KEBIJAKAN KESEHATAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PELAYANAN KEPERAWATAN
Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah
MANAJEMEN STRATEGI DAN KEBIJAKAN KESEHATAN Dosen : Dr. UNTUNG SUJIANTO, S.Kp., M.Kes.
Oleh :
1. Kusnadi Jaya NIM. 22020114410044 2. Wiwin Nur Aeni NIM. 22020114410050
PROGRAM MAGISTER ILMU KEPERAWATAN J U R U S A N K E P E R A W A T A N
F A K U L T A S K E D O K T E R A N UNIVERSITAS DIPONEGORO
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem kesehatan memiliki hubungan yang erat dengan pembangunan kesehatan. Sistem kesehatan memiliki tujuan untuk dapat menilai dan fokus memberikan kemanfaatan kepada mayarakat. Manfaat yang diberikan didistribusikan dengan adil. Sektor kesehatan memiliki peran yang sangat penting karena mampu menyerap banyak sumber daya dan pembangkit perekonomian melalui inovasi dan investasi di bidang teknologi medis atau produksi dan penjualan obat-obatan, atau dengan menjamin populasi yang sehat dan produktif secara ekonomi.
Keperawatan adalah bagian integral dari kesehatan. Keperawatan sebagai sebuah profesi telah mengalami berbagai perkembangan ketika profesi ini berusaha untuk memenuhi tuntutan masyarakat dan mencoba menyetarakan diri pada MEA mendatang. Keperawatan dalam menghadapi perkembangan dan perubahan yang terjadi perlu melakukan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat. Proses pengambilan keputusan yang cepat dan tepat dilakukan agar eksistensi dan profesionalitas organisasi keperawatan beserta administrasi dan pendukungnya dapat berjalan terus dengan lancar.
Perawat sebagai salah satu jenis tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan langsung baik kepada individu, keluarga dan masyarakat. Sebagai salah satu tenaga profesional, keperawatan menjalankan dan melaksanakan kegiatan praktek keperawatan dengan mengunakan ilmu pengetahuan dan teori keperawatan yang dapat dipertanggung jawabkan. Dimana ciri sebagai profesi adalah mempunyai body of knowledge yang dapat diuji kebenarannya serta ilmunya dapat diimplementasikan kepada masyarakat langsung.
2
kesehatan dan kesejahteraan guna mempertahankan dan memelihara kesehatan serta menyembuhkan dari sakit, dengan kata lain upaya praktek keperawatan berupa promotif, preventif, kuratif dan rehabilitasi.
Dalam melakukan praktek keperawatan, perawat secara langsung berhubungan dan berinteraksi kepada penerima jasa pelayanan, dan pada saat interaksi inilah sering timbul beberapa hal yang tidak diinginkan baik disengaja maupun tidak disengaja, kondisi demikian inilah sering menimbulkan konflik baik pada diri pelaku dan penerima praktek keperawatan. Oleh karena itu profesi keperawatan harus mempunyai standar profesi dan aturan lainnya yang didasari oleh ilmu pengetahuan yang dimilikinya, guna memberi perlindungan kepada masyarakat. Dengan adanya standar praktek profesi keperawatan inilah dapat dilihat apakah seorang perawat melakukan malpraktek, kelalaian ataupun bentuk pelanggaran praktek keperawatan lainnya.
Sebagai bagioan integral dari pelayanan kesehatan, asuhan keperawatan berfokus pada bio, psiko, sosial dan spiritual yang diberikan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat. Sasaran pelayanan keperawatan adalah manusia, maka dalam memberikan pelayanan perawat harus benar-benar memperhatikan faktor etika dan hukum karena sejalan dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Masyarakat semakin faham akan hak-hak individu, kebebbasan dalam memberikan dan mengemukakan pendapat dan tanggung jawab dalam melindungi hak yang dimiliki. Kemajuan dan teknologi serta dampaknya terhadap kehidupan sosial, politik dan ekonomi membuat semakin tingginya perhatian pada dimensi etika praktik asuhan keperawatan (Gold, Chambers dan Dovrak, 1995)
3
keperawatan. Kemampuan untuk membuat suatu keputusan yang merupakan sesuatu yang esensial dalam praktik keperawatan profesional (Fry, 2002). Standar pelayanan profesional serta refleksi dari moral pelayanan tertuang dalam kode etik perawat (RR.Puji Astuti & Purba, 2010).
Pengambilan keputusan merupakan suatu hasil atau keluaran dari proses mental yang membawa pada pemilihan suatu jalur tindakan di antara beberapa alternatif yang tersedia. Setiap proses pengambilan keputusan selalu menghasilkan satu pilihan final baik itu berupa suatu tindakan (aksi) atau suatu opini terhadap pilihan. Pengambilan keputusan dilakukan oleh seorang manajer termasuk juga perawat dalam konteks pengelolaan asuhan keperawatan kepada pasien. Kegiatan pembuatan keputusan meliputi pengindentifikasian masalah, pencarian alternatif penyelesaian masalah, evaluasi terhadap alternatif-alternatif tersebut, dan pemilihan alternatif keputusan yang terbaik. Kemampuan seorang perawat dalam membuat keputusan dapat ditingkatkan apabila ia mengetahui dan menguasai teori dan teknik pembuatan keputusan. Peningkatan kemampuan perawat dalam pembuatan keputusan diharapkan dapat meningkatkan kualitas keputusan yang dibuatnya, sehingga akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja organisasi profesi keperawatan. Untuk dapat mengambil keputusan dengan etis dan legal maka seorang perawat harus memahami kebijakan-kebijakan yang mempengaruhi praktek profesionalnya.
4
kebijakan lain seperti halnya dengan kebijakan ekonomi yang menentukan pajak rokok atau alkohol yang dapat mempengaruhi perilaku masyarakat.
Hubungan antara kebijakan kesehatan dan kesehatan sangat penting dan memiliki korelasi yang sangat erat. Kebijakan kesehatan memungkinkan untuk penyelesaian masalah kesehatan terutama yang terjadi pada saat ini, sekaligus memahami bagaimana perekonomian dan kebijakan lain berimplikasi pada kesehatan. Kebijakan kesehatan dapat memberi arahan dalam pemilihan teknologi kesehatan yang akan dikembangan dan digunakan, mengelola dan membiayai layanan kesehatan, atau jenis obat yang dapat dibeli secara bebas. Pemimpin keperawatan perlu menganalisa kebijakan kesehatan sebagai sehingga memunculkan berbagai saran, sedalam dan seluas apapun analisa kebijakan dimaksudkan untuk menghasilkan beberapa pilihan keputusan. Analisa kebijakan bertujuan untuk menyediakan informasi yang dapat digunakan untuk bahan pertimbangan yang berdasar pada pemecahan masalah kepada para pembuat keputusan dalam hal keperawatan. Karena itulah dalam makalah ini kami tertarik untuk membahas tentang “Kebijakan Kesehatan Yang Berhubungan Dengan Pelayanan Keperawatan”
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Memahami salah satu kebijakan keperawatan dalam pelayanan kesehatan. 2. Tujuan khusus
a. Mendeskripsikan konsep teori kebijakan kesehatan
b. Mengidentifikasi produk-produk kebijakan kesehatan yang
berhubungan dengan pelayanan keperawatan
5 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Sistem Kesehatan
Sistem Kesehatan menurut WHO adalah semua kegiatan yang tujuan utamanya untuk meningkatkan, mengembalikan dan memelihara kesehatan. Cakupannya meliputi Formal Health services yang mencakup pula promosi kesehatan, pelayanan kesehatan oleh tenaga medik profesional, pengobat tradisional, pengobatan alternatif. Pendekatan Sistemik yang biasa digunakan ada dua cara yaitu identifikasi komponen pembentuk sistem dan menganalisis interconnection, saling keterkaitan antar komponen dalam pola tertentu. Fungsi dalam sistem kesehatan (WHO 2000) meliputi regulasi/stewardship, pembiayaan, pelaksanaan kegiatan kesehatan, dan pengembangan SDM dan sumber daya lain
Tujuan dan indikator sistem kesehatan menurut Roberts dkk (2007), antara lain status kesehatan, perlindungan resiko, dan kepuasan publik, sebagai berikut penjelasannya:
1. Status kesehatan
a. Secara tradisional ukuran status kesehatan: AKB, AKI, dan AKBA b. Akhir‐akhir ini: berkaitan dengan beban penyakit (misalnya DALY)
mencakup morbiditas maupun mortalitas
c. Penyakit kronis yang semakin meningkat menjadi beban baru bagi sistem pelayanan kesehatan.
d. Kelayakan juga penting—apa yang bisa dilakukan (nilai tolok ukur) 2. Kepuasan masyarakat
a. Dapat diukur melalui survei penduduk yang dirancang baik
b. Secara tipikal dipengaruhi oleh kualitas pelayanan, akses dan pembayaran tunai
c. Bisa sesuai atau tidak sesuai dengan pelayanan yang costeffective misalnya, pasien meminta resep yang tidak cocok)
6 3. Perlindungan terhadap risiko
a. Setiap tahunnya, ada sebagian penduduk yang mengeluarkan biaya pelayanan kesehatan yang tinggi
b. Tanpa perlindungan, bisa jatuh miskin atau mendapat pelayanan yang kurang
c. Masalahnya menjadi lebih buruk bagi mereka yang berpenghasilan rendah
d. Dapat dihindari melalui asuransi atau sektor publik yang efektif dan hampir bebas biaya.
