Tri Lisiani Prihatinah, Noor Asyik, dan Kart ono
Fakult as Hukum Universit as Jenderal Soedirman E-mail: t lisiani@yahoo. com
Abst r act
In Ci l acap, mi gr ant wor ker s ar e t he second l ar gest cont r i but or s of f or ei gn exchange af t er oi l and gas sect or . It 's j ust t he cont r i but i on of mi gr ant wor ker s i s not consi st ent wi t h t he pr ot ect i on pr ovi ded by t he gover nment , seen by t he i ncr easi ng cases of abuse, sexual viol ence and t r af f i cki ng. Thi s r esear ch l ocat ed i n Ci l acap Dist r i ct usi ng nor mat ive-sociol ogi cal appr oach t o analyze t he pr obl ems of mi gr ant wor ker s i n t he nor mat i ve and empir i cal l evel s. The r esul t s showed t hat t he nor mat ive pr ovi sions at t he nat i onal l evel have not been abl e t o r each t he whol e pr obl emat i cs of ser vi ce and pr ot ect i on of mi gr ant wor ker s i n t he Dist r i ct . The nor mat i ve pr obl ems incl ude t he over l appi ng of t he r egul at ion, dupl i cat i on of r egul at ion, and pr ovisi on mul t i pl e i nt er pr et at ions t hat compl i cat e it s appl i cat ion. Legi sl at ion i n gener al i s al so not r eachi ng abuses of admi ni st r at ion of f i ci al s. Whi l e t he r esul t s of an empir i cal st udy i l l ust r at e t hat t he compl ai nt s of viol ence agai nst mi gr ant wor ker s conduct ed l ar gel y by par ent s and migr ant wor ker s ar e most l y f r om poor f ami l ies.
Key wor ds: mi gr ant wor ker s, pr ot ect ion, local r egul at i on
Abst rak
Di Cilacap, Buruh Migran merupakan penyumbang devisa negara t erbesar kedua set elah sekt or migas. Hanya saj a sumbangan buruh migran t ersebut t idak sej alan dengan perlindungan yang diberikan oleh pemerint ah, t erlihat dengan meningkat nya kasus penganiayaan, kekerasan seksual, dan perdagangan orang. Penelit ian yang berlokasi di Kabupat en Cilacap ini menggunakan met ode pendekat an normat if -sosiologis unt uk menganalisis problemat ika buruh migran dalam t at aran normat if dan empiris. Hasil penelit ian menunj ukkan bahwa ket ent uan normat if di t ingkat pusat belum bisa menj angkau keseluruhan problemat ik pelayanan dan perlindungan buruh migran di Kabupat en. Adapun problem normat if t ersebut t ermasuk masih t erdapat nya ket ent uan hukum yang membingungkan, duplikasi pengat uran, maupun ket ent uan mult it af sir yang menyulit kan penerapannya. Perat uran perundang-undangan secara umum j uga belum menj angkau pelanggaran yang dilakukan pej abat administ rasi. Sement ara hasil penelit ian empiris menggambarkan bahwa pengaduan kekerasan t erhadap buruh migran dilakukan sebagian besar oleh orang t ua buruh migran yang bermasalah dan kebanyakan buruh migran t ersebut berasal dari keluarga miskin.
Kat a kunci: buruh migran, perlindungan, perat uran daerah
Pendahuluan
Buruh Migran menj adi penyumbang devisa negara t erbesar kedua set elah sekt or migas. Di Kabupat en Cilacap, buruh migran bahkan me-nyumbang r emit t ance bagi kabupat en lebih da-ri Rp. 372 milyar pada t ahun 2009.1 Jumlah ini berart i lebih dari t iga kali dari pendapat an asli
Art ikel ini merupakan art ikel hasil penel i t i an Riset Unggul an Uni versit as Jender al Soedirman Tahun 2011
1
Eddi Soppandi, “ Sel ayang Pandang Prof il Tenaga Kerj a Indonesi a di Hongkong”, Jur nal Sosi ohumani or a, Vol . V No. 1 2003, Uni versit as Padj aj ar an Bandung, hl m. 16.
Menurut Musni Umar, salah sat u akar ma-salahnya j ust ru t imbul karena konst ruksi UU No. 39/ 2004 t ent ang Penempat an dan Perlin-dungan Tenaga Kerj a Luar Negeri (UU PPTKLN) t idak mampu melindungi calon t enaga kerj a. Kekurangan UU PPTKLN menj adikan perlindung-an t erhadap BMI t idak bisa maksimal. Karena it u, kebut uhan unt uk merevisi undang-undang t ersebut saat ini sangat mendesak unt uk dila-kukan. Sayangnya, hingga saat ini DPR belum pernah membahas revisi UU PPTKLN. Dalam t iga bulan masa sidang t ahun 2010, meskipun Rancangan Undang-undang (RUU) Pembant u Ru-mah Tangga sudah dibahas dua kali, t et api revi-si UU PPTKLN yang lebih urgen unt uk melindu-ngi t enaga kerj a luar negeri belum dibahas sa-ma sekali.2
Masalah di at as berkait dengan kelemah-an kebij akkelemah-an sosial dalam undkelemah-ang-undkelemah-ang se-dikit banyak dapat dit ekan j ika pemerint ah daerah cukup kreat if dalam mengawasi prakt ek perekrut an calon t enaga luar negeri.3 Sebagai pemasok langsung calon t enaga kerj a pemerin-t ah daerah dapapemerin-t menerbipemerin-t kan perapemerin-t uran dae-rah (perda) yang dapat menut up kelemahan UU PPTKLN dengan melindungi warganya sebagai calon t enaga kerj a. Ini t elah dilakukan bebera-pa pemerint ah daerah dengan menerbit kan per-da penempat an t enaga kerj a di luar negeri, dimana produk hukum yang sama dapat dilaku-kan oleh Kabupat en Cilacap unt uk melindungi warganya dari prakt ek perekrut an yang melang-gar hak calon t enaga kerj a.
