• Tidak ada hasil yang ditemukan

132763297 makalah Landasan Pendidikan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "132763297 makalah Landasan Pendidikan"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Pengertian Pendidikan

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Landasan Pendidiakan

Program Studi Pendidikan Teknologi Agroindustri

Oleh :

Asri Najmi Fathillah Kukuh Hadiatma Tania Fauzia Iqbal

Tedy Tarudin Tri Winarni

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNOLOGI AGROINDUSTRI FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan tepat waktu.

Makalah ini didisusun bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Landasan Pendidikan. Dalam makalah ini dibahas mengenai pengertian pendidikan yang terbagi menjadi tiga bagian, diantaranya pengertian pendidikan berdasarkan ruang lingkup, pengertian pendidikan berdasarkan pendekatan ilmiah, dan pengertian pendidikan berdasarkan sistem.

Makalah ini diharapkan pula dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran dengan maksud dapat memperoleh wawasan secara komprehensif dan fungsional tentang pengertian pendidikan sebagai kebutuhan manusia.

Akhirnya kami ucapkan terima kasih pada berbagai pihak yang telah membantu kelancaran penyusunan makalah ini.

Bandung, Februari 2011

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI...ii

BAB I PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang...1

B. Rumusan Masalah...3

C. Tujuan Penyusunan...3

BAB II PEMBAHASAN...4

A. Pengertian Pendidikan Berdasarkan Ruang Lingkup...4

1. Pengertian Pendidikan Maha Luas...4

2. Pengertian Pendidikian Secara Sempit...4

3. Pengertian Pendidikan Luas Terbatas...5

B. Pengertian Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Ilmiah...7

1. Pengertian Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Psikologi...9

2. Pengertian Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Sosiologi...10

3. Pengertian Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Antropologi...11

4. Pengertian Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Politik...12

5. Pengertian Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Ekonomi...14

C. Pengertian Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Sistem...15

(4)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia dalam melaksanakan fungsi-fungsi kehidupan tidak terlepas dan tidak akan lepas dari pendidikan, karena pendidikan berfungsi untuk meningkatkan kualitas manusia baik individu maupun kelompok, baik jasmani, rohani, spiritual, material, maupun kematangan berpikir, dengan kata lain untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Pendidikan, pada dasarnya adalah proses komunikasi yang di dalamnya mengandung transformasi pengetahuan, nilai-nnilai dan keterampilan-keterampilan, di dalam dan di luar sekolah yang berlangsung sepanjang hayat (life long process),dan generasi ke generasi.

Pendidikan dilihat dari sudut pandang tertentu akan berbeda pengertiannya akan tetapi maksudnya tertuju pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan berencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

(5)

usaha menyiapkan agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah. Dalam arti sempit pendidikan sama halnya dengan pengajaran, walaupun demikian di dalam proses pendidikan akan tercakup pula pengajaran sebagai salah satu bentuk kegiatan pendidikan.

Melihat beberapa pengertian pendidikan tersebut, maka untuk merumuskan pengertian pendidikan secara memadai memang kompleks, sebab pengertian pendidikan dapat dipandang dari berbagai bentuk, aspek, unsure, dipandang dari setiap disiplin ilmu, dasar falsafahnya. Tetapi tidaklah merisaukan dari setiap pengertian pendidikan, yang terpenting adalah makna pengertiannya dalam konteks pengembangan sumber daya manusia.

Kita selaku bangsa Indonesia yang berada sekarang ini tentunya lebih condong dan lebih focus pada pengertian pndidikan menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003, karena mau tidak mau hendak melaksanakannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Walaupun demikian para ahli pendidikan dalam merumuskan pengertian pendidikan merupakan wahana dalam menafsirkan pendidikan bersifat lebih komprehensif, lebih kaya dipandang dari berbagai sudut disiplin ilmu yang berbeda.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengertian pendidikan berdasarkan ruang lingkup? 2. Bagaimana pengertian pendidikan berdasarkan pendekatan ilmiah? 3. Bagaimana pengertian pendidikan berdasarkan pendekatan system?

