BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada era globalisasi saat ini, pendidikan merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam pembentukan dan pengembangan kualitas sumber daya manusia dalam menghadapi kemajuan zaman. Peran pendidikan menjadi semakin berat, yaitu bagaimana mempersiapkan manusia-manusia yang mampu mengendalikan dan memanfaatkan perubahan-perubahan sebagai pengaruh dari globalisasi. Mario D. Fantini (Herry, 2011: 6.7) mengemukakan bahwa berbagai implikasi dari globalisasi terhadap dunia pendidikan meliputi aspek kurikulum, manajemen pendidikan, tenaga kependidikan, strategi dan metode pendidikan. Dalam kaitannya ini, pendidikan dituntut harus mampu menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai kepribadian dan budaya bangsa. Pendidikan matematika salah satunya yang memiliki peranan dalam mengembangkan kreativitas dan inovasi serta kemampuan untuk berargumentasi atau mengemukakan ide-ide. Pendidikan matematika merupakan sarana berpikir dalam menentukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan, matematika merupakan metode berpikir logis sistematis dan konsisten. Oleh karena itu semua masalah kehidupan yang membutuhkan pemecahan secara cermat dan teliti selalu harus berpondasi pada matematika.
untuk mengembangkan pola pikirnya, dan untuk mempelajari ilmu-ilmu yang kemudian. Tujuan akhir dari pembelajaran matematika di sekolah dasar yaitu agar siswa terampil dalam menggunakan berbagai konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu tujuan pembelajaran matematika (KTSP, 2006) yaitu agar peserta didik memiliki kemampuan untuk memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat dan efisien. Sedangkan menurut National Council of Teachers of
Matematics (NCTM) dalam Setiawan (2011) merumuskan secara umum bahwa
pembelajaran matematika menggariskan peserta didik harus mempelajari matematika melalui pemahaman dan aktif membangun pengetahuan baru dari pengalaman dan pengetahuan sebelumnya.
suatu pembagian 2) siswa masih belum bisa menginterpretasikan sebuah konsep terlihat dari kesulitan menyelesaikan soal dalam bentuk soal cerita 3) siswa masih belum bisa mengubah satuan panjang, misalnya dari cm ke km 4) siswa belum bisa menyelesaikan suatu permasalahan matematika karena kesulitan dalam merepresentasikan permasalahan tersebut ke dalam bahasa matematis, 5) penggunaan model pembelajaran yang cenderung membosankan dan konvensional (hanya mentransfer pengetahuan), 6) siswa cenderung pasif dan bertindak sebagai penerima pengetahuan.
Selama ini terdapat pemahaman yang keliru tentang matematika sekolah. Hasil penelitian Yuwono dan Steinmark & Bush (Yuwono, 2012: 2) menyebutkan bahwa hampir semua siswa dan sebagian besar guru menganggap bahwa: (a) matematika adalah perhitungan saja, (b) soal matematika harus diselesaikan dengan menggunakan rumus dan dalam waktu yang sesingkat singkatnya, (c) tujuan mengerjakan soal adalah mendapatkan jawaban benar, (d) peran siswa dalam belajar matematika adalah menerima penjelasan guru, kemudian menjelaskan dan (e) semua soal dapat diselesaikan dengan rumus, algoritma, yang ada di buku teks atau telah dijelaskan guru. Padahal, matematika bukanlah tentang rumus, algoritma atau perhitungan saja melainkan tentang bagaimana memahami suatu konsep, merepresentasikan konsep serta bagaimana cara mengaplikasikan konsep tersebut.
“Everyone knows that it is easy to do a puzzle if someone has told you the answer. That is simply a test of memory. You can claim to be a mathematician only if you can solve puzzles that you have never studied before.That is the test of reasoning”. Pernyataan Sawyer ini telah menunjukkan bahwa pengetahuan yang diberikan atau ditransformasikan langsung kepada peserta didik akan kurang meningkatkan kemampuan bernalar (reasoning) mereka. Sawyer menyebutnya hanya meningkatkan kemampuan untuk mengingat saja.
