Kunci jawaban dan pembahasan KIMIA XB

70  30 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)
(2)

Ki

Standar Kompetensi : 4. Memahami sifat-sifat senyawa organik atau dasar gugus fungsi dan senyawa makromolekul

(3)

2

Teknik InstrumenBentuk Contoh Instrumen

(4)

Ki

mi

a

Ke

la

s

X

Kompetensi Dasar

Materi Pokok/ Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

Indikator Pencapaian Kompetensi

Penilaian

Teknik Bentuk

Instrumen Contoh Instrumen

Alokasi Waktu

Alat dan Sumber Belajar Nilai dan

Materi yang Diintegrasikan

Struktur senyawa alkuna terdapat pada . . . .

a. H H H

| | | H – C – C – C – H

| |

H H

H – C – H | H

b. H H H

| | |

H – C – C = C – C – H

| | |

H H H – C – H | H

c. H H H

| | | H – C ≡ C – C – C – C – H

| | H H H – C – H

| H – C – H

| H

d. H H H

| | | H – C – C – C – H

| | H

H H |

H – C – C – H | | H H

e. H H H

| | | H – C = C – C – C – H

| |

H – C – H H | H – C – H

H |

––

––

Pilihan ganda Tes ter-tulis • Mampu memberi

nama senyawa alkana, alkena, dan alkuna.

5. Menggambar rumus struktur senyawa alkana, alkena, dan alkuna serta mem-beri nama sesuai aturan IUPAC.

3. Alat dan bahan yang sesuai untuk identifi-kasi unsur C dan H dalam senyawa hidro-karbon. 4. Buku BSE

(5)

4

Si

la

b

u

s Di antara senyawa berikut

yang mempunyai titik dengan Mr senyawa hidrokarbon.

Teknik InstrumenBentuk Contoh Instrumen

(6)

Ki

Teknik InstrumenBentuk Contoh Instrumen

(7)

6

Si

la

b

u

s

Kompetensi Dasar

Materi Pokok/ Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

Indikator Pencapaian Kompetensi

Penilaian

Teknik Bentuk

Instrumen Contoh Instrumen

Alokasi Waktu

Alat dan Sumber Belajar Nilai dan

Materi yang Diintegrasikan

Plastik merupakan salah satu senyawa hidrokar-bon yang sering diguna-kan sebagai pengganti kayu. Alasan yang tepat untuk pernyataan terse-but adalah . . . .

a. persediaan kayu ter-batas

b. plastik lebih awet dibandingkan kayu c. plastik berasal dari

reaksi polimerisasi d. kayu menimbulkan

pencemaran lingkungan e. plastik harganya lebih murah dibandingkan kayu

Senyawa polivinil asetat digunakan sebagai zat perekat pada cat interior. Senyawa tersebut ber-guna terutama di dalam bidang . . . .

a. seni b. papan c. pangan d. estetika e. sandang Pilihan

ganda

Pilihan ganda Tes

tertulis

Tes tertulis • Mampu

menjelas-kan kegunaan dan komposisi senyawa hidrokarbon dalam bidang papan.

• Mampu mendes-kripsikan keguna-an dkeguna-an komposisi senyawa hidrokar-bon dalam bidang seni dan estetika. 12. Mengkaji dan

men-diskusikan keguna-an dkeguna-an komposisi senyawa hidrokar-bon dalam bidang sandang dan papan.

(8)

Ki

Teknik InstrumenBentuk Contoh Instrumen

(9)

8

Si

la

b

u

s Senyawa hidrokarbon

yang memiliki nilai oktan terendah adalah . . . . a. butana

b. pentana c. 1-pentena d. n-heksana e. n-heptana

Jelaskan hubungan kuali-tas bensin dengan jumlah gas CO yang dihasilkan! Pilihan

Ganda

Uraian Tes

tertulis

Tes tertulis • Mampu

membeda-kan kualitas bensin b e r d a s a r k a n bilangan oktannya.

• Mampu menjelas-kan dampak pem-bakaran bahan bakar terhadap lingkungan. 4. Mengkaji

perbeda-an kualitas bensin berdasarkan bi-langan oktannya.

5. M e n d i s k u s i k a n dampak negatif pembakaran bahan bakar terhadap ma-nusia dan lingkung-an, serta alternatif pengganti bahan bakar yang aman. (•)

Kompetensi Dasar

Materi Pokok/ Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

Indikator Pencapaian Kompetensi

Penilaian

Teknik Bentuk

Instrumen Contoh Instrumen

Alokasi Waktu

Alat dan Sumber Belajar Nilai dan

Materi yang Diintegrasikan

(10)

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Bab I Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit

Sekolah : . . . . Kelas/Semester : X/2

Mata Pelajaran : Kimia

Alokasi Waktu : 4 × 45 menit (2 × pertemuan)

Standar Kompetensi : 3. Memahami sifat-sifat larutan nonelektrolit dan elektrolit serta reaksi oksidasi reduksi.

Kompetensi Dasar : 3.1 Mengidentifikasi sifat larutan nonelektrolit dan elektrolit berdasarkan data hasil percobaan.

Indikator Pencapaian Kompetensi

• Mampu mengidentifikasi sifat-sifat larutan elektrolit dan nonelektrolit melalui percobaan.

• Mampu mengelompokkan larutan ke dalam larutan elektrolit dan nonelektrolit berdasarkan sifat hantaran listriknya.

• Mampu menjelaskan penyebab kemampuan larutan elektrolit menghantarkan arus listrik.

• Mampu mendeskripsikan bahwa larutan elektrolit dapat berupa senyawa ion dan senyawa kovalen polar.

Tujuan Pembelajaran

Peserta didik mampu:

1. membedakan sifat-sifat larutan elektrolit dan nonelektrolit;

2. mengelompokkan larutan ke dalam larutan elektrolit dan nonelektrolit;

3. menjelaskan penyebab kemampuan larutan elektrolit menghantarkan arus listrik;

4. menyebutkan bahwa larutan elektrolit terdiri atas senyawa ion dan senyawa kovalen polar.

Nilai dan Materi yang Diintegrasikan

1. Pendidikan karakter: Rasa Ingin Tahu, Kreatif, dan Gemar Membaca. 2. Ekonomi kreatif: Kreatif, Komunikatif, dan Pantang Menyerah.

Materi Pembelajaran

1. Sifat-Sifat Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit 2. Cara Larutan Elektrolit Menghantarkan Listrik 3. Jenis Elektrolit Berdasarkan Ikatannya

Metode Pembelajaran

1. Model Pembelajaran

a. Direct Instruction (DI)

b. Cooperative Learning (CL)

2. Metode

a. Tanya jawab b. Eksperimen

Langkah-Langkah Kegiatan

Pertemuan Pertama

1. Kegiatan Pendahuluan (10 menit) a. Motivasi

Guru menanyakan perbedaan antara campuran homogen dan heterogen melalui contoh.

b. Prasyarat Pengetahuan

(11)

2. Kegiatan Inti (75 menit) a. Eksplorasi

• Guru menjelaskan pengertian larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit. • Guru menjelaskan cara menentukan derajat ionisasi larutan.

• Guru menjelaskan cara larutan elektrolit menghantarkan listrik.

b. Elaborasi

• Siswa mengidentifikasi perbedaan ciri-ciri larutan elektrolit dan nonelektrolit melalui percobaan. Setelah melakukan percobaan, guru meminta siswa untuk mengembangkan rasa ingin tahunya mengenai sifat elektrolit dan nonelektrolit dari larutan-larutan yang ada di sekitar siswa. Dengan rasa ingin tahu, siswa akan tertarik untuk menguji sifat-sifat elektrolit suatu larutan. (*)

• Siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan dan membuat kesimpulan mengenai hasil percobaan. Setelah mengetahui ciri-ciri larutan elektrolit dan nonelektrolit, guru meminta siswa untuk bersikap kreatif dengan menerapkan sifat larutan elektrolit yang ada di sekitar untuk menyalakan lampu saat terjadi pemadaman listrik. Dengan demikian, siswa belajar mengaplikasikan ilmu di dunia nyata. (•) • Siswa mengerjakan soal-soal latihan pada uji Kompetensi 1 mengenai sifat-sifat larutan elektrolit

dan nonelektrolit.

• Siswa berkreasi membuat bagan atau gambar cara beberapa larutan elektrolit menghantarkan listrik. Guru meminta siswa berlatih bersikap komunikatif dengan membentuk kelompok belajar dan melakukan diskusi mengenai senyawa elektrolit dan nonelektrolit. Siswa saling membantu dan bertukar pendapat. Dengan demikian, materi akan lebih mudah dipahami. (**)(••)

• Siswa mengerjakan soal-soal latihan pada Uji Kompetensi 2 mengenai cara larutan elektrolit meng-hantarkan listrik.

(*) Pendidikan karakter (Rasa Ingin Tahu). (**) Pendidikan karakter (Kreatif).

(•) Ekonomi kreatif (Kreatif). (••) Ekonomi kreatif (komunikatif).

c. Konfirmasi

• Guru meminta siswa mengumpulkan pembahasan hasil percobaan. • Guru bersama siswa membahas dan menyimpulkan hasil percobaan. • Guru bersama siswa membahas soal-soal latihan yang dikerjakan siswa.

3. Kegiatan Penutup (5 menit)

Guru meminta siswa mempelajari materi jenis elektrolit berdasarkan ikatannya.

Pertemuan Kedua 1. Kegiatan Pendahuluan (5 menit)

a. Motivasi

Guru menanyakan pengertian senyawa ion, kovalen polar, dan kovalen nonpolar.

b. Prasyarat Pengetahuan

Siswa mengetahui proses ionisasi zat elektrolit dalam air.

2. Kegiatan Inti (30 menit) a. Eksplorasi

• Guru menjelaskan pengertian senyawa ion dan senyawa kovalen polar.