C. Tujuan Penyusunan

1. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah Landasan Pendidikan. 2. Menafsirkan pendidikan secara komprehensif.

(6)

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendidikan Berdasarkan Ruang Lingkup

Pengertian pendidikan berdasarkan ruang lingkup dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu:

(7)

2. Pangertian pendidikan luas terbatas 3. Pengertian pendidikan secara sempit

1. Pengertian Pendidikan Maha Luas

Pengertian pendidikan maha luas maksudnya pendidikan adalah hidup, pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup, pendididkan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan manusia/individu tidak semua pengalaman dapat disebut pendidikan, pengalaman-pengalaman positif dan kostruktiflah yang dapat disebut pendidikan, kerena tujuannya adalah untuk meningkatkan harkat martabat itu sendiri. Pendidikan pada dasarnya akan terjadi apabila adanya interaksi dan unterlerasi antar setiap manusia, maka dari itu pendidikan dapat berlangsung dimana, kapan, dan pada siapa saja tidak terbatas pada kurun waktu tertentu tetapi berlangsung sepanjang masa. Tujuan pendidikan secara luas terarah pada apa yang ingin dicapai selama hidup atau sama dengan tujuan hidup yang sempurna material, spiritual, sehat lahir dan bathin serta menyangkut seluruh aspek kepribadian manusia.

2. Pengertian Pendidikan Secara Sempit

Pengertian pendidikan secara sempit adalah pengajaran yang diselenggarakan di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Pendidikan adalah segala pengaruh yang di upayakan sekolah terhadap anak dan remaja yang diserahkan kepadanya agar mempunyai kemampuan yang sempurna dan kesadaran penuh terhadap hubungan-hubungan dan tugas-tugas sosial ( Redja Mudyaharjo, 2001:6 )

Beberapa ciri-ciri pengertian pendidikan secara sempit:

a. Bersifat terbatas baik dari segi waktu,pelaksanaan,materi atau isi pembelajaran ruang lingkup kegiatan maupun tujuan yang ingin di capai.

b. Proses pembelajaran pada suatu kurun waktu yang ditentukan dan disesuaikan menurut program kurikulum. c. Proses interaksi hanya terjadi antara guru dan siswa yang di

tunjang oleh unsur-unsur lain .

(8)

e. Karena bersifat terbatas maka tujuan pendidikan mengutamakan pemupukan intelektual dan kemampuan serta keterampilan tertentu yang berhubungan langsung dengan materi pembelajaran.

3. Pengertian Pendidikan Dalam Arti Luas Terbatas

Pengertian pendidikan dalam arti luas terbatas adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat dimasa yang akan datang (Redja Mudyaharjo,2001:11) pengertian pendidikan ini merupakan jalan tengah antara pengertian pendidikan secara sempit.

Pendidikan berlangsung pada situasi tertentu dan dilaksanakan secara terprogram pada setiap jenis, jenjang dan bentuk pendidikan. Lingkungan pendidikan ditentukan berdasar keperluan, apakah pendidikan formal, nonformal atau pendidikan informal. Tujuan pendidikan adalah sebagai penunjang dalam mencapai tujuan hidup manusia.

Karakteristik pengertian pendidikan makna maha luas, luas terbatas dan sempit menurut Redja Mudyahardjo (2001) gambarnya sebagai berikut :

No.

Karakteristik Pengertian Pendidikan

Makna Luas Sempit Luas Terbatas

(9)

diciptakan maupun

(10)

pencapaian tujuan hidup

B. Pengertian Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Ilmiah

Berbicara tentang pendidikan berdasarkan pendekatan ilmiah maka terlebih dahulu perlu berbicara tentang pendekatan ilmiah dalam pendidikan

Ciri-ciri pendekatan ilmiah dalam pendidikan :

a. Analisis : maksudnya menjabarkan sesuatu hal dalam unsur-unsur yang lebih kecil, karena dalam pendidikan ada batas-batas tertentu dipandang dari sudut ilmiah tertentu, seperti: sosiologi, antropologi, politik, ekonomi dan sebagainya b. Deskriptif : maksudnya menggambarkan secara terperinci

tentang unsur-unsur kependidikan yang menjadi objek penyelidikan.

