KAJIAN EKONOMI REGIONAL
Provinsi Sulawesi Utara
Triwulan II – 2009
Kantor Bank Indonesia Manado
1
Kata Pengantar
Sesuai Pasal 7 UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, dijelaskan bahwa tujuan
Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Guna mencapai
tujuan tersebut, Bank Indonesia mempunyai 3 (tiga) tugas yaitu menetapkan dan
melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran
serta mengatur dan mengawasi bank. Sejalan dengan itu dan diperkuat oleh momentum
otonomi daerah, setiap Kantor Bank Indonesia (KBI) yang berada di daerah, termasuk KBI
Manado dituntut berperan sebagai ”economic intelligent and research unit” yang diharapkan mampu memberikan informasi ekonomi dan keuangan daerah yang akurat,
menyeluruh, dan terkini sebagai bahan masukan Kantor Pusat Bank Indonesia dalam
perumusan dan penetapan kebijakan moneter yang tepat sasaran. Penyajian informasi
ekonomi dan keuangan daerah tersebut, disusun dalam bentuk Kajian Ekonomi Regional
(KER) Provinsi Sulawesi Utara secara triwulanan, yang berisi analisis mengenai kondisi makro
ekonomi regional, tingkat harga, perbankan, sistem pembayaran, keuangan daerah, tingkat
kesejahteraan dan kemiskinan serta prospeknya ekonomi di triwulan mendatang.
Di samping itu, dalam rangka meningkatkan akuntabilitas Bank Indonesia melalui
penyampaian informasi mengenai kondisi perekonomian dan keuangan kepada stakeholder maka KBI perlu menyampaikan informasi dimaksud kepada stakeholder di daerah seperti pemerintah daerah, lembaga pendidikan, institusi keuangan, dan lembaga lainnya di
daerah. Kami senantiasa mengharapkan masukan dan saran untuk meningkatkan kualitas
dan manfaat laporan di masa yang akan datang. Akhir kata, kiranya laporan ini dapat
memberikan manfaat bagi yang berkepentingan dan kepada pihak-pihak yang telah
membantu dalam penyusunan laporan ini kami ucapkan terima kasih.
Manado, 30 Juni 2009
BANK INDONESIA MANADO
UJeffrey KairupanU
2
Daftar Isi
RINGKASAN EKSEKUTITF halaman 4
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL halaman 12
Sisi Permintaan halaman 13
Sisi Penawaran halaman 20
Analisis LQ (Location Quatient) halaman 31
BOX 1. Pola Pembiayaan Usaha Tani Padi Hibrida Jenis Bernas Halaman 31
PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH halaman 34
Inflasi Tahunan (Y.o.Y) halaman 34
Inflasi Bulanan (M.t.M) halaman 36
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH halaman 40
Fungsi Intermediasi halaman 41
Risiko Kredit halaman 52
Perkembangan Bank Perkreditan Rakyat halaman 56
PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH halaman 59
Dana Perimbangan halaman 59
Keuangan Daerah di Tingkat Provinsi halaman 61
PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN halaman 65
Perkembangan Aliran Uang Kartal halaman 65
Penemuan Uang Palsu halaman 69
Perkembangan Kliring Lokal (Tunai) halaman 70
RTGS (Real Time Gross Settlement) halaman 70
PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN
KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
halaman 72
Pengangguran halaman 72
Kemiskinan halaman 76
Rasio Gini halaman 79
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) halaman 80
PERKIRAAN PERTUMBUHAN EKONOMI DAN INFLASI halaman 82
Prospek Pertumbuhan Ekonomi halaman 82
Prakiraan Inflasi halaman 86
3
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi :
Kantor Bank Indonesia Manado Jl. 17 Agustus No. 56
Ph. 0431-868102, 868103, 868108 Fax. 0431-866933
4
RINGKASAN EKSEKUTIF
Perkembangan Makro Ekonomi Regional
Kecenderungan perekonomian global yang membaik telah
memberikan dampak positif terhadap kinerja ekonomi Indonesia.
Dampak penguatan permintaan negara mitra dagang, terutama
China dan India, mendorong peningkatan kinerja ekspor Indonesia
terhadap beberapa komoditas ekspor seperti CPO, batubara, dan
tembaga. Meski terus membaik, belum pulihnya perekonomian
global menyebabkan kinerja ekspor yang masih mengalami
kontraksi. Dari sisi permintaan domestik, perlambatan konsumsi
swasta dapat tertahan oleh pengeluaran terkait penyelenggaraan
pemilihan presiden (pilpres), serta adanya realisasi pembayaran gaji
ke-13 bagi pegawai negeri sipil. Dalam kondisi permintaan yang
masih lemah dan tingkat utilisasi kapasitas yang masih rendah,
kegiatan investasi masih terbatas. Mencermati perkembangan
tersebut, pertumbuhan ekonomi selama Triwulan II Tahun 2009
diprakirakan berada pada kisaran 3,7% - 4,0%. Kecenderungan perekonomian
global yang membaik telah memberikan dampak positif terhadap kinerja ekonomi Indonesia...
Secara regional, dampak krisis global pada perekonomian Sulawesi
Utara hingga Triwulan II Tahun 2009 relatif minimal. Hal ini
terindikasi dari beberapa promp indikator dan hasil survey yang
dilaksanakan oleh Kantor Bank Indonesia Manado. Adapun
kegiatan ekonomi yang terkena dampak significant dari krisis ekonomi global adalah kegiatan ekspor. Namun demikian,
optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi tidak akan turun terlalu
dalam masih tetap ada seiring dengan digelarnya even bertaraf
internasional di Kota Manado selama triwulan laporan yaitu World Ocean Conference (WOC) dan CTI – Summit pada Mei 2009, yang diharapkan mampu mendorong kegiatan konsumsi. Mengacu
berbagai kondisi tersebut maka perkirakan minimal laju
pertumbuhan ekonomi Sulut pada Triwulan II Tahun 2009 adalah
7,4% (y.o.y). Secara regional, dampak krisis
5
Dari sisi permintaan, perekonomian Sulut selama Triwulan II Tahun
2009 diperkirakan akan lebih dominan didorong oleh kegiatan
konsumsi dan investasi. Sedangkan kegiatan ekspor diperkirakan
masih akan mengalami trend perlambatan sebagaimana dialami
pada triwulan sebelumnya. Beberapa faktor pendorong
meningkatnya kegiatan konsumsi adalah : (1) Penyelenggaraan
Pemilu Legislatif pada April 2009, (2) Realisasi Gaji ke-13 bagi para
PNS/TNI/Polri, (3) Penyelenggaraan even berskala Internasional
World Ocean Conference (WOC) dan Coral Triangle Initiative (CTI)
Summit, dan (4) Berlangsungnya musim liburan sekolah.
Sementara itu, meningkatnya kegiatan investasi didorong pula oleh
percepatan pembangunan sarana dan prasarana pendukung WOC
antara lain penyelesaian pelebaran jalan menuju Bandara Sam
Ratulangi, pembangunan Grand Kawanua City, dll serta
meningkatnya persentase realisasi belanja modal hingga Triwulan II
Tahun 2009 sebesar 26% dengan nominal Rp63 milliar atau lebih
tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang baru 13%. Dari sisi permintaan, lokomotif
pertumbuhan selama triwulan I 2009 masih akan didorong oleh kegiatan konsumsi dan investasi...
Dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi pada Triwulan II Tahun
2009 diperkirakan disumbangkan oleh seluruh sektor yang ada
dengan kontributor utama adalah sektor PHR, bangunan dan
pertanian. Dampak krisis ekonomi global yang dirasakan khususnya
pada sektor perdagangan luar negeri dan sektor pertanian (sub
sektor perkebunan dan perikanan). Namun perlambatan ekonomi
ini masih dapat tertolong oleh meningkatnya aktivitas
pembangunan infrastruktur dan sarana/prasarana lainnya dalam
rangka mempersiapkan penyelenggaraan WOC dan CTI Summit
yang berdampak ekonomis pada meningkatnya kegiatan
perdagangan dan kunjungan wisatawan. Dari sisi penawaran, pertumbuhan
ekonomi disumbangkan oleh seluruh sektor yang ada dengan kontributor utama adalah sektor PHR, bangunan dan pertanian...
Perkembangan Inflasi Daerah
Secara umum, tekanan harga barang dan jasa di Kota Manado
selama Triwulan II Tahun 2009 memperlihatkan adanya penurunan
dibandingkan periode-periode sebelumnya. Pada Juni 2009, inflasi Secara umum tekanan harga
6
kota Manado tercatat 2,25% (y.o.y), lebih rendah dibandingkan
dengan akhir triwulan lalu yang tercatat sebesar 8,85% (y.o.y) dan
periode yang sama tahun lalu sebesar 13,18% (y.o.y). Demikian
pula jika dibandingkan dengan laju inflasi nasional yang sebesar
3,65% (y.o.y) maka laju inflasi Kota Manado masih lebih rendah.
