• Tidak ada hasil yang ditemukan

laporan puskesmas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "laporan puskesmas"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis.

Penyakit berbasis lingkungan masih merupakan masalah kesehatan terbesar masyarakat indonesia. Hal ini tercermin dari tingginya angka kejadian dan kunjungan penderita beberapa penyakit ke sarana pelayanan kesehatan seperti infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), TB Paru, penyakit diare, malaria, demam berdarah dengue (DBD), keracunan makanan, cacingan, serta ganggu kesehatan/ keracunan karena bahan kimia dan pestisida.

Tingginya kejadiaan penyakit-penyakit berbasis lingkungan disebabkan oleh masih buruknya kondisi sanitasi dasar terutama air bersih dan jamban, meningkatnya pencemaran, kurang higenisnya pengelolaan makanan, rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) masyarakat, serta buruknya penatalaksanaan bahan kimia dan pestisida dirumah tangga yang kurang memperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan kerja.

(2)

menonjolkan aspek pencegahan dan promosi. Salah satu pendekatan yang menekankan pada upaya preventif dan promotif berupa perbaikan lingkungan dan perilaku adalah ”klinik sanitasi”.

Klinik sanitasi merupakan suatu wahana masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan lingkungan untuk pemberantasan penyakit dengan bimbingan, penyuluhan, dan bantuan teknis dari petugas puskesmas. Klinik sanitasi bukan sebagai unit pelayanan yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian integral dari kegiatan puskesmas.

Dengan demikian petugas sanitasi sebagai pengolah klinik sanitasi dituntut mempunyai pengetahuan dan ketrampilan dalam membantu menemukan masalah lingkungan dan perilaku yang berkaitan dengan penyakit yang banyak diderita masyarakat sehingga diharapkan mereka dapat berperan dalam upaya memutuskan rantai penularan penyakit, dan dalam jangka panjang dapat mencegah serta memberantas penyakit-penyakit berbasis lingkungan.

B. Tujuan Praktek Klinik Sanitasi

1. Umum

Mahasiswa mampu menganalisis faktor risiko lingkungan perumahan yang berhubungan dengan penyakit – penyakit yang berbasis lingkungan dan mampu melakukan interfensi terhadap permasalahan yang ditemukan

2. Khusus

(3)

b. Mahasiswa mampu menganalisis faktor risiko yang berkaitan dengan penyakit yang diderita pasien di puskesmas.

c. Mahasiswa mampu melaksanakan konseling pasien atau klien di puskesmas.

d. mahasiswa mampu memberikan saran atau pemecahan masalah kepada masyarakat mengenai penyakit yang berbasis lingkungan.

C. Manfaat Praktek Klinik Sanitasi

1. Bagi mahasiswa

a. dapat mengaplikasikan program-program dari puskesmas dan juga diharapkan dapat lebih terarah dalam pelayanan klinik sanitasi.

b. mengetahui langkah-langkah penata laksanaan faktor lingkungan dan perilaku penyakit berbasis lingkungan.

c. mengetahui kegiatan klinik sanitasi dan mampu melaksanakannya

2. Bagi masyarakat

(4)

3. Bagi puskesmas

Bagi puskesmas praktik klinik sanitasi dapat diupayakan dalam penambahan program dalam mengatasi masalah di masyarakat terutama adalah masalah penyakit berbasis lingkungan serta sebagai salah satu layanan masyarakat di puskesmas yang mengintegrasikan antara upaya kuratif, promotif, dan prefentif yang berperan sebagai pusat informasi, pusat rujukan dan fasilitator di bidang kesehatan lingkungan dan penyakit berbasis lingkungan demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Klinik Sanitasi

Klinik sanitasi adalah suatu upaya atau kegiatan yang mengintegrasikan pelayanan kesehatan promotif, preventif, dan kuratif yang difokuskan pada penduduk yang berisiko tinggi untuk mengatasi masalah penyakit berbasis lingkungan pemukiman yangdilaksanakan oleh petugas puskesmas bersama masyarakat yang dapat dilaksanakan secara pasif dan aktif di dalam dan di luar gedung.

(5)

klinik sanitasi, ketiga upaya pelayanan kesehatan yaitu promotif, preventif, dan kuratif dilakukan secara terintergrasi dalam pelayanan kesehatan program pemberantasan penyakit berbasis lingkungan, di dalam maupun di luar gedung.

Klinik sanitasi merupakan suatu wahana masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan lingkungan untuk pemberantasan penyakit dengan bimbingan, penyuluhan, dan bantuan teknis dari petugas puskesmas. Klinik sanitasi bukan sebagai unit pelayanan yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian integral dari kegiatan Puskesmas.

B. Alur Kegiatan Pelayanan Kesehatan Lingkungan Puskesmas

Kegiatan Pelayanan Kesehatan Lingkungan Puskesmas dilaksanakan di dalam gedung dan luar gedung Puskesmas, meliputi:

1. Konseling;

2. Inspeksi Kesehatan Lingkungan; dan 3. Intervensi/tindakan kesehatan lingkungan.

Alur kegiatan Pelayanan Kesehatan Lingkungan Puskesmas dapat dilihat pada skema dengan uraian berikut:

a. Pelayanan Pasienyang menderita penyakit dan/atau gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh Faktor Risiko Lingkungan

­ Pasien mendaftar di ruang pendaftaran.

­ Petugas pendaftaran mencatat/mengisi kartu status.

­ Petugas pendaftaran mengantarkan kartu status tersebut ke petugas ruang pemeriksaan umum.

­ Petugas di ruang pemeriksaan umum Puskesmas (Dokter, Bidan, Perawat) melakukan pemeriksaan terhadap Pasien.

­ Pasien selanjutnya menuju Ruang Promosi Kesehatan untuk mendapatkan pelayanan Konseling.

(6)

Konseling (terlampir).

­ Hasil Konseling dicatat dalam formulir pencatatan status kesehatan lingkungan dan selanjutnya Tenaga Kesehatan Lingkungan memberikan lembar saran/tindak lanjut dan formulir tindak lanjut Konseling kepada Pasien.

­ Pasien diminta untuk mengisi dan menandatangani formulir tindak lanjut Konseling.