B. Pengertian Kebijakan Kesehatan
Kebijakan merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan layanan kesehatan. Kebijakan (Policy) diartikan juga sebagai sejumlah keputusan yang dibuat oleh mereka yang bertanggung jawab dalam bidang kebijakan tertentu. Kebijakan Publik (Public Policy) merupakan kebijakan – kebijakan yang dibuat oleh pemerintah atau Negara. Kebijakan Kesehatan
(Health Policy) ialah segala sesuatu untuk mempengaruhi faktor – faktor
penentu di sektor kesehatan agar dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat; dan bagi seorang dokter kebijakan merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan layanan kesehatan. Kebijakan kesehatan dapat meliputi kebijakan publik dan swasta tentang kesehatan. Kebijakan kesehatan diasumsikan untuk merangkum segala arah tindakan (dan dilaksanakan) yang mempengaruhi tatanan kelembagaan, organisasi, layanan dan aturan pembiayaan dalam system kesehatan.
7
pengalokasian sumber daya yang langka bagi kesehatan; seorang perencana melihatnya sebagai cara untuk mempengaruhi faktor-faktor penentu di sektor kesehatan agar dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat; dan bagi seorang dokter. Menurut Walt, kebijakan kesehatan serupa dengan politik dan segala penawaran terbuka kepada orang yang berpengaruh pada penyusunan kebijakan, bagaimana mereka mengolah pengaruh tersebut, dan dengan persyaratan apa (Surya, 2012). Kebijakan kesehatan sangat penting karena berbagai alasan berikut:
a. Sektor kesehatan merupakan bagian penting perekonomian di berbagai negara
b. Kesehatan mempunyai posisi yang lebih istimewa dibanding dengan masalah sosial yang lainnya
c. Kesehatan dapat dipengaruhi oleh sejumlah keputusan yang tidak ada kaitannya dengan pelayanan kesehatan (misal: kemiskinan, polusi)
d. Memberi arahan dalam pemilihan teknologi kesehatan C. Pengertian Analisis Kebijakan Kesehatan
8
Konsep dari analisis kebijakan kesehatan adalah “What The Goverment Do Or
Not To Do”, artinya segala keputusan yang pemerintah lakukan atau tidak
dilakukan dalam bidang kesehatan berdasarkan atas kemanfaatan masyarakat di bidang kesehatan (Anne,2012).
D. Berbagai Produk Kebijakan Kesehatan Terkait Pelayanan Keperawatan 1. Kebijakan Tingkat UUD 1945
UUD 1945 pasal 28H ayat 1 : setiap orang berhak untuk hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.
2. Kebijakan pada tatanan undang-undang
a. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1963 Tentang Tenaga Kesehatan
UU ini sebenarnya memisahkan bidan dna perawat sebagai nakes yang berbeda. Fisioterapi masih menjadi bagian dari keperawatan. Tenaga kesehatan sarjana-muda, menengah dan rendah melakukan pekerjaannya dibawah pengawasan dokter/dokter-gigi/apoteker/sarjana lain (pasal 8).
b. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan
Tidak mengatur secara spesifik tentang kriteria tenaga kesehatan, sebab akan diturunkan dalam Peraturan Pemerintah. UU ini terkesan tidak fokus dan hanya menyebutkan pokok-pokoknya saja. Namun demikian, UU ini memberikan penegasan tentang sanksi pidana terhadap penyelenggaraan upaya kesehatan tanpa ijin, baik ijin sebagai tenaga kesehatan maupun ijin operasional. Selain itu UU ini juga lebih banyak berfokus pada masalah tranplantasi organ dalam praktik kedokteran. Khusus tentang tenaga kesehatan diuraikan dalam PP Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan. UU hanya mengatur tentang syarat-syarat menjadi tenaga kesehatan.
c. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
9
diidentifikasi area kewenangan perawat dalam konteks upaya kesehatan. UU ini juga secara spesifik sudah menjabarkan hak-hak masyarakat terhadap kesehatan dan tanggung jawab pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat atas kesehatan. terkait dengan tenaga kesehatan, UU ini sudah memberikan kualifikasi minimum seorang tenaga kesehatan dan bagaimana mekanisme pengelolaan tenaga kesehatan (pasal 21-29).
Kriteria pelayanan kesehatan juga sudah dibahas dengan jelas dalam pasal 30-35, termasuk area kerja dari masing-masing sarana pelayanan kesehatan. Cakupan upaya kesehatan juga sudah diperluas dengan menambahkan masalah keluarga berencana, kesehatan bencana, pelayanan darah, pengamanan zat aditif serta bedah mayat.
Terkait dengan penjaminan mutu, UU ini mewajibkan pemerintah menetapkan standar mutu pelayanan kesehatan untuk memastikan praktek pelayanan yang aman dan menjamin keselamatan pasien (pasal 52-55).
UU ini juga membahas tentang persetujuan maupun penolakan tindakan medis dan kewajiban menjaga rahasia kedokteran bagi tenaga kesehatan. Konsekwensinya bagi perawat adalah pasien juga berhak memberikan persetujuan ataupun penolakan terhadap tindakan keperawatan. Tetapi dalam kenyataannya hal ini tidak pernah dibahas secara spesifik tentang bagaimana mekanisme persetujuan dan penolakan tindakan keperawatan. Selain itu perawat yang melakukan praktek asuhan keperawatan di sarana kesehatan manapun juga memiliki konsekwensi untuk menjaga rahasia kedokteran. Secara khusus dalam BAB XVII dijelaskan bahwa harus dibentuk Badan Pertimbangan Kesehatan (pasal 175-177). Tetapi dalam kenyataannya sampai sekarang badan independen ini belum terbentuk.
10
penyelenggara pelayanan tradisional tanpa ijin (pasal 191), memperjualbelikan organ tubuh (pasal 192), bedah plastik dan rekonstruksi untuk merubah identitas (pasal 193), aborsi tidak sesuai ketentuan (pasal 194), memperjualbelikan darah (pasal 195), memproduksi/mengedarkan sediaan farmasi dan/atau al-kes tidak sesuai standar dan tidak memiliki ijin edar (pasal 196-197), praktik kefarmasian tanpa kewenangan (pasal 198), peringatan bahaya kesehatan pada kemasan rokok (pasal 199), dan sanksi bagi pihak-pihak yang menghalangi pemberian ASI (pasal 200).