Berdasarkan penyebabnya, laju inflasi dapat disumbangkan oleh
faktor non fundamental yaitu tekanan inflasi volatile food dan administered prices, serta faktor fundamental berupa inflasi inti yang terdiri dari ekspektasi inflasi, tekanan sisi permintaan, dan
output gap. Trend penurunan inflasi ini tidak terlepas dari keadaan perekonomian dunia yang cenderung melambat sebagai dampak
dari krisis ekonomi global. Faktor paling utama adalah dampak
turunnya harga minyak dan komoditas pertanian dunia. Selain itu
tekanan inflasi yang terus menurun juga disebabkan oleh hilangnya
dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dari angka
inflasi tahunan (harga BBM dinaikkan pada minggu terakhir bulan
Mei 2008). Peningkatan harga minyak dunia sampai pada level
diatas $70/barrel di bulan Juni 2009 belum dirasakan pengaruhnya terhadap inflasi nasional, hal ini dikarenakan pemerintah sampai
saat ini masih belum merespon kenaikan tersebut yang ditunjukkan
oleh tidak berubahnya harga BBM dalam negeri.
Perkembangan Perbankan Daerah
Beberapa indikator kinerja perbankan di Sulut pada Triwulan II
Tahun 2009 masih menunjukkan trend perlambatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini tercermin dari
perlambatan pertumbuhan dari total dana pihak ketiga (DPK) dan
kredit yang disalurkan oleh bank. Walaupun angka nominal kredit
dan DPK menunjukkan adanya peningkatan (y.o.y), namun jika
dilihat dari persentase pertumbuhannya cenderung mengalami
penurunan. Total aset masih mengalami pertumbuhan yang lebih
besar bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Fungsi intermediasi perbankan dinilai masih berjalan cukup baik
bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya
walaupun dengan peningkatan yang tidak terlalu signifikan, Beberapa indikator kinerja
7
namun jika dibandingkan dengan periode sebelumnya Loan To Deposit Ratio (LDR) perbankan menunjukkan adanya penurunan. Masih meningkatnya LDR ini disebabkan oleh pertumbuhan jumlah
kredit yang sedikit lebih signifikan dibandingkan pertumbuhan
dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun oleh perbankan.
Peningkatan tipis pada LDR juga diikuti oleh penurunan pada Non Performing Loan (NPL) perbankan.
Perkembangan Keuangan Daerah (APBD)
Alokasi dana dari pemerintah pusat ke Sulawesi Utara di Tahun
2009 diperkirakan mencapai Rp9,22 Triliun atau naik 17,12%
dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan komponen
penyusunnya, kenaikan dana alokasi pemerintah pusat terutama
berasal dari Dana Perimbangan (DAU/DAK) yang naik 23%
mencapai jumlah Rp5,34 Triliun. Berikutya adalah Dana Sektoral
yang naik 8,38% mencapai Rp3.09 Triliun dan Dana
Dekonsentrasi/Tugas Perbantuan yang naik 13,79% mencapai
Rp788 milliar. Alokasi dana dari pemerintah
pusat ke Sulawesi Utara di Tahun 2009 diperkirakan mencapai Rp9,22 Triliun atau naik 17,12% dibandingkan tahun
sebelumnya...
Pada tingkat provinsi, Kinerja keuangan pemerintah hingga
Triwulan II Tahun 2009 relatif lebih rendah dibandingkan periode
yang sama tahun sebelumnya. Sampai dengan Juni 2009, total
pengeluaran pemerintah mencapai Rp399 milliar atau baru
mencapai 35,6% dari target pengeluaran dalam APBD-P sebesar
Rp1.120 milliar. Sementara itu, total penerimaan pemerintah baru
mencapai Rp477 milliar atau baru 46,4% dari target penerimaan
dalam APBD-P sebesar Rp1.029 milliar. Jumlah penerimaan yang
lebih besar dibandingkan realisasi menyebabkan keuangan
pemerintah hingga Triwulan II Tahun 2009 mengalami surplus
sebesar Rp78 milliar.
Perkembangan Sistem Pembayaran
Aliran uang kartal di khasanah Kantor Bank Indonesia Manado
pada Triwulan II Tahun 2009 berada pada kondisi net outflow, yang berarti aliran uang keluar dari khasanah lebih tinggi Aliran uang kartal di khasanah
8
dibandingkan aliran uang masuk. Hal ini merupakan salah satu
indikasi bahwa perekonomian Sulut kembali bergairah di
tengah-tengah ketidakpastian pemulihan kondisi perekonomian pasca
krisis ekonomi global. Selain itu, kondisi net outflow yang terjadi pada triwulan laporan merupakan pola musiman setelah pada
triwulan sebelumnya mengalami net inflow berkenaan dengan kembali masuknya aliran uang kartal ke dalam sistem perbankan
setelah di akhir tahun 2008 lalu aktivitas ekonomi cenderung
meningkat saat perayaan hari besar keagamaan (lebaran dan natal)
serta perayaan Tahun Baru 2009.
Penemuan uang palsu di wilayah kerja Kantor Bank Indonesia
Manado menunjukkan adanya penurunan yang signifikan
dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Di triwulan II
Tahun 2008 lalu, jumlah total uang palsu yang ditemukan
mencapai 1.035 lembar, hal ini disebabkan karena pada triwulan
tersebut telah terungkap jaringan dan pengedar uang palsu oleh
pihak yang berwajib. Total uang palsu yang ditemukan dan
dilaporkan ke Bank Indonesia Manado pada Triwulan II Tahun
2009 sebanyak 18 lembar. Penemuan uang palsu di wilayah
kerja KBI Manado menunjukan penurunan...
Perkembangan kliring lokal (tunai) pada Triwulan II Tahun 2009
menunjukkan peningkatan mencapai 90,363 lembar dengan nilai
Rp1,891 triliun atau naik sebesar 6,22% (y.o.y). Sama halnya jika
dibandingkan dengan periode sebelumnya, terlihat adanya
peningkatan jumlah warkat maupun nominal transaksi. Jika dilihat
berdasarkan rata-rata harian lembar warkat yang dikliringkan
selama periode laporan tercatat sebanyak 1,457 lembar dengan
nilai sebesar Rp30,45 miliar. Angka inipun meningkat 7,86%
(y.o.y). Peningkatan rata-rata jumlah nominal kliring tersebut
semakin menegaskan bahwa perekonomian Sulawesi Utara
mengalami pertumbuhan yang positif. Perkembangan kliring lokal (tunai)
9
Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan
Masyarakat
Secara umum perkembangan ketenagakerjaan di Sulawesi Utara pada Februari 2009 mengalami perbaikan...
Secara umum perkembangan ketenagakerjaan di Sulawesi Utara
pada Februari 2009 mengalami perbaikan dibandingkan periode
Agustus 2008 tercermin dari rasio TPT (Tingkat Pengangguran
Terbuka) sebesar 10,63% atau turun tipis (0,02%) dibandingkan
dengan periode Agustus 2008 sebesar 10,65%. Demikian halnya
bila dibandingkan terhadap keadaan Februari 2008 yang juga
mengalami penurunan sebesar 1,72%. Sementara itu, jumlah dan
persentase penduduk miskin pada periode Februari 2004 – Maret
2009 di Provinsi Sulawesi Utara cenderung berfluktuasi dari tahun
ke tahun. Terjadi peningkatan dari periode Februari 2004 – Maret
2007 dan terjadi penurunan dari periode Maret 2007 – Maret
2009.
Outlook Pertumbuhan Ekonomi
Prospek perekonomian Sulawesi Utara pada triwulan III 2009
diperkirakan masih akan tumbuh baik walaupun kinerja ekspor
diperkirakan masih mengalami perlambatan bahwa kontraksi
sebagai dampak krisis ekonomi global. Even berskala Internasional
yaitu Sail Bunaken pada Agustus 2009 diharapkan mampu
mengkonversi potensi perlambatan ekonomi akibat menurunya
kinerja ekspor. Sail Bunaken 2009 merupakan even atas kerjasama
antara Departemen Kelautan & Perikanan dan TNI AL. Event yang
memadukan beberapa rangkaian kegiatan bahari ini akan
dilaksanakan di Kota Manado dan Kota Bitung pada tanggal 12 -
19 Agustus 2009. Agenda utama kegiatan ini adalah International
Fleet Review 2009 (IFR’09) yang menghadirkan kapal-kapal perang
dan kapal-kapal layar tinggi dari masing-masing Angkatan Laut
sebanyak 30 negara sahabat dan disaksikan langsung oleh
Presiden RI, sekaligus sebagai rangkaian HUT RI ke 64. Prospek perekonomian Sulawesi
Utara pada Triwulan II Tahun 2009 diperkirakan masih akan tumbuh baik...
Perekonomian Sulut pada triwulan mendatang diperkirakan akan
tumbuh sebesar 6,32% (y.o.y). Menurut jenis penggunaan,
kegiatan investasi dan konsumsi diperkirakan menjadi lokomotif Perekonomian Sulut pada triwulan
10
pertumbuhan ekonomi pada triwulan mendatang. Sementara
ekspor diperkirakan masih tumbuh lambat walaupun tanda-tanda
pulihnya permintaan dunia khususnya dari negara berkembang
sudah mulai terlihat. Sementara itu secara sektoral, perekonomian
diperkirakan masih bertumpu pada sektor ekonomi andalan selama
ini yaitu PHR (Perdagangan, Hotel dan Restoran) Bangunan, dan
11
Outlook Inflasi Regional
Tekanan inflasi pada triwulan mendatang diperkirakan akan
mengalami peningkatan. Dari sisi penawaran, trend kenaikan
harga minyak dunia yang diikuti oleh kenaikan harga komoditas
diperkirakan akan mendorong tekanan harga. Secara regional,
musim pancaroba yang cenderung berangin pada triwulan
mendatang diperkirakan akan menyebabkan gangguan pasokan
pada beberapa komoditas diantaranya adalah ikan dan cabe. Selain
itu, komodti dengan tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap
transportasi laut diperkirakan juga akan mengalami kenaikan
akibat ganggungan distribusi. Dari sisi permintaan, berlangsungnya
masa puasa dan perayaan hari raya idul fitri (lebaran) selama
triwulan mendatang diperkirakan juga akan meningkatkan tekanan
harga. Atas pertimbangan berbagai faktor tersebut maka tingkat
inflasi Kota Manado pada triwulan III 2009 diperkirakan sebesar
5,5% (y.o.y). Atas pertimbangan berbagai
12
BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL
Perkembangan perekonomian global mengindikasikan proses pemulihan yang semakin
menguat, walaupun masih terdapat sejumlah risiko. Di negara maju, berbagai indikator
pemulihan ekonomi makro telah menunjukkan kecenderungan yang semakin membaik.