c. Empiris : maksudnya mengungkapkan prinsip-prinsip pendidikan berdasarkan peristiw-peristiwa yang terjadi dalam pendidikan dengan menggunakan prosedur kerja yang cermat, terencana, melalui pendirian dan berdasarkan pikiran yang logis.

d. Asumsi : memulai dengan suatu asumsi maksudnya suatu pendapat yang diakui kebenarannya tanpa pembuktian, dengan kata lain suatu pendapat dalam suatu disiplin ilmu tertentu dalam pendidikan sudah diakui kebenarannya oleh para pemerhati pendidikan.

Henderson (1960:03) menyabutkan ada dua pendekatan dalam pendidikan,yaitu:

1 Pendekatan filsafat yang digunakan dalam pendidikan ( philosophy of Education)

(11)

Pendekatan ilmiah dalam pendidikan lebih diarahkan pada pendidikan sebagai empiris artinya di dasarkan pada peristiwa-peristiwa yang sifatnya praktis di lapangan dan di dasarkan apa adanya yang terjadi (das sein). Cara-cara yang dilakukan didasarkan pada pendekatan kuantitatif melalui pengamatan, eksperimen, verifikasi, perhitungan dan analisis secara cermat, terecana dan penuh tanggung jawab.

1. Pengertian Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Psikologi

Psikologi adalah studi tentang kegiatan-kegiatan atau tingkah laku individu dalam keseluruhan ruang hidupnya, dari dalam kandungan sampai balita, dari masa kanak-kanak sampai masa dewasa, serta masa tua, (Wood Ward dan Mrquis) yang diungkap Redja Mudyaharjo (2001:20).

Ada beberapa karakteristik individu sebagai bahan kajian dalam pendidikan, seperti yang disampaikan oleh Callahan dan Clark yang diungkap oleh Redja Mudyaharjo (2001:21), adalah sebagi berikut : (1) Unik (ada perbedaan individual, (2) Banyak kesamaan daripada perbedaannya, (3) Mempunyai berbagai diri, (4) Sebuah organisme total, (5) Mempunyai kesiapan bertindak, (6) Mempunyai tugas-tugas perkembangan, (7) Mempunyai berbagai kebutuhan, (8) Mempunyai kecenderungan-kecenderungan umum dalam bertingkah laku, (9) Mempunyai tujuan-tujuan khusus, dan (10) Mempunyai motivator-motivator dirinya sendiri. Krakteristik tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia dan merupakan dasar dalam proses pendidikan, khususnya dalam proses pembelajaran, karena setiap individu dalam hal ini siswa dituntut dapat mengembangkan segala potensi dirinya dari aspek kognitif, efektif, dan psikomotor.

(12)

dan aspek psikomotor yang merupakan bagian untuk melakukan kegiatan motorik dalam suatu perbuatan.

Pandangan-pandangan psikologi tersebut kiranya mengarah pada pola ideografis (The Idografic Style), yang menekankan pada tuntutan-tuntutan individu. Pengertian pendidikan adalah personalisasi peranan (Personalization of Roles), atau dapat dikatakan pula bahwa pengertian pendidikan dari sudut pandang psikologis adalah individualisasi atau proses pengembangan individu.

2. Pengertian Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Sosiologi

Disiplin ilmu juga menopong terhadap pendidikan seperti sosiologo yaitu studi tentang interaksi antara individu dalam bermasyarakat. Selo Soemardjan (1972:14) menyebutnya ilmu yang mempelajari struktur sosial, proses sosial, termasuk perubahan sosial. Manusia hidup tidak lepas melakukan melakukan hubungannya dengan manusia lain atau dengan kelompok lain dalam bermasyarakat. Pendidikan merupakan hubungan atau interaksi dan interrelasi antar manusia dengan manusia, karena tanpa adanya interrelasi antara manusia maka pendidikan tidak akan terjadi.

