• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN ANTARA ORIENTASI GENDER DENGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUBUNGAN ANTARA ORIENTASI GENDER DENGAN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA ORIENTASI GENDER DENGAN PERILAKU

II Drs. Sumardjono Padmomartono, M. Pd

(Program Studi Bimbingan dan Konseling-FKIP-UKSW)

Penelitian ini merupakan penelitian korelasional yang bertujuan untuk mengetahui signifikasi hubungan antara orientasi gender dengan perilaku asertif mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Kristen Satya Wacana. Subjek penelitian ini melibatkan Mahasiswa BK FKIP UKSW sebanyak 160 mahasiswa terdiri dari 70 orang mahasiswa laki-laki dan 90 orang mahasiswa perempuan. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan Bem Sex Role Inventory dan Rathus Assertivenes Schedule. Untuk mengetahui korelasi antara feminine dengan perilaku asertif mahasiswa, teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis Kendal’s Tau_b. Sedangkan untuk mengetahui korelasi antara maskulin dengan perilaku asertif mahasiswa menggunakan teknik analisis Product Moment Pearson. Hasil penelitian menunjukkan nilai sig. (2-tailed) sebesar 0,551 (p>0,05) artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara feminine dengan perilaku asertif mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Kristen Satya Wacana dan nilai sig. (2-tailed) sebesar 0,05 (>0,05) artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara maskulin dengan perilaku asertif mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Kristen Satya Wacana.

Kata Kunci : Orientasi Gender, Perilaku Asertif

PENDAHULUAN

(2)

gender. Orientasi gender merupakan kategori feminin dan maskulin. Individu dengan orientasi gender feminine biasanya memiliki stereotype gender sebagai berikut: 1) lemah lembut, 2) cenderung pasif, 3) periang, 4) cepat mengalah, dan 5) bersifat kewanitaan. Sedangkan gender maskulin biasanya 1) ambisius, 2) memiliki perilaku asertif, 3) tegas, 4) dominan, dan 5) bersifat kelaki-lakian (Bem, 1975).

Bem (1975) menyatakan bahwa perilaku asertif merupakan salah satu dari ciri kepribadian yang berhubungan dengan orientasi gender. Perilaku asertif adalah kemampuan individu untuk dapat mengemukakan pendapat, perasaan dan kebutuhan-kebutuhannya secara jujur, tanpa menyakiti orang lain atau merugikan orang yang ada di sekitarnya (Rathus, 1977). Apabila mengalami konflik dengan orang lain, individu akan terlihat lebih matang secara emosi karena individu menanggapi kritik dengan lapang dada dan marah dengan kepala dingin. Sehingga dapat mengungkapkan perasaan marah secara tepat, mampu mengungkapkan ketidaksetujuan tanpa menyakiti perasaan orang lain, bersikap tegas, mampu beradaptasi dengan lingkungan baru yang beragam, selalu memerlukan dan menginginkan kerjasama dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhannya(Hayes, 2002).

Bem (1975) menyatakan bahwa Individu maskulin memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku asertif mahasiswa sedangkan individu feminine tidak. Pernyataan tersebut dibuktikan juga oleh hasil panelitian Lohr, Nix dan Stauffer (1980) yang membuktikan ada hubungan yang signifikan antara maskulin dengan perilaku asertif mahasiswa. Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Tolor, Kelly dan Stebbins (1976) yang menemukan adanya hubungan positif yang signifikan antara gender maskulin dan feminine dengan perilaku asertif dan konsep diri mahasiswa. Lalu berbeda pula dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Campbell, Olson dan Kleim (1990) yang menemukan ada hubungan yang signifikan antara feminine dengan Conversational Assertiveness. Sedangkan maskulin tidak ada hubungan yang signifikan dengan perilaku asertif mahasiswa (P>0,05).