­ Dalam hal diperlukan berdasarkan hasil Konseling dan/atau hasil surveilans kesehatan menunjukkan kecenderungan berkembang atau meluasnya penyakit atau kejadian kesakitan akibat Faktor Risiko Lingkungan, Tenaga Kesehatan Lingkungan membuat janji Inspeksi Kesehatan Lingkungan.

­ Setelah Konseling di Ruang Promosi Kesehatan, Pasien dapat mengambil obat di Ruang Farmasi dan selanjutnya Pasien pulang.

b. Pelayanan Pasienyang datang untuk berkonsultasi masalah kesehatan lingkungan (dapat disebut Klien) segera mendaftar di Ruang Pendaftaran. ­ Petugas pendaftaran memberikan kartu pengantar dan meminta Pasien

menuju ke Ruang Promosi Kesehatan.

­ Pasien melakukan konsultasi terkait masalah kesehatan lingkungan atau penyakit dan/atau gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh Faktor Risiko Lingkungan.

­ Tenaga Kesehatan Lingkungan mencatat hasil Konseling dalam formulir pencatatan status kesehatan lingkungan, dan selanjutnya memberikan lembar saran atau rekomendasi dan formulir tindak lanjut Konseling untuk ditindak lanjuti oleh Pasien.

­ Pasien diminta untuk mengisi dan menandatangani formulir tindak lanjut Konseling.

(7)

Kesehatan Lingkungan dan selanjutnya Pasien dapat pulang.

1. Konseling

A. Pengertian Konseling

Konseling adalah hubungan komunikasi antara Tenaga Kesehatan Lingkungan dengan Pasien yang bertujuan untuk mengenali dan memecahkan masalah kesehatan lingkungan yang dihadapi. Dalam Konseling, pengambilan keputusan adalah tanggung jawab Pasien. Pada waktu Tenaga Kesehatan Lingkungan membantu Pasien terjadi langkah-langkah komunikasi secara timbal balik yang saling berkaitan (komunikasi interpersonal) untuk membantu Pasien membuat keputusan. Tugas pertama Tenaga Kesehatan Lingkungan adalah menciptakan hubungan dengan Pasien, dengan menunjukkan perhatian dan penerimaan melalui tingkah laku verbal dan non verbal yang akan mempengaruhi keberhasilan pertemuan tersebut. Konseling tidak semata-mata dialog, melainkan juga proses sadar yang memberdayakan orang agar mampu mengendalikan hidupnya dan bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya.

Ciri-ciri Konseling meliputi :

1. Konseling sebagai proses yang dapat membantu Pasien dalam: ­ memperoleh informasi tentang masalah kesehatan keluarga

yang benar;

­ memahami dirinya dengan lebih baik;

­ menghadapi masalah-masalahnya sehubungan dengan masalah kesehatan keluarga yang dihadapinya;

­ mengutarakan isi hatinya terutama hal-hal yang bersifat sensitif dan sangat pribadi;

­ mengantisipasi harapan-harapan, kerelaan dan kapasitas merubah perilaku;

(8)

­ menghadapi rasa kecemasan dan ketakutan sehubungan dengan masalah kesehatan keluarganya.

2. Konseling bukan percakapan tanpa tujuan

Konseling diadakan untuk mencapai tujuan tertentu antara lain membantu Pasien untuk berani mengambil keputusan dalam memecahkan masalahnya.

3. Konseling bukan berarti memberi nasihat atau instruksi pada Pasien untuk sesuatu sesuai kehendak Tenaga Kesehatan Lingkungan.

4. Konseling berbeda dengan konsultasi maupun penyuluhanDalam konsultasi, pemberi nasehat memberikan nasehat seakan- akan dia seorang “ahli" dan memikul tanggung jawab yang lebih besar terhadap tingkah laku atau tindakan Pasien, serta yang dihadapi adalah masalah. Sedangkan penyuluhan merupakan proses penyampaian informasi kepada kelompok sasaran dengan tujuan meningkatkan kesadaran masyarakat.

B. Langkah-Langkah Konseling

Pelaksanaan Konseling dilakukan dengan fokus pada permasalahan kesehatan yang dihadapi Pasien.

Langkah-langkah kegiatan Konseling sebagai berikut:

­ Persiapan (P1)

a. menyiapkan tempat yang aman, nyaman dan tenang;

b. menyiapkan daftar pertanyaan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan;

c. menyiapkan media informasi dan alat peraga bila diperlukan seperti poster, lembar balik, leaflet, maket (rumah sehat, jamban sehat, dan lain-lain) serta alat peraga lainnya.

­ Pelaksanaan (P2)

(9)

1. umum, berupa data individu/keluarga dan data lingkungan;

2. khusus, meliputi:

a. identifikasi prilaku/kebiasaan;

b. identifikasi kondisi kualitas kesehatan lingkungan; c. dugaan penyebab; dan

d. saran dan rencana tindak lanjut.

Ada enam langkah dalam melaksanakan Konseling yang biasa disingkat dengan "SATU TUJU" yaitu :

SA = Salam, Sambut:

d. Beri salam, sambut Pasien dengan hangat.

e. Tunjukkan bahwa Anda memperhatikannya, mengerti keadaan dan keperluannya, bersedia menolongnya dan mau meluangkan waktu. f. Tunjukkan sikap ramah.

g. Perkenalkan diri dan tugas Anda.

h. Yakinkan dia, bahwa Anda bisa dipercaya dan akan menjaga kerahasiaan percakapan anda dengan Pasien.

i. Tumbuhkan keberaniannya untuk dapat mengungkapkan diri.

(10)

a. Tanyakan bagaimana keadaan atau minta pasien menyampaikan masalahnya pada Anda.

b. Dengarkan penuh perhatian dan rasa empati. c. Tanyakan apa peluang yang dimilikinya.

d. Tanyakan apa hambatan yang dihadapinya.

e. Beritahukan bahwa semua keterangan itu diperlukan untuk menolong mencari cara pemecahan masalah yang terbaik bagi Pasien.

U-Uraikan :

Uraikan tentang hal-hal yang ingin diketahuinya atau anda menganggap perlu diketahuinya agar lebih memahami dirinya, keadaan dan kebutuhannya untuk memecahkan masalah. Dalam menguraikan anda bisa menggunakan media Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) supaya lebih mudah dipahami.

