UNJUK KERJA PENGERING KOPRA ENERGI SURYA

66 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

i

TUGAS AKHIR

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

Jurusan Teknik Mesin

Disusun oleh:

RICKY PRASTYO PUTRANTO NIM: 115214064

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN

JURUSAN TEKNIK MESIN

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

ii

FINAL PROJECT

Presented as partial fulfillment of requirements to obtain the Sarjana Teknik Degree

in Mechanical Engineering

Presented by:

RICKY PRASTYO PUTRANTO NIM: 115214064

MECHANICAL ENGINEERING STUDY PROGRAMME

MECHANICAL ENGINEERING DEPARTMENT

FACULTY OF SCIENCE AND TECHONOLGY

SANATA DHARMA UNIVERSITY

(3)
(4)
(5)

v

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Tugas Akhir ini tidak terdapat

karya yang pernah diajukan di dalam Perguruan Tinggi, dan sepanjang

pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau

diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini

dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Yogyakarta, 14 Juli 2012

Penulis

(6)

vi

KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma :

Nama : Ricky Prastyo Putranto

Nomor Mahasiswa : 115214064

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan

Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

UNJUK KERJA PENGERING KOPRA

ENERGI SURYA JENIS ALIRAN PAKSA

Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas

Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain,

mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan

mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis

tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalty kepada saya

selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal : 14 Juli 2012

Yang menyatakan

(7)

vii

Indonesia memiliki sumber daya alam berupa kopra yang melimpah untuk dijadikan sebagai bahan pembuatan minyak kelapa. Mesin pengering kopra dengan sumber panas dari pembakaran batok dan sabut kelapa menimbulkan polusi udara yang mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan bagi para pekerja. Salah satu alternatif pengganti sumber panas yang ramah lingkungan adalah sumber panas dari energi surya. Dengan pemanfaatan energi surya, hasil sisa pengolahan kopra yakni batok dan sabut kelapa dapat diolah menjadi produk yang bernilai jual. Penelitian ini bertujuan untuk (1) membuat model pengering kopra menggunakan energi surya jenis aliran paksa, (2) meneliti efisiensi pengambilan kadar air maksimum, (3) meneliti efisiensi kolektor maksimum, (4) meneliti efisiensi sistem pengeringan maksimum, (5) meneliti penurunan massa kopra maksimum.

Alat pengering ini menggunakan kolektor ½ parabola dengan luas 1 m2, kolektor plat datar dengan luas 0,5 m2 dan menggunakan penukar kalor jenis pipa bersirip dengan fluida berupa air. Variabel yang divariasikan, kecepatan udara masuk ruang pengering, massa kopra, jenis kolektor dan terbuka atau tertutupnya kaca dengan alumunium foil diatas ruang pengering. Variabel yang diukur temperatur masuk dan keluar penukar kalor, temperature udara keluar ruang pengering, temperatur penerima kalor kolektor, temperature masuk dan keluar air di penukar kalor.

Hasil penelitian menunjukkan efisiensi pengambilan kadar air maksimum sebesar 84,67% pada variasi laju aliran massa udara 0,2 kg/s, penutup kaca terbuka, kolektor ½ parabola dan massa kopra 1 kg. Efisiensi sistem pengering maksimum dicapai sebesar 9,69% pada variasi variasi laju aliran massa udara 0,2 kg/s, penutup kaca tertutup, kolektor plat datar dan massa kopra 1 kg. Efisiensi kolektor maksimum dicapai sebesar 99,16% pada variasi laju aliran massa udara 0,2 kg/s, penutup kaca tertutup, kolektor plat datar dan massa kopra 1 kg. Penurunan massa kopra maksimum dicapai sebesar 210 gram pada variasi laju aliran massa udara 0,2 kg/s, penutup kaca terbuka, kolektor ½ parabola dan massa kopra 2 kg.

(8)

viii

Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yesus Kristus atas berkat,

kasih, rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas

Akhir ini sebagai salah satu syarat menyelesaikan studi di Program Studi Teknik

Mesin, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Tugas Akhir ini berjudul “Unjuk Kerja Pengering Kopra Energi Surya Jenis

Aliran Paksa”.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua

pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Tugas Akhir ini, khususnya

kepada:

1. Ibu Paulina Heruningsih Prima Rosa, S.Si., M.Sc., selaku Dekan Fakultas

Sains dan Teknologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Bapak Ir. Petrus Kanisius Purwadi, M.T., selaku Ketua Program Studi

Teknik Mesin Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

3. Bapak Ir. F.A. Rusdi Sambada, M.T., selaku Dosen Pembimbing Tugas

Akhir.

4. Para dosen Teknik Mesin Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang

telah memberikan bekal untuk menyusun tugas akhir ini.

5. Bapak Kasto dan Ibu Surati selaku orangtua penulis yang telah

memberikan dukungan dana dan dukungan spiritual sehingga penulisan

(9)

ix

7. Teman-teman penulis baik dari Teknik Mesin, PMK Apostolos, dan

Sangkakala yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah

memberi inspirasi dan semangat dalam pengerjaan Tugas Akhir ini.

Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa penulisan Tugas

Akhir ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu dengan hati terbuka

penulis akan menerima segala kritik, dan saran dari setiap pembaca.

Akhir kata penulis berharap semoga tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi

semua pihak yang membacanya.

Yogyakarta, 14 Juli 2012

Penulis

(10)

x

halaman

Halaman Judul ... i

Title Page... ii

Halaman Persetujuan Pembimbing ... iii

Halaman Pengesahan ... iv

Halaman Pernyataan Keaslian ... v

Lembar Pernyataan Persetujuan Publikasi ... vi

Intisari ... vii

Kata Pengantar ... viii

Daftar Isi ... x

Daftar Gambar ... xii

Daftar Tabel ... xv

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 2

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian... 2

1.4. Batasan Masalah ... 3

(11)

xi

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Skema Alat ... 18

3.2. Langkah Penelitian ... 21

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian ... 25

4.2. Pembahasan ... 32

BAB V. PENUTUP 5.1. Kesimpulan... 45

5.2. Saran ... 45

DAFTAR PUSTAKA ... 47

(12)

xii

Gambar 2.1 Alat pengering energi surya tipe aliran udara alami. ... 5

Gambar 2.2 Alat pengering energi surya jenis aliran udara paksa... 6

Gambar 2.3 Skema alat pengering energi surya tipe aliran udara paksa. ... 6

Gambar 2.4 (a) Sistem Kolektor Termal Solar Pond, (b) Sistem Kolektor Termal Plat Datar. ... 8

Gambar 2.5 Sistem kolektor termal parabola (a) Parabola biasa, (b) Parabola Scheffler ... 9

