• Tidak ada hasil yang ditemukan

T2 942015016 BAB II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "T2 942015016 BAB II"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

13 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Pada bagian Bab II kajian pustaka ini akan dibahas tentang kajian teori yang mencakup : kompetensi guru SD, Kemampuan Guru SD dalam Menyusun Instrumen Penilaian Ranah Sikap, Pengembangan Kemampuan Guru melalui Pelatihan, Tindakan Sekolah dalam bentuk Pelatihan Sebagai Upaya Peningkatan Kemampuan Guru, Pengembangan Kemampuan Guru melalui Model In House Training (IHT). Selanjutnya dipaparkan tentang Kajian Penelitian yang Relevan, Kerangka Pikir, dan Hipotesis Tindakan. 2.1. Kajian Teori

2.1.1. Kompetensi Guru SD

(2)

14 telah disepakati, dan dapat ditingkatkan melalui pelatihan dan pengembangan. Robbins (2001: 276) menyebut kompetensi sebagai ability, yaitu kapasitas seseorang individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan. Selanjutnya dikatakan bahwa kemampuan individu dibentuk oleh dua faktor, yaitu faktor kemampuan intelektual dan kemampuan fisik. Kemampuan intelektual adalah kemampuan yang diperlukan untuk melakukan kegiatan mental sedangkan kemampuan fisik adalah kemampuan yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina, kecekatan, kekuatan, dan keterampilan. Dari pengertian yang dikemukakan Marwansyah dan Robinson, dapat dikatakan bahwa sebenarnya kompetensi tidak hanya mengandung pengetahuan, keterampilan dan sikap, namun yang penting adalah penerapan dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan tersebut dalam berbagai pekerjaan. Pekerjaan-pekerjaan itu antara lain sebagai guru, dokter, polisi, perawat, tentara dan lain-lain.

(3)

15

capabilities that a person achieves, which become

part of his or her being to the extent he or she can

satisfactorily perform particular cognitive, affective,

and psychomotor behaviors”. Dalam hal ini, kompetensi guru diartikan sebagai pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan yang dikuasai oleh guru yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya. Sejalan dengan itu Mulyasa (2003: 21) mengartikan kompetensi guru sebagai penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan. Muhaimin (2004: 59) menjelaskan kompetensi adalah seperangkat tindakan intelegen penuh tanggung jawab yang harus dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu melaksanakan tugas-tugas dalam bidang pekerjaan tertentu. Sifat intelegen harus ditunjukan sebagai kemahiran, ketetapan, dan keberhasilan bertindak. Sifat tanggung jawab harus ditunjukkan sebagai kebenaran tindakan baik dipandang dari sudut ilmu pengetahuan, teknologi maupun etika.

(4)

16 ketrampilan, dan nilai-nilai dasar yang dimiliki oleh seorang guru, yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Menurut Syah (2000: 35), “kompetensi” adalah kemampuan, kecakapan, keadaan berwenang, atau memenuhi syarat menurut ketentuan hukum. Selanjutnya masih menurut Syah, dikemukakan bahwa kompetensi guru adalah kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak.

Robotham (1996: 25), meyakini bahwa kompetensi yang diperlukan oleh seseorang tersebut dapat diperoleh baik melalui pendidikan formal maupun pengalaman. Jadi kompetensi profesional guru dapat diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan guru dalam menjalankan profesi keguruannya. Guru yang kompeten dan profesional adalah guru piawai dalam melaksanakan profesinya. Berdasarkan uraian di atas kompetensi guru dapat didefinisikan sebagai penguasaan terhadap pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak dalam menjalankan profesi sebagai guru.

(5)

17 kompetensi guru meliputi: a) kompetensi pedagogik, b) kompetensi kepribadian, c) kompetensi sosial, dan d) kompetensi profesional. Depdiknas (2004) menyebut kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam merencanakan program belajar mengajar, kemampuan melaksanakan interaksi atau mengelola proses belajar mengajar, dan kemampuan melakukan penilaian. Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen dikemukakan kompetensi kepribadian adalah “kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik”. Sedangkan kompetensi profesional adalah “kemampuan penguasaan materi pelajaran secara

luas dan mendalam” (Undang-Undang No. 14

tahun 2005 tentang Guru dan Dosen).

(6)

18 menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik, 5) memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran, 6) memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki, 7) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik, 8) menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar, 9) memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran, dan 10) melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.