Pembangunan ekonomi di negara maj u t elah mendorong upah dan kondisi lingkungan kerj a ke t araf yang lebih t inggi. Percepat an pembangunan ekonomi ini meningkat kan pula kebut uhan t enaga kerj a dalam j umlah t ert ent u. Secara umum, permint aan t enaga kerj a t erlat ih di negara maj u dipenuhi dari negara maj u lain-nya, sedangkan permint aan akan t enaga kerj a t idak t erlat ih banyak didat angkan dari negara
2 SBMI, 2010, St r at egi Advokasi Peker j a Mi gr an, Makal ah
Pel at ihan dan Pembekal an TKI/ TKW yang di sel enggara-kan LSM Perempuan Pedul i, Lumaj ang.
3
Abdul l ah Sul aiman (a), ” Tunt ut an Ekonomi Mempenga-ruhi Perbur uhan Pasca Kemerdekaan: Kaj i an Hi st ori s Perl indungan Hukum Kaum Buruh” dal am Jur nal Mi m-bar Il mi ah Hukum, Vol . 7 No. 1 2004, Universit as Isl am Jakart a, hl m. 111.
berkembang. Sebagian besar pekerj a migran dari negara berkembang ini umumnya t erdo-rong oleh upah yang relat if lebih t inggi diban-ding upah yang dit erima di negara asal.
Fakt or pendorong di at as sebenarnya me-rupakan hal yang waj ar j ika prosesnya dilalui berdasarkan krit eria yang dibut uhkan. Persoal-an menj adi lain mPersoal-anakala t enaga kerj a dari negara pengirim bermigrasi secara ilegal dan/ at au t anpa keahlian sert a persiapan yang diper-lukan. Kont eks ini memunculkan dua macam migrasi, yait u yang legal (resmi) dan yang ilegal (gelap). St at us gelap inilah yang kemudian me-nyebabkan pekerj a migran sangat rent an meng-alami permasalahan sosial-psikologis.4 Salah penyebabnya, para pekerj a migran t idak paham hak dan kewaj ibannya. Prosedur seleksi yang dilakukan t erhadap calon t enaga kerj a j uga t er-kesan sangat longgar. Persyarat an sepert i usia, daerah asal, surat izin orang t ua/ suami banyak yang t idak benar.
Migrant Care bahkan mencat at bahwa pa-da t ahun 2010 t erpa-dapat 45. 845 masalah buruh migran, sement ara pada t ahun 2009, t erdapat 5. 314 kasus kekerasan dan 1. 018 kasus kemat i-an buruh migri-an, di-an ini semua masih belum j elas penangananya sampai sekarang oleh ne-gara. Persoalan ini sebagian menimpa sebagian besar para Tenaga Kerj a Wanit a (TKW). Mereka adalah kelompok paling rent an t erj adinya pe-nyiksaan maupun pelecehan seksual.5 Sehingga t erj adilah f eminisasi buruh migran berupa do-minasi perempuan sebagai buruh migran t erma-suk kesengsaraan yang mereka derit a.6
Permasalahan
Unt uk it u masalah dalam art ikel penelit i-an ini adalah mengenai ident if ikasi t erhadap beberapa kendala baik yang normat if maupun sosiologis dalam memberikan perlindungan
4 Noel een Heyzer, 2002, Tr af f i cki ng, Mi gr asi , dan Gl o-bal i sasi, Radio Nederl and Werel domroep, edisi 6 Desember.
5 Migrant Care, 2010, Lemahnya Per l i ndungan Hukum Pembant u Rumah Tangga Mi gr an, t er sedia di websi t e ht t p: / / www. migrant care. net / di akses t anggal Sept em-ber 2011.
6
Tri Li si ani Prihat inah (a), “ Perl indungan Hukum Terha-dap Buruh Migr an: Femi ni s Legal Perspekt i f ” dal am
hukum kepada buruh migran.
Met ode Penelitian
Penelit ian dilakukan melalui met ode pen-dekat an normat if -sosiologis. Dengan met ode ini penelit ian dilakukan melalui dua t ahapan, yak-ni t ahapan kaj ian normat if dan t ahapan kaj ian empiris. Pada t ingkat normat if kaj ian dilakukan t erhadap hukum posit if yang berlaku yang t er-f okus pada ident ier-f ikasi normat ier-f t erhadap be-berapa ket ent uan yang membuka peluang t er-j adinya pelanggaran hak buruh migran. Pada t ahap empiris, kaj ian dilakukan dengan ident i-f ikasi t erhadap i-f akt or-i-f akt or sosial, budaya dan ekonomi yang melat arbelakangi seseorang un-t uk menj adi buruh migran inun-t ernasional.