(11)

Bantu Pasien mencocokkan keadaannya dengan berbagai kemungkinan yang bisa dipilihnya untuk memperbaiki keadaannya atau mengatasi masalahnya.

J - Jelaskan :

Berikan penjelasan yang lebih lengkap mengenai cara mengatasi permasalahan yang dihadapi Pasien dari segi positif dan negatif serta diskusikan upaya untuk mengatasi hambatan yang mungkin terjadi. Jelaskan berbagai pelayanan yang dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah tersebut.

U - Ulangi:

Ulangi pokok-pokok yang perlu diketahui dan diingatnya. Yakinkan bahwa anda selalu bersedia membantunya. Kalau Pasien memerlukan percakapan lebih lanjut yakinkan dia bahwa anda siap menerimanya.

Setelah proses SATU TUJU dilaksanakan, Tenaga Kesehatan Lingkungan menindaklanjuti dengan:

1. melakukan penilaian terhadap komitmen Pasien (Formulir tindak lanjut konseling) yang telah diisi dan ditandatangani untuk mengambil keputusan yang disarankan, dan besaran masalah yang dihadapi; 2. menyusun rencana kunjungan untuk Inspeksi Kesehatan Lingkungan

sesuai hasil Konseling; dan

(12)

Dalam melaksanakan Konseling kepada Pasien, Tenaga Kesehatan Lingkungan menggunakan panduan Konseling sebagaimana contoh bagan dan daftar pertanyaan terlampir. Tenaga Kesehatan Lingkungan dapat mengembangkan daftar pertanyaan terhadap Pasien dengan diagnosis penyakit lain atau sesuai kebutuhan. Tenaga Kesehatan Lingkungan dalam memberikan saran tindak lanjut sesuai dengan permasalahan kesehatan lingkungan yang dihadapi berdasarkan pedoman teknis yang berlaku.

2. Inspeksi Kesehatan Lingkungan A. Pengertian

Inspeksi Kesehatan Lingkungan adalah kegiatan pemeriksaan dan pengamatan secara langsung terhadap media lingkungan dalam rangka pengawasan berdasarkan standar, norma dan baku mutu yang berlaku untuk meningkatkan kualitas lingkungan yang sehat.

Inspeksi Kesehatan Lingkungan dilaksanakan berdasarkan hasil Konseling terhadap Pasien dan/atau kecenderungan berkembang atau meluasnya penyakit dan/atau kejadian kesakitan akibat Faktor Risiko Lingkungan. Inspeksi Kesehatan Lingkungan juga dilakukan secara berkala, dalam rangka investigasi Kejadian Luar Biasa (KLB) dan program kesehatan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

B. Pelaksanaan Inspeksi Kesehatan Lingkungan ­ Petugas Inspeksi Kesehatan Lingkungan

Inspeksi Kesehatan Lingkungan dilaksanakan oleh Tenaga Kesehatan Lingkungan (sanitarian, entomolog dan mikrobiolog) yang membawa surat tugas dari Kepala Puskesmas dengan rincian tugas yang lengkap.

(13)

Puskesmas Pembantu, Poskesdes, atau Bidan di desa. Terkait hal ini Lintas Program Puskesmas berperan dalam:

a. Melakukan sinergisme dan kerja sama sehingga upaya promotif, preventif dan kuratif dapat terintegrasi.

b. Membantu melakukan Konseling dan pada waktu kunjungan rumah dan lingkungan.

c. Apabila di lapangan menemukan penderita penyakit karena Faktor Risiko Lingkungan, harus melaporkan pada waktu lokakarya mini Puskesmas, untuk diketahui dan ditindaklanjuti.

­ Waktu Pelaksanaan Inspeksi Kesehatan Lingkungan

Waktu pelaksanaan Inspeksi Kesehatan Lingkungan sebagai tindak lanjut hasil Konseling sesuai dengan kesepakatan antara Tenaga Kesehatan Lingkungan dengan Pasien, yang diupayakan dilakukan paling lambat 24 (dua puluh empat) jam setelah Konseling.

­ Metode Inspeksi Kesehatan Lingkungan

a. Inspeksi Kesehatan Lingkungan dilakukan dengan cara/metode sebagai berikut:pengamatan fisik media lingkungan;

b. pengukuran media lingkungan di tempat;

c. uji laboratorium; dan/atau

d. analisis risiko kesehatan lingkungan.

Inspeksi Kesehatan Lingkungan dilakukan terhadap media air, udara, tanah, pangan, sarana dan bangunan, serta vektor dan binatang pembawa penyakit. Dalam pelaksanaannya mengacu pada pedoman pengawasan kualitas media lingkungan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

1) Pengamatan fisik media lingkungan

(14)

a) Air

­ Mengamati sarana (jenis dan kondisi) penyediaan air minum dan air untuk keperluan higiene sanitasi (sumur gali/sumur pompa tangan/KU/perpipaan/penampungan air hujan).

­ Mengamati kualitas air secara fisik, apakah berasa, berwarna, atau berbau.

­ Mengetahui kepemilikan sarana penyediaan air minum dan air untuk keperluan higiene sanitasi, apakah milik sendiri atau bersama.

b) Udara

­ Mengamati ketersediaan dan kondisi kebersihan ventilasi.

­ Mengukur luas ventilasi permanen (minimal 10% dari luas lantai), khusus ventilasi dapur minimal 20% dari luas lantai dapur, asap harus keluar dengan sempurna atau dengan ada exhaust fan atau peralatan lain.

c) Tanah

Mengamati kondisi kualitas tanah yang berpotensi sebagai media penularan penyakit, antara lain tanah bekas Tempat Pembuangan Akhir/TPA Sampah, terletak di daerah banjir, bantaran sungai/aliran sungai/longsor, dan bekas lokasi pertambangan.

d) Pangan

Mengamati kondisi kualitas media pangan, yang memenuhi prinsip-prinsip higiene sanitasi dalam pengelolaan pangan mulai dari pemilihan dan penyimpanan bahan makanan, pengolahan makanan, penyimpanan makanan masak, pengangkutan makanan, dan penyajian makanan.

e) Sarana dan Bangunan

(15)

f) Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit

Mengamati adanya tanda-tanda kehidupan vektor dan binatang pembawa penyakit, antara lain tempat berkembang biaknya jentik, nyamuk, dan jejak tikus.

