BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesenian tradisional semakin lama semakin kurang diminati oleh masyarakat luas. Bahkan banyak orang yang tidak mengetahui nama dari kesenian yang ada di sekitar. Di zaman modern sekarang ini sangat rawan sekali dengan efek globalisasi yang mengakibatkan masyarakat meninggalkan kesenian daerahnya beralih terhadap kesenian luar negeri yang lebih modern. Permasalahan ini membuktikan pentingnya pengkajian karya kesenian agar tidak hanya sebagai peninggalan yang sia-sia. Dilihat dari kenyataan yang ada penulis akan mengadakan penelitian terhadap kesenian daerah yaitu kesenian Angguk. Kesenian Angguk adalah salah satu kesenian tradisional yang merakyat yang sudah dikenal oleh sebagian masyarakat khususnya di desa Klapagading, Kecamatan Wangon. Mayoritas masyarakatnya adalah di pedesaan, dan pada kesenian Angguk ini tidak menetapkan tarif untuk menontonnya hanya saja pada waktu tole-tole (peserta angguk meminta uang sukarela terhadap penonton) serta ada kesepakatan antara yang punya hajat dengan tim kesenian tersebut. Kesenian Angguk ini masih jarang diketahui oleh banyak kalangan, padahal kesenian ini merupakan kesenian yang sangat merakyat.
tradisional yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan dalam ruang lingkup yang kecil, yaitu di desa-desa.
Kesenian Angguk ini masih banyak orang yang tidak mengetahui tentang kesenian ini sehingga peneliti mempunyai rasa ingin untuk mengembangkan lagi kesenian tradisional. Kesenian Angguk sebenarnya wajib untuk didukung oleh masyarakat lokal karena kesenian Angguk merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan.
Dalam perjalanan waktu kesenian Angguk di desa Klapagading mengalami pasang surut, apalagi pada tahun 1992-2012 kesenian Angguk hampir tidak terdengar nasibnya, karena tidak ada penerus pada tahun tersebut, tetapi pada awal tahun 2012 pada pemerintahan kepala desa baru membuat kebijakan untuk menghidupkan kembali kesenian tersebut yang diibaratkan sudah mati suri selama dua puluh tahun.
Memperhatikan permasalahan-permasalahan yang ada di atas, penulis ingin mengadakan penelitian dengan judul Kesenian Angguk di Desa Klapagading Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas Tahun 1976-2014.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dipaparkan di atas, penulis membatasi pada pokok masalah sebagai berikut.
1. Kondisi sosial budaya desa Klapagading, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas.
3. Kesenian Angguk di desa Klapagading, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas 1976-2014.
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap rumusan masalah di atas. 1. Kondisi sosial budaya desa Klapagading, Kecamatan Wangon, Kabupaten
Banyumas.
2. Pertunjukan kesenian Angguk di desa Klapagading, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas.
3. Kesenian Angguk di desa Klapagading, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas 1976-2014.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini digunakan oleh peneliti sebagai bahan pertimbangan untuk mengadakan penelitian lebih lanjut, dapat juga dijadikan referensi bagi penelitian-penelitian lanjutan yang akan dilakukan oleh peneliti mengenai Sejarah Lokal. Penelitian ini dapat dijadikan arsip atau data penelitian di daerah setempat sebagai masukan bagi pembaca untuk lebih jauh mengenal kesenian Angguk , dan menambah pengetahuan lebih tentang kesenian Angguk di desa Klapagading, Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas.
Penelitian ini juga bermanfaat bagi masyarakat, pemerintah desa dan bagi peneliti yaitu : digunakan oleh masyarakat untuk meningkatkan upaya membangun seni tradisional, khususnya kesenian Angguk di desa Klapagading, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas. Memberikan wawasan tentang kesenian tradisional Angguk. Mengenalkan kepada masyarakat luas bahwa terdapat kesenian tradisional yang perlu dilestarikan. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan infornasi dan masukan kepada pemerintah desa Klapagading, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, dan sebagai bahan untuk lebih mempelajari tentang kesenian tradisional Angguk.
E. Tinjauan Pustaka
Penelitian tentang kesenian Angguk di desa Klapagading, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, pada saat ini belum pernah dilakukan penelitian oleh karena itu referensi atau kepustakaan yang berkaitan secara khsus sulit didapatkan. Namun, terdapat penelitian yang hampir sejenis sudah pernah dilakukan.
Penelitian Suranto (2002), yang berjudul Kesenian Tradisional Dames di Desa Karang Jambe, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga Tahun
1960-2000. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kesenian ini merupakan kesenian tradisional yang bernuansa Islami (religius), baik dalam syair maupun bentuk gaya yang mencerminkan pribadi seseorang wanita Jawa yang dilatarbelakangi agama. Dalam kesenian ini terdapat pesan moral yang juga memiliki kehalusan gerak yang pelan sebagai lambang wanita Jawa.