Gambar 2.6 Bagian parabola scheffler di parabola biasa ... 10

Gambar 2.7 Sistem kolektor termal Heliostat ... 11

Gambar 3.1 Skema alat penelitian dengan kolektor ½ parabola... 18

Gambar 3.2 Skema alat penelitian dengan kolektor plat datar ... 19

Gambar 3.3 Ruang pengering tampak atas ... 20

Gambar 3.4 Ruang pengering tampak depan ... 20

Gambar 3.5 Ruang pengering tampak belakang ... 20

Gambar 3.6 Penukar kalor (a) Tampak depan, (b) Tampak kiri ... 21

Gambar 3.7 Kolektor ½ parabola tampak atas ... 21

Gambar 3.8 Kolektor plat datar (a) Tampak depan, (b) Tampak samping ... 21

(13)

xiii

terbuka, massa kopra 1 kg, kolektor ½ parabola) ... 38

Gambar 4.3 Grafik hubungan RH dan energi surya terhadap waktu pada data penelitian variasi tiga (aliran udara 0,2 kg/s, kaca tertutup, massa kopra 1 kg, kolektor ½ parabola) ... 38

Gambar 4.4 Grafik hubungan RH dan energi surya terhadap waktu pada data penelitian variasi empat (aliran udara 0,2 kg/s, kaca terbuka, massa kopra 2 kg, kolektor ½ parabola) ... 39

Gambar 4.5 Grafik hubungan RH dan energi surya terhadap waktu pada data penelitian variasi lima (aliran udara 0,2 kg/s, kaca tertutup, massa kopra 1 kg, kolektor plat datar) ... 39

Gambar 4.6 Grafik efisiensi pengambilan kadar air ... 40

Gambar 4.7 Grafik efisiensi sistem pengering ... 41

Gambar 4.8 Grafik efisiensi sistem pengering pada variasi 3 dan 5 ... 42

Gambar 4.9 Grafik efisiensi sistem pengering pada variasi 1 dan 3 ... 43

Gambar 4.10 Grafik efisiensi kolektor ... 44

Gambar 4.11 Grafik penurunan massa kopra ... 44

Gambar 6.1 Ruang pengering kopra ... 49

Gambar 6.2 Penerima kalor dari kolektor ½ parabola ... 49

Gambar 6.3 Alat penelitian menggunakan kolektor ½ parabola ... 50

Gambar 6.4 Alat penelitian menggunakan kolektor plat datar ... 50

(14)
(15)

xv

Tabel 4.1 Data penelitian variasi satu (aliran udara 0,2 kg/s, kaca

terbuka, massa kopra 1 kg, kolektor ½ parabola) ... 25

Tabel 4.2 Data penelitian variasi dua (aliran udara 0,1 kg/s, kaca

terbuka, massa kopra 1 kg, kolektor ½ parabola) ... 26

Tabel 4.3 Data penelitian variasi tiga (aliran udara 0,2 kg/s, kaca

tertutup, massa kopra 1 kg, kolektor ½ parabola) ... 28

Tabel 4.4 Data penelitian variasi empat (aliran udara 0,2 kg/s, kaca

terbuka, massa kopra 2 kg, kolektor ½ parabola) ... 29

Tabel 4.5 Data penelitian variasi lima (aliran udara 0,2 kg/s, kaca

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, salah satunya adalah

pemanfaatan buah kopra untuk dijadikan sebagai bahan pembuatan minyak kelapa.

Dari pembuatan buah kopra kering yang siap untuk diolah menjadi minyak kelapa,

diperlukan sebuah alat untuk mempercepat pengeringan kopra itu sendiri. Petani kopra

yang masih tradisional, banyak yang belum menggunakan alat pengering untuk

membantu mempercepat pengeringan. Sedangkan untuk petani yang memiliki modal

kerja cukup besar dan berorientasi pada jumlah kopra yang dihasilkan, mereka

memakai mesin pengering untuk mempercepat pengeringan.

Untuk memperoleh buah kopra kering yang berkualitas baik, mesin yang

digunakan adalah mesin pengering yang sumber panasnya tidak langsung mengenai

bahan yang dipanaskan. Pada umumnya sumber panas yang digunakan adalah

pembakaran dari batok dan kulit kelapa itu sendiri. Sumber panas itu dipilih karena

biaya yang murah dan mudah didapat serta memanfaatkan dari batok serta kulit kelapa

itu sendiri. Adapun sumber energi untuk menggerakkan kipas yang berfungsi untuk

mengalirkan udara panas dari penukar kalor ke ruang pengeringan menggunakan

mesin diesel atau menggunakan motor listrik.

Akibat yang ditimbulkan dari penggunaan sumber panas dari pembakaran

batok dan kulit kelapa adalah polusi udara yang dapat mencemari lingkungan dan

(17)

sumber energi surya, maka batok kelapa dan sabut kelapa yang menjadi sisa dari

pengolahan kopra dapat diolah menjadi suatu produk yang memiliki nilai tambah.

Sebagai contoh batok kelapa dapat dimanfaatkan menjadi arang aktif yang bernilai

jual. Sabut dapat dijual sebagai untuk bahan kerajinan dan dapat dibuat menjadi

cocomesh sebagai bahan reklamasi daerah pertambangan. Dari latar belakang inilah

penulis ingin membuat alat pengering buah kopra dengan sumber panas dari energi

surya. Energi surya adalah energi yang bebas dari polusi dan bisa kita dapatkan setiap

hari.

1.2 Perumusan Masalah

Dari penelitian ini penulis dapat merumuskan beberapa masalah sebagai berikut:

1. Energi surya yang digunakan untuk mengeringkan kopra dapat digunakan

secara langsung atau tidak langsung.

2. Pengeringan dengan energi surya tak langsung menggunakan penukar

kalor, dimana energi surya digunakan untuk memanaskan air. Sebuah

penukar kalor dan kipas digunakan untuk memindahkan panas dari air ke

udara.

3. Pengeringan dengan energi surya, secara langsung ke ruang pengeringan.

Pada ruang pengeringan di bagian atasnya dipasang kaca untuk

meneruskan energi termal surya sekaligus sebagai penjebak gelombang

energi termal dari surya. Sebuah kipas ditambahkan untuk membuat aliran

(18)

1.3 Tujuan dan Manfaat

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Membuat model pengering kopra energi surya jenis aliran paksa.

2. Meneliti efisiensi pengambilan kadar air maksimum.

3. Meneliti efisiensi kolektor maksimum.

4. Meneliti efisiensi sistem pengering maksimum.

5. Meneliti penurunan massa kopra maksimum.

Manfaat yang diperoleh dalam penelitian ini adalah:

1. Menambah kepustakaan tentang teknologi pengering energi surya.

2. Hasil dari penelitian ini diharapkan mempu untuk diaplikasikan secara nyata

dalam pembuatan pengering kopra energi surya.

3. Ketergantungan sumber panas dari energi pembakaran biomass dapat

dikurangi, sehingga dapat tercipta lingkungan yang bebas polusi udara dan

sehat bagi pekerja pembuat kopra.