2) Pengukuran Media Lingkungan di Tempat

Pengukuran media lingkungan di tempat dilakukan dengan menggunakan alat in situ untuk mengetahui kualitas media lingkungan yang hasilnya langsung diketahui di lapangan. Pada saat pengukuran media lingkungan, jika diperlukan juga dapat dilakukan pengambilan sampel yang diperuntukkan untuk pemeriksaan lanjutan di laboratorium.

3) Uji Laboratorium

Apabila hasil pengukuran in situ memerlukan penegasan lebih lanjut, dilakukan uji laboratorium. Uji laboratorium dilaksanakan di laboratorium yang terakreditasi sesuai parameternya. Apabila diperlukan, uji laboratorium dapat dilengkapi dengan pengambilan spesimen biomarker pada manusia, fauna, dan flora.

4) Analisis risiko kesehatan lingkungan

Analisis risiko kesehatan lingkungan merupakan pendekatan dengan mengkaji atau menelaah secara mendalam untuk mengenal, memahami dan memprediksi kondisi dan karakterisktik lingkungan yang berpotensi terhadap timbulnya risiko kesehatan, dengan mengembangkan tata laksana terhadap sumber perubahan media lingkungan, masyarakat terpajan dan dampak kesehatan yang terjadi.

Analisis risiko kesehatan lingkungan juga dilakukan untuk mencermati besarnya risiko yang dimulai dengan mendiskrisikan masalah kesehatan lingkungan yang telah dikenal dan melibatkan penetapan risiko pada kesehatan manusia yang berkaitan dengan masalah kesehatan lingkungan yang bersangkutan.

(16)

a) Identifikasi bahaya

Mengenal dampak buruk kesehatan yang disebabkan oleh pemajanan suatu bahan dan memastikan mutu serta kekuatan bukti yang mendukungnya.

b) Evaluasi dosis respon

Melihat daya racun yang terkandung dalam suatu bahan atau untuk menjelaskan bagaimana suatu kondisi pemajanan (cara, dosis, frekuensi, dan durasi) oleh suatu bahan yang berdampak terhadap kesehatan.

c) Pengukuran pemajanan

Perkiraan besaran, frekuensi dan lamanya pemajanan pada manusia oleh suatu bahan melalui semua jalur dan menghasilkan perkiraan pemajanan.

d) Penetapan Risiko.

Mengintegrasikan daya racun dan pemajanan kedalam “perkiraan batas atas” risiko kesehatan yang terkandung dalam suatu bahan.

Hasil analisis risiko kesehatan lingkungan ditindaklanjuti dengan komunikasi risiko dan pengelolaan risiko dalam rencana tindak lanjut yang berupa Intervensi Kesehatan Lingkungan.

2. Langkah-Langkah Inspeksi Kesehatan Lingkungan a. Persiapan:

1) Mempelajari hasil Konseling.

2) Tenaga Kesehatan Lingkungan membuat janji kunjungan rumah dan lingkungannya dengan Pasien dan keluarganya.

(17)

4) Melakukan koordinasi dengan perangkat desa/kelurahan (kepala desa/lurah, sekretaris, kepala dusun atau ketua RW/RT) dan petugas kesehatan/bidan di desa.

b. Pelaksanaan:

1) Melakukan pengamatan media lingkungan dan perilaku masyarakat.

2) Melakukan pengukuran media lingkungan di tempat, uji laboratorium, dan analisis risiko sesuai kebutuhan.

3) Melakukan penemuan penderita lainnya. 4) Melakukan pemetaan populasi berisiko.

5) Memberikan saran tindak lanjut kepada sasaran (keluarga pasien dan keluarga sekitar). Saran tindak lanjut dapat berupa Intervensi Kesehatan Lingkungan yang bersifat segera. Saran tindak lanjut disertai dengan pertimbangan tingkat kesulitan, efektifitas dan biaya.

Dalam melaksanakan Inspeksi Kesehatan Lingkungan, Tenaga Kesehatan Lingkungan menggunakan panduan Inspeksi Kesehatan Lingkungan berupa bagan dan daftar pertanyaan untuk setiap penyakit sebagaimana contoh daftar pertanyaan terlampir. Tenaga Kesehatan Lingkungan dapat mengembangkan daftar pertanyaan tersebut sesuai kebutuhan. Hasil Inspeksi Kesehatan Lingkungan dilanjutkan dengan rencana tindak lanjut berupa Intervensi Kesehatan Lingkungan.

3. Intervensi Kesehatan Lingkungan

Intervensi Kesehatan Lingkungan adalah tindakan

penyehatan, pengamanan, dan pengendalian untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat baik dari aspek fisik, kimia, biologi, maupun sosial, yang dapat berupa:

a. komunikasi, informasi, dan edukasi sertapenggerakan /pemberdayaan masyarakat;

(18)

c. pengembangan teknologi tepat guna; dan

d. rekayasa lingkungan.

Dalam pelaksanaannya Intervensi Kesehatan Lingkungan harus mempertimbangkan tingkat risiko berdasarkan hasil Inspeksi Kesehatan Lingkungan. Pada prinsipnya pelaksanaan Intervensi Kesehatan Lingkungan dilakukan oleh Pasien sendiri. Dalam hal cakupan Intervensi Kesehatan Lingkungan menjadi luas, maka pelaksanaannya dilakukan bersama pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat/swasta.

A. Komunikasi, Informasi, dan Edukasi, serta Penggerakan/Pemberdayaan Masyarakat.

Pelaksanaan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan prilaku masyarakat terhadap masalah kesehatan dan upaya yang diperlukan sehingga dapat mencegah penyakit dan/atau gangguan kesehatan akibat Faktor Risiko Lingkungan. KIE dilaksanakan secara bertahap agar masyarakat umum mengenal lebih dulu, kemudian menjadi mengetahui, setelah itu mau melakukan dengan pilihan/opsi yang sudah disepakati bersama.

Pelaksanaan penggerakan/pemberdayaan masyarakat dilakukan untuk memelihara dan meningkatkan kualitas lingkungan melalui kerja bersama (gotong royong) melibatkan semua unsur masyarakat termasuk perangkat pemerintahan setempat dan dilakukan secara berkala.