Paket stimulus yang diluncurkan oleh pemerintah dan program stabilisasi sektor keuangan
telah berhasil mendorong penguatan keyakinan masyarakat sehingga mampu mendorong
konsumsi. Di samping itu, kondisi pasar kredit yang mulai membaik turut menopang
kenaikan pengeluaran konsumsi masyarakat. Kendati demikian, masih tingginya angka
pengangguran menjadi faktor risiko yang membayangi proses pemulihan ekonomi di
kelompok negara tersebut. Di sisi lain, pemulihan ekonomi negara emerging markets,
khususnya China, India dan Korea, semakin menunjukkan penguatan. Dengan dukungan
stimulus fiskal dalam bentuk infrastruktur dan tingginya pertumbuhan kredit, kegiatan
investasi di China yang telah berlangsung sejak awal tahun terus berlanjut. Geliat
permintaan domestik di beberapa negara Asia tersebut pada gilirannya mendorong
peningkatan kinerja perekonomian negara lainnya di kawasan. Namun demikian,
membaiknya perekonomian di beberapa negara emerging markets diperkirakan belum
mampu mengkompensasi perlambatan ekonomi negara maju. Dengan berbagai
perkembangan tersebut, kontraksi ekonomi global diperkirakan masih berlanjut, meski
dengan laju yang semakin melambat.
Kecenderungan perekonomian global yang membaik telah memberikan dampak positif
terhadap kinerja ekonomi Indonesia. Dampak penguatan permintaan negara
mitra dagang, terutama China dan India, mendorong peningkatan kinerja ekspor Indonesia
terhadap beberapa komoditas ekspor seperti CPO, batubara, dan tembaga. Meski terus
membaik, belum pulihnya perekonomian global menyebabkan kinerja ekspor yang masih
mengalami kontraksi. Dari sisi permintaan domestik, perlambatan konsumsi swasta dapat
tertahan oleh pengeluaran terkait penyelenggaraan pemilihan presiden (pilpres), serta
adanya realisasi pembayaran gaji ke-13 bagi pegawai negeri sipil. Dalam kondisi permintaan
yang masih lemah dan tingkat utilisasi kapasitas yang masih rendah, kegiatan investasi
masih terbatas. Mencermati perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi selama
13
Secara regional, dampak krisis global pada perekonomian Sulawesi Utara hingga Triwulan II
Tahun 2009 relatif minimal. Hal ini terindikasi dari beberapa promp indikator dan hasil
survey yang dimiliki oleh Kantor Bank Indonesia Manado diantaranya Survey Ekspektasi
Konsumen (SEK), Survey Penjualan Eceran (SPE). Adapun kegiatan ekonomi yang terkena
dampak cukup significant dari krisis ekonomi global adalah kegiatan ekspor. Selama Januari s.d. Mei 2009, nilai ekspor Sulut ke luar negeri rata-rata turun 45% dibandingkan periode
yang sama tahun lalu sedangkan dari sisi volume rata-rata turun 30%.
Namun demikian, optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi tidak akan turun terlalu dalam
masih tetap ada seiring dengan digelarnya even bertaraf internasional di Kota Manado
selama triwulan laporan yaitu World Ocean Conference (WOC) dan CTI – Summit pada Mei 2009, yang diharapkan mampu mendorong kegiatan konsumsi. Dengan demikian,
perkirakan minimal laju pertumbuhan ekonomi Sulut pada Triwulan II Tahun 2009 adalah
7,4% (y.o.y), relatif tidak berbeda dibandingkan triwulan sebelumnya.
A. SISI PERMINTAAN
Dari sisi permintaan, perekonomian Sulawesi Utara selama Triwulan II Tahun 2009
diperkirakan akan lebih dominan didorong oleh kegiatan konsumsi dan investasi.
Sedangkan kegiatan ekspor diperkirakan masih akan mengalami trend perlambatan
sebagaimana dialami pada triwulan sebelumnya. Indikasi dari masih relatif tinggi kegiatan
konsumsi selama triwulan laporan tercermin dari hasil Survey Ekspektasi Konsumsen dan
Survey Penjualan Eceran pada periode April – Juni 2009 oleh Bank Indonesia Manado.
Beberapa faktor pendorong meningkatnya kegiatan konsumsi adalah : (1) Penyelenggaraan
Pemilu Legislatif pada April 2009, (2) Realisasi Gaji ke-13 bagi para PNS/TNI/Polri, (3)
Penyelenggaraan even berskala Internasional World Ocean Conference (WOC) dan Coral
Triangle Initiative (CTI) Summit, dan (4) Berlangsungnya musim liburan sekolah. Sementara
itu, meningkatnya kegiatan investasi didorong pula oleh percepatan pembangunan sarana
dan prasarana pendukung WOC antara lain penyelesaian pelebaran jalan menuju Bandara
Sam Ratulangi, pembangunan Grand Kawanua City, dll serta meningkatnya persentase
realisasi belanja modal hingga Triwulan II Tahun 2009 sebesar 26% dengan nominal Rp63
14
Tabel 1.1.
La ju Pertumbuhan Sulawesi Utara Menurut Jenis Penggunaan (%)
Q1 Q2 Sumb. Q3 Q4 Q1 Q2* ) Sumb.
Konsumsi 7.81 2.29 1.54 2.72 3.83 4.06 8.53 2.86 1.84
Konsumsi Swasta 6.36 1.39 0.63 1.84 4.36 3.45 5.12 2.65 1.14 Konsumsi Pemerintah 11.10 4.19 0.91 4.60 2.86 5.33 15.95 3.28 0.69
PMTB 7.50 9.06 1.90 15.56 13.07 11.70 10.03 23.67 5.04
Stok -5.36 61.26 0.99 50.24 48.49 40.51 -19.93 2.98 0.07
Ekspor 18.12 25.46 10.72 20.86 10.51 18.40 5.96 7.52 3.71
I mpor 23.14 24.88 7.96 20.84 7.61 18.44 7.90 8.79 3.28
PDRB 6.96 7.19 7.19 7.88 8.06 7.56 7.45 7.37 7.37
Jenis Penggunaan 2008 2008 2009
*) Proyeksi Bank Indonesia Manado
1. Konsumsi
Kegiatan konsumsi pada Triwulan II Tahun 2009 diperkirakan tumbuh 2,86% (y.o.y) dengan
kontribusi sebesar 1,84% terhadap laju pertumbuhan ekonomi. Dibandingkan pencapaian
periode yang sama tahun sebelumnya maka kinerja kegiatan konsumsi selama triwulan
laporan akan meningkat. Beberapa faktor pendorong peningkatan konsumsi adalah
meningkatnya permintaan masyarakat saat berlangsungnya even Internasional WOC dan
CTI Summit di Manado pada Mei 2009 yang menghadirkan jumlah peserta ± 3.000 baik dalam maupun luar negeri (belum termasuk pengunjung). Sementara itu, potensi
melemahnya permintaan masyarakat sebagai dampak krisis ekonomi global coba
diantisipasi oleh pelaku usaha dengan memberikan diskon terhadap produk penjualannya
sebagaimana dilakukan oleh beberapa mal, Hyper Market dan Supermarket seperti
Hypermart, Matahari, Manado Town Square (Mantos) dan Mega Mal.
Penyelenggaraan pesta demokrasi berupa Pemilu (Pemilihan Umum) Anggota Legislatif turut
memberikan andil terhadap peningkatan kegiatan konsumsi selama triwulan laporan.
Maraknya kegiatan kampaye oleh Partai Politik (Parpol) telah mendorong peningkatan
permintaan masyarakat berupa makanan, minuman, sandang, baleho, dlsb-nya. Sementara
itu, realisasi gaji ke-13 bagi para PNS/TNI/Polri pada April 2009 lalu juga sedikit banyak
mempengaruhi perilaku permintaan masyarakat selama triwulan laporan. Keseluruhan
faktor ini cukup efektif dalam menahan turunnya volume penjualan sebagaimana tercermin
dari hasil Survey Penjualan Eceran periode pada Juni 2009.
Berdasarkan komponen penyusunnya, konsumsi swasta pada Triwulan II Tahun 2009
tumbuh 2,65% sedangkan konsumsi pemerintah tumbuh 3,28% terhadap laju
pertumbuhan ekonomi secara umum. Peningkatan konsumsi swasta khususnya konsumsi
15
dimana sebagian besar konsumen optimis bahwa kondisi ekonomi saat ini lebih baik
dibandingkan 3-6 bulan yang lalu tercermin dari indeks sebesar 123,50 (optimis > 100) atau
naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada pada level pesimis sebesar
88,17.