Menurut Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kompetensi profesional adalah “kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam”. Surya (2003: 138) mengemukakan kompetensi profesional adalah berbagai kemampuan yang diperlukan agar dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional. Kompetensi profesional meliputi kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus diajarkan beserta metodenya, rasa tanggung jawab akan tugas dan rasa kebersamaan dengan sejawat guru lainnya. Asian Institut for Teacher Education

(7)

19 mencakup kemampuan dalam hal 1) mengerti dan dapat menerapkan landasan pendidikan baik filosofis, psikologis, dan sebagainya, 2) mengerti dan menerapkan teori belajar sesuai dengan tingkat perkembangan perilaku peserta didik, 3) mampu menangani mata pelajaran atau bidang studi yang ditugaskan kepadanya, 4) mengerti dan dapat menerapkan metode mengajar yang sesuai, 5) mampu menggunakan berbagai alat pelajaran dan media serta fasilitas belajar lain, 6) mampu mengorganisasikan dan melaksanakan program pengajaran, 7) mampu melaksanakan evaluasi belajar dan 8) mampu menumbuhkan motivasi peserta didik.

(8)

20 keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif dan 5) memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri. Khusus tentang kompetensi profesional mampu menangani mata pelajaran atau bidang studi yang ditugaskan kepadanya, guru SD/MI sebagai guru kelas harus menguasai lima bidang ke-SD-an.

2.1.2. Kemampuan Guru SD dalam Menyusun Instrumen Penilaian Ranah Sikap

Kemampuan guru SD dalam menyusun instrumen penilaian ranah sikap adalah kemampuan dalam hal: a) memahami hakekat penilaian, b) memahami hakekat penilaian sikap, c) memilih instrumen penilaian ranah sikap, d) memahami langkah-langkah penyusunan penilaian ranah sikap model skala Likert.

Kemampuan guru tersebut selanjutnya dipraktekkkan dalam penyusunan instrumen penilaian ranah skala sikap pada topik-topik tertentu dalam pembelajaran yang menekankan pada penilaian ranah afektif.

a. Hakikat Penilaian

(9)

21 berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi peserta didik yang memiliki karakteristik individual yang unik (Depdiknas. 2006). Dalam rangka pengambilan keputusan tersebut, diperlukan data sebagai informasi yang diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan. Data yang diperoleh guru selama pembelajaran berlangsung dijaring dan dikumpulkan melalui prosedur dan alat penilaian yang sesuai dengan kompetensi atau indikator yang akan dinilai. Dari proses ini, diperoleh potret/profil kemampuan peserta didik dalam mencapai sejumlah standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dirumuskan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan masing-masing.

Dari rumusan tentang pengertian asesmen proses dan hasil belajar tersebut di atas, nampak jelas bahwa ada empat komponen penting dalam asesmen proses dan hasil belajar, yaitu:

(10)
(11)

23 menyamakan terminologi asesmen proses dan hasil belajar ini sebagai Penilaian Berbasis Kompetensi/PBK (Competency Based Assesment).

Kedua, kompetensi siswa sebagai tujuan pembelajaran hakikatnya adalah kesatuan utuh (holistik) pengetahuan, ketrampilan serta nilai-nilai dan sikap yang dapat ditampilkan siswa dalam berpikir dan bertindak (bandingkan dengan Mulyasa, 2002: 37). Oleh karena itu asesmen harus mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotor.

Ketiga, asesmen dilakukan selama rentang pembelajaran; maknanya bahwa asesmen merupakan satu kesatuan integral dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran, bukan bagian yang terpisah dari pembelajaran.

(12)

24 asesmen sesuai dengan karakteristik masing-masing siswa, baik teknik tes maupun non tes.

b. Hakikat Penilaian Ranah Sikap

Salah satu ranah dalam penilaian di sekolah adalah penilaian tentang sikap. Bahkan dalam Kurikulum 2013, ranah sikap semakin ditonjolkan dengan adanya kompetensi inti (KI) 1 dan 2 tentang sikap spiritual dan sikap sosial. Tuntutan adanya penilaian sikap tersebut memaksa guru untuk memahami bagaimana sikap dan penilaian sikap itu. Azwar (2011: 4) mendefinisikan sikap sebagai suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan. Lebih lanjut Azwar (2011: 4) mendefinisikan sikap sebagai keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi) dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya.

(13)
(14)

26 ujung ekstrim tingkah laku yang sedang dipermasalahkan.

