KEBIJAKAN KEUANGAN DAN FISKAL UNTUK
PEMBANGUNAN
PERAN SISTEM KEUANGAN DALAM
PEMBANGUNAN EKONOMI
Sektor keuangan menyediakan enam fungsi pada lingkup perus ahaan maupun ekonomi secara keseluruhan:
1. Menyediakan jasa pembayaran.
2. Menghubungkan para penabung dan investor. 3. Menghasilkan dan mendistribusikan informasi. 4. Mengalokasikan pinjaman/kredit secara efisien.
5. Risiko penetapan harga, pengumpulan (pooling), dan perdagang an.
6. Meningkatkan likuiditas aset.
Inovasi di bidang teknologi dan bidang keuangan telah mengger akkan pertumbuhan ekonomi modern, keduanya diperlukan negara berkembang untuk melanjutkan pembangunan ekonominya.
PERBEDAAN SISTEM KEUANGAN
NEGARA MAJU DAN BERKEMBANG
Kebijakan moneter : kegiatan bank sentral yang dirancang agar
mempengaruhi variabel keuangan (jumlah uang beredar dan tingkat
bunga).
Jumlah uang beredar : total jumlah uang kartal ditambah rekening
koran uang bank umum dan deposito berjangka bank.
Kebijakan moneter di negara maju menunjukkan aspek yang tidak
dimiliki negara berkembang:
1. Kemampuan pemerintah negara maju mengubah jumlah uang
beredar dan biaya peminjaman di sektor swasta.
Sedangkan di negara berkembang, pasar dan lembag
a keuangan tidak terorganisir, bergantung secara ekster
nal, dan terfragmentasi.
Sebagian besar negara berkembang beroperasi dala
m sistem moneter dualistik/ganda (pasar uang terorgani
sasi dan tidak terorganisasi).
Pasar uang terorganisasi adalah sistem perbankan for
mal dimana dana pinjaman disalurkan melalui lembaga
perantaraan uang yang diakui dan berijin.
Pasar uang tidak terorganisasi adalah sistem kredit in
formal dan berbunga sangat tinggi yang ada pada negar
a berkembang.
Pada negara berkembang, keputusan investasi kuran
g peka terhadap pergerakan tingkat bunga. Dalam konte
ks ketidakstabilan makroekonomi yang parah akibat infl
asi tinggi disertai defisit anggaran dan perdagangan, sist
em keuangan mencerminkan unsur kunci dalam upaya s
tabilisasi.
Kegiatan pokok bank sentral:
1.
Menerbitkan mata uang dan mengelola cadangan valu
ta asing.
2.
Bankir bagi pemerintah.
3.
Bankir bagi bank-bank umum domestik.
4.
Regulator lembaga keuangan domestik.
5.
Operator kebijakan moneter dan kredit.
Fungsi-fungsi ini ditangani oleh badan regulator yang
berbeda, yaitu Dewan Mata Uang (bentuk bank sentral y
ang menerbitkan mata uang domestik untuk pertukaran
valuta asing pada nilai tukar yang ditetapkan) dan Lemb
aga Alternatif Bank Sentral (lembaga bank sentral transis
ional, bank sentral suprasional, enklave mata uang, dan
lembaga bank sentral pada perekonomian terbuka).
Dalam dua dasawarsa terakhir, independensi ekonomi dan
politik bank sentral semankin meningkat di negara berkembang,
yang merupakan prasyarat penting mengimplemen-tasikan peran
Bank pembangunan merupakan lembaga keuangan p
ublik dan swasta khusus yang menawarkan dana berjan
gka menengah dan panjang bagi penciptaan atau ekspa
nsi usaha industri.
Apabila terjadi kelangkaan modal finansial, bank pe
mbangunan berupaya meningkatkan modal yang difoku
skan pada dua sumber utama:
1.
Pinjaman bilateral dan multilateral dari bantuan nasio
nal seperti USAID dan Bank Dunia.
2.
Pinjaman dari pemerintah negaranya sendiri.
Bank pembangunan mendapat kritik karena konsentr
asi mereka pada pinjaman skala besar dengan alasan pi
njaman kecil tidak sepadan dengan waktu dan energi ya
ng dibutuhkan dalam melakukan penilaian kredit.
Lembaga pembiayaan mikro (microfinance institution
/MFI) mengkhususkan dalam penyediaan layanan pada
orang yang tidak memiliki akses kredit formal atau akses
pinjaman dengan ketentuan yang memberatkan.
Dalam kasus perbankan desa, skema pinjaman kelo
mpok digunakan untuk meminjam dana dari lembaga ke
uangan kemudian mengalokasikan dana bagi anggotany
a dan bertanggung jawab atas pelunasan pemberian da
na. Kelompok ini menjamin pinjaman pada lembaga pe
mberi pinjaman dan bertanggung jawab atas pelunasan.