1.4 Batasan Masalah

Batasan dari penelitian ini adalah :

1. Pada peneltian ini dibuat sebuah model pengering tenaga surya secara tidak

langsung menggunakan penukar kalor, dimana fluida yang digunakan

berupa air dengan sumber energi panas dari energi surya.

2. Luas kolektor model ½ reflektor parabola adalah ± 1 m2, luas kolektor jenis

plat datar 0,5 m2 dan luas penampang penerima cahaya matahari secara

(19)

3. Udara mengalir ke dalam ruang pengering menggunakan bantuan kipas

dimana variasi kecepatan sebesar 2,06 m/s dan 1,05 m/s. Maka laju aliran

massa udara yang divariasikan sebesar 0,2 kg/s dan 0,1 kg/s.

4. Bahan yang dikeringkan adalah kopra dengan variasi massa 1 kg dan 2 kg.

5. Kopra dipergunakan dalam penelitian memiliki kualitas yang berbeda, baik

dari umur buah kelapa maupun tebal dan tipis daging kelapa. Hal ini

disebabkan karena sulit menemukan kopra dengan kualitas yang sama.

6. Perhitungan berat massa kopra yang dikeringkan dilakukan diawal dan akhir

(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dasar Teori

Pada umumnya konstruksi alat pengering hasil pertanian menggunakan

absorber pelat (Gambar 2.1 dan 2.2). Bagian utama dari pengering tipe ini

adalah absorber (terletak dalam kotak kolektor) yang akan menerima energi

surya yang datang dan mengkonversikannya menjadi panas. Absorber ini

berfungsi untuk memanasi udara luar yang mengalir ke kotak tempat bahan yang

akan dikeringkan secara alami seperti Gambar 2.1 atau dapat juga dengan

bantuan blower seperti Gambar 2.2. Udara yang sudah dipanasi absorber ini

akan mengalir menembus hasil pertanian yang akan dikeringkan. Pada saat udara

panas ini menembus hasil pertanian terjadi perpindahan panas dan massa air dari

hasil pertanian ke udara panas tersebut, proses ini disebut proses pengeringan.

(21)

Gambar 2.2 Alat pengering energi surya jenis aliran udara paksa.

Gambar 2.3 Skema alat pengering energi surya tipe aliran udara paksa. Blower

Kolektor Plat Datar

(22)

Prinsip kerja dari alat pengering energi surya pada Gambar 2.1 adalah

udara yang masuk ke kolektor dipanasi oleh sinar matahari dan di sirkulasikan

melalui lapisan tempat bahan dikeringkan dengan konveksi alami. Udara yang

bertemperatur tinggi yang melalui lapisan tempat bahan dikeringkan, sehingga

terjadi proses pengeringan. Cerobong memberikan tarikan tambahan, yang

diciptakan oleh perbedaan massa jenis antara udara di dalam dan di luar

pengering.

Sedangkan prinsip kerja dari alat pengering energi surya pada Gambar 2.2

dan Gambar 2.3 adalah udara yang masuk lewat pipa bagian bawah lalu

diteruskan melewati kolektor plat datar untuk dipanaskan. Udara yang telah

panas lalu naik, berkumpul dipipa bagian atas lalu masuk ruang pengering.

Sirkulasi udara ini dilakukan dengan bantuan blower.

Secara umum ada empat sistem termal yang dapat mengkonversi energi

surya menjadi panas. Keempat sistem termal itu adalah Solar Pond, Plat Datar,

Parabolik dan Heliostat. Sistem Solar Pond menggunakan suatu kolam yang

berisi suatu fluida yang dapat menyimpan panas, contoh seperti Gambar 2.4. (a).

Sistem plat datar seperti pada Gambar 2.4 (b) adalah jenis kolektor yang terbuat

dari sebuah plat logam yang diberi warna hitam. Pemberian warna hitam

dimaksudkan agar radiasi surya dapat semaksimal mungkin di serap oleh plat

logam itu sendiri. Jenis ini paling banyak digunakan sebagai pemanas fluida air,

(23)

(a) (b)

Gambar 2.4 (a) Sistem Kolektor Termal Solar Pond, (b) Sistem Kolektor

Termal Plat Datar.

Sistem Parabolik seperti pada Gambar 2.5 (a) adalah sistem yang

menggunakan reflektor yang berbentuk parabola. Dengan menggunakan

reflektor berbentuk parabola ini, energi surya yang diterima difokuskan pada

suatu titik. Pemfokusan ini menyebabkan temperatur yang ada di titik dapat

mencapai 150 oC – 800 oC. Beberapa pengembangan dari sistem termal ini salah

satunya adalah penemuan dari Wolfgang Scheffler yang menemukan reflektor

yang dinamai dari dirinya sendiri yakni parabola scheffler dimana titik fokus

dari parabola ini tetap pada suatu titik tanpa harus memindahkan titik fokus

sesuai arah datangnya sinar matahari. Untuk menjaga agar titik fokus tetap,

parabola schfflernya harus berputar secara teratur sesuai dengan waktu

penyinaran matahari, sedangkan titik fokusnya tetap pada suatu tempat tanpa

bergerak. Hal inilah yang membedakan antara parabola schffler dan parabola

(24)

(a) (b)

Gambar 2.5 Sistem Kolektor Termal Parabola (a) Parabola biasa,

(b) Parabola Scheffler

Pada parabola biasa, titik fokus harus ikut berpindah sesuai arah datangnya

matahari. Parabola scheffler pada dasarnya diambil dari bentuk parabola itu

sendiri, lihat Gambar 2.6. Pada Gambar 2.6 terlihat bahwa parabola scheffler

merupakan bagian kecil dari parabola itu sendiri. Karena diambil dari ½

parabola dan sisi sebelah kanan dan kiri di perkecil sehingga membentuk pola

seperti elips maka parabola scheffler dapat menjaga titik fokus tetap di depan.

Adapun pergerakan matahari dapat diatasi dengan memutar parabola scheffler

saat matahari terbit dari timur ke barat. Perputaran parabola scheffler ini dapat

(25)

Gambar 2.6 Bagian parabola scheffler di parabola biasa

Sistem termal Heliostat merupakan sistem kolektor yang menggunakan

banyak sekali reflektor datar yang disusun mengelilingi suatu titik di menara

atau bangunan, lihat Gambar 2.7. Pola pergerakan cermin diatur secara

elektronik sesuai arah datangnya sinar matahari. Cermin-cermin yang berjumlah

sangat banyak itu mampu menghasilkan suhu temperatur yang sangat tinggi

pada bidang yang difokuskan. Suhu yang mampu dihasilkan dari sistem ini 250

o

(26)

Gambar 2.7 Sistem Kolektor Termal Heliostat

2.2 Persamaan yang Digunakan

Untuk mengetahui unjuk kerja dari sistem pengering maka diperlukan

persamaan yang dapat membantu mengetahui unjuk kerja sistem. Hal yang perlu

dilakukan pertama kali adalah menghitung energi berguna. Energi berguna ini

adalah jumlah energi yang dipindahkan dari sumber energi ke tempat yang lain.