Ada beberapa pendapat tentang karakteristik masyarakat yang dihimpun Redja Mudyaharjo (2001:22) antara lain : (1) Pengalaman kita dengan orang lain di sekitar kita, (2) Tingkah laku kelompok, hubungan-hubungan di antara manusia, dan faktor-faktor yang termasuk dan terjadi di dalam hubungan-hubungan manusia, (3) Interaksi dan interrelasi manusia, (4) Sistem, dan (5) Kelompok dengan suatu budaya yang terorganisasi untuk memberikan kepuasan bagi kebutuhan dan kepentingan semua.

(13)

Pandangan sosiologis tersebut mengarah pada pola kegiatan sosial yang bersifat pola nomotheis (The nomothetic style), yang menekankan pada tuntutan institusi atau pranata sosial. Pendidikan adalah proses sosialisasi individu (socialization of personality) dengan kata lain disebut proses menjadikan anggota masyarakat yang diharapkan (sosialisasi).

3. Pengertian Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Antropologi

(14)

Budaya tersebar secara seragam oleh anggota masyarakat, (6) Tingkah laku kultural menjadi sebuah cara hidup, dan (7) Budaya terus menerus berubah (Redja Mudyaharjo, 2001:19).

Selaku guru, atau pendidik yang telah mengenyam pendidikan dan pengalaman, baik setelah mengikuti pendidikan formal maupun dalam mengikuti kegiatan-kegiatan kemasyarakatan tentunya telah “banyak” menimba ilmu, yang merupakan modal dalam melaksanakan tugas mengajar atau dalam melaksanakan fungsi-fungsi kehidupan. Modal yang diperoleh merupakan alih budaya dari generasi sebelumnya sebagai bahan bagi pengembangan dirinya dala mengalihkan kembali budaya yang ada pada dirinya bagi orang lain atau siswa/terdidik. Ungkapan tersebut sebagai ilustrasi saja antara guru dan siswa di sekolah, tetapi makna yang terpenting kajian antropologi terhadap pendidikan adalah proses pemindahan budaya dari suatu generasi ke generasi berikutnya atau disebut enkulturasi.

4. Pengertian Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Politik

Pendidikan dipandang dari sudut politik mengarah pada ketatanegaraan dalam berbangsa dan bernegara. Politik atau ilmu politik merupakan ilmu yang mempelajari tentang ketatanegaraan. Menurut Broom dan Selznick (1958) yang diungkap oleh Redja Mudyoharjo (2001:24) menyebutkan bahwa politik atau ilmu politik adalah studi tentang pemerintahan negara. Kita selaku manusia yang berada dalam suatu wilayah negara mau tidak mau harus mengikuti tentang apa yang terjadi pada politik yang sedang dilaksanakan oleh negara, oleh karena itulah maka setiap manusia hendaknya “patuh” dan “taat” pada suatu ketentuan-ketantuan yang dilaksanakan dalam percaturan politik. Patuh dan taat bukanlah bersifat apatis tetapi kita selaku manusia yang hidup dalam suatu negara patut untuk selaku membangun sendi-sendi kehidupan yang bersifat demokratis dalam upaya memajukan kehidupan berbangasa dan bernegara yang lebih maju.

(15)

mengikuti kehidupan berpolitik. Bidang-bidang kajian ilmu politik menurut Unesco terdiri dari : (1) Teori politik, (2) Lembaga-lembaga poltik, (3) Partai-partai politik, kelompok-kelompok politik, dan pendapat umum, (4) Hubungan-hubungan Internasional (Redja Mudyoharjo, 2001:24). Semua pandangan tersebut dirasakan di negara kita dan nampaknya diadopsi yang merupakan pijakan dalam upaya memajukan masyarakat Indonesia dalam percaturan politik, baik percaturan politik dalam negeri maupun Internasional.

Selaku guru atau pendidik maka yang hendak dilakukan adalah mengerti tentang pendidikan politik yang kiranya dapat disebarluaskan pada para siswa atau terdidik dalam upaya membangun bangsa (Nation and Character Building) menuju masyarakat yang lebih maju.