Penelitian Retno Prastiyawati (2004), yang berjudul Kesenian Tradisional Emblek di Dusun Janti Desa Kadipeten kabupaten Wonosobo. Penelitian ini berisi tentang peranan dari lurah atau kepala desa Emblek dan tentang solidaritas antara anggota kesenian terhadap kelangsungan hidup kesenian Emblek. Peneliti meneliti dari dalam grup kesenian tersebut ternyata di dalam kesenian Emblek ini anggotanya bertugas mengkoordinasi serta memanejemen bertujuan untuk tetap membuat eksis kesenian Emblek ini di mata masyarakat.
Pertunjukan kesenian Angguk pada hakikatnya merupakan tradisi yang sudah dimiliki oleh masyarakat sejak dahulu, fungsinya pada zaman dahulu adalah untuk menyebarkan agama islam tetapi sekarang kesenian Angguk bertujuan untuk menghibur masyarakat dengan biaya yang terjangkau. Penelitian ini memusatkan kepada kesenian Angguk dalam konteks kehidupan sosial budaya diperlukan penjelasan ilmu lainnya yang berhubungan dengan masalah tersebut.
F. Landasan Teori dan Pendekatan
1. Landasan Teori
a. Kebudayaan
Antropologi mengambil budaya manusia di segala waktu dan tempat sebagai bidangnya yang sah. Bukan hanya itu antropologi juga menjelajah masalah-masalah yang meliputi kekerabatan dan organisasi sosial, politik, teknologi, ekonomi, agama, bahasa, kesenian, dan mitologi (Kaplan, 2012: 1).
Budaya atau culture adalah sesuatu yang manusianya tidak melakukan perubahan besar-besaran, melainkan memberikan tanggapan dengan memainkan suatu peran yang aktif serta bentuk kehidupan beradaptasi dengan lingkungannya sebagaimana wujud adanya, manusia semakin memodifikasi dan mengadaptasi lingkungannya terhadap diri manusia itu sendiri (Kaplan, 2012: 104).
Bagi Bangsa Indonesia, kebudayaan tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 pada 32 Bab XII yang berbunyi “Kebudayaan bangsa adalah kebudayaan
berbagai kebudayaan lingkungan wilayah di seluruh Indonesia yang berkembang sesuai sejarahnya masing-masing.
Menurut Ruth Benedict, kebudayaan merupakan pola-pola pemikiran serta tindakan tertentu yang terungkap dalam aktivitas sehingga pada hakikatnya kebudayaan itu sesuai dengan yang dikatakan Ashley Montagu, yaitu, a way of life (cara hidup tertentu) yang memancarkan identitas tertentu pula pada suatu bangsa (Daeng, 2012 : 45).
Setiap kebudayaan pada umumnya mempunyai paling sedikit tiga wujud, yaitu : (1) wujud kebudayaan sebagai suatu himpunan gagasan, (2) wujud kebudayaan sebagai jumlah perilaku yang berpola, (3) wujud kebudayaan sebagai sekumpulan benda dan artifact. Wujud (1) adalah wujud yang paling abstrak. Sebagai suatu himpunan gagasan, suatu kebudayaan tak dapat dilihat atau diamati, karena tersimpan dalam kepala orang yang dibawa kemanapun ia pergi. Kebudayaan dalam wujud himpunan gagasan ini disebut cultural system atau sistem budaya, juga disebut covert culture. Dalam wujudnya yang ke (2) kebudayaan disebut social system atau sistem sosial, sedang dalam wujud yang ke (3) adalah kebudayaan fisik, phisical culture. Wujud kedua dan wujud ketiga disebut over culture. (Daeng, 2012: 46).
Sebagian kalangan mengenai berbagai unsur dan nilai budaya bangsa kita yang terancam oleh pengembangan turisme dan berbagai pengaruh luar (terutama sikap-sikap ekonomi) dalam kebudayaan banyak bangsa di dunia di masa lampau, terdapat kearifan dan hubungan yang erat dengan sekelilingnya (Lubis, 1992: 181).
Budaya dalam keseluruhan warisan sosial yang dapat dipandang sebagai hasil kerja yang tersusun menurut tata tertib teratur, biasanya terdiri dari kebendaan, kemahiran, teknik, pikiran, gagasan, kebiasaan, nilai-nilai tertentu dan organisasi sosial tertentu. Adakalanya pembeda budaya materi, termasuk di dalamnya nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, organisasi sosial dan lembaga-lembaga adat (Daeng, 2012: 81).
semua pedoman yang mengatur tingkah laku warga pendukung kebudayaan yang bersangkutan. Pedoman tingkah laku itu adalah adat-istiadat, sistem normanya, aturan etikanya, aturan moralnya, aturan sopan-santunnya, pandangan hidup dan ideologi pribadi (Daeng, 2012: 46).