Berdasarkan komponen penyusun indeks kondisi ekonomi seluruh indeks menunjukkan
trend peningkatan pada level optimis >100. Indeks pembelian bahan tahan lama yang
dalam beberapa bulan terakhir sempat menunjukkan trend pernurunan bahkan hingga level
pesimis, pada Juni 2009 mengalami pembalikan dan mulai mengalami peningkatan. Hal
yang hampir sama berlaku untuk indeks ketersediaan lapangan kerja yang sejak Maret 2009
berada pada level pesimis namun pada Juni 2009 kembali naik dan berada pada posisi
optimis.
Grafik 1.2.
Komponen Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini
Grafik 1.1.
Perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen
Sumber : Survey Konsumen (SK) Kota Manado Sumber : Survey Konsumen (SK) Kota Manado
75 85 95 105 115 125 135 145
J F M A M J J A S O N D J F M A M J
2008 2009
Indeks Keyakinan Konsumen Kondisi Ekonomi Saat Ini Ekspektasi Konsumen
\
40 60 80 100 120 140 160
J F M A M J J A S O N D J F M A M J
2008 2009
Kondisi Ekonomi Saat Ini Penghasilan Saat Ini Pembelian Barang Tahan Lama Ketersediaan Lap. Kerja
Sementara itu, perlambatan kegiatan konsumsi pemerintah antara lain tercermin dari
persentase realisasi belanja pemerintah dalam APBD-P Sulut hingga akhir Triwulan II Tahun
2009 yang mencapai 35,6% atau lebih rendah dibandingkan pencapaian periode yang
sama tahun sebelumnya sebesar 36,3%. Namun demikian, kinerja APBD-P pada triwulan
mendatang diperkirakan akan lebih baik seiring dengan kenaikan jumlah alokasi dana fiskal
pemerintah pusat ke seluruh wilayah di Sulut sebesar 15% mencapai jumlah Rp10,6 Triliun
di Tahun 2009.
2. Investasi
Di tengah krisis ekonomi global yang saat ini menghantam perekonomian nasional,
16
23,67% (y.o.y) terhadap laju pertumbuhan ekonomi secara umum. Peningkatan kegiatan
investasi terutama didorong oleh percepatan penyelesaian sarana/prasarana pendukung
WOC seperti perluasan jalan menuju Bandara Sam Ratulangi, pembangunan Grand
Kawanua City Convention Centre dan perluasan appron Bandara Sam Ratulangi. Selain itu
pembangunan jaringan distribusi PLN yang tersebar di Manado, Minahasa Selatan, Bolaang
Mongondow, Minahasa Utara, dan Minahasa Induk serta penyelesaian infrastruktur lokasi
pemboran sumur-sumur geothermal di lahendong oleh Pertamina juga turut memberikan
andil bagi peningkatan kegiatan investasi.Perkembangan kegiatan investasi antara lain
dapat dikonfirmasi dengan perkembangan indeks bahan bangunan memperlihatkan trend
peningkatan dari 202 pada Juni 2008 naik menjadi 1.216 pada Juni 2009. Namun
demikian, dari sisi pembiayaan, jumlah kredit produktif yang disalurkan guna mendukung
kegiatan investasi masih relatif kecil walaupun menunjukkan trend yang meningkat. Hingga
akhir Triwulan II Tahun 2009, total kredit produktif (modal kerja dan investasi) yang
disalurkan mencapai Rp4,6 Triliun atau meningkat 12,36% dibandingkan periode yang
sama tahun sebelumnya.
Grafik 1.3.
Pertumbuhan Kredit Produkif (%)
0 10 20 30 40 50 60
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6
2007 2008 2009
(%)
Sumber : Laporan Bulanan Bank Umum
3. Ekspor – Impor
Kinerja ekspor pada Triwulan II Tahun 2009 diperkirakan masih akan berada pada trend
yang melambat dengan laju pertumbuhan 7,52% (y.o.y) atau lebih lambat dibandingkan
triwulan yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 25,46%. Secara umum,
dampak krisis ekonomi global telah menyebabkan menurunnya permintaan dunia sehingga
berdampak pada melambatnya kinerja ekspor produk pertanian dan perikanan tercermin
dari penurunan nilai dan volume ekspor Sulut selama Januari – April 2009 masing-masing
17
ekspor Sulut ke luar negeri selama Januari – April 2009 mencapai USD 81 Juta dengan
volume sebesar 137 ribu ton.
Grafik 1.4.
Perkembangan Nilai dan Volume Ekspor Sulut
Tabel 1.2.
Komoditi Utama Ekspor Sulut (dlm Ribu Ton)
Berdasarkan jenisnya, komoditi utama ekspor luar negeri terutama dalam bentuk Food &
Animals serta Animals & Vegetable Oils & Fats khususnya olahan dari produk kopra, minyak
kelapa (Virgin Coconut Oil) dan ikan dengan negara tujuan utama adalah China, Amerika Serikat, Belanda dan Korea Selatan. Berbeda dibandingkan Tahun 2008 lalu dimana Belanda
dan Amerika Serikat merupakan negara tujuan utama ekspor maka sejak krisis ekonomi
global melanda dunia di awal triwulan IV – 2008 lalu maka terjadi perubahan struktur
pangsa pasar tujuan ekspor Sulut yang utamanya ditujukan ke negara China dan Amerika
Serikat.
Tabel 1.3. Negara Tujuan Utama Ekspor
Negara Tujuan 2005 2006 2007 2008 Negara Tujuan Apr'09
Nilai Ekspor 382,294 273,363 557,359 670,295 81.99
Belanda 22.61 15.98 38.52 27.66 China 24.82 Amerika Serikat 25.41 17.18 14.93 20.75 Amerika Serikat 21.19 China 17.91 28.61 12.98 8.11 Belanda 10.75 Korea Selatan 2.00 4.68 9.52 11.65 Korea Selatan 10.72 India 3.58 5.49 4.81 7.55 Jepang 4.59 Negara Lainnya 28.50 28.06 19.23 24.29 Negara Lainnya 9.92
Total 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 Pangsa Pasar
Sumber : Direktorat Statistik, Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia *) s.d. April 2009
Sementara itu, kegiatan impor pada Triwulan II Tahun 2009 diperkirakan tumbuh melambat
sebesar 8,79% (y.o.y). Menurut komponen penyusunnya, nilai tambah kegiatan impor antar
pulau/provinsi merupakan penyumbang utama sedangkan nilai tambah kegiatan impor
antar negara cenderung melambat bahkan mengalami kontraksi sebagaimana tercermin Sumber : Direktorat Statistik, Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia *) s.d. April 2009
Tahun Food & Live Animals
Animal & Veg. Oils & Fats
Others Total
2005 393 482 66 941
2006 178 407 35 621
2007 327 591 16 934
2008 304 467 12 782
2009*) 41 93 4 137
-20 40 60 80 100 120 0 160 180
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4
2008 2009
Nilai Ekspor (dlm Juta USD) Vol Ekspor (dlm Ribu Ton) 14
18
jumlah impor Sulut selang Januari s.d. April 2009 yang hanya sebesar USD 509 ribu atau
turun 80% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar USD 2,6 Juta.
Namun, secara netto neraca perdagangan luar negeri Sulut masih berada pada kondisi surplus yang berarti nilai ekspor lebih tinggi dibandingkan nilai impornya. Sedangkan untuk
transaksi perdagangan antar provinsi umumnya masih berada pada kondisi defisit. Hal ini
disebabkan karena hampir 70% barang konsumsi masih harus didatangkan dari luar
provinsi terutama dari Kota Makasar dan Kota Surabaya.
Grafik 1.5.
Perkembangan Nilai dan Volume Impor Sulut
-500 1,000 1,500 2,000 2,500 3,000 3,500 4,000
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4
2008 2009
Nilai (Ribu USD) Volume (Ton)
Sumber : Direktorat Statistik, Ekonomi dan Monter Bank Indonesia *) s.d. April 2009
Tabel 1.4.
Komoditi Utama Impor Sulut (dlm Ton) Tahun Food & Live
Animals
Manufactured Goods
Machinaery & Transport Eqp
Others Total
2005 5.03 0.10 0.71 0.39 6.24 2006 5.06 7.68 21.83 2.34 36.91 2007 6.40 0.35 52.47 2.73 61.95 2008 1.46 0.38 6.57 2.19 10.60 2009*) - - 0.06 - 0.06 Sumber : Direktorat Statistik, Ekonomi dan Monter Bank Indonesia
*) s.d. April 2009
Menurut strukturnya, kegiatan impor sejak Tahun 2006 memiliki perbedaan dibandingkan
tahun sebelumnya. Bila sebelum Tahun 2006 kegiatan impor lebih didominasi oleh
kelompok komoditi bahan makanan yaitu gula dan produk olahannya (sugars dan sugar confectionery) maka sejak awal Tahun 2006 hingga saat ini lebih didominasi oleh produk barang modal (mesin, perkakas, alat transportasi, dlsb-nya). Meningkatnya komposisi
barang impor dalam bentuk mesin, peralatan dan material ini mengindikasikan terus
19
Berdasarkan negara asal barangnya, bila impor sepanjang Tahun 2008 terutama berasal dari
negara China, Thailand dan Australia, maka di Tahun 2009 selang Januari s.d. April, barang
impor lebih banyak didatangkan dari negara Filipina, Belanda, China, dan Perancis. Secara
netto, nilai perdagangan luar negeri berada pada kondisi surplus yang berarti nilai ekspor masih jauh lebih besar dibandingkan nilai impor.