Khusus pasal 198 tentang praktek kefarmasian, pernah digunakan sebagai pasal pertimbangan untuk menjatuhkan hukuman pada perawat Misran (Kalimantan Timur) karena melakukan pemberian obat tanpa ijin, meskipun pada tingkat banding di MA pasal ini dianulir oleh klausul bahwa hal tersebut dilakukan karena pertimbangan kegawatdaruratan dan tidak ada tenaga kesehatan yang berwenang di wilayah tersebut.
d. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN)
Memberikan arah kebijakan pelaksanaan pembangunan di Indonesia sampai dengan tahun 2025 termasuk bidang kesehatan. Hal ini memberikan panduan dalam pengembangan keperawatan secara umum sebagai bagain integral dari sistem kesehatan. Selain itu Puskesmas wajib melaksanakan promosi kesehatan, untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. Hal ini juga berlaku bagi tenaga keperawatan.
e. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit
11
mekanisme audit yang dipersyaratkan hanya audit kinerja dan audit medis. Sama sekali tidak menyinggung audit keperawatan padahal UU ini juga consern menyoroti masalah keselamatan pasien (pasal 43). dan sebagaimana diketahui bahwa tenaga kesehatan terbesar yang ada di RS adalah tenaga keperawatan sehingga resiko berkaitan keselamatan pasien sebenarnya lebih banyak bersentuhan dengan keperawatan sehingga perlu dilakukan audit keperawatan secara periodik.
f. Undang –Undang Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan
12
berhubungan dengan praktik profesional. Secara spesifik, UU ini juga mengatur kewajiban tenaga kesehatan melaksanakan penelitian dan pengembangan ilmu dalam praktik, melakukan informed consent atas tindakan yang diberikan, rekam medik, kewajiban menjaga rahasia pasien, perlindungan tenaga kesehatan dan pasien serta mekanisme penyelesaian perselisihan. Ketentuan pidana yang diatur dalam UU ini adalah tentang kelalaian, praktek tanpa STR, serta praktek tanpa ijin (Surat Ijin Praktek).
g. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 Tentang Keperawatan
13
3. Kebijakan pada tatanan Peraturan Pemerintah / Peraturan Presiden
a. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga
Kesehatan
Merupakan peraturan turunan dari UU 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan. dalam PP ini tenaga kesehatan terdiri dari : tenaga medis; tenaga keperawatan; tenaga kefarmasian; tenaga kesehatan masyarakat; tenaga gizi; tenaga keterapian fisik; dan tenaga keteknisian medis. Tenaga keperawatan terdiri dari perawat dan bidan. Namun dalam UU 36/2014 Bidan sudah dipisahkan sebagai kategori nakes tersendiri. Masalah perlindungan hukum dan pembinaan tenaga kesehatan juga telah dimasukkan dalam UU Nakes.
b. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1966 Tentang Wajib Simpan
Rahasia Kedokteran
Peraturan ini mewajibkan semua tenaga kesehatan wajib menyimpan rahasia yang berkaitan dengan pasien dan penyakitnya sebagai bagian dari rahasia jabatan. Membocorkan rahasia medis dapat dikenakan sanksi pidana meskipun tidak diadukan. Kewajiban ini juga berlaku terhadap para mahasiswa pendidikan kesehatan.
c. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2007 Tentang Tunjangan Jabatan
Fungional.
Perawat sebagai jabatan fungsional bagi PNS berhak mendapatkan tunjangan jabatan fungsional yang disebut tunjangan perawat. Dan diberikan setiap bulan. Besarnya tunjangan untuk perawat adalah sebagai berikut :
No Fungsional Jabatan Jabatan Tunjangan Besarnya
1 Perawat Ahli Perawat Madya
Perawat Muda Perawat Pertama
Rp. 715.000,- Rp. 495.000,- Rp. 253.000,- 2 Perawat
Terampil Perawat Penyelia Perawat Pelaksana Lanjutan Perawat Pelaksana
Perawat Pelaksana Pemula
14
d. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 Tentang Penerapan
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Inti dari PP ini adalah bahwa perusahaan (termasuk rumah sakit) wajib menerapkan sistem K3 untuk melindungi karyawan (termasuk perawat) dari kecelakaan kerja maupun resiko-resiko terkait dengan pekerjaan.
e. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2014 Tentang
Pengelolaan dan Pemanfaatan Dana Kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Milik Pemerintah Daerah
Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dalam penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, diperlukan dukungan dana untuk operasional pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh Fasilitas Kesehatan. Fasilitas kesehatan disebut sebagai fasilitas pelayanan kesehatan yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan perorangan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat.
15
diberikan. Dengan demikian apabila perawat ingin mendapatkan bagian dari kapitasi BPJS dalam konteks praktik mandiri maka sarana kesehatan yang diselenggarakan harus berbentuk FKTP.
4. Kebijakan pada tatanan Peraturan Menteri
a. Peraturan Menteri PAN Nomor 94 Tahun 2001 Tentang Jabatan
Fungsional Perawat Dan Angka Kreditnya
Perawat termasuk dalma rumpun kesehatan (pasal 2). Perawat berkedudukan sebagai pelaksana teknis fungsional pelayanan keperawatan yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan pada sarana kesehatan, merupakan jabatan karir dan hanya diduduki oleh PNS (pasal 3). Kegiatan perawat yang dinilai angka kreditnya meliputi : a) pendidikan; b) pelayanan keperawatan; c) pengabdian pada masyarakat; d) pengembangan profesi; e) penunjang pelayanan keperawatan (pasal 5).
b. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1045 Tahun 2006 Tentang
Pedoman Organisasi Rumah Sakit di Lingkungan Departemen Kesehatan
Dalam Permenkes ini diatur masalah Komite sebagai salah satu persyaratan dalam organisasi RS, tetapi belum menyinggung Komite Keperawatan. Yang wajib ada hanya Komite Medik dan Komite Etik dan Hukum.
c. Permenkes Nomor 269 Tahun 2008 Tentang Rekam Medis
Setiap penyelenggara pelayanan kesehatan wajib membuat rekam medis secara tertulis (pasal 2). Rekam medis dilengkapi segera setelah pasien pulang dan dibubuhi nama lengkap dan tanda tangan dokter atau tenaga kesehatan tertentu yang memberikan pelayanan kesehatan secara langsung. Rekam medis boleh direvisi dengan cara dicoret dan diberi paraf (pasal 5).
16
medis berupa ringkasan rekam medis (pasal 12). Pemanfaatan rekam medis yang menyebutkan nama pasien harus dengan persetujuan tertulis dari pasien atau ahli warisnya dengan tetap menjaga kerahasiaannya. Penggunaan rekam medis untuk kepentingan pendidikan dan penelitian boleh tidak meminta ijin pasien asal demi kepentingan negara (pasal 13)
d. Permenkes Nomor 36 Tahun 2012 Tentang Rahasia Kedokteran
Semua pihak yang terlibat dalam pelayanan kedokteran dan/atau menggunakan data dan informasi tentang pasien wajib menyimpan rahasia kedokteran. Kewajiban menyimpan rahasia kedokteran berlaku selamanya, walaupun pasien telah meninggal dunia. Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan kesehatan pasien, memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum, permintaan pasien sendiri, atau berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan harus dengan persetujuan pasien. Jika dibuka untuk kepentingan tertentu (misalnya pembelajaran) tidak boleh menyebutkan nama. Pembukaan atau pengungkapkan rahasia kedokteran dilakukan oleh penanggung jawab pelayanan pasien.
Pasien atau keluarga terdekat pasien yang telah meninggal dunia yang menuntut tenaga kesehatan dan/atau fasilitas pelayanan kesehatan serta menginformasikannya melalui media massa, dianggap telah
melepaskan hak rahasia kedokterannya kepada umum.
Penginformasian melalui media massa memberikan kewenangan kepada tenaga kesehatan dan/atau fasillitas pelayanan kesehatan untuk membuka atau mengungkap rahasia kedokteran yang bersangkutan sebagai hak jawab.
17
e. Permenkes Nomor 6 Tahun 2013 Tentang Kriteria Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Terpencil, Sangat Terpencil dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Yang Tidak Diminati
Tenaga kesehatan tertentu yang bertugas di faskes tersebut boleh diberikan tambahan kewenangan.
f. Permenkes Nomor 17 Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/MENKES/148/I/2010 Tentang Izin Dan Penyelenggaraan Praktik Perawat
Perawat dapat melaksanakan prakti di fasilitas pelayanan kesehatan diluar praktik mandiri, dengan latar belakang pendidikan minimal D-III (pasal 2). Praktek di fasilitas pelayanan kesehatan wajib memiliki SIKP dan praktek mandiri wajib memiliki SIPP (pasal 3). Untuk memperoleh ijin tersebut dipersyaratkan :
1) fotocopy STR yang masih berlaku dan dilegalisasi;
2) surat keterangan sehat fisik dari dokter yang memiliki Surat Izin Praktik;
3) surat pernyataan memiliki tempat di praktik mandiri atau di fasilitas pelayanan kesehatan di luar praktik mandiri;
4) pas foto berwarna terbaru ukuran 4X6 cm sebanyak 3 (tiga) lembar;
5) rekomendasi dari kepala dinas kesehatan kabupaten/kota atau pejabat yang ditunjuk; dan
6) rekomendasi dari organisasi profesi (pasal 5).