Penelit ian dilakukan di Kabupat en Cila-cap sebagai salah sat u pemasok t erbesar t enaga kerj a luar negeri di Jawa Tengah t et api belum memiliki inst rumen hukum daerah yang bert u-j uan pada upaya merlindungi buruh migran luar negeri. Penelit ian dilakukan di 11 kecamat an sebagai pemasok ut ama buruh migran. Lokasi penelit ian t erbagi dalam dua wilayah, yait u wi-layah t imur kabupat en, yakni: Kecamat an Adi-pala, Binangun, Kesugihan, Kroya, dan Nusawu-ngu, dan enam kecamat an di wilayah barat , yakni: Kecamat an Cipari, Gandrungmangu, Ka-wungant en, Kedungrej a, Pat imuan, dan Keca-mat an Sidarej a.
Dat a yang t erkumpul mencakup dua j enis dat a, yakni dat a dokument er dan dat a lapang-an. Dat a dokumen berupa perat uran perun-dangan maupun dat a yang dokt rinal lainnya yang diperoleh dari kert as kerj a, hasil seminar, makalah maupun pendapat ahli lainnya. Dat a lapangan yang diperoleh dari pengamat an, wawancara dan kuesioner dikumpulkan dan di-seleksi kualif ikasinya sesuai permasalahan yang diaj ukan. Dat a selanj ut nya dilakukan analisis secara kualit at if . Met ode ini digunakan karena dat a yang t erkumpul bukan berupa angka-angka yang dapat dilakukan pengukuran (non para-met rik). Dalam hal dat a dokumen, khusus dat a yang diperoleh dari perat uran perundangan, analisis dilakukan sesuai aj aran int erpret asi yakni dengan met ode hermeneut ik. Met ode ini digunakan t erhadap isue hukum yang muncul
pada t at aran dogmat ik hukum, t erut ama kare-na adanya perbedaan pekare-naf siran hukum at au perbedaan penaf siran at as f akt a. Dat a lapangan yang diperoleh dari wawancara dikumpulkan dan diseleksi kualif ikasinya sesuai t uj uan pene-lit ian. Dat a ini disaj ikan dalam bent uk kut ipan, sedangkan dat a yang diperoleh dari hasil kue-sioner disaj ikan dalam bent uk t abulasi dan di-analisis secara kuant it at if .
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) menet apkan t uj uan bangsa Indonesia merdeka unt uk melin-dungi segenap bangsa Indonesia’ dan ‘ mewu-j udkan kesemewu-j aht eraan umum. Konsekuensinya set iap WNI harus dibela dan dilindungi hak konst it usionalnya unt uk memperoleh perlindu-ngan hukum dan memperoleh penghidupan yang layak.7 Namun demikian kemampuan ne-gara unt uk menyediakan lapangan kerj a sangat t erbat as, sement ara animo masyarakat unt uk bekerj a di luar negeri yang meningkat . Gej ala ini serupa dengan yang t erj adi di Jawa Barat dimana semakin t erj adi peningkat an buruh mig-ran ke luar negeri.8 Unt uk it u pemerint ah me-nerbit kan UU No. 39 Tahun 2004 t ent ang Pe-nempat an dan Perlindungan Tenaga Kerj a Luar Negeri belum mampu melindungi t enaga kerj a Indonesia (TKI) di luar negeri secara maksimal. Meskipun begit u ini t idak berart i diperboleh-kannya ket iadaan perlindungan hukum apalagi inst rumen int ernasional j uga sudah mengat ur hal ini,9 diant aranya yait u sepert i diat ur dalam Pasal 23 Universal Declarat ion of Human Right s but ir (3), ”Ever yone who wor ks has t he r i ght t o
7
Subi yant o, ” Per an Negara dal am Hubungan Tenaga Ker-j a di Indonesia” Jur nal Pendi di kan dan Kebudayaan, Vol . 17 No. 6 2011, Badan Penel it i an dan Pengembang-an Depar t emen Pendi dikPengembang-an Nasional , hl m. 709.
8
Syari f Muhidin, M. Fadhil Nurdin, dan Tet i Asi ana Guna-wan, “ Kaj ian Masal ah Tenaga Kerj a Indonesi a (TKI) Asal Jawa Bar at di Saudi Ar abia dan Hongkong Sebagai Ba-han Penyusunan PERDA” , Jur nal Sosi ohumani or a, Vol . V No. 1 2003, Unpad, hl m. 5.
9 Tri Li si ani Pri hat inah (b), “ Legal Anal ysi s on Int erl ink
j ust and f avour abl e r emuner at ion ensur i ng f or hi msel f and hi s f ami l y an exist ence wor t hy of human di gnit y, and suppl ement ed, i f necessa-r y, by ot henecessa-r means of soci al pnecessa-r ot ect i on” . Bah-kan prakt ek di Cilacap cenderung membuka pe-luang bagi prakt ek percaloan dan perdagangan t enaga kerj a.10 Semua kendala yang ada dapat dikat egorikan menj adi kendala yuridis dan non-yuridis dalam memberikan perlindungan t erha-dap buruh migrant .