Grafik 1.6.
Negara Asal Impor Sulawesi Utara
‘
Tahun 2008
13.55 11.47 8.99
6.7 10.0
49.2 China Thailand Australia Filipina Singapore Negara Lainnya
Tahun 2009
63% 14%
12% 11%
Filiphina Belanda China Perancis
Tot al USD 10, 59 Jut a Tot al USD 509 Ribu
Sumber : Direktorat Statistik, Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia *) s.d. April 2009
Grafik 1.7.
Nilai Ekspor dan Impor Luar Negeri
(dalam Juta USD)
-100 200 300 400 500 600 700 800
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
2009*
)
-10 20 30 40 50 60 70 Nilai Ekspor (Lef t Axis)
Net Ekspor (Lef t Axis) Nilai Impor (Right Axis)
Sumber : Direktorat Statist k, Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia i *) s.d. April 2009
Perkembangan kegiatan perdagangan selama triwulan laporan antara lain juga dapat
dikonfirmasi dengan kegiatan eskpor-impor serta bongkar-muat barang melalui pelabuhan
Bitung. Berdasarkan strukturnya, terlihat bahwa untuk perdagangan luar negeri lebih
didominasi oleh kegiatan ekspor sedangkan kegiatan impor relatif kecil pangsanya.
Sedangkan untuk perdagangan dalam negeri, intensitas kegiatan bongkar lebih tinggi
20
ke wilayah Sulawesi Utara dibandingkan barang yang keluar. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa tingkat ketergantungan Sulawesi Utara terhadap daerah/provinsi lainnya
di luar Sulawesi Utara masih cukup tinggi.
Tabel 1.5.
Kegiatan Perdagangan Luar dan Dalam Negeri di Pelabuhan Bitung (dalam USD)
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2*)
Impor Ton - 25,002 23,044 25,535 73,581 3,573 791 -96.84 Ekspor Ton 90,701 106,766 128,915 123,908 450,290 48,520 89,728 -15.96
Bongkar Ton 654,800 869,745 801,622 888,290 3,214,457 772,577 706,506 -18.77 Muat Ton 212,611 209,388 252,826 243,008 917,834 228,612 218,235 4.22
Y.o.Y
Perdagangan Luar Negeri
Perdagangan Dalam Negeri
Kegiatan 2008 2008 2009
Sumber : PT. Pelindo IV (Persero), Bitung *) Perkiraan Bank Indonesia Manado
B. SISI PENAWARAN
Dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi pada Triwulan II Tahun 2009 diperkirakan
disumbangkan oleh seluruh sektor yang ada. Dampak krisis ekonomi global hingga triwulan
I 2009 relatif minimal tercermin dari laju pertumbuhan ekonomi sebesar 7,4% (y.o.y).
Potensi perlambatan ekonomi ini yang diperkirakan sebelumnya ternyata masih dapat
tertolong oleh meningkatnya aktivitas pembangunan infrastruktur dan sarana/prasarana
lainnya dalam rangka mempersiapkan penyelenggaraan WOC dan CTI Summit yang
membawa multipier effect pada meningkatnya kegiatan perdagangan dan kunjungan wisatawan.
Tabel 1.6.
Laju Pertumbuhan Sulawesi Utara Menurut Sektor Ekonomi (%)
Sumber : BPS Provinsi Sulawesi Utara, diolah *) Angka Perkiraan Bank Indonesia Manado
1. Pertanian
Kinerja sektor pertanian pada Triwulan II Tahun 2009 diperkirakan akan mengalami
21
wilayah di Sulawesi Utara. Bila pada triwulan I 2009 lalu, laju pertumbuhan sektor pertanian
sebesar 4,6% (y.o.y) maka pada Triwulan II Tahun 2009 diperkirakan akan naik menjadi
5,2% (y.o.y). Berdasarkan pangsanya, pertumbuhan sektor pertanian terutama masih
disumbangkan oleh sub sektor tanaman bahan makanan disusul oleh sub sektor peternakan
dan sub sektor perikanan.
Sementara itu, untuk sub sektor lainnya yaitu sub sektor perkebunan dan sub sektor
kehutanan laju pertumbuhannya rendah sehingga kontribusinya relatif terbatas.
Melambatnya kinerja sub sektor perkebunan disebabkan oleh terus menurunnya produksi
tanaman cengkeh akibat dan menurunnya produksi kelapa yang tidak sebanyak tahun lalu
sebagai akibat serangan hama dan kurangnya peremajaan. Sementara rendahnya
pertumbuhan sub sektor kehutanan antara lain disebabkan oleh semakin terbatasnya lahan
kehutanan yang bisa dimanfaatkan serta gencarnya proses penegakan hukum terhadap
pelaku illegal logging yang menyebabkan masyarakat dan pengusaha harus extra hati-hati dalam memanfaatkan lahan yang ada.
Perkembangan kinerja sektor pertanian antara lain dapat dikonfirmasi dengan data
perkembangan produksi beras dan jagung. Jumlah produksi beras pada Triwulan II Tahun
2009 diperkirakan mencapai 120.666 ton atau naik 3,14% (y.o.y) dibandingkan periode
yang sama tahun lalu. Demikian pula dengan komoditi jagung, dimana selama triwulan
laporan produksinya naik 12,18% (y.o.y) dibandingkan periode yang sama tahun lalu
mencapai jumlah 178.905 ton.
Grafik 1.8. Pertumbuhan Kredit Pertanian
-50, 000 100, 000 150, 000 200, 000 250, 000
Q1 Q2 Q1 Q2 Q1 Q2
2007 2008 2009
Luas Panen (Ha) Produksi Gabah (Ton) Produksi Beras (Ton)
Tabel 1.7.
Perkembangan Luas Panen, Produksi Gabah dan Produksi Beras
-20 0 20 40 60 80 100 120
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6
2007 2008 2009
(%)
22
Dari sisi pembiayaan, peran perbankan untuk membiayai sektor pertanian masih relatif
terbatas. Sampai dengan Juni 20009, jumlah kredit yang disalurkan pada sektor pertanian
baru sebesar Rp411 milliar atau hanya 4,27% dari total kredit yang disalurkan. Belum
terlalu optimalnya penyaluran kredit di sektor pertanian antara lain disebabkan oleh relatif
tingginya resiko usaha di sektor tersebut tercermin dari tingginya NPL (Non Performing Loan) sebesar 6,77% (lebih tinggi dari 5% yang merupakan batas maksimum yang dipersyaratkan BI). Selain itu, belum terlalu kondusifnya kondisi usaha di sektor riil sebagai
dampak krisis ekonomi global menyebabkan saat ini perbankan lebih berhati-hati dalam
menyalurkan pembiayaan termasuk di sektor pertanian. Hal ini terbukti dengan terus
melambatnya pertumbuhan kredit di sektor ini dari sebelumnya tumbuh pada kisaran
75-80% (y.o.y) di akhir Tahun 2008 menjadi hanya 2,28% (y.o.y) pada Juni 2009.
2. Sektor Bangunan
Kinerja sektor bangunan selama Triwulan II Tahun 2009 diperkirakan masih tetap
menjanjikan di tengah-tengah krisis ekonomi global yang terjadi saat ini. Penyelenggaraan
World Ocean Conference (WOC), CTI Summit dan persiapan penyelenggaraan Bunaken Sail pada pertengahan Tahun 2009 mendorong minat para investor swasta di sektor properti
untuk menanamkan investasinya di Sulut dalam bentuk pembangunan hotel, convention
center dan perumahan. Sementara itu, pemerintah provinsi bersama-sama dengan
pemerintah kabupaten/kota khususnya Pemkot Manado gencar mempersiapkan prasarana
dan sarana pendukung berbagai even berskala internasional diantaranya dalam bentuk
penyelesaian pelebaran jalan dari dan menuju Bandara Sam Ratulangi serta pelebaran apron
Bandara Sam Ratulangi. Keseluruhan kegiatan ini diperkirakan akan mampu mendorong
sektor bangunan pada Triwulan II Tahun 2009 tumbuh 8,5% (y.o.y) atau lebih tinggi
dibandingkan triwulan sebelumnya. Perkembangan sektor bangunan antara lain dapat
dikonfirmasi melalui data volume penjualan semen di wilayah Sulawesi Utara pada triwulan I
Tahun 2009 yang menunjukkan rata-rata peningkatan penjualan setiap bulannya sebesar
23
Grafik 1.9.
Volume dan Pertumbuhan Penjualan Semen
Grafik 1.10.
Pertumbuhan Indeks Bahan Bangunan dan Kredit Konstruksi
0 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 Ja n Fe b Ma r Ap r Ma y Ju n Ju l Aug Se p Ok t No v De s Ja n Fe b Ma r Ap r Me i 2008 2009 Ton -40 -20 0 20 40 60 80 100 120 % Penjualan gPenjualan (50) -50 100 150 200 250
J F M A M J J A S O N D J F M A M J J A S O N D J F M A M J
2007 2008 2009
gI ndeks Bhn Bangunan (y. o. y ) gKredit Konst ruksi (y . o. y)
Sumber : Asosiasi Semen Indonesia Sumber : SPE dan LBU Bank Umum
Perkembangan sektor bangunan juga dapat dikonfirmasi melalui pertumbuhan indeks
penjualan bahan bangunan berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) Kota Manado.