Contoh:

­ Pemasangan dan/atau penayangan media promosi kesehatan lingkungan pada permukiman, tempat kerja, tempat rekreasi, dan tempat dan fasilitas umum;

­ Pelatihan masyarakat untuk 3M (menutup, menguras, dan mengubur), pembuatan sarana sanitasi dan sarana pengendalian vektor;

(19)

Total pada kegiatan Kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat/STBM;

­ Gerakan bersih desa;

B. Perbaikan dan Pembangunan Sarana

Perbaikan dan pembangunan sarana diperlukan apabila pada hasil Inspeksi Kesehatan Lingkungan menunjukkan adanya Faktor Risiko Lingkungan penyebab penyakit dan/atau gangguan kesehatan pada lingkungan dan/atau rumah Pasien. Perbaikan dan pembangunan sarana dilakukan untuk meningkatkan akses terhadap air minum, sanitasi, sarana perumahan, sarana pembuangan air limbah dan sampah, serta sarana kesehatan lingkungan lainnya yang memenuhi standar dan persyaratan kesehatan lingkungan.

Tenaga Kesehatan Lingkungan dapat memberikan desain untuk perbaikan dan pembangunan sarana sesuai dengan tingkat risiko, dan standar atau persyaratan kesehatan lingkungan, dengan mengutamakan material lokal.

Contoh perbaikan dan pembangunan sarana sebagai berikut:

­ penyediaan sarana cuci tangan dengan material bambu; ­ pembuatan saringan air sederhana;

­ pembuatan pasangan/cincin pada bibir sumur untuk mencegah kontaminasi air dan berkembangbiaknya vektor;

­ pemasangan genteng kaca untuk pencahayaan ruangan;

­ pembuatan tangki septik, pembuatan ventilasi, plesteran semen pada lantai tanah, dan pembuatan sarana air bersih yang tertutup.

C. Pengembangan Teknologi Tepat Guna

(20)

dengan mempertimbangkan permasalahan yang ada dan ketersediaan sumber daya setempat sesuai kearifan lokal.

Pengembangan teknologi tepat guna secara umum harus dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat, memanfaatkan sumber daya yang ada, dibuat sesuai kebutuhan, bersifat efektif dan efisien, praktis dan mudah diterapkan/dioperasionalkan, pemeliharaannya mudah, serta mudah dikembangkan.

Contoh:

­ pembuatan saringan pasir cepat/lambat untuk mengurangi kekeruhan dan/atau kandungan logam berat dalam air; ­ pembuatan kompos dari sampah organik;

­ pengolahan air limbah rumah tangga untuk ternak ikan;

D. Rekayasa Lingkungan

Rekayasa lingkungan merupakan upaya mengubah media lingkungan atau kondisi lingkungan untuk mencegah pajanan agen penyakit baik yang bersifat fisik, biologi, maupun kimia serta gangguan dari vektor dan binatang pembawa penyakit.

Contoh rekayasa lingkungan:

­ menanam tanaman anti nyamuk dan anti tikus; ­ pemeliharaan ikan kepala timah atau guppy;

­ pemberian bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang tidak tertutup;

­ membuat saluran air dari laguna ke laut agar ada peningkatan salinitas. 4. Pemantauan Dan Evaluasi

(21)

media lingkungan dalam rangka program kesehatan. Hasil pemantauan dan evaluasi digunakan untuk mengukur kinerja Pelayanan Kesehatan Lingkungan di Puskesmas yang sekaligus menjadi indikator dalam penilaian akreditasi Puskesmas.

Pemantauan dan evaluasi dilakukan untuk memperoleh gambaran hasil Pelayanan Kesehatan Lingkungan di Puskesmas terhadap akses masyarakat untuk memperoleh Pelayanan Kesehatan Lingkungan, kualitas Pelayanan Kesehatan Lingkungan Puskesmas, masalah yang dihadapi, dan dampak kesehatan masyarakat.

Indikator pemantauan dan evaluasi kinerja Puskesmas meliputi:

1. Akses masyarakat untuk memperoleh Pelayanan Kesehatan Lingkungan.

2. Kualitas Pelayanan Kesehatan Lingkungan Puskesmas.

3. Masalah yang dihadapi dalam Pelayanan Kesehatan Lingkungan. 4. Dampak yang dapat terjadi.

Cara mengukur indikator tersebut dapat menggunakan perhitungan sebagai berikut:

1. Akses masyarakat untuk memperoleh Pelayanan Kesehatan Lingkungan: Jumlah Pasien yang mendapat Pelayanan Kesehatan Lingkungan dibanding Pasien yang membutuhkan Pelayanan Kesehatan Lingkungan.

2. Kualitas Pelayanan Kesehatan Lingkungan Puskesmas:

a. Jumlah Pasien yang menindaklanjuti hasil rekomendasi Konseling dibanding jumlah seluruh Pasien yang melakukan Konseling.

b. Jumlah Pasien yang menindaklanjuti hasil rekomendasi Inspeksi Kesehatan Lingkungan dibanding jumlah seluruh Pasien yang dikunjungi.

(22)

Kesehatan Lingkungan Puskesmas. 4. Dampak yang dapat terjadi:

Peningkatan atau penurunan insidens dan prevalensi penyakit dan/atau gangguan kesehatan yang diakibatkan Faktor Risiko Lingkungan.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHSAN

(23)

Pembangunan Puskesmas Banjar Serasan terletak diwilayah posisi geografis dari batas wilayah selatan dengan koordinat ( 1092240,7 BT., 000405,50 LS ) terletak pada / di ± 80 meter sebelah barat dari jalan Azizah.

Wilayah kerja UPK Puskesmas Banjar Serasan yang terdiri dari 1 (satu) buah kelurahan yaitu kelurahan Banjar Serasan termasuk dalam wilayah kecamatan Pontianak Timur, dengan batas-batas:

a) Letak geografis dari batas wilayah barat dengan koordinat ( 1092042,7 BT., 000121,8 LS ) yang terletak antara perpotongan parit Rumah Sakit Yarsi dengan sungai kapuas.

b) Posisi geografis dari batas wilayah utara dengan koordinat ( 1092300,1 BT., 000130,5 LS ) terletak pada / di tepi alur Rumah Sakit Yarsi dan berjarak ± 50 meter dari tepi sisi jalan Tanjung Raya II dan berada di sudut pagar Rumah Sakit Yarsi.

c) Posisi geografis dari batas wilayah timur dengan koordinat ( 1092300,1 BT., 000340,0 LS ) kanan belakang terletak pada / di ± 100 meter di sebelah timur sekolah terpadu.