(3)

Stebbins (1976) menunjukkan ada hubungan positif yang signifikan antara maskulin dan feminine dengan perilaku asertif mahasiswa. Namun penelitian Lohr, Nix dan Stauffer (1980) menunjukkan bahwa hanya maskulin yang memiliki hubungan signifikan dengan perilaku asertif mahasiswa. Berbeda pula dengan hasil penelitian Campbell, Olson dan Kleim (1990) yang menunjukkan bahwa feminine memiliki hubungan signifikan dengan perilaku asertif sedangkan maskulin tidak memiliki hubungan yang signifikan. Berdasarkan perbedaan hasil penelitian tersebut, untuk mengetahui kebenarannya maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Oleh sebab itu, peneliti tertarik melakukan penelitian tentang adanya hubungan antara orientasi gender dengan perilaku asertif mahasiswa.

Peneliti melakukan pra penelitian tanggal 25 Agustus 2016 kepada calon konselor yaitu mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Kristen Satya Wacana (BK UKSW). Mahasiswa yang menjadi subjek pra penelitian yaitu mahasiswa aktif BK UKSW angkatan 2016 sebanyak 40 orang. Berdasarkan hasil pra penelitian terdapat mahasiswa androgyn, feminine dan maskulin. Untuk hasil pra penelitian yang lebih rinci adalah sebagai berikut:

Tabel 1.1 Perilaku Asertif Mahasiswa BK Angkatan 2016

N

O PERILAKUASERTIF ORIENTASI GENDERA F M

1 Sangat Rendah 30% 26,6% 60%

Hasil pra penelitian pada tabel 1.1, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar mahasiswa feminine memiliki perilaku asertif sedang (40%) sedangkan mahasiswa maskulin sebagian besar memiliki perilaku asertif yang sangat rendah (60%). Hasil pra penelitian ini tidak sejalan dengan Bem (1975) yang menyatakan bahwa Individu maskulin lebih asertif dibandingkan individu feminine. Oleh sebab itu, peneliti tertarik memilih mahasiswa BK UKSW sebagai subjek penelitian.

Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, peneliti tertarik melakukan penelitian tentang “Hubungan Antara Orientasi Gender dengan Perilaku Asertif Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Kristen Satya Wacana”.

Rumusan Masalah

(4)

1) Adakah hubungan yang signifikan antara feminine dengan perilaku asertif Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Kristen Satya Wacana ?

2) Adakah hubungan yang signifikan antara maskulin dengan perilaku asertif Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Kristen Satya Wacana ?

Tujuan Penelitian

1) Untuk mengetahui signifikansi hubungan antara feminin dengan perilaku asertif Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Kristen Satya Wacana.

2) Untuk mengetahui signifikansi hubungan antara maskulin dengan perilaku asertif Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Kristen Satya Wacana.

LANDASAN TEORI

Orientasi Gender

Menurut Bem (1974) Orientasi Gender merupakan karakteristik kepribadian laki-laki dan perempuan yang dklasifikansikan kedalam 4 peran, yaitu :

1. Maskulin

Maskulin yaitu individu yang memiliki sifat kelaki-lakian diatas rata-rata dan sifat kewanitaannya kurang dari rata-rata. Ciri-ciri yang berkaitan dengan gender maskulin yang lebih umum ditemukan pada laki-laki atau suatu gender maskulin yang dibentuk oleh budayanya. Dengan demikian gender maskulin adalah sifat dipercaya dan dibentuk oleh budaya sebagai ciri-ciri yang ideal bagi laki-laki.

2. Feminin

Feminine yaitu individu yang memiliki sifat keperempuanan diatas rata-rata dan sifat kelaki-lakiannya kurang dari rata-rata. Ciri-ciri yang berkaitan dengan gender feminine yang lebih umum ditemukan pada perempuan atau suatu gender feminine yang dibentuk oleh budayanya.

3. Androgin

Androgin yaitu individu yang memiliki sifat kelaki-lakian dan keperempuanan yang seimbang. Individu akan berperilaku fleksibel yang memiliki mental yang sehat dibandingkan feminin dan maskulin.