Pertumbuhan indeks penjualan bahan bangunan sejak Agustus 2008 terus memperlihatkan
kecenderungan meningkat. Tercatat indeks penjualan bangunan pada Juni 2009 berada
pada level 555,63 atau naik sebesar 174,07% (y.o.y) dibandingkan periode yang sama
tahun sebelumnya. Dari sisi pembiayaan, walaupun mengalami tren penurunan namun
penyaluran kredit di sektor bangunan pada Juni 2009 masih tumbuh 25,32% (y.o.y) dengan
nilai nominal mencapai Rp497 milliar. Namun demikian, alokasi kredit sektor bangunan ini
masih relatif kecil bila dibandingkan dengan fakta perkembangan sektor bangunan di
Sulawesi Utara. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembiayaan sektor-sektor
properti di Sulawesi Utara sebagian besar lebih didominasi oleh pembiayaan di luar sektor
perbankan bahkan ada diantaranya yang menggunakan pembiayaan mandiri.
3. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR)
Laju pertumbuhan sektor PHR pada Triwulan II Tahun 2009 diperkirakan sebesar 10,5%
(y.o.y). Penyelenggaraan WOC dan CTI Summit pada Mei 2009 serta persiapan
penyelenggaraan Bunaken Sail pada Agustus 2009 menyebabkan sektor perdagangan,
hotel dan restoran (PHR) berkembang pesat selama Triwulan II Tahun 2009. Kinerja sektor
PHR selama triwulan laporan diantaranya tercermin dari meningkatnya kunjungan
wisatawan luar negeri ke Sulawesi Utara. Tercatat pada periode April s.d. Mei 2009, jumlah
kunjungan wisatawan luar negeri sebanyak 4.491 orang atau naik lebih dari 47%
dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Berdasarkan komposisinya, sebagian besar
24
Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan luar negeri ini diperkirakan akan masih berlanjut
pada bulan-bulan mendatang berkenaan dengan penyelenggaraan beberapa even berskala
internasional diantaranya adalah Bunaken Sail yang akan berlangsung tanggal 13 s.d 20
Agustus 2009.
Grafik 1.11.
Perkembangan Kunjungan Wisman ke Sulut Perkembangan Tamu Menginap di SulutGrafik 1.12.
-2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000 J a n F e b M a r A p r M e i J u n J u l A g s S e p O k t N o v D e s J a n F e b M a r A p r M e i 2008 2009 Orang -10 0 10 20 30 40 50 60 70 % Mancanegara Nusantara gMenginap (y. o. y)
-500 1, 000 1, 500 2, 000 2, 500 J a n F e b M a r A p r M e i J u n J u l A g s S e p O k t N o v D e s J a n F e b M a r A p r M e i J u n * ) 2008 2009 Orang -20 40 60 80 100 120 140 %
Wisman Y. o. Y Wisman
Sumber : BPS Provinsi Sulawesi Utara, diolah
Sumber : BPS Provinsi Sulawesi Utara, diolah
Perkembangan sektor PHR, juga dapat dikonfirmasi dengan indeks penjualan eceran dari
hasil Survey Penjualan Eceran yang terus memperlihatkan kenaikan indeks yaitu dari indeks
159 di triwulan II 2008 naik menjadi 231,65 pada Triwulan II Tahun 2009 atau naik 45,7%
(y.o.y).
Grafik 1.13.
Pertumbuhan Indeks Penjualan Eceran Kota Manado
Grafik 1.14.
Perkembangan Kredit Sektor PHR
-10 20 30 40 50 60
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6
2007 2008 2009
(%)
0 60
J F M A M J J A S O N D J F M A M J J A S O N D J F M A M J 50
40
30 20
10
2007 2008 2009
g_
inde
k
s
Sumber : Survey Penjualan Eceran (SPE) Kota Manado Sumber : Laporan Bulanan Bank Umum (LBU)
Dari segi pembiayaan, sektor PHR merupakan sektor terbesar kedua (setelah sektor
konsumsi) yang mendapat alokasi pembiayaan dari perbankan yaitu sebesar Rp2,83 triliun
25
mengindikasikan bahwa penyaluran kredit pada sektor perdagangan, hotel dan restoran
cukup berperan bagi perkembangan ekonomi Sulawesi Utara.
4. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi
Rencana penyelenggaraan berbagai even berskala internasional menyebabkan gaung Kota
Manado sebagai salah satu kota tujuan wisata semakin dikenal oleh masyarakat luar. Pada
tahap lanjut, hal ini telah meningkatkan minat wisatawan untuk berkunjung sehingga
mendorong meningkatnya kegiatan sektor pengangkutan dan telekomunikasi. Sektor
Pengangkutan dan Komunikasi pada Triwulan II Tahun 2009 diperkirakan tumbuh 10,1%
(y.o.y). Menurut sub sektornya, pertumbuhan sektor pengangkutan dan komunikasi
terutama berasal dari sub sektor pengangkutan (80%) sedangkan sisanya disumbangkan
oleh sub sektor komunikasi (20%).
Dampak krisis ekonomi global yang diperkirakan akan menekan tingkat konsumsi
masyarakat Sulawesi Utara ternyata belum terlalu berpengaruh tercermin dari terus
meningkatnya pemberian ijin kendaraan bermotor baik roda 4 ataupun roda 2 dan 3 yang
dikeluarkan oleh Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi Utara. Hal ini menyebabkan
rata-rata tingkat pemberian ijin kendaraan bermotor sejak periode setelah krisis ekonomi
(Oktober 2008) justru meningkat dibandingkan periode sebelum krisis ekonomi yaitu
sebesar 6.031 untuk roda 4 dan 50.790 untuk roda 2 dan 3.
Tabel 1.8.
Rata-Rata Pemberian Ijin Kendaraan Bermotor Sebelum dan Setelah Krisis
Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi Utara
No Rincian Rata Before
Krisis
Rata After Krisis
A RODA 4
1 Milik Instansi Pemerintah 128 131 2 Milik Pribadi/Perorangan 4,301 5,153 3 Milik Perusahaan Swasta 842 748
5,271
6,031
B RODA 2 -1 Milik Instansi Pemerintah 235 402 2 Milik Pribadi/Perorangan 12,257 50,388 3 Milik Perusahaan Swasta 1
-12,493
50,790
17,764
56,821
TOTAL Jumlah Roda 4
Jumlah Roda 2 dan 3
Perkembangan sub sektor angkutan antara lain dapat dikonfirmasi melalui peningkatan
aktivitas penerbangan tercermin dari bertambahnya jumlah penumpang pesawat datang
26
mencapai pada Triwulan II Tahun 2009 mencapai 154,343 orang atau naik 6,95% (y.o.y)
dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan jumlah penumpang
pesawat yang keluar dari Sulut mencapai 157.448 orang atau naik 8,77% (y.o.y)
dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Tabel 1.9. Jumlah Penumpang Pesawat
Komponen Q4-07 Q2-08 Q3- 08 Q4-08 Q1-09 Q2-09* )
Masuk ke Sulut 156,113 146,255144,309 151,800 135,200 154,343
-2.76 -3.68 6.95
Keluar dari Sulut 147,019 145,310144,756 141,021 141,235 157,448
-4.08 -5.40 8.77
Prosentase Kenaikan Prosentase Kenaikan
Sumber : Angkapa Pura
Sementara itu, relatif tingginya pertumbuhan sub sektor komunikasi dalam triwulan laporan
terutama disebabkan oleh pesatnya penggunaan sarana telepon selular oleh masyarakat
yang didukung oleh semakin luasnya wilayah jangkauan. Hal ini antara lain tercermin dari
bermunculannya pemain baru dalam provider telekomunikasi yaitu Fren dan Esia serta pesatnya pembangunan sejumlah menara BTS (Base Transceiver System) di beberapa lokasi pada daerah yang sebelumnya terisolir hingga meningkatkan kenyamanan pelanggan dalam
berkomunikasi. Selain itu perkembangan berbagai macam fasilitas dan fitur-futur baru
semakin memudahkan dan memanjakan para pengguna jasa telekomunikasi.
Grafik 1.15.
Perkembangan Kredit Sektor Angkutan (%)
-10 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6
Sumber : Laporan Bulanan Bank Umum
2007 2008 2009
(%)
Dari sisi pembiayaan, pertumbuhan sektor angkutan dan telekomunikasi ternyata didukung
pula oleh penyaluran kredit di sektor tersebut. Tercatat jumlah kredit yang disalurkan pada
sektor angkutan dan telekomunikasi mencapai Rp88,58 milliar, meningkat 9,07% (y.o.y)
dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, jumlah ini masih relatif kecil
dibandingkan total kredit yang berhasil disalurkan sampai akhir triwulan laporan yang
27 5. Sektor Jasa-Jasa
Sektor jasa-jasa diperkirakan tumbuh 3,9% (y.o.y) pada triwulan laporan, melambat
dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 6,5% (y.o.y). Perlambatan kinerja di sektor
jasa antara lain tercermin dari penurunan persentase realisasi PAD selama Triwulan II Tahun
2009 yang baru sebesar Rp145 milliar (46,9% dari total target Tahun 2009) atau lebih
rendah dibandingkan triwulan yang sama tahun lalu yang mencapai Rp156 milliar (52,8%
terhadap total target Tahun 2008).