• Guru menjelaskan beberapa contoh senyawa ion dan senyawa kovalen polar. Guru memotivasi siswa untuk mencari informasi yang lebih lengkap mengenai senyawa ion dan senyawa kovalen (polar dan nonpolar) dari berbagai literatur. Dengan banyak membaca, pengetahuan siswa akan semakin luas. (***)

• Guru memotivasi siswa untuk bersikap pantang menyerah dalam belajar, baik saat mempelajari materi maupun mengerjakan soal. Dengan banyak belajar dan berlatih, pemahaman siswa mengenai suatu konsep akan semakin meningkat. (•••)

(12)

b. Elaborasi

Siswa mengerjakan soal-soal Uji Kompetensi 3.

c. Konfirmasi

Guru bersama siswa membahas soal-soal yang dikerjakan oleh siswa.

3. Kegiatan Penutup (5 menit)

Guru menugasi siswa untuk mengerjakan soal-soal ulangan harian pada bab ini.

Alat Sumber Belajar

1. Buku PG Kimia Kelas X Semester 2, Intan Pariwara, 2012 2. Buku PR Kimia Kelas X Semester 2, Intan Pariwara, 2012

3. Seperangkat alat dan bahan untuk percobaan identifikasi sifat larutan elektrolit dan nonelektrolit

4. Buku BSE Kimia X untuk SMA/MA, Ari Harnanto dan Ruminten, Depdiknas, 2009

Penilaian Hasil Belajar

1. Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen a. Teknik Penilaian

1) Tes tertulis 2) Tes unjuk kerja

b. Bentuk Instrumen

1) Uraian

2) Uji petik kerja prosedur

2. Contoh Instrumen a. Uraian

Suatu zat dalam bentuk padatan tidak dapat menghantarkan arus listrik, tetapi saat dilarutkan dalam air zat tersebut dapat menghantarkan arus listrik. Berilah penjelasan mengenai hal tersebut!

b. Uji Petik Kerja Prosedur

Lakukan percobaan untuk mengidentifikasi sifat-sifat larutan elektrolit dan nonelektrolit dengan cara menyusun rangkaian alat penguji elektrolit dari baterai, bola lampu, kabel, elektrode karbon, dan gelas beker! Uji beberapa larutan untuk mengetahui perbedaan ciri-ciri larutan elektrolit dan nonelektrolit! Rubrik:

Nilai akhir = × 100

________, ______________

Mengetahui,

Kepala SMA ______________ Guru Mata Pelajaran

. . . . ___________________________ ___________________________ NIP _______________________ NIP _______________________

No. Aspek

1. 2. 3. 4.

Kesesuaian kegiatan dengan prosedur Perolehan data

Pengolahan data Kesimpulan Total

Skor Maksimum

20 10 15 5 50

(13)

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Bab IV Minyak Bumi

Sekolah : . . . . Kelas/Semester : X/2

Mata Pelajaran : Kimia

Alokasi Waktu : 4 × 45 menit (2 × pertemuan)

Standar Kompetensi : 4. Memahami sifat-sifat senyawa organik atau dasar gugus fungsi dan senyawa makromolekul

Kompetensi Dasar : 4.4 Menjelaskan proses pembentukan dan teknik pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi serta kegunaannya.

Indikator Pencapaian Kompetensi

• Mampu mendeskripsikan proses pembentukan minyak bumi dan gas alam. • Mampu menjelaskan komponen-komponen utama penyusun minyak bumi.

• Mampu menafsirkan bagan penyulingan bertingkat untuk menjelaskan dasar dan teknik pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi.

• Mampu mengkaji perbedaan kualitas bensin berdasarkan bilangan oktannya.

• Mendeskripsikan dampak negatif pembakaran bahan bakar terhadap manusia dan lingkungan serta alternatif pengganti bahan bakar yang aman.

Tujuan Pembelajaran

Peserta didik mampu:

1. menjelaskan proses pembentukan minyak bumi dan gas alam; 2. menyebutkan komponen-komponen utama minyak bumi;

3. menjelaskan bagan penyulingan bertingkat pada minyak bumi dan menjelaskan teknik pemisahan minyak bumi,

4. menjelaskan perbedaan kualitas bensin berdasarkan bilangan oktannya;

5. menjelaskan dampak negatif pembakaran bahan bakar terhadap manusia dan lingkungan serta alternatif bahan bakar yang aman.

Nilai dan Materi yang Diintegrasikan

1. Pendidikan karakter: Peduli Lingkungan. 2. Ekonomi kreatif: Kreatif.

Materi Pembelajaran

1. Minyak bumi dan gas alam

2. Bensin dan dampak pembakaran bahan bakar

Metode Pembelajaran

1. Model Pembelajaran

a. Direct Instruction (DI)

b. Cooperative Learning (CL)

2. Metode

a. Tanya jawab b. Diskusi informasi

Langkah-Langkah Kegiatan

Pertemuan Pertama 1. Kegiatan Pendahuluan (10 menit)

a. Motivasi

(14)

b. Prasyarat Pengetahuan

• Siswa dapat menyebutkan contoh senyawa hidrokarbon, misal minyak bumi.

2. Kegiatan Inti (75 menit) a. Eksplorasi

• Guru menjelaskan proses pembentukan minyak bumi dan gas alam.

• Guru menjelaskan kandungan berbagai senyawa karbon dalam minyak bumi. • Guru menjelaskan proses menyulingan minyak bumi dan fraksi-fraksinya.

b. Elaborasi

• Siswa menyebutkan kegunaan dari fraksi-fraksi minyak bumi.

• Siswa mengerjakan soal-soal latihan pada Uji Kompetensi 1 dan tugas pada subbab ini.

c. Konfirmasi

Guru menjelaskan pembahasan soal-soal latihan yang dikerjakan siswa.

3. Kegiatan Penutup (5 menit)

Guru meminta siswa mengumpulkan hasil tugasnya pada pertemuan selanjutnya.

Pertemuan Kedua 1. Kegiatan Pendahuluan (5 menit)

a. Motivasi

Guru menanyakan kepada siswa tentang senyawa yang dihasilkan dari reaksi pembakaran.

b. Prasyarat Pengetahuan

Siswa mengetahui persamaan reaksi pembakaran.

2. Kegiatan Inti (30 menit) a. Eksplorasi

• Guru menjelaskan tentang bensin dan penentuan bilangan oktannya.

• Guru memberi contoh senyawa-senyawa hidrokarbon yang digunakan untuk menaikkan bilangan oktan pada bensin.

• Guru menjelaskan dampak negatif pembakaran bahan bakar, khususnya bensin. Guru menjelaskan bahwa pembakaran bensin menghasilkan gas CO yang berbahaya bagi kesehatan jika terhirup. Oleh karena itu, guru mengingatkan siswa agar tidak menghidupkan mensin kendaraan bermotor di dalam ruang tertutup agar lingkungan di dalam rumah bersih dari polutan gas CO. (*)

• Guru membuka forum diskusi siswa untuk mencari bahan bakar alternatif sebagai pengganti bensin. Guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok diskusi untuk mendiskusikan bahan bakar alternatif pengganti bensin. Setiap kelompok diminta kreatif mengemukakan pendapatnya tentang pandangan kelompoknya terhadap suatu bahan tertentu beserta cara pengolahannya sehingga bahan tersebut dapat dijadikan sebagai bahan bakar pengganti bensin. Kelompok yang lain juga diminta kreatif menanggapi dan memberi masukan kepada kelompok yang memimpin diskusi. (•)

(*) Pendidikan karakter (Peduli Lingkungan). (•) Ekonomi kreatif (Kreatif).

b. Elaborasi

• Siswa menyebutkan berbagai bahan alam yang dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti bensin atau solar.

• Siswa mengerjakan soal-soal Uji Kompetensi 2.

c. Konfirmasi

Guru bersama siswa membahas soal-soal yang dikerjakan siswa.

3. Kegiatan Penutup (5 menit)

(15)

Alat Sumber Belajar

1. Buku PG Kimia Kelas X Semester 2, Intan Pariwara, 2012 2. Buku PR Kimia Kelas X Semester 2, Intan Pariwara, 2012

3. Buku BSE Kimia X untuk SMA/MA, Ari Harnanto dan Ruminten, Depdiknas, 2009

Penilaian Hasil Belajar

1. Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen a. Teknik Penilaian

Tes tertulis

b. Bentuk Instrumen

1) Pilihan ganda 2) Uraian

2. Contoh Instrumen a. Pilihan Ganda

Lilin merupakan hasil pengolahan minyak bumi yang berwujud padat. Lilin diperoleh dari proses pengolahan fraksi . . . .

a. oli b. solar c. residu d. bensin e. kerosin

b. Uraian

Sebutkan senyawa-senyawa hidrokarbon yang terdapat di dalam minyak bumi!

________, ______________

Mengetahui,

Kepala SMA ______________ Guru Mata Pelajaran

(16)

Bab I

Larutan Elektrolit dan

Nonelektrolit

A. Pilihan Ganda

1. Jawaban: e

Larutan merupakan campuran homogen (serbasama) antara dua zat atau lebih. Garam yang dimasukkan ke dalam air dan diaduk akan membentuk campuran serbasama. Larutan garam jika disaring dengan kertas saring tidak akan meninggalkan partikel zat terlarut. Sementara itu, pasir, tanah, kerikil, dan kopi akan membentuk campuran heterogen dan meninggalkan partikel zat terlarut saat disaring dengan kertas saring.

2. Jawaban: c

Larutan elektrolit lemah mengalami ionisasi sebagian sehingga dalam larutannya hanya mengandung sedikit ion. Hal ini mengakibatkan larutan elektrolit hanya mampu menyalakan lampu dengan redup atau menghasilkan sedikit gelembung gas.