(15)

27 bagaimana orang berperilaku dalam situasi tertentu dan terhadap stimulus tertentu akan banyak ditentukan oleh bagaimana kepercayaan dan perasaannya terhadap stimulus tersebut. Kecenderungan berperilaku secara konsisten, selaras, dengan kepercayaan dan perasaan ini membentuk sikap individual. Karena itu, logis untuk mengharapkan bahwa sikap seseorang akan dicerminkan dalam bentuk tendensi perilaku terhadap objek.

c. Instrumen Penilaian Ranah Sikap Model Skala Likert

(16)

28 Setuju, (4) Sangat Tidak Setuju. Urutan setuju atau tidak setuju dapat dibalik mulai dari sangat tidak setuju sampai dengan sangat setuju.

d. Langkah-langkah Penyusunan Instrumen Penilaian Sikap Model Skala Likert

Naniek Sulistyawardani, dkk (2012: 208) menyebutkan langkah-langkah dalam menyusun skala Likert:

1) Memilih obyek sikap yang akan diukur.

2) Membuat beberapa pernyataan tentang variabel sikap yang dimaksud.

3) Mengklarifikasikan pernyataan positif atau negatife.

4) Menentukan jumlah gradual dan frase atau angka yang dapat menjadi alternatif pilihan. 5) Menyusun pernyataan dan pilihan jawaban

menjadi sebuah penilaian. 6) Melakukan uji coba.

7) Membuang butir-butir pernyataan yang kurang baik.

8) Melaksanakan penilaian.

(17)

29 sikap yang akan diukur dan definisi obyek sikap tersebut. Penentuan dan penyusunan definisi obyek sikap merupakan langkah penting karena kita mengetahui persis akan tujuan pengukuran yang dilakukan dan mempunyai gambaran yang jelas mengenai objek sikap. Suatu skala hendaknya mencakup aspek objek sikap yang luas dan relevan. Cakupan ini menyertakan semua aspek yang penting bagi objek sikap dan meninggalkan aspek-aspek yang tidak begitu berarti. Untuk mengintegrasikan batasan komponen perilaku dan komponen objek sikap, biasanya digunakan semacam tabel spesifikasi atau blue-print.

(18)

30 akan menyetujuinya; 6) Pilihlah pernyataan-pernyataan yang diperkirakan akan mencangkup keseluruhan liputan skala afektif yang diinginkan; 7) Usahakan agar setiap pernyataan ditulis dalam bahasa yang sederhana, jelas dan langsung. Jangan menuliskan pernyataan dengan menggunakan kalimat-kalimat yang rumit; 8) Setiap pernyataan hendaknya ditulis ringkas dengan menghindari kata-kata yang tidak diperlukan dan yang tidak akan memperjelas isi pernyataan; 9) Setiap pernyataan harus berisi hanya satu ide (gagasan) yang lengkap; 10) Pernyataan berisi unsur universal seperti “tidak pernah:, “semuanya”, “tak seorang pun”, dan semacamnya, seringkali menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda dan karenanya sedapat mungkin hendaklah menghindari; 11) Kata-kata seperti “hanya”, “sekedar”, “semata”, dan semacamnya harus digunakan seperlunya saja dan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kesalahan penafsiran isi pernyataan; 12) Hindari menggunakan kata atau istilah yang mungkin tidak dapat dimengerti oleh para responden; dan 13) Hindari pernyataan yang berisi kata negatif ganda.

(19)

31 tabel dua jalan, yaitu berisikan aspek objek sikap dan komponen sikap seperti tabel 2.1 di bawah ini.

Tabel 2.1 Kisi-kisi Skala Sikap Model Likert

Aspek objek sikap

Komponen sikap Total (%) Afeksi Kognisi Konasi

Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Komponen 4

Dst

Total (%) 100%

(20)

32 membedakan bobot relevansi tersebut kita dapat menyamakan saja semua bobot untuk semua aspek. Sedangkan langkah untuk menyusun pernyataan skala sikap adalah sebagai berikut :

a. Memberikan batasan dan tujuan yang berkaitan dengan obyek sikap.

b. Menyusun kisi-kisi komponen/ indikator variabel objek sikap.

c. Merumuskan pernyataan sikap sesuai dengan kisi-kisi yang telah disusun.

d. Menandai pernyataan favorable dan unfavorable,

(21)

33 Untuk melakukan penskalaan dengan metode ini, sejumlah pernyataan sikap telah ditulis berdasarkan kaidah penulisan pernyataan dan didasarkan pada rancangan skala yang telah ditetapkan. Responden diminta untuk menyatakan kesetujuan atau ketidak setujuannya terhadap isi pernyataan dalam lima macam kategori jawaban, yaitu Sangat Tidak Setuju (STS), Tidak Setuju (TS), Entahlah (E), Setuju (S) dan Sangat Setuju (SS) (Azwar (2011: 140).