6. Sektor Lainnya
Dampak krisis ekonomi global terhadap kinerja sektor industri pengolahan selama Triwulan
II Tahun 2009 diperkirakan minimal dengan laju pertumbuhan diperkirakan sebesar 6,6%
(y.o.y). Pencapaian ini diperkirakan lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang
hanya sebesar 5,4% (y.o.y). Tidak terlalu berdampaknya krisis ekonomi global terhadap
kinerja sektor industri pengolah tercermin dari data jumlah penggunaan BBM Indutri untuk
periode setelah krisis (November 2008) yang secara rata-rata justru mengalami peningkatan
dibandingkan periode sebelum krisis. Tercatat jumlah penggunaan BBM Industri selama
Triwulan II Tahun 2009 mencapai 17,59 juta liter atau naik 13,76% (y.o.y) dibandingkan
periode yang sama tahun lalu. Berdasarkan jenisnya, kenaikan penggunaan BBM terutama
terjadi pada jenis minyak tanah sebesar 84,54% disusul solar (15,70%) dan premium
(8,85%)
Tabel 1.10.
Jumlah Penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) Non Subsidi
(dalam KL)
Q1-08 Q2-08 Q3-08 Q4-08 Q1-09 Q2- 09* *
1 Premium 106.00 113.00 123.00 87.00 89.43 123.00
gPremium 14.10 22.83 68.49 -30.12 -15.63 8.85
2 Minyak Tanah 69.00 145.50 144.00 176.00 110.00 268.50
gMinyak Tanah 97.14 315.71 -22.16 21.38 59.42 84.54
3 Solar 12,040.75 14,867.03 14,066.00 12,534.25 13,767.43 17,200.50
gSolar -56.94 25.58 -26.74 5.24 14.34 15.70
12,326.99 15,464.07 14,379.33 12,788.51 14,010.65 17,592.00
gI ndustri -56.12 29.23 -26.10 5.00 13.66 13.76
TOTAL BBM
Sumber : PT. Pertamina Cabang Manado, Sulawesi Utara
Perkembangan sektor indutri pengolahan tak lepas pula dari dukungan pembiayaan oleh
perbankan. Sejak awal tahun 2007 hingga akhir Tahun 2008, penyaluran kredit pada sektor
industri memperlihatkan trend peningkatan walaupun selepas periode tersebut cenderung
mengalami perlambatan sebagai dampak krisis ekonomi global awal Oktober 2008 lalu.
Tercatat penyaluran kredit pada sektor industri pengolahan mencapai Rp210 milliar naik
28
Grafik 1.16.
Perkembangan Kredit Sektor Industri
-20 -10 0 10 20 30 40 50 60 70
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6
2007 2008 2009
(%)
Sumber : Laporan Bulanan Bank Umum (LBU)
Sementara itu, pertumbuhan sektor listrik, gas dan air bersih pada Triwulan II Tahun 2009
diperkirakan 6,7% (y.o.y). Hal ini tak terlepas dari mulai beroperasinya Pembangkit Listrik
Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Lahendong III pada Mei 2009 lalu sehingga kebutuhan daya
listrik di Sulawesi Utara sudah mulai dapat dipenuhi. Sebelumnya pada April 2009, PLTPB
Lahendong II juga resmi difungsikan penggunaannya. Perkembangan sektor ini khususnya
sub sektor listrik dan gas antara lain dapat dikonfirmasi melalui data volume produksi panas
bumi Lahendong yang di Tahun 2008 mengalami kenaikan yang sangat significant
mencapai volume 2,3 ribu ton.
Grafik 1.17.
Vol. Produksi Panas Bumi Lahending (ribu ton)
457
954 1,132 1,173 1,012 1,240 1,311
2,305
-500 1,000 1,500 2,000 2,500
2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007
2008*
)
Sumber : Departemen ESDM Jakarta
Sektor pertambangan dan penggalian pada Triwulan II Tahun 2009 diperkirakan tumbuh
8,4% (y.o.y) atau lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya 5,7% (y.o.y).
Berdasarkan sub sektornya, pertumbuhan sektor ini disumbangkan oleh seluruh sub sektor
yang ada yaitu sub sektor minyak dan gas, pertambangan tanpa migas dan penggalian.
29
ini lebih banyak dilakukan oleh penambangan tradisional/rakyat dan bukan industri berskala
besar.
Kinerja sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan pada Triwulan II Tahun 2009
diperkirakan tumbuh 7,9% (y.o.y), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang
hanya tumbuh 7,0% (y.o.y). Perkembangan sektor keuangan, persewaan dan jasa antara
lain tercermin dari maraknya pembangunan jaringan kantor dan fasilitas perbankan antara
lain : pembukaan kantor cabang baru, penambahan ATM (Anjungan Tunai Mandiri), serta
penawaran produk-produk baru yang memberikan kemudahan dan kenyamanan kepada
masyarakat dalam bertransaksi.
C. Analisis LQ (Location Quatient)
Upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam suatu wilayah diantaranya dapat
dilakukan dengan mempercepat laju pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat struktur
perekonomian wilayah tersebut. Percepatan laju pertumbuhan dan penguatan struktur
perekonomian suatu wilayah pada gilirannya akan dapat dilakukan lebih efektif dengan cara
penekanan pembangunan pada sektor yang memiliki keunggulan komparatif dan
kompetitif dalam wilayah tersebut. Pendekatan Analisis LQ (Location Quatient) merupakan
salah satu dari alat analisis yang dapat digunakan untuk menentukan sektor basis dan
kecenderungan pertumbuhan sektor basis tersebut dalam struktur perekonomian di suatu
wilayah. Sektor basis yang pendekatan perhitungannya dilakukan dengan rasio kontribusi
sektor pada salah satu bagian wilayah terhadap kontribusi sektor yang sama dalam wilayah,
pada hakekatnya tidak terlepas dari aspek kontribusi.
Tabel 1.11.
Share Sektor dalam PDRB Sulsel, Sulut, Gorontalo dan Sulampua Periode Tahun 2008
S E K T O R Sulawesi
Selatan
Sulawesi
Utara Gorontalo Sulampua
Pertanian 30.25 21.68 30.58 28.80 Pertambangan & Penggalian 10.03 5.20 0.96 17.62 Industri Pengolahan 14.10 7.60 8.80 9.13 Listrik, Gas & Air Bersih 0.96 0.75 0.59 0.68 Bangunan 4.67 15.71 7.45 6.50 Perdagangan, Hotel & Restoran 14.98 14.71 13.79 13.05 Pengangkutan & Komunikasi 7.63 11.79 10.33 7.61 Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 6.01 6.59 9.90 4.76 Jasa-Jasa 11.37 15.97 17.59 11.84
T O T A L 100.00 100.00 100.00 100.00
Data yang bersumber dari Biro Pusat Statistik (BPS) se-provinsi Sulawesi, Maluku, dan Papua
30
berasal dari sektor pertanian (28,94%), diikuti oleh sektor pertambangan dan penggalian
(17,62%), sektor perdagangan, hotel dan restoran (13,05%), sektor jasa-jasa (11,84%) dan
sektor-sektor lainnya. Struktur perekonomian ini tentunya akan berbeda-beda di
masing-masing wilayah sesuai dengan karakteristik masing-masing-masing-masing provinsi.
Tabel 1.12.
Nilai LQ Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Sulawesi Utara Terhadap Zona Sulampua (Basis Tahun 2008)
Lapangan Usaha Sulawesi Selatan
Sulawesi
Utara Gorontalo
Pertanian 1.04 0.75 1.08
Pertambangan & Penggalian 0.57 0.29 0.06
Industri Pengolahan 1.56 0.83 0.89
Listrik, Gas & Air Bersih 1.44 1.11 0.84
Bangunan 0.71 2.42 1.15
Perdagangan, Hotel & Restoran 1.15 1.16 1.06
Pengangkutan & Komunikasi 1.03 1.57 1.40
Keu, Sewa Bangunan & Jasa Perusahaan 1.25 1.31 1.77
Jasa-Jasa 0.97 1.32 1.59
Selanjutnya dengan melakukan perbandingan terhadap masing-masing sektor dalam PDRB
ketiga provinsi yaitu Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara dan Gorontalo dengan
sektor-sektor dalam PDRB Zona Sulampua sebagai acuan, maka akan diperoleh nilai koefisien LQ.
Berdasarkan hasil tersebut, diperolah hasil bahwa terdapat 5 (lima) sektor yang merupakan
sektor basis (rasio LQ>1) di Provinsi Sulawesi Utara yaitu (1) sektor bangunan, (2) sektor
pengangkutan dan komunikasi, (3) sektor jasa-jasa, (4) sektor keuangan, sewa bangunan
dan jasa perusahaan serta (5) sektor listrik, gas dan air bersih. Dari 5 (lima) sektor basis
tersebut terdapat 3 (tiga) sektor yang secara dominan lebih tinggi dibandingkan sektor basis
yang sama di provinsi lainnya yaitu Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Gorontalo yaitu
sektor bangunan, sektor PHR dan sektor pengangkutan dan komunikasi. Dengan demikian,
upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Provinsi Sulawesi Utara diharapkan dapat
lebih diarahkan pada sektor-sektor tersebut yang secara umum memiliki keunggulan
31
BOX
POLA PEMBIAYAAN USAHA TANI PADI HIBRIDA JENIS BERNAS :
DUKUNGAN PERBANKAN TERHADAP PROGRAM REVITALISASI
PERTANIAN PROVINSI SULAWESI UTARA
Dalam kerangka pengembangan perekonomian, peran sektor pertanian adalah
sangat strategis dan memiliki kaitan kuat di hulu dan hilir. Sektor ini masih
merupakan sektor yang dominan kontribusinya terhadap pertumbuhan
perekonomian Sulut dan merupakan sektor yang sangat potensial dikembangkan.