3. Jawaban: c

Larutan yang dapat menyalakan lampu dengan redup saat diuji dengan alat uji elektrolit adalah larutan elektrolit lemah, misal asam cuka. Asam sulfat dan garam dapur adalah elektrolit kuat yang dapat menyalakan lampu dengan terang. Gula pasir dan urea adalah senyawa nonelektrolit sehingga tidak dapat menyalakan lampu.

4. Jawaban: a

Larutan elektrolit kuat merupakan larutan yang akan terionisasi sempurna jika dilarutkan dalam air, misal HCl dan H2SO4. Sementara itu, CH3COOH dan NH3 merupakan larutan elektrolit lemah karena hanya terionisasi sebagian saat dilarutkan dalam air. C6H12O6 merupakan larutan nonelektrolit karena di dalam air tidak dapat terionisasi.

5. Jawaban: e

Menyalakan lampu dengan terang adalah ciri larutan elektrolit kuat.

6. Jawaban: b

Jumlah mol zat mula-mula = 30 mol Jumlah mol zat yang terionisasi = (30 – 20) mol = 10 mol

α = =

= 0,333.

7. Jawaban: e

Jumlah mol zat mula-mula = =

= 0,5 mol

α = = − = = 0,6

Oleh karena mempunyai derajat ionsiasi 0 < α < 1, zat tersebut termasuk elektrolit lemah.

8. Jawaban: b

Alkohol dan bensin merupakan senyawa nonelektrolit. Bentuk larutan dari zat-zat tersebut tidak dapat menghantarkan arus listrik. Sementara itu, air laut, air jeruk, soda kue, dan garam dapur merupakan zat elektrolit. Dalam bentuk larutannya, zat-zat tersebut akan terionisasi sehingga mampu menghantarkan arus listrik.

9. Jawaban: b

HCl merupakan zat elektrolit kuat. Dalam air, HCl akan terionisasi menjadi ion H+ dan Cl sehingga dapat menghantarkan arus listrik. Dalam benzena, HCl tidak dapat larut dan tidak terionisasi sehingga tidak dapat menghantarkan arus listrik.

10. Jawaban: a

Bahan kimia yang termasuk nonelektrolit yaitu lelehan naftalena (kamper). Sementara itu, larutan natrium hidroksida, larutan kalium iodida, larutan asam etanoat, dan larutan asam sulfat merupakan larutan elektrolit.

B. Uraian

1. Larutan tersusun dari zat terlarut dan pelarut. Zat terlarut dan pelarut dalam suatu larutan tidak dapat dibedakan. Dalam larutan, jumlah zat terlarut lebih sedikit daripada pelarut.

2. a. Larutan elektrolit akan menghasilkan

(17)

b. Larutan elektrolit kuat akan menghasilkan banyak gelembung gas dan menyalakan lampu dengan terang.

Larutan elektrolit lemah hanya akan menghasilkan sedikit gelembung gas dan tidak dapat menyalakan lampu atau menyalakan lampu dengan redup.

4. Ionisasi adalah peristiwa terurainya molekul zat elektrolit menjadi partikel-partikel penyusunnya yang disebut ion saat zat elektrolit tersebut dilarutkan dalam air.

Contoh: NaCl(aq)→ Na+(aq) + Cl(aq) 5. H3PO4 ←→ 3H++ PO

43–

α = 0,40

Jumlah mol zat mula-mula = 5 mol

α =

Jumlah mol zat yang terionisasi = α × jumlah mol zat mula-mula = 0,40 × 5 mol

= 2 mol

Jadi, jumlah mol zat yang terionisasi adalah 2 mol.

A. Pilihan Ganda

1. Jawaban: a

Teori ion menyatakan bahwa dalam larutan elektrolit terdapat ion-ion yang dapat bergerak bebas. Ion-ion yang dapat bergerak bebas tersebut menghantarkan arus listrik melalui larutan. Teori ini dikemukakan oleh Arrhenius.

2. Jawaban: d

Teori Arrhenius menyatakan bahwa larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik karena ion-ion dalam larutan dapat bergerak bebas.

3. Jawaban: a

Anion (ion negatif) yang terurai dari larutan elektrolit pada proses elektrolisis akan melepas elektron ke anode. Elektron tersebut mengalir dari anode ke katode melalui sumber arus.

4. Jawaban: d

H2SO4 merupakan larutan asam kuat sehingga

akan terionisasi sempurna menjadi 2H+ dan SO

4 2–.

5. Jawaban: a

Garam elektrolit kuat berasal dari asam kuat dan basa kuat. KCl berasal dari asam kuat HCl dan basa kuat KOH. Sementara itu, NH4Cl, Al2(SO4)3,

HCOOK, dan CH3COONa adalah garam lemah.

NH4Cl berasal dari asam kuat HCl dan basa lemah NH4OH. Al2(SO4)3 berasal dari asam kuat H2SO4 dan basa lemah Al(OH)3. HCOOK berasal dari basa

kuat KOH dan asam lemah HCOOH. CH3COONa

berasal dari basa kuat NaOH dan asam lemah

CH3COOH.

6. Jawaban: b

Daya hantar listrik paling besar dimiliki oleh larutan

elektrolit kuat. H2SO4 dan NaCl merupakan

elektrolit kuat. Namun, jumlah ion dari H2SO4 lebih banyak daripada NaCl sehingga larutan yang mempunyai daya hantar listrik paling besar adalah H2SO4. CH3COOH dan NH4OH adalah elektrolit

lemah, sedangkan CH3OH merupakan

non-elektrolit.

7. Jawaban: b

Larutan yang bersifat elektrolit (kuat atau lemah) dapat menghantarkan arus listrik. Larutan tersebut akan menyalakan lampu dan menghasilkan gelembung gas atau tidak menyalakan lampu, tetapi menghasilkan gelembung gas.

8. Jawaban: e

Larutan yang termasuk elektrolit kuat yaitu larutan yang berasal dari asam kuat, basa kuat, dan larutan garam dari basa kuat dan asam kuat. Larutan asam lemah dan basa lemah termasuk elektrolit lemah.

9. Jawaban: a

Reaksi ionisasi tiap-tiap senyawa sebagai berikut. H2SO4→ 2H+ + SO

Dari persamaan reaksi terlihat bahwa H2SO4

mempunyai ion paling banyak, yaitu tiga ion (dua ion H+ dan satu ion SO

42–).

10. Jawaban: c

(18)

nonelektrolit tidak dapat menghantarkan arus listrik sehingga tidak dapat menyalakan lampu dan tidak menimbulkan gas saat diuji dengan alat penguji elektrolit.

11. Jawaban: b

Reaksi elektrolisis AgCl menghasilkan endapan perak di katode dan gas klorin di anode.

12. Jawaban: c

Larutan Mg(OH)2 adalah larutan elektrolit kuat yang akan terionisasi sempurna. Larutan ini mampu menyalakan lampu dengan terang dan menimbulkan banyak gelembung gas.

13. Jawaban: c

BaSO4 adalah garam dari asam kuat (H2SO4) dan

basa kuat (Ba(OH)2) sehingga BaSO4 akan

terionisasi sempurna. Ion Ba2+ menangkap elektron

dari katode membentuk endapan Ba dan ion SO42–

akan melepas elektron ke anode membentuk gas

SO2. Elektron mengalir dari anode ke katode

melalui sumber arus.

14. Jawaban: c

Kertas saring yang dibasahi dengan larutan CuCrO4 lalu dijepit dengan penjepit buaya dan dihubung-kan dengan sumber arus listrik adihubung-kan menunjukdihubung-kan peristiwa pergerakan ion menuju elektrode. Pada kutub positif (anode) kertas saring akan berwarna

kuning karena adanya ion CrO42–. Pada kutub

negatif (katode) kertas saring akan berwarna biru

yang merupakan warna ion Cu2+.

15. Jawaban: c

AgCl adalah garam yang berasal dari basa kuat dan asam kuat sehingga termasuk elektrolit kuat.

AgCl terionisasi sempurna dalam air menjadi Ag+

dan Cl–.

B. Uraian

1. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa zat padat dapat terionisasi saat dilarutkan dalam air. Zat tersebut terurai menjadi ion-ionnya yang dapat bergerak bebas sehingga mampu menghantarkan arus listrik. Berbeda dengan bentuk padatan yang mempunyai ikatan kuat dan tidak mengandung ion.

2. Senyawa elektrolit dapat menghantarkan arus listrik jika berada dalam bentuk larutan. Dalam bentuk larutan, senyawa elektrolit akan mengalami ionisasi. Selanjutnya, kedua elektrode yang berbeda dimasukkan ke dalam larutan elektrolit. Kedua elektrode tersebut dihubungkan pada sumber arus listrik sehingga terbentuk katode (elektrode yang bermuatan negatif) dan anode (elektrode yang bermuatan positif). Pada saat sumber arus listrik dihubungkan, ion-ion positif

dalam larutan elektrolit akan menangkap elektron dari katode. Sebaliknya, ion-ion negatif dalam larutan elektrolit melepas elektron ke anode. Selanjutnya, elektron yang telah ditangkap anode mengalir ke katode melalui sumber arus listrik. Pelepasan dan penerimaan elektron oleh ion ini akan mengakibatkan adanya hantaran arus listrik.

3. a. Ba(OH)2(aq)→ Ba2+(aq) + 2OH(aq)

2) elektrolit lemah : HCOOH dan HCN

3) nonelektrolit : C2H5OH dan C8H18

b. Gejala yang muncul jika diuji dengan alat uji

elektrolit.

1) Larutan elektrolit kuat akan mampu

menyalakan lampu dengan terang dan menimbulkan banyak gelembung gas.

2) Larutan elektrolit lemah akan mampu

menyalakan lampu dengan redup atau tidak mampu menyalakan lampu dan menimbulkan gelembung gas.