Berdasarkan uraian diatas, kegiatan pembelajaran seharusnya memungkinkan siswa untuk membangun sendiri pengetahuannya bukan memindahkan pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik. Seorang guru harus berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar siswa berjalan dengan baik dan menuntut pendidik untuk menyediakan pengalaman-pengalaman belajar yang memungkinkan siswa bertanggungjawab dalam memperoleh hasil belajarnya.
Saat ini terdapat berbagai model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika. Salah satu diantaranya adalah model pembelajaran
Missouri Mathematics Project (MMP). Penelitian Good dan Grouws (1979),
Good, Grouws, Ebmeier (1983), dan lebih lanjut Confrey (1986) (Setiawan, 2008:37), memperoleh temuan bahwa pendidik yang merencanakan dan mengimplementasikan lima langkah pembelajaran matematikanya, akan lebih sukses dibandingkan pendidik yang menerapkan model pembelajaran tradisional. Kelima langkah inilah yang biasa kita kenal sebagai Missouri Mathematics
Project (MMP). Menurut Setiawan (dalam Qonix, 2011),
Missouri Mathematics Project (MMP) merupakan “salah satu model
pembelajaran yang terstruktur dengan pengembangan ide dan perluasan
konsep matematika”. Missouri Mathematics Project (MMP) biasanya
diterapkan bersama-sama dengan pembelajaran kooperatif.
Model pembelajaran Missouri Mathematics Project adalah adanya penguasaan dan perolehan materi baru oleh siswa sehingga dapat meningkatkan pemahaman matematis, serta kemampuan pemecahan masalah matematika pada siswa terkait dengan materi pembelajaran yang sedang dipelajari.
Karakteristik dari model pembelajaran Missouri Mathematics Project
(MMP) itu sendiri yaitu adanya tugas proyek yang menekankan kepada siswa agar
siswa secara aktif dapat lebih mudah mengkonstruksi pengetahuannya. Sehingga tugas proyek ini merupakan suatu tugas yang meminta siswa untuk menghasilkan sesuatu (konsep baru) dari dirinya (siswa) sendiri. Kemampuan kognitif siswa diasah melalui diskusi bersama, kerja kelompok bersama teman-teman sebaya dan guru, mengerjakan soal-soal secara mandiri dan diperkuat dengan penugasan mengenai materi yang dipelajari. Dengan demikian, siswa dapat dengan mudah memahami materi yang dipelajari dengan mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dan mengaplikasikan pengetahuan yang ia miliki, sehingga kemampuan kognitif siswa dapat meningkat.
Berdasarkan uraian diatas, pembelajaran matematika yang berlangsung di sekolah dirasa masih kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkomunikasikan gagasan matematika yang dimilikinya dan mengkonstruksi pengetahuan yang ia miliki. Upaya yang dapat dilakukan yaitu menerapkan suatu pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam mengkonstruksi pengetahuan-pengetahuan yang sebelumnya dengan pengetahuan yang baru, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa. Dan berdasarkan uraian diatas pula peneliti tertarik mengadakan penelitian dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Missouri Mathematics
Project (MMP) untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif Siswa pada Materi
Perbandingan dan Skala (Penelitian Tindakan Kelas terhadap Siswa Kelas V SDN 2 Suntenjaya Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat Semester 2 Tahun Ajaran 2013 - 2014)”.
Secara umum, permasalahan yang akan diteliti melalui penelitian tindakan kelas ini dapat dirumuskan sebagai berikut : “Bagaimanakah penerapan model pembelajaran Missouri Mathematic Project (MMP) untuk meningkatkan kemampuan kognitif siswa pada materi perbandingan dan skala pada mata pelajaran matematika di kelas V SDN 2 Suntenjaya Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat?”.
Permasalahan diatas secara rinci dijabarkan ke dalam pertanyaan sebagai berikut :
1. Bagaimanakah perkembangan pelaksanaan pembelajaran matematika tentang materi perbandingan dan skala melalui penerapan model pembelajaran
Missouri Mathematics Project (MMP) pada siswa kelas V SDN 2 Suntenjaya?