Persamaanya dapat dinyatakan sebagai berikut:

= .� . �1− �2 ….(1)

dimana:

Qu = energi berguna (W)

ṁ = laju aliran massa fluida (kg/s)

CP = panas spesifik fluida (J/kg.°C)

T1 = temperatur fluida akhir (°C)

(27)

Untuk untuk menghitung laju aliran massa dari fluida udara menggunakan

persamaan:

= � . .� ….(2)

dimana:

A = Luas penampang saluran masuk udara (m²)

v = Kecepatan udara masuk saluran (m/s)

ρ = Massa jenis fluida udara (kg/m3)

Apabila fluida yang digunakan adalah air maka untuk mengetahui laju aliran

massa dapat menggunakan persamaan sebagi berikut:

= .� ….(3)

dimana:

Q = Debit air (m3/s)

ρ = Massa jenis air (kg/m3)

Dalam sistem pengering diperlukan energi untuk menguapkan air yang

terdapat pada bahan yang akan dikeringkan. Untuk menghitung energi yang

dibutuhkan untuk menguapkan air digunakan persamaan sebagai berikut.

= . ….(4)

dengan:

: Kalor yang dibutuhkan untuk menguapkan uap air (MJ/kg)

(28)

: Entalpi uap jenuh (kJ/kg)

Unjuk kerja sistem pengering dapat diketahui dengan menghitung efisiensi

dari kolektor, efisiensi sistem pengering dan efisiensi pengambilan kadar air.

Efisiensi kolektor (

) didefinisikan sebagai perbandingan antara energi berguna

dengan total energi surya yang datang ke kolektor, dan dapat dinyatakan dengan

persamaan:

0 : Intensitas energi surya yang datang (W/m

2

)

Efisiensi pengambilan kadar air (P) didefinisikan sebagai perbandingan

uap air yang dipindahkan (diambil) oleh udara dalam alat pengering dengan

kapasitas teoritis udara menyerap uap air, dan dapat dinyatakan dengan

persamaan:

=

_ − _

_ − _

….(6)

dengan :

_ : kelembaban relatif udara keluar alat pengering

(29)

_ : kelembaban jenuh adiabatis udara masuk alat pengering

Dimana besarnya tingkat kelembaban udara (RH) menyatakan banyaknya

komposisi kadar air yang terkandung dalam udara (Cengel, 1989), dan

ω1 : Kelembaban spesifik udara (kg H2O/kg udara kering)

ω2 : Kelembaban spesifik udara jenuh (kg H2O/kg udara kering)

Pg1 : Tekanan uap air jenuh pada temperatur kering (kPa)

P : Tekanan udara luar (kPa)

Pg2 : Tekanan uap air jenuh pada temperatur basah (kPa)

(30)

Cp : Panas spesifik udara (1.005 kJ/kgoC)

ω2 : Kelembaban spesifik (kg H2O/kg udara kering)

hfg2 : Entalpi penguapan pada temperatur basah (kJ/kg)

hg1 : Entalpi uap jenuh pada temperatur kering (kJ/kg)

hf2 : Entalpi cair jenuh pada temperatur basah (kJ/kg)

T1 : Temperatur udara kering (oC)

T2 : Temperatur udara basah (oC)

Sedangkan Efisiensi sistem pengering (S) didefinisikan sebagai

perbandingan antara energi yang digunakan untuk menguapkan air dari kopra

yang dikeringkan dengan energi yang datang pada alat pengering, dan dapat

dinyatakan dengan persamaan:

=

.

� . 0 . ….(10)

dengan :

: laju massa air yang menguap (kg/detik)

: kalor laten dari air yang menguap saat temperatur pengering

(J/kg)

AC : luas kolektor surya (m2)

.

0 : intensitas energi surya yang datang (W/m

2

)

(31)

Pengeringan didefinisikan sebagai operasi perpindahan panas secara simultan

dengan perubahan fase untuk memindahkan sejumlah relatif kecil air dan cairan

lainnya dari suatu system yang terdiri dari banyak komponen, sehingga

dikeringkan dan kemudian diikuti oleh pemindahan uap air dari permukaan

bahan masuk kedalam aliran udara pengering. Kedua proses ini berlangsung

secara simultan dan saling mempengaruh, namun demikian dapat dianalisa

secara terpisah antara kedua proses tersebut (Muljoharjo, 1987). Pengeringan

merupakan cara terbaik dalam pengawetan bahan makanan dan pengering energi

surya merupakan teknologi yang sesuai bagi kelestarian alam (Scanlin, 1997).

Pengeringan dengan penjemuran langsung (tradisional) sering menghasilkan

kualitas pengeringan yang buruk. Hal ini disebabkan bahan yang dijemur

langsung tidak terlindungi dari debu, hujan, angin, serangga, burung atau

binatang lain. Kontaminasi dengan mikroorganisme yang terdapat di tanah dapat

membahayakan kesehatan (Häuser et. Al,2009). Kelemahan utama dari

pengering energi surya adalah kecilnya koefisien perpindahan panas antara pelat

absorber dan udara yang dipanasi, sehingga menyebabkan efisiensi kolektor

yang rendah. Beberapa modifikasi telah banyak diusulkan meliputi penggunaan

(32)

(Choudhury et al., 1988), dan penggunaan absorber porus (Sharma et. al., 1991).

Penelitian pengering energi surya dengan luas kolektor 1,64m2 yang dilengkapi

8 sampai 32 sirip segi empat dengan luas total sirip 0,384 m2 dapat menaikkan

temperatur udara keluar dan efisiensi kolektor. Sirip dipasang di dalam kolektor

dengan dua variasi pemasangan yaitu sirip dapat bergerak bebas dan tetap

(33)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Skema Alat

Pada penelitian ini rancangan sistem pengering berbeda dengan sistem

pengering tenaga surya pada umumnya. Sistem ini menggunakan penukar kalor

jenis pipa bersirip dan pemanasan secara langsung oleh energi matahari. Gambar

3.1 adalah skema alat yang digunakan dalam penelitian.

Gambar 3.1 Skema alat penelitian dengan kolektor ½ parabola.

Bagian-bagian utama dari alat pada Gambar 3.1:

a) Kolektor ½ Parabola dengan luas permukaan ± 1m².

b) Ruang pengering ukuran 1 x 0,33 x 0,25 m.

c) Penerima kalor berbentuk segiempat 0,15 x 0,15 m.

Kolektor ½ Parabola Ruang Pengering

Kipas Penukar Kalor Penerima Kalor

Kaca

(34)

d) Penukar kalor model pipa bersirip.

e) Kipas angin.

f) Pompa air dengan debit 2,16 L/m .