Ada dua cara untuk menentukan skala menurut Azwar (2011: 141), yaitu dengan cara menentukan skala deviasi normal dan menentukan nilai skala dengan cara sederhana.

1) Menentukan Skala dengan Deviasi Normal

(22)

34 favorabel adalah respon tidak setuju terhadap pernyataan yang tak-favorabel.

Dari jawaban responden terhadap setiap pernyataan akan diperoleh distribusi frekuensi responden bagi setiap kategori, yang kemudian secara komulatif akan dilihat deviasinya menurut deviasi normal. Dari sinilah nilai skala dapat ditentukan. Nilai skala ini kemudian akan menjadi skor terhadap jawaban individual responden yang diukur sikapnya.

2)Menentukan Nilai Skala dengan Cara Sederhana Selain menentukan nilai skala dengan deviasi normal, menentukan nilai skala dapat juga dilakukan dengan cara sederhana. Penentuan nilai skala dengan memberikan bobot dalam satuan deviasi normal bagi setiap kategori jawaban merupakan cara yang cermat dan akan menghasilkan interval yang tepat dalam meletakkan masing-masing kategori pada suatu kontinum psikologis. Adanya fasilitas komputer sangat memudahkan prosedur analisisnya. Walaupun cara itu memerlukan waktu dan tenaga yang banyak, setiap penyusunan skala sikap hendaklah berusaha melakukannya.

(23)

35 yang menyangkut pengambilan keputusan yang penting sekali, seperti pada penelitian pendahuluan atau studi kelompok secara kecil-kecilan, kadang-kadang demi kepraktisan penyusunan skala sikap dapat menempuh cara sederhana untuk menentukan nilai skala pernyataan-pernyataan sikap yang ditulisnya.

Dengan cara sederhana, untuk suatu pernyataan yang bersifat favorabel jawaban STS diberi 0, jawaban TS diberi nilai 1, jawaban E diberi nilai 2, jawaban S diberi nilai 3, dan jawaban SS diberi nilai 4. Dan untuk pernyataan yang tak-favorabel, respons STS diberi nilai 4, TS diberi nilai 3, E diberi nilai 2, S diberi nilai 1 dan respon SS diberi nilai 0. Cara penentuan nilai ini diberlakukan bagi semua pernyataan sikap yang ada.

1.1.3.Pengembangan Kemampuan Guru melalui Pelatihan

a. Pengertian, Tujuan dan Fungsi Pelatihan Menurut Wexley dan Latham (2002: 153) menyatakan bahwa: “… training is a planned effort by an organization to facilitate

the learning of job-related behavior on the part

of its employees. The term of behavior is used in

(24)

36 skill acquired by an employee through practice” (bahwa pelatihan adalah upaya terencana oleh sebuah organisasi untuk memfasilitasi karyawan dalam mempelajari perilaku yang terkait dengan pekerjaan. Istilah perilaku merujuk pada setiap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh karyawan melalui praktik atau pengalaman langsung). Mencermati pengertian pelatihan oleh Wexley dan Latham terlihat bawa komponen-komponen pengertian tersebut mencakup: upaya terencana (berarti kegiatan tersebut dilakukan secara sistematis melibatkan sumber-sumber yang tersedia); dilakukan oleh suatu organisasi (berarti bahwa pelatihan tersebut berkaitan dengan suatu lembaga yang akan meningkatkan kinerja karyawan), bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan karyawan (berarti ada kesadaran bahwa karyawan memiliki keterbatasan pengetahuan dan keterampilan).

(25)

37 untuk menambah dan mempertinggi mutu pengetahuan, kecakapan dan pengalaman guru-guru dalam menjalankan tugas kewajibannya. Batasan pengertian Ngalim Purwanto ini berisi komponen: kegiatan yang dilakukan karyawan (berarti aktivitas peningkatan kemampuan yang dilakukan oleh praktisi pendidikan) dan bertujuan untuk menambah dan mempertinggi mutu pengetahuan, kecakapan dan pengalaman guru-guru (sama seperti pandangan Wexley dan Latham, bahwa ada kesadaran bahwa para pelaku pendidikan tersebut perlu ditingkatkan).

(26)

38 kesadaran bahwa para pelaku pendidikan tersebut perlu ditingkatkan).