Politika atau ilmu politik dalam hubungan dengan pendidikan merupakan dasar dalam pengelolaan pendidikan secara makro, karena mau tidak mau sistem pendidikan yang dianut akan selalu tergantung pada sendi-sendi politik yang dilakukan dalam suatu kurun pemerintahan yang memegang kekuasaan. Demikian juga politik suatu negara akan berdampak pada terjalinnya kerjasama Internasional di bidang pendidikan, pendidikan politik, dan pentingnya pendidikan kewarganegaraan. Pengertian pendidikan dari sudut pandang ilmu politik atau politika adalah civilisasi atau proses menjadi warga negar yang diharapkan.

5. Pengertian Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Ekonomi

(16)

Menurut pandangan ekonomi bahwa manusia adalah enimal economicus atau binatang yang melakuakan kegiatan-kegiatan ekonomi, artinya binatang yang selalu berupaya memperoleh kebutuhan dirinya. Manusia dalam melakukan kegiatan ekonomi akan berhubungan dengan bidang konsumsi, produksi, distribusi, dan pertumbuhan sepanjang waktu.

Ekonomi merupakan penopang bagi pendidikan karena segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan pendidikan akan ditentukan dengan perhitungan ekonomi, karena kondisi ekonomi akan mempengaruhi kemampuan dan kegiatan pendidikan. Prinsip ekonomi menyebutkan bahwa dengan modal yang dikeluarkan seminimal mungkin diharapkan dapat memperoleh keberhasilan semaksimal mungkin dan dalam pendidikan diartikan sebagai human investment atau penanaman modal dalam sumber daya manusiaditinjau dari ekonomi makro, artinya bagaimanakah modal yang telah dikeluarkan oleh manusia dalam pendidikan diharapkan dapat diperoleh kembali modalnya plus keuntungannya. Sedangkan pendidikan ditinjau dari sudut mikro ekonomi adalah profesionalisasi, artinya bagaimanakah modal yang telah ditanamkan dalam pendidikan dapat diperoleh keuntungannya menjadi manusia yang profesional.

C. Pengertian Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Sistem

Banyak ahli yang membataskan pengertian sistem, diantaranya Campbell (1979:3) bahwa: “system as any group of interrelated components or parts which function together to achieve goal”, sistem adalah sekumpulan komponen atau bagian-bagian yang saling berkaitan satu sama lain yang berfungsi untuk mencapai suatu tujuan. Pengertian sistem yang dikemukakan oleh Elias M Award (1979:4) “...can be defined as an organized group of components (subsystems) linked together according to a plan to achieve a specific objective”, sistem adalah sekumpulan komponen-komponen atau subsystem yang terorganisir satu sama lain sesuai dengan rencana untuk mencapai satu tujuan.

(17)

tersebut saling berpengaruh dengan fungsinya masing-masing, tetapi secara fungsi komponen-komponen itu terarah pada pencapaian suatu tujuan.

Berdasarkan ketiga pandapat tersebut ada beberapa makna yang terkandung dalam pengertian sistem, yaitu:

1. Adanya sekumpulan atau keseluruhan.

2. Sekumpulan terdiri dari komponen-komponen atau bagian-bagian.

3. Komponen dan bagian-bagian merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan. 4. Komponen-komponen atau bagian-bagian mempunyai hubungan satu

sama lain atau secara bersama-sama.

5. Setiap komponen mempuyai peranan dan fungsinya masing-masing. 6. Adanya suatu tujuan.

Karakteristik teori sistem di ungkap oleh Redja Mudyahardjo (2001:41), adalah sebagai berikut:

1. Keseluruhan merupakan yang utama dan bagian-bagian merupakan hal yang kedua.

2. Adanya kesatuan dari setiap bagian-bagian.

3. Bagian-bagian membentuk keseluruhan yang tak dapat dipisahkan. 4. Setiap bagian-bagian memainkan peranannya.

5. Setiap bagian dan fungsinya diatur oleh keseluruhan dalam hubungan-hubungannya.

6. Keseluruhan merupakan sebuah yang kompleks atau sebuah komfigurasi dari energi dan berperilaku seperti sesuatu unsur tunggal yang tidak kompleks.