Kendala Yuridis Perlindungan Hukum t erha-dap Buruh Migran
Kedudukan t enaga kerj a yang t idak seim-bang menempat kan pemerint ah unt uk memberi kedudukan seimbang bagi buruh migran melalui perat uran perundangundangan yang menyeim-bangkan kedudukan buruh dengan PJTKI. Tet api anat omi UU PPTKLN memperlihat kan polit ik hu-kum pemerint ah yang kurang berpihak pada bu-ruh migran int ernasional. Persoalan ini menj adi lebih rumit ket ika UU PPTKLN karena adanya cacat yuridis yang t erj adi sej ak awal pemben-t ukan UU pemben-t ersebupemben-t sehingga sulipemben-t dioperasional-kan. Dalam aspek hukum kepidanaan misalnya, muncul ket ent uan dalam Pasal 1 but ir 15 yang menet apkan j ika ‘ orang adalah pihak or ang per seor angan at au badan hukum. Di lain pihak dalam ket ent uan pidana Pasal 102 dan 103 memberikan ancaman pidana bagi set iap or ang, yang t ent unya meruj uk pada pengert ian baik orang maupun badan hukum. Namun j ika dilihat t ernyat a ket ent uan pidana dalam Pasal 102 dan 102 karakt er hukuman lebih dit uj ukan pada ‘ orang perorangan” , t idak mencakup ancaman pidana bagi badan hukum, sepert i: Pemimpin badan hukum, orang yang menyuruh melakukan t indak pidana, at au yang menyuruh lakukan de-ngan pelaku secara bersama-sama. Jadi dapat disimpulkan j ika UU ini t idak hendak memenj a-rakan pelaku badan hukum, t et api hanya
10 Sukanda Husain, “ Perl i ndungan Hak-Hak Tenaga Kerj a
Indonesi a” Jur nal Konst i t usi , Vol . II No. 1 2009, Fakul -t as Hukum Univer si-t as Riau, hl m. 7; An-t ar i Nuryandani dan Kr ist i Poerwandar i, 2007, “ St rat egi Coping pada Penempat an Buruh Migran Indonesia yang Mengal ami Kekerasan di Ti mur Tengah” , Jur nal JPS, Vol . 13 No. 3 2007, Fakul t as Psikol ogi UI, hl m. 257.
j angkau orang perseorangan saj a. Karakt er ini menj adikan PJTKI sebagai badan hukum t idak mungkin dij at uhi pidana, meskipun UU it u me-ngat urnya. Undang-undang No. 39 t ahun 2004 belum memberi ef ek prevent if bagi pelanggar-an ypelanggar-ang dilakukpelanggar-an badpelanggar-an hukum.
Problem hukum lain yang muncul di bi-dang hukum administ rasi t erlihat dari ket ent u-an su-anksi administ rasi yu-ang hu-anya dapat dilaku-kan oleh Ment eri (Pasal 18 ayat 2). Sement ara sebagian besar PPTKIS j ust ru beroperasi di daerah, dimana daerah j ust ru t idak mempunyai kewenangan unt uk menj at uhkan sanksi. Ini t er-lihat dari 72 PPTKIS yang beroperasi di Cilacap, ada 43 PPTKIS yang akt if . Dari Jumlah yang ak-t if 31 PPTKIS (72, 1 persen) adalah merupakan kant or perwakilan. Ket ent uan ini diperparah karena perekrut an t anpa izin j uga t idak ada ket ent uan pidananya. Just ru muncul adalah ke-t enke-t uan ke-t enke-t ang perekruke-t an yang dilakukan ke-t i-dak sesuai dengan syarat . Disinyalir kekosongan at uran ini menj adi sebab maraknya prakt ek percaloan dalam perekrut an TKI.
Problem normat if yang menyangkut aspek hukum administ rasi j uga muncul dalam penga-wasan yang wewenangnya diberikan kepada daerah, provinsi dan kabupat en. Sement ara pe-nerbit an izin penempat an j ust ru ada pada men-t eri. Padahal secara smen-t rukmen-t ural men-t idak ada hubu-ngan hirarki ant ara Kement erian Tenaga Kerj a dengan Dinas bidang ket enagakerj aan di dae-rah. Ini menyebabkan daerah lebih merasa se-bagai penerima beban pekerj aan pengawasan. Sement ara ret ribusi yang diperoleh dari izin masuk ke pemerint ah pusat . Formulasi di at as dapat menimbulkan sikap saling mengandalkan ant ara t ingkat pemerint ahan. Ket ent uan ini pent ing dan st rat egis dalam proses rekruit men yang dapat mencegah munculnya TKI illegal,
human t r af f i cki ng, penipuan & percaloan. Analisis normat if di at as memperlihat kan j ika polit ik hukum pemerint ah dalam Penem-pat an dan Perekrut an BMI belum berpihak pada perlindungan calon TKI, dan membuka peluang prakt ek percaloan, TKI Illegal maupun human t r af f i cki ng t enaga kerj a masih t et ap berlang-sung. Hal ini disebabkan karena beberapa hal.
membingungkan (r edudancy) dan duplikasi pe-ngat uran sert a mult it af sir yang menyulit kan da-lam penerapannya; kedua, lemahnya pengawas-an ypengawas-ang sej alpengawas-an dengpengawas-an st rukt ur pemerint ahpengawas-an;
ket i ga, kebij akan perlindungan hukum masih belum j elas, t erut ama pada t ahap pra penem-pat an dan purna penempenem-pat an; dan keempat, Masih t erdapat ket ent uan berkait dengan per-lindungan t anpa sanksi.
Kelemahan perat uran perundang-undang-an di t ingkat pusat t ersebut membuka alt erna-t if bagi pemerinerna-t ah daerah unerna-t uk melindungi TKI/ calon TKI dengan mengisi kekosongan at au kelemahan yuridis dalam undang-undang PPT-KLN. Ini dapat dilakukan dengan beberapa cara.