3) Larutan nonelektrolit tidak mampu

me-nyalakan lampu dan tidak menimbulkan gelembung gas.

5. α =

Jumlah mol zat yang terionisasi = α × jumlah mol zat mula-mula

a. Ion-ion NaOH yang terbentuk

= jumlah mol zat yang terionisasi = 1 × 1 = 1 mol

b. Ion-ion H2SO4 yang terbentuk = jumlah mol zat yang terionisasi = 1 × 2 = 2 mol

c. Ion-ion NH4OH yang terbentuk

= jumlah mol zat yang terionisasi = 0,5 × 1 = 0,5 mol

d. Ion-ion C2H5COOH yang terbentuk

= jumlah mol zat yang terionisasi = 0,75 × 1 = 0,75 mol

(19)

A. Pilihan Ganda

1. Jawaban: a

Senyawa yang dalam bentuk lelehan dapat menghasilkan ion adalah senyawa ion. Lelehan senyawa ion mengandung ion-ion yang dapat bergerak bebas sehingga dapat menghantarkan arus listrik. Berbeda dengan senyawa kovalen polar yang hanya dapat menghasilkan ion saat dilarutkan dalam air.

2. Jawaban: d

Adanya suatu gaya tarik-menarik antaratom dalam senyawa kovalen polar dapat memutuskan ikatan-ikatan dalam molekul sehingga terbentuk ion.

3. Jawaban: d

H2CO3 merupakan senyawa kovalen polar yang

dapat menghantarkan arus listrik. Fe(OH)3 dan KOH berikatan ionik, sedangkan CH4 dan H2 merupakan senyawa kovalen nonpolar yang bersifat nonelektrolit sehingga tidak dapat menghantarkan arus listrik.

4. Jawaban: a

Senyawa elektrolit yang dalam bentuk lelehan tidak dapat menghantarkan arus listrik adalah senyawa kovalen polar, contoh HNO3. NaCl, KF, LiOH, dan

Sr(OH)2 adalah senyawa ion yang dapat

menghantarkan arus listrik dalam bentuk lelehan.

5. Jawaban: b

HCl dan NH3 adalah senyawa kovalen. NaF dan

KCl adalah senyawa ionik.

6. Jawaban: b

LiOH merupakan senyawa elektrolit kuat yang berasal dari senyawa ion. HBr merupakan elektrolit kuat yang berasal dari senyawa kovalen polar. H2CO3, H3PO4, dan NH4OH merupakan senyawa kovalen polar yang bersifat elektrolit lemah.

7. Jawaban: a

Senyawa kovalen polar dalam bentuk lelehan tidak dapat menghantarkan arus listrik tetapi dapat menghantarkan arus listrik dalam bentuk larutan. Sementara itu, senyawa ion dapat menghantarkan arus listrik baik dalam bentuk lelehan maupun larutan.

8. Jawaban: b

Gula (C6H12O6) jika dilarutkan dalam air tidak akan

terionisasi (α = 0) karena merupakan larutan

nonelektrolit. Di dalam larutan tersebut tidak terdapat ion, tetapi semua masih dalam bentuk molekul.

9. Jawaban: b

Senyawa kovalen merupakan senyawa yang terbentuk karena pemakaian bersama pasangan elektron, misal HBr (asam bromida). Reaksi ionisasinya sebagai berikut.

HBr(aq)→ H+(aq) + Br(aq)

NaBr, KCl, LiOH, dan Mg(OH)2 merupakan

senyawa ion.

10. Jawaban: c

Senyawa berbentuk gas merupakan senyawa kovalen. Senyawa kovalen yang dapat menghantarkan arus listrik dalam bentuk larutan adalah senyawa kovalen polar. Senyawa ini terionisasi dalam air. Ion-ion yang dihasilkan dapat menghantarkan arus listrik.

B. Uraian

1. Ya, semua senyawa ion termasuk elektrolit. Senyawa ion adalah senyawa yang terbentuk dari atom logam dan atom nonlogam yang berikatan ion. Senyawa ion dalam bentuk lelehan maupun larutan dapat menghantarkan arus listrik karena adanya ion-ion yang bergerak bebas. Oleh karena itu, senyawa ion termasuk elektrolit. Semua senyawa ion merupakan elektrolit kuat, kecuali Al(OH)3 dan Fe(OH)3.

2. Hidrasi adalah proses terkurung dan terikatnya ion atau molekul zat terlarut oleh molekul-molekul air. Saat zat dilarutkan dalam air, zat tersebut akan berinteraksi dengan molekul air sehingga terurai menjadi ion-ion atau molekul-molekulnya.

3. Senyawa ion dalam bentuk lelehan maupun larutan dapat menghantarkan arus listrik karena ion-ionnya dapat bergerak bebas. Berbeda dengan bentuk kristalnya yang tersusun rapat, ion-ion penyusun-nya tidak dapat bergerak. Oleh karena itu, kristal senyawa ion tidak dapat menghantarkan arus listrik.

4. Larutan senyawa kovalen polar bersifat elektrolit karena dalam larutan senyawa kovalen polar mengalami ionisasi menjadi ion-ionnya yang dapat bergerak bebas. Dalam larutan, ion-ion dapat melepas dan menerima elektron sehingga dapat menghantarkan arus listrik.

(20)

5. a. Sr(OH)2, KBr, dan LiOH: senyawa ion Senyawa-senyawa tersebut termasuk elektrolit kuat karena dapat terionisasi sempurna dalam air, mampu menyalakan lampu dengan terang, dan menghasilkan banyak gelembung gas. b. H2CO3, NH4Cl, dan H3PO4: senyawa kovalen

polar

Senyawa-senyawa kovalen polar tersebut termasuk elektrolit lemah karena terionisasi sebagian dalam air, mampu menyalakan lampu dengan redup, dan menghasilkan sedikit gelembung gas.

c. H2O dan Cl2: senyawa kovalen nonpolar

Senyawa-senyawa tersebut termasuk nonelektrolit karena tidak dapat terionisasi dalam air dan tidak dapat menghantarkan arus listrik.

A. Pilihan Ganda

1. Jawaban: b

Larutan yang dapat menyalakan lampu dengan terang dan menghasilkan gelembung gas adalah larutan elektrolit kuat. HBr termasuk elektrolit kuat. H2S dan Fe(OH)3 adalah elektrolit lemah. C2H5OH dan C6H12O6 adalah nonelektrolit.

2. Jawaban: d

Jumlah mol zat yang terionisasi = α × jumlah mol zat mula-mula = 0,4 × 2 = 0,8 mol

Jumlah mol zat yang tidak terionisasi = (2 – 0,8) mol

= 1,2 mol

3. Jawaban: e

Urea merupakan zat nonelektrolit. Dengan demikian, sifat-sifat urea saat dilarutkan di dalam air yaitu tidak mengalami ionisasi dan tetap sebagai

molekul, mempunyai α = 0, tidak dapat

menghantarkan arus listrik, tidak dapat menyala-kan lampu, serta tidak menghasilmenyala-kan gelembung gas.

4. Jawaban: d

Ion H+ adalah kation. Kation akan menangkap

elektron dari katode. Sebanyak dua ion H+ akan

membentuk H2 dengan menangkap dua elektron

sehingga timbul gelembung gas hidrogen.

5. Jawaban: e

MgCl2 dan NaOH adalah senyawa elektrolit kuat.

Persamaan reaksi ionisasinya ditandai dengan satu

arah panah ke kanan. NH4OH, H3PO4, dan HF

adalah senyawa elektrolit lemah. Persamaan reaksi ionisasinya ditandai dengan dua arah panah bolak-balik. Persamaan reaksi ionisasi yang tepat ditunjukkan oleh reaksi H3PO4.

6. Jawaban: c

Anion akan melepas elektron yang ditangkap oleh anode. Katode melepas elektron yang kemudian ditangkap oleh kation. Elektron mengalir dari anode menuju katode melalui sumber arus.

7. Jawaban: a

Larutan yang mengalami ionisasi sempurna dalam air adalah larutan elektrolit kuat. NaOH dan HCl adalah larutan elektrolit kuat. CO(NH)2 dan CH3OH

adalah larutan nonelektrolit. H2S dan Al(OH)3

adalah larutan elektrolit lemah. Jadi, larutan yang mengalami ionisasi sempurna adalah HCl dan NaOH.

8. Jawaban: e

Larutan yang tidak dapat menyalakan lampu tetapi mampu menghasilkan gelembung gas adalah larutan elektrolit lemah, misal asam karbonat. Asam klorida dan garam dapur adalah larutan elektrolit kuat. Urea dan etanol adalah larutan nonelektrolit.

9. Jawaban: e

Larutan yang mempunyai derajat ionisasi (α) = 1 adalah larutan elektrolit kuat, misal HBr, HNO3,

H2SO4, dan Ca(OH)2. HCOOH adalah larutan

elektrolit lemah yang memiliki derajat ionisasi 0 < α < 1.

10. Jawaban: c

Ion PO43– merupakan ion yang bermuatan negatif (anion). Dalam proses elektrolisis, anion akan bergerak menuju anode.

11. Jawaban: e

Larutan KOH adalah elektrolit kuat yang terionisasi sempurna menjadi ion-ionnya. Ion positif (kation) akan menerima elektron dari katode, sedangkan ion negatif akan melepas elektron ke anode. Proses pelepasan dan penerimaan elektron ini mengakibatkan larutan KOH dapat menghantarkan arus listrik.

12. Jawaban: e

Larutan yang dapat menyalakan lampu dengan redup dan menimbulkan gelembung gas adalah larutan elektrolit lemah. Contoh H2CO3, Al(OH)3,

dan CH3COOH. Sementara itu, NaOH, LiOH, dan

(21)

13. Jawaban: c

Senyawa H2CO3 merupakan elektrolit lemah yang

akan terionisasi sebagian menjadi 2H+ dan CO

32–. Ionisasi sebagian ditandai dengan dua arah panah bolak-balik.