7. Harus dimulai dari keseluruhan sebagai suatu dasar, bagian-bagian dan hubungan-hubungan secara berangsur-angsur.

Gambaran tersebut merupakan keseluruhan yang menyatu dari setiap komponen atau subsistem yang berkaitan erat satu sama lain yang mempunyai peranan serta fungsi masing-masing berjalan seiring seirama dalam mencapai satu tujuan.

Disisi lain ada juga yang menambahkan unsur-unsur yang terdapat pada sistem, seperti: perencanaan, lingkungan, dan sebagainya tergantung dari sudut mana pengertian sistem itu diungkapkan.

Model sistem yang sederhana dan lazimnya para ahli menggambarkan model sisem ditinjau dari sudut input, proses, dan output, adalah sebagai berikut :

(18)

Model sistem yang sederhana

Redja Mudyahardjo (2001:43) mengungkapkan tentang unsur-unsur sistem ditinjau dari sudut input atau masukan, psoses, dan output atau hasil, gambarnya adalah sebagai berikut :

1. Masukan ( input ), adalah sumber-sumber yang ada dalam lingkungan atau suprasistem yang masuk dalam sistem, terdiri dari :

a. Informasi : informasi produk dan informasi operasional b. Energi dan tenaga

c. Bahan-bahan 2. Proses atau transformasi

Proses pengubahan masukan olahan menjadi hasil produksi atau jasa, yang dilakukan oleh manusia, atau mesin, atau manusia dengan mesin-mesin, terdiri dari :

a. Proses menejemen b. Proses fungsionsl c. Proses fungsional silang 3. Output atau hasil

Keluaran barang atau jasa yang diguakan lingkungan. Umar Titarahardja (1994:62) mengungkapkan gambaran sistem ditinjau dari sudut input, proses, dan output, sebagai berikut :

Gambar 2

Model sistem dilihat dari input, proses, dan output Lingkungan

Output Proses

Input

Raw Input

Outpu t Instrumental Input

(19)

Kedua pandangan tentang sistem tersebut merupakan analogi sistem dalam suatu pabrik dan merupakan ilustrasi model sistem pada umumnya yang tentunya dapat diadopsi dalam sistem pendidikan, tetapi kajiannya didasarkan pada masukan mentah manusia ( siswa yang akan mengikuti pendidikan ) dan keluarannya pun manusia ( manusia terdidik ).

Klasifikasi sistem yang diutarakan oleh William A Shode, Dan Vaich Jr (1974) sebagaimana diungkap oleh Tatang M Amirin (1992), diantaranya :

1. Sistem dipandang dari sudut wujudnya, yaitu :

a. Sistem fisik, merupakan sistem yang dengan sendirinya di muka bumi secara fisik, seperti sistem tata surya.

b. Sistem biologik, merupakan sistem makhluk hidup seperti : manusia, hewan, tumbuhan.

c. Sistem sosial, merupakan sistem dalam kelompok manusia, seperti : keluarga dan perkumpulan.

2. Sistem dipandang dari sudut asal-usulnya, terdiri dari :

a. Sistem alamiah, merupaka sistem benda-benda atau peristiwa-peristiwa alamiah, baik fisik maupun biologik.

b. Sistem buatan manusia, merupakan sistem yang dirancang, dilaksanakan, dan dikendalikan oleh manusia.

3. Sistem dipandang dari sudut hubungan dengan lingkungan, terdiri dari : a. Sistem terbuka, merupakan sistem yang selalu menerima pengaruh

dan masukan dari lingkungan.

b. Sistem tertutup, merupakan sistem yang tidak berhubungan dengan lingkungannya.

Klasifikasi sistem tersebut bila dikaitkan dengan pendidikan sebagai suatu sistem nampaknya akan berada pada sistem sosial, sistem terbuka, sistem buatan manusia.