18
g. Permenkes Nomor 42 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Imunisasi
Petugas yang berwenang memberikan immunisasi adalah dokter dan dokter spesialis. Untuk immunisasi dasar, Bidan diberikan kewenangan khusus. Dokter di Puskesmas dapat mendelegasikan kewenangan pelayanan immunisais kepada Bidan dan Perawat. Jika tidak ada Dokter maka Bidan dan Perawat dapat langsung memberikan pelayanan immunisasi dengan syarat harus terlatih (pasal 27). Pemberian imunisasi harus dilakukan berdasarkan standar pelayanan, standar prosedur operasional dan standar profesi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan (pasal 28).
Proses pemberian imunisasi harus memperhatikan keamanan vaksin dan penyuntikan agar tidak terjadi penularan penyakit terhadap tenaga kesehatan pelaksana pelayanan imunisasi dan masyarakat serta menghindari terjadinya kejadian ikutan pemberian immunisasi (pasal 29).
Sebelum pelaksanaan imunisasi, pelaksana pelayanan imunisasi harus memberikan informasi lengkap tentang imunisasi meliputi vaksin, cara pemberian, manfaat dan kemungkinan terjadinya kejadian ikutan pemberian immunisasi/KIPI (pasal 30). Jika ada kejadian ikutan maka harus dilaporkan kepada pelaksana pelayaan immunisasi, Puskesmas atau Dinas Kesehatan untuk dilakukan investigasi. Jika terjadi kesakitan akibat KIPI maka pasien berhak diberikan pengobatan dan perawatan.
h. Permenkes Nomor 46 Tahun 2013 Tentang Registrasi Tenaga
Kesehatan
19
Sertifikat Kompetensi diberikan kepada peserta didik setelah dinyatakan lulus Uji Kompetensi oleh perguruan tinggi bidang kesehatan yang memiliki izin penyelenggaraan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Uji Kompetensi dimaksud diselenggarakan oleh perguruan tinggi bekerja sama dengan MTKI (pasal 3). STR berlaku 5 tahun dan dapat diperpanjang dengan syarat yang bersangkutan sudah melaksanakan : a) pengabdian diri sebagai tenaga profesi atau vokasi di bidang kesehatan; dan b) pemenuhan kecukupan dalam kegiatan pelayanan, pendidikan, pelatihan, dan/atau kegiatan ilmiah lainnya. Jumlah satuan kredit profesi untuk setiap kegiatan ditetapkan oleh MTKI atas usulan dari organisasi profesi (pasal 4).
Pengabdian diri sebagai tenaga profesi atau vokasi di bidang kesehatan tadi dibuktikan dengan: a) keterangan kinerja dari institusi tempat bekerja, atau keterangan praktik dari kepala dinas kesehatan kabupaten/kota; b) Surat Izin Praktik atau Surat Izin Kerja; dan c) rekomendasi dari organisasi profesi.
Pemenuhan kecukupan dalam kegiatan pelayanan, pendidikan, pelatihan, dan/atau kegiatan ilmiah lainnya dibuktikan dengan pemenuhan syarat satuan kredit profesi yang diperoleh selama 5 (lima) tahun yang ditetapkan oleh organisasi profesi (pasal 5). Dalam hal Tenaga Kesehatan tidak dapat memenuhi ketentuan persyaratan perpanjangan STR, maka Tenaga Kesehatan tersebut harus mengikuti evaluasi kemampuan yang dilaksanakan oleh organisasi profesi bekerja sama dengan MTKI (pasal 6).
STR tidak berlaku apabila: a) masa berlaku habis; b) dicabut atas dasar peraturan perundang-undangan; c) atas permintaan yang bersangkutan; atau d) yang bersangkutan meninggal dunia (pasal 9).
20
Perguruan tinggi yang ditujukan kepada MTKI melalui MTKP. Permohonan sebagaimana dimaksud dilengkapi dengan fotokopi Sertifikat Kompetensi yang dilegalisasi dan pas foto 4x6 dengan latar belakang merah. Permohonan dimaksud dilengkapi dengan : a) daftar lulusan Uji Kompetensi dari perguruan tinggi yang bersangkutan; b) pas foto 4x6 dengan latar belakang merah; dan c) surat keterangan dari perguruan tinggi tentang kebenaran seluruh data yang diusulkan. Kelengkapan berkas permohonan tadi diproses oleh MTKP dan dikirimkan ke MTKI dalam bentuk elektronik sesuai dengan format yang ditetapkan oleh MTKI. STR dikirimkan kepada pemohon melalui MTKP (pasal 10).
i. Permenkes Nomor 49 Tahun 2013 Tentang Komite Keperawatan
Rumah Sakit
Penyelenggaraan Komite Keperawatan bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme tenaga keperawatan serta mengatur tata kelola klinis yang baik agar mutu pelayanan keperawatan dan pelayanan kebidanan yang berorientasi pada keselamatan pasien di Rumah Sakit lebih terjamin dan terlindungi (pasal 2). Tenaga keperawatan dalam Permenkes ini terdiri dari perawat dan bidan (pasal 3).
21
Rekomendasi Komite Keperawatan diberikan setelah dilakukan Kredensial dengan ketentuan bahwa Rumah Sakit merupakan tempat untuk melakukan pelayanan kesehatan tingkat kedua dan ketiga (pasal 4).
j. Permenkes Nomor 9 Tahun 2014 Tentang Klinik
Permenkes ini merupakan penyempurnaan dari Permenkes Nomor 28 Tahun 2011 Tentang Klinik. Penanggung jawab klinik harus seorang tenaga medis yang memiliki SIP di klinik tersebut. Perawat yang bekerja di klinik juga harus memiliki STR, SIK/SIP di klinik tersebut. Setiap tenaga kesehatan (termasuk perawat) yang bekerja di Klinik harus bekerja sesuai dengan standar profesi, standar prosedur operasional, standar pelayanan, etika profesi, menghormati hak pasien, serta mengutamakan kepentingan dan keselamatan pasien. Klinik dilakukan akreditasi setiap 3 tahun sekali dan wajib melakukan audit medis.
k. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 19 Tahun 2014 Tentang
Penggunaan Dana Kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional Untuk Jasa Pelayanan Kesehatan dan Dukungan Biaya Operasional pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Milik Pemerintah Daerah
22
mempertimbangkan variabel jenis ketenagaan dan/atau jabatan dan kehadiran.
Alokasi dana kapitasi BPJS untuk dukungan biaya operasional kesehatan dimanfaatkan untuk : a) obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai; dan b) kegiatan operasional pelayanan kesehatan lainnya. Pengadaan obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dapat dilakukan melalui SKPD Dinas Kesehatan, dengan mempertimbangkan ketersediaan obat, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai yang dialokasikan oleh pemerintah dan pemerintah daerah. Dukungan kegiatan operasional pelayanan kesehatan lainnya, meliputi : a) upaya kesehatan perorangan berupa kegiatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif lainnya; b) kunjungan rumah dalam rangka upaya kesehatan perorangan; c) operasional untuk puskesmas keliling; d) bahan cetak atau alat tulis kantor; dan/atau e) administrasi keuangan dan sistem informasi. Dalam Permenkes ini tidak disebutkan alokasi untuk kegiatan keperawatan secara spesifik.
l. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat
Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya. Ada dua macam upaya kesehatan yang dilaksanakan di Puskesmas, yakni Upaya Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disingkat UKM dan Upaya Kesehatan Perseorangan yang selanjutnya disingkat UKP.
23
pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk peningkatan, pencegahan, penyembuhan penyakit, pengurangan penderitaan akibat penyakit dan memulihkan kesehatan perseorangan. Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang: 1) memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat; 2) mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu; 3) hidup dalam lingkungan sehat; dan 4) memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas tersebut mendukung terwujudnya kecamatan sehat. Dengan demikian, promosi kesehatan merupakan salah satu upaya kesehatan esensial Puskesmas untuk mencapai level kemandirian setinggi-tingginya.
24 BAB III PEMBAHASAN
Dalam bab ini Penulis akan melakukan ekstraksi dan sintesis tentang implikasi dari kebijakan-kebijakan yang telah disebutkan dalam BAB II sebelumnya terhadap pelaksanaan praktik keperawatan. Hasil ekstraksi dan sintesis tersebut mencakup konsekwensi yang harus dipenuhi oleh perawat dan dasar hukum yang melatarbelakanginya.
A. Hak-Hak Pasien Yang Harus Dihormati
1. Pada UU No 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran khususnya pada
pasal 52 juga diatur hak-hak pasien, yang meliputi:
a. Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud dalam pasal 45 ayat 3.
b. Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain. c. Mendapat pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis. d. Menolak tindakan medis.
e. Mendapatkan isi rekam medis.