Gambar 3.2 Skema alat penelitian dengan kolektor plat datar.

Bagian-bagian utama dari alat pada Gambar 3.2 hampir sama dengan

Gambar 3.1. Yang menjadi perbedaan adalah kolektor yang digunakan. Kolektor

yang digunakan adalah jenis plat datar dengan luas permukaan ± 0,5 m2. Gambar

3.3 sampai Gambar 3.8 adalah gambar dimensi alat penelitian yang digunakan.

Satuan yang dipergunakan dalam (cm).

Kolektor plat datar

Ruang Pengering

Kipas Penukar Kalor Kaca

(35)

Gambar 3.3 Ruang pengering tampak atas.

Gambar 3.4 Ruang pengering tampak depan.

(36)

(a) (b)

Gambar 3.6 Penukar kalor (a) Tampak depan, (b) Tampak kiri.

Gambar 3.7 Kolektor ½ parabola tampak atas

(a) (b)

Gambar 3.8 Kolektor plat datar (a) Tampak depan, (b) tampak samping

3.2 Langkah Penelitian

Langkah penelitian dimulai dengan menentukan variasi data yang akan

diambil dari pengujian alat. Adapun variabel yang akan divariasikan saat

(37)

1. Laju aliran massa udara yang masuk ke ruang pengering sebesar 0,2 kg/s

dan 0,1 kg/s.

2. Penambahan pemanasan langsung diatas benda yang dikeringkan dengan

membuka atau menutup kaca menggunakan alumunium foil yang

diletakkan diatas ruang pengering.

3. Massa kopra yang dikeringkan sebesar 1 kg dan 2 kg.

4. Jenis kolektor plat datar dengan luas 0,5 m2 dan kolektor ½ parabola

dengan luas 1 m2.

Setelah menentukan variabel data yang divariasikan, lalu menentukan

variabel yang akan diukur. Berikut ini adalah variabel yang akan diukur saat

melakukan penelitian:

1. Energi surya yang datang (GT).

2. Temperatur udara masuk penukar kalor yakni temperatur kering (T₁) dan

temperatur basah (T2).

3. Temperatur udara keluar penukar kalor yakni temperatur kering (T3) dan

temperatur basah (T4).

4. Temperatur udara keluar dari ruang pengering yakni temperatur kering

(T5) dan temperatur basah (T6).

5. Temperatur masuk penukar kalor (T7).

6. Temperatur keluar penukar kalor (T8).

7. Temperatur penerima kolektor surya (T9).

(38)

Dengan mengetahui variabel yang divariasikan serta variabel yang akan

diukur, maka penelitian dapat dilakukan. Dalam melakukan penelitian harus

melalui prosedur yang sama, agar hasil penelitian dapat dicapai dengan

sempurna. Berikut ini prosedur yang harus dilakukan saat melakukan penelitian:

1. Penelitian diawali dengan mempersiapkan alat seperti Gambar 3.1 atau

penelitian menggunakan variasi seperti Gambar 3.2.

2. Pengambilan data dilakukan selama 3 jam dari jam efektif matahari yakni dari

pukul 10.30 sampai 13.30 WIB.

3. Pengambilan data dilakukan dengan menvariasikan kecepatan udara,

penambahan pemanasan langsung dengan membuka tutup alumunium foil

diatas kaca dan jumlah massa kopra yang dikeringkan.

4. Pada variasi data suatu parameter, nilai parameter yang lain sama.

5. Data yang dicatat adalah konstanta energi surya yang datang (G), temperatur

kering dan basah udara masuk penukar kalor (T1 dan T2), temperatur kering

dan basah udara keluar penukar kalor (T3 dan T4), temperatur kering dan

basah udara keluar ruang pengering (T5 dan T6), temperatur air masuk

penukar kalor (T7), temperatur air keluar penukar kalor (T8), Temperatur

penerima kolektor surya (T9) dan penurunan massa bahan yang dikeringkan

(M).

6. Pengambilan data dari parameter yang lain dilakukan pada hari yang berbeda

(39)

Setelah pengambilan data dari masing-masing variabel yang divariasikan

sudah selesai dilakukan, maka hal yang akan dilakukan selanjutnya adalah

melakukan perhitungan dan analisa. Perhitungan dilakukan pada

parameter-parameter yang diperlukan dengan menggunakan persamaan (1) sampai dengan

persamaan (10). Analisa akan lebih mudah dilakukan dengan membuat grafik

hubungan:

1. Hubungan efisiensi kolektor, efisiensi pengambilan kadar air dan efisiensi

sistem pengering dengan energi surya yang datang.

(40)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Di bawah ini disajikan data pengambilan data variasi satu. Data variasi satu

adalah data yang diambil saat kondisi laju aliran massa udara yang masuk ke ruang

pengering sebesar 0,2 kg/s, penutup kaca diatas ruang pengering dilepas, berat kopra

sebesar 1 kg dan menggunakan kolektor ½ parabola.

Tabel 4.1 Data penelitian variasi satu (aliran udara 0,2 kg/s, kaca terbuka, massa

kopra 1 kg, kolektor ½ parabola).

(41)

Tabel 4.1 Data penelitian variasi satu (aliran udara 0,2 kg/s, kaca terbuka, massa

Berikutnya adalah pengambilan data penelitian pada data variasi kedua. Data

variasi kedua adalah data yang diambil saat laju aliran massa udara yang masuk ke

ruang pengering sebesar 0,1 kg/s, penutup kaca diatas ruang pengering dilepas, berat

kopra sebesar 1 kg dan menggunakan kolektor ½ parabola.

Tabel 4.2 Data penelitian variasi dua (aliran udara 0,1 kg/s, kaca terbuka, massa

kopra 1 kg, kolektor ½ parabola).

(42)
(43)

Selanjutnya adalah pengambilan data penelitian untuk variasi tiga. Data

penelitian variasi tiga adalah data yang diambil saat laju aliran massa udara yang

masuk ke ruang pengering sebesar 0,2 kg/s, penutup kaca diatas ruang pengering

terpasang, berat kopra sebesar 1 kg dan menggunakan kolektor ½ parabola.

Tabel 4.3 Data penelitian variasi tiga (aliran udara 0,2 kg/s, kaca tertutup, massa

kopra 1 kg, kolektor ½ parabola).