Pendidikan sebagai sistem sosial dapat digambarkan dalam bentuk model input-output ataa sering dikenal dengan model CIPP (Context/lingkungan), input (masukan, proses, dan produk/output (hasil)), sebagai berikut :

(20)

Gambar 3

Model Input-Output Pendidikan

Input pendidikan adalah segala sesuatu yang menjadi masukan pendidikan, sebagai sistem yang berada dalam suatu lingkungan, berupa sistem pemerintahan, sistem agama, sistem bisnis, dan sistem-sistem lain yang ada dalam masyarakat. Masyarakat adalah suprasistem bagi sistem-sistem tersebut, termasuk sistem pendidikan. Sistem pendidikan menerima input dari masyarakat, berupa input mentah (raw input) berupa calon peserta didik, input lingkungan (environmental input) berupa tujuan pendidikan, filsafat pendidikan/filsafat sekolah, aspirasi masyarakat, tuntutan pembangunan masyarakat, dan input instrumental (pendidik/guru, kurikulum, buku, alat bantu belajar, sarana dan prasarana pendidikan, uang, dan sebagainya.

Pendidikan sebagai suatu sistem sebagaimana diungkap oleh Redja Mudyahardjo (2001:51-53) gambarannya adalah sebagi berikut :

1. Masukan pendidikan (input) a. Informasi

1) Informasi produk, berupa informasi tentang peserta didik/siswa. 2) Informasi operasional, seperti : informasi tentang penduduk,

barang-barang yang digunakan dalam pendidikan, pengetahuan/ilmu, dan sebagainya.

Lingkungan Lingkungan

Input Pendidikan Proses Pendidikan Hasil Pendidikan

(21)

b. Energi atau Tenaga

Masukan tenaga yang terlibat dalam pendidikan, seperti : tenaga kependidikan/guru, penduduk yang terlibat dalam sistem pendidikan. c. Bahan-bahan

Sumber-sumber bukan manusia yang terlibata dalam sistem pendidikan :

1) Barang-barang produksi seperti : buku pelajaran, alat peraga, dan sebagainya.

2) Penghasilan nasional (APBN, APBD) yang disediakan untuk pendidikan, seperti : BOS, SPP, dan sebagainya.

2. Transformasi

6) Sarana dan teknologi pendidikan 7) Biaya pendidikan

8) Tenaga pendidikan 9) Peserta didik b. Bentuk Transformasi

1) Transformasi administratif/managerial pendidikan, yaitu proses pengelolaan pendidikan nasional oleh pemerintah

2) Transformasi operasional/teknis pendidikan, yaitu proses pengelolaan pendidikan oleh sekolah dan pendidikan luar sekolah 3. Hasil

a. Orang-orang terdidik yang mempunyai kemampuan : kognitif, afektif, dan psikomotor.

b. Orang-orang terdidik dapat berperan sebagai :

1) Seseorang yang mau mengembangkan kemampuannya/terus belajar.

(22)

BAB III

KESIMPULAN

(23)

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Bonita J., (1979). Understanding Information System. Prentice-Hall of India. New Delhi.

Henderson, Stella van Petten., (1959). Introduction to Philosophy of Education (Terjemahan). The University of Chicago Press. Chicago.

Mudyahardjo, Redja., (2001). Pengantar Pendidikan. PT RAJA Grafindo Persada. Jakarta.

Gambar

Gambar 2Model sistem dilihat dari input, proses, dan output
Gambar 3

Referensi

Dokumen terkait

Pendidikan itu ialah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan yang berlangsung di sekolah dan

Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah

Pendidikan adalah sebagai sebuah usaha sadar dari pendidik kepada peserta didik yang melalui bimbingan, pengajaran dan latihan untuk membantu peserta didik

Jadi, dengan memadukan kedua pengertian pendidikan seni adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan agar menguasai

Kata kunci: guru pendidikan agama islam, akhlak, moral Pendahuluan Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah, melalui kegiatan

Menurut Edgar Dalle dalam Jurnal Pendidikan Islam karya Aas Siti Sholichah menyebutkan, pendidikan sebagai usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah melalui

Pendidikan Nasional adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang  Tujuan pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan yang berlangsung di sekolah sepanjang hayat,