2. Terkait rekam medis, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269 Tahun 2008 Tentang Rekam Medis pasal 12 menyebutkan:
Berkas rekam medis milik sarana pelayanan kesehatan. Isi rekam medis merupakan milik pasien. Isi rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dalam bentuk ringkasan rekam medis. Ringkasan rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diberikan, dicatat, atau dicopy oleh pasien atau orang yang diberi kuasa atau atas persetujuan tertulis pasien atau keluarga pasien yang berhak untuk itu.
25
dan edukasi kesehatan yang seimbang dan bertanggungjawab, dan informasi tentang data kesehatan dirinya.
Hak-hak pasien dalam UU No. 36 tahun 2009 itu diantaranya meliputi: a. Hak menerima atau menolak sebagian atau seluruh pertolongan
(kecuali tak sadar, penyakit menular berat, gangguan jiwa berat). b. Hak atas rahasia pribadi (kecuali perintah UU, pengadilan, ijin ybs,
kepentngan ybs, kepentingan masyarakat).
Hak tuntut ganti rugi akibat salah atau kelalaian (kecuali tindakan penyelamatan nyawa atau cegah cacat).
4. Hak Pasien dalam UU No 44 / 2009 Tentang Rumah Sakit (Pasal 32 UU
44/2009) menyebutkan bahwa setiap pasien mempunyai hak sebagai berikut:
a. Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit
b. Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien.
c. Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa
diskriminasi.
d. Memperoleh pelayanan kesehatan bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional.
e. Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi;
f. Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan.
g. Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan
peraturan yang berlaku di rumah sakit.
h. Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain (second opinion) yang memiliki Surat Ijin Praktik (SIP) baik di dalam maupun di luar rumah sakit.
i. Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya.
26
k. Mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan.
l. Didampingi keluarganya dalam keadaan kritis.
m. Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya.
n. Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam
perawatan di Rumah Sakit.
o. Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap dirinya.
p. Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama
dan kepercayaan yang dianutnya.
q. Menggugat dan atau menuntut rumah sakit apabila rumah sakit itu diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana.
r. Mengeluhkan pelayanan rumah sakit yang tidak sesuai dengan standar pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
5. UU Nomor 38 Tahun 2014 Tentang Keperawatan pasal 38, klien berhak :
a. Mendapatkan informasi secara, benar, jelas, dan jujur tentang tindakan Keperawatan yang akan dilakukan;
b. Meminta pendapat Perawat lain dan/atau tenaga kesehatan lainnya; c. Mendapatkan Pelayanan Keperawatan sesuai dengan kode etik, standar
Pelayanan Keperawatan, standar profesi, standar prosedur operasional, dan ketentuan Peraturan Perundang-undangan;
d. Memberi persetujuan atau penolakan tindakan Keperawatan yang akan
diterimanya; dan
e. Memperoleh keterjagaan kerahasiaan kondisi kesehatannya
27
1. Mengajukan gugatan kepada pelaku usaha, baik kepada lembaga
peradilan umum maupun kepada lembaga yang secara khusus berwenang menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha (Pasal 45 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen) 2. Melaporkan kepada polisi atau penyidik lainnya. Hal ini karena di setiap
undang-undang yang disebutkan di atas, terdapat ketentuan sanksi pidana atas pelanggaran hak-hak pasien.
Dasar hukum yang mengatur tentang hal ini antara lain :
1. Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
2. Undang-Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran
3. Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
4. Undang-Undang No. 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan
(Kewajiban tenaga kesehatan sama dengan hak-hak pasien)
Sedangkan sanksi yang dapat diberikan apabila melanggar hak-hak pasien tersebut, antara lain : 1) Sanksi pidana; 2) Sanksi perdata; 3) Sanksi Administratif; dan 4) Sanksi Disiplin.
Pada tahun 2003 pernah terjadi di sebuah rumah sakit, pasien meningal dunia pasca operasi tumor di belakang kepala, keluarga dan pasien tidak dijelaskan hasil observasi pre operasi dan resiko operasi. Dari kasus ini keluarga berhak menuntut pihak Rumah Sakit atau Tim Operasi scara hukum. Contoh lainnya adalah Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai penggunaan rumah sakit sebagai tempat syuting merupakan pelanggaran hak terhadap pasien."Itu melanggar hak pasien karena seharusnya ruang yang tertutup menjadi terbuka," kata Ketua YLKI, Tulus Abadi Kamis (27/12). Menurut Tulus, syuting yang dilakukan di rumah sakit, akan membuat pasien yang seharusnya mendapatkan perawatan maksimal menjadi terganggu. Menanggapi kasus meninggalnya seorang anak berumur 9 tahun di ICCU RS Harapan Kita yang diduga akibat tidak mendapatkan perawatan maksimal karena ICCU dipergunakan untuk syuting sinetron Love in Paris, Tulus menilai perlu ada sanksi tegas terhadap pihak rumah sakit dan juga
28
"Sebaiknya, pimpinan rumah sakit itu dicopot dan manajemen rumah sakit harus meminta maaf serta mengganti rugi secara materil kepada keluarga pasien walaupun nyawa tidak bisa diganti dengan uang
B. Perawat Sebagai Tenaga Kesehatan
1. Kewajiban perawat sebagai tenaga kesehatan a. Perawat wajib memiliki :
1) Sertifikat Kompetensi (SK) ; sebagai bukti memiliki kompetensi standar sesuai level pendidikannya, sebagai dasar memperoleh STR
2) Surat Tanda Registrasi (STR) ; sebagai bukti telah teregistrasi secara hukum sebagai dasar pengajuan SIP
3) Surat Ijin Perawat (SIP) ; sebagai bukti tertulis pemberian kewenangan untuk menjalankan pekerjaan keperawatan diseluruh wilayah Indonesia.
4) Surat Ijin Kerja (SIK) ; sebagai bukti tertulis yang diberikan kepada perawat untuk melakukan praktek keperawatan di sarana kesehatan
5) Surat Ijin Praktek Perawat (SIPP) ; sebagai bukti tertulis yang diberikan kepada perawat untuk menjalankan praktek perawat perorangan atau kelompok
b. Perawat wajib menghormati hak-hak pasien.
c. Perawat wajib merujuk kasus yang tidak dapat ditangani.
d. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang klien, kecuali jika dimintai keterangan oleh pihak berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
e. Perawat wajib memberikan informasi kepada pasien / keluarga yang sesuai batas kewenangan perawat.
29
g. Perawat wajib mencatat semua tindakan keperawatan (dokumentasi asuhan keperawatan) secara akurat sesuai peraturan dan SOP yang berlaku.
h. Mematuhi standar profesi dan kode etik perawat Indonesia dalam melaksanakan praktik profesi keperawatan
i. Meningkatkan pengetahuan berdasarkan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi keperawatan dan kesehatan secara terus menerus.
j. Melakukan pertolongan darurat yang mengancam jiwa pasien sesuai batas kewenangan dan SOP.
k. Melaksanakan program pemerintah dalam meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat
l. Mentaati semua peraturan perundang-undangan
m. Menjaga hubungan kerja yang baik antara sesama perawat maupun dengan anggota tim kesehatan lain.
n. Perawat wajib memberikan kesempatan kepada klien untuk
berhubungan dengan keluarganya, selama tidak bertentangan dengan peraturan dan standar profesi yang ada.
o. Perawat wajib memberikan kesempatan kepada klien untuk
menjalankan ibadahnya sesuai dengan agama atau kepercayaan masing-masing selama tidak mengganggu klien yang lainnya.
p. Perawat didalam melakukan praktik mandiri dan / atau berkelompok di wajibkan untuk membantu program pemerintah.
2. Peraturan yang mengatur kewajiban perawat
a. Permenkes 148 Tahun 2010 tentang Ijin dan Penyelenggaraan Praktik
Perawat, pasal 8, 9, 10, 12
b. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, pasal 32
c. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 Tentang Keperawatan, pasal
37 dan 38
30
3. Sanksi jika perawat tidak memenuhi kewajiban
Pertanggungjawaban perawat dalam kewajibannya sebagai
penyelenggaraan pelayanan kesehatan dapat dilihat berdasarkan tiga (3) bentuk pembidangan hukum yakni :
a. Pertanggungjawaban secara hukum keperdataan, perbuatan melanggar
hukum (onrechtmatigedaad) sesuai dengan ketentuan Pasal 1365 KUH-Perdata dan perbuatan wanprestasi (contractual liability) sesuai dengan ketentuan Pasal 1239 KUH-Perdata. Dan Pertanggungjawaban perawat bila dilihat dari ketentuan dalam KUHPerdata maka dapat dikatagorikan ke dalam 4 (empat) prinsip sebagai berikut:
1) Pertanggungjawaban langsung dan mandiri (personal liability) berdasarkan Pasal 1365 BW dan Pasal 1366 BW. Berdasarkan ketentuan pasal tersebut maka seorang perawat yang melakukan kesalahan dalam menjalankan fungsi independennya yang mengakibatkan kerugian pada pasien maka ia wajib memikul tanggungjawabnya secara mandiri.