Dengan kewajiban bersama, para anggota kelompok
memiliki kepentingan pribadi atas keberhasilan usaha d
an memberi tekanan kepada anggotanya agar menulina
sinya tepat waktu.
Perdebatan terjadi antara Consultative Group to Assist t he Poor (CGAP), donor arus utama lain melawan LSM dan e konom akademis.
CGAP berpendapat lembaga pembiayaan dapat lebih m enjangkau lebih banyak peminjam dengan mensyaratkan k eberlanjutan pembiayaan sehingga jumlah uang meningka t. Namun tidak ada jaminan bahwa peminjam termiskin m ampu melunasi tingkat bunga yang tinggi.
Para pendukung mengaitkan kredit dengan layanan sos ial yang dibutuhkan kaum miskin, antara lain: 1)mekanism e penyaringan bahwa peminjam tidak memanfaatkan subsi di yang tidak diperuntukkan untuk mereka; 2) kalangan mi skin tidak bisa menggunakan kredit secara tepat tanpa kon disi kesehatan dan pendidikan yang lebih baik; 3) banyak k alangan miskin tidak mengenali pentingnya modal manusi a. Ketersediaan kredit digunakan untuk berpartisipasi dala m program keseharan dan pendidikan.
Tujuh kegagalan pasar yang diidentifikasikan oleh Stigli tz:
1. Sifat barang publik dalam pemantauan atas berbagai le
mbaga keuangan.
2. Eksternalitas pemantauan, seleksi, dan pemberian pinja
man.
3. Eksternalitas gangguan keuangan.
4. Pasar yang hilang atau tidak lengkap. 5. Persaingan yang tidak sempurna.
6. Tidak efisiensinya pasar yang kompetitif di sektor keuan
gan.
7. Investor yang tidak memiliki informasi.
Pemerintah dapat berperan dalam meregulasi lembaga keuangan, menciptakan lembaga baru untuk mengisi celah dalam jenis kredit yang diberikan lembaga swasta, membe rikan perlindungan konsumen, menjamin solvabilitas bank, mendorong persaingan sehat, memperbaiki alokasi sumbe rdaya keuangan, dan mendorong stabilitas makroekonomi.
KEBIJAKAN FISKAL UNTUK PEMBANGUNAN
Potensi pajak bergantung pada faktor berikut: 1. Tingkat pendapatan riil per kapita.
2. Tingkat ketimpangan dalam distribusi pendapatan riil.
3. Struktur perindustrian dalam perekonomian dan arti penting dari berbagai jenis kegiatan ekonomi yang berbeda.
4. Tatanan sosial, politik, dan kelembagaan serta kekuatan relatif dar i berbagai kelompok.
BUMN adalah perusahaan negara yang dimiliki dan dio perasikan oleh pemerintah yang mendominasi sektor sum berdaya alam dan manufaktur. Alasan pembentukan BUM N:
1. Bertahannya kekuatan monopoli di negara berkembang. 2. Pembentukan modal, terutama tahap awal pembanguna
n.
3. Keinginan pemerintah negara berkembang mendapat ke
ndali nasional atas sektor ekonomi yang strategis yang mungkin tidak sejalan dengan pemerintah.
BUMN banyak ditentang karena menyia-nyiakan sumbe rdaya, menciptakan permintaan signifikan atas keuangan p emerintah, kredit domestik, dan asing.
Data dari Bank Dunia menyebutkan bahwa BUMN di 24 negara berkembang menunjukkan sedikit surplus operasi. Karena beroperasi dalam kondisi defisit, BUMN terbukti m enguras sumberdaya pemerintah.
Faktor yang berkontribusi buruk pada kinerja BUMN:
1. BUMN berbeda dengan swasta sehingga diharapkan me
ngejar tujuan komersial dan sosial.
2. Sentralisasi pengambilan keputusan yang berlebihan se
hingga manajer memiliki fleksibilitas rendah dalam oper asional harian perusahaan.
3. Birokratisasi manajemen, banyak pembuat keputusan ti
dak dapat mempertanggungjawabkan kinerja, dan insen tif minim diberikan atas perbaikan pengambilan keputus an.
4. Dalam rezim yan sangat korup, BUMN menyediakan salu
ran dalam merampok aset publik.
Opsi dalam reformasi kebijakan adalah reorganisasi de ngan fokus mencari laba yang ditekankan pada BUMN, pen galihan kepemilikan dan penguasaan dari sektor publik ke swasta (privatisasi).
Privatisasi BUMN bersandar pada hipotesis neoklasik b ahwa kepemilikan swasta menghasilkan efisiensi yang lebi h tinggi dan pertumbuhan lebih pesat. Privatisasi didorong secara aktif oleh badan internasional bilateral (USAID) dan multilateral (Bank Dunia, IMF).