Per t ama, membent uk Perda yang dapat mengisi kelemahan dan kekurangan UU PPTKILN; kedua, membent uk PPNS ket enagakerj aan yang kuat dan berdedikasi; ket i ga, menet apkan ket ent uan izin operasional bagi PPTKIS yang beroperasi di daerah; keempat, membangun sist em administ -rasi kependudukan yang bersih dan j uj ur; kel i -ma, membangun koordinasi yang baik dengan penegak hukum lain (polisi dan j aksa); dan ke-enam, membangun sist em pengawasan yang kuat .
Kendala Sosial Perlindungan Hukum t erhadap Buruh Migran
Berdasarkan hasil penelit ian dari aspek sosiologis t erungkap bahwa dalam t iga t ahun t erakhir paling t idak t erdapat 45 pengaduan dari buruh migran. Laporan pengaduan paling banyak dilakukan oleh orang t ua buruh migran bersangkut an. Ini t erj adi karena pada umumnya orangt ua adalah orang pert ama yang mendapat kabar t erj adinya permasalahan buruh migran bersangkut an, t erut ama buruh migran yang ma-sih dalam masa penempat an. Ini j uga menun-j ukkan bahwa para buruh migran cenderung lebih percaya pada orang t ua daripada suami/ ist eri at au keluarga yang lain unt uk menyelesai-kan masalahnya. Di lain pihak, pada masa pra dan purna penempat an, laporan pengaduan le-bih banyak dilakukan oleh calon buruh migran bersangkut an. Sisanya, laporan masalah dilaku-kan oleh t eman sesama TKI yang sedang pu-lang.
Sebagian besar buruh migran bermasalah adalah mereka yang belum memilik penga-laman kerj a. Hal ini sangat mungkin berkait an dengan kemampuan adapt asi yang bersangkut -an di t empat baru, at au berkait -an deng-an pe-ngalaman pert ama mereka. Kecenderungan ini t erj adi pada buruh migran muda yang di bawah umur 25 t ahun. Memang t idak bisa dipungkiri bahwa meningkat nya j umlah buruh migran me-nyebabkan j uga t ingginya j umlah perdagangan anak11 Kecenderungan buruh migran bermasa-lah j uga t erkait negara t uj uan, khususnya wi-layah t imur t engah. Hal ini sangat mungkin ber-kait an dengan st andar pendidikan buruh migran di negara-negara Timur Tengah yang lebih long-gar j ika dibandingkan dengan st andar nelong-gara- negara-negara asia pasif ik yang umumnya memint a lulusan minimal Sekolah Menengah At as (SMA) dengan penguasaan bahasa negara t uj uan yang lebih ket at . Dengan st andar yang t inggi di ne-gara nene-gara asia pasif ik memungkinkan elemen yang bisa menimbulkan konf lik ant ara buruh dengan maj ikan lebih bisa dieliminir.
Set iap orang dilarang menempat kan calon TKI/ TKI pada j abat an dan t empat pekerj aan yang bert ent angan dengan nilai-nilai kemanu-siaan dan kesusilaan sert a perat uran perunda-ngan yang berlaku di Indonesia maupun negara t uj uan. Pada kenyat aannya pelanggaran sudah banyak t erj adi selama masa pra penempat an. Beberap t it ik pelanggaran t erut ama t erj adi pa-da pemeriksaan kesehat an pa-dan psikologi at au saat pengurusan dokumen. Pada pemeriksaan psikologi misalnya, beberapa indikasi sepert i keberangkat an calon buruh at as kemauan orang t ua at au suami seharusnya t idak diloloskan. Pa-dahal kecenderungan ini cukup banyak t erj adi, dimana calon TKI berangkat bukan at as kemau-an sendiri.
Hal serupa j uga t erj adi pada pemeriksaan kesehat an, dimana pemeriksaan kesehat an se-harusnya dilakukan di sarana kesehat an t ert
11 Riri s Ar dhanar isw ari, Wal uyo Handoko dan Sof a
t u yang t elah dit et apkan ment eri kesehat an. sarana kesehat an dit unj uk oleh kemenkes, se-hingga dinas kesehat an kabupat en t idak dapat menj at uhkan sanksi at as pelanggaran yang dila-kukan oleh sarana kesehat an. Modus pelang-garan bisa dilakukan dengan pengurangan para-met er medi cal t est dari Rp. 400. 00 ribu hanya menj adi Rp. 250. 000, - bahkan cuma Rp. 150. 000, - sehingga menyebabkan beberapa para-met er pent ing dalam uj i kesehat an t idak dila-kukan t ermasuk penguj ian kej iwaan (psikot est ). Jika hasil penguj ian diperoleh inf ormasi bahwa keberangkat an disuruh orangt ua, bukan ke-inginan sendiri maka seharusnya t idak perlu di-loloskan. Mulai t ahun 2011 ini Kement erian Ke-sehat an menet apkan sarana keKe-sehat an unt k menghent ikan penerbit an medi cal t est. Tet api f akt nya karena ada permint aan, maka medi cal t est t et ap dit erbit kan secara ilegal. Problem-nya karena sisa blangko penerbit an medi cal t est t idak dit arik menyusul penghent ian semen-t ara penerbisemen-t an medi cal t est. Alt ernat if ini se-benarnya bisa dilakukan dengan membuat Surat Edaran agar blangko it u dit arik dan diserahkan ke Dinas Kesehat an agar t idak dit erbit kan me-di cal t est yang illegal.