Dari ketiga pengertian tentang pelatihan dapat disimpulkan bahwa hakikat pelatihan adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sistematis oleh suatu organisasi yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kerja agar lebih efektif dan efisien.

Berkaitan dengan tujuan pelatihan, Suparno (2014: 84) menjelaskan bahwa tujuan pelatihan adalah untuk meningkatkan produktivitas, kualitas, mendukung perencanaan SDM, meningkatkan moral anggota, memberikan kompensasi yang tidak langsung, meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja, mencegah kadaluwarsa kemampuan dan pengetahuan personil, meningkatkan perkembangan kemampuan dan keahlian personil.

(27)

39 sekarang dan menyiapkan orang bagi peluang, tanggung jawab dan tugas di masa depan. b. Jenis-jenis Pelatihan

Menurut Sedarmayanti (2014: 167), ditinjau dari masa pelaksanaannya, pelatihan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1) Pre-service training (pelatihan pra-tugas) adalah pelatihan yang diberikan kepada calon karyawan yang akan mulai bekerja, atau karyawan baru yang bersifat pembekalan, agar mereka dapat melaksanakan tugas yang nantinya dibebankan kepada mereka.

2) In Service Training (pelatihan dalam tugas) adalah pelatihan dalam tugas yang dilakukan untuk karyawan yang sedang bertugas dalam organisasi dengan tujuan meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan pekerjaan. Termasuk di dalamnya sekolah melakukan pelatihan di tempat sendiri (In House Training).

3) Post Service Training (pelatihan

(28)

40 dan mempersiapkan karyawan dalam menghadapi pensiun.

Sedangkan Najib, (2015: 226) menyebutkan bahwa ada 8 jenis kegiatan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru yaitu; 1) In House Training (IHT), 2) Program magang, 3) Kemitraan Sekolah, 4) Belajar jarak jauh, 5) Pelatihan berjenjang dan pelatihan khusus, 6) Kursus singkatdi LPTK, 7) Pembinaan internal sekolah, 8) Pendidikan lanjut.

Berdasarkan pendapat dari Sedarmayanti dan Najib In House Training

(29)

41 c. In House Training

(30)

42 berdasarkan permintaan pihak sekolah, pesertanya berasal dari satu sekolah, dengan materi pelatihan yang disesuaikan oleh pihak sekolah khususnya dalam penggunaan alat peraga, dan dilaksanakan di sekolah tempat guru tersebut bekerja.

Tujuan IHT menurut Lulu Kamaludin (2011: 2) dan Meldona (2009: 234) yaitu: a) meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM); b) memperbaiki kinerja, c) menciptakan interaksi antara peserta; d) mempererat rasa kekeluargaan dan kebersamaan; serta e) meningkatkan motivasi dan budaya belajar yang berkesinambungan. Dari sisi keuntungan Lulu Kamaludin (2011: 2) menyebutkan: a) Hasilnya lebih maksimal, b) Materinya lebih spesifik, c) Biaya lebih murah.

Sedangkan berkaitan dengan langkah-langkah IHT, Marwansyah (2012: 170), menjelaskan bahwa IHT dilakukan melalui tiga fase, yaitu fase perencanaan, fase proses penyelenggaraan dan fase evaluasi.

(1) Fase Perencanaan

(31)

43 tertentu (Syukur, 2011: 9). Hal-hal yang perlu dilakukan pada fase ini adalah: menentukan sasaran pelatihan; menentukan tujuan pelatihan; menentukan pokok bahasan/ materi pelatihan; menentukan pendekatan dan metodologi pelatihan; menentukan peserta pelatihan dan fasilitator (trainer); menentukan waktu dan tempat pelatihan; menentukan semua bahan yang diperlukan dalam pelatihan; menentukan model evaluasi pelatihan; menentukan sumber dana pembiayaan yang dibutuhkan.

(2) Fase Proses Penyelenggaraan

Proses penyelenggaraan pelatihan pada dasarnya merupakan implementasi dari perencanaan. Fase ini dibagi menjadi dua tahapan yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan pelatihan. Pada tahap persiapan, proses pelatihan diantaranya meliputi: mempersiapkan kelengkapan bahan pelatihan (undangan pemberitahuan, materi, jadwal, media, daftar hadir, instrumen evaluasi) dan kesiapan sarana prasarana (tempat, fasilitas, konsumsi, peserta maupun

(32)

44 (3) Fase Evaluasi Pelatihan

Fase evaluasi adalah fase penilaian terhadap kegiatan pelatihan yang telah dilaksanakan. Fase ini bukan untuk menilai prestasi hasil belajar peserta pelatihan melainkan penilaian yang dilakukan selama pelaksanaan kegiatan dan sesudah kegiatan pelatihan (Nawawi, 2008:228). Fase evaluasi tersebut merupakan fase terakhir dari seluruh pelaksanaan pelatihan, pada fase ini dimaksudkan untuk menilai kegiatan pelatihan yang telah dilaksanakan dan dilakukan selama dan sesudah pelatihan.