2. Bagaimanakah peningkatan kemampuan kognitif siswa pada materi perbandingan dan skala melalui penerapan model pembelajaran Missouri
Mathematics Project (MMP) pada siswa kelas V SDN 2 Suntenjaya?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian umum ini untuk mendeskripsikan “Penerapan model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) untuk meningkatkan kemampuan kognitif siswa pada materi perbandingan dan skala pada mata pelajaran matematika di kelas V SDN 2 Suntenjaya”. Sedangkan tujuan khusus penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mendeskripsikan perkembangan pelaksanaan pembelajaran matematika tentang materi perbandingan dan skala melalui penerapan model pembelajaran
Missouri Mathematics Project (MMP).
2. Mendeskripsikan peningkatan kemampuan kognitif siswa tentang perbandingan dan skala melalui penerapan model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP).
D. Manfaat Penelitian
(MMP) khususnya untuk meningkatkan kemampuan kognitif siswa mengenai materi pokok perbandingan dan skala, sehingga dapat dijadikan sebagai upaya untuk mengembangkan proses pembelajaran matematika agar lebih baik lagi, serta dapat dijadikan sebagai dasar bagi peneliti yang lain.
Adapun manfaat praktis dari penelitian ini adalah : 1. Bagi siswa
Dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa agar siswa menjadi lebih aktif, percaya diri dan termotivasi untuk belajar matematika sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa khususnya pada materi perbandingan dan skala.
2. Bagi guru
Memberikan informasi untuk mengembangkan pembelajaran aktif melalui model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP), dan memberikan informasi bahwa dengan adanya pembelajaran yang baik maka dapat mewujudkan siswa yang aktif, cerdas, dan memiliki prestasi yang baik juga.
3. Bagi sekolah
Hasil penelitian tindakan kelas ini dapat memberikan masukan kepada pihak sekolah dalam usaha perbaikan proses pembelajaran terutama pada pembelajaran matematika.
4. Peneliti yang lain
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi dan gambaran untuk menerapkan model pembelajaran Missouri Mathematics Project(MMP) pada siswa sekolah dasar dalam mata pelajaran matematika.
E. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan, “Apabila materi perbandingan dan skala pada mata pelajaran matematika dilaksanakan dengan menerapkan model pembelajaran Missouri Matematics
F. Definisi Operasional
1. Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP)
Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) merupakan suatu program yang didesain untuk membantu guru dalam hal efektivitas penggunaan latihan-latihan agar siswa mencapai peningkatan yang luar biasa, (Rohaeti) dalam Kurniawati (2013: 10). Pada setiap tahap kegiatan yang dilakukan memberikan peluang bagi siswa untuk melatih kemampuannya. Adapun langkah – langkah model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) yaitu :
a. Langkah I: Review (Pengulasan Kembali), guru dan siswa meninjau ulang pelajaran yang lalu mengenai materi prasyarat yang harus dikuasi oleh siswa, yaitu pecahan senilai dan menyederhanakan pecahan untuk materi perbandingan, dan meninjau ulang mengenai perbandingan untuk materi skala. b. Langkah II: Development (Pengembangan), guru menyajikan ide baru dan perluasan konsep serta pemberian contoh kongkret mengenai materi perbandingan dan skala.
c. Langkah III: Cooperative Working (Kerja Kooperatif), siswa diminta untuk menyelesaikan tugas proyek serta merespon satu rangkaian soal mengenai perbandingan dan skala dengan pengawasan guru agar siswa terhindar dari miskonsepsi.
d. Langkah IV: Seat Work (Kerja Mandiri), siswa ditugaskan untuk mengerjakan soal- soal mengenai perbandingan dan skala secara mandiri.
e. Langkah V : Assigment ( Penugasan) yaitu memberikan penugasan atau PR kepada siswa mengenai materi yang telah dipelajari.
2. Kemampuan Kognitif