14. Jawaban: c

Aliran listrik dalam larutan elektrolit dapat terus berlangsung selama masih ada kation dan anion. Saat semua kation sudah menangkap elektron dari katode dan semua anion sudah melepas elektron ke anode, aliran listrik akan berhenti.

15. Jawaban: a

Larutan elektrolit lemah ditunjukkan oleh lampu A dan C karena gelembung gas tidak menyalakan lampu dan menyalakan lampu redup meskipun tidak terbentuk gelembung gas. Sementara itu, larutan B dan E adalah larutan elektrolit kuat yang ditandai dengan nyala lampu terang dan ada gelembung gas. Larutan D adalah larutan nonelektrolit karena tidak dapat menyalakan lampu ataupun menghasilkan gelembung gas.

16. Jawaban: a

CaSO4 merupakan senyawa ion yang akan

terionisasi sempurna dalam air dengan derajat ionisasi (α) = 1. CaSO4 adalah senyawa elektrolit kuat yang mampu menyalakan lampu dengan terang dan menghasilkan gelembung gas.

17. Jawaban: d

Larutan elektrolit kuat ditunjukkan oleh larutan nomor 4) dan 5) karena mampu menghasilkan banyak gelembung dan menyalakan lampu meskipun larutan nomor 4) menyalakan lampu dengan redup. Larutan nomor 2) dan 3) merupakan larutan elektrolit lemah karena menghasilkan sedikit gelembung gas dan tidak dapat menyalakan lampu atau menyalakan lampu dengan redup. Sementara itu, larutan nonelektrolit ditunjukkan oleh larutan nomor 1) karena tidak dapat menghasilkan gelembung gas dan tidak dapat menyalakan lampu. Jadi, pasangan larutan elektrolit kuat dan nonelektrolit berturut-turut ditunjukkan oleh nomor 5) dan 1).

18. Jawaban: a

Zat A adalah elektrolit kuat yang akan terionisasi sempurna sehingga jumlah mol yang tersisa 0. Zat B adalah nonelektrolit yang tidak bisa terionisasi sehingga jumlah mol tidak berkurang.

19. Jawaban: e

Larutan yang mempunyai derajat ionisasi 0 < α < 1 adalah larutan elektrolit lemah, misal NH4OH dan H2CO3. Larutan KBr, NaOH, dan HCl adalah larutan elektrolit kuat dengan α = 1.

20. Jawaban: e

Larutan elektrolit lemah dapat menghasilkan gelembung gas tetapi tidak dapat menyalakan lampu atau dapat menyalakan lampu dengan redup, seperti ditunjukkan oleh gambar nomor III. Larutan yang dapat menyalakan lampu tetapi tidak menghasilkan gelembung gas juga termasuk larutan elektrolit lemah, seperti yang ditunjukkan oleh nomor I. Larutan nonelektrolit tidak dapat menghasilkan gelembung gas dan tidak dapat menyalakan lampu. Larutan nonelektrolit ditunjukkan oleh gambar nomor IV. Sementara itu, gambar nomor II merupakan larutan elektrolit kuat. Larutan dapat menyalakan lampu dan menghasilkan banyak gelembung gas.

21. Jawaban: c

Daya hantar listrik larutan elektrolit dipengaruhi oleh jumlah ion yang dihasilkan. Semakin banyak jumlah ion dalam larutan, semakin besar daya hantar listriknya.

22. Jawaban: b

NaOH adalah senyawa ion. Sementara itu, NH4Cl,

HBr, H3PO4, dan H2CO3 termasuk senyawa

kovalen polar.

23. Jawaban: d

NH4OH adalah senyawa elektrolit yang berikatan

kovalen. LiOH, Mg(OH)2, NaBr, dan Sr(OH)2,

merupakan senyawa elektrolit yang berikatan ion.

24. Jawaban: d

Senyawa ion yang dilarutkan dalam air akan terionisasi sempurna dalam larutan. Ion-ion yang dihasilkan dapat bergerak bebas sehingga dapat menghantarkan arus listrik.

25. Jawaban: d

Ikatan ion adalah ikatan yang terbentuk dari atom logam dan atom nonlogam, misal KCl, NaBr,

Mg(OH)2, KF, dan LiOH. Sementara itu, HClO4,

H2SO4, dan NH4Cl adalah senyawa kovalen polar yang terbentuk dari atom-atom nonlogam.

26. Jawaban: d

Senyawa Cl2 merupakan senyawa kovalen

non-polar yang tidak dapat terionisasi dalam air sehingga tidak dapat menghantarkan arus listrik.

27. Jawaban: a

(22)

28. Jawaban: d

Senyawa yang dapat menghantarkan arus listrik dalam bentuk larutan adalah senyawa ion dan kovalen polar. Senyawa ion memiliki titik leleh tinggi. Oleh karena itu, senyawa x bukan senyawa ion melainkan senyawa kovalen polar. Senyawa yang tidak dapat menghantarkan arus listrik meskipun dalam bentuk larutan adalah senyawa kovalen non-polar.

29. Jawaban: c

Larutan elektrolit kuat menghasilkan banyak gelembung gas dan menyalakan lampu dengan terang. Larutan elektrolit kuat ditunjukkan oleh gambar nomor 1) dan 2). Larutan elektrolit lemah menghasilkan sedikit gelembung gas dan menyalakan lampu dengan redup atau tidak dapat menyalakan lampu. Larutan elektrolit lemah ditunjukkan oleh gambar nomor 4) dan 5). Sementara itu, gambar nomor 3) menunjukkan larutan nonelektrolit. Larutan nonelektrolit tidak dapat menyalakan lampu dan tidak menghasilkan gelembung gas. Jadi, larutan elektrolit kuat dan elektrolit lemah berturut-turut ditunjukkan oleh larutan nomor 1) dan 5).

30. Jawaban: a

Senyawa yang berikatan ion mudah larut dalam air dan dapat menghantarkan arus listrik dalam fase cair. Senyawa ion mempunyai titik didih dan titik leleh yang tinggi.

B. Uraian

1. Saat diuji dengan alat penguji elektrolit, elektrolit kuat dapat menghantarkan arus listrik dengan baik, dapat menyalakan lampu dengan terang, dan menghasilkan banyak gelembung gas. Elektrolit kuat dalam air dapat terionisasi sempurna dengan derajat ionisasi (α) = 1.

Contoh: H2SO4(aq)→ 2H+(aq) + SO 42–(aq) Sementara itu, elektrolit lemah kurang baik menghantarkan arus listrik, tidak dapat menyalakan lampu atau dapat menyalakan lampu dengan redup dan menghasilkan sedikit gelembung gas. Elektrolit lemah dalam air terionisasi sebagian dengan derajat ionisasi 0 < α < 1.

Contoh: H3PO4(aq) R 3H+(aq) + PO 43–(aq) 2. Derajat ionisasi (α) memengaruhi daya hantar listrik.

Semakin besar harga α, semakin kuat sifat

elektrolitnya. Berarti semakin banyak arus listrik yang dihantarkan. Sebaliknya, semakin kecil harga α, semakin lemah sifat elektrolitnya. Berarti semakin lemah menghantarkan arus listrik.

3. a. Ion-ion yang ada dalam larutan adalah K+ dan Br–.

b. Produk yang dihasilkan di katode adalah

endapan kalium dan di anode dihasilkan gas bromin.

c. Persamaan reaksi yang terjadi:

katode

: K+(aq) + e–→ K(s) anode

: 2Br–(aq) Br

2(g) + 2e–

4. Larutan yang bersifat elektrolit kuat yaitu larutan A dan B karena menghasilkan banyak gelembung dan lampu menyala terang meskipun larutan A menyalakan lampu dengan redup. Larutan yang bersifat elektrolit lemah yaitu larutan C dan E karena menghasilkan sedikit gelembung dan menyalakan lampu dengan redup atau tidak menyalakan lampu. Larutan nonelektrolit adalah larutan D karena tidak dapat menyalakan lampu dan tidak dapat menghasilkan gelembung gas.

5. Asam karbonat merupakan asam lemah. Jika asam karbonat diuji dengan alat uji elektrolit maka lampu tidak akan menyala atau dapat menyala redup dan timbul sedikit gelembung gas. Hal ini karena larutan asam karbonat bersifat elektrolit lemah.

6. a. Zat B termasuk elektrolit lemah karena

menyalakan lampu dengan redup dan menghasilkan sedikit gelembung gas.

b. Jumlah mol zat B mula-mula

= = 1 mol

Jumlah mol zat B yang terionisasi = 0,4 mol Mol zat B yang terionisasi = (1 – 0,4) mol

= 0,6 mol Derajat ionisasi (α)

=

=

= 0,6

Jadi, zat B yang terionisasi sebanyak 0,6 mol dan derajat ionisasinya 0,6.

(23)

8. a. Senyawa kovalen polar jika dilarutkan dalam air dapat mengalami ionisasi sehingga akan terurai menjadi ion-ionnya. Sementara itu, senyawa kovalen nonpolar jika dilarutkan dalam air tidak dapat terionisasi dan tetap dalam bentuk molekulnya.

b. Senyawa kovalen polar dapat terionisasi

sehingga dapat menghantarkan arus listrik, sedangkan senyawa kovalen nonpolar tidak dapat menghantarkan arus listrik karena tidak terionisasi.

9. Air hujan, air sungai, dan air laut dapat menyalakan lampu saat diuji dengan alat uji elektrolit. Hal ini dapat terjadi karena air-air tersebut mengandung zat terlarut yang bersifat elektrolit. Zat terlarut tersebut dapat terionisasi sehingga mampu menghantarkan arus listrik.