Privatisasi nampaknya berhasil mendorong efisiensi da n output yang lebih besar dalam beberapa kasus, namun b anyak aset perusahaan yang diprivatisasi terkonsentrasi di tangan kelompok kecil elit lokal dan internasional. Banyak penjualan BUMN dilakukan tanpa penawaran yang kompet itif dan pada harga konsesi (cuci gudang). Sehingga investo r makin diperkaya dengan proses ini, sebagian privatisasi mengganti monopoli publik dengan monopoli swasta.
Privatisasi digunakan sebagai solusi cepat atas defisit fi skal, saat tidak ada BUMN yang diprivatisasi, pemerintah k embali mengalami persoalan fiskal yang akut.
Langkanya administrasi publik dan swasta berasal dari ketidakstabilan politik di negara berkembang. Saat kekuas aan bergantu, pertimbangan efisiensi dan kesejahteraan m asyarakat ditempatkan setelah loyalitas politik. Makin besa r kelompok pejabat publik yang terpengaruh perubahan ke kuasaan, makin sulit memelihara kontinuitas dalam perum usan dan pemberlakuan kebijakan.
Sebagian birokrasi di negara berkembang mengalami k elebihan pegawai pada tingkat bawah dan kekurangan peg awai di tingkat atas, sehingga terjadi kelangkaan kronis dal am hal manajer berkemampuan tinggi yang mampu memb uat keputusan independen.
Makin banyak BUMN yang dinasionalisasi, lapisan mana jer yang tersedia makin tipis. Sementara pertimbangan pol itik seringkali mempengaruhi kemampuan merekrut manaj er yang kompeten dengan keterampilan teknis khusus.
MENDAYAGUNAKAN PEMBIAYAAN MIKRO BAGI KAUM MISKIN
:
GRAMEEN BANK BANGLADESH
MENDAYAGUNAKAN PEMBIAYAAN MIKRO BAGI KAUM MISKIN
:
GRAMEEN BANK BANGLADESH
Hambatan utama yang dihadapi kaum miskin adalah ak
ses kredit, dalam perangkap kemiskinan akibat minimnya
modal kerja, wirausaha mikro hanya memiliki persediaan y
ang sangat sedikit untuk menjadi produktif dalam pekerjaa
nnya. Hal ini berarti kaum miskin akan memperoleh laba be
rsih yang terlalu kecil untuk mendapat sumberdaya yang di
butuhkan dalam memiliki persediaan yang lebih besar di m
asa depan.
Lanjutan….
Muhammad Yunus mencetuskan Grameen B ank pada pertengahan 1970-an saat menjadi profesir ekonomi di Chittagong University, ber dasar penelitian bahwa minimnya akses kredi t di kalangan miskin merupakan salah satu ha mbatan utama kemajuan ekonomi.
Grameen Bank dimulai tahun 1976 setelah Y unus meyakinkan Bank Pembangunan Pertani an Bangladesh menyediakan dana pinjaman a wal. Serangkaian ekspansi Grameen Bank me yakinkan pemerintah tentang berharganya pr ogram ini, sehingga pada tahun 1983 Gramee n Bank menjadi salah satu lembaga keuangan .
Sejak pendiriannya,Grameen Bank memungkinkan jutaa
n orang miskin memulai atau meningkatkan usaha kecil m
ereka, hampir 97% peminjaman berasal dari kaum peremp
uan.
Sebelum menuka kantor cabang, manajer mempersiapka
n laporan sosioekonomi agar lebih mengenal wilayah yang
akan dikelolanya dan potensi peminjamnya.
Agar masuk kualifikasi mendapat pinjaman tanpa aguna
n, calon peminjam membentuk kelompok lima anggota. S
etiap anggota menjalani sesi pelatihan selama dua minggu
sebelum anggota lain mendapat pinjaman. Hal ini disebut
juga jaminan berupa tekanan dari rekan sewajat.
Beberapa dari 16 keputusan Grameen Bank:
3. Kita tidak boleh hidup dalam kondisi rumah yang bobrok. 4. Kita harus membudidayakan sayuran sepanjang tahun.
6. Kita harus menjaga agar jumlah anggota keluarga selalu kecil.
8. Kita harus senantiasa mengawasi anak-anak dan menjaga kebersiha
n lingkungan.
11. Kita tidak boleh menerima mas kawin apapun saat pernikahan anak
laki-laki kita, juga tidak memberikan mas kawin saat pernikahan an ak perempuan.
13. Demi pendapatan yang lebih tinggi, kita harus melakukan investasi y
ang lebih besar secara bersama.
Mahmoub Hossain menemukan bahwa petani penggarap mempresent asikan 60% sasaran Grameen Bank, namun hanya 20% yang menjadi pe minjam aktualnya.