya dengan “gedung jangkung bioklimatik” yang

memberikan kontrol iklim yang peka terhadap hemat energi, termasuk didalamnya

menggunakan unsur hijau, pengudaraan dan pencahayaan yang alami secara intensif.

Konsistensi untuk meneliti Bioclimatic Architecture untuk merancang gedung tinggi di daerah

beriklim tropis. Kepedulian Yeang dalam menggali gedung tinggi secara Bioklimatik bertujuan

untuk mengurangi biaya bangunan dengan cara menekan konsumsi energi mengembangkan

Gambar

Tabel 3: Kriteria pemilihan lokasi perancangan
Tabel 4: Program ruang penzoningan administrasi bangunan
Tabel 5: Program ruang penzoningan hotel bangunan
Tabel 7: Program ruang penzoningan convention bangunan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Setiap sarana promosi baik periklanan, promosi penjualan, personal selling, Publisitas dan pemasaran langsung, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya

Selanjutnya menurut Reswita (2006), pendekatan yang dapat digunakan adalah perhitungan harga pokok produksi dan harga pokok penjualan yang tepat untuk semua produk

Dapatan menunjukkan bahawa kedatangan Islam ke Alam Melayu telah memperkenalkan prinsip dan sistem politik yang baru kepada pemerintahan kesultanan Melayu tradisi di samping

a) Menghitung nilai dan. b) Menghitung nilai eigen dan vector eigen dari matriks dan dengan menggunakan persamaan karakteristik. c) Menyusun nilai

Dengan berubahnya pola konsumsi masyarakat kepada bahan non sintetis dan ditambah dengan tingginya permintaan masyarakat akan minuman kesehatan dengan bahan-bahan alami yang

Oleh karena itu warna brownies pada perlakuan kontrol lebih sedikit berwarna merah daripada perlakuan B karena pada perlakuan kontrol tidak dilakukan penambahan

Seluruh Kontrak Terbuka akan di marked-to-market dengan Harga Penutupan tersebut yang akan menyebabkan penambahan atau pengurangan terhadap Jaminan Risiko Transaksi atas

Laju pertumbuhan cempe yang dilahirkan pada akhir musim kemarau dan awal musim penghujan menunjukkan perbedaan pertambahan bobot hidup harian (PBHH) yang signifikan (P <