Hasil dari evaluasi tersebut kemudian akan menjadi umpan balik, untuk melakukan prediksi atau perkiraan kebutuhan pelatihan selanjutnya. Melalui beberapa tahapan di atas, maka diharapkan pelaksanaan IHT dapat mencapai tujuan yang diharapkan.

2.1.4 Tindakan Sekolah dalam bentuk Pelatihan Sebagai Upaya Peningkatan Kemampuan Guru Permasalahan tentang kesenjangan

(33)

45 suatu rancangan pelatihan ini dikaitkan dengan tugas dan fungsi kepala sekolah, maka dapat dipadukan dengan kegiatan supervisi melalui kegiatan penelitian Tindakan Sekolah sebagai salah satu ragam Penelitian Tindakan.

(34)

46 untuk memperbaiki kondisi sosial yang kurang baik.

Selanjutnya jika pengertian tersebut dikaitkan dengan organisasi sekolah, maka penelitian tindakan tersebut menjadi penelitian tindakan sekolah. Menurut Suyadi (2012: 13) Penelitian Tindakan Sekolah merupakan upaya untuk meningkatkan kinerja sistem pendidikan, dan mengembangkan manajemen sekolah agar menjadi produktif, efektif dan efisien.

a.Model-Model Penelitian Tindakan

Menurut Muhammad Yaumi & Muljono Damopolli (2014: 19) ada beberapa model penelitian tindakan yaitu: 1) model Kurt Lewin; 2) model Kemmis dan Mc Taggart; 3) model John Elliott; 4) model Schmuck; 5) model Stringer.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan model penelitian tindakan model Stringer. Model Stringer memiliki kerangka dasar yang kuat, yang ditandai dengan tiga kata, Look (melihat atau memandang), Think

(35)

47 berikut: 1) Melihat, yaitu mengumpulkan informasi yang relevan (pengumpulan data), menggambarkan situasi (mendefinisikan dan mendeskripsikan); Memikirkan: Mengeksplorasi dan menganalisis: apa yang sedang terjadi (menganalisis), menginterpretasi dan menjelaskan atau berteori; dan bertindak, yaitu merencanakan (melaporkan), mengimplemen-tasikan dan mengevaluasi.

b.Tujuan Penelitian Tindakan

(36)

48 binaannya; 2) meningkatkan kemampuan dan sikap profesional sebagai pengawas sekolah; 3) menumbuh kembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan.

2.1.5 Pengembangan Kemampuan Guru melalui In House Training (IHT)

Dalam rangka mengembangkan kemampuan guru dalam menyusun instrumen penilaian ranah sikap melalui IHT terdapat beberapa fase yang harus dilakukan meliputi fase perencanaan, fase penyelenggaraan, fase evaluasi pelatihan.

(37)

49 g) menentukan skor, h) menghitung tingkat reabilitas dan validitas instrumen sikap. Komponen-komponen perencanaan materi IHT

ini dituangkan dalam silabus IHT dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pelatihan).

Pada fase penyelenggaraan dilakukan kegiatan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. Manajer pelatihan (dalam hal ini peneliti) memastikan bahwa trainer dan peserta pelatihan telah siap mengikuti IHT. Sebelum dilakukan sesi pelatihan terlebih dahulu diberikan pretest. Pada proses pelatihan dilakukan juga observasi (menggunakan panduan observasi) untuk memantau aktivitas

trainer dan peserta pelatihan.

(38)

50 2.2 Kajian Penelitian yang Relevan

1) Ester Alake-Tuenter (2006) melakukan penelitian tentang kompetensi guru sekolah dasar di Belanda. Tujuan pertama penelitian ini adalah untuk melihat profil kompetensi profesional, yang diperlukan untuk mengajar di sekolah dasar di Belanda. Hasilnya adalah bahwa profil kompetensi guru sekolah dasar di Belanda menunjukkan kesenjangan bila dibandingkan dengan American National Science Education Standards (NSES). Kesenjangan terdapat dalam standar yang berkaitan dengan kompetensi pedagogik guru. Ditemukan juga bahwa lemahnya penguasaan kompetensi tertentu berhubungan dengan lemahnya penguasaan kompetensi yang lain. Evaluasi akhir terhadap model instrumen evaluasi guru menunjukkan bahwa kompetensi guru sekolah dasar di Belanda mencapai 80 %.