10. a. Aki Timbal

Aki timbal sering digunakan sebagai sumber

arus untuk automobil. Aki timbal

meng-gunakan larutan H2SO4 encer sebagai

elektrolit. Elektrode yang digunakan berupa Pb sebagai anode dan PbO sebagai katode. Reaksi yang terjadi menghasilkan listrik dan

mengubah kedua elektrode menjadi PbSO4.

b. Fuel Cells

Fuel cells adalah sel bahan bakar yang mempunyai kapasitas listrik yang tahan lama, mudah perawatannya, dan mempunyai efisiensi tinggi. Sel ini menggunakan larutan KOH pekat sebagai elektrolit. Gas hidrogen digunakan sebagai anode dan gas oksigen sebagai katode. Masing-masing gas dimasukkan ke dalam elektrode karbon

berpori. Ion OH– yang dihasilkan di katode

akan bereaksi dengan gas H2 di anode.

Bab II

Reaksi Reduksi Oksidasi

(Redoks)

A. Pilihan Ganda

1. Jawaban: d

Reduksi merupakan reaksi pelepasan oksigen, penerimaan elektron, mengalami penurunan bilangan oksidasi, serta melibatkan pengikatan hidrogen. Zat yang mengalami reduksi dinamakan oksidator. Oksidasi merupakan reaksi

peng-gabungan oksigen, pelepasan elektron, mengalami kenaikan bilangan oksidasi, serta melibatkan pelepasan hidrogen. Zat yang mengalami oksidasi dinamakan reduktor.

2. Jawaban: b

Reaksi reduksi terjadi apabila suatu reaksi mengalami penurunan bilangan oksidasi seperti

pada O menjadi O2–. O menjadi O2– mengalami

penurunan bilangan oksidasi dari 0 (nol) menjadi

–2. Sementara itu, Al menjadi Al3+ mengalami

kenaikan bilangan oksidasi dari 0 (nol) menjadi +3.

F– menjadi F

2 mengalami kenaikan bilangan

oksidasi dari –1 menjadi 0 (nol). Fe2+ menjadi Fe3+ mengalami kenaikan bilangan oksidasi dari +2

menjadi +3. Ca menjadi Ca2+ mengalami kenaikan

bilangan oksidasi dari 0 (nol) menjadi +2.

3. Jawaban: c

Reaksi oksidasi mengalami kenaikan bilangan oksidasi. Reaksi reduksi mengalami penurunan bilangan oksidasi.

1) 3CuS + 8HNO3→ 3Cu(NO3)2 + 2NO + 3S + 4H2O

–2 +5 +2 0

Oksidasi Reduksi

2) CaCO3 + 2HCl → CaCl2 + CO2 + H2O

+2 +4 –1 +2 –1 +4

Tidak mengalami perubahan bilangan oksidasi.

3) 2FeCl3 + H2S → 2FeCl2 + 2HCl + S

+3 –2 +2 0

Reduksi

Oksidasi

4) Fe2O3 + 3H2SO4→ 2Fe2(SO4)3 + 3H2O

+3 +6 +3 +6

Tidak mengalami perubahan bilangan oksidasi.

5) 2KClO3 + 3S → 2KCl + 3SO2

+5 0 –1 +4

Reduksi

Oksidasi

Jadi, reaksi yang tidak mengalami perubahan

bilangan oksidasi terdapat pada reaksi nomor 2) dan 4).

4. Jawaban: e

(24)

C6H12O6 + 6O2→ 6CO2 + 6H2O

Reaksi pada pilihan jawaban a, b, c, dan d merupakan reaksi reduksi (kehilangan oksigen).

5. Jawaban: d

MnO2 merupakan zat yang melepaskan oksigen

membentuk H2O. MnO2 disebut oksidator.

Pelepasan oksigen oleh MnO2 ini dinamakan

reduksi. Sementara itu, HCl merupakan zat yang mengalami penggabungan oksigen membentuk H2O. HCl disebut reduktor. Penggabungan oksigen oleh HCl dinamakan oksidasi.

6. Jawaban: d

Reaksi reduksi: F2 + 2e–→ 2F– Reaksi oksidasi: 2I–→ I

2 + 2e– _________________________________ Reaksi redoksi: F2 + 2I– → I

2 + 2F– Spesi yang menerima elektron yaitu F2.

Spesi F2 menerima 2 elektron membentuk F–.

Sementara itu, I– melepaskan 2 elektron

mem-bentuk I2.

7. Jawaban: d

Fe2O3(s) + 3CO(g)→ 2Fe(s) + 3CO2(g) +3 +2 0 +4

Reduksi

Oksidasi

Fe2O3 pada reaksi tersebut mengalami penurunan bilangan oksidasi (reduksi) dari +3 menjadi 0. Sementara itu, CO pada reaksi tersebut mengalami kenaikan bilangan oksidasi (oksidasi) dari +2 menjadi +4.

8. Jawaban: b

Unsur A mudah melepas elektron membentuk ion bermuatan positif. Sementara itu, unsur B mudah menerima elektron membentuk ion bermuatan negatif. Reaksi yang terjadi sebagai berikut.

A → A2+ + 2e

B + 2e– → B2–

––––––––––––––––––– +

A + B → A2+ + B2–

9. Jawaban: d

Persamaan reaksi redoks:

Mg(s) + 2Fe3+(aq)→ 2Fe2+(aq) + Mg2+(aq)

0 +3 +2 2+ Oksidasi

Reduksi

Bilangan oksidasi unsur Mg menjadi Mg2+ berubah dari 0 menjadi +2. Jadi, selisih bilangan oksidasinya adalah +2 (mengalami kenaikan 2 bilangan oksidasi).

10. Jawaban: b

a. 2Al + Fe2O3→ Al2O3 + 2Fe

+3 0 Reduksi

Fe2O3 mengalami reduksi.

b. SnCl2 + 2HgCl2→ SnCl4 + Hg2Cl2

+2 +4

Oksidasi

SnCl2 mengalami oksidasi.

c. H2S + 2FeCl3→ 2FeCl2 + S + 2HCl

+3 +2

Reduksi

FeCl3 mengalami reduksi.

d. 2CuSO4 + 4KI → 2K2SO4 + I2 + 2CuI

+2 +1

Reduksi

CuSO4 mengalami reduksi.

e. MnO2 + 4HCI → MnCl2 + Cl2 + 2H2O

+4 +2

Reduksi

MnO2 mengalami reduksi.

Jadi, senyawa digarisbawahi yang mengalami oksidasi adalah SnCl2.

B. Uraian

1. a. Pelepasan dan penggabungan oksigen.

Reaksi oksidasi adalah reaksi yang melibatkan pengikatan atau penggabungan oksigen pada suatu zat. Reaksi reduksi adalah reaksi pelepasan oksigen dari suatu zat.

b. Pelepasan dan penerimaan elektron.

Reaksi oksidasi merupakan reaksi pelepasan elektron. Reaksi reduksi merupakan reaksi penerimaan elektron.

c. Kenaikan dan penurunan bilangan oksidasi.

Reaksi oksidasi adalah reaksi yang mengalami kenaikan bilangan oksidasi. Reaksi reduksi adalah reaksi yang mengalami penurunan bilangan oksidasi.

d. Pelepasan dan pengikatan hidrogen.

(25)

2.

2NaIO3(aq) + 5NaHSO3(aq)→ I2(aq) + 3NaHSO4(aq) + 2Na2SO4(aq) + H2O(A) +5 +4 0 +6

Reduksi

Oksidasi

Jadi, zat yang mengalami reduksi adalah NaIO3.

Zat yang mengalami oksidasi adalah NaHSO3.

3. Persamaan reaksi sebagai berikut.

a. CH4(g) + 2O2(g) → CO2(g) + 2H2O(g) Mengalami penggabungan oksigen

Mengalami penggabungan oksigen

Reaksi tersebut merupakan reaksi oksidasi karena C dan H mengalami penggabungan oksigen (bukan reaksi redoks).

b. H2S(g) + Cl2(g)→ 2HCl(g) + S(s) Mengikat hidrogen

Melepaskan hidrogen

Reaksi tersebut merupakan reaksi redoks

karena H2S melepas hidrogen membentuk S

(oksidasi) dan Cl2 mengikat hidrogen menjadi HCl (reduksi).

c. Zn(s) + CuO(s)→ ZnO(s) + Cu(s)

Melepas oksigen

Mengalami penggabungan oksigen

Reaksi tersebut merupakan reaksi reduksi– oksidasi (redoks) karena Zn mengalami penggabungan oksigen (oksidasi) dan CuO melepaskan oksigen (reduksi).

d. 2NH3(g) + 3CuO(s)→ N2(g) + 3Cu(s) + 3H2O(A)

Melepas hidrogen

Melepas oksigen

Reaksi tersebut merupakan reaksi redoks karena CuO melepas oksigen membentuk Cu

(reduksi), sedangkan NH3 melepaskan

hidrogen (oksidasi).

4. 4Ag(s) + O2(g) + 2H2S(g)→ 2Ag2S(s) + 2H2O(A)

0 0 +1 –2 Oksidasi

Reduksi

Reaksi terbentuknya noda pada perhiasan perak tersebut merupakan reaksi redoks karena pada reaksi tersebut Ag mengalami kenaikan bilangan

oksidasi (oksidasi), sedangkan O2 mengalami

penurunan bilangan oksidasi (reduksi).