(24)

Tata letak Puskesmas Banjar Serasan

Luas wilayah kerja UPK Puskesmas Banjar Serasan adalah sama dengan luas wilayah Kelurahan Banjar Serasan yaitu 114 km2 Terdiri dari dataran berawa dengan sebagian penduduk tinggal di tepi sungai Kapuas. UPK Banjar Serasan memiliki 39 RT dan 7 RW.

Tabel II.1

Luas Wilayah Kerja UPK Puskesmas Banjar Serasan

Tahun 2014

No Kelurahan Luas (Km2) Persentase(%)

1 Banjar Serasan 114 100

Jumlah 114 100

II. Program kesehatan lingkungan

Adapun lingkungan merupakan salah satu factor yang besar pengaruhnya terhadap derajat kesehatan masyarakat.

(25)

a. Meningkatkan mutu derajat kesehatan dalam rangka mencapai kwalitas hidup yang optimal melalui peningkatan mutu upaya kesehatan lingkungan dan pelestariann lingkungan hidup yang dinamis serta meningkatkan dalam memupuk peran serta/swadaya masyarakat dalam upaya kesehatan lingkungan.

b. Untuk merubah mengendalikan atau menghilangkan semua unsur fisik dan lingkungan yang terdapat dimasyarakat yang dapat memberi pengaruh jelek terhadap kualitas kesehatan.

Beberapa kegiatan yang dilaksanakan :

1. Penyehatan Lingkungan pemukiman Jumlah TPS yang memiliki tingkat pencemaran yang tinggi.

2. Pemantauan tempat pengolahaan makanan dan minuman (TPM)

Kegiatan ini meliputi pembinaan kesehatan lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat pada pedagang penjual makanan/minuman

3. Pemantauan TTU (Tempat-tempat Umum)

Bentuk kegiatan ini berupa pemantauan sanitasi dasar tempat umum seperti kantor, rumah ibadah dan kafe/rumah makan. Adapun pemeriksaan TTU sebanyak 6 lokasi.

4. Pemantauan rumah tangga sehat

Pemantauan rumah tangga sehat ini sejalan dengan kegiatan Pemantauan PHBS dimana pada kegiatan ini dipantau rumah tangga yang telah melakukan 7 dari 10 perilaku hidup bersih dan sehat. Adapun pencapaian kegiatan tersebut mencapai baru mencapai 83,6%

5. Peningkatan Mutu Penyediaan Air Bersih

(26)

III. Hasil Kegiatan Pratik

A. Hasil Kegiatan Praktik Klinik Sanitasi Di UPT Puskesmas Banjar Serasan Pontianak Timur

N

O HARI/TANGGAL KEGIATAN

1. Senin, 13 Maret

2017 ­

Konseling klinik sanitasi

2. Selasa, 14 Maret

2017 ­

Fogging ­ PSN

3. Rabu, 15 Maret 2017 ­ HACCP Mie ayam jakarta 99 ­ Konseling klinik sanitasi 4. Kamis, 16 Maret

2017 ­ Konseling klinik sanitasi

5. Jum’at, 17 Maret

2017 ­ Konseling klinik sanitasi

6. Sabtu, 18 Maret

2017 ­ Inspeksi dan inspeksi kesehatan lingkungan di rumah pasien

7. Senin, 20 Maret

2017 ­ Inspeksi rumah sehat

8. Selasa, 21 Maret

2017 ­ Konseling klinik sanitasi

9. Rabu, 22 Maret 2017 ­ HACCP Ketring CV Cahaya Hati

10. Kamis, 23 Maret

2017 ­

Konseling klinik sanitasi

11. Jum’at, 24 Maret

2017 ­

Inspeksi rumah sehat

­ PJB ( pemberantasan jentik berkala ) 12. Sabtu, 25 Maret

2017 ­

Inspeksi rumah sehat dan konseling klinik sanitasi

(27)

Tersangka pasien yang menderita penyakit yang berbasis lingkungan dan dirujuk ke klinik sanitasi di Puskesmas Banjar Serasan berjumlah 7 orang dengan rincian :

­ Diare : 4 orang ­ Ispa : 2 orang ­ Kulit : 2 orang C. Kegiatan Luar Gedung

­ Kunjungan pasien klinik sanitasi dilakukan inspeksi sanitasi ­ Melakukan kegiatan PSN ( Pemberantas Sarang Nyamuk )

dengan pengasapan ( fooging ) didaerah yang terjadi kasus DBD

­ Dilakukan obsrvasi rumah sehat

­ Melakukan PJB ( pemberantasan jentik berkala )

IV. Pembahasan

Klinik sanitasi yang yang dilaksanakan sejak tanggal 13 maret 2017 sampai 25 maret 2017 di Puskesmas Banjar Searasan Pontianak Timur didapatkan beberapa penyakit berbasis lingkungan yang di rujuk di klinik sanitasi ialah penyakit diare, kulit dan ispa.

1) Senin, 13 maret 2017 ( Kegiatan dalam gedung )

Satu pasien dilakukan konseling di klinik sanitasi faktor risiko yang ditemukan ialah pasien mencuci bahan makanan sayur dan mencuci peralatan makanan dengan sumber air sungai kapuas

­ Saran atau rekomendasi

Disarankan kepada pasien untuk mencuci bahan makanan seperti sayur dengan membilas bahan makanan dengan air hujan, serta mencuci peralatan makanan dengan air sungai kapuas yang telah di tambahkan kaporit sebagai desinfektan.

(28)

Turun Lapangan Melakukan PSN ( Pemberantasan Sarang Nyamuk ) Dengan Fogging

Di wilayah binaan Puskesmas Banjar Serasan Pontianak Timur pada tanggal 13 maret 2017 terdapat satu kasus penderita DBD keesokan harinya pada tanggal 14 maret 2017 Pihak Puskesmas Banjar Serasan melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan fogging atau pengasapan. Fogging dilakukan di satu RT tempat terjadinya kasus DBD.