(39)

51 2) Camelia dan Umi Chotimah (2012) melakukan penelitian tentang : Kemampuan Guru dalam Membuat Instrumen Penilaian Domain Afektif pada Mata pelajaran PKn di SMP Negeri se-Kabupaten Ogan Ilir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam membuat instrumen penilaian domein afektif pada mata pelajaran PKn di SMP Negeri se-Kabupaten Ogan Ilir cukup baik, maka penilaian domein afektif pada mata pelajaran PKn di sekolah untuk mengukur sikap, minat, konsep diri, nilai dan moral siswa harus terus dilakukan oleh guru.

Temuan penelitian ini mendukung penelitian yang akan dilakukan oleh penulis tentang IHT untuk meningkatkan kemampuan guru SD Laboratorium Kristen Satya Wacana dalam menyusun instrumen penilaian ranah sikap. Namun yang membedakan adalah bahwa penelitian yang akan dilaksanakan nantinya merupakan Penelitian Tindakan Kelas.

(40)

52 Betapapun tinggi semangat dan motivasi yang dipunyai oleh guru, kinerja guru tidak dapat maksimal jika tidak diimbangi dengan penguasaan kompetensi profesional yang dipersyaratkan, kompetensi profesional mencakup sub kompetensi sebagai berikut: Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi, menguasai konsep konsep keilmuan dalam kehidupan sehari hari dan menguasai langkah langkah penelitian dan kajian kritis untuk menambah wawasan dan memperdalam pengetahuan atau materi bidang studi. Hasil penelitian Wahyudi membuktikan bahwa keberhasilan guru dalam mengajar tidak terlepas dengan kompetensi yang dimiliki.

Temuan penelitian ini menjadi dasar penelitian tindakan yang dilakukan penulis khususnya tentang kompetensi profesional yang dimiliki oleh guru.

(41)

53 sosial telah berdampak negatif terhadap prsetasi belajar siswa pada kompetensi inti karena hal tersebut merupakan fokus utama dalam kurikulum berbasis karakter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 model evaluasi yang dapat diterapkan guru dalam mengevaluasi sikap spiritual dan social siswa seperti: (1) Evaluasi mandiri; (2) Observasi guru; (3) Peer assessment; dan (4) Jurnal harian.

Temuan penelitian Darmansyah menemukan bahwa pemahaman guru tentang konsep dan implementasi penilaian spiritual dan sikap sosial masih rendah. Hal ini senada dengan hasil studi pendahuluan yang penulis lakukan di SD Laboratorium Kristen Satya Wacana menunjukkan pemahaman guru SD Laboratorium Kristen Satya Wacana dalam menyusun instrumen penilaian ranah sikap masih rendah.

5) Fidyawati (2013) melakukan penelitian tentang Efektifitas In House Training Dalam Peningkatan Kompetensi Guru di SMA Laboratorium Percontohan UPI Bandung. menemukan bahwa

(42)

54 meningkatkan kompetensinya melalui pelatihan-pelatihan.

Temuan penelitian ini mendukung penelitian tindakan yang dilakukan penulis khususnya tentang Efektifitas In House Training

dalam meningkatkan kemampuan guru.

6) Heldy Eriston (2011) melakukan penelitian tindakan sekolah tentang Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Membuat

Powerpoint melalui In House Training di SMK Teknik Industri Purwakarta. Hasilnya menyimpulkan In House Training bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan guru membuat powerpoint untuk media pembelajaran. Tindakan yang telah mencapai hasil 86% melampaui indikator yang telah ditetapkan yaitu 75% menunjukan bahwa IHT

dapat secara signifikan meningkatkan kemampuan guru membuat powerpoint untuk media pembelajaran.

Temuan Penelitian Tindakan Sekolah yang dilakukan oleh Heldy Eriston tentang meningkatkan kemampuan guru dalam membuat Powerpoint melalui In House Training

(43)

55 kemampuan guru SD Laboratorium Kristen Satya Wacana dalam menyusun instrumen penilaian ranah sikap.