Problem kesehat an j uga sering muncul di penampungan, pada umumnya calon buruh mig-ran baru bemig-rangkat set elah 3 bulan sej ak ber-ada di penampungan. Set elah calon dinyat akan lolos, yang bersangkut an bisa menj adi sakit , at au hamil, karena dit engok suami, at au pulang dulu sebelum berangkat . Saat menj elang pem-berangkat an t idak dilakukan pemeriksaan kese-hat an ulang. Jika ada pelanggaran sepert i ini, sebagai j alan keluar agar calon bisa t et ap ber-angkat biasanya dilakukan dengan membayar.
Para calon buruh migran yang t erhambat dari sisi kesehat an dan psikologi inilah yang ke-mudian mencari peluang unt uk berangkat de-ngan cara lain. Sepert i membuat paspor umum yang bukan paspor kerj a. Kesulit an bisa ber-sumber dari syarat kesehat an, t idak cukup umur, at au syarat pendidikan. Mereka cende-rung menggunakan paspor wisat a-biasa, t erle-bih paspor ini j uga punya keleerle-bihan bisa digu-nakan kemana saj a, at au unt uk berpindah ker-j a. Sedangkan Kart u Tanda Kerker-j a di Luar Negeri
(KTKLN), seringkali bisa diperoleh secara men-dadak di kant or konsulat at au at ase perburuh-an.
Problem dokumen lainnya, bisa mencakup KTP dan Kart u Keluarga yang dipalsukan. Dua masalah ut ama di t it ik ini t imbul karena pe-malsuan at au perubahan dat a. Pepe-malsuan t er-ut ama t erkait dengan f akt or kult ur dan ment al operat or komput er, sedangkan perubahan dat a umumnya t ermonit or di kant or Dinas Kependu-dukan dan Cat at an Sipil, sepert i perubahan kode t idak mungkin dilakukan, karena t iap kecamat an kode kependudukan yang berbeda.
Meskipun Cilacap t elah menerapkan ” Sis-t em AdminisSis-t rasi Kependudukan” (SIAK) online yang t erkoneksi sat u dengan yang lainnya, pe-malsuan dokumen t et ap dapat dilakukan, de-ngan mengubah KTP dan KK dari keadaan sebe-narnya. Kecenderungan beberapa desa at au kecamat an t ert ent u unt uk memudahkan penerbit -an KTP d-an KK menj adi salah permasalah-an ut ama dalam pengurusan dokumen ini. Di pihak lain, mekanisme pengawasan dan sanksi bagi pej abat desa yang membant u melakukan pe-malsuan j uga t idak berj alan.
Para calon TKI yang t idak memenuhi sya-rat dalam pembuat an paspor, seringkali berusa-ha membuat paspor wisat a. Unt uk berusa-hal ini kan-t or imigrasi kan-t elah mencoba unkan-t uk melakukan monit oring, yang secara f isik biasanya dilaku-kan dari penampilan pemohon paspor. Tet api mekanisme ini t idak berj alan ef ekt if mengingat problem hak asasi dan t idak adanya landasan hukum bagi kant or imigrasi unt uk menolak per-mohonan hanya dari penampilan pemohon. Problem paspor ini sangat rent an menimbulkan
human t r af f i cking dan pekerj a gelap t anpa izin kerj a.
t ersebut .12 Hanya dalam kasus di Cilacap t erda-pat ket idakj elasan kemana mereka harus meng-adu, karena inf ormasi diperoleh dari orang perseorangan yang beroperasi di desa-desa. Calo-calo t ersebut sangat mungkin merupakan orang-orang yang bekerj a dari kant or-kant or PPTKI yang t idak mempunyai kant or perwakilan di wilayah operasi mereka. Problem selama pra penempat an oleh Komisi Nasional Perempuan sendiri digambarkan sebagai berikut .
Per t ama, perekrut an dilakukan oleh ca-lo/ sponsor dan langsung di bawa ke Jakart a se-hingga t idak t erdat a di Kabupat en; kedua, pe-rekrut an dilakukan oleh PJTKI yang t idak t er-daf t ar sebagai cabang; ket i ga, calon buruh mig-ran berada lebih lama di t empat penampungan dari wakt u yang t elah dit ent ukan; keempat, calon buruh migran t idak mendapat kan inf or-masi t ent ang hak-haknya sebagai pekerj a t er-ut ama dari PJTKI maupun dari disnakert rans;
kel i ma, t idak cukupnya aparat dinas t enaga kerj a dan t ransmigrasi (disnakert rans) unt uk menj angkau daerah-daerah t erpencil asal buruh migran unt uk melakukan sosialisasi hak-hak bu-ruh migran; keenam, minimnya pengawasan at as perusahaan yang menempat kan dan mela-kukan kekerasan t erhadap calon buruh migran di penampungan; ket uj uh, t idak adanya perha-t ian unperha-t uk membangun pendaperha-t aan yang baik at as warganya yang menj adi buruh migran; dan
kedel apan, kondisi geograf is yang berbat asan dengan negara t empat buruh migran bekerj a menyebabkan kesulit an unt uk melakukan pen-dat aan
Set iap TKI waj ib melaporkan kedat angan-nya kepada perwakilan pemerint ah di negara t uj uan. Kewaj iban ini menegaskan bahwa peng-awasan oleh perwakilan Republik Indonesia di lakukan secara pasif . Pelaporan secara akt if di-lakukan oleh calon TKI yang bersangkut an. Me-kanisme ini bisa dit erapkan pada calon pekerj a perorangan. Tet api akan menyulit kan calon TKI t ert ent u, t erut ama bagi pekerj a-pekerj a pena-t a laksana rumah pena-t angga. Dengan karakpena-t erispena-t ik
12
Abdul l ah Sul ai man (b), ” Penerapan St andar Perburuhan di Amerika Ser ikat : Suat u Pemikir an Hukum Perburuhan di Era Persaingan Bebas” Jur nal Mi mbar Il mi ah Hukum, Vol . 7 No. 2 2004, Universit as Isl am Jakart a, hl m. 15.
pendidikan rendah dan penget ahuan t erbat as, model pelaporan akt if oleh calon TKI akan me-nyulit kan pemant auan.