Fogging atau pengasapan merupakan salah satu kebijakan yang ditetapkan pemerintah khususnya Kementerian Kesehatan yang bertujuan menekan angka kejadian DBD ( Demam Berdarah Dengue ) di beberapa daerah-daerah di seluruh Indonesia.

Pengasapan atau fogging yang dimaksud bertujuan untuk menyebarkan pestisida ke udara/lingkungan melalui asap, yang diharapkan dapat membunuh nyamuk dewasa (yang infektif), sehingga rantai penularan DBD bisa diputuskan dan populasinya secara keseluruhan akan menurun. Pengasapan dalam rangka pengendalian nyamuk vektor DBD,lazimnya digunakan fog machine atau fog generator dengan spesifikasi dan tertentu.

Terjadinya kasus DBD di wilayah tersebut karena pada program Puskesmas Banjar Serasan dilakukan, dari pihak masyarakat di wilayah tersebut tidak menginginkan rumah mereka dilakukan fogging. Setelah terdapat kasus demam berdarah barulah masyarakat disekitar wilayah tersebut mau dilakukan fogging di rumahnya.

(29)

yang tepat, bahan kimia yang digunakan tidak bersifat akumulasi dan tidak menyebabkan keracunan.

3) Rabu, 15 maret 2017 ( di luar gedung )

­ Melakukan praktek lapangan HACCP di Mie ayam Jakarta 99

­ Dua pasien menderita penyakit kulit dirujuk di klinik sanitasi untuk dilakukan konseling, setelah dilakukan konseling, dugaan sementara penyebab masalah terbesar ialah sumber air bersih yang digunakan, dan pembuangan kotoran yang tidak saniter

Faktor risiko sumber air bersih yang menyebabkan pasien terkena penyakit kulit ialah

­ Air sungai kapuas yang digunakan pasien sebagai sumber air bersih untuk membersihkan diri tanpa ada pengolahan

Faktor risiko pembuanagan kotoran tidak saniter yang menyebabkan pasien terkena penyakit kulit ialah

­ Pasien penderita tidak memiliki tempat penampungan kotoran memenuhi standar kesehatan diantaranya tempat penampungan kotoran yang langsung dibuang di sungai kapuas

Dugaan sementara

Pembuanagan kotoran pasien mengalir disungai, namun pasien juga menggunakan air sungai sebagai sumber air bersih untuk kebersihan diri

Saran

Dari hasil wawancara, faktor risiko pasien yang menderita sakit kulit ialah dari sumber air bersih yang digunakan untuk kebersihan diri, kami menyarankan pasien untuk menambahkan kaporit atau dettol di penampungan air sebagai desinfektan.

4) Kamis, 16 maret 2017 ( didalam gedung )

(30)

tidak bersih dan sehat, padahal dari hasil wawancara kondisi rumah sudah cukup bagus dan layak huni kami tidak melakukan kunjungan lapangan karena pasien tinggal di luar wilayah binaan Puskesmas Banjar Serasan

Faktor risiko perilaku hidup bersih dan sehat yang menyebabkan pasien terkena ispa ialah

­ Pasien tidur bersama anggota keluarga yang menderita ispa

Saran : Dari hasil wawancara ditemukan faktor risiko yang terjadi pada pasien ialah perilaku hidup bersih dan sehat, kami menyarankan kepada pasien untuk sementara tidak tidur bersama penderita ispa.

5) Jumat 17 maret 2017 ( dalam gedung )

Satu pasien penderita ispa yang dirujuk di klinik sanitasi dugaan sementara penyebab masalah terbesar ialah perilaku hidup yang tidak bersih dan sehat, padahal dari hasil wawancara kondisi rumah sudah cukup bagus dan layak huni kami tidak melakukan kunjungan lapangan karena pasien tinggal di luar wilayah binaan Puskesmas Banjar Serasan

­ Faktor risiko perilaku hidup bersih dan sehat yang menyebabkan pasien terkena ispa ialah : Pasien menggunakan obat nyamuk bakar saat tidur

Saran : Dari hasil wawancara ditemukan faktor risiko yang terjadi pada pasien ialah perilaku hidup bersih dan sehat, kami menyarankan kepada pasien untuk tidak menggunakan obat nyamuk bakar saat tidur, atau mengganti obat nyamuk bakar dengan kelambu atau obat nyamuk elektrik.

6) Sabtu, 18 maret 2017 ( diluar gedung )

(31)

­ Hasil kunjungan lapangan

Berdasarkan hasil kunjungan lapangan dari satu pasien diare yang pada tanggal 13 maret 2017 dirujuk ke klik sanitasi, bahwa pasien menggunakan sumber air untuk mencuci bahan makanan dan peralatan makanan dengan air sungai, serta memiliki tempat pembuangan kotoran yang disalurkan ke kolam yang terdiri dari gorong – gorong. Pasien juga memiliki balita berumur 3 tahun yang masih menggunakan pempes, namun kotoran balita tersebut buang di TPS. kunjungan lapangan ini dilakukan bersamaan dengan observasi rumah sehat setelah dilakukan observasi, bahwa tetangga pasien penderita diare yang tinggal disekitar sungai memiliki jamban tempat pembuangan kotoran tinja langsung kesungai serta ada beberapa keluarga yang memiliki bayi yang membuang kotoran tinja bayi kesungai. ­ Dugaan sementara berdasarkan hasil wawancara dan inspeksi

lingkungan

Berdasarkan hasil wawancara dan inspeksi lingkungan pada penderita diare karna kurangnya standar kesehatan jamban dan sumber air bersih yang digunakan penderita. diantaranya tempat pembuangan kotoran penderita yang disalurkan ke kolam yang terdiri dari gorong – gorong dan tetangga pasien penderita diare yang tinggal disekitar sungai memiliki jamban tempat pembuangan kotoran tinja langsung kesungai serta ada beberapa keluarga yang memiliki bayi yang membuang kotoran tinja bayi kesungai jadi sungai tersebut sebagai wadah pembuangan kotoran namun sungai tersebut juga sebagai sumber air bersih. ­ Saran

(32)

kapuas yang telah ditampung sebagia desinfektan. Serta melakukan bilasan air hujan saat mencuci bahan makanan. Dan pasien telah melaksanakan saran yang telah kami berikan.