Orientasi nilai budaya manakah yang diperlukan manusia Indonesia dalam menghadapi tekanan-tekanan zaman baru yang dilandasi peradaban industri atau peradaban komunikasi informasi? Para pakar ilmu sosial mengemukakan bahwa orientasi nilai budaya yang diperoleh adalah Masyarakat yang menghadapi lepas landas sebaiknya berorientasi terhadap pandangan hidup yang positif dan aktif, serta wajib menentukan nasibnya sendiri, berbeda dari manusia berbudaya agraris yang secara pasif menggantungkan hidupnya pada nasib atau kekuatan-kekuatan alam sekitarnya.
Masyarakat yang menghadapi lepas landas sebaiknya mementingkan kepuasan atas hasil pekerjaan yang dilakukannya dan atas mutu dari hasil pekerjaannya, berbeda dari masyarakat agraris tradisional yang bekerja hanya untuk mendapatkan makan, ganjaran, dan gengsi.
mengindahkan masa depan, sementara kaum elit dalam masyarakat tradisional seringkali terlampau berorientasi ke masa jaya zaman lampau.
Masyarakat yang menghadapi lepas landas sebaiknya sejak kecil diajarkan dan dilatih untuk menjaga keselarasan dengan alam sekitarnya, tidak merusaknya habis-habisan walaupun ia terus berupaya memahami rahasia kekuatan-kekuatan yang ada di alam. Orientasi nilai budaya terhadap alam semacam ini merupakan dasar dari kemajuan ilmu pengetahuan sains, dan teknologi.
Masyarakat yang menghadapi lepas landas seyogyanya berpegang teguh pada aspek-aspek positif dari adat-istiadat, misalnya gotong-royong, dengan cara menghindari aspek-aspek negatifnya. Manusia dengan mentalitas peradaban industri dan peradaban komunikasi informasi sebaiknya lebih mandiri, lebih berani bertanggung jawab sendiri, menghindari sikap lebih mementingkan ketaatan kepada atasan daripada menghargai orang yang menghasilkan karya bermutu, berdisiplin murni (tidak hanya bila ada pengawasan dari atas), lebih terbuka untuk kritik yang positif dan bertanggung jawab (Daeng, 2012: 49-51).
pada hakikatnya semua bangsa di dunia ini berusaha menghidari musnahnya kebudayaan yang mereka miliki dari nenek moyang mereka, bahkan di lain pihak masyarakat dan pemerintah berusaha memajukan kebudayaan dengan tidak mengurangi nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Khususnya Indonesia, batasan kebudayaan haruslah berdasarkan pada pandangan menyeluruh mengenai jiwa, mental, budi, psikis, dan manusia. Ini berarti manusia mampu mencerminkan kebudayaan (Susantiana, 2001: 18).
b. Seni dan kesenian
Seni merupakan unsur yang sangat penting yang memberi wajah manusiawi, unsur-unsur keindahan, kelarasan, keseimbangan, perspektif, irama, harmoni, proporsi, dan sublimasi pengalaman manusia pada kebudayaan dan tanpa nilai-nilai itu maka manusia akan jatuh ke kekuasaan saja (Lubis, 1992: 83).
Kesenian adalah konsep gaya seni atau style of art. Bagaimanapun yang akan dilihat perkembangannya adalah pada pertamanya gaya seni itu. Sesudah itu dalam rangka mencari penjelasan atau memilih aspek untuk menjelaskan mengenai gaya seni (Sedyawati, 2006 :124).
merangsang panca indera atau juga tubuh untuk mengikuti dengan gerak mementingkan sifat glamour dan sensasional (Sedyawati, 2006 :124).
Pada masyarakat tradisional ada juga seniman yang berhasil menciptakan seni yang baru tanpa meninggalkan kerangka seni yang lama atau yang tradisional. Seni masa depan merupakan sumber dari seni yang asli di masa tradisional, yaitu terdapat pada manusianya itu sendiri, kembali pada nilai-nilainya yang membuat manusia memerlukan seni, dan seni bermakna bagi kehidupan manusia (Lubis, 1992: 52-53).
Kesenian juga dapat diartikan menjadi kreativitas yang dapat diekspresikan di muka umum atau di area publik terutama di dalam lingkungannya sendiri, sebagian dari seni merupakan kreativitas bagi yang membentuknya pada zaman dahulu atau masa lampau (Lubis, 1992: 126-127).
Perkembangan merupakan akar dari kebudayaan yang akan memberikan ciri khas serta identitas kepribadian suatu masyarakat dan bangsa. Untuk mengembangkan seni tradisional di Indonesia, keberadaannya sangat terkait dengan perubahan struktur masyarakatnya.