(44)

Tabel 4.3 Data penelitian variasi tiga (aliran udara 0,2 kg/s, kaca tertutup, massa

Data selanjutnya adalah data penelitian pada variasi empat. Variasi empat adalah

data yang diambil saat laju aliran massa udara yang masuk ke ruang pengering sebesar

(45)

Tabel 4.4 Data penelitian variasi empat (aliran udara 0,2 kg/s, kaca terbuka, massa

Data penelitian yang terakhir adalah data penelitian variasi lima. Variasi lima

adalah data yang diambil saat laju aliran massa udara yang masuk ke ruang pengering

sebesar 0,2 kg/s, penutup kaca diatas ruang pengering terpasang, berat kopra sebesar 1

(46)
(47)

Tabel 4.5 Data penelitian variasi lima (aliran udara 0,2 kg/s, kaca tertutup, massa

Pembahasan data penelitian ini meliputi perhitungan untuk menghitung

nilai kelembapan relatif, efisiensi pengambilan kadar air (ηp), nilai energi

berguna (Qu), efisiensi penukar kalor, efisiensi kolektor (ηc), efisiensi sistem

pengering (ηu) dan membuat analisa pembahasan berupa grafik. Grafik analisa

meliputi grafik perbandingan RH masuk penukar kalor, keluar penukar kalor,

keluar ruang pengering terhadap waktu dan daya surya yang diterima. Grafik

analisa yang lain adalah grafik efisiensi sistem pengambilan, efisiensi kolektor,

efisiensi sistem pengering dan penurunan massa kopra terhadap masing-masing

variasi.

Hal yang pertama dalam menghitung variabel data penelitian adalah

menghitung nilai kelembapan relatif (RH). Berikut ini adalah salah satu

perhitungan kelembapan relatif dari data penelitian variasi satu pukul 10.35 di

variabel T1 dan T2. Persaam untuk menghitung kelembapan relatif diambil dari

persamaan (7), (8) dan (9).

Variabel yang diketahui :

(48)
(49)

Untuk mempercepat perhitungan RH dari masing-masing variabel setiap

variasi, perhitungan dilakukan di Ms. Excel. Setelah masing-masing variabel

selesai dihitung maka selanjutnya adalah menghitung nilai efisiensi sistem

pengambilan. Persamaan efisiensi sistem pengambilan menggunakan persamaan

(6).

� = _ − _

_ − _

Berikut ini perhitungan sistem efisiensi dari data penelitian variasi satu. Efisiensi

yang dihitung adalah efisiensi rata-rata dari variabel data.

_ = 63%

_ = 24%

_ = 91%

� = 63%−24%

91%−24%= 58,2%

Setelah menghitung kelembapan relatif dan efisiensi sistem pengambilan.

Selanjutnya adalah menghitung energi berguna. Persamaan yang digunakan

untuk menghitung energi berguna diambil dari persamaan (1)

= .� . (�1− �2)

Untuk mengetahui laju aliran massa air yang keluar dan masuk penukar kalor

( ) digunakan persamaan (3)

(50)

dimana nilai debit (Q) adalah 2,14 L/m atau 3,56.10-5 m3/s dan � rata-rata air

pada suhu 32 °C adalah 999,8 kg/m3. Maka dapat diketahui nilai

= .�

= 3,56. 10−5. 999,8 = 0,03566 kg/s

Bila laju aliran massa pada fluida air diketahui maka selanjutnya menghitung

energi berguna. Berikut ini adalah variabel perhitungan energi berguna pada

temperatur rata-rata suhu air yang masuk dan keluar penukar kalor pada data

variasi 5.

Cp air suhu rata-rata 36 °C = 4225 J/kg. °C

T1 = 37 °C

T2 = 35 °C

Maka,

= .� . �1− �2

= 0,03566 . 4225 . 37−35

= 300,116 �/

Setelah energi berguna sudah diketahui, langkah selanjutnya adalah

menghitung efisiensi kolektor. Efisiensi kolektor dapat dihitung dari persamaan

(5) yakni:

� =

� . 0 .

Nilai 0 . diambil dari rata-rata energi surya yang diterima pada variasi lima

(51)

Pada variasi lima kolektor yang digunakan adalah kolektor plat datar, dengan

luas 0,5 m2. Maka besarnya nilai efisiensi kolektor adalah

� = 300,116

0,5 . 602= 99,16%

Perhitungan selanjutnya adalah menghitung energi yang digunakan untuk

menguapkan air. Energi yang dibutuhkan untuk menguapkan air dituliskan

dengan persamaan (4) = . dimana adalah massa air yang

berkurang tiap 1 detik, dengan menghitung dari penurunan berat kopra dari

waktu pengambilan data selama 3 jam. Dari variasi data lima didapatkan nilai

= 1,19. 10−5 / dan nilai yang diambil dari rata-rata entalpi uap

jenuh udara yang keluar dari penukar kalor yakni sebesar 2,44. 106 / .

Sehingga didapatkan nilai energi yang dibutuhkan untuk mengupakan air per

satuan waktu adalah sebagai berikut.

= 1,19. 10−5 . 2,44. 106 = 29,18 �/

Perhitungan yang terakhir adalah menghitung nilai efisiensi dari sistem

pengering. Persamaan yang digunakan untuk menghitung efisiensi sistem

pengering diambil dari persamaan (10). Berikut ini adalah perhitungan efisiensi

(52)

Masing-masing variabel dari tiap-tiap variasi dihitung dengan

menggunakan Ms. Excel. Dalam perhitungan terdapat hasil-hasil yang tidak

valid. Hal ini disebabkan oleh ketidakakuratan alat ukur temperatur, sehingga

terjadi perbedaan antara temperatur yang terbaca dalam alat ukur dan temperatur

sebenarnya. Dalam menganalisis data penelitian dari masing-masing variasi,

maka hasil analisis dilakukan lewat pengamatan grafik. Berikut ini adalah grafik

hasil perhitungan data penelitian dan uraian singkat dari analisis masing-masing

grafik.

Gambar 4.1 Grafik hubungan RH dan energi surya terhadap waktu pada data

penelitian variasi satu (aliran udara 0,2 kg/s, kaca terbuka, massa kopra

(53)

Gambar 4.2 Grafik hubungan RH dan energi surya terhadap waktu pada data

penelitian variasi dua (aliran udara 0,1 kg/s, kaca terbuka, massa kopra

1 kg, kolektor ½ parabola).

Gambar 4.3 Grafik hubungan RH dan energi surya terhadap waktu pada data

penelitian variasi tiga (aliran udara 0,2 kg/s, kaca tertutup, massa kopra

(54)

Gambar 4.4 Grafik hubungan RH dan energi surya terhadap waktu pada data

penelitian variasi empat (aliran udara 0,2 kg/s, kaca terbuka, massa

kopra 2 kg, kolektor ½ parabola).

Gambar 4.5 Grafik hubungan RH dan energi surya terhadap waktu pada data

penelitian variasi lima (aliran udara 0,2 kg/s, kaca tertutup, massa kopra

(55)

Gambar 4.6 Grafik efisiensi pengambilan kadar air.

Efisiensi pengambilan kadar air didefinisikan sebagai perbandingan uap air yang

dipindahkan (diambil) oleh udara dalam alat pengering dengan kapasitas teoritis udara

menyerap air. Dari grafik batang efisiensi pengambilan kadar air pada Gambar 4.6,

nilai tertinggi terdapat di variasi data keempat. Efisiensi pengambilan kadar air dari

variasi empat lebih besar 45,94% dari variasi satu. Meningkatnya efisiensi

pengambilan kadar air pada varisi data empat dipengaruhi oleh jumlah massa kopra

yang dikeringkan. Semakin besar massa kopra yang dikeringkan meningkatkan

konsentrasi uap air yang dilepas ke udara dibandingkan dengan massa kopra yang

kecil. Sehingga udara yang keluar dari ruang pengering dengan massa kopra lebih

besar mempunyai nilai kelembapan relatif yang lebih besar dibanding dengan massa

kopra yang lebih kecil. Hal ini dapat dilihat di Gambar 4.4 dan Gambar 4.1 tentang

grafik hubungan RH dan energi surya terhadap waktu.

(56)

Gambar 4.7 Grafik efisiensi sistem pengering

Efisiensi sistem pengering didefinisikan sebagai perbandingan antara energi

yang digunakan untuk menguapkan air hasil pertanian yang dikeringkan dengan energi

yang datang pada alat pengering. Dari grafik batang pada Gambar 4.7 dan Gambar 4.8

diketahui bahwa efisiensi sistem pengering dengan menggunakan kolektor plat datar

pada variasi lima meningkat 121,62% daripada menggunakan kolektor ½ parabola

pada variasi tiga. Hal ini disebabkan kolektor plat datar ada selubung kaca yang

menyebabkan kalor tidak mudah lepas dari permukaan plat, berbeda dengan plat

penerima kalor dari kolektor ½ parabola yang tidak diberi selubung. Sehingga kalor

yang dilepas di penukar kalor dapat efektif.

(57)

Gambar 4.8 Grafik efisiensi sistem pengering pada variasi 3 dan 5

Efisiensi sistem pengering pada variasi 1 dan 3 pada Gambar 4.9 menunjukkan

bahwa nilai efisiensi dari tertutupnya kaca pada ruang pengering meningkat 22,76%

dibanding penutup kaca yang terbuka. Hal ini dapat menunjukkan bahwa pada proses

pengeringan dengan menggunakan jenis aliran paksa, pada pemanasan langsung

menggunakan energi surya kepada benda yang dikeringkan tidak memberi hasil cukup

baik. Penyebab hal ini adalah karena kalor yang masuk ke dalam ruang pengering

lebih cepat hilang bersama udara yang mengalir ke dalam ruangan. Sehingga kalor

hanya memanasi udara yang mengalir dan tidak memanasi benda yang dikeringkan.

(58)

Gambar 4.9 Grafik efisiensi sistem pengering pada variasi 1 dan 3

Efisiensi kolektor adalah perbandingan jumlah energi yang dipindahkan penukar

kalor ke udara dengan total energi yang datang ke kolektor. Dari grafik batang

efisiensi kolektor pada Gambar 4.10 diketahui bahwa efisiensi kolektor dengan

menggunakan kolektor plat datar pada variasi lima meningkat 40,67% dibandingkan

dengan menggunakan kolektor ½ parabola pada variasi tiga. Hal ini disebabkan pada

kolektor plat datar fluida air terpanasi secara sempurna ketika melewati kolektor plat

datar, karena luas penyerapan kalor yang lebih besar dibanding dengan penerima kalor

dari kolektor ½ prabola. Sehingga panas yang dibuang ke udara lewat penukar kalor

lebih baik sehingga efisiensi kolektor meningkat.

Penurunan massa kopra pada masing-masing variasi ditunjukkan pada Gambar

4.11 . Penurunan massa pada variasi empat lebih besar 17,32% dibandingkan variasi

satu, dikarenakan jumlah massa yang lebih besar, sehingga nilai penurunan massa

(59)

lebih besar. Tetapi bila massa benda yang dikeringkan dihitung tiap 1 kg, maka

penurunan berat kopra pada variasi empat hanya sebesar 105 gram. Nilai penurunan

massa pada variasi empat ini lebih kecil dibanding variasi yang lain.

Gambar 4.10 Grafik efisiensi kolektor

Gambar 4.11 Grafik penurunan massa kopra

(60)

BAB V

PENUTUP

5.1Kesimpulan

1. Telah dibuat pengering kopra energi surya jenis aliran paksa.

2. Efisiensi pengambilan kadar air maksimum dicapai sebesar 84,67% dengan

variasi laju aliran massa udara 0,2 kg/s, penutup kaca terbuka, kolektor ½

parabola dan massa kopra 1 kg.

3. Efisiensi sistem pengering maksimum sebesar 9,69% dengan variasi laju

aliran massa udara 0,2 kg/s, penutup kaca tertutup, kolektor plat datar dan

massa kopra 1 kg.

4. Efisiensi kolektor maksimum sebesar 99,16% dengan variasi laju aliran

massa udara 0,2 kg/s, penutup kaca tertutup, kolektor plat datar dan massa

kopra 1 kg.

5. Penurunan massa kopra maksimum sebesar 210 gram dengan variasi laju

aliran massa udara 0,2 kg/s, penutup kaca terbuka, kolektor ½ parabola dan

massa kopra 2 kg.

5.2Saran

Setelah penulis menyelesaikan penelitian maka beberapa saran yang dapat

penulis berikan agar penelitian selanjutnya dapat lebih optimal adalah:

1. Perlunya kalibarasi alat ukur temperatur antara nilai suhu yang tercantum di

penampil termometer digital dengan nilai yang tercantum di termometer air

(61)

2. Pengecekan alat seperti termokopel selalu dilakukan sebelum pengambilan

data untuk mencegah bila ada termokopel yang rusak sehingga tidak

mengganggu saat pengambilan data.

(62)

DAFTAR PUSTAKA

Arismunandar, W., (1995), Teknologi Rekayasa Surya. Jakarta : Pradnya Paramita,pp

141-152.

Cengel, Y.A.,&, M.A., (1989) Thermodynamics an Enginering Aproach 5th, Mc. Graw

Hill New York,pp 717-739.

Taib, Gunarif. Said, Gumbira dan Wiraatmadja, Sutedja, (1988), Operasi Pengeringan

Pada Pengolahan Hasil Pertanian. Jakarta: PT Melton Putera.

Choudhury C.; Anderson S.L.; Rekstad, J., (1988) A solar air heater for low

temperature applications, Solar Energy 40, pp 335-344.

Garg, H.P.; Choudhury, C.; , Datta, G., (1991), Theoretical analysis on a new finned

type solar air heater, Solar Energy, 16, pp1231-1238.

Häuser; Markus; Ankila; Omar, (2009) Morroco Solar Dryer Manual; Centre de

Développement des Energies Renouvelables (CER), http://lwww.gtz.de/gate/isat

Kurtbas, I.; Turgut, E. (2006), Experimental Investigation of Solar Air Heater with

Free and Fixed Fins: Efficiency and Exergy Loss, International Journal of Science &

Technology, Volume 1, No 1, 75-82.

Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral, (2003), Kebijakan Pengembangan Energi

Terbarukan Dan Konservasi Energi (Energi Hijau), Departemen Energi Dan Sumber

(63)

Scanlin, D., (1997), The Design, Construction And Use Of An Indirect, Through-Pass,

Solar Food Dryer, Home Power , Issue No. 57, pages 62 -72, February/March 1997.

Scanlin, D; Renner, M.; Domermuth, D.; Moody, H., (1999), Improving Solar Food

Dryers, Home Power, Issue No. 69, pages 24 -34, February / March 1999

Sharma, S.P.; Saini J.S.; Varma, K.K.; (1991), Thermal performance of packed-bed

solar air heaters, Solar Energy, 47, pp 59 - 67.

Solar Dryer. http://www.nepalsolar.com/products.php. Diakses pada tanggal 10 Juni

(64)

LAMPIRAN

Gambar 6.1 Ruang pengering kopra.

(65)

c

Gambar 6.3 Alat penelitian menggunakan kolektor ½ parabola

(66)

(a) (b)

(c)

(d)

Gambar 6.5 Alat pendukung pengambilan data, (a) Anemometer; (b) Solarmeter;

(c) Termo Logger; (d) Timbangan Digital

Figur

Gambar 2.1 Alat pengering energi surya jenis aliran udara alami.
Gambar 2 1 Alat pengering energi surya jenis aliran udara alami . View in document p.20
Gambar 2.2 Alat pengering energi surya jenis aliran udara paksa.
Gambar 2 2 Alat pengering energi surya jenis aliran udara paksa . View in document p.21
Gambar 2.3 Skema alat pengering energi surya tipe aliran udara paksa.
Gambar 2 3 Skema alat pengering energi surya tipe aliran udara paksa . View in document p.21
Gambar 2.6 Bagian parabola scheffler di parabola biasa
Gambar 2 6 Bagian parabola scheffler di parabola biasa . View in document p.25
Gambar 3.1 Skema alat penelitian dengan kolektor ½ parabola.
Gambar 3 1 Skema alat penelitian dengan kolektor parabola . View in document p.33
Gambar 3.2 Skema alat penelitian dengan kolektor plat datar.
Gambar 3 2 Skema alat penelitian dengan kolektor plat datar . View in document p.34
Gambar 3.5 Ruang pengering tampak belakang.
Gambar 3 5 Ruang pengering tampak belakang . View in document p.35
Gambar 3.8 Kolektor plat datar (a) Tampak depan, (b) tampak samping
Gambar 3 8 Kolektor plat datar a Tampak depan b tampak samping . View in document p.36
Gambar 3.6 Penukar kalor (a) Tampak depan, (b) Tampak kiri.
Gambar 3 6 Penukar kalor a Tampak depan b Tampak kiri . View in document p.36
Gambar 3.7 Kolektor ½ parabola tampak atas
Gambar 3 7 Kolektor parabola tampak atas . View in document p.36
Tabel 4.1  Data penelitian variasi satu (aliran udara 0,2 kg/s, kaca terbuka, massa
Tabel 4 1 Data penelitian variasi satu aliran udara 0 2 kg s kaca terbuka massa . View in document p.40
Tabel 4.2  Data penelitian variasi dua (aliran udara 0,1 kg/s, kaca terbuka, massa
Tabel 4 2 Data penelitian variasi dua aliran udara 0 1 kg s kaca terbuka massa . View in document p.42
Tabel 4.3 Data penelitian variasi tiga (aliran udara 0,2 kg/s, kaca tertutup, massa
Tabel 4 3 Data penelitian variasi tiga aliran udara 0 2 kg s kaca tertutup massa . View in document p.43
Gambar 4.1 Grafik hubungan RH dan energi surya terhadap waktu pada data
Gambar 4 1 Grafik hubungan RH dan energi surya terhadap waktu pada data . View in document p.52
Gambar 4.2  Grafik hubungan RH dan energi surya terhadap waktu pada data
Gambar 4 2 Grafik hubungan RH dan energi surya terhadap waktu pada data . View in document p.53
Gambar 4.3  Grafik hubungan RH dan energi surya terhadap waktu pada data
Gambar 4 3 Grafik hubungan RH dan energi surya terhadap waktu pada data . View in document p.53
Gambar 4.4  Grafik hubungan RH dan energi surya terhadap waktu pada data
Gambar 4 4 Grafik hubungan RH dan energi surya terhadap waktu pada data . View in document p.54
Gambar 4.5  Grafik hubungan RH dan energi surya terhadap waktu pada data
Gambar 4 5 Grafik hubungan RH dan energi surya terhadap waktu pada data . View in document p.54
Gambar 4.6 Grafik efisiensi pengambilan kadar air.
Gambar 4 6 Grafik efisiensi pengambilan kadar air . View in document p.55
Gambar 4.7 Grafik efisiensi sistem pengering
Gambar 4 7 Grafik efisiensi sistem pengering . View in document p.56
Gambar 4.8 Grafik efisiensi sistem pengering pada variasi 3 dan 5
Gambar 4 8 Grafik efisiensi sistem pengering pada variasi 3 dan 5 . View in document p.57
Gambar 4.9 Grafik efisiensi sistem pengering pada variasi 1 dan 3
Gambar 4 9 Grafik efisiensi sistem pengering pada variasi 1 dan 3 . View in document p.58
Gambar 4.10 Grafik efisiensi kolektor
Gambar 4 10 Grafik efisiensi kolektor . View in document p.59
Gambar 4.11 Grafik penurunan massa kopra
Gambar 4 11 Grafik penurunan massa kopra . View in document p.59
Gambar 6.1 Ruang pengering kopra.
Gambar 6 1 Ruang pengering kopra . View in document p.64
Gambar 6.2 Penerima kalor dari kolektor ½ parabola
Gambar 6 2 Penerima kalor dari kolektor parabola. View in document p.64
Gambar 6.3 Alat penelitian menggunakan kolektor ½  parabola
Gambar 6 3 Alat penelitian menggunakan kolektor parabola . View in document p.65
Gambar 6.4 Alat penelitian menggunakan kolektor plat datar
Gambar 6 4 Alat penelitian menggunakan kolektor plat datar . View in document p.65
Gambar 6.5 Alat pendukung pengambilan data, (a) Anemometer; (b) Solarmeter;
Gambar 6 5 Alat pendukung pengambilan data a Anemometer b Solarmeter . View in document p.66
Gambar 6.6 Buah kelapa (kopra) yang dikeringkan
Gambar 6 6 Buah kelapa kopra yang dikeringkan . View in document p.66

Referensi

Memperbarui...