5. a. 2H2(g) + O2(g) → 2H2O(A)

Pada reaksi tersebut, O2 mengikat H2

membentuk H2O sehingga O2 mengalami

reduksi dan H2 mengalami oksidasi. Reaksi

tersebut melibatkan pengikatan hidrogen.

b. H2(g) + 2Na(s)→ 2NaH(s)

Pada reaksi tersebut, Na mengikat H2

sehingga H2 mengalami oksidasi dan Na

mengalami reduksi. Reaksi tersebut melibatkan pengikatan hidrogen.

c. 2H2O2(aq)→ 2H2O(A) + O2(g)

Pada reaksi tersebut, senyawa H2O2

melepaskan hidrogen membentuk O2. Pada

reaksi ini, O dalam H2O2 mengalami oksidasi menjadi O2 dan reduksi menjadi H2O. d. Zn(s) + 2HCl(aq)→ ZnCl2(aq) + H2(g)

Pada reaksi tersebut, senyawa HCl

melepaskan hidrogen membentuk ZnCl2. Pada

reaksi tersebut, Zn mengalami oksidasi

menjadi ZnCl2, sedangkan H pada HCl

mengalami reduksi menjadi H2.

A. Pilihan Ganda

1. Jawaban: c

Bilangan oksidasi H pada H2 = 0. Bilangan oksidasi H pada H2O, H2O2, dan HNO3 = +1. Bilangan oksidasi H pada NaH = –1.

2. Jawaban: a

MnO2 + 2H2SO4 + 2NaI → MnSO4 + Na2SO4 + 2H2O + I2

+4 –1 +2 0 Reduksi

Oksidasi

Reduktor merupakan zat yang mengalami reaksi oksidasi. Jadi, zat yang berperan sebagai reduktor

adalah NaI. Sementara itu, MnO2 merupakan

oksidator (zat yang mengalami reaksi reduksi).

3. Jawaban: d

Bilangan oksidasi Fe(CN)63– = –3 (1 × BO Fe) + (6 × BO CN) = –3 (1 × BO Fe) + (6 × (–1)) = –3 BO Fe = +3

(26)

4. Jawaban: b

1) Mg + 2HNO3→ Mg(NO3)2 + H2

0 +2 Oksidasi

Mg mengalami reaksi oksidasi (bertindak sebagai reduktor).

2) 2KClO3 + 3S → 2KCl + 3SO2

+5 –1 Reduksi

Cl pada KClO3 mengalami reaksi reduksi

(bertindak sebagai oksidator).

3) 2KMnO4 + 5H2C2O4 + 3H2SO4→ K2SO4 + 2MnSO4 +3 + 10CO2 + 8H2O +4 Oksidasi

C pada H2C2O4 mengalami reaksi oksidasi (bertindak sebagai reduktor).

Jadi, unsur-unsur yang digarisbawahi pada reaksi tersebut secara berturut-turut bertindak sebagai reduktor, oksidator, dan reduktor.

5. Jawaban: c

1) SO2 dan SO3

Bilangan oksidasi SO2 = 0 (1 × BO S) + (2 × BO O) = 0

BO S + (2 × (–2)) = 0 BO S = +4 Bilangan oksidasi SO3 = 0 (1 × BO S) + (3 × BO O) = 0

BO S + (3 × (–2)) = 0 BO S = +6 2) H2SO3 dan H2SO4

Bilangan oksidasi H2SO3 = 0

(2 × BO H) + (1 × BO S) + (3 × BO O) = 0 (2 × 1) + BO S + (3 × (–2)) = 0 2 + BO S + (–6) = 0 BO S = +4 Bilangan oksidasi H2SO4 = 0

(2 × BO H) + (1 × BO S) + (4 × BO O) = 0 (2 × 1) + BO S + (4 × (–2)) = 0 2 + BO S + (–8) = 0 BO S = +6 3) Na2SO4 dan Na2S

Bilangan oksidasi Na2SO4 = 0

(2 × BO Na) + (1 × BO S) + (4 × BO O) = 0 (2 × 1) + BO S + (4 × (–2)) = 0

2 + BO S + (–8) = 0 BO S = +6 Bilangan oksidasi Na2S = 0

(2 × BO Na) + (1 × BO S) = 0 (2 × 1) + BO S = 0 2 + BO S = 0 BO S = –2

4) H2S dan H2SO4

Bilangan oksidasi H2S = 0 (2 × BO H) + (1 × BO S) = 0

(2 × 1) + BO S = 0 BO S = –2 Bilangan oksidasi H2SO4 = 0

(2 × BO H) + (1 × BO S) + (4 × BO O) = 0 (2 × 1) + BO S + (4 × (–2)) = 0 2 + BO S + (–8) = 0 BO S = +6 5) Na2SO3 dan SO2

Bilangan oksidasi Na2SO3 = 0

(2 × BO Na) + (1 × BO S) + (3 × BO O) = 0 (2 × 1) + BO S + (3 × (–2)) = 0

2 + BO S + (–6) = 0 BO S = +4 Bilangan oksidasi SO2 = 0

(1 × BO S) + (2 × BO O) = 0 BO S + (2 × (–2)) = 0 BO S = +4

Jadi, pasangan yang mengandung unsur S dengan bilangan oksidasi yang sama adalah Na2SO3 dan SO2.

6. Jawaban: e

a. H+ + OH–→ H

2O

–2 –2

Tidak mengalami oksidasi atau reduksi

b. 2SO2 + O2→ 2SO3

0 –2

Reduksi

c. 2KClO3 + 3S → 2KCl + 3SO2

–2 –2

Tidak mengalami oksidasi atau reduksi

d. H2O2 + 2KI + 2HCl → 2KCl + I2 + 2H2O

–1 –2

Reduksi

e. 5H2O2 + 2KMnO4 + 3H2SO4→ K2SO4 + 2MnSO4 –1 + 8H2O + 5O2

0

Oksidasi

(27)

7. Jawaban: c

2KMnO4 + 3H2SO4 + 5H2C2O4→K2SO4 + 2MnSO4 + 8H2O + 10CO2

+7 +3 +2 +4 Reduksi

Oksidasi

Jadi, zat hasil reduksi dan oksidasi dari reaksi tersebut adalah MnSO4 dan CO2.

8. Jawaban: a

Oksidator merupakan zat yang mengalami reaksi reduksi (penurunan bilangan oksidasi). Cu yang mempunyai bilangan oksidasi 0 (nol) tidak mungkin mengalami penurunan bilangan oksidasi. Cl2 yang mempunyai bilangan oksidasi 0 (nol) dapat mengalami penurunan bilangan oksidasi menjadi –1 (Cl–). Na+ yang mempunyai bilangan oksidasi +1 dapat mengalami penurunan bilangan oksidasi

menjadi 0 (nol). Mg2+ yang mempunyai bilangan

oksidasi +2 dapat mengalami penurunan bilangan oksidasi menjadi 0 (nol).

9. Jawaban: a

Zat yang mengalami reduksi (mengalami penurunan bilangan oksidasi) dinamakan oksidator.

Jadi, zat bergaris bawah yang mengalami reaksi reduksi adalah N2 saat berubah menjadi NH3.

10. Jawaban: e

Bilangan oksidasi unsur-unsur yang bergaris bawah pada senyawa-senyawa tersebut sebagai berikut.

a. H2S = 0 Jadi, pasangan senyawa yang masing-masing mempunyai unsur dengan bilangan oksidasi +6 adalah K2CrO4 dengan K2Cr2O7.

11. Jawaban: e

(28)

c. I2 + 2Na2S2O3→ 2NaI + Na2S4O6

0 +2 +4 –6 –1 +2 +10 –12

Reduksi Oksidasi

d. Zn + 2AgNO3→ Zn(NO3)2 + 2Ag

0 +1 +5 –6 +2 +10 –12 0

Oksidasi

Reduksi

e. Cl2 + 2NaOH → NaCl + NaClO + H2O

0 +1 –2 +1 +1 –1 +1 +1 –2 +2 –2

Reduksi Oksidasi

Reaksi autoredoks adalah reaksi yang salah satu reaktannya mengalami reaksi oksidasi dan juga reaksi reduksi. Jadi, reaksi autoredoks terdapat pada reaksi e.

12. Jawaban: c

Reaksi koproporsionasi merupakan reaksi redoks dengan hasil reduksi dan hasil oksidasi merupakan unsur yang sama.

a. 2N2 + 3O2→ 2N2O3

0 0 +3 –2 Reduksi

Oksidasi

Reaksi ini bukan reaksi koproporsionasi karena unsur yang menjadi hasil reduksi dan hasil oksidasinya berbeda.

b. Zn + 2HCl → ZnCl2 + H2

0 +1 +2 0 Oksidasi

Reduksi

Reaksi ini bukan reaksi koproporsionasi.

c. 2H2S + SO2 → 2H2O + 3S

–2 +4 0 Reduksi

Oksidasi

Reaksi ini termasuk reaksi koproporsionasi. Unsur S bertindak sebagai hasil reduksi sekaligus sebagai hasil oksidasi.

d. 6ClO2 + 3H2O → 5HClO3 + HCl

+4 +5 –1 Oksidasi

Reduksi

Reaksi ini bukan reaksi koproporsionasi melainkan reaksi disproporsionasi. Unsur Cl bertindak sebagai oksidator sekaligus reduktor.

e. Fe + 2AgNO3→ 2Ag + Fe(NO3)2

0 +1 0 +2 Reduksi

Oksidasi

Reaksi ini bukan reaksi koproporsionasi.

13. Jawaban: b

SnO2(s) + 2C(s)→ Sn(A) + 2CO(g)

Bilangan oksidasi Sn dalam SnO2 sebagai berikut. Bilangan oksidasi SnO2 = 0

(1 × BO Sn) + (2 × BO O) = 0 (1 × BO Sn) + (2 × (–2)) = 0 BO Sn + (–4) = 0 BO Sn = +4 Bilangan oksidasi unsur Sn = 0 Bilangan oksidasi unsur C = 0

Bilangan oksidasi C dalam CO sebagai berikut. Bilangan oksidasi CO = 0

(1 × BO C) + (1 × BO O) = 0 BO C + (1 × (–2)) = 0 BO C + (–2) = 0 BO C = +2

Jadi, bilangan oksidasi Sn berubah dari +4 menjadi 0, sedangkan bilangan oksidasi C berubah dari 0 menjadi +2.