4. Undifferentiated

(5)

Pengukuran Gender

Pengukuran gender dapat dilakukan dengan menggunakan alat ukur sebagai berikut : 1. The Personal Attributes Questionnaire (PAQ)

PAQ umumnya digunakan untuk membantu menggolongkan gender seseorang dalam maskulinitas atau feminitas (Spence, Helmreich & Stapp, 1973). Kuisioner ini berisi 24 pernyataan bertentangan yang dinilai dalam 5 skala poin. Skala ini adalah nilai feminine, nilai maskulin dan sex specific. Total skor dari 3 skala (maskulin, feminine dan maskulin-feminin) ditentukan oleh penjumlahan dari setiap item(Smith, 1983).

2 The Cecco-shively Social Sexrole Inventory (CSI)

The Cecco-shively Social Sexrole Inventory adalah inventori yang memiliki empat kategori, yaitu : 1) personality/ kepribadian, 2) appearance/ penampilan, 3) speech/ ucapan dan 4) mannerisms/ tingkah laku. Ciri-ciri dari setiap kategori tersebut membantu menggolongkan gender femininitas dan maskulinitas seseorang. Setiap karakteristik yang ada dalam skala maskulin dan skala feminine disediakan 4 alternatif jawaban (1 sampai 4) yang dapat dipilih responden untuk memilih satu jawaban yang sesuai dengan keadaan sebenarnya(Smith, 1983).

3 PRF-Andro Scale

PRF-Andro Scale adalah usaha untuk mengukur maskulinitas, feminitas, dan androgini, memanfaatkan 63 item dari Jackson Personality Research Form (PRF). Skala ini memiliki 29 item subskala maskulinitas dan 27 item subskala feminitas. Skala ini menurunkan skor maskulinitas dan feminitas setiap individu dan membandingkan skor tersebut dengan nilai median maskulinitas dan feminitas dari skor total kelompok. Subyek yang memiliki skor diatas median feminitas dan median maskulinitas dikategorikan sebagai "androgin", subjek yang memiliki skor diatas median maskulinitas dan di bawah median feminitas dikategorikan sebagai ”maskulin”, subjek yang memiliki skor diatas median femininitas dan di bawah median maskulinitas dikategorikan “feminine”, dan subjek yang memiliki skor di bawah median maskulinitas dan median feminitas dikategorikan sebagai ”undifferentiated” (Smith, 1983).

(6)

Bem Sex Role Inventory (Bem, 1974, 1977,1979, 1985) adalah sebuah instrument pengukuran yang akan mengidentifikasi individu dalam kelompok sex typed (maskulin atau feminin). Bem Sex Role Inventory dalam pendistribusiannya kepada responden tidak akan terlihat jelas tetapi sebenarnya dalam butir-butir ciri kepribadian mengandung 20 ciri yang merefleksikan definisi budaya tentang maskulinitas, 20 ciri yang merefleksikan definisi budaya tentang femininitas, dan 20 ciri yang merefleksikan sifat pribadi yang netral artinya ciri tersebut dimiliki oleh keduanya sehingga total butir keseluruhan adalah 60 butir ciri kepribadian.

Dari 4 instrument yang mengukur gender, peneliti menggunakan Bem Sex Role Inventory (BSRI) karena item karakteristik kepribadian dalam BSRI lebih banyak dibandingkan The Personal Attributes Questionnaire (PAQ) dan PRF-Andro Scale sehingga semakin lengkap karakteristik yang mendukung pengkategorian individu ke dalam orientasi gender.