Beberapa negara pengirim t enaga kerj a, pengawasan dilakukan melalui rumah singgah (shel t er). Penj emput an calon t enaga kerj a dila-kukan oleh perusahaan pengerah t enaga kerj a, dan kemudian singgah di shelt er-shelt er yang t elah dit et apkan unt uk berist irahat . Perusaha-an pengerah j asa t enaga kerj a kemudiPerusaha-an meng-hubungi maj ikan pemberi visa dan memberit a-hu bahwa calon TKI yang bersangkut an t elah t iba di negara t uj uan. Perusahaan pengerah j a-sa t enaga kerj a kemudian mempert emukan ke-duanya dengan memberi t ahu hak dan kewaj ib-an masing-masing, besarib-an gaj i, hak at as libur-an dlibur-an sebagainya. Dalam pert emulibur-an it u dit e-gaskan pula hak libur sat u bulan sekali dan ke-waj iban t enaga kerj a unt uk melaporkan diri di shelt er yang dit et apkan. Mekanisme ini sekali-gus unt uk memant au dan memast ikan bahwa t enaga kerj a t ersebut dalam keadaan baik-saj a. Dengan penet apan kewaj iban t enaga kerj a un-t uk melapor ini akan segera dikeun-t ahui dan dilacak keberadaan t enaga kerj a yang bersangkut -an j ika pada hari y-ang dit et apk-an t ernayat a t idak dat ang melapor.
Model ini j uga menet apkan bahwa kedua belah pihak (t enaga kerj a dan maj ikan) diberi wakt u masa percobaan selama t iga bulan. Jika dalam bat as wakt u percobaan maj ikan merasa t idak cocok dengan pekerj a bersangkut an, dia berhak memint a gant i. Demikian sebaliknya, j ika t enaga kerj a bersangkut an merasa t idak cocok dengan maj ikannya, dia diberi hak unt uk dicarikan maj ikan baru. Model ini kiranya bisa dit erapkan oleh pemerint ah Indonesia, sehingga pengawasan dan pemant auan keberadaan TKI bisa segera diket ahui dan dilacak keberadaan-nya.
kon-t rak merupakan masalah paling dominan. Ke-mudian masalah penganiayaan berupa pemukul-an at au dimarahi maj ikpemukul-an. Kemudipemukul-an baru ma-salah kesulit an komunikasi dengan keluarga dan penahanan dokumen oleh maj ikan.
Problem TKI j uga banyak t erj adi saat ke-pulangan. Masalah yang t erj adi dapat t erj adi pada masalah t ransport asi, dimana pengangkut TKI t idak mau berangkat sebelum penuh. Prob-lem ini mengakibat kan TKI sering t ert ahan di kot a t ransit sampai beberapa hari karena pihak angkut an t idak mau memberangkat kan penum-pang ke daerah asal TKI sebelum angkut an pe-nuh. Namun demikian, keluhan t erbanyak ada-lah masaada-lah pungut an liar di t erminal bandara. Tet api pada umumnya TKI yang pulang sudah menyiapkan sebelumnya uang yang akan diberi-kan saat masih berada di pesawat .
Penut up Simpulan
Dari uraian dan analisa di at as dapat di-ambil beberapa simpulan sebagai berikut . Per -t ama, problem Tenaga Kerj a Indonesia secara normat if j uga berpangkal dari perumusan da-lam Undang-undang No. 39 Tahun 2004 t ent ang Penenempat an dan Perlindungan Tenaga Kerj a Indonesia di Luar Negeri. Hasil ident if ikasi problem normat if mencakup: (a) Ket ent uan hu-kum yang membingungkan (r edundancy), dupli-kasi pengat uran, sert a ket ent uan yang berisf at mult it af sir sehingga menyulit kan dalam pelak-sanaannya; (b) Lemahnya pengawasan sej alan dengan st rukt ur pemerint ahan ant ara pemerin-t ah pusapemerin-t kemenpemerin-t erian pemerin-t enaga kerj a sebagai pe-nerbit izin dengan dinas sekt oral ket enagkerj a-an di daerah; (c) Kebij aka-an perlindunga-an hu-kum masih belum j elas t erkait pelanggaran pi-dana maupun administ rat if yang sering t erj adi; dan (d) Beberapa norma perlindungan t anpa di-sert ai sanksi hukum, t erut ama berkait an de-ngan pelanggaran yang dilakukan oleh pej abat administ rasi.
Kedua, kendala perlindungan buruh mig-rant dari segi sosial ant ara lain: (a) Perekrut an oleh calo/ sponsor oleh PJTKI yang t idak t er-daf t ar sebagai kant or perwakilan dan langsung di bawa ke Jakart a. Hal ini berpot ensi
menim-bulkan permasalahan di kemudian hari seandai-nya t erj adi penganiayaan t erhadap buruh mig-ran; (b) Tidak adanya proses pendat aan calon TKI yang andal sebagai bagian dari mekanisme perekrut an unt uk memudahkan pemant auan dan pengawasan yang ef ekt if dalam perekrut an TKI dan calon TKI; dan (d) Tidak cukupnya apa-rat dinas di daerah yang bisa melakukan pe-ngawasan dan memberikan inf ormasi yang bisa menj angkau wilayah pedalaman.