2) Pertanggungjawaban dengan asas respondeat superior atau
vicarious liability atau let's the master answer maupun khusus di
ruang bedah dengan asas the captain of ship melalui Pasal 1367 BW. Bila dikaitkan dengan pelaksanaan fungsi perawat maka kesalahan yang terjadi dalam menjalankan fungsi interdependen perawat akan melahirkan bentuk pertanggungjawaban di atas. Sebagai bagian dari tim maupun orang yang bekerja di bawah perintah dokter/rumah sakit, maka perawat akan bersama-sama bertanggungjawab atas kerugian yang menimpa pasien.
3) Pertanggungjawaban dengan asas zaakwarneming (perbuatan
mengurus kepentingan orang lain dengan tidak diminta oleh orang itu untuk mengurusi kepentingannya) berdasarkan Pasal 1354 BW. 4) Dalam hal ini konsep pertanggungjawaban terjadi seketika bagi
31
melakukan pertolongan darurat dimana tidak ada orang lain yang berkompeten untuk itu.
Perlindungan hukum dalam tindakan zaakwarneming perawat tersebut tertuang dalam Pasal 10 Permenkes No. 148 Tahun 2010. Perawat justru akan dimintai pertanggungjawaban hukum apabila tidak mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan dalam Pasal 10 tersebut. Gugatan berdasarkan wanprestasi seorang perawat akan dimintai pertanggungjawaban apabila terpenuhi unsur-unsur wanprestasi yaitu: 1) Tidak mengerjakan kewajibannya sama sekali; dalam konteks ini
apabila seorang perawat tidak mengerjakan semua tugas dan kewenangan sesuai dengan fungsi, peran, maupun tindakan keperawatan.
2) Mengerjakan kewajiban tetapi terlambat; dalam hal ini apabila kewajiban sesuai fungsi tersebut dilakukan terlambat yang mengakibatkan kerugian pada pasien. Contoh kasus seorang perawat yang tidak membuang kantong urine pasien dengan kateter secara rutin setiap hari. Melainkan 2 hari sekali dengan ditunggu sampai penuh. Sehingga dari tindakan tersebut mengakibatkan pasien mengalami infeksi saluran kencing (ISK) dari kuman yang berasal dari urine yang tidak dibuang.
3) Mengerjakan kewajiban tetapi tidak sesuai dengan yang
seharusnya; suatu tugas yang dikerjakan asal-asalan. Sebagai contoh seorang perawat yang mengecilkan aliran air infus pasien di malam hari, tidak siap tanggap menjaga pasien rawat inap yang dalam penjagaan dan tanggungjawabnya di malam hari hanya karena tidak mau terganggu istirahatnya.
32
atau terlalu lambat dan cara pemberian yang benar sesuai dengan
basic ilmu yang dimiliki, melakukan pemasangan infus dan
menjahit luka pada pasien padahal dirinya belum terlatih dan tidak dalam pengawasan dokter.
Apabila seorang perawat terbukti memenuhi unsur wanprestasi, maka pertanggungjawaban itu akan dipikul langsung oleh perawat yang bersangkutan sesuai personal liability.
b. Hukum pidana
Pertanggungjawaban secara hukum pidana seorang perawat baru dapat dimintai pertanggungjawaban apabila terdapat unsur-unsur sebagai berikut;
1) Suatu perbuatan yang bersifat melawan hukum ; dalam hal ini apabila perawat melakukan pelayanan kesehatan di luar kewenangan yang tertuang dalam Pasal 8 Permenkes No. 148/2010,
2) Mampu bertanggung jawab, dalam hal ini seorang perawat yang memahami konsekuensi dan resiko dari setiap tindakannya dan secara kemampuan, telah mendapat pelatihan dan pendidikan untuk itu. Artinya seorang perawat yang menyadari bahwa tindakannya dapat merugikan pasien,
3) Adanya kesalahan (schuld) berupa kesengajaan (dolus) atau karena kealpaan (culpa),
4) Tidak adanya alasan pembenar atau alasan pemaaf; dalam hal ini tidak ada alasan pemaaf seperti tidak adanya aturan yang mengijinkannya melakukan suatu tindakan, ataupun tidak ada alasan pembenar.
c. Hukum administrasi
33
Permenkes No. 148/2010 telah memberikan ketentuan administrasi yang wajib ditaati perawat yakni:
1) Surat Izin Praktik Perawat bagi perawat yang melakukan praktik mandiri.
2) Penyelengaraan pelayanan kesehatan berdasarkan kewenangan
yang telah diatur dalam Pasal 8 dan Pasal 9 dengan pengecualian Pasal 10.
3) Kewajiban untuk bekerja sesuai standar profesi.
Ketiadaan persyaratan administrasi di atas akan membuat perawat rentan terhadap gugatan malpraktik. Ketiadaan SIPP dalam menjalankan penyelenggaraan pelayanan kesehatan merupakan sebuah
administrativemalpractice yang dapat dikenai sanksi hukum. Ada dua
ketentuan tentang kewajiban izin tersebut untuk perawat yang bekerja di sebuah RS :
1) Pada UU Kesehatan dan UU RS disebutkan bahwa RS dilarang mempekerjakan karyawan/tenaga profesi yang tidak mempunyai surat izin praktik.
2) Sementara dalam Permenkes No. 148/2010 SIPP bagi perawat yang bekerja di RS (disebutkan dengan istilah fasilitas yankes di luar praktik mandiri) tidak diperlukan.
Bentuk sanksi administrasi yang diancamkan pada pelanggaran hukum administrasi ini adalah teguran lisan, teguran tertulis, dan pencabutan izin.
C. Aspek Rahasia Medik
1. Pihak yang wajib menjaga rahasia medik
Yang wajib menyimpan rahasia medik. Disebutkan dalam PP No.10 tahun 1966 tentang Wajib Simpan Rahasia Dokter, pasal 3 yang berbunyi:
a. Tenaga kesehatan yang terdiri dari: 1) Tenaga medis : dokter dan dokter gigi 2) Tenaga keperawatan : perawat dan bidan.
34
4) Tenaga kesehatan masyarakat : epidemiolog kesehatan, entomolog kesehatan, mikrobiolog kesehatan, penyuluh kesehatan, administrator kesehatan dan sanitarian.
5) Tenaga gizi : nutrizionis dan dietisien
6) Tenaga keterapian fisik : fisioterapis, okupasiterapis, dan terapis wicara.
7) Tenaga keteknisian medis : radiografer, radioterapis, teknisi gigi, teknisi elektromedis, analis kesehatan, refraksionis optisien, otorik prostetik, teknisi transfusi, dan perekam medis. (Lembaran Negara tahun 1963 No.78)
b. Mahasiswa, murid yang bertugas dalam lapangan pemeriksaan,
pengobatan dan atau perawatan orang lain yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan
2. Peraturan perundangan yang mengatur rahasia medik/rahasia jabatan
Perlindungan terhadap hak rahasia medis ini dapat di lihat dalam peraturan perundang-undangan antara lain:
a. Pasal 57 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan mengatakan bahwa setiap orang berhak atas kondisi kesehatan pribadinya yang telah dikemukakan kepada penyelenggara pelayanan kesehatan
b. Pasal 48 UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek kedokteran mengatakan bahwa setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktek kedokterannya wajib menyimpan rahasia kedokteran
c. Pasal 32 (i) UU Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
mengatakan bahwa hak pasien untuk mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya
d. PP Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan
e. PP Nomor 10 Tahun 1966 Tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran
f. Permenkes Nomor 36 Tahun 2012 Tentang Rahasia Kedokteran
g. Pasal 73 ayat (1) UU Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga
35
pelayanan kesehatan wajib menyimpan rahasia kesehatan Penerima Pelayanan Kesehatan
3. Sanksi membuka rahasia medik
a. Sanksi pidana : KUHP Pasal 112, KUHP Pasal 322
KUHP Pasal 112
“Barangsiapa dengan sengaja mengumumkan surat-surat, berita-berita atau keteranganketerangan yang diketahuinya bahwa harus dirahasiakan untuk kepentingan negara atau dengan sengaja memberitahukan atau memberikannya kepada negara asing, kepada seorang seorang raja atau suku bangsa, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun”.