2. Pendekatan
motivasi terhadap kesenian tradisional itu sendiri. Peneliti mencoba mengungkapkan nilai-nilai yang mendasari perilaku masyarakat tertentu. Gejala historis yang serba kompleks setiap penggambaran atau deskripsi menurut adanya pendekatan yang memungkinkan penunjangan terhadap data yang diperlukan. Pendekatan Sosiologi yaitu suatu barang tentu akan meneropong segi-segi sosial peristiwa yang dikaji, umpamanya golongan sosial mana yang berperan, serta nilai-nilainya, hubungan dengan golongan lain, konflik berdasarkan kepentingan, ideologi, dan lain sebagainya (Kartodirdjo, 2014 :4-5). Penulis mengkaji dalam segi sosial yang terjadi pada masyarakat desa Klapagading, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas. Penulis mengharapkan dengan pendekatan ini mendapatkan data sebanyak-banyaknya sehingga penulisannya sempurna.
G. Metode Penelitian
Penelitian tentang kesenian Angguk di desa Klapagading, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas termasuk dalam kategori penelitian sejarah, di dalamnya meneliti jejak masa lampau dari aktivitas tersebut, oleh karena itu, penelitian ini menggunakan metode historis yaitu:
dipandang mampu memberikan data yang akurat. Adapun informan yang diwawancarai adalah Pimpinan dan pelatih paguyuban Kesenian Angguk Muji Rahayu, dimana materi adalah asal usul kesenian Angguk di desa Klapagading Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas dan bentuk penyajian yang meliputi Kesenian Angguk, pemain (penari), materi wawancara dengan pemain atau penari meliputi gerakan tari, penabuh atau pemusik, materi wawancara meliputi musik iringan dan syair lagunya, kepala desa Klapagading, materi wawancara kondisi sosial budya Desa Klapagading, dan tokoh masyarakat dan seniman, materi wawancara adalah sejarah kesenian Angguk.
2. Kritik, yaitu sesuatu yang berupa pengkajian sumber untuk mencari suatu kebenaran atau fakta sumber yang sesuai dengan materi penelitian. Sumber sejarah memiliki aspek ektern dan intern, oleh karena itu, kritik yang dilakukan pun terdiri atas dua macam, yaitu ektern dan intern.
a. Menurut Priyadi (2011: 75) Kritik ektern adalah mencari otentisitas atau keotentikan (keaslian) sumber dalam jalannya penelitian harus benar-benar memilih narasumber untuk kredibiltas penelitian peneliti misalnya, memilih informan pelaku kesenian dan pelaku sejarah yang mengalami secara langsung. b. Kritik intern dilakukan dengan memperhatikan dua hal (1) penilaian intrinsik
3. Interpretasi adalah tahap analisis peneliti menguraikan sedetail mungkin ketiga fakta (mentifact, socifact, dan artifact) dari berbagai sumber data sehingga unsur-unsur terkecil dalam fakta tersebut menampakkan koherensinya. Terdapat dua macam interpretasi, yakni analisis yang berarti menguraikan suatu kebenaran atau fakta-fakta yang ada dari sumber subyektif dan obyektif, dan tahap sintesis yang berarti peneliti mengaitkan dan menyatukan semua fakta yang sudah terkumpul sehingga antar unsur membentuk makna keseluruhan yang utuh dan bulat (Priyadi, 2011: 88). Sejarawan dituntut untuk dapat berimajinasi tentang kejadian yang ada, bukan berarti berimajinasi secara bebas, melainkan berimajinasi berdasarkan fakta yang ada.
4. Historiografi adalah tahap ketika peneliti menyajikan laporan hasil penelitian dari awal hingga akhir, yang meliputi masalah-masalah yang harus dijawab. Penyajian historiografi meliputi (1) pengantar, (2) hasil penelitian, (3) simpulan. Historiografi harus memperhatikan aspek kronologis, periodisasi, serialisasi, dan kausalitas (Priyadi, 2011: 92).
H. Sistematika Penyajian
Supaya lebih mudah dalam memahami isi skripsi ini maka penulis menyusun sistematika sebagai berikut.
BAB II, berisi deskripsi sosial budaya desa Klapagading, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas yang meliputi, kondisi umum desa Klapagading, sejarah pemerintahan desa, susunan pemerintahan, keadaan penduduk dan pendidikan, dan kondisi sosial budaya.
BAB III, Pertunjukan kesenian Angguk di desa Klapagading Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas.
BAB IV, berisi perkembangan kesenian Angguk di desa Klapagading, KecamatanWangon, Kabupaten Banyumas di dalamnya terdapat sejarah kesenian Angguk di Klapagading 1976-2014.