14. Jawaban: d

a. IO3– → I

+5 –1

Menerima 6 elektron

b. ClO3– → Cl

+5 –1

Menerima 6 elektron

c. H2O2 → OH–

–1 –2

Menerima 1 elektron

d. MnO4– → Mn2+

+7 +2

Menerima 5 elektron

e. Cr2O72– → Cr3+

+6 +3

Menerima 3 elektron

Jadi, oksidator yang dapat menerima lima elektron adalah MnO4 menjadi Mn2+.

15. Jawaban: d

2KMnO4 + 10FeSO4 + 8H2SO4→ K2SO4 + 2MnSO4 + 5Fe2(SO4)3 + 8H2O

+7 +2 +2 +3 Reduksi

(29)

KMnO4 mengalami reaksi reduksi (sebagai

oksidator) dengan hasil reduksi berupa MnSO4.

FeSO4 mengalami reaksi oksidasi (sebagai

reduktor) dengan hasil oksidasi berupa Fe2(SO4)3. S tidak mengalami penurunan atau kenaikan bilangan oksidasi. Bilangan oksidasi S tetap +6.

B. Uraian

Bilangan oksidasi NaIO3 = 0

(1 × BO Na) + (1 × BO I) + (3 × BO O) = 0

Oksidator (zat yang mengalami reduksi) pada reaksi tersebut adalah Fe2O3. Hasil reduksi berupa Fe.

b. 2MnO4–(aq) + 5H2S(aq) + 6H+(aq)→ 2Mn2+(aq) + 5S(s) + 8H2O(A) +7 –2 +2 0

Reduksi Oksidasi

Oksidator (zat yang mengalami reduksi) pada reaksi tersebut adalah MnO4. Hasil reduksi berupa Mn2+.

Oksidator (zat yang mengalami reduksi) pada

reaksi tersebut adalah Cu2O. Hasil reduksi

berupa Cu. Oleh karena reaksi tersebut merupakan reaksi autoredoks maka zat yang bertindak sebagai reduktor juga Cu2O. 3. Perubahan bilangan oksidasi pada reaksi-reaksi

tersebut sebagai berikut.

(Tidak terjadi perubahan bilangan oksidasi)

c. CaCO3→ CaO + CO2

+2 +4 –6 +2 –2 +4 –4

(Tidak terjadi perubahan bilangan oksidasi)

d. 2HgO → 2Hg + O2

(30)

4. 1) Fe(s) + SO2(g) + O2(g)→ FeSO4(s) 0 +4 –4 0 +2 +6 –8 Oksidasi

Oksidasi

Reduksi

Unsur yang mengalami oksidasi adalah Fe dan

S dalam SO2. Unsur yang mengalami reduksi

adalah O2.

2) 4FeSO4(s) + O2(g) + 6H2O(A)→ 2Fe2O3 · H2O(s) + 4H2SO4(aq) +2 +6 –8 0 +2 –2 +6 –6 +2 –2

Unsur yang mengalami oksidasi adalah Fe dalam FeSO4. Unsur yang mengalami reduksi adalah O2. 5. Magnesium pada reaksi tersebut dikatakan sebagai zat pereduksi. Zat pereduksi merupakan nama lain dari reduktor (zat yang mengalami reaksi oksidasi).

CuO + Mg → Cu + MgO Bilangan oksidasi Fe adalah +3 sehingga jika bergabung dengan ion oksida senyawanya bernama besi(III) oksida.

2. Jawaban: b

Natrium nitrat terbentuk dari ion natrium dan ion nitrat. Ion natrium merupakan kation dengan rumus

Na+. Sementara itu, ion nitrat merupakan anion

dengan rumus NO3. Jika ion Na+ bergabung dengan

ion NO3 akan membentuk senyawa dengan rumus

NaNO3.

3. Jawaban: c

PCl3 = fosfor triklorida Ba3(PO4)2 = barium fosfat

CH3COONa = natrium asetat

MgSO4 = magnesium sulfat

Ca(OH)2 = kalsium hidroksida

4. Jawaban: e

NaCl : natrium klorida

NaClO : natrium hipoklorit NaClO2: natrium klorit NaClO3: natrium klorat

NaClO : natrium perklorat

Oksidasi

Reduksi

5. Jawaban: d

Amonium nitrat mempunyai rumus kimia NH4NO3. NH4NO3 terbentuk dari ion NH4+ dan NO

Jadi, bilangan oksidasi N dalam senyawa amonium nitrat adalah –3 dan +5.

6. Jawaban: b

6CO2(g) + 6H2O(g)→ C6H12O6(s) + 6O2(g) +4 –2 0 0

Reduksi

Oksidasi

Pada reaksi tersebut terjadi pelepasan oksigen. C merupakan oksidator (mengalami reduksi), sedangkan O merupakan reduktor (mengalami oksidasi). Bilangan oksidasi C berubah dari +4 menjadi 0. Bilangan oksidasi O berubah dari –2 menjadi 0.

7. Jawaban: b

8. Jawaban: e

CuSO4 terbentuk dari ion tembaga(II) dan ion sulfat sehingga nama senyawa adalah tembaga(II) sulfat. Cu2SO4 terbentuk dari ion tembaga(I) dan ion sulfat sehingga nama senyawanya adalah tembaga(I) sulfat.

9. Jawaban: d

(CH2O)n menangkap oksigen membentuk CO2 dan H2O. Pada reaksi ini terjadi penggabungan oksigen pada (CH2O)n menjadi nCO2 dan nH2O.

(31)

B. Uraian

1. a. Kalium permanganat = KMnO4.

Bilangan oksidasi K = +1 karena KMnO4

terbentuk dari ion K+ dan ion MnO 4–. b. Mangan(II) klorida = MnCl2.

Bilangan oksidasi Mn = +2 karena MnCl2

terbentuk dari ion Mn2+ dan ion Cl. c. Kobalt(III) nitrat = Co(NO3)3.

Bilangan oksidasi Co = +3 karena Co(NO3)3

terbentuk dari ion Co3+ dan ion NO 3 –.

d. Magnesium hipoklorit = Mg(ClO)2.

Bilangan oksidasi Mg = +2 karena Mg(ClO)2

terbentuk dari ion Mg2+ dan ion ClO.

e. Besi(II) asetat = Fe(CH3COO)2

Bilangan oksidasi Fe = +2 karena Fe(CH3COO)2 terbentuk dari ion Fe2+ dan ion CrCl3 = krom(III) klorida

d. Ag+ + PO

43– → Ag3PO4 Ag3PO4 = perak fosfat e. Mg2+ + S2– → MgS

MgS = magnesium sulfida

3. Pasangan nama kimia dan rumus kimia yang tepat berdasarkan tabel tersebut adalah a dan 4, b dan 2, c dan 1, d dan 5, serta e dan 3.

4. Dengan menggunakan lumpur aktif, BOD dalam air dapat dikurangi hingga 90%. Penurunan tingkat BOD dilakukan dengan mempercepat aktivitas mikroorganisme yang menguraikan sampah organik. Aktivitas mikroorganisme dipercepat dengan lumpur aktif. Penguraian sampah organik ini menerapkan reaksi oksidasi.

(CH2O)n + nO2→ nCO2 + nH2O + panas Pada proses ini terjadi penggabungan oksigen oleh sampah organik (CH2O)n menjadi nCO2 dan nH2O.

5. 2PbO + C → 2Pb + CO2

+2 0 0 +4

Reduksi

Oksidasi

a. Reaktan yang mengalami reduksi adalah PbO.

b. Reaktan yang mengalami oksidasi adalah C.

c. Nama kimia PbO = timbal(II) oksida.

A. Pilihan Ganda

1. Jawaban: a

Pereaksi yang mengalami penggabungan oksigen merupakan pereaksi yang mengalami oksidasi (reduktor). Reduktor merupakan pereduksi atau zat yang teroksidasi.

2. Jawaban: a

Perkembangan konsep reaksi reduksi oksidasi yaitu konsep pelepasan dan penggabungan oksigen, konsep pelepasan dan penerimaan elektron, konsep kenaikan dan penurunan bilangan oksidasi, serta pelepasan dan pengikatan hidrogen. Dengan demikian, urutan perkembangan pengertian reduksi yang benar adalah pelepasan oksigen, penerimaan elektron, penurunan bilangan oksidasi, dan pengikatan hidrogen.

Reaksi reduksi merupakan reaksi yang melepaskan oksigen.

1) 2H2(g) + O2(g) → 2H2O(A)

Reaksi ini termasuk reaksi oksidasi karena mengalami penggabungan oksigen.

2) 2Fe2O3(aq) + 3C(s) → 4Fe(s) + 3CO2(g)

Reaksi ini termasuk reaksi redoks.

Fe2O3 melepas oksigen membentuk Fe

(reaksi reduksi). Atom C mengalami

penggabungan oksigen membentuk CO2

(reaksi oksidasi).

3) CS2(aq) + 3O2(g) → CO2(g) + 2SO2(g)

Reaksi ini termasuk reaksi oksidasi karena

CS2 mengalami penggabungan oksigen.

4) 2KClO3(aq) → 2KCl(aq) + 3O2(g)

Reaksi ini termasuk reaksi reduksi karena

KClO3 melepas oksigen menjadi KCl.

5) CH4(aq) + 2O2(g) → CO2(g) + 2H2O(A)

Reaksi ini termasuk reaksi oksidasi karena

Figur

tabel siswa diminta
tabel siswa diminta. View in document p.5

Referensi

Memperbarui...