KUHP Pasal 322
(1) Barangsiapa dengan sengaja membuka suatu rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan atau pekerjaannya yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah
(2) Jika kejahatan dilakukan pada seorang tertentu maka perbuatannya itu hanya dapat dituntut atas pengaduan orang tersebut
b. Sanksi perdata : KUH Perdata Pasal 1365, KUH Perdata Pasal 1366,
KUH Perdata Pasal 1367 KUH Perdata Pasal 1365
“Setiap perbuatan yang melanggar hukum yang berakibat kerugian bagi orang lain,mewajibkan orang yang karena kesalahannya mengakibatkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut”.
KUH Perdata Pasal 1366
“Setiap orang bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan karena kelalaian atau kurang hati-hatinya”
KUH Perdata Pasal 1367
36
disebabkan karena perbuatan orang-orang yang menjadi tanggungannya atau disebabkan karena perbuatan orang-orang yang berada dibawah pengawasannya”.
c. Sanksi Administratif: undang-undang No.6 tahun 1963 pasal 11 d. Sanksi Sosial
D. Aspek Informed Consent
1. Hak-hak pasien yang tercantum dalam Informed Consent
a. Hak memperoleh informasi tentang dirinya termasuk tindakan dan pengobatan yang telah maupun yang akan diterimanya dari tenaga kesehatan.
b. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;
c. Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis
d. Memberikan persetujuan atas tindakan yang akan dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya;
2. Peraturan perundangan yang mengatur Informed Consent
a. Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan pasal 8 dan
pasal 56 ayat 1
b. Undang Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit, pasal
32 poin J dan point K
c. Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran
(UUPK) pasal 45 tentang persetujuan tindakan medis
d. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan, pasal 70, 71 dan 72
e. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
290/MENKES/PER/III/2008 Tentang Persetujuan Tindakan
Kedokteran pasal 2 ayat 1 dan Pasal 2 ayat 3. 3. Peran perawat dalam Informed Consent
Peran perat sebagai advocator pasien dan sumber informasi
(communicator) bagi pasien selama fase perawatan di rumah sakit. Client
37
keluarga dalam menginterpretasikan informasi dari berbagai pemberi pelayanan dan dalam memberikan informasi lain yang diperlukan untuk mengambil persetujuan (informed consent) atas tindakan keperawatan yang diberikan kepadanya. A client advocate is an advocate of client’s
rights. Sedangkan educator yaitu sebagai pemberi pendidikan kesehatan
bagi klien dan keluarga. E. Aspek Praktek Keperawatan
1. Pengertian praktek perawat
a. Menurut Kepmenkes 1239/2001 Tentang Praktik Keperawatan, praktik
keperawatan adalah melakukan asuhan keperawatan meliputi pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan, melaksanakan tindakan dan evaluasi. Pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan atas permintaan tertulis dokter. Dan perawat yang memiliki SIPP dapat melakukan kunjungan rumah.
b. Menurut UU 38/2014 Tentang Keperawatan : Praktek keperawatan adalah pelayanan yang diselenggarakan oleh Perawat dalam bentuk Asuhan Keperawatan. Asuhan Keperawatan adalah rangkaian interaksi Perawat dengan Klien dan lingkungannya untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan dan kemandirian Klien dalam merawat dirinya. Dengan demikian seorang perawat yang melaaksanakan profesinya harus menggunakan metode asuhan keperawatan yang terdiri dari : pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan, melaksanakan tindakan dan evaluasi selama melakukan interaksi dengan klien.
2. Aspek etis praktek perawat
a. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan
Konsumen
b. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia
c. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan
d. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 Tentang Penerapan
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
38 f. Kode Etik Keperawatan Indonesia g. Kode Etik Kedokteran Indonesia
3. Aspek yuridis/hukum praktek perawat sesuai regulasi
a. SE Dirjen Yan-Med No. HK. 00.06.5.1.311 Tentang Home Care
Terdapat 23 tindakan keperawatan mandiri yang bisa dilakukan oleh perawat dalam kegiatan home care antara lain :
1) vital sign
2) memasang nasogastric tube 3) memasang selang susu besar 4) memasang cateter
5) penggantian tube pernafasan 6) merawat luka decubitus
7) suction
8) memasang peralatan O2 9) penyuntikan (IV,IM, IC,SC) 10) pemasangan infus maupun obat 11) pengambilan preparat
12) pemberian huknah/laksatif 13) kebersihan diri
14) latihan dalam rangka rehabilitasi medis
15) tranpostasi klien untuk pelaksanaan pemeriksaan diagnostik 16) pendidikan kesehatan
17) konseling kasus terminal 18) konsultasi/telepon
19) fasilitasi ke dokter rujukan
20) menyiapkan menu makanan
39
b. Permenkes Nomor 269 Tahun 2008 Tentang Rekam Medis
1) Pasal 6 Dokter, dokter gigi dan/atau tenaga kesehatan tertentu bertanggung jawab atas catatan dan/atau dokumen yang dibuat pada rekam medis
2) Pasal 7 Sarana Pelayanan Kesehatan wajib menyediakan fasilitas yang diperlukan dalam rangka penyelenggaraan rekam medis. 3) Pasal 9 ayat (1) Rekam medis pada sarana pelayanan kesehatan
non rumah sakit wajib disimpan sekurang-kurangnya untuk jangka waktu 2 (dua) tahun terhitung dari tanggal terakhir pasien berobat. 4) Pasal 10 ayat (1) Informasi tentang identitas, diagnosis, riwayat
penyakit, riwayat pemeriksaan dan riwayat pengobatan pasien harus dijaga kerahasiaannya oleh dokter, dokter gigi, tenaga kesehatan tertentu, petugas pengelola dan pimpinan sarana pelayanan kesehatan.
c. Undang-Undang 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
1) Pasal 1 ayat (6) Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
Ayat (11) Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintregasi dan berkesinambungan untuk memelihara danmeningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit, dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat.
2) Pasal 22 ayat (1) Tenaga kesehatan harus memiliki kualifikasi minimum.
3) Pasal 23 ayat (1) Tenaga kesehatan berwenang untuk
40
Ayat (2) Kewenangan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki.
Ayat (3) Dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan wajib memiliki izin dari pemerintah.
Ayat (4) Selama memberikan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang mengutamakan kepentingan yang bernilai materi.
4) Pasal 24 ayat (1) Tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 23 harus memenuhi ketentuan kode etik, standar profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan, standar pelayanan, dan standar prosedur operasional.
5) Pasal 27 ayat (1) Tenaga kesehatan berhak mendapatkan imbalan
dan pelindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.
Ayat (2) Tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya berkewajiban mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki.
6) Pasal 28 ayat (1) Untuk kepentingan hukum, tenaga kesehatan wajib melakukan pemeriksaan kesehatan atas permintaan penegak hukum dengan biaya ditanggung oleh negara.
7) Pasal 29 Dalam hal tenaga kesehatan diduga melakukan kelalaian dalam menjalankan profesinya, kelalaian tersebut harus diselesaikan terlebih dahulu melalui mediasi.
8) Pasal 34 ayat (2) Penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan dilarang mempekerjakan tenaga kesehatan yang tidak memiliki kualifikasi dan izin melakukan pekerjaan profesi.
41
10) Pasal 54 ayat (1) Penyelenggaraan pelayanan kesehatan
dilaksanakan secara bertanggung jawab, aman, bermutu, serta merata dan nondiskriminatif.
d. PMK Nomor 17 Tahun 2013 Tentang Perubahan PMK 148/2010
Tentang Ijin dan Penyelenggaraan Praktek Perawat
1) Pasal 2 ayat (1) Perawat dapat menjalankan praktik keperawatan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Ayat (2) Fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi fasilitas pelayanan kesehatan di luar praktik mandiri dan/atau praktik mandiri.
Ayat (3) Perawat yang menjalankan praktik mandiri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berpendidikan minimal Diploma III (D III) Keperawatan.
2) Pasal 3 ayat (1) Setiap Perawat yang menjalankan praktik keperawatan di fasilitas pelayanan kesehatan di luar praktik mandiri wajib memiliki SIKP.