Saran
Beberapa saran dan rekomendasi yang dapat diberikan at as permasalahan t ersebut di at as adalah sebagai berikut . Per t ama, kebut uh-an unt uk melakukuh-an revisi t erhadap UU No. 39 Tahun 2004 t ent ang Penempat an dan Perlin-dungan Tenaga Kerj a Indonesia di Luar Negeri t erut ama meruj uk pada perlindungan yang le-bih t ersist emat isasi dan evaluasi ket ent uan nor-mat if yang membingungkan, t umpang t indih at au sulit dalam implement asi.
Kedua, dari sisi sosial maka perlu diba-ngun mekanisme pendat aan calon TKI yang bisa dit erapkan secara berj enj ang. Sist em pendat a-an dapat mema-anf aat ka-an st rukt ur pemerint aha-an di t ingkat kabupat en, mulai dari desa/ kelurah-an, kecamat kelurah-an, hingga t ingkat kabupat en di sat uan kerj a perangkat daerah yang membida-ngi. Dat a dapat menj adi pij akan bagi mekanis-me perekrut an mekanis-melalui sist em sat u pint u di ka-bupat en dan menut up kemungkinan perekrut an melalui calo/ sponsor. Selain it u, perlindungan di t empat penempat an, melalui sist em rumah singgah/ shelt er di kot a t ert ent u di negara t uj u-an, sebagai sarana monit oring t erhadap TKI secara berkala. Sist em ini bisa dit erapkan t er-hadap sej umlah PPTKIS secara gabungan, yang sekaligus bert indak sebagai mediat or ant ara calon TKI dengan pengguna mengenai hak dan kewaj iban masing-masing, t ermasuk syarat -sya-rat nya.
Daft ar Pust aka
12 No. 1. FH UNSOED Purwokert o;
Heyzer, Noeleen. Tr af f i cki ng, Mi gr asi , dan Gl obal i sasi. Radio Nederland Wereldom-roep, edisi 6 Desember 2002;
Husain, Sukanda. “ Perlindungan Hak-Hak Tena-ga Kerj a Indonesia” . Jur nal Konst it usi ,
Vol. II No. 1 2009. Fakult as Hukum Uni-versit as Riau;
Migrant Care. 2010. Lemahnya Per l i ndungan Hukum Pembant u Rumah Tangga Mi gr an. t ersedia di websit e ht t p: / / www. migrant -care. net / diakses t anggal Sept ember 2011;
Muhidin, Syarif ; M. Fadhil Nurdin dan Tet i Asia-na GuAsia-nawan“ Kaj ian Masalah TeAsia-naga Kerj a Indonesia (TKI) Asal Jawa Barat di Saudi Arabia dan Hongkong Sebagai Bahan Penyusunan PERDA” . Jur nal Sosi ohumani -or a, Vol. V No. 1 2003. Universit as Padj a-j aran Bandung;
Mulyadi, Set yo. “ Perdagangan Anak di Indo-nesia” . Jur nal Il mi ah Unt ar, Vol. 12 No. 1 2007. Universit as Tarumanegara Jakart a; Nuryandani, Ant ari dan Krist i Poerwandari.
“ St rat egi Coping pada Penempat an Buruh Migran Indonesia yang Mengalami Ke-kerasan di Timur Tengah” . Jur nal JPS, Vol. 13 No. 3 1007/ Fakult as Psikologi UI;
Prihat inah, Tri Lisiani (a). , 2011a, “ Perlindung-an Hukum Terhadap Buruh MigrPerlindung-an: Femi-nis Legal Perspekt if ” . Jur nal Hukum Equal i t y, Vol. 16 No. 1 2011. Universit as Sumat era Ut ara;
--- (b) 2011b, “ Legal Analysis on Int erlink bet ween Int ernat ional and Nat ional Inst rument s t owards Women Right s in Indonesia” . Jur nal Hukum Int er nasional, Vol. 8 No. 4 2011. UI Jakart a;
Sapt ari, Rat na dan Brigit t e Holzner. 1997.
Per empuan, Ker j a, dan Per ubahan Sosi al. Jakart a: Pust aka Ut ama Graf it i;
Soppandi, Eddi. “ Selayang Pandang Prof il Tena-ga Kerj a Indonesia di Hongkong”. Jur nal Sosiohumanior a, Vol. V No. 1 2003. Uni-versit as Padj aj aran Bandung;
Subiyant o. ” Peran Negara dalam Hubungan Te-naga Kerj a di Indonesia” . Jur nal Pendi -di kan dan Kebudayaan, Vol. 17 No. 6 201. Badan Penelit ian dan Pengembangan De-part emen Pendidikan Nasional;
Sulaiman, Abdullah (a). ” Tunt ut an Ekonomi Mempengaruhi Perburuhan Pasca Kemer-dekaan: Kaj ian Hist oris Perlindungan Hukum Kaum Buruh” . Jur nal Mi mbar Il -mi ah Hukum, Vol. 7 No. 2 2004. Univer-sit as Islam Jakart a;
--- (b). ” Penerapan St andar Perburuhan di Amerika Serikat : Suat u Pemikiran Hukum Perburuhan di Era Persaingan Bebas” .
Jur nal Mi mbar Ilmi ah Hukum, Vol. 7 No. 2 2004. Universit as Islam Jakart a;