7) Senin, 20 maret 2017 ( diluar gedung ) Turun lapangan rumah sehat

Rumah merupakan tempat hunian yang paling penting dari kehidupan setiap orang. Rumah juga bukan hanya untuk tempat istirahat tapi juga tempat untuk membangun kehidupan yang sehat.

Kondisi lingkungan rumah sehat diwilayah binaan Puskesmas Banjar Serasan khususnya wilayah disekitar sungai kapuas banyak masyarakat yang menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan kotoran (tinja) serta tempat pembuangan sampah, selain itu masyarakat juga menggunakan air sungai sebagai sumber air bersih tanpa ada pengolahan.

Rumah yang sehat bukan rumah yang mewah tetapi rumah yang sederhana layak huni dan memiliki lingkungan yang sehat serta nyaman. Untuk menciptakan rumah sehat maka diperlukan perhatian terhadap beberapa aspek yang sangat berpengaruh, antara lain: sirkulasi udara yang baik., penerangan yang cukup, air bersih terpenuhi, dan pembuangan air limbah diatur dengan baik agar tidak menimbulkan pencemaran.

Rumah tidak cukup hanya sebagai tempat tinggal dan berlindung dari panas cuaca dan hujan, rumah harus mempunyai fungsi sebagai mencegah terjadinya penyakit, mencegah terjadinya kecelakaan, aman serta nyaman bagi penghuninya.

8) Selasa, 21 maret 2017 ( didalam gedung )

(33)

­ Saran : disarankan kepada ibu pasien untuk mencuci botol susu anaknya dengan air ledeng dan direndam dengan air panas

9) Rabu, 22 maret 2017 (diluar gedung )

­ Melakukan praktek lapangan HACCP inspeksi jasaboga di ketring CV. Cahaya Hati

10) Kamis, 23 maret 2017 (didalam gedung )

Satu pasien dilakukan konseling di klinik sanitasi penderita diare, pasien berprofesi sebagai pekerja swasta ( tukang ) faktor risiko yang ditemukan ialah pasien dirumahnya menggunakan air ledeng, dan selalu mencuci tangan pakai sabun, namun pada saat makan siang ditempat pasien bekerja, pasien mencuci tangan dengan air parit dan tanpa menggunakan sabun.

Saran : disarankan kepada pasien untuk membilas cucian tangannya dengan air galon dan disarankan menggunakan sabun

11) Jumat, 24 maret 2017 (diluar gedung )

Pelaksanaan kegiatan pemeriksaan jektik berkala (PJB) yang merupakan bagian dari survailans penanggulangan dan pencegahan penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Puskesmas Banjar Serasan.

(34)

12) Sabtu, 25 maret 2017 ( didalam gedung )

Satu pasien dilakukan konseling di klinik sanitasi dari hasil konseling bahwa dugaan sementara faktor risiko yang ditemukan ialah pasien pasien mencuci peralatan makanan dengan air sungai kapuas pasien jarang mencuci tangan pada saat makan, dan pasien mencuci botol susu dengan air sungai

(35)

BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN

Prosedur kerja klinik sanitasi pada Puskesmas Banjar Serasan Pontianak Timur secara umum meliputi standar. prosedur operasional di dalam gedung (puskesmas) dan di luar gedung (lapangan).

 Penanganann klinik sanitasi di dalam gedung puskesmas dilakukan secara integratif dan komprehensif.

 Penanganan klinik sanitasi di luar gedung puskesmas adalah kunjungan rumah atau lokasi.

 Pada pelaksanaan kegiatan klinik sanitasi di Puskesmas Banjar Serasan Pontianak Timur yang merupakan hambatan yaitu kurangnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya pelayanan klinik sanitasi.

B. SARAN

a. Bagi orang tua dan anggota keluarga pasien :

 Menggunakan sumber air bersih yang terlindung atau melakukan pengolahan sederhana pada sumber air bersih yang digunakan dengan penambahan desinfektan

 Tidak membuang sampah disungai atau membuang tinja bayi atau balita disungai

 Tidak menggunakan obat nyamuk bakar

 Tidak tidur bersama penderita penyakit ispa

(36)

 Meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat khususnya dalam kegiatan Klinik Sanitasi baik pelayanan dalam gedung maupun luar gedung.

 Mengadakan penyuluhan kesehatan langsung kepada masyarakat tentang penyakit berbasis lingkungan, agar masyarakat mampu mandiri menjaga kesehatannya baik untuk diri sendiri, keluarga maupun lingkungan sekitarnya.

DAFTAR PUSTAKA

­ Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto, 2009, Buku Panduan Praktik Klinik Sanitasi Mahasiswa Semester V Di Puskesmas ­ Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 13 Tahun 2015

Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Lingkungan Di Puskesmas

Gambar

Tabel II.1

Referensi

Dokumen terkait

adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang melakukan upaya pelayanan kesehatan perorangan tingkat pertama, baik promotif, preventif, kuratif, maupun rehablitatif, yang

adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang melakukan upaya pelayanan kesehatan perorangan tingkat pertama, baik promotif, preventif, kuratif, maupun rehablitatif, yang

Peningkatan Promosi Kesehatan Program Pembinaan Lingkungan Sosial Bidang Kesehatan Pelayanan Kesehatan Baik Kegiatan Promotif/Preventif Maupun Kuratif/Rehabilitatif Pada Dinas

Pelayanan kesehatan reproduksi jelas merupakan salah satu upaya pemerintah menyelenggarakan pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif untuk

• BPJS menyelenggarakan Sistem Pelayanan dan Pembiyaan Kesehatan, untuk Upaya Kesehatan Perorangan (bagi individu yang sakit), baik yang bersifat promotif, preventif, kuratif

adalah suatu alat dan/atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan

Analisis pelayanan kesehatan • Pelayanan atau upaya kesehatan meliputi upaya promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif • Analisis ini menghasilkan data Atau informasi tentang

Perjanjian kerjasama pelayanan kesehatan antara Puskesmas dan SDN untuk siswa kelas I-VI, mencakup pelayanan preventif, promotif, dan kuratif di Kecamatan Kabupaten tahun