7) Naill Hegarty (2014) menulis tentang keefektifan program pelatihan dalam hal tujuan pembelajaran, sebagai sebuah media untuk meningkatkan karir individu, dan sebagai suatu bentuk dari pendidikan yang diakui. Hasil temuan menunjukkan program pelatihan sangat penting, karena melalui perbaikan program pelatihan tujuan organisasi maupun individu dapat tercapai.

Penelitian ini membuktikan bahwa program pelatihan sangat penting. Temuan penelitian ini mendukung penelitian tindakan yang penulis lakukan khususnya tentang keefektifan program pelatihan.

(44)

56 yang dilakukan penulis khususnya tentang Efektifitas In Service Training dalam meningkatkan kemampuan guru.

Penelitian tentang kompetensi guru telah banyak dilakukan seperti telah dikemukakan pada

review setiap jurnal, yaitu penelitian yang dilakukan oleh Ester Alake-Tuenter (2006), Wahyudi (2010), Camelia dan Umi Chotimah (2012) dan Darmansyah (2014). Penelitian tentang pelatihan IHT juga telah banyak dilakukan, diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Fidyawati (2013), Heldy Eriston (2011), Shakoor, A., Ghumman, M.S., Mahmood, T. (2013) dan Nail Hegarty (2014). Namun penelitian-penelitian dengan variabel pelatihan IHT untuk meningkatkan kompetensi guru dalam jurnal yang telah direview

oleh penulis lebih dominan sebagai penelitian korelasional dan eksperimental saja. Kalaupun ada penelitian pelatihan IHT itupun model konseptual yang hakikatnya berbeda dengan model prosedural yang akan digunakan dalam penerapan pelatihan

(45)

57 kemampuan guru dalam menyusun instrumen penilaian skala sikap.

2.3. Kerangka Pikir

(46)

58

(47)

59 Kerangka pikir seperti tersebut dalam gambar 1 menggambarkan alur logis pemecahan dalam penelitian tindakan ini.

Defisit kemampuan guru dalam melakukan:

a) Penilaian yang mencakup tiga ranah (kognitif, afektif, dan psikomotor) sebesar 69 % b) Penilaian non tes

jenis skala sikap untuk mengukur sikap siswa sebesar 69% c) Pemahaman yang

cukup untuk mengembangkan penilaian sikap sebesar 77%; d) Pemahaman yang

cukup untuk mengembangkan instrumen penilaian skala sikap model Likert sebesar 85% Pelatihan model in house training Langkah-langkah pelatihan in house traing Perencanaan Proses penyeleng-garaan Evaluasi pelatihan Kemam-puan menyu-sun ins-trumen penilai-an rpenilai-anah sikap mening-kat

(48)

60 2.4. Hipotesis Tindakan

Hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan sekolah ini adalah:

1) Langkah-langkah pelatihan model In

house Training (IHT) yang dapat

meningkatkan kemampuan guru SD Laboratorium Kristen Satya Wacana Salatiga dalam menyusun instrumen penilaian ranah sikap adalah perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. 2) Kemampuan guru SD Laboratorium

Gambar

Tabel 2.1 Kisi-kisi Skala Sikap Model Likert
gambar 1 menggambarkan alur logis pemecahan

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Ayam broiler merupakan ternak yang paling ekonomis bila dibandingkan dengan ternak lain, kelebihan yang dimiliki adalah kecepatan pertambahan/produksi daging dalam

Kekurangan resin komposit flowable diantaranya adalah resistensi pemakaian dari bahan komposit flowable tidak begitu baik bila dibandingkan dengan bahan-bahan

Saat ini, metode identifikasi sumber pencemar menggunakan model reseptor berkembang pesat untuk metode yang digunakan bila profil sumber emisinya tidak diketahui.. Metode

maksimal, sebaiknya dilakukan serentak pada kedua tangan sehinggadapat dibandingkan. Bila dalam 60 detik timbul gejala gejala seperti STK, maka tes ini

ICABST2020 is organized by Asia-Pacific Association of Natural Science and Engineering, and supported by Hanoi National University of Education, Mahidol University, American

Informasi akuntansi akan lebih bermanfaat bila dapat dibandingkan dengan informasi serupa pada perusahaan lain yang juga akan lebih bermanfaat bila dapat dibandingkan dengan

Modal kerja dari suatu perusahaan jasa relatif akan lebih rendah bila dibandingkan dengan kebutuhan modal kerja perusahaan industri, karena perusahaan industri

Nanyang Technological University, National Institute of Education, Physical Education and Sports Science, Singapore, E-mail: [email protected] Balius X.. Olympic Training Centre