Salah satu komoditas pertanian yang sedang digenjot saat ini adalah padi, terkait
dengan penetapan target swasembada beras pada tahun 2010. Berdasarkan data
BPS Sulut tahun 2007, terdapat peningkatan luas panen padi sebesar 39.94% di
provinsi ini yang tidak dibarengi dengan kenaikan rata produksi, dimana
rata-rata produksi/ha mengalami penurunan sebesar 23.21%. Angka ini mencerminkan
bahwa masih banyak terdapat potensi pemanfaatan lahan dan peningkatan
produktivitas komoditas padi di Provinsi Nyiur Melambai ini.
Dari sisi perbankan, sektor pertanian merupakan sektor potensial yang sangat jarang
dilirik untuk dibiayai, tercermin dari rendahnya pangsa kredit sektor ini di Provinsi
Sulawesi Utara, sebesar 4,26% dari total kredit perbankan Sulut semester I 2009. Hal
tersebut dapat dipahami mengingat tingginya resiko gagal bayar kredit sektor
pertanian yang disebabkan oleh beberapa aspek, terutama aspek teknis, sumber
daya manusia, dan alam.
Berangkat dari hal tersebut, KBI Manado melalui TFPPED menfasilitasi pola
pembiayaan Usaha Tani Padi Hibrida jenis Bernas yang diharapkan dapat
mendukung program revitalisasi pertanian di Sulut. Dalam pelaksanaannya, skim
kredit ini melibatkan berbagai pihak, diantaranya PT. Bank Artha Graha sebagai
kreditur, PT. SAS sebagai supplier benih dan pupuk, BULOG sebagai penyangga hasil
panen komoditas padi dan PEMDA terkait. Alur kredit pembiayaan tersebut dapat
32
6
KERJASAMA
Bapak Angkat dan Bank :
- Merekomendasikan Kelompok Tani
- Memasarkan Hasil Panen
- Pengembalian Pinjaman
Bapak Angkat dan Perusahaan Benih :
- Sarana Pertanian
PERUSAHAAN BENIH/ PENYEDIA SAPRODI
BAPAK ANGKAT
BANK
Ketua Kelompok Tani (Rekomendasi Bapak
Angkat dan atau Perusahaan Benih)
Penyaluran
Saprodi
Pengajuan
Pinjaman
Hasil Panen
Pengembalian Pinjaman
Penyediaan Saprodi
1
5
4
3
Pembiayaan
2
Sasaran pembiayaan adalah para petani yang tergabung dalam kelompok tani yang
menerima penyaluran kredit secara bertahap (sesuai dengan jadwal tanam dari
perusahaan benih) melalui bapak angkat dan atau perusahaan benih. Dalam hal ini,
kredit yang diterima adalah dalam bentuk benih dan saprodi. Pokok dan bunga
pinjaman (2% / bulan) dikembalikan secara sekaligus oleh Bapak Angkat melalui hasil
panen dengan sistem tanggung renteng. Untuk menghindari terjadinya gagal panen
akibat kesalahan teknis penanaman padi, Petugas Pengawas Lapangan (PPL) dan
Field Asisstant
padi hibrida akan melakukan pengawalan dan pembinaan pada
petani sejak proses penyemaian sampai dengan pemanenan komoditas ini.
Skim kredit yang terbilang baru di Provinsi Sulawesi Utara ini dipandang dapat
mengakomodir kepentingan berbagai pihak.
Permasalahan klasik perbankan dalam
pembiayaan sektor pertanian berupa tingginya resiko gagal bayar dapat
33
penyalahgunaan kredit oleh petani (
moral hazard
) melalui pencairan kredit dalam
bentuk benih dan saprodi, pencegahan risiko gagal panen melalui pendampingan
petani oleh PPL , dan pencegahan risiko kredit macet melalui penerapan sistem
tanggung renteng.
Para petani yang tergabung dalam kelompok tani memperoleh manfaat berupa
meningkatnya hasil produksi per areal penanaman dengan jaminan pemasaran hasil
panen. Produksi para petani akan dipasarkan melalui bapak angkat dan apabila
terdapat kendala dalam pemasaran, BULOG bersedia menjadi penyangga dengan
membeli beras seharga Rp 4.600,- per kilogram, yang nantinya akan dituangkan
dalam nota kesepahaman antara pihak Bulog, PT. BAG dan PEMDA. Pola
pembiayaan semacam ini diharapkan dapat merangsang pembangunan pertanian di
Provinsi Sulawesi Utara sehingga program revitalisasi pertanian “Sulut Menanam”
dengan target swasembada beras tahun 2010 dapat tercapai.
ANALISA USAHA TANI PENANAMAN PADI HIBRIDA
Kuantitas
8 ton/ ha 5 ton/ ha 3 ton/ ha
INHIBRIDA
Benih 750,000.00 150,000.00
Saprodi 2,031,760.00 1,538,960.00
Tenaga Kerja 1,650,000.00 1,500,000.00
Panen 1,600,000.00 1,475,000.00
TOTAL INPUT 6,031,760.00 4,663,960.00
OUTPUT (HASIL) 19,200,000.00 *) 12,000,000.00
PENDAPATAN 13,168,240.00 7,336,040.00
PENINGKATAN PENDAPATAN
*) Asumsi Produksi Konservatif 8 ton GKP/ Ha, & Harga GKP Rp 2.400,-DAYA HASIL LEBIH TINGGI
- Padi Hibrida Bernas - Padi Inhibrida - Peningkatan Hasil
Catatan : Hasil Panen Tertinggi Budidaya Padi Hibrida Bernas di Indonesia adalah 14,7 ton GKP per ha
5,832,300 HIBRIDA BERNAS
URAIAN
34
BAB II PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH
Secara umum, tekanan harga barang dan jasa di Kota Manado selama Triwulan II Tahun
2009 memperlihatkan adanya penurunan dibandingkan periode-periode sebelumnya. Pada
Juni 2009, inflasi kota Manado tercatat 2,25% (y.o.y), lebih rendah dibandingkan dengan
akhir triwulan lalu yang tercatat sebesar 8,85% (y.o.y) dan periode yang sama tahun lalu
sebesar 13,18% (y.o.y). Demikian pula jika dibandingkan dengan laju inflasi nasional yang
sebesar 3,65% (y.o.y) maka laju inflasi Kota Manado masih lebih rendah.
Grafik 2.1
Laju Inflasi Kota Manado Vs Nasional (Y.o.Y)
0 2 4 6 8 10 12 14 16 Ju n Ju l Ag u st Se p Ok t No p De s Ja n Fe b Ma r Ap r Me i Ju n Ju l A g us t Se p Ok t No p De s Ja n Fe b Ma r Ap r Ma y Ju n 2007 2008 2009 %
YOY Nasional YOY Manado
-2 -1 0 1 2 3 4 Ju n Ju l Ag u st Se p Ok t No p De s Ja n Fe b Ma r Ap r Me i Ju n Ju l A g us t Se p Ok t No p De s Ja n Fe b Ma r Ap r Ma y Ju n 2007 2008 2009 % MTM Manado MTM Nasional Grafik 2.2
Laju Inflasi Kota Manado Vs Nasional (M.t.M)
Sumber : BPS Nasional dan Provinsi Sulut, diolah Sumber : BPS Nasional dan Provinsi Sulut, diolah
A. INFLASI TAHUNAN (Y.o.Y)
Inflasi tahunan Kota Manado sepanjang Triwulan II Tahun 2009 cenderung mengalami
trend penurunan yang cukup signifikan. Pada awal triwulan laporan, laju inflasi tahunan tercatat 7,44% (y.o.y), kemudian turun pada Mei 2009 menjadi 6,09% (y.o.y), dan kembali
turun signifikan pada akhir periode menjadi 2,25% (y.o.y). Kondisi ini sejalan dengan laju
inflasi nasional yang juga terus mengalami penurunan. Laju inflasi nasional pada awal
Triwulan II Tahun 2009 tercatat 7,31% (y.o.y), menurun menjadi 6,04% (y.o.y) pada Mei
2009, dan terus turun hingga mencapai 3,65% (y.o.y) di akhir periode laporan.
Berdasarkan penyebabnya, laju inflasi dapat disumbangkan oleh faktor non fundamental
35
melambat sebagai dampak dari krisis ekonomi global. Faktor paling utama adalah dampak
turunnya harga minyak dan komoditas pertanian dunia. Resesi global yang sedang terjadi
membuat permintaan minyak dan komoditas pertanian turun. Selain itu tekanan inflasi yang
terus menurun juga disebabkan oleh hilangnya dampak kenaikan harga bahan bakar
minyak (BBM) dari angka inflasi tahunan (harga BBM dinaikkan pada minggu terakhir bulan
Mei 2008). Per