Ayat (2) Setiap Perawat yang menjalankan praktik keperawatan di praktik mandiri wajib memiliki SIPP.
Ayat (3) SIKP dan SIPP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dikeluarkan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota dan berlaku untuk 1 (satu) tempat.
3) Pasal 5A Perawat hanya dapat menjalankan praktik keperawatan paling banyak di 1 (satu) tempat praktik mandiri dan di 1 (satu) tempat fasilitas pelayanan kesehatan di luar praktik mandiri.
4) Pasal 5B ayat (1) SIKP atau SIPP berlaku selama STR masih berlaku dan dapat diperbaharui kembali jika habis masa berlakunya.
e. Permenkes Nomor 290 Tahun 2008 Tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran
42
Ayat (2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan secara tertulis maupun lisan.
Ayat (3) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat penjelasan yang diperlukan tentang perlunya tindakan kedokteran dilakukan.
2) Pasal 3 ayat (1) Setiap tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi harus memperoleh persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan.
Ayat (2) Tindakan kedokteran yang tidak termasuk dalam ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan dengan persetujuan lisan.
Ayat (3) Persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat dalam bentuk pernyataan yang tertuang dalam formulir khusus yang dibuat untuk itu.
Ayat (4) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan dalam bentuk ucapan setuju atau bentuk gerakan menganggukkan kepala yang dapat diartikan sebagai ucapan setuju.
Ayat (5) Dalam hal persetujuan lisan yang diberikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dianggap meragukan, maka dapat dimintakan persetujuan tertulis.
3) Pasal 4 ayat (1) Dalam keadaan gawat darurat, untuk
menyelamatkan jiwa pasien dan/atau mencegah kecacatan tidak diperlukan persetujuan tindakan kedokteran.
Ayat (2) Keputusan untuk melakukan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diputuskan oleh dokter atau dokter gigi dan dicatat di dalam rekam medik.
43
4) Pasal 5 ayat (1) Persetujuan tindakan kedokteran dapat dibatalkan atau ditarik kembali oleh yang memberi persetujuan sebelum dimulainya tindakan.
Ayat (2) Pembatalan persetujuan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan secara tertulis oleh yang memberi persetujuan.
Ayat (3) Segala akibat yang timbul dari pembatalan persetujuan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) menjadi tanggung jawab yang membatalkan persetujuan.
5) Pasal 6 Pemberian persetujuan tindakan kedokteran tidak
menghapuskan tanggung gugat hukum dalam hal terbukti adanya kelalaian dalam melakukan tindakan kedokteran yang mengakibatkan kerugian pada pasien.
6) Pasal 7 ayat (1) Penjelasan tentang tindakan kedokteran harus diberikan langsung kepada pasien dan/atau keluarga terdekat, baik diminta maupun tidak diminta.
Ayat (2) Dalam hal pasien adalah anak-anak atau orang yang tidak sadar, penjelasan diberikan kepada keluarganya atau yang mengantar.
7) Pasal 9 ayat (1) Penjelasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 harus diberikan secara lengkap dengan bahasa yang mudah dimengerti atau cara lain yang bertujuan untuk mempermudah pemahaman.
Ayat (2) Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicatat dan didokumentasikan dalam berkas rekam medis oleh dokter atau dokter gigi yang memberikan penjelasan dengan mencantumkan tanggal, waktu, nama, dan tanda tangan pemberi penjelasan dan penerima penjelasan.
44
gigi dapat memberikan penjelasan tersebut kepada keluarga terdekat dengan didampingi oleh seorang tenaga kesehatan lain sebagai saksi.
8) Pasal 10 ayat (1) Penjelasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 diberikan oleh dokter atau dokter gigi yang merawat pasien atau salah satu dokter atau dokter gigi dari tim dokter yang merawatnya. Ayat (2) Dalam hal dokter atau dokter gigi yang merawatnya berhalangan untuk memberikan penjelasan secara langsung, maka pemberian penjelasan harus didelegasikan kepada dokter atau dokter gigi lain yang kompeten.
Ayat (3) Tenaga kesehatan tertentu dapat membantu memberikan penjelasan sesuai dengan kewenangannya.
Ayat (4) Tenaga kesehatan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah tenaga kesehatan yang ikut memberikan pelayanan kesehatan secara langsung kepada pasien.
9) Pasal 11 ayat (1) Dalam hal terdapat indikasi kemungkinan perluasan tindakan kedokteran, dokter yang akan melakukan tindakan juga harus memberikan penjelasan.
Ayat (2) Penjelasan kemungkinan perluasan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan dasar daripada persetujuan.
10) Pasal 12 ayat (1) Perluasan tindakan kedokteran yang tidak terdapat indikasi sebelumnya, hanya dapat dilakukan untuk menyelamatkan jiwa pasien.
Ayat (2) Setelah perluasan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan, dokter atau dokter gigi harus memberikan penjelasan kepada pasien atau keluarga terdekat. 11) Pasal 15 Dalam hal tindakan kedokteran harus dilaksanakan sesuai
45
f. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit
Pasal 13 ayat (3) Setiap tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit harus bekerja sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan Rumah Sakit, standar prosedur operasional yang berlaku, etika profesi, menghormati hak pasien dan mengutamakan keselamatan pasien.
g. PMK Nomor 36 Tahun 2012 Tentang Rahasia Kedokteran
Pasal 4 ayat (1) Semua pihak yang terlibat dalam pelayanan kedokteran dan/atau menggunakan data dan informasi tentang pasien wajib menyimpan rahasia kedokteran.
Ayat (2) Pihak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. dokter dan dokter gigi serta tenaga kesehatan lain yang memiliki akses terhadap data dan informasi kesehatan pasien; b. pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan; c. tenaga yang berkaitan dengan pembiayaan pelayanan kesehatan; d. tenaga lainnya yang memiliki akses terhadap data dan informasi kesehatan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan; e. badan hukum/korporasi dan/atau fasilitas pelayanan kesehatan; dan f. mahasiswa/siswa yang bertugas dalam pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan/atau manajemen informasi di fasilitas pelayanan kesehatan.
h. Permenkes Nomor 42 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan
Immunisasi
Pasal 27 ayat (3) Dokter di puskesmas dapat mendelegasikan kewenangan pelayanan imunisasi kepada bidan dan perawat sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan untuk melaksanakan imunisasi wajib sesuai program Pemerintah.
Ayat (4) Dalam hal di puskesmas tidak terdapat dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (3), bidan dan perawat dapat melaksanakan imunisasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
46
i. Permenkes Nomor 46 Tahun 2013 Tentang Registrasi Tenaga
Kesehatan
1) Pasal 2 ayat (1) Setiap Tenaga Kesehatan yang akan menjalankan praktik dan/atau pekerjaan keprofesiannya wajib memiliki izin dari Pemerintah.
Ayat (2) Untuk memperoleh izin dari Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperlukan STR.
Ayat (3) STR sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikeluarkan oleh MTKI dan berlaku secara nasional.
Ayat (4) Untuk memperoleh STR sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3), Tenaga Kesehatan harus memiliki Sertifikat Kompetensi.
2) Pasal 3 ayat (1) Sertifikat Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) diberikan kepada peserta didik setelah dinyatakan lulus Uji Kompetensi oleh perguruan tinggi bidang kesehatan yang memiliki izin penyelenggaraan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3) Pasal 4 ayat (1) STR berlaku sejak tanggal dikeluarkan dan berakhir pada tanggal lahir Tenaga Kesehatan yang bersangkutan di tahun kelima.
Ayat (2) STR dapat diperpanjang setiap 5 (lima) tahun setelah memenuhi persyaratan.
Ayat (3) Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi: a. pengabdian diri sebagai tenaga profesi atau vokasi di bidang kesehatan; dan b. pemenuhan kecukupan dalam kegiatan pelayanan, pendidikan, pelatihan, dan/atau kegiatan ilmiah lainnya. Ayat (4) Jumlah satuan kredit profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b untuk setiap kegiatan ditetapkan oleh MTKI atas usulan dari organisasi profesi.
47
huruf a dibuktikan dengan: a. keterangan kinerja dari institusi tempat bekerja, atau keterangan praktik dari kepala dinas kesehatan kabupaten/kota; b. Surat izin Praktik atau Surat Izin Kerja; dan c. rekomendasi dari organisasi profesi.
5) Pasal 6 Dalam hal Tenaga Kesehatan tidak dapat memenuhi ketentuan persyaratan perpanjangan STR sebagaimana dimaksu