Perilaku Asertif

Menurut Rathus dan Nevid (1983) perilaku asertif adalah perilaku yang menampilkan keberanian untuk secara jujur dan terbuka menyatakan kebutuhan, perasaan, dan pikiran-pikiran apa adanya, mempertahankan hak-hak pribadi, serta menolak permintaan-permintaan yang tidak masuk akal dari figur otoritas dan standar-standar yang berlaku pada suatu kelompok.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Asertif

Menurut Rathus dan Nevid (1983), terdapat enam hal yang mempengaruhi perkembangan perilaku asertif, yaitu:

1. Jenis kelamin.

(7)

dan memiliki rasa hormat lebih besar kepada laki-laki yang cukup nyaman dengan dirinya dan tidak perlu merendahkan orang lain untuk menaikkan dirinya.

2. Self esteem.

Individu yang berhasil untuk berperilaku asertif adalah individu yang harus memiliki keyakinan. Orang yang memiliki keyakinan diri yang tinggi memiliki kekuatiran sosial yang rendah sehingga mampu mengungkapkan pendapat dan perasaan tanpa merugikan orang lain dan diri sendiri.

3. Kebudayaan.

Kebudayaan juga mempengaruhi perilaku yang muncul. Kebudayaan dibuat sebagai pedoman batas-batas perilaku setiap individu. Biasanya kebudayaan berhubungan dengan norma-norma, di mana setiap kebudaayaan mempunyai aturan atau norma yang berbeda dan perbedaan ini mempengaruhi perbedaan pribadi individu. Senada dengan Townend, Alberti & Emmons (2002:17), mengatakan bahwa perubahan-perubahan pribadi menuntun kesadaran yang lebih dari latar belakang budaya yang berbeda.

4. Tingkat pendidikan.

Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin luas wawasan berpikir sehingga memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri dengan lebih terbuka.

5. Tipe kepribadian. Seseorang akan bertingkah laku berbeda dengan individu kepribadian lain.

6. Situasi tertentu di lingkungan sekitarnya.

Rathus & Nevid (1983), dalam berperilaku seseorang akan melihat kondisi dan situasi dalam artian luas. Lingkungan sekitar yang mempengaruhi perilaku asertif seperti sekolah dan tempat kerja.

7. Kemampuan komunikasi.

Rakos (1991: 18), komunikasi akan membuat kita dapat memahami apa yang dimaksud orang lain melalui kata-kata, dengan begitu kita dapat mengekspresikan perilaku asertif dengan bebas dan langsung.

8. RAS mempengaruhi perilaku asertif, di mana menurut Garrison dan Jenkins (Rakos, 1991) ras kulit putih lebih asertif dibandingkan dengan ras kulit hitam.

(8)

Aspek-aspek Perilaku Asertif

Menurut Rathus dan Nevid (1983) ada 10 aspek perilaku asertif, yaitu : 1) Bicara Asertif.

2) Mampu mengungkapkan perasaan. 3) Memberikan salam kepada orang lain.

4) Mampu menampilkan cara yang efektif dan jujur dalam menyatakan rasa tidak setuju. 5) Mampu menanyakan alasan bila diminta untuk melakukan sesuatu.

6) Membicarakan diri sendiri mengenai pengalaman-pengalaman dengan cara yang menarik. 7) Menghargai pujian orang lain dengan cara yang sesuai.

8) Menolak untuk menerima begitu saja yaitu mengakhiri percakapan yang bertele-tele dengan orang yang memaksakan pendapatnya.

9) Mampu menatap lawan bicara. 10) Respon melawan takut.

METODE PENELITIAN Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional. Penelitian korelasional adalah penelitian yang

menggunakan metode pertautan atau berusaha menghubung-hubungkan antara satu unsur atau

elemen dengan satu unsur atau elemen lain untuk menciptakan bentuk dan wujud baru yang

berbeda dengan sebelumnya (Sugiyono, 2014).

Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini sebanyak 160 mahasiswa aktif Program Studi Bimbingan dan

Konseling Universitas Kristen Satya Wacana yang terdiri dari: 80 orang perempuan dan 80

orang laki-laki.

Instrument Penelitian

Penelitian ini menggunakan Bem Sex Role Inventory yang disusun oleh Sandra L. Bem

(1974) untuk menggolongkan orientasi gender mahasiswa kedalam feminin dan maskulin.

(9)

Indonesia. Oleh sebab itu perlu diadakan uji coba untuk mengukur validitas instrumen dengan

bantuan SPSS Version 21.0 for windows. Berdasarkan hasil uji validitas, instrumen ini memiliki

nilai Corrected Item-Total Corelation antara 0,312-0,828. Sehingga dapat disimpulkan bahwa

setiap item memiliki nilai r ≥ 0,3 yang menunjukkan bahwa instumen valid. Berdasarkan hasil uji

reliabilitas, dapat diketahui bahwa nilai Cronbach’s Alpha Bem Sex Role Inventory sebesar α 0,

977 sehingga dapat dikatakan bahwa Bem Sex Role Inventory memiliki reliabilitas yang sangat

baik.

Sedangkan The Rathus Assertiveness Schedule yang disusun oleh Rathus A. Spencer (1987)

digunakan untuk mengukur perilaku asertif mahasiswa. Instrumen ini menggunakan bahasa

inggris yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Oleh sebab itu perlu diadakan uji

coba untuk mengukur validitas instrumen dengan bantuan SPSS Version 21.0 for windows.

Berdasarkan hasil uji validitas, instrumen ini memiliki nilai Corrected Item-Total Corelation

antara 0,303-0,499. Sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap item memiliki nilai r ≥ 0,3 yang

menunjukkan bahwa instumen valid. Selain itu berdasarkan uji Reliabilitas, The Rathus

Assertiveness Schedule memiliki nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,864 yang artinya reliabilitas

instrument ini termasuk dalam kategori baik.

Uji Normalitas

Tabel 3.9.a.1 Uji Normalitas Data RAS dan BSRI Mahasiswa Feminin dan Maskulin

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

ORIENTASI GENDER

FEMININ MASKULIN

BSRI RAS RAS BSRI

N 80 80 80 80

(10)

Std. Deviation 13,19594 23,49276 24,033 9,730

Most Extreme Differences

Absolute ,164 ,148 ,109 ,071

Positive ,135 ,148 ,109 ,059

Negative -,164 -,075 -,087 -,071

Kolmogorov-Smirnov Z 1,471 1,327 ,973 ,631

Asymp. Sig. (2-tailed) ,026 ,059 ,301 ,821

Berdasarkan tabel 3.9.a.1, uji normalitas RAS dan BSRI pada mahasiswa feminin, diketahui nilai

sig. (2-tailed) RAS sebesar 0,059 (>0,05) maka sebaran data dinyatakan memiliki distribusi

normal dan nilai sig. (2-tailed) BSRI sebesar 0,026 (<0,05) maka sebaran data tidak memiliki

distribusi normal. Sedangkan uji normalitas RAS dan BSRI pada mahasiswa maskulin, diketahui

nilai sig. (2-tailed) RAS sebesar 0,301(>0,05) maka sebaran data memiliki distribusi normal dan

nilai sig. (2-tailed) BSRI sebesar 0,821 (>0,05) maka sebaran data memiliki distribusi normal.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji korelasi antara feminine dengan perilaku

asertif mahasiswa BK UKSW dengan data tidak berdistribusi normal menggunakan teknik

analisis Kendall’s Tau_b (2-tailed). Sedangkan Teknik analisis data yang digunakan untuk

menguji korelasi antara maskulin dengan perilaku asertif mahasiswa BK UKSW menggunakan

teknik analisis Product Moment Pearson (2-tailed). Penelitian ini menggunakan bantuan SPSS

Version 21.0 for Windows.

HASIL PENELITIAN

Subjek dalam penelitian ini merupakan mahasiswa aktif Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Kristen Satya Wacana. Subjek sebanyak 160 mahasiswa yang terdiri dari 80 mahasiswa feminine dan 80 maskulin. Mahasiswa yang terlibat berusia 17-25 tahun. Sebagian besar mahasiswa feminine yang terlibat adalah mahasiswa yang berusia 19 tahun dan maskulin adalah mahasiswa yang berusia 20 tahun.

(11)

PERILAKU

Hasil penelitian memberikan gambaran tentang perilaku asertif mahasiswa. Hal ini terlihat

dari hasil analisis pada tabel 4.2.1.1 yang menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa

feminin memiliki perilaku asertif yang rendah (35%) dan mahasiswa maskulin memiliki perilaku

asertif yang sedang(30%). Namun terlepas dari orientasi gender mahasiswa BK UKSW, sebesar

25,62% mahasiswa memiliki perilaku asertif sedang.

Berdasarkan data tersebut menunjukkan sebagian besar mahasiswa feminin BK UKSW

didominasi oleh mahasiswa perempuan dan mahasiswa maskulin didominasi oleh mahasiswa

laki-laki. Dapat disimpulkan juga bahwa sebagian besar mahasiswa BK UKSW lebih banyak

yang berjenis kelamin perempuan.

Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian Bem (1975) yang menunjukkan bahwa

pada umumnya sebagian besar laki-laki lebih bersifat maskulin dan perempuan bersifat feminin.

Namun Bem juga menyatakan bahwa individu laki-laki dapat memiliki sifat feminine dan

sebaliknya individu perempuan juga dapat memiliki sifat maskulin. Hal tersebut dapat terjadi

(12)

Uji Korelasi

Uji korelasi antara feminine dengan perilaku asertif mahasiswa menggunakan teknik

analisis Kendall’s Tau_b (2-tailed) dengan bantuan SPSS Version 21.0 for Windows. Hasil

analisis adalah sebagai berikut :

Tabel. 4.3.1 Uji Korelasi Antara Feminin dengan Perilaku Asertif

Correlations

Dari tabel uji korelasi 4.3.1, diketahui nilai sig. (2-tailed) sebesar 0,551 (p>0,05) sehingga

dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara feminine dengan perilaku

asertif mahasiswa BK UKSW.

Tabel. 4.3.8 Uji Korelasi Antara Maskulin dengan Perilaku Asertif

(13)

Berdasarkan tabel uji korelasi antara maskulin dengan perilaku asertif diatas, diketahui

nilai sig. (2-tailed) sebesar 0,05 (p > 0,05) yang dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan

yang signifikan antara maskulin dengan perilaku asertif mahasiswa BK UKSW.

Uji Hipotesis

Hipotesis awal yang pertama dibuat peneliti adalah tidak ada hubungan yang signifikan

antara feminine dengan perilaku asertif mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling

Universitas Kristen Satya Wacana. Namun hasil analisis memperoleh nilai sig. (2-tailed) sebesar

0,551 (p>0,05). Dengan demikian (Ho1) diterima artinya tidak ada hubungan yang signifikan

antara feminin dengan perilaku asertif mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling

Universitas Kristen Satya Wacana.

Hipotesis kedua yang dibuat peneliti adalah ada hubungan yang signifikan antara maskulin

dengan perilaku asertif mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Kristen

Satya Wacana. Namun hasil analisis memperoleh nilai sig. (2-tailed) sebesar 0,050 (p ≤ 0,05).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis awal peneliti (Hi2) ditolak artinya tidak

ada hubungan yang signifikan antara maskulin dengan perilaku asertif mahasiswa Program Studi

Bimbingan dan Konseling Universitas Kristen Satya Wacana.

PEMBAHASAN

Setelah dilakukan penelitian mengenai hubungan antara orientasi gender dengan perilaku

asertif pada mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Kristen Satya

Wacana, yang menggunakan instrumen Bem Sex-role Inventory dan Rathus Assertiveness

Schedule diberikan kepada 160 mahasiswa yang terdiri dari 80 feminin dan 80 maskulin. Hasil

(14)

dan memiliki perilaku asertif rendah (35%). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Bem

(1975) yang membuktikan bahwa mahasiswa feminine sebagian besar memiliki perilaku asertif

rendah dan mahasiswa maskulin sebagian besar memiliki perilaku asertif sedang (30%).

Penelitian ini menghasilkan nilai sig. (2-tailed) sebesar 0,932 (p>0,05) dan nilai rxy= 0,013

untuk hubungan antara feminin dengan perilaku asertif mahasiswa, kemudian ditemukan juga

nilai sig. (2-tailed) sebesar 0,050 (p>0,05) dan nilai rxy= 0,220 untuk hubungan antara maskulin

dengan perilaku asertif mahasiswa. Artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara feminine

dan maskulin dengan perilaku asertif mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling

Universitas Kristen Satya Wacana.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lohr, Nix, dan

Stauffer (1980) yang menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara maskulin dengan

perilaku asertif namun feminin tidak memiliki hubungan yang signifikan. Namun hasil penelitian

ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Tolor, Kelly, dan Stebbins (1976)

yang menyatakan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara feminin dan maskulin

dengan perilaku asertif pada 73 mahasiswa perempuan dan 61 mahasiswa laki-laki.

Hal yang sama terungkap dalam penelitian ini bahwa penelitian ini juga tidak sejalan

dengan penelitian yang dilakukan oleh Campbell, Olson dan Kleim (1990) yang menunjukkan

bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara maskulin dengan perilaku asertif namun ada

hubungan yang signifikan antara gender feminine dengan Conversational Assertiveness.

Sesuai dengan hasil penelitian Bem (1975), hal ini dapat terjadi karena Orientasi gender

memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku asertif mahasiswa. perempuan lebih feminin

(15)

ditemukan juga dalam penelitian ini bahwa semakin bertambahnya masa belajar mahasiswa

maka semakin meningkat perilaku asertif mahasiswa karena perilaku asertif tidak terlepas dari

interaksi sosial mahasiswa dengan lingkungan sekitar dan kebudayaan yang dianut oleh

mahasiswa yang juga turut berperan mempengaruhi perilaku asertif mahasiswa tersebut.

Tabel 4.5.1 Uji Korelasi Feminin dengan Sub variabel Perilaku Asertif

UJI KORELASI SUB VARIABEL PERILAKU ASERTIF

1 2 3 4 5 6

Correlation Coefficient ,022 -,036 ,037 -,028 ,069 ,137 Sig. (2-tailed) ,783 ,665 ,643 ,726 ,390 ,084

Pada tabel 4.5.1, Sub variabel perilaku asertif berturut-turut : 1) kemampuan meminta

pertolongan dan menolak permintaan orang lain, 2) kemampuan menggunakan cara efektif

menyatakan ketidaksetujuan kepada orang lain, 3) kemampuan menjalin interaksi sosial, 4)

kemampuan mengungkapkan perasaan dan pikiran kepada orang lain, 5) kemampuan menerima

pujian dan mengungkapkan pujian kepada orang lain, dan 6) kemampuan menerima dan

memberikan keluhan kepada orang lain. Hasil uji korelasi pada tabel 4.5.1 menunjukkan nilai

Sig. (2-tailed) dari setiap variabel lebih dari 0,05 artinya feminine dengan setiap sub variabel

yang mengukur perilaku asertif mahasiswa tidak memiliki hubungan yang signifikan.

Tabel 4.5.1 Uji Korelasi Maskulin dengan Sub variabel Perilaku Asertif

UJI KORELASI SUB VARIABEL PERILAKU ASERTIF

1 2 3 4 5 6

Correlation Coefficient ,132 ,290** ,203 ,085 ,157 -,017 Sig. (2-tailed) ,242 ,009 ,071 ,455 ,165 ,881

Begitu juga dengan hasil uji korelasi pada tabel 4.5.2 menunjukkan nilai Sig. (2-tailed)

yang mengukur hubungan antara maskulin dengan setiap sub variabel perilaku asertif memiliki

nilai lebih dari 0,05 artinya maskulin dengan setiap sub variabel yang mengukur perilaku asertif

(16)

Berdasarkan hasil penelitian, terlepas dari orientasi gender yang dimiliki mahasiswa,

keputusan untuk memiliki perilaku asertif lebih tergantung pada keadaan situasional tidak hanya

berdasarkan orientasi gender mahasiswa. Jika mahasiswa ingin memiliki perilaku asertif dapat

melatihnya sendiri dengan latihan asertif maupun memperluas hubungan interpersonal dengan

orang banyak.

PENUTUP

Simpulan

Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara feminin

dengan perilaku asertif mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Kristen

Satya Wacana. Selain itu hasil penelitian juga menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara

maskulin dengan perilaku asertif mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling

Universitas Kristen Satya Wacana.

Feminine dan maskulin tidak berhubungan dengan tinggi atau rendahnya perilaku asertif

seseorang. Keputusan untuk memiliki perilaku asertif lebih tergantung pada keadaan situasional

bukan berdasarkan orientasi gender seseorang. Jika individu ingin memiliki perilaku asertif dapat

melatihnya sendiri dengan latihan asertif maupun memperluas hubungan interpersonal dengan

orang banyak.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diberikan peneliti yaitu :

1. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Campbell, Olson dan Kleim

(17)

sejalan dengan hasil penelitian Lohr, Nix, and Stauffer (1980). Sehingga penelitian ini

dapat memberikan informasi bagi peneliti selanjutnya mengenai orientasi gender ada

hubungan yang signifikan dengan perilaku asertif. Oleh sebab itu peneliti menyarankan

agar dilakukan penelitian yang berhubungan dengan orientasi gender dan perilaku

asertif dengan menambah variable dan sample yang lebih besar.

2. Berdasarkan hasil penelitian, Mahasiswa feminine disarankan untuk meningkatkan

perilaku asertif yang mendukung pemberian layanan Bimbingan dan Konseling dengan

Gambar

Tabel. 4.2.1.1 Deskriptif Perilaku Asertif Mahasiswa
Tabel 4.2.2.1 Kategorisasi Gender Mahasiswa
Tabel. 4.3.1 Uji Korelasi Antara Feminin dengan Perilaku Asertif
Tabel 4.5.1 Uji Korelasi Feminin dengan Sub variabel Perilaku Asertif

Referensi

Dokumen terkait

Hasil menunjukkan bahwa secara pasial hanya variabel kondisi keuangan yang berpengaruh secara signifikan terhadap pengurangan karyawan, sedangkan untuk

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mendukung kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan adalah : pemilihan jenis tanaman yang tepat, pelibatan masyarakat

Dose respone merupakan kadar tertinggi histamin yang terdapat pada bahan baku (ikan tuna) yang dapat menyebabkan bahaya dalam tubuh manusia. Hazard characterization

Pada awal muncunya ide bisnis percetakan de.seventeen printing adalah timbul dari peluang yang ada di mana pada akhir tahun 2009 perusahaan tersebut melakukan

Dari Gambar 3 pada kondisi laju nitrogen 10 ml/mnt dan 15 ml/mnt konversi yang dihasilkan paling rendah yaitu 0% pada kondisi ini tidak ada produk cair yang

Kelompok intervensi (n=100) menerima konseling perilaku (SCT) secara tatap muka dengan ahli diet yang difokuskan pada membangun self efficacy mengenai kepatuhan terhadap diet

2 PT TASPEN atau PT Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri persero merupakan Badan Usaha Milik Negara atau biasa disebut BUMN yang memiliki peran untuk menyelenggarakan

Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 menegaskan bahwa demokrasi yang merupakan manifestasi kedaulatan rakyat berupa penyerahan kepada rakyat untuk mengambil